Mengharapkan Allah

Kita akan membaca pesan natal dari Injil Yohanes, mari kita membaca Yohanes 1: 8-15, demikian Firman Tuhan “dia bukan terang itu tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya. Tetapi semua orang yang menerimaNya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam namaNya. Orang-orang yang diperanakan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru katanya: inilah Dia yang aku maksudkan ketika aku berkata kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku. Sebab Dia telah ada sebelum aku”.  Di dalam Injil Yohanes ada pemaknaan yang melampaui peristiwa di bumi. Yohanes memberikan background kalau mau dikatakan, atau penjelasan lebih tepatnya, tentang apa yang sudah menjadi tradisi yang umum dari kitab Injil sinoptik. Beberapa orang penafsir Yohanes melihat Yohanes sebagai kitab yang memberikan penjelasan kepada apa yang mungkin tidak bisa ditampilkan dengan mudah dari kisah Injil. Ada beberapa hal yang kitab Injil sinoptik yaitu Matius dan Lukas terutama, tentu Markus juga, memberikan penjelasan tapi belum begitu detail tentang apa yang yang terjadi pada peristiwa itu. Ini bukan berarti Matius, Markus, Lukas kurang akurat atau kurang teliti, tapi mereka memberikan tekanan yang berbeda. Namun ketika Matius, Markus, Lukas memberikan tekanan kepada satu hal, ada hal lain yang belum terjelaskan. Dan ini di beberapa bagian dijelaskan oleh Yohanes. Hal yang paling jelas adalah ketika Yesus masuk Yerusalem, kemudian semua orang mengelu-elukan Dia, semua orang berteriak “Hosana bagi Anak Daud”, kita mungkin berpikir di dalam Injil sinoptik hanya dikatakan Yesus datang dan semua orang menyambut Dia. Tapi Injil Yohanes memberikan satu tambahan keterangan yaitu sebelum Yesus masuk Yerusalem, Dia membangkitkan Lazarus yang sudah mati 4 hari. Dan inilah yang memberikan kehebohan di seluruh Yerusalem. Demikian juga tentang peristiwa kelahiran, tentu Yohanes tidak bermaksud untuk mengoreksi tulisan yang sudah ada dari Matius dan Lukas tentang peristiwa kelahiran Yesus, tetapi dia memberikan tambahan penjelasan. Bukan berarti Matius dan Lukas kurang sempurna, Matius dan Lukas sempurna di dalam poin yang mereka mau tekankan, tetapi ada satu hal yang Yohanes mau berikan sebagai latar belakang. Karena sangat mungkin Saudara membaca kisah kelahiran dan beranggapan bahwa inilah permulaan dari kehidupan sang Firman. Tetapi Yohanes mengingatkan sebelum Dia datang ke dalam dunia, Dia sudah ada. Ini berarti di dalam gereja mula-mula ada kemungkinan doktrin menyimpang, bukan pengajar yang menyimpang. Rasul-rasul dan para penulis Kitab Suci memberikan penjelasan yang dari Tuhan, tetapi tangkapan orang, tafsiran orang sangat mungkin menyimpang. Dan sangat mungkin tafsiran itu membawa kepada pengertian bahwa Kristus adalah yang dilahirkan dan memiliki permulaan ketika Dia dikandung dan dilahirkan. Ini akan menjadikan pengertian tentang Kristus salah, karena kalau kita tidak tahu bahwa Dia adalah Sang Firman yang berinkarnasi, kalau Dia adalah Pribadi kedua dari Tritunggal yang datang ke dalam dunia, maka kita akan gagal mengenal poin Natal, kita gagal mengenal makna Natal.

Natal bukan cuma kelahiran Sang Juruselamat, Natal juga adalah kedatangan Sang Juruselamat. Datang berarti Dia bukan berasal dari tempat di mana Dia berada ketika Dia lahir, Dia berasal dari tempat yang lain yang kita tidak bisa akses. Inilah yang mau ditekankan oleh Injil Yohanes, Yohanes membahasakan dengan cara yang sangat unik, kalau orang tidak mempunyai iman mereka akan melihat seolah-olah Yohanes dan Matius dan Lukas seperti berbeda. Matius, Markus dan Lukas seperti mempresentasikan Kristus yang adalah Nabi, yang adalah Pengajar, yang adalah pembuat mujizat, yang adalah tokoh penting tetapi sepertinya, saya katakan sepertinya ini yang mereka tafsir bukan kita tafsir, sepertinya Dia adalah manusia yang lebih tinggi dari yang lain, bukan Allah yang merendahkan diri. Karena sepertinya tidak ada pernyataan eksplisit dari Matius ataupun Lukas bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Orang-orang lain mungkin akan mempertanyakan hal itu, apakah benar Yesus adalah Allah? Siapa yang mengatakan Yesus adalah Allah? Di mana ada kalimat yang secara eksplisit menyatakan Yesus adalah Allah di dalam Injil Matius dan Lukas? Memang di Yohanes ada, tapi mungkin Yohanes kitab yang melawan Injil Matius dan Lukas sehingga sepertinya kita mesti pilih. Kamu kalau pilih sinoptik, Matius dan Lukas, kamu akan tolak Yohanes. Kalau kamu pilih Yohanes kamu akan tolak Matius dan Lukas, ini sepertinya yang terjadi. Tetapi Saudara dan saya mesti sadar akan beberapa hal bahwa mengatakan Yesus adalah Allah merupakan hal yang tidak ada gunanya. Karena kita perlu diberitahu Allah yang sejati itu apa, siapa lebih tepatnya. Di dalam konteks abad pertama, sebenarnya di konteks kita juga, orang masih salah mengerti tentang siapa Allah. Sehingga mengatakan Yesus adalah Allah tidak akan menolong, karena ilah yang mereka percayai itu yang akan dikaitkan dengan Yesus. Saudara percaya dewa-dewa model apa, maka Yesus akan menjadi salah satu dewa. Mengatakan Yesus adalah