- Injil Lukas
- 16 Sep 2015
Mengenal siapa Kristus & Relasi yang mempermuliakan-Nya
(Lukas 8: 16-21)
Kita memulai dari ayat 16 untuk kembali membahas apa yang perlu untuk kita mempunyai cara mendengar yang benar lalu kita melanjutkan ayat 19-21. Di dalam ayat 18 dikatakan “perhatikan cara kamu mendengar”, di ayat 21 dikatakan “ibuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melakukannya”. Kaitan antara mendengar dan melakukan adalah kaitan yang sangat erat diulang oleh Lukas. Lukas terus mengingatkan pembacanya bahwa orang yang dengar tapi tidak melakukan, itu bukan umat yang sejati. Satu sisi yang pertama, Saudara mesti jalankan apa yang Saudara dengar. Tapi hal lain yang diajarkan juga dalam bagian ini adalah Saudara mesti dengar dengan benar. Mendengar dengan benar memastikan Saudara menjalankan yang tepat. Menjalankan yang tepat membuat Saudara mempunyai perubahan ke dalam. Itu sebabnya bagian ini selain menjelaskan kita mesti kerjakan apa yang kita dengar, juga memberikan pengajaran bagaimana kita mesti mendengar supaya kita mendapatkan pengertian yang benar. Di dalam ayat 16 dikatakan tidak ada orang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan. Ini berbeda dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 5, di khotbah di bukit. Di khotbah di bukit, Matius 5-7 itu adalah perintah Tuhan kepada orang Kristen untuk menjalankan apa yang Tuhan mau. Maka dikatakan engkau adalah pelita, engkau adalah terang, terang tidak boleh ditaruh di bawah tempat tidur, terang harus ditaruh di kaki dian, di tempatnya, supaya terangnya menyinari seluruh ruangan. Ini bicara tentang orang Kristen, orang Kristen harus jadi terang. Tapi dalam Lukas 8, yang dimaksud dengan pelita adalah Tuhan Yesus. Ini dimaksudkan bahwa Tuhan Yesus akan ditaruh di tempatNya yang mulia dan seluruh dunia akan melihat Dia. Tapi sebelum Dia ditaruh di tempat yang mulia, Dia ditaruh seperti di bawah tempat tidur, seperti di tempat yang tersembunyi, sehingga tidak banyak orang yang mengerti siapa Yesus, tidak banyak orang yang tahu siapa Yesus. Tapi dikatakan “yang mempunyai telinga untuk mendengar biarlah dia mendengar, sebab tidak ada rahasia yang tidak akan dinyatakan, tidak ada kebenaran yang tidak akan dibuka, tidak ada yang tersebunyi yang tidak akan dipamerkan”. Maka di sini sedang memberitahukan pada waktunya nanti Kristus akan dinyatakan ke seluruh dunia. KemuliaanNya akan dinyatakan ke seluruh alam, dan waktu kemuliaan Kristus dinyatakan, berbahagialah engkau yang waktu kemuliaan itu masih tersembunyi sudah percaya, berbahagialah engkau yang waktu kemuliaan itu belum terlihat sudah tahu, sudah mengerti berdasarkan apa yang Tuhan nyatakan. Orang Kristen sudah puluhan tahun menjadi Kristen, tetap tidak mengerti siapa Yesus. Dari kecil sudah menyanyi “How I Love Jesus”, tapi sudah besar tetap tidak mengerti bagaimana hidup dalam iman kepada Kristus. Itu sebabnya hari ini saya membahas 6 poin tentang bagaimana mengenal Kristus dengan benar.
Poin yang pertama, Saudara mesti punya kesadaran dalam hati dan pikiran bahwa Saudara perlu berdamai dengan Allah. Tanpa sadar saya perlu damai dengan Allah, saya apasti salah memahami tentang Yesus. Mengapa orang liberal mengatakan Yesus hanyalah guru moral yang besar? Karena mereka tidak rasa mereka perlu damai dengan Allah. Waktu manusia menyadari perlu damai dengan Allah, dia merasa perlu diperdamaikan, dia akan menyadari dia perlu Juruselamat, dia akan menyadari dia perlu Yesus yang mengklaim diri sebagai satu-satunya yang akan membawa manusia kembali kepada Tuhan. Banyak orang ketika berbicara tentang Tuhan, bicara tanpa rasa takut dan hormat sama sekali. Yohanes Calvin dalam buku Istitutio mengatakan waktu kita berdebat tentang apakah Allah, kita masuk dalam teori kosong yang tidak berguna. Tapi waktu kita berbicara tentang Tuhan dengan perasaan hormat, sopan, takut, gentar, maka kita akan menjadi orang yang memahami siapa Tuhan dengan pengenalan yang benar. Ketika ingin mengenal seseorang, Saudara tidak bisa mengenalnya tanpa memberikan respect yang perlu. Saya yakin kalau kita sudah mengenal Tuhan dengan benar, tidak mungkin mulut kita sembarangan mencela Dia. Banyak orang Kristen terlalu berani mencela Tuhan, “Tuhan, kalau Engkau ada, buktikan Engkau ada”, sembarangan ngomong begini. Kalau Dia ada dan benar-benar ada, engkau hatus tutup mulut. Maka biarlah kita datang kepada Tuhan dengan penghormatan yang seharusnya. Sebab orang menghormati orang yang layak dihormati, Saudara orang terhormat, tapi kalau Saudara memberikan hal yang sepele ke orang yang layak hormati, Saudara menunjukan diri sebagai orang yang karakternya rendah sekali. Itu sebabnya kita hanya mungkin mengenal Yesus, kalau kita mengetahui ada Allah yang berkuasa, yang topang hidup kita, yang memberikan keberadaan kita dengan penciptaanNya dan yang sekarang mau memberikan anugerah keselamatan. Ini membuat kita lebih menghormati. Maka perasaan hormat dan kagum kita berikan kepada Tuhan dan kita sadar yang sedang memberikan marahNya dan permusuhanNya dan hukuman saya adalah Allah yang mencipta dan menopang hidup saya. Ini hal pertama yang harus kita miliki, sadar perlu diperdamaikan dengan Allah. Orang Israel gagal mengenal Yesus karena poin ini tidak ada. Mereka tidak sadar mereka perlu dipertobatkan. Kita punya Kristus, Alkitab mengatakan memandang kepada Kristus, engkau mendapatkan kepenuhan pengampunan, karena waktu kita memandang kepada Kristus, kita memandang dalam satu pribadi, Allah dan manusia bergabung tanpa bisa dipisah, tanpa bercampur dan tanpa berakhir kesatuanNya. Maka sampai selama-lamanya kita berdamai dengan Allah karena sampai selama-lamanya natur manusia dan natur Ilahi menjadi satu di dalam Kristus. Maka kita perlu pengantara dan pengantara satu-satunya yang mungkin adalah Kristus. Kristuslah pengantara yang mungkin, dengan demikian tidak ada kemungkinan kita dapat mengenal Kristus kecuali kita mengetahui “saya perlu damai dengan Allah”, itu hal pertama. Lalu hal kedua “saya perlu pengantara”.
Lalu hal ketiga, Saudara bisa mengenal Kristus dengan tepat kalau Saudara tahu Saudara perlu damai dengan Allah, Saudara perlu pengantara dan yang ketiga Saudara perlu Raja di atas segala raja untuk memerintah. Ini pengharapan ideal dari banyak orang-orang di zaman kuno. Jadi dari dulu orang-orang sudah berpikir kapan ada pemerintahan yang baik, kapan ada raja yang baik. Seorang bernama Plato mengatakan negara kota baru bisa baik kalau ada orang pemikir yang punya hati dan kerelaan untuk menjadi bijak, barulah kalau dia menjadi pemimpin kota itu menjadi baik. Tapi tragisnya yang punya kuasa tidak punya hikmat, yang punya hikmat tidak punya kuasa, maka negara kota selalu menjadi ambruk dan rusak. Jadi dari dulu orang sudah mengharapkan “adakah pemimpin yang baik”. Pemimpin yang baik itu dilihat dari apakah keadilan dan kebenaran dijalankan. Orang yang adil dan benar menjalankan keadilan dan kebenaran itu akan membuat dia menjadi pemimpin yang baik. Saudara jangan lihat pemimpin dari karismanya yang benar. Salah satu orang yang punya karisma besar itu namanya Adolf Hitler, tapi dia sama sekali bukan pemimpin yang baik. Siapa punya keadilan dan kebenaran, itu akan menjadi pemimpin baik. Itu sebabnya waktu kita melihat di dunia ini, kita melihat Tuhan ijinkan ada pemimpin-pemimpin yang baik muncul tapi mereka hanyalah percikan bayangan singkat dari Raja sejati yang akan datang nanti. Maka waktu lihat pemimpin yang baik, Saudara mengatakan “puji Tuhan dapat kesempatan untuk melihat cerminan dari pemimpin sejati yang akan datang nanti yaitu Kristus”. Dalam sejarah Alkitab ada orang namanya Nebukadnezar yang Tuhan contohkan menjadi pemimpin yang baik, meskipun pemimpin kafir, tapi Tuhan ijinkan dia menjadi contoh. Awalnya Nebukadnezar begitu jahat, kejam dan tidak peduli kebenaran. Tapi waktu bertemu Sadrakh, Mesakh, Abednego dan Daniel, pelan-pelan dia berubah. Dan saya yakin orang kalau bertemu dengan orang bisa baca mimpi tidak mungkin tidak berubah. Kalau Nebukadnezar tidak berubah, keterlaluan, maka dia mulai berubah tapi hantaman paling besar adalah ketika dia mulai sombong. Waktu dia berdiri di atas istananya, kemudian dia lihat Babel yang besar, langsung mengatakan “bukankah tanganku yang membuat Babel sebesar ini”. Waktu dia selesai ngomong itu, Tuhan hantam dari atas, langsung jadi gila, mirip sapi, telanjang, pergi makan rumput dan membiarkan embun membasahi tubuhnya. Waktu akhirnya sembuh, dia sadar selama beberapa lama ini dia hidup seperti sapi, dia telanjang, makan rumput, dia biarkan kukunya panjang-panjang, rambutnya panjang, baru dia sadar “saya sudah melawan Tuhan, Tuhan hantam saya”. Akhirnya dia tulis surat yang termasuk dalam Kitab Daniel “terpujilah Tuhannya Daniel sebab Dialah yang akan memimpin dan Dialah yang akan hancurkan pemimpin”. Jadi Nebukadnezar dari raja yang kejam menjadi raja yang baik dan dia menjadi contoh bijaksana. Setelah dia ada orang bernama Koresh menurut Kitab Yesaya, yang Tuhan juga pakai, raja Persia yang punya bijaksana, punya kebajikan yang bisa ditiru. Dalam zaman demi zaman kita bisa lihat pemimpin bagus seperti ini, kita bersyukur kita punya pemimpin yang mempunyai langkah meskipun tidak langsung kelihatan, tapi setidaknya dia mempertahankan apa yang pantas mesti diperjuangkan, apa yang baik mesti jadi. Tapi ini semua adalah cerminan bahwa kita perlu Raja di atas segala raja untuk tangani semua. Kita perlu Yesus untuk datang menyatakan kuasa, kebenaran dan keadilan sehingga masyarakat bisa hidup dalam keadaan yang tenteram. Ini yang harus kita pahami, Yesus adalah raja di atas segala raja. Tetapi sekarang gereja sudah kehilangan hormat kepada Yesus. Kalau Dia mau merendahkan diri, maka itu harusnya membuat kita semakin hormat kepada Dia. Bukan setelah Dia merendahkan diri, dengan sembarangan kita merendahkan Dia.
Lalu hal keempat untuk memahami Kristus dengan benar, kita menyadari kita perlu kuasa dan kasih. Kita perlu kuasa yang membuat apa yang diinginkan oleh pemilik kuasa bisa terjadi. Tapi kita juga perlu kasih dari sang pemilik kuasa itu. Tuhan kalau punya kuasa tapi tidak punya kasih, kita tidak mungkin selamat. Kalau Dia punya kasih tapi tidak punya kuasa, Dia tidak mungkin sanggup menyelamatkan kita. Maka karena Dia adalah kasih dan juga karena Dia berkuasa, maka Dia bisa memberikan keselamatan bagi orang-orang yang sudah memberontak melawan Dia. Ini sangat penting untuk kita ketahui, Kristus datang bukan hanya untuk menjadi teladan, tapi Dia juga datang untuk menjadi yang berkuasa untuk mengubahkan kita. Orang-orang yang berusaha memperbaiki diri tanpa menyadari perlunya datang kepada penebusan Kristus, tidak mungkin hidup suci dari perjuangannya sendiri, dia perlu Kristus. Kalau Yesus hanya teladan, kita mati semua, Dia akan mengatakan “teladani Aku”, “teladani dalam hal apa?”, “dalam hal cinta Tuhan”, “mana bisa, aku orang berdosa yang tidak bisa cinta Tuhan”, tapi Yesus bilang “harus teladani, Aku tidak peduli, Aku sudah berikan contoh, mati di kayu salib sebagai contoh, sekarang kamu ikuti Aku”, kita bilang “tidak mungkin sanggup, mana bisa aku mengikuti Engkau”, kalau Tuhan hanya menjadi teladan, kita mati. Tapi hal kelima, Tuhan bukan hanya jadi teladan, Yesus mengatakan “Aku menyertai engkau”, Dia menjadi sumber kekuatan, Dia menjadi pengudus yang menguduskan kita, Dia yang membasuh dan memberikan hidup yang baru. Maka Dia adalah Juruselamat yang memberikan penebusan dan teladan. Penebusan tanpa teladan tidak cukup, teladan tanpa penebusan tidak mungkin, maka Dia memberikan penebusan dan teladan sekaligus. Sehingga Dia mengatakan “teladanilah Aku”, waktu kita mengatakan tidak sanggup, Dia akan mengatakan “Aku menyertai engkau dan Aku menjadi pokok keselamatan bagimu”. Kita tidak mungkin memahami Yesus dengan cara yang salah. Kita memahami Dia sebagai Sang Juruselamat sekaligus Guru yang sedang membimbing aku untuk mengikuti Dia. Ini hal keempat, memahami kuasa dan kasih yang bergabung. Dan yang kelima menyadari penebusan dan teladan.
Hal keenam untuk kita bisa memahami Kristus dengan benar, kita perlu menyadari perlunya relasi di dalam satu tubuh. Selain kita mengenal Kristus, kita perlu mengenal orang lain yang mengenal Kristus. Dan kedatangan Kristus di dunia adalah kedatangan untuk menyatukan anak-anak Tuhan di dalam diriNya. Itu sebabnya relasi orang Kristen bukan relasi organisasional, relasi orang Kristen adalah relasi organik. Kita adalah satu tubuh, bukan satu organisasi, organisasi boleh banyak, tapi orang Kristen yang sungguh beriman, itu satu tubuh di dalam Dia. Saya bisa tidak cocok dengan beberapa orang, saya bisa mengatakan “pelayananmu salah, pelayanan ini yang benar”, lalu saya tidak bisa kerja sama dengan orang ini, tapi kalau orang ini sungguh-sungguh di dalam Tuhan dan saya berada dalam Tuhan, meskipun ada perbedaan seperti ini, saya anggap ini bagian tubuh Kristus sama seperti saya bagian tubuh Kristus. Ini pengertian yang sulit dipahami kecuali kita pakai contoh satu tubuh. Di dalam keterbatasan kita, kita mungkin sulit menjadikan orang lain sepaham dengan kita atau kita sepaham orang lain, dengan sevisi menjalankan apa yang Tuhan mau. Tetapi di dalam ilustrasi satu tubuh ini ada contoh yang bagus sekali tentang kebersamaan. Saudara tidak menjalin komunitas dengan cara yang kosong, tapi menjalin komunitas seperti satu tubuh. Ini suatu yang dipahami oleh seorang bernama Martin Buber, dia mengatakan bahwa “perjumpaan saya dengan benar, I and it, itu tidak perlu encounter, dan encounter perjumpaan dengan benda itu tidak akan mengubah saya dan tidak mengubah benda itu”. Saudara tidak mungkin duduk lalu merasa ada encounter dengan kursi Saudara, Saudara mengatakan “hai kursi hijau, engkau indah sekali, aku sungguh bergetar melihatmu”, maka orang yang mencintai barang, cinta seperti ini itu perlu bertobat. Relasi I and thouadalah aku dan engkau adalah relasi yang mengubah saya, relasi yang membuat saya mengalami perubahan dahsyat, mempersiapkan saya untuk menerima engkau dan menjadikan engkau bagian dari hidup saya. Relasi yang Tuhan mau, relasi seperti ini, bukan relasi asal kenal saja. Tapi relasi yang begitu mendalam, yang hanya bisa kita alami di dalam Kristus. Dunia kita ini mengalami krisis relasi, demikian dikatakan oleh Sherry Turkle, seorang pengajar dari MIT, dia mengatakan dunia kita alternatif relasinya banyak, tetapi krisis relasi adalah hasilnya. Mengapa krisis relasi bisa muncul? Papa dan mama, orang tua, suami istri relasinya cuma I and it, cuma sekedarnya. Orang tua dan anak cuma ketemu sekedarnya, antara anak satu dengan yang lain tidak ada relasi yang mendalam. Antara orang Kristen satu dan orang Kristen yang lain juga tidak ada relasi yang mendalam. Manusia tidak bisa diciptakan dengan kekosongan seperti ini, tidak bisa menjalani hidup dengan kekosongan seperti ini. Maka kita perlu adanya penyatu, dan Kristuslah yang mungkin mempersatukan seluruh anak Tuhan yang tercerai-berai. Di dalam Injil dikatakan Yesus datang untuk menyatukan anak Tuhan yang tercerai-berai di mana-mana. Dia hancurkan diriNya untuk mengumpulkan kita menjadi satu. Dikatakan Augustinus, Yesus mati untuk membuat kita hidup, Yesus badanNya tercerai-berai supaya umat Tuhan yang tercerai-berai dikumpulkan menjadi satu. Maka di dalam Kristus, Suadara punya bahada Injil yang sama meskipun diekspresikan dengan bahasa negara yang berbeda. Orang Indonesia bertemu dengan orang Afrika, sama-sama mengerti penebusan Kristus, sama-sama mengagumi Kristus, ini menjadi satu. Itu sebabnya ketika kita sadar perlu adanya kesatuan di dalam relasi, kita sadar kita perlu Yesus Kristus.
Dan saya tutup dengan mengingatkan 6 poin tadi adalah 6 poin yang sedang dicari dunia ini. Tadi saya mengatakan “engkau perlu berdamai dengan Allah”, dunia ini sedang mencari perdamaian sejati tapi tidak dapat, karena tidak sadar perlunya damai dengan Allah. Lalu poin kedua, untuk mengenal Kristus kita perlu Sang Pengantara dan dunia ini sedang mencari orang yang menjadi peace maker, menjadi orang yang mendamaikan satu dengan yang lain, orang yang lebih bisa merangkul dari pada orang yang bisa menghantam. Ini tidak mungkin didapatkan kecuali kita sadar Kristuslah satu-satunya yang mungkin merangkul kita dan pihak yang bermusuhan dengan kita yaitu Allah, menjadi satu. Lalu dunia memerlukan pemimpin sejati, dan kita menyadari itu dipenuhi di dalam Kristus. Dunia menyadari perlu adanya otoritas dan kasih, kasih tanpa otoritas adalah liar, otoritas tanpa kasih adalah penderitaan dan penindasan. Otoritas dan kasih hanya mungkin di dalam Kristus. Kita juga tahu kita perlu teladan, tapi kita perlu pengorbanan dari orang yang rela jadi teladan, itu sebabnya Kristus datang menjadi Penebus dan teladan bagi kita. Lalu hal terakhir, dunia sedang mencari komunitas yang relasionalnya baik itu komunitas apa, sedangkan Firman Tuhan mengatakan di dalam Kristus, gereja menjadi contoh untuk suatu komunitas yang baik dan mempermuliakan nama Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan Saudara untuk merenungkan tentang Tuhan dengan cara yang bertanggung jawab.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 16 Sep 2015
Perhatikan cara kamu mendengar
(Lukas 8: 16-18)
Dalam Lukas 8, pelita yang dimaksud bukan gereja yang harus bersinar menyatakan terang, pelita yang dimaksud di sini adalah Kristus sendiri. Suatu saat nanti Kristus akan dipamerkan oleh Bapa, Kristus akan dinyatakan ke seluruh dunia. Tapi ketika Kristus datang pertama kali, kemuliaanNya yang sempurna belum menjadi nyata. Dia masih sembunyikan kemuliaanNya di dalam kesederhanaan. Itu sebabnya yang menerima Kristus yang datang sebagai yang hina, yang menerima Kristus waktu Dia datang sebagai orang yang rendah, dia akan menikmati ketika pelita itu dinyatakan. Jadi ini sedang berbicara tentang Kristus, Yesus mengatakan “tidak ada orang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan”, Kristus pun suatu saat kemuliaanNya dinyatakan. Itu sebabnya kesimpulan dari ayat 18 sangat menjadi satu kesatuan dengan 2 ayat sebelumnya. Sebab di dalam ayat 18 dikatakan perhatikanlah cara kamu mendengar, kalau cara kita mendengar itu tepat maka kita akan melihat kemuliaan Kristus di balik kehinaanNya, kalau cara mendengar kita tepat maka kita akan melihat keTuhanan Kristus di tengah-tengah dunia yang menganggap Dia hanyalah penyesat atau orang yang harus dibinasakan. Yang Yesus katakan perhatikan cara kamu mendengar, ini harus ditafsirkan berdasarkan kitab Perjanjian Lama.
Dalam Kitab Perjanjian Lama beberapa bagian dalam Mazmur dan beberapa bagian dari Kitab Taurat itu menekankan yang Tuhan tuntut dari orang yang mendengarkan Firman Tuhan. Apa yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mendengarkan Firman Tuhan dengan benar? Hal yang pertama adalah Tuhan menuntut yang mendengar Firman Tuhan harus mempunyai kerendahan hati. Kerendahan hati inilah yang membuat manusia sujud dan takut akan Tuhan. Dalam Mazmur 25 yang tadi kita sudah baca, disitu dikatakan bahwa Tuhan menunjukan jalanNya kepada orang yang takut akan Dia. Seringkali kita bertanya kepada Tuhan “Tuhan, kehendakMu dalam hidupku apa? Saya mesti kerja dimana? Saya mesti kuliah di mana? Saya mesti lakukan apa?”. Saudara tidak terlalu tahu yang dilakukan sekarang ini kehendak Tuhan atau bukan, itu masih tidak sefatal kalau Saudara tidak punya hati yang siap. Kalau saya punya hati yang siap, Tuhan tuntun ke mana saja saya siap. Maka ketidak-mengertian saya akan pimpinan Tuhan itu masih bisa ditoleransi. Tidak fatal kalau Saudara belum tahu yang Saudara lakukan ini pimpinan Tuhan atau bukan, tapi yang jadi fatal menurut Alkitab kalau hati yang tidak takut akan Tuhan dan hati yang tidak rendah hati di hadapan Tuhan itu yang bahaya. Sekarang orang lebih takut “mana ya Tuhan, ke kiri atau ke kanan”, terserah yang mana, pertimbangkan dengan akal sehat, gumulkan baik-baik lalu pilih saja. Karena engkau salah pilih masih lebih baik dari pada engkau mempunyai hati yang salah, ini bicara soal setelah lulus mau ke mana, bukan bicara soal pasangan hidup. Inilah hal pertama yang harus dimiliki untuk mendengar dengan benar. Siapa yang mendengar dengan kerendahan hati itu akan mendengar lebih benar dari pada orang yang mendengar dengan keangkuhan hidup yang tinggi. Banyak kali orang datang kepada Tuhan dengan perasaan angkuh luar biasa, merasa kalau Tuhan mengkonfirmasi keinginan saya, itu Tuhan yang oke. Kalau Tuhan beda dengan yang saya mau, ini Tuhan yang kurang oke. Tuhan yang oke itu adalah Tuhan yang gampang setuju, kalau saya mau apa Tuhan itu setuju, kalau saya mau ini Tuhan memberi bahkan memberikan dengan kelimpahan, itu Tuhan yang baik. Jadi syarat Tuhan pun kita yang tentukan, bayangkan betapa mengerikannya orang dengan pemikiran seperti ini. Tapi Alkitab mengingatkan kamu yang ciptaan memandang ke sorga langsung harus tahu Tuhan di sorga, kamu di bumi, bumi dan sorga jauhnya luar biasa. Jadi saya yang di bumi berdoa kepada Tuhan yang di sorga, saya berdoa dengan sangat gentar. Martin Luther pernah mengatakan “mengapa kalau saya berdoa dengan lutut dan tangan gemetar memanjatkan kalimat-kalimat kepada Tuhan”, karena dia tahu Tuhan bisa marah kalau doanya salah, ini awal sebelum dia menerima reformasi. Setelah dia menerima reformasi, setelah dia mengetahui Allah yang beranugerah “saya tetap berdoa dengan gemetar”. Orang tanya “kan kamu sudah tidak takut lagi dihukum Tuhan, mengapa doanya masih gemetar?”, “ini gemetar karena ketakutan sukacita yang Tuhan berikan melampaui yang layak saya terima”. Jadi waktu tahu Tuhan baik, dia justru jauh lebih gentar dari pada dia pikir Tuhan jahat dan siap menghukum. Menyadari bahwa Tuhan jauh lebih besar, jauh lebih agung, jauh lebih benar dari pada saya. Dialah pemilik semua kebenaran, Dia tahu segala sesuatu tentang segala sesuatu, kalau pinjam bahasa Cornelius Van Til. Dia mengetahui semua dengan total, itu sebabnya waktu saya datang kepada Tuhan, saya datang dengan perasaan rendah mengatakan “aku cuma ciptaan yang tidak berarti, bagaimana mungkin aku boleh menjadi orang yang layak menerima kebenaranmu?”. Ini yang heran, orang yang merasa diri tidak layak terima kebenaran, justru dia yang akan mati-matian, karena dia tahu ketika yang tidak layak dapat, itu karena anugerah. Dan anugerah bolah ada boleh juga diambil, anugerah boleh muncul boleh juga tidak.
