Ahli Waris Allah

Dalam pembahasan lalu, keberhutangan kepada Allah karena kita adalah milik Dia, dijadikan anak-anak Allah oleh Roh Kudus. Kesaksian dari satu orang tidak sah dalam pengertian hukum, dalam tradisi Yahudi. Jadi kalau Saudara menjadi saksi, Saudara tidak bisa membuat kesaksian Saudara berfungsi mengambil keputusan, kecuali didukung oleh kesaksian orang lain. Demikian juga ketika Saudara mengatakan “saya anak Allah”, “Kata siapa?”, “kata aku dan Roh Kudus”. “Kata Roh Kudus itu apa?” Kesaksian Roh Kudus adalah kesaksian yang dinyatakan melalui penjelasan firman yang tertulis ini. Alkitab menyaksikan bahwa kita adalah anak-anak Allah dan Roh Allah menjadikan setiap firman yang Tuhan berikan kepada umat menjadi milik kita. Roh Kudus menjadikan apa yang di sorga menjadi milik personal orang-orang yang percaya. Apa yang dikerjakan Roh Kudus? Dalam tradisi Reformed kita percaya Roh Kudus mengaplikasikan keselamatan Kristus kepada individu-individu yang percaya. Demikian juga Roh Kudus memberikan kesadaran dalam hati kita bahwa Allah sedang berbicara tentang kita. Ketika Allah mengatakan “sesungguhnya Aku mengasihi anak-anak Israel”, Saudara sadar “sayalah yang dimaksud meskipun saya tidak secara daging keturunan Israel. Saya dimasukan di dalam tradisi Israel karena pekerjaan Roh Kudus yang menyatukan saya dengan Kristus”, ini namanya kesaksian Roh Kudus. Jadi kesaksian Roh Kudus akan menggabungkan pengertian Firman yang tertulis dengan diri kita. Maka hal pertama, kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah datang dari firman. Hal kedua, kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah datang dari perubahan yang dikerjakan Roh Kudus dalam diri kita. Saudara mulai berubah, dulu sangat mudah tersulut marahnya karena wibawa diri, sekarang tidak. Sekarang Saudara mulai mengerti apa itu mengosongkan diri dan apa itu hidup bagi Tuhan. Dulu sangat gila harta, apa pun yang dikerjakan hanya untuk uang, sekarang Saudara sadar bahwa uang adalah sesuatu yang Tuhan izinkan Saudara kelola dan Saudara bagikan kepada yang lain. Hal ini membuat kita sadar “saya banyak berubah. Tadinya saya mirip bapaku yang lama yaitu setan. Sekarang saya mirip Bapaku yang baru yaitu Tuhan.” Inilah kesaksian Roh. Saudara anak-anak Allah, apakah ada kesaksian firman? Ada, Roma 8, 5, dan 3 menyatakannya. Kalau Saudara baca Yohanes 3, 10, 14, 15, 16, 17, berkali-kali menekankan siapa-siapa yang termasuk anak-anak Allah yaitu mereka percaya dalam nama Yesus. Ini membuat kita dapat kesaksian yang bukan kesaksian pribadi, bukan subjektif. Maka kesaksian Roh Kudus tidak bisa ditafsirkan sebagai sesuatu subjektif yang orang lain tidak bisa akses. Saudara tidak bisa menyatakan kebenaran dengan cara yang tidak bisa diakses oleh orang lain. Tapi kalau Saudara menjadikan Alkitab sebagai suara Roh yang bersaksi dan Saudara menjadikan hidup Saudara sebagai bukti Roh Kudus bekerja, maka Saudara bisa mengatakan kepada orang-orang “saya anak Allah.” Tahu dari mana? “lihat hidupku dan kesaksian Kitab Suci”, itulah yang disebut dengan kesaksian Roh. Inilah yang membuat kita bersyukur ternyata kita anak Allah, bukan perasaan subjektif yang dirasa-rasa. Ada kesaksian Kitab Suci dan perubahan hidup yang menjadi bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita tidak bisa remehkan cuma salah satu, Alkitab menyatakan setiap orang percaya adalah anak Allah. Kamu mengaku percaya, tapi bagaimana dengan hidupmu? Adakah perubahan yang membuat engkau sekarang semakin menyerupai Bapamu atau tidak. Tentu Alkitab tidak mengatakan bahwa orang yang percaya otomatis langsung sempurna, ada proses menuju kesitu. Tapi Saudara menjadi berubah dan perubahan itu arahnya jelas. Saudara semakin mirip Sang Bapa yang baru, yang mengadopsi Saudara menjadi milikNya. Maka sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan kesaksian ini kalau kita tidak tahu Allah kita seperti apa. Waktu kita tahu Allah kita adalah Allah yang pemurah, sabar, penuh cinta kasih, besar setiaNya, baru kita sadar kita tidak bisa menjadi anak-anak Allah sekaligus menjadi orang yang sikap dan pikirannya sangat duniawi. Duniawi bukan berarti kita tidak tahu lagu rohani, kita kurang membaca Alkitab. Duniawi berarti kita tidak lihat ada sumber kasih, maka kita tidak pernah mengerti apa itu mengasihi. Kita tidak tahu apa itu memberi diri bagi orang lain, apa itu hidup bagi orang lain. Ini tandanya kita belum berubah, tapi pelan-pelan akan ada perubahan. Sama seperti Allah mencintai, memberikan kesabaran, memberikan sukacita, memberikan berkat, memberikan janji, maka saya juga akan menjadi orang yang menyatakan sukacita berkat dan memberi diri bagi yang lain. Ini adalah tanda bahwa kita adalah orang-orang yang dimiliki Roh, disatukan oleh Kristus, dan menjadi anak-anak dari Sang Bapa di surga.

Lalu di ayat 16 dikatakan “roh bersama kita bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah”, jadi kita adalah anak-anak Allah. Banyak yang salah mengerti tentang pengertian anak. Yesus adalah Anak Allah, kita adalah anak Allah. Apa ini berarti Allah punya anak? Dalam Perjanjian Lama ada dua kata yang beda menjelaskan tentang anak, dua-duanya diterjemahkan anak. Yang satu adalah yelet, anak secara biologis. Sayang sekali banyak orang berpikir bahwa Sang Anak Allah, Pribadi Kedua Tritunggal adalah anak dari Pribadi pertama secara yelet. Jadi Sang Bapa mempunyai anak yaitu Sang Anak, kapan melahirkannya? Ada yang bertanya “siapa bidannya?”, ini karena salah mengerti antara ben dan yelet. Kalau Saudara mengatakan kucing punya anak namanya anak kucing, karena anak kucing dan itu anak dari kucing, maka kucing itu kucing, itu yelet, bukan ben. Saudara tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang Pribadi Kedua dengan Pribadi Pertama, bukan begitu. Tapi relasi antara Pribadi Pertama dengan Pribadi Kedua menggunakan kata ben dalam Perjanjian Lama, atau bat kalau anak perempuan. Ben bukan hanya menunjukan anak secara fisik, tetapi status sebagai ahli waris. Di zaman Tuhan Yesus, pengemis buta yang tahu Yesus datang langsung teriak “Anak Daud, kasihanilah saya”, lalu orang mengatakan “diam”. Mengapa disuruh diam? Karena kata Anak Daud mengandung provokasi yang besar. Kalau Saudara bilang Anak Daud, itu bukan yelet. Banyak orang keturunan Daud pada saat itu, tapi bukan Anak Daud. Daud punya banyak keturunan, tapi hanya satu yang disebut Anak Daud yaitu Salomo karena dia melanjutkan takhta bapanya. Demikian Yesus disebut Anak Daud, bukan karena Dia adalah salah satu dari keturunan Daud, tapi karena Dia melanjutkan takhta BapaNya. Kalau ini kita mengerti, kita tidak akan khawatir dengan tuduhan orang yang mengatakan “Allah itu tidak memperanakan dan tidak diperanakan”, tapi ini adalah kredo melawan kredo Athanasius yang ada sebelum sebelum Muhammad ada. Athanasius justru mengatakan Allah sejati adalah yang memperanakan (Pribadi Pertama) dan diperanakan (Pribadi Kedua). Jadi ada pengakuan iman di Kristen yang mengatakan Allah sejati adalah Allah yang mempunyai anak dan mempunyai bapa. Tradisi Islam sebenarnya melawan ini, bukan original Allah itu pasti tidak boleh punya anak. Anak adalah ahli waris, konsep dibaliknya bukan biologis familial, tapi royal, kingship. Anak yang akan menjadi raja setelah bapaknya. Maka kalau dibilang “Anak Daud”, jangan sembarangan, tidak semua orang disebut Anak Daud meskipun banyak keturunan Daud. Ini juga konsep yang sama dengan pengertian Anak Allah. Orang dunia kuno sangat jelas mengerti anak, ketika dikatakan anak Allah, langsung tahu maksudnya apa. Di dalam dunia kuno, raja adalah anak Allah, karena mereka percaya kerajaan mereka itu milik Allah mereka dan diwariskan kepada sang raja. Misalnya Kerajaan Romawi, mereka percaya kerajaan mereka milik Jupiter, ia memberikan Kerajaan Romawi yang besar itu. Ketika orang-orang Visigoth mulai menyerang Roma, lalu ada orang bernama Alaric, pemimpin Suku Visigoth yang berhasil menerobos kota Roma. Setelah itu Roma menjadi sangat surut kekuatan dan orang mulai mengatakan “Jupiter sudah meninggalkan kita karena ada yang namanya Yesus sekarang disembah”. Ini yang membuat Agustinus menulis buku The City of God. Penyebab Roma hancur adalah moral yang sudah bobrok dan Tuhan hakimi. Kalimat Agustinus ini penting sekali untuk kita ingat. “Bukan karena kamu meninggalkan Jupiter, maka kotamu dihancurkan. Tapi karena moralmu terlalu bobrok”. Jadi orang Roma percaya kekaisaran mereka dimiliki oleh Jupiter, lalu yang menjadi kaisar adalah anak dewa, anak Jupiter. Mengapa menjadi anak dewa? Karena seluruh kerajaan milik Jupiter sekarang menjadi milik kaisar, jadi kaisar adalah anak allah, ini umum. Tapi kalau Saudara berbicara dengan orang modern “apakah kau tahu anak allah?”, mereka langsung geli sendiri “kamu percaya allah menikah lalu punya anak? Bodoh sekali”. Saudara balik mengatakan kepada mereka “kamu yang kurang mengerti, ayo belajar sejarah.”

