PEMBINAAN PRANIKAH

Dengan tema besar “Pernikahan Menurut Para Reformator” oleh Pdt. Jimmy Pardede, mulai Minggu, 12 September 2021, pk. 19.00 WIB (6x pertemuan). Bagi pasangan yang akan menikah wajib mengikuti kelas ini via Zoom. Pendaftaran: 022-86060699/ 0851-0507-1880(WA)

Terbuka bagi jemaat sebagai pembinaan pernikahan dan keluarga, dan dapat mengikutinya via Youtube.com/GRIIBandungstream/live

Pentakosta: Berseru kepada Tuhan

Hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang mulia karena dinanti-nanti di dalam sejarah Israel sebagai penggenapan janji Tuhan. Turunnya Roh Kudus bukan berarti Roh Kudus baru bekerja pada saat Pentakosta, bukan berarti sebelumnya Dia tidak ada di bumi. Tentu pekerjaan Roh Kudus bukan baru dimulai di Pentakosta. Kadang kesalahan ini cukup fatal waktu baca Perjanjian Lama, bukannya Roh Kudus baru turun dalam peristiwa Pentakosta? Roh Kudus sudah bekerja sejak awal di dalam Kitab Kejadian ditekankan bahwa Roh Kudus berbagian di dalam penciptaan. Roh Allah menaungi permukaan air dan memulai karya penciptaan, ini ada di dalam Kejadian 1 ayat 1-3, jadi pekerjaan dari Allah, pekerjaan dari Roh dan pernyataan firman dari Allah. Berarti Roh Kudus sudah bekerja dari awal, dari permulaan Kitab Suci ditulis di situ Allah Tritunggal sudah diperkenalkan. Dan di dalam bagian akhir dari Kitab Suci di situ juga Allah Tritunggal diperkenalkan sebagai yang membawa pekerjaan baru atau membawa karya penciptaan yang baru. Kalau begitu apa pentingnya Roh Kudus? Mengapa peristiwa Pentakosta menjadi penting di dalam memahami hadirnya Roh Kudus? Karena di dalam pengertian orang Israel ada dua periode dalam sejarah. Periode pertama ketika Tuhan masih membiarkan kuasa jahat merajalela. Orang jahat, pemerintah yang tidak kenal Tuhan, penyembah berhala, dan seluruh bangsa sedang ada dalam kegelapan. Kalau kita lihat Perjanjian Lama tidak ada bangsa yang menyembah Tuhan kecuali Israel setelah Tuhan panggil dan itupun tidak lama. Di dalam generasi demi generasi berlanjut mereka menjadi penyembah berhala juga. Jadi kita melihat bahwa di bumi bangsa-bangsa masih dikuasai oleh si jahat, penyembahan berhala, kekejaman, kejahatan, ketidakadilan terjadi terus. Lalu kapan ini berubah? Di dalam pengharapan Israel ini hanya berubah ketika Tuhan mendatangkan zaman yang baru. Zaman yang baru adalah zaman yang merubah segala sesuatu. Tuhan yang sekarang berkuasa bukan lagi kejahatan, Tuhan yang sekarang mengambil alih bumi dan bukan raja kafir yang tidak mengenal Tuhan. Pengertian ini harus ada di dalam hati kita, kalau hidup kita dikuasai kisah Kitab Suci, maka kita tidak sulit memahami pengharapan dan hidup berpegang kepada Tuhan. Karena di satu sisi kita berpegang kepada Tuhan, di sisi yang lain kita berharap Tuhan menggenapi cerita hidup versi kita sendiri. Saudara tidak boleh punya versi hidup, versi cerita sendiri mengenai hidup. Kita mesti dimasukkan ke dalam kisah besar yaitu kisah Alkitab. Kalau begitu baru kita bisa mempunyai kelimpahan di dalam mengenal Tuhan.