Lalu hal kedua, orang yang datang dan diberkati adalah orang yang mendengar Firman dengan satu perasaan, kecuali menjalankan Firman tidak ada alternatif lain, ini hal kedua yang harus dimiliki. Orang-orang yang mengatakan “kecuali mentaati Tuhan tidak ada jalan lain”, saya tidak lihat ada laternatif yang lebih baik bagi hidup saya. Tetapi sangat sulit, karena ketika Saudara melihat Kitab Suci, Saudara akan menemukan di dalam keberdosaan kita, yang dikatakan Kitab Suci terlalu ideal, sedangkan hidup perlu sesuatu yang realistis. Jadi apa yang Tuhan nyatakan memang bagus tapi kurang aplikatif, memang bagus tapi kurang menyentuh hidup saya, memang bagus tapi tidak realistis bagaimana ada orang bisa menjalankan seperti ini? Apakah engkau tidak tahu beratnya dunia ini seperti apa. Seringkali orang mengkritik “pendeta tidak tahu beratnya hidup seperti apa, pendeta tidak tahu kesulitan di Indonesia seperti apa. Bagaimana mungkin menjalankan ini dengan sesetia mungkin?”. Tapi ini seperti mengatakan Firman Tuhan kurang aplikatif, akhirnya kita mempunyai kebiasaan untuk memecahkan hidup kita, di satu sisi kita menyembah Tuhan, disisi lain kita menyembah dunia ini, di sisi lain kita pakai sistemnya Tuhan, ibadah dan hal rohani lainnya, di sisi lain kita pakai konsep dunia untuk menjalankan apa yang dilakukan di dunia, ini membuat kit amenjadi tepecah terus. Tapi Alkitab tidak menginginkan kita menjadi terpecah, Alkitab menginginkan kita menjadi orang yang dengan utuh melihat Tuhan baik waktu berdoa dan menghadap langit maupun waktu bekerja dan melihat apa yang ada di bumi ini. Jadi semua milik Tuhan. Alkitab mencatat Tuhan menciptakan langit dan bumi, Alkitab tidak mengatakan Tuhan menciptakan langit dan menyerahkan bumi kepada setan, itu tidak pernah terjadi. Jadi Dia pemilik semua dan karena itu semua aspek hidup adalah milik Tuhan yang harus dipersembahkan kepada Tuhan dengan cara Tuhan. Maka Tuhan kadang-kadang menuntun orang dengan cara membuat mereka tidak bisa melihat lain kecuali menjalankan apa yang Tuhan mau.
Salah satu bentukan yang sangat keras bagi Israel adalah waktu Tuhan paksa mereka untuk melakukan hanya satu yaitu hanya yang Tuhan mau. Tuhan bisa menjawab dengan ramah, Tuhan bisa menyatakan cara membimbing kita untuk mengerti bahwa caraNya jauh lebih baik. Waktu kita datang kepada Tuhan, mari kita menjadi murid yang benar, murid yang mengatakan yang Tuhan bilang itu yang benar, yang Tuhan katakan itu tidak ada alternatif lain, cara saya hidup hanya mungkin kalau saya menjalani di dalam cara Tuhan. Orang yang punya telinga seperti ini akan mendengarkan Tuhan dengan baik. Maka sebelum mendengar, Saudara mesti tahu dulu mengapa harus mendengar, mengapa harus mengerti Firman Tuhan. Ketika Saudara menyadari mengapa kurang saleh, mengapa kurang benar, mengapa kurang bijak, mengapa kurang kebaikan, mengapa kurang menyangkal diri, mengapa kurang jadi berkat, mengapa hidup kita kacau, kita sadar kita perlu Tuhan, kita perlu FirmanNya. Orang seperti ini akan datang dan mengatakan “Tuhan, saya sudah coba, di luar FirmanMu tidak ada jalan lain. Hikmat dunia sudah saya coba, kosong, penuh dengan hal-hal yang membuat saya rusak”. Maka kalau Saudara mau hidup dengan benar, Saudara tahu kecuali saya selidiki Firman Tuhan, kecuali saya pahami dengan konsisten, saya tidak mungkin hidup. Berapa lama sampai akhirnya nanti Tuhan tunjukan semua jalan di luar Firman Tuhan itu buntu, berapa lama sebelum akhirnya kerusakan itu makin hancur, sebelum Saudara mengatakan “saya harus kembali kepada Tuhan”. Berapa lama sebelum Saudara mengatakan “cukup, hidup saya yang rusak ini mesti balik dan saya mesti balik berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Jangan tunggu lama, makin lama makin rusak, makin kacau dan Saudara akan membayar harga yang terlalu mahal. Sekarang banyak orang mengatakan kepada Tuhan “selama pengertianMu sesuai dengan yang saya mau, Engkau cocok bagi saya”, tapi ini adalah tindakan yang meremehkan Tuhan. Kita sering kurung Tuhan di satu bagian yang tidak terlalu banyak menyentuh hidup kita. Maka kita harus berubah cara berpikirnya, kita harus mengatakan “Tuhan, selain caraMu tidak ada cara yang lain. Saya hidup, berkeluarga, bekerja, saya melakukan apa pun kalau tidak berdasarkan yang Tuhan mau, tidak ada cara lain”. Orang sekarang terlalu melihat perbedaan gap yang jauh sekali antara Firman Tuhan dan kehidupan dunia, tapi menolak mengakui “selain menyerahkan kepada Tuhan, tidak ada jalan lain”. Saya sangat bersyukur kalau Tuhan mengijinkan saya menyaksikan kehidupan orang-orang yang diubah total, bagaimana kehidupan orang itu berubah total, salah satunya adalah jalan hidup yang buntu, tidak bisa lagi melihat kemungkinan untuk terus. Waktu dia sadar tidak ada jalan lain, baru dia sadar ternyata hanya yang Tuhan mau yang mungkin dikerjakan, maka dia kembali kepada Tuhan. Dan kalau hidup Saudara begitu rumitnya, mengapa berani mengatakan “saya bisa melangkah tanpa tuntunan Tuhan”. Itu sebabnya mari jadi orang yang siap mendengar dan mengatakan “tanpa tuntunan dari Tuhan, tidak mungkin melangkah, mana bisa melangkah”. Maka mari kita dengar Firman Tuhan dengan seolah-olah kalau kita tidak dengar Firman Tuhan dan saya tidak mengerti, hidup saya akan berakhir, membuat saya menjadi lebih serius mendengarnya.
Hal terakhir, sikap yang Tuhan tuntut yang seperti kita lihat dalam Mazmur 25 adalah mendengar lalu berespon di dalam kasih. Saudara tidak mungkin diperkenan oleh Tuhan kalau cara mendengar Saudara terhadap Firman adalah cara pendengar yang terpaksa harus ditaati. Karena Tuhan jahat maka saya terpaksa taati, karena Tuhan perintahkan maka saya terpaksa taati. Saya kalau ditanya “mengapa hidup suci?”, “terpaksa, kalau tidak akan disindir dari mimbar, mau tidak mau harus suci”, “mengapa kamu lakukan ini?”, “karena kalau saya tidak lakukan ini nanti dimarahi”. Banyak orang takut dihukum maka kerjakan. Tuhan kita bukan Pribadi yang hanya mau menghancurkan tradisi, Dia adalah Pribadi dari kebenaran itu sendiri, Dialah kebenaran. Maka waktu Dia menyatakan ajaranNya hanya kebenaran saja yang akan Dia nyatakan. Saudara kalau mendengar Tuhan pasti mengasihi Tuhan, karena Tuhan tidak pernah mempunyai motivasi yang jelek, Tuhan tidak pernah menginginkan hidup Saudara makin hancur. Tuhan menginginkan Saudara berada dalam damai sejahter yang mau Dia berikan. Maka Dia memberikan Firman dengan motivasi yang sangat besar untuk membuat hidup kita makin baik. Itu sebabnya kalau kita mengerti hal ini, makin dengar Firman makin penuh sukacita, makin mendengarkan Firman makin penuh perasaan kagum kepada Tuhan yang baik. Maka Tuhan menuntun kita dan kita tahu tuntunanNya itu baik.
Maka 3 hal inilah yang kita perlu kita miliki perasaan rendah hati dan takut akan Tuhan, waktu dengar Firman saya tahu saya mesti dengar dengan baik. Yang kedua adalah perasaan kalau bukan Firman Tuhan, hidupku akan hancur, saya harus dengar apa yang Tuhan mau katakan. Lalu yang ketiga, saya tahu waktu saya mendengar Firman Tuhan, itu akan membawa kepada saya ke dalam relasi yang penuh cinta kasih kepada Tuhan, aku akan semakin mengasihi Dia dan akhirnya semakin mampu untuk mengasihi orang lain. Bagaimana caranya mengasihi orang lain? Dengan mengasihi Tuhan, bagaimana mengasihi Tuhan? Dengan dengar FirmanNya, bagaimana saya tahu saya sudah dengar FirmanNya? Dengan menjalankan FirmanNya, apa yang harus dijalankan dari FirmanNya? Untuk mengasihi sesama, bagaimana mengasihi sesama? Dengan dikuatkan karena menyadari kasih Tuhan. Lalu apa tanda saya dikasihi Tuhan? Kamu respon di dalam kasih kepada Tuhan. Jadi kasih kepada Tuhan, mendengar Firman, ketaatan kepada Firman dan kasih kepada sesama, ini menjadi satu paket yang tidak bisa dipisah. Jadi saya mencintai Tuhan karena saya dengar FirmanNya, dan dengar Firman berarti saya jalankan, dan apa yang Tuhan tuntut adalah untuk kita mengasihi. Jadi kasih dan mendengar itu erat sekali relasinya. Orang tidak bisa bilang kasih kalau tidak mendengar. Relasi tidak mungkin tanpa mendengar, maka Saudara mencintai orang, Saudara siap mau mendengar, Saudara mencintai Tuhan, Saudara siap mendengar Dia. Jadi motivasi cinta, motivasi krusial saya tahu tanpa Firman Tuhan tidak mungkin hidup, kemudian motivasi hormat kepada Tuhan itu menjadi motivasi yang membuat kita mendengar Firman dengan baik. Maka di ayat 16 dikatakan “tidak ada orang yang menyalakan pelita kemudian menutupinya dengan tempayan tetapi ia menempatkannya di kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya”, ini berbicara tentang nanti ketika Kristus dinyatakan terangNya, engkau yang selama ini sudah mendengar dengan baik, engkau akan merasakan kenikmatan yang limpah karena engkau dengar itu ternyata benar Kristus dan itu dinyatakan dengan seluruh ketaatanmu mendapatkan faedahnya di dalam kedatangan Kristus yang kedua. Ini menjadi satu cerminan di dalam keadaan orang-orang yang ikut Yesus pada waktu itu, ada orang yang mengatakan “bodoh kamu ikut Dia”, tapi Yesus mengatakan “yang punya telinga untuk mendengar akan mendengarkan suaraKu dan waktu pelita itu dinyatakan orang-orang ini akan Tuhan angkat dan permuliakan”.
Maka biarlah kita mendengar dengan baik karena Sang Pelita itu akan dinyatakan terangNya. Lalu ayat 17 “tidak ada yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, tidak ada rahasia yang tidak akan diumumkan”, ini mengenai Kristus. Tadinya Kristus dinyatakan secara rahasia seolah-olah, hanya kepada saksi lalu kepada orang-orang pilihan. Tapi nanti pada zaman akhir, Dia akan datang lalu semua orang akan mengetahui Dia adalah Raja, Dia adalah Hakim. Yang sudah mengetahui dari awal akan menghakimi dunia bersama dengan Dia, sedangkan yang terus menolak sudah terlambat untuk mengubah posisi pada waktu terang itu dinyatakan. Maka ayat 18 menyimpulkan perhatikan cara kamu mendengar, dengar dengan rendah hati, dengar dengan perasaan krusial bahwa Firman Tuhan harus menjadi satu-satunya untuk hidup dengan benar. Lalu dengar dengan kasih untuk relasi yang indah dengan Tuhan. Lalu dilanjutkan dengan perkataan “karena siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi, tapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga yang dia anggap ada padanya”. Tuhan memberikan peringatan bukan untuk membuat kita mengkutubkan diri ke salah satu, tapi siapa punya telinga untuk mendengar.Siapa dengar dengan rendah hati, siapa dengar dengan perasaan krusial bahwa saya harus jalankan Firman Tuhan, siapa dengar dengan perasaan kasih, orang ini akan Tuhan beri sampai kelimpahan. Sedangkan yang tidak punya, Tuhan akan ambil, bahkan apa yang dia pikir ada padanya. Seperti orang Farisi, mereka pikir mereka sudah tahu, tapi Tuhan katakan “itu akan Aku akan ambil”. Ini bukan untuk mengkutubkan kita, tapi untuk membuat kita berpindah dari orang yang salah mendengar menjadi orang yang mau mendengar dengan benar. Mari kita semua melatih cara kita mendengar, mendengar dengan rendah hati, mendengar dengan kesiapan untuk taat, mendengar dengan kesiapan untuk mencintai Tuhan. Dan janji Tuhan menjadi nyata pada waktu Kristus dinyatakan, orang-orang seperti ini akan mendapatkan kelimpahan di dalam kemuliaan Kristus.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 16 Sep 2015
Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!
(Lukas 8: 1-15)
Dan dalam pasal 8: 1-3 adalah narasi yang menutup peristiwa sebelumnya, peristiwa konflik Kristus, narasi-narasi mengenai siapakah Kristus, entah perdebatan dengan orang Farisi atau pun tanya jawab dengan murid-murid Yohanes Pembaptis. Setelah bagian itu selesai, Lukas mencatat bahwa Kristus berkeliling dari desa ke desa, dari kota ke kota untuk memberitakan Injil dengan disertai 12 murid. Lalu selain 12 murid dikatakan juga ada beberapa perempuan yang mengikuti Yesus. Dalam Kisah Para Rasul maupun Lukas, Lukas sering menulis perempuan-perempuan yang ikut. Di dalam Kisah Para Rasul beberapa kali Lukas menulis ada perempuan-perempuan yang bertobat, jadi Lukas menulis selain orang-orang Israel dan bangsa-bangsa lain juga ada perempuan-perempuan yang bertobat. Lukas mempunyai keunikan memberikan sorotan kepada peran perempuan, perempuan-perempuan itu ikut dalam rombongan Tuhan Yesus. Jadi ini salah satu cara Lukas menulis bahwa ini kelompok-kelompok yang diabaikan oleh manusia ternyata diadopsi oleh Kristus. Kristus akrab dengan pendosa, pemungut cukai, orang-orang yang dianggap hina pada zaman itu, ini menunjukan Kristus datang untuk mengambil atau memanggil orang-orang yang bahkan dianggap tidak berarti oleh masyarakat. Ini tema yang sangat penting dalam Kekristenan mula-mula. Kitab Suci tidak mengusir para pendosa, asal mereka bertobat. Tapi Kitab Suci sangat anti kepada orang yang merasa tidak perlu bertobat. Itu sebabnya keakraban Kristus dengan orang-orang yang pernah berdosa, sangat dibenci oleh orang-orang yang merasa diri tidak berdosa. Sehingga waktu Yesus bergaul dan memanggil orang-orang ini, mereka begitu marah. Yang meskipun pernah berdosa tapi mau bertobat, dia akan dipulihkan. Tetapi yang pernah berdosa, belum sadar dia perlu bertobat, ini yang perlu diwaspadai. Jadi orang yang tidak ada harapan datang ke Kristus dan mereka mendapatkan pengharapan baru. Dan orang yang sudah tidak tahu harus melakukan apa, datang kepada Kristus dan Kristus mengampuni dosanya. Setiap orang yang merasa putus asa, mereka datang kepada Kristus dan Kristus memberikan pengharapan baru. Tetapi Injil sangat menentang orang yang mempunyai pembenaran diri, setiap bentuk pembenaran diri selalu ditentang.
Lalu apa yang membedakan kelompok 1 dengan yang lain ini? Mengapa ada kelompok di dalam Kristus dan ada kelompok yang menolak Kristus? Inilah yang diselesaikan di dalam perumpamaan Kristus yang berikut yaitu mengenai seorang penabur. Ternyata yang membedakan kelompok yang 1 dengan yang lain adalah cara mendengar, yang membuat orang sungguh-sungguh Kristen dan yang membuat orang Kristennya palsu adalah cara mendengar. Bukan berapa banyak pengetahuan tapi cara mendengar. Maka di dalam perumpamaan Kristus tentang mendengar Firman, Kristus selalu mengaitkan mendengar dan sesuatu yang lain. Yesus mengatakan “ada seorang penabur pergi menaburkan benih”, orang dulu kalau menabur dia akan mengambil dari kantong yang isinya begitu banyak benih gandum atau yang lain, lalu dia akan menabur sekeliling dia, dia akan usahakan seluruh ladang yang dia sudah siapkan itu penuh dengan benih yang akan dia tabur. Biasanya dalam 1 hari ini harus selesai, dan dia tidak ambil satu-satu taruh di tempat yang tepat, itu tidak akan cukup waktunya. Maka dia ambil banyak, lalu dia sebarkan. Dan yang sudah tersebar, di ladang yang dia sudah siapkan itu banyak, tetapi ada juga yang jatuh di tanah berbatu, ada yang jatuh di pinggir jalan lalu dimakan burung, ada juga yang jatuh di tempat yang beres sehingga akan tumbuh dan memberikan hasil. Bagi petani pada waktu itu kalau dia sudah menaburkan benih, dia berharap benihnya itu akan memberikan hasil sampai 10x lipat, kalau bisa sampai 10x lipat, ini dianggap sukses besar. Tetapi Yesus mengatakan yang jatuh di tanah yang subur, akan menghasilkan 100x lipat, berarti 10 kalinya dari yang diharapkan petani pada waktu itu. Jadi Yesus memberikan perumpamaan yang sangat luar biasa, yaitu ada orang-orang yang akan menghasilkan buah dengan Firman dan buah itu menjadi tanda dia orang Kristen dimana kelimpahan dari hidupnya itu berlimpah bahkan 10 kali lebih banyak dari apa yang diharapkan orang dunia. Maka Yesus menceritakan perumpamaan ini dan setelah itu Dia menutup di ayat 8 dengan mengatakan “siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah dia mendengar”, ini kalimat penting sekali, karena Yesus tidak mengatakan “siapa yang mempunyai pengetahuan teologi yang banyak, siapa yang mempunyai kebiasaan dengar apa yang Aku katakan”, dia akan mengerti, tidak. Yesus mengatakan yang bisa dengar akan mendengar, yang tidak itu tidak. Jadi dari awal Tuhan sudah mengatakan pembagian antara yang bisa mengerti dan tidak, bukan pembagian berdasarkan kemampuan manusia untuk memutuskan, tetapi merupakan sesuatu yang Tuhan sendiri sudah tetapkan. Itu sebabnya tidak ada seorang pun yang setelah datang kepada Tuhan bisa membanggakan keputusannya, karena dia tahu seandainya Tuhan tidak interupsi, Tuhan tidak bekerja, tidak mungkin ada orang dengan kerelaan hati mau datang kepada Tuhan. Maka di dalam cara pembacaan yang benar seharusnya kita mengatakan, orang yang diberi telinga untuk dengar, berjuanglah untuk mendengar. Siapa diberikan iman, berjuanglah untuk beriman. Yesus mulai membagikan arti yang pertama apa, arti yang kedua apa, arti yang ketiga apa, arti yang keempat apa. Dan di dalam pembagian arti ini biasanya kita menempatkan diri kita di salah satu “saya yang mana ya?”. Tapi waktu Yesus membagi 4 perumpamaan ini, Yesus tidak mengatakan bahwa kita cuma salah satu, kita bisa jadi semuanya. Kita bisa jadi orang yang kalau Tuhan tidak berikan anugerah, begitu dengar Firman, iblis akan mengambil Firman itu. Kalau bukan karena anugerah, saya akan menjadi orang yang setelah dengar Firman, langsung kompromikan Firman dengan tawaran hidup. Saya kalau dengar Firman, saya terima dengan baik, tapi begitu ada tawaran dunia, saya lepaskan itu
dan saya ikuti dunia ini. Maka kita tidak harus hanya menjadi salah satu, tapi kita wajib bergerak untuk menjadi contoh ke-4 yaitu yang berbuah, yang menghasilkan 100 kali lipat kelimpahan di dalam hidupnya. Saudara perlu mengambil keputusan Saudara ada di mana dan bagaimana caranya Saudara bergerak menjadi kelompok yang ke-4. Maka saya bagikan dulu yang pertama, di ayat 12 Yesus mengatakan “yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengar Firman kemudian datanglah iblis lalu mengambil Firman itu dari dalam hati mereka supaya mereka jangan menjadi percaya dan diselamatkan”. Kelompok pertama adalah kelompok yang setelah mendengar Firman tidak ada respon, tidak ada perubahan, tidak ada iman, tidak ada pertobatan, tidak ada kerinduan untuk datang kepada Tuhan, seluruh apa yang disampaikan oleh Tuhan dianggap lewat begitu saja. Seluruh Firman yang dinyatakan dianggap sepi, boleh ada, boleh tidak. Tapi bukan hanya kelompok ini, ada lagi yang juga masuk dalam kelompok pertama, yaitu orang yang setelah dengar Firman langsung mengambil Firman ini untuk mengkonfirmasi posisinya. Baca apa pun dibaca dan ditafsirkan berdasarkan kerangka lama yang dia punya. Orang seperti ini juga sama, setelah dengar Firman tetap binasa karena tidak sampai kepada kebenaran yang disampaikan. Apa pun yang disampaikan ditafsirkan berdasarkan kerangka lamanya. Susah sekali ngomong sama orang seperti ini. Waktu saya belajar dari Firman, saya hanya ambil apa yang saya sudah saya ketahui untuk konfirmasi kedegilan saya sendiri”, itu sebabnya perumpamaan yang pertama, yaitu tanah yang keras di pinggir jalan, ketika benih itu jatuh, datang burung ambil Firman itu, ini melambangkan setan datang mengambil Firman itu dari kita, sehingga kita tidak sampai kepada iman yang harusnya terjadi ketika mendengarkan Firman.
Yang kedua, yang jatuh di tanah berbatu-batu adalah orang yang setelah mendengar Firman menerima tapi tidak berakar kemudian murtad dalam pencobaan. Kelompok kedua ini adalah orang yang setelah mendengar Firman, mereka begitu menyenanginya, memeluknya, mengaguminya, menganutnya, sampai pada waktu dimana mereka harus memilih antara Firman dan dunia, sampai mereka harus pilih antara Firman dan keamanan hidup. Banyak sekali kesulitan yang dialami oleh orang Kristen, dan orang Kristen mula-mula termasuk orang yang kehidupannya paling susah. Mereka bukan cuma dihalangi untuk beribadah, tapi mereka juga mengalami harus mati martir karena iman kepada Tuhan. Maka Tuhan sudah ingatkan, siapa yang terima Firman akan masuk dalam ujian. Begitu diuji, tahan uji atau tidak itu menjadi pertanyaan yang penting. Apakah engkau tanah yang berbatu, yang setelah mendengar Firman, hanya menerima Firman itu sebatas itu memberikan keamanan bagi saya, atau ketika penganiayaan datang, menjadi murtad, meninggalkan kepercayaan yang dianut demikian keamanan diri. Banyak orang dulu Kristen tapi setelah itu berubah bukan Kristen lagi, supaya kariernya lebih baik. Maka waktu Firman itu datang, reaksi kita bagaimana, apakah saya ambil lalu saya peluk kemudian saya mengatakan “Kristus saya milikMu selamanya”, apakah saya akan mengalami bahagia bersama Dia, juga sengsara bersama Dia atau tidak. Tapi orang yang hanya berpikir “kalau saya menderita, Tuhan perbaiki, kalau saya sulit, Tuhan bereskan, kalau saya mengalami kemiskinan, Tuhan beri kekayaan, kalau saya sakit, Tuhan sembuhkan”, tapi tidak peduli Tuhan jauh atau dekat, yang penting kalau saya minta apa Tuhan beri, itu yang beres. Orang seperti ini adalah Kristen yang belum benar, karena di dalam bagian yang kita lihat dalam Lukas 8, Tuhan mengatakan ada benih yang jatuh di atas batu, ini tidak akan tahan lama. Dia tumbuh, dia sangat senang Firman, dia sangat terhibur dengan kebenaran yang sudah disampaikan, tetapi begitu matahari bersinar, dia layu dan akhirnya mati. Begitu kesulitan datang, orang ini hancur. Maka yang poin kedua ini sangat penting, maukah kita menjadi orang yang menerima Firman dan berlimpah hidupnya? Kalau mau, ini penghalang yang harus kita singkirkan, kita tidak boleh jadi orang yang hanya menyenangi ketika Firman Tuhan berguna bagi saya, ketika Firman Tuhan membawa kebaikan bagi saya, tapi ketika identitas sebagai umat Tuhan mengganggu saya bahkan membuat saya sengsara, saya akan tinggalkan ini. Ujian paling pertama yang dihadapkan pada orang percaya adalah kesulitan. Di dalam kesulitan masih bertahan atau tidak, ini adalah dalil dari perumpamaan Kristus yang kedua.
