NATAL SISWA BANDUNG 2022

Dipimpin oleh Pdt. Jimmy Pardede, pada hari Rabu, 14 Desember 2022: Pk. 10.00-12.00 untuk SD Pk. 13.00-15.00 untuk SMP & SMA Di Sudirman Grand Ballroom, Jl. Jendral Sudirman No. 620, Bandung. Info: 0851-0507-1880 (WA)

KEBAKTIAN & KONSER NATAL BANDUNG 2022

Dengan tema “Keindahan Inkarnasi Kristus” dipimpin oleh Pdt. Jimmy Pardede. Dan Konser Natal yang menampilkan karya dari Bach, Handel, Saint-Saens dan lain-lain di-conduct oleh Vik. Feby Novitania. Pada hari Rabu, 14 Desember 2022, Pk. 18.30 WIB. Di Sudirman Grand Ballroom, Jl. Jendral Sudirman No. 620, Bandung. Pendaftaran: bit.ly/kebaktiankonsernatalbdg2022. Info: 0851-0507-1880 (WA)

GATHERING REMAJA GRII BANDUNG

Pada hari Sabtu, 10 Desember 2022, pk. 06.30-13.00 WIB di Tamah Hutan Raya. Biaya: Rp. 50.000 (termasuk makan siang, tiket & transportasi). Pendaftaran paling lambat Kamis, 8 Desember 2022 ke Ibu Kezia (0822-2150-1132) dan Ibu Ervin (0818-0962-7810)

RALLY DOA NATAL

Dipimpin oleh Pdt. Jimmy Pardede pada Senin, 5 Desember 2022, pk. 19.00 WIB. Hanya secara fisik, tidak ada live streaming.