Maka Israel harapkan munculnya zaman baru. Apa yang membedakan? Di dalam tradisi di abad ke-2 sebelum Masehi, yang ditekankan menjadi perubah adalah sang Mesias. Mesias akan mengubah secara radikal seluruh sejarah berputar dari penyembahan berhala kepada Tuhan. Bangsa-bangsa akan mulai dimenangkan oleh Tuhan sendiri. Jadi ini pengharapan besar sekali, bangsa-bangsa dimenangkan Tuhan. Tapi mereka tidak mengerti bahwa ketika Tuhan memanggil bangsa-bangsa lain, Tuhan akan memanggil mereka di dalam level yang sejajar dengan orang Israel. Bangsa lain yang percaya kepada Tuhan sejajar dengan orang Israel yang percaya kepada Tuhan. Yang menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa itu Mesias, bukan Israel, ini yang tidak dimengerti oleh orang Israel. Maka Tuhan perlu mengajar mereka di dalam seluruh Kitab Kisah Rasul, bahwa ketika Tuhan memanggil bangsa-bangsa lain, mereka sejajar dengan orang Yahudi. Ini Membutuhkan satu pertemuan besar di Yerusalem, besar karena para petinggi gereja semua ada, Petrus, Yakobus saudara Yesus, dan Paulus, kemudian orang yang berdebat dengan Paulus membawa kasusnya kepada para rasul. “Orang ini memberitakan Injil ke bangsa-bangsa lain tapi tidak mengajar mereka budaya Yahudi. Orang-orang yang sudah percaya Tuhan Yesus tidak disunat, tidak dijadikan orang Israel, ini rasul palus”, menurut tuduhan mereka. Tapi kemudian Petrus membela Paulus dengan mengatakan “sebelum kami menyuruh Kornelius menjadi Yahudi, sebelum kami menyuruh dia disunat, Roh Kudus sudah turun atas dia, jadi Tuhan sudah bekerja memanggil orang-orang bukan Yahudi, lalu memberikan kepada mereka tempat yang sama dengan orang Yahudi yang percaya kepada Tuhan”. Berarti Tuhan mau panggil bangsa-bangsa di dalam derajat yang sama dengan Tuhan memanggil Israel. Ini berita yang perlu waktu lama untuk orang Yahudi paham dan belajar. Orang Yahudi berharap Mesias datang dan zaman yang baru pun tiba Mesiaslah yang mengubah. Lalu apalagi yang berubah? Yang berubah adalah, ini yang ada di dalam nubuat Kitab Yoel bahwa Tuhan akan mencurahkan RohNya dengan limpah. Maka pencurahan roh ini menjadi perbedaan besar antara zaman lama dan zaman yang baru. Zaman yang baru, Tuhan mencurahkan RohNya dengan begitu bebas dan begitu limpah. Di dalam pembacaan votum tadi ditekankan bahwa Tuhan akan mengerjakan janjiNya, yaitu membuat ciptaan yang baru, bukan dengan kuasa militer, bukan dengan tentara, bukan dengan senjata, tetapi dengan Roh, Roh Kudus yang akan kerjakan. Lalu di dalam Kitab Yoel yang dikutip oleh Petrus, dikatakan bahwa Tuhan akan mencurahkan Roh kepada orang bebas dan kepada hamba, kepada laki-laki dan kepada perempuan, kepada anak muda dan orang tua, Tuhan akan mencurahkan RohNya. Kita dikuasai oleh banyak cerita yang sudah dibuat oleh tradisi gereja yang sayangnya tidak tepat, sehingga kita tidak menangkap dari cerita Alkitab apa yang Kitab Suci mau tekankan kepada kita. Kalau kita baca dari Perjanjian Lama yang sangat ditekankan oleh Kitab Suci adalah Roh hanya dicurahkan di dalam 2 konteks. Konteks yang pertama adalah ibadah di Bait Suci, tidak ada orang dapat pencurahan Roh kecuali dia imam, tidak ada orang dapat pencurahan Roh kecuali dengan tangannya