- Injil Lukas
- 9 Jul 2016
Allah mendengar dan mengabulkan doa
(Lukas 11: 1-13)
Pada bagian ini dikatakan mereka minta diajarkan berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajar berdoa. Yohanes Pembaptis mengajarkan supaya Israel dipulihkan, inilah doa yang ada pada kerinduan Yohanes. Tapi bagaimana Israel pulih? Israel pulih karena 3 hal yang pertama adalah tanah, yang kedua bait, yang ketiga Mesias datang, ini jadi doa Israel dari dulu. Maka ketika Yesus sudah datang, murid-muridNya tanya “tanah sudah ada, Israel, bait suci sudah berdiri, tinggal raja yang belum. Engkau kan raja, masihkan kami harus berdoa dengan pola lama atau kami harus berdoa dengan pola baru? Tuhan ajarkan kami berdoa, Engkau sudah datang sekarang bagaimana kami berdoa? Masakan kami berdoa lagi “Tuhan kirimkan rajaMu”. Tapi Engkau sudah datang”. Tuhan Yesus menjawab dengan pengertian yang sangat mengagetkan, yaitu apabila kamu berdoa katakan “Bapa dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu”, bukankah Engkau sudah hadir, kenapa masih mau dinyatakan? Karena Tuhan mau menyatakan satu prinsip yang murid-murid sulit untuk mengerti yaitu bahwa Dia akan kembali ke sorga, baru datang lagi kedua kali untuk mendirikan kerajaanNya. Kristus pergi dulu karena kerajaan ini bukan milik satu bangsa tapi milik semua bangsa. Ini bukan doa pemulihan Israel, ini adalah doa untuk menyatakan kerajaan Allah bagi bangsa-bangsa. Maka Tuhan berjanji kepada Abraham, “melalui keturunanmu, seluruh bangsa di bumi akan mendapat berkat”. Berarti Tuhan sudah memberikan nubuat di awal bahwa bangsa-bangsa akan diberkati bukan cuma Israel. Maka doa untuk memulihkan Israel itu doa yang belum cukup, harus ada permohonan yang lain, yaitu kerajaan datang di bumi ini dan kehendak Tuhan di bumi terjadi seperti kehendak Tuhan di sorga jadi. Meskipun Lukas tidak mengutip kehendak Tuhan jadi, Matius mengutip itu di dalam ajarannya di Matius 6. Dikatakan “jadilah kehendakMu di bumi sama seperti kehendakMu di sorga”. Di sorga apa yang Tuhan mau terjadi, di bumi Tuhan masih ijinkan apa yang Dia mau dilawan untuk sementara waktu. Tapi akan ada waktu di mana Tuhan mau tidak akan lagi dilawan oleh manusia, manusia dengan rela akan jalankan. Inilah pengharapan yang Tuhan ajarkan kepada para murid. Jadi negkau harus terus berdoa, berdoa untuk pemulihan kerajaan.
Siapa yang berdoa untuk pemulihan kerajaan? Banyak orang pada zaman dulu, tokoh-tokoh besar seperi Musa, Salomo dan Daniel, mereka berdoa supaya kerajaan ini dipulihkan. Yang paling dekat adalah Daniel, Daniel adalah orang yang plaling sulit hidupnya, dia ditangkap oleh orang Babel ketika Babel menyerang Yerusalem, kemungkinan saat itu dia masih 12 tahun, paling tua mungkin dia usia 13 tahun. Karena pada tradisi zaman itu orang disekolahkan dengan pendidikan khusus adalah ketika dia berumur 12 atau 13 tahun. Jadi mereka akan cari anak-anak remaja seperti ini, bawa mereka ke Babel lalu diajarkan segala hikmat Babilonia. Anak 12 tahun, 13 tahun diculik dari negaranya, tempat dia berada dihancurkan, mungkin orang tuanya dibunuh lalu dia diambil. Ketika dilihat anak ini kelihatan pintar, akan dididik, mereka tinggal di istrana raja. Dan orang yang tinggal di istana raja pasti akan dikebiri, supaya mereka tidak tidur dengan selir raja. Daniel mengalami kesulitan besar sekali di awal hidupnya, tapi dia menyatakan “saya tidak akan meracuni diri dengan orang Babel, saya akan pertahankan tradisiku, doaku, imanku, dan segala penyembahanku kepada Tuhan, bukan kepada yang lain”, maka dia menolak makan apa pun, dia hanya mau makan sayur saja. Maka pemimpinnya tanya “kamu kalau hanya makan sayur nanti akan kurus”, Daniel tantang “coba nanti ukur siapa yang lebih perkasa, siapa yang badannya lebih besar, siapa yang pertumbuhannya lebih sehat”. Waktu diukur ternyat pertumbuhan Daniel dan ketiga temannya lebih besar dari yang lain. Mereka pertahankan identitas mereka, tanpa diracuni sekelilingnya. Pdt. Ivan dalam NRETC pernah mengatakan banyak anak remaja atau pun pemuda mesti belajar dari Daniel, dikelilingi oleh budaya yang mau merusak dia, dia tetap teguh. Kita seringkali terlalu lemah, sekeliling kita bagaimana, kita sering ikut, kita terus konfirmasi sama dengan sekeliling kita. Inilah kebodohan banyak orang muda, mau diterima lingkungan meskipun itu merusakan diri dan masa depan. Daniel tidak seperti itu, dia pertahankan hidup mau setia kepada Tuhan dari usia 12 tahun. Lalu dia harus menjadi orang yang belajar hikmat dari Babilonia tanpa pernah meruntuhkan imannya, imannya tetap kuat. Lalu setelah berpuluh-puluh tahun tinggal di Babel, doanya tidak pernah berubah, dia terus berdoa mengatakan “Tuhan, pulihkan bangsa ini, pulihkan Israel, pulihkan Yerusalem”. Sampai satu ketika dia hitung-hitung, di dalam Kitab Yeremia dikatakan 70 tahun adalah waktu kamu dibuang di Babel. Lalu Daniel hitung-hitung, sudah mau 70, dia datang ke Babel umur 12 tahun, sekarang dia sudah mau umur 80an, berarti waktunya sudah dekat. Maka dia berdoa dengan lebih giat lagi. Ditulis dalam Kitab Daniel, Daniel berdoa dan bepuasa “Tuhan, saya sudah baca janjiMu, tolong cepat pulihkan ini. Saya sudah tua, sudah mau mati. Ijinkan sebelum saya mati, saya pulang lihat Yerusalem. Ijinkan sebelum saya mati, saya lihat tanah leluhurku, tanah perjanjian yang Tuhan sudah berikan kepada umatMu. Tolong Tuhan, ijinkan kepulanganku terjadi sebelum saya mati”. Tapi Tuhan memberikan jawaban yang menyedihkan sekali, Tuhan mengatakan “engkau akan mati sebelum Israel dikembalikan. Tapi jangan takut, engkau sangat dikasihi Tuhan”. Maka Tuhan kirimkan mimpi untuk dia lihat masa depan dari kerajaan yang dijanjikan itu ternyata scope-nya melampaui Israel, sampai seluruh bumi. Ini membuat Daniel penuh sukacita, ternyata bukan hanya Israel yang Tuhan mau pulihkan, tapi seluruh bumi. Maka dia mendapat sukacita dan setelah itu dia meninggal. Daniel adan Yohanes itu mirip, pada masa tua lihat penglihatan masa yang akan datang. Tapi ini cuma Daniel dan Yohanes saja, jangan tambah-tambah lagi.
Pada bagian ini Daniel yang sudah berdoa, tidak mendapat yang dia inginkan. Tapi doa dia menjadi pola doa orang Israel, yaitu doa minta bangsa ini dipulihkan. Tanah, bait dan raja itu datang, baru zaman damai sejahtera itu akan masuk. Sekarang tanah sudah ada, bait suci sudah ada, raja juga sudah datang. Tapi Tuhan Yesus mengatakan doa tetap sama, doa minta kerajaan Tuhan dinyatakan. Jadi Tuhan menyatakan ini masih zaman nanti, kerajaan yang pulih belum sekarang. “Tapi Engkau sudah datang sebagai Raja”, “tetap belum saatnya”, “jadi Engkau akan kemana dulu?”, Yesus akan pergi dulu kepada Bapa. Maka Yesus akan pergi kepada Bapa dan orang-orang di bumi harus tetap mendoakan supaya kerajaan itu datang. Tapi dengan cara yang berbeda, karena sekarang scope-nya yang kita minta adalah yang seluruh bumi. Kita terus berdoa sampai Tuhan menyatakan apa yang Dia inginkan ini. Kita berdoa hal yang besar seperti kemarin yang kita sudah bahas, sekaligus hal kecil yang berkait di dalamnya. Maka kita berdoa dengan cara yang benar yaitu mengharapkan supaya Tuhan menggenapkan janjiNya, tetapi juga mengaitkan hal-hal minor di sekeliling kita kepada janji Tuhan yang besar ini. Minggu lalu saya sudah bahas kerajaan Allah yang besar ini tidak meniadakan yang tidak berarti. Kerajaan Allah yang besar ini justru mengkonfirmasi menguatkan yang kecil dan tidak berarti. Yesus mempunyai tugas berjalan sampai Yerusalem lalu Dia dibunuh menebus dosa manusia, inilah panggilan utama Dia. Tetapi dalam perjalanan ke Yerusalem, Dia sering belok dulu, Dia sering belok untuk sembuhkan orang yang sakit, sembuhkan orang yang buta, sembuhkan orang yang tuli, sembuhkan orang yang sakit pendarahan, bangkitkan orang mati, menghibur hati ibu tua yang sedang sedih dan lain-lain. Jadi Dia rela membelokkan perjalananNya untuk melakukan hal yang kurang penting, tapi Dia akan kembali menjalankan tema utamaNya. Maka doa Saudara pun sama, harus mengaitkan hal kecil di dalam hidup dengan kerajaan Tuhan. Bolehkah saya doa untuk kesembuhan? Pasti boleh, tapi yang ditanya “mengapa minta sembuh?”, “saya mau sembuh karena supaya saya boleh kerja lebih giat dan Tuhan boleh bekerja melalui saya menyatakan damai sejahtera di bumi ini”, ini doa yang Tuhan ijinkan. Jadi jangan takut berdoa meskipun kecil, selama Saudara ingat ini adalah bagian dari seluruh kerinduanku untuk kerajaan Tuhan jadi. Maka Yesus memberikan prinsip meskipun kerajaan itu seperti tertunda tapi jangan lupa engkau punya Bapa yang mengasihi engkau. Bayangkan berapa kesedihan para murid, karena mereka sudah mendapatkan Sang Raja lalu diambil lagi, sepertinya sudah mau pulih tapi belum. Apakah yang paling menghancurkan semangat dibandingkan dengan garis finish yang ternyata masih dimundurkan. Saya beri ilustrasi yang lebih serius lagi, orang yang kehilangan orang yang dikasihi itu berat sekali karena pernah ada momen mengasihi lalu diambil. Lebih baik dari dulu tidak pernah ada. Ini murid-murid kehilangan Yesus, ketika Yesus di depan mata, Dia akan disalib, bangkit, tapi Dia akan naik ke sorga. Maka mereka akan mengalami kesedihan besar, dan Tuhan ingatkan “kamu pikir sudah boleh berhenti berdoa memohon kerajaan Allah jadi? Belum, masih tetap doakan itu”. “Tuhan, ajarkan kami berdoa, sudah ada Rajanya, mungkin doanya beda”, Yesus mengatakan “tidak, tetap sama. Bapa dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu”. Jadi perjuanganmu di dalam doa masih berlanjut bahkan sampai lama. Ini kekuatan yang sangat sulit dijalankan, mereka akan lemah dan hancur hati karena menyadari kerajaan itu belum akan pulih. Tapi Yesus melanjutkan dengan eksposisi doa yang penting dan Dia mengingatkan tentang Bapa yang penuh kasih.
Bapa di sorga mendengar doamu karena Bapa mengasihi engkau. Lalu Yesus di sini pakai 2 contoh, contoh pertama adalah seorang yang kedatangan tamu lalu dia lupa sediakan roti, langsung dia pergi ke tetangganya, minta 3 roti dipinjamkan. Yesus mengatakan “apakah tetangganya akan tolak?”, jawabannya adalah tidak mungkin, karena budaya zaman itu beda dengan zaman sekarang. Kalau zaman sekarang Saudara punya tetangga, Saudara ketok “pak, minta roti”, jawabannya “2 blok lagi ada Indomaret, ke sana saja”. Bahkan mungkin Saudara tidak kenal tetangga, banyak orang tidak kenal tetangganya. Kita tidak terlalu kenal dengan tetangga, ini beda dengan keadaan di abad pertama. Pada zaman itu kota sangat padat di dalam susunan rumah, mereka tidak kasi space untuk rumah, mereka bikin rumah saling berdekatan. Dan biasanya bentuk rumah ada tembok, Saudara masuk, di dalamnya ada halaman kecil, lalu di bawah ada semacam gudang, di situ Saudara bisa taruh barang-barang dan ternak kalau sudah malam. Jadi kalau Saudara pelihara kambing atau domba, tapi bukan gembala, karena gembala punya banyak dan kalau banyak berarti punya kandang. Tapi kebanyakan orang hanya pelihara 1 atau 2 kambing, mereka akan masukan di ruangan bawah. Lalu naik ke atas tangga, di situlah rumah, biasanya kecil. Zaman itu kebanyak orang Israel sederhana, miskin. Jadi mereka punya rumah sangat berdekatan, kalau satu rumah ada keributan, banyak rumah lain yang bisa dengar. Waktu itu jarang ada keluarga yang beranrem, karena kalau berantem seluruh RT tahu. Lalu kedua, budaya kota pada saat itu adalah mereka sangat malu kalau gagal menjamu tamu. Jadi kalau ada tamu, tidak boleh tamu itu dibiarkan lapar. Bayangkan ada tamu bertamu ke rumah satu orang, orang itu tidak punya roti, dia pergi ke tetangganya, tidak mungkin tetangganya tolak. Cerita ini harus dipadankan dengan zaman itu, bukan zaman sekarang. Kalau zaman sekarang Saudara bingung, garuk-garuk kepala “saya sering tolak”. Mengapa seperti itu? Karena dua alasan, yang pertama Yesus mengatakan di ayat 8, ini saya coba bacakan dengan kalimat sederhana, “aku berkata kepadamu, sekalipun ia tidak mau bangun dan tidak memberikan kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sifatnya yang tidak malu itu ia akan bangun dan memberikan kepadanya apa yang dia perlukan”. Saya coba kalimatkan dengan kalimat saya sendiri yang agak sederhana “sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya meskipun ia adalah sahabat, namun karena dia tidak mau malu ia akan bangun juga dan memberikan apa yang diperlukan”. Ini sebenarnya maknanya. Jadi orang ini pasti akan kasi karena dia sahabatnya. Sahabat minta sesuatu kepada sahabat, masa tidak dikasi. Zaman itu pertemanan sangat dihargai. Orang Israel punya pembagian 3 tentang sahabat, yang pertama cuma kenalan biasa, yang kedua sahabat, yang ketiga adalah seperti Saudara, sahabat yang luar biasa dekat. Level kedua ini tidak mungkin menolak untuk menolong orang lain terutama di dalam hal makanan. Saya tidak mungkin ditolak oleh sahabat saya kalau saya minta makan, bahkan sahabat saya akan mengatakan “ayo makan yang banyak, sampai kenyang dulu baru boleh pulang”. Jadi ini sahabat tidak mungkin tidak kasi. Meskipun dia tidak mau kasi tapi ada satu yang mengganggu yaitu wibawa kota ini. Kalau ada tamu tidak dapat makan lalu pulang, seluruh kota malu. Maka untuk dia tidak malu, dia akan kasi roti ini. Tuhan mengasihi kita. Yang kedua, Tuhan juga menjaga kemuliaan namaNya. Maka kalau Saudara berdoa demi kerajaan Tuhan jadi, tidak mungkin Dia tidak dengar. Karena ini demi nama Tuhan dan Tuhan mencintai kita. Jadi 2 kekuatan yang luar biasa, kemuliaan dan kasih Tuhan. Di dalam Yesaya dikatakan “Aku akan melakukannya karena Aku. Ya, oleh karena namaKu sendiri. Sebab Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain”. Jadi Tuhan tidak akan membiarkan kemuliaanNya dihina. Itu sebabnya demi kemuliaan Tuhan, Tuhan akan bertindak. Dan di bagian lain dikatakan karena Aku mengasihi engkau hei Israel, Aku memanggil engkau jauh dari tempat pembuangan, semua berkumpul kembali di tanah permai ini. Jadi Tuhan cinta maka Tuhan akan dengar, Tuhan suka kemuliaanNya maka Tuhan akan dengar. Di dalam bagian ini Yesus mengatakan “tidak mungkin Bapa di Sorga tidak dengar engkau”, yang pertama Dia sangat mencintai engkau. Yang kedua, Dia sangat ingin kemuliaanNya dinyatakan, maka doamu tidak mungkin Yesus abaikan.
Contoh kedua, bapa mana yang akan kasi ular gantikan roti, bapa mana yag kasi kalajengking ganti telur. Apakah ini konteksnya orang yang suka sihir, pelihara ular? Andaikan begitu, ada orang yang suka sihir, pelihara ular dan lain-lain, lalu anaknya minta makan dan dikasi ular? Tidak mungkin kan, orang jahat pun akan kasi anaknya yang baik-baik. Orang yang kejam pun mau pelihara anaknya untuk bertumbuh. Maka Tuhan Yesus mengatakan kalau orang jahat tahu memberi yang baik kepada anaknya, masa Bapa di sorga tidak memberi yang baik. Maka doa adalah sesuatu yang sangat melegakan hati orang Kristen karena Tuhan kita mau dengar. Terkadang alasan kita tidak mau berdoa adalah karena kita rasa percuma berdoa. Tapi tidak pernah ini menjadi percuma, Tuhan tidak mungkin tidak dengar. Itu sebabnya di ayat 13 dikatakan “jika kamu yang jahat tahu memberikan pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu di sorga”. Ayat 10 “setiap orang yang meminta menerima, seriap orang yang mencari mendapat, setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan”, ini tidak ada kaitan dengan ketekunan, tapi ada kaitan dengan relasi. Tuhan memang minta kita berdoa dengan tekun, tapi bagian ini tidak sedang bicara soal harus tekun, tapi sedang bicara soal Bapa tidak mungkin tidak dengar, Tuhanmu tidak mungkin tidak dengar. Harap ingat ini, ketika Saudara berlutut dan berdoa, tahu bahwa Tuhan sangat senang mendengarkan seruan kita. Kita berseru kepada Tuhan, Tuhan menjawab, Tuhan memberikan apa yang perlu untuk kebaikan kita demi kerajaanNya jadi. Di ayat 13 dikatakan “Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya”. Di dalam Injil Lukas, Roh Kudus milik Yesus bukan milik yang lain. Di awal dikatakan Roh Kudus memenuhi Maria dan Yesus pun lahir, Roh Kudus memimpin Kristus dan Dia berkuasa, Roh Kudus memenuhi Kristus dan Dia memulai palyananNya. Jadi Roh Kudus adalah roh yang memimpin Kristus, bukan yang lain. Hanya Kristus yang berhak mendapatkan penyertaan dari Roh Kudus. Bayangkan ini hanya boleh dimiliki Kristus. Allah Bapa mengirim Roh Kudus supaya Kristus dipimpin di dalam pelayananNya, bukan untuk yang lain. Maka bagian ini mengatakan Roh Kudus yang milik Anak Allah yang tunggal ini boleh jadi milikmu karena engkau pun sudah dianggap anak. Di dalam Kristus kita adalah anak juga. Maka Tuhan akan mengabulkan permintaan kita, apa pun itu, dengan cara yang bijak, sesuai dengan cara Dia untuk datangkan kemuliaan bagi kerajaanNya. Itu sebabnya mari kita belajar berdoa, tekun mendoakan doa-doa yang penting, apa pun yang Saudara mau bawa dalam pergumulan, bawa kepada Tuhan dan ingat kaitkan itu dengan kerajaan Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 9 Jul 2016
Doa dan Kerajaan Allah
(Lukas 11: 1-13)
Ajaran dengan ketat menyatakan berserah kepada Tuhan tanpa ada permohonan apa pun, ini akan melatih orang jadi munafik. Kalau yang satu melatih orang tidak punya hati nurani, yang satu melatih orang jadi munafik, pura-pura doa untuk hal yang benar, padahal hatinya tidak inginkan itu. Inilah yang harus kita lihat sebagai penyeimbang yaitu bagian yang kita baca pada hari ini. Pada hari ini Tuhan Yesus mengajarkan doa dengan pengertian yang sangat berbeda dengan apa yang kita lihat tadi. Yesus mengajarkan fungsi doa di dalam pengertian yang sangat penting, yaitu doa adalah salah satu tanda yang penting dari janji Tuhan secara eskatologis untuk sekarang. Ini konsep doa yang mungkin tidak banyak orang tahu, tapi ini sangat ditekankan oleh Alkitab. Apa itu doa? Doa adalah bukti nyata saat ini akan apa yang Tuhan janjikan nanti yaitu kerajaanNya. Jadi Tuhan sudah janjikan “KerajaanKu akan datang”, Kristus akan menjadi Raja, orang jahat akan dihancurkan, orang benar akan dimunculkan dan seluruh damai sejahtera akan memenuhi bumi dan kemuliaan Tuhan memenuhi seluruh bumi, ini janji Tuhan. Lalu janji Tuhan itu sudah terjadi? Belum, apa buktinya janji Tuhan akan terjadi? Salah satu bukti yang dipakai adalah doa. Jadi doa adalah orang percaya sedang berdiri dalam keadaan sekarang tapi tangannya sedang memegang janji Tuhan yang nanti. Jadi inilah fungsi doa. Harap setelah hari ini, Saudara tahu apa itu doa. Banyak orang Kristen gagal mengerti hal ini, “apa itu doa?”, doa adalah tanda yang Tuhan pakai sekarang untuk membuktikan janji eskatologi Dia, janji kerajaanNya akan digenapi, itu pasti jadi. Jadi apa yang Tuhan janjikan nanti pasti terjadi. Apa buktinya? Buktinya ada beberapa, bukti pertama Roh Kudus ada di sini. Bukti kedua, yang jadi bukti adalah pemeliharan Tuhan akan umatNya, kehadiran umat Tuhan membuktikan ini, bukti yang ketiga adalah doa umat Tuhan. Doa adalah bukti nyata kerajaan itu ada di sini sekarang tapi belum menjadi nyata secara penuh. Lalu mana buktinya kerajaan ini ada? Doa orang Kristen. Saudara waktu lihat ini menjadi kagum, ternyata pengertian doa lebih dalam dari yang kita pikir. Apa itu doa? Doa adalah bukti nyata saat ini akan apa yang Tuhan janjikan nanti yaitu kerajaanNya datang ke bumi. Kapan kerajaan Allah datang? Tidak ada yang tahu. Pastikah kerajaan itu datang? Pasti, tahu dari mana? Ada bukti nyata yaitu doa. Berarti doa bukti kerajaan Allah ada di sini. Jadi setiap Saudara berdoa, menyatakan bukti nyata bahwa kerajaan itu akan datang. Kuasa doa terlalu besar untuk kita pahami hanya sekedar minta untuk diri lalu itu jadi, hanya sekedar untuk minta diri kemudian itu terbukti. Tapi ada hal yang lebih besar yaitu doa ini akan membawa Kerajaan Allah menjadi nyata. Tuhan pakai doa untuk menyatakan kerajaanNya di bumi ini. Kalau Saudara berdoa ingat baik-baik hal ini, kalau Saudara tahu hal ini, doa pun akan dipanjatkan dengan keagungan yang besar, “ternyata saya boleh menjadi orang yang doanya itu dipakai Tuhan untuk mengaitkan antara janji dan kenyataan sekarang”.
