- Khotbah
- 2 Dec 2016
Mari menjadi Kristen Sejati
(Efesus 3: 18, 1 Yohanes 5: 13)
Renungkan terus-menerus Yesus yang sudah menderita untuk Saudara dan saya. Renungkan terus-menerus, Dia rela tinggalkan sorga yang mulia untuk Saudara dan saya. Renungkan di dalam hidup Saudara dan saya, Dia merendahkan diri serendah-rendahnya, Dia mengambil rupa menjadi seorang manusia. Kalimat ini adalah kalimat yang besar “Allah rela menjadi manusia”. Allah yang tidak terbatas, rela menjadi terbatas. Allah yang tidak kelihatan, rela menjadi kelihatan. Hanya ingin manusia mengerti jalan keselamatan di dalam Tuhan. Allah pemilik sejarah, Dia turun ke dalam sejarah. Dunia yang diciptakanNya. Padahal Dia adalah Pencipta, Allah yang kaya, tapi Dia rela menjadi miskin untuk Saudara dan saya. Renungkan penderitaan Tuhan, renungkan kesengsaraan Tuhan, renungkan kutuk, kata-kata dari orang-orang yang akan diselamatkan oleh Tuhan pada waktu Dia mau disalibkan. Dia rela direndahkan serendah-rendahnya, kemudian Allah meninggikan Dia. Setan mau merebut kemuliaan Allah, mau setinggi-tingginya, dia mau dapat kemuliaan. Tapi Tuhan rendahkan iblis. Bagaimana dengan pelayanan Saudara sekalian? Apakah Saudara rela menjadi hamba? Rela direndahkan? Ini janji firman Tuhan, Saudara akan ditinggikan. Saudara rela sekecil apa pun, kita mendapatkan kepercayaan dari Tuhan, Saudara bersukacita “Tuhan masih mau mempercayaiku”, kemudian Saudara kerjakan dengan sebaiknya. Karena Tuhan yang percaya. Di dalam pelayanan Tuhan tidak ada tempat untuk menonjolkan diri. Di dalam Saudara dan saya berjuang, tidak ada tempat untuk memuliakan diri. Oleh sebab itu seorang yang sudah mendapatkan kasih dan anugerah dari Tuhan, mari kerjakan sesuatu yang bernilai kekal untuk pekerjaan Tuhan. “Supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah”, firman Tuhan mengatakan “tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal”. Saudara punya Anak Allah? Saudara percaya kepada Tuhan Yesus? Percaya kepada Anak Allah, firman Tuhan mengatakan ada hidup kekal. Berarti itu jaminan. Bersyukur karena kita semua ada jaminan itu, ketenangan.
Semalam saya menginjili seorang yang sudah tua di Rumah Sakit Sentosa, “pak, percaya kepada Tuhan itu kebahagiaan yang tertinggi. Punya Tuhan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga”, saya berharap Saudara mengalami hal ini. Percaya kepada Anak, dia mempunyai hidup. Tidak percaya kepada Anak, dia tidak mempunyai hidup. Berarti kita tahu sesuai dengan firman Tuhan, seluruh kuasa diberikan kepadanya. Rahasia hidup itu ada di dalam Anak, di dalam Tuhan Yesus. Saudara kalau punya Tuhan Yesus, jaminan Suadara tidak mendapatkan cek kosong, ceknya sudah ditanda-tangani berlaku masuk ke Kerajaan Sorga. Puji Tuhan. Hidup yang kekal itu tidak pernah bisa diberikan oleh agama. Tadi Pak Tong mengatakan dua jalan, Dia yang datang ke dalam dunia membawa kita ke sana, bukan kita yang mencari kesana kemari, itu agama. Cari itu belum dapat. “Pada waktu engkau makan buah ini, engkau akan mati”, mati secara rohani, bagaimana bisa mencari Tuhan? Tidak mungkin. Hanya Kekristenan yang mengajarkan Tuhan datang mencari manusia. Saudara dicari sama Tuhan, kalau dicari oleh Tuhan tidak mungkin tidak ketemu. Masalahnya, apakah Saudara adalah orang yang dicari oleh Tuhan? Kalau Saudara adalah orang yang dicari oleh Tuhan, tidak mungkin tidak ketemu. Saudara akan menjadi milik Tuhan. Kekekalan tidak mungkin diberikan oleh organisasi, tidak mungkin diberikan oleh amal, kebaikan, tidak bisa, tidak mugkin. Saudara memiliki Anak, memiliki hidup kekal itu. Tuhan sudah menderita menggantikan Saudara dan saya, harganya telah lunas dibayar oleh Tuhan Yesus. Saya harap kalimat-kalimat yang penting ini Suadara hafalkan. Kalau berdoa, bersyukur “Tuhan, terima kasih. Engkau telah lunas membayar”. Kita tidak bisa membayar, Tuhan yang bayar, sehingga kita menjadi milik Allah. Ini kunci yang besar sekali. Saudara punya Anak, punya hidup yang kekal. Kita punya Anak, punya tempat yang pasti. Kita punya Anak, kita punya kepastian keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Saudara punya Anak, punya tiket yang pasti ke sorga. Sungguh Saudara punya Tuhan Yesus? Sungguh Tuhan Yesus ada di hati? Saya harap Saudara mengoreksi benar-benar, jangan sampai jadi orang percaya yang bahaya, percaya tapi sebenarnya tidak ada Tuhan Yesus di dalam hidup. Sepertinya percaya tapi tidak ada Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita, celaka. Oleh sebab itu saya rindu kita mulai mengoreksi “saya tipe orang Kristen yang mana?”. Yang betul-betul percaya Tuhan tapi hidupnya masih ngawur. Saya percaya Tuhan tapi mengerti apa pun tidak. Tapi sebetulnya ini hal yang tidak mungkin, karena Roh Tuhan yang ada di dalam hati Saudara dan saya akan bekerja dengan luar biasa. Rasul Paulus begitu percaya Tuhan, terus dituntut belajar dengan sungguh-sungguh. Tanda-tana seperti itu apakah ada dalam hidup Saudara? Kalau Saudara cuek, tidak pernah baca firman, tidak pernah belajar, tidak pernah ingin tahu lebih lagi tentang Tuhan, apakah Roh Kudus yang bekerja di dalam hati Rasul Paulus tidak sama dengan Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita? Apakah Roh Kudusnya berbeda? Mengapa Roh Kudus bekerja dengan luar biasa di hati Rasul Paulus, di dalam kehidupan Paulus? Tapi tidak bekerja di dalam hati saya, saya tidak ada dorongan, mungkin di dalam Saudara memang belum ada. Jika demikian, itu celaka. Jangan sampai menjadi orang Kristen, Saudara datang dalam kebaktian setiap hari Minggu tapi tanpa Kristus, berarti memang tidak akan ada gerakan. Tidak pelayanan juga tidak apa-apa, tidak baca Alkitab juga tidak apa-apa, tidak perpuluhan juga tidak apa-apa, tidak mungkin orang Kristen seperti itu. Roh Kudus akan bekerja dengan luar biasa, dorong Saudara. Kalau Saudara beriman kepada Anak Allah, memperoleh hidup kekal. Orang-orang yang di dalam kekekalan tidak memikirkan hal-hal dunia. Saudara dan saya ada dalam kekekalan, karena Saudara dan saya adalah orang-orang yang percaya.
Sorga itu kapan? Sekarang, Saudara menikmati di dalam Tuhan itu adalah teologia Reformed. Sorga itu bukan nanti, ini sudah sorga, suasananya sudah suasana sorga, Saudara sudah mulai menikmati firman, Saudara sudah selalu merasa haus dan lapar akan firman Tuhan, Saudara selalu ingin mendengar pembinaan-pembinaan yang menyentuh. Kerinduan kepada firman ada Anak Tuhan, kalau tidak ada perlu dipertanyakan. Sekali lagi, Saudara dan saya sebenarnya tipe seperti apa? Benar percaya kepada Anak Allah dan Saudara memiliki hidup yang kekal? Tapi Saudara tidak mengerti itu sudah terjadi dalam hidup, Saudara menjadi orang yang ragu-ragu terus, gentar terus, takut terus, “saya ini sudah dapat keselamatan atau belum?”, berusaha hidup baik, itu memang baik. Tapi keragu-raguan terus-menerus, sayang sekali. Orang yang tidak mengerti firman itu memang kasihan, padahal firman itu pelita bagi kakiku, jadi mengerti arah. Saya harap kita mengimani kebenaran-kebenaran firman Allah. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan, Tuhan tidak akan pernah membiarkan, ini firman Tuhan. Kalau saya berjanji, mungkin saya bisa lupa, tapi firman Tuhan “sekali-kali Aku tidak akan meninggalkan engkau, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau”. Saudara berdosa sekalipun, kalau engkau orang pilihan, Saudara tetap masuk sorga. Tapi malu, masuk sorga tapi malu. Jangan sampai nanti ketika kita bertemu Tuhan, kita malu, tidak pernah kerjakan apa-apa, malasnya setengah mati jadi orang Kristen, masih berhubungan dengan dosa dan sebagainya. Saudara dan saya bukan terminalnya Tuhan, satu kali diselamatkan, selama-lamanya Saudara dan saya dapat keselamatan. Saudara berdosa, berzinah, malas, dengan saya, tetap kita anak Tuhan. Tapi kita membuat hati Tuhan berduka. Saya dan Saudara membuat hati Tuhan sedih karena hidup Saudara dan saya. Dan Tuhan bukan hanya menyatakan kasih, tetapi Tuhan bisa juga murka. Sekali-kali Saudara dan saya tidak pernah boleh mempermainkan Tuhan. Sekali lagi, kalau Saudara berdosa di hadapan Tuhan, jangan terus-terusan. Bukan Saudara dan saya tidak bisa berbuat dosa, bisa, ahli berbuat dosa. Daud jatuh dalam dosa, berzinah besar sekali, Tuhan sedih sekali. Tapi pertobatan dia betul-betul, lihat firman Tuhan, dia tidak mengulang dosa yang sama. Kita masih bisa berbuat dosa. Tapi lihat Daud tidak melakukan dosa yang sama, sedangkan kita melakukan dosa itu-itu lagi, melakukan terus-menerus. Saya rasa perlu dikoreksi, mungkin Saudara dan saya belum jadi anak Tuhan, belum punya Anak, belum punya hidup yang kekal itu.
Kita melihat kehidupan Daud sekalipun dia begitu telah berbuat dosa, kembali Tuhan memakai dia. Jadi Saudara dan saya bukan tidak bisa beres, beresin, bertobat dengan sungguh supaya Saudara kembali dipakai oleh Tuhan, “Tuhan, saya ingin kembali menikmati saat-saat itu. Saat tersiksa di dalam dosa, saat betul-betul pukulan Tuhan, saya tidak mau itu lagi”, Saudara mengalami itu? Mengalami dihajar Tuhan, mengalami dipukul Tuhan? Berarti Saudara adalah orang yang diperhatikan oleh Tuhan. Kalau berdosa, berbohong dan merasa biasa-biasa saja, itu celaka, tidak peka. Menghilangkan, menginjak Roh Kudus bekerja dalam hati. Sayang sekali kalau Saudara dan saya seperti itu. Yesus tetap ada di dalam hati sekali pun Saudara dan saya jatuh dalam dosa. Dan sekalipun Saudara belum beresin, kita ketemu Tuhan mungkin masuk sorga, mungkin, kalau Saudara umat pilihan, tapi Saudara akan malu. Saya selalu berdoa setiap hari “Tuhan, jangan sampai nanti saya malu menghadap Tuhan”. Semua akan menghadap Tuhan. Oleh sebab itu sadari hal ini, yang kekal itu lebih utama dari pada yang ada di sini. Seorang yang sudah diselamatkan, sadari hal ini. Saudara mau bekerja untuk kekekalan, mau mengabdikan diri membuat Tuhan senang, membuat Tuhan tersenyum karena hidup kita. Saya mengharapkan saudara-saudara menjadi orang Kristen yang mengerti firman. Kita tahu Tuhan yang sudah datang ke dalam dunia ini menyelematkan, ada di dalam hatiku, tidak pernah melepaskan tanganNya memegang aku, tidak pernah membiarkan aku. Saudara akan hidup berkemenangan, Saudara akan hidup dalam Tuhan. Oleh sebab itu mari kita benar-benar beresin hidup ini.
Allah itu setia dan adil. Kita punya segala pelanggaran dan dosa yang telah kita lakukan, kita mengaku di hadapan Tuhan, Allah itu setia dan adil. Firman Tuhan mengatakan “Aku akan mengampuni”, Allah itu setia dan adil. 1 Yohanes 1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”, supaya Saudara lega hidupnya. Untuk apa berbuat tidak baik, untuk apa benci sama orang, untuk apa terus kesal dengan orang kemudian Saudara membicarakan dia kemana-mana, dosanya makin banyak. Berhenti. Saya juga belajar, sama dengan Saudara sekalian. Tidak pernah mengabarkan Injil, tapi paling pintar membicarakan orang, itu celaka. Kalau Saudara tidak mau mengampuni dan tidak mau hidup di dalam kebenaran, terlalu banyak pekerjaan Tuhan yang akan dihambat karena kita. Sekali lagi, saya mengharapkan kita betul-betul berdiri di atas kebenaran firman Tuhan yang kita baca dan pegang dengan sungguh-sungguh. Kemudian Saudara melangkah dengan firman Tuhan. Mari inisiatif untuk melayani, semua ingin berkorban, semua ingin bersatu, semua ingin membuat Tuhan senang. Orang yang menyadari, “benar-benar Kristus begitu besar korbannya untuk saya, saya tidak layak, saya tidak memenuhi syarat. Saya seharusnya dibuang, tapi saya boleh menjadi milik Tuhan. Dia disengsarakan karena saya. Saya adalah milik Tuhan”, orang-orang seperti itu akan terus maju di dalam Tuhan. Saya mengharapkan kita adalah tipe orang Kristen yang tidak ragu-ragu tapi tipe orang Kristen yang penuh dengan keyakinan dan yang memegang firman Tuhan. Ada tipe orang Kristen itu “pokoknya saya dapat anugerah, saya dapat berkat dari Tuhan”. Berkat itu penting, tapi itu bukan utama. Kadang Tuhan mengijinkan Saudara dan saya menderita, ada maksud Tuhan. Kita lihat di Alkitab juga seperti itu, kaya raya seperti Abraham, ada orang seperti Ayub juga. Diijinkan segala sesuatu di dalam dunia ini yang diatur oleh Tuhan, terima saja. Karena yang paling berharga adalah Saudara dan saya punya hidup, punya Anak, dan punya hidup kekal. Itu saja yang akan kekal. Saudara kalau tidak mengalami Tuhan yang benar-benar diberitakan oleh Alkitab, ruginya besar. Saudara kalau menjadi orang Kristen yang asal-asalan, sayang sekali. Menjadi orang Kristen yang betul-betul mengerti firman, itu segala-galanya dalam kehidupan. Kenal Tuhan itu segala-galanya. Jangan mau ditipu oleh ajaran yang ngawur di zaman ini, Tuhan akan mengatakan “Aku tidak pernah kenal kamu”. Saudara dan saya akan dibuang, kita akan menjadi orang yang betul-betul bukan Kristen karena itu bukan ajaran Kristen, itu ciptaan manusia sendiri. Bukan yang asal ramai. Saudara harus kembali kepada kebenaran firman Tuhan dan Saudara boleh menjadi orang Kristen yang sejati. Supaya kamu tahu yang percaya kepada Anak Allah akan memperoleh hidup yang kekal. Saudara benar-benar harus beriman. Dari firman, iman itu datang dari pendengaran, pendengaran akan firman. Baru seperti yang tadi saya katakan, punya cek yang tidak kosong.
Ayatnya di Efesus 1:13 “di dalam Dia kamu juga, karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu, di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu”, dimeteraikan oleh Roh Kudus, ditanda tangan. Menjadi punya kepastian yang pasti. Dari mana? “di dalam Dia kamu juga, karena kamu telah mendengar firman kebenaran”. Firman dulu masuk ke dalam telinga. Saudara mengalami firman dulu, tidak ada satu orang yang bisa datang kepada Tuhan lewat yang lain. Sekali lagi, di dalam Dia ketika mendengarkan firman, menjadi percaya ini firman Tuhan, karena firman dan kita mendapatkan tanda tangan itu. Dimeteraikan, jadi kepastian di dalam Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan, betul-betul kesengsaraan Kristus yang telah Dia lakukan di dalam hidup kita berlaku, seluruh dosa ditimpakan kepada Dia. Kata dibenarkan di dalam Alkitab, kita banyak sekali dosanya, kemudian diberikan kepada Tuhan di kayu salib. Kemudian dari atas kayu salib, Tuhan memberikan kebenaran “kamu dibenarkan”. Kalimat dibenarkan di dalam Alkitab artinya seperti itu, dosa kita semuanya diserahkan kepada Kristus. Kebenaran dari salib diserahkan kepada kita, kita terima, kita dibenarkan. Seluruh dosa ditanggung oleh Kristus. Oleh sebab itu Saudara dan saya kalau merenungkan hal ini jangan lupa Getsemani, jangan lupa sengsaranya, jangan lupa cinta Tuhan. Saudara dapat ini yang sangat berharga di dalam kehidupan kita. “Saya tidak lupa Tuhan, Engkau pernah luka, Engkau pernah sengsara karena saya. Saya tidak lupa Getsemani”, jangan lupa sengsaraNya. Timbul kasih sayang kepada Tuhan. Mau mulai melakukan apa yang menjadi perintah Tuhan. Saudara dicipta kembali. Tuhan mengatakan “siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru”. Apakah kita sudah menjadi baru? Menjadi baru di dalam Tuhan sehingga tidak mau lagi berdosa. Kalau Saudara dan saya dulu berdosa, sekarang sudah mengalami dipukul, disiksa, hidup di dalam dosa tidak enak luar biasa, tidak boleh main-main lagi. Mari kita tanggalkan seluruh pelanggaran dan dosa-dosa kita. Kalau Saudara menyadari Dia mati untuk kita, kita sudah menyerahkan seluruh dosa-dosa kita kepada Dia, Dia sudah menyerahkan yang benar kepada kita. Saudara tidak mau main-main terhadap dosa yang sekecil apa pun. Biar anugerah kasih yang besar itu yang telah diberikan kepada Saudara dan saya, yang begitu besar, membuat kita benar-benar mencintai Tuhan. Anugerah itu menuntut resopn dan tanggung jawab. Besar sekali diberikan kepada saya, saya harus membalas cinta dan anugerah Tuhan. Untuk sungguh-sungguh hidup menyenangkan Tuhan, jalankan tuntutan Tuhan, kemudian mau menjadi murid Tuhan. Mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh, memuaskan diri dengan apa yang Tuhan percayakan. Jangan pintarnya hanya bersungut-sungut, pintarnya hanya marah-marah, pintarnya hanya menuntut, “mana hak saya? Mengapa saya tidak dapat ini, tidak dapat itu?”. Saya harap semua mau sinkron apa yang menjadi kehendak Tuhan yang dijalankan, apa yang Roh Kudus pimpin, speedonya kemana, itu yang mau ditaati, itu tarikan Tuhan untuk kita. Tidak perlu dipandang manusia, tidak perlu dapat pujian, biar nama Tuhan saja yang dimuliakan. Kalau Saudara seperti itu, Saudara akan mengalami yang seperti saya katakan tadi, Saudara sudah ini, hidup menginjakan kaki masih di dunia, tapi Saudara sudah ada di Kerajaan Sorga, yang nyata. Nanti akan diberikan di dalam dunia ini, suasanya sudah sorga. Di dalam Anak sudah mendapatkan hidup kekal. Sesuai dengan doa Rasul Paulus. Kita baca lagi Efesus 3:18 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus”. Mau dipakai Tuhan? Mau jadi alat di tangan Tuhan? Kiranya Tuhan mau memakai kita.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 2 Dec 2016
Jangan Mengabaikan Panggilan dan Teguran-Nya
(Lukas 13: 31-35)
Ini bagian yang sangat banyak pelajaran yang bisa kita tarik. Tapi inti dari pesan yang Yesus mau bagikan ada di dalam ayat 33-35. Namun demikian meskipun inti dari pesan ada di dalam 3 ayat terakhir, ayat yang pertama dan kedua, yaitu 31 dan 32, mengandung bijaksana hidup yang luar biasa. Ada hal penting yang bisa kita pelajari. Pertama, yaitu cara Lukas menggambarkan orang Farisi sebagai sekelompok orang yang memperhatikan Yesus dan menginginkan Dia tidak mati, ini kelompok kecil. Ada sekelompok kecil orang Farisi datang kepada Yesus dan berkata “pergilah, tinggalkan tempat ini, Herodes mau membunuh Engkau”, mengapa ada orang Farisi baik? Inilah cara Lukas mengajarkan kepada kita untuk tidak gampang melemparkan pre-judgement, penghakiman awal dengan sembarangan. Memberikan penghakiman sebelum penghakiman sejati datang dengan cara yang tidak tepat. Lukas membuat seluruh kerangka berpikir kita yang seringkali bersifat kaku dan menghakimi dengan cara yang picik, dirombak habis.Tuhan melalui Injil Lukas mengingatkan kita jangan sembarangan memberikan penghakiman dan jangan sembarangan memberitakan keburukan orang, apalagi dengan kesenangan bahwa “ada orang buruk yang saya tahu dosanya, dan saya sebarkan ke semua orang”, ini adalah sifat dari orang yang sangat rendah. Inilah hal pertama yang bisa kita pelajari, orang-orang Farisi itu datang kepada Yesus dan mengatakan “pergilah, jangan di sini, Herodes mau bunuh Engkau”. Ini berita yang mereka dengar ada bahaya bagi Yesus. Ini kemungkinan Yesus ada di Galilea dan Dia sedang diancam oleh seorang namanya Herodes. Dalam sejarah Israel, Herodes adalah anak dari Herodes Agung. Dan Herodes Agung adalah anak dari Antipater. Dan Antipater adalah seorang yang diangkat menjadi salah satu pemimpin daerah oleh kelompok yang namanya Hasmonean. Ini penting untuk kita ketahui, sejarah Israel untuk kita pahami, Perjanjian Baru. Setelah Israel kembali dari pembuangan, kita lihat Perjanjian Lama, Israel dibuang ke Babel lalu kembali dari pembuangan pada zaman Ezra, Nehemia dan Zerubabel. Lalu mereka dirikan kembali kemah suci dan mereka menantikan Sang Mesias. Tapi bukan Sang Mesias yang datang, yang datang justru orang Makedonia. Kerajaan Makedonia dipimpin oleh Alexander Agung, masuk ke daerah Timur Dekat Kuno lalu mulai taklukan Tirus, lalu berbaris menuju Israel. Alexander Agung sudah mati, kerajaannya dibagi 4. Dan satu kelompok yang mewarisi kerajaannya adalah kelompok yang menaklukan Israel. Dia menaklukan Israel kemudian menaklukan Yerusalem, bahkan ada satu dari kelompok ini yang bernama Epifanes yang sengaja masuk ke Bait Suci, bawa darah babi untuk dipersembahkan ke Zeus. Ini membuat orang Israel marah luar biasa, maka muncullah seorang namanya Matatias. Matatias kumpulkan pasukan untuk berontak dan mereka lakukan perang gerilya. Tapi kemudian Matatias terbunuh lalu anaknya namanya Yudas, yang dikenal dengan Yudas The Hammer, Yudas Makabeus, inilah yang memimpin Israel mengalahkan Yunani. Dan akhirnya orang Yunani atau Makedonia diusir keluar dari Israel dan mereka menjadi raja baru dari Israel setelah kembali dari pembuangan. Maka dinasti dari Yudas Makabeus dan keturunannya disebut dengan Dinasti Hamonean, inilah pemerintahan pertama secara dinasti yang berasal dari Israel, yang kembali memimpin Israel setelah zaman Dinasti Daud runtuh. Dinasti Hasmonean banyak menghasilkan pemimpin besar, salah satunya adalah John Hyrcanus, John Hyrcanus adalah orang yang menaklukan Edom. Sebelum orang Edom dibunuh, orang Edom itu memohon “jangan bunuh kami, lebih baik jadikan kami anggotamu”, akhirnya John Hyrcanus mengatakan “oke, kami tidak jadi bunuh kamu, asal kamu mau disunat dan menjadi orang Yahudi”, mereka mengatakan “oke”. Maka sejak saat itu Edom diadopsi jadi daerah jajahan Israel.