dia membangun Bait Suci atau Kemah Suci, seperti misalnya Bezaliel dan Aholiab. Jadi pencurahan Roh ini hal yang sangat serius, orang biasa dilarang mengklaim dirinya mempunyai Roh, begitu ketatnya perbedaan antara pencurahan Roh kepada orang penting dan orang biasa yang mengklaim punya Roh. Sehingga Yosua pun merasa begitu marah ketika dia melihat Tuhan ambil Roh dari Musa, lalu meletakkan kepada para pemimpin, 70 orang yang diangkat oleh Tuhan. Yosua mengatakan “tuanku Musa, cegalah mereka menjadi sama dengan engkau”, tapi Musa mengatakan satu kalimat yang sangat indah, dia mengatakan “saya punya pengharapan semua orang dapat apa yang mereka dapat. Saya ingin semua orang mendapatkan kenikmatan diberikan Roh Kudus”, ini yang harusnya kita pahami dulu. Tapi sayangnya di dalam tradisi gereja yang sayangnya tidak tepat, ditekankan bahwa siapapun bisa minta, “kalau kamu mau berdoa, kamu akan bisa dapat Roh Kudus”, sehingga kita bisa mempunyai sense, dan ini sangat salah, bahwa dicurahkan Roh Kudus itu hal normal. Siapapun bisa, kalau saya mau dapat Roh Kudus bisa, yang saya perlu lakukan adalah beriman atau mengklaim atau doa. Tapi ini adalah salah, sesuatu yang tidak sama dengan berita dari Perjanjian Lama. Kadang-kadang kita perlu mengoreksi kembali cara kita berpikir supaya cerita yang salah tidak menguasai pikiran kita. Karena kalau cerita yang salah menguasai pikiran kita, khotbah apapun akan kita tafsirkan berdasarkan cerita itu. Seorang bernama Alasdair MacIntyre mengatakan manusia itu makhluk bercerita, kita akan meletakkan informasi di dalam konteks cerita. Saudara dapat informasi, Saudara dengar khotbah, Saudara dengar pengajaran itu tidak mempertumbuhkan kita karena apa yang diberikan di dalam bentuk informasi dan pengajaran, kita masukkan ke dalam cerita yang totally wrong, yang sama sekali salah. Dan karena ceritanya salah, informasinya jadi tidak berguna. Itu sebabnya kita mesti kembali kepada apa yang Kitab Suci ajarkan kepada kita. Di dalam Perjanjian Lama manusia tidak seharusnya mendapatkan Roh di dalam konteks Perjanjian Lama, karena hanya orang-orang penting seperti imam, seperti orang-orang yang Tuhan berikan penglihatan untuk bernubuat seperti Daniel, dan raja yang Tuhan kehendaki. Saul, Tuhan berikan Roh setelah itu Tuhan ambil. Daud, Tuhan berikan Roh dan Tuhan tetap mengizinkan Daud dipimpin oleh Roh. Raja-raja lain tidak dicatat diberikan Roh lalu Tuhan penuhi mereka dengan RohNya, sehingga tidak semua raja dapat anugerah ini. Namun Tuhan berfirman kepada Daud, “nanti anakmu akan Aku bangkitkan dan dia akan Aku berikan RohKu. Dan Aku tidak akan pernah ambil RohKu dari dia. Selamanya dia akan dipenuhi oleh RohKu”, anak Daud akan penuh dengan Roh. Saudara akan lihat setelah Tuhan menjanjikan itu kepada Daud, tidak pernah dicatat lagi bahwa ada Raja Israel yang penuh Roh, seolah Tuhan menyatakan “Aku sudah berjanji anak Daud yang nanti akan penuh dengan Roh, tunggulah dia”. Ketika Dia datang dia kan penuh dengan Roh Kudus, jadi anak-anak Daud tidak dicatat secara eksplisit dipenuhi Roh Kudus. Tentunya ini sesuatu yang disengaja, karena janji Tuhan bahwa sang Anak Daud yang sejati yaitu Kristus, Dialah yang akan dipenuhi oleh Roh