Lalu perumpamaan yang ketiga dikatakan ada benih yang jatuh di semak duri, ini melambangkan Firman yang jatuh pada orang yang bertumbuh di dalam kesenangan akan Firman, tapi setelah itu semak duri tumbuh, menghimpit dia kemudian mati. Ini adalah orang-orang yang menyenangi Firman, mengagumi Firman, tapi tidak melihat realisasinya, tidak melihat sisi aplikatif dari Firman Tuhan. Yang mereka tahu adalah Firman Tuhan meskipun indah tapi tidak real, yang dikhotbahkan pendeta meskipun indah tapi tidak real, pendeta tidak tahu sulitnya saya, cuma tahu khotbah keras-keras, coba kalau dia mengalami yang saya alami, seluruh khotbahnya cuma ide-ide yang tidak real. Orang yang mengatakan begini, dia hanya setuju Firman Tuhan tapi tidak melihat keperluan atau keharusan untuk menggumulkan, memperjuangkan Firman di dalam hidup. Tuhan mengatakan “engkau harus hidup suci”, lalu kita mengatakan “tidak bisa hidup suci, bagaimana caranya? Dunia dan segala kerusakannya membombardir kita dengan segala kecemaran, maka kita tidak mungkin berhasil, jadi Firman Tuhan terlalu idealis, tapi hidup kita itu nyata dan real”. Itu sebabnya tidak ada realita yang mengatakan “orang berdosa setelah terima Kristus langsung sempurna”, tidak, semua orang mengalami perjuangan langkah demi langkah mengatasi dosanya. Ini yang mesti kita pahami baik-baik, bahwa Tuhan menuntut kita mencapai yang ideal itu, meskipun Dia dengan tidak kejam menyuruh kita loncat melampaui kekuatan. Tapi juga jangan percaya kata-kata setan yang mengatakan “tidak mungkin, Tuhan menyatakan Firman terlalu ideal, terlalu berat, terlalu tidak realistis, Tuhan tidak mengerti pergumulanmu, Tuhan tidak mengerti kesulitanmu, Tuhan tidak mengerti yang dihadapi dunia postmodern ini, maka kamu tenang saja, kamu silahkan kompromi, karena Tuhan memang kurang mengerti keadaan kita”, ini perkataan setan. Tuhan menuntut apa yang menjadi kebenaran FirmanNya, itu harus dengan real kita nyatakan. Tapi orang-orang kelompok ketiga ini adalah orang yang setelah mendengar Firman, senang, tapi begitu senang, dunia tawarkan apa langsung belok, begitu mudah meninggalkan iman karena tawaran keindahan dari dunia ini. Dunia dengan segala kegemerlapannya melunturkan idealisme seseorang. Itu sebabnya biarlah kita belajar waktu Firman Tuhan menyatakan kebenaran, kita mau pegang, kita mau dengan integritas penuh mau jalankan. Dan Saudara mesti doa sama Tuhan, karena ketika ujian belum datang, kita mudah saja bilang ‘pokoknya saya mau pegang ini”. Tapi begitu semak duri semakin besar, tumbuh sama-sama kita, mulai kita pikir “nikmat juga, untuk apa saya mesti kesulitan dengan menjadi orang Kristen, mengapa tidak menikmati kelimpahan menjadi orang dunia?”, ini adalah contoh ketiga. Orang yang dengar Firman Tuhan lalu terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan, kenikmatan hidup sehingga tidak menghasilkan buah. Dan Saudara jangan pikir kita cuma salah satu, kita mungkin ketiga-tiganya, mungkin kita dulu keras tapi Tuhan memberikan anugerah sehingga kita mau dengar, mungkin dulu kita sangat mudah memkompromikan iman, tapi Tuhan beri kekuatan, mungkin kita dulu begitu silau dengan harta dunia, tapi Tuhan memberikan kekuatan dalam menikmati hidup.
Dan yang keempat adalah yang jatuh di tanah yang baik, ini adalah orang yang berlimpah sampai 100 kali lipat. Saya yakin sekali Alkitab terus memberikan metafora perbandingan yang ekstrim sekali. Tuhan tidak memanggil kita untuk mengalami kelimpahan standar di dalam standar dunia, tapi kelimpahan yang lebih limpah. Maka dikatakan kelompok keempat adalah yang terima Firman, menyimpannya dalam hati yang baik dan ketekunan. Di mana dalam parabel yang Tuhan katakan, buah itu sampai 100 kali lipat. Siapakah kelompok keempat? Yesus mengatakan kelompok keempat adalah yang mendengar dan menyimpan hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Saudara yang mendengarkan Firman lalu menganggap dengar Firman adalah sesuatu yang mutlak harus saya perhatikan dengan serius, saya tidak akan biarkan pengertian dari Tuhan lewat dengan cara yang sepele, saya tidak mau apa yang Tuhan ajarkan dibiarkan lewat begitu saja, saya mau tangkap sebaik mungkin, secepat mungkin, dan saya mau dalami sedalam mungkin. Itu sebabnya setelah Saudara dengar Firman, terus pelajari, kita semua, termasuk saya, setiap kali mengerti sesuatu dari Alkitab, mari dalami, mari pelajari Kitab Suci, mari baca buku-buku yang penting untuk menambah kelimpahan kita akan Firman Tuhan. Kita mesti membiasakan kebiasaan selain dengar khotbah di gereja, terus baca Alkitab, terus baca buku yang penting, terus baca
buku yang berguna untuk membuat kita makin mengenal Tuhan. Dari sini kita akan melihat bahwa janji Tuhan yaitu orang yang simpan Firman ini baik-baik dalam hati akan berbuah dalam ketekunan. Lalu hal kedua, Tuhan juga mengatakan “orang yang menyimpan Firman dalam hati yang baik lalu mengeluarkan buah dalam ketekunan”, inilah orang yang masuk dalam kelompok keempat. Mengeluarkan buah dalam ketekunan, harus ada ketekunan. Ini adalah hal penting yang harus kita ketahui, komitmen dan ketekunan adalah hal penting dalam hidup Kristen. Maka komitmen melayani tubuh Kristus, hanya mungkin dengan real menjadi nyata kalau ada komitmen melayani di dalam gereja Tuhan, selebihnya omong kosong. Orang Kristen bukan hanya cari mana orang yang cocok untuk dirinya, orang Kristen juga sedang berusaha untuk membuat diri sendiri cocok untuk orang lain. Sedangkan orang Kristen akan mengatakan “dia orangnya seperti ini, saya bisa tidak dampingi dia. Kita mesti berjuang menjadi orang yang merupakan tanah yang subur, waktu Firman Tuhan itu datang, saya pelihara, saya peluk, saya cintai keindahannya, setelah itu saya belajar di dalam ketekunan hidup kudus, di dalam ketekunan mengabaikan diri, di dalam ketekunan melihat bagaimana fungsiku di dalam masyarakat. Melihat dengan ketekunan apa yang bisa aku kerjakan bagi orang lain, ini justru yang akan membuat hidup berlimpah sampai 100 kali lipat. Saudara kalau tidak mau percaya kalimat Alkitab, saya tidak tahu Saudara mau percaya kalimat apa lagi. Tapi kalau Saudara mau percaya kalimat ini, mari berjuang sama-sama. Kiranya Tuhan menjadikan kita orang-orang yang mendengarkan Firman, menyimpan dalam hati yang baik dan berbuah di dalam ketekunan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 12 Aug 2015
Banyak diampuni, banyak berbuat kasih
(Lukas 7: 36-50)
Siapa orang yang akhirnya ditolak Tuhan? Simon, mengapa Simon akhirnya ditolak Tuhan? Karena dia menolak Tuhan dengan datang kepada Tuhan dengan penuh keangkuhan. Sedangkan perempuan ini menjadi orang yang diterima karena dia datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati. Ini merupakan pola yang Lukas tahu orang Yahudi mengerti waktu mereka membaca Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama Tuhan sangat menekankan bagaimana relasi dengan Tuhan merupakan sesuatu yang Tuhan ingin waktu Dia memanggil manusia. Tuhan akan menyatakan DiriNya dan Tuhan akan memberikan bagian kepada manusia sesuai dengan respon manusia itu kepada Tuhan. Bagaimana Allah berelasi dengan Israel, itu adalah sesuatu yang menjadi cara berpikir untuk mereka mengerti siapa Tuhan. Jadi mereka tidak menerima doktrin atau pengertian tentang Tuhan dilepaskan dari pengertian tentang relasional. Ini yang sering kita sebut dengan perjanjian, Tuhan menyatakan perjanjian, maka kita harus lihat Dia dalam sudut pandang perjanjian. Kalau kita pakai bahasa lain, perjanjian itu sangat berkait dengan relasi. Tuhan berkata kepada Israel “kalau engkau setia, Aku akan berkati engkau, kalau engkau tidak setia, Aku akan kutuk, Aku akan buang engkau dari tanah ini. Kita menyembah Tuhan yang menyatakan Diri kepada kita dengan kesungguhan mau berelasi dengan manusia. Itu sebabnya kita tidak kesulitan ketika Tuhan mengatakan “kalau kamu setia Aku akan setia kepadamu, kalau tidak Aku akan buang”, ini pengertian relasional dalam perjanjian seperti yang Tuhan nyatakan pada Israel. Jadi untuk memahami Tuhan kita tidak bisa melihat Dia tanpa memahami Dia sebagai Allah yang mau berelasi dengan kita. Dia mau berelasi dengan kita, panggil kita untuk mengenal Dia, sebab kita sendiri sudah dikenal oleh Dia. Itu sebabnya pengenalan akan Tuhan tidak mungkin tanpa ada relasi, saya mengenal siapa Tuhan dan karena itu ada relasi yang akrab dengan Tuhan.
Itu sebabnya tahu akan Tuhan tidak mungkin sama dengan tahu Tuhan berdasarkan mengetahui Firman, mengetahui hukum dan mengetahui sifat-sifatNya. Dalam Kitab Imamat, relasi semua pihak itu diatur, suami istri yang pantas bagaimana, yang tidak pantas bagaimana, istri kepada suami yang pantas bagaimana yang tidak pantas bagaimana, anak muda ke orang tua yang pantas bagaimana yang tidak pantas bagaimana, orang asli ke orang asing yang pantas bagaimana yang tidak pantas bagaimana, orang yang mempunyai uang kepada orang yang tidak yang pantas bagaimana yang tidak pantas bagaimana, pemimpin kepada bawahan, raja kepada rakyat, semua ditulis. Jadi Kitab Imamat menunjukan bahwa Tuhan peduli kepada relasi, dan Tuhan memberikan pengertian mana pantas mana tidak. Demikian juga waktu Tuhan berelasi dengan manusia, Tuhan menyatakan mana pantas dan mana tidak. Apa yang boleh dilakukan oleh manusia, mana yang tidak. Dan dalam Perjanjian Lama banyak ayat, saya kutip hanya beberapa, misalnya dalam Mazmur 69: 33; 149: 4 dan Mikha 6: 8, syarat yang sering diulangi untuk berelasi dengan Tuhan adalah rendah hati. Tidak ada orang boleh berelasi dengan Tuhan kecuali dia datang dengan kerendahan hati. Tidak ada orang boleh mengklaim boleh kenal Tuhan, kecuali dia mengenal Tuhan dengan kerendahan hati. Yang Tuhan tuntut adalah bagaimana kita hidup mengadopsi sifat Tuhan yaitu keadilan dan belas kasihan, tapi juga memberikan penghormatan kepada Tuhan di dalam kerelaan untuk merendahkan diri. Saya datang ke Tuhan dengan rendah hati, inilah yang menjadi syarat orang diterima oleh Tuhan.
Apa rendah hati itu? Saya membagi setidaknya dalam beberapa poin untuk kita mengerti lebih dalam, rendah hati berarti saya sadar bahwa apa pun yang Tuhan beri, tidak satupun saya layak terima, ini namanya rendah hati. Kalau apa yang saya punya, saya rasa saya berhak dapat, ini berarti saya datang kepada Tuhan dengan keangkuhan. Tapi kalau saya sadar semua yang saya punya itu tidak layak saya dapat, ini namanya rendah hati. Sehingga Saudara datang kepada Tuhan dengan perasaan sangat tidak layak karena meskipun saya penuh kecemaran, Tuhan tetap memberkati dengan limpahnya. Mengapa Tuhan tidak berhenti memberkati? Mengapa Tuhan terus pelihara hari demi hari? Ini terjadi karena Tuhan beranugerah, bukan karena saya layak. Maka orang yang rendah hati akan datang kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan, semua yang saya terima, besar atau kecil, semua yang saya terima tidak satu pun layak saya terima. Tidak satu pun saya bisa ambil lalu mengatakan memang sepantasnya saya miliki”. Ini hal yang sangat sulit untuk kita jalani meskipun sangat mudah kita terima. Sudahkah kamu datang dengan rendah hati kepada Tuhan? Sudah, bagaimana tahunya? Saya menganggap semua yang saya miliki tidak layak saya terima. Alkitab menggambarkan kerendahan hati dengan kesabaran “saya tidak boleh melihat Tuhan, Dia terlalu mulia, saya tidak boleh datang ke tempat di mana Tuhan dinyatakan, sebab itu sangat tidak pantas untuk saya”. Maka orang yang rendah hati datang kepada Tuhan, dia hati-hati sekali, dia tidak datang kepada Tuhan dengan percaya diri mengatakan “saya bisa datang kapan pun saya mau”, dan dia tidak datang dengan sifat yang sombong. Itu sebabnya Tuhan Yesus beri contoh ada orang Farisi berdoa dengan pemungut cukai berdoa, dan pemungut cukai itu biasanya adalah orang-orang yang disuruh untuk menagih, bukan bos yang mengatur keuangan di antara cukai. Itu sebabnya pemungut cukai yang digambarkan di Alkitab seringkali adalah orang-orang rendahan yang disingkirkan oleh masyarakat. Dan di dalam Alkitab dikatakan juga ada para pelacur yang terkenal, kalau pelacur sudah terkenal di satu kota berarti dia pelacur rendahan, karena pelacur rendahan yang sudah terkenal, tidak ada orang yang akan tidur dengan dia, kecuali orang itu adalah orang rendahan. Dan pada zaman itu kalau orang punya hutang, dia akan jual anaknya kalau tidak sanggup bayar hutang. Kalau anak perempuan itu cantik, dia akan jadikan istri, kalau anak perempuan itu jelek, dia akan jadikan budak saja, kalau anak perempuan itu agak lumayan, tapi tidak cantik-cantik amat, dia mungkin akan dijual menjadi pelacur. Jadi perempuan bisa menjadi pelacur karena wajah tidak terlalu cantik-cantik amat, lalu dibuang juga oleh masyarakat. Ini perempuan yang kita baca dalam Lukas 7 tadi adalah orang yang paling kasihan, sudah dianggap paling hina, tidak punya tempat di masyarakat, dia tidak tahu lagi mau kemana. Di tengah-tengah tidak tahu mau kemana, dia harus datang kepada Tuhan, tapi dia tahu dia tidak layak. Di tengah-tengah pergumulan “saya tidak layak, tapi harus datang”, dia putuskan untuk datang. Perjanjian Lama menyatakan hal yang sama, orang-orang yang sadar dia tidak layak tapi putuskan harus datang, karena kalau tidak bergantung kepada Tuhan, akan mati. Waktu mereka tetap nekat datang, ternyata Tuhan tidak buang. Inilah kerendahan hati yang akhirnya mendapat kelimpahan di dalam penerimaan Tuhan.
Jadi rendah hati berarti saya sadar semua yang saya dapat, saya tidak layak dapat. Itu sebabnya ucapan syukur yang tulus atas apa yang kita dapatkan itu adalah tanda kerendahan hati. Itu sebabnya rendah hatilah datang kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan, hal yang paling kecil yang sering saya abaikan, sekarang saya tidak mau abaikan lagi, sekarang saya tahu ini pun dari Tuhan, ini pun berkat yang Tuhan berikan, yang tidak layak saya terima”. Lalu yang kedua, datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, berarti saya tahu kalau saya sudah datang, saya tahu Tuhan mau apa, saya siap kerjakan itu dengan sepenuh hati. Seberapa banyak kita membuat cita-cita, tujuan hidup, rencana dan lain-lain tidak ada kaitannya dengan Tuhan, saya putuskan sendiri tanpa peduli Tuhan maunya apa. Ini adalah cara mengatur hidup yang sangat salah. Saudara tidak bisa mengabaikan Dia yang menopang hidup, lalu memakai seluruh topangan yang Dia beri untuk cita-cita yang tidak berkait dengan Dia. Itu sebabnya waktu saya ditopang oleh Tuhan, seluruh masa depan saya mesti menjadi milik Tuhan. Maka orang yang rendah hati mengatakan “Tuhan, ini hidupku, Engkau mau saya lakukan apa?”. Tetapi bahkan di antara orang Kristen pun ini adalah hal yang langka. Apakah kita ingat waktu kita bikin cita-cita, bikin target, bikin kerinduan, Tuhan ada di mana di situ? Seringkali kita taruh Dia di belakang dan kita abaikan, padahal Dia yang topang kita. Lalu ketiga, kita mempunyai kerendahan hati dengan sadar “saya tidak layak datang ke hadapan Tuhan, setiap momen saya boleh mendengar Firman, boleh berdoa kepada Tuhan, boleh mendapatkan ingatan kembali bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita”, itu adalah momen-momen yang sangat berharga yang kita mesti ingat, kita tahu dan kita syukuri.
Di dalam 3 hal inilah orang Israel datang kepada Tuhan. Siapa dibiasakan punya kerendahan hati seperti ini menunjukan bahwa dia adalah benar-benar umat yang sudah Tuhan terima. Tapi siapa yang gagal melakukan ini, tidak peduli mereka sudah menjalankan hukum sebagaimana hebat, tidak peduli seberapa besar pangkat dan kedudukan mereka, tetap mereka bukan orang yang akan diperkenan oleh Tuhan. Herannya dalam Perjanjian Baru, terutama di dalam 4 Kitab Injil, lebih sering lagi dalam Matius, Markus dan Lukas, seluruh penghormatan yang dituntut dalam relasi dengan Tuhan, sekarang dituntut juga di dalam relasi dengan Kristus, ini yang membuat kita terkejut sekali. Jadi apa yang Tuhan tuntut menjadi syarat relasinya dengan Allah di Perjanjian Lama, sekarang Tuhan tuntut menjadi syarat relasi dengan Kristus. Maka siapa datang kepada Allah harus dengan kerendahan hati, siapa yang datang kepada Yesus juga sama, harus dengan kerendahan hati. Itu sebabnya ketika jamuan makan malam ini dicatat oleh Lukas, Lukas membagi 2 ada orang yang bukan milik Tuhan yaitu Simon orang Farisi. Pelacur ini adalah golongan yang akhirnya Tuhan terima. Bagaimana bisa pemimpin agama yang demikian hormat, dibuang, lalu orang pelacur yang begitu hina diterima? Karena waktu Simon undang Yesus datang ke dalam perjamuan makan, Yesus sendiri mengatakan “kamu tidak menyambut Aku dengan ciuman”, padahal dalam tradisi orang Yunani yang diadopsi juga oleh Yahudi, waktu Saudara undang orang datang, kalau orang itu tamu terhormat, Saudara sendiri mesti sambut. Mengapa Simon undang Yesus? Mungkin karena Yesus populer, dia mau numpang popularitas. Tapi supaya Simon tidak dimusuhi orang Farisi, dia tidak tunjukan hormat yang terlalu besar. Jadi untuk orang-orang penggemar Yesus, Simon ikut dihormati, untuk orang-orang yang anti Yesus, dia tetap aman. Inilah posisi politik cari aman, ke A bisa ke B juga bisa. Maka waktu Yesus disambut dengan cara ini, Yesus tetap diam, Dia cuma tahu satu hal bahwa orang ini tidak sungguh-sungguh mengenal siapa Dia. Lalu ketika mereka makan, ternyata ada perempuan ini masuk, perempuan ini sudah sangat-sangat ingin bertemu Yesus, maka dia paksa diri masuk dalam pertemuan ini. Ketika ada jamuan makan seperti ini, hanya tamu yang boleh masuk, kalau orang tidak diundang pasti tidak boleh masuk. Lalu pembantu harus masuk lewat pintu lain. Jadi orang ini pasti menerobos dan pasti jadi perhatian. Dia langsung sujud ke kaki Yesus, kemudian cium, itu sebabnya reclining tabel yang bentuk U sangat cocok di sini. Kalau Yesus makan dengan meja biasa, perempuan ini kesulitan cari kaki Yesus, dia harus masuk ke kolong meja, lalu permisi cari kaki Yesus. Tapi di dalam cara reclining ini, langsung dia datang, di mana Yesus sedang berbaring, wajahNya dekat meja untuk berbicara, kakiNya menjauhi meja. Dia dengan mudah datang ke situ, langsung peluk, langsung cium kaki Yesus. Lalu air matanya tanpa sadar jatuh ke kaki Tuhan Yesus, dan dia jadikan air matanya itu air untuk membersihkan kaki Yesus, bayangkan berapa banyaknya air mata yang turun, air matanya jatuh terus. Dia sadar dia bukan orang yang layak, tapi dia dapat kesempatan untuk minta ampun kepada Tuhan Yesus. Maka ketika dia peluk kaki Yesus, dia cium kaki Yesus, dia ambil rambutnya untuk lap kaki Tuhan Yesus. Rambut yang di dalam budaya Timur Dekat Kuno sering ditutup, ini adalah pernyataan kemuliaan seorang wanita yang hanya boleh dilihat oleh orang yang mempunyai kedudukan spesial bagi dia. Jadi dia tidak sembarangan buka seperti ini, waktu dia buka seperti ini, dia tunjukan mahkota yang mulia dia pakai untuk lap kaki yang paling rendah, itu pun masih tidak layak. Maka dengan perasaan tidak layak, dia pakai rambutnya untuk lap kaki Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus menerima semua perlakuan ini karena Dia tahu orang ini memperlakukan Dia sebagaimana seharusnya. Yesus memang layak disembah sujud seperti ini. Waktu dia sudah lap pakai rambutnya, dia keluarkan minyak wangi, setelah dia buka, dia curahkan ke kaki Yesus. Ini menunjukan hal yang berbeda dengan yang dicatat di Yohanes sebelum penyaliban Tuhan Yesus. Disitu dikatakan Maria meletakan minyak narwastu itu di kepala Tuhan Yesus, sedangkan perempuan ini di kaki, jadi ini 2 peristiwa yang berbeda.
Mengapa dia taruh di kaki? Padahal pengurapan biasanya di kepala. Karena perempuan ini sadar “saya beli minyak ini dari hasil pekerjaan saya yang adalah sangat berdosa. Saya seorang pelacur, saya dapat uang dari melacur, saya beli minyak dari hasil melacur, mana boleh taruh di kepala Tuhan Yesus”, maka dia hanya taruh di kaki untuk mengatakan “ini yang saya hanya bisa lakukan karena ini tidak layak pergi ke tempat yang lebih tinggi dari pada kaki”. Maka dia taruh lalu dia minyaki, kemudian ketika minyak itu menyebar, Simon mulai berpikir dalam hati, dia melihat dengan Yesus dengan tenang, ini orang-orang stoik jadi perasaan apa pun tidak kelihatan di muka, mukanya tenang terus. Simon seolah-olah menegur Yesus, “Simon, ada yang mau Aku ceritakan”, “katakanlah Rabi”, itu bukan pengucapan hormat. Ini dia minta dihormati “mengapa Engkau memanggil aku Simon? Saya punya title kok”. Tapi Yesus langsung cerita “ada 2 orang, satu hutang 500 yang satu lagi hutang 50, yang 500 diampuni, yang 50 diampuni, mana yang akan lebih bersyukur? Mana yang akan mengasihi tuannya lebih lagi?”, Simon menjawab pakai formal lagi. Tuhan tiap ngomong sama Simon langsung to the point, Simon ngomong sama Tuhan Yesus pakai tata krama yang dibuat-buat. Seolah-olah Tuhan mengatakan “kamu terus pertahankan tata krama yang dibuat-buat, tapi tata krama kepada Tuhanmu, kamu lupa.