Allah di dalam bahasa Yunani pakai kata Theos, ini tidak punya makna yang terlalu besar karena banyak orang akan punya konsepsi yang salah tentang Allah. Mereka percaya Allah itu banyak, dewa-dewa yang mereka percaya itu salah satu yang dipilih, dan Yesus itu cuma salah satunya. Kita lihat tradisi dari agama manapun di dalam tradisi penyembahan dewa-dewa, kita melihat banyak sekali kisah dimana manusia didewakan atau menjadi ilah. Sehingga mengatakan Yesus adalah Allah itu tidak ada poinnya. Namun baik Matius maupun Lukas juga Markus memberikan begitu banyak kisah, narasi-narasi pendek di mana sebagian diantaranya adalah menyatakan keilahian Yesus. Kalau Saudara baca bagian-bagian seperti setan sujud lalu minta untuk tidak dihakimi, Kristus jalan di atas air, ketika Yesus mengklaim otoritas yang sama dengan otoritas Allah di dalam Kitab Taurat, ketika Yesus meminta, bahkan menuntut pengikutnya unutk mempunyai kesetiaan kepada Dia dengan sama besar dengan Tuhan di Perjanjian Lama menuntut pengikutNya setia kepada Dia. Ini membuktikan Yesus adalah Allah di dalam pikiran para penulis Injil sinoptik. Mereka tidak punya konsep yang rendah tentang keilahian Yesus. Maka kalau kita tidak mengerti tradisi Yahudi di Perjanjian Lama dan bagaimana mereka memahami Allah, kita akan luput membaca dari Matius dan Lukas bagian-bagian yang menekankan keilahian Yesus. Itu sebabnya kalau Saudara mau kalimat langsung “Yesus adalah Allah”, Saudara tidak akan temukan di Matius dan Lukas, karena itu tidak berguna bagi pembaca mula-mula. Banyak raja, kaisar mengklaim dirinya adalah Alalh atau Anak Allah. Sehingga mengatakan Yesus adalah Allah bukan sesuatu yang penting kecuali Yesus adalah Allah di dalam pengertian orang Yahudi. Karena Allah di dalam Perjanjian Lama beda dengan ilah manapun.

Allah di dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang sejati, satu-satunya Allah yang sejati. Ini yang diusahakan untuk dijelaskan oleh Matius dan Lukas, mereka menjelaskan di dalam contoh-contoh kisah yang memberikan gambaran bahwa Yesus adalah Allah. Bagian-bagian seperti Yesus berjalan di atas air ini bagian yang banyak muncul di dalam Mazmur. Pertama, Allah di dalam Kejadian menenangkan lautan, lalu di dalam Mazmur Allah menginjak lautan dan menginjak Leviathan. Itu jelas jadi gambaran tentang Tuhannya orang Israel. Maka ketika Kristus dikisahkan dengan cara demikian, penulisnya ingin memparalelkan, membuat sejajar Yesus yang mereka kenal dengan Allah di Perjanjian Lama. Tetapi pembaca mula-mula yang tadinya banyak orang Yahudi, sekarang memberitakan Injil ke banyak orang. Banyak orang yang tidak punya tradisi Yahudi mulai percaya Yesus. Lalu dari orang yang tidak punya tradisi Yahudi menyebarkan lagi Injil kepada orang lain yang makin jauh dari tradisi Yahudi, tentang siapa Yesus. Akhirnya mulai ada pengertian yang kurang lengkap, ketika mereka membaca dari Injil mereka tidak melihat pengertian Yesus adalah Allah di dalam pengertian cara orang Yahudi atau di dalam cara Perjanjian Lama. Sehingga terutama di dalam Asia Minor di Turki, pengertian tentang Kristus yang adalah Ilahi itu tidak menjadi tekanan yang besar kalau ditemukan di dalam Injil. Itu sebabnya Tuhan membangkitkan Yohanes karena waktu Injil dibaca oleh orang-orang Asia Minor yang bukan Yahudi, mereka tidak lihat hal-hal yang menjadi simbol Ilahi di dalam kitab itu. Tapi Yohanes adalah seorang yang melayani di Asia Minor di Turki dan Tuhan bangkitkan dia di dalam usia yang sudah tua, dia menulis Injil bukan untuk koreksi Injil sebelumnya, tapi untuk memberikan konteks kepada orang-orang Asia Minor supaya ada jembatan antara pikiran mereka dengan tradisi Yahudi. Tapi Yohanes bukan cuma menulis untuk orang Asia Minor non-Yahudi, dia juga adalah pemimpin yang sangat penting di dalam tradisi yang disebut Johannine tradition, tradisi yang banyak dipengaruhi oleh Yohanes Pembaptis, ini orang-orang Yahudi. Jadi Yohanes sekali menulis, dia mau jangka orang non-Yahudi dan orang Yahudi di Asia Minor. Bagaimana caranya? Caranya adalah Injil Yohanes ini. Di dalam Injil Yohanes Saudara akan melihat penjelasan yang sangat cocok dengan orang-orang yang berpola pikir Helenis, Yunani. Saudara membaca Yohanes, Saudara melihat gambaran yang sangat cocok juga untuk orang-orang Yahudi. Ini adalah kitab yang sangat paradoks, di satu sisi sangat bersifat Yunani, disisi lain sangat bersifat Yahudi. Mirip dengan Kristus yang diberitakan, di satu sisi adalah Ilahi, di sisi lain adalah manusia. Itu sebabnya waktu Saudara baca Injil ini Saudara akan menemukan ada hal yang sifatnya seperti pecah, di satu sisi sangat Yahudi, di sisi lain mengapa pakai bahasa seperti Logos. Ini sesuatu yang membuat orang ingat tradisi dari pikiran Yunani. Maka Yohanes ingin memberikan konteks kepada orang-orang non-Yahudi dan juga penjelasan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Allah yang datang menjadi manusia.

QnA PA ANAK

Anak-anak dapat mengirimkan pertanyaan tentang Alkitab/iman Kristen berupa video singkat ke WA 0851-0507-1880, dengan menyertakan nama, umur, kelas, dan asal kota

Apa Artinya Menurut Takaran Iman?