Anak dalam Roh

Kita akan belajar pengertian yang sangat indah yaitu apa yang dikatakan di ayat 14, semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Roh memimpin orang percaya untuk menjadi anak-anak Allah yang hidup sebagai anak-anak Allah. Dan Roh itu adalah Roh yang mengerjakan hal yang spesifik, memanggil orang percaya untuk menjadi milik Tuhan. Dan pimpinan Dia membuat kita sadar bahwa kita adalah anak-anak Allah dan membuat kita hidup sebagai anak-anak Allah. Tapi ada sesuatu yang harus kita pahami dulu untuk masuk ke dalam pengertian ayat 14 ini yaitu bahwa Tuhan sebenarnya yang mendesign hidup manusia. Ada satu perenungan yang indah dari Agustinus, dalam satu buku dia untuk melawan orang-orang Manikeisme. Mereka percaya bahwa segala sesuatu yang dijadikan, yang sifatnya materi, itu jelek dan buruk. Kita mengharapan sesuatu yang lepas dari segala hal yang kita alami sekarang. Agustinus dulu pengikut Manikeisme dan menjadi Kristen karena dia mendengar eksposisi Kitab Kejadian dari seorang hamba Tuhan di Milan yaitu Ambrosius. Dia sangat kagum akan penjelasan tentang dunia, bahwa dunia diciptakan oleh Tuhan, Tuhan menciptanya dengan cinta dan kebebasan. Dia menjadi sadar bahwa Manikeisme tidak menjawab kebutuhan dia untuk memahami hidup. Maka setelah dia menjadi Kristen, dia banyak menulis karya untuk mengkritik orang-orang Manikeisme. Dan salah satunya adalah karya penciptaan dalam Kitab Kejadian melawan ajaran dari Manikeisme. Dalam karya ini dia mengatakan bahwa keindahan menjadi orang Kristen adalah bahwa orang Kristen diberikan dunia yang perlu digumulkan sehingga kita tahu dunia menjelaskan kepada kita tentang siapa Allah. Saya pikir ini kalimat yang sangat penting untuk kita pahami. Karena Saudara tidak bisa memahami hidup kecuali Saudara menggumulkan realita hidup yang Saudara jalani. Kita tidak bisa membuang pengalaman kita di dalam hidup sehari-hari dan mengabaikan itu untuk mengenal Tuhan. Tuhan dikenal dengan firmanNya, tapi firmanNya akan diinteraksikan dengan seluruh ciptaan, dan itu adalah yang Saudara alami setiap hari tentunya. Maka bagi Agustinus, Kekristenan hanya mungkin dipahami kalau Saudara mengaitkan firman dengan kehidupan sehari-hari. Ini yang Surat Roma 8 ajarkan, bagaimana kita mengerti Tuhan di dalam keadaan hidup yang penuh dengan kekacauan, perasaan takut, dan penderitaan. Itu sebabnya pengertian semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah itu sangat penting. Karena hanya Allah yang merancang dan mengatur hidup manusia. Hidup manusia itu sendiri hanya mungkin terjadi di dunia ini karena Allah yang mencipta. Karena itu sulit memberikan pengertian dalam diri kita “manusia seharusnya tidak seperti ini.” Kita terus pikirkan tentang keadaan mirip surga yang kita jalani sekarang. Tapi kita tafsirkan gaya hidup mirip surga dengan salah. Karena mungkin kita pikir gaya hidup mirip di surga itu berarti bebas penderitaan, pokoknya surga itu berarti hidup enak. Tapi kita mesti pikir ketika Sang Anak Allah datang ke dunia, gaya hidup apa yang dialami.

Kristus datang ke dalam dunia tidak menjalani lingkungan yang dianggap ideal itu. Kekristenan selalu mengajarkan untuk melihat kepada kehidupan Kristus, menginginkan menjalani hidup yang mirip Kristus. Sebenarnya sesuatu yang sangat indah kalau kita mau merenungkan karena berarti kita diajak Tuhan untuk hidup mirip AnakNya. Dan cara Anak TunggalNya hidup di dalam dunia adalah cara yang melibatkan Allah sebagai Allah. Biarlah kita belajar memperlakukan diri kita sebagai manusia dan belajar tempatkan Allah sebagai Allah. Kita perlu Tuhan dan waktu kita tempatkan Tuhan di dalam hidup kita, kita akan tahu bahwa Dia yang merancang hidup, bahkan Dia mendesign kemanusiaan. Kita tidak bisa mengatakan “mengapa Engkau mendesign seperti ini?” karena sangat aneh bagi kita untuk memikirkan ada alternatif lain selain ciptaan ini. Dunia ini tidak sempurna, apa yang kita jalani sekarang banyak cacat dan salahnya karena manusia jatuh dalam dosa”. Tapi Agustinus, meskipun dia tahu manusia jatuh dalam dosa, mencoba untuk mengajak kita berpikir dengan cara yang lain. Dia mengatakan bahwa satu-satunya Allah yang kita kenal menyatakan diri melalui manusia yang Dia design. Tidak ada kemungkinan manusia dapat menjadi manusia dengan cara lain dari cara yang Tuhan sudah siapkan. Maka di dalam Alkitab banyak sekali bagian yang menceritakan kebaikan dari orang-orang yang belum kenal Tuhan, mungkin mereka penyambah berhala tapi mereka baik. Alkitab penuh dengan pernyataan bahwa kebaikan hati manusia merupakan bentuk penyertaan Tuhan. Karena Tuhan topang maka masih ada manusia yang baik, bahkan banyak. Itu sebabnya kemanusiaan masih berjalan sampai sekarang. Ini yang harus kita ketahui dulu, Tuhan itu menopang kemanusiaan supaya kemanusiaan menjadi seperti yang Dia mau. Saudara dan saya tidak rusak serusak-rusaknya itu karena Tuhan. Manusia masih bisa punya hati nurani, orang jahat pun masih punya perasaan enggan untuk menyakiti orang lain, itu dari Tuhan. Maka mengatakan Tuhan tidak ada, itu aneh. Sama seperti orang menyalakan mobil lalu mengatakan “saya tidak percaya mesin mobil itu ada”, itu aneh. Ini sama anehnya dengan “coba buktikan ada Allah”, Saudara mengatakan “kemanusiaan masih jalan, bukankah itu bukti masih ada Allah?” Jadi mengatakan bahwa manusia bisa berjalan dengan otomatis dan tidak perlu Tuhan itu aneh sekali. Fakta bahwa Tuhan menopang hidup kita, menjadi manusia yang masih ada sisi kemanusiaannya, itu fakta yang tidak terbantahkan. Saudara tidak perlu heran kalau ada orang bukan Kristen yang masih baik, “heran ya ada orang Budhis dan masih mau tolong orang lain”, tidak heran.