Lalu pada zaman Alexander Janeus, pemerintahan selanjutnya dari Dinasti Hasmonean, mengangkat banyak orang yang penting dari Edom untuk jadi gubernur dan penasihat. Banyak orang pintar keluar dari sini. Akhirnya ada seorang bernama Antipater, Antipater ini seorang yang sangat pintar, diangkat jadi penasihat dan gubernur oleh Dinasti Hasmonean. Tapi orang ini sangat ambisius, dia ingin keturunannya menjadi raja menggantikan Dinasti Hasmonean. Dia pikirkan caranya dan dia menemukan cara yang baik, yaitu jalin kerja sama dengan kerajaan yang sekarang paling menakutkan, yaitu Kerajaan Romawi. Dan setelah itu Herodes Agung, anaknya, inilah Herodes yang hidup pada waktu Yesus lahir. Maka Herodes menjadi raja karena diangkat oleh Romawi. Herodes sudah jadi raja dan dia sangat benci orang yang akan menaklukan kerajaannya. Dia singkirkan semua orang yang paling mungkin jadi ancaman. Yang paling mungkin jadi ancaman adalah orang Israel sendiri, yang memakai satu raja yang dianggap Mesias untuk memberontak kepada Herodes. Maka Herodes menjadi orang yang sangat anti dengar Mesias, begitu dengar Mesias, langsung dibasmi oleh dia. Lalu dengar ada berita Raja Israel lahir, langsung dia basmi semua anak umur 2 tahun ke bawah di kota Betlehem, tapi Yesus luput karena Dia sudah pergi ke Mesir. Setelah itu Herodes Agung mati dan 4 orang anaknya menjadi raja, kerajaannya dibagi 4. Salah satu yang paling berbakat bernama Herodes Antipas. Herodes Antipas inilah Herodes yang diberitakan di dalam Injil, yang hidup sezaman dengan Yesus yang dewasa. Dia akhirnya menaklukan keturunan Herodes yang lain dan menjadi raja atas seluruh daerah. Nanti setelah Herodes menjadi semakin kuat, Romawi mulai khawatir, akhirnya mulai dari tahun 20an sampai tahun 39 mereka taruh satu gubernur. Satu-satunya gubernur yang muncul di abad pertama yaitu Pontius Pilatus. Ini unik, Pilatus itu satu-satunya Gubernur Romawi di daerah Israel yang hanya muncul dengan tugas utama menyalibkan Yesus karena dalam nubuat Perjanjian Lama, Yesus akan diserahkan ke bangsa-bangsa lain. Israel akan diserahkan ke tangan bangsa-bangsa lain dan Yesus menggenapi ini. Jadi Yesus harus diserahkan ke bangsa lain dan Pilatus menjadi alat menggenapi ini. Setelah Yesus mati, Pilatus kemudian ditarik dan Israel tidak lagi punya gubernur. Satu-satunya gubernur yang muncul pada zaman itu adalah Pilatus, setelah itu dia diganti dengan title orang-orang yang lebih rendah dari gubernur.
Maka Herodes Antipas menjadi raja yang berkuasa dan luar biasa kejam, dia jalin relasi secara gelap dengan seorang namanya Herodias. Herodias adalah istri dari saudaranya Herodes yang namanya Herodes II. Tapi Alkitab mencatat dia takut dengan Yohanes Pembaptis, “ini nabi, kalau dia kotbah mengutuk saya, saya terkutuk, mati saya”. Maka dia mau tangkap tapi dia juga takut. Akhirnya dia sering bicara dengan Yohanes Pembaptis, dan Yohanes Pembaptis selalu tegur dia. Jadi banyak kali kejahatan sudah dia timbulkan, dan orang ini mulai incar Tuhan Yesus. “Ada orang yang bisa kumpulkan ribuan orang, ada orang yang pengikutnya sangat banyak dan orang ini dianggap Raja Mesias, Raja Israel, saya harus bertindak”, dan dia ingin bunuh Yesus, kemudian orang Farisi memberi tahu “Engkau akan dibunuh, cepat pergi”, tapi Yesus mengatakan kalimat yang sangat penting “pergilah dan katakanlah kepada serigala itu, Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari dan besok. Dan pada hari yang ketiga, Aku akan selesai”. Maksudnya adalah Dia memang akan pergi karena rencana Tuhan, Dia tidak pergi karena didorong takut dan Dia tidak pergi karena membuktikan Dia tidak takut. Ini kalimat bijaksana sekali “pergilah dan katakanlah kepada serigala itu”, atau lebih tepat kepada “rubah itu”. Saudara harus bisa bedakan antara serigala dan rubah, serigala itu adalah binatang yang sangat gagah, sangat mengerikan. Tapi rubah adalah binatang yang bisa mencuri, bisa menangkap binatang lebih kecil, tapi penakut. Maka Yesus sedang mengatakan “berikan info kepada si rubah itu”. Aku akan pergi bukan karena dia, Aku akan pergi karena rencana Tuhan”. Jadi Yesus menolak bertindak dengan didorong oleh takut. Jangan bertindak karena takut, biarlah kita bertindak karena takut Tuhan, bukan bertindak karena takut situasi. Biarlah kita takut menyakiti hati Tuhan, bukan takut dilepas dan tidak disertai Tuhan.Tuhan Yesus akan pergi pada hari ketiga, bukan karena takut Herodes, tapi karena tahu kehendak Tuhan atas Dia untuk pergi. Jadi Yesus tidak bertindak kerana takut. Lalu yang kedua, Yesus juga tidak bertindak karena takut dianggap takut. Coba pikirkan, ada orang memberi info “Herodes mau membunuh Engkau”, Yesus tidak pergi, tapi hari ketiga pergi juga. Akhirnya orang bisa menganggap Yesus takut maka pergi. Tapi Yesus tidak peduli, “kamu mau menganggap Aku takut, terserah. Aku bertindak karena mengikuti kehendak Tuhan”. Inilah sesuatu yang harus kita sama-sama ambil. Kadang-kadang dunia memprovokasi kita untuk melakukan sesuatu, lalu kita melakukan sesuatu demi pembuktian siapa diri kita. Mengikuti kehendak Tuhan dengan apa pun harga yang harus dibayar, termasuk tanggapan dunia terhadap saya. Kalau saya ikut Tuhan, dunia bilang saya penakut, terserah. Kalau saya ikut Tuhan dan ternyata itu masuk bahaya, terserah, saya tidak mau bertindak karena takut dan saya tidak mau bertindak karena takut dianggap takut. Dan ini yang Yesus buktikan, “hari ketiga Aku memang akan pergi karena Tuhan sudah memerintahkan Aku untuk pergi ke Yerusalem”, inilah bijaksana yang mendahului pesan utama, yang kita bisa lihat dalam bacaan kita hari ini.
Tapi pesan utamanya baru muncul setelah ini. Yesus mengatakan “Aku tidak takut mati, tapi tidak semestinya Aku dibunuh oleh Herodes karena Aku akan dibunuh oleh orang-orangYerusalem”. Ini menjadi berita yang sangat menggemparkan, yang membunuh Yesus bukan Herodes, yang membunuh Yesus bukan rubah itu, bukan pemerintah kejam yang suka bunuh orang. Yang bunuh Yesus adalah umatNya sendiri yang tinggal di kota suci. Ini berita yang menggemparkan sekali, “tidak tahukah kamu bahwa Yerusalem lebih parah dari Herodes, Yerusalem lebih bobrok dari Herodes, itu sebabnya waktu Aku sampai Yerusalem, Aku akan dibunuh mereka dengan cara yang sangat kejam, lebih kejam dari apa yang direncanakan Herodes kepada Aku”. In teguran yang luar biasa, penjahat yang paling jahat bukan Herodes, tapi Yerusalem. Penjahat-penjahat yang paling kejam adalah imam-imam kepala, bukan pemimpin politik. Ini berita yang sangat menggemparkan dan memberikan kepada kita beberapa hal yang perlu kita pelajari.
Ayat-ayat selanjutnya mengajarkan kepada kita paling tidak ada 4 poin penting, yaitu bahwa Yerusalem menjadi kota yang sangat jahat. Meskipun tadinya dia sangat diberkati Tuhan. Yerusalem muncul setelah Daud kena tulah dan enghukuman, waktu itu dia sangat sombong, hitung orang Israel, sampai jumlah jutaan terhitung lalu dia dengan bangga melihat tentaranya yang kuat, dan akhirnya dia menyesal mengapa dia menghitung. Setelah itu Tuhan yang juga marah kepada Israel, sekarang marah kepada Daud lalu tawarkan “hukuman mana yang mau kamu ambil? Aku akan berikan alternatif kepadamu”. Lalu Daud dengan hati yang gentar dan sangat takut mengatakan “Tuhan, jangan biarkan saya jatuh ke tangan manusia, biar saya jatuh ke tanganMu, karena Engkau adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan dan pengampunan”. Lalu Tuhan menumpahkan hukuman tulah kepada seluruh Israel.Setelah tulah berhenti, Daud mendirikan tempat untuk penyembahan di tempat ini dan mendirikan dan memenangkan, merebut Kota Yerusalem, menjadikannya kota yang lebih besar. Kota Yerusalem besar dan ada Bait Suci di dalam zaman Salomo didirikan. Jadi Yerusalem menjadi kota suci, lambang penyertaan Tuhan, lambang eskatologis orang Israel. Kota ini jadi kota yang melambangkan kesucian Tuhan, melambangkan kehadiran Tuhan, tapi Tuhan mengatakan justru ini kota yang paling berontak kepada Tuhan, ini kota yang paling banyak bunuh nabi-nabi Tuhan. Ini kota dimana darah hamba Tuhan paling banyak ditumpahkan. Koreksi dari Tuhan itu penting, kalau Tuhan tidak mau lagi koreksi, kita berarti sudah dibuang. Tapi ketika orang mengabaikan koreksi dari Tuhan, menghina itu lalu melawan, maka orang itu sudah dekat dengan kebinasaannya. Yerusalem membunuh nabi-nabi beigtu banyak. Maka Yesus mengatakan “Aku harus dibunuh di Yerusalem karena Yerusalem lebih jahat dari Herodes. Imam-imam kepala lebih kejam dari Herodes dan mereka akan menunjukan wajah mereka yang sejati waktu Aku datang ke Yerusalem”. Ini hal pertama yang harus kita pelajari, ketika firman Tuhan menusuk Saudara di hati, Saudara bereaksi dengan apa? Dengan bertobat atau dengan mulai kritik pengkotbahnya? Kalau yang pertama dengar firman reaksinya marah, yang kedua terbiasa mengabaikan firman. Jangan jadi orang yang terbiasa mengabaikan firman. Kita gampang menghakimi tapi kalau kita sendiri dihakimi, mari koreksi diri. Banyak orang teriak-teriak “koruptor turun, koruptor turun. Hei pemerintah yang ambil uang rakyat, turun kamu”, tapi sendirinya tidak sadar kalau sendirinya kalau sedang ambil perpuluhan, taruh di kantongnya sendiri. Saudara sudah bayar perpuluhan belum? Kalau belum berarti Saudara koruptor, Saudara mengkorupsi uang Tuhan, lalu dipakai untuk sendiri. Mari berubah, Yesus mengatakan Dia akan buang Yerusalem karena hal ini yaitu ketika dia dipanggil berkali-kali, dia tidak mau datang. Tuhan sudah panggil Saudara berapa kali? Tapi berapa kali Saudara pilih untuk hidup dalam dosa?
Hal yang ketiga, Tuhan mengatakan “berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya”. Tuhan mau panggil kita untuk memberikan damai. Tuhan panggil kita untuk memberikan sukacita, kehidupan yang penuh dengan penyertaan. Tuhan tidak panggil kita untuk sengsara. Tuhan mengatakan seperti induk ayam panggil anak-anaknya taruh di bawah sayapnya, melindungi dia, memberikan kehangatan kepada dia, demikian Tuhan mau panggil kita untuk ada di dalam pelukan hangat dan kasihNya. Tapi kita tidak mau, karena pelukan uang lebih berharga bagi kita. Pelukan ketenaran, pelukan hawa nafsu, hawa duniawi, pelukan penghargaan semu, pelukan semua yang cemar dari dunia, bagi kita lebih menyenangkan dari pada pelukan kasih Tuhan. Ini yang membuat kita tidak mau datang kepada Tuhan. Mari berhenti tenggelam dalam kenikmatan yang salah, dan datang kembali kepada Tuhan. Mari nikmati panggilan Tuhan.
Lalu yang keempat, Tuhan mengingatkan panggilan Tuhan akan berhenti dan rumah Tuhan akan sunyi lalu Tuhan akan panggil orang lain yang diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan. Siapakah orang-orang ini? Di dalam Mazmur 118, yaitu Mamzur yang ada bagian ini, dikatakan bahwa orang Israel yang dibuang berdoa kepada Tuhan, “Tuhan pulihkan kami, benarkan kami. Nyatakan bahwa kami adalah orang benar, karena kami merindukan Tuhan. Biarkan kami merindukan Tuhan dan Tuhan bebaskan kami, sehingga kami mengatakan diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan”. Ini seruan dari kaum remnant. Dan kaum remnant atau kaum sisa itu adalah orang-orang yang dengan hati yang terus merindukan Tuhan mengharapkan Tuhan datang, mengharapkan peringatan Tuhan untuk mengubah diri, mengharapkan panggilan Tuhan diberikan untuk dia datang kepada Tuhan. Dan mengharapkan tawaran Tuhan untuk pelukanNya yang hangat tiba kepada dia. Orang-orang yang merindukan ini adalah orang-orang yang akan dipulihkan oleh Tuhan. Ini bicara tentang pemulihan. Kalau kita seperti Yerusalem yang akan ditinggalkan, kita dulu terbiasa mengabaikan firman, kita dulu terbiasa marah kalau ditegur, kita dulu terbiasa menikmati kesenangan dunia lebih dari pada menikmati kesenangan di dalam Tuhan, ada satu peringatan sekaligus satu tawaran jika engkau mau bertobat sekarang dan mengatakan diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, maka engkau akan dipulihkan. Tapi jika tidak, maka engkau akan dibiarkan menjadi kosong. Ini momen yang sangat krusial, Yesus menyatakan “pilihan ada padamu sekarang, jika engkau memilih untuk menyatakan diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, engkau akan dipulihkan. Jika engkau memutuskan untuk mengabaikan Tuhan lagi maka rumahmu akan ditinggalkan menjadi sunyi sepi”.
Mari berdoa, mari bertobat, mari kembali kepada Tuhan. Seruan firman Tuhan menegur bukan hanya Saudara tapi juga saya. Saya pun diperingatkan hari ini, ditusuk dengan sangat keras untuk menjadi orang yang berseru kepada Tuhan dan bukan menjadi orang yang mengabaikan Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa pengkotbah)
- Injil Lukas
- 2 Dec 2016
Masuklah dari pintu yang sesak itu
(Lukas 13: 22-30)
Seringkali kita tidak mengerti Perjanjian Baru sedang ngomong apa, lalu kita masukan pengertian kita ke situ. Itulah celakanya kalau Saudara dan saya melakukan pembacaan secara naif, kita akan taruh cara kita berpikir seolah-olah inilah cara Lukas berpikir. Dan itu bahaya, karena waktu kita mengatakan singkirkan segala pre-suposisi dari pikiran kita, kita baca begitu saja, langsung masuk budaya kita sendiri di situ. Maka Kitab Suci menjadi sangat asing dan benar-benar sulit untuk kita pahami karena kebiasaan seperti itu. Kalau begitu bagaimana memahami Alkitab? Dengan rendah hati coba terjun lalu lihat apa yang jadi sudut pandang dari penulis. Ini perlu studi. Maka waktu kita mau pelajari bagian ini juga sama, saya harus tahu dulu apa yang jadi konteksnya? Pengharapan apa yang Israel miliki? Kerajaan itu datang, bagaimana pengharapan itu digenapi? Dengan cara tanah di pulihkan, bait dipulihkan, Yerusalem dipulihkan, sekarang tunggu raja datang, ini konsep mereka. Jadi Israel sedang menunggu raja. Mereka sudah pulang dari pembuangan, langsung hal pertama yang mereka lakukan adalah membuat tembok Yerusalem. Ini pembuatan tembok yang dihina oleh orang-orang, di dalam Kitab Nehemia atau Ezra. Waktu mereka bangun tembok, orang langsung tertawa mengatakan “nanti ada seekor anjing hutan loncat, temboknya akan rubuh”, bayangkan itu penghinaan besar sekali. Orang bikin tembok supaya tentara tidak bisa terobos, tapi orang-orang di sekitar Yerusalem, di sekitar Kanaan mengatakan “tidak perlu ditentang, orang Israel itu membuat tembok terlalu lemah, nanti anjing hutan dorong pun rubuh”, tapi orang Israel mengatakan “tidak apa-apa, bangun saja”. Akhirnya berhasil, waktu sudah mau berhasil, orang-orang lain panik, lalu mereka surati Kerajaan Persia dan mengatakan “ini adalah kerajaan dengan sejarah pembangkangan dan pemberontakan besar sekali. Kalau kamu ijinkan kerajaan ini berdiri, ada Yerusalem dengan tembok, bahaya secara politik”. Maka pembangunan dihentikan. Pada era raja siapa, pembangunan dilakukan lagi sampai lengkap. Jadi Yerusalem sudah dibangun temboknya, kotanya sudah dibangun, kemudian Bait Allah akhirnya dibangun di dalam zaman Nehemia dan Zerubabel. Waktu tembok Yerusalem sudah dibangun, Bait Allah sudah dibangun, imamat sudah jalan, kemudian Israel sudah ada, tanah sudah ada, tinggal tunggu raja. Raja itu akan datang kemudian raja itu akan memimpin umatnya. Ini yang mereka pikir. Tapi Yesus di dalam Injil Lukas dobrak pemikiran ini dengan mengatakan “bukan umat dulu terkumpul baru raja datang. Tapi raja dulu datang, lalu kumpul umat satu satu”, ini berita benar-benar mengagetkan. Apakah Saudara pernah baca Lukas lalu merasa kaget? Tetapi ini yang sedang dinyatakan oleh Lukas bahwa cara pikir Israel salah, “ini sudah ada umat, tunggu raja”. Tuhan mengatakan “bukan, umat belum ada raja dulu datang, baru setelah itu umat akan dibentuk”.
Bagaimana cara raja ini kumpulkan umat? Itulah yang sedang dikatakan oleh Lukas, Yesus keliling ke kota-kota lalu memanggil orang, Yesus mengajar, menyembuhkan, lalu banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Lalu Dia kumpulkan murid-murid dan akhirnya pelayananNya berjalan terus. Dia pergi ke kota satu ke kota lain, lalu mengumpulkan kelompok. Kelompok yang terdiri dari pelacur yang bertobat, pemungut cukai yang dipanggil, lalu terdiri dari orang yang pernah kerasukan setan, ini kumpulan orang-orang yang tidak beres. Sehingga orang Yahudi bertanya “mengapa Engkau makan bersama-sama pemungut cukai? Mengapa Engkau bergaul dengan orang-orang berdosa ini?”. Yesus tidak mengatakan “Aku bergaul dengan orang-orang berdosa, karena orang-orang ini manusia juga. Aku mengasihi mereka maka Aku bergaul dengan mereka”, itu bukan jawaban Yesus. Jawaban Yesus benar-benar membuat amarah, Dia mengatakan “bukalah matamu, inilah Kerajaan itu”. Yesus mengatakan “Aku panggil mereka, karena mereka boleh masuk Kerajaan ini”, berarti yang tidak dipanggil Yesus keluar. Ini juga yang menjadi pemberitaan di bagian sebelumnya di perikop kita hari ini, yaitu Yesus menyembuhkan perempuan yang sudah 18 tahun kerasukan setan lalu badannya bungkuk. Setelah selesai disembuhkan, orang mengatakan “jangan menyembuhkan di hari Sabat, yang sakit datang untuk disembuhkan di hari lain, jangan di hari Sabat”. Yesus mengatakan “kamu munafik, sapimu kamu kasi minum di hari Sabat, masakan anak perempuan Abraham ini tidak ditolong”. Dia memakai istilah anak perempuan Abraham, the daughter’s of Abraham, itu istilah yang sangat asing bagi orang Israel. Son of Abraham, semua orang tahu, daughter of Abraham, tidak ada yang tahu. Tapi Yesus mengatakan anak perempuan ini adalah anak perempuan Abraham, jadi istilah pun membuat goncang. Mengapa Yesus memakai istilah milik Abraham? Karena biasanya orang akan mengutamakan laki-laki, tapi Yesus justru mengijinkan perempuan berbagian di dalam level yang sama dengan laki-laki. Jadi inilah goncangnya orang Yahudi baca Lukas, yaitu orang berdosa dianggap suci, dianggap setara oleh Yesus. Israel dan bangsa lain dianggap setara oleh Yesus, laki-laki dan perempuan dianggap setara. Ingat peristiwa Maria, Maria duduk di kaki Yesus, itu adalah tempatnya laki-laki, hanya laki-laki yang boleh duduk dekat Guru Besar untuk mendengarkan ajaranNya. Perempuan tempatnya di dapur, membuat makanan, lalu sajikan untuk laki-laki yang sedang dengar Guru Besar bicara. Tapi Maria tiba-tiba nyelonong, duduk di salah satu space yang harusnya untuk murid. Maka Marta marah sekali, lalu dia memberikan sign kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, ada satu yang tidak cocok, dia harusnya tidak di situ, suruh dia ke belakang bantu saya”. Tapi Yesus mengatakan hal yang sangat provokatif pada zaman itu, Yesus mengatakan “apa yang dia ingin, Aku berikan, Aku tidak ambil. Dia mau duduk di sini, Aku berikan, dia tidak akan diambil dari sini”, itu luar biasa sekali. Lukas sedang bercerita tentang Sang Raja yang cari umat satu per satu dari satu desa ke desa lain, dari kota satu ke kota lain, panggil umat. Ini perombakan yang luar biasa, sehingga menurut perspektif Injil Lukas Kerajaan itu sama sekali mentah. Orang Israel pikir sudah ada bait, sudah ada Yerusalem, tinggal tunggu raja. Yesus mengatakan dalam Injil Lukas “belum, bait akan hancur, Yerusalem akan hancur, rakyat palsu. Aku akan cari satu per satu siapa anggota kerajaan itu”. Maka ini yang Yesus sedang katakan. Lalu ada murid yang mulai tangkap di dalam ayat 23, dia mulai sadar ternyata tidak semua Israel disebut Israel, ternyata tidak semua orang yang ikut Yesus bisa disebut sebagai anggota kerajaan. “Kalau begitu Yesus, Engkau adalah Sang Raja dan saya melihat banyak sekali orang menolak Engkau, berarti hanya sedikit yang diselamatkan”, ini pun harus kita pikir dengan tepat, keselamatan itu bukan hanya sekedar “saya percaya lalu saya masuk sorga”. Saya tidak mengatakan sorga itu tidak ada, Yesus sekarang di sorga, Dia duduk di sebelah kanan Allah di sorga. Dan Dia menjanjikan kalau kita mati, roh kita akan ke sana. Tapi jangan lupa Dia akan datang kembali kedua kali. Maka saya mengingatkan Saudara jangan selisih jalan dengan Tuhan Yesus, roh kita ke atas, pas Dia datang kembali ke bumi.