Roma 12: 3-8, “berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku. Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu, janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang yang patut kamu pikirkan atau lebih akurat. Janganlah kamu memikirkan dirimu tinggi lebih patut dari apa yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa. Sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama. Demikian juga kita, walaupun banyak adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jikalau karunia untuk melayani baiklah kita melayani. Jika karunia untuk mengajar baiklah kita mengajar. Jika karunia untuk menasehati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas. Siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin. Siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”. Saudara kita berfokus kepada karunia dalam pelayanan di dalam gereja Tuhan. Dan awal dari tema ini, Paulus menekankan, jangan anggap dirimu tinggi, ini ada kaitan dengan tuntutan Paulus setelah itu bahwa orang Kristen adalah hamba satu dengan yang lain. Jadi kita memposisikan diri sebagai pelayan sebenarnya. Pelayan yang melayani, bukan sebagai orang penting yang diberikan kesempatan untuk mengatur atau memimpin. Maka ketika kita menjadi orang Kristen, kita diajak oleh Tuhan untuk menjadi hamba bagi yang lain. Menjadi pelayan bagi yang lain tentu ada tujuan bukan cuma sekadar aktivitas untuk melayani. Setiap kegiatan yang Tuhan perintahkan orang Kristen lakukan selalu punya tujuan yang besar, yang sesuai dengan kerajaan Tuhan, yang Tuhan mau menyatakan di bumi ini. Jadi sebenarnya jika kita melayani Tuhan, tapi kita tidak tahu arahnya mau kemana, kita seperti melakukan kesibukan dan aktivitas yang banyak, tetapi kita tidak menjadi berlimpah dengan kesadaran bahwa yang kita kerjakan sebenarnya bagian dari pekerjaan besar yang Tuhan mau lakukan. Maka di dalam Kitab Suci ditekankan apa yang Tuhan kerjakan melalui membangkitkan Israel dan apa yang Tuhan kerjakan melalui membangkitkan Kristus, ini yang kita sebagai orang Kristen sedang lakukan. Kita berbagian di dalam pekerjaanNya Tuhan, bukan pekerjaan kita. Dan yang Tuhan kerjakan, Tuhan nyatakan dengan jelas di dalam Kitab Suci, maka semua kegiatan kecil yang kita kerjakan, aktivitas kecil apapun itu harus kita kaitkan atau harus didorong oleh kesadaran bahwa Tuhan melakukan pekerjaan besar, membawa pekerjaanNya di bumi ini. Apa yang dikerjakan Kristus atau apa yang dikerjakan para rasul di dalam Kitab Kisah Rasul dan apa yang dikerjakan orang-orang Kristen setelahnya, harus sesuai atau harus masuk ke dalam pekerjaan Tuhan yang Tuhan nyatakan di dalam Kitab Suci. Itulah sebabnya Saudara dan saya perlu belajar untuk melihat apa yang Tuhan kerjakan, aspek-aspek apa yang penting untuk kita kerjakan di dalam konteks kita. Setiap pelayanan itu intinya apa. Waktu kita memberitakan injil, sebenarnya kita sedang melakukan apa, waktu kita melayani satu dengan lain sebenarnya kita sedang melakukan apa, waktu kita melayani di dalam kebaktian sebenarnya kita sedang lakukan apa. Semua ini harus ada kejelasan. Itu sebabnya di dalam Roma 12, Tuhan memimpin kita di dalam pengertian yang tepat melalui ajaran Paulus supaya kita belajar mempunyai beberapa hal sebelum masuk ke dalam pelayanan. Yang pertama yang sangat jelas adalah kamu mempunyai kesadaran sebagai hamba. Saya adalah hamba, saya adalah orang yang ingin melayani, ingin menjadi berkat bagi orang lain. Ini perspektif harus ada, karena kalau tidak, kita akan ada di dalam gereja dan di dalam masyarakat sebagai orang yang menuntut. “Saya ingin tahu apa yang bisa dilakukan untuk saya”. Orang menuntut ketika ada di dalam gereja misalnya, “saya ingin tahu apa yang harus dilakukan untuk saya, apakah gereja sudah lakukan untuk saya?”, itu tuntutan yang absurd, yang tidak tepat. Orang harus menuntut gereja, tidak boleh tidak. Gereja harus dituntut untuk berfungsi benar, tapi gereja itu adalah tubuh Kristus, dia adalah pengantin Kristus. Apakah yang gereja lakukan menyukakan Kristus atau tidak, itu isu yang lebih penting dari pada mengatakan, “apakah yang gereja lakukan memuaskan saya atau tidak. Apakah saya merasa sudah cukup dilayani”. Bukankah engkau dipanggil untuk melayani? Tuhan Yesus ada di dalam dunia dan Dia mengatakan di dalam Matius “Aku datang, Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani”, Dia memberikan pelayanan, bukan menuntut pelayanan kepada diriNya. Hal yang seringkali dilakukan orang Kristen adalah tidak puas terhadap pelayanan gereja terhadap dirinya, bukan kepada Kristus. Memang kita harus tuntut gereja, kita mengkritik diri kita dan juga gereja lain dengan menekankan apa yang Tuhan kehendaki dari gerejaNya. Engkau adalah pengantin Kristus, cintailah Kristus. Engkau adalah pelayan Kristus yang membawa firman Tuhan ke dalam dunia, maka nyatakanlah firman, jangan tipu orang dengan kalimat-kalimat yang sepertinya bagus tapi melawan firman. Jangan hancurkan bangunan iman yang dikerjakan