Name above All Names

Filipi 2: 9-11 demikian firman Tuhan, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”. Kita sampai pada bagian tentang pemuliaan Kristus dan kita akan mendengarkan pengertian mengenai pemberian nama. Di dalam tradisi Israel ada peristiwa penting tentang nama yaitu peristiwa ketika Tuhan memanggil Israel. Sebelum itu pemberian nama atau makna nama mempunyai pengertian yang tidak sebesar ketika Israel dipanggil keluar. Ada dua kali ketika nama diperkenalkan di dalam Kitab Suci sebelum Israel. Di dalam Kitab Kejadian Tuhan menciptakan manusia meskipun Tuhan tidak memberi pengertian atau tidak ada kalimat langsung Tuhan menamai manusia-manusia, tapi nama manusia sudah dinyatakan. Tuhan mengatakan “marilah kita menciptakan manusia berdasarkan gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa”. Nama manusia berkaitan dengan ke penguasaan dari ciptaan Tuhan yang satu ini. Seluruh manusia yang penuhi bumi Tuhan berikan kemampuan mendominasi ciptaan. Tuhan memberikan kemampuan untuk mengatur dan mengelola seluruh ciptaan. Inilah penaklukan yang harus dilakukan oleh manusia, mengelola, membuat baik, membuat teratur membuat limpah. Penaklukan bukan berarti ada musuh lalu dihancurkan. Penaklukan berarti dampak dari pekerjaan musuh saya kalahkan dengan dampak dari pekerjaan saya, itulah penaklukan. Saudara tidak menghancurkan setan dengan mengusir dia saja, tapi Saudara menghancurkan setan dengan melakukan pekerjaan yang menghancurkan pekerjaan setan. Kekacauan di bumi disingkirkan oleh karena Tuhan memakai manusia untuk menaklukkan dampak dari kekacauan. Kekacauan tidak lagi ada karena sudah ada keteraturan yang dikerjakan oleh manusia. Maka penaklukan bukan berarti “saya mampu kalahkan musuh”, penaklukan berarti “saya mampu kalahkan efek dari pekerjaan musuh”. Saudara bisa jadi orang yang bisa hancurkan orang, bisa pukul orang, bisa mengalahkan lewat perang, tetapi itu bukan penaklukan yang Tuhan mau. Tuhan mau segala jejak pekerjaan setan yang rusak atau segala dampak dari kekacauan dibalikan oleh manusia. Sehingga pekerjaan manusia akan menjadi nyata, yaitu tadinya kacau sekarang teratur, tadinya empty sekarang limpah, tadinya gelap sekarang terang, tadinya penuh dengan keadaan yang rusak sekarang penuh dengan keadaan yang memberikan damai sejahtera, inilah kemenangan. Saudara kalau mengatakan “saya mau kalahkan setan”, bagaimana caranya? Saudara mengalahkan setan dengan menghancurkan efek dari pekerjaan dia. Kalahkan setan dengan hancurkan efeknya di dalam hatimu. Saudara yang terus ada di dalam dosa, bertobat, jangan terus kalah sama setan. Saudara menaklukkan dampak dari efek pekerjaan dia, dampak dari pekerjaan dia. “Saya tadinya egois, saya tadinya kasar, saya tadinya penuh dengan kebencian sekarang berubah. Aku penuh dengan cinta kasih, aku penuh dengan kerinduan untuk menikmati hal-hal baik dari Tuhan. aku penuh dengan kemungkinan menyalurkan sifat-sifat Tuhan, itu namanya kemenangan. Itu sebabnya kalau Saudara melihat kemenangan di dalam bentuk perang versi dunia, Saudara akan mengatakan yang bisa menang adalah yang paling kuat, siapa yang punya senjata lebih kuat, dia menang. Kalau musuh punya senjata kuat, saya punya senjata lebih kuat lagi. Tapi Paulus mengatakan “kami punya persenjataan bukan untuk meruntuhkan, tetapi untuk membangun. Kami membangun bukan meruntuhkan”, itulah kemenangan. Maka tidak ada kemenangan di dalam mengalahkan musuh, yang ada adalah kemenangan di dalam membalikkan pekerjaan musuh. Saya percaya salah satu bentuk kemenangan di dalam sejarah dunia adalah kemenangan Kristen, waktu orang Kristen membalikan kekacauan dari kebudayaan menjadi indah dan bagus, itulah kemenangan. Ketika ada kebudayaan makan orang, lalu ada misionaris datang memberitakan Injil, orang-orang di sana menerima Kristus lalu dididik, “kamu tidak boleh bunuh orang, kamu tidak boleh makan orang, kamu mesti belajar mengampuni, kamu mesti punya kebudayaan yang adil dan tidak keras”, ini akan mengubah. Waktu orang-orang berubah dari yang tadinya keras, kasar, jahat menjadi teratur, menjadi baik, menjadi penuh keadilan, ini namanya kemenangan. Maka tidak ada kebudayaan yang lebih kuat di dalam menyatakan kemenangan selain kebudayaan Kristen. Ketika agama Kristen masuk, kebudayaan berubah, kebudayaan yang tadinya buruk menjadi baik. Banyak orang mengatakan “Kristen tidak boleh merusak kebudayaan, kami mencintai kebudayaan kami. Kebudayaan kami adalah segalanya”, ini sikap yang tidak benar karena setiap kebudayaan mengandung kejaTuhan, setiap kebudayaan ada kekacauan yang mesti diperbaiki. Apakah seluruh kebudayaan manusia hancur? Tentu tidak, ada aspek baik yang Tuhan pertahankan. Namun aspek buruk ini akan dibalikkan oleh Kekristenan, yang tadinya penuh kebencian menjadi penuh cinta kasih, yang tadinya penuh dendam menjadi penuh pengampunan, yang tadinya penuh penghancuran sekarang menjadi sifat membangun, menjadi rindu membangun keadaan yang lebih baik. Itu sebabnya kemenangan sejati adalah pembalikan efek dari si jahat. Manusia diciptakan di dunia untuk menaklukkan, membuat efek kacau balau diganti dengan keteraturan, membuat efek rusak, kosong, gelap diganti dengan efek baik, efek teratur dan juga terang dari Tuhan. Maka manusia adalah gambar Allah, sebab di mana Allah menyatakan diri segala yang kacau sirna. Di mana Allah menyatakan diri, yang kelam hilang. Di mana Allah menyatakan diri, yang kosong menjadi limpah. 