Maka pada bagian ini murid-murid pun tanya kepada Yesus “ajarkan kami berdoa”, dan Tuhan tidak hina pertanyaan ini. Justru Tuhan memberikan pengajaran yang menjadi konsep doa turun-temurun bagi umat Tuhan dari zaman para rasul sampai zaman kita sekarang. Yesus mengatakan “maka kalau kamu berdoa katakanlah…”. Bagian pertama Dia mengajarkan “Bapa, dikuduskanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu”, permintaan pertama adalah permintaan yang menyadarkan posisi doa. Doa adalah yang dipakai Tuhan supaya kerajaanNya bisa datang. Jadi kerajaanNya datang karena doa kita? Dalam pengertian ini, iya. Bisakah kerajaanNya datang? Iya, karena orang Kristen berdoa. Ini besar sekali, seolah Tuhan mengatakan “kedatangan kerajaanKu Kupercayakan kepadamu dalambentuk permohonan dan doa”. Kalau kita dapat kepercayaan sebesar ini, masih beranikah kita main-main? Ketika seseorang diberikan mandat yang penting, tidak mungkin dia abaikan mandat ini dengan kehidupan yang sembarangan. Waktu orang Kristen diberikan mandat doa, tidak mungkin dia boleh abaikan tugas berdoa. Yang selama ini mengabaikan doa, bertobat hari ini, yang selama ini tidak berdoa, Saudara bukan Kristen, harus berdoa, harus bertobat, kembali kepada Tuhan. Maka Yesus mengingatkan “apabila kamu berdoa, katakanlah ini Bapa dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu”, tetapi meskipun permohonan ini sangat besar, ini dimulai dengan kata Bapa. Yesus mengajarkan kepada para murid, engkau memanggil Dia Bapa. Mengapa Yesus boleh mengatakan kepada para murid boleh memanggi Dia Bapa? Karena ini adalah Anak yang dikasihi. Dan Yesus sedang membagi posisi yang Dia miliki kepada orang lain untuk berbagian bersama-sama memanggil Allah sebagai Bapa. Ini indah sekali. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, beberapa kali Yesus diperkenalkan sebagai Sang Anak, dalam Mazmur 2 dikatakan “Engkau adalah AnakKu, Engkau Kuperanakan pada hari ini”. Di dalam berita-berita Perjanjian Lama, waktu Allah mengangkat Sang Anak, ini mempunyai makna kerajaan. Jadi Tuhan mengatakan “ini AnakKu yang Kukasihi, kepadaNya Aku berkenan”, itu adalah pernyataan inilah Raja yang Kuperkenan. Waktu dikatakan “AnakKu Engkau, Engkau telah Kuperanakan pada hari ini, ini pun menyatakan bahwa orang yang diangkat sebagai Anak adalah Sang Raja. Kita tidak mungkin mempunyai relasi sedekat ini dengan Dia. Maka di bagian ini Yesus memperkenalkan “Bapa yang Kukenal ini adalah Bapa yang penuh anugerah, penuh dengan kasih karunia, datanglah kepada Dia dengan berani dan sebut Bapa”. Lalu dikatakan “Bapa dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu”, ini kembali mengingatkan tugas utama doa, menyatakan bahwa kerajaan Allah pasti jadi.
Lalu hal kedua di dalam ayat ke-3, dikatakan “berikanlah setiap hari makanan kami yang secukupnya”. Mengapa permintaan ini dimasukan? Karena permintaan ini terlalu kecil. Saudara meminta untuk makanan pokok setiap hari, ini permintaan kecil. Permintaan yang sepertinya tidak terlalu besar dibandingkan dengan kerajaan Allah yang besar. Tapi bagian ini mau menekankan kalau kerajaan Allah datang, kerajaan Allah tidak akan meniadakan yang kecil, justru akan mengangkat yang kecil. Kerajaan ini justru akan menghancurkan kesombongan, menghancurkan keangkuhan, tapi Dia akan mengangkat yang kecil. Seringkali ilustrasi tentang kerajaan itu memakai contoh yang kecil, misalnya pakai biji sesawi. Tapi Tuhan mengatakan yang kecil ini kalau dalam kerajaan Tuhan akan tumbuh jadi pohon yang besar. Jadi Tuhan menyatakan kerajaanNya datang, justru mengkonfirmasi yang kecil. Waktu kerajaan Allah datang, yang kecil-kecil tidak disingkirkan, justru diangkat dan dikonfirmasi. Dimana-mana kalau yang berwibawa atau mulia datang, yang kurang mulia jadi tidak dianggap. Tapi justru Alkitab mengatakan “waktu kerajaan itu datang, yang nothing itu diangkat”. Saudara jangan pikir, Saudara jadi orang Kristen yang biasa-biasa, cinta Tuhan, rajin, berdoa dan lain-lain, tapi tidak terlalu menonjol, bukan pengurus, bukan aktivis, bukan pengkhotbah, bukan siapa-siapa. Kalau datang ke gereja mungkin hanya disalami, kalau tidak ada datang ke gereja pun mungkin tidak dicari. Bukan siapa-siapa, pekerjaannya mungkin hanya berdoa di rumah, tolong orang miskin, tapi tidak ada yang kenal Saudara sama sekali. Lalu Saudara pikir, nanti di sorga saya akan tempati posisi yang sama, waktu Tuhan datang kembali, saya juga orang nothing. Tidak, yang something tapi tidak layak itu akan diturunkan, yang kelihatan megah sekarang mungkin tidak mendapat kemuliaan yang besar. Mungkin saya akan rendah dan orang ini akan jauh lebih tinggi dari saya. Waktu kerajaan Allah datang, yang nothing jadi something, yang kecil jadi dibesarkan, yang tidak berarti menjadi yang inti. Ini berita yang luar biasa agung, hanya ada di dalam Kitab Suci.
Allah tidak akan meniadakan yang kecil, justru akan mengangkat yang kecil. Kerajaan ini justru akan menghancurkan kesombongan, menghancurkan keangkuhan, tapi Dia akan mengangkat yang kecil. Seringkali ilustrasi tentang kerajaan itu memakai contoh yang kecil, misalnya pakai biji sesawi. Tapi Tuhan mengatakan yang kecil ini kalau dalam kerajaan Tuhan akan tumbuh jadi pohon yang besar. Jadi Tuhan menyatakan kerajaanNya datang, justru mengkonfirmasi yang kecil. Waktu kerajaan Allah datang, yang kecil-kecil tidak disingkirkan, justru diangkat dan dikonfirmasi. Dimana-mana kalau yang berwibawa atau mulia datang, yang kurang mulia jadi tidak dianggap. Tapi justru Alkitab mengatakan “waktu kerajaan itu datang, yang nothing itu diangkat”. Saudara jangan pikir, Saudara jadi orang Kristen yang biasa-biasa, cinta Tuhan, rajin, berdoa dan lain-lain, tapi tidak terlalu menonjol, bukan pengurus, bukan aktivis, bukan pengkhotbah, bukan siapa-siapa. Kalau datang ke gereja mungkin hanya disalami, kalau tidak ada datang ke gereja pun mungkin tidak dicari. Bukan siapa-siapa, pekerjaannya mungkin hanya berdoa di rumah, tolong orang miskin, tapi tidak ada yang kenal Saudara sama sekali. Lalu Saudara pikir, nanti di sorga saya akan tempati posisi yang sama, waktu Tuhan datang kembali, saya juga orang nothing. Tidak, yang something tapi tidak layak itu akan diturunkan, yang kelihatan megah sekarang mungkin tidak mendapat kemuliaan yang besar. Mungkin saya akan rendah dan orang ini akan jauh lebih tinggi dari saya. Waktu kerajaan Allah datang, yang nothing jadi something, yang kecil jadi dibesarkan, yang tidak berarti menjadi yang inti. Ini berita yang luar biasa agung, hanya ada di dalam Kitab Suci.
Maka permintaan kecil dalam doa itu tetap berbagian di dalam fungsi doa yang berbagian yaitu menyatakan kerajaan Allah. Saudara mungkin pikir kalau doa menyatakan kerajaan Allah ya sudah jangan doa yang kecil-kecil, kalau bisa doa yang besar-besar. Itu kira-kira konsep yang salah, yang kita sering kali kita miliki. Kalau doa mendatangkan kerajaan Allah, kalau Allah pakai doa kita untuk mendatangkan kerajaanNya, mana ada tempat untuk aku. Bisakah aku berlutut lalu berdoa, “Tuhan, saya ada flu, sembuhkanlah”, tidak boleh, itu terlalu kecil untuk kerajaan Allah. Tapi itu konsep yang salah, justru yang kecil mendapat bagian yang indah di dalam kerajaanNya. Maka doa yang berikutnya “berikan kepada kami makanan kami yang secukupnya”. Maka Yesus seperti mengingatkan engkau berdoa minta kerajaan Allah datang, tapi engkau tetap mempunyai tempat untuk doa yang kecil, doa meminta makanan hari ini, roti hari ini. Dan ini permintaan tidak pernah dianggap kecil oleh Tuhan, karena doa ini berbagian di dalam doa yang dipanjatkan kepada Bapa yang mengasihi. Jangan takut untuk berdoa, jangan pikir doa hanya untuk pekerjaan Tuhan saja. Untuk pekerjaan Tuhan harus, tapi Tuhan ijinkan ada tempat untuk kita berdoa. Saudara sakit dan minta sembuh itu boleh dan harus, masakan minta sembuh sama yang lain. Lalu hal berikutnya, Saudara jangan lupa waktu Saudara berdoa untuk mengabulkan doa Saudara, Tuhan sedang bekerja memakai yang lain. Ini pengertian yang juga dari Martin Luther. Martin Luther pernah bilang jika engkau memohon “Bapa, berikanlah roti kami pada hari ini”, apakah engkau pikir Tuhan akan jawab dengan lempar roti dari sorga? Tidak, Tuhan tidak pakai cara itu. Tuhan pakai cara waktu Saudara berdoa, Tuhan gerakan hati petani untuk tanggung jawab dengan pekerjaannya. Dia kelola ladangnya baik-baik, dia pelihara gandumnya dengan baik-baik, dia jadikan sampai baik, kemudia dia petik. Petani bekerja karena gerakan dari Tuhan untuk menjawab doa Saudara, ini hal yang indah sekali. Jawaban doa itu panjang dan berangkai, jangan pikir ketika Saudara berdoa hanya Saudara dan Tuhan, doa Saudara akan mempengaruhi yang lain juga. Jadi satu orang berdoa, Tuhan pakai banyak hal untuk menjawab doa itu. Ini membuktikan kerajaan Allah datang dan permintaan makanan itu berkait.
Kerajaan Allah berkait dengan tanggung jawab orang bekerja, tanggung jawab orang untuk menjalankan bagian mereka sehingga seluruh orang bisa mendapatkan berkat dari Tuhan melalui pekerjaan yang dikerjakan dengan tanggung jawab. Maka mulai sekarang kerjakan pekerjaan Saudara dengan bertanggung jawab, karena doa orang di satu tempat sana akan dijawab melalui apa yang Saudara kerjakan. Saudara tidak tahu, tapi yang Saudara kerjakan mungkin sudah menjawab banyak sekali doa orang. Inilah mengapa Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa meminta makanan. Lalu hal berikut, meminta makanan juga menunjukan kerendahan hati. Saudara diajar untuk tidak mengandalkan kepada simpanan, tidak mengandalkan kemampuan cari uang, tapi sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ini bukan berarti orang boleh hidup tanpa tanggung jawab. Orang yang tidak bertanggung jawab, tidak berhak berdoa kepada Tuhan. Orang yang bertanggung jawab, justru doanya jadi bermakna. Karena dia tidak mengandalkan tanggung jawabnya, kekuatan tangannya dan kerajinannya, dia tetap mengandalkan Tuhan. Tapi orang malas mengandalkan Tuhan, dia bukan sedang mengandalkan Tuhan, dia sedang mencobai Tuhan. Tapi orang yang sudah tanggung jawab, dialah yang bisa memanjatkan doa “Tuhan, berikan kepadaku makanan hari ini, aku perlu supportMu, bukan kemampuanku”, barulah ini namanya berserah kepada Tuhan.
Lalu di ayat ke-4 menyatakan permintaan “ampuni dosa kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”, ini pun berkait dengan kedatangan kerajaan Allah itu. Karena kerajaan Allah datang berarti akan ada kedamaian di bumi. Dan damai itu harus dimulai dari mana? Dari kita orang Kristen. Maka kita mendoakan “Tuhan, biarlah damai boleh jadi dengan cara Tuhan mengampuni kami seperti kami sudah ampuni yang lain”. Jadi bagian ini mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, sambil berdoa sambil melatih diri untuk mengampuni. Jangan simpan dendam, jangan simpan marah, Saudara makin simpan marah, Saudara makin jadi musuh banyak orang. Banyak orang punya kepahitan, terus ceritakan kepahitan, akhirnya orang lain jadi ikut-ikutan pahit. Tapi Tuhan sudah mengingatkan kalau engkau minta diampuni oleh Tuhan engkau harus adil, engkau harus mau mengampuni orang yang bersalah kepadamu. Inilah yang membuat kerajaan Allah bisa datang, permohonan untuk adanya damai, dan juga adanya kerinduan untuk mempraktekan hidup damai itu. Jadi berhenti dendam sama orang, lupakan dan ingat yang baik-baiknya. Supaya hal baik yang Saudara terima dan Saudara menjadi penuh dengan kelimpahan. Pak Stephen Tong pernah bilang engkau benci satu orang, engkau marah-marahi dia dalam hati, dia tidak rugi apa-apa. Dia tenang-tenang saja, dia akan pergi ke Singapore main golf. Lau Saudara yang simpan, lama-lama jantungnya masalah, kolesterol, darah tinggi, rambut mulai rontok, susah tidur, akhirnya ke dokter, “penyakitmu banyak sekali”, karena dendam. Lalu orang yang Saudara dendam ternyata jadi atletis. Dan ini menjadi permohonan “ampuni kami sebab kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.
Dan ditutup dengan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”. Mengapa ditutup disini? Karena inilah yang akan merusak pekerjaan Tuhan di bumi ini, pencobaan yang akan kita masuki lalu kita gagal. Maka kita dengan rendah hati mengatakan “Tuhan, jangan biarkan saya jatuh, jangan biarkan kerajaanMu dicemarkan oleh kegagalan saya. Jangan biarkan kecemaranMu digagalkan oleh dosa yang saya kerjakan”. Lalu apakah kita cukup kuat mengalahkan dosa? Tidak, tidak ada orang yang cukup kuat menghadapi dosa. Itu sebabnya doanya tidak mengatakan “Tuhan, berikan kami kemenangan atas dosa”, tapi doanya lebih rendah hati “jangan bawa kami ke dalam pencobaan. Kalau kami masuk pencobaan pasti kalah”. Tapi sudah doa harus konsisten, jangan doa lalu menjalankan yang sebaliknya, ini namanya mencobai Tuhan. Doa minta diampuni, tapi tidak mau mengampuni orang lain, ini mencobai Tuhan. Doa minta Tuhan pelihara, tapi tidak pernah ada tanggung jawab, ini namanya mencobai Tuhan. Doa minta dijauhkan dari pencobaan, tapi sengaja masuk terus ke dalam situasi dimana kita bisa jatuh, ini namanya mencobai Tuhan. Maka biarlah kita menghindarkan diri dari apa yang bisa membuat kita jatuh. Dan kita berdoa mengatakan “Tuhan, jangan membawa kami ke dalam pencobaan”.
Maka ini doa yang Tuhan ajarkan dan Tuhan mau kita mengingat apa yang kita minta Tuhan dengar. Tidak ada permintaan terlalu kecil, tidak ada permintaan terlalu remeh, karena di dalam kerajaan Tuhan yang remeh ini akan diangkat. Mari kita membiasakan diri menjadi umat yang berdoa, gereja yang berdoa kepada Tuhan dan memohon segala yang kita perlukan kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah batasi orang, melainkan Tuhan terus dorong orang untuk terus memohon kepada Dia saja. Bawa segala kesulitan kita di dalam doa dan biarlah kita bawa kerinduan kita untuk kerajaan Tuhan dinyatakan di dalam doa kita.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah
- 9 Jul 2016
Pengampunan dan Salib
(Yesaya 49-55)
Kita masih membahas dari Yesaya, dari pasal 49-55. Di dalam seluruh pasal-pasal ini dikatakan bahwa raja-raja bangsa-bangsa dipanggil kembali oleh hamba Tuhan. Ada hamba Tuhan yang berteriak “engkau sedang terhilang. Hai, raja-raja dunia, engkau sedang jalan ke arah yang salah. Hai manusia engkau sedang berjalan ke arah yang salah. Hai umat Tuhan yang sedang tersesat engkau pun sedang jalan di arah yang salah”. Tapi manusia tidak sadar panggilan ini, karena ketika manusia disinggung, disindir dan dirusak oleh pengertian kebenaran manusia merasa harga dirinya dihancurkan dan setiap seruan itu membuat mereka makin tegar dalam kesalahan dan makin mengabaikan seruan Tuhan. Itu sebabnya kita tidak punya pengharapan, makin dengar firman makin berontak, makin dengar firman makin keraskan hati, makin dengar firman makin marah kepada yang menyampaikan firman. Maka waktu hamba Tuhan ini teriak “Tuhan mau engkau kembali”, semua raja menghina dia, menyusun kekuatan untuk menghantam dia. Tidak banyak orang-orang di Perjanjian Lama yang memberikan sejarah Injil lebih ringkas dan lengkap selain Yesaya. Yesaya menulis bagaimana bangsa-bangsa akan dipanggil oleh hamba Tuhan ini dan hamba itu memanggil dengan 3 cara. Yang pertama dia memanggil dengan seruan, yang kedua dia memanggil dengan ketaatan kepada Tuhan, yang ketiga dia memanggil dengan menyerahkan dirinya menjadi korban. Setiap tahap makin lama makin berat untuk hamba ini tapi makin lama makin menolong orang-orang yang tersesat ini.
Hal pertama yang dilakukan hamba Tuhan ini, dia berseru, dia berteriak mengatakan kepada bangsa-bangsa untuk kembali kepada Tuhan. Dan inilah yang dilakukan oleh Yesus. Di dalam hidupNya Dia berseru “bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat”. Kerajaan Tuhan sudah hadir, Rajanya sudah hadir dan sekarang memanggil engkau kembali. Tetapi seruan ini tidak mau didengar karena mereka rasa terlalu indah untuk jadi kenyataan kalau Raja itu benar-benar datang. Ketika mereka mengamati hidup Yesus, ternyata hidup Yesus berbeda dengan yang mereka harap karena mereka harap kejayaan, mereka harap kekuatan, mereka harap dominasi, mereka harap kecerdasan menghancurkan musuh dan ini tidak ada pada Yesus. Lalu hal kedua yang Yesus lakukan, sama dengan yang dinubuatkan Yesaya di dalam pasal 49-55, yaitu orang ini akan menjalankan segala yang perlu untuk menunjukan ketaatan kepada Allah. Kemarin kita sudah membahas bagaimana ketaatan itu menjadi memuncak di kayu salib. Ketaatan Yesus yang paling puncak adalah ketika Dia rela disalib. Taat sampai mati di kayu salib, taat untuk menggenapi apa yang manusia lama gagal genapi. Adam gagal karena mau menjalankan apa yang dia mau, manusia gagal karena mau jalankan yang dia mau. Yesus berhasil karena Dia mengatakan “makananKu adalah menjalankan kehendak Bapa. Mengapa Yesus berhasil? Karena seluruh hatiNya adalah milik Bapa di sorga. Tidak ada orang yang bisa berbahagia kecuali dia mengatakan “Tuhan, seluruh hatiku menjadi milikMu. Apa yang Engkau ingin itu akan aku lakukan, Engkau ingin aku lakukan apa, silahkan jalankan, aku siap untuk menjalankannya”. Maka di atas kayu saliblah sukacita Kristus itu genap. Tapi Luther mengatakan sukacita yang genap dibarengi dengan dukacita yang mendalam. Dukacita karena hancur hati dikhianati oleh umat sendiri, dan dukacita karena hancur hati harus menjadi wakil orang yang harusnya dihancurkan. Lalu Allah Bapa menghukum Dia. Di sini perasaan Kristus tidak mungkin kita pahami.
Lalu hal ketiga yang dikerjakan oleh hamba itu adalah dia akan melihat Tuhan berbalik dan kembali memihak dia. Inilah yang terjadi ketika Yesus bangkit. Yesus mati di kayu salib, tapi Dia bangkit. Mengapa Dia bangkit? Karena Allah berkenan akan apa yang Dia kerjakan. Di sini rahasia dari kemenangan Kristus berada yaitu Dia aktif sampai mati tapi pasif menerima kebangkitan. Dia aktif menjalankan yang harus, tapi dengan pasif menyerahkan nyawaNya ke dalam tangan Tuhan. Dalam Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku berkuasa memberikan nyawaKu, Aku berkuasa menerimanya kembali”. Tapi di dalam bagian Surat Paulus, Paulus mengatakan “Allah membangkitkan Dia”, berarti Yesus yang punya kuasa bangkit, Dia rela menyerahkan kebangkitan itu ke dalam tangan BapaNya di sorga. Dia dengan aktif mati dan dengan pasif menyerahkan kapan Allah Bapa mau berkenan dengan apa yang Yesus kerjakan. Maka ada hal ketiga yang penuh dengan pengharapan. Di dalam Yesaya 53 dikatakan “HambaKu akan berhasil, HambaKu tidak gagal, HambaKu akan menjalankan apa yang Aku inginkan”. Ketika Yesus diperkenan pada waktu itu terjadi kemenangan yang luar biasa. Yang pertama adalah kemenangan dari seluruh rencana penciptaan Tuhan. Jangan pikir kebangkitan Yesus hanya untuk kita, kebangkitan Yesus menunjukan rencana Tuhan dalam penciptaan tidak digagalkan oleh dosa. Sejak awal Tuhan mencipta, Tuhan sudah punya rencana masuk ke dalam Sabat yang penuh bahagia. Dan kejatuhan manusia di dalam dosa tidak membatalkan ini. Bayangkan berapa besar kemenangan Yesus yang didapatkan waktu Dia bangkit. Itu sebabnya ketika kita menyanyikan Yesus bangkit, yang menyanyi bukan hanya orang-orang percaya, tapi seluruh malaikat yang tahu Allah sedang mempersiapkan ciptaanNya masuk ke tahap yang sangat penting yaitu tahap yang penuh dengan kemenangan. Kebangkitkan Yesus memberikan kemenangan pada ciptaan Tuhan. Apa yang Allah ciptakan tidak gagal karena ada kebangkitan. Itu sebabnya Paulus mengatakan “jangan goyah, apa yang kau kerjakan tidak akan gagal, apa yang kau perjuangkan dalam ciptaan, apa yang kau perjuangkan di bumi ini tidak akan gagal. Jika engkau melakukannya untuk Tuhan, kebangkitan Kristus memastikan bahwa apa yang engkau kerjakan akan Tuhan sempurnakan. Dan di dalam kebangkitan engkau akan lihat semuanya ini jadi”. Itu sebabnya Yesus bangkit. Hal pertama menunjukan rencana kemenangan Tuhan di dalam penciptaan.
Lalu yang kedua kebangkitan Yesus menunjukan kemenangan umat pilihan dari kuasa dosa dan maut. Kalimat ini sering kita dengar, sehingga kita remehkan. Begitu sering kita remehkan sehingga kita tidak pakai kemenangan ini untuk berjuang. Kita selalu berpikir “kalau Yesus bangkit otomatis saya juga suci”, tidak. Yesus bangkit otomatis kita punya kekuatan untuk berjuang, dan kita tahu kekuatan itu dimungkinkan karena kemenangan Dia. Ada gambaran yang indah sekali dari seorang pengkotbah yang mengatakan ketika Yesus bangkit, kekuatan kebangkitanNya begitu kuat, sehingga Dia akan tarik kita keluar dari kuasa dosa. Tapi waktu Dia tarik kita keluar, Dia tidak tarik kita keluar supaya kita menjadi pasif, supaya kita menjadi orang yang menikmati ditarik dengan cara yang diam. Sebaliknya, kuasa kebangkitan Kristus menggerakan kita untuk menang. Kita berjuang karena kita tahu Kristus bangkit, karena kita tahu kekuatan dari kebangkitan Yesus memampukan kita untuk menang. Itu sebabnya di dalam kebangkitan Kristus ada kemenangan umat Tuhan atas dosa dan maut. Dosa dan maut sudah dikalahkan. Kapan dia kalah? Waktu Yesus bangkit. Kapan dia mulai berkuasa? Dia mulai berkuasa ketika Adam jatuh dalam dosa. Jadi Adam jatuh dalam dosa, bikin dosa menelan kita semua. Tapi Yesus bangkit, membuat kuasa kematian ditelan oleh kuasa kebangkitanNya. Mengapa kuasa kebangkitan menelan kematian? Karena kebangkitan Dia membuat seluruh kematian yang di dalam Dia adalah kematian untuk menantikan hidup baru. Belum pernah ada catatan dalam Perjanjian Lama yang mengumpamakan kematian itu seperti benih. Saudara kalau lihat benih tanaman, masukan dalam tanah, lalu pendam, waktu benih itu hancur, muncul satu tunas baru dan menjadi tanaman yang hidup, yang besar dan jauh lebih besar dari apa yang ditanam di dalam tanah. Yesus mengatakan “Aku mati sebagai benih”. Yesus mati bukan karena dosa. Adam mati karena dosa. Kita di dalam Adam mati karena dosa. Tapi Yesus mati supaya ada kebangkitan yang penuh dengan kuasa. Maka siapa yang berada di dalam Kristus, kalau pun kita akan menghadapi kematian, ini adalah kematian di dalam tahap menghadapi kebangkitan, melihat bagaimana maut ditaklukan dan melihat ada tumbuhan baru yang tumbuh setelah kita semua hancur di dalam kematian.