Itu sebabnya kita mesti mengerti pengharapan Alkitab itu seperti apa. Pengharapan Alkitab adalah pemulihan bukan eskapis. Perbaikan dengan level yang tidak bisa dibayangkan. Cara Tuhan memulihkan adalah melalui Kristus yang datang mendirikan KerajaanNya di bumi. Yesus sedang mendirikan KerajaanNya di bumi dan ternyata ini berita yang mengejutkan bukan Israel yang ada sekarang, tapi kerajaanNya akan mencakup seluruh bangsa dan Dia akan mulai panggil melalui Israel. Memang benar Dia memanggil umatNya di Israel, melayani umatNya di Israel tapi setelah itu Dia akan utus rasul-rasulNya sampai ke ujung bumi untuk memanggil umat yang baru di dalam kerajaan ini. Jadi inilah berita yang mengejutkan itu, murid-murid berpikir “kalau begitu cara berpikir kita salah, Tuhan Yesus sedang undang satu per satu siapa yang akan masuk dalam kerajaanNya”, maka dia tanya “sedikit orang sajakah yang akan diselamatkan?”. Maka keselamatan adalah pemulihan, ketika Kerajaan itu datang, kita berbagian di dalamnya, kita jadi milik Kerajaan itu dan tidak disingkirkan, tidak dibuang keluar dari Kerajaan Sorga yang akan didirikan di bumi. Itulah yang dimaksudkan di sini. Jadi sedikit orangkah yang akan terlibat dalam Kerajaan itu? Yesus memberikan contoh dalam bentuk cerita yaitu ada raja yang sedang adakan pesta. Saudara harus tahu dulu pengertian cerita ini, karena ini cerita yang tidak umum diceritakan di budaya kita. Kita tidak ada di dalam budaya kerajaan seperti ini. Tapi di dalam zaman itu ada kebiasaan istana melakukan open house. Waktu mengadakan open house berarti orang lain boleh lihat, boleh masuk. Istana kadang mengadakan ini, tujuannya adalah waktu perayaan itu dilakukan rakyat biasa boleh datang dan masuk. Misalnya ulang tahun raja atau pernikahan raja. Jadi pernikahan raja waktu itu diadakan ada open house, rakyat boleh ikut meskipun mereka rakyat biasa. Maka ada 2 jenis pintu, pintu pertama khusus VIP, para bangsawan, para kerabat, para orang-orang penting, mereka masuk dengan dikawal dan biasanya rakyat dengan berdiri di pinggir dan akan lihat. Mereka akan sambut orang-orang penting ini masuk. Setelah mereka semua masuk, pintu ditutup. Maka pintu kedua yang dibuka adalah pintu untuk rakyat jelata, dan biasanya orang yang sudah antri persis di depan pintu adalah orang yang tinggal di kota itu dan yang perutnya paling lapar. Orang-orang miskin, orang-orang yang tidak sanggup punya makanan, karena orang kaya di kota itu mereka cukup punya makanan, mereka tidak mau ikuti open house-nya istana hanya untuk cari makanan. Tapi mereka juga kurang hebat untuk jadi tamu VIP, jadi mereka jadi orang yang tidak terlalu peduli “saya bukan tamu VIP tapi saya juga tidak lapar”. Jadi ketika open house istana ini dilakukan, pesta itu dibuka, mereka tidak terlalu peduli untuk ikut. Maka ada kebiasaan yang duduk atau yang tunggu di pintu itu adalah orang miskin yang kadang-kadang satu hari sudah menginap di situ, supaya begitu pintu dibuka mereka pertama masuk. Mereka sudah berdiri di depan gerbang, waktu gerbang untuk rakyat jelata itu dibuka, mereka langsung masuk rebutan. Dan ketika jumlahnya cukup, tentara akan pakai tombak dan perisai untuk halang mereka, lalu pintu kembali ditutup. Jadi rakyat kalau masuk itu mereka maksa, tapi tentara akan tahan mereka pakai perisai dan tombak. Istana sudah penuh, kalau terlalu banyak bisa bahaya. Maka mereka diusir keluar dan pintu ditutup. Bayangkan ada orang yang merasa dirinya cukup layak jadi VIP, tapi ditolak di pintu VIP, kira-kira seperti itu kisahnya di sini. Jangan pikir kamu VIP, masuklah lewat pintu yang sesak itu. Ini seperti ketika ada orang bertanya “Tuhan, sedikit orang sajakah yang diselamatkan?”, Yesus mengatakan “berjuanglah lewat pintu yang sesak itu”, ini bukan perintah untuk berjuang supaya masuk sorga. Orang sering salah tangkap “Yesus menyuruh kita berjuang untuk masuk sorga, supaya pahalanya cukup”.
Maksudnya adalah Yesus mengatakan “kamu hai orang Israel, jangan merasa dirimu tamu VIP, kamu harus pikir bahwa levelmu adalah pintu yang sesak itu, yang orang harus rebutan, desak-desakan dengan orang miskin untuk mengais-ais roti dan makanan di dalam istana, itulah posisimu”, ini seperti mendobrak kesombongan mereka. “Kami adalah kelompok yang pasti masuk”, Yesus mengatakan “iya masuk, tapi lewat sana”. Yesus sedang mengatakan “kamu jangan anggap dirimu pantas lewat VIP, kamu lewat sana”, lalu ketika kamu dengan sombongnya mengatakan “saya ini adalah orang Israel, Allahku makan semeja dengan saya. FirmanNya diberitakan di jalan-jalan kota saya, ijinkan saya masuk”, maka penjaga pintu akan mengatakan “ini tempat VIP, saya tidak kenal kamu. Kalau orang yang tidak ada nama mau masuk, lewat sana. Kalau kamu mau lewat pintu utama, namamu harus tercatat. Maaf kamu bukan orang penting. Lihat nama-nama orang penting yang tercatat, Abraham, Ishak, Yakub, Elia, Elisa, Yeremia, Yehezkiel, dan lain-lain. Kamu tidak termasuk. Kalau kamu mau masuk masih boleh, tapi lewat pintu rakyat jelata itu”. Inilah yang Tuhan katakan dalam perumpamaan jangan sombong. Waktu Yesus datang, Dia akan pilih rakyatNya, pilih umatNya dan orang yang terpilih, bukan orang yang kita anggap layak terpilih. Justru ini poin yang Yesus mau tekankan. Bagaimana caranya supaya saya masuk? Di dalam bagian ini ada beberapa pesan yang bisa kita ambil secara implisit. Kita bisa mengambil poin pertama bahwa Tuhan menginginkan adanya kerendahan hati yang secara konsisten kita miliki, terus-menerus sadar saya tidak layak menjadi umat, terus sadar saya tidak boleh menganggap diri layak menjadi bagian dari umat Tuhan. Ini hal pertama yang Tuhan tuntut dari Israel dan Tuhan tidak temukan pada Israel. Maka yang masuk adalah orang-orang rendah, orang-orang yang terbiasa dihina, orang-orang yang terbiasa dipinggirkan justru ini yang masuk. Mari kita belajar melihat dari sisi yang lain dari Injil ini. Yaitu Tuhan sedang mengumpulkan kerajaanNya dan mereka yang masuk adalah mereka yang terbiasa menganggap diri rendah. Biarlah kita tidak terbiasa menjadi orang yang masuk ke dalam keadaan level sombong. Kesombongan itu masuk dalam beberapa hal. Kesombongan pertama adalah identitas, identitas sebagai milik Tuhan. Saya dan Saudara akan masuk dalam kesombongan kalau mengatakan bahwa secara otomatis saya memang layak menjadi bagian dari Tuhan. Dan dengan kelayakan seperti itu kita akan menuntut bukan mengabdi, kita akan meminta bukan memberi, kita akan menuntut dedikasi dari Tuhan bukan menuntut dedikasi dari diri kepada Tuhan. Maka kalau kita umpamakan dengan cerita Tuhan Yesus ini, kita adalah orang-orang yang sedang rebutan di pintu rakyat jelata itu dengan lapar, dengan sulit, tapi kita tidak punya kekuatan untuk menang. Orang miskin lain lebih hebat dari kita, sehingga mereka dengan kekuatan bisa masuk. Tapi tiba-tiba Sang Raja yang harusnya masuk dalam pintu VIP, sekarang Raja itu memutar, jalan dari tengah-tengah rakyat jelata ini kemudian panggil satu satu orang berdasarkan kedaulatanNya. Dia panggil Saudara dan saya, lalu kita pergi dari tempat jelata itu masuk lewat VIP. Kira-kira waktu masuk, mungkinkah Saudara berjalan dengan sombongnya? Pasti tidak, Saudara akan tundukan kepala, jangan sampai orang tahu, ini akan mempermalukan Sang Raja, mungkin sambil tutup muka, lalu ada orang miskin lihat “itu kan lebih miskin dari saya, kok boleh masuk?”. Ini yang terjadi, Tuhan Yesus mengatakan orang-orang dari bangsa lain yang secara otomatis akan dianggap sebagai orang yang layak masuk lewat pintu yang hina itu oleh orang Yahudi. Kalau pun boleh masuk ya lewat situ, kalau ada pintu yang lebih rendah lagi, orang kafir harusnya lewat situ. Tapi ini yang dilakukan Tuhan Yesus, Dia justru terjun di tengah-tengah orang miskin, orang jelata, orang yang hina ini lalu ambil beberapa dari mereka lalu suruh masuk lewat pintu VIP. Jadi waktu kita masuk, dikatakan kita semeja dengan Abraham, Ishak dan Yakub, “kamu akan melihat Abraham, Ishak dan Yakub dan semua nabi dalam kerajaan Allah. Dan orang datang dari timur, barat, utara, selatan, duduk makan di dalam Kerajaan Allah”, ini menandakan tempat utama. Ada Abraham, Ishak, Yakub dan orang-orang kafir, semua boleh masuk di sini dan inilah yang Yesus sedang nyatakan sebagai berita yang mengejutkan. Jangan pikir mereka hina, mereka menjadi mulia karena diambil oleh Tuhan. Maka inilah hal pertama supaya kita terus ingat identitas kita sebagai cangkokkan, kalau pakai istilah dari Surat Roma “kamu adalah batang zaitun yang dicangkokan, kamu adalah pohon asing, kamu adalah dahan asing yang akan kering, tapi kamu dicangkokan ke pohon zaitun yang asli ini”, jadi keadaan rendah kita ingat terus sampai nanti kita bertemu Tuhan. Waktu ketemu Tuhan pun dengan rendah hati kita mengatakan “Tuhan, ingatkah saya orang hina yang Engkau panggil sampai sekarang saya rasa tidak layak tapi Engkau terus pertahankan saya”,inilah kerendahan hati yang secara konsisten harus kita miliki. Jadi waktu kita mengatakan “saya tidak layak masuk Kerajaan Allah dan saya tidak berjuang”, maka memang kita rasa tidak perlu. Kita tidak ingin mendapatkan apa yang ditawarkan di dalam kerajaan ini. Tapi kalau kita sadar apa yang ditawarkan di dalam Kerajaan ini yaitu hidup dan hidup yang berkelimpahan maka kita benar-benar ingin, tapi kita tidak layak. Ingin dan layak waktu itu berpadu menjadikan orang giat tapi tidak sombong, giat tapi tidak ada keangkuhan, giat tapi tidak ada ambisi untuk menjadi hebat. Ini namanya giat, giat ingin masuk, giat ingin berbagian di dalam kehidupan limpah yang dijanjikan oleh Kerajaan itu. Ini peringatan bagi kita, biarlah kita dengan konsisten bertumbuh di dalam iman, tidak menjadi orang yang akhirnya diusir, dikecualikan dari Kerajaan yang agung ini.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 2 Dec 2016
Menjadi bagian Umat Allah
(Bilangan 25: 1-18)
Kita kalau melihat Kitab Bilangan adalah suatu kitab yang indah. Kalau kita tidak mengerti garis besarnya, semua kitab akan menjadi sulit. Sering kali kita terjebak dengan kata “bilangan”, walaupun betul terjemahan dari Bahasa Yunani atau Septuaginta atau Bahasa Latin dari kata numeri atau numbers, kemudian diterjemahkan menjadi Bilangan. Mungkin karena di dalam penerjemahan mereka melihat pasal 1 semuanya tentang angka-angka. Tapi di dalam bahasa aslinya setiap kitab Taurat biasanya dimulai dengan judulnya diambil dari kata yang ada di dalam ayat pertama. Kalau kita lihat Bilangan 1:1 dibilang “Tuhan berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai”, jadi judulnya adalah Di Padang Gurun. Ini menggambarkan perjalanan di padang gurun. Kalau kita lihat Bilangan ini seperti kita baca satu peta, bukan kumpulan angka-angka yang rumit, tapi ini adalah satu peta perjalanan. Kemudian Bilangan adalah kitab yang banyak tipologi Kristus. Misalnya di pasal 17 tentang tongkat Harun yang berbunga, yaitu adalah satu-satunya otoritas imam yang dilegalisasi oleh Tuhan yaitu Harun dan akhirnya di Surat Ibrani dikatakan Dia adalah Imam Besar yang dipilih oleh Tuhan, Kristus adalah Imam Besar. Kemudian tentang persembahan, abu yang dibakar sampai habis, mau mengisahkan tentang Kristus yang adalah dengan ketaatan yang sempurna, menaati Tuhan sampai habis di atas kayu salib. Lalu kemudian yang cukup terkenal, yang dikutip sendiri oleh Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes, Bilangan 21 tentang ular tembaga yang ditinggikan di padang gurun. Ini menggambarkan ketika Kristus ditinggikan di atas kayu salib, siapa saja yang melihat kepadaNya akan diselamatkan. Ketika orang Israel kena tulah dan kemudian hampir mati digigit oleh ular di padang gurun, ketika mereka melihat ular tembaga, mereka akan disembuhkan. Tuhan memberikan satu chance penebusan di dalam Kristus. Dan itu baru mentopologikan Kristus di dalam ribuan tahun berikutnya.
Bilangan juga kalau Saudara selidiki penuh dengan pembahasan tentang krisis hidup. Hal ini membuat kita kalau mempelajarinya ini adalah kitab yang sangat relevan. Krisis hidup apa yang dialami? Pertama tentang krisis kesulitan hidup, di sini cerita tentang tidak ada makanan, tidak ada daging, tidak ada air, dan kira-kira hidup kita seperti itu. Memang kita tidak sampai kekurangan, tapi pergumulan kita seperti itu kan. Seputar kesulitan hidup kita bahwa perlu bekerja, perlu uang, perlu makan, perlu air, dan segala macamnya. Ini sudah dibahas di dalam Kitab Bilangan. Lalu krisis tentang iman dan tantangannya. Waktu kita baca tentang kisah 12 pengintai maka kita bisa lihat bahwa iman dan tantangan iman itu menghidupi iman itu tidak mudah. Percaya Tuhan, janji Tuhan dan kenyataan hidup itu mungkin bisa beda mata yang melihat. Mata satu melihat dengan iman, mata satu tidak kelihatan, mata jasmani, orang Kanaan besar-besar. Dan konflik itu selalu terjadi di dalam kehidupan kita. Kalau kita belajar dari bagian itu, kita mendapatkan “betul juga, kita harus beriman kepada Tuhan”. Poin-poin ini sangat relevan dengan hidup kita karena ada faktor “saya” yang ada disitu. “Benar ya, kalau bagian ini saya dapat berkat. Saya dapat pengupasan firman Tuhan sehingga masalah saya terjawab. Saya mendapat anugerah Tuhan sehingga saya begitu jelas bagaimana harus hidup”. Tapi kalau Saudara baca Bilangan 1, Saudara dapat apa? Dapat matematika, belajar menghitung? Saudara dapat apa? Rasanya tidak dapat apa-apa karena kita di dalam membaca Alkitab terus mencari “apa yang saya dapat?”. Saya dapat, saya bertumbuh, saya beriman, saya mencintai Tuhan, saya melayani Tuhan, saya berbakti kepada Tuhan, saya hidup kudus, saya menjaga hidup, saya mengaplikasikan firman. Selalu saya. Ada satu sense yang kurang, Saudara dan saya kurang memperhatikan bahwa Alkitab tidak selalu tentang “saya”, tapi tentang umat. Bilangan 25, Saudara dan saya tidak dapat apa-apa kalau kita tidak punya sense tentang umat. Jadi Saudara setelah baca ini, Saudara bingung “apakah saya harus seperti Pinehas? Bunuh orang lain supaya tulah Tuhan berhenti?”. Setelah ini Saudara jadi jihad, karena hanya pikir “saya”. Satu sense yang kita sangat kurang adalah kita tidak punya sense sebagai umat. Kita adalah bukan kumpulan umat Allah, kumpulan orang nonton bioskop rohani, cuma tidak ada tiket, jam tayang adalah jam 7 atau jam 10, kotbahnya hari ini tentang Bilangan, minggu depan tentang Lukas, filmnya ganti-ganti, aktornya ganti-ganti. Semua tentang “saya”. Saudara tidak merasa satu dengan yang lain sebagai umat. Kita hanya kumpulan orang yang nonton bioskop rohani karena sense yang terbesar adalah “saya”. Karena umat bukan kumpulan saya-saya-saya. Umat adalah ada saya, ada kamu, ada dia, ada kita, itu baru namanya umat. Sehingga kalau Saudara perhatikan, banyak bagian di dalam Alkitab apa yang saya lakukan itu dampaknya besar terhadap umat. Saudara jangan pikir “yang penting saya hidup suci”, itu betul, harus. Tapi ini yang eror cuma sedikit, tapi yang kena tulah adalah seluruh umat. Dan kita sekarang jarang memperhatikan itu. Pikiran kita kalau kita berdosa, kita berdosa sendiri, uang saya sendiri, bertobat sendiri, susah sendiri, terserah saya, saya tidak pernah ganggu orang lain. Itu salah, karena kita tidak pernah berpikir tentang umat. Kita pikirannya segala sesuatu adalah masalah saya. Hari ini hal yang saya mau tekankan untuk kita sama-sama pikirkan adalah pernahkan kita berpikir tentang umat? Umat itu banyak, umat itu bukan hanya kita, bukan Saudara di sini, bukan hanya saya, tapi umat Tuhan. Karena di dalam Alkitab, Tuhan berjanji adalah Allah dan umatNya, Yesus menebus umatNya. UmatNya, umatNya, terus ditekankan. Tapi kita dengan mudah mem-switch yang namanya umat itu ditafsirkan sama dengan saya. Jadi kalau kita baca Akitab, umat kita geser semua lalu kita ganti “saya”. Sehingga apa pun yang dikatakan Alkitab, kita selalu cari apa hubungannya yang bisa saya dapat. Kita tidak peduli orang lain mau dapat atau tidak, secara besar dapat atau tidak, terserah. Maka kita tidak relevan membaca Alkitab karena itu sejarahnya orang Israel, tidak ada hubungannya cerita-cerita seperti ini. Karena kita tidak pernah sadar kita adalah umat. Hal yang terpenting setelah itu adalah Saudara mesti tahu kalau kita adalah umat, bagaimana caranya kita masuk menjadi umat? Yesus Kristus mati di atas kayu salib, dan kita pun serap itu dengan egois “Yesus mati untuk saya”, selesai. Kita tidak pernah berpikir Yesus mati untuk umat dan bukankah itu nama yang Matius 1:21 katakan “beri Dia nama Yesus karena Dia adalah orang yang akan menebus umatNya dari dosa mereka”, Dia adalah Juruselamat yang akan menebus umatNya. Berarti umat besar, banyak, bukan hanya terus pergumulan saya saja.
Berkaitan dengan ini, saya akan mengajak kita untuk memikirkan setting umat. Kalau kita mendekati Bilangan 25 tanpa setting umat, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, karena kita pikir “jadi saya mesti melakukan apa sekarang?”, belum tentu kita bisa praktekan secara langsung. Tapi harap Saudara menangkap ada 3 ironi yang besar dalam Bilangan 25 ini, kalau kita lihat sebagai umat. Umat berarti kumpulan besar dan termasuk Saudara yang personal termasuk di dalam pergumulan itu. Kalau kita lihat setting-nya Bilangan 25, di Sitim yang adalah tempat Yosua mengutus 12 pengintai, lalu sebenarnya ketika mereka berada di Sitim, ini sebenarnya adalah suatu tempat yang begitu dekat dengan Tanah Perjanjian. Tapi Saudara mesti perhatikan di pasal 25 sebelumnya terjadi apa dan setelahnya terjadi apa. Di Sitim ketika Yosua mengirim 12 pengintai, apa yang orang Kanaan beri tahu? Mereka sebenarnya sudah gemetar terhadap orang Israel yang berkemah. Kita lihat di Yosus 2:10 “Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas”, jadi waktu mereka di Sikim sudah mengalami banyak hal. Empat puluh tahun yang lalu mereka dikeluarkan Tuhan dari Mesir, lalu mengeringkan Laut Teberau di hadapan mereka, dan baru saja, mungkin hitungan sebulan yang lalu, dua bulan yang lalu, mereka baru saja mengalahkan 2 raja yang besar sekali Sihon dan Og. Sehingga Yerikho yang begitu besar menjadi sangat khawatir. Alkitab mengatakan bahwa tawarlah hati mereka karena 2 raja besar dihabisi oleh Israel. Jadi mereka baru saja mengalami ini lalu kemudian pasal 22-24, mereka baru saja dilepaskan Tuhan dari musuh yang tidak terlihat. Musuh yang terlihat adalah Sihon dan Og, kelihatan raja-raja besar dihabisi semuanya. Lalu mereka baru saja diselamatkan dari musuh yang tidak kelihatan yang namanya kasus Bileam dan Balak. Balak mengimport satu dukun internasional untuk mengutuki orang Israel. Saudara bisa bayangkan ini seperti kita memasuki scene film, jadi waktu kita memasuki pasal 25, Saudara seperti melihat satu padang gurun yang besar sekali, di tengahnya ada perkemahan orang Israel, di tengah perkemahan ada kemah perjanjian, keluar asapnya, habis membakar korban bakaran, lalu di empat penjuru ada kemah-kemah orang Israel yang mungkin mereka baru mau memasang kemah-kemahnya. Dari situ scene-nya pindah ke gunung yang lain, yang dekat situ, di sana ada Balak dan Bileam yang sedang berusaha mengutuki Israel.Mereka mengusahakannya berkali-kali dan tidak ada ucapan kutuk yang bisa mempan kepada umat Tuhan karena Allah melindungi umatNya. Tetapi begitu kita turunkan scene-nya ke bawah, ternyata Saudara tertipu, bayangan umat Allah sedang beribadah, ternyata asap yang keluar itu bukan peribadatan mereka, kalau Saudara lihat lebih dalam lagi ke tenda mereka, mereka sedang berzinah. Mereka bukan beribadah kepada Allah, mereka sedang berzinah dari Tuhan. Itu bisa dibayangkan kalau ikatan antara Allah dan umatNya, Saudara harus membayangkan bagaimana perasaan Tuhan yang sebelumnya Dia sudah membela umatNya mati-matian, begitu pulang scene itu, mereka sedang berzinah. Maka ini adalah suatu ironi yang besar. Mengapa mereka bisa jatuh seperti ini? Mari hari ini kita pelajari tiga kejatuhan ironi dari umat Tuhan. Sekali lagi umat secara besar dan Saudara bisa memasukan diri Saudara sebagai salah satu dari umat maupun kita secara komunal juga bisa jatuh bersama-sama. Ironi pertama, mereka tidak sadar mereka in a journey, orang Israel itu masih di dalam perjalanan, belum sampai, karena mereka baru sampai Sitim, belum menyeberang ke Tanah Kanaan. Dan Tanah Kanaan bukan dibilang masuk begitu saja, tapi mereka harus menumpas semua suku di sana, dan itu belum dikerjakan. Maka ini satu ironis yang besar, terjadi kesalahan yang fatal ini karena mereka tidak sadar bahwa mereka dalam perjalanan. Saudara dan saya sebagai gereja Tuhan juga ada dalam perjalanan. Dan di dalam perjalanan, kita seringkali rasa “sudah dekat kok, sudah kelihatan Tanah Kanaannya, tinggal menyeberang satu sungai saja. Kita sudah sampai”. Perasaan sudah sampai itu sangat berbahaya dankita bisa terjemahkan perasaan established. Ini bukan kejatuhan yang sederhana, ini mendatangkan tulah yang menyebabkan 24.000 orang mati dan untuk menghentikan tulah itu ada seorang yang bernama Pinehas harus membunuh dua orang dengan satu tombak, selesai, baru tulah berhenti. Jadi ini bukan hal yang sederhana. Kalau kita hanya 15 tahun jadi Kristen, 25 tahun jadi Kristen, itu perjuangan kita belum sampai. Kita semua sudah 5 tahun di GRII, 10 tahun di GRII, jangan pernah merasa kita semua sudah sampai, kita semua sedikit lagi. Karena banyak orang fail di dalam hal sedikit lagi. Kita harus sadar kita dalam perjalanan dan perjalanan itu adalah di padang gurun. Ini belum masuk Tanah Perjanjian. Di padang gurun masih banyak kesulitan yang harus kita handle bersama. Dan sebagai umat, sebagai gereja Tuhan, kita mesti sadar bahwa kita ini sedang dalam perjalanan, belum selesai. Tapi dalam sisi perjalanan, kita akan jatuh begitu dalam ketika kita sampai pada kemapanan dan selesai sampai di situ. Tujuan kita kemapanan itu akan membuat kita jatuh.