Manusia yang Ditinggikan

Kita membaca Filipi 2: 8-11, kita membaca bagian terakhir dari tema tentang inkarnasi Kristus, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”. Bagian ini adalah bagian tentang peninggian Kristus karena Dia rela direndahkan maka Allah meninggikan Dia. Saudara jangan tafsirkan ini sebagai setiap orang yang rela rendah pasti akan ditinggikan. Tapi yang jadi tekanan di dalam bagian ini adalah setiap orang yang rela dipakai Tuhan meskipun berarti dia harus jadi rendah, orang ini akan ditinggikan. Kristus adalah orang yang rela dipakai sampai titik paling rendah, maka Tuhan mengaruniakan Dia nama di atas segala nama. Seringkali kita menafsirkan bagian ini sebagai kemuliaan Kristus yang memang dari awal sudah Dia miliki, Dia kan Allah sebagai Allah tentu Dia lebih tinggi dari siapapun, sebagai Allah tentu segala lidah harus mengaku Dia, sebagai Allah tentu segala lutut harus ditekukkan untuk menyembah Dia. Sebagai Allah bukankah memang Dia berkuasa atas segala yang ada di langit yang ada di bumi yang ada di bawah bumi yang ada di laut. Tapi bagian ini adalah bagian gema dari Kejadian 1. Di dalam kejadian 1 dikatakan Tuhan menciptakan manusia berdasarkan gambar dan rupa Allah, dan Tuhan memerintahkan manusia untuk beranak cucu, bertambah banyak, dan penuhi bumi dan taklukkanlah itu. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, atas burung-burung di udara, atas binatang di darat, ini yang Tuhan genapkan di dalam Kristus. Jadi di sini yang mau ditekankan oleh Filipi adalah Kristus menurut natur manusiaNya. Karena kalau kita tidak mengerti ini, kita akan terus mengadakan pembedaan antara Kristus dan kita karena memang Dia punya natur Ilahi, bukan? Yesus adalah Allah, tapi jangan lupa di sisi lain Dia juga adalah manusia, 2 natur dalam satu pribadi. Di dalam zaman yang abad ke-1 dan abad ke-2 pada ajaran bidat yang beda dan yang sering terjadi di zaman kita sekarang. Pada zaman kita yang paling banyak menentang Kristus, menentang Dia dan menentang keilahianNya “apakah benar Yesus Allah? Jangan percaya Dia Allah, Dia hanya manusia, Dia manusia yang lebih hebat dari kita, Dia nabi tapi Dia bukan Allah”. Islam tidak percaya Yesus adalah Allah, Saksi Yehova tidak percaya Yesus itu satu substansi dengan Bapa. Jadi ajaran bidat dari Saksi Yehova mengatakan Yesus bukan Allah. Ajaran Islam yang tidak mengerti Kekristenan, yang mengacaukan iman Kristen, yang salah paham dari awal, adalah agama yang menolak Yesus adalah Allah. Tapi di abad ke-1 dan ke-2 bidat yang muncul adalah bidat yang menolak Yesus itu manusia. Yesus adalah Allah dan Allah tidak mungkin ada tubuh, maka tubuh Yesus lain dengan tubuh kita. “Yesus adalah Allah, maka waktu Dia menjadi manusia tidak mungkin Dia manusia yang sama dengan kita, karena Dia adalah Allah. Jadi Dia adalah manusia yang lebih tinggi dari kita”, ini adalah bidat. Karena kalau kita tidak percaya Dia menjadi manusia maka kita tidak percaya iman Kristen yang sejati. Di dalam Surat Yohanes yang pertama, di 1 Yohanes, Yohanes menekankan bahwa dia memberitakan tentang Yesus yang dia lihat, yang dia raba dengan tangannya, tentang firman hidup yang jadi manusia. Maka siapa tidak percaya Dia adalah manusia, itu bidat. Jadi di dalam Perjanjian Baru bidat yang dilawan adalah yang mengatakan Yesus bukan manusia. Sekarang kita berhadapan dengan orang yang mengatakan Yesus bukan Allah. Akhirnya kita punya kecenderungan menekankan Dia adalah Allah. Tapi tanpa sadar kita mungkin jatuh ke dalam bidat yang lain. Ini kesulitan menjadi orang Kristen yang tidak mengerti Pengakuan Iman dan yang juga tidak tahu bidat apa yang sedang dilawan. Sehingga waktu kita menekankan satu aspek, kita menekankan terlalu besar, sehingga kita menjadi bidat yang lain. Di dalam Konsili Kalsedon dikatakan Yesus mempunyai dua natur dan orang-orang seperti Nestorius dan seperti Eutikes tahu hal ini. Nestorius mengatakan Yesus memang punya dua natur, maka jangan samakan kemanusiaanNya dan ke-Allah-anNya. Akhirnya Nestorius seperti pecahkan Yesus ada 2 pribadi. Eutikes melawan ini, dia tidak setuju dengan Nestorius, dia justru menekankan percampuran natur. Jadi ini dari bidat yang satu lari ke bidat yang lain, ekstrem 1 dilawan dengan ekstrem lain. Manusia selalu punya kecenderungan ini. Kadang-kadang kita juga lakukan inni, ekstrem satu dilawan dengan ekstrem lain yang mengatakan “jangan terlalu sibuk pelayanan. Ayo, perhatikan keluarga, karena kamu terlalu sibuk pelayanan, kamu tidak perhatikan keluarga”. Akhirnya menjadi ekstrem, “sudah jangan pelayanan, perhatikan keluarga dulu. Nanti kalau seluruh keluarga sudah jadi malaikat, baru pelayanan”, kapan keluarga jadi malaikat? Ekstrem lain, jangan cuma pikirkan dirimu, pelayanan, “keluarga kalau berantakan bagaimana?”, nanti Tuhan yang atur, itu bukan urusanmu, ini ekstrem ke ekstrem. Jangan lari dari satu ekstrem lalu pergi ke ekstrem lain. Harap kita petakan dengan jelas di pikiran kita, ekstrem apa saja yang ada, dan saya waspadai tidak jatuh ke situ. Kita lawan orang-orang yang mengatakan Yesus bukan Allah, tapi kita lupa bahwa mengatakan Yesus bukan manusia itu juga bidat. Kalau kita mengatakan “Yesus ditinggikan”, memang karena Dia Allah. Dia bukan ditinggikan sebagai Allah, sebagai Allah dia tidak perlu ditinggikan, Dia sudah tinggi. Tapi di sini mau menekankan fakta bahwa manusia yang gagal, dari Adam sampai kita, diperbaiki oleh manusia yang berhasil yaitu Yesus Kristus. Itu sebabnya di dalam ayat 8 dikatakan “dalam keadaan sebagai manusia Ia merendahkan diri”, ayat 9 “itu sebabnya Allah sangat meninggikan Dia”. Mengapa Allah meninggikan Dia? Karena Dia dulu rela direndahkan, berarti Dia rela direndahkan di dalam manusiaNya. Dia adalah Pribadi Juruselamat, tapi Dia direndahkan menurut natur manusianya. Maka waktu Dia ditinggikan, yang ditinggikan adalah Pribadi Kristus, juga menurut natur manusiaNya. Peninggian diri Kristus menunjukkan ada manusia yang berhasil dan karena Dia berhasil, Dia berhak menjadi kepala kita. Sama seperti Dia berhasil, kita semua akan berhasil. Berhasil kerjakan tugas yang Tuhan percayakan kepada manusia dari awal. 