Maka Yesus mengatakan “yang datang kepadaKu dengan sadar dosa akan jauh lebih mencintai Aku dari pada mereka yang tidak sadar dosanya”. Yesus mengatakan kalimat yang menjadi inti dari perbuatan kasih orang Kristen, “orang ini yang diampuni banyak, dia akan berbuat kasih banyak. Orang yang diampuni sedikit, juga sedikit berbuat kasih”, yang Tuhan maksudkan adalah ketika orang tahu hidupnya adalah hidup pemberian dari anugerah pengampunan Tuhan, dia pasti akan dedikasikan hidupnya untuk perbuatan kasih. Tapi Tuhan Yesus mengatakan “kasih adalah seorang yang rela menyerahkan nyawa bagi saudara-saudaranya”. Apakah itu berarti kita harus mati bagi sesama? Tapi kesempatan mati martir demi orang lain juga tidak banyak. Yang dimaksudkan adalah bukan hanya keberanian mati demi saudara, tapi keberanian untuk mendedikasikan hidup demi saudara dan ini yang dikerjakan Tuhan Yesus. Tuhan bukan cuma mati demi muridNya, Dia hidup pun untuk melayani murid. Dia bukan hanya mati di kayu salib, meskipun itu tujuan utama, tapi waktu hidup melayani umat Tuhan dengan sepenuh jiwaNya. Itu sebabnya maksud rela menyerahkan nyawa untuk sesama berarti rela menghabiskan hidup untuk sesama. Jangan pikir kita sudah berbuat baik hanya karena kita sudah menolong beberapa orang dengan sedikit uang kita kasi. Tapi hidup kita serahkan kepada siapa, itu yang menjadi intinya. Saya punya cita-cita untuk orang lain atau tidak? Saya punya hidup diserahkan untuk orang lain atau bukan? Saya studi dengan tujuan untuk orang lain atau bukan? Saya belajar untuk memajukan bangsa ini atau bukan? Itulah yang disebut dengan menghabiskan hidup untuk orang lain. Dan inilah tindakan kasih yang Tuhan mau.
Harap ini mendorong kita untuk menjadi orang yang dengan rendah hati datang kepada Tuhan, rendah hati datang menyadari apa yang kita peroleh, terutama keselamatan kita, tidak layak kita dapat. Menyadari bahwa apa yang kita kerjakan untuk Tuhan itulah yang membuat hidup kita bermakna. Dan menyadari bahwa apa pun yang kita dapat dari pernyataan Diri Tuhan, ibadah kepada Dia, doa kepada Dia, dengar Firman, semua tidak layak kita dapat tapi Tuhan berikan kepada kita. Dan harap kesadaran ini boleh mengubah pandangan kita dalam melihat hidup. Saya tidak minta Saudara mengubah cara hidup, saya tidak minta Saudara mengubah profesi, saya tidak minta Saudara mengubah kebiasaan Saudara. Saya cuma minta Saudara mengubah target Saudara melakukan itu, tadinya untuk diri sekarang untuk orang lain. Kiranya kita mendapat pengalaman rohani yang sama, dimana totalitas hidup kita bagi Tuhan membuat kita hidup dengan penuh limpah berkat bagi orang lain.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 12 Aug 2015
Melihat nabi?… bahkan lebih besar dari pada nabi
(Lukas 7: 24-35)
Setelah orang suruhan Yohanes pergi, Tuhan Yesus bertanya kepada orang-orang yang berkumpul, Dia tanya “mengapa kamu pergi ke padang gurun?”. Padang gurun bukan hanya tempat orang tidak bisa tinggal karena tidak ada air, tidak ada tanaman dan lain-lain, tapi padang gurun adalah setiap tempat yang tidak ada kebudayaan di daerah situ. Jadi padang gurun menjadi simbol untuk gagalnya kebudayaan berkembang. Ketika disebut padang gurun, tidak berarti tempat itu harus tempat yang kering, lalu tidak ada air sama sekali, lalu ada ular beludak, bukan seperti itu. Karena Yohanes Pembaptis pergi ke padang gurun, tetapi tidak jauh dari Sungai Yordan. Dia membaptis orang di Sungai Yordan, kalau masih ada air berarti ini bukan padang gurun, ini tetap padang gurun karena ada tempat di mana Israel tidak menyatakan tempat menjadi milik Tuhan dan kebudayaan yang berkembang di tengah-tengah Israel, ini tempat di luar itu. Jadi tempat kebudayaan tidak berkembang disebut padang gurun. Maka Tuhan Yesus tanya “mengapa pergi ke padang gurun? Kamu ke padang gurun bukan lihat orang yang baju bagus, orang yang baju bagus ada di istana. Ketika Yohanes Pembaptis mempertanyakan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus tetap pada fakta bahwa dia adalah nabi Perjanjian Baru yang paling besar, Dia tidak merendahkan orang itu. Tuhan Yesus mengkonfirmasi bahwa Yohanes adalah nabi, bahkan nabi yang terbesar. Mengapa Tuhan harus menekankan bahwa Yohanes adalah nabi? Karena pada waktu itu ada pertentangan besar, benarkah Yohanes nabi? Kalau betul Yohanes nabi, mengapa dia tidak pernah pergi ke Yerusalem, mengapa tidak melakukan ibadah di Bait Suci sebagaimana yang Tuhan perintahkan. Ini sering menjadi titik lemah yang diserang oleh orang Farisi, Yohanes Pembaptis adalah nabi yang tidak lazim, tidak umum, dia mengikuti kebiasaan orang Qumran. Yohanes Pembaptis sering menyerukan pertobatan lalu berkumpul di Goa Qumran, di dekat Laut Mati. Dan di situ dijadikan tempat di mana mereka berkumpul menjauh dari kebudayaan Israel, tinggal di situ, mempelajari Kitab Suci, menyalin Kitab Suci dan hidup dengan cara yang diperkenan Tuhan. Mereka memakai tempat itu untuk menunjukan “kami rasa Israel masih ada dalam pembuangan”, ini satu motivasi dari orang Qumran membentuk komunitas mereka.
Ketika orang Israel kembali dari pembuangan, terjadi hal yang begitu menakutkan, yang menunjukan secara politik orang Israel tetap kacau imannya, bukan sungguh-sungguh bertobat. Mereka sudah kembali ke Tanah Perjanjian, sudah kembali ke Kota Yerusalem dengan tembok yang lengkap dan di tengah-tengahnya ada Bait Suci yang megah, tetapi mereka tetap hidup seperti dalam pembuangan. Orang-orang Qumran sudah melihat sejak dulu, orang yang jadi pemimpin, imam, mau jadi pembimbing orang lain, tetapi mereka penuh dengan kepalsuan. Orang-orang Farisi terkenal sebagai orang yang akan mempunyai murid, punya pengaruh luar biasa keras kepada murid, murid itu seolah tidak bisa bertindak apa pun tanpa ada nasihat dari dia. Dan ini merupakan kebahayaan yang besar sekali. Seorang bernama Carl Trueman tulis artikel tentang hal ini, dia mengatakan semakin orang punya pengaruh sendiri, semakin dia paling bahaya untuk merusakan kerohanian orang. Paulus pernah mengatakan di Korintus “ada banyak pengajar di tengah-tengah kamu”. Ada Paulus yang menanam, ada Apolos yang menyiram, tapi yang penting adalah Tuhan yang memberikan pertumbuhan. Paulus mengatakan “kamu punya banyak pengajar, tapi kamu punya satu bapa yaitu saya”. Tapi setelah 3 tahun pelayanan, dia tinggalkan Korintus, dia serahkan Korintus kepada tua-tua, dia kunjungi kembali sebelum perjalanan ke Yerusalem untuk memperkuat iman mereka. Jadi dia membiarkan orang lain punya pengaruh lebih besar di tengah-tengah Korintus, inilah bapa rohani yang sejati. Sedangkan bapa rohani yang palsu hanya ingin dia yang masuk, tidak ingin ada orang lain yang pengaruhi. Maka orang Qumran melihat orang-orang Farisi yang memuridkan orang ternyata rusak seperti ini, orang imam keturunan Lewi yang mau jadi pemimpin ternyata rusak karena menjadi penjilat orang Makedonia. Maka mereka lari dari Yerusalem, mereka pindah di tempat yang tidak ada orang mau tinggal yaitu di goa, persis di daerah Laut Mati, dekat seberang Sungai Yordan, di daerah bangsa-bangsa lain, di daerah padang gurun, menurut istilah Alkitab. Jadi mereka tinggal di padang gurun, menunjukan kepada Israel “hei Israel, kamu sudah punya daerah, kamu sudah punya tempat Yerusalem yang dikurung oleh tembok yang bagus dan punya Bait Suci, tapi sebenarnya kamu masih dalam pembuangan, kamu masih dibuang, sadarkah kamu?”. Akhirnya mereka menyingkir sambil terus teriak “engkau masih dibuang”. Inilah orang Qumran, tapi pertanyaannya mengapa Yohanes Pembaptis mirip orang Qumran? Dia bukan orang Qumran, Alkitab mencatat dia anak Zakaria, seorang imam, harusnya dia melayani dekat Yerusalem, harusnya dia melayani di dalam Bait Suci, di dalam lingkup Bait Suci, mengapa dia pergi ke daerah seberang Sungai Yordan lalu teriak-teriak pertobatan? Kita tidak dapat penjelasan dari Alkitab. Tapi F.F. Bruce, seorang teolog dari Inggris, mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis kemungkinan diadopsi oleh orang Qumran. Mengapa begitu? Karena Alkitab mencatat Yohanes Pembaptis lahir ketika Zakaria dan Elizabet, papa mamanya sudah tua. Kalau papa mamanya sudah tua, tidak lama lagi dipanggil Tuhan. Jadi waktu Yohanes Pembaptis masih bayi, papa mamanya sudah tua. Maka tidak lama kemudian kedua orang tuanya mati dan Yohanes Pembaptis menjadi yatim piatu. Salah satu kebiasaan orang Qumran adalah selain mereka menyalin Kitab Suci dan mempelajari, mereka juga mengadopsi orang untuk menjadi orang tua angkat bagi anak-anak terlantar ini. Maka waktu Yohanes melayani dengan cara orang Qumran, langsung orang Farisi dan imam mengatakan “ini pasti nabi palsu”.
Adalah fakta bahwa Yohanes Pembaptis menggenapi yang dikatakan oleh Maleakhi, yaitu dikatakan akan ada orang datang untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Lalu di dalam Kitab Nabi juga dikatakn bahwa yang akan datang ini adalah Elia, ini bikin orang makin mengerti siapa Yohanes Pembaptis. Dia melanjutkan pelayanan Elia dan Elia melayani di Utara bukan Selatan, Elia melayani bukan di Yerusalem dan bukan Bait Suci. Dia melayani di Utara dan dianggap sudah buangan oleh orang Selatan. Maka para pengikut Yohanes Pembaptis mengatakan “ini ada bukti bahwa Yohanes Pembaptis adalah nabi yang asli, karena dia mengadopsi pelayanan Elia”. Yohanes Pembaptis melakukan pelayanan seperti ini karena pengaruh Qumran, mengapa pengaruh pelayanan Qumran seperti ini? Karena mereka percaya Israel masih dalam pembuangan. Mereka menyingkir lalu menganggap Israel masih dalam pembuangan, mesti bertobat dulu baru tempat ibadah di Bait Suci boleh dipulihkan kembali. Itu sebabnya mereka menyingkir. Dan kalau kita mempelajari sejarah zaman itu, kita tahu umat Tuhan begitu rusaknya. Saya membaca dalam kisah catatan F.F. Bruce tentang sejarah Israel sejak kembali dari pembuangan, saya sangat kasihan kepada orang Israel, mereka begitu penuh dengan kebingungan karena tidak ada satu pun pemimpin yang beres. Alkitab seolah-olah mencatat sebelum Mesias datang, tidak ada yang beres, ada pemimpin yang kuat dari sisi politik tapi sangat palsu dalam kerohanian, ada pemimpin yang merasa rohaninya baik tapi ternyata motivasi di baliknya terlalu penuh dengan cara yang merugikan orang Israel. Yohanes Pembaptis memulai pelayanan dan dia mulai teriak untuk mempertobatkan orang “bertobatlah kamu”, mengapa teriak bertobat? “Karena kamu belum balik, kamu belum sungguh-sungguh bertobat, kamu belum hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan. Kamu punya tampilan rohani, tapi di dalam tidak ada kerohanian yang baik. Kamu punya banyak kegiatan rohani, tapi di dalam tidak ada kerohanian yang baik. Kamu punya kalimat rohani, tapi di dalam tidak punya kerohanian yang baik”. Mari lihat ke dalam diri lalu selidiki “saya ini yang mana, apakah saya orang buangan atau umat Tuhan yang sudah dipulihkan? Apakah saya ini umat sisa yang akhirnya Tuhan pulihkan atau saya adalah kebanyakan orang yang harus dibuang karena saya banyak menunjukan kepalsuan?”. Saya tidak tanya seberapa saleh kita di luar atau berapa banyak pelayanan yang sudah kita kerjakan atau berapa banyak pengaruh yang kita sudah berikan atau berapa banyak pengetahuan yang sudah kita tahu. Saya mau kita jujur lihat ke hati lalu cari tahu “saya dimana, saya kaum sisa yang Tuhan pulihkan atau saya umat Tuhan yang terbuang di dalam tempat ibadah”. Mungkin kita tiap hari ke tempat ibadah, tapi kita orang buangan. Kita tiap hari belajar Kitab Suci tapi ternyata kita hidup sebagai orang buangan, mari selidiki hati dan koreksi diri.
Inilah penggilan Yohanes Pembaptis, terus membuat umat Tuhan hidup gelisah, tidak pernah nyaman, tidak pernah tenang karena terus dikorek lagi dosanya. Dan dia adalah orang yang sangat berani, siapa pun yang datang, kalau dia rasa tidak beres, dia akan tegur, siapa yang hadir kalau dia rasa tidak beres, akan dia tegur lagi. Yohanes Pembaptis menjadi sangat penting, karena pelayanannya langsung menyatakan orang Israel masih berdosa. Sedangkan orang Farisi punya cara pelayanan untuk merebut sebanyak mungkin orang menjadi pengikut mereka. Ini cara pelayanan yang sangat berbeda. Yohanes Pembaptis punya pengaruh hanya 2 yang secara pengaruh melanjutkan gereja Tuhan. Yang pertama adalah pengaruh dia kepada beberapa murid Yesus, dia punya murid banyak sekali, tapi hanya beberapa yang ikut Yesus dan dipakai Yesus. Simon Petrus salah satunya, Yakobus dan Yohanes, mereka adalah orang-orang yang tadinya adalah murid-murid Yohanes Pembaptis, lalu ada Andreas. Lalu orang-orang yang ada 12, yang menjadi murid Yohanes Pembaptis, harus lari ke Efesus, waktu Paulus ke Efesus dia bertemu dengan mereka, dan mereka menjadi orang Kristen, salah satu kelompok pertama yang menjadi Kristen di Efesus. Jadi inilah jalan yang disiapkan Yohanes Pembaptis, kelihatan begitu kecil, tapi begitu signifikan. Jadi dia menyiapkan orang untuk kembali kepada Tuhan, dia tidak peduli, dia disukai atau tidak, dia tidak peduli dia menjadi populer atau tidak, dia tidak peduli orang mengaku sebagai pengikutnya atau bukan. Waktu Yesus Kristus menyerukan “bertobat, Kerajaan Allah sudah dekat”, orang pikir ini kelanjutan dari Yohanes Pembaptis. Tapi Yohanes sendiri mengatakan “ini bukan kelanjutan dari pelayananku, ini adalah penggenap dari pelayananku. Apa yang aku kerjakan adalah untuk Dia. Kamu ikut saya supaya nanti ikut Dia, kamu mendengar saya supaya nanti kamu menyambut Dia. Dia harus menjadi besar dan saya harus jadi makin kecil. Terpujilah namaNya. Saya buka tali sepatuNya pun saya tidak layak, untuk merendahkan diri, untuk mencuci kakiNya, saya tidak boleh, sebab saya terlalu hina”.
Jadi Yesus ditinggikan begitu besar oleh Yohanes Pembaptis dan pada periode ini Yesus mengatakan “Yohanes adalah nabi sejati”. Jadi Yesus langsung membuat kontroversi itu berakhir “kamu pengikutKu, harus tahu Yohanes itu nabi sejati”. Dia bukan palsu seperti orang Farisi bilang, dia bukan orang yang tidak mengerti bahwa pelayanan harus dilakukan di Bait Suci. Dia sengaja menjauhi Bait Suci untuk mengatakan waktu pemulihan belum tiba, Israel masih dalam pembuangan. Tapi ketika Kristus datang, Kristus menyatakan hal yang lain, yaitu Israel tidak lagi dalam pembuangan karena Dia sudah datang. Maka kalau Yohanes melayani pakai kulit unta, Yesus melayani pakai baju biasa, Yohanes melayani di padang gurun, Yesus pergi ke Bait Suci, Yohanes melayani dengan cara Qumran, Yesus tidak ikuti cara Qumran. Di sini Yesus mengingatkan kepada kita tidak ada cara pelayanan yang mutlak. Cara pelayanan begitu banyak, begitu ragam, gaya pelayanan begitu limpah, tetapi tujuan tetap satu, “bagaimana aku semakin kecil dan Kristus semakin besar”. Orang Farisi seperti orang-orang di pasar, Yesus mengucapkan kalimat “kami meniup seruling bagimu, kamu tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tapi kamu tidak menangis”. Zaman dulu ada permainan anak berupa pantun berbalasan dinyanyikan, biasanya ada sindiran seperti ini, saya tidak tahu, kita tidak tahu, tapi orang-orang yang selidiki mengatakan mungkin ada pantun seperti ini yang ditujukan kepada orang yang tidak suka main. Anak-anak yang kalau temannya kumpul, dia menyendiri, anak-anak yang kalau main, dia bengong sendiri. Mengapa bengong sendiri? Bisa 2 alasan, yang pertama karena tidak bisa bergaul dengan baik, ini mesti dikasihani, diajak. Tapi ada kelompok kedua yang merasa lebih pintar, lebih hebat, lebih rohani dari yang lain, tidak mau gabung. Ketika dia memilih untuk tidak mau gabung, ini seperti orang Farisi. Maka Yesus mengatakan “yang kamu kerjakan adalah menangis waktu orang harusnya tertawa dan tertawa waktu orang harusnya menangis”. Kamu merasa di pembuangan waktu Kristus datang, tapi kamu merasa sudah dipulihkan waktu Yohanes mengatakan “kita masih dalam pembuangan”, ini aneh sekali. Yohanes mengatakan “kamu masih dibuang”, mereka hidup seolah-olah sudah pulih. Yesus mengatakan “Aku membawa pemulihan”, mereka hidup seolah-olah ada dalam pembuangan. Ini maunya apa? Ini seperti orang menangis waktu ada pesta penikahan dan ketawa waktu ada kedukaan. Waktu di kedukaan, berdukalah dengan orang berduka, demikian dikatakan Alkitab, tertawalah dengan orang yang tertawa. Zaman Yohanes adalah zaman berduka karena belum ada pemulihan, jadi jangan ketawa waktu zaman Yohanes. Zaman Yesus adalah zaman penawaran pemulihan itu, jadi tidak perlu nangis waktu ada Yesus. Bayangkan orang Yahudi itu selalu salah, doa “Tuhan pulihkan”, sampai meratap di tembok ratapan, Yesus sudah datang, oleh mereka malah disalib. Lalu doa lagi “Tuhan pulihkan”, Tuhan kalau marah bisa mengatakan seperti ini “sudah Aku beri, kamu salib, sekarang sudah Aku ambil, kamu minta lagi, sekarang maunya apa?”. Ini yang Yesus katakan “mengapa waktu ada orang mengajak berduka, kamu tidak menangis. Waktu ada orang ajak kamu tertawa, mengapa kamu tidak tertawa. Mengapa kamu mempunyai permainan kamu sendiri yang tidak selasar dengan apa yang Tuhan kerjakan di dalam sejarah?”.
Inilah keunikan dari bagian ini, Yesus membela Yohanes Pembaptis sambil mengingatkan Dia adalah penggenap dari Yohanes Pembaptis. Tugas nabi adalah mengumumkan akan ada Mesias, Pribadi Agung yang akan datang, akan ada Sang Mesias. Mesias adalah dalam Bahasa Ibrani, Kristus adalah dalam Bahasa Yunani, dan Almasih dalam Bahasa Arab. Inilah yang dinantikan para nabi. Tidak ada nabi yang boleh disebut nabi kalau dia tidak mengumumkan kedatangan Sang Mesias. Tugas nabi adalah menunjuk nanti Dia akan datang, tugas nabi adalah mengatakan “ini orang yang akan datang itu”. Maka Yohanes Pembaptis lebih besar dari nabi-nabi yang lain karena dia menunjuk kepada yang Diurapi, Sang Mesias, dengan cara membuka gerbang menyambut Sang Mesias itu datang, ini nabi paling besar, Yesus katakan. Mengapa ini nabi yang paling besar? Karena dialah yang menginagurasi, membuka gerbang untuk Sang Mesias masuk. Ini seperti satu kota benteng kerajaan, dimana orang yang paling senang adalah orang yang paling pertama mendengar berita kemenangan sang raja. Siapa orang itu? Orang itu adalah orang yang akan menyambut di depan pintu. Jadi Yesus mengingatkan kepada semua pengikutNya bahwa Yohanes adalah nabi sejati, dia nabi yang paling besar, tapi yang paling kecil dari kamu tetap lebih besar dari dia. Ini janji Dia untuk kita. Saudara lihat besarnya nabi seperti Yohanes Pembaptis, nabi seperti Elia, Elisa, Yesaya, Musa, nabi-nabi agung yang pernah bangkit, Yesus mengatakan “kamu yang di dalam Aku lebih besar dari mereka”. Mengapa lebih besar? Karena lebih hebat? Tidak. Karena lebih besar dari mereka? Tidak. Tapi karena kita memberikan seluruh iman untuk mengikuti Krsitus dan menjadikan Dia Juruselamat kita. Inilah yang Yesus katakan. Dan Yesus mengatakan “orang Farisi sulit mengikuti karena mereka mempunyai standar sendiri, dimana standar anak manusia pun dianggap terlalu rendah oleh mereka”. Tapi di ayat 35 dikatakan “tapi siapa jadi anak hikmat, dia akan mengerti keagungan hikmat dari yang dikatakan oleh Kristus”. Kiranya kita menjadi orang yang boleh dibimbing untuk menyambut Sang Kristus datang. Tidak menjadi orang yang dalam pembuangan tapi menjadi orang yang menyambut Sang Mesias datang. Mari selidiki hati, mari selidiki diri, apakah saya kaum buangan yang hidup di tengah Bait Suci ataukah saya adalah orang yang menyambut Kristus, meskipun di padang gurun, tunggu Dia datang, setelah Dia datang, ikut Dia dengan sepenuh hati. Kiranya kita menjadi orang yang ikut Kristus dan berada dalam keadaan sebagai orang-orang sisa tapi yang diselamatkan oleh Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah Tematik
- 12 Aug 2015
Kasih setia Tuhan memulihkan ciptaanNya
(Kejadian 8:18-20; 9:1-20)
Kali ini kita akan bicara tentang Adam yang baru, yaitu mengenai Nuh. Mengapa kita bisa mengatakan Nuh adalah Adam yang baru? Karena waktu kita melihat Kejadian 9 dan kita bandingkan Kejadian 1 dan 2, kita melihat ada paralel. Jadi penulis Kitab Kejadian menampilkan sosok Nuh sebagai sosok Adam yang baru, dan perjanjian Allah dan Nuh adalah perjanjian antara Allah dengan ciptaan yang diperbarui. Jadi kita bisa melihat bagaimana Allah berkata kepada Adam agar beranakcucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, menaklukan bumi dan janji ini diulangi kepada Nuh. Nuh juga disuruh bertambah banyak dan menaklukan bumi. Lalu sebagaimana kepada Adam diserahkan seluruh isi bumi ini untuk Adam kelola, untuk Adam hidup dari padanya, demikian juga seluruh isi bumi diserahkan kepada Nuh untuk Nuh boleh memakainya demi kehidupan dan boleh mengembangkannya. Tetapi kemudian kisah atau perjanjian Allah dengan Nuh ini kita lihat sudah berbeda dengan perjanjian semula Allah dengan Adam. Karena perjanjian Allah dengan Nuh sudah mengandung satu akomodasi dari apa yang pernah terjadi sebelumnya. Jadi hidup sudah tidak sama lagi, karena kita lihat di sini ada ingatan akan nyawa manusia yang dirampas oleh sesamanya. Ingatan akan kematian, ingatan akan pembunuhan, Tuhan tidak menghapus sejarah, Tuhan meneruskan sejarah. Tuhan tidak membuat seolah-olah “oke kita hapus ini dari 0 kita mulai, dari kertas putih lagi, kita mulai sejarah yang baru”, tidak seperti itu. Dalam Kejadian 6 ada perkawinan campur antara anak-anak manusia yaitu keturunan Kain dengan anak-anak Allah yaitu keturunan Adam melalui Set. Lalu itu menghasilkan kejahatan di bumi, itu puncaknya, lalu Tuhan menghapuskan kehidupan di bumi, Tuhan menyelamatkan sebagian.