Hal kedua, hal tidak sadar bahwa ada musuh, musuhnya belum selesai. Musuh yang kelihatan sudah, Sihon dan Og sudah selesai. Tapi ada musuh yang tidak kelihatan yang terus ada sampai kita selesai perjalanannya. Bahaya yang terbesar adalah kita ada dalam bahaya dan kita tidak sadar bahwa itu adalah bahaya. Kita secara personal maupun umat banyak sekali mengabaikan musuh yang tidak kelihatan Musuhnya ada dimana? Musuhnya di gadget Saudara, yang setiap hari ada. Kita tidak perlu lagi menjaga rumah, mengunci rumah supaya musuh tidak masuk. Tidak, sekarang musuhnya sudah ada sendiri, tinggal kita klik. Lalu musuh yang tidak kelihatan apa? Prinsip di dalam dunia ini. Saudara mencari pragmatisme? itu musuh yang tidak kelihatan. Dan kita sekarang setiap hari dilatih menjadi sangat seperti itu. Tidak perlu susah-susah, kotbah tidak perlu lama, tidak perlu belajar ini itu. Kita tidak dilatih untuk memiliki satu pemikiran yang bertanggung jawab, kita tidak dilatih menjadi manusia, kita direndahkan tidak menjadi manusia pun kita oke dengan distraction. Kita sering di-distract dan sedihnya, kita menikmati distraction itu. Berapa banyak waktu yang Saudara habiskan untuk menonton video di WA? Kalau 1 video 2 menit saja, 10 video sudah 20 menit, tapi kita kalau baca Alkitab tidak sampai 20 menit. Satu pasal selesai, amin, karena tidak ada hubungannya apa-apa sama saya. Karena tidak pernah memikirkan umat. Kita di-dehumanisasikan oleh banyak hal dan kita tidak sadar sebagai gereja. Sebagai gereja kita merasa “kotbah tidak perlu yang susah-susah, yang mudah saja yang bisa langsung dikerjakan”. Dan ini secara komunal, secara umat tidak sadar. Karena musuh itu sudah invade begitu dalam dan kita tidak sadar. Pragmatisme, hedonisme, semua ada. Kalau kita melihat video dan ini benar-benar menyedihkan, kemarin saya diperlihatkan satu klip hamba Tuhan yang modalnya hanya borgol dan menakut-nakuti orang tentang neraka, dan dia KKR Anak di banyak tempat dan anak yang datang banyak sekali. Secara umat, Saudara punya sense Pinehas tidak? “tidak, untuk apa menyusahkan diri sendiri, itu gerejanya dia sendiri, urusan gerejanya sendiri. Yang penting gereja kita aman, pikiran ini salah. Israel bisa jatuh karena musuh yang tidak kelihatan sudah masuk.
Ironi ketiga, mereka rasa ini sudah selesai. Ada time gap. Mereka sampai Sitim, lalu perlu waktu, Yosua mesti mengirim pengintai dan banyak hal yang mesti dilakukan. Jadi mereka tidak langsung datang dan mengatakan “besok kita perang”. Mereka ada time gap sebentar. Dan justru di dalam time gap ini mereka jatuh. Berapa banyak Saudara jatuh di dalam time gap? Ketika nganggur, ketika tidak ada kerjaan, ketika sedang menunggu, di situlah Saudara jatuh dalam dosa. Kalau kita sedang fokus, biasanya tidak ada gangguan. Tapi kalau sedang tidak ada kerjaan, biasanya kita buka ini itu, akhirnya kita jatuh dalam dosa. Dan Israel dalam pasal 25 jatuh dalam time gap. Time gap yang Tuhan beri mereka di Sitim adalah supaya mereka siap. Dua orang mengintai yang lain siap-siap perang. Tapi mereka tidak lakukan, mereka pikir ini adalah saatnya “akhirnya”. Kalau terus di dalam “akhirnya” kita akan jatuh dalam dosa. Karena akhirnya harus jadi awalnya. Dan itulah time gap yang terjadi, mereka jatuh, dan kita tidak bisa melihat Bilangan 25 tanpa kita melihat settingnya sebagai umat. Pinehas adalah satu diantara sekian ratus ribu atau juta umat yang mengambil satu pekerjaan yang akhirnya meredakan kemarahan Tuhan. Saya mau kita sama-sama memikirkan ini dalam rangka kita bergereja, karena ini sedang membahas umat. Saya harap ketika Saudara bergereja di GRII, bukan karena Saudara merasa ini paling dekat rumah, bukan karena Saudara merasa ini paling cepat kebaktian, atau Saudara pikir ini yang paling bagus kotbahnya. Salah, itu kursus. Tapi ini gereja, umat dalam satu perjalanan dan Saudara mesti benar-benar mengerti ini karena ini umat Tuhan yang sedang berjalan, ada satu tujuan yang Tuhan tetapkan. Kita mengharapkan bahwa kita ini bukan gereja yang paling hebat di seluruh dunia, bukan. Saya melihat GRII hanya satu gereja diantara sekian banyak gereja di Bandung. Tapi kita mau bertanggung jawab sebagai umat. Inilah yang perlu kita pikirkan, kita sebagai umat, satu diantara begitu banyak umat Tuhan, apakah kita sudah melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Apa yang dilakukan Pinehas sebenarnya secara sederhana mudah, prinsipnya begini mencintai yang dicintai Tuhan, membenci yang dibenci Tuhan. Kalau kita mengerti prinsip ini dengan tepat, kita akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Apakah Saudara sedih kalau ada umat yang disesatkan oleh ajaran yang tidak benar? Kalau tidak sedih berarti Saudara tidak pikir tentang umat. Harap di hari-hari ke depan Saudara mengerti apa yang diperjuangkan karena ini adalah masalah umat.
- Injil Lukas
- 9 Nov 2016
Sabat dan Permulaan Kerajaan Allah
Lukas 13: 10-21
Saya akan mulai dari pertama yaitu mengenai pengertian Sabat yang menjadi kontroversi di dalam percakapan Yesus dengan pemimpin rumah ibadat. Di katakan di sini Yesus sedang mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat, Dia berkotbah di situ menyampaikan firman. Lalu ada seorang perempuan yang kerasukan roh. Ini pun tema lain lagi, Yesus mengalahkan roh jahat, ini pun bisa menjadi bagian yang kita bahas. Setan mengganggu dan memberikan dampak yang menyengsarakan orang. Salah satunya adalah perempuan ini sampai begitu bungkuk dengan keadaan yang melampaui keadaan normal. Dikatakan bungkuknya itu seperti kerta yang ditekuk, demikian kalau kita baca di dalam pengertian yang disampaikan oleh Lukas. Dan Yesus melihat perempuan ini begitu menderita, Dia langsung tegakan, dan sambil lakukan itu rohnya langsung pergi. Ini menunjukan kemenangan yang luar biasa. Cinta kasih Yesus kepada perempuan tua ini yang sudah 18 tahun diganggu oleh roh membuat Dia tergerak untuk membebaskan perempuan ini dari kuasa setan. Tapi mulailah pemimpin rumah ibadat marah, “ini apa, mengapa sembuhkan orang pada hari Sabat?”. Dia sebenarnya mau sindir Yesus, kalau dilihat dia marah karena Yesus sembuhkan perempuan tua ini, tapi dia tidak berani tegur Yesus, dia pakai sindiran. Dia bicara ke orang banyak, tapi tujuannya ke Yesus. Dia mengatakan “hai orang-orang, ada 6 hari untuk disembuhkan, datanglah pada hari itu, jangan datang pada hari ke-7”. Ini lagi-lagi masalah Sabat yang diungkit, dan Yesus berkali-kali konflik karena problem Sabat. Bagi orang Israel Sabat adalah hari di mana kita tidak boleh bekerja. Dan mereka sangat ketat dalam melakukan ini, karena mereka tahu di dalam kitab nabi-nabi dikatakan “Aku membuang engkau hai Israel, karena engkau mengabaikan Sabat bagi tanah ini, maka Aku buang kamu”. Maka orang Israel bereaksi dengan mengatakan “sekarang Sabat harus kita jalankan. Kita kompak, kita satu identitas orang Israel, sama-sama menghormati Sabat, sama-sama menghormati perintah Tuhan, tidak boleh kerja di hari Sabat”. Akhirnya mereka mereka membuat peraturan yang banyak diantaranya sengaja dipermainkan oleh Tuhan Yesus. Tuhan tidak peduli tradisi mereka yang membuat Sabat menjadi sesuatu yang ringan, yang sepele, yang ditaati dengan buta tanpa mengerti konsep total dari Sabat. Ini yang mereka lakukan, mereka melakukan pemisahan antara apa yang disebut kerja dan bukan, apa yang boleh di hari Sabat dan tidak. Mereka membuat peraturan ini dan ini bukan Taurat. Taurat tidak mengajarkan dengan cara yang sempit dan kosong mengenai apa yang boleh dan tidak, Taurat memberikan yang lebih dalam lagi yaitu mengenai pengharapan hari ketujuh, tentang pengharapan pemulihan segala sesuatu, tentang damai Allah bersama manusia, dan banyak hal lain yang ditekankan dalam tema Sabat. Dan ini diabaikan manusia demi menekankan mana boleh mana tidak, Yesus sengaja melawan ini. Ketika dikatakan di hari Sabat tidak boleh melawan istirahat, maka mengangkat tempat tidur itu dianggap sebagai pemberontakan. Dan ketika Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh di pinggir kolam, Yesus mengatakan “angkat tilammu dan berjalanlah”. Mengapa disuruh mengangkat tilam, mengapa Yesus tidak mengatakan “berjalanlah dan tinggalkan tilammu”, mengapa suruh angkat? Karena ini justru akan membuat konflik dengan orang-orang Yahudi dan Yesus sengaja bangkitkan ini supaya mengoreksi konsep mereka tentang Sabat. Lalu Dia juga menyembuhkan mata orang buta, lagi-lagi di hari Sabat. Yesus ingin menekankan apa itu pengertian Sabat, dan Yesus menghantam pengertian dari orang-orang yang sempit yang membenarkan diri dan tidak menganggap perlunya melihat posisi yang lain, melihat kemungkinan untuk belajar, melihat ada kemungkinan saya salah menganggap tentang teori Sabat ini dan belajar dari yang lain. Inilah yang Yesus tegur.
Yesus sama sekali sedang tidak menegakan satu kubu yang sangat egois, sangat merasa benar sendiri, tidak. Alkitab sangat menekankan oikumene yang sejati. Dan oikumene yang sejati tidak seperti yang kita pikirkan, tidak seperti yang banyak orang gembar-gemborkan sekarang. Sekarang orang mengatakan oikumene, berarti saya tutup mata, tidak perlu melihat perbedaan, semua sama, tidak ada doktrin, tidak ada denominasi, semua sama. Itu bukan oikumene. Paulus mengatakan ada di antara kamu yang menganggap satu hari penting lebih penting dari yang lain, kamu lakukan itu untuk Tuhan, itu baik. Ada yang lain, menganggap semua hari sama, jika engkau lakukan itu untuk Tuhan, itu juga baik. Kita tetap menghormati orang lain yang melakukan cara berbeda demi motivasi mencintai Tuhan. Alkitab itu sangat indah, Alkitab itu memberikan ruang bagi perbedaan. Itu sebabnya tidak ada kelompok denominasi yang boleh mengklaim bahwa dia atau dirinya adalah kelompok yang mutlak benar dan semua kelompok yang lain harus belajar lewat dia. Reformed tidak begitu. Teologi Reformed dimulai dengan pernyataan sederhana, mari kembali ke Alkitab karena selama ini kita sudah salah mengerti Alkitab. Berarti sambil mengatakan “mari kita kembali ke Alkitab”, sambil mengatakan “kita perlu belajar banyak hal”, karena banyak hal kita ketahui dengan cara yang salah, lalu kembali ke Alkitab. Demikian juga tentang Sabat, Yesus sedang tidak menghina orang yang menghormati Sabat, Yesus sedang tidak menghina orang yang tidak mau kerja di hari Sabat. Tetapi Yesus menolak menghormati orang yang tidak mau menghormati orang lain. Maka di dalam pengertian Tuhan Yesus, hari Sabat itu dilakukan untuk beberapa hal. Yang pertama, hari Sabat adalah hari perhentian untuk ibadah, maka Yesus berkotbah di sinagoge. Hari Sabat adalah hari perhentian untuk ibadah. Saudara mesti memiliki hari dimana Saudara beribadah kepada Tuhan, mendengarkan firmanNya, berdoa padaNya, memuji Dia dengan segenap hati, harus ada. Dan itu adalah hari Sabat yang kita terapkan di dalam hari pertama yaitu hari Minggu. Kemudian yang kedua, Sabat melatih orang untuk tidak serakah. Yang Yesus tegur dari orang Yahudi bukan kegagalan mereka untuk ambil posisi, tapi kebiasaan mereka untuk menghina dan meniadakan posisi yang lain. Ini yang Yesus tegur dengan keras, karena posisi yang mereka tiadakan termasuk posisiNya Kristus yang menekankan tujuan Sabat untuk hari perhentian bagi beribadah, yang kedua melatih diri untuk tidak serakah, yang ketiga hari untuk menikmati Tuhan dengan limpah, yang keempat hari besar itu dimana setan dikalahkan. Ini yang Yesus kerjakan, hari Sabat menaklukan setan, itu cocok sekali. Maka seharusnya pemimpin rumah ibadat itu mengatakan “ada hari sabat untuk menyembuhkan diri dari setan, mari datang hai semua yang kerasukan untuk disembuhkan Yesus di hari Sabat”, karena itulah yang Dia lakukan. Dia mengalahkan setan maka Sabat bebas dari setan. Demikian juga pengertian terakhir, Sabat itu adalah hari perhentian untuk ibadah, hari untuk melatih diri tidak serakah dan bergantung kepada Tuhan, hari untuk menikmati Tuhan, keempat hari untuk menikmati kebebasan dari kejahatan, dan yang kelima hari yang dinikmati setelah pekerjaan selesai. Jadi Yesus punya pengertian Sabat yang dalam. Dan waktu pengertian ini ditolak karena kesempitan orang Yahudi, pada waktu itu Yesus menegur mereka. Poin pertama mengenai Sabat sudah dibahas dengan sangat limpah di bagian ini. Tapi poin ini adalah narasi untuk memuncak ke dalam kalimat yang selanjutnya dari Yesus. Yesus mengatakan “hai orang munafik, bukankah setiap orang diantaramu melepaskan lembunya di hari Sabat, bukankah perempuan ini yang sudah 18 tahun diikat oleh iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu karena ia adalah keturunan Abraham”, bagian inilah yang jadi kontroversi yang sangat besar karena Yesus mengatakan ada perempuan yang adalah keturunan Abraham. Perempuan ini adalah satu dari anak perempuan Abraham. Istilah ini belum pernah terdapat di kitab suci. Yesus menyatakan hal yang sangat kontroversial. Dan Injil sinoptik, Matius, Markus dan Lukas sangat senang mencatat bagian ini terutama Lukas. Lukas sangat senang mencatat ketika Yesus menjadi seorang kontroversialis, ketika Dia menantang tradisi yang tidak memanusiakan manusia. Maka kita ikut Yesus dengan mengatakan tradisi harusnya mencerminkan kelimpahan dari pekerjaan Tuhan membangkitkan manusia. Waktu tradisi itu menghina kemanusiaan, tradisi itu harus kita potong, tradisi itu harus kita lawan.
Kita menghargai tradisi sebagai cara Tuhan untuk menyatakan pekerjaanNya secara umum di tengah bangsa-bangsa. Tapi setiap tradisi ada hal yang rusak, yang membuat manusia tidak dimanusiakan, dan itu yang akan kita lawan. Ketika perempuan dianggap hina, ketika orang dianggap hina, ketika manusia dianggap hina, waktu itu tradisi harus pergi. Karena tradisi lebih rendah dari pada kemanusiaan. Kemanusiaan adalah sesuatu yang harus disupport oleh tradisi. Ini yang Yesus ajarkan, perempuan ini adalah perempuan anak Abraham, son bukan daughter, ini kontroversi. Tapi Yesus sudah penuh kontroversi sejak hari pertama Dia lahir di dunia ini. Dia kontroversi sekali, lahir dari seorang perempuan yang belum menikah. Yesus lakukan ini, cara Dia datang dengan cara seperti ini. Dan Injil Lukas adalah Injil yang paling suka menekankan hal yang kontroversi itu. Maka kalau Saudara suka memberontak harusnya suka Injil Lukas. Tapi yang suka memberontak, memberontaknya pada yang perlu diberontak, jangan berontak pada hal yang tidak perlu diberontak. Jangan berontak sama orang tua, jangan berontak pada tatanan yang baik. Berontak pada prinsip yang salah, tapi jangan berontak pada hal yang benar. Maka ada dobrakan dari Injil Lukas yang menegaskan bahwa tradisi Yahudi jangan diikuti denga buta, tradisi Yahudi harus diikuti dengan pengertian dan pengertian ini akan memuncak di dalam Kristus. Kristus tidak meniadakan tradisi Yahudi, Kristus mengoreksi tradisi yang sudah menyimpang dari tradisi Yahudi yang sejati. Dan tradisi Yahudi salah satunya adalah penghormatan kepada perempuan. Adam dan Hawa diciptakan sebagai gambar Allah, dua-duanya setara. Jadi Injil Lukas adalah Injil yang mendobrak kebiasaan zaman itu yang menekankan ada kelompok yang penting, yang kelompok yang kurang penting. Yesus justru mengatakan “benar ada kelompok penting dan kelompok kurang penting”, Yesus datang bukan untuk meniadakan ini. Tapi Yesus mengatakan “Aku mau pilih dari kelompok yang kurang penting ini”. Lalu yang penting kaget “kami bagaimana?”, Yesus mengatakan “Aku lewati kamu, Aku ambil perempuan, Aku ambil seorang nelayan biasa, Aku ambil seorang mantan pelacur, Aku ambil orang-orang yang kamu singkirkan dari tempat utama, justru Aku ambil mereka menjadi orang yang duduk di tempat utama di dalam kerajaanKu”. Ini yang Dia lakukan. Maka Dia melihat perempuan ini dan mengatakan hal yang kontroversi lagi, yaitu perempuan ini adalah daughter’s of Abraham, dia adalah anak perempuan Abraham. Isitlah baru, bukan son’s of Abraham tapi daughter’s of Abraham, anak perempuan. Dan ini membuat orang-orang yang mengerti Yesus, mempunyai hati melihat orang-orang yang terpinggirkan itu dipanggil. Mereka yang senang melihat apa yang Yesus lakukan, semua bersukacita, sedangkan semua pemimpin menjadi malu. Yesus melanjutkan cerita dengan mengatakan bahwa Kerajaan Alalh dimulai dengan humble beginning seperti ini. Dari perempuan seperti ini yang tadinya dirasuk setan sampai bungkuk lalu Tuhan tegakkan, dari dia Kerajaan Allah akan mulai. Dari perempuan yang tua, yang sudah pendarahan berapa lama, yang tidak berani bicara di depan umum, dari dialah kerajaan itu akan dimulai. Dari nelayan yang tidak dikenal, yang tidak punya kedudukan dan pendidikan, dari sinilah kerajaan itu akan dimulai. Bahkan di dalam Kekristenan mula-mula yang paling banyak percaya berita Injil adalah para budak. Karena orang terdidik mengatakan berita Injil itu adalah kebodohan. Lalu orang yang beragama mengatakan berita Injil adalah batu sandungan. Tapi bagi para budak, ini berita pengharapan. Yesus mengatakan “Aku membebaskan engkau”, dan yang paling rindu dibebaskan adalah para budak. Raja-raja mana mau dibebaskan, mereka senang dengan posisi mereka. Tapi para budak mengatakan “kami perlu berita ini”. Akhirnya orang-orang kecil itu datang dan menjadi anggota kerajaan dan Yesus mengatakan “inilah ragi yang akan mewarnai seluruh bumi, memenuhinya dengan Kerajaan Allah. Inilah biji sesawi yang akan tumbuh menjadi pohon besar”. Dimulai dari perempuan yang dihina, yang Yesus angkat dengan mengatakan “ini pun keturunan Abraham”. Inilah indahnya kerajaan itu. Dan saya sangat senang ketika mendapat kesempatan melihat biji sesawi. Di Malang ada Pdt. Cornelius Kuswanto, ahli PL, dia mendapat gelar doktor di bidang Perjanjian Lama dan dia adalah profesor Perjanjian Lama yang mengajar di SAAT. Waktu satu kali kunjungan, Pdt. Kornelius tunjukan di satu plastik biji sesawi dan itu luar biasa kecil, seperti lobang kertas yang ditusuk jarum kecil, kira-kira sebesar itu biji sesawi, luar biasa kecil. Kalau ini ditaruh di meja, ditiup angin, tidak ada yang peduli. Tapi begitu di tanah, ditanam, dia akan tumbuh jadi tanaman yang bisa dihinggapi burung. Ini benar-benar humble beginning, awal yang tidak bisa dideteksi karena terlalu kecilnya.