Salib dan Tritunggal

Mari kita melanjutkan membaca dari surat Filipi, kita membaca Filipi 2: 6-11 “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”. Saudara sekalian ketika kita mengerti tentang perendahan diri Kristus, maka umumnya kita memahaminya sebagai perendahan diri Kristus saja, Pribadi Kedua yang rela datang menjadi manusia dan menderita. Tetapi kalau Saudara melihat penjelasan Kitab Suci tentang Kristus, Dia adalah yang benar-benar, yang secara sempurna menyatakan Allah. Jadi sebenarnya apa yang ada di dalam Kristus itu ada di dalam Bapa. Sifat yang sama yang ada pada Kristus ini adalah sifat yang sama ada pada Bapa. Biasanya orang akan tanya pertanyaan yang sangat tidak mengerti teologi sebenarnya atau tidak mengerti firman Tuhan. Ketika mengatakan “mengapa Yesus Kristus yang datang? Mengapa Anak yang datang? Mengapa tidak Bapa sendiri yang datang? Kalau begitu besar kasih Bapa kepada dunia, mengapa Dia tidak sendiri jalankan itu? Tapi kita tidak bisa menafsirkan Tuhan semau kita, kita bukan hakim. Kita adalah murid yang sedang belajar, bahkan hamba yang sedang mengenal tuannya. Hamba mengenal Tuhan bukan dengan memberi masukan kepada tuan, tapi hamba mengenal tuan dengan mengagumi setiap pengertian baru yang dibukakan kepada kita. Saudara punya kehidupan yang sebenarnya limpah kalau Saudara mengalami pernyataan Tuhan yang mencerahkan Saudara. Sehingga Saudara bukan bertanya “mengapa tidak begini? Mengapa begitu?”, tapi sudah malah menjadi sebaliknya, Saudara menjadi kagum ketika Tuhan menyatakan diri. Saudara mengatakan “ini ternyata Allah kami, seperti ini Dia menyatakan diri”, ini yang membawa kita kepada kekaguman kepada Allah. Itu sebabnya setiap zaman akan menghasilkan dua jenis manusia, manusia pertama adalah manusia yang tidak pernah mengerti keagungan dari Tuhan. Tidak pernah tersentuh hatinya, tidak pernah digairahkan untuk kenal Tuhan, tidak pernah ada kerinduan untuk makin mengerti supaya makin menikmati Tuhan. Bagi orang model begini, menikmati Tuhan itu adalah hal asing, dia terlalu banyak disibukkan oleh kesenangan yang palsu, terlalu banyak dikacaukan oleh hal-hal yang bohong dari dunia ini. Sehingga dia tidak menemukan tempat untuk menikmati Tuhan. Seorang teolog bernama Agustinus menjadi tokoh sangat penting karena dia terus mengingatkan bahwa satu-satunya kemungkinan manusia bisa menikmati kemanusiaannya adalah ketika dia menikmati mengenal Tuhan. Ketika dia mengagumi Tuhannya, inilah yang kemudian mempengaruhi Reformasi. Beberapa ahli sejarah gereja mengatakan bahwa Martin Luther bukan cuma memberikan kebangunan mengenal Injil, tapi Martin Luther juga memberikan sumbangsih, memberikan kebangunan teologi Agustinus. Banyak hal dari Agustinus yang dilupakan, yang digali dan diangkat kembali oleh Luther. Maka Reformasi bukan pemberontakan terhadap masa lalu, Reformasi adalah bangunan untuk mengenang masa lalu yang baik. Di dalam sejarah gereja begitu banyak hal baik. Dan Reformasi mengangkatnya kembali. Salah satu tema yang sangat penting adalah tentang menikmati Tuhan. Mengapa engkau menikmati dosa? Karena engkau tidak tahu bahwa menikmati Tuhan lebih limpah daripada menikmati dosa. Mengapa kita terkurung di dalam keserakahan? Karena kita tidak tahu bahwa kelegaan mengenal Allah sebagai Pemelihara adalah obat bagi segala bentuk keserakahan. Mengapa kita diikat oleh hawa nafsu? Karena kita tidak tahu bahwa gairah akan kekudusan Tuhan sebenarnya adalah yang membuat kesenangan paling utama bagi kita. Intinya adalah mengapa kita berdosa? Karena kita tidak tahu betapa menyenangkannya Tuhan. Di abad 21 seorang pemikir Kanada, seorang teolog bernama James Smith mengingatkan kita akan Agustinus dan tema ini. Dia mengatakan terlalu sering kita menjadikan Kekristenan itu kewajiban yang tidak disertai dengan gairah dan keinginan. Kita tidak terlalu ingin jadi Kristen, tapi kita tidak punya pilihan. Kalau tidak Kristen jadi apa? Sehingga kita menjadi orang Kristen karena alternatif lain terlalu buruk. Kalau jadi Islam lebih parah, kalau atheis tidak ada harapan, kalau