Mari kita bandingkan sebelum dan sesudah air bah. Cerita sebelum air bah, dari Adam sampai air bah adalah cerita dari kebaikan sampai kehancuran. Dan kita lihat cerita ini berkisah dari manusia hanya sepasang diakhiri dengan manusia ada banyak. Diawali dengan manusia hidup sederhana dan tidak mengembangkan dunia, dunia ini belum terlalu berkembang, belum ada misalnya orang yang berkemah, belum ada peternakan, belum ada musik, belum ada kota, belum ada teknologi tembaga, besi dan seterusnya, itu semua belum ada. Tetapi kemudian diakhiri dengan sudah berkembang kebudayaan itu, sudah berkembang peradaban itu di dalam zaman Nuh sebelum ada air bah. Tetapi peradaban itu penuh mengisi bumi dengan kekerasan, memanifestasikan kejahatan yang bersumber dari hati manusia. Jadi kebudayaan, peradaban yang kita jumpai dalam cerita Kejadian 6 adalah peradaban yang mewujudkan isi hati manusia yang jahat, mengisi dunia ini penuh-penuh kejahatan. Jadi dari sepasang menjadi banyak, tetapi dari permulaan yang sederhana yang kejahatannya juga sederhana, memakan buah itu, membunuh adik, menyembunyikan kesalahan kepada peperangan, kepada suatu kejahatan yang jauh lebih kompleks, yang jauh lebih global. Lalu kalau kita bangkitkan dengan episode Nuh adalah dimulai dari sekelompok kecil manusia, dari satu keluarga, beberapa orang keluar dari bahtera. Jadi dari sedikit menjadi banyak, lalu yang banyak dihapuskan dan Tuhan mulai dari yang sedikit lagi. Dengan kata lain kita bisa belajar sesuatu di sini, Tuhan tidak hanya menghendaki perkembangan dan suatu kemajuan, the idea of progress, yang berkesinambungan. Tetapi kadang-kadang Tuhan mengizinkan kemunduran juga, kadang-kadang mengijinkan kemandegan juga. Itu biasanya dikaitkan dengan penghakiman. Itu yang terjadi pada zaman Nuh, ada kemunduran. Sejarah peradaban menjadi lebih sederhana lagi, tidak tentu yang sederhana itu baik tapi juga sekaligus tidak tentu yang kompleks itu, yang besar itu baik.
Lalu yang berikutnya kita juga bisa belajar mengenai selalu ada pengharapan juga di dalam kegelapan. Di dalam zaman Nuh kejahatan memenuhi bumi sehingga sepertinya tidak ada tempat untuk kebaikan. Ketika kejahatan menjadi suatu yang normal, kebaikan menjadi suatu yang abnormal. Kebaikan menjadi sesuatu yang tidak mempunyai tempat di bumi ini, tapi dalam hal itu pun Tuhan masih bisa bekerja, ini yang dapat kita pelajari dari cerita Nuh. Tuhan pada akhirnya lewat segala hal yang tidak disukai manusia, mengerjakan pekerjaan penyelamatanNya. Lalu yang ketiga, kita lihat dari pengulangan janji Tuhan ini, Allah yang membalikan arah kemajuan menjadi suatu kemunduran dalam penghakimanNya, ternyata juga Allah pada dasarnya menghendaki manusia berkembang, Allah menghendaki kita untuk bertambah banyak, Allah menghendaki kita untuk mengolah bumi ini, Allah menghendaki peradaban. Tuhan tidak menghendaki manusia hidup dalam peradaban primitif selama-lamanya. Karena Allah yang menghancurkan bumi yang penuh dengan kejahatan itu, kemudian tidak menghendaki bumi itu selama-lamanya dalam kondisi primitif, tidak seperti itu. Sekali lagi Tuhan menghendaki, Tuhan tetap punya kepercayaan terhadap projek yang namanya memajukan bumi ini. Terbukti pada zmaan Adam bumi ini maju secara negatif, maju dalam artian busuk, lebih canggih dalam kejahatan. Tetapi itu tidak membuat Tuhan putus asa, lalu Dia mengabaikan project itu, lalu sekarang mulai zaman Nuh, dimulai lagi, tapi Allah tidak ingin bumi diisi oleh manusia, Allah tidak ingin manusia bertambah banyak, Allah tidak ingin manusia mengembangkan peradaban, Allah tidak seperti itu. Kegagalan pertama tidak membuat Tuhan membuang itu semua. Kita melihat contohnya di dalam perbandingan Kejadian 4: 2 dengan Kejadian 9:20. Dalam Kejadian 4: 2, kita mengetahui profesi Kain adalah petani dan dalam perbandingan yang kita lihat antara Kain yang petani dengan Habel yang peternak, Kain yang mempersembahkan hasil bumi dengan Habel yang mempersembahkan ternak, dibandingkan dengan beberapa orang mengatakan bahwa “lihat, Tuhan lebih menyukai kaum gembala karena persembahan dari gembala lebih disukai Tuhan dari pada hasil bumi”. Saya kira ini satu tafsiran yang keliru karena tidak mempertimbangkan bahwa orang-orang Israel juga Tuhan ajarkan mempersembahkan hasil bumi. Kita lihat dalam Torah Musa misalnya, Saudara melihat ada aturan mengenai mempersembahkan hasil bumi yang sulung. Jadi ada hasil bumi, buah-buahan, gandum dan segala macam tanaman dipersembahkan di hadapan Tuhan, selain dari pada ternak. Tapi yang saya baca dalam narasi ini justru Kain yang adalah petani yang kemudian mengisi bumi dengan kejahatan, mencemari tanah pertanian dengan darah adiknya, saya pakai istilah manusia itu sekarang tidak lagi menjadi sesama, manusia bukan lagi menjadi penolong, manusia bukan lagi menjadi gembala bagi sesamanya, tapi manusia menjadi musuh bagi sesamanya. Orang lain tidak lagi menjadi penghiburan bagi kita, tapi orang lain menjadi ancaman bagi kita. Dan Tuhan justru ingin menebus dunia ini dari posisi itu, Tuhan ingin menebus manusia dari keadaan seperti itu. Tuhan ingin tarik kita dari keadaan seperti itu.
Manusia itu soalnya bukan ancaman bagi kita, manusia adalah penolong, manusia adalah gembala bagi kita, manusia itu seharusnya adalah sesama bagi sesamanya, ini yang mau ditebus. Dan saya kira ini juga yang bisa kita baca dalam cerita Kain, dan kalau kita bandingkan Kain dengan Nuh, di sini menariknya. Dan di dalam cerita itu, apakah Tuhan give up dalam posisi atau panggilan atau pekerjaan petani? Tidak ada pekerjaan petani lagi karena diwakili oleh Kain. Tidak ada lagi mengembangkan kota karena diwakili oleh Henokh, anaknya Kain. Jangan dikembangkan lagi kebudayaan itu, tidak ada lagi itu metalurgi, bapak segala tembaga dan tukang besi, tidak ada lagi peternakan dan sebagainya. Kita hidup primitif saja, mengumpulkan buah-buahan seperti Adam, tidak. Tuhan menebus hal itu. Jadi kita perhatikan Kejadian 9: 20, diceritakan tidak kebetulan Nuh itu adalah petani, dia yang pertama-tama membuat kebun anggur. Itu yang Tuhan inginkan mengembalikan kita kepada kemuliaan semula. Dan dalam hal itu, kehidupan sebagai petani yang sulit, Adam petani, Kain petani, banyak berpeluh, sia-sia, bahakn berdarah-darah, Tuhan tidak give up itu. Nuh menjadi petani juga. Dan indahnya di sini Nuh adalah yang pertama kali membuat kebun anggur. Orang tidak minum anggur, tidak akan mati. Nuh bukan orang yang pertama membuat sawah. Jadi kita bicara bukan lagi necessity, work as necessity, tapi kita bicara sebagai delight, work as delight.
Jadi kerja untuk sesuap nasi? Itulah cerita Adam, itulah cerita Kain. Kerja untuk sesuap nasi supaya bisa hidup, tapi saya percaya orang di ruangan ini kan kebanyakan kerja sebagai orang modern, punya esensi, perkembangan teknologi, kebanyakan dari kerja bukan untuk sesuap nasi kan? Poin saya adalah Kain sebagai petani yang gagal mengikuti Adam sebagai petani yang gagal. Tapi Nuh, digambarkan oleh penulis Kitab Kejadian sebagai petani yang menyimpan pengharapan, seperti Adam sebelum jatuh seolah-olah. Tapi realitasnya adalah dia hidup dalam dunia yang sudah jatuh. Diceritakan kemudian Nuh ini tetapi sama seperti Adam, berakhir mengecewakan, karena anggur yang dia hasilkan, yang semestinya membawa kegembiraan dalam hati anak-anak manusia seperti yang digambarkan dalam Kitab Pengkhotbah. Jadi anggur itu sesuatu kebutuhan yang sekunder atau bahkan tersier, itu Tuhan berikan sebagai sukacita, tapi justru Nuh slaah memakai itu sehingga dia menjadi mabuk. Efek dari kejatuhan Adam adalah Adam merasa malu. Efek dari Nuh setelah minum anggur, dia malu. Adam efeknya setelah dosa adalah dia sadar dia telanjang, Nuh setelah dia minum anggurnya secara tidak sadar dia telanjang. Jadi efeknya sama, kehilangan kehormatan. Dan bicara tentang malu, ini memang melekat dengan analisa kita mengenai dosa. Dosa itu pertama-tama bukan dikaitkan dengan suatu rasa bersalah pada mulanya, karena ini baru nanti pada abad ke-16 berkembang atau abad pertengahan, tetapi dosa sebagai suatu keterasingan, dosa itu mengasingkan kita dari relasi. Gambarannya adalah kita merasa malu. Fitur dari orang yang merasa malu adalah mengurung diri, dia tidak mau bertemu dengan orang lain, ada gambaran, ada ungkapan mengenai orang yang malu “saya tidak punya muka lagi”. Dosa sekali lagi dalam Kitab Kejadian dikaitkan dengan rasa malu, dan itu menandai bahwa dosa adalah pertama-tama dipahami dalam Kitah Kejadian ini sebagai distruktur dalam relasi, relasi dengan Allah mau pun relasi dengan sesamanya. Dan dalam narasi yang kita lihat dalam cerita Nuh ini, distruktur relasinya seolah-olah dipulihkan karena Nuh ditempatkan sebagai petani, tapi sekali lagi dia jatuh.
Lagi-lagi Nuh kehilangan kehormatan, kehilangan mukanya, dia telanjang di dalam kemahnya dan relasinya dengan anak-anaknya menjadi tidak baik. Salah satu dari anak-anaknya menjadi terkutuk yaitu Ham. Nuh diberikan pengharapan yang baru tapi dia mengkhianati pengharapan itu, dia tidak setia kepada apa yang Tuhan sudah percayakan kepadaNya, dan Dia menanggung akibatnya, seolah-olah Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dalam sejarah, tapi sejak semula pun Nuh bertingkah laku kira-kira kurang lebih sama dengan Adam. Tapi Allah panjang sabar, Allah tetap menyertai Nuh, bahkan Allah tidak menimpakan hukuman yang sudah Dia tetapkan akan jadi dalam Kejadian 6:3, tidak terjadi pada Nuh. Kejadian 6: 3, kejahatan mengisi penuh-penuh bumi ini, Tuhan mengatakan “RohKu tidak akan selama-lamanya tinggak di dalam manusia, karena manusia itu hanyalah daging, umurnya akan hanya 120 tahun saja”. Apakah benar de facto-nya setelah Tuhan menjatuhkan vonis ini, langsung umur manusia menjadi pendek? Nuh masih sampai 950, Tuhan panjang sabar. Tuhan itu Allahnya Israel yang tidak memberikan kesan kepada bangsa Israel sebagai sekedar Allah yang Mahakuasa, bukan itu yang paling mengesankan, meskipun Allah memang Mahakuasa. Yang paling mengesankan adalah Allah itu panjang sabar dan berlimpah kasih setia, itu yang paling mengesankan bagi Israel, itu yang dicatat, diserukan sewaktu Yahweh lewat di depan Musa. Allah itu berlimpah kasih setia dan Dia panjang sabar.
Lalu poin berikutnya, dari Nuh lahir seluruh keturunan di bumi, ada keturunan dari Sem, Ham, Yafet. Keturunan dari Sem kita tahu kemudian dalam pasal 10:22, 11:26, ada lahir Abraham dan keturunan dari Ham kita tahu pasal 10: 14-19 lahirlah bangsa-bangsa musuh Israel yaitu Filistin, Sidon, Het, Yebusi, Amori, Gergasi, Sodom, Gomora, Niniwe, semua dibangun oleh keturunan Ham. Jadi sekali lagi permusuhan yang lama berlanjut, permusuhan antara anak-anak manusia atau keturunan ular dengan anak-anak Allah atau keturunan Set. Dan ironisnya ini berlanjut dalam keturunan Set, karena Nuh keturunan Set juga. Tapi sekali lagi kita pikirkan apakah betul Nuh itu keturunan Set? Bukankah pada waktu itu sudah terjadi kawin campur. Jadi intinya kasih karunia Allah berlanjut ketika dosa berlanjut. Cerita dalam Kitab Kejadian, kalau Saudara baca Alkitab jangan salah, Saudara baca Alkitab bukan cari cerita. Model, atau teladan, karena kita tidak bisa teladani siapa-siapa kecuali Yesus. Cerita-cerita Alkitab memberikan kepada kita, terutama apa? Saya kira bukan peragaan “ini manusia hebat, ikuti dia”, tapi peragaan melalui baik kehebatan, ketidak-hebatan, kesetiaan, ketidak-setiaan, ketaatan maupun pelanggaran manusia, melalui itu semua kita lebih kenal Tuhan itu seperti apa, kita lebih kenal Tuhan itu siapa, dan kita tahu apa harapan kita hidup di dunia ini. Ini sesuatu yang saya kira ingin disampaikan oleh para penulis Alkitab melalui kisah-kisah ini. Tuhan dengan penuh kesabaran, mengembalikan kemuliaan itu. Sekarang saya sampai pada poin yang unik, yang hanya ada dalam cerita Nuh ini dan mungkin tidak kita lihat dapam periode Adam sampai air bah, yaitu Tuhan berkomitmen untuk tidak lagi menghapuskan kehidupan dari atas muka bumi Ini dengan sengaja diulangi oleh penulis Kitab Kejadian untuk menegaskan bahwa walaupun manusia sama saja seperti dulu, Tuhan tidak akan sama saja seperti dulu, Tuhan tidak akan menghukum manusia seperti pada zaman dahulu walaupun manusia sama saja. Manusia itu kapan sih tidak sama saja seperti dulu? Kita in sampai hari ini masih sama saja seperti zaman Adam.
Tapi sekarang Tuhan berjanji, Dia bersumpah, Dia melakukan itu dengan pelangi di situ, busurnya di situ dan mengarah ke atas. Pelangi dipakai oleh penulis Kitab Kejadian sebagai suatu gambaran busurNya Tuhan itu mengarah ke mana? Ke atas, busurnya digantung di langit, menjadi peringatan bagi Tuhan ada panah akan melayang, menembus jantung Tuhan kalau Dia melanggar janjiNya. Tuhan bersumpah selama ada pelangi itu “Aku tidak akan melenyapkan kehidupan dari bumi, akan terus ada, musim menabur, menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam, kehidupan akan berjalan terus. Aku tidak akan menghentikan itu seperti zaman Nuh, walaupun manusia sama saja”. Itu artinya Tuhan berkomitmen untuk tidak buang manusia yang sudah rusak dalam dosa. Ketika dunia ini jatuh dan Tuhan coba betulin dengan cara yang primitif dan bodoh itu, masih salah, Tuhan coba betulin lagi, lalu masih salah, Nuh masih sama seperti Adam, Tuhan coba betulin lagi. Dan Dia menegaskan komitmenNya, Dia tidak akan buang! Tuhan bisa tidak buang ciptaan ini dan bikin yang lain? Sebisa-bisanya, seperti Tuhan juga bisa tidak membuat ciptaan ini, tapi Dia bikin. Waktu Dia bikin, Dia tahu tidak akan jadi seperti apa? Dia tahu, tetap Dia bikin. Sudah Dia bikin, memang benar kejadian seperti yang Dia sudah tahu dan Dia tetapkan. Tapi kemudian Dia menyerah tidak? Tidak menyerah, Dia dengan teliti benerin satu per satu generasi demi generasi, individu demi individu, komponen demi komponen, tidak Dia buang ciptaanNya. Dia betulin satu per satu melalui anda dan saya, melalui gereja Tuhan. Tapi Tuhan pakai cara itu, Tuhan memberikan Firman kepada kita, Tuhan memberikan Yesus kepada kita, Tuhan menyertai umatNya. Mengapa Dia tetap pilih Israel? Mengapa Dia tetap memanggil gereja? Memangnya Dia tidak tahu akan terjadi apa 2.000 tahun setelahnya, dengan gereja, dengan umat Tuhan? Tapi Dia sudah berkomitmen agar selama bumi ini masih ada, tidak henti-hentinya musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam, Tuhan tidak akan memusnahkan, membinasakan segala yang hidup seperti yang Tuhan pernah lakukan, itu komitmen Tuhan. Dan komitmen itu ditunjukan lewat panjang sabarNya dan kasih setiaNya yang berlimpah buat kita. Dan terutama dengan terang kita lihat di dalam Yesus kita melihat kesabaran Tuhan yang panjang, kasih setia Tuhan yang begitu besar, lewat kejahatan kita, meremukan Dia, Tuhan memulihkan ciptaanNya. Tuhan memulai pemulihan segenap keberadaan lewat kekerasan hati kita yang menyalibkan Anak Allah, lewat dosa kita yang paling besar itu Tuhan menyelamatkan kita dari dosa.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 7 Jul 2015
Kebaikan Tuhan bagi umatNya
(Lukas 7: 18-23)
Setelah ada 2 mujizat yang begitu besar, Alkitab mengatakan bahwa Yesus Kristus makin dikenal oleh banyak orang. Banyak orang memberitakan Dia, banyak orang mengenal Dia, banyak orang mendiskusikan Dia, banyak orang mulai bertanya “siapa Dia ini sebenarnya, mengapa Dia bisa mengerjakan semua hal yang luar biasa ini?”. Maka di antara mereka, dikatakan dalam ayat 17 dan 18, ternyata ada murid-murid Yohanes. Jadi murid-murid Yohanes sudah menyaksikan perkara-perkara yang sangat besar, Tuhan Yesus membangkitkan orang mati dan ini membuat mereka begitu kagum sehingga mereka kembali dan beritakan kepada Yohanes Pembaptis. Mereka menceritakan “Orang itu luar biasa, Dia membangkitkan orang mati dan namaNya tersebar kemana-mana”. Tetapi ternyata Yohanes Pembaptis berada dalam keadaan yang sedang dalam keadaan penuh pergumulan. Yohanes di dalam penjara sedang menantikan kemungkinan kematian, dan ini adalah hal yang sangat menakutkan. Ini membuat dia ragu, membuat dia bertanya “kalau Mesias ini benar, mengapa tidak jalankan apa yang Tuhan nubuatkan?”, dan salah satu yang Tuhan nubuatkan adalah Mesias akan membebaskan orang dari tahanan. Ini semua adalan nubuatan Mesias yang sangat penting, di dalam Yesaya 35, 61: 1 dan Mazmur 16: 10. Dalam Yesaya 35:5-6, 61: 1 dan Mazmur 16: 10 disitu dikatakan bahwa Tuhan mengirimkan Mesias untuk mengerjakan 4 tanda besar.
Tanda pertama adalah Dia akan mengambil semua kelemahan Israel yaitu tidak lagi buta, tidak lagi tuli, tidak lagi lumpuh dan tidak lagi berada dalam penjara, ini hal pertama yang sangat penting. Orang Israel di dalam pembuangan digambarkan sebagai bangsa yang buta, karena buta maka dibuang, karena tidak melihat anugerah Tuhan maka dibuang. Mereka juga disebut sebagai bangsa yang tuli, karena Tuhan berfirman tapi mereka tidak dengar, akhirnya Tuhan buang. Mereka juga disebut sebagai bangsa yang lumpuh karena di dalam pembuangan mereka sudah kehilangan kekuatan mereka. Mereka juga disebut sebagai bangsa dalam tahanan, karena mereka tidak lagi menjadi bebas di dalam tahanan di Babel. Itu sebabnya hal pertama yang dijanjikan adalah Mesias akan datang dan mengambil semua kelemahan Israel. Kedua yang dijanjikan, Mesias akan menaklukan seluruh bangsa kafir yang sekarang masih menaklukan Israel. Israel bisa lepas kalau Mesias datang dan menghancurkan bangsa kafir. Kemudian yang ketiga, dikatakan dalam janji paling besar, Mesias akan membungkam semua musuhNya dengan menyatakan kuasaNya yang besar yang hampir sama seperti Allah. Kita tahu dalam penggenapannya bukan hanya hampir seperti Allah, tetapi Kristus menjalankan kuasa Allah sendiri. Mesias datang akan membungkam semua musuh dan mengalahkan semua musuhNya dengan kuasa yang mirip kuasa ilahi. Lalu keempat, dikatakan Mesias akan memulai pemerintahan mulai dari Yerusalem. Dia akan memulai kembali seluruh dunia melalui mengembalikan Israel kepada Tuhan melalui mendirikan tahta di Yerusalem. Inilah yang mereka percaya, maka hal pertama yang mereka nanti-nantikan adalah mana tanda itu.
Termasuk Yohanes Pembaptis waktu dia menunjuk Yesus adalah Sang Mesias, dia mengalami peristiwa yang sangat besar, dia harus ditangkap oleh Herodes dan di situ dia kembali memerintahkan murid-muridnya untuk bertemu Yesus. Kali ini dia memerintahkan murid-muridnya untuk bertemu Yesus bukan untuk ikut Yesus tapi untuk konfirmasi lagi “benarkah Engkau Mesias? Karena kalau Engkau Mesias, Engkau akan kerjakan tanda pertama, membuat mata orang buta melihat, membuat mulut orang bisu berkata-kata, membuat telinga orang tuli mendengar, dan membuat orang dalam tahanan bisa bebas”. Siapa orang tahanan? Dalam contoh Israel, orang dalam tahanan adalah orang-orang benar di tengah-tengah Israel lalu ditangkap oleh Babel dan dibawa ke pembuangan. Ini orang-orang yang tidak punya salah, mereka sembah Tuhan dengan setia, mereka ikuti Firman Tuhan, tapi mengapa ikut dibuang? Tuhan menjanjikan kepada mereka, “Tuhan akan bebaskan kamu yang tidak bersalah dari penjara”, inilah yang Yohanes Pembaptis tuntut. Mata orang buta dicelikan, bagus, telinga orang tuli dibuat mendengar, bagus sekali, orang lumpuh bisa berjalan, sangat bagus, tapi kapan orang tahanan ini bisa dibebaskan dari penjara? Ini yang dinantikan dan dia mendesak Yesus “kalau Engkau Mesias, cepat bebaskan”, dengan mengutus 2 orang murid. Ada juga penafsir yang mengatakan Yohanes tidak ragu tapi murid yang ragu, tapi teks ini mengatakan murid justru tidak mungkin ragu karena mereka baru pulang dari menyaksikan Yesus membangkitkan orang mati. Ini berita yang menghebohkan yang mereka bawa, tapi Yohanes minta konfirmasi lagi “kalau Engkau sudah kerjakan tanda-tanda sedemikian banyak, mengapa membebaskan orang yang dipenjara ini, orang benar yang tidak salah ini, mengapa belum juga dilakukan?”.
Yohanes Pembaptis berada di dalam penjara karena satu pekerjaan yang dia harus kerjakan yaitu dia harus berkhotbah untuk menegur kejahatan dan kejahatan yang ditegur adalah kejahatan dari seorang pemimpin bernama Herodes. Herodes adalah anak dari Herodes Agung, di mana Herodes Agung adalah anak dari seorang bernama Antipater. Antipater adalah seorang yang sangat berbakat memimpin dari daerha Edom. Edom tidak termasuk daerah Israel sebelum zaman Alexander Janeus. Alexander Janeus adalah seorang pemimpin dari dinasti Hasmonean, dinasti ini adalah dinasti pertama sejak Israel dibuang, yang bisa memerintah Israel dan mereka adalah orang Israel. Setelah mereka menjadi dinasti penguasa, muncul penguasa bernama Alexander Janeus. Alexander Janeus bukan Alexander agung, ini 2 orang yang berbeda. Alexander Janeus menjadi penguasa di Israel, lalu dia luaskan daerah Israel, dia taklukan Edom lalu dia paksa seluruh laki-laki di Edom mesti sunat. Seluruh Edom dijadikan wilayah Israel. Sejak Alexander Janeus, orang Edom disebut orang Israel, meskipun bukan asli, mereka dianggap budak dan orang taklukan dari Israel. Tapi kemudian muncul pada abad 1 sebelum Masehi seorang ebrnama Antipater, orang jenius luar biasa dan dia sangat pintar jalin relasi termasuk dengan Roma. Lalu sampai ketika dia harus diusir karena serangan perang yang besar dari orang-orang Dinasti Hasmonean dengan orang-orang dari Mesopotamia, akhirnya keluarga Antipater pergi ke Roma dan waktu itu kekuasaan dari Hasmonean habis. Ketika kekuasaan Hasmonean habis, Antipater juga sudah mati, Roma ingat anak dari Antipater bernama Herodes Agung. Maka Herodes Agung diangkat menjadi penguasa besar, menjadi orang yang bertahta di situ. Inilah kerajaan Herodes, kerajaan yang rusak, banyak kekacauan dan kegilaan terjadi. Seolah-olah Tuhan tunjukan ini yang terjadi ketika kerajaan itu muncul dengan kelicikan, kefasikan dan penentangan kepada Tuhan dengan sangat. Setelah Herodes Agung mati, 3 anaknya bagi wilayah Israel, tapi yang paling brilian, paling licik dan yang paling pintar dari semua adalah Antipas. Maka Antipas pergi menghadap Roma, lalu mengatakan “saya menjadi raja, 2 orang saudara saya menjadi seperti caretaker dan saya pastikan loyalitas Israel untuk Roma”, maka dia diberikan kuasa sebagai raja sedangkan kedua saudaranya tidak. Maka kuasa dia lebih besar dari pada kuasa saudara yang lain. Dan waktu dia hidup, dia hidup sezaman dengan Yohanes Pembaptis ketika sedang melayani.