di dalam sejarah oleh ajaran yang ngawur. Jadi kita menuntut gereja, tapi bukan menuntut di dalam cara yang tidak tepat, yaitu menjadikan diri kita tinggi, kemudian yang lain menjadi pelayan yang memberikan pelayanan kepada kita. Kita bukan subjek yang dilayani. Kita adalah hamba yang melayani. Kita bukan orang yang tuntut “apakah saya sudah terima pelayanan atau belum?”, tapi kita adalah orang yang tuntut diri “saya cuma hamba, mari Tuhan izinkan saya bekerja bagiMu. Izinkan saya melayani orang lain”. Ini harus ada, kalau tidak, sebenarnya kita belum Kristen. Karena di dalam ayat yang kita baca, Paulus menekankan “berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku”,  Paulus tidak merasa diri sebagai orang penting yang harus dilayani, dia pelayan. Tapi dia tahu dia punya anugerah dari Tuhan untuk mengajar dengan otoritas rasuli. Maka dia mengatakan “jangan anggap dirimu tinggi. Jangan pikir dirimu sebagai orang yang menerima pelayanan, tapi pikir dirimu sebagai orang yang harus melayani”. Sudah melayani? Sudah jadi berkat bagi orang lain? Di dalam kehidupan bergereja, sudahkah engkau mempunyai jiwa melayani satu dengan lain? Kadang-kadang gereja menjadi tempat seperti les teologi, datang untuk dengar khotbah, dapat pengertian lalu menghilang. Apapun yang dikerjakan gereja, orang tidak tahu. Apa yang dikerjakan gereja hanya sebagian yang tahu dan terlibat. Yang lain tidak peduli “aku kan yang dilayani bukan yang melayani. Aku tidak mau repot, mengapa mesti repot, ini bukan urusanku. Sudah ada pendeta, sudah ada majelis, biar mereka yang urus”, ini sifat yang tidak benar. Sifat hamba adalah sifat yang sangat penting di dalam Kitab Suci, karena Kitab Suci memperkenalkan sifat hamba yang beda dari dunia. Dunia memperkenalkan hamba yang pasif, sedangkan Kekristenan memperkenalkan hamba yang aktif. Yesus Kristus memperhamba diriNya, Dia bukan hamba karena terpaksa. Dia tidak datang dan mengatakan “Aku tidak mampu jadi yang lain, mau jadi gubernur tidak bisa, mau jadi raja tidak bisa, mau jadi pemimpin tidak bisa. Aku jadi pembantu saja, terima order lalu jalankan”, bukan. Yesus Kristus sengaja menjadikan diriNya hamba bukan karena terpaksa. Maka Dia adalah hamba yang juga Raja. Gambar Allah di dalam Alkitab identik dengan Raja, tapi mulai dari Kitab Yesaya diperkenalkan tentang raja yang juga hambah. Ini ekstrim tinggi dan rendah, raja yang juga hamba. Dan Paulus memperkenalkan di dalam surat Roma “kamu adalah anak, anak Allah. Kamu juga adalah hamba”, ini juga ekstrim yang tinggi. Alkitab selalu mengajarkan kita untuk berpikir secara paradoks, bukan berpikir secara golden means.Kita tidak menekankan tengah, “kamu tinggi atau rendah?”, “tengah-tengah. Saya tidak tingg-tinggi amat, tidak rendah-rendah amat, saya tengah-tengah”, bukan. Alkitab mengatakan kamu ekstrim tinggi sekaligus ekstrim rendah. Kamu punya status sangat penting anak Allah, mengapa bisa dapat status ini? Karena Kristus. Jadi posisi kita sangat tinggi sekaligus sangat rendah. Cara berpikir seperti ini yang sulit orang tangkap, karena kita maunya ada middle ways, ada golden means, ada jalan tengah. Yesus itu Allah atau manusia? “Di tengah-tengah, tidak manusia-manusia amat. Tapi tidak juga Allah-allah amat”, itu bidat. Yesus itu Allah sepenuhnya, tapi juga manusia sepenuhnya, ekstrim. Dia adalah Allah dan Dia adalah manusia. Allah itu Tritunggal, 3 atau 1? Ekstrim 3, 3 pribadi. Ekstrim satu, satu substansi jadi bukan tengah-tengah perpaduan 3 dan satu. Dia benar benar 3 dan benar-benar 1. Tiga dalam apa? dalam persen, dalam pribadi. Satu dalam apa? dalam esensi, dalam substansi. Yesus punya dwi natur apa saja? Dia Allah sejati, ekstrim. Dia juga manusia sejati sama dengan kita. Ini yang membuat kita menyadari bahwa Alkitab mengajar kepada kita cara berpikir yang tidak akan pernah disamai oleh cara berpikir dunia. Dunia dan cara berpikir normal tidak mungkin bisa menyamai cara berpikir yang dilatih ada pada kita di dalam Kitab Suci. Ini bukan cara berpikir kontra, tahu dari mana cara berpikir kita bukan nyeleneh dan aneh? Yang kita bisa ketahui bahwa cara berpikir Kristen tidak aneh, tidak nyeleneh, tidak menjadi unik secara aneh, karena kita tahu bahwa setiap kali dunia memikirkan tema tertentu, tema Kristen bisa mengoreksinya. Tema Kristen bisa menjadi perspektif lain yang indah. Perspektif lain yang menantang orang berpikir dengan cara yang beda. Ini yang Kekristenan di dalam tradisi filsafat selalu tawarkan. Bagaimana dunia berpikir, sekarang bagaimana Kristen berpikir. Orang sering mengagumi kemampuan Plato dan Aristotle mempengaruhi dunia? Bahkan ada filsuf Amerika di abad 20 mengatakan seluruh sejarah filsafat barat hanyalah footnotes dari Plato. Plato mengatakan apa ini footnotes. Tapi banyak penyelidik, orang-orang seperti John Zizioulas misalnya, dan para teolog dan juga para pemikir Kristen, mulai melihat pentingnya pemikiran bapa-bapa gereja. Mereka bukan Platonis, cuma sekadar ikut Plato, mereka me-reinterpretasi