menjadi agama Hindu atau Budhis lebih parah dalam ajaran, sehingga kita memilih Kristen. Mungkin karena pengaruh dari orang tua atau karena kita tidak punya pilihan lain. Maka kita menjadi Kristen tapi kita tidak tahu mengapa kita harus ngotot menjadi Kristen. Apa yang ditekankan oleh Agustinus ini diangkat kembali oleh Luther di dalam Reformasi dan diangkat kembali oleh James Smith di abad 21. Mari belajar menikmati Tuhan, mari belajar dipuaskan oleh Tuhan, mari belajar menikmati kemuliaan Tuhan, mari belajar puas dengan kekudusan Tuhan. Ini tema-tema yang banyak kali dilupakan, bahkan ketika diingatkan kembali pun di dalam waktu yang singkat kembali dilupakan. Siapa mau jadi Kristen, dia jadi Kristen karena dia tahu disinilah kesempurnaan menikmati hidup sebagai manusia. Saya pernah ingatkan Saudara bahwa orang Kristen itu bukan orang yang senang menderita, tapi orang Kristen itu tahu bahwa menderita lebih menyenangkan daripada kehilangan Kristus. Menderita tidak menyenangkan, tapi jauh lebih tidak menyenangkan kehilangan Kristus. Menderita begitu menyusahkan, tapi jauh lebih menyusahkan tidak mengenal Tuhan. Pak Tong pernah mengatakan ada orang mengatakan “repot ya jadi orang Kristen, mesti ini mesti itu, mesti lakukan ini melakukan itu”. Tapi Pak Tong mengatakan “jauh lebih repat jadi orang atheis, jauh lebih repot tidak punya Tuhan”, perspektif ini yang perlu kita miliki. Kadang-kadang kita tidak sadar bahwa ketika firman Tuhan diberikan, firman Tuhan itu mengubah perspektif, bukan menambah informasi. Sayangnya kita sibuk menerima informasi baru, tambah informasi, tambah informasi, tambah informasi, tapi informasinya ditaruh di atas kerangka berpikir yang lama, dan ini yang membuat tidak nyambung. Demikian cara berpikir lama dicopot dan cara berpikir baru ditaruh di tempat cara berpikir kita yang tadinya begitu rusak dan salah. Itu sebabnya siapa Kenal Tuhan, dia harus tahu bahwa Tuhan adalah sumber dari segala kenikmatan. Kadang-kadang kita kita begitu gampang di pesonakan oleh lagu populer yang simple, yang tidak memperdalam kemanusiaan kita. Tapi kalau Saudara menyanyikan lagu kedua, As a Deer in Want of water, Saudara tahu kata-kata dari Mazmur 42 adalah kata-kata ratapan dan kata-kata cinta kasih paling indah sepanjang sejarah manusia. Tidak ada kata-kata cinta, kata-kata kerinduan yang bisa lebih dalam dari ini. Kita terlalu banyak diisi oleh kisah romantis picisan, kisah romantis antara laki-laki dan perempuan yang dangkal. Tapi kisah kerinduan manusia akan Tuhan tidak bisa dikalahkan oleh kerinduan satu manusia kepada manusia lain. Maka kalau kita membaca kalimat dari Mazmur 42 atau kita menyanyikan gubahan yang sudah berumur 500 tahun ini, kita tahu bahwa ada orang-orang yang mengerti bagaimana menikmati kemanusiaan didalam Tuhan. Dan mereka tahu kalau ini tidak ada, mereka kehilangan aspek paling utama dan kemanusiaan mereka. Mereka tidak menangis karena hilang uang, mereka tidak menangis karena hilang jabatan, mereka menangis karena merasa ditinggalkan Tuhan. Dan ini yang kita warisi sebagai pergumulan, “saya tidak mau kehilangan Tuhan, saya tidak mau tidak ada Tuhan, saya tidak mau tidak disertai Tuhan”, kalau Saudara ditanya “apakah kau yakin Tuhan menyertaimu, memimpin, memenuhi dirimu dengan RohNya?”, banyak orang Kristen mengatakan “tidak tahu”, dan dia bisa lakukan itu dengan straight face, dengan wajah yang tenang seperti tidak ada masalah. “Apakah kamu disertai Tuhan?”, “tidak tahu, yang disertai Tuhan kan biasanya pendeta dan hamba Tuhan”. Tetapi kalau Saudara tidak disertai Tuhan, lalu mengapa hidup, untuk apa hidup tanpa Tuhan? Untuk apa hidup tidak ada Tuhan di dalam hidup, untuk apa melangkah jika tidak ada Tuhan yang memimpin di masa depan. Tapi kita terlalu mengabaikan fakta bahwa kita tidak disertai Tuhan. Apakah saya disertai Tuhan? Tidak tahu. Kalau tidak tahu mengapa tidak mati-matian cari tahu bagaimana caranya disertai Tuhan. Banyak orang cuma berpikir tentang keselamatan, satu kali dapat, selamanya dipegang. Tapi ini adalah cara mengerti dan menikmati tuan