Yohanes Pembaptis kalau khotbah berani sekali, siapa pun yang datang akan dia tegur. Orang Farisi datang, dia mengatakan “celakalah kamu ular beludak”. Waktu orang Farisi datang ditegur, waktu pemungut cukai datang ditegur, waktu seorang tentara datang ditegur, waktu Herodes datang, orang mau tahu apakah Yohanes Pembaptis akan tegur atau tidak, ini adalah raja yang kejam sekali, yang tidak ragu-ragu bunuh siapa pun dan raja ini jatuh cinta kepada seorang bernama Herodias, tapi sayangnya Herodias menikah dengan Filipus. Maka karena begitu cinta Herodias, dia ceraikan istrinya, mungkin istrinya begitu sakit hati. Dan Herodias adalah perempuan yang jahatnya bukan main, mulutnya begitu penuh kelicikan, tapi parasnya begitu cantik. Waktu Yohanes Pembaptis tahu Herodes Antipas ambil istri adiknya, dia sudah siapkan kalau ada kesempatan ngomong di depan raja ini, dia akan tegur dia. Tapi kesempatan itu tidak mungkin datang karena Yohanes yang sengaja kejar, Yohanes tidak ada urusan cari rumah Antipas. Tugas utama dia tidak menjadi kakak pembimbing Herodes, jadi Herodes bukan target utama. Tujuan dia adalah khotbah sama Israel, siapkan jalan bagi Mesias. Tetapi mengapa Herodes bisa mendengar khotbah Yohanes Pembaptis? Kemungkinan besar Herodes ingin. Ini sesuatu yang Alkitab nyatakan meskipun tidak terlalu eksplisit, Herodes senang dengar Yohanes, meskipun senang tapi tidak bertobat, ini beda. Maka Herodes memenjarakan Yohanes, dan Yohanes berada dalam penjara menantikan kapan Israel dipulihkan, kok tidak pulih-pulih, malah dia dipenjara dan sebentar lagi mau dibunuh, kalau begitu bagaimana caranya dia bisa melihat Tuhan memulihkan Israel? Dia mulai mengalami keraguan, mulai mengalami kekacauan, dia mulai mengalami pergumulan di dalam dirinya. Saya percaya ini tafsiran paling tepat, kalau ada orang mengatakan murid-muridnya yang ragu-ragu, Lukas tidak mencatat demikian karena murid-muridnya baru melihat karya besar yang Yesus kerjakan membangkitkan orang mati. Maka Yohanes dalam penjara dan dia ragu. Apakah boleh ragu? Boleh, Tuhan kadang ijinkan. Kalau Saudara lihat dalam jawaban Tuhan Yesus, Tuhan tidak sekalipun memberikan teguran terlalu keras kepada Yohanes. Bahkan ketika kepada orang banyak, Tuhan Yesus mengatakan “tidak ada nabi, tidak ada orang yang dilahirkan dari perempuan, lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Kecuali Dia yang datang menggenapi, maka Dia akan membuat yang lain, yang paling kecil, yang paling besar sekali pun, tetap lebih besar dari Yohanes”, ini perkataan penuh misteri tapi belum kita bahas hari ini.
Jadi Tuhan Yesus mengerti keadaan Yohanes, itu sebabnya Dia memberikan pesan kepada muridnya “kamu pulang, katakan kepada Yohanes berbahagialah orang yang tidak menjadi menolak di tengah-tengah kekecewaannya. Jangan kecewa, berbahagialah kalau kamu tidak kecewa dan menolak”, ini yang Tuhan Yesus bagikan. Yohanes Pembaptis mesti kembali menyatakan iman yang kuat untuk mempercayai Tuhan Yesus. Mengapa Tuhan Yesus mau kembali mengangkat Yohanes Pembaptis? Karena Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir yang Tuhan bimbing, Tuhan berikan anugerah untuk berkhotbah mempersiapkan Kristus datang, dan dia sendiri bertemu dengan Kristus. Itu sebabnya orang ini tidak mungkin Tuhan buang, tidak mungkin Tuhan biarkan di dalam keraguan. Paakah keraguan baik? Tidak tentu, keraguan seperti apa yang baik? Jawaban yangdiberikan mesti gabungan antara teguran dan penghiburan. Bagaimana cara Tuhan menegur dan menghibur Yohanes Pembaptis? Jawaban Tuhan Yesus yang mengutip Yesaya 35, 61 dan Mazmur 16 ini luar biasa, ketika murid-murid Yohanes tanya “benarkah Engkau itu?”, Tuhan katakan “bilang pada Yohanes, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberikan kabar baik”. Saudara bisa baca dai Yesaya 35, 61 dan Mazmur 16 semua yang Yesus lakukan dicatat di situ, kecuali satu, Yesus melakukan membangkitkan orang mati dan itu tidak tercatat di Yesaya 35, 61 atau pun Mazmur 16. Tetapi di dalam Yesaya mau pun selain hal-hal yang dilakukan Tuhan Yesus, juga ada tambahan satu, yaitu Tuhan akan emmbebaskan orang tahanan dari penjara. Jadi ini poin yang dituntut Yohanes “bukankah Mesias membebaskan orang dari penjara, mengapa aku masih dipenjara, mengapa Herodes belum dihakimi, mengapa orang benar dikurung, sedangkan raja fasik bertahta?”, ini menjadi pertanyaan terus dari zaman dulu sampai sekarang.
Ini yang disebut dalam teologi sebagai teodisi yaitu memberikan penjelasan mengapa Tuhan yang begitu baik dan berkuasa mengijinkan orang jahat bertahan, sedangkan orang baik ditindas. Ini pertanyaan teodisi Yohanes Pembaptis “benarkah Engkau Mesias? Hancurkan kejahatan. Benarkah Engkau Mesias? Lepaskan aku dari penjara. Benarkah Engkau Mesias? Hancurkan raja fasik seperti Herodes Antipas”, tapi mengapa belum juga dilakukan? Jadi Yohanes Pembaptis mempertanyakan ini. Lalu Tuhan Yesus mengganti yang membebaskan orang tahanan dengan membangkitkan orang mati. Membebaskan orang tahanan dengan membangkitkan orang mati, lebih mudah mana? Membebaskan orang dari tahanan. Di dalam keadaan Yohanes yang begitu sengsara, begitu penuh dengan ketakutan, penuh kegelisahan dan kegentaran, dia bertanya kepada Tuhan Yesus “benar Engkau yang akan datang itu, benarkah Engkau yang akan menghancurkan kejahatan, benarkah Engkau akan membebaskan orang-orang dari dalam tahanan?”, tapi Tuhan Yesus mengatakan “Aku tidak bebaskan kamu”, seolah-olah begitu. Ini sesuatu yang sangat-sangat kejam kedengarannya, tapi Tuhan menggantinya dengan mengatakan “Aku tidak bebaskan kamu dari penjara, tapi Aku bangkitkan umatKu yang mati, memberikan kepada mereka kehidupan”. Ini menjadi sesuatu yang menghibur Yohanes Pembaptis. Mengapa kita tahu Yohanes Pembaptis terhibur? Karena Kristus yang Mahatahu mengatakan “tidak ada orang yang lebih agung dari Yohanes Pembaptis”. Jadi murid-murid bawa berita ini lalu mengatakan “Tuhan tidak mau bebaskan kamu, tapi Tuhan bengkitkan orang mati”, sehingga Yohanes tahu tanda ini lebih besar, dan tanda ini lebih berguna bagi umat Tuhan dari pada dia lepas dari penjara. Maka dia kembali konsisten dengan apa yang dia nyatakan dulu “biarlah Kristus makin besar, aku semakin kecil”. Kristus makin besar pelayananNya dan dia harus dipenggal, masuk dalam penjara kemudian dipenggal. Maka waktu Tuhan Yesus menghiburkan dia, dia mendapatkan kalimat yang luar biasa, Tuhan Yesus mengatakan “berbahagialah kamu kalau kamu tidak kecewa”. Yohanes Pembaptis tidak perlu kecewa karena berkat besar dan tanda mujizat yang paling agung yang Tuhan Yesus kerjakan bukan untuk Yohanes, tetapi untuk umat Tuhan. Yesus mengatakan “Aku tidak keluarkan kamu dari penjara, tapi Aku bebaskan umat Tuhan dari maut”.
Di sini Yohanes Pembaptis belajar bahwa tanda bahwa Allah berkuasa, tidak harus kita alami pribadi, tapi dialami seluruh umat Tuhan, itu jauh lebih besar dari apa yang kita alami secara pribadi. Saudara mengalami anugerah Tuhan bagi diri, tetap kalah besar dibandingkan mengalami anugerah Tuhan bagi umatNya. Mari kita tidak punya pikiran yang egois, jangan berpusat kepada diri terus. Allah kita bukan Allah yang self-centered, Allah Tritunggal tidak pernah berfokus ke diri. Allah Bapa mengutamakan Allah Anak dan meninggikan Dia, Allah Anak meninggikan Allah Bapa, dan Allah Bapa maupun Allah Anak meninggikan Allah Roh Kudus dengan cara memberikan pekerjaan menaklukan seluruh bumi kepada Kristus, kepada Allah Roh Kudus. Jangan jadi sesuatu yang bukan dari Allah. Sebab Tuhan berkuasa dan itu menjadi tanda yang Dia nyatakan bukan kepadamu tetapi kepada umat Tuhan. Maka ketika kita sadari Tuhan baik bagi umatNya, di situ baru kita sadar Tuhan juga baik untuk kita. Tapi kalau kita hanya tahu Tuhan baik untuk saya, ada saat kita kecewa dan kita tidak bisa melihat Tuhan baik dalam hal apa. Mengapa banyak orang gagal melihat kebaikan Tuhan? Karena terus melihat kebaikan Tuhan “bagi saya, bagi saya”. Setiap orang melihat diri, makin melihat diri makin buta, makin lihat umat Tuhan, makin celik. Dan waktu kita menyadari berkat Tuhan yang paling besar baru kita sadar berapa besar Tuhan sudah memberkati kita. Banyak orang tidak sadar berkat Tuhan karena terus melihat diri. Mari belajar lihat orang lain, mari belajar lihat penyertaan Tuhan bagi gerejaNya, mari lihat cinta Tuhan rela mati bagi gerejaNya. Waktu kita sudah lepas dari fokus ke diri, lalu melihat pekerjaan Tuhan bagi umatNya, pada waktu itu kita akan berhenti mengasihani diri, pada waktu itu kita akan berhenti gagal melihat berkat Tuhan bagi kita, dan makin limpah melihat Tuhan baik bagi saya. Mengapa ada orang mengatakan “Tuhan baik bagi saya, karena matanya sudah melihat kebaikan Tuhan kepada orang lain”. Ini salah satu prinsip yang diambil dan kita mesti pelajari. Yohanes Pembaptis lihat Yesus Kristus baik, karena bangkitkan orang meskipun ini bukan efek langsung, tapi besar cinta kasih Tuhan. Maka mari kita koreksi diri, mengapa saya gagal melihat Tuhan baik? Mungkin karena saya berusaha keras lihat kebaikan saya terus, tapi gagal melihat kebaikanNya kepada umatNya, secara keseluruhan. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati kita .
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 7 Jul 2015
Di dalam Kristus, kematian bukan pemisah final
(Lukas 7: 11-17)
Bagian ini melanjutkan bagian yang penting tentang Kristus yang melayani dengan cara yang mirip dengan cara Elisa melayani. Maka yang dikerjakan Yesus di pasal 7 sangat mencerminkan yang dikerjakan oleh Elisa. Dan itu sebabnya tanpa melihat apa yang penting dalam pelayanan Elisa bagi Israel, kita akan sulit memahami apa yang dimaksudkan Lukas dalam pasal 7: 1-17. Jadi kita harus melihat kembali apa yang Tuhan kerjakan bagi Israel melalui Elisa. Kita sudah bahas dalam 2 minggu lalu Elisa melanjutkan pelayanan Elia tapi dalam cara yang lebih kecil, Elia menyatakan tanda bagi seluruh bangsa, sedangkan Elisa mengerjakan mujizat dengan penuh belas kasihan bagi kaum yang terpinggirkan. Elia kerja dengan memberikan peringatan kepada banyak orang sekaligus raja Israel pada waktu itu, Elisa memberikan tanda tidak lagi secara besar kepada seluruh orang dan tidak lagi secara besar kepada raja di hadapan seluruh bangsa, tetapi melakukannya dengan cara tersembunyi bagi kaum pilihan Tuhan yang minoritas. Itu sebabnya Tuhan mengatakan kepada Elia “meskipun seluruh bangsa ini mau membunuh kamu, raja dan istrinya tidak mau sembah Tuhan, tapi Aku masih sisakan 7.000 orang yang mulutnya tidak pernah sembah baal. 7.000 Orang dibandingkan seluruh rakyat di Israel Utara, itu adalah perbedaan yang terlalu jauh, 7.000 terlalu kecil jika dibandingkan dengan seluruh bangsa, tapi Tuhan mengatakan “7.000 akan Aku sisakan”, inilah 7.000 yang akhirnya mendapatkan kesempatan terus dipelihara oleh Tuhan imannya, dan sebagian dari mereka adalah orang-orang yang dilayani langsung oleh Elisa. Jadi Elisa mempunyai mujizat yang 2x lipat Elia, tapi mempunyai pengaruh yang tidak lagi besar seperti Elia di dalam pameran mujizatnya, tapi yang hanya menyentuh orang pinggiran, orang-orang kecil, orang-orang yang disebut sebagai kaum remnant atau sisa ini. Lalu Elia dan Elisa juga mengerjakan hal yang sangat luar biasa, baik Elia maupun Elisa membangkitkan orang mati. Dan yang dikerjakan Yesus di sini mesti kita lihat dalam pengertian yang bisa kita lihat waktu Elia dan Elisa membangkitkan orang mati. Elia dan Elisa mengerjakan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya, orang mati dibangkitkan oleh doa dan pelayanan seorang nabi, itu adalah sesuatu yang baru.
Dalam pelayanannya, Elia ditolong oleh seorang janda, dia bisa tinggal di sini, diselamatkan oleh Tuhan dari murka orang Israel dan dia tetap terpelihara dari kekeringan. Lalu setelah itu anak janda itu mati, Elia begitu sedih karena janda ini sudah menolong dia. Kemudian dia berdoa “Tuhan, masakan Engkau mau timpakan kesulitan ini kepada janda ini? Tolong bangkitkan anak ini”, dengan permohonan yang begitu sangat akhirnya Tuhan dengarkan, dan anak itu bangun kembali. Alkitab mengatakan dia memakai tanda-tanda seperti bersin, setelah bersin anak ini bangkit kembali. Dan pekerjaan ini dilakukan kembali oleh Elisa. Itu sebabnya pelayanan Elia diadopsi oleh Elisa. Dan yang dikerjakan oleh Elisa tidak kalah dari yang dikerjakan oleh Elia. Elia membangkitkan anak seorang janda, Elisa pun bangkitkan anak dari pasangan suami istri yang belum punya anak. Pasangan suami istri ini sering ajak Elisa menumpang di rumah mereka, akhirnya istrinya usul untuk membuat ruangan khusus bagi Elisa, jadi mereka tidak perlu ajak-ajak lagi, pokoknya kapan pun dia datang, sudah ada tempat khusus untuk dia. Maka mereka membuatkan tempat dan Elisa tinggal di situ. Lalu Elisa bertanya “ibu, kamu baik sekali, mau minta apa?”, ibu itu mengatakan “saya belum punya anak, apakah mungkin kalau saya mempunyai seorang anak?”, Elisa mengatakan “tahun depan engkau akan menggendong seorang anak”. Nabi ini beriman sekali, dia tidak mengatakan “tunggu ya saya mau berdoa dulu”, tapi langsung mengatakan “tahun depan, Tuhan sudah ijinkan kamu mempunyai seorang anak”. Akhirnya ibu itu mempunyai seorang anak, tetapi ketika bertahun-tahun anak itu bertumbuh, mendadak sakit kepala lalu mati. Ibu ini sedih sekali, dan Elisa kaget mendengar berita ini. Ibu itu datang kepada Elisa dan mengatakan “tuan, mengapa beri sesuatu lalu ambil lagi? Mengapa berikan pengharapan lalu diambil kembali?”, di sini ada tangisan yang begitu sedih baik dalam pelayanan Elisa maupun Elia dari seorang ibu yang kehilangan anaknya. Saya membaca buku dari Nicholas Wolterstroff, waktu anaknya meninggal, dia menulis dengan sangat-sangat penuh kesedihan. Dia mengatakan tidak ada orang tua yang harus mengubur anaknya, seharusnya anaknya yang mengubur orang tua. “Harusnya anakku yang tutup mataku dan tutup petiku, bukan aku yang tutup mata anakku dan tutup petinya”, anaknya baru berumur 20an tahun dan meninggal karena kecelakaan ketika hiking. Ini membuat dia sedih dan mengatakan “saya mendapatkan 2 hal, yang pertama saya tidak tahu kalau saya bisa merasakan sedih dan goncang seperti ini. Saya tahu kalau kehilangan anak saya, saya pasti hancur, tapi baru tahu kalau kehancuran yang akan saya alami sekuat ini”, lalu dia mengatakan hal yang kedua “tapi saya baru tahu kalau ternyata Tuhan bisa memberikan penghiburan dan topangan dalam cara yang saya tidak mengerti. Dua hal ini saya tidak mengerti kecuali saya alami sendiri”.
Kematian merupakan sesuatu yang sangat menyedihkan, dan ini merupakan efek dosa. Jangan pikir kematian sebagai sesuatu yang menakutkan karena kita sendiri hadapi, itu memang menakutkan. Tapi hal yang lebih merusak dari kematian adalah kematian memastikan relasi yang tadinya harus begitu baik menjadi begitu rusak. Waktu manusia jatuh dalam dosa, relasi dengan Tuhan langsung rusak. Tuhan mengatakan “pada hari kamu memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, pastilah kamu mati”. Jadi kata ini menggambarkan bahwa kematian akan menjadi jembatan yang tidak bisa diseberangi untuk mengganggu relasi antara Tuhan dan manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, relasi Tuhan dengan manusia menjadi rusak, dan kematian menjadi puncaknya. Relasi antara manusia rusak, dan kematian menjadi pemisah kekal di dalam keadaan tidak ada keselamatan. Itu sebabnya kematian menjadi suatu yang sangat mengerikan karena ini adalah antitesis dari relasi yang harusnya terjalin dengan begitu baik. Tuhan mau ada relasi antara manusia dan Tuhan, tapi dirusak oleh kematian. Tuhan mau ada relasi antar manusia, juga dirusak oleh kematian. Ini cara kedua untuk melihat kematian. Jadi hari ini kita belajar menyoroti kematian dari sisi orang yang ditinggalkan bukan dari sisi orang yang mati, baik janda yang ditolong oleh Elia maupun ibu dan suaminya yang ditolong oleh Elisa, dua-duanya mendapatkan pertolongan anaknya bangkit bukan demi anak tapi demi mereka yang kehilangan. Maka ini perspektif yang harus kita tarik mundur waktu kita kembali membahas Taman Eden. Tuhan mengatakan “pasti mati”, ini bukan berarti Tuhan membenci Adam lalu hajar Adam sampai dia mati karena bencinya. Tapi Tuhan memberikan peringatan, ketika engkau melanggar, Tuhan tidak mungkin mempertahankan relasi dekat yang awal, tapi Tuhan akan menjauh. Dan ini akan membuat kematian menjadi pemisah kekal antara Tuhan dan Adam selama Adam masih hidup di dunia ini. Dan kalau dia tidak diperdamaikan dengan Tuhan, kematiannya akan menjadi seruan pernyataan final bahwa dia dan Tuhan terpisah selamanya. Relasi kita dengan Tuhan akan hancur selamanya kalau selama hidup kita tidak kembali kepada Tuhan, sampai kita mati setelah itu selesai. Tidak ada kesempatan karena kematian memberikan satu materai, satu segel tentang keadaan kita di dalam kekekalan. Apakah kembali relasi dengan Tuhan atau akhirnya menjadi jauh, jatuh dan selama-lamanya terhilang dari Tuhan? Inilah hal yang harus kita ingat, ada kematian yang menjadi seruan final tentang dimana status kita di hadapan Tuhan. Itu sebabnya jangan main-main dengan hidup, harus pikir dengan baik-baik “apa yang mau saya imani di sini, apa yang mau saya yakini disini, harus punya satu keteguhan untuk memastikan relasiku dengan Tuhan berjalan dengan sangat baik”. Bagaimana relasi dengan Tuhan bisa dipelihara? Alkitab mengatakan kalau kita di dalam Kristus. Mengapa di dalam Kristus? Karena hanya Dialah yang dikasihi oleh Bapa. Saudara mau dikasihi oleh Bapa, Alkitab mengatakan Kristuslah yang paling dikasihi. Tuhan mengatakan “engkau menjadi satu dengan AnakKu, supaya kasih yang Aku berikan kepada AnakKu itu juga kasih yang akan Aku berikan kepada engkau”. Jadi kematian akan memastikan relasi kita dengan Tuhan apakah kekal terpisah selamanya atau berada dalam Dia dan kasihNya sampai selama-lamanya. Maka inilah yang harus kita takuti dari kematian. Kematian yang menjadi tanda rusaknya relasi, tanda terputusnya relasi sampai seterusnya dengan Tuhan.
Kita tidak kasihan kepada yang mati, apalagi kalau dia mati di dalam Tuhan. Dia mati di luar Tuhan, kita mengatakan “apa boleh buat, sudah lewat, mau gimana? Waktu masih hidup tidak mau dengar, sekarang sudah mati tidak ada kesempatan”. Tapi orang yang masih hidup, inilah yang perlu belas kasihan kita, perlu support, maka kita datang, kita tidak berdiri di depan peti lalu mendoakan “Tuhan, lapangkanlah jalan arwah ini ke sorga karena jalan ke sorga itu penuh dengan liku-liku, ada terowongan yang diujungnya ada cahaya dan seringkali cahaya itu membuat silau, jadi tolong Tuhan berikan kaca mata kepada rohnya sehingga waktu dia jalan cari sorga, dia tidak disilaukan oleh cahaya sorgawi tapi bisa masuk dengan tepat”, tidak perlu doakan dia, dia sudah lewat kesempatannya. Kalau dia sudah di dalam Kristus, berbahagialah, kalau tidak, apa boleh buat. Tapi yang masih hidup, ini yang menjadi concern.
Kembali dalam bacaan kita, biasanya akan ada peratap lalu mereka akan menangis, sehingga rombongan ini menjadi rombongan yang riuh dengan tangisan, sehingga ketika anak muda yang mati ini dibawa, ributnya pasti bukan main. Jadi 2 kelompok, kelompok yang ribut karena tangisan bertemu dengan kelompok yang penuh dengan sorak-sorai karena ada Kristus. Waktu 2 kelompok ini bertemu, Tuhan Yesus tergerak dengan tangisan si janda, Dia tidak tergerak dengan tangisan orang lain yang pura-pura, meskipun tangisan mereka lebih keras. Biasanya orang yang pura-pura nangisnya luar biasa, tapi Tuhan tidak peduli tangisan itu, yang Dia lihat adalah si janda yang mungkin dengan kekuatan yang sudah habis terus teteskan air mata. Yesus dekati janda itu kemudian katakan “jangan menangis”. Ini kita liht begitu miripnya dengan yang dikerjakan Elia dan Elisa, kasihan kepada janda, bukan kasihan kepada anak. Dia tidak datang ke anak itu dan mengatakan “masih muda, kasihan kamu ya”, tidak perlu seperti itu, orang yang sudah mati tidak perlu dikasihani lagi karena final, waktunya sudah habis. Maka Tuhan mendekati ibunya, bukan mendekati anaknya untuk menghibur. Kita datang ke kedukaan untuk menghibur orang-orang yang kehilangan. Ini perspektif hari ini. Tuhan menghibur ibu dari anak ini lalu mendekati usungan, kemudian sentuh. Tindakan ini benar-benar melawan Taurat, karena di dalam Taurat dikatakan “jangan sentuh apa yang pernah kena mayat dan jangan sentuh mayat. Waktu kamu menyentuh mayat, kamu najis sampai matahari terbenam. Dan setelah itu kamu mencuci dirimu, baru besoknya kamu dinyatakan tahir lagi”. Maka dikatakan dalam Taurat “jangan sentuh mayat, kalau kamu sentuh mayat kamu akan najis”. Itu sebabnya orang Farisi kalau lihat iring-iringan seperti ini mereka akan menjauh, mereka berasumsi semua orang yang sedang berduka mungkin sudah sentuh mayat, kalau dia sudah sentuh mayat berarti dia cemar, dan kalau dia cemar dan orang Farisi sentuh dia, orang Farisi ikutan cemar, dan kalau mereka cemar, mereka masuk sorga, sorga jadi cemar, itu sebabnya mereka berpikiran tidak mungkin masuk sorga karena itu mereka tidak mau sentuh orang mati. Jadi mereka semua minggir, kalau mereka tidak ada kaitan apa-apa, tidak ikut dukacita, mereka minggir, tapi Yesus sengaja mendekat.