Plato dengan cara yang tidak mungkin bisa dipahami oleh Platonis. Mereka punya cara berpikir Kristen yang interaksi dengan cara berpikir Plato dan menawarkan aspek yang beda. Misalnya di dalam merumuskan penjelasan tentang Tritunggal, ternyata membawa cara baru untuk memahami substansi. Tidak sama dengan Plato, beda. Mengoreksi apa yang Plato pikirkan. Kalau Saudara pelajari tema-tema ini, Saudara akan kagum Kekristenan tidak seperti yang banyak orang pikirkan. Banyak orang pikirkan orang Kristen itu cuma orang beriman yang tidak bisa mikir, karena pemikiran anti iman. “Pokoknya kalau kamu beriman, jangan mikir. Kalau kamu berpikir, kurang iman. Makin beriman, makin tidak mikir”, ini pun membuat kita mikir, benar apa tidak? Jadi ketika Saudara ditantang oleh orang Kristen yang salah, mengatakan “orang Kristen tidak perlu mikir beriman saja kepada Tuhan”. Tidak perlu tahu strategi, tidak perlu tahu perkembangan dunia, beriman kepada Tuhan, itu Kristen yang memburukkan nama tradisi Kristen. Itu Kekristenan yang salah. Maka di dalam Kekristenan yang asli, yang benar, selalu ada tantangan kepada budaya sekitar, budaya kontemporer. “Kamu berpikir cara begini ya? Saya tawarkan cara yang baru. Cara berpikir dunia Yunani tidak pernah bisa kaitkan antara pribadi dengan esensi. Esensi adalah yang sifatnya tidak bersifat pribadi, tapi Kekristenan menawarkan prinsip yang beda. Bahwa esensi pun tidak mungkin lepas dari konteks, dari komunitas dan dari pribadi. Hal ini membuat kita sadar bahwa Alkitab adalah firman Allah yang punya pemikiran yang akan koreksi pemikiran dunia. Itu sebabnya siapa mempelajari Kitab Suci dengan setia sambil pelajari pikiran dunia, dia akan mendapat berkat yang besar. Siapa yang pelajari pikiran Alkitab tanpa tahu apa yang orang pikirkan di dalam dunia, dia akan sangat-sangat gagal menghargai indahnya Kekristenan. Maka siapa yang mau belajar, belajar Kitab Suci baik-baik, tapi juga belajar pengetahuan yang kamu miliki dengan setia sambil kritik, dengan rendah hati dan kriti,k sambil serius sambil lihat bagaimana teologi Kristen menawarkan berkat, menawarkan masukan, menawarkan perspektif kepada pikiran dunia. Di dalam Universitas Heidelberg di Jerman, ada sekelompok orang ahli biblika, ahli Perjanjian Baru, lalu ada juga dari Princeton ahli Perjanjian Lama, kemudian ada ahli sistematika teologi, mereka berkumpul, lalu mereka juga undang John Polkinghorn, seorang ahli sistematik dari Inggris, dari Cambridge kalau saya tidak salah. Mereka berkumpul lalu mengatakan “mari membuat seminar, keliling ke mana-mana”. Seminarnya adalah menawarkan perspektif teologi Kristen bagi ilmu, ilmu apapun itu, filsafat, ekonomi dan lain lain. Maka mereka cari ahli di dalam tiap bidang yang juga mengerti teologi dengan dalam. Dan ternyata ketemu orang-orang yang punya cara pikir sama, ini semua tradisi Protestan, orang Reformed. Maka mereka keliling berikan seminar, sayangnya seminarnya diadakan kebanyakan dalam bahasa Jerman dan Inggris. Jadi waktu presentasi bahasa Jerman, saya tidak mengerti mereka ngomong apa. Lalu yang tafsirkan, yang berikan presentasi bahasa Inggris ini masih bisa diikuti, Tapi untungnya publikasi mereka itu ada versi Inggris. Saudara bisa cek apa yang dilakukan oleh orang-orang seperti Michael Welkerr dan John Polkinghorn, mereka edit buku. Buku ini biasanya adalah hasil dari bahan seminar mereka. Ada tema ekonomi, ada tema ekologi, ada tema natural science, dan ada tema filsafat, 4 ini sudah keluar. Maka kita lihat bahwa perspektif Kristen tidak aneh, perspektif Kristen memberikan masukan kepada cara berpikir umum. Demikian juga cara berpikir yang biasanya tengah. Jadi kalau ada 2 ekstrim, kita ambil jalan tengah. Tapi Kekristenan menawarkan bagaimana dengan pikiran paradoks? Dua-dua adalah sama-sama benar. Jadi kamu adalah tuan atau hamba? “Saya adalah anak Allah”, “anak Allah itu tinggi”, “iya, tapi saya juga hamba satu dengan lain”. “Berarti kamu rendah”, “rendah”, “kamu tinggi atau rendah?”, “dua-duanya”, “di tengah-tengah?, “tidak, saya tinggi dan rendah, saya mulia tapi juga rela memperhamba diri. Mengapa begitu, kamu tiru siapa? Saya meniru Kristus, Kristuslah contoh, Dialah Anak Allah, Dia bahkan adalah Allah sejati. Dia mencipta segala sesuatu, tapi Dia masuk ke dalam ciptaan, Dia merendahkan diri, Dia menjadi hamba. Kalau Dia rela menjadi hamba, berarti bukan natureNya memang hamba, tidak. Ada pilihan, lalu Dia jalankan kehidupan sebagai hamba dan berpuas di situ, tidak. Dia adalah Anak Allah dan Dia adalah hamba. Kita sulit mengalami hidup seperti ini karena biasanya kita akan berpikir “kalau tinggi ya tinggi, kalau rendah ya rendah. Yang tidak mau rendah, tunjukkan kamu tinggi. Yang tidak bisa tinggi, terima diri rendah”. Makanya ada jiwa memamerkan apapun yang kita miliki untuk menunjukkan level kita. Kalau gagal ya sudahlah, belajar terima diri bahwa saya cuma orang rendah. Ini sesuatu yang dikritik oleh Kekristenan. Kekristenan mengatakan, bagaimana