paling bodoh. Karena Saudara seperti mendapatkan kepastian, satu momen percaya selamanya boleh melupakan Tuhan. Di Mazmur itu dikatakan “saya seperti rusa yang mau mati kalau tidak ada Tuhan”. Tapi sekali lagi, kita terlalu mengabaikan hal terpenting dalam hidup manusia, yaitu kehadiran Tuhan. Jika kehadiran Tuhan begitu penting, mengapa tidak mengejarnya, mengapa tidak mau, mengapa kita tidak mati-matian cari tahu, mengapa kita tidak perjuangkan, mengapa kita terlalu mengizinkan hal paling utama dalam hidup kita hilang? Saya mau tanya mana lebih penting, disertai Tuhan atau 4 miliar? Semua kita mengatakan dengan mulut yang suci “Tuhan menyertai lebih penting”, tapi hati kita yang paling dalam mengatakan “dimana 4 miliar? Saya mau kejar itu”. Satu hal penting yang diajarkan waktu saya bergabung di gerakan ini adalah hal paling bahagia bukan dapat uang, tapi keluarkan uang untuk pekerjaan Tuhan. Dan saya membuktikan bahwa ketika orang rela mengeluarkan apa untuk pekerjaan Tuhan dengan rela hati, Tuhan tidak akan tinggalkan. Maka waktu orang mengatakan “saya mau disertai Tuhan”, bagaimana caranya, saya mau tahu. Mungkin saya salah berpikir tentang Tuhan, perbaiki kerangka berpikir saya. Mengapa aku kurang menikmati Dia, mengapa aku tidak memikirkan tentang kehadiranNya? Mengapa aku tidak pedulikan Dia? Ini yang harus kita cari. Dan sebelum kita dapat, kita mati-matian mengatakan “saya ingin mendapatkan”. Agustinus mengatakan kalimat indah mengutip dari Musa, “aku harus lihat wajahMu”, tapi lihat wajah Tuhan bisa mati, “mati pun tidak apa-apa, aku harus lihat wajahMu”. Itulah sebabnya kalimat-kalimat paling agung di sepanjang sejarah manusia datang dari Kitab Suci, bukan dari surat romantis, bukan dari biografi manusia yang hina dan tidak berbijaksana, bukan dari kisah cinta artis, itu kisah paling remeh yang harusnya masuk tempat sampah. Saya paling benci dengan orang-orang yang mengagumi artis-artis yang hidupnya kacau, mereka tidak mengerti apa itu manusia yang agung. Mereka cuma mengerti populer, mereka cuma pamerkan tampang yang bagus. Tapi mereka sampah, terlalu banyak orang mengagumi sampah, dan terlalu banyak orang menyampahkan keagungan. Dan ini membuat saya berpikir sepertinya manusia tidak ada harapan, generasi baru makin bodoh, anak-anak muda makin bodoh. Anak-anak muda punya hidup makin bodoh. Dan seperti tidak ada cara untuk masuk ke dalam hati. Tapi kalau kita minta “Tuhan, celikkan saya. Tuhan berikan saya pengertian. Tuhan buat saya melihat bahwa saya perlu Engkau”, baru kita bisa menjalani kemanusiaan kita dengan baik. Itu sebabnya siapa jadi orang Kristen dia harus jawab pertanyaan ini, apa saya jadi Kristen karena terpaksa? Apa saya jadi Kristen karena tidak ada opsi lain? Atau saya jadi Kristen karena inilah harta paling indah untuk hidup saya? Seandainya ada ancaman bagi saya “jika engkau Kristen, saya siksa kamu, jika kamu Kristen, saya bunuh kamu”, apakah kita masih mengatakan “saya tetap akan Kristen”, karena ini kesenangan paling tinggi, ini kesempurnaan menjadi manusia, inilah yang membuat saya menikmati kehidupanku sebagai manusia. Itu sebabnya mari belajar pikiran kita diubah, mari belajar menikmati kenal Tuhan dengan cara yang menggugah. Dengan cara yang membuat Saudara mau mengatakan “saya mau tinggalkan hidup yang lama demi dapat hidup yang baru ini”. Ketika Paulus memperkenalkan tentang Kristus, dia tidak pernah perkenalkan Kristus dengan cara yang hanya bersifat teknis, “ini doktrinnya, ini yang kita percaya, ini doktrin benar, ini doktrin salah”, tidak. Dia menyampaikan tentang Kristus dengan menantang cara memandang hidup yang dimiliki oleh pendengar atau pembacanya. Engkau mau kenal Kristus, yakin? Karena jika engkau mau kenal, pengenalan akan Kristus akan meresikokan cara pikirmu yang lama. Mengenal Kristus akan mengganti cara berpikirmu yang sebelumnya. Kesenanganmu yang paling tinggi, kekagumanmu yang paling besar diubah oleh Kristus. Itu sebabnya Kitab Suci mengingatkan satu-satunya cara mengenal isi hati paling dalam dari Allah adalah lewat Kristus. 