Berhutang kepada Tuhan

Di ayat 12 dikatakan “kita adalah orang berhutang”. Berhutang identik dengan keadaan seseorang menjadi budak, dibelenggu, dan kehilangan kebebasan. Banyak hal yang menyebabkan orang menjadi budak, mungkin dia papanya punya hutang, dia terpaksa bayar karena papanya tidak sanggup bayar. Waktu dia harus bayar, tidak punya harta cukup. Dalam kesulitan, hukum kuno mengharuskan dia membayar hutang dengan menjadi budak. Semakin besar hutang, semakin besar kemungkinan dia menjadi budak. Makin besar lagi hutang, mungkin bukan hanya dia, tapi anak-cucunya juga akan menjadi budak. Ketika ada orang mengatakan, “Sudah berapa lama jadi budak?”, “Sudah puluhan tahun dan mungkin anakku harus menjadi budak, karena hutang saya sangat besar dan jumlah tahun pelayanan saya tidak cukup untuk cover itu”. Lalu orang itu mengatakan “Kalau begitu saya bebaskan kamu. Saya akan bayarkan hutang kamu kepada orang yang sekarang menjadi tuanmu.”, “kalau lunas berarti saya bebas?”, “iya, kamu bebas.” “Kalau begitu sekarang saya mau memperhamba diri saya kepadamu. Saya mau melayani engkau”, lalu orang yang membayarkan mengatakan “Tidak perlu.”, orang itu mengatakan “Saya pakai kebebasan untuk menjadi hambamu.” Ini hamba karena apa? Hamba karena hutang uang? Bukan, ini hamba karena hutang cinta kasih. Ini adalah orang bebas yang punya level hidup yang baik karena dia sudah dibebaskan, dan dia memperhamba diri karena kasih, bukan karena dia harus membayar hutangnya. Skill hidup yang indah, yang dipahami oleh dunia kuno adalah skill untuk menjadikan Saudara bebas. Kalau engkau punya pikiran yang jernih, punya kemampuan untuk mengajar, kamu orang bebas. Tapi kamu tidak punya skill, kamu tidak punya keahlian apa pun, cuma badan yang bisa dipakai untuk kerja keras, maka kamu menjadi budak. Bagaimana cara supaya tidak menjadi budak? Dapat pendidikan. Semua orang berjuang untuk jadi orang bebas. Dan orang mengatakan “saya mau bebas, saya akan belajar, coba punya harta banyak sehingga saya tidak perlu kerja memperbudak diri untuk penghidupan”. Menjadi bebas adalah sesuatu yang dikejar dengan cara hidup. Mengapa mendidik anak? “Supaya anakku tidak menjadi budak”. Mengapa cari uang? “supaya tidak perlu berhutang kepada orang dengan menjadi budak”. Semua mau bebas, tapi hanya Alkitab yang mengajarkan ada orang bebas yang rela menjadi budak. Siapa itu? Kristus. Lalu siapa lagi? Orang yang beriman kepada Kristus. Ini Roma 8, kita berhutang supaya menjadi hamba. Hamba kepada Dia yang bebaskan kita.” Untuk mengerti ini, kita mesti belajar dari Agustinus. Ia pernah hidup dalam keadaan rusak, kacau, penuh dengan perzinahan, seks, hawa nafsu dilampiaskan dengan bebas. Dia pikir dia bebas, tapi dia dibelenggu dosa. Dia sudah mendapatkan semua, tetapi dia rasa kosong. Agustinus penting untuk kita pelajari karena dia pernah hidup dalam pola pikir salah. Setelah dia menjadi orang Kristen, dia rombak cara berpikir itu dengan menyelidiki Kitab Suci. Dia menyadari Kitab Suci memberikan ajaran yang jauh beda dengan ajaran kosong yang palsu, yang dia dapatkan sebelum dia menjadi Kristen. Dia menjadi Kristen karena dia mendengarkan seorang pendeta bernama Ambros di Milan, ini pendeta penting sekali karena dia satu-satunya hamba Tuhan yang pernah eks-komunikasikan kaisar. Ini hamba Tuhan yang penuh dengan peran di dalam sejarah orang Kristen. Salah satu yang membuat dia terkenal adalah khotbah yang mempertobatkan Agustinus. Biasanya orang cuma mengatakan “Agustinus bertobat karena baca Roma 13”. Baca satu ayat pendek tidak akan mengubah orang kalau dia belum punya pra-pengetahuan sebelumnya baca ayat itu. Dari mana pengertian Kristen Agustinus? Dari mamanya, itu yang pertama. Kedua dari khotbah Ambrosius. Waktu Agustinus ada di Milan, orang terus memberitahunya “ada pendeta punya teknik retorika paling tinggi”. Agustinus sangat tertantang “siapa orang Kristen yang punya retorika tinggi? Aku menganggap Kristen adalah agama untuk orang bodoh.” Maka dia datang dengar khotbah Ambrosius karena ingin membandingkan bisakah orang Kristen punya teknik retorika tinggi dan dia ditaklukan oleh Ambros. Saya khawatir kalau saat ini ada pemuda-pemuda intelektual yang menolak Kekristenan, datang dengar khotbah bukannya dipertobatkan, tapi semakin menghina Kekristenan. Mendengar pendeta ngawur, pidato ini itu tidak ada argumen, cuma menyatakan kalimat yang tidak ada isi. Kalau pendeta khotbah tidak ada isinya, yang intelektual akan terus menjadi pelawan Tuhan dan yang bersalah mungkin hamba Tuhannya. Agustinus mendengarkan khotbah Ambros dan dia mengatakan “ini orang terpelajar, orang ini tidak buang-buang waktu untuk lakukan hal yang tidak penting, dia berhak mengajar”. Sekarang banyak orang berdiri di atas mimbar tanpa kualifikasi apa pun. Apa hakmu berdiri di atas mimbar? “Saya sudah persiapan. Saya baca buku lalu saya hafal bukunya, kemudian saya keluarkan”. Saya tidak mengerti mengapa orang berpikir khotbah adalah persiapan lalu sampaikan persiapan. Khotbah itu sampaikan pola pikir yang sudah lama dibentuk. Itu sebabnya saya terus ingatkan ke diri menjadi hamba Tuhan berarti terus-menerus memperlengkapi diri dengan kelimpahan firman, tidak ada saat longgar, tidak ada istirahat, setiap hari penuhi pikiran dengan tema-tema paling berkualitas. Saudara kuasai pikiran paling berkualitas, baca buku paling penting dalam sejarah, Saudara tidak mungkin tidak punya bijaksana. Kalau saya tanya “kamu sudah baca buku apa?”, buku dari orang zaman sekarang saja saya tahu dia tidak pernah capai hikmat Tuhan berikan dalam sejarah manusia karena hikmat paling besar bukan di zaman ini. Saudara baca Agustinus, dia mengalahkan semua pemikir dan penulis buku zaman sekarang. Tidak pernah baca Agustinus, tidak punya kedalaman. Baca Calvin, baca orang-orang penting di abad pertengahan, pikiran mereka begitu jernih, rohani mereka begitu dalam, tulisan mereka begitu hangat secara spiritual tapi begitu menusuk secara intelektual. Dimana lagi ada seperti itu? Maka semakin senang baca buku populer, semakin dangkal pikirannya. Bukan hanya urapan Tuhan yang diakui sebagai urapan tapi tidak dibackup dengan kemampuan untuk memengaruhi orang secara bijak. Kuasa Tuhan, pengurapan Tuhan dan penyelidikan ilmu pengertian hikmat yang teliti, dipenuhi terus dalam pikiran akhirnya akan mengalir keluar dan memenangkan orang. Maka setelah Agustinus dengar, dia kaget. Satu kali Ambros berkhotbah tentang doktrin penciptaan, ini salah satu yang paling menggugah dia. Dia dengar khotbah ini dan langsung hancur hatinya, “baru sekarang saya mengerti ciptaan itu penting”. Agustinus pernah terpengaruh ajaran manichaeism, segala sesuatu yang fisik, kelihatan, yang ada dalam dunia, rendah, jelek, yang bagus adalah hal yang diluar. Ini pengaruh yang mirip dengan ide dari Socrates dan Plato.