Maka Yesus mengubah makna kematian. Kematian bukan lagi sesuatu yang menelan kita, tapi kematian adalah suatu tahap menuju kepada kebangkitan tubuh. Kalimat ini sangat agung. Siapakah yang memberikan pengharapan? Yesus. Mengapa Dia bisa memberikan pengharapan? Karena Dia sendiri sudah bangkit. Siapa bisa berkotbah seperti ini selain Yesus? Dialah yang mengatakan “mari datang karena Akulah benih sulung yang lebih dulu bangkit dimana semua orang akan ikut bangkit bersama-sama dengan Aku”. Maka hal kedua yang Dia nyatakan dalam kebangkitanNya adalah kemenangan bagi umat Tuhan, menang atas dosa dan menang atas kuasa maut. Siapa yang bisa mengatakan “hai maut dimana sengatmu? Hai maut dimana kuasamu? Engkau tidak lagi mempunyai kuasa”. Paulus mengatakan kekuatan maut ada di dalam Taurat. Apakah Taurat membuat kita mati? Bukan, yang Paulus maksudkan adalah perintah yang membawa kita hidup justru membuat kita mati karena kegagalan kita. Kita gagal karena kepala kita sudah gagal. Maka Paulus mengatakan tidak mungkin Taurat membuat hidup, selama engkau masih ada di bawah kepalanya Adam. Selama masih berada di dalam Adam, seluruh Taurat tidak berguna. Karena perintah ini adalah perintah untuk hidup. Engkau tidak mengikuti Taurat supaya mati, Tuhan tidak pernah berikan AlkitabNya supaya kita baca, jalankan dan mati. Itu bukan rencana Tuhan. Tuhan tidak pernah mengatakan “lakukan ini supaya engkau mati”. Maka Taurat diberikan dengan kalimat “lakukan maka engkau hidup”. Tapi bagaimana mungkin ini bisa? Karena orang mengatakan “saya melakukan tapi saya tetap mati”, mengapa tetap mati? Karena kuasa kematian di dalam dosa, setelah Adam jatuh ke dalam dosa. Lalu bagaimana supaya Taurat menjadi hidup, supaya perintah-perintah firman Tuhan yang benar, benar-benar membawa kita ke dalam hidup? Yaitu kalau kita sudah punya kepala yang baru. Tapi untuk menjadi anggota dari kepala yang baru ini, Yesus harus mati dan kuasa kebangkitanNya harus diaplikasikan oleh pekerjaan Roh Kudus. Itu sebabnya ketika Roh Kudus menggerakan kita untuk percaya kepada Yesus, apda waktu itu kuasa kebangkitan Yesus menjadi milik kita. Saudara dan saya mendapat bagian di dalam kebangkitan yang baru ini. Sehingga karena Kristus bangkit, sekarang sudah ada benih awal yang sulung, yang membawa perubahan ke seluruh dunia. Kalau Dia adalah yang sulung maka yang lain akan menyusul. Saudara dan saya yang percaya kepada Kristus, kitalah yang muncul, kitalah yang menyusul dan kitalah yang memperjuangkan kerajaan yang sekarang dinyatakan ini. Zaman dulu kerajaan ini dinyatakan di dalam Israel, tapi setelah Yesus bangkit kerajaan ini dinyatakan di seluruh dunia. Maka karena Yesus bangkit, Saudara dan saya menjadi orang yang mengklaim dunia ini kembali milik Tuhan. Bumi ini milik Tuhan, bukan milik setan. Bumi milik Allah, maka prinsip Allah harus dinyatakan di bumi. Bumi milik Tuhan, maka saya perjuangkan untuk bumi ini tunduk kembali kepada Tuhan.
Bagaimana berjuang? Di dalam Adam dan dosa, berjuang adalah dengan cara menang, mengalahkan yang lain, egois, memberikan kenikmatan diri untuk menjadi tujuan, membuat diri tenggelam di dalam dosa, ini semua adalah gaya lama di dalam hidup duniawi. Tapi Kristus menunjukan hidup yang penuh kemenangan adalah tunduk kepada Tuhan dan taklukan dosa. Tunduk kepada Tuhan dan taklukan perintah-perintah dari setan dan seluruh dunia yang jahat. Tunduk kepada Tuhan dan menang atas dosa. Inilah yang Yesus lakukan. Maka Saudara dan saya menjadi orang yang berada di dalam kebangkitan Kristus. Mari tunjukan kemenangan itu, kalau sekarang bukan lagi Israel tapi seluruh dunia adalah tempat dimana Yesus mau menyatakan diri sebagai Raja. Mengapa saya dan Saudara terlalu lambat bekerja memperjuangkan nama Sang Raja ini? Terlalu banyak hal menyimpangkan kita dari panggilan mula-mula untuk meninggikan Kristus. Kita selalu menyempitkan meninggikan Kristus hanya di dalam Injil saja yang kita beritakan untuk membawa orang ke sorga. Tapi Alkitab menyatakan Injil adalah berita sukacita bahwa Allah sekarang bertahta. Dan Yesus menyatakan Allah yang engkau berharap bertahta, sekarang menyerahkan tahta itu kepada Sang Anak. Ini berita luar biasa besar. Maka kalau ditanya siapa Kristus? Saudara menyatakan Dia Juruselamat, Dia Raja. Dan title Juruselamat dan Raja adalah title untuk penguasa penakluk dari seluruh dunia yang akan menyatakan penaklukanNya justru dengan kasih. Raja-raja dunia menghancurkan yang lain dan menang, Yesus merelakan diri dihancurkan dan mendapatkan kemenangan. Yesus memanggil kita untuk menyatakan mari perjuangkan apa yang sudah Dia kerjakan. Kalau Dia adalah yang sulung, maka kita semua menyusul Dia, mengerjakan apa yang Tuhan sedang kerjakan saat ini. Tuhan sedang klaim kembali tahtaNya, Dia sedang menyatakan “semua kerajaan dunia adalah milikKu”. Saudara sekarang pun melakukan hal yang sama, Saudara mengatakan “kampus dan studi bukan milik setan, kampus dan studi adalah milik Kristusku”, Saudara yang bisnis megatakan “bisnis bukan milik setan, bisnis bukan milik roh yang begitu dahsyat dalam keserakahan, bisnis bukan milik orang yang gila harta dan mau memperkaya diri dengan merugikan orang. Bisnis adalah milik Sang Raja yaitu Kristus”. Saudara yang bekerja di pemerintahan mengatakan “pemerintahan milik Kristus, seluruh raja akan tunduk dan Raja atas segala raja akan menyatakan diri. sebab itu sekarang saya menjadi utusan yang pergi terlebih dahulu sebelum Dia datang. Aku utusan yang pergi dan mengatakan: hei pemerintah, jalankan cara Rajaku, jangan jalankan dengan cara dunia ini”. Suatu saat nanti seluruh makhluk akan menyatakan “Raja atas segala Raja dan Tuan atas segala tuan, kami menyembah Engkau. Seluruh puji-pujian, seluruh kekayaan, seluruh hormat, seluruh kemuliaan hanya bagi Kristus”. Tapi sebelum saat itu tiba kitalah yang mempelopori supaya dunia sadar “Rajamu sudah datang’. Dan Raja ini tidak klaim tahta dengan menang lewat militer, Dia tidak menang lewat kuasa senjata, tapi Dia menang lewat kerelaan untuk berkorban.
Harap hari ini kita sadar, kitalah tentara-tentara yang diutus duluan pergi sebelum Sang Raja itu datang. Dalam Alkitab dikatakan “ratakan tanah yang bergelombang, timbun yang tenggelam”, mengapa ditimbun? Karena Raja mau lewat. Siapa yang melakukan penimbunan, siapa yang potong tanah yang tidak rata? Kitalah orang itu, kita sedang persiapkan jalan bagi Kristus. Kalau Kristus datang dan jalan itu belum rata, betapa kita tidak bertanggung jawab. Tapi kita selalu disibukan dengan hal-hal yang tidak pernah berfokus kepada Kristus, seluruh kesibukan kita adalah untuk diri, seluruh kesibukan kita adalah untuk kerajaan kecil yang namanya diriku, keluargaku atau perusahaanku atau gerejaku, tapi kita tidak pernah pikir Allah yang mengutus Kristus, Dialah yang menjadi Raja. Maka mari mulai hari ini kita berjuang sebagaimana seharusnya. Yesus yang bangkit memanggil kita untuk mengatakan kemenangan bukan lewat senjata, kemenangan bukan lewat dukungan finansial, kemenangan bukan lewat kekuatan mengalahkan orang lain. Kemenangan adalah lewat taat kepada Tuhan. Mari belajar taat, belajar tunduk kepada Tuhan, mari rela jalani hidup yang makin menggenapi yang Tuhan mau dan kiranya Tuhan memberkati bumi ini dengan kemuliaan yang dinyatakan melalui anak-anakNya. Yesus bangkit dan Yesus memanggil kita untuk menang di dalam kebangkitanNya. Apakah Paskah itu? Paskah adalah merayakan ketika anak-anak itu boleh keluar. Anak-anak sulung Israel bebas dari kematian, karena Tuhan di padang gurun ingin mereka menjadi imam, Tuhan mau mereka menyembah Tuhan dan mengajar seluruh umat untuk kembali kepada Tuhan. Yesus mati supaya Saudara dan saya bebas dari maut. Untuk apa kita bebas dari maut? Supaya jadi imam yang menyembah Tuhan dan menyatakan ke seluruh dunia “sembahlah Tuhanmu, disitulah sukacitamu. Tunduklah kepada Kristus, disitulah damaimu yang sejati”. Mari bergabung di dalam pasukan yang akan menyatakan keagungan Kristus. Jangan malas, jangan terus dalam dosa, jangan terus diwarnai cita-cita palsu, tinggalkan semua dan sekarang ikut Kristus. Kiranya Tuhan mendorong kita untuk mengerti ini dan menjalankannya di dalam hidup.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 1 Apr 2016
Pelayanan yang Sejati
(Lukas 10: 38-42)
Cerita ini sangat terkenal karena seolah-olah mengajarkan kepada kita bahwa menjadi orang yang merenungkan sorga itu lebih baik dari pada orang yang melakukan aktivitas. Tapi ini bukan maksud dari perikop ini. Manusia sering berpikir bahwa segala tindakan yang sifatnya kerja, hal yang bersifat fisik itu hal yang terpaksa dilakukan. Mengapa bekerja? Supaya dapat uang, mengapa dapat uang? Supaya bisa makan, mengapa makan? Supaya bertahan hidup. Tapi mengapa hidup? Hidup itu menikmati jiwa yang sehat, jiwa yang menyenangkan, jiwa yang penuh dengan sukacita. Bagaimana jiwa penuh dengan sukacita? Dalam ajaran Plato, dia mengatakan sukacita hanya mungkin ketika kita merenungkan yang ideal. Kalau kita cuma pikir dunia ini, kita tidak mungkin sukacita. Jadi kebahagiaan jiwa dan kesempurnaan ada pada perenungan yang sempurna itu. Ini Plato, ini bukan Alkitab. Alkitab tidak pernah menghina pekerjaan, Alkitab tidak pernah menghina hal yang sifatnya duniawi, duniawi dalam pengertian hal yang bersifat pekerjaan atau pun aktivitas kita di bumi. Alkitab menghina dan menegur dosa. Tapi dosa tidak sama dengan hal yang sifatnya hidup di bumi ini. Ini sesuatu yang harus kita bedakan.
Alkitab memberikan pengertian yang sangat baik tentang bumi. Seorang teolog bernama David Ferguson mengatakan bahwa Tuhan ketika selesai mencipta, Dia mundur sedikit untuk menikmati ciptaan ini dan Dia mengatakan “sungguh amat baik”. Kalau Tuhan mengatakan seluruh ciptaan ini sungguh amat baik, maka kita akan bersalah kalau kita berani hancurkan ciptaan ini atau kalau kita menganggap ciptaan ini adalah sesuatu yang rendah dan cemar. Kita sering kali punya cara pikir yang salah yaitu kalau kita melayani di atas mimbar, kalau saya melayani di gereja, kalau memberitakan Injil, kalau menyatakan firman, itulah hal rohani. Kalau pergi ke kantor, pergi ke pabrik, pergi ke sekolah untuk mengajar, buka toko dan lain-lain, itu hal rohani yang jelek, ini bukan cara pikir Kristen. Salah satu tokoh yang menyelidiki di sini adalah seorang bernama Timothy Keller, dia membagikan 5 prinsip mengapa orang Kristen harus melihat kerja dari sudut pandang Kristen. Poin kedua sangat penting, dia mengatakan poin kedua itu berarti saya bekerja karena saya tahu yang saya kerjakan adalah perpanjangan tangan Tuhan, Tuhan sendiri bekerja melalui saya untuk memelihara ciptaanNya. Tuhan begitu mencintai ciptaan ini, maka Dia membangkitkan manusia untuk mengelolanya. Tuhan begitu mencintai sesama manusia untuk hidup di bumi ini, maka Dia membangkitkan manusia untuk boleh menunjang kehidupan dari sesamanya. Jadi Saudara bekerja karena Tuhan sedang kerjakan yang Saudara kerjakan. Entah Saudara buka toko, entah Saudara punya perusahaan, entah Saudara bekerja di kantor, entah Saudara bekerja sebagai pembantu, tukang bersih-bersih jalan atau apa pun, asalkan itu pekerjaan yang memberkati orang lain, ini adalah bagian karya Tuhan memelihara seluruh ciptaanNya. Jadi tidak ada bagian dalan Kekristenan yang memisahkan antara hal rohani dengan hal duniawi. Maka kerjakanlah pekerjaan Saudara setiap hari dengan satu kebanggaan besar bahwa Tuhan sedang pakai Saudara untuk memelihara ciptaanNya melalui yang Saudara kerjakan.
Di dalam Kitab Suci, Tuhan tidak pernah menghina pekerjaan yang berkait dengan hal di bumi, semua adalah milik Tuhan dan semua dikerjakan untuk Tuhan. Itu sebabnya bagian ini tidak bicara soal pembagian antara pekerjaan mulia dan tidak. Ayat ini sedang tidak bicara dengar firman lebih mulia dari pada kerja atau pelayanan, dengar firman lebih mulia dari pada beraktivitas fisik. Beraktivitas secara pikiran dan kontemplasi lebih mulia dari kerja fisik, bukan itu. Alkitab sedang tidak bahas itu. Tapi bagian ini sedang membahas timing, waktu engkau melayani, engkau melayani karena apa? Karena sudah ada waktu untuk mendengar dan sudah dipenuhi kasih kepada Tuhan. Jika kasih kepada Tuhan mendorong kita untuk melayani, maka pelayanan saya adalah pelayanan yang benar. Tapi kalau saya melayani karena dorongan yang lain, itu adalah pelayanan yang tidak benar. Itu sebabnya bagian ini menggambarkan Marta yang luar biasa ramah. Dia begitu peka sekali untuk ajak Kristus dan pengikutNya untuk datang ke rumahnya. Di dalam Kitab Suci di Perjanjian Lama, keramah-tamahan menjamu tamu atau orang asing itu sangat ditekankan. Saya yakin tidak ada budaya yang bisa seramah orang Israel kalau orang Israel taat firman dengan benar. Jangan pikir Perjanjian Lama tidak bicara apa pun tentang relasi dan lain-lain. Banyak hal di dalam Taurat tidak diulangi lagi dalam kitab Perjanjian Baru. Itu sebabnya kalau Saudara merasa “saya Kristen, kitab sucinya Perjanjian Baru, yang lama sudah berlalu yang baru sudah tiba”, Saudara akan temukan banyak hal di dalam Taurat tidak lagi diulangi dalam Perjanjian Baru karena memang penulis Perjanjian Baru rasa tidak perlu tulis apa yang Perjanjian Lama sudah tulis. Maka bagian tentang keramah-tamahan, tentang hospitality, tentang memperlakukan orang asing, tentang bagaimana peka dan cepat sekali menolong orang, itu ada dalam Perjanjian Lama dan banyak sekali penjelasannya. Perjanjian Baru memberikan rangkumannya.
Di dalam Taurat sudah dijabarkan kasih itu seperti apa. Ternyata Marta menjadi orang yang tetap menjaga tradisi ini. Begitu dia lihat Yesus dan rombongannya, dia undang mereka masuk. Dia tidak mengatakan “Yesus, Tuhanku, Guruku silahkan masuk, yang lain tunggu sebentar di luar. Kamu tidak saya percaya, hanya Yesus yang saya percaya”, tidak seperti itu, dia undang semua masuk. Jadi ini adalah perempuan yang baik karena dia menekankan keramah-tamahan yang menjadi satu ciri dari orang Israel untuk memperlakukan orang asing. Maka jadi orang Kristen itu bukan hanya mengerti Injil supaya masuk sorga. Kekristenan mengatur begitu banyak aspek hidup, bahkan yang paling kecil sekalipun. Saya heran ketika orang mengatakan untuk masuk sorga baca Alkitab, tapi untuk mengerti jiwa manusia, untuk mengerti ini dan itu mesti belajar yang lain. Tetapi meskipun kita tetap perlu belajar yang lain, prinsipnya sudah diatur oleh Kitab Suci. Dimana ada kitab yang memerintahkan umatnya untuk memberikan keramahan yang natural bahkan pengorbanan untuk orang asing? Baik sama orang yang kenal, sama kerabat, itu mudah. Tetapi Alkitab memerintahkan di dalam Perjanjian Lama untuk orang Israel terbiasa buka pintu bagi orang asing, terbiasa tinggalkan hasil ladang untuk orang miskin dan orang asing. Jadi orang asing punya tempat yang khusus. Bahkan Tuhan mengatakan “engkau harus perhatikan orang asing, karena dulu kamu pun orang asing ketika engkau tinggal di Mesir. Di dalam tradisi apa yang dilakukan Marta ini sangat terpuji. Dia lihat Yesus lewat, langsung dia buka pintu lalu mengatakan “silahkan masuk, saya sudah buatkan makanan untuk seluruh muridMu”. Jadi dia begitu ramah. Ketika murid-murid dan Yesus masuk, dia mulai melayani, tetapi ternyata bagian ini menunjukan motivasi pelayanan dia bukan kasih. Motivasi dia giat karena dia memang terbiasa giat, tapi dia merasa iri, merasa tidak sepantasnya kalau cuma dia yang kerja. Maka awalnya begitu baik sekarang mulai jadi negatif.
Di ayat 39 dikatakan Marta punya saudara bernama Maria, Maria duduk dekat kaki Yesus. Saudara sering lihat ada lukisan Yesus, ada Maria, lalu Marta sedang repot di belakang. Di bawah ada lukisan daging yang sampai sekarang orang tidak mengerti apa, itu lukisan gambaran kehidupan sehari-hari yang dilukiskan. Jadi ini adalah satu aliran yang berkembang, awalnya itu dari lukisan Last Supper-nya Da Vinci di Santa Maria delle Grazie, di Milan. Leonardo melukis di ruang makan, dan banyak anekdot tentang lukisan ini, ada yang bilang Yudas dan Yesus itu modelnya sama, 3 tahun kemudian dia menjadi pemabuk, dia menjadi Yudas, tapi ini tidak ada fakta benarnya. Lukisan ini sangat berpengaruh, salah satunya adalah latar belakang pemandangan, itu jadi lukisan landscape. Orang melukis pemandangan indah, itu berkaca dari lukisan ini. Lalu mulai lukis piring, anggur, buah, itu juga dari meja lukisan Last Supper, dimana Leonardo melukis ada makanan dan buah-buahan, jadi highlight terhadap lukisan ini. Dan itu menjadi trend baru di dalam zaman sebelum masuk zaman Barrock. Sebelum masuk zaman Barrock ada trend melukis bagian sorotan dari lukisan Leonardo ini, salah satunya adalah lukisan makanan. Jadi di bawah itu menggambarkan kefanaan, apa yang kelihatan begitu baik dan menonjol dalam lukisan itu, itu kelihatan fana. Sedangkan yang bagus dan kekal justru di belakangnya. Di belakangnya ada gambar Yesus, Marta dan Maria. Yesus sedang mengatakan kepada Marta yang perlu adalah mendengarkan firman, kira-kira seperti itu. Jadi Yesus adalah sumber hidup, yang tidak kelihatan di belakang. Sumber hidup yang kelihatan penting itu disorot di depan, itu makna dari lukisan di bawah. Di dalam lukisan itu juga digambarkan Yesus sedang menegur Marta dan memberikan petunjuk atau gerakan bahwa Maria yang bagus, dia pilih yang baik. Dan lukisan itu selalu menggambarkan hanya sedikit orang, tapi sebenarnya dalam setting ini banyak sekali orang yang ikut Yesus. Rumah ini penuh dengan orang dan orang-orang duduk di kaki Yesus. Jadi Maria bukan satu-satunya, dia salah satu dari yang lain. Yesus sedang kotbah. Sekarang kita tahu ternyata kalau Yesus kotbah, ada yang sibuk-sibuk sendiri, yang sibuk-sibuk itu yang problem. Marta begitu sibuk lalu dia lihat Maria tidak bantu. Biasanya kalau orang sudah mulai marah, kerjanya mulai diekstremkan. Mungkin Marta juga piringnya dibanting, potong keras-keran untuk tunjukan “cuma saya yang kerja, yang lain mana?”. Dia mulai marah melihat pada Maria dan dia pakai strategi hantam Maria pakai otoritas. Dia mengatakan kepada Yesus “Guru, apakah Engkau tega?”, dia memposisikan diri sebagai korban.
Dalam psikologi ada istilah narsisistik victim syndrome, orang yang kemana-mana rasa korban, bahkan dia pukuli orang pun dia yang merasa jadi korban, “mukamu membuat tanganku bengkak”. Ini narsisistik vicitm syndrome, apa-apa diri yang jadi korban, apa pun yang terjadi “I am only victim”, pokoknya saya begini karena lingkungan, saya begini karena orang tua, saya begini karena dosen, pokoknya semua salah, diri yang paling benar. Ini satu perasaan yang sangat jelek yang mesti kita lawan. Marta merasa dirinya korban, “kok tega saya diperbudak seperti ini?”, yang suruh dia kerja juga siapa? Tapi orang yang kerja dengan rela lalu setelah itu mengeluh selalu merasa diri diperbudak. Maka dalam keadaan ini dia pakai otoritas “Tuhan, tidakkah Engkau lihat saya sendiri kerja, saudaraku ini tidak”. Biasanya kakak adik selalu berantem. Mereka berantem lagi di sini dan Marta mengatakan “Tuhan, suruh Maria bantu saya, saya sendirian terus”, dia pikir Tuhan akan tolong, tapi Tuhan mengatakan “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dalam banyak perkara”. Yesus mengatakan “engkau kuatir dan terlalu banyak menyusahkan diri dengan perkara”, ada yang menafsirkan ini berarti Marta berlebihan dalam melayani. “Saya ingin menunjukan saya yang paling baik, saya paling hebat, kalau orang lain bikin tidak mungkin sehebat saya, kalau orang lain masak tidak akan seenak saya”, jadi Yesus mengatakan “kamu berlebihan”. Mengapa berlebihan? Hal simple di blow up cuma untuk menunjukan kalau kamu kerjakan lebih hebat dari yang lain. Ini mental pertama dari pelayanan yang harus kita waspadai. Kadang-kadang kita merasa “kalau saya yang urus pasti lebih baik, kalau orang lain yang urus pasti lebih jelek”. Maka giliran kita, kita mau spesialnya luar biasa. Yang aneh adalah kalau ternyata ini adalah pelayanan yang efeknya bukan utama tapi dijadikan utama.