Mereka menjauhi, Yesus sengaja sentuh. Apa ini maksudnya? Apakah Tuhan Yesus sengaja memprovokasi, sudah tidak sabar untuk disalib maka Dia lawan semua supaya orang salibkan Dia? Bukan, Dia sedang mengatakan Dialah yang mengatasi segala kutuk yang mengakibatkan maut. Dia mengatasi segala kutuk, Dia sentuh, bukan Dia yang cemar, tapi yang disentuh oleh Dia yang menjadi suci. Lain dengan kita, kita menyentuh, mungkin kita yang terpengaruh, Kristus menyentuh, kesucianNya akan ditularkan kepada yang cemar. Maka apa yang disentuh oleh Kristus itu yang akan menjadi baik dan Tuhan mengatakan kepada anak muda ini “hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah”, ini memerintahkan orang mati untuk hidup kembali, apakah mudah? Tapi Tuhan Yesus mengatakan “hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah”. Maka anak muda ini bangkit dan Yesus mengembalikan anak muda ini kepada ibunya. Concern Tuhan Yesus sekali lagi bukan kepada yang mati ini tapi sang ibu. Maka yang Dia kerjakanlah adalah waktu Dia mati, Dia membuat kematian kita tidak menjadi halangan bagi kita untuk berelasi dengan Tuhan. Relasi kita dengan Tuhan dipulihkan sama seperti relasi ibu ini dengan anaknya. Itu sebabnya Kristus datang ke dalam dunia supaya relasi menjadi pulih, supaya kita tidak perlu melihat kematian sebagai pemisah final antara aku dan sesamaku dan antara aku dengan Tuhanku. Jangan pikir kalau di neraka ada relasi, relasi itu hak istimewa sorga. Sorga, relasi, kasih, Allah, kekudusan dan cinta semua bergabung dalam satu sisi. Sedangkan di neraka tidak ada kenikmatan relasi seperti ini. Itu sebabnya kematian memastikan saya tidak mungkin berelasi dengan mereka yang belum berada di dalam Kristus, dan mereka yang di dalam Kristus tidak mungkin berelasi dengan mereka yang di luar, dan mereka yang di luar Kristus tidak mungkin berelasi dengan Allah Bapa di sorga. Itu sebabnya Kristus harus datang, itu sebabnya Dia harus mati. Kalau tidak perlu mati maka mengapa Dia mesti mati? Tapi karena ini satu-satunya cara maka cara ini yang Dia tempuh untuk membuat kematian tidak lagi menjadi pengganggu final untuk relasi manusia. Maka Kristus membangkitkan anak muda sebagai satu tanda bahwa Dia akan mengerjakan yang lebih genap di dalam kematianNya di atas kayu salib. Dan kematian di atas kayu salib inilah yang membuat manusia tidak lagi perlu mencari di mana ada pengharpaan saya dipulihkan dengan Tuhan?”. Kematian Kristus akan membuat semuanya beres. Itu sebabnya ketika kita kehilangan orang yang kita kasihi di dalam Tuhan, kita mengatakan “kematian Kristus sudah memastikan kematian ini tidak akan memisahkan saya”. Paulus mengatakan di dalam Tesalonika “hiburkanlah satu dengan yang lain”, dengan kalimat seperti ini “engkau harus menghibur saudaramu yang sedang berduka karena kehilangan orang yang juga sudah percaya Kristus, dengan mengatakan “relasimu dengan Dia tidak akan habis oleh karena kematianNya. Sebab kematian Kristus sudah memastikan kematian ini akan membuat relasimu akan menjadi habis. Maka kita bisa bersuka cita, Saudara mengenal saya, saya mengenal Saudara, Saudara mengasihi saya, relasi kasih ini tidak akan habis kalau salah satu dari kita meninggal duluan. Kematian Kristus memastikan relasi kita tidak berhenti sampai kematian. Itu sebabnya meskipun pernikahan mengatakan “sampai kematian memisahkan”, tetapi perjamuan Anak Domba mengatakan “kematian memisahkan tetapi pernikahan sejati tetap akan terjadi di dalam relasi dengan Kristus dalam cinta kasih dari Allah Bapa”. Jadi sukacita yang lebih kecil diganti dengan sukacita yang lebih besar, inilah yang kita harapkan. Bagaimana ini terjadi? Hanya ketika Kristus datang dan menyerahkan diriNya. Inilah perspektif yang indah, Tuhan menebus kita bukan karena kasihan kitanya akan mati, tapi karena kasihan kitanya tidak punya relasi dengan Tuhan, kita tidak punya relasi satu dengan yang lain. Satu hal yang dunia ini sadari, manusia perlu relasi. Manusia perlu ada orang yang dia kasihi dan mengasihi dia. Tanpa ini dia mengatakan “lebih baik saya mati dari hidup”. Jadi kematian bukan dari dalam kematian itu sendiri yang membuat sengsara, kematian membuat sengsara, menurut orang abad pertengahan karena kematian membuat kita menghadap murka dan penghakiman Tuhan. Dan pada hari ini kita mengingat kematian membuat relasi yang harusnya terbina di dalam kasih menjadi hancur dan tidak bisa dilanjutkan karena terputus oleh kematian. Tapi Kristus datang membuat keindahakn relasi kasih bertahan sampai selama-lamanya, baik dari Tuhan kepada manusia, maupun dari satu orang percaya kepada orang lain. Kiranya ini boleh menguatkan kita untuk makin mengenal siapa Kristus, makin mengasihi Dia dan makin mengagumi karya penebusanNya yang memastikan bahwa kasih, relasi dan belas kasihan terus dipertahankan dan relasi kita dengan Tuhan terjamin oleh darahNya.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 7 Jul 2015
DIA yang lebih besar dari Elisa
(Lukas 7: 1-10)
Mujizat dalam bagian ini baik yang dikerjakan oleh Kristus maupun yang dikerjakan oleh para murid adalah bagian dari tanda kuasa Tuhan. Lukas menulis tanda di dalam perbuatan dan juga perkataan. Perkataan para murid begitu berkuasa, demikian juga ajaran dari Tuhan Yesus. Kuasa menjadi pernyataan dari tanda hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus Tuhan. Di dalam Surat Ibrani dikatakan mereka diberi hak untuk mempunyai kuasa sedemikian karena mereka adalah para saksi, dan Tuhan menopang kesaksian mereka dengan tanda-tanda ajaib. Inilah yang harus kita pahami tentang mujizat. Tuhan mengijinkan para saksi mempunyai hidup dan juga kemampuan mengerjakan mujizat. Tapi ini tidak bisa dibalik, Saudara tidak bisa mengatakan bahwa setiap orang yang kerjakan mujizat pasti orangnya adalah saksi Tuhan. Sebab sekarang adalah zaman dimana penipuan itu banyak. Saudara kalau mengatakan pekerjaan supranatural itu pasti dari Tuhan, maka Alkitab mengatakan “tidak, pengikut Firaun, penyihir-penyihir pegawai dari Firaun yang adalah pegawainya juga bisa melakukan tanda muijzat”. Musa membuat air menjadi darah, mereka juga bisa. Musa mendatangkan kodok, mereka bilang “kami juga bisa” dan mereka lakukan. Jadi yang melakukan tanda-tanda supranatrual tidak pasti, tidak harus ini orang datang dari Tuhan. Tetapi dalam periode para rasul mengapa mereka diberi kesempatan melakukan mujizat begitu besar? Karena mereka adalah para saksi. Mengapa mereka begitu perlu menyatakan mujizat ini? Karena setiap perbuatan yang mereka kerjakan akan menjadi fondasi dalam Kekristenan sepanjang zaman.. Itu sebabnya yang mereka nyatakan dalam Kitab Suci akan menjadi kesaksian yang tertulis, dan kesaksian inilah menjadi tempat iman kita berdiri. Kristus mengerjakan mujizat sebagai tanda bahwa kuasa ilahi yang Dia jalankan di dalam dunia adalah kuasa yang secara natural milik dia. Dia berkuasa atas alam, sama seperti Allah berkuasa atas alam, sama seperti yang di Perjanjian Lama. Maka mujizat Kristus adalah mujizat ilahi menyatakan Dia adalah Penguasa, dan mujizat para murid adalah mujizat para saksi yang menyatakan bahwa mereka melihat sendiri apa yang dikerjakan Kristus dan mereka adalah saksi dari kebangkitan Kristus. Kita harus tahu tentang mujizat supaya Saudara tidak mudah diombang-ambingkan oleh apa pun.
Sekarang kita masuk di dalam pasal 7, dalam pasal 7 ini Tuhan mengajarkan melalui Injil Lukas bahwa sekarang di bagian di mana Kristus menyatakan mujizat sekali lagi. Dan mujizat dalam bagian ini begitu penting karena dalam bagian ini Kristus menyembuhkan seorang perwira Romawi dan orang ini mempunyai pengertian tentang kebiasaan orang Yahudi yang sangat dalam. Dia tahu bahwa orang Yahudi begitu menajiskan relasi dengan umat bangsa lain, orang Yahudi begitu anti dengan dekat bangsa lain. Perwira Romawi ini tahu sekali kebiasaan orang Yahudi, maka dia tulis, minta Tuhan Yesus datang karena hambanya yang sangat dia cintai sedang sakit. Ketika Tuhan Yesus sudah dekat rumahnya, dia utus orang lagi mengatakan “jangan masuk rumah saya, katakan sepatah kata dari luar, dan kuasaMu akan menjadi begitu besar sehingga pengikutku, hambaku ini akan menjadi sembuh dari apa yang Engkau katakan, dari luar hambaku akan sembuh”, ini iman yang dikatakan begitu besar dimiliki oleh perwira Romawi ini. Waktu kita melihat bagian ini, ini bagian yang begitu paralel dengan apa yang dikerjakan oleh nabi Elisa. Lukas adalah salah satu penulis Perjanjian Baru yang mempunyai ciri begitu luar biasa. Dia sangat peka melihat kehidupan Kristus, lalu bandingkan kehidupan itu dengan peristiwa yang terjadi di Perjanjian Lama. Jadi apa yang terjadi di Perjanjian Lama dia peka sekali lihat ada paralelnya di dalam Kristus. Ada seorang ahli Perjanjian Baru bernama Joel Green dan dia tafsirkan bagian ini dan dia lihat kesamaan dengan peristiwa Elisa. Dia katakan paralel peristiwa ini dengan peristiwa Naaman, itu banyak sekali. Paralelnya misalnya yang pertama sama-sama ada perwira tinggi bangsa kafir yang adalah musuh Israel. Maka hal pertama yang paralel adalah dua-duanya sama pemimpin bangsa kafir. Hal kedua yang paralel adalah baik Yesus maupun Elisa tidak bertemu dengan orang itu, kalau Elisa tidak bertemu karena tidak mau keluar, kalau Yesus tidak bertemu karena orang itu yang tidak ingin Yesus dipermasalahkan karena Yesus masuk orang kafir. Jadi Saudara bisa lihat betapa baik hatinya perwira di Kapernaum ini. Lalu hal ketiga, mereka sama-sama dibantu oleh perantara yang adalah orang Yahudi. Demikian juga di dalam pasal 7 ini, ketika pemimpin perwira di Kapernaum ini ingin hambanya sembuh, maka tua-tua Yahudi yang datang ke Yesus. Tua-tua Yahudi yang datang karena perwira ini merasa dirinya tidak layak bertemu Yesus langsung. Dia menganggap Yesus adalah Nabi besar, dan Nabi besar ini terlalu besar untuk bertemu seorang militer hina, seperti dia. Ini hal-hal yang kita lihat secara paralel.
Maka untuk bisa menafsirkan pasal 7, Saudara mesti tahu dulu apa peran Elisa di dalam pekerjaan yang Tuhan sedang kerjakan dalam peralihan 1 Raja-Raja ke 2 Raja-Raja. Ini teologi yang penting untuk kita ketahui supaya kita mengerti dengan baik. Apa peran Elisa? Di dalam pemanggilan Elia, Tuhan memberikan pekerjaan yang luar biasa. Elia bertarung dengan nabi-nabi baal dan dia menang. Elia menghancurkan nabi-nabi baal, tapi tidak ada perubahan signifikan terjadi, semua orang mengatakan “Tuhan, Dialah Allah”, tapi tetap tidak ada perubahan secara nasional. Sampai di Gunung Horeb, Elia mengadu “Tuhan, nabi-nabimu sudah dibunuh Israel. Mezbah-mezbahMu sudah dihancurkan dan semua orang yang masih hidup dan mengajarkan kesetiaan kepada Tuhan, mereka mau dibunuh, termasuk saya. Inilah yang terjadi di Israel, inilah fakta”. Lalu Tuhan mengatakan “lakukanlah beberapa hal ini, yang pertama angkatlah penerus dari Kerajaan Aram untuk menggantikan raja yang sekarang ada. Yang kedua, angkatlah Elisa sebagai penggantimu, setelah itu angkat raja di Israel yaitu Raja Yehu untuk menggantikan Yoram”. Jadi ini adalah raja-raja dan nabi-nabi yang Tuhan tuntut Elia untuk cepat-cepat bangkitkan. Tapi yang Elia lakukan pertama kali adalah dia langsung datangi Elisa. Dia langsung pergi ke Elisa, kemudian dia langsung mengajak Elisa menjadi pengikutnya. Waktu ikut Elia, Kitab Suci menggambarkan mereka pergi ke tempat-tempat yang sepertinya tidak ada kaitan satu dengan lainnya, mereka pergi ke sini, ke sini, sampai pada bagian akhir kita tahu kaitannya apa. Bagian akhir mereka pergi ke Yerikho, setelah itu mereka pergi ke Sungai Yordan. Saudara ingat Yerikho dan Sungai Yordan kalau dipasangkan menjadi pembahasan dari Kitab Yosua. Waktu Yosua masuk menyeberangi Sungai Yordan, langsung pertama yang mereka serang adalah Yerikho. Jadi yang dilakukan oleh Elia adalah putar balik tempat-tempat yang didatangi Yosua waktu datang. Ini seperti rewind, dimundurkan, bukan gerak maju tapi gerak mundur, bukan gerak melanjutkan tapi gerak balik. Sekarang bukan masuk Tanah Kanaan, sekarang keluar Tanah Kanaan.
Mengapa keluar? Ternyata Elia sudah mau dipanggil oleh Tuhan dan Tuhan sudah mau pergi memimpin Elia untuk pergi ke sorga. Ini mengerikan sekali. Jadi kemuliaan Tuhan pelan-pelan meninggalkan Israel lewat Elia. Itu sebabnya waktu Elia menyeberangi Sungai Yordan, Sungai Yordan terbelah. Sungai itu sedang beri jalan pada kemuliaan Tuhan, bukan Israel. Kalau Tuhan yang diberi kemuliaan, sungai itu hanya bisa memberi hormat kepada Tuhan, bukan manusia. Demikian juga Laut Merah, Laut Merah terbelah bukan supaya Israel selamat saja, tapi karena Tuhan berjalan di tengah mereka. Kalau Tuhan mau lewat, laut pun menyingkir, kalau manusia mau lewat, beli tiket kapal. Jadi bukan karena Israel lewat lalu Laut Merah terbelah, tapi karena Tuhan menyertai Israel, maka Israel mendapat privilege ini. Demikian juga Sungai Yordan “Tuhanku mau lewat, minggir”. Lalu Tuhan melalui simbol kehadiranNya di dalam Tabut Perjanjian lalu waktu lewat, sungai minggir. Demikian juga waktu Elia, Elia bisa seberangi Sungai Yordan, lalu Sungai Yordan terbelah. Ini menjadi simbol bahwa kalau dulu zaman Yosua, Tuhan masuk, sekarang zaman Elia, Tuhan pergi keluar. Mengapa Tuhan tinggalkan umatNya? Karena yang dikatakan Elia itu benar, orang Israel seperti melupakan perjanjian, maka Tuhan sekarang mau pergi. Ini yang membuat Elisa berbeban berat, tiap kali pergi ke kota apa, semua orang mengatakan “tahukah kamu, tuanmu sudah mau dipanggil oleh Tuhan?”, Elisa dengan emosi mengatakan “sudah tahu, diam kamu”. Jadi dia marah bukan karena Elia akan dipanggil saja, tapi juga karena Tuhan akan tinggalkan Israel. Ini sesuatu yang dia miliki, nabi-nabi itu biasanya peka. Elisa punya kepekaan tinggi sekali, Tuhan sudah mau tinggalkan Israel dan dia tidak mau Tuhan tinggalkan Israel. Itu sebabnya ketika Elia bertanya “apa yang kamu minta?”, Elisa mengatakan “saya minta 2 bagian rohmu”. Minta 2 bagian roh artinya roh yang bekerja pada Elia mesti diwariskan, dan yang diwariskan itu dia minta jadi anak sulung. Jadi harta kepada anak sulung sering dianggap sebagai porsi 2 bagian, double portion. Elisa mengatakan “Elia, kamu tidak boleh pergi tanpa meninggalkan penerus, mesti ada penerus, dan saya mohon jadi penerus sulungmu, berikan 2 porsi”. Ini adalah bahasa simbolik, tapi dalam kasusnya Elisa, Tuhan ijinkan dia jalani secara literal, dia kerjakan mujizat 2 kali lipat lebih banyak dari Elia, dia kerjakan banyak hal. Dia membangkitkan 2 orang mati, sedangkan Elia 1, dia seolah-olah mengerjakan 2 kali lipat. Tetapi arti sebenarnya adalah dia mau jadi yang sulung di dalam melengkapi pekerjaan Elia. “Engkau sudah mau pergi? Angkat saya supaya menjadi penerus engkau”. “Biar bagian rohmu ada di dalam saya”, “yang kamu minta itu sulit”. Akhirnya ada kereta berapi jemput Elia, setelah itu Elia pergi. Sekali lagi kereta berapi ini bukan kendaraannya Elia, kereta berapi adalah kendaraanNya Tuhan. Alkitab menggambarkan Tuhan kendaraanNya beberapa, yang pertama adalah awan badai “Tuhan mengendarai awan badai, yang kedua adalah para malaikatNya “Tuhan mengendarai kerubNya”, yang ketiga adalah “Tuhan mengendarai badai api”, jadi kereta berapi ini adalah simbol bahwa Tuhan sedang naik di situ, lalu Elia diajak sama-sama. Jadi ini bukan kendaraan Elia, ini simbol Tuhan mau tinggalkan Israel, dan Tuhan ajak hambaNya yang setia untuk ikut.
Jadi waktu mereka pergi, Elisa langsung menangis mengatakan “bapaku, bapaku, kereta berkuda Israel dan penunggang-penunggangnya”, ini maksudnya meratapi orang hebat pergi, ini kalimat yang biasa digunakan untuk meratap kalau orang hebat pergi. Dia menangis dan setelah itu dia melihat ada jubah Elia di situ. Akhirnya waktu Elisa melihat jubah Elia, lalu dia ambil, dia tanya pertanyaan kedua, kalau pertanyaan pertama dia meratapi kepergian Elia, yang kedua dia meratapi kepergian Tuhan. Maka dia ambil jubah Elia lalu tanya “dimana Tuhan Allah Israel? Sudah pergi dengan Elia, dimana Dia?”, waktu dia pukulkan, Sungai Yordan terbelah, dia tahu Tuhan kembali lewat dia. Jadi Tuhan ijinkan, masuk kembali. Apakah Tuhan plin plan? Pergi dulu, lalu ditengah jalan kembali lagi? Bukan. Tapi Tuhan ingin memberi pengertian ada saat di mana Tuhan sudah begitu marah, sehingga kembalinya Tuhan untuk melayani Israel itu benar-benar anugerah yang sangat-sangat seharusnya mereka tidak peroleh. Terkadang Tuhan ijinkan ini terjadi, Tuhan mau tunjukan sebenarnya kalau mau memakai kesabaran dan keadilan Tuhan, harusnya Israel sudah dibuang. Tapi Tuhan masih ijinkan diriNya kembali melalui pelayanan Elisa. Maka Elisa masuk dan Sungai Yordan terbelah kembali. Jadi waktu itu adalah pernyataan Tuhan, Tuhan mau balik kembali lalu menyatakan pelayananNya. Dan di dalam pelayanan Elisa ada perubahan, Tuhan sudah hampir meninggalkan sebagai peringatan, waktu Tuhan kembali, Tuhan nyatakan ada perubahan yaitu pelayanan Elisa meskipun mujizat begitu besar, sekarang diberikan ke orang-orang yang rendah. Kalau dulu mujizat dipamerkan ke semua, sekarang mujizat hanya untuk kelompok kecil sederhana sekolah nabi. Jadi Elisa melayani secara pinggiran, meskipun pinggiran, dia tetap menyatakan kuasa Tuhan dengan sangat besar. Mengapa periode Elisa itu bisa diparalelkan oleh Lukas dengan peristiwan ini? Karena Lukas lihat Kristus adalah penggenap Elisa. Apa samanya Yesus dan Elisa? Samanya adalah baik Yesus maupun Elisa melayani di dalam periode ketika Tuhan sudah menyatakan betapa muaknya Dia dan sudah meninggalkan bahkan. Sekarang Elia sudah pergi, Tuhan beri kesempatakan terakhir “oke, masih ada Elisa. Sekarang Aku berikan kesempatan berikut”. Tapi yang hebat adalah kesempatan yang diberikan berikut justru kesempatan paling puncak yaitu Sang Mesias diutus. Jadi Kristus melampaui Elisa, Elisa memberikan kesempatan pertobatan, sedangkan Kristus di tengah-tengah pembuangan menyatakan anugerah Tuhan yang besar dengan kedatanganNya sebagai Mesias, tapi gaya pelayanan mirip. Sama seperti Elisa, Kristus pun melayani orang-orang pinggiran, yang Dia layani bukan orang Farisi, tetapi murid-murid yang kecil. Yang Dia layani bukan pemimpin-pemimpin, bukan imam-imam di Yerusalem, tapi kelompok-kelompok yang tadinya pemungut cukai, mantan pelacur, mantan penjahat, mantan pemberontak, semua dikumpulkan menjadi muridNya. Maka Dia adalah seorang yang melayani kaum pinggiran tapi menyatakan betapa istimewa dan mewahnya kesempatan melayani kaum pinggiran ini. Ini sesuatu yang penting untuk kita pelajari bersama. Maka dengan konsep seperti ini baru kita bisa memahami dengan tuntas apa yang diajarkan di dalam Lukas 7. Lukas 7 menggambarkan Kristus sebagai Elisa yang menggenapi pekerjaan Elisa lebih tuntas. Dia melayani seorang hamba yang adalah hamba dari seorang perwira kafir, ini lebih parah lagi dari Naaman, yang disembuhkan bukan perwiranya tapi hambanya. Hamba dari orang kafir disembuhkan oleh Kristus. Ini menjadikan pelayanan Kristus menjadi pelayanan kaum pinggiran tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai yang agung.
Maka kita akan pelajari 3 bagian, 3 hal ini dari bagian ini yang harap kita bisa ingat terus. Hal pertama adalah Kristus dalam Injil Lukas melayani dengan fokus Injil dan kemuliaan Allah dipenuhi melalui kematian dan kebangkitanNya, mati di kayu salib dan bangkit. Ini tujuan utama Kristus. Tetapi ketika Dia menjalankan tujuan utama ini, ketika Dia pergi dengan sasaran masuk ke pekerjaan utamaNya, Dia tidak pernah remehkan hal-hal pinggiran yang Dia temui di samping. Ini hal pertama yang mesti kita pelajari sebagai gereja Tuhan, gereja Tuhan mesti punya fokus yang jelas kepada Injil dan kemuliaan Tuhan yang dinyatakan secara besar. Tapi sambil jalan melakukan hal itu, sambil matanya peka melihat hal-hal kecil apa yang Tuhan ijinkan untuk kita tangani berdasarkan belas kasihan. Ini yang diajarkan juga pada bagian ini, Kristus tidak pernah kehilangan fokus mesti ke Yerusalem. Dan ada masa dimana Dia mengatakan “cukup, orang-orang datang, Aku tidak bisa melayani, Aku akan pergi. Kota-kota lain juga perlu”, maka Dia pergi. Jadi ini 2 keseimbangan yang indah antara fokus ke salib dengan melayani di dalam jalan menuju kepada salib itu.