Sickness Unto Death

Filipi 2: 5-11, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!.”

Kita sudah membahas mengenai kerelaan Kristus untuk kehilangan kemuliaan yang dipancarkan setara dengan Allah. Dia mengambil pernyataan pancaran dari seorang hamba. Dan di dalam pengertian dari Kitab Suci, terutama di dalam surat Paulus, ternyata ini adalah cara menyatakan diri yang sangat agung dari Tuhan. Martin luther menyadari ini di dalam Heidelberg Disputation, dia mempunyai tema teologi yang sangat penting bahwa mulianya Allah adalah mulia yang tidak diantisipasi oleh manusia. Tidak ada yang sangka bahwa ternyata kemulian Allah dinyatakan lewat kerendahan. Allah mulia? Iya, tahu dari mana Dia mulia? Karena Dia rela rendahkan diri. Waktu Dia rela kosongkan diri, Dia bahkan rela mati di kayu salib, ini adalah kemuliaan tentang Tuhan yang tidak pernah ada dalam pikiran manusia. Ini kita sudah dengarkan di pertemuan yang lalu, ketika manusia memikirkan tentang Tuhan, maka manusia punya satu insting bahwa Tuhan itu adalah yang paling tinggi. Maka beberapa pemikir sudah menyatakan ini misalnya Blaise Pascal mengatakan di dalam diri manusia ada kerinduan akan yang tidak terbatas dan agung. Juga di dalam pengertian dari Anselm di abad pertengahan, dia mengatakan bahwa Allah adalah yang paling tinggi yang pikiran manusia bisa pikirkan. Demikian juga dikatakan oleh seorang yang meskipun seorang atheis, tapi tetap mengikuti jalur pikiran yang sama, yaitu Ludwig Feuerbach yang mengatakan bahwa Tuhan adalah proyeksi kesempurnaan yang memang manusia miliki. Jadi manusia memikirkan tentang Tuhan yang tinggi dan besar dan agung.

Kitab Perjanjian Baru memberitakan tentang Tuhan yang rendah, yang hina, yang rela kosongkan diri. Bagi Paulus ini adalah sesuatu yang melampaui kemampuan manusia berpikir, ini paradoks. Waktu kita berpikir, Tuhan lebih tinggi dari yang mampu kita pikirkan, ternyata arah pikiran kita tentang mulia pun salah. Apa itu mulia? Paling tinggi itu mulia. Tapi Yesus mengatakan bukan, paling tinggi itu bukan mulia, paling tinggi itu kalau sudah mulia rela merendah itu baru tinggi. Sudah tinggi rela turun, itu baru tinggi. Sudah agung rela hina, itu baru tinggi. Dan ini tidak mampu dipikir oleh manusia. Itu sebabnya Paulus dan Luther memiliki konsep berpikir yang tidak ada pada manusia lain. Tuhan tidak bisa kita pahami dengan sepenuhnya, karena kita terus berpikir yang mulia itu pasti tinggi, kalau kedudukanku tambah tinggi, aku tambah mulia. Kalau aku tambah hebat, aku tambah mulia. Kalau aku tambah diakui, aku tambah mulia. Kalau karierku makin naik, aku makin mulia. Tetapi ada perkenalan tentang kemuliaan Tuhan, yaitu kemuliaan yang rela turun, kemuliaan yang rela kehilangan kemuliaan, kemuliaan yang rela kehilangan ketinggian posisi sebagai Allah dan mengambil posisi sebagai budak. Kita mempunyai konsep tentang budak yang kadang-kadang dikacaukan dengan kata hamba, karena hamba jadi seperti perkataan mulia. “Siapa engkau?” “hamba Allah,” “Wah, hamba mulia,” tidak ada konsep hamba mulia di dalam Alkitab. Alkitab pakai kata doulos, servant, atau bahkan slave. Jadi, di sini Tuhan yang mulia mengambil posisi manusia paling rendah.