Di dalam doktrin Tritunggal kita pelajari ini, jangan pikir doktrin tidak aplikatif. Di dalam doktrin Tritunggal kita tahu Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi masing-masing pribadi punya peran yang khusus pada satu periode. Pada waktu mencipta, Allah Bapa lah yang mendapatkan peran khusus, Dialah yang menjadi utama dibandingkan pribadi yang lain. Pada waktu penggenapan keselamatan, Kristuslah yang utama. Pada waktu penyebaran Injil ke seluruh dunia, Roh Kuduslah tokoh utama. Jadi masing-masing pribadi rela mundur dan menunjukan bahwa pribadi yang lain yang sekarang maju. Ini pengertian Tritunggal yang banyak sekali dibahas, tapi pada zaman abad 19, abad 18 lupa dibahas, itu sebabnya doktrin menjadi kering dan tidak aplikatif karena terus membahas pengertian Yunaninya, berdebat hanya di dalam konsep. Tapi masuk abad 20 orang mulai sadar doktrin Tritunggal adalah salah satu doktrin yang paling aplikatif. Bagaimana saya harus menonjol terus, sedangkan Allah Tritunggal pun mengijinkan pribadi lain maju dan Dia rela mundur. Yesus mengatakan “Marta, Marta, engkau berlebihan, engkau menyusahkan diri untuk membuat sesuatu yang berlebihan”. Bayangkan kalau orang tugasnya adalah menyapu ruangan, tapi dia mau jadi yang utama, sampai acara mau selesai, dia tetap sapu-sapu di depan. Bukan berarti tukang sapu tidak penting, dia sangat penting. Di dalam teologi kerja Martin Luther dikatakan melalui tukang sapu pun, Tuhan bekerja membuat ciptaan jadi lebih bersih, jadi ini pun dihargai Tuhan. Tapi ada peran, ada bagian, ada porsi. Dengan demikian Yesus mengatakan “engkau menyusahkan diri karena ingin mengambil posisi yang tidak semestinya”. Lalu posisinya seperti apa? Posisi sekarang seperti Maria yaitu mendengar. Apakah tidak boleh melayani? Boleh, tapi sekarang waktunya bukan untuk itu, sekarang waktunya untuk mendengar. Kalau semua orang mau bekerja berdasarkan waktu dia, semua jadi kacau. Yesus mengatakan sekarang waktunya dengar, kalau Tuhan sedang berfirman, dengar. Kalau Yesus menyatakan firman, ini tidak akan terulang, ini waktu krusial sekali. Itu sebabnya Maria, waktu dia melayani, akhirnya pelayanannya justru yang paling baik. Saudara pasti ingat di dalam Yohanes 12 ketika Yesus berkumpul di rumah yang sama, Maria datang dengan membawa buli-buli minyak wangi yang luar biasa mahal, dia pecahkan ujungnya kemudian dia siramkan ke kepala Yesus. Ini Maria yang mengurapi Yesus, bukan perempuan yang mengurapi kaki Yesus, ini 2 peristiwa yang menurut saya beda. Jadi Maria mengurapi kepala Yesus lalu Yudas mulai marah karena dia sok peduli orang miskin. Tapi setahu saya orang yang peduli orang miskin itu terlalu sibuk layani orang miskin sampai tidak ada waktu untuk lihat orang lain layani orang miskin atau tidak. Orang nganggur biasanya orang yang bisa lihat orang lain nganggur. Tapi orang yang sibuk kerja, bahkan dia tidak tahu kalau ada orang sedang nganggur. Bayangkan kalau ada orang “saya lihat kamu cuma berdiri di pojok dari menit 40-50, selama 10 menit kamu tidak melakukan apa-apa”, dia bisa balas “kamu juga tidak melakukan apa-apa, selama 10 menit cuma lihat saya yang tidak melakukan apa-apa”. Yudas tidak melakukan apa-apa, makanya dia peka bisa lihat “mengapa engkau tidak bantu orang miskin?”. Tapi banyak orang sudah bantu orang miskin tanpa diketahui, tanpa pamer. Mari kita belajar hal-hal seperti ini.
Waktu itu Maria justru tepat sekali, hanya dia yang tahu Yesus akan dimakamkan, hanya dia yang tahu Yesus akan disalib dan hanya dia yang persiapkan dengan menuangkan minyak ini. Mengapa dia bisa punya kepekaan seperti ini? Karena dia mendengar, setelah mendengar, dia mencintai Tuhan, setelah mencintai, dia peka terhadap apa yang harus dikerjakan. Itu sebabnya pelayanan yang baik bukan pelayanan yang ingin menonjolkan hasil pelayanan dia, menunjukan “kalau saya yang tangani akan lebih hebat dari yang lain”. Tapi pelayanan yang didorong oleh cinta untuk memuliakan Tuhan. Aku mencintai Tuhan maka aku melayani Tuhan, aku ingin nama Tuhan ditinggikan dan bukan aku. Ini yang membuat Maria mempunyai kepekaan itu dan kepekaan itu didapat karena mendengarkan firman. Mari kita dengar firman, menumbuhkan cinta kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan mendorong kita untuk melayani Tuhan. Ini yang akan membuat kita bertumbuh, ini yang akan membuat kita sungguh-sungguh mengerti apa pelayanan yang sejati itu.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 1 Apr 2016
Sudahkah saya menjadi sesama manusia
(Lukas 10: 25-37)
Seorang imam datang kepada Yesus, karena di dalam contoh atau di dalam cerita yang Yesus bagikan, Dia membandingkan antara orang Samaria dengan seorang imam, keturunan Lewi. Ini untuk menyindir orang yang bertanya, jadi dalam ayat 25 dikatakan “suatu kali berdirilah seorang Ahli Taurat”. Ahli Taurat adalah kelompok yang selidiki Taurat dengan setia dan banyak dari mereka adalah imam, untuk mencobai Yesus. Di dalam Lukas, orang mencobai Yesus untuk 2 hal, pertama mereka ingin Yesus menjawab lalu Yesus diserang karena jawaban itu, inilah mencobai. Jadi mereka sengaja pancing dengan pertanyaan yang menjebak. Tapi ada yang kedua, mereka bertanya untuk membenarkan diri. Jadi mereka bertanya untuk menunjukan “saya benar”, mereka bertanya supaya Yesus mengkonfirmasi yang dia katakan. Saya percaya orang ini adalah kelompok kedua, dia ingin Yesus mengkomfirmasi apa yang dia sudah ketahui. Maka dia datang lalu bertanya “Guru, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Kita seringkali membaca Kitab Suci hanya dalam kerangka satu model doktrin, pokoknya baca Alkitab selalu dengan kerangka doktrin keselamatan saja, sehingga kita membaca bagian-bagian yang akan mengganggu pengertian kita, sebab kita pikir ini bentur. Tetapi konteks yang dimaksudkan dalam Lukas 10 ini sedikit berbeda, sorotannya itu agak beda. Kalau orang Yahudi mengatakan “hidup kekal itu apa?”, Saudara jangan samakan hidup kekal dengan cara kita berpikir sekarang. Kita sayangnya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani, Plato mengatakan “hidup di bumi ini adalah hidup yang jelek, yang sempit, yang terbatas, tapi nanti kita akan mati, roh kita pergi ke atas lalu berdiam di dalam dunia ideal yang sempurna”. Kristen tidak mengenal ini, sama seperti Yahudi tidak mengenal ini.
Alkitab mengajarkan dalam Kitab Kejadian, Tuhan menciptakan tubuh, Tuhan menciptakan bumi, dan Tuhan akan pulihkan ini. Maka Tuhan menjanjikan Dia akan hadir memulihkan segala sesuatu dan memberikan umatNya tempat utama di bumi ini. Apakah buminya sama persis? Kita tidak tahu, tunggu nanti. Tapi di dalam bumi yang baru pasti kemuliaan Tuhan menjadi sempurna, tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi kejahatan, tidak ada lagi air mata. Kita akan hidup sebagaimana orang harusnya hidup di dalam kerangkan penciptaan yang Tuhan rencanakan. Inilah yang menjadi pengharapan orang Israel, kapan Tuhan akan pulihkan segala sesuatu. Tapi ternyata bukannya bumi pulih, Israel malah hancur. Setelah mereka dibuang, mereka sedih, sangat sakit, mereka memohon “Tuhan pulihkanlah kami kembali, berikanlah keselamatan yang Tuhan rencanakan”. Apakah keselamatan yang Tuhan rencanakan? Pemulihan segala sesuatu, inilah keselamatan yang Tuhan rencanakan. Jadi mereka rindu Tuhan memulihkan segala sesuatu supaya mereka pun dipulihkan sebagai umat Tuhan yang menikmati Tuhan dengan sempurna, tapi mereka malah dibuang. Itu sebabnya dalam pembuangan mereka rindu dipulihkan kembali, boleh dikembalikan. Daniel sudah meninggal hanya satu dua tahun Israel sudah pulih, Daniel tidak sempat lihat. Maka di dalam pasal 12 Tuhan mengatakan kalimat penting ini “Daniel, Aku akan pulihkan Israel tapi engkau akan tertidur”, maksudnya tertidur itu adalah mati. Tuhan mengatakan “engkau akan dikumpulkan bersama leluhurmu, engkau akan mati”. Maka bagi Israel, keselamatan mempunyai poin yang penting dalam ayat ini, yaitu orang yang menantikan Israel pulih akan mati kalau belum waktunya pulih, tapi jiwanya akan dipelihara Tuhan sehingga dia seperti hanya tidur. Inilah konsep yang dimiliki Paulus, Paulus mengatakan “saudara kita yang tertidur”, itu diambil dari sini. Berarti bagi orang Kristen sama, mati itu adalah tidur. Tidur sementara lalu bangun lagi, seluruhnya sudah pulih, ini luar biasa indah. Saudara bayangkan, kalau Saudara mau mati “Tuhan, sebentar lagi saya akan tertidur, tapi nanti Engkau akan membangunkan saya dan menunjukan pekerjaanMu sudah genap”. Ada seorang teolog menulis begitu “nanti pada saat aku akan meninggal, aku akan berkata kepada Tuhan: Tuhan, saya akan tertidur, begitu nanti saya bangun, saya akan melihat apa yang saya perjuangkan sudah Tuhan selesaikan”. Saudara yang sekarang berjuang dalam mandat Injil, mandat budaya, kemudian mati, setelah itu bangkit, lihat semuanya sudah beres. Tapi ketika kita mati, sebelum bangkit, apakah jiwa kita tertidur, tidak sadar? Tidak. Yohanes Calvin menulis buku untuk menentang ajaran yang kalau kita mati itu kita sedang tidur, jadi begitu mati langsung tidur, tidak sadar, waktu berlalu cepat, tiba-tiba kerajaan yang baru itu sudah datang. Tapi Calvin bilang itu bukan ajaran Alkitab, Alkitab tidak mengajarkan kalau kita mati, jiwa kita tidur. Alkitab mengajarkan kalau kita mati, jiwa kita dikumpulkan oleh Tuhan bersama dengan Tuhan. Lalu jiwa kita dikumpulkan melakukan apa? Jiwa kita di sorga melakukan apa? Mengapa Alkitab bahas bumi terus, jarang bahas sorga? Karena memang tujuan kita di bumi. Lalu kita di sorga melakukan apa?
Di dalam Kitab Wahyu ada bagian yang sangat menarik. Maka Herman Bavinck menulis dalam bukunya Reformed Dogmatic yang judulnya The Last Things. Dalam The Last Things, Bavinck mengatakan di sorga roh kita berdoa kepada Tuhan. Pokok doanya adalah “berapa lama lagi sebelum Engkau pulihkan segala sesuatu?”. Jadi jangan salah, yang doa syafaat adalah kita di bumi dan mereka yang di sorga. Mengapa di sorga masih berdoa? Bukankah di sorga sudah final? Belum. Jadi kita harapkan kebangkitkan tubuh, bukan hidup di sorga. Wahyu mengatakan Tuhan turun ke bumi. Jadi waktu Tuhan Yesus turun ke bumi, kita diangkat ke atas, sudah sepi di atas. Harapan yang dicatat dalam Alkitab itu konsisten, Tuhan memulai di bumi dan mengakhiri dengan bumi yang baru. Tuhan bekerja dari sorga ke bumi dan diakhiri dengan Tuhan turun dari sorga ke bumi. Coba lihat penciptaan, hari pertama atas, Tuhan menciptakan terang, hari kedua menengah, cakrawal, hari ketiga bawah, hari keempat Tuhan penuhi dengan bintang-bintang, atas, setelah itu Tuhan membuat benda-benda yang terbang, binatang yang terbang, menengah, cakrawala, setelah itu Tuhan buat manusia dan hewan, bawah. Jadi dari atas menuju bawah, ini yang dipahami Yohanes 1. Maka Yohanes mengatakan terang itu turun dan di dalam Wahyu penggenapannya, Yesus Kristus turun. Tuhan menyatakan dalam Daniel 12, hidup kekal adalah “Aku akan pulihkan Israel tapi kamu akan tidur. Jiwamu akan dikumpulkan bersama dengan nenek moyangmu”, Tuhan mau Daniel tunggu dulu di situ. Maka dalam konsep Israel, hidup yang kekal adalah milik orang-orang yang baik, yang benar, yang oleh mereka Tuhan akan pulihkan bumi, seperti Daniel. Siapa yang dapat hidup kekal? Daniel, karena Daniel adalah orang yang benar sehingga Tuhan mau pulihkan Israel. Israel banyak orang yang jahat, banyak penyembah berhala maka Tuhan buang mereka.
Tetapi Tuhan juga pertahankan masih ada orang yang tetap setia kepada Tuhan. Jadi Tuhan masih pelihara kaum remnant atau kaum sisa. Nama ini kurang bagus, kaum sisa, tapi maksud nama ini adalah kelompok kecil dari mayoritas yang sudah serong. Mayoritas sudah serong, tapi kelompok kecil ini membuat Tuhan masih ingat akan janjiNya kepada Israel. Tuhan mau buang Israel, tapi begitu lihat kelompok ini Tuhan mengatakan “Aku akan pulihkan engkau”, maka di Babel, Tuhan lihat Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan seluruh orang yang masih beribadah kepada Tuhan. Dan Tuhan mengingat janjiNya. Inilah orang-orang yang mendapatkan hidup kekal itu, yaitu orang-orang yang mempertahankan hidup yang bersih sehingga Tuhan janjikan akan pulihkan Israel. Waktu Israel akhirnya pulih, dalam abad ke-1, mereka tetap hidup dengan sulit karena meskipun sudah kembali hidup di Kanaan, masih ditaklukan oleh kerajaan lain. Maka mereka tunggu “Tuhan, kapan kerajaan ini akan dipulihkan?”. Dan banyak orang baik yang rasa diri baik, banyak orang sombong yang rasa diri baik, itu mereka merasa adalah kaum remnant. Jadi di dalam Israel banyak kelompok-kelompok kecil yang merasa “kamilah orang remnant itu, kamilah yang berjasa sehingga Tuhan akan pulihkan kerajaan ini”. Inilah kelompok yang merasa dirinya adalah kaum remnant. Lalu apa yang boleh diperoleh kaum remnant ini, kaum sisa? Kaum remnant ini boleh memperoleh hidup kekal, menantikan Tuhan memulihkan Israel. Waktu mereka dibangkitkan, Israel sudah pulih.
Sekarang banyak perdebatan dalam abad itu, siapakah kaum remnant? Orang Farisi mengatakan “kamilah kaum remnant”, orang Saduki mengatakan “kami”, tapi orang Farisi mengatakan “bukan kamu, kamu sudah kompromi sama yang lain”. Tapi dalam Farisi sendiri banyak perpecahan, maka orang-orang selalu mengklaim “kelompok kamilah kaum remnant, kamu bukan”. Semua kelompok pro pada kelompok sendiri dan hina kelompok lain, “tahu tidak, Tuhan akan pulihkan Israel karena kelompok kami, bukan kelompok kamu. Kelompok kami yang setia”, maka mereka berdebat siapa yang lebih setia, inilah yang dibawa orang ini kepada Yesus untuk mencobai Dia. Kelompok mana yang Tuhan akan pertahankan untuk menjadi kelompok yang akan memulihkan Israel. Jadi apakah kami atau mereka, kelompok mana yang Tuhan sayang sehingga Tuhan akan pulihkan Israel? Ini yang kira-kira dia pertanyakan, bagaimana memperoleh hidup yang kekal, apa yang harus diperbuat? Ini bukan pertanyaan yang tulus karena ini mencobai Yesus, ingin mengkonfirm bahwa yang sudah dia ketahui itu yang benar. Maka Tuhan sudah tahu niat ini, balik tanya ke dia “menurutmu bagaimana?”. Orang yang mau membenarkan diri paling senang kalau ditanya “menurutmu bagaimana?”. Yesus bertanya “apa yang tertulis di dalam Taurat”, jawab orang itu “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi, kasihilah sesamamu manusia seperti diri sendiri”. Ada aliran-aliran dalam Yahudi untuk merumuskan Taurat itu yang penting yang mana, yang paling populer yang merumuskan 10 Hukum. Taurat yang paling utama adalah 10 Hukum, tapi ada seorang rabi yang penting sekali di dalam abad ke-2 sebelum Masehi. Dia mengeluarkan ajaran begini yaitu hukum paling utama ada di Imamat 19 dan Ulangan 6. Lalu Yesus mengatakan “benar”, jadi Yesus tidak kutip, tidak menjadi murid rabi ini, tapi membenarkan ini ajaran yang benar. Maka Yesus tanya “menurutmu bagaimana?”, “yang penting itu kasihi Tuhan, kasihi sesama, dalam 2 hukum ini terkandung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi, inilah yang paling penting”, Yesus menjawab “benar katamu”, ini konfirmasi Yesus kepada orang ini. Yesus tidak ingin terlalu banyak diskusi dengan dia, pokoknya dia sudah dapat, sudah mengerti, dan tinggal jalankan. Tapi orang ini ingin sindir, sekarang dia ingin serang Yesus, orang itu mengatakan “Engkau sudah mengkonfirmasi yang saya katakan adalah benar, sekarang saya ingin tanya, sesamaku itu siapa? Karena kami ini orang remnant, kelompok sisa, kami hanya boleh mengasihi yang sesama setia kan? Kami memarahi orang yang tidak setia, kami usir orang yang tidak setia, karena gara-gara mereka Israel dihancurkan. Sekarang karena kami ada maka Israel akan dipulihkan, maka kami harus mengasihi sesama kami”. Maka Dia mau tegaskan sesama itu bukan pemungut cukai, sesama itu bukan pelacur, sesama itu bukan yang Yesus sering diundang makan dan Yesus mau. Maka dia balik serang Yesus dan bertanya “siapa sesama? Boleh Engkau jelaskan siapa sesama?”. Maka karena serangan ini Yesus balik memberikan cerita yang kembali menyerang orang itu.
Kemungkinan orang ini adalah seorang imam, maka Yesus pun cerita yang memberikan sisi negatif tentang imam. Mari kita lihat ayat 30, Yesus menjawab dengan cerita, orang ini tanya “siapa sesamaku manusia?”, jawab Yesus “ada seorang turun dari Yerusalem ke Yerikho”. Yesus memulai ceritanya dengan satu tokoh yang tidak penting, karena orang ini tidak penting, identitasnya pun tidak diceritakan. Salah satu petunjuk orang itu penting atau tidak, identitasnya diceritakan atau tidak. Yang unik dalam Injil Lukas adalah Yesus diceritakan identitasnya sebagai yang kurang penting. Lalu dikatakan ia jatuh ke tangan perampok yang menyamun, memukul dan meninggalkan dia setengah mati. Kasihan orang ini, tapi ayat selanjutnya mengatakan ada imam turun melalui jalan itu. Ini kemungkinan adalah satu setting dimana orang baru selesai ibadah di Yerusalem lalu ingin pulang. Jadi selesai ibadah di Yerusalem sekarang perjalanan pulang, makanya ada imam yang lewat jalan yang sama. Tetapi herannya adalah orang yang pertama ini dirampok. Mengapa orang ini dirampok? Karena dia sambil pergi ibadah sambil jualan. Hanya pedagang yang dirampok. Langsung tahu tersiratnya di sini. Maka kalau kita tidak tahu latar belakang, kita lewatkan, cuma baca ini begitu saja, kita tidak tahu bahwa dia adalah orang yang beribadah sambil dagang. Terus sudah dapat untung, kemudian dirampok. Maka kalau orang Farisi dan imam baca ini “puji Tuhan, keadilan Tuhan dinyatakan”, lalu jadi bahan kotbah minggu depan.
Lalu ini sangat provokatif, datanglah orang Samaria. Siapa orang Samaria? Saudara kalau berpikir Israel dibuang karena menyembah berhala dan ini gara-gara Samaria. Kalau Tuhan pulihkan Israel gara-gara orang remnant, maka Samaria itu antitesisnya remnant. “Saya remnant, gara-gara saya Tuhan masih kasihan sama Israel. Karena ada orang yang seperti aku, mirip Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, maka Tuhan masih kasihani. Tapi gara-gara Samaria, kita dibuang ke babel. Jadi jangan bilang nama itu di depan saya”. Lalu orang Samaria itu lihat orang ini sudah luka, langsung dia tolong, kasi obat, dan dia kasi anggur. Beri minyak adalah standar paling kecil untuk menyembuhkan orang, tidak perlu tambahan anggur. Tapi orang ini beri paling baik, kasi minyak, kasi anggur untuk sembuhkan orang ini supaya tidak infeksi dan lain-lain. Lalu baik-baik balut dia, taruh di atas keledai, dia bawa ke tempat di mana orang ini bisa istirahat. Sudah sampai di situ, dia bayar jumlahnya, lalu bilang “kalau kurang, saya ganti”. Orang ini baik sekali, dia tidak tanya orang ini siapa, dia tidak tanya mengapa dia dirampok, hatinya tergerak oleh belas kasihan, langsung tolong. Maka Tuhan Yesus tanya di ayat 36, pertanyaan ini akan mengubah kita tentang paradigma kasih. Ayat 36 Yesus mengatakan “siapakah diantara ketiga orang ini menurut pendapatmu adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”, di sini Yesus membalikan konsep berpikir. Di dalam pertanyaan awal, imam itu bertanya “siapa sesamaku manusia?”, dia langsung asumsikan dirinya adalah orang yang baik, dirinya adalah manusia, dan dia mesti lihat siapa, “siapa yang layak aku sebut sesamaku manusia?
Pertanyaan Yesus adalah “dari 3 ini, yang mana yang sesama manusia bagi si korban”, cara berpikirnya dibalik. Ini namanya revolusi, revolusi itu ketika cara berpikir dibalik, bukan metode diubah. Mau metode diubah tapi cara berpikirnya tetap sama itu tidak ada gunanya. Orang Samaria itu melihat orang yang luka dan mengatakan “orang ini penting, saya tidak tahu siapa dia, tapi saya tahu dia lebih penting dari saya karena itu saya tolong dia”. Karena Yesus pun melihat kita dan mengatakan “engkau adalah kelompok orang yang penting. Aku rela kosongkan diriKu supaya engkau selamat. Aku tolong engkau karena engkau penting, berharga”, tapi yang bilang ini adalah Yesus, yang kauh lebih penting dari kita. Maka kita tidak punya alasan untuk tidak melakukan apa yang Dia mau. Setelah kita mengerti ini, baru kita bisa menangkap apa yang Yesus mau ajarkan secara total. Jadi imam ini mengatakan “kami kelompok eksklusif itu, kami yang sudah selamat”. Yesus bilang “kalau benar engkau yang sudah selamat, ciri orang atau kelompok yang sudah selamat adalah selalu pikirkan kelompok yang lain lebih penting dari kelompok sendiri”. Jadi kamu mau tahu siapa sesamamu manusia, kalau engkau mau tahu siapa sesamamu manusia, mungkin engkau bukan kelompok yang sudah selamat itu. Tapi kalau engkau terlalu concern untuk melihat bagaimana aku menjadi sesama manusia bagi yang lain, barulah engkau bisa disebut sebagai kaum remnant yang memberkati orang lain. Kaum remnant adalah kelompok yang ikut dibuang meskipun mereka tidak salah. Kaum remnant adalah orang yang beroda bagi orang lain, meskipun mereka tidak terlibat dengan dosa orang lain. Kaum remnant itu adalah orang yang tidak lelah mengajak orang lain bertobat meskipun orang lain sudah menghina Tuhan dan mengkhianati. Kaum remnant bukan kelompok eksklusif yang memisahkan diri dari dunia. Kaum remnant adalah yang terjun ke dalam dunia dan mengatakan “dunia penting bagi saya, engkau penting maka harus selamat”. Saudara mengapa menginjili? Karena orang lain penting. Maka kiranya Saudara belajar mengasihi dengan benar, dengan cara memberikan shift dari pusat ke diri menjadi pusat ke orang lain. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan kita.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 1 Apr 2016
Pekerjaan Roh Kudus
(Lukas 10: 17-24)
Apakah yang dimaksud dengan diurapi oleh Roh Kudus? Diurapi Roh Kudus adalah sesuatu yang tadinya ada pada Kristus tapi yang diberikan kepada umat Tuhan karena semua umat yang percaya kepada Kristus ada di dalam Kristus. Jadi siapakah dia yang berhak dipimpin, dipenuhi oleh Roh Kudus? Kristus. Lalu mengapa kita berhak juga? Karena Kristus yang memberikan kepada kita. Seorang bapa gereja bernama Ireneus, dia mengatakan bahwa Kristus menerima Roh Kudus, lalu Kristus membagikan Roh Kudus itu kepada umatNya. Maka relasi Tritunggal adalah relasi yang menerima, kemudian memberikan. Dan karena kita berbagian di dalam Kristus maka kita pun boleh berbagian di dalam proses menerima dan membagikan ini. Ini keindahan yang luar biasa, Bapa memberikan Roh Kudus kepada Anak, lalu Anak memberikan Roh Kudus kepada orang percaya. Itu sebabnya dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus di dalam kehidupan di dunia ini adalah sesuatu yang ada pada Kristus dan yang menjadi milik orang Kristen, karena kita ada di dalam Kristus. Sebab itulah Paulus terus mengingatkan orang Kristen harus senantiasa dipenuhi Roh Kudus.