Dan ini yang Yesus katakan “Aku memulai KerajaanKu di bumi dengan menyerahkan diri mati di atas kayu salib”. Siapa yang mau raja yang mati di atas kayu salib? Bagi orang Romawi mati di kayu salib tanda pemberontak gagal. Bagi orang Yahudi, mati di kayu salib berarti dikutuk oleh sorga dan ditolak oleh bumi. Apakah ada pemimpin yang mati di kayu salib yang mau disembah? Itu benar-benar tidak masuk akal. Dan Yesus mengatakan “yang Aku panggil adalah orang-orang kecil”, perempuan ini, orang-orang lemah, orang-orang yang tidak dipandang oleh dunia ini, untuk memulai kerajaan yang akan mengambil alih seluruh bumi yang seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada pengaruh yang bisa mempengaruhi seluruh bumi lebih besar dari pada Kekristenan dan Kekristenan dimulai dari orang-orang yang paling tidak dianggap, para budak, perempuan, orang-orang kecil dan lain-lain. Dan di bagian selanjutnya Yesus mengatakan “seperti ragi yang ditaruh di adonan, akan membuat seluruh adonan dipengaruhi”. Saya sangat senang dengan perkataan Pak Billy, ragi itu tidak perlu ditaruh dengan tepat, taruh sembarangan saja, nanti akan menyebar. Jadi Saudara tidak perlu taruh merata supaya menyebar. Taruh di satu titik nanti semua akan kena, itulah Kekristenan. Dimulai dari satu titik yang kecil tapi akan mempengaruhi semuanya. Inilah yang Yesus sedang katakan. Saudara dan saya sedang berbagian di dalam kerajaan yang menghargai orang yang tidak dihargai oleh dunia, yang menghargai orang yang dipandang sebelah mata oleh dunia. Dan dari situ kerajaan ini berkembang. Saya sangat sedih dengan perkembangan gereja yang terlalu mementingkan orang penting di dalam gereja. Orang penting itu menjadi penting kalau dia rela sujud kepada Tuhan. Tapi Alkitab punya cara lain, perempuan yang untuk ibadah pun diusir, perempuan kalau mau duduk pun orang lain bilang “jauh-jauh, kamu kan kerasukan setan”, itu yang Yesus panggil, taruh di tengah dan mengatakan “ini keturunan Abraham”, dan semua orang menjadi malu. Saya pikir ini satu hal yang perlu kita ingat dan Injil Lukas sangat tepat untuk kita pelajari, untuk mengingatkan kita terhadap humble beginning of The Kingdom. Permulaan yang begitu rendah, begitu remeh, tapi yang mempengaruhi seluruh dunia. Yesus memperhatikan apa yang orang lain atau dunia ini tidak perhatikan. Yesus melihat apa yang dunia ini tidak mau lihat, dan Yesus bahkan dengan berani mengatakan “kerajaanKu akan terdiri dari orang-orang ini dan akan menggoncang dunia”.
Maka biarlah kita sadar diri kita yang rendah supaya kita dipakai Tuhan. Kita sadar kelemahan kita supaya kita tahu di dalam kerendahan kita, Tuhan akan menunjukan kuasaNya. Dan kita tidak boleh remehkan siapa pun karena kita tahu di dalam diri orang yang kita pandang sebelah mata, melalui orang itu Kerajaan Tuhan akan dibangkitkan dan dinyatakan. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan kita untuk melihat apa yang Kristus lihat.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 9 Nov 2016
Sudahkah kita Berbuah?
Lukas 13: 1-9
Salah satu menafsirkan yang benar atau kunci untuk menafsirkan yang benar, Saudara dan saya harus tahu bahwa Injil adalah kelanjutan dari kisah yang Tuhan sudah kerjakan di dalam Israel. Injil adalah narasi puncak dari apa yang Tuhan kerjakan di dalam Israel. Jadi Perjanjian Lama dan Israel jadi narasi panjang yang makin lama makin memuncak dan hidup Kristus di bumi adalah puncaknya. Kita tidak bisa memahami keadaan puncak ini tanpa melihat bagaimana Tuhan memberikan pimpinan, penyertaan dan narasi yang makin lama makin naik, makin memuncak. Kristus adalah Sang Israel yang sejati, Kristus adalah Israel yang berhasil sedangkan bangsa Israel adalah umat yang gagal. Waktu Tuhan menyatakan Injil, Tuhan juga akan mengaitkannya dengan peristiwa kehidupan Kristus dengan peristiwa Israel. Misalnya Matius, memulai dengan membahas tentang silsilah, ini adalah apa yang sudah diingat dari Abraham, kemudian Daud, kemudian pembuangan dan pemulihan, sekarang genap di dalam Kristus. Ini bukan cerita yang berdiri sendiri. Saudara tidak bisa nonton film sekuel tanpa lihat bagian sebelumnya. Kita tidak bisa memahami narasi tentang hidup Kristus tanpa dulu memahami apa yang Allah sudah kerjakan di dalam Israel. Sering kali kita salah memahami Kitab Suci karena poin ini, yaitu bahwa kita melakukan pemisahan yang ketat antara Israel dan gereja, pemisahan yang ketat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, padahal ini adalah kisah yang bersambung, saling berjalin, dan membentuk benang merah yang dimulai dari Kitab Kejadian dan digenapi di dalam Kitab Wahyu. Oleh sebab itu sangat aneh kalau kita memahami kehidupan Kristus tanpa melihatnya sebagai kelanjutan dari kisah Tuhan dan Israel. Tapi kita seringkali bukan hanya melepaskan kehidupanNya dari Perjanjian Lama, kita bahkan kadang-kadang tidak terlalu peduli dengan kehidupan Yesus. Jadi Kristus memperbaiki apa yang rusak dari relasi Tuhan dengan Israel. Di dalam Yeremia 31 dikatakan Tuhan akan memberikan perjanjian yang baru.
Pasal 13:1-9 sedang berbicara tentang ancaman pembuangan yang Yesus katakan kepada orang Israel. Jadi Tuhan mengatakan akan ada ancaman pembuangan, siapa yang diancam dibuang? Di dalam keadaan Israel pada waktu Yesus melayani, banyak sekali sekte-sekte di dalamnya, banyak kelompok. Satu kelompok selalu menganggap diri mereka lebih baik dari kelompok lain, sehingga mereka selalu berseru “Tuhan pasti akan pelihara kami dan akan binasakan kelompok yang lain. Kami pasti kelompok remnant itu, yang Tuhan pelihara sehingga keadaan yang baru itu akan Tuhan pulihkan. Tapi yang lain, semua gagal, semua rusak, semua kacau, hanya kami yang baik”. Ketika ada peristiwa orang disembelih oleh Pilatus, dia sedang mempersembahkan korban, Pilatus tangkap, mungkin mereka melakukan pelanggaran yang bagi Roma pantas dijatuhi hukuman mati, mereka berani lakukan, akhirnya mereka ditangkap dan dibunuh. Lalu darahnya dicampurkan dengan darah persembahan. Mengapa Tuhan tidak bertindak hantam Pilatus? Mungkin karena orang-orang itu memang berdosa, Tuhan memang akan buang kelompok ini. Jadi kelompok yang satu mengatakan “kelompok yang lain akan dibuang oleh Tuhan”. Tapi Tuhan Yesus mengatakan “jangan pikir hanya mereka yang berdosa, sebab kamu pun akan dibuang jika kamu tidak bertobat dari dosa-dosamu”, ini berbicara dalam konteks Israel dan ancaman pembuangan. Apakah kecelakaan itu akibat dosa? Tidak tentu, tapi Yesus sedang berbicara di pasal 13, kecelakaan akibat dosa. Tuhan menghukum karena mereka berdosa. Lalu orang lain mengatakan “mereka dihukum karena mereka berdosa”, tapi Tuhan peringatkan “kamu pun ada di dalam dosa yang sama dan kamu pun diancam dalam ancaman yang sama jika kamu tidak bertobat”. Jadi kita mesti lihat dulu apa yang Tuhan ancamkan kepada Israel, apa yang Tuhan nyatakan harus dikerjakan Israel tapi Israel gagal lakukan? Kita harus telusuri ini jauh ke belakang dan kita kembali di peristiwa Taman Eden. Ada seorang apologetika terkenal namanya Cornelius Van Til, dia di kelas kalau ditanya apa pun selalu akan kembali ke Taman Eden. Kejadian 1 dan 2 menceritakan tentang tugas yang Tuhan percayakan kepada manusia. Tuhan tidak menciptakan manusia hanya untuk menikmati berkat saja, tapi Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi berkat. Jadi Tuhan menciptakan manusia untuk menghasilkan buah dan buah ini adalah gambaran atau kata yang sering muncul. Alkitab itu sering memunculkan kata-kata yang seperti sederhana, sehari-hari, tanpa makna yang penting, tetapi sebenarnya memiliki makna eskatologis yang bTuhan tetap pakai manusia untuk menjalankan kehendakNya di bumi. Jadi Tuhan punya kehendak di bumi. Dan apakah kehendakNya? Banyak gereja Injili sulit menafsirkan ini, apa kehendak Tuhan di bumi? Susah ditafsirkan karena tidak mengerti bahwa Tuhan begitu cinta bumi ini dan ingin mengerjakan sesuatu yang akan digenapi di dalam zaman akhir nanti. Jadi Tuhan ingin kita di bumi mengerjakan apa yang Tuhan mau karena Dia mencintai bumi ini, Dia menyukai bumi ini dan Dia ingin bumi ini menjadi seharusnya di dalam rancangan Dia. Tuhan ciptakan bumi untuk apa? Kalau Saudara anggap bumi ini tempat ujian untuk nanti kita ke sorga, “bumi ini tempat sementara”, itu bukan teori Alkitab, itu ajaran Islam, itu ajaran dari banyak agama atau banyak sistem agama. Tuhan ciptakan bumi karena senang bumi. Dan karena begitu senangnya, Dia mempercayakannya kepada manusia, gambarNya. Mengapa Tuhan percaya kepada manusia? Supaya manusia bisa menikmati dan bisa membuat bumi jadi tempat yang dinikmati gambar Allah yang lain. Karena saya mengenal Tuhan baru saya bisa menentukan bisa memilih mana baik mana jahat. Tapi ketika pengenalan akan Tuhan dicopot, diabaikan, lalu saya memilih mana baik mana jahat tanpa peduli Tuhan, saya akan jatuh di dalam dosa yang sudah dilakukan oleh Adam juga. Jadi Saudara dan saya tidak bisa mempunyai pengertian dengan tepat dan benar sesuai dengan rencana Tuhan di bumi milik Tuhan ini, tanpa kita kembali kepada pengenalan akan Tuhan.
Jadi Adam dan Hawa mementingkan pengenalan akan baik dan jahat dengan korban, dengan biaya mengorbankan pengenalan akan Tuhan. Ini yang sering kita lakukan, mengambil sesuatu dengan mengorbankan mengenal Tuhan. Tuhan membangkitkan Israel dengan tujuan yang sama, jadi berkat, penuhi bumi dan nyatakan berkat bagi bumi. Maka Israel harusnya kerjakan ini tapi mereka gagal, mereka gagal melakukan apa yang Tuhan percayakan. Dan Tuhan minta mereka mengerjakan beberapa hal, yang pertama, mereka menyembah Tuhan dan menyatakan kepada dunia ada Tuhan yang menciptkan bumi ini, ada Tuhan yang adalah Raja bumi ini, Dialah Pemilik seluruh bumi ini dan Israel harus menyatakan ini. Kedua, Israel harus menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, Israel harus menjadi tempat dimana bangsa-bangsa didoakan dan menjadi berkat dan akhirnya boleh dibawa kepada Tuhan. Ini yang Tuhan mau Israel lakukan, tapi apakah Israel lakukan itu? Tidak, Saudara bisa lihat momen-momen ketika Israel sudah akan lakukan, selalu disusul dengan kegagalan. Kapan momen pertama? Pada waktu pimpinan Yosua, pada waktu mereka sudah mulai kuasai tanah itu, mereka sudah akan memulai proyek ini yaitu menyatakan kepada bangsa-bangsa bahwa ada Tuhan yang mencipta, ada Tuhan yang adalah Raja atas bumi. Lalu mereka akan memulai proyek menjadi berkat atas bangsa-bangsa dan itu mereka gagal lakukan. Karena mereka jatuh dalam penyembahan berhala, Saudara baca Kitab Hakim-hakim dan Saudara tahu yang Tuhan harap mereka lakukan, gagal. Bayangkan, Tuhan sangat mengasihi bumi ini, sangat mencintai dunia ini, dan dunia tetap dikuasai oleh setan, kira-kira ini akan menyenangkan hatiNya atau mendukakan Dia? Yohanes 3:16 mengatakan “karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, maka Dia mengirimkan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya (jadi umat) tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”, itu bahasa Yohanes jadi umat yang akan tangani tugas Tuhan di dunia ini. Tuhan mencintai dunia ini dan Tuhan ingin Israel melakukan sesuatu. Mengapa dunia dikuasai kejahatan? Mengapa dunia dikuasai oleh koruptor, mengapa dunia dikuasai oleh penjahat? dimana Israel? Mereka menjadi salah satu dari penjahat.
Banyak orang Kristen bukan menjadi berkat, justru jadi salah satu orang jahat, tambah orang jahat, tapi bedanya sekarang orang jahat yang pakai kalung salib, bedanya ini orang jahat yang masih menyanyikan lagu Haleluya Puji Tuhan di gereja. Dan herannya lambang berkat yang Tuhan sering pakai adalah pohon dan buah. Ada 3 yang paling utama yaitu pohon ara dan buahnya, pohon zaitun dan pohon anggur. Israel adalah kebun anggur, Israel akan diam di bawah pohon ara dan lain-lain. Maka waktu Tuhan mengeluarkan Israel dari Mesir, Tuhan menjanjikan “engkau akan duduk di bawah pohon aramu dan menikmati buahnya dengan tenteram. Engkau akan mempunyai kebun anggur yang engkau tidak tanam, yang hasilnya boleh engkau nikmati sepanjang tahun. Engkau akan menikmati buah zaitun yang begitu limpah di tanah itu”. Jadi Tuhan menjanjikan kelimpahan tanah, hasil buah untuk dinikmati oleh Israel. Itu sebabnya pohon ara mempunyai makna berkat, lambang berkat Tuhan bagi Israel. Tapi Tuhan juga mengatakan kalau Israel diberikan berkat buah ara atau buah anggur atau zaitun, mereka harus menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Lalu masuklah dalam kisah ayat 6-9 yaitu mengenai pohon ara di tengah-tengah kebun anggur. Ini aneh, ada pohon ara di tengah kebun anggur, apa maksudnya? Pohon ara adalah lambang berkat Tuhan bagi Israel, sedangkan kebun anggur adalah simbol dari Israel. Jadi di tengah-tengah Israel ada pohon ara. Dan orang Israel selalu menafsirkan pohon ara sebagai bukti berkat Tuhan atau tanda berkat Tuhan. Tapi di bagian ini Tuhan tanya “pohon aramu sudah berbuah atau belum?”. Israel bisa saja tanya “Tuhan, kan Engkau yang janjikan akan beri, mengapa sekarang tuntut kami untuk berbuah?”, justru ini poin yang Yesus mau tekankan, apa yang menjadi simbol berkat juga akan menjadi simbol tanggung jawab. Saudara dapat anugerah dalam hal apa, Saudara akan dituntut tanggung jawab dalam hal itu. Apa berkat yang Tuhan berikan? Keselamatan di dalam Kristus. Kalau begitu apa tanggung jawab yang Tuhan berikan? Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar. Apa berkat yang Tuhan berikan? Pengenalan akan Allah. Kalau begitu apa tanggung jawab yang Tuhan berikan? Berusahalah kenal Dia. Apakah yang Tuhan berikan? Kekudusan. Apakah yang harus kita lakukan? Hidup kudus.
Jadi antara simbol anugerah dan tanggung jawab ini menjadi satu. Sudahkah engkau berbuah? Pohon ara yang Aku tempatkan sudahkah menghasilkan buahnya? Buahnya apa? Buahnya adalah membuat orang mengenal Tuhan, membuat orang tahu bumi ini milik Tuhan dan membuat orang tahu menjalani apa pun di bumi harus dilakukan dengan cara Tuhan, ini yang Tuhan mau kita kerjakan. Menunjukan ke dunia bahwa dunia ini milik Tuhan. Apa yang ada di bumi? Manusia, apa yang dilakukan manusia di bumi? Berdagang, berpolitik, berelasi, bersosial, masuk dalam dunia pendidikan, menyelidiki alam, dan lain-lain, semua ini adalah hal yang Tuhan senangi. Semua ini mau Tuhan nyatakan sebagai milikNya. Semua ini adalah hal-hal yang Kristus berhak menyatakan diriNya sebagai Raja. Inilah tugas kita, memenuhi bumi dengan prinsip-prinsip tadi, dengan pengenalan akan Allah, dengan cara menjalankan segala sesuatu yang baru. Saya tahu ini tidak mudah, kita berjuang di tengah dunia ini, dan sangat sulit kita berjuang, tapi Tuhan tidak tuntut kesempurnaan dari kita, Tuhan tuntut pertumbuhan. Saudara mungkin tidak sempurna ikut Tuhan, tidak apa-apa, tapi Tuhan tuntut ada perubahan, hari ini Saudara harus bertumbuh sehingga lebih baik dari kemarin. Maka Pak Tong beri definisi kebangunan rohani, kebangunan rohani berarti saya kejar kecepatan Roh Kudus yang selama ini saya lalai ikuti. Selama ini saya jalan dengan kecepatan sendiri, saat ini saya sadar Roh Kudus sudah jalan cepat sekali, sekarang saya kejar, dan kemampuan saya mengejar itulah kebangunan rohani.
Maka marilah kita bertobat dan kembali ke Tuhan, dan mengatakan “Tuhan, ketika Engkau datang dan mengatakan pohon ara ini harus berbuah, tolong saya, saya akan berjuang tapi berikan anugerah supaya pohon ara ini benar-benar berbuah”. Di dalam hal menyatakan kemuliaan Tuhan, menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja, ini berarti penginjilan. Menyatakan bahwa ada cara yang Raja ini mau untuk hidup itu dijalani, ini namanya mandat budaya. Inilah yang harus kita kerjakan. Tapi adakah pengharapan selain dengan perintah Tuhan harus berbuah? Ternyata ada, karena di dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus mengatakan “Akulah pokok anggur dan kalau kamu ditanamkan ke Aku, kamu akan berbuah lebat”. Jadi Saudara tidak diberikan perintah saja oleh Tuhan Yesus, Tuhan Yesus memberi diriNya supaya Saudara dicangkokan ke Dia dan mengalami buah yang limpah di dalam Dia. Israel gagal karena mereka menolak Yesus. Saudara dan saya akan berhasil kalau kita beriman kepada Yesus. Di dalam Kristus berarti mengutamakan Dia lebih dari apa pun, seperti dikatakan oleh Lukas. Di dalam Kristus berarti Saudara mengasihi Dia, seperti yang dikatakan oleh Yohanes. Di dalam Kristus berarti Saudara dikasihi oleh Dia. Di dalam Kristus berarti Saudara meneladani Dia. Ini semua pengertian berkait dengan iman. Karena di dalam konteks hidupNya di dunia ini, Yesus menjalaninya dengan memberikan contoh, memanggil murid-murid dan mengatakan “seperti yang engkau lihat ada padaKu, kamu harus kerjakan itu juga”. Jadi Tuhan Yesus meminta iman ada di dalam banyak aspek, iman berarti percaya Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang datang ke dunia. Kepercayaan saya bahwa Dia Mesias harus sama dengan kepercayaan yang dimiliki Israel, yaitu bahwa Mesias ini Raja yang akan memimpin kita hidup di dalam cara yang baru. Selama ini dunia ini menutupi kita, menangkap kita, tapi Mesias akan membebaskan kita dan kerajaanNya akan dinyatakan, itulah iman kepada Mesias. Keluar dari sini, Saudara berjuang kembali, “saya milik Tuhan selama-lamanya. Dunia boleh hancurkan, saya akan tetap berjuang dan menang di dalam Tuhan”, nyatakan cara hidup yang lain, nyatakan cara hidup yang sesuai dengan Kerajaan Tuhan, nyatakan cara hidup yang meneladani Kristus di dalam setiap aspek. Inilah yang harus dikerjakan. Maka pikirkan, gereja punya tugas yang banyak, politik yang rusak, ekonomi yang rusak, lingkungan yang rusak. Dan mari kita pikir baik-baik dimanakah kita harus mengambil bagian sebagai bagian dari gerejaNya. Apakah saya harus berdiri di mimbar ini, memperkuat di dalam supaya orang pergi keluar dengan kekuatan dan pengertian yang limpah, ataukah saya menjadi orang yang diutus keluar, itu harus Saudara gumulkan. Saya harus kerjakan apa? Harus digumulkan. Tapi apa pun yang Saudara mau gumulkan nanti, yang paling penting adalah saat ini Saudara dipercayakan apa, itu yang Saudara harus kerjakan. Mari berbuah bagi Tuhan. Doakan juga diri dan orang-orang Kristen supaya tahu bahwa ketika kita terjun kembali ke dalam kehidupan kita, kita bawa tugaa. Kita adalah image of God, gambar Allah yang harus memancarkan kemuliaan Allah di dalam bidang yang kita kerjakan. Maka saya berharap kita mulai melihat pekerjaan Saudara, keluarga Saudara, relasi Saudara, tempat Saudara tinggal, lingkungan Saudara, apa pun yang Saudara alami, konteks hidup Saudara harus dilihat sebagai tempat diman Tuhan mau kemuliaanNya dinyatakan melalui Saudara. Pemikiran ini harus ada pada kita. Mengapa engkau kerja? Bukan hanya untuk uang, tapi untuk menyatakan kemuliaan Allah akan bersinar di sini. Mengapa kita membina keluarga? Bukan hanya untuk diri atau desakan orang tua, tapi karena mengatakan kemuliaan Allah harus bersinar di sini. Mengapa membuat sekolah, membuat lembaga ini, lembaga itu? Karena menyatakan kemuliaan Allah mesti bersinar di sini. Harap ini menjadi beban kita bersama, kita rindu bumi milik Tuhan makin terang bersinar di dalam Injil Kristus. Sekarang Tuhan lakukan di Indonesia, negara dengan jutaan rasa korupsi, kekacauan, kejahatan dan lain-lain. Dan Saudara mengatakan kalau gereja Tuhan melakukan sesuatu, engkau akan lihat buah ara itu dinyatakan di sini dan Kerajaan Tuhan dinyatakan. Tapi jangan cuma mimpi, mulai kerja dari sekarang, melangkah dari sekarang. Kiranya Tuhan memberkati kita.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 9 Nov 2016
Kristus Menang dengan Menjadi Korban
Lukas 12: 49-59
Kita sudah membahas beberapa bagian sebelumnya dan ini memberikan kaitan yang indah sekali, kaitan tentang apa yang Tuhan mau kerjakan di bumi ini. Di bagian sebelumnya kita sudah membahas Allah yang menopang kita semua, Allah memberikan pemeliharaanNya, Allah yang menyertai, Allah yang memberikan belas kasihan, dan Allah yang memberikan semua yang diperlukan untuk hidup. Lalu di bagian selanjutnya kita sudah membahas Allah yang menuntut semua orang yang mengenal Dia untuk mengerjakan semua yang Dia mau. Kita adalah hamba dan Tuan itu yang adalah Allah akan datang untuk meminta pertanggungan jawab dari apa yang Dia percayakan kepada kita. Lalu secara otomatis kita mengatakan “Tuhan yang memelihara dan saya punya tanggung jawab kepada Tuhan. Kalau Tuhan sudah pelihara saya dan saya bertanggung jawab kepada Tuhan, maka Dia akan datang lagi dan Dia mengkonfirmasi kesalehan saya, Dia akan datang untuk mengangkat saya”. Tapi bagian selanjutnya justru adalah bagian yang mengagetkan karena Yesus bicara tentang perang, tentang pedang, tentang konflik. Dia mengatakan Dia datang untuk melemparkan api ke bumi dan Dia mengharapkan betapa api itu menyala. Lalu Dia mengatakan “Aku harus menerima baptisan dan betapa susahNya hatiKu sebelum hal itu berlangsung”. Ini adalah sesuatu yang sulit untuk kita terima kalau kita mengerti apa yang menjadi pengharapan orang Israel. Apa yang diharapkan orang Israel, seperti yang dicatat di dalam Perjanjian Lama, itu yang harus kita pahami untuk bisa mengerti pesan Yesus di bagian ini. Maka di dalam pengertian Israel, Tuhan mengijinkan bumi penuh dengan kekacauan, tapi Dia akan datang kembali. Bumi tadinya penuh dengan kemuliaan Tuhan atau bumi akan menjadi tempat yang penuh dengan kemuliaan Tuhan, tapi Tuhan masih menarik kemuliaanNya, belum dinyatakan dengan penuh. Karena manusia jatuh dalam dosa.