kalau kita melihat dari Kitab Suci, apa yang diajarkan Kitab Suci, manusia itu mulia sekaligus manusia itu hina, manusia itu tinggi sekaligus rela memperhamba diri. IIni kerelaan yang tidak ada di dalam skema pikir dunia ini. Kamu jadi hamba karena terpaksa, kamu jadi tuan ya sudah nikmatilah ketuananmu. Kalau kamu bisa punya pegawai, kamu bisa punya orang yang kamu kuasai, berarti kamu orang tinggi.Tapi Saudara, kehidupan gereja mengajarkan yang lain, di dalam gereja ada saling melayani. Maka ketika Saudara melihat misalnya, apa yang dikerjakan orang untuk melayani di dalam kebaktian? Ada penyambut, penyambut yang menyambut orang. Apakah orang harus disambut? Iya perlu, untuk menyatakan keramahan. “Jadi yang menyambut itu hamba?”, “iya, dia pelayan, melayani yang lain”. Ada usher yang tunjukkan jalan supaya orang bisa duduk di tempat yang tepat. Tapi yang melayani, di Minggu  depan menjadi yang dilayani, karena ada jadwal yang berubah. Lalu yang melayani sekarang jadi yang dilayani, Minggu depan lagi dia jadi yang melayani lagi. Jadi kalau begitu standar ukuran hierarkinya bagaimana? Siapa orang penting, siapa yang tidak? Tidak ada yang penting. Tapi semua juga penting. Jadi penting atau tidak penting? Penting sekaligus tidak penting, tinggi sekaligus hamba. Bagaimana dengan pelayan mimbar? Pelayan mimbar tinggi kan? Mimbarnya memang lebih tinggi supaya saya bisa dilihat sama orang yang lebih belakang. Tapi pelayan mimbar, pelayan firman adalah pelayan. Dia memperbudak diri untuk bisa jadi berkat, dia harus hamba yang rela habiskan segala hal yang dia harus kerjakan untuk fokus ke dalam kepekaan memberitakan firman, dia tidak boleh menikmati apa yang bertentangan dengan tugas dia melayani memberitakan firman. Dan dia akan punya kerendahan hati di hadapan Tuhan dan di hadapan jemaat untuk menjadi berkat bagi yang lain. Sifat ini hanya ada pada Kekristenan di dalam diri Kristus. Kristus adalah Allah yang mulia dan Dia juga adalah hamba yang rendah. Surat Filipi menyatakan bahwa Dia adalah yang paling tinggi, tapi meskipun Dia adalah dalam rupa Allah, kata yang dipakai itu morphe oleh Paulus, dan ini pun kata yang mengoreksi atau mengkritik konsep morve di dalam filsafat Aristoteles. Saudara kalau suka baca filsafat Yunani, harap bisa temukan juga tulisan-tulisan yang menunjukkan keunggulan tema Alkitab dari pada filsafat Yunani. Kalau tidak kita terus berpikir Alkitab adalah versi awam dari Yunani. Ini salah satu pikiran yang dipopulerkan oleh seorang namanya Bertrand Russell, dia mengatakan bahwa Paulus adalah versi Plato bagi orang awam. Jadi kalau Plato asli terlalu sulit, Paulus itu versi rendahnya. Ini menghina sekali, dia tidak mengerti betapa dalamnya pikiran Paulus kalau dibandingkan dengan pikiran klasik dari Yunani sekalipun. Maka di dalam Filipi dikatakan Kristus itu punya morve Allah. Morphe itu berarti pernyataan kemuliaan, ini lain dengan konsep Aristotel, morphe itu berarti bagian yang ditunjukkan keluar dari bentuk asli di dalam. Paulus mengatakan Kristus itu sebenarnya mampu menunjukkan kemuliaan Ilahi. Tapi Dia pilih untuk menunjukkan kerendahan hamba. Morphe Allah tidak Dia tunjukkan, ini yang namanya “walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan”, itu bukan berarti Yesus berhenti jadi Allah. Dikatakan “yang walaupun dalam rupa Allah, morphe Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan”. Maksudnya tampilan Dia bukan tampilan Allah. Tampilan Dia itu tampilan hamba. Bahkan waktu Kristus mengerjakan mujizat yang tidak ada orang pernah kerjakan pun, Dia kerjakan di dalam cara yang tidak beda dengan para nabi. Mujizat Kristus tidak pernah terjadi sebelumnya, tetapi Dia kerjakan seperti nabi, sehingga orang meskipun lihat, tidak langsung menafsirkan dia Allah. Mereka akan mengatakan “kalau begitu Dia nabi”, hanya orang-orang tertentu yang peka yang Tuhan beri anugerah yang mulai berpikir “mengapa mujizat Dia lambangnya mirip dengan apa yang Allah kerjakan, yang Dia kerjakan seperti jadi lambang bagi apa yang Allah kerjakan”. Yang Allah kerjakan di Perjanjian Lama diulangi secara simbolik lewat mujizat Yesus. Ini yang membuat orang mulai bertanya siapa Dia. Tapi kebanyakan orang lain mengatakan “oke lah Dia mirip mirip Elia, Elisa atau mirip nabi palsu yang bisa mujizat, sudahlah tidak ada yang spesial”. Jadi Dia walaupun sanggup menyatakan kemuliaan Allah lebih pilih untuk nyatakan kehinaan hamba. Dia rela merendah. Ini jadi prinsip Kristen yang mesti kita miliki. Kalau tidak, Saudara tidak mengerti limpahnya hidup. Yang belum pernah mengalami jadi hamba, rugi, tapi yang belum pernah mengalami jadi hamba meskipun punya status tinggi, itu yang rugi. Kalau yang jadi hamba karena tidak ada pilihan, tidak rugi, memang dia hamba. Dia tidak bisa mengalami apa yang Kristen ajarkan. Tapi orang yang punya kesadaran siapa dia, lalu tetap mau merendah, ini yang unik, ini yang Kitab Suci ajarkan. Maka prinsip tinggi tapi rela merendah, ini prinsip yang penting.