Mengapa dipenuhi Roh Kudus? Karena Kristus dipenuhi oleh Roh Kudus, dan orang percaya harus meneladani cara hidup yang dimiliki oleh Kristus. Itu sebabnya kita harus senantiasa hidup dipenuhi Roh Kudus. Banyak orang Kristen mengawasi diri supaya tidak jatuh dalam dosa-dosa yang jelas merupakan dosa. Tapi tidak banyak yang peka untuk hal-hal yang tidak terlalu jelas sebagai hal yang membahayakan. Salah satu yang diabaikan adalah penuh dengan Roh Kudus, orang Kristen sering mengabaikan perintah harus dipenuhi oleh Roh Kudus. Sehingga banyak orang sudah menjalani hidup, asalkan tidak melanggar secara etika, asalkan tidak salah secara dosa, “saya sudah baik”. Tapi pertanyaannya “adakah kamu dipenuhi Roh Kudus?”, “apa itu dipenuhi Roh Kudus? Saya bahkan tidak tahu ada Roh Kudus yang memenuhi”, kalau kita tidak tahu, kita mesti cari tahu apa maksudnya ini karena Alkitab sangat menekankan kehidupan orang percaya, harus dipenuhi Roh Kudus. Banyak orang merasa sudah dipenuhi Roh Kudus, tapi konsep penuh Roh Kudus-nya rusak luar biasa. Di dalam Kitab Suci tidak menjelaskan kalau orang penuh dengan Roh Kudus itu hanya dimanifestasikan di dalam hal-hal yang sifatnya fisik. Tidak pernah dikatakan di dalam Alkitab bahwa orang yang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang bertingkah aneh, yang tidak terkontrol, dan yang tidak bisa diterima oleh pendapat umum. Ini tidak benar. Roh Kudus adalah Roh dari Allah yang agung dan pekerjaanNya adalah pekerjaan yang agung. Setiap kali pekerjaanNya dinyatakan dengan cara yang membuat orang menghina, itu adalah penghujatan. Itu sebabnya waktu Alkitab mengatakan “hendaklah kamu dipenuhi oleh Roh Kudus”, mari kita berpikir, mari kita cari, mari kita selidiki, mari kita pahami dengan hati apa yang Alkitab sedang katakan tentang kepenuhan Roh Kudus.
Penuh dengan Roh Kudus adalah penuh dengan perasaan yang penuh kekaguman kepada Tuhan, perasaan yang gampang digerakan oleh Tuhan, perasaan yang penuh dengan kerinduan dan kekaguman kepada Tuhan. Apa pun tentang Tuhan yang Tuhan nyatakan itu akan menggerakan gairah dan cinta kasih kepada Tuhan, inilah hal yang penting dari kepenuhan Roh Kudus. Dan pada bagian ini di dalam Injil Lukas, Lukas mencatat Yesus Kristus dipenuhi Roh Kudus dan Dia mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam bagian sebelumnya, Lukas mencatat Maria dipenuhi Roh Kudus dan dia mengucapkan magnificat. Bagian lain dari Kitab Suci, orang dipenuhi Roh Kudus dan dia mulai berpuisi lalu mengucapkan sajak, mengucapkan perkataan yang meninggikan nama Tuhan. Alkitab mencatat setiap orang yang dipenuhi Roh Kudus akan menyaksikan perbuatan Tuhan, membuat orang mengenal siapa Tuhan dengan pengertian. Itu sebabnya pada bagian ini pun Lukas mencatat Yesus dipenuhi Roh Kudus dan Dia berdoa dengan menyatakan kalimat yang sangat mengagungkan pengucapan syukur kepada Tuhan. Hari ini kita akan lihat apakah yang dimaksudkan dengan dipenuhi Roh Kudus yang menyebabkan Tuhan Yesus bergembira dan mengucap syukur kepada Allah. Di dalam ayat 21 dikatakan “pada waktu itu juga bergembiralah Tuhan Yesus dalam Roh Kudus dan berkata Aku beryukur kepadaMu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”.
Hal pertama yang diajarkan pada bagian ini adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang bersukacita melihat pekerjaan Tuhan, meskipun pekerjaan itu dinyatakan kepada orang lain. Pada bagian ini Yesus Kristus mengirim murid-murid, lalu mereka kembali. Waktu mereka kembali, mereka bagikan cerita sukses pelayanan yang begitu besar “kami menjangkau kota ini dan kami diterima. Tuhan, setan pun lari karena namaMu. Semua orang percaya, banyak orang terima Engkau. Pelayanan kami sangat diberkati”. Tapi pada ayat 13-16, Yesus mengatakan “celakalah Khorazim, celakalah Betsaida dan lain-lain”, ini menunjukan waktu Yesus melayani di kota-kota ini banyak pemimpin dan juga orang-orang yang mengaku diri beragama, menolak Yesus. Pelayanan Yesus ditolak, tapi murid-murid menyebar ke puluhan kota dan mereka diterima. Lalu mereka kembali dan mengatakan “Tuhan, bahkan setan pun takut akan namaMu”, jadi mereka mengerjakan apa yang Bapa nyatakan kepada mereka untuk mereka kerjakan. Tapi Yesus mengingatkan mereka “jangan senang karena prestasi rohanimu, jangan senang karena apa yang sudah kamu capai, jangan senang karena seberapa besar pekerjaan yang sudah dilakukan, berapa banyak jiwa sudah dibawa, berapa banyak prestasi sudah dibuat”. Inilah hal yang membuat kita mengerti apa itu dipenuhi Roh Kudus. Dipenuhi Roh Kudus berarti bisa menikmati dengan limpah dan bersyukur dengan besar waktu Tuhan menyatakan pekerjaanNya bagi orang lain. Di sini Yesus tidak menjadi tokoh utama dalam pelayanan karena Dia tunggu murid-murid datang, murid-murid berikan laporan “kami sudah kerjakan ini”, sehingga yang jadi sorotan adalah pekerjaan para murid. Dan Yesus bersukacita meskipun dalam bagian ini Dia bukanlah yang menajdi sorotan. Ini konsep penting yang harus kita pahami, kalau Saudara dipenuhi Roh Kudus, Saudara begitu senang pekerjaan Tuhan meskipun itu tidak berkait langsung dengan diri Saudara. Banyak orang senang kalau dirinya terlibat, banyak orang senang kalau dirinya jadi sorotan, banyak orang senang kalau dirinya jadi spotlight. Tapi heran, pada bagian ini yang jadi spotlight adalah para murid dan Bapa. Yesus mengatakan “Aku bersyukur kepadaMu Bapa karena Engkau mengasihi mereka. Aku yang melihat kasihMu kepada mereka”, ini pengertian yang indah sekali. Seorang bernama Richard dari Saint Victor di abad ke-13 akhir mengatakan bahwa Allah Tritunggal menjadi prinsip dasar untuk relasi. Karena di dalam Tritunggal orang bisa menikmati kasih, pribadi bisa menikmati kasih dari pribadi satu ke pribadi dua. Jadi pribadi Bapa bisa menikmati kasih antara Anak dan Roh Kudus, pribadi Anak bisa menikmati kasih antara Bapa dan Roh Kudus, dan pribadi Roh Kudus bisa menikmati kasih antara Bapa dan Anak. Maka menikmati apa yang Tuhan kerjakan tidak harus diri kita ada di spotlight. Zaman ini adalah zaman dimana orang dituntut terus untuk jadi yang paling penting, paling hebat, paling inti, paling jadi spotlight. Kalau kita gagal jadi pusat, maka kita gagal jadi orang. Tapi prinsip Alkitab tidak begitu, prinsip Alkitab mengatakan kalau pun kita ada di pinggir, kita bisa bersukacita melihat apa yang Tuhan kerjakan kepada orang yang jadi sorotan. Kalau kita mau jadi sorotan terus, berarti kita punya kerohanian yang masih kerdil. Dan pada bagian ini pun Yesus rela jadi penonton, Dia menonton Allah Bapa mengasihi murid, lalu Dia bersyukur karena Dia bisa melihat hal ini. Ini luar biasa agung. Mari kita belajar kerohanian yang agung ini, mari kita lihat Tuhan memberkati orang lain dan kita bersyukur. Tuhan memberkati orang lain dan kita senang sebagai orang yang menonton, senang melihat Tuhan memakai orang lain. Tidak perlu harus di dalam spotlight dulu baru menikmati anugerah Tuhan. Maka orang dipenuhi Roh Kudus, dia bisa bersyukur untuk pekerjaan Tuhan bagi orang lain. Yesus mengajarkan bahwa penuh dengan Roh Kudus berarti bersukacita melihat Tuhan bekerja meskipun memakai orang lain dan tidak berkait dengan saya. Dan ini yang Yesus kerjakan “Aku bersukacita kepadaMu ya Bapa, karena Engkau menyatakan kepada orang-orang ini meskipun mereka kecil”. Ini hal pertama.
Hal kedua, Yesus Kristus dipenuhi Roh Kudus, Dia berdoa kepada Bapa dan mengatakan “Tuhan langit dan bumi, Aku bersyukur kepadaMu karena semua Engkau nyatakan kepada orang kecil, ya Bapa itulah yang berkenan kepadaMu”. Yang menjadi pertanyaan apakah Tuhan tidak tahu bahwa Bapa akan panggil orang kecil ini? Yesus bukan saja tahu, tapi Dia dipakai Bapa untuk menjalankan ini, memanggil orang-orang kecil ini. Jadi Yesus bersukacita untuk hal yang Dia sudah tahu. Tapi meskipun Dia sudah tahu, Dia mengalami sukacita yang besar waktu Dia menyaksikan itu lagi. Maka ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus, dia akan bersukacita untuk apa yang Tuhan nyatakan meskipun dia sudah tahu. Banyak orang datang ke gereja, terutama orang Reformed, mau dengar kotbah yang baru, yang heboh, ada sesuatu pengetahuan yang baru ditambahkan. Kalau Saudara dengar kotbah dan mengatakan “Saya sudah tahu semua”, akhirnya ditanya “kotbahnya bagus tidak?”, “pengulangan, saya sudah tahu”. Kita maunya sesuatu yang baru. Saya mau tanya, bisakah kita menikmati sesuatu yang sudah kita tahu? Bukan hanya bisa, tapi sering. Ini juga yang sering dialami kalau Saudara pandang wajah suami atau istri. Saudara pandang wajah kekasih atau suami atau istri, lalu Saudara tidak mengharapkan yang baru kan? Saudara sudah tahu wajahnya seperti apa, tapi Saudara tetap punya kesenangan untuk melihat. Waktu melihat wajahnya, wajah yang sama, yang sudah puluhan tahun Saudara lihat, Saudara hafal. Saudara tidak mungkin lihat lalu mengatakan “wah, kali ini ada hidung ya, kemarin belum ada, seru lihat wajahmu”, tidak. Saudara mengharapkan melihat wajah yang sama, tapi ada perasaan sukacita yang muncul. Hal yang sama ketika melihat pekerjaan Tuhan. Yesus sudah tahu orang-orang ini akan dipanggil Bapa, Yesus sudah tahu orang-orang ini yang akan mendapatkan kasih Bapa. Tapi ketika itu dinyatakan hatiNya penuh dengan ucapan syukur dan gembira. Mari kita belajar menikmati meskipun kita sudah tahu, tapi kita tahu ini mengaitkan kita kepada Tuhan, ini merupakan sesuatu yang saya senangi lagi. Baca Alkitab, tidak mungkin ada bagian yang berubah, Lukas 9 akan selalu begini, Lukas 10 akan selalu begini, tidak akan berubah. Tapi waktu kita baca selalu ada kesenangan yang baru, hal yang sama diterima dengan kesenangan yang baru, itulah yang baik. Maka Roh Kudus kalau memenuhi seseorang, hal yang lama pun selalu terasa fresh, kalimat yang sama selalu terasa segar, berita Injil yang sama selalu terasa segar di hati. Mengapa terasa segar di hati? Karena ada kuasa Roh Kudus yang memberikan kelimpahan waktu roh itu memenuhi kita. Itu sebabnya Paulus mengatakan “hendaklah kamu terus dipenuhi roh”. Saudara menyanyikan lagu yang sama tapi terus ada perasaan limpah yang sama. Perasaan limpah yang sama dialami ketika awal menjadi Kristen. Banyak orang Kristen di awal begitu semangat, tapi di pertengahan dan akhir menjadi begitu lesu. Di awal menggebu-gebu melayani tapi di akhir makin surut dan akhirnya tidak ada gairah melayani Tuhan. Waktu kita dipenuhi Roh Kudus hal-hal seperti itu tidak akan ada. Itu sebabnya mari kita minta kepada Tuhan “Tuhan, penuhi kami dengan RohMu yang kudus supaya ketika saya melihat FirmanMu saya tidak bosan, waktu saya mendengar seruan yang menyatakan suara Kristus, saya penuh kelimpahan di dalam hati”.
Hal ketiga, waktu Roh Kudus memenuhi Kristus, Roh Kudus mengingatkan murid-murid melalui Kristus bahwa anugerah Injil yang mereka terima adalah anugerah yang begitu besar dan tidak layak mereka dapatkan. Dipenuhi Roh Kudus justru membuat kita sadar besarnya Tuhan dan kecilnya saya. Yohanes Calvin mengatakan mengenal diri itu baru benar kalau kita juga mengenal Tuhan. Dan waktu kita mengenal Tuhan dengan kebenaran dan kekudusanNya, baru kita sadar berapa kecil dan cacatnya kita. Itu sebabnya ketika Roh Kudus penuhi seseorang,. Roh Kudus akan buka mata orang itu untuk melihat kekudusan Tuhan dan menyadari jeleknya dan kotornya diri. Roh Kudus itu bukan roh motivational speaker, orang yang bicara motivasi selalu menekankan kehebatan diri, “kamu sebenarnya bisa, di dalam dirimu ada yang belum digali, kamu harus percaya dirimu, kamu harus yakin”. Ini yang jadi kunci. Saudara jangan pikir diri hebat, diri besar, Roh Kudus penuhi Saudara, langsung Saudara sadar “saya ini nothing”. Roh Kudus penuhi Saudara, langsung sadar saya bukan siapa-siapa, saya tidak layk. Maka waktu Roh Kudus penuhi Kristus, langsung Kristus katakan kepada para murid “kamu orang kecil, kamu bukan raja, kamu bukan nabi. Tapi Allah menyatakan Aku kepadamu”, inilah pesan Roh Kudus melalui Kristus. Roh Kudus tidak membuat Kristus merasa kecil. Tapi Roh Kudus memenuhi Kristus, langsung berpesan kepada muridNya adalah sadari siapa dirimu, engkau orang yang tidak layak tapi mendapatkan berita besar dari raja-raja dan nabi. Di dalam Perjanjian Lama, nubuat tentang Yesus diberikan Tuhan kepada nabi dan raja. Nabi dan raja, dua golongan ini adalah golongan peling terhormat di Perjanjian Lama. Tuhan tidak berikan berita nubuat Injil kepada orang biasa. Di dalam Perjanjian Lama hampir semua tokoh adalah orang penting, hanya sedikit yang adalah orang biasa. Sebaliknya dalam Perjanjian Baru, semua tokoh adalah orang biasa, hanya sedikit yang orang penting. Ini pembalikan yang luar biasa. Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan panggil Daud, Musa, Abraham, semua orang-orang yang jadi besar. Dan mereka mewarisi nubuat bahwa Yesus akan datang. Tetapi ketika Yesus datang, Tuhan sampaikan ke gembala, Tuhan sampaikan ke seorang muda namanya Maria, Tuhan sampaikan kepada orang-orang kafir, yaitu orang-orang di daerh Persia, oarng-orang Majus. Jadi ada pembalikan yang luar biasa di sini. Pesan yang dinubuatkan kepada raja dan nabi sekarang setelah genap, justru diberikan kepada orang-orang yang tidak layak. Maka Roh Kudus kalau memenuhi kita, kita akan tahu “ini siapa? Mengapa pesan yang Tuhan yang dinubuatkan lewat Daud digenapi dan saya bisa tahu”. Berita yang hanya diberikan kepada orang besar, waktu sudah genap sekarang diberikan kepada orang kecil. Bagian ini Yesus mengatakan “berbahagialah kamu, kamu lihat Kristus, yang kamu lihat adalah hal yang nabi dan raja ingin lihat”. Ini juga kalimat penting sekali. Banyak nabi dan raja ingin melihat Yesus. Mengapa ingin melihat Yesus? Apakah karena ingin selamat? Saya beri tahu, Abraham sudah selamat, Daud sudah selamat, kalau mereka ingin melihat Yesus demi keselamatan, mereka tidak rindu, mereka sudah selamat. “Abraham bapamu di sorga bersukacita kaerna hariKu”, itu dikatakan Yesus, jadi Abraham sudah di sorga. Tapi mengapa dia bersukacita? Karena seluruh kepenuhan Allah, kepenuhan rencanaNya, kepenuhan kemuliaanNya ada di dalam Yesus. Itu sebabnya waktu Dia datang, raja-raja dan nabi yang sudah dengar mau lihat lagi, bukan mau lihat untuk selamat, tapi mau melihat inilah pandangan kemuliaan yang paling sempurna.
Maka biarlah kita memandang kepada Yesus dan menyadari di dalam pribadi ini bukan hanya keselamatanku yang menjadi nyata, tapi juga seluruh keagungan ilahi dinyatakan dengan sempurna di bumi ini. Itu sebabnya waktu Saudara menyadari Injil yang sudah diterima, Saudara langsung sadar saya kecil, saya hina, saya bukan siapa-siapa, tapi saya diijinkan Tuhan untuk kenal berita yang agung ini. Maka inilah 3 hal yang bisa kita lihat dari kepenuhan Roh Kudus. Roh Kudus memenuhi kita, maka kita mengagumi pekerjaan Tuhan di dalam diri orang di luar kita. Roh Kudus memenuhi kita, maka kita menyadari dengan limpah hal-hal yang Tuhan nyatakan untuk membuat kita ingat kepada Dia meskipun itu adalah pengulangan, tapi pengulangan yang penuh dengan gairah dan sukacita dan kita terima dengan ucapan syukur. Lalu yang ketiga, penuh dengan Roh Kudus berarti kita disadari mengenai berapa agungnya Kristus dan berapa kecil dan hinanya kita. Inilah 3 hal yang hari ini dibahas mengenai kepenuhan Roh Kudus. Kiranya 3 hal ini boleh kita ingat dan boleh menjadi hikmat hidup bagi kita untuk hidup bagi Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 29 Mar 2016
Bersukacitalah karena namamu tercatat di sorga
(Lukas 10: 13-24)
Di ayat 13-16, Yesus mengecam kota-kota yaitu Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Lalu Yesus memparalelkan kota-kota ini dengan Tirus dan Sidon, dan menyindir mereka, “kalau Tirus dan Sidon sudah mengenal Aku, mereka pasti tidak binasa. Tapi kamu menolak Aku, hukumanmu akan lebih besar dari Tirus dan Sidon”. Ketika orang melihat Lukas, seringkali Lukas membahas sesuatu yang ada di dalam nabi, baik Yesaya mau pun Yehezkiel. Sehingga ketika orang membaca tulisan-tulisan dari Lukas, langsung mengingat ada bayang-bayang dari Yesaya atau pun Yehezkiel yang muncul. Maka waktu Lukas mengutip dari Yesus Kristus “celakalah Khorazim, celakalah Betsaida, karena kalau di Tirus dan Sidon terjadi mujizat di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat”, orang langsung ingat kalimat “celakalah kota ini, celakalah negara ini”, itu sering diucapkan para nabi. Nabi-nabi berkotbah bukan hanya menyampaikan Firman kepada Israel saja. Mereka bertugas untuk memperingatkan bangsa-bangsa lain juga. Tuhan adalah Allah atas Israel, tapi Dia juga adalah Allah atas bangsa lain. Inilah tema utama mengapa nabi-nabi sering mengucapkan ucapan penghakiman bagi bangsa-bangsa lain. Mengapa bangsa lain harus dihakimi? Karena bangsa lain pun adalah bangsanya Tuhan. Tuhan adalah Raja atas seluruh bangsa, bukan hanya Israel. Sedangkan dulu dalam dunia Perjanjian Lama, orang punya konsep setiap raja punya dewanya sendiri, setiap kerajaan punya berhalanya sendiri. Dan biasanya kerajaan apa pun akan pertahankan berhala mereka. Maka di sini kita lihat ada ingatan terhadap Tirus lalu ada ingatan terhadap kehancuran Raja Babel, yang keduanya menggambarkan pemberontakan setan. Lukas dengan sangat brilian langsung ingatkan kita bahwa Yesus pun bicara tentang setan setelahnya. Waktu murid-murid pulang mengatakan “Tuhan, roh-roh jahat pun takluk kepada kami”, lalu Yesus mengatakan “Aku melihat setan turun dari langit seperti kilat”, ini maksudnya iblis dilempar cepat sekali seperti kecepatan kilat. Banyak orang yang mengaku mau ikut-ikutan setan, itu ambil simbol ini, simbol petir, katanya ini simbol setan. Bagi saya orang yang mengatakan ini simbol setan adalah orang yang kurang belajar. Karena ini adalah simbol kejatuhan setan, bukan kemenangan. Mau jadi pengikut setan yang diingat kok kekalahannya, itu aneh.
Karena Yesus mengatakan iblis dihancurkan dengan cara dilempar, begitu cepatnya dilempar, kecepatannya seperti petir. Jadi ini lambang kekalahan. Yesus mengatakan setan dilempar seperti halilintar, dilempar jatuh, ini adalah kekalahan yang Yesus lihat sedang terjadi dan Dia nubuatkan akan terjadi. Kapan genapnya? Kitab Wahyu mengatakan waktu Yesus diangkat ke sorga, setan dilempar ke bumi. Waktu Yesus kembali ke bumi, setan dilemparkan ke lautan api. Jadi dimana pun ada Yesus, setan tidak berhak ada. Maka waktu Tuhan usir, Tuhan pun usir pakai periode yang khusus. Setan masih boleh datang ke sorga, msaih boleh datang ke hadirat Tuhan. Ingat di dalam Kitab Ayub, para malaikat datang di tengah-tengahnya ada iblis, lalu iblis diskusi dengan Tuhan, “saya baru keliling dunia”, Tuhan mengatakan “kamu lihat Ayub, hambaKu, setianya luar biasa”, setan mengatakan “karena Engkau baik maka dia setia, coba kalau dia miskin, masih setia tidak. Orang kalau kaya gampang setia, kalau miskin bagaimana?”, maka Tuhan mengatakan “silahkan ambil hartanya”. Setelah harta diambil, anak-anak pun mati, tetap setia. Tuhan bilang “lihat, hambaKu tetap setia”, iblis mengatakan “karena tubuhnya sehat, orang kalau sakit, mana bisa setia”, Tuhan bilang “silahkan, tapi jangan sentuh nyawanya”. Jadi iblis bisa bicara dengan Tuhan, kapan dia dilempar? Waktu Yesus genap penebusanNya, naik ke sorga, dalam Kitab Wahyu dikatakan pada waktu itu setan dilempar ke bumi. Dan waktu dia dilempar ke bumi, dia bangun, dia sadar sudah dikalahkan, waktu dia tinggal sedikit sebelum dia dilempar ke lautan api, maka dia dengan giat menjangkau seluruh penduduk bumi untuk menyesatkan, karena dia tahu waktunya sudah dekat. Pak Stephen Tong pernah mengatakan setan saja punya teology of time, orang Kristen “masih lamalah, umur masih 58, masih lama”, “jadi kapan penginjilan?”, “nanti kalau sudah 82, sekarang masih 58”, kita terlalu santai, masih lama. Mengapa lama? Karena tidak sadar krusialnya waktu, tidak sadar bahwa waktu itu begitu singka. Jadi Saudara mesti punya kepekaan akan waktu, waktunya tidak sampai lama. Waktu setan dilempar ke bumi, dia sadar waktunya tidak lama, maka dia giat menyesatkan seluruh bangsa.