Kudus. Tuhan menjanjikan di zaman yang baru menurut Kitab Yoel, semua akan dipenuhi Roh Kudus dan ini akan membuat kita heran, “mengapa Tuhan berkenan lakukan itu, kami tidak layak dapat itu”. Ketika saudara sudah dibiasakan dibentuk dengan pola pikir hanya orang tertentu yang sangat spesial, yang dekat dengan Tuhan yang Tuhan mau bekerja dengan limpah, hanya mereka yang berurusan dengan Kemah Suci yang adalah raja tertentu, mereka saja yang boleh penuh dengan Roh. Tapi Tuhan menjanjikan ada saatnya nanti “ketika Aku mencurahkan RohKu, maka anak-anak pun bisa bernubuat, orang-orang tua pun mendapatkan penglihatan, dan orang-orang biasa bisa menjadi penuh dengan Roh. Ini ditekankan dalam Kitab Kisah Rasul, sehingga ketika kita membaca khotbah Petrus, mengutip dari Yoel, kita mengerti Petrus sedang menyatakan klaim yang luar biasa, inilah saatnya zaman yang baru itu. Zaman yang baru disegel dengan kehadiran Roh. Maka ini bukan tentang Roh Kudus baru datang dan bekerja, Dia sudah bekerja dari awal, tapi ini tentang segel mengenai kehadiran zaman baru. Pentakosta adalah pernyataan bahwa Sang Mesias sudah bertahta dan sekarang zaman baru sudah dimulai. Mesias sudah bertahta dan pengharapan akan kesempurnaan ciptaan sudah dilakukan Tuhan di dalam sejarah. Itu sebabnya tepat jika manusia tidak bisa lari dari pembagian sejarah yang ditentukan oleh kehadiran Sang Mesias. Tahun Tuhan atau sebelum tahun Tuhan, sebelum Kristus dan tahun ketika Tuhan hadir. Fakta Kristus merubah tidak bisa dihindari oleh manusia.

Predestinasi dan Hidup Suci

Di sini ditekankan orang yang lembut hati, dilembutkan hatinya oleh Tuhan dan orang yang keras hati, dikeraskan hatinya oleh Tuhan. Ayat 17 menyatakan Tuhan membangkitkan Firaun supaya memperlihatkan kuasa Dia di dalam Firaun. Kekerasan hati Firaun tidak lepas dari rancangan Tuhan. Ada beberapa cara memahami ketetapan Tuhan dalam menyelamatkan dan membiarkan sebagian lainnya atau tetap di dalam kebinasaan. Pertama kita tidak mungkin bisa pahami dengan sempurna. Kita sedang masuk dalam pikiran yang hanya Tuhan bisa mengerti dengan sempurna. Saudara mungkin mengatakan semua juga tentunya hanya Tuhan, betul. Kita bergumul untuk mengerti, tapi pengertian sejati yang sepenuh-penuhnya hanya mungkin dipahami oleh Tuhan sendiri. Tapi ini tidak berarti Tuhan tidak menginginkan kita bergumul dan memahami setiap Firman. Ketika Dia mengajarkan kepada kita tema-tema tertentu di dalam Kitab Suci, tugas kita memahami baik dan mohon Tuhan tuntun supaya kita tidak salah memahami kebenaran firman Tuhan. Di dalam pandangan orang-orang yang menolak doktrin predestinasi, mereka mengatakan Tuhan tidak bersalah karena bukan Tuhan yang mengeraskan hati. Jadi kalau orang keras hati, itu kesalahannya sendiri, Tuhan tidak bertanggung jawab. Orang dalam tradisi Reformed mengatakan Tuhan tidak bertanggung jawab untuk kekerasan hati Firaun, tapi Alkitab juga mengatakan Tuhan mengeraskan hati Firaun. Kalau Tuhan mengeraskan hati Firaun bukankah seharusnya Tuhan bertanggung jawab? Argumen ini tidak kuat karena memberikan pertangggungan jawab kepada Tuhan. Tuhan tidak bertanggung jawab kepada diriNya untuk tindakan yang Dia lakukan. Jadi ada sesuatu yang