Kalau Saudara membaca Socrates dan Saudara tidak terganggu, itu tandanya Saudara tidak mengerti. Orang tidak mengerti mana mungkin terpengaruh. Tapi kalau Saudara mengerti, Saudara akan sadar “Kalau tidak punya iman Kristen, saya sudah percaya orang ini.” Mengapa Kristen yang benar? Karena iman, itu yang sangat menolong. “Saya percaya Kristus, tidak mungkin melawan Dia”. Itu sebabnya membaca karya-karya penting itu menyenangkan sekaligus bahaya. Tapi kalau Saudara takut bahaya, tidak akan senang. Kalau tidak takut bahaya, Saudara akan tempuh sesuatu yang penting. Saya tidak mengatakan Saudara sembarangan baca lalu akhirnya menjadi goyah imannya, bukan. Tapi harap Saudara mengerti bahwa ketika manusia punya cara berpikir agung, punya kemampuan pengaruhi Saudara, dia layak untuk Saudara jadikan guru, meskipun Saudara tetap menjadikan dia guru dengan sifat kritis. Hal penting akan saya terima dan hal jelek saya buang, itulah mental orang Kristen di dalam tradisi Kekristenan. Tapi banyak orang mengatakan “ayo kembali ke Alkitab, buang filsafat”, enak saja bilang buang filsafat. Tokoh-tokoh penting yang pengaruhi Kekristenan sekarang semua adalah filsuf. Ketika Socrates mengatakan ada dunia ide dan sekarang ini cuma bayangan fisik, jelek dan terbatas. Tujuan segala hal yang fisik adalah membuat kita merenung tentang ide. Ini juga satu argumen yang kuat. Saudara lihat sebuah bunga, bagus, Saudara langsung pikir apa itu bagus. Atau lihat bunga langsung berpikir “ini harganya berapa?”, itu orang yang masih kurang bijak. Orang yang pintar cari uang, tidak tentu bijak dalam mengetahui kebenaran. Uang tidak membuat hidupmu limpah. Uang perlu untuk support engkau, tapi Saudara perlu menjadi limpah bukan karena uang. Maka kalau punya uang, coba pakai untuk hal yang membuat kemanusiaan Saudara muncul. Jangan jadi manusia bodoh yang tidak mengerti apa-apa yang bagus, apa pun tidak tahu. Saudara mengatakan “Ikuti aku, Aku beritakan Injil kepadamu”, harap ingat Injil tidak menuntut Saudara untuk bicara Injil saja, juga menuntut Saudara mempunyai hidup yang layak untuk diikuti. Paulus mengatakan “aku mengikut Kristus, jadilah kamu pengikutku sama seperti aku mengikuti Kristus”. Seluruh kehidupan Paulus akan dibuka dan orang akan mengatakan “saya mau ikut kamu karena kamu orang yang agung”. Saudara lihat di Kisah Para Rasul, bahkan orang yang tidak mau menerima Injil seperti Festus tetap mengatakan Paulus punya kualifikasi dalam segala macam ilmu. Maka Socrates mengatakan “kalau kamu renungkan keindahan di sana, berarti di sini sementara.” Itu sebabnya orang sering menyindir Socrates sebagai yang mengajarkan tentang somethingness. Kalau Saudara melihat seekor kuda, Saudara harus tahu ada kekudaan, mungkin Saudara geli dengan istilah ini, “apa itu kekudaan”, kekudaan adalah sesuatu yang bisa membuat Saudara mengetahui itu kuda.” Ini pengaruh yang kuat sekali, kemana-mana orang pergi mempelajari agama abad 4 sebelum Masehi sampai 2 Masehi, Saudara akan menemukan pengaruh ini dimana-mana. Ini bukan orang sembarangan, pengaruh dia masuk ke mana pun, termasuk ke dalam pengajaran Manikeisme, Agustinus sangat terpengaruh ini. Tapi dia bingung waktu menerima ajaran Manikeisme. “Seluruh hal dalam alam ini evil, tapi kok bagus? Bagus ternyata tetap ada evilnya?”. Maka ketika dia mendengar Ambros mengatakan Tuhan mencipta dan segala hal yang Tuhan ciptakan indah adanya, dia tertarik sekali. Maka dia mulai goyah hatinya dan dia mulai pertimbangkan untuk menjadi Kristen. Sampai akhirnya dia membaca Roma 13 mengatakan “berhenti hidup cemar, mari hidup dengan tidak mabuk karena hari sudah mulai siang”, itu menggugah dia bertobat. Setelah dia bertobat dan menjadi Kristen, hal pertama yang dia mau lawan adalah ajaran Manikeisme, dan dia langsung kaitkan dengan Kejadian. Maka dia menulis buku, “Menafsirkan Kejadian untuk Melawan Pengikut Manikeisme”, itu judulnya. Di situ dia mengatakan “tahukah engkau siapa Allah yang mencipta? Allah mencipta segala ciptaan dari tidak ada menjadi ada”, ini pengertian yang dia coba mengajak kita untuk gali. Kalau segala sesuatu tadinya tidak ada, lalu Tuhan berfirman dan jadi ada, maka Saudara tidak bisa menemukan apa pun di dalam yang ada untuk mempersalahkan Tuhan. Saudara tidak berhak menentukan karena Saudara ada di dalam ciptaan. Dan ciptaan itu terjadi karena Tuhan menjadikannya, tadinya tidak ada. Kalau tadinya tidak ada dan menjadi ada, lalu seluruh ciptaan berhutang keberadaan kepada Allah. Seluruh ciptaan hutang ada dari Allah, “mengapa engkau ada?”, “karena Allah”. Dan seluruh filsafat di dalam tradisi mana pun akan setuju bahwa ada itu lebih baik dari pada tidak ada. “Mengapa bisa ada?”, “karena Tuhan”, “saya bergantung pada keberadaan Tuhan”. Ada dan fungsi itu saling berkait. Tidak mungkin ada “ada” yang tidak berfungsi. Keberadaan ada fungsi, ada guna, ada peran, ada indahnya sendiri. Dan indahnya, perannya dan fungsinya hanya mungkin dipahami kalau kita mengerti bahwa dia diciptakan oleh Allah. Ini pengertian awal dari teologi Reformed yang mengatakan bahwa Allah adalah interpreter yang sempurna atas segala hal yang Dia ciptakan. Itu sebabnya Herman Bavinck mengingatkan kita untuk menyelediki segala sesuatu dan memikirkannya dengan cara Tuhan, to think after God’s own thinking, berpikir seperti Tuhan berpikir. Jangan tentukan sendiri karena segala keberadaan tidak didesign untuk ditafsirkan sendiri terlepas dari Tuhan. Maka Saudara tidak bisa memahami seluruh keberadaan kecuali Saudara memahami apa yang paling penting dari Allah yang Allah mau nyatakan ada dalam ciptaan. Ini perlu perenungan panjang sekali dari Agustinus.

Roh Membangkitkan

Jadi hari ini kita akan melihat apa yang dimaksudkan Paulus dengan berkat Roh Kudus. Di sini ada pengertian yang indah yang berkait dengan Pribadi ketiga dari Tritunggal yaitu Roh Kudus. Dan ini berkait dengan hidup dan juga mengalahkan kematian. Di dalam ayat 9, ada pengertian yang sangat terpisah oleh Paulus di sini, dua pihak yang tidak mungkin diperdamaikan. Yang satu adalah hidup di dalam daging, yang kedua adalah hidup di dalam roh. Ini berarti kehidupan ditafsirkan oleh Kitab Suci dengan cara yang tidak independent. Kehidupan tidak muncul sendiri, Saudara dan saya mendapatkan hidup di dalam cara yang kita terima dengan pasif. Kita baru tahu kita hidup setelah kita memahami dalam kesadaran kita. Kita baru tahu kita hidup setelah seluruh sense, baik itu sense dalam syaraf maupun di dalam memori kita mulai berfungsi untuk menyimpan pengertian yang kita bisa akses kembali. Kita hidup karena kita mendapatkan hidup, kita menerima hidup dari Tuhan. Dan dalam pengertian Kitab Suci, hidup yang kita dapatkan dari Tuhan adalah hidup yang hanya mungkin terus ada dalam relasi dengan Tuhan. Tanpa ada keterkaitan dengan Tuhan, Saudara dan saya tidak hidup.