Orang Kristen harus punya niat “kalau setan giat sesatkan seluruh bangsa, saya mesti giat tarik bangsa-bangsa untuk kembali kepada Tuhan”, ini harusnya sikap yang dimiliki orang Kristen. Maka Yesus sudah menubuatkan setan akan dihancurkan, dilempar dengan sangat keras seperti petir dari langit ke bumi. Ini nubuat tentang kekalahan setan dan Yesus mengatakan “sesungguhnya Aku memberikan kuasa kepadamu menginjak ular, menginjak kalajengking”. Tuhan mempunyai kuasa begitu besar, sehingga Dia tidak mengijinkan murid-muridNya mengalami keadaan dimana mereka harus takut kepada roh jahat. Banyak sekali orang Kristen terlalu lupa bahwa Allah kita adalah Allah yang menakutkan. Kita lebih takut setan dari pada takut Tuhan. Padahal Alkitab mengatakan “takutlah kepada Tuhan”. Kalau Dia marah, Dia bisa melemparkan tubuhmu dan jiwamu ke dalam kebinasaan kekal. Siapa bisa lakukan ini selain Tuhan. Maka Alkitab terus mengajak manusia untuk gentar di hadapan Tuhan. Tapi kita masuk dalam b udaya dimana setan itu merajalela, dia justru yang ditakuti. Saudara kalau lihat tempat yang mengerikan, langsung bilang “roh jahat, setan”, yang lebih mengerikanlagi kalau dengar karya besar di orgen besar, waktu lihat gedung gereja begitu besar dengan misteri gelap di atas, kemudian warna-warna jendela yang berwarna-warni, Saudara bingung di dalam dan mengatakan “ngeri ya, seperti rumah drakula”, drakula yang ditakuti. Mengapa takut drakula? Drakula bukan tuan, dia bukan tuan atas segala t uan. Yang harus ditakuti adalah Tuan atas segala tuan. Dimana-mana cerita setan itu ada. Kita terus dibiasakan untuk takut setan. Tapi Tuhan mengatakan “kamu akan injak setan”, engkau akan injak setan kalau punya persekutuan dengan Kristus. Yang injak memang bukan kita, yang injak Tuhan, tapi Tuhan bagikan kemenangan ini kepada kita. Dia mengatakan “Aku menang dan kamu pun akan berbagian di dalam kemenanganKu”. Jadi kalau kita gentar kepada Kristus, takut menyakiti hati Allah, tahu bahwa Allah ada Penguasa di langit dan di bumi, dan Dia memberikannya kepada Kristus, tidak ada tempat di hati kita untuk takut kepada roh jahat. Hal yang paling menakutkan dari hantu adalah tipuannya. Kalau setan sudah tipu Saudara, itu yang bahaya.
Kalau setan sudah bikin Saudara merasa sedang ikut Tuhan padahal sedang ikut setan, itu yang paling bahaya. Maka yang dia lakukan adalah dia bikin tiruan dari Kekristenan yang mirip sekali, dia bikin tiruan pendeta palsu tapi asli. Kitamesti belajar bagaimana membedakan yang asli dari Tuhan dan yang palsu. Ini hal yang sangat penting untuk kita ketahui. Demikian juga dengan setan, mereka akan tiru mirip sekali. Ini membuat kita ketakutan “Tuhan, bagaimana supaya saya tahu yang benar? Tolong supaya gerejaMu dipelihara karena tipuan setan mirip sekali. Dan kami yang bodoh tidak bisa membedakan. Berikan hikmat untuk kami membedakan mana dari Tuhan mana bukan. Ijinkan kami menjadi domba yang bisa membedakan suara gembalanya dengan yang bukan”. Ini doa harus kita panjatkan dan kita harus belajar terus untuk tahu mana dari Tuhan dan mana yang tidak. Inilah aspek mengerikan dari setan, dia akan tipu kita dan membuat kita jauh dari Tuhan. Saudara jangan takut aspek lain karena aspek ini yang paling mengerikan dari dia. Tapi mengenai rasa takut dan hormat, mari berikan hanya kepada Allah dan bukan kepada yang lain. Maka Yesus mengatakan “kamu telah Aku berikan kuasa untuk menginjak roh jahat, untuk menginjak ular, untuk menginjak kalajengking”. Tetapi ayat 20, Yesus memberikan hal kedua yang Dia nyatakan. Hal pertama tadi, setan pun akan takluk dan kamu berbagian di dalam kemenanganNya. Tapi bagian kedua Yesus mengatakan “jangan bersukacita karena kamu menang atas roh jahat. Lebih baik bersukacita karena Tuhan kenal engkau”. Di sini dikatakan “bersukacitalah karena namamu terdaftar di sorga”. Apa maksudnya nama terdaftar di sorga? Maksudnya adalah nama kita ada terukir di dalam hatiNya Tuhan. Di sorga tidak ada list daftar masuk seperti kalau kita datang seminar, jangan pikir seperti itu “namaku terdaftar di sorga ya, kalau begitu apakah saya boleh titip absen boleh?”, bukan itu. Yang dimaksudkan terdaftar di sorga adalah Tuhan kenal Saudara, Tuhan tahu Saudara, Tuhan mengasihi Saudara, Tuhan mengenal dan menempatkan tempat dekat dengan Dia bagi Saudara. Inilah sukacita terbesar. Maka Yesus mengingatkan murid-murid meskipun mereka sudah taklukan roh jahat, mereka sudah menangkan banyak kota, jangan lupa Tuhan berbelaskasihan sama mereka dan mengasihi mereka bukan karena mereka sudah memenangkan banyak orang. Kita harus belajar untuk tidak melihat relasi kita dengan Tuhan sebagai relasi prestasi dan penghargaan. Ini hal kedua yang harus kita ingat, hari ini kita belajar 2 poin saja dan nanti ayat 21 dan selanjutnya kita akan bahas dalam pertemuan berikut.
Dua poin ini harus kita ingat sepulang dari sini. Poin pertama Tuhan berikan kuasa kemenangan mengatasi apa pun, mengatasi setan, mengatasi kejahatan, mengatasi dosa sekalipun. Maka marilah hidup di dalam kemenangan itu. Tapi ada hal kedua, Tuhan tidak mengasihi kita karena kita menang, Tuhan mengasihi kita maka Dia ingin kita menang, Tuhan mengasihi kita maka Dia menuntut dan menuntun kita untuk mengalami kemenangan itu. Tapi kemenangan itu bukan alasan Tuhan mengasihi. Kalau Tuhan mengasihi dengan cara seperti ini maka kita akan memberikan sesuatu untuk mendapatkan kasih Tuhan lalu membeli kasihNya dengan prestasi yang kita buat. Tapi bukan ini yang dikatakan Yesus. Tuhan mengenal engkau, bersukacitalah karena itu, bukan karena apa yang telah engkau kerjakan. Saudara jangan pikir ketika kita datang ke sorga nanti level rohani kita dilihat oleh Tuhan, lalu yang rohani paling besar itu yang akan paling Dia sayangi dan dekat dengan Dia. Kita selalu memakai pola penghargaan, apa yang aku kerjakan dan apa upah dari Tuhan. Jadi kita mau membeli kasih sayang Tuhan dengan prestasi. Maka murid-murid pun ada kesalahan seperti ini yang Yesus peringatkan. Mereka sudah pergi kunjungi kota-kota yang Tuhan perintahkan lalu pulang dengan mengatakan “kabar baik Tuhan, saya sudah kerjakan”. Akhirnya prestasi menjadi suatu yang diperlombakan. Banyak kali ini pun terjadi di gereja, “kamu sudah Injili berapa banyak orang minggu lalu?”, “sudah 3”, “kamu berapa?”, “baru 2”, “hmm…dia menang. Tolong teladani dia, dia sudah 3, mengapa kamu baru 2, ayo semangat”. Lalu kita semangat lagi, harus injili 3 orang, kemudian lapor “saya sudah Injili 3 orang”. Saya pikir ada bahaya seperti ini ketika kita pamerkan ada berapa banyak yang sudah kita layani, “saya sudah lakukan ini, menginjili di sini, kotbah di sini, berapa orang sudah dengar. Saya prestasinya tinggi, Tuhan pasti berkenan”. Orang yang tidak mengenal kasih Tuhan tidak mungkin melayani dengan tepat. Kalau pelayanan kita kerjakan demi menerima belas kasihan Tuhan, pelayanan kita sudah salah orientasi. Saudara tidak mungkin digerakan hal seperti itu untuk melakukan pelayanan yang stabil. Kita jadi seperti orang-orang yang ketika kuliah berusaha memenangkan hati dosen dengan prestasi. Di rumah berusaha memenangkan hati papa dan mama dengan prestasi juga. Di masyarakat berusaha memenangkan penghargaan masyarakat juga dengan prestasi. Kita ingin membeli prestasi dengan cara kita hidup untuk dihargai orang. Lalu dengan Tuhan pun kita rasa sama “saya harus berprestasi supaya Tuhan mengasihi saya. Saya harus persembahkan jiwa supaya nanti Tuhan senang sama saya”. Tapi Yesus mengatakan “namamu sudah tercatat sebelum Aku mengutus engkau”. Tuhan sudah mengasihi engkau sebelum Tuhan utus engkau melayani. Tuhan sudah mengasihi engkau sepenuhnya sebelum Dia perintahkan engkau untuk pergi memberitakan Injil. Maka biarlah mindset kita diingatkan kembali, diubah kalau perlu, bahwa Tuhan menerima saya dan itulah alasan saya tergerak melayani Dia. Tuhan mau kerja apa, saya mau, karena Tuhan lebih dulu terima saya. Jangan pikir Saudara bisa beli atau bayar penerimaan Tuhan, itu tidak mungkin. Maka Yesus mengatakan “jangan bersukacita karena kemenanganmu, jangan bersukacita karena berapa banyaknya setan sudah takluk dalam pelayananmu, jangan bersukacita karena berapa banyak jiwa sudah dibebaskan dari kuasa setan, tapi bersukacitalah karena Tuhan mengasihi engkau”.
Hari ini kita akan merenungkan sampai minggu-minggu masuk dalam Paskah. Saya berharap di bulan Maret akhir, kita boleh merayakan Paskah, mengingat, mengenang kembali Kristus dengan cara yang sama seriusnya dengan kita mengenang hari lahirNya. Kita akan adakan kebaktian dari hari Rabu sampai Minggu, dan harap ini boleh menggerakan kita terus untuk mengingat kasih Dia. Ada orang-orang tertentu dalam 40 hari sebelum Paskah sudah bersiap dalam perenungan untuk merenungkan siapa Dia. Saya pikir perenungan tentang salib tidak hanya 40 hari sebelum Paskah, harusnya ada momen-momen terus dalam hidup kita merenungkan hal itu. Tapi hal utama yang kita dapat waktu merenungkan salib adalah cinta kasih Tuhan terhadap saya begitu besar, sehingga Dia menerima saya. Bukan hanya menerima saya, tapi juga menebusa saya. Bukan hanya menebus saya, tapi juga berkorban dan mati bagi saya, bukan karena saya sudah persembahkan sesuatu. Maka kita bisa datang kepada Tuhan dengan mengatakan “inilah saya ya Tuhan”. Billy Graham dalam kebaktian selalu memakai lagu Just As I Am untuk calling. Inilah saya, saya datang apa adanya, saya datang bukan dengan prestasi bahkan dengan kebobrokan. Saya datang bukan dengan kesucian, malah dengan segala dosa yang saya perbuat. Aku ingin bertobat, saya ingin kembali sebab Tuhan sudah panggil saya, dan saya mau kembali kepada Tuhan. Dan penerimaan Tuhan kita terima dengan sempurna.
Penerimaan Tuhan kalau sudah ditemukan dengan sempurna, Saudara tidak perlu tambahkan apa lagi di luar untuk mendongkrak diri Saudara. Banyak orang terjerat dalam cara dunia ini untuk minta penghargaan, untuk minta penghormatan, minta pengakuan, akhirnya seumur hidup selalu kosong. Tapi ada orang yang nyaman dengan penerimaan Tuhan, dengan fakta bahwa “dalam keadaan aku pun Tuhan mau menerimaku, maka kasih itu yang akan menggerakan orang”. Kesucian bukan sesuatu yang bisa diperjuangkan dengan kekuatan sendiri. Seringkali anak muda tanya saya “pak, bagaimana tinggalkan dosa? Bagaimana berjuang meninggalkan dosa?’, saya bilang “kamu selalu akan kalah karena matamu lihat dosa lalu kamu hajar dia”, sama seperti murid lihat roh jahat lalu mau hajar, kamu terus mau hajar dosa. Tapi yang kamu harus lakukan adalah lihat penerimaan Tuhan, Tuhan sudah terima engkau, mkaa pelan-pelan seluruh sifat dalam dirimu yang salah akan kamu tinggalkan dengan kekuatan itu, dengan kekuatan penerimaan Tuhan. Maka mari kita lihat seberapa besar Tuhan sudah mengasihi kita, seberapa besar Dia sudah korbankan diriNya untuk menerima kita. Dan itu menjadi kekuatan bagi kita untuk mengatakan “Tuhan, di dalam penerimaanMu yang tulus, yang penuh kasih dan sempurna terhadap saya yang cacat ini, saya menemukan nilai yang sejati dalam hidup”, maka ini jadi perenungan yang Tuhan ijinkan kita pelajari hari ini. Biarlah kita ingat kuasa Tuhan begitu besar, mari layani Dia. Tetapi jangan lupa cintaNya lebih besar lagi, sehingga kita tidak digerakan oleh satu usaha untuk memenangkan hatiNya, sebab kita sudah mendapatkan cinta kasih Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati, memimpin kita untuk hidup bagi Dia di dalam ketulusan kasih kepada Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Injil Lukas
- 29 Mar 2016
Jangan Sembarang Menolak Berita Injil
(Lukas 10: 1-16)
Di dalam Injil Lukas ada berita tentang suksesnya pelayanan Yesus di awal. Dan di awal pelayanan Kristus mengundang begitu banyak orang. Kemanapun Dia pergi, orang banyak ikut, orang banyak menyertai Dia. Tapi sejak awal, kitab ini sudah memberikan pemisahan, ada orang-orang yang dengar lalu protes, sudah dengar lalu menentang Dia. Mengapa ditentang? Karena Kristus menyatakan satu tema yang sebenarnya sangat-sangat besar dan sangat-sangat agung bagi orang Israel yaitu kedatanganNya menggenapi janji Tuhan untuk Kerajaan Allah. “Kerajaan Allah sudah datang, Kerajaan Allah sudah tiba,bertobatlah kamu”. Ini berita yang membuat orang kagum sekaligus benci. Banyak orang mengangkat diri menjadi pemimpin dan mengklaim “kami adalah kelompok Mesias, aku adalah sang mesias itu”. Banyak orang muncul dari tahun 100 sebelum masehi sampai 200 tahun sesudah Kristus. Terakhir adalah seorang bernama Bar Kokhba, dia menjadi pemimpin terakhir yang mengaku dirinya adalah mesias dan akhirnya ditumpas. Waktu zaman Yesus lahir, banyak sekali orang mengklaim diri sebagai Mesias karena keadaan ini. Ini kalau kita tidak sadar, kita tidak bisa mengerti penolakan dari pemimpin-pemimpin agama. Pemimpin agama sudah muak, tiap orang muncul mengaku Mesias langsung terjadi 3 hal otomatis. Yang pertama pengumpulan massa, yang kedua provokasi, yang ketiga pemberontakan, lalu ditutup dengan kematian pemimpinnya dan orangnya bubar. Ini terus terjadi dan mereka sudah muak. Tiap kali ada orang mengklaim diri Mesias, mereka dengan gencar menentang. Tapi waktu Kristus datang, mereka tidak punya alasan untuk menentang, mereka mengatakan “kamu kumpulkan orang, kamu pasti provokasi untuk melawan Kerajaan Roma”. Tapi Yesus tidak pernah lakukan itu. Dia tidak pernah kumpulkan tentara, Dia kumpulkan orang, Dia ajar mereka, Dia sembuhkan mereka dan Dia beritakan Injil kepada mereka. Ini sebabnya rakyat sangat senang karena Mesias yang ini beda dengan yang lain. Yang lain minta kita korbankan diri, orang ini mengorbankan diriNya untuk kita, rela hidup bersama dengan kita. Mesias yang lain menyuruh kita mengorbankan tubuh dan nyawa, tapi orang ini justru menyembuhkan tubuh dan membangkitkan orang. Siapa yang bisa melakukan tanda-tanda seperti ini? Mesias yang dulu menyuruh kita perang, Mesias yang ini meminta kita untuk mengampuni. Maka Kristus diikuti oleh banyak orang.
Banyak orang ikut Dia waktu perjalanan pertama di tengah-tengah Galilea. Dan di tengah-tengah daerah yang disebutkan di ayat-ayat tadi, baik Khorazim, Betsaida, maupun Kapernaum, banyak orang mengikut Dia. Jadi Tuhan sudah mengumpulkan banyak orang, tapi Injil Lukas mengatakan orang-orang itu mulai tersaring. Saringan pertama adalah yang menyingkirkan orang-orang Farisi, yaitu saringan yang namanya saringan teologi tradisi. Teologi tradisi yang tidak kembali pada Alkitab, teologi tradisi yang menolak meletakan tradisinya di atas bangunan Firman. Pada waktu itu orang Israel, terutama pemimpin-pemimpin agama lebih senang pemimpin atau Mesias yang secara politis bisa berkait dengan kemajuan bangsa ini, bisa memimpin bangsa ini untuk menaklukan penjajahan. Israel mencari damai sejahtera dari Tuhan dan mereka tahu damai itu hanya mungkin kalau Raja Anak Daud itu datang. Maka mereka tunggu “mana Anak Daud?”, dan mereka melihat Yesus lain dari yang lain. Dia dianggap sebagai Anak Daud oleh pengikutNya, tapi banyak orang mengatakan “tidak, Dia datang dari Nazaret, Nazaret bukan asal Daud. Jadi kalau Dia berasal dari Nazaret, Dia tidak mungkin Anak Daud”. Tapi orang-orang yang mengikuti Yesus tahu, Yesus lahir di Betlehem sebelum Dia pindah ke Nazaret, berarti Dia adalah keturunan Daud yang lahir di tempat yang sama dengan Daud lahir. Ini membuat mereka berharap kepada Sang Mesias ini. Tapi setelah pelayanan pertama yang begitu sukses, Alkitab mencatat ada pemisahan, ada yang menentang yaitu orang Farisi yang sudah punya konsep teologi yang terlalu berkait dengan hidup, tapi tidak berkait dengan rencana keselamatan Tuhan. Yang mereka tanya adalah “apa yang Engkau lakukan untuk perbaiki Israel? Apa yang Engkau akan lakukan untuk perbaiki kami?”. Yesus tidak melakukan apa pun dalam hal ini, membuat mereka tidak mau mengikuti Yesus. Maka mereka menjadi orang yang anti dan apa pun yang Yesus kerjakan, mereka selalu serang. Saudara kalau melihat dari Kitab Injil, 4 Injil kita, serangan dari orang Yahudi itu gencarnya bukan main, sepertinya Yesus sulit bergerak tanpa dikomentari oleh mereka. Setelah Dia benar-benar menarik diri, mereka mengatakan “Engkau melakukan ini”, Yesus tidak menggubris lagi, tidak jawab lagi. Ini yang Dia lakukan, sehingga pemisahan pertama dari kelompok yang banyak ini adalah orang Farisi. Meskipun tidak semua orang Farisi menolak Dia, tetap ada yang ikut tapi sebagian besar menolak dan sebagian besar yang menolak adalah pemimpin di kota-kota yang Yesus katakan “celakalah”. Maka mereka tidak ikut, tapi orang banyak masih ikut. Ini bagian pertama dari Injil Lukas, perpisahan dengan orang-orang Farisi yang menyerang Dia.
Masuk dalam pasal 9, mulai ada pemisahan yang kedua, yaitu antara orang-orang yang mengharapkan Mesias dan mau Yesus menjadi Mesias dengan orang-orang yang menerima berita salib. Masuk dalam pasal 9, Yesus mulai mengajarkan salib. Waktu Dia mengajarkan Sabat, semua orang senang, waktu Dia mengajarkan tentang Dia yang adalah Mesias, semua dengar. Tapi waktu Dia mulai bicara tentang salib, orang mulai kecewa. Bahkan Petrus pun tidak mau terima itu. Petrus waktu dengar Kristus bicara tentang kematian, dia tolak.Yesus terus menubuatkan tentang kematianNya dan orang-orang yang mengikut mulai terpecah. Inilah saat Yesus mulai mengajarkan tentang bedanya orang yang akan selamat dan tidak, “tidak semuanya kamu yang ikut Aku akan selamat, tidak semua yang ikut Aku akan masuk ke Kerajaan itu”. Yesus mengatakan “pintunya kecil, yang menuju kepada keselamatan, pintunya kecil”. Kata yang dipakai untuk kecil, bukan hanya kecil dalam space, tapi juga hina dalam bentuk. Di satu kota ada gerbang utama dan gerbang untuk barang, yang Yesus maksudkan adalah “kamu harus rebutan lewat gerbang untuk barang itu”. Waktu Yesus mengatakan “jalanlah ke jalan yang sempit itu, lewatlah ke jalan yang sempit itu”. Maukah kamu lewati jalan yang hina? Mau, mengapa mau? Karena Yesus mengkotbahkan salib yang hina, salib yang membuat mereka tidak mengerti kalau pengharapan mereka adalah Mesias yang tersalib. Itu sebabnya masuk pasal 9 dan seterusnya, Yesus sering berbicara tentang pemisahan di dalam muridNya sendiri, “sebagian dari kamu akan menolak Aku, meskipun sebagian akan ikut. Sebagian akan menjadi kecewa dan pergi”. Yang manakah kamu, domba yang sejati atau orang yang menjadi kecewa karena berita salib? Kalau Saudara mengatakan “Tuhan mengasihimu, Tuhan mencintaimu”, tidak ada yang akan tolak. Tapi Saudara mengatakan “salib, Yesus mati dan engkau ikut menderita bersama dengan Dia”, tidak banyak orang yang senang.
Itu sebabnya berita salib adalah berita inti Kristen dan sampai pada titik ini orang yang ikut makin lama makin sedikit, makin lama makin kurang. Yang ikut karena tema kasih, banyak, yang ikut karena tema damai sejahtera, banyak, yang ikut karena tema sehat, lebih banyak lagi, yang ikut karena tema kaya, jauh lebih banyak lagi. Tapi yang ikut karena salib, luar biasa sedikit. Itu sebabnya Yesus mengatakan di dalam pasal 9 “Aku akan dimatikan”, ini untuk memisahkan orang-orang yang hanya ikut karena tema-tema besar tadi, tapi tidak mau ikut karena tema yang lebih sempit ini. Itu sebabnya Injil akan memisahkan mana domba dan mana serigala palsu atau pun kambing yang bukan umat. Maka ketika ada pemisahan seperti ini, Yesus mengingatkan kepada para murid “meskipun banyak orang akan tinggalkan Aku, tapi banyak kota lain akan menerima”. Maka Dia kumpulkan murid-murid, ada 70 murid, menurut versi 1, ada versi lain mengatakan 72 murid. Jadi 72 murid dikumpulkan oleh Yesus, dan Dia menyuruh mereka pergi berdua-dua ke kota-kota lain. Di sini Yesus mengatakan “meskipun kota-kota yang sebelumnya sudah menolak, jangan terlalu pusing orang yang sudah tolak, karena masih banyak yang lain yang harus dijangkau”. Dia melatih mereka dengan beberapa pelatihan. Hal yang paling penting adalah di dalam pasal 9:57-62, ini ajaran yang penting sekali menjadi murid. Yesus mengatakan “banyak orang ikut Aku, tapi maukah engkau ikut terus kalau Aku tidak punya tempat meletakan kepalaKu? Banyak orang ikut Aku, tapi maukah kamu ikut Aku dengan komitmen lebih besar dari pada komitmen kepada bapamu sendiri. Banyak orang mau ikut Aku, tapi tidak banyak orang mau berkomitmen lebih besar dari pada rumahnya atau tempatnya sendiri. Siapkah kamu tinggalkan semua lalu ikut Aku?”. Orang-orang yang bilang “siap, kami mau ikut”, orang-orang itulah yang diutus dalam pasal 10 ini.