Filipi adalah kelompok manusia yang sangat menyukai tradisi Romawi, mereka bangga diakui sebagai kota yang penting bagi Roma. Dan mereka bangga bahwa mereka mengadopsi begitu banyak budaya Roma. Meskipun kota Filipi didirikan oleh seorang raja Makedonia dan ada di dalam wilayah Yunani, tetapi mereka sangat bangga mempunyai kedudukan yang diakui oleh Romawi. Sehingga semua gaya pikir Romawi, kebudayaan Romawi, semua cara berpikir tentang masyarakat sosial dari Romawi itu sangat dianut oleh orang Filipi. Dan mereka tahu lapisan-lapisan dari masyarakat, ada kelompok warga Roma, ini kelompok paling tinggi. Orang dapat anugerah dianugerahkan kewargaan Roma ini merupakan kewargaan penting yang hanya mungkin didapatkan oleh kelahiran, kalau memang ada di kota Roma. Atau mendapatkannya lewat keturunan karena ayahnya adalah seorang warga negara Roma. Ini level kewarganegaraan nomor satu. Kalau Saudara bukan orang Roma, dianugerahkan warga Roma berarti Saudara punya jasa besar sekali bagi kekaisaran Roma. Di level kedua adalah warga umum dari Peninsula Italia. Level ketiga adalah warga federati, ini adalah warga yang dianggap orang Roma karena menjadi tentara bayaran. Level 4 adalah warga luar yang kebetulan hidup di dalam wilayah yang dikuasai oleh Roma. Level bawah yang bahkan tidak masuk di dalam jajaran 4 tadi adalah budak, budak tidak perlu disebut. Hamba tidak perlu dimasukkan dalam level masyarakat karena statusnya sebagai manusia pun dianggap tidak penting, tidak dianggap manusia seutuhnya, ini manusia level paling rendah. Baik di dalam budaya Roma ataupun di dalam budaya Yunani, maupun di dalam budaya Israel budak adalah posisi rendah yang tidak dihargai sama sekali. Namun Kitab Suci memberikan posisi yang unik pada budak yaitu di dalam Kitab Yesaya, Sang Mesias yang adalah Raja seluruh kitab di dalam Perjanjian Lama menggambarkan Mesias sebagai Raja. Sang Mesias, Sang raja digambarkan sebagai budak di dalam Kitab Yesaya. 

Yesaya adalah kitab yang mendahului cara berpikir Paulus, tentu Paulus banyak dipengaruhi oleh Yesaya. Maka Yesaya menggambarkan tentang Sang Mesias yang digambarkan sebagai hamba, “Hamba-Ku yang setia.” Inilah Mesias. Allah mengatakan, “Hamba-Ku akan berhasil, Dia akan ditinggikan karena Dia pernah jadi rendah.” Dia pernah mengalami keadaan yang manusia tidak mau ambil keadaan itu. Dia pernah berada dalam keadaan buruk sehingga kita mengatakan, “Saya tidak mau nasibku seperti Dia.” Dia tidak mempunyai figur yang bagus karena penuh dengan derita. Dia tidak mempunyai tubuh yang baik karena penuh dengan luka dan Dia tidak punya keadaan yang baik karena Dia sedang direndahkan dan mau dimatikan. Tetapi, Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia dihancurkan oleh karena kesalahan kita, bilur-bilur yang Dia terima membuat kita sembuh. Ini adalah Sang Hamba yang menderita, tema yang sangat agung dari Yesaya. Hamba menderita, memang wajar hamba menderita. Semua hamba di bumi menderita. Mana ada hamba yang sukses hidupnya. Lalu ketika ditanya, “Kamu hidupnya sukses?” “Iya, saya sangat sukses.” “Apa yang kamu lakukan?” “Saya jadi hamba,” tidak ada. Maka kedudukan hamba memang selayaknya disejajarkan dengan penderitaan. Tetapi ternyata Yesaya berbicara tentang figur yang sangat agung. Dia berbicara tentang Sang Mesias. Mengapa Mesias jadi hamba, mengapa Mesias mau disiksa, mengapa ini digambarkan oleh Yesaya? Tidak ada penjelasan lebih detail dari Yesaya. Yesaya hanya menjelaskan bahwa oleh di bilur-bilur Dia kita sembuh, oleh kondisi hina Dia kita sembuh. Tetapi, Paulus menangkap tema ini dan Paulus mengatakan bahwa setiap orang Kristen mesti belajar dari Kristus yang rela mengosongkan diri dan menjadi hamba. Ini bukan hina, ini kemuliaan, yang rela jadi hamba itu orang paling mulia.