Kedua, bagian ini juga mengajarkan kepada kita bagaimana pelayanan kepada orang pinggiran itu berefek begitu besar kalau dipadukan dengan perasaan hormat kepada Tuhan. Melayani orang pinggiran dan hormat kepada Tuhan, ini ciri dari Elia dan Elisa. Elia melayani, menolong janda yang miskin, Elia menolong orang-orang yang tidak berarti. Elisa pun melakukan hal yang sama. Tapi begitu bertemu raja, dengan berani mereka mengatakan “engkau dosanya ada di sini”. Ini Kekristenan yang agung, lihat orang kecil, penuh belas kasihan, lihat orang besar, penuh dengan keberanian menegur, jangan dibalik, lihat orang besar, penuh belas kasihan, lihat orang kecil, berani menegur kalau perlu menghantam. Maka yang kedua adalah mari kita mempunyai pengertian tentang kemuliaan Tuhan yang jauh melampaui pangeran, raja, presiden atau siapa pun, tetapi juga punya hati yang cukup rendah mau melihat pentingnya pekerjaan Tuhan di tengah-tengah kelompok yang sepertinya kurang layak diperhatikan. Ini jadi tema yang akan berulang terus di dalam Injil Lukas untuk mengingatkan kepada kita apa yang harus dikerjakan oleh gereja. Dan ini yang Yesus Kristus mau ajarkan bagaimana memberikan perhatian kepada kelompok yang tidak penting ternyata membawa keutuhan di dalam pemulihan umat Tuhan.
Dan poin terakhir yang bisa kita pelajari adalah Tuhan tidak pernah mau menjangkau atau pun menolong orang-orang yang tinggi hati. Tuhan tidak melihat kaya dan miskin, Tuhan tidak lihat ilmu atau tidak ilmu, Tuhan tidak lihat pintar atau bodoh, Tuhan tidak lihat penguasa atau orang rendahan, yang Tuhan lihat adalah rendah hati atau tidak. Dan pemimpin ini rendah hati luar biasa. Dia dengan rendah hati mengatakan “Tuan, jangan masuk rumahku, saya tidak layak bertemu Engkau, bicara saja dari jauh”, dan di sini Tuhan Yesus bahkan tidak bicara. Tuhan cuma mengatakan “sesungguhnya iman sebesar ini Aku belum pernah lihat, bahkan di tengah-tengah orang Israel”, lalu Dia pergi. Bayangkan orang-orang yang diutus perwira ini, “Tuan, katanya ucapkan sepatah kata maka hambanya tuanku itu akan sembuh”, Yesus kemudian mengatakan “Aku belum pernah melihat iman sebesar ini, bahkan di tengah orang Israel”, kemudian Dia pergi. Tapi waktu utusan ini pulang, mereka temukan hamba itu sudah sembuh. Tuhan menghargai kerendahan hati orang ini, dia punya kedudukan tinggi sebagai panglima Itali, tapi dia dengan rendah hati mengatakan “saya bawahanMu, Tuan. Saya punya bawahan tapi saya tahu siapa yang jadi bawahanku, dan Engkau bukan, Engkau harus menjadi atasanku”, ini pengertian yang penting sekali, dengan rendah hati dia datang. Tapi orang ini bukan hanya rendah hati, dia datang dengan rendah hati tapi juga sadar kalau bukan Tuhan, tidak ada yang bisa tolong. Maka ini jadi pengertian yang indah, Tuhan Yesus mengabulkan permintaan dari orang-orang yang sadar kerendahannya dan sadar kebergantungannya kepada Tuhan: “saya bukan siapa-siapa dan saya tidak ada pilihan lain, kecuali cari Tuan supaya sembuhkan hamba saya, sebab saya sangat mengasihi dia”. Tuhan memperhatikan kerendahan hati seseorang tetapi juga memperhatikan perasaan bergantung yang besar sebagai suatu kualitas iman yang besar. Kiranya Tuhan menolong membuat kita menjadi orang-orang yang secara Kristen bertanggung jawab dalam apa yang harus kita kerjakan bagi Tuhan
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah Tematik
- 7 Jul 2015
Mengenal Roh Kudus
(Efesus 4: 1-16)
Peristiwa turunnya Roh Kudus harus dipahami dengan tepat. Turunnya Roh Kudus bukan berarti baru saat itu Roh Kudus bekerja. Roh Kudus sudah bekerja dari Kitab Kejadian 1 di dalam ayat awal, ayat 1-3 menjelaskan tentang karya Tuhan untuk menciptakan langit dan bumi. Dan di situ dikatakan Roh Kudus, Firman dan Allah sendiri itu yang mengerjakan penciptaan ini. Berarti dalam Kitab Kejadian pun sudah dinyatakan bahwa Roh Kudus bekerja di dalam penciptaan, Roh Kudus juga bekerja dalam memelihara seluruh ciptaan, sebab Roh Kudus adalah Roh keteraturan dan Roh yang membagikan kelimpahan bagi ciptaan ini. Jadi hal-hal yang sifatnya kreatif dan teratur itu adalah hal-hal yang sebenarnya mencerminkan natur dari pekerjaan Roh Kudus. Maka Roh Kudus sudah bekerja sejak di dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus juga bekerja mempertobatkan orang sejak dari zaman awal manusia dipanggil oleh Tuhan. Lalu apa maksudnya Roh Kudus turun, Roh Kudus hadir? Di dalam Kitab Kisah Para Rasul datangnya Roh Kudus tidak berkait dengan keselamatan, sebab Roh Kudus memberikan keselamatan kepada setiap orang percaya dari saat sebelum Dia turun pada hari Pentakosta sampai nanti ketika Kristus datang kembali. Saudara percaya kepada Kristus itu adalah pekerjaan Roh Kudus, Roh Kudus melahirbarukan kembali Saudara, dan ini membuat Saudara berbagian di dalam Kristus.
Jadi bukan peristiwa datangnya Roh Kudus di dalam Pentakosta yang membuat kita menjadi selamat, kalau begitu para murid belum selamat sebelum Roh Kudus turun. Jadi Roh Kudus sudah mengerjakan pekerjaanNya sejak awal, lalu apa makna Pentakosta? Apa maknanya Roh Kudus yang datang pada waktu Kitab Para Rasul 2 memberitakan tentang Roh Kudus? Maknanya adalah pada waktu Pentakosta, Roh Kudus memulai dan menggenapi pekerjaan memanggil gereja Tuhan untuk mempercayai Kristus yang mati dan bangkit dan menjadi umat yang baru. Jadi ini adalah peristiwa awal Roh Kudus memulai memanggil gereja yang terdiri dari seluruh bangsa, memulai dari Yerusalem kemudian terus menyebar sampai Samaria, lalu terus masuk ke utara ke daerah Kaisarea ketika Cornelius dibaptis, dan akhirnya sampai ke seluruh bangsa-bangsa lain. Sampai pada waktu Efesus dinyatakan Roh Kudus turun pada orang-orang yang ada di daerah Efesus. Jadi inilah pekerjaan Roh Kudus memanggil gerejanya. Jadi hal pertama yang harus kita ketahui Pentakosta adalam momen di mana Tuhan memanggil gerejaNya dengan limpah dari berbagai bangsa dengan banyak sekali orang yang akhirnya bergabung menjadi umat Tuhan. Roh Kudus juga bekerja di dalam Pentakosta, kita bisa ketahui di dalam cara berpikir dari orang Perjanjian Lama.
Hari Raya Pentakosta adalah Hari Raya Persembahan Sulung kedua di dalam kebiasaan orang Israel. Mereka persembahkan persembahan sulung pertama yaitu pada Sabat pertama waktu mereka masuk ke dalam Tanah Kanaan, dan mereka menghitung itu terjadi pada bulan ke-7. Jadi pada bulan ke-7 mereka mempersiapkan mempersembahkan hasil pertama sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan, dan ini dilakukan sejak Yosua masuk ke dalam tanah perjanjian itu, itu adalah Paskah. Lalu mereka akan hitung dari Paskah yang pertama, mereka akan hitung 50 hari kemudian, mereka akan adakan persembahan yang kedua, persembahan sulung. Persembahan sulung kedua ini juga bertepatan dengan hari yang menurut tradisi Yahudi adalah hari yang sama dengan turunnya 10 Hukum. Jadi maknanya begitu limpah, 10 Hukum diberi, ada persembahan sulung. Demikian juga di dalam Hari Pentakosta ada persembahan sulung, ada orang-orang pertama yang dipersembahkan untuk Kristus dan gerejaNya, dan inilah yang terjadi pada hari Pentakosta. Jadi Pentakosta adalah hari dimana Roh Kudus melanjutkan pekerjaan Kristus memanggil gerejaNya yang terdiri dari bangsa-bangsa di sepanjang seluruh dunia. Jadi ini yang harus kita ketahui, pekerjaan Roh Kudus harus terus terjadi, tapi pekerjaan spesifik memanggil gerejaNya itu terjadi pada waktu Pentakosta. Dalam Surat Roma kita ketahui bahwa di dalam kasihNya kepada Israel, Allah mengirimkan AnakNya yang Tunggal. Waktu Israel menolak, kasih yang sama besarnya ini Dia berikan kepada yang lain. Pertanyaannya kalau Israel tidak menolak, bagaimana? Tidak bisa jawab, tapi faktanya Israel sudah menolak, maka sekarang kasih Tuhan sampai kepada bangsa yang lain termasuk Saudara dan saya. Maka kita bisa berbagian di dalam gereja Tuhan, dan Tuhan terus pelihara gerejaNya, Tuhan kirimkan Roh Kudus. Sudah kirimkan Anak TunggalNya untuk menebus, sekarang Tuhan kirimkan Roh Kudus, Pribadi ke-3 dari Tritunggal. Bayangkan berapa besar kasih Tuhan, Dia tidak kirimkan yang kurang dari DiriNya sendiri. Dia kirimkan AnakNya yang Tunggal yang sama dengan Dia, Dia kirimkan Roh Kudus yang setara dengan Dia. Maka kita mendapatkan Kristus dan setelah itu Roh Kudus yang memimpin kita. Harap di Hari Pentakosta ini kita ingat bahwa Roh Kuduslah yang membuat kita bangkit, membuat kita menjadi satu umat dan bisa percaya kepada Kristus.
Di pasal 4, Roh Kudus itu juga yang memberikan pemberian untuk mempertahankan hidup gerejaNya. Roh Kudus memberikan pemberian supaya gereja Tuhan tidak mati, tapi terus berkembang sampai penuhi bumi. Saudara masih ingat Kejadian 1, Tuhan mengatakan “penuhi bumi dan taklukanlah itu”. Siapa yang menggenapi tindakan itu? Apakah manusia menggenapi perintah Tuhan, penuhi bumi dan taklukan? Saya akan mengatakan tidak sepenuhnya. Mengapa tidak sepenuhnya? Karena meskipun manusia penuhi bumi dan taklukan, tetap manusia tidak taklukan diri kepada Tuhan. Maka penaklukan manusia kepada bumi itu bukan penaklukan dari gambar Allah, itu penaklukan dari gambar Allah yang sudah berontak. Sedangkan yang benar-benar taklukan bumi dan tunduk sebagai gambar Allah itu adalah orang Kristen. Maka setiap kali sadar Kekristenan berkembang di daerah mana pun, Saudara mesti ucap syukur sama tuhan dengan hati yang penuh pujian kepada Tuhan. Saya paling senang dengar berita negara yang dulu sangat ketat di dalam agama lain, sekarang Kekristenan mulai bangkit. Banyak orang menjadi Kristen karena lihat orang Kristen tahan dianiaya, rela memberkati dan bukan mengutuk, mempunyai cinta kasih dan bertahan di dalam penderitaan luar biasa besar, maka mereka rindu menjadi Kristen. Tuhan melatih orang-orang Kristen di zaman awal, di zaman Kisah Para Rasul untuk terbuka hati melihat Tuhan bangkitkan banyak daerah. Maka gereja Tuhan harus bertumbuh dan cara gereja Tuhan bertumbuh di dalam pasal 4 dengan pemberian Roh Kudus yang memberikan pengajaran, ini hal yang paling penting. Lalu yang kedua adalah memberikan seluruh orang Kristen kemungkinan untuk jadi berkat. Maka di dalam hari Pentakosta kita mengingat bukan hanya Kristus yang sudah memberikan Roh Kudus, tapi juga pemberian itu sekarang kita terima dan harus kita jalankan di dalam gereja Tuhan. Di pasal 4 dikatakan, ayat 7 “Tuhan memberikan pemberian yang beragam kepada kita masing-masing menurut ukuran pemberian Kristus”. Saya minta kita sama-sama gumulkan apa yang Tuhan ajarkan kepada saya, apakah yang Tuhan berikan kepada saya, dan kita harus perkembangkan ini. Dan di dalam pengertian tentang Roh Kudus kita harus tahu ada 4 hal prinsip, 4 hal utama untuk mengenal siapa itu Roh Kudus.
Hal pertama untuk mengenal Roh Kudus adalah Saudara harus tahu Roh Kudus adalah Roh Penakluk kekacau-balauan, ini ditulis sejak Kitab Kejadian 1. Roh Kudus adalah Roh yang menghancurkan kekacau-balauan dan memberikan keteraturan, ini hal pertama yang harus kita ingat terus. Roh Kudus bukan roh kacau, Roh Kudus tidak suka kekacauan. Roh Kudus adalah Roh yang membuat teratur samudera dan membuat teratur seluruh air di dalam ciptaan. Ini hal unik yang dibagikan secara luar biasa di Kejadian 1, dikatakan Tuhan memisahkan air dari air, Tuhan memisahkan air berkumpul di satu tempat hingga muncul daratan. Tuhan pisahkan air di atas dan di bawah, air di atas maksudnya adalah asan dan air di bawah maksudnya lautan. Tuhan juga memisahkan air yang ada di darat dan yang ada di laut. Ini merupakan pembagian yang menunjukan keteraturan. Dan orang dunia kuno sudah tahu kalau air melampaui batas, itu tandanya tidak teratur. Orang Perjanjian Lama mengatakan “banjir adalah ketika air memberontak kepada batas yang diberikan”, ini namanya banjir menurut pengertian mereka. Jadi air bah pemberontakan besar dari air, bukannya tinggal di laut, sekarang di puncak gunung pun ada. Jadi air sudah melanggar batasan, tapi ini dalam perintah Tuhan untuk menghukum manusia. Tapi waktu batasan itu dibuat jelas, ini adalah ciri pekerjaan Roh Kudus. Jadi Roh Kudus adalah Roh keteraturan, bukan roh kacau balau. Sekarang kalau Saudara pergi ke gereja yang menekankan kuasa Roh Kudus lalu semua kacau, kita bisa katakan ini penghinaan bagi Roh Kudus. Roh Kudus bukan roh kacau. Kalau gereja mengklaim kekacauan dalam gerejanya adalah tanda Roh Kudus, itu orang harus bertobat minta ampun kepada Tuhan karena dia memfitnah Roh Kudus mengerjakan sesuatu yang bukan naturNya. Roh setan bikin kacau, Roh Kudus bikin teratur, roh setan bikin berantakan, Roh Kudus bikin semua rapih. Jadi kalau ada orang mengatakan dia gerak-gerak tidak teratur, ngomong tidak teratur, lalu mengatakan “ini Roh Kudus”, berapa besar dosa orang itu. Ada orang mengatakan “jangan hina pekerjaan Roh Kudus, kamu yang bilang pekerjaan Roh Kudus adalah pekerjaan setan, kamu menghujat Roh Kudus”, saya akan katakan “yang bilang pekerjaan setan adalah pekerjaan Roh Kudus juga menghujat Roh Kudus. Jadi sekarang kita lomba saja, kita adu argumen dari Alkitab, benarkah kekacauan itu pekerjaan Roh Kudus atau tidak. Di bagian mana dijelaskan ketika orang dipenuhi Roh Kudus, dia jadi kacau?”, orang akan buka Kitab Samuel, lalu mengatakan “Saul kepenuhan Roh, lalu dia telanjang berbaring. Bukankah itu tanda Roh Kudus?”. Saya akan mengatakan “coba kamu dipenuhi Roh Kudus dengan gaya seperti itu mau tidak?”, coba baca baik-baik, di situ Saul sedang dipuji atau dihina? Dihina, jadi itu Roh Kudus atau roh setan? Roh setan, mengapa roh setan membuat dia gerak-gerak seperti itu? Karena Tuhan sedang menyatakan di sudah ditolak dan Tuhan permalukan dia. Roh Kudus tidak pernah untuk permalukan anak-anak Tuhan dengan gaya yang gila seperti itu. Jadi berharap gereja bisa kembali ke ajaran yang benar.
Lalu yang kedua, Roh Kudus itu mendatangkan kelimpahan dan kekreatifan tinggi, ini konsisten dalam Perjanjian Lama, orang yang dipenuhi Roh Kudus mampu mengerjakan hal-hal yang sifatnya seni dan indah. Jadi Roh Kudus adalah roh yang akan membangkitkan keindahan. Ketika orang main musik atau menciptakan musik dengan baik itu sering diidentikan dengan inspirasi yang dia dapat sebagai sesuatu yang didapatkan dari Roh Kudus. John Frederick Handel ketika menuliskan Messiah, dia mengatakan “seperti ada kuasa dari sorga yang membisikan kepada saya not-not yang harus saya tulis”, ia tahu ini inspirasi dari sorga. Tapi inspirasi dari Tuhan selalu yang paling agung, paling mulia, paling indah, dan paling memuliakan nama Tuhan dan ini adalah sesuatu yang Roh Kudus nyatakan dalam kehidupan kita. Itu sebabnya Jonathan Edwards mengatakan Roh Kudus adalah The Spirit of delight, kesenangan Saudara akan muncul waktu Saudara menyaksikan pekerjaan Roh Kudus. Kesenangan yang indah, kesenangan yang teratur, kesenangan yang kudus, kesenangan yang limpah bagi kemuliaan nama Tuhan, in pasti dari Roh Kudus. Saya sangat berharap kita semua bisa latih baik mata, hati, maupun telinga kita untuk mengagumi karya Roh Kudus. Karena setan begitu pintar memanipulasi karya Roh Kudus yang indah, bikin versi jeleknya lalu kita sudah senang. Semua yang indah itu pasti dibajak, ini perkataan dari komik yang saya pernah baca waktu SMA. Di dalam komik itu dikatakan semua yang indah pasti dibajak. Tuhan kerjakan karya indah, dibajak, Tuhan membuat mujizat, dibajak, sekarang mujizat yang ada adalah bajakan, yang asli-asli yang dulu itu. Gereja tidak bisa bedakan mana karya Roh Kudus mana bukan, setan sudah sukses. Lalu gereja terus mengatakan “sudahlah lagu apa saja, yang penting anak muda senang, sudah cukup, tidak ada bedanya kok”. “Tidak ada bedanya” berarti setan sudah sukses memberikan kepalsuan sehingga kita sulit membedakan mana karya indah dari Roh Kudus dan mana yang bukan. Dan ini perlu dilatih untuk ditebus. Mari tebus selera supaya Saudara mengalami The Spirit of delight, Roh kesenangan, kesenangan di dalam karya Roh Kudus, bukan kesenangan di dalam karya copy palsu dari setan. Ini poin kedua yang harus kita harus tahu, Roh Kudus memberikan kelimpahan di dalam keindahan. Saudara jadi orang Kristen tidak punya delight, tidak punya kesenangan, merenungkan Kristus tidak punya kesenangan, baca Alkitab tidak punya kesenangan, berarti gap tuntunan Roh Kudus terlalu besar, mari kejar. Minta Roh Kudus kuatkan supaya gap itu makin kecil dan apa yang Dia berikan di dalam delight dan kesenangan, Saudara bisa dapatkan. Betapa indahnya hidup Kristen itu, berdoa itu menyenangkan, baca Alkitab menyenangkan, hidup kudus menyenangkan, dengar musik agung menyenangkan, dengar khotbah yang baik menyenangkan, baca Alkitab dan mengerti konsep-konsep penting, semua menyenangkan. Tuhan tidak pernah panggil kita untuk hidup di dalam sengsara, tapi kesengsaraan yang kita pikir sengsara itu terkadang ujungnya menyenangkan. Jadi mari kita doa sama Tuhan supaya Tuhan gerakan kita dipenuhi oleh Roh Kudus dan menikmati The Spirit of delight, ini hal kedua.
Lalu hal ketiga, Alkitab juga mengajarkan Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, The Spirit of The Truth, atau di dalam bahasa Yunani, Aletheia. Roh Kudus memberikan anugerah mengenal aletheia, aletheia berarti tidak ada beda antara realita dan pikiran. Saudara lihat realita lalu bikin bayangan tentang realita dalam pikiran, itu bisa ada gap. Waktu fakta diselubungi oleh awan, waktu fakta diselubungi oleh tipu daya, Roh Kudus adalah Roh Kebenaran berarti fakta dan yang kita pikir di dalam sama persis, ini yang Dia lakukan. Saudara mengenal Allah sama persis dengan Allah sejati yang kita bayangkan, kalau itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Saudara mengenal dunia ini sama persis faktanya dengan apa yang Saudara tahu kalau itu pekerjaan Roh Kudus. Saudara mengenal diri, sama persis antara diri secara aktual dengan yang ada di sini, kalau itu pekerjaan Roh Kudus. Tapi kalau setan itu adalah roh dusta, dia paling senang membohongi orang, itu sebabnya yang suka bohong disebut anaknya setan. Pekerjaan setan adalah mendistorsi kebenaran, bikin kebenaran yang mirip tapi menyimpang sedikit-sedikit, pokoknya diarahakan supaya orang dapat kekaburan. Maka yang senang hal-hal yang kabur, ini bukan karya Roh Kudus. Saudara berusaha memasukan dalam pikiran orang sesuatu yang tidak sama dengan aslinya, itu bukan Roh Kudus. Roh Kudus adalah kebenaran, maka apa yang kita dapat dari Alkitab adalah fakta tentang siapa kita, fakta tentang dunia, dan fakta apa yang Tuhan sedang kerjakan, semua begitu teratur, ini hal yang ketiga.
Lalu hal keempat, Roh Kudus adalah Roh yang mengarahkan seluruh fokus kepada Kristus. Dia datang untuk mempermuliakan Kristus, bukan yang lain. Jadi apa pun yang dilakukan Roh Kudus adalah menenggelamkan diri demi memunculkan Kristus. Dia sembunyikan diri demi Kristus yang menonjol. Orang kalau berkhotbah atau mengajar terus tentang diri dan Kristusnya dilupakan, ini pasti bukan dari Roh Kudus. Roh Kudus akan tinggikan Kristus dan tidak mungkin tinggikan yang lain. Itu sebabnya ketika Kristus ditinggikan, diajarkan, dibahas, dikabarkan dengan sepenuh hati dan dengan kejujuran, itu pasti dari Roh Kudus. Inilah keempat sifat dari Roh Kudus. Dan di dalam Efesus 4 dikatakan gereja harus bertumbuh di dalam menikmati keempat hal ini. Gereja harus bertumbuh di dalam menikmati delight di dalam Roh Kudus, gereja harus menikmati keteraturan di dalam Roh Kudus, gereja harus menikmati seluruh hal yang membuat kita makin mengerti fakta di dalam Roh Kudus, dan gereja harus makin mengenal, makin mengagumi dan makin mencintai Kristus. Bagaimana caranya gereja bisa bertumbuh dalam 4 hal ini? Caranya adalah Tuhan kirimkan orang-orang yang tugasnya beda-beda. Setiap orang punya fungsi masing-masing. Ada yang menumbuhkan delight dalam kesenangan bermusik, ada yang menumbuhkan delight dalam mencari kebenaran, ada yang menumbuhkan semangat di dalam menyebarkan siapa Kristus.
Ini semua pekerjaan yang dikerjakan Roh Kudus dalam gereja Tuhan. Dan tidak dikatakan di sini ada anugerah diberikan sebagian orang dan sebagian lagi untuk menikmati, itu tidak pernah terjadi. Maka di Hari Pentakosta ini saya minta semua Saudara cari tahu apa yang Roh Kudus gerakan pada saya untuk saya kerjakan dalam pembangunan gereja Tuhan, jangan jadi orang Kristen tidak berfungsi, karena sebenarnya Tuhan sudah beri kemampuan di dalam Roh Kudus. Setiap orang Kristen mempunyai Roh Kudus di dalam dirinya, tapi mengapa padamkan semua gairah dan kesenangan yang benar yang Tuhan munculkan di dalam diri kita melalui Roh Kudus? Jangan padamkan Roh, demikian dikatakan Alkitab. Padamkan Roh berarti Saudara memadamkan spirit yang menyala-nyala untuk membangun tubuh Kristus. Mari selidiki Saudara ada di mana dan kembangkan itu. Alkitab mengajarkan semua orang diberikan dengan limpah hal-hal berdasarkan kedaulatan Kristus, ini berarti yang Saudara nikmati, yang Saudara bagikan kepada orang lain dan yang Saudara lihat ada pada orang lain itu ada pada level yang sama mulianya. Saya tidak bisa katakan kepada orang lain, “kamu mengerjakan ini di dalam gereja, saya berkhotbah, saya lebih penting dari kamu”, itu tidak mungkin boleh dikatakan di dalam gereja. Yang berkhotbah, yang mempersiapkan, yang menginjili, yang mangajarkan tentang alam, yang mengajarkan tentang Firman, yang mengajarkan tentang dunia bisnis, dunia sosial, dunia politik, lalu kaitkan itu di dalam takut akan Tuhan ini pun bagian yang dikerjakan Roh Kudus untuk menumbuhkan gereja Tuhan. Harap kita temukan bagian kita, harap kita temukan apa yang Roh Kudus gerakan kita untuk kita kerjakan dan kita dengan setia kerjakan itu.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)