Maka mereka diutus untuk pergi ke kota-kota yang akan Yesus datangi. Mereka datang untuk memberitakan kabar baik. Dan kabar baik ini bukan kabar di dalam pengertian yang dipahami oleh banyak orang. Kabar baik di sini adalah kabar kemenangan Sang Raja. Pada zaman dulu kalau raja-raja berperang, dia akan pergi dan menyerang kerajaan lawan. Waktu dia pergi, orang yang tinggal di kerajaan itu tidak tahu nasib rajanya seperti apa, dia tidak tahu jalannya perang seperti apa. Zaman dulu tidak, kalau raja sudah pergi jauh, mereka tinggal tunggu mana pembawa kabar itu. Dan mereka yang bawa kabar itu biasanya orang yang jago maraton. Saudara kalau tahu olah raga maraton sekarang, ini kelanjutan dari orang dulu yang membawa kabar dengan berlari. Mereka lari puluhan kilo dari tempat perang ke kerajaan raja itu berasal, setelah sampai mereka akan beri tahu apakah raja sudah menang atau kalah. Biasanya orang yang menunggu akan melihat kalau orang itu muncul di horizon, dia lari, orang akan menduga itu cara larinya adalah berita bagua atau berita buruk, kalau orang itu lari-lari dengan terengah-engah, miring kiri, miring kanan, mereka kuatir, sepertinya berita buruk. Tapi kalau larinya lurus, mungkin orang ini membawa berita kemenangan. Biasanya orang kalau bawa berita buruk, dia akan robek bajunya, lalu taruh abu di kepalanya. Maka ketika dia semakin dekat, kelihatan, orang akan lihat di kepalanya ada abu atau tidak, bajunya robek atau tidak. Kalau bajunya robek, kepala ada abu, sebelum dia sampai pun orang sudah tahu “ini kalah, kita sudah kalah”. Tapi kalau dilihat bajunya masih bagus, rambutnya juga bagus, orang bisa bilang “ini menang atau kalah?”, “harusnya menang, karena dia tidak robek bajunya. Tapi bisa jadi kekalahannya dahsyat, dia belum sempat robek, terus lari”. Jadi tunggu dulu sampai dia datang, baru dengan terengah-engah dia akan mengatakan “biarlah seperti musuh ini, seluruh musuh kerajaan kita, terpujilah dewa kita”, itu kebiasaan mereka, ini namanya berita baik.
Itulah berita Injil, kabar baik, evangelion, orang yang lari menyerukan raja kita sudah menang, itu kabar baik. Banyak orang pikir “kabar baiknya itu untuk aku”, kabar baik apa? “Kabar baik bahwa saya dapat berkat dari Tuhan”. Ini bukan tentang kita, ini tentang Tuhan, kabar baik itu adalah kabar yang menyatakan Yesus menang. Kabar baik ini adalah kabar baik bagi umat tapi kabar buruk bagi lawan. Ini berita baik bagi orang yang percaya, tapi berita buruk bagi orang yang tetap menjadi lawannya Tuhan. Ayat 3 mengatakan “pergilah, Aku mengutus kamu”. Dan di dalam bagian selanjutnya dikatakan “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. Karena meskipun kamu adalah orang yang akan melihat Tuhan membuka jalan, kamu juga akan melihat setan akan menutup, setan akan menghancurkan dan membuat pelayanan begitu mengerikan, menakutkan dan terhambat. Serigala kalau berburu, mereka akan berburu di dalam kelompok. Serigala kalau sekawanan berburu, dia akan hantam mangsanya dari segala sisi, dia akan robek-robek mangsanya dan mulai makan emskipun mangsanya belum mati. Ini yang sangat menakutkan, Saudara akan lihat korban dari serigala itu benar-benar penuh dengan penderitaan, berdarah-darah kemana-mana. Meskipun Tuhan akan buka jalan tapi serangan akan besar, serangan akan koyak-koyak orang yang bawa berita Injil. Tapi ini yang terjadi di sepanjang sejarah. Akhirnya banyak orang yang menerima berita dari mereka tapi banyak yang mengkoyakan orang-orang yang membawa berita Injil. Yesus mengatakan untuk para murid, tapi ini menjadi genap di dalam sejarah gereja. Siapa bawa Injil harus siap kehilangan nyawa, siapa bawa berita Inijl harus siap mendapat penganiayaan, berani bawa berita Injil “saya akan hantam kamus upaya kamu tidak berani lagi berbicara”. Maka banyak orang sudah mengalami aniaya, ancaman, tapi kita lihat berita Injil tidak pernah gagal untuk menyebar. Di mana tempat paling menentang, justru di situ paling banyak bombardir berita Injil. Tapi Tuhan mengingatkan di dalam ayat 4 dan selanjutnya, Tuhan akan tetap pelihara. Jangan bawa pundi-pundi, jangan bawa bekal, jangan bawa apa pun. Ini punya pengertian yang kita tidak tafsirkan secara literal tapi secara refleksi. Yang terjadi pada waktu itu kita refleksikan dalam hidup kita sekarang. Yang kita bisa dapat adalah Tuhan menjanjikan, Tuhan pasti pelihara.
Meskipun di tengah serigala tapi Tuhan pelihara, itu jauh lebih baik dari pada di tengah sorga yang enak tapi tidak ada Tuhan. Lalu dalam bagian selanjutnya, ayat 6 dikatakan “jangan beri salam kepada orang yang tidak layak”, maksudnya adalah dalam pelayanan penginjilan Saudara akan bertemu dengan orang yang layak dapat dalam anugerah Tuhan, tapi ada juga orang yang terus menghina berita Injil, orang seperti ini tidak layak dapat. Saudara bawa berita Injil, mereka hanya bisa mencemooh, Saudara bawa berita tentang Kristus yang agung, mereka membalas dengan cemoohan mereka yang kurang ajar. Orang seperti ini tidak layak mendapatkan investasi waktu kita yang terlalu banyak. Banyak orang yang menjawab dengan perkataan yang santun. Tapi ada orang yang dari awal sudah menghina, dari awal sudah tidak mau mendengar. Saya bergumul bersama Tuhan, apakah saya harus kunjungi lagi. Adakah orang yang awalnya menghina tapi kemudian terima? Ada, tapi dia mengatakan “di dalam penilaian saya yang terbatas, saya harus pilih untuk pergi tinggalkan dan pergi Injili orang lain lagi. Karena mungkin ada 20 atau 30 yang menunggu berita Injil terhambat karena saya terlalu lama dengan 1 orang itu”. Jadi ini juga ada peringatan, tidak semua orang akan terima berita Injil, ada yang belum terima, ada yang terus menghina. Yesus mengatakan kepada para murid “kamu tiba di satu kota, kamu ditolak, pergi tinggalkan kota itu, karena kota itu tidak layak mendapat damai sejahteramu”. Bahkan Yesus memakai kalimat yang sangat indah bagi kita tapi menakutkan bagi orang lain, Yesus mengatakan “kalau orang itu berhak menerima damaimu, damaimu akan turun kepada dia. Kalau tidak, damaimu akan kembali kepadamu”. Maksud dari kembali kepada kita adalah ada orang lain lagi yang pasti dapat. Jadi satu orang menolak, kita tahu damai sejahtera ini akan diterima oleh orang lain. Jadi seolah-olah Yesus mengatakan “satu tolak, kamu simpan, nanti kasi ke orang lain”, kira-kira seperti itu. Maka bagian selanjutnya mengatakan “jika kamu masuk dan ditolak, serukanlah juga debu kota yang melekat pada kaki akan dikebaskan. Tapi ketahuilah pada hari penghakiman, Sodom akan lebih ringan dari kota itu”. Saudara tahu apa yang menimpa Sodom, ada belerang dan api turun dari langit menghancurkan kota itu. Dan Tuhan mengatakan yang tolak berita Injil keadaannya akan lebih parah dari kota itu. Ini membuat kita sangat gentar waktu memberitakan dan sangat berharap orang mau terima, karena kalau tidak terima akan mendapatkan nasib jauh lebih parah dari pada Sodom. Lalu ayat 13-16 Yesus menutup dengan kata-kata celaka bagi kota-kota yang sudah ditinggalkan dan menolak Dia. Yesus mengatakan “celakalah kamu”, tapi lihat yang Yesus tinggalkan tidak berperan lagi dalam pelayanan Yesus selanjutnya. Sebaliknya, kota-kota depan yang Tuhan bukakan inilah yang menjadi buah sesungguhnya dari pelayanan Kristus. Lalu dikatakan Kota Tirus dan Sidon akan lebih ringan tanggungannya.
Maka kalau Saudara belum pernah memberitakan Injil, coba lakukan, Saudara akan melihat Tuhan tidak pernah tinggalkan. Saudara berdoa minta kekuatan dari Tuhan dan mulai berbicara tentang Krsitus, Saudara sekali lakukan setelah itu Saudara akan lakukan lagi, lakukan lagi, terus lakukan. Karena Saudara tahu waktu berbicara tentang Injil, Tuhan tidak tinggalkan. Menikmati disertai Tuhan itu adalah poin yang sangat indah waktu kita mau mengabarkan Injil Tuhan. Dan inilah yang diajarkan Tuhan Yesus meskipun Betsaida. Khorazim dan Kapernaum sudah tinggalkan Dia, ternyata ada 36 kota lain yang Tuhan bukakan untuk InjilNya. Kiranya Tuhan menggerakan kita juga memberitakan Injil Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah Tematik
- 21 Jan 2016
Langkah Iman dan Meninggalkan Dosa
(Ibrani 12:1-2; 11:1-3,6,10,13-14,16,39-40)
Di dalam pasal 11 ada contoh yang banyak sekali dari orang-orang yang mempunyai iman yang benar. Dan hari ini kita mau belajar apa iman yang benar itu? Setelah itu kita kaitkan dengan pasal 12 yaitu setelah kita mempunyai saksi iman marilah kita bertekun di dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita. Apa itu beriman? Mengapa orang boleh menyebut diri mereka beriman? Mengapa ada yang mengklaim iman tapi ternyata palsu dan kosong dan sebagian ada yang mengklaim beriman lalu mendapatkan kesaksian dari rekan-rekan yang hidup bersama dengan dia mau pun generasi selanjutnya bahwa ini adalah orang yang sungguh beriman. Mengapa ada orang yang dijuluki inilah orang yang sungguh-sungguh saleh, tetapi ada juga orang yang meskipun mengklaim beriman tapi tetap menjadi batu sandungan seumur hidup di dalam pandangan orang lain. Apa iman sejati itu? Mengapa ada orang beriman dan menjalankan kehidupan penuh dengan kelimpahan? Sebaliknya ada orang yang mengaku beriman tapi terus berada dalam keadaan yang lama. Pasal 11 sangat penting untuk memberikan kepada kita pengertian apa itu beriman. Pada ayat pertama dalam pasal 11 dikatakan bahwa iman adalah dasar dari pengharapan dan bukti dari yang tidak kita lihat. Kita kalau baca Kitab Suci jangan sembarangan tafsirkan apa yang dimaksudkan di sini. Karena kadang-kadang kalau kita membaca ayat sesudahnya ternyata penjelasannya ada. Dalam ayat 3 dikatakan karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat itu terjadi dari apa yang kita tidak bisa lihat. Saudara lihat ciptaan ini, Saudara harus tahu bahwa semua yang terjadi, semua yang bisa kita lihat, semua yang bisa kita jalani, raba, alami, saksikan, semua terjadi dari hal yang tidak kelihatan. Ini merupakan pernyataan iman yang sangat penting karena orang yang percaya Allah mencipta adalah percaya juga Allah itu mencipta dengan tujuan. Allah tidak pernah mencipta dengan cara random dan tidak utuh.
Waktu Tuhan mencipta, kita tidak boleh berpikir Dia hanya pencipta dunia natural yang bekerja dan berlangsung sesuai dengan hukum yang sudah Dia terapkan. Tapi Dia mencipta dunia untuk dikuasai, ditaklukan, ditundukan oleh Tuhan sendiri, dinikmati oleh Tuhan dan oleh ciptaanNya. Maka di dalam ciptaan yang Dia rancang, ada kehendak ciptaan ini mau dijadikan apa, ada proses yang nanti makin membukakan kita Tuhan mau lakukan apa. Inilah yang orang beriman lihat, saya percaya Tuhan saya adalah Tuhan yang mencipta, tapi bukan hanya itu Dia juga adalah Allah yang mempertahankan yang terus bekerja sampai sekarang, yang terus pimpin ciptaan ini ke arah mana. Dalam Institutio, dalam buku mengenai predestinasi, mengenai kedaulatan Tuhan, Calvin mencatat orang Kristen itu bukan orang yang percaya Tuhan mencipta lalu selesai, orang Kristen itu adalah orang yang percaya Tuhan sampai sekarang masih bekerja dalam ciptaanNya karena Dia punya kehendak. Dan apa yang Dia mau belum genap sekarang karena masih dalam proses menuju penggenapan. Sehingga orang yang beriman tahu ini duniaNya Tuhan, ini semua milik Tuhan dan Tuhan sedang kerjakan semua ini untuk dibawa ke dalam satu tahap yang lebih baik nanti menuju kepada tahap yang sempurna dalam waktuNya Dia. Aku hanyalah penonton yang melihat Tuhan mau kerjakan apa, aku tidak tahu nanti akan jadi apa, tapi aku tahu kalau Tuhan kerjakan pasti akan makin baik, menuju kepada kesempurnaan yang sudah Dia buat. Inilah yang dimiliki orang beriman. Sehingga waktu orang melihat Tuhan dan dunia ini, dia langsung kaitkan bahwa Tuhan yang aku sembah adalah Tuhan yang bukan hanya mencipta tapi juga mempertahankan ciptaan ini, mempunyai kehendak untuk dinyatakan dan akan digenapi di dalam ciptaan. Maka orang-orang yang kenal Tuhan dengan cara yang salah, selalu melihat Dia sebagai jalan keluar dari kehidupan yang dia rancang sendiri. Saya mau rancang sendiri kehidupan, tapi begitu masuk dalam tahap “saya tidak tahu mau kemana”, baru saya panggil Tuhan. Jadi selama saya belum panggil Tuhan, mohon Tuhan tetap tenang tinggal di sorga, tidak ganggu hidup saya dulu, tidak perlu campur dulu, nanti kalau saya perlu, saya telefon, kalau saya perlu saya akan doa, kalau saya perlu saya akan rajin ke gereja sedikit. Maka ada kalimat ini dalam Institutio, dikatakan bahwa orang-orang kafir, orang-orang yang tidak percaya itu bukan saja orang yang mengklaim diri atheis “saya atheis, saya tidak percaya Tuhan”, lalu Saudara bilang “puji Tuhan saya bukan atheis, saya percaya Tuhan ada. Saya tahu Tuhan ada”. Tapi Calvin bilang “engkau tahu Tuhan ada, tapi engkau kurung Dia di sorga. Sama saja dengan menganggap Tuhan tidak ada”. Itu sebabnya orang yang sungguh beriman akan mengatakan “Tuhan, ini duniaMu, saya tidak melihat Engkau, tapi saya melihat dunia yang Engkau ciptakan. Dan saya tahu Engkau ciptakan dunia, Engkau tidak hanya mencipta, Engkau punya kehendak. Engkau ingin kerjakan sesuatu, saya ingin tahu apakah itu yang Engkau mau kerjakan? Saya ingin tahu setelah Engkau kerjakan, setelah Engkau nyatakan kepadaku, bolehkah saya berbagian juga? Kalau Tuhan mempunyai karya yang Tuhan mau nyatakan, bolehkah saya mengetahui itu dan bolehkah saya berbagian di dalamnya?”.
Itu sebabnya ketika Tuhan menyatakan diriNya kepada Abraham, Tuhan panggil Abraham keluar dari tempat orang tuanya ke tempat yang akan dituju, Abraham taat. Iman berarti saya lihat apa yang orang lain belum lihat. Iman berarti Tuhan berfirman dan Tuhan berfirman selalu memberikan perintah dan janji. Pak Tong mengatakan Tuhan tidak pernah perintah tanpa janji dan Tuhan tidak pernah janji tanpa perintah, selalu dua ini berkait. Tuhan memberikan perintah tapi selalu ada janji dibaliknya. Tuhan memberikan janji, tapi ada juga perintah yang harus kita jalankan. Tuhan tidak pernah tuntun Israel keluar dari Mesir, suruh mereka lintasi padang guurn dan tidak memberikan pengharapan apa-apa di depan. Dia mengatakan “keluar dari Mesir dan engkau akan pergi ke tanah yang berlimpah susu dan madunya”, Tuhan selalu berikan janji. Tapi jangan lupa ada perintah juga. Orang-orang yang mau ikut Tuhan dengan ketat akhirnya hancur adalah orang yang cuma lihat perintah tapi gagal lihat janji. Ada lagi orang yang rasanya lihat janji tapi tidak peduli perintah. Tapi Abraham melihat kedua-duanya, dia tahu Tuhan perintah dan dia tahu Tuhan janjikan sesuatu, Tuhan janji keturunannya akan menjadi banyak. Keturunannya akan mewarisi tanah yang Tuhan janjikan dan melalui keturunannya seluruh bangsa di bumi akan dapat berkat. Dia lihat ini, dia beriman pada Firman Tuhan dan dia jalani. Dia lihat jelas sekali, dia lihat Tuhan akan dirikan kota, akan menyatakan berkat, akan menyatakan janjiNya, dan dia percaya itu. Mengapa dia bisa percaya? Karena dia melihat hal yang mata fisik tidak lihat, tetapi yang mata iman bisa lihat. Begitu banyak kali kita menjadi orang Kristen hanya lihat apa yang mata fisik bisa lihat, kita hanya lihat apa yang sesuai pengalaman biasanya terjadi, kita hanya lihat apa yang di depan yang berdasarkan pandangan mata kita nyata, itu yang kita anggap nyata.
Satu kali seorang bernama Thomas Aquinas dari abad 13 tulis buku tentang membuktikan Tuhan lewat 5 jalan. Jalan pertama adalah jalan sebab, kamu lihat semua ada penyebab, penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh yang lain itu harus kamu pertimbangkan ada. Dan kalau kamu sudah setuju dia ada, saya beri tahu itu hanya mungkin Tuhan saya. Lalu hal yang kedua, kamu melihat semua bergerak pasti ada yang gerakan, semua akibat terjadi karena sebab. Tapi sebab yang ini pun disebabkan oleh yang lain. Tetapi ada penyebab yang tidak disebabkan oleh yang lain. Lalu ada penggerak yang tidak digerakan oleh yang lain, ini Tuhan saya. Dia lanjutkan lagi argumen, segala sesuatu yang di dunia ini pernah tidak ada, kalau semua pernah tidak ada pasti ada titik, ada saat dimana tidak ada apa-apa. Dan dari tidak ada tidak mungkin jadi ada, itu sebabnya dia mengatakan yang bisa tida ada tidak mungkin jadi satu-satunya keberadaan, harus ada tidak mungkin yang tidak ada, baru yang mungkin tidak ada menjadi ada. Harus baca baik-baik, argumen dia ternyata kuat. Lalu ada keindahan di dunia ini, kamu tahu ada yang indah dan kurang indah, ada yang cantik dan kurang cantik, ada yang cantik dan cantik sekali, ada yang cantik sekali dan cantik saja. Lalu Saudara mulai pikir mengapa ada standar cantik, kurang cantik, indah, kurang indah? Karena ada keindahan sempurna, baru saya bisa menentukan yang lebih dekat keindahan sempurna itu lebih baik dari yang lebih jauh. Itu sebabnya yang indah sempurna harus ada, dant itulah Tuhan saya. Hal yang terakhir, engkau tahu segala sesuatu di dalam dunia ini seperti ada tujuan dan itu memang ada. Siapa yang design tujuan? Sang designer, siapakah sang designer yang merancang semua ini? Itulah Tuhanku. “Jadi kamu membuktikan Tuhanmu lewat 5 jalan ini?”, Thomas Aquinas dengan unik mengatakan “belum lengkap”. “Belum lengkap? Lalu setelah kamu beri 5 argumen, mau apa lagi kamu?”, “saya membuktikan hal terakhir yaitu bahwa Tuhanku tidak bisa diselidiki keberadaanNya sama seperti keberadaan yang lain”. Kamu tidak bisa mengukur adanya Tuhan sama seperti mengukur adanya yang kelihatan. Jadi Tuhan beda dengan yang kelihatan. Yang kelihatan bisa dilihat, Tuhan penyebab yang bisa kamu lihat. Yang kelihatan bisa kamu raba, Tuhanlah penyebab yang bisa kamu raba. Dia tidak bisa kamu raba. Ini argumen yang sangat kuat dari Thomas Aquinas, membuktikan bahwa apa yang kamu lihat belum semua.
Tuhan tidak bisa kita ketahui kecuali mengetahui Dia dengan Firman. Sebab Tuhan berkata-kata, maka kita bisa mengenal. Dan karena Firman kita mengetahui Tuhan menjadikan yang kelihatan melalui FirmanNya yang belum kita lihat. Jadi waktu kita kenal Tuhan langsung ada arah, Tuhan menciptakan segala sesuatu, untuk apa Dia ciptakan? Demi kemuliaan Dia, demi kebahagiaan ciptaan, demi kesejahteraan, demi kedamaian, demi menikmati Dia di dalam seluruh ciptaan. Ketika seluruh tujuan kita pahami maka tinggal sekarang kita menggumulkan “aku ada di dalam bagian apa di dalam keseluruhan ciptaan”. Saudara kalau tidak tahu keseluruhan, bagaimana mungkin kita bisa mengerti ada di mana dan melakukan apa. Waktu Tuhan menyatakan diri, kita mungkin tidak tahu dengan tuntas, dengan detail, tapi gambaran besar kita tahu. Gambaran besarnya adalah Dialah yang mencipta dan Dia akan sempurnakan ciptaan ini. Ini gambaran besar yang simple, ini gambaran besar yang tidak perlu pemikiran terlalu canggih, terlalu rumit. Itu sebabnya orang-orang yang beriman, yang punya pemikiran sederhana pun tahu kalau Tuhan yang punya seluruh ciptaan ini maka apa pun yang Dia perintahkan, saya mesti jalan. Inilah iman yang mengerti secara total bahwa Tuhan pencipta, Dia menciptakan dari yang saya tidak lihat, yang kelihatan bukan semuanya, ada yang tidak kelihatan yang menopang yang kelihatan ini. Dan yang tidak kelihatan itu mencipta, Dia pasti punya kehendak, Dia punya keinginan, Dia ingin menjalankan apa yang sudah Dia ciptakan berdasarkan kehendakNya. Maka dengan pengertian ini kita mulai merombak beberapa hal, hal pertama saya mulai merombak menyusun hidup tanpa melibatkan Dia. Dalam khotbah relay kemarin Pdt. Stephen Tong mengatakan siapa yang mau hidup dengan cara sendiri, dengan kekuatan sendiri, sedang meresikokan penyertaan Tuhan. Saudara mau meresikokan penyertaan Tuhan? Mau jalani hidup dengan resiko Tuhan tidak sertai? Silahkan. Tapi kalau Saudara mau Tuhan sertai, tidak mungkin bisa dilakukan tanpa Saudara menyerahkan semua kepada Tuhan.