Perjanjian Lama mempunyai cara yang unik untuk mendefinisikan hidup. Dalam Perjanjian Lama hidup bisa dibagi dalam beberapa aspek. Yang pertama, sesuatu disebut hidup jika dia mempunyai kemampuan gerak. Ada istilah mengenai tanaman, tanaman hidup karena ada kemampuan untuk bergerak, jadi hidup bisa diidentikan dengan gerak. Tapi kemudian ada hal yang lebih dalam, dimana hidup itu berkait dengan kemampuan untuk menerima dan memberikan firman, menerima dan memberikan perkataan. Saudara disebut hidup karena Saudara berkata-kata.  Jadi firman dari Allah menunjukan Allah itu hidup, Dia hidup dan berfirman. Manusia hidup karena manusia bisa terima perkataan Tuhan dan bisa membagikan perkataan. Maka bisa kita tafsirkan bahwa bagi Perjanjian Lama manusia disebut hidup jika dia ada di dalam sebuah komunitas. Ada dalam keadaan bisa memberi pengertian tentang siapa dirinya dan menerima pengertian tentang siapa dirinya. Lalu yang ketiga di dalam pengertian Perjanjian Lama, hidup itu dikaitkan dengan respon kepada Tuhan. Waktu kita bisa berespon dengan benar tentunya, terhadap setiap kalimat yang Tuhan katakan maka kita disebut hidup. Jadi bisa kita tafsirkan menurut Perjanjian Lama, hidup itu adalah ketika Saudara memiliki gerak, atau kalau kita tafsirkan dalam dunia kita sekarang, Saudara disebut hidup secara fisik, secara jasmani ketika tanda kehidupan dari aktivitas tubuh Saudara dan aktivitas otak Saudara bergerak sebagaimana mestinya. Lalu yang kedua, Saudara bisa dibilang hidup karena Saudara memiliki komunitas, memiliki relasi. Ketiga, Saudara hanya bisa disebut hidup kalau Saudara berespon kepada Tuhan. Maka urutan pengertian hidup dimulai dari yang rendah, aktivitas fisik lalu ditambah dengan pengertian aktivitas interaksi dengan orang lain dan ditambah lagi dengan pengertian berespon kepada Tuhan. Tapi mati urutannya dibalik, mati adalah ketika Saudara berhenti berespon kepada firman, dilanjutkan dengan berhenti berkomunitas. Saudara menjadi orang yang bukan mengasihi tapi membenci, lalu yang terakhir adalah kematian fisik. Ini urutan yang sangat penting untuk kita pahami untuk memahami hidup. Berarti hidup adalah sesuatu yang secara natural kita miliki, tapi bukan hanya itu, hidup juga berarti kemampuan kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Dan hidup berarti kita bisa berespon kepada Tuhan. Dan kematian menghabiskan semuanya. Ketika Alkitab berbicara tentang kematian, Alkitab berbicara dalam urutan ketiga ke yang kesatu. Ada kekacauan dalam respon kepada Tuhan, itulah kematian. Dan implikasi, akibat kekacauan berespon kepada Tuhan adalah Saudara akan salah di dalam mengkomunikasikan diri dan terima komunikasi orang lain di dalam kelompok Saudara. Ini sudah terjadi pada semua orang, misalnya Kain, dia gagal berespon terhadap firman Tuhan, dia gagal berespon terhadap Habel, dan terakhir dia mati. Maka kematian fisik adalah puncak dari dua hal yang sudah kacau yang terjadi di dalam hidup manusia. Yaitu kekacauan berespon kepada Tuhan dan kekacauan di dalam komunitas, baru terakhir mati. Maka kalau kita memahami hidup dengan cara demikian, maka kita harus memahami kematian sebagai pembalik dari pengertian hidup yang ditawarkan oleh Kitab Suci. Maka kalau kita hanya memahami kematian sebagai punya fisik yang tidak berfungsi, kita cenderung meremehkan dua hal tadi, kegagalan kita menjadi berkat di tengah komunitas, dan kegagalan kita berespon kepada Tuhan. Ini hal pertama, pengertian mati dan hidup menurut Perjanjian Lama.

Hal kedua yang perlu kita ketahui adalah kehidupan di dalam Perjanjian Lama adalah sesuatu yang bergantung, tidak mandiri. Saudara tidak bisa berespon dengan benar kepada Tuhan, Saudara tidak bisa berguna di dalam komunitas, dan Saudara tidak bisa pertahankan tubuh Saudara tetap bisa berfungsi jika bukan berkaitan dengan dua, ini harus pilih salah satu. Yang pertama kaitan kepada Allah, yang kedua adalah kaitan kepada maut. Hidup Saudara itu bergantung. Tulisan Paulus dalam Surat Roma, mengajarkan bahwa dosa membuat keterkaitan kepada Tuhan sekarang pindah pada keterkaitan kepada maut, dan ini yang mengerikan. Ini tafsiran gamblang sekali dari Paulus, kehidupan itu tidak pernah bersifat mandiri. Demikian juga mati, mati tidak pernah bersifat mandiri, ini membingungkan sekali. Berarti apa itu hidup? Hidup berarti Saudara menjalankan sesuatu, yang Saudara jalankan dalam hidup, dengan kebergantungan kepada Allah. Mati berarti Saudara menjalankan sesuatu dengan kebergantungan kepada mati. Dan itu sebabnya kehidupan manusia menjadi kehidupan yang tidak bisa dilihat keunikannya, dibandingkan dengan apa pun yang ada di alam ini. Maka Pak Stephen Tong pernah mengatakan dari benda tidak hidup menjadi hidup, itu ada sesuatu yang tidak bisa dikaitkan, ada perbedaan kualitatif. Kemudian dari hidup menuju kepada hidupNya Allah itu pun ada perbedaan yang secara kualitatif berbeda. Berarti dalam Kitab Suci, Allah menciptakan hal yang tidak hidup, setelah itu mulai memunculkan hidup. Ketika yang hidup bergantung kepada Allah, maka dia bergantung kepada Allah yang memberikan hidup. Berarti dia bergantung kepada sesuatu yang akan membuat hidup menjadi sama dengan yang tidak hidup. Paulus memberikan pengertian kebergantungan kepada maut akan terjadi, akan terlihat ketika hidup Saudara tidak beda dengan keberadaan yang lain, yang mati. Maka kita akan melihat kehidupan manusia yang semakin lama semakin turun dan Paulus menjelaskan ini dalam konsep beribadah. Manusia menyembah patung seperti benda-benda langit, Ini bodoh. Maka di dalam Mazmur dikatakan “sama seperti berhalamu, punya mata tapi tidak bisa melihat, demikian kamu punya mata tapi tidak bisa melihat”. Waktu manusia menyembah patung, manusia menyembah sesuatu yang rendah dan dia menuju pada hal yang mirip keadaan yang sudah mati itu. Ini yang bisa kita lihat dalam pengajaran Paulus, karena bergantung kepada mati, maka hidup kita tidak beda dengan hidup yang bukan manusia, semakin mirip binatang dan makin lama makin mirip dengan sampah, makin mirip dengan hal-hal yang mati. Alkitab menggambarkan kehidupan kita yang semakin mirip binatang buas. Di dalam gambaran Kitab Daniel dikatakan ada binatang yang muncul, binatang ini besar sekali, taringnya begitu panjang, mulutnya begitu lebar, dia mengunyah segala binatang, setelah dia kenyang, dia berbaring di salah satu rusuknya dan rusuk binatang lain yang dia makan masih tersisa di mulutnya. Lalu binatang kedua muncul, ada gambaran kerajaan yang digambarkan sebagai binatang. Binatang kedua muncul dan binatang ini juga sama mengerikannya dengan binatang yang pertama. Binatang ketiga muncul dan binatang ini mengerikan bukan main. Inilah tiga kerajaan yang akan muncul setelah Babel. Tapi ada penafsir yang mengatakan sebenarnya bukan harus disejajarkan dengan kerajaan tertentu. Binatang yang dimaksudkan dalam Kitab Daniel adalah degradasi kemanusiaan, orang yang seharusnya memimpin, dia seharusnya mempunyai wibawa hikmat manusia untuk ditularkan diberikan kepada bawahannya. Tapi kerajaan-kerajaan dunia dipimpin oleh binatang liar, binatang yang cuma tahu menghancurkan, hantam yang lain, mengerikan, kejam, dan jahat. Maka sebenarnya Alkitab dengan caranya sendiri sedang mengatakan “binatang kamu” kepada para pemimpin. Dan ini merupakan bukan hinaan yang tanpa dasar, ini merupakan pernyataan yang akurat tentang diri manusia. Manusia memiliki penurunan dari hidup sebagai gambar Allah menjadi hidup mirip binatang. Sekarang coba kita renungkan hidup itu apa? Mengapa waktu kita jalankan hidup, kita bisa membawa hidup menjadi mirip binatang? Kita selalu memulai dengan ide yang baik, berharap ada hal indah muncul dalam kehidupan. Tapi yang mungkin terjadi adalah kehidupan kita turun, turun terus, bukan mencerminkan tapi justru mewarnakan mati. Ketika Paulus mengatakan hidup yang berdosa adalah hidup yang bergantung kepada maut, berarti kita akan makin lama makin mencerminkan maut yang kita gantungi itu. Maka pertanyaan Paulus yang sebenarnya adalah hidupmu bergantung kemana, ke dagingan, maut atau ke Kristus, Allah? Hidup manusia tidak pernah mandiri, tidak bisa berdiri sendiri. Waktu manusia hidup, dia harus pilih bergantung kepada Allah dan semakin mirip Allah, atau bergantung kepada maut dan semakin mirip maut. Itu pengertian dari Paulus tentang hidup yang ada dua, bergantung kepada Allah, bergantung kepada maut. Ini dua hal yang saya mau kita pahami sama-sama. Hal pertama tadi kematian adalah pembalikan dari respon kepada Tuhan, kehidupan dalam komunitas dan fisik yang berfungsi. Lalu poin kedua yang saya bagikan, kebergantungan hidup kepada Allah atau kepada maut.