miss di sini. Kita tidak meletakkan Tuhan di bawah akuntabilitas atau di bawah penilaian Tuhan sendiri. Kalau Saudara mengatakan “saya ingin tahu rancangan Tuhan itu adil atau tidak”. Bolehkah kita tanya itu ke Tuhan? Tuhan mengizinkan kita tanya. Kitab Ayub penuh dengan pertanyaan. Tapi Saudara harus membedakan antara pertanyaan dengan keluh kesah atau pertanyaan yang menggugah kita untuk bertanya kepada Tuhan, karena kita sedang berada di dalam keadaan meratap, dengan pertanyaan yang dilemparkan karena berada dalam kepahitan, tidak lagi mau ikut rencana Tuhan. Di dalam Kitab Suci dibedakan ratapan dan bersungut-sungut, kedua hal ini benar-benar harus kita pegang. Tuhan marah kepada Israel yang bersungut-sungut di padang gurun. Tapi Tuhan tidak marah kepada Yeremia, Ayub, dan Pemazmur karena mereka mempertanyakan dengan keinginan tunduk kepada Tuhan. Mereka mempertanyakan karena desakan keadaan yang membingungkan “dimanakah janji dan penyertaan Tuhan? Mengapa kami tidak merasakannya?”, kadang-kadang mereka tanya dengan kalimat keras kepada Tuhan. Tapi Tuhan penuh kesabaran menerima dan mengizinkan orang meratap sedemikian. Tapi tidak demikian dengan keluh kesah, karena mereka memanfaatkan kemungkinan mempengaruhi orang lain, lalu bersama-sama mempengaruhi mau memberontak kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan tidak bisa menjadi pemimpin kami”, itulah keluh kesah, itulah sungut-sungut. Maka di dalam Kitab Suci, dua hal ini dibedakan. Saudara jangan mencegah orang yang bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa hidup saya begitu keras, apakah Tuhan lupakan saya?” Waktu orang menyadari “saya berada dalam keadaan yang seharusnya tidak ditimpa seperti ini”, seperti Ayub, maka dia tanya kepada Tuhan. Dan Tuhan memberikan kesempatan dia untuk bergumul sedemikian dan mempertanyakannya kepada Tuhan. Tapi Tuhan tidak memberikan kesempatan untuk orang pergi ke orang lain dan mengatakan “untuk apa kita melayani Tuhan, untuk apa kita terus datang kepada Tuhan kalau begini caranya kita tidak perlu menjadi umat Tuhan”, itu adalah sungut-sungut, itu adalah pemberontakan kepada Tuhan. Saudara punya beban hati, katakan kepada Tuhan, bukan kepada orang lain, provokasi orang lain untuk membenci Tuhan. Itu keadaan yang tidak baik, itu tidak pantas. Karena kita tidak mengerti keadilan Tuhan di dalam gambaran yang penuh, tapi kita sudah berani menghakimi dan mengajak orang lain untuk mempertanyakan Tuhan juga. Tapi kalau kita dengan serius datang kepada Tuhan dalam doa, Tuhan tidak pernah membuang orang yang doa dengan jujur, lalu memanjatkan hal-hal yang mempertanyakan keadilan Tuhan bertindak. Tapi orang-orang seperti ini harus melakukan itu dengan segala kerendahan hati. Dia melakukan dengan kesadaran “saya tidak akan pernah tinggalkan Tuhan, baik atau buruk saya akan datang kepada Tuhan, keadaan apa pun saya akan datang kepada Tuhan”, ini orang yang jujur dan merupakan umat yang sejati. Tetapi orang yang tanya ke Tuhan lalu mengatakan “kalau begini saya kecewa dan tidak mau Tuhan lagi”, itu orang bukan mau mencari jawaban dari Tuhan, dia tidak benar-benar ber-Tuhan. Karena dia tidak mau terus berpegang kepada Tuhan dalam setiap keadaan.