Berpikir Hal-hal Tinggi

Saudara, mari kita membaca Roma 12: 2-8. Demikian firman Tuhan, “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku. Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu, janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada hal yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama. Demikian juga kita, walaupun banyak adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.vJikalau karunia untuk melayani baiklah kita melayani. Jika karunia untuk mengajar baiklah kita mengajar. Jika karunia untuk menasihati baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas. Siapa yang memberi pimpinan hendaklah ia melakukannya dengan rajin. Siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”. Saudara, ayat yang ketiga ini ayat yang sering kali disalah-mengerti, disini dikatakan “berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku. Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu, janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan” di dalam bahasa asli tidak ada hal-hal, jadi ini bukan mengenai berpikir, ini adalah thinking highly of oneself jadi sebenarnya diterjemahkan dengan lebih akurat dengan kalimat seperti ini. Aku berkata kepada setiap orang di Antara kamu, janganlah kamu memikirkan bahwa kamu tinggi. Jangan highly of oneself. Jadi sebenarnya diterjemahkan dengan lebih akurat, dengan kalimat seperti ini, “aku berkata kepada setiap orang di antara kamu, janganla kamu memikirkan bahwa kamu tinggi”, ini adalah lawan kata dari kalimat berikutnya yaitu “hendaklah kamu mampu menguasai diri di dalam level perendahan diri atau kerendahan hati”. Itu sebabnya pengertian di dalam ayat 3 ini akan berlanjut ke dalam ayat selanjutnya yang berbicara tentang hidup dalam komunitas. Tidak ada orang bisa hidup di dalam komunitas dengan baik jika dia berpikir tinggi tentang dirinya. Ini sebenarnya paralel dengan apa yang Paulus jelaskan di dalam surat Filipi 2. Di Filipi 2, Paulus memberikan nasihat yang mirip dengan kata-kata yang beda. Dikatakan bahwa di dalam Filipi 2 kita harus belajar untuk melihat kepada Kristus dan meneladani Dia. Dalam hal apa kita meneladani Kristus? Dalam hal ini, di dalam Filipi 2 “yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia”. Inilah yang dimaksudkan di dalam Roma 12 juga. Ini berarti keadaan menguasai diri, sehingga kita ada di dalam kondisi tidak mudah menonjolkan diri. Tidak mudah punya rage atau amarah, tidak mudah punya perasaan sedih yang membuat kita depresi dan tidak mudah mempunyai perasaan takut yang membuat kita mundur. Ini penguasaan diri yang kalau kita pelajari di dalam tradisi Yunani sangat di populerkan oleh tradisi stoik atau stoisisme. Orang-orang stoisisme sangat menekankan penekanan diri atau penahanan diri seperti ini. Jadi ada unsur yang sangat dipelihara di dalam ajaran stoik bahwa kita mesti punya pengendalian kepada diri sendiri. Hal-hal yang bersifat pelampiasan yang tak terkontrol itu pasti buruk. Orang tidak bisa kuasai amarah, buruk, orang tidak bisa kuasai rasa takut, buruk, orang tidak bisa kuasai rasa sombong, buruk, orang tidak bisa kuasai ingin terus menjadi utama, buruk. Inilah yang disebut dengan sophroneo atau di dalam istilah filsafat sophronesis. Ini sesuatu yang dipopulerkan untuk diajarkan oleh kaum stoik. Di dalam tradisi stoisisme yang sangat populer pada zaman Perjanjian Baru, istilah initidak asing, maka Paulus menggunakan istilah kebalikannya, “jangan kamu hyper, jangan kamu mempunyai perasaan melampaui atau perasaan angkuh yang membuat kita merasa lebih penting dari orang lain. Ini jadi satu bijaksana atau satu virtue atau kebajikan yang Paulus ajarkan di dalam pasal 12 ini dan merupakan sesuatu yang jadi penerapan dari ayat yang kedua. Perhatikan ayat yang ke-2, “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah”, mengapa mesti berubah? Karena pikiranmu sudah diperbarui. “Pikiranku sudah diperbarui, apa yang baru dari pikiranku?”, yaitu bahwa engkau tidak lagi menganggap tinggi dirimu you did not think highly of yourself anymore. Kamu tidak anggap dirimu tinggi karena kamu tahu bagaimana harus hidup di dalam komunitas. Ini yang saya mau gali di dalam ayat-ayat yang kita baca, mungkin kita tidak tuntas membahas seluruh ayat yang kita baca, tetapi saya ingin fokuskan ke ayat yang ketiga ini. Bahwa kita sangat perlu untuk mempunyai perasaan mampu menganggap diri sebagai bagian dari sebuah komunitas. “Saya part dari komunitas, saya bagian dari kelompok dimana saya ada, saya tidak lebih tinggi dari yang lain”. Ini merupakan kebalikan dari apa yang diajarkan di dalam dunia. Dunia mengajarkan keinginan sukses. Seringkali kita berpikir “kalau begitu orang Kristen tidak punya keinginan sukses”, bukan, orang Kristen mengerti sudut pandang yang beda, bukan tidak mengejar hal-hal tadi, tapi punya sudut pandang yang beda. Kadang-kadang sulit untuk arahkan orang punya sudut pandang yang beda. Karena kita terus berpikir sudut pandang kita sudah oke, kita cuma perlu tambahan informasi, itu yang problem. Kadang-kadang orang sulit memahami Alkitab bukan karena dia kurang pintar, tapi karena dia menolak untuk mengubah cara pandang, perspektif. Itu sebabnya Alkitab sebenarnya memperbarui cara kita berpikir, ini yang dimaksudkan di dalam ayat yang kedua. Kamu tidak lagi punya mode berpikir dari dunia ini, sudah diubah. Bukan berarti Saudara tidak perlu berpikir, ini tentu satu ajaran yang kacau sekali. Kekristenan justru identik dengan bertanggung jawab di dalam mengetahui identitas Kristen. Di dalam buku yang ditulis oleh Carl Trueman, dia tulis TheReal Problem of Evangelical Mind, ini satu kritik