Natal dan Kedewasaan

Salah satu tulisan paling tua di Perjanjian Baru yang berbicara tentang Natal adalah dari Surat Galatia ini. Maka kita dapat mengerti bahwa teologi yang Paulus bagikan termasuk kelahiran dari seorang perempuan adalah sesuatu yang sudah dimengerti dan diajarkan dalam gereja Tuhan bahwa zaman yang baru, zaman akhir ketika Kerajaan Allah menyatakan diri di seluruh ciptaan itu terjadi karena ada seorang anak yang lahir dari seorang perempuan. Kelahiran yang banyak dinubuatkan di Perjanjian Lama, kelahiran ini sudah dinubuatkan di Kitab Kejadian karena dikatakan perempuan itu akan memelihara ada garis keturunan sampai disaat dimana Mesias itu lahir dari seorang perempuan. Lalu di dalam Kitab Yesaya ditekankan bahwa ada tanda yang diberikan kepada Raja Ahas yaitu akan ada seorang perempuan muda yang mengandung dan melahirkan. Tema perempuan melahirkan ini tentu tema Kejadian, sangat jelas dalam Kejadian pasal 3. Dalam Kejadian pasal 3, pengharapan yang dimiliki oleh kemanusiaan adalah kelahiran dan keturunan yang akan memenuhi bumi itu akan tetap terjadi. Adam dan Hawa sudah jatuh dalam dosa, tapi mereka tetap akan menjalankan panggilan mereka atau menjalankan fungsi mereka sebagai manusia. Itu sebabnya Injil memberitahukan anugerah yang Tuhan berikan sehingga manusia bisa kembali hidup sebagai manusia. Apa yang Tuhan mau manusia kerjakan tetap bisa dikerjakan meskipun ada di dalam dosa. Jadi dosa tidak membatalkan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada manusia. Tapi alasan mengapa dosa tidak membatalkan pekerjaan Tuhan adalah karena Tuhan akan membalikan dosa. Jadi kita melihat pekerjaan Tuhan yang total, utuh, dimana Dia mengizinkan orang tetap hidup meskipun jatuh dalam dosa karena ada rencana untuk memulihkan ciptaan ini. Jadi Paulus adalah seorang yang mengajarkan kita untuk melihat rencana Tuhan secara total. Saudara mungkin sulit melihat pengertian ini di dalam tulisan-tulisan lain, memang mereka tidak berniat membahas totalitas dari pekerjaan Tuhan itu dengan segamblang Paulus. Saudara melihat ketika Paulus mengatakan bahwa Allah sedang memanggil Israel, membuang Israel demi memberi jalan bagi bangsa-bangsa lain itu benar-benar pengajaran yang sangat jenius dan itu dilakukan oleh Paulus hanya di dalam beberapa pasal. Roma pasal 3,4,5, terus sampai pasal yang ke-11, rangkuman dari apa yang Tuhan kerjakan di dalam sejarah. Ada teolog-teolog, ada penulis Perjanjian Baru yang berfokus pada ajaran moral, ajaran etika Kristen di dalam Kristus, misalnya Yakobus. Ada yang mengajarkan tentang pentingnya benturan antara iman Kristen sejati dengan ajaran palsu, seperti misalnya 2 Petrus, Surat Yudas. Ada yang menekankan sekali simbol-simbol tentang akhir zaman di Wahyu. Tapi Saudara harus tahu Wahyu itu bukan satu-satunya kitab yang berbicara tentang akhir, Paulus bicara itu di Surat 1 Tesalonika 4, juga di 1 Korintus 15. Wahyu berbicara secara kontekstual, maka Saudara tidak bisa perlakukan Wahyu sebagai buku masa depan. Kitab Wahyu tidak diberikan sebagai nubuat yang penerimanya bingung apa artinya, lalu Yohanes mengatakan “jangan khawatir, ini akan berguna 2.000 tahun kemudian”. Kalau gunanya 2.000 tahun kemudian, mengapa ditulis untuk kami sekarang? Jangan lupa Wahyu itu surat kepada ketujuh gereja, ini bukan buku nubuat masa depan. Konsep berpikir seperti ini untuk diubah itu susahnya setengah mati. Banyak orang ketika belajar tema-tema Kristen cuma menambah ceri di atas, kuenya tetap ngawur. Padahal yang seharusnya diubah adalah seluruh kue. Maka sebenarnya yang harus kita pelajari apa bedanya sebelum Yesus dan sesudah, karena dua zaman ini yang Alkitab sebenarnya ajarkan. Hal yang paling jelas adalah dipanggilnya bangsa-bangsa lain. Sebelum Yesus datang pemanggilan bangsa-bangsa lain tidak terjadi. Pemanggilan individu-individu dari bangsa lain ada dan itu sebagai tanda bahwa Tuhan akan panggil bangsa-bangsa lain. Tapi pemanggilan bangsa lain tidak ada, tidak pernah ada sebuah bangsa yang tunduk kepada Yahweh, yang mengatakan “kami tidak mau lagi menyembah berhala kami”. Jadi kalau Saudara pikir mujizat akan mengubah orang, hukuman keras akan mengubah orang, faktanya adalah orang tetap tidak berubah. Maka ketika Kristus belum datang, tidak ada bangsa-bangsa yang dipanggil oleh Tuhan menjadi milik Dia. Bahkan Israel pun pada akhirnya terhilang, kalau mau dibilang demikian. Jadi perbedaan yang jelas sebelum dan sesudah Kristus datang adalah sesudah Kristus datang, bangsa-bangsa dipanggil, ini yang Paulus tekankan di pasal 3. Tuhan memanggil Abraham dengan tujuan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Kalau Saudara baca itu di Kejadian, memang tepat tempatnya karena sebelum Abraham peristiwa yang terjadi adalah pengusiran satu bangsa Babel menjadi banyak bangsa. Mereka mau membuat menara yang ujungnya ada lambang langit, lalu Tuhan mencerai-beraikan mereka, sejak itu muncullah bangsa-bangsa. Kemudian Tuhan panggil Abraham dan mengatakan “Aku akan memberkati bangsa-bangsa lewat keturunanmu”. Jadi Abraham adalah jawaban Tuhan dari kekacauan yang ditimbulkan dari peristiwa Menara Babel. Abraham ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi orang yang akan punya keturunan yang akan memberkati bangsa-bangsa lain. Jadi Tuhan berniat memberkati bangsa-bangsa lain tapi itu belum terjadi di zaman Israel. Tetapi Tuhan menggenapi janji kepada Abraham lewat kehadiran Kristus. Dan ini dijelaskan dalam Wahyu 19 atau 20, dikatakan ada kerajaan seribu tahun dimana Tuhan membungkam setan, berarti setan dan segala kuasa jahat, pemberontakan, perlawanan kepada Tuhan yang dulu dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, itu akan dibungkam oleh Tuhan. Tuhan akan lemparkan iblis ke sebuah lubang lalu ditutup. Dan yang dikatakan oleh Kitab Wahyu adalah iblis tidak lagi mampu menyesatkan bangsa-bangsa. Ini sudah terjadi waktu Yesus bangkit. Ini sudah terjadi ketika di dalam Kisah Para Rasul, Injil disampaikan ke bangsa-bangsa lain. Bukankah itu yang dijelaskan di Kitab Wahtu? Berarti yang mau ditekankan oleh Kitab Wahyu adalah ketika Kristus berkuasa, Dia akan menjalankan penggenapan janji kepada Abraham yaitu memberkati bangsa-bangsa lain. Maka sebelum zaman akhir dan sesudah, bedanya adalah di dalam zaman yang terakhir bangsa-bangsa kembali kepada Tuhan, ini tanda zaman yang akhir itu. Jadi Tuhan bisa datang kapan saja, tidak ada yang tahu. Tapi intinya adalah sekarang kita ini di zaman penantian.