Kita terlalu banyak informasi masuk akhirnya kita remehkan. Pokoknya Tuhan berfirman, nanti saja saya berespon. Tidak bisa begitu. Abraham dengar, langsung berespon. Saudara dengar, langsung belajar berespon. Firman Tuhan harus menjadi nyata, Firman Tuhan benar-benar nyata, karena Tuhan berfirman dan semua jadi. Maka Firman Tuhan jauh lebih nyata dari yang ada, karena yang ada pun ditopang oleh FirmanNya. Itu sebabnya ketika Tuhan berjanji, harus lihat janji ini benar-benar nyata, benar-benar terpampang di depan, lalu Saudara mengatakan “kalau ini yang Tuhan janjikan, aku mau jalan ke situ, seberat apa pun, sesulit apa pun, ini mau aku tuju”. Tuhan mau mendirikan kotaNya yang agung, mau memberikan damai sejahtera di bumi bagi orang yang mau datang kepada Dia, maka aku akan bekerja sekeras mungkin, segiat mungkin untuk menjadikan pekerjaan Tuhan jadi. Ini yang kita bisa pelajari dari Abraham. Maka pasal 12 mengatakan jangan dirintangi oleh dosa. Hidup kita akan selalu ada beban di pundak, entah itu beban yang Tuhan bebankan karena kita melihat visi dan janji Tuhan, atau itu adalah beban dosa dengan tawaran dan janji yang penuh kemunafikan dan kepalsuan. Saudara pilih yang mana? Banyak orang Kristen tetap pilih pikul dosa. “Saya pikul dosa saja, saya menikmati dosa ini, saya taruh di pundak saya dan saya jalan dengan beban ini meskipun berat meskipun senang”, tapi justru ini yang menghancurkan hidup manusia. Seorang teolog mengatakan bahwa janji Tuhan memberikan kelegaan, sedangkan kenikmatan dunia memberikan satu perbudakan kepada kesenangan palsu, kecanduan. Saudara ikut kenikmatan dari dunia yang palsu, Saudara akan terikat untuk memuaskan diri tanpa pernah merasa puas. Orang kalau sudah pakai obat bius, begitu jauh dari obat, badannya akan sakit, menggigil, lalu dia hanya mungkin ditenangkan kalau dia makan obat lagi. Tetapi orang yang mengikuti Tuhan mempunyai kesempurnaan yang limpah, yang memberikan kelegaan dan damai yang sejati. Maka itu ketika Tuhan menjanjikan siapa mengikut Tuhan, Tuhan akan mengijinkan dia berbagian di dalam kota yang indah, dalam masyarakat yang indah dalam pembaruan yang Tuhan akan kerjakan, mari itu yang kita lihat. Seperti Abraham melihat ini jelas, mari kita lihat ini dengan jelas, mari kita rela jalan bukan dengan dosa. Tanggalkan dosa lalu siap pikul beban apa yang Tuhan mau bebankan. “Tuhan, untuk pekerjaanMu jadi, aku harus kerja apa? Lalu beban itu harus aku pikul seberat apa, silahkan. Tapi tolong bebaskan aku dari dosa, biar aku copot beban dosa, biar aku lepas beban dosa ini dan aku mau pikul apa pun salib yang Tuhan mau berikan”. Maka ayat 2 mengatakan mari belajar kepada Yesus yang memimpin kita di dalam iman. Yang lain saksi iman, Yesus pemimpin iman. Yang lain bisa Saudara contoh, Yesus harus Saudara pegang, harus ikuti dan harus menjadi penyelamat yang di dalamnya Saudara bisa mendapat anugerah. Itu sebabnya Alkitab di dalam Ibrani 12:2 mengatakan mari melakukannya dengan mata yang melihat kepada Yesus. Yesus mengabaikan kenikmatan sorga untuk membawa di dalam dunia apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Maka bagaimana beriman? Hal pertama, saya tahu Tuhan pencipta semua, Tuhan pemilik semua, Tuhan menginginkan kehendakNya nyata di dalam ciptaan ini. Kedua, kalau Tuhan ingin kehendakNya nyata, saya juga tahu kehendak Tuhan itu pun baik bagi saya, yang Tuhan mau tidak mungkin buruk bagi saya, Tuhan tidak pernah berikan karya besarNya untuk menghancurkan manusia, jadi apa yang Dia rancangkan bagi saya pasti baik untuk saya. Apa yang Dia mau tuju, apa yang Dia mau kerjakan, pasti baik, dan ini janji yang saya pegang. Lalu hal ketiga, berapa pun sulit, berapa pun tidak masuk akal, berapa pun tidak bisa kita lihat, tapi dengan mata iman kita tahu “kalau saya mati-matian berjuang untuk menyatakan kehendak Tuhan, saya akan mendapatkan janji kota suci yang Tuhan akan nyatakan itu. Janji Tuhan yang Tuhan genapi dalam damai sejahtera dan sukacita akan menjadi milikku. Mari kita lakukan dengan hati yang mau ikut Tuhan dan pundak yang bebas dari belenggu dosa. Kiranya Tuhan menguatkan kita, saya sungguh berharap di tahun 2016 kita boleh melangkah bebas dari dosa dan mengikuti Tuhan. Semangat yang limpah untuk melihat kehendak Tuhan jadi, baik di tahun ini, tahun akan datang dan tahun-tahun seterusnya selama kita masih hidup dalam dunia ini.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah Tematik
- 21 Jan 2016
Kristus Mengasihi Dunia Ini
(Yohanes 1: 14-18, Yohanes 3: 16-17)
Agama yang menekankan kehidupan di luar dunia ini, agama yang menekankan hal-hal yang sifatnya melampuai dunia atau other worldly, sesuatu yang sifatnya mistik. Mistik yang dimaksud bukan terkait dengan semua dongeng tentang hantu, tetapi mistik yang dimaksud adalah yang melampaui dunia ini, melampaui yang kelihatan, melampaui apa yang kita saksikan sehari-hari. Penekanan kepada yang tidak kelihatan, ini sangat jelas baik di dalam Yohanes mau pun Kolose, Efesus. Di dalam surat Paulus yang lain, Paulus mengatakan Kristus adalah Mesias, Anak Daud, Anak Abraham, Dia adalah yang menggenapi yang Tuhan nyatakan dalam Perjanjian Lama. Tetapi di dalam Kolose maupun Efesus, Paulus membahas Kristus adalah yang melampaui semua ciptaan ini, melalui Dia ciptaan dijadikan. Dia adalah yang lebih besar dan mencakup seluruh dari ciptaan ini, Dia tidak sama dengan ciptaan tapi Dia menjadi yang sulung, yang pertama yang dibangkitkan dari antara orang mati. Ketika Yohanes menulis, kemungkinan besar salah satu target orang pembaca mula-mula adalah jemaat di Efesus. Kelompok orang Efesus percaya ajaran yang nanti akan berkembang jadi gnostik. Ajaran gnostik adalah mengajarkan bahwa kita mempunyai pengetahuan baru kita mempunya kesempurnaan dalam pengertian, baru kita juga mempunyai tahap kehidupan yang lebih tinggi. Kalau kita sadar materi itu jelek, kalau kita sadar bahwa dunia ini adalah dunia yang bobrok dan tidak ada hal yang baik, maka kita mulai mencari pengetahuan yang lebih tinggi bahwa ada hal yang sifatnya non materi dan itu lebih baik. Maka ini merupakan satu pengaruh yang terus-menerus berkembang dari ajaran Yunani, hal yang sifatnya materi tidak penting, hal yang sifatnya duniawi itu rusak, hal yang sifatnya rohani, non-material, hal yang sifatnya ide, sorga itu yang jauh lebih penting. Maka yang penting itulah yang harus kita capai. Kalau kita masih ditipu oleh sense, oleh indera, oleh pengalaman, kita orang remeh. Tapi kalau kita mencari itu dengan melepaskan keterkaitan yang sifatnya duniawi, kita akan mendapatkan pengetahuan dan kesempurnaan. Inilah ajaran yang coba dilawan sebelum nanti berkembang menjadi ajaran yang masuk dan mempengaruhi gereja.
Maka surat-surat Paulus bagian Kolose dan Efesus menekankan hal yang membahas dunia yang lain, tetapi mengaitkannya ke dunia sekarang, membahas hal yang sifatnya ideal dan sorgawi tetapi mengaitkannya dengan sangat kepada apa yang terjadi di sini. Maka secara unik kalau Saudara membaca Yohanes, Saudara akan menemukan sungguh kitab ini di luar dunia sekaligus ada di dalam dunia. Kitab Yohanes mengakhiri kitabnya dimana? Yohanes waktu menulis tidak mengakhiri dengan Kristus pergi ke sorga, Yohanes mengakhiri dengan percakapan Kristus dengan Petrus. Mengapa ditutup di sini, mengapa tidak ditutup waktu Yesus pergi ke sorga? Karena kitab ini secara pradoks, secara unik membahas keadaan di luar dunia ini sejaligus membahas keadaan di sini. Maka apa yang Kristus bahas adalah menekankan sifat dunia lain. Kitab-kitab ini menekankan yang di dunia sana, tapi juga dengan sangat ketat membahas di dunia ini. Yang di dunia sana tidak pernah dibahas tanpa mengaitkan yang di dunia ini. Maka Yohanes mengatakan “pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah, Firman itu adalah Allah”, Dia ada bersama Allah, tapi langsung dikatakan juga Firman itu telah menjadi manusia dan berdiam di tengah-tengah kita, membuat tendaNya di tengah-tengah kita semua. Dan kitab ini terus membahas Yesus yang mengatakan “Aku datang dari atas”, dan Dia mengatakan “setiap orang yang adalah milikKu juga datang dari atas. Aku dari atas dan engkau semua juga dari atas”. Pdt. Billy menafsirkan ini dengan sangat baik, dia mengatakan karena Yesus dari atas maka Dia bisa turun, manusia di bumi dari bawah cuma bisa naik, cuma mau naik, karena kita dari bawah kita ingin menjadi lebih tinggi, karena kita di bawah kita ingin kemuliaan yang lebih. Tapi karena Kristus dari atas, Dia tidak perlu cari kemuliaan, tapi Dia rela turun, rela merendahkan diri. Saudara hobi meninggikan diri ini adalah tanda bahwa Saudara adalah orang yang rendah, tetapi Kristus yang tinggi rela merendahkan diri. Dan Yesus mengatakan di dalam Injil Yohanes “kamu pun bukan dari dunia ini, kamu pun dari sorga”. Karena kita ada di dalam Kristus, kita pun ada di dalam Dia, kita pun dari atas. Sama seperti Dia dari atas, demikian kita dari atas. Sama seperti Dia yang dari atas bisa ke bawah, demikian juga kita yang dari atas bisa ke bawah. Sama seperti Dia yang dari sorga, boleh, rela datang ke dalam dunia, demikian juga kita yang adalah milik sorga, bisa dan rela datang ke dalam dunia, ini semua konsep yang luar biasa indah. Maka baik Yohanes mau pun Surat Kolose, mau pun Surat Efesus dengan luar biasa mulai pembahasan other worldly, dunia yang lain, tapi dengan sangat ketat membahas dari dunia lain itu sekarang ada di sini.
Yang dari sorga sekarang ada di sini, Dia ada di tengah-tengah kita. Ini merupakan cara yang digunakan Yohanes dan Paulus untuk melawan ajaran yang nanti berkembang menjadi gnostik, ajaran yang terus mengajarkan fisik itu memenjarakan jiwa, hal yang sifatnya materi membuat rohani sangat terkurung. Bagaimaan lepas dari hal yang bersifat mengurung ini? Abaikan, kamu abaikan hal yang duniawi kamu akan lebih sorgawi, kamu abaikan hal yang sifatnya tubuh, kamu akan jadi orang yang lebih sorgawi. Maka ini tanpa sadar juga masuk dalam ajaran Kristen, orang Kristen mulai berpikir dunia ini terlalu rusak, dunia ini terlalu jelek, dunia ini terlalu bobrok, jadi bagaimana caranya hidup dengan baik? Ya sudah tinggalkan dunia ini, bagaimana tinggalkan? Menyendiri. Itu sebabnya sejak dulu orang-orang yang mau rohani lebih baik, merasa satu-satunya kemungkinan rohani lebih baik, ya tinggalkan dunia ini. Terus tinggal di mana? Tinggal di padang gurung, di hutan, di padang belantara, tidak tinggal sama manusia. Maka ini menjadi suatu perputaran yang terus terjadi, lalu kita mengatakan “ya tidak apa-apa, yang kita lakukan ini kerja, tidur, kerja, tidur, kerja, dapat uang, liburan sekali-kali, nanti juga kan ke sorga, bukankah tujuan iman kita adalah ke sorga? Bukankah waktu kita percaya Yesus, kita ingin sampai ke sorga dan duni ini hanya halangan?”. Inilah tema yang coba dilawan oleh Surat Kolose, Efesus dan Injil Yohanes, dunia ini bukan cuma pengantaraan, cuma satu jalur transit untuk sampai di sorga.
Saudara pikir baik-baik, kalau dunia ini cuma menjadi jalur transit, mengapa Yesus menjadi manusia? Mengapa Yohanes 3: 16 mengatakan “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini”. Dulu orang-orang Calvinisme mengatakan dunia itu artinya sekelompok orang pilihan. Jadi Yohanes 3:16 mengatakan “karena begitu besar kasih Allah kepada orang pilihan…bukan dunia”, jadi dunia itu artinya orang pilihan. Tapi saya bingung juga benarkah orang pilihan atau Tuhan mencintai dunia? Saya mencoba mencari commentary Calvin, ternyata dia bicara hal yang beda, dia mengatakan Tuhan mencintai dunia berarti dunia, karena Kitab Injil Yohanes berusaha memparalelkan kedatangan Kristus dengan Kitab Kejadian 1. Kejadian 1 mengatakan Tuhan menciptakan langit dan bumi, dan Yohanes mengatakan Yesus dari langit ke bumi. Maka waktu dikatakan Dia mencintai duni ini, yang dimaksud adalah Dia mencintai apa yang sudah Dia ciptakan. Allah begitu besar mencintai ciptaanNya, secara keseluruhan, secara total, maka Dia mengirimkan Anak TunggalNya untuk hidup di tengah-tengah dunia. Kalau dunia cuma tempat transit, mengapa Dia perhatikan dunia begitu besar? Kalau dunia cuma tempat transit, mengapa Dia menjanjikan langit juga bumi? Kalau ini sesuatu yang kita tidak mengerti, kita akan jadi orang yang mirip dengan gnostik, cuma memikirkan bagaimana nanti di sorga, bagaimana aku lepas dari dunia ini dan ke sorga, di dunia banyak penderitaan, banyak kesulitan, banyak penganiayaan, biarkan saja, memang dunia, kita kan sorga bukan dunia. Tapi kita lupa bahwa Tuhan menginginkan sorga dinyatakan di tengah-tengah dunia ini. Kadang-kadang orang Kristen tidak sadar punya pola pikir seperti ini sehingga sulit untuk mengalami kasih maupun kerinduan untuk adanya perbaikan. Karena orang Kristen dengan gampangnya mengatakan “sudahlah kalau dunia kacau biarkan saja, biarkan karena aku akan lari”, ini namanya konsep biara. “Masyarakat kacau, kita ngumpul sendiri”, “tapi kamu perlu berdagang sama mereka”, “apa boleh buat, kita berdagang setelah itu ngumpul lagi”. Terpisah dari dunia, ada yang rusak, lari, ada yang kacau, pergi, ada yang tidak beres, pergi keluar, dunia tidak beres, mari ke sorga. Ini namanya cara melarikan diri, orang Kristen tidak dipanggil untuk melarikan diri, ada kesulitan, lari, ada problem lari, ada apa-apa, lari, nanti kebanyakan lari terus sampai garis akhir Saudara akan menemukan hidup Saudara adalah pelarian dari hal-hal yang Saudara tidak sanggup hadapi. Orang Kristen tidak dilahirkan dari atas untuk pergi langsung ke atas. Orang Kristen dilahirkan dari atas, demikian kata Kristus, untuk menyatakan damai sejahtera, untuk menyatakan anugerah yang penuh dan kebenaran. Sama seperti yang dikatakan para murid “kami sudah melihat Dia, Yesus Kristus, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Penuh kasih karunia dan kebenaran itu dilihat di sini, maka Tuhan tidak melihat bumi lalu menjadi muak karena itu. Tuhan melihat bumi, Dia muak karena dosa tapi mencintai bumi. Dia muak karena sistem rusak, tapi Dia mencintai orang-orang yang berada di dalam sistem itu. Dia muak karena kebobrokan, tapi Dia mencintai manusia yang sementara dikalahkan oleh kebobrokan. Itu sebabnya Yesus datang ke dalam dunia. Kalau tempat kita “pokoknya kamu percaya Yesus, lupakan bumi, yang penting nanti di sorga”, mengapa kita masih harus studi, mengapa kita harus bekerja, mengapa kita masih harus pikirkan dengan serius hidup di sini? Maka waktu Yesus datang pun, Dia datang dengan cara natural, meskipun tetap berbau cara supranatural. Dia hadir di bumi ini melalu iseorang perempuan, natural. Tetapi Dia hadir bukan karena perkawinan antara laki-laki dan perempuan, bukan karena pembuahan secara natural, ini sifatnya supranatural. Tapi yang supranatrual itu dinyatakan dengan cara yang natural. Tuhan menghargai semua proses yang terjadi karena Dia sendiri yang atur. Seorang manusia lahir ke dunia dengan cara dilahirkan seorang perempuan, Yesus pun melakukan hal yang sama, Dia datang ke dalam dunia dengan cara dilahirkan oleh seorang perempuan. Maka seorang perempuan melahirkan anak, ini bukan hal yang remeh, bukan hal yang jelek, bukan hal yang cemar, bukan hal yang Tuhan hina. Tuhan sangat meninggikan hal ini, sehingga waktu AnakNya datang pun, Dia datang dengan cara yang natural. Dan Dia menjadi bayi. Tuhan tidak pernah hina, Yesus pun pernah menjadi bayi. Maka waktu kita gendong seorang bayi, kita tahu begitu banyak berkat, anugerah dan kemuliaan Tuhan dinyatakan.
Di dalam Mazmur dikatakan “dari mulut seorang bayi, Engkau sudah menyatakan kekuatan untuk membungkam lawanmu”, itu juga bisa ditafsirkan bayi pun bisa berapologetika mengalahkan orang tidak percaya. Maka seorang bayi ketika dilihat begitu lucu, anggun, begitu indah sekali, dan kalau mamanya sendiri melihat bayinya pasti kelihatan bagus. Maka Tuhan menghargai proses seperti ini, Tuhan menghargai hidup, Tuhan menghargai segala pergumulan yang kita hadapi di dalam hidup, Tuhan menghargai bagaimana kita menjalani hidup. Itu sebabnya Kristus menjadi manusia, selain untuk menebus, Dia juga mau menyatakan bahwa kehidupan kita adalah kehidupan yang Tuhan mau hargai. Tuhan menjanjikan mau memberikan damai sejahtera bukan hanya nanti di sorga, tapi mulai dengan cara hidup yang penuh dengan anugerah dan kebenaran, di situ kita mulai menikmati damai sejahtera. Yesus mengatakan “Aku pun tinggal di bumi”, berarti bumi itu tidak seburuk yang kamu pikir. Benar bumi itu jatuh dalam dosa, tapi orang Kristen lihat ada penebusan, bukan meninggalkan. Maka makna Natal adalah momen dimana kita merenungkan hidup itu indah, hidup itu anugerah Tuhan, hidup itu dijalani dengan penuh bahagia karena Tuhan memang menginginkan ada bahagia dinyatakan dalam hidup. Begitu besar Dia mengasihi hidup di sini, sehingga Dia pun mau hidup di sini. Lalu bagaimana Dia hidup di sini? Apakah ada fasilitas khusus? Tidak, Dia menghargai kehidupan di tengah-tengah orang Kristen, Dia menjadi anak dari keluarga miskin. Maka Tuhan mengatakan menjadi miskin itu bukan sesuatu yang sangat buruk. Kecuali kalau Saudara miskin karena malas, itu lain hal. Tapi kalau Saudara diberikan anugerah menjalani hidup yang betul-betul pas, meskipun kerja begitu keras, ini pun anugerah. Karena Yesus tidak hina keluarga miskin, Dia adalah salah satu anak dari keluarga miskin. Yesus tidak hina kerja keras dari kelompok bawah, karena Dia adalah orang yang hadir di tengah keluarga kelas bawah yang kerja keras. Jadi Yesus sedang menyatakan di hari Natal, yang kamu kerjakan itu bukan hal yang buruk. Dosa memang buruk, tapi pekerjaan yang engkau kerjakan, hidup yang engkau jalani itu bukan hal buruk, Yesus pun datang ke sini.
Itu sebabnya Yohanes mengatakan waktu Yesus Kristus ada di dunia, Dia memberi terang. Salah satu terang yang Dia bagikan adalah terang mengenai bagaimana Tuhan memandang hidup manusia. Mari kita belajar untuk mempunyai bijaksana bagaimana memandang hidup kita, bagaimana memandang dunia, inilah hal pertama yang kita renungkan dalam Natal. Natal berarti Tuhan menyatakan bahwa Dia mencintai kehidupan di dunia ini, bahwa Dia mengirimkan Anak TunggalNya untuk hadir di sini. Kalau Dia tidak mencintai dunia ini, mengapa Anak TunggalNya hidup di dunia ini. Kalau Dia tidak menghargai proses kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan dan akhirnya kesetiaan sampai mati, mengapa AnakNya dilahirkan bertumbuh dari bayi sampai dewasa lalu terus setia sampai mati. Kalau Dia tidak menghargai perjuangan menyatakan kebenaran, mengapa AnakNya hidup sebagai manusia yang menyatakan perjuangan kebenaran. Kalau Dia tidak menghargai usaha manusia bertahan hidup, mengapa AnakNya ada di dalam dunia dan bertahan hidup, sama seperti orang lain? Ini semua misteri yang besar sekali dan Natal adalah momen di mana kita merenungkan Tuhan mencintai hidup. Dan kalau Saudara mencintai hidup, Saudara baru bisa mencintai orang, karena orang yang Saudara cintai adalah orang yang hidup di sini. Kalau kita tidak punya jiwa seperti ini, Saudara pun akan sulit mengasihi. Maka waktu Saudara lihat orang lapar, Saudara mengatakan “saya mau beri kamu makan karena aku mencintai hidup di sini”. Waktu lihat orang sakit, Saudara mengatakan “saya ingin ada terobosan di dunia medis, karena saya mencintai hidup di sini”. Waktu ditanya “mengapa kamu mencintai hidup di sini?”, Saudara jawab “karena Anak Allah pun cinta hidup di sini. Yesusku hidup di sini, Yesusku jadi manusia, Yesusku jalani kesulitan, Yesusku jalani keharusan menjadi manusia dalam ketaatan kepada Tuhan”. Maka orang Kristen yang mengerti semangat Natal, makna Natal, dia akan berjuang dalam hidup, dia bukan lari dari dunia ini.
Hal kedua, Yesus Kristus datang ke dunia untuk menunjukkan Dia mencintai hidup di dunia ini dan Dia juga melihat keperluan akan penebusan. Yesus melihat kekacauan, apakah Dia sadar? Sadar, apa yang Dia lakukan? Menebus. Orang-orang pendiri biara melihat kekacauan, mereka sadar? Sadar, apa yang mereka lakukan? Mereka lari. Kita mau yang mana, lari atau melakukan sesuatu untuk adanya penebusan? Saudara bilang “politik itu rusak, mari ramai-ramai jauhi politik”, akhirnya kita menjadi rakyat jelata dan yang menjadi politikus selalu tikus karena yang kucing tidak mau, yang singa juga tidak mau. Saudara tidak bisa lari. Saudara tunggu mati baru nanti ada kesempatan meninggalkan dunia ini, untuk nanti kembali bersama dengan Kristus. Maka mari kita pikirkan Natal adalah momen dimana Sang Raja rela menjadi manusia, momen di mana Sang Allah rela menjadi manusia dan menjalani hidup sebagai manusia. Kalau begitu mengapa di Hari Natal kita malah ingin lari? Biarlah di Hari Natal kita dikuatkan untuk berjuang di tengah dunia ini, dunia bobrok perlu penebusan, dunia bobrok perlu ada anugerah. Tapi dunia ini tidak 100% borbok, Tuhan mencintai manusia yang ada di dalamnya dan Tuhan mencintai semua manusia yang Dia berikan anugerah untuk kemudian bisa datang dan hidup dengan benar. Maka biarlah kita memperjuangkan hidup yang benar karena damai sejahtera Tuhan akan memerintah di sini ketika Saudara menjalani prinsip yang benar dari Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan kita kekuatan untuk hidup meneladani Kristus dan di dalam memperingati hari Natal kita mengingat ada satu semangat yang indah dari orang-orang Kristen untuk meneladani Tuhannya, yaitu Anak Allah yang rela jadi manusia pada Hari Natal.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)