Mengapa Tuhan menarik kemuliaanNya? Karena kemuliaan Tuhan otomatis akan menyingkirkan dosa. Jadi kalau Tuhan sudah menyatakan kemuliaanNya dengan sempurna, tidak ada lagi orang berdosa, tidak ada lagi orang fasik, tidak ada lagi orang jahat di bumi ini. Jadi ketika Tuhan akan datang kembali membawa kerajaanNya, kerajaanNya itu akan menyapu bersih semua yang kacau, semua yang kotor, semua yang fasik, semua yang kejam, semua yang jahat. Inilah pengharapan Israel. Maka Israel berdoa “Tuhan, datanglah kerajaanMu”, mereka berdoa ini karena mereka percaya bahwa kedatangan Tuhan melalui Israel. Tuhan adalah Raja dan Dia akan nyatakan kerajaanNya melalui raja yang diangkat di Israel. Ini keunikan yang agung sekali. Tuhan bertahta di langit dan di bumi, tapi tahta Tuhan di bumi diberikan kepada manusia, itu sebabnya manusia menjadi gambar dan rupa Allah. Dan mereka tunggu-tunggu, kapan Mesias datang, karena kalau Mesias ini datang, Kerajaan Allah akan masuk ke bumi, akan menghantam bumi dan membereskan semua. Tuhan akan klaim kembali tanah seluruh bumi menjadi milik Dia. Jadi di dalam pikiran orang Israel akan ada perang besar yaitu pasukan Tuhan akan datang dan seluruh bumi akan hancur. Siapa pasukan Tuhan? Israel percaya bahwa merekalah pasukan Tuhan. Jadi mereka sedang tunggu kapan Tuhan akan datang dan Tuhan akan habisi musuh. Mereka ingat peristiwa Yosua, Yosua dengan sekelompok orang yang mantan anak budak, lalu mereka masuk mengalahkan Yerikho, cuma keliling tembok, tembok bisa runtuh. Maka mereka pikir, “Roma bisa apa sama kami? Nanti kami kelilingi Kota Roma akan runtuh sendiri. Pokoknya nanti kalau Tuhan sudah bebaskan kami, semua penjajah, semua pengacau, semua yang merusak dunia akan dihantam oleh Kerajaan Tuhan”, ini yang mereka harapkan. Jadi Saudara mesti tangkap pola ini, saya tidak mau kita jadi orang Kristen yang mengabaikan apa yang Tuhan kerjakan di dalam Israel, karena itu akan membuat kita tidak mengerti Kitab Suci. Kalau kita tidak mengerti Kitab Suci, kita tidak akan mengerti hidup, dan kalau kita tidak mengerti hidup, apa bedanya kita dengan orang yang bukan Kristen? Harap kita serius dengan pemahaman Kitab Suci. Maka Tuhan sudah menjanjikan nanti ketika Mesias datang semua akan dibereskan, semua akan dihancurkan, Tuhan akan perang dan Kerajaan Tuhan akan menyapu bersih seluruh kerajaan fasik, dan Tuhan akan bertahta di bumi sekali lagi. Jadi konsep Israel adalah Allah itu Raja. Yang menjadi masalah adalah kapan Tuhan membereskan semua kerajaan fasik dan menyatakan KerajaanNya di bumi ini, kapan Tuhan akan bereskan semuanya? Inilah yang menjadi pertanyaan mereka. Dan waktu Yesus menjadi orang yang dicurigai sebagai Mesias oleh orang-orang Israel, “benarkah Dia Mesias? Sepertinya iya”, sebagian bilang begitu, sebagian lagi mengatakan “sepertinya bukan”. Jadi mereka terus berdebat, tapi Yesus terus menunjukan tanda-tanda bahwa Dia adalah Mesias. Jadi masuk Kerajaan Allah itu bukan masuk sorga, ini pengertian harus dirombak, kita semua terlalu platonis. Kerajaan Allah datang bukan masuk sorga, tapi sorga masuk sini. Alkitab tidak bicara kita masuk sorga, tapi sorga masuk sini. Memang kita akan masuk sorga, tapi sorga itu sementara, karena sorga akan datang ke sini, tahu dari Kitab Wahyu. Bukti ayatnya banyaknya bukan main. Bahkan saya akan tantang Saudara untuk balikan bukti, benarkah sorga pengharapan kekal kita? Alkitab mengatakan bukan, karena langit dan bumi yang baru bersatu itulah pengharapan manusia. Itu sebabnya waktu Tuhan suruh Israel membuat kemah suci, kemah suci itu melambangkan bumi. Waktu Tuhan penuhi Bezaliel dengan Roh Allah untuk membuat Kemah Suci, itu adalah perkataan kedua yang memakai Roh Allah bekerja. Perkataan pertama di Kejadian 1 “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan bumi”, ini dalam konteks penciptaan. Lalu tidak muncul lagi perkataan Roh Allah mengerjakan apa, ada perkataan muncul “Roh Allah akan ditarik oleh Allah”, sebelum air bah, tapi itu pasti bukan hal yang sama dengan Kejadian 1. Lalu di dalam Kitab Keluaran dikatakan bahwa Roh Allah memenuhi Bezaliel. Kalau Saudara baca dengan teliti, Saudara akan ingat ini kali kedua Alkitab menulis tentang Roh Allah bekerja. Dan kali pertama penciptaan, kali kedua membuat kemah. Mengapa cuma membuat kemah perlu Roh Allah? Mengapa Bezaliel bisa dipenuhi Roh Kudus? Karena dia sedang membuat simbol penciptaan. Lalu membuat kemah suci di tengahnya ada ruang kotak, yang disebut ruangan maha suci, tidak boleh masuk sembarangan, kalau berani masuk akan mati. Mengapa mati? Karena ini lambang tahta Tuhan. Jadi ruang maha suci adalah penantian sorga turun. Dan nanti sorga akan turun, kemah itu jadi simbol yang lengkap. Sekarang tidak ada kemah suci lagi, tidak ada Bait Suci lagi karena kita adalah bait suci. Bait suci itu simbol kehadiran Tuhan, dan itu digenapi oleh Kristus dan kita. Tapi ada yang kedua, bait suci itu adalah tema kosmos, alam semesta ciptaan Tuhan dan itu digenapi oleh langit dan bumi. Kita di bumi, kita adalah imam, dan imam besar masuk ke tempat maha suci, di sorga, Ibrani mengatakan begitu. Dimana Juruselamatmu, dimana Imam Besar itu? Imam Besar itu sudah lewati langit untuk masuk ke ruang maha suci di sorga. Jadi sorga itu ruang maha sucinya, ini pelataran dan isi bait Allah, inilah yang disimbolkan oleh Bait Allah, langit dan bumi.
Maka Kitab Wahyu mengatakan langit dan bumi bersatu, tiap kali Israel lihat bait suci atau kemah suci, mereka mengharapkan langit dan bumi bersatu. Tapi kalau langit datang menghantam bumi, bayangkan sorga menghantam bumi, tidak mungkin orang fasik bisa bertahan, ini lebih mengerikan dari pada air bah, ini lebih mengerikan dari pada penghukuman yang terjadi didalam Kitab Suci. “Ketika sorga turun, tidak bahagia jiwaku”, ini lain dengan nyanyian “sorga turun, bahagia jiwaku”. Karena waktu sorga turun, orang fasik akan hancur. Bagaimana sorga turun? Melalui Sang Raja. Jadi jangan pikir sorga turun itu dengan bentuk bangunan tiba-tiba turun, memang Wahyu berikan gambaran itu, bangunan yang turun, tapi gambaran lain dari Wahyu tentang sorga turun yaitu Mesias datang dengan pasukan malaikatNya yang siap berperang. Bayangkan betapa mengerikannya kita suruh lawan pasukan ini. Waktu bumi dihantam oleh sorga yang turun, maka orang fasik akan hancur dan itulah sebabnya Tuhan mengatakan kepada Nikodemus “engkau tidak akan melihat ini terjadi karena kamu akan ikut hancur”. Yesus kok mengatakan seperti ini? Waktu Kerajaan Allah datang, kamu tidak akan bisa lihat dan tidak akan bisa masuk. Artinya Nikodemus termasuk yang akan disapu keluar. Dan bayangkan betapa terkejutnya orang lihat orang senior, pemimpin agama, seorang sanhedrin, seorang Farisi yang terpandang, datang dengan rendah hati kepada Yesus, mengakui Anak Muda ini sebagai gurunya dan Anak Muda itu bilang “engkau tidak akan ikut lihat waktu Kerajaan Allah datang, engkau akan ikut dibuang bersama orang fasik”. Bayangkan berapa rendah hatinya Nikodemus. Kalau Saudara jadi Nikodemus, Saudara bisa marah-marah. Seluruh dari bagian itu sedang bicara Kerajaan Allah datang kamu akan disingkirkan kecuali kamu berpegang pada Kristus, melihat Dia yang dipaku di atas kayu salib, sama seperti orang Israel melihat ular yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun. Mereka sudah digigit ular, tapi mereka melihat ular tembaga dan mereka hidup. Demikian kamu sudah digigit ular, ketika kerajaan datang, kamu akan diusir bersama ular itu, kecuali kamu memandang kepada Dia yang menanggung semua kecemaran dari dosa di atas kayu salib. Jadi Kristus datang untuk menyatakan kerajaan itu, tapi engkau harus percaya kepada penebusan Kristus. Inilah cara Yohanes merombak cara pikir orang Israel, yaitu waktu kerajaan itu datang, kerajaan itu tidak datang dengan perang seperti yang engkau pikir, kerajaan itu akan datang dengan Sang Raja mati di kayu salib. Itu cara Yohanes membahasakannya. Dan Lukas membahasakannya di dalam perikop yang baru kita baca. Kerajaan Allah akan datang dan Yesus mengatakan “Akulah yang akan bawa”. Maka dikatakan di ayat 49 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala”. Yesus mengatakan “Akulah yang bawa kerajaan itu dan Aku berharap ini segera terjadi”. Tapi ayat selanjutnya mengagetkan karena dikatakan “Aku harus menerima baptisan”. Apa baptisan ini? Kalau kita tidak mengerti baptisan ini, maka kita harus kaitkan itu dengan panggilan Tuhan. Baptisan adalah pengkhususan untuk kerjakan panggilan dan panggilan untuk Kristus berakhir di kayu salib. Jadi Yesus sedang berbicara soal kematian Dia, baptisan adalah kematian Kristus dan ini mengagetkan, Kerajaan Allah datang, Rajanya datang, Anak Daud itu datang, Dia mewakili Allah menjadi Raja di bumi dan Dia akan klaim tahtaNya dengan cara mati. Ini mengagetkan sekali, Yesus mengatakan “inilah yang akan terjadi, kamu mengetahui bahwa Tuhan pelihara kamu, kamu mengetahui bahwa Tuhan adalah Tuan yang kepadaNya kamu harus bertanggung jawab. Dan kamu mengetahui Tuan itu akan segera datang, amatilah Tuanmu itu. Karena Tuanmu akan berperang dengan cara yang berbeda dengan dunia. Berperang dengan mengijinkan DiriNya menjadi posisi korban”, ini luar biasa sekali. Maka Yesus mengatakan “Aku harus menerima baptisan dan betapa susahnya hatiKu sebelum hal itu berlangsung”. Ayat 51 “kamu menyangka bahwa Aku membawa damai. Tidak, bukan damai tapi perang”, ini orang Israel sudah tahu. Karena kalau Kerajaan Allah datang pasti konflik dengan kerajaan dunia ini, tidak ada yang sama. Yesus sedang menyatakan itu. Ketika Kerajaan Sorga datang, langsung konflik dengan dunia ini. Tapi yang mengherankan adalah Kristus ambol posisi baptisan, posisi korban.
Ini yang diteliti dengan sangat baik oleh seorang teolog bernama Jurgen Moltmann. Jurgen Moltmann adalah seorang teolog yang sangat besar. Tapi heran, Allah ambil posisi korban, ini teologi dari Jurgen Moltmann yang sangat penting, Allah sebagai korban. Kristus datang ke dalam dunia ini dan Dia ambil posisi korban, konflik membuat Dia menjadi korban, bukan membuat Dia jadi pemenang. Tetapi uniknya dengan menjadi korban justru Dia jadi pemenang. Inilah pola pikir yang kita tidak bisa mengerti. Dan ini yang Yesus sedang katakan “Aku menerima baptisan dan Aku membawa konflik kepadamu”. Tuhan mengatakan “kalau engkau mengikut Aku berarti engkau bagian dari Kerajaan Allah yang sedang perang dengan dunia ini. Dan peperangan ini harus diperangi dengan engkau mengambil posisi korban”. Papa menyerang anak karena anak ikut Yesus, anak menyerang papa karena papanya ikut Yesus. Keluarga jadi pecah dan orang yang ikut Yesus akan konflik dengan keluarga tapi Yesus mengingatkan “Aku sudah terima baptisan, Aku ambil posisi korban”, maka Tuhan mengatakan kepada pengikutNya “engkau pun harus ambil posisi korban”. Ini adalah berita yang sangat mengejutkan, begitu merombak pemikiran dari orang Israel menafsirkan Perjanjian Lama. Itu sebabnya kalau kita tidak mengerti bahwa kedatangan pertama Kristus bukan untuk menghantam dunia ini dengan kekerasan tapi untuk menjadikan diriNya korban. Maka kita tidak akan mengerti apa maksudnya membawa sorga ke bumi, sorga dibawa ke bumi dengan meneladani apa yang Kristus bawa ke dalam bumi ini dan Dia bawa prinsip pengampunan sorgawi, Dia bawa prinsip kerelaan menjadi korban dari sorga, Dia membawa prinsip rela menyerahkan diri mengganti orang lain dari sorga ke bumi, ini yang Yesus bawa. Yesus tidak bawa emas sorga, tidak bawa malaikat sorga. Waktu Dia datang, Dia datang menjadi bayi kecil yang sangat rentan untuk mati, Dia tidak pernah undang malaikat untuk jaga Dia. Ini berita yang benar-benar sulit dimengerti, mengapa Dia yang paling berkuasa mengambil posisi korban? Ini di luar pikiran kita. Dan ini harus kita mengerti di dalam kerangka pikirnya orang Yahudi, Kerajaan Allah datang, bumi akan dihantam pakai posisi korban. Jadi korban mana bisa menang? Ini yang terus kita kemukakan, kalau kita korban mana bisa menang, harus hantam orang dulu baru bisa menang. Makanya kita lakukan apa yang perlu untuk punya kekuatan. Saudara dan saya masih terlibat dalam pola pikir yang lama yaitu pakai kekuatan untuk bisa berhasil. Bagaimana berhasil? Pakai kekuatan. Supaya tidak dipukul? Pukul duluan. Supaya tidak dihantam? Hantam duluan.
Ini teologi yang sangat penting karena Jurgen Moltmann melihat apa jadinya bumi kalau kita terapkan prinsip ini. Orang Kristen mengikuti Kristus menjalani cara ini menjadi korban dari hari pertama Kekristenan berdiri sampai sekarang dan tidak pernah gagal menyebarkan pengaruhnya.
Dan di dalam ayat 54 dan selanjutnya, Yesus memberikan peringatan, peringatan ini bukan untuk murid tapi untuk orang yang menindas para murid. Yesus mengatakan “apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, kamu berkata akan datang hujan dan itu terjadi. Kalau kamu lihat angin selatan bertiup, kamu berkata hari panas terik dan hal itu memang terjadi”, ini adalah orang yang biasa membaca cuaca. Tuhan Yesus mengatakan “Kerajaan Allah juga datang dengan tanda dari korban ini”, ketika umat Tuhan terus kamu tindas, harap kamu ketahui itu adalah tandanya Kerajaan Allah sedang dinyatakan. Ini peringatan bagi orang yang menindas. Orang yang menindas diperingatkan dengan cara mengatakan bahwa bukti kekalahan dari korban ini adalah bukti bahwa Kerajaan Allah akan menang. Ini mengagetkan sekali. Tapi itu yang Yesus lakukan. Yesus mengatakan inilah tandanya kalau kamu hai orang munafik tahu lihat tanda langit, mengapa tidak bisa menilai zaman ini? Maksud Yesus adalah waktu Dia dipaku di kayu salib, waktu Dia jadi korban, kamu harus tahu bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Dan ini tidak lepas dari kebudayaan Yahudi pada waktu itu, karena mereka percaya mereka akan jadi korban dulu baru Kerajaan Allah datang. Maka Mesias yang menderita itu sudah datang dan Dia akan menghantam bumi dengan kerelaanNya menjadi korban. Lalu Dia panggil kita, Dia panggil kita untuk menjalankan prinsip sorga di bumi. Dan prinsip sorga itu adalah “Aku akan hantam bumi dengan menginjinkan diriKu dihantam. Aku akan hancurkan kerajaan bumi dengan mengijinkan diriKu menjadi korban”, inilah cara salib, dan inilah cara yang Tuhan ajak kita untuk kita lakukan. Saudara dan saya reaksi pertama akan mengatakan “mustahil, mana bisa seperti itu”, tapi Kristus membuktikan bukan hanya ini berhasil tapi sudah dijalankan selama ribuan tahun. Selama 2.000 tahun Kristen mengambil posisi korban dan selalu berhasil menancapkan pengaruhnya. Maka biarlah kita belajar hal ini, Saudara dan saya dipanggil untuk menjalankan keindahan hidup bersama dengan Kristus yang sedang menyatakan Kerajaan Allah. Mari jadi anak-anak Kerajaan ini. Sampai suatu saat Dia datang memulihkan seluruh KerajaanNya dan kita masuk di dalamnya. Kiranya Tuhan memberkati kita dengan prinsip yang begitu indah, agung, tapi juga menakutkan ini.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 7 Sep 2016
Pengertian Tanggung Jawab
(Lukas 12: 41-48)
Pasal 12 adalah pasal yang sangat indah karena di bagian tengah sampai bagian yang kita baca membahas tentang dua hal yang perlu diseimbangkan di dalam mengenal Tuhan. Hal pertama, Injil Lukas 12 bagian tengah ini mengingatkan kita kepada pemeliharaan Tuhan, ini sudah kita bahas dalam beberapa pertemuan yang lalu. Tuhan memelihara umatNya, memelihara kita, mengetahui kebutuhan kita dan mencukupkan segala yang kita perlu. Jadi kita dengan aman melihat kepada Tuhan dan mengatakan “Dialah sumber dari semua yang saya perlukan. Dialah sumber dari segala kebaikan. Dialah sumber dari segala yang saya perlu untuk hidup. Di dalam Dia saya tidak perlu apa pun yang lain, Dia akan memberi kepada saya apa yang saya perlukan untuk menjalankan hidup yang Dia inginkan”. Jadi bagian pertama ini sangat indah, karena menekankan kepada kita tentang pengharapan kepada firman dan juga kepercayaan kepada janji Tuhan. Di dalam Kitab Suci, Tuhan menyatakan janjiNya di dalam konteks yang luar biasa sulit. Waktu Tuhan menyatakan janji, janji itu justru diberikan di dalam keadaan orang-orang tidak mendapatkan kemungkinan melihat pengharapan. Pada waktu tidak ada pengharapan, justru pada waktu itu pengharapan Tuhan dinyatakan. Ada seorang bernama Gerhard Sauter, dia menulis satu artikel yang berjudul tentang pengharapan Kristen yang benar. Apa yang disebut dengan pengharapan, mengapa pengharapan Kristen itu disebut pengharapan, apakah sama dengan pengharapan dunia atau tidak. Di dalam bagian di awal artikel, dia membahas tentang keunikan Tuhan memberikan janji. Tuhan memberikan janji di dalam wadah yang unik, yaitu wadah di dalam ketiadaan pengharapan. Tuhan akan selalu temukan cara, akan create cara untuk pelihara Saudara dan saya di segala keadaan. Ini yang bisa kita pelajari, Tuhan adalah Tuhan yang sudah berjanji dan menunaikan tanggung jawabNya didalam menjalankan janjiNya. Dia bukan bertanggung jawab kepada kita, tapi pada janjiNya sendiri. Dia mengikat diriNya dengan janjiNya dan Dia setia mengerjakannya. Tapi ini adalah bagian pertama mengenal Tuhan sebagaimana dinyatakan Lukas 12.
Bagian selanjutnya, Lukas 12 menyatakan tentang tanggung jawab, bagian yang tadi kita baca. Engkau mengandalkan Allah sebagai yang menopang hidup, engkau harus tahu bahwa Dia yang menopang hidup adalah yang berhak menuntut pertanggung-jawaban dari hidup kita. Dia yang setia pada perjanjianNya, Dia juga yang menuntut kita untuk setia kepada perjanjian yang kita ikat kepada Dia. Jadi Tuhan bukan hanya sekedar yang memelihara, Dia juga Hakim yang menuntut kita untuk bertanggung jawab. Maka kita sampai pada bagian yang sebenarnya sangat indah tapi mungkin kurang disukai banyak orang yaitu bagian tentang tanggung jawab. Tuhan mengatakan “Aku yang sudah pelihara engkau, juga adalah yang akan menuntut tanggung jawab dari engkau. Bagaimana pekerjaan yang Aku percayakan, sudah diselesaikan atau belum? Sudahkah engkau menjalankan kewajibanmu? Sudahkah engkau mengerjakan yang Aku percayakan untuk engkau kerjakan?”, Tuhan akan tuntut. Jangan pikir hidup kita adalah hidup yang cuma terima berkat, pemeliharan dan topangan setiap hari. Selalu ada sense tanggung jawab yang Tuhan terapkan dalam diri Tuhan, masukan di dalam hati yang harus kita jalankan. Kita bertanggung jawab kepada Tuhan. Yohanes Calvin mengatakan seluruh makhluk sebenarnya bertanggung jawab kepada Tuhan, sebagai ciptaan. Tuhan adalah yang berhak atas kita, karena Dia pencipta kita. Atas dasar itu saja pun Tuhan berhak menuntut seluruh tanggung jawab yang Dia mau tuntut dari kita, tanpa kita bisa tuntut balik, tanpa kita bisa lari dari Dia. Jadi Tuhan berhak menuntut tanggung jawab dan Dia akan lakukan itu. Maka Tuhan Yesus mengingatkan meskipun kamu nyaman di dalam pemeliharaan Tuhan, jangan terbuai lalu merasa kedekatan dengan Tuhan itu sebagai kedekatan yang intim, yang baik, yang penuh kasih, itu benar, tapi di sisi lain juga penuh dengan pertanggung-jawaban. Saya harus bertanggung jawab kepada Tuhan, saya tidak boleh lalai, saya harus bertanggung jawab di dalam hidup. Tema tanggung jawab ini secara unik dibahas oleh seorang bernama Nicholas Wolterstorff, ia menulis tentang kasih, justice dan lain-lain. Di dalam tema keadilan yang dia tulis, dia mengatakan bahwa orang sering menuntut hak, diperlakukan tidak adil karena haknya dicabut. Tetapi sebenarnya ada satu yang harus dituntut yaitu ketika kita dicabut dari kewajiban, kalau saya tidak dibiarkan mengerjakan kewajiban saya, saya pun sedang dilanggar kemanusiaannya. Ini tema yang jarang kita protes, “saya protes, mengapa saya tidak diberi kewajiban, mengapa saya tidak dituntut bertanggung jawab, mengapa saya tidak dihakimi, mengapa tidak ada yang tuntut saya untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan saya? Saya marah karena saya sedang tidak dihakimi”, jarang yang seperti itu. Ini yang Wolterstorff bilang kekurangan di dalam dunia kita, kita pengejar hak, kita pengejar kenikmatan, kita pengejar jalan pintas, kita pengejar kesenangan. Dan Tuhan melatih umatNya untuk bertanggung jawab kepada Dia, melalui orang-orang yang Dia tunjuk sebagai wakil Dia. Siapa wakilNya? Hamba Tuhan contohnya, ini Alkitab yang mengatakan. Jadi hamba Tuhan menjadi wakil dari Tuhan untuk menuntut jemaat atau orang bertanggung jawab kepada Tuhan. Lalu siapa lagi? Pemerintah, guru, dosen, orang-orang yang menjadi kelapa Saudara, itu yang Tuhan pakai untuk melatih Saudara bertanggung jawab kepada Tuhan. Jadi bagaimana cara bertanggung jawab kepada Tuhan? Salah satunya adalah dengan saya bertanggung jawab kepada lembaga atau orang yang Tuhan percayakan mewakili Dia untuk menuntut pertanggung- jawaban kita. Jadi ada dua sisi, Tuhan adalah Tuhan yang pelihara sekaligus yang berhak menuntut tanggung jawab kita, apakah engkau sudah kerjakan yang baik? Apakah engkau sudah jalani hidup dengan benar? Apakah engkau sudah kerjakan tugas yang Tuhan percayakan? Apakah engkau sudah melihat Tuhan sebagai hakim yang berhak dan akan menuntut pertanggung-jawaban dari hidup kita secara detail dan ketat? Ini harus kita pahami. Tuhan kita bukan Tuhan yang longgar, yang waktu kita datang dan mengatakan “maaf Tuhan, agak pegal sedikit, jadi mohon maklum”. Tuhan tidak akan mengijinkan kita mengalami keadaan longgar seperti itu karena Dia sedang latih kita untuk bertanggung jawab. Itu sebabnya dua sisi ini perlu kita kenal dari Tuhan, dua sisi yang sangat indah sebenarnya, yaitu Tuhan menjadikan kita manusia sejati dan manusia sejati itu menjadi manusia waktu dia kerjakan tanggung jawabnya sebaik mungkin. Mari kita latih diri, apa yang Tuhan yang percayakan kita kerjakan dengan sungguh, dengan tepat, dengan akurat, demi Tuhan bukan demi manusia.