Apa bedanya umat sejati dengan yang palsu? Ketika bangsa Israel di padang gurun, sebagian adalah pemberontak yang tidak mau Tuhan dan hanya sebagian kecil, bahkan generasi yang lebih muda, itu yang Tuhan berkati dengan kemungkinan masuk Tanah Kanaan. Orang lain adalah umat palsu, tidak benar-benar mau Tuhan. Mereka sedang pikirkan alternatif Tuhan atau yang lain. Saudara tidak bisa pikirkan alternatif Tuhan atau yang lain, karena yang lain itu tidak ada. Saudara berpegang kepada Tuhan atau Saudara berpegang pada ketiadaan, ini pilihanya. Maka jangan mengatakan “saya tidak tahu masih terus akan ikut Tuhan atau tidak”, itu kalimat secara logis bodoh, itu kalimat kalau di dalam anugerah Tuhan kita lihat merupakan kalimat yang tidak mengerti betapa baiknya Tuhan. Maka Yosua pernah bertanya kepada orang Israel, “kamu mau melayani Tuhan? Saya minta komitmenmu, kamu mau berpegang kepada siapa sampai mati?”. Iman bukan sesuatu yang main-main, iman adalah pilihan, satu kali pilih Saudara mau berkomitmen di dalam setiap keadaan. Maka Yosua mengatakan “pilihlah pada hari ini siapa yang kamu mau sembah. Apakah engkau mau sembah dewa-dewa nenek moyangmu di Mesopotamia, yang Tuhan sudah singkirkan karena Tuhan memanggil Abraham keluar dari sana. Dewa-dewa di sana tidak ada, itu hanya patung-patung buatan manusia dan legenda-legenda cerita mitos yang dikarang oleh manusia. Lalu kamu mau sembah siapa? Jika kamu tidak mau menyembah dewa-dewa di Mesopotamia dan kamu tidak mau menerima dewa-dewa di Kanaan, sembahlah Tuhan. Lalu mereka mengatakan “iya, kami akan lakukan”. Tapi Yosua mengatakan “kamu jangan pikir ini komitmen sembarangan”. Banyak orang komit dengan kalimat tapi hatinya tidak pernah sungguh-sungguh mau melakukan komitmen ini. Komitmen sesuatu yang menunjukkan karakter Saudara, siapa yang lemah dalam memegang komitmen yang penting, dia bukan orang yang baik, dia mesti bertobat dan menunjukkan karakter yang sejati. Maka Yosua mengatakan “kamu tidak sanggup, saya sudah melihat bangsa Israel di padang gurun terus mengaku dengan mulut: saya mau ikut Tuhan, kami menyembah Tuhan. Tapi faktanya tidak ada”. Di dalam keadaan goncang, Tuhan ditinggalkan. Di dalam keadaan sulit makan, mereka mengatakan “mau kembali ke Mesir”. Di dalam keadaan sulit air, mereka mengatakan “mau kembali ke Mesir”, inikah komitmen? Kalau komitmen hanya di keadaan baik, itu bukan komitmen. Itu adalah jiwa oportunis yang diberi makan oleh situasi, situasional sekali. “Saya mau ikut Tuhan kalau baik, kalau tidak baik saya tidak mau”. Kadang-kadang dalam keadaan buruk, ini sebuah ujian penting untuk komitmen dari hati Saudara kepada Tuhan dan ini menunjukkan karakter Saudara. Jika engkau mengatakan “saya mau ikut Tuhan”, seserius apa, sepenuh apa kekuatanmu untuk menjalankan janji itu? Karena tanpa komitmen kepada janji, Saudara bukan siapa-siapa. Tidak peduli berapa banyak uang didapatkan, berapa pintar pikiran, berapa besar bakat jika Saudara tidak punya komitmen, Saudara adalah orang rendah. Maka Yosua bertanya “kamu mau menyembah Tuhan? Kamu harus sering dengar peringatannya. Kamu harus janji mau taat firmanNya”, tanpa berinteraksi dengan Tuhan, tidak satu pun dari kita akan pegang komitmen perjanjian ini. Maka orang Israel dituntut oleh Tuhan untuk mengikat perjanjian dengan Dia, dan Dia berjanji akan setia kepada Israel. Tuhan ikat diriNya dengan umat perjanjianNya, dan umat perjanjianNya juga mengikat perjanjian dengan Tuhan. Maka ketika perjanjian ini dibuat, Tuhan mempunyai umat di bumi yang memberitahukan seluruh dunia bahwa Allah adalah Allah dan mereka gambar Allah yang ditebus dan dipulihkan sebagai bangsa. Ini pekerjaan besar, panggilan mulia. Maka ketika Tuhan memanggil Israel, Tuhan panggil dengan segala keseriusan, baik dari pihak Tuhan maupun Israel.