Sama seperti yang dikatakan di Surat 2 Petrus, kamu senantiasa hidup di masa penantian. Kalau ada yang protes mengatakan “sudah begitu lama Tuhan belum datang-datang”, yang dimaksudkan zaman akhir itu bukan periode sampai Tuhan datang sudah tinggal hitungan detik. Tetapi ini sudah periode terakhir. Kalau mau dibagi, hanya ada 2 periode, seperti yang saya bilang tadi. Periode dimana Kerajaan Tuhan belum dinyatakan dan periode dimana Kerajaan Tuhan dimulai, dinyatakan lewat kebangkitan Kristus. Seorang teolog Inggris mengatakan bahwa kebangkitan Kristus itu memulai sebuah revolusi, sebuah revolusi diluncurkan di dalam kebangkitkan Kristus. Karena kebangkitkan Kristus merubah segala hal yang mengurung bangsa-bangsa lain. Hal paling utama yang mengurung bangsa-bangsa adalah kematian. Dan kebangkitan Kristus memberikan bukti bahwa ada cara untuk menaklukan kematian, ada cara untuk membuat kematian mati. Caranya adalah Kristus. Di dalam Kristus, bangsa-bangsa akan memiliki kemenangan atas maut. Maka bagi murid-murid di abad pertama, menyaksikan kebangkitan Kristus adalah menyaksikan dimulainya sebuah revolusi. Ketika Kristus bangkit, revolusi dimulai. Waktu Revolusi dimulai, tidak ada yang sama, semua berubah, konsep berubah, perlakuan Tuhan terhadap sejarah berubah, cara Tuhan menangani bumi juga berubah. Kalau kita gagal melihat ini maka kita akan menjadi orang yang sulit menghargai Kekristenan kita. Kekristenan itu agama radikal, kalau Kekristenan dianggap sebagai agama jinak yang hanya sekedar memberi nasihat bagaimana tidak nakal, Saudara salah mengerti Kekristenan. Kekristenan adalah agama revolusi, dari awal seperti itu. Saudara kalau mengatakan “Kekristenan memang cepat penyebarannya itu karena Injil”, Injil benar tapi jangan tafsirkan Injil dengan sempit. Injil bukan cuma berita masuk surga, Injil berarti pemerintahan kafir, seperti Roma, harus belajar untuk memberikan seluruh negaranya untuk diatur dengan cara Kristen, meskipun kamu tidak Kristen, ini revolusioner. Ketika murid-murid menyaksikan kebangkitan Kristus mereka sadar tanda-tanda bahwa zaman berubah itu sudah dimulai oleh Kristus. Dia sudah menyatakan tanda, Dia sudah memberikan nubuat-nubuat, Dia sudah menyatakan kegenapan dari nubuat Perjanjian Lama dengan semua tanda-tanda yang Dia kerjakan. Dia celikan orang buta, itu benar-benar tanda bahwa periode baru masuk. Ini yang tidak dimengerti oleh semua tradisi Karismatik, karena mereka mengatakan mujizat masih boleh terjadi. Mungkin bisa terjadi, tapi jangan bilang itu mujizat yang sama dengan Kristus. Karena mujizat Kristus adalah mujizat pernyataan sekarang zaman baru dimulai. Kalau inagurasi zaman baru itu terjadi terus, itu bukan inagurasi. Maka mujizat Kristus dan mujizat para rasul tidak terulang, tidak boleh ada yang klaim hal yang sama. Saudara tetap boleh percaya Allah sanggup mengerjakan hal yang tidak biasa, yang supranatural. Tapi jangan mengatakan yang supranatural itu memunyai bobot yang sama dengan Kristus dan para rasul. Maka mujizat demi mujizat dinyatakan oleh Kristus dan setelah itu mujizat paling besar adalah kebangkitkan Kristus. Waktu Yesus bangkit, murid-murid akhirnya mengerti, banyak dari mereka yang tidak mengerti dan ini mungkin membuat kita heran, apakah benar murid-murid belum mengerti apa maksud Yesus. Yesus sudah banyak kerjakan mujizat, apakah masih kontroversi tentang siapa Dia. Tapi setelah Yesus bangkit, tidak ada lagi kontroversi di tengah murid-murid, mereka tahu Dia Raja, Dia sudah bangkit dan Dia akan membawa zaman yang baru.

Kenikmatan menjadi Kristen

Di dalam teologinya Paulus tentang kehidupan Kristen, dia akan mengaitkan kehidupan Kristen dengan efek finalnya. Jadi apa yang kita jalankan akan ada konsekuensi final dan konsekuensi final itu cuma 2 yaitu hidup atau mati. Hidup karena Injil dan mati karena hidup yang lama. Jadi Saudara dan saya ini sedang hidup dalam sesuatu yang akan memuncak pada tujuan final itu yaitu hidup dan mati. Apa yang dimaksudkan Paulus dengan kehidupan yang berujung pada kematian? Untuk memahami ini kita harus melihat bahwa kematian bukan hanya sekedar efek final dari kehidupan kita, tapi kematian adalah sesuatu yang senantiasa kita hidupi. Maut bukan cuma keadaan fisik yang final, maut adalah sebuah kuasa. Kuasa yang senantiasa bekerja dan kuasa yang akan membawa pada keadaan final yaitu kematian. Jadi kematian fisik adalah bentuk final dari pekerjaan kuasa kematian dalam hidup manusia. Kalau begitu kuasa itu sedang bekerja sekarang. Hidup di dalam daging berarti Saudara sedang menjalani sesuatu yang nanti ujungnya adalah kematian. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa kita sedang mencicipi kematian sekarang sampai nanti kita mencicipi kematian secara final. Kita sedang mencicipi maut sampai nanti kita akan mendapatkan maut secara total. Apa yang disebut dengan kehidupan lama di dalam maut? Yang paling jelas adalah kehidupan lama di dalam maut adalah kehidupan yang secara terpisah dari Tuhan dan umat dijalankan. Kalau saya tidak terlalu peduli ada Allah atau tidak, berarti saya akan tanggung hidup saya dalam kekuatan saya sendiri. Kita sedang mati ketika kita hidup tidak mencicipi ditopang dan dipelihara oleh Tuhan. Sangat menyenangkan untuk menyadari bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan, berkat besar yang dimiliki oleh orang Israel yang setia adalah ketika mereka sadar mereka senantiasa dipelihara oleh Tuhan. Jangan pikirkan memelihara itu seperti Saudara memelihara binatang, memelihara itu adalah tindakan orang tua ke anak, jadi bukan tindakan Saudara ke binatang peliharaan. Calvin sangat menekankan tentang God’s fatherly care, kepedulian Allah sebagai Bapa. Ada satu yang personal bagi Calvin, dia tidak pernah mengalami punya papa yang baik. Calvin merasa papanya bukan papa yang buruk, tapi juga bukan papa yang membuat dia bertumbuh, dia merasa terintimidasi oleh papanya. Ketika dia mempelajari Kitab Suci, tema yang sangat menyentuh dia adalah “Allah itu Bapa”. Dia mengatakan bahwa di sini dia diarahkan dari pergumulan dia untuk mencari sebenarnya papa itu seperti apa. Dia mendapatkannya dalam figur Allah dan itu yang membuat teologi dia berbicara tentang kebapaan dari Allah. Tema God’s fatherly care ini bukan back-up plan, banyak orang Kristen menjadikan pemeliharan Allah sebagai back-up plan “nanti kalau saya sudah gagal, baru minta tolong kepada Allah. Itu bukan memahami Allah sebagai Bapa, karena Bapa yang ini adalah Bapa yang memelihara semua ciptaan, tidak ada yang bisa bertahan kalau tidak dipelihara oleh Tuhan. Dan Bapa adalah Bapa yang senantiasa memelihara. Maka tema God’s fatherly care sangat penting bagi orang percaya. Calvin dengan peka mengatakan “engkau tidak mungkin menjadi Kristen, kecuali engkau menyadari bahwa Bapa memelihara engkau”. Kalau Saudara memperlakukan Allah sebagai back-up plan, kita akan kacau rohaninya. Tuhan memelihara kita dengan rencana total bagi kita. Dia bisa memelihara kita dengan kelimpahan, Dia bisa memelihara kita dengan memberikan sengsara. Mengapa Bapa memberikan sengsara? Kita tidak tahu cara kita bertumbuh seperti apa, hanya Sang Bapa yang tahu. Maka apa pun yang Dia berikan, itu adalah pernyataan kebaikanNya sebagai Bapa. Ini yang tidak dipahami oleh kedagingan.