Maka Tuhan menyatakan diri sebagai yang akan minta pertanggungan jawab dan yang akan mempercayakan kita lebih lagi kalau kita bertanggung jawab. Di dalam ayat 43 dikatakan “berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia sebagai pengawas segala miliknya. Siapa yang bertanggung jawab akan terus ditambahkan kepercayaan oleh Tuhan”. Ini dianggap sebagai hak istimewa, bukan beban ayau pemanfaatan orang. Seringkali di dalam gereja Tuhan orang yang dipercaya itu pasti diminta untuk mengerjakan banyak hal. Kalau Saudara tidak percaya, coba kerjakan pelayanan dengan bertanggung jawab, tidak pernah terlambat, selalu baik, selalu beres, pasti akan ditambah. Jika tujuan akhirnya mau senang-senang, ini yang membuat tanggung jawab tidak relevan di dalam pencapaian hidup atau pun di dalam menjalankan hidup sehari-hari. Proses itu menyebalkan, proses itu menyusahkan, makin pendek proses makin baik keadaannya. Jadi saya tidak perlu kerja, tidak perlu bertanggung jawab, yang penting hasil akhir, ini yang sedang dilatih oleh dunia kita. Maka kita menjadi orang gampangan, orang yang senang hal instan, serba cepat, yang segera, demi nama efisiensi. Tapi kalau efisiensi awalnya digembar-gemborkan supaya produktifitas bertambah, sekarang kita hidup di dalam efisiensi sebagai esensi, “apa nilai hidupmu?”, “efisiensi adalah nilai hidup saya. Efisien untuk efisien”, ini yang merusak di dalam dunia sekarang. Makanya sekarang kita lihat segala sesuatu yang sifatnya instan sudah mematikan ketekunan kita untuk berproses. Di sini siapa yang mengatakan “saya lebih senang mendengarkan kotbah kalau langsung to the point saja, tidak putar-putar kemana dulu, demi efisien”, apa yang bisa dikotbahkan dalam 15 menit, mengapa mesti 1 jam? Tapi saya melatih Saudara untuk membangun argumen, membangun pengertian dulu untuk mendapatkan pengertian puncaknya, tidak langsung main potong. Tapi zaman ini menawarkan segala sesuatu yang efisien, supaya kita tidak perlu berproses, tidak terbiasa memikul tanggung jawab, tidak terbiasa memikul hal yang sulit, yang kita tidak mau tapi harus kita pikul. Maka segala sesuatu yang efisien menjadi dewa kita, kita lakukan apa pun dengan seefisien mungkin. Makan kalau bisa efisien, apa pun efisien, apa pun kalau bisa lakukan dengan segampang mungkin.ini sangat tidak tepat.
Lalu dalam ayat 45 dikatakan “akan tetapi jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: tuanku tidak datang-datang. Lalu dia mulai memukul hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabok, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya”. Waktu baca ini saya sedikit aneh, sedikit tidak mengerti karena yang pertama Tuhan membahas tentang bertanggung jawab kepada Tuhan, mengapa swing-nya, antitesisnya adalah orang yang merampok, memukul dan mabok, ini agak aneh. Ini tidak adil, orang bertanggung jawab lawannya adalah orang yang lalai, tapi mengapa di sini dikatakan orang yang bertanggung jawab lawannya adalah orang jahat? Ini cara Alkitab membahas tentang bedanya orang kudus dan tidak. Tidak ada titik tengah, tidak ada netral, yang ada adalah orang yang positif baik atau negatif jahat. Maka Alkitab mengatakan di sini orang yang tidak suka bertanggung jawab adalah seperti orang yang suka pukul orang lain, menindas orang lain dan suka mabok. Ini sebenarnya gambaran untuk hidup sembarangan, hidup untuk diri, dan punya kekuatan untuk menjalankan hidup untuk diri. Jadi orang bertanggung jawab di dalam pengertian yang Yesus bagikan adalah orang yang mengerti bagaimana hidup di dalam komunitas. Mengapa dia kerjakan tanggung jawab? Karena dia tahu dia tidak hidup sendiri, dia tahu ada komunitas, dia tahu ada orang lain yang akan bertanggung pada tugas dia. Kalau dia tidak beres, dia akan pengaruhi orang lain juga, maka dia kerjakan pekerjaannya karena dia sadar dia hidup di dalam komunitas. Orang yang tidak sadar dia hidup di dalam komunitas adalah orang jahat.
Lalu di dalam bagian akhir Tuhan Yesus mengatakan ada hamba yang tahu dan tidak. Yang tahu dan tidak kerjakan, dihukum lebih besar, yang tidak tahu dan tidak kerjakan, hukumannya lebih kecil. Ini artinya apa? Ada seorang bernama Joel Green, seorang ahli Perjanjian Baru memberikan pengertian yang bagi saya indah sekali, dia mengatakan di dalam konteks ayat 47-48, Tuhan Yesus sedang berbicara tentang pemimpin dan bukan pemimpin. Siapakah yang tahu dan melanggar? Itu pemimpin yang melanggar. Siapa yang tidak tahu dan melanggar? Itu bawahan yang melanggar. Jadi di sini sedang ada pembedaan antara hamba Tuhan atau pemimpin dengan orang yang dipimpin. Pemimpin adalah orang yang tahu, waktu dia melanggar akan dipukul keras. Yang bawahan adalah orang yang tidak tahu, waktu melanggar pukulannya lebih ringan. Jadi bagian ini sedang mengajarkan siapa dipercayakan jadi pemimpin tanggung jawab harus dikerjakan dengan lebih keras. Karena sebagai pemimpin, engkau lalai, engkau akan dipukul lebih keras dari pada jemaat yang lalai. Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan. Di sini ada keindahan mengenal Tuhan, Tuhan adalah yang akan topang hidup Saudara, tapi juga yang akan berhak menuntut tanggung jawab. Kalau saat ini Tuhan panggil kita, atau nanti malam atau besok Tuhan panggil kita, lalu Tuhan tanya “sudahkah engkau bertanggung jawab di dalam hidupmu?”, beranikah kita bilang “iya, saya sudah bertanggung jawab”. Biarlah ini kita pikirkan baik-baik. Dan saya akan tutup dengan 3 poin singkat mengenai bagaimana bertanggung jawab di hadapan Tuhan, bagaimana saya bisa dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan? Pertama, kalau saya punya sense waktu itu singkat, waktu pendek, saya mesti kerjakan sebaik mungkin, karena kesempatan untuk kerjakan ini mungkin tidak ada lagi besok. Sense seperti ini harus kita miliki. Perasaan bahwa mungkin ini yang terakhir saya mendedikasikan untuk Tuhan. Saya kerjakan sebaik mungkin”. Inilah sense waktu yang kita perlukan untuk bertanggung jawab kepada Tuhan, ini kesempatan saya untuk mendedikasikan hidup bagi Tuhan, mendedikasikan pekerjaan bagi Tuhan, saya harus kerjakan sebaik mungkin. Lalu hal kedua, Saudara harus punya perasaan tanggung jawab untuk apa yang ada di depan. Kerjakan apa yang ada di depan. Kadang-kadang banyak mahasiswa punya idealisme tinggi, “apa cita-citamu?”, “membebaskan Indonesia dari kemiskinan, membebaskan Indonesia dari politik yang korup, membebaskan Indonesia dari keadaan kesenjangan yang besar”, lalu ditanya “papermu sudah dikumpulkan?”, “belum”, “mengapa belum selesai papernya?”, “karena tugas saya adalah membebaskan Indonesia dari kemiskinan, membebaskan Indonesia dari kesenjangan”, itu omong kosong. Orang yang tidak kerjakan PR-nya hari ini, tidak perlu bicara soal mau kerjakan apa 5 tahun lagi, karena yang satu bulan saja tidak beres apa lagi yang lima tahun. Jadi poin kedua di dalam bertanggung jawab kepada Tuhan adalah kerjakan yang Tuhan percayakan sekarang. Jangan demi ide-ide masa depan, kita mengabaikan apa yang harus kita kerjakan sekarang. Lalu hal ketiga, tanggung jawab dihadapan Tuhan berarti mempersiapkan hal yang Tuhan mau percayakan nanti, saya sudah persiapkan sekarang. Saudara diberi uang, Saudara harus pikirkan ketiga hal ini, yaitu saya harus kerjakan apa dengan uang ini, apa yang harus saya pertanggung-jawabkan pada saat ini, kemudian yang ketiga masa depan itu saya siapkan dengan cara apa dengan uang ini, dengan menabungkah, dengan invest kemanakah? Jadi unsur ini harus ada. Saudara mungkin punya panggilan ke depan “saya mau kerjakan ini, saya mau melakukan ini”, persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Orang-orang yang menyerahkan diri jadi hamba Tuhan, dari sekarang sudah mulai cicil baca buku teologi dan lain-lain. Ketiga hal ini bisa membuat kita bertanggung jawab dengan baik di hadapan Tuhan. Kerjakan dengan waktu yang ada, dengan mengatakan “ini waktu terakhir, saya harus kerjakan sebaik mungkin”. Yang kedua selesaikan tanggung jawab yang dipercayakan sekarang. Lalu yang ketiga mempersiapkan ke depan suatu cita-cita atau ide yang dari sekarang mulai dirintis. Kalau dari sekarang kita tidak rintis apa pun, berhenti bercita-cita, berhenti mimpi. Karena mimpi itu akan terjadi ketika Saudara sudah tentukan strategi melangkahnya itu ke mana. Saudara jangan mimpi ke depan kalau tidak ada persiapan sekarang, apa yang kita inginkan ke depan harus dipersiapkan sekarang. Orang yang mimpi omong kosong adalah orang yang punya impian tapi tidak mau kerja untuk mencapai itu. Kalau kita mau kerja, kita terus realistis, kita targetkan sedikit-sedikit tapi makin lama makin bertambah. Ketiga hal ini menjadi suatu hal yang bisa kita kejar, yaitu menyadari waktu sempit, bertanggung jawab untuk apa yang dipercayakan saat ini dan mempersiapkan tanggung jawab di dalam rencana besar di masa depan. Kiranya Tuhan memimpin untuk kita menyadari bahwa ada Allah yang menuntut pertanggung-jawaban kita yang berhak untuk menjadi hakim dan meminta kita untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 7 Sep 2016
Hamba yang berjaga-jaga
(Lukas 12: 35-48)
Bagian ini sulit kita pahami kalau kita tidak tuntas memahami bagian sebelumnya mengenai kekhawatiran. Di dalam ayat 33 dikatakan “jualah segala milikmu dan berikanlah sedekah. Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak didekati pencuri dan tidak dirusakan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Bagian ini kita sudah bahas di dalam pertemuan 2 minggu yang lalu. Bagian ini tidak mengatakan bahwa Saudara dan saya tidak boleh punya uang, tidak boleh punya tabungan dan lain-lain. Tapi bagian ini mengingatkan tujuan kita mengumpulkan harta itu adalah tempat di mana hati kita berada. Harta untuk apa, di situ hati kita ada. Kemana Saudara dedikasikan harta, disitulah hati kita. Maka kalau harta kita kumpulkan untuk kesenangan, di situlah hati kita. Kalau kita kumpulkan dan akhir yang kita mau capai adalah untuk kejayaan, kekayaan atau kebahagiaan, disitulah hati kita. Jadi Tuhan Yesus hanya memberikan 2 alternatif di sini, hati untuk dunia atau hati untuk Kerajaan Allah. Jika kita memberikan hati kita untuk Kerajaan Allah, maka apa yang kita miliki akan kita dedikasikan untuk itu, termasuk harta. Ini penting untuk kita pahami. Orang bodoh adalah orang yang mengorbankan persahabatan demi uang, supaya dia dapat uang, dia bayar pakai friendship, tipu teman, tipu orang, tipu sana-sini, akhirnya dia mengkompromikan atau mengorbankan yang lebih mahal demi dapat yang lebih murah. Uang itu lebih murah dari pada persahabatan. Kamu hargai uang, kamu akan korbankan yang lain untuk itu. Jadi salah satu indikator kerohanian yang baik adalah Saudara harus tahu uang itu untuk apa, di situ akan ada bukti hatimu ada di situ. Jadi Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang penting sekali di sini, bahwa apa yang kita kerjakan untuk mencari uang dan bagaimana kita menghabiskan uang itu adalah pertanda hati kita ada di mana. Ini penyakit yang menjangkiti semua manusia, “saya punya uang, saya pakai untuk apa”, itu akan membuktikan saya orang seperti apa. Jadi sebelum kita membuktikan kerohanian lewat berapa banyak ayat yang kita hafal atau berapa saleh kita, atau berapa rajin kita ke gereja, ada indikator yang seringkali dilupakan yaitu uang. Bagaimana engkau bersikap terhadap uang ini akan menentukan kerohanianmu bagaimana. Uangnya untuk apa, bagaimana cara dapat, kemana akan disalurkan, lalu hatimu menginginkan apa dari uang itu, ini semua indikator penting. Jadi kalau begitu saya kerja untuk apa? Yesus menawarkan alternatif, kerja untuk Kerajaan Allah. Kerja untuk Kerajaan Allah tidak berarti kontra “kalau begitu saya tidak perlu pelihara anak saya, karena kerja untuk Kerajaan Allah. Uang bukan untuk beli susu tapi dipakai untuk janji iman KKR, jadi kalau kamu nangis, nangislah sampai mati karena tidak ada gunanya”, bukan seperti itu. Yang dimaksudkan adalah “saya pelihara anak dengan tujuan Kerajaan Allah. Saya bekerja dengan tujuan Kerajaan Allah. Saya hidup dengan tujuan Kerajaan Allah”. Kerajaan Allah yang menjadi fokus, itu yang dimaksud dengan kumpulkan harta di sorga. Alkitab memberikan konsep sorga yang beda dengan yang kita pikir. Kita kalau dengar sorga langsung pikir “bumi di bawah, sorga di atas. Jadi saya kerja di bumi, rekeningnya di sorga. Itu konsep yang salah, bukan itu yang Yesus bilang. “Kumpulkan harta di roga” maksudnya adalah invest untuk Kerajaan Allah yang mau dinyatakan di sini. Jadi kalau Saudara pikir invest di Kerajaan Allah itu “nanti kalau saya mati, masuk sorga, Tuhan bilang: sungguh amat baik pekerjaanmu, ini ada mahkota”, bukan itu. Yang Yesus maksudkan adalah “kalau engkau bekerja untuk Kerajaan Allah dinyatakan di bumi, itu tidak mungkin gagal”. Jadi saya pakai waktu, uang, tenaga, kekuatan untuk melakukan apa yang perlu untuk Kerajaan Allah dinyatakan di bumi, itu yang namanya kumpulkan harta di sorga. Mengapa buka bisnis? Untuk memajukan Kerajaan Allah di bumi. Mengapa sekolah? Untuk mempersiapkan diri memajukan Kerajaan Allah di bumi. Apa yang dimaksudkan dengan memajukan Kerajaan Allah di bumi? Maksudnya adalah pengaruh sorga makin besar di bumi oleh karena apa yang kita kerjakan, itu namanya kumpulkan harta di sorga. Di sini kita akan bahagia karena kita tidak pernah dituntut oleh Tuhan untuk mengerjakan Kerajaan Allah itu sendiri. Tuhan Rajanya dan kita anggota Kerajaan, ada banyak orang akan memperjuangkan Kerajaan ini berdasarkan bagian masing-masing. Maka kita berperan berdasarkan bidang kita masing-masing. Inilah yang menyenangkan, Tuhan akan cukupkan kita dan Dia akan suruh kita kerjakan berdasarkan yang Dia sudah cukupkan itu. Itu sebabnya identitas kita justru aman di dalam konsep kerajaan ini. Saya adalah saya yang melayani Tuhan di dalam bidang yang Tuhan percayakan kepada saya dengan hal-hal yang Tuhan cukupkan bagi saya untuk saya mentutaskan bagian saya di dalam Kerajaan Allah dan Tuhan akan perhitungkan itu sebagai mengumpulkan harta di sorga. Jadi kita tidak perlu lihat orang lain dan mengatakan “kok dia kerja itu, tapi saya tidak? Saya juga ingin kerjakan itu”, Saudara makin berkaca kepada orang lain, makin stress, makin ingin mirip orang lain akan membuat Saudara makin tertekan.
Kita hidup di dalam dunia yang sudah mengacaukan panggilan ini, kita diberikan 4 dusta oleh dunia, yang membuat kita tidak mau melakukan panggilan. Dusta pertama adalah delusi atau dusta yang namanya independensi, “saya independen, saya tidak perlu bergantung, saya bisa menghasilkan semua sendiri, tanganku yang kerja keras untuk mencukupkan apa yang aku perlukan”. Van Til pernah mengatakan orang yang mengatakan tidak ada Tuhan itu sedang pakai udara dari Tuhan, kekuatan dari Tuhan, energi dari Tuhan untuk bilang tidak ada Tuhan, ini lucu. Hirup udara dari Tuhan, pakai paru-paru dari Tuhan, pakai rongga dada dari Tuhan, pakai otot dada untuk dia mengembang diafragma dan lain-lain, juga dari Tuhan. Setelah itu hembuskan nafas, pakai pita suara dari Tuhan, lidah yang lincah dari Tuhan, untuk mengatakan kalimat yang bukan dari Tuhan “tidak ada Tuhan”, itu menggelikan sekali. Kalau benar-benar percaya tidak ada Tuhan, jangan pakai apa pun dari Dia, dan karena itu tidak mungkin ada orang mengatakan “tidak ada Tuhan”, tanpa pakai anugerah dari Tuhan. Jadi inilah yang tidak mungkin dalam delusi independensi, itu penipuan diri yang paling besar.
Penipuan kedua dari setan adalah “saya berhak tentukan tujuan sendiri”, ini yang juga kacau. “Saya berhak tentukan tujuan sendiri”, benarkah? Tidak benar, karena saya dirancang dan dianugerahkan oleh Tuhan untuk menjalankan apa yang Tuhan mau saya jalankan. Maka hal yang kedua, ada godaan dari dunia untuk mengatakan “tentukan sendiri tujuan, kamu hidup untuk apa, bebas. Apa yang kamu lihat di televisi, kamu mau seperti itu, silahkan. Kamu sudah nonton dan kamu ingin jadi seperti itu, boleh, kejarlah apa yang kamu inginkan. Kejar cita-citamu”, ini pembicaraan umum yang Saudara bisa temukan dimana-mana “you are free as a bird”, tapi saya mau tanya bisakah burung pipit yang biasa kita lihat tiap pagi, dia melihat seekor elang terbang, kagum “aku ingin seperti itu”. Tidak bisa. Karena Saudara mempunyai tujuan yang harus kembali kepada Tuhan. Dan apa pun yang dikerjakan di dalam tujuan yang benar, itulah yang akan memajukan pengaruh dari Kerajaan Allah di bumi ini, itu yang kita mau kejar, itu yang namanya kumpulkan harta di sorga. Maka saya diperlengkapi oleh Tuhan, saya dicukupkan oleh Tuhan, saya bergantung kepada Tuhan. Yang kedua, saya kalau bergantung kepada Tuhan, saya mesti kerjakan apa yang Tuhan mau.
Lalu ketiga, saya akan mendapatkan kesenangan yang Tuhan berikan. Kesenangan yang Tuhan berikan, bukan kesenangan yang saya kejar. Apa bedanya kesenangan dari dunia dengan kesenangan dari Tuhan? Kesenangan dari dunia ini menjadi candu, karena Saudara butuh dosis lebih untuk menikmati kesenangan yang sama, itu candu. Sedangkan kesenangan dari Tuhan, dengan dosis yang sama, Saudara mendapatkan kenikmatan yang berlimpah, itu dari Tuhan. Kitab Suci kita segini terus, tidak pernah ditambah, tapi saya menikmati membacanya dengan level yang lebih saat ini dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu saya baca Alkitab, senang, sekarang saya baca, lebih senang lagi. Apakah karena dosisnya ditambah? Tidak, mengapa lebih senang? Itulah sukacita dari Tuhan. Sukacita dari Tuhan itu memakai dosis yang sama untuk kesenangan lebih. Kesenangan dari dunia itu candu, karena pakai dosis yang lebih untuk kesenangan yang sama.
Yang keempat adalah jangan tertipu, harus dedikasi ke Tuhan. Jangan berikan dedikasimu ke yang lain, hanya Tuhan. Inilah yang membuat kita mampu hidup dengan mengumpulkan harta di sorga. Apa mengumpulkan harta di sorga? Empat hal ini, bergantung kepada Tuhan, mengerjakan yang Tuhan mau, menikmati sukacita dari Tuhan dan yang keempat menyembah Tuhan.