Doktrin Predestinasi 3

Kita melanjutkan pembahasan tentang pilihan Tuhan. Ini menjadi kontroversi di dalam gereja, apakah Tuhan memilih siapa yang diselamatkan dan memilih untuk membiarkan yang lain menjadi binasa. Ketika orang mendengar pengertian ini, mereka bereaksi dengan dua cara, pertama seperti Paulus, “terpujilah Allah”. Kedua, mulai mempertanyakan keadilan dari pengertian ini. Ketika Agustinus berbicara tentang konsep anugerah dan menekankan bahwa keselamatan manusia diberikan karena Tuhan berbelas-kasihan. Pelagius mengatakan, “tidak, manusia punya kebebasan, bisa menentukan sendiri mau terima anugerah atau tidak”. Manusia bisa memilih sendiri apakah dia merespon atau tidak. Ketika Martin Luther menekankan tentang kejatuhan total dan ketidakmampuan manusia untuk kembali kepada Tuhan, Erasmus meresponi dengan menyatakan manusia punya kehendak untuk memilih dan punya kemampuan untuk melakukan apa yang tepat jika dia memilih untuk melakukannya. Jadi yang satu menekankan pilihan Tuhan, yang lain menekankan manusia memilih. Ketika Calvin menekankan tentang tema predestinasi, respons yang diberikan kepada dia ada dua, pertama, dari Pigius. Dia menulis sebuah buku menentang konsep predestinasi dari Calvin. Lalu Calvin meresponi Pigius dengan menulis buku untuk me-reply dia. Maka mereka saling serang untuk memberikan argumen bagi posisi masing-masing. Kedua, kaum Remonstran, diawali oleh Yakobus Arminius. Ia adalah murid Calvin yang mencintai semua commentary Calvin, dia mengatakan dia belum pernah membaca tafsiran Alkitab seindah, seakurat dan semembangun commentary Calvin. Itu sebabnya dia tidak malu mengakui diri sebagai murid Calvin. Tetapi dia keberatan dengan pengertian predestinasi, karena ini membuat manusia seperti tidak ada pilihan selain menerima apa yang Tuhan sudah tentukan bagi dia. Tradisi Reformed Belanda dari pengikut Arminius, akhirnya mengeluarkan lima statement penolakan ajaran predestinasi Calvin disebut dengan 5 poin kaum Remonstran. Kalau kita membaca keberatan mereka, kita akan melihat ini masih lebih baik daripada keberatan yang dilemparkan sekarang. Karena yang mereka tekankan adalah sesuatu yang dari tradisi Reformed tidak anti. Manusia mempunyai kesadaran untuk memilih, tidak ada orang Reformed yang mengatakan manusia tidak punya kesadaran. Manusia punya kesadaran, manusia tahu mana baik mana jahat, manusia bisa punya kemampuan untuk pilih mana baik mana jahat di dalam aspek moral. Tetapi ketika menyangkut relasi dengan Tuhan, buku pertama Institutio Calvin, dikatakan manusia tidak mau datang ke Tuhan. Ini bukan masalah apakah manusia mempunyai pengetahuan untuk melakukan yang baik atau jahat. Manusia punya kemampuan untuk melakukan mana baik mana jahat di dalam aspek moral. Tetapi di dalam kaitan dengan mengenal Tuhan, manusia tidak punya kemampuan dan kemauan untuk datang ke Tuhan. Manusia memusuhi Tuhan di dalam hatinya. Ini jadi pergumulan yang penting dari buku Institutio. Di Jenewa, Calvin mengirim banyak misionaris Eropa karena dia percaya bahwa Reformasi adalah perang untuk memperbaiki ibadah. Ketika misionaris dikirimkan, mereka mulai mendirikan gereja aliran Refromed, menekankan bahwa kita mesti kembali kepada Tuhan. Mereka digerakkan oleh teologi agama atau pengertian tentang apa itu agama. Ada yang mengatakan, Protestan tidak mungkin mengirim misionaris, karena Protestan percaya predestinasi. “Mana