Orang yang hidup dalam kedagingan, memikirkan hal-hal yang dari diri. Sekali lagi daging itu bukan fisik, daging tidak merasa nyaman dengan adanya Allah. Itu sebabnya saya sering mengulangi perkataan dari James K. A. Smith, dia mengatakan untuk menjawab Kekristenan Saudara apakah Saudara benar-benar Kristen, ini bukan masalah selamat atau tidak, ini move beyond, Saudara sekarang maju dalam kelimpahan yang lebih lagi. Yang harus Saudara jawab adalah pertanyaan apakah yang kamu cari dalam hidup, yang paling kamu inginkan itu apa? Apakah kita jawab seperti Agustinus, “yang paling aku inginkan adalah Tuhan”. Dan itu jawaban bijak karena kalau Tuhan menginginkan Tuhan, Saudara mendapatkan semua yang lain. Kalau Saudara hanya menginginkan salah satu aspek pemeliharaan Tuhan, nanti Saudara akan kehilangan Tuhan. Jadi Tuhan menyatakan diri sebagai Bapa yang memelihara. Dan jiwa kedagingan kita tidak mau itu. Kita ingin Allah sebagai yang melengkapi apa yang masih kurang dalam diri kita. Maka kita akan menyusun hidup tanpa Tuhan dengan berharap Tuhan akan tambahkan apa yang masih kurang dan ini sebenarnya adalah bentuk kematian, ini cicipan kematian. Sama seperti nanti saya akan membahas kita diizinkan mencicipi hidup yang baru. Kita juga sebenarnya sudah terlanjur menjalani cicipan kematian. Jadi kematian adalah ketika kita tidak mau memahami Allah sebagai Allah yang memelihara. Sulit sekali bagi kita untuk memahami bahwa Allah itu adalah Allah yang memelihara. Padahal di dalam memahami bahwa Allah adalah Allah yang memelihara, Saudara bukan menjadi orang yang pasif, Saudara akan menjadi orang yang digerakan oleh kasih. Biasanya orang akan mengatakan “kalau kamu percaya Allah yang sediakan, maka kamu akan pasif”, benar kita akan pasif kalau kita hanya menangkap satu sisi dari pemeliharaan Tuhan. Tapi sebenarnya ada sesuatu hal lain, dengan menyadari bahwa Allah memelihara, Saudara akan mulai muncul perasaan kasih kepada Dia, “kalau selama ini Tuhan yang cukupkan, maka saya dipelihara oleh Dia”. Di situ Saudara akan bergerak oleh kasih. Kasih itu kekuatan paling besar untuk orang bertindak. Tidak ada yang lebih mengerikan dari pada seekor kucing atau sejenisnya yang lebih besar, termasuk singa dan harimau, yang sedang melindungi anaknya. Mengapa induknya begitu berani? Karena ada anak. Kalau induknya melakukan itu demi mengamankan anak-anaknya, bukankah ini menjadi kuasa kasih yang bisa paralelkan dengan ini, yang bisa juga kita miliki. Yang paling mengerikan atau yang paling menggerakan orang adalah ketika seseorang itu digerakan oleh kasih. Mencintai membuat orang bertindak, mencintai tidak membuat orang pasif. Ketika kita mendapatkan cinta dari Tuhan, kita akan bertindak, kita tidak mungkin pasif. Lalu bagaimana memahami Allah mengasihi kita? Allah mengasihi kita dengan pemeliharaanNya setiap hari. Di dalam Doa Bapa Kami, kita memohon supaya Allah memberikan makanan kita hari ini, “give us today our daily bread, berikan kepada kami makanan kami hari ini”. Di dalam terjemahan baru, kata makan akan diubah menjadi roti. Karena roti memiliki makna teologis yang berkait dengan Perjanjian Lama dan Perjamuan Kudus. Roti bukan makanan rendah dalam pikiran orang Indonesia, akhirnya diganti makanan. Tapi aslinya adalah roti. Roti identik dengan nasi pada zaman sekarang, jadi Doa Bapa Kami memohon supaya Tuhan memberikan makanan pokok. Berarti bahwa pernyataan Allah mengasihi itu ada di dalam makanan yang kita terima setiap hari. Kita tidak bisa mengatakan “kalau aku benar dikasihi Tuhan, mengapa temanku lebih kaya dari pada aku?”, itu kalimat bodoh dari orang yang tidak mengerti bagaimana cinta Tuhan kepada dia. “Kalau benar Allah mengasihiku, mengapa aku tidak bisa keluar dari penderitaan ini? Itu kedagingan yang bicara. Kedagingan itu akan berusaha menjauhkan kita dari Tuhan, kita tidak cocok dengan Tuhan. Kalau pakai bahasanya Pdt. Eko, kita ini didesain untuk tidak compatible dengan Tuhan kalau kita didesain oleh dosa kita. Kedagingan membuat kita tidak cocok dengan Tuhan. Padahal di dalam rancangan Tuhan, kita ini diciptakan untuk tidak cocok dengan kedagingan, dosa, maut, kita tidak cocok dengan apa yang sekarang kita cocok. Kita akan mati dengan apa yang sekarang kita nikmati di dalam dosa. Kita adalah orang-orang yang tidak didesain untuk hidup di luar Tuhan, tapi dosa membuat diri kita bentur dengan Tuhan yang adalah sumber hidup kita. Hal pertama dari kedagingan adalah kedagingan membuat kita tidak cocok dengan Tuhan, apa yang Dia mau berikan kita hina, dan apa yang kita harap Dia berikan kepada kita itu yang menjadi ukuran. Dan itu akhirnya menjauhkan dari kita mengerti bahwa Allah itu kasih adanya. Dan kalau kita tidak tahu Allah itu kasih, kita akan mencari kasih di tempat-tempat yang salah. Kita akan dihiburkan oleh hal-hal yang salah, kita akan jatuh dalam tangan setan, dosa dan maut. Mengapa jatuh dalam tangan setan, dosa dan maut? “Maksud bapak kalau kita tidak mencintai Tuhan, kita menjadi penyembah Lucifer atau menjadi penyembah mamon atau menjadi penyembah baal atau apa pun itu?”, bukan, yang saya katakan adalah Saudara akan disenangkan oleh apa yang bukan Tuhan dan itu akan merendahkan kemanusiaan Saudara. Saudara akan direndahkan, dihancurkan oleh diri sendiri ketika Saudara tidak menyenangi Tuhan. Jadi sebenarnya kita sedang memerangi tendensi di dalam diri kita untuk tidak menyukai Tuhan, itu harus diperangi, tidak boleh dibiarkan hidup terus. Hatimu harus diperjuangkan untuk menjadi milik Tuhan, tidak bisa tidak. Karena mencintai Tuhan dan hati yang mengikuti Tuhan adalah bahagia paling besar yang Tuhan tawarkan kepada manusia. Bayangkan Agustinus mengalami pergumulan puncak untuk mencari Tuhan itu di Milan. Kalau Saudara melihat tahap hidupnya, tahap hidupnya di Milan adalah tahap tersukses dalam hidupnya. Dia diakui sebagai pengajar besar di Milan, Milan adalah kota paling maju di abad ke-5. Kemampuan Agustinus untuk menjadi orang kunci di dunia retorika, di dunia studi di Milan, membuat dia menjadi pengajar terpenting di dunia. Dia adalah orang yang sudah berdiskusi dengan ahli-ahli Platonis yang seudah terkenal dan menemukan mereka terlalu bodoh. Bayangkan orang bicara dengan orang-orang yang diakui pintar di dunia, dan kesimpulan dia mereka bodoh. Saudara bisa tahu orang ini pintarnya seperti apa, kalau Pak Tong mengatakan sepertinya sel otaknya lebih banyak dari kita 2 atau 3 kali. Agustinus berada pada puncak karier, dia diakui sebagai orang penting, dan dia juga ditawari untuk menjadi suami dari anak perempuan orang-orang kaya, orang kaya ingin supaya anak perempuannya menikah dengan Agustinus, mungkin supaya memperbaiki cucu, jadi cucunya lumayan pintar. Dia berada di puncak karier, dan di Milan dia merasa kosong, karena terlalu kosongnya, dia pergi ke gereja. Orang ini adalah orang yang menghina Kekristenan, dia selalu menganggap Kekristenan adalah ekspresi neo-platonis bagi orang bodoh. Jadi bagi orang-orang level bawah, Kristen itu cocok, tapi bagi orang-orang pintar seperti dia, Kristen itu tidak cocok. Lalu di dalam keadaan kosong, dia mencari gereja, Saudara bayangkan dia seperti menelan ludah sendiri. Dia mendengarkan khotbah dari Ambrose dan dia sangat tersentuh dengan apa yang diberitakan oleh Ambrose. Dia menyadari hidupnya kosong. Mengapa sadar hidupnya kosong waktu sukses? Saya mau membuat Saudara tidak perlu capek-capek, banyak orang berpikir “saya ini hidupnya masih kosong karena memang belum berhasil, saya masih dalam perjalanan mencapai puncak”. Agustinus sudah berada di situ dan justru dia merasa paling kosong di situ. Orang punya kecenderungan merasa kosong ketika apa yang dia harapkan dicapainya. Orang yang punya cita-cita menjadi sukses, waktu sudah sukses jadi bingung “mengapa seperti ini ya?”. Ini sebenarnya yang manusia akan alami dalam level yang berbeda-beda, hidupnya kosong. Saya tidak tahu dengan bahasa apa Alkitab harus dinyatakan kepada kita kalau kita masih keraskan hati untuk membuat kita sadar bahwa hidup kita ini kosong. Kita akan kosong jika tanpa Tuhan. Tapi kedagingan kita akan menyeret kita dalam maut karena kita berpikir kita bisa hidup tanpa Tuhan. Kalau kita tidak kenal kita dipelihara, kita akan kehilangan kasih, itu sebenarnya intinya. Kalau Saudara merasa kekayaan Saudara sekarang adalah hasil kejeniusan Saudara, merasa kesuksesan Saudara sekarang adalah hasil kemampuan Saudara, Saudara merasa tidak diberi. Dan kalau Saudara merasa tidak diberi, Saudara tidak merasa dikasihi. Dan kalau Saudara merasa tidak dikasihi, hidup Saudara tidak akan limpah. Dan Saudara akan mencari kasih di tempat yang salah. Hal pertama yang kedagingan bagikan adalah perasaan kita bisa hidup tanpa Tuhan. Itu tidak cocok dengan desain kita, kita di-desain untuk berelasi dengan Tuhan. Menerima dikasihi oleh Tuhan.