Itulah yang dibahas di ayat 35-46, dan Tuhan Yesus memberikan ilustrasi seperti hamba yang menjaga rumah, demikian kita di bumi ini. ini bumi milik Tuhan dan Tuhan mau kita menjaganya. Maka kita tinggal di bumi ini sebagai hamba. Sebagai hamba saya harus kerjakan yang Tuanku mau, sebagai hamba saya terima dari Tuanku apa yang menjadi bagianku, sebagai hamba saya berdedikasi hanya kepada Tuan. Inilah yang Yesus katakan, maka di dalam ayat 35 “hendaklah pinggangmu tetap berikat”, ini gambaran orang Israel kelaur dari Mesir, ikat pinggangmu seperti orang yang berperang. Jadi Tuhan mengatakan siap sedialah setiap saat, kerjakan hal-hal yang tadi kita bahas, 4 poin tadi, kerjakan dengan sungguh-sungguh, jangan sampai jatuh, jangan kumpulkan harta di bumi, jangan selewengkan hatimu, sehingga engkau hanya mencari apa yang ada di bumi ini. Tetapi kerjakan Kerajaan Tuhan dengan semangat yang sungguh, dengan penuh dan dengan serius, maka engkau akan mendapat sukacita dari Tuhan. Di ayat 37 dikatakan “berbahagialah”, kalau tuan itu sudah pulang, tuan itu akan menjamu engkau. Sekarang kita bayangkan ada sebuah rumah, ada hamba-hamba melayani, waktu tuannya datang, tiba-tiba tuannya mengatakan “semua budak kumpul, duduk di meja makan”, lalu semua budak mulai duduk di meja makan, tuannya mulai potong-potong daging, masak, kemudian sajikan ke budak-budaknya. Setelah itu tuannya sapu-sapu, beres-beres, cuci piring, kira-kira pemandangan seperti ini bisa ditemukan dimana? Kalau menurut Tuhan Yesus, di kerajaan akhir nanti. Ayat 37 “berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya”, ia adalah tuannya. Tuannya akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka, mereka adalah budak, duduk makan dan ia (tuan) akan datang melayani mereka (budak). Mengapa budak dilayani? Inilah janji Tuhan. Tuhan bahkan mengatakan “kalau engkau melayani Kerajaan Allah, Aku pun akan menyediakan sukacita bagimu”. Bukan berarti Tuhan menjadi pelayan dan kita menjadi tuan, kita tetap budak, Dia tetap Tuan. Tapi Dia Tuan yang rela melayani kita yang budak. Ini sukacita menggabungkan beberapa hal, yang pertama menggabungkan relasi. Ada tuan yang begitu memperhatikan kita sehingga rela merendahkan diri untuk memberikan bahagia ke kita. Lalu yang kedua, di sini juga ada relasi yang setara, meskipun Dia juga Pemimpin dan Kepala, Dia rela sama dengan kita. Lalu yang ketiga, di sini ada bahagia, kita diberikan makanan. Makan itu simbol bahagia, itu sebabnya makan berkait dengan bahagia dan saat tenang. Saudara kalau istirahat makan siang, tidak mungkin makan sambil kerja, kalau makan sambil kerja berarti deadline sudah dekat dan Saudara kurang bertanggung jawab di dalam waktu. Orang kalau makan sambil kerja itu bukan berarti overload, tapi karena salah manajemen waktu. Maka makan adalah keadaan tenang, apalagi kalau perang, tidak mungkin perang sambil makan. Jadi keadaan makan ini penggambaran keadaan sukacita, keadaan akhir yang Tuhan janjikan. Dan ini bahagia yang Tuhan akan berikan kepada kita. Maka inilah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “kamu harus siap sedia”. Tapi jangan takut, keadaan siap sedia ini akan memberikan berkat besar, pada waktu Tuhan datang, Dia akan jalin relasi dengan engkau, memberikan apa yang engkau perlu, bahkan melayani engkau demi sukacitamu.
Tapi yang harus dilakukan adalah jagalah pekerjaan ini, berhati-hatilah. Sama seperti engkau menjaga harta di dunia, demikian engkau harus menjaga panggilan di dalam Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus memberi contoh, kalau engkau tahu pencuri datang kapan, engkau tidak perlu jaga-jaga setiap saat. Tapi Tuhan akan minta pertanggungan jawab itu di saat yang kita tidak tahu kapan. Maka kita harus senantiasa menjaga hidup dan panggilan di dalam Kerajaan Tuhan karena kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang. Sama seperti orang dunia tidak tahu kapan pencuri akan datang. Maka di sini ada perbadingan yang indah antara bagian ini dengan sebelumnya. Saudara kalau punya harta, pasti dijaga baik-baik. Orang kalau sering lupa mengunci rumah, itu tandanya di dalam rumahnya tidak ada apa-apa, kecuali dia secara psikologis rumit, dia sengaja buka pintu untuk membuat pencuri pikir di dalam tidak ada apa-apa, padahal di dalam justru ada apa-apa. Maka kalau Saudara punya harta, akan kunci baik-baik. Kita amankan harta kita karena kita tahu harus kita jaga dan kita tidak tahu kapan pencuri akan datang. Tidak ada pencuri yang kasi pengumuman. Maka Tuhan Yesus mengatakan kalau untuk harta dunia kamu jaga begitu hebat, sekarang untuk harta sorgawi apakah kamu akan kerjakan dengan longgar? Harusnya tidak longgar, engkau akan dengan penuh waspada jaga, karena tahu kalau Tuan datang, Dia akan minta pertanggung-jawaban. Dan saya tidak tahu kapan Dia akan datang, saya harus bersiap sedia kapan pun”. Kalau Tuhan Yesus datang sore ini, bisakah kita mengatakan “Tuhan, datang saja. Saya sudah siapkan, saya sudah kerja apa yang saya bisa”. Mengerikan sekali kalau kita belum kerja apa-apa, lalu kita undang Dia datang. Perkataan Paulus “oh Tuhan, datanglah segera”, apakah kita berani bilang seperti itu? Maka dikatakan di sini hidup sebagaimana seharusnya, sehingga kapan pun Tuhanmu datang, engkau sudah siap. Kiranya ini menjadi berkat untuk kita mempertanggung-jawabkan panggilan Tuhan di bumi ini, mengerjakan panggilan sorga sesuai kehendak Tuhan dan mengetahui Dia menyediakan semuanya, Dia mencukupkan semuanya dan Dia memimpin di depan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 24 Aug 2016
Tanggung Jawab dan Tugas Iman
(Kejadian 12: 1-9)
Kadang orang merasa sudah tahu tentang iman. Iman itu kan percaya, iman itu kan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan satusatunya Juruselamat, iman itu kan anugerah Tuhan, kita tidak bisa usahakan apa pun juga. Kadang-kadang kalau kita tidak ditanya lebih lanjut, kita merasa kita sudah tahu apa itu iman. Kita pikir kita tahu, kita pikir kita merasa semudah itu bisa beriman, kita pikir kita tahu lumayan komplit, iman itu percaya kepada Yesus yang sudah bangkit, menebus dosa kita, menggantikan kita. Mudah menjawabnya, kalau ujian agama mungkin nilainya bisa A, kalau ujian tertentu seperti katekisasi bisa dapat 100. Tapi iman tidak sama dengan nilai pelajaran agama. Iman adalah sesuatu yang hidup, yang tidak hanya cukup dijawab oleh pengertian-pengertian kita saja yang sangat terbatas, dan kita tidak pernah kaitkan di dalam seluruh pengertiannya. Karena kalau kita ditanya hal-hal sederhana seperti ini, seringkali kalau kita dikejar dengan pertanyaan yang lebih mendasar, mungkin saya juga tidak tahu, Saudara juga tidak tahu. Kita rasa, asumsi, itu namanya bukan tahu, itu pra-pengetahuan, artinya kita berasumsi kita sudah tahu, dan mungkin selama ini kita seperti itu. Karena hidup Kristen kita bisa berjalan dengan pengertian iman yang ala kadarnya. Ala kadarnya itu kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita bisa hidup hari demi hari, kita masih bisa berdoa, kita masih bisa saat teduh, tapi ternyata iman seperti itu adalah iman yang ala kadarnya, yang sampai akhir membuat kita menjadi orang Kristen yang macet. Berapa banyak Saudara dan saya, mungkin sudah ada yang mengalami atau belum, merasa hidup Kristen begitu-begitu saja, macet. Memang tiap minggu ke gereja, mana berani tidak ke gereja. Karena iman rasanya cukup bergulir satu hari demi satu hari, iman itu “yang penting saya sudah baca Alkitab, sebelum makan berdoa, sebelum tidur berdoa, dan kemudian ke gereja setiap minggu”. Tapi itu adalah iman standar yang cukup saya dan Saudara bergulir sampai mati dan KTP kita tetap Kristen. Tapi kalau Saudara mau punya iman yang hidup, Saudara mesti pikir tiap hari seperti ini, pekerjaan Tuhan, beban yang Tuhan percayakan, ada di atas. Kalau iman kita di bawahnya, kita punya iman yang mekanis, bisa bergulir sampai kita mati, dan kita tetap Kristen, tapi kita sampai mati tidak pernah lihat apa-apa yang Tuhan kerjakan, sampai mati tidak pernah lihat kemuliaan yang Tuhan nyatakan, sampai mati kita tidak mempunyai kelimpahan hidup orang beriman yang katanya Kristen. Bukankah Kitab Ibrani mengatakan “iman adalah melihat hal yang tidak kelihatan”. Kalau saya tidak punya iman yang cukup untuk melihat, saya tidak akan melihat. Seperti Saudara ke Bromo, kalau Saudara naik sampai ke kawah, Saudara akan lihat sunrise yang bagus. Tapi kalau tidak naik ke atas, tidak akan bisa melihat indahnya sinar matahari, karena tidak sampai ke atas, tidak cukup levelnya untuk lihat. Ini yang sebenarnya Saudara dan saya harus kejar, minta kepada Tuhan “Tuhan, tolong beri saya iman yang cukup untuk sampai ke sini, supaya saya bisa lihat setiap sunrise itu luar biasa, setiap sunrise itu begitu indah, setiap sunrise itu Tuhan begitu ajaib”. Kalau setiap hari kita seperti itu maka hidup kita sangat hidup sebagai orang Kristen. Dan inilah yang kita sama-sama pikirkan, untuk jadi seperti itu apa yang harus kita lakukan. Kalau iman cuma diberi, apakah kita tinggal bengong saja, apakah kita tinggal tunggu, berdoa setiap hari, dan akhirnya iman itu akan bertumbuh? Kejadian memberikan kita satu bunga rampai, “hendaklah imanmu yang diberikan oleh Tuhan berjalan bersama Tuhan dan berakhir di dalam satu kemenangan di dalam Tuhan”.
Hari ini akan memikirkan 2 poin itu, what is your responbility of faith, apa kewajiban iman Saudara? Karena seringkali karena kita merasa karena iman itu anugerah, maka seolah-olah “kan bukan saya yang minta, Tuhan yang beri, jadi Tuhan yang tanggung jawab”, itu kesalahan besar. Iman memang diberi, tapi setelah itu kita diberi untuk bertanggung jawab. Bukankah Allah menciptakan manusia untuk hidup dan bertanggung jawab. Karena kalau bukan begitu, kita bukan manusia. Kita diciptakan untuk bertanggung jawab, maka di dalam hal iman pun kita punya satu responbility untuk beriman dengan tepat kepada Tuhan. Mari kita baca Kejadian 12:1-9, tanggung jawab pertama kita adalah faith is a matter of total and radical step, iman itu bukan hanya sekedar “saya setuju, saya mempercayakan hidup saya”, tapi harus ada tugas yaitu seberapa radikal Saudara beriman kepada Tuhan. Apa maksudnya radikal? Kita kadang-kadang sudah rancu, radikal adalah sama dengan ISIS, kelompok radikal, kita yang salah mengerti. Radikal, kata artinya adalah akar, seberapa berakarkah Saudara dan saya beriman kepada Tuhan? Seberapa besar perubahan secara akar kita beriman kepada Tuhan? Ini panggilan ketika Abraham disuruh pergi dari tanah, pergi dari sanak saudara, pergi dari bapa, seperti seolah-olah dia dicabut dari akarnya, dipindahkan dari Ur, dari nenek moyangnya, ke suatu tempat yang baru yang akan diberitahukan oleh Tuhan. Tanah di zaman itu bukan hanya sekedar pindah rumah, di dalam Alkitab setiap kali disebut tanah sama dengan apa atau cara hidup apa di atasnya. Jadi kalau pindah dari Ur pergi ke tanah yang lain, berarti cara hidup Ur dibuang semua, ditinggal. Karena cara hidup Ur di atas tanah Ur, kalau dia pindah ke tanah perjanjian, cara hidup di atasnya harus sesuai dengan perjanjian Tuhan. Maka perjanjian tanah ini merupakan perpindahan perncabutan seakar-akarnya yang cukup besar. Maka sama, Saudara dan saya ketika berpindah dari orang tidak percaya menjadi percaya, dari orang Kristen KTP menjadi orang Kristen sesungguhnya, maka sudahkah Saudara dan saya seakar-akarnya tercabut dan kemudian masuk ke dalam medium yang baru ini, tempat yang baru untuk hidup? Cara kita berpikir, cara kita kuliah, cara kita bisnis, cara kita mengerti mana yang baik dan tidak, mana yang berharga mana tidak, mana yang penting mana tidak, mana yang mahal mana murah, mana yang asyik mana tidak, mana yang keren mana tidak, semuanya tidak ada yang berubah. Ini sangat bahaya kalau Saudara dan saya tidak pernah berakar. jangan-jangan setiap hari kita Kristen KTP. Karena secara akar kita tidak pernah berubah tempat, mediumnya tidak pernah berubah, tidak ada perpindahan. Tapi tidak ada perpindahan secara pola pikir, itu sangat bahaya. Ini harus kita pikirkan, kita selama ini sekolah, kuliah, pilih apa pun, pertimbangannya apa? Terkadang kita tidak Kristen pertimbangannya. Saudara akan sulit sekali bertumbuh imannya. Karena iman kita tidak pada level yang sama dengan pekerjaan yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita. Sampai mati Kristen, masuk sorga karena Alkitab yang mengatakan diberi imannya. Tapi begitu saja hidupnya, sama sekali tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa dipakai Tuhan. Saudara yang jadi orang tua, Saudara sekolahkan anak di sini atau di situ, pilihannya apa, mengapa sekolah di situ? Supaya anaknya dapat les Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Korea, 10 bahasa dicekokin ke anaknya, supaya apa? Tidak ada yang salah dengan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tapi Saudara dan saya tidak cukup radikal beriman kepada Tuhan, dalam arti “Tuhan, iman saya diberi oleh Tuhan, saya harus kerjakan itu untuk Tuhan”. Dalam hal apa pun juga, Saudara pakai kartu kredit, diskon makanan, Saudara makan tidak? Boleh makan, tapi mengapa makan, pertimbangannya apa? Itu yang kadang membuat kita berpikir “ya sudahlah, saya Minggu ke gereja, saya beri perpuluhan, saya pelayanan, saya datang PA. Tapi saya mau pakai kartu kredit, atau apalah, selama saya tidak mencuri uang orang, tidak masalah kan?”, salah. Saudara tidak cukup radikal untuk berpikir secara Kristen. Dan memang itu ternyata membuat hidup kita lebih sulit. Ini yang sebenarnya di dalam kisah Abraham, Abraham dicopot dari seluruh akar-akarnya, masukan dalam medium yang baru supaya dia bertumbuh menjadi punya pemikiran yang baru.
Di dalam hal ini Tuhan memberi ruang pergumulan, Abraham pun ada yang namanya delay, pergumulan, dan itulah iman yang hidup. Saudara untuk taat Tuhan, kalau Saudara otomatis bisa taat, saya tanda tanya. Tapi kalau kita ada pergumulan, justru itulah mungkin iman Saudara sedang bertumbuh. Di sini kalau kita baca bagian atasnya, Saudara akan menemukan daftar keturunan Terah, kemudian dia mengajak Abraham pergi, sebenarnya bukan Abraham sendiri, tetapi Terah. Ayat 31 dikatakan “lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana”. Maka kita seolah-olah dapat gambaran ternyata bukan Abraham yang inisiatif pergi. Tapi ini dijelaskan di dalam Kisah Para Rasul waktu kotbah Stefanus bahwa sebenarnya Abraham dipanggil Tuhan sejak dari Ur-Kasdim, dia somehow pergi bersama Terah ke Haran dan terjadi delay di Haran sekian tahun. Sampai akhirnya pasal 12 ketika Abraham dipanggil kembali oleh Tuhan dan setelah Terah mati, dia baru pergi ke Tanah Perjanjian. Maka terkadang di dalam pergumulan mengikuti Tuhan di dalam pergumulan beresponsible terhadap iman kita, kita bisa menemukan ada delay tertentu, atau ada pergumulan, atau hambatan tertentu dan itu adalah suatu hal yang real. Maka ada delay, kesulitan tentang keluarga, ada kesulitan yang namanya uang, ada kesulitan yang namanya social value yang ada di sekitar kita. Ketika Abraham menunggu janjiNya Tuhan, bukankah dia akhirnya menuruti suggestion-nya Sarah “tidak apa-apa ambil budak, nanti anaknya legal menjadi anakmu”, pada zaman itu hal seperti itu tidak masalah, itu bukan suatu perselingkuhan, kita tidak bisa melihat zaman sekarang. Zaman itu adalah tawaran yang sangat win-win solution. Sarah dan Abraham sepakat untuk Abraham menghampiri budak Sarah, karena anak dari budak ini nanti akan menjadi anak Abraham dan Sarah juga, itu tidak apa-apa. Saudara akan mendapati tawaran itu, win-win solution. Bukankah dunia ini selalu mengajari kita win-win solution? Saudara pasti akan mendapati itu ketika keluar dari gereja, dan saya juga, tawaran yang sama-sama untung. Tapi masalahnya, pertanyaan yang dilupakan adalah “is that radical?”. Saya kalau ambil tawaran itu, iman saya sudah radikal, berakar pada Tuhan tidak? Ternyata kadang-kadang kontra, win-win solution kadang berlawanan dengan iman kita yang radikal.
Kemudian hal kedua dalam responbility iman adalah faith is a matter of journey. Iman adalah perjalanan. Saudara kalau beriman Kristen berharap mendapat ketenangan batin yang tidak akan berubah, Saudara salah masuk ruang ibadah. Karena iman adalah perjalanan. Kita tidak diajar untuk mempunyai iman yang statis, yang tidak pernah bergerak, yang tidak pernah dikejutkan, yang tidak pernah dilatih oleh Tuhan, itu adalah iman yang pasti bukan dari Alkitab. Pertama Abraham, kalau Saudara lihat Abraham itu terus bergerak. Di Sikhem, Betel, Hebron. Dalam Bilangan 9, ketika orang Israel pergi dari Mesir, bukankah mereka dipimpin oleh tiang awan dan tiang api juga? Journey, tiang awan dan api berhenti pagi, berangkat sore, berangkatlah mereka. Berhenti satu hari, berhentilah mereka. Berhenti dua bulan, berhentilah mereka. Berhenti lebih dari dua bulan, disitulah mereka. Tapi ketika sesaat harus jalan, jalanlah mereka. Karena iman adalah perjalanan. Iman kita dilatih untuk iman yang berjalan. Mengapa berjalan? Karena Saudara dan saya punya duty of faith, tugas iman. Bukankah Efesus 10:2 mengatakan kita diberikan iman untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah Allah percayakan sebelumnya. Apa itu pekerjaan baik? Tolong orang dengan memberi makan? Bukan. Penginjilan? Iya betul, tapi bukan hanya itu. Di sini kita lihat di dalam perjalanan Abraham, kita menemukan 2 pekerjaan baik yang harus dilakukan. Secara sederhana Teologi Reformed mengelompokan menjadi mandat budaya dan mandat Injil. Tapi di dalam bagian bacaan kita, kita bisa melihat kita diberikan iman untuk bisa melakukan tugas, tugasnya adalah reclaiming, isu reclaiming, mengambil kembali, ini adalah isu peperangan. Saudara kalau dijajah, Saudara ambil kembali, ini namanya perang. Isu reclaiming ini seperti Saudara masuk ke tempat musuh, mengibarkan bendera Saudara dan kemudian musuh akan segera menyerang Saudara. Isu reclaiming itu harus ada di dalam pikiran kita semua ketika kita beriman kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mau kita menjadi orang-orang yang me-reclaim kembali. Di dalam Abraham, Saudara coba perhatikan, dimana Abraham datang, apa yang dia buat di situ? Mezbah, sebelahan dengan pohon Terbantin di More, dan nanti ada dimana lagi. Berarti dia masuk dalam satu kawasan yang peribadatannya tidak mengenal Allah yang sejati, begitu dia masuk, dia seperti berjalan, me-reclaim kembali. Dan itu tugas Saudara dan saya, dimana pun Saudara pergi, Saudara seperti masuk ke satu tempat, apakah di situ Saudara sudah me-reclaim true worship kepada Tuhan? Karena kalau tidak demikian kita tidak melakukan pekerjaan iman, pekerjaan yang baik yang sudah Allah siapkan sebelumnya tidak kita lakukan. Karena Saudara dan saya diberi tugas untuk me-reclaim kembali milikNya Tuhan. Semua peribadatan, semua iman, semua orang harusnya menjadi milik Tuhan, karena Dia yang memberi dari awal. Tapi karena manusia jatuh dalam dosa maka terpencar-pencar.
Maka Saudara dan saya disuruh me-reclaim kembali semua iman ini layaknya didedikasikan kepada siapa. Dan kalau Saudara perhatikan, Sikhem menjadi tempat pertama Abraham diberi janji, nanti keturunannya akan banyak, pasal 12. Lalu ini terwujud berapa ratus kemudian, Saudara menemukan kota Sikhem lagi di dalam Alkitab? Lebih dari 500 tahun kemudian ketika Yosua selesai menaklukan seluruh Kanaan dan menantang seluruh Israel “hai Israel, hari ini pilih, mau beribadah kepada Allah, beribadah kepada allah nenek moyangmu di seberang Sungai Efrat, atau beribadah kepada allah orang Amori yang sekarang kamu duduki?”. Dan 3 pilihan ini selalu Saudara dan saya hadapi di dalam me-reclaim peribadatan yang benar, me-reclaim iman yang benar. Saudara akan berhadapan dengan ini, Allah sejati, allah nenek moyang Saudara, termasuk agama lain atau termasuk cara pengertian Kekristenan yang salah sama sekali, yang turun-temurun tapi Saudara tidak tahu isinya apa, atau allah orang Amori yang tanahnya mereka duduki, berarti allah kontemporer, versi Kristen yang macam-macam dengan pengajaran yang macam-macam, yang sekarang sedang trend. Tugas kita kedua di dalam iman adalah reclaim the land, me-reclaim kembali tanah. Karena setelah itu, Abraham berjalan dari Sikhem, Betel, Hebron. Dari Ur-Kasdim masuk ke Haran dari atas, dia melalui seluruh tanah itu seperti menginjak kembali step “ini punya Tuhan, ini punya Tuhan, ini punya Tuhan”. Kita sendiri punya field masing-masing, yang berkeluarga, keluarga ini miliknya Tuhan, yang bekerja, kerja ini milik Tuhan, yang dibisnis “bisnis saya ini millik Tuhan, yang di sosial media “sosial media ini punya Tuhan”. Bagaimana cara Saudara me-reclaim kembali dimana Saudara berjalan? Ini adalah tugas kita semua, karena iman itu tidak diam, iman itu bukan hanya untuk dimasukan di kulkas, kita keluarkan setiap hari Minggu, kita masukan ke microwave, jadi aman. Masukan ke kulkas lagi, hari Minggu masukan microwave lagi, ke gereja, jadi hangat, setelah itu masukan kulkas lagi, jadi aman. Tapi kita harus punya iman yang sifatnya punya semangat untuk me-reclaim kembali, untuk mengambil kembali. Saya tahu saya punya tugas yaitu saya harus tahu kepada siapa saya beribadah, saya harus tahu saya sudah ditebus oleh Tuhan Yesus karena itu impact-nya apa, di dalam society seperti apa, di dalam pekerjaan seperti apa. Dan harap ini menjadi pekerjaan kita semua, supaya kita membaca Abraham, kita tidak membaca “wah, sempurna sekali imannya”, tapi kita membaca ini sebagai kisah iman yang disempurnakan oleh Allah. Karena setiap orang imannya akan disempurnakan oleh Tuhan. Ibrani 12 mengatakan bahwa marilah kita memandang kepada Kristus yang akan menyempurnakan kita. Hanya dua pilihan, Saudara mereclaim atau Saudara yang di-reclaim oleh dunia.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)