mungkin kamu menginjili, kan Tuhan sudah pilih mana selamat mana tidak”. Pengertian ini salah fatal. Kalau kita membaca baik-baik pikiran Calvin, predestinasi adalah bagian kecil dari teologi dia. Dia punya pembahasan yang begitu beragam. Bahkan De Young, yang memelajari Calvin, mengatakan “sayang, orang cuma ingat beberapa aspek pemikiran Calvin. Padahal Calvin mengerti banyak hal. Kita cuma paham dalam aspek teologi dan celakanya kita cuma mengenal dalam pengertian predestinasi. Satu yang penting dari pemikiran Calvin adalah teologi agama, dia menekankan bagaimana manusia punya pengenalan akan Tuhan di dalam diri, tetapi tidak pernah sampai kepada Tuhan yang sejati. Apa yang salah? Tuhan memanggil kita dengan memberikan hati yang mencari Dia, tapi dosa merusak sehingga arah kita bukan mencari Tuhan, tetapi mencari yang lain. Itu sebabnya kita menjadi penyembah berhala, karena mencari yang lain dengan dedikasi dan dorongan yang Tuhan berikan untuk mencari Dia. Jadi dengan kekuatan untuk mencari Tuhan kita pakai itu untuk mencari yang lain, sehingga kita menjadi penyembah berhala. Berhala mengikat hidup kita dengan sangat keras, tidak bisa lepas. Ini pikiran yang Calvin tekankan. Maka ketika pengikutnya membaca, mereka menyadari kalau semua orang mau mencari Tuhan tapi dibelokkan dosa, maka pasti ada hal yang sama dari berita Injil dengan komitmen agama apapun, tetapi komitmen agama yang lain menjadi menyimpang. Ini yang dipahami oleh pengikut Calvin, sehingga ledakan penginjilan pun dimulai. Penginjilan baik dari tradisi Lutheran maupun Reformed sangat besar bahkan melampaui gerakan penginjilan yang dikerjakan tradisi Katolik sebelumnya. Kalau tradisi Katolik menyebarkan penginjilan bersamaan dengan armada laut yang kuat, maka gerakan Protestan di dalam abad 18 akhir membagikan lewat para misionaris.

Ada orang datang, termasuk ke Indonesia, punya tradisi Reformed. Orang seperti Van Asselt, salah satu pendiri HKBP, berdoa dan mengatakan “kami pergi menginjili, kami akan jadikan daerah ini mengenal Tuhan.” Ini awal perkembangan HKBP, penginjil dari tradisi Reformed bergerak. Mengapa mereka bergerak memberitakan Injil? Karena teologi agama. Ternyata orang yang menyembah patung, batu, roh nenek moyang, mengapa mereka bisa dedikasi total bahkan rela korbankan hidup? Karena ternyata itu gerakan yang Tuhan berikan di dalam hati untuk mencari Tuhan. Semua orang mencari Tuhan, tapi karena dosa pencarian itu dibelokkan ke yang lain. Ini sebabnya mereka merasa kalau begitu Injil bisa disampaikan ke agama mana pun, sehingga gerakan penginjilan dimulai. Jadi, dari tradisi Reformed, gerakan penginjilan didorong oleh pengertian teologis, ternyata ada kemungkinan memberitakan Injil secara teologi, ternyata Alkitab sudah memberitakan semua agama mencari Tuhan, semua agama ingin menyembah Allah, tapi mereka diselewengkan oleh hati yang berdosa, sehingga mereka mencari berhala. Ini sebabnya mereka pergi memberitakan Injil. Jadi di dalam tradisi Reformed ada banyak pengertian penting bukan hanya predestinasi, tapi predestinasi juga adalah pengertian penting yang banyak dibantah dan banyak ditentang. Maka para pengikut Remonstran mengatakan “kami menolak karena ada 5 poin keberatan kami. Kami tidak percaya manusia tidak mempunyai kemungkinan untuk percaya, kemungkinan untuk berespon”. Maka Canon of Dort di Belanda dibuat untuk menjawab keberatan ini.