terhadap buku dari Mark Noll. Mark Noll tulis buku The Problem atau The Scandal of Evangelical Mind, di dalam buku itu, kalimat utama menurut Noll adalah bahwa evangelicals don’t have a mind, ini menghina sekali. Orang Injili tidak punya pikiran, dia sendiri orang Injili. Mark Noll sedang kritik dirinya, di kelompoknya karena banyak orang yang tidak mau berpikir, menurut dia. Tapi kalau Trueman mengkritik, bukan tidak mau mikir, tapi tidak mau tahu tentang pengakuan iman. Tidak mau tahu kredo, tidak mau tahu apa yang kita percaya, tidak mau pikir doktrin, tidak mau pikir tentang pendirian teologi ada di mana? Ini problem. Kalau kita tidak mau berpikir tentang identitas kita sebagai orang Kristen, maka kita akan jadi orang yang cuma tempel label Kristen. Tetapi yang tidak pernah mengetahui apa  perubahan yang harusnya terjadi pada saya setelah saya jadi Kristen. Saya harap kita menangkap ini dari ayat yang kedua, jangan lagi jadi sama dengan dunia karena kamu sudah diperbarui pikirannya. Cara kita berpikir sudah lain. Apa beda cara kita berpikir dengan cara dunia berpikir? Dunia tidak mampu berpikir atau tidak mau berpikir bahwa seluruh apa yang ada ini milik Tuhan. Ini pikiran yang tidak mungkin ada pada dunia. Orang dunia tidak terima kalau seluruh keberadaan ini milik Tuhan. Jadi ada perasaan di dalam cara berpikir begitu bahwa dunia ini netral, kita bisa tafsirkan semau kita, kita bisa gunakan semau kita. Kita bisa pikirkan dengan cara yang kita mau, kita bisa susun kembali struktur tentang memahami alam sesuai yang kita mau. Di dalam zaman modern, cara berpikir yang bersifat scientific itu tentu sesuatu yang orang Kristen juga suka. Cara berpikir yang bersifat scientific seringkali dibenturkan dengan Tuhan. Ini cara berpikir yang salah. Tuhan tidak harus anti cara berpikir yang bersifat akademik atau scientific. Tapi ini yang berkembang secara populer, “kalau kamu sudah mengerti bagaimana memahami alam dengan penyelidikan akademis dan scientific, maka kamu tidak perlu Tuhan”. Ini kesalahan berpikir yang sampai sekarang dunia masih miliki, Saudara akan menemukan benturan antara beriman dan berilmu. Herannya sampai sekarang orang Kristen pun masih ada dalam pola pikir seperti itu. Kalau kamu beriman, jangan berilmu. Kalau kamu beriman, kamu tidak perlu pikir tentang dunia ekonomi, bahkan ada yang tanya misalnya “boleh tidak orang Kristen pakai asuransi?”, “mengapa tidak boleh?”, “karena itu kan duniawi”. Jadi teknik perhitungan untuk pengamanan dalam segi kesehatan dan lain-lain itu milik setan, ini tidak benar. Saya tidak mendorong Saudara untuk menjadi orang yang terlalu khawatir, tapi saya juga tidak mau kita menjadi orang yang tidak punya pertimbangan karena berpikir mempertimbangkan memikirkan dengan cara yang tepat dan bertanggung jawab, itu bagian dari Kekristenan. Orang Kristen adalah orang yang mau pikir, kalau Saudara diajarkan untuk tidak usah pikir tentang iman, Saudara sedang diajarkan oleh utusan dari setan, bukan utusan dari Roh Kudus. Orang yang berpikir tentang imannya dengan serius, dia akan jauh lebih kuat dari pada orang yang tidak tahu bedanya menjadi Kristen dan tidak. Banyak orang terombang-ambing terus mengapa? Karena tidak mengerti apa yang inti dari Kekristenan, apa yang penting dari Kekristenan. Bahkan orang yang mau belajar sekalipun kadang-kadang dia belajar tahu banyak hal, tapi dia tidak tangkap esensi ini.

Pentingnya Pemandangan Kemuliaan Allah

Pasal 12 memberikan satu dorongan di ayat pertama ini, supaya kita memberikan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Saudara persembahan ini tentu kaitannya erat dengan konsep ibadah di Bait Suci. Karena orang Israel kalau mau beribadah di Bait Suci pasti akan melibatkan korban untuk membuat mereka layak. Mereka tidak bisa datang ke Tuhan kecuali mereka membawa korban. Tapi  dorongan untuk membawa korban adalah kesadaran bahwa Allah itu mulia. Di dalam Kitab Imamat ketika Tuhan memberikan hukuman kepada anak-anak Harun dinyatakan “barangsiapa Kukasihi kepada dia, Aku akan menyatakan kemuliaanKu”, kekudusan dan kemuliaan Tuhan, Tuhan nyatakan. Dan respons orang adalah beribadah dengan takut, gentar dan penuh kasih. Ini sifat yang sulit bisa ada dalam hati manusia kalau kita hanya melihat dunia ciptaan ini. Dunia ciptaan yang kita pahami tanpa Tuhan tidak menggerakkan kita untuk mempunyai hati yang beribadah. Ibadah adalah aspek yang sangat penting, maka kalau kita mengenal Tuhan memahami kemuliaan Dia, kita akan berespons dengan ibadah. Kalau kita mengenal kemuliaan Tuhan, respons apa yang kita miliki, apa yang kita ekspresikan? Alkitab mengajarkan bahwa orang Israel beribadah sebagai respons dari mengenal Tuhan. Itu sebabnya tanpa kenal Tuhan, manusia tidak mungkin beribadah kepada Tuhan. Dan tanpa beribadah, sayangnya, manusia tidak mungkin kenal dirinya. Inilah yang terjadi di zaman kita karena ibadah disingkirkan, maka manusia mengalami krisis. Kita krisis untuk kenal siapa diri kita dan orang yang berada dalam keadaan krisis, tidak kenal siapa dirinya, tidak mungkin secara aktif menyerahkan diri sebagai korban untuk Tuhan, tidak mungkin. Menyerahkan diri untuk Tuhan karena digerakkan oleh pengenalan akan Tuhan, itu yang benar. Itu sebabnya dari awal para pemikir di dalam Kekristenan sudah mengerti konsep ini. Agustinus misalnya mengatakan orang yang mengenal Tuhan akan mempunyai diri yang punya pengharapan melampaui apa yang kelihatan. Orang yang kenal Tuhan punya pengharapan melampaui apa yang kelihatan. Di dalam kuliah yang diberikan yang namanya Gifford Lectures, ini kuliah prestis sekali, ada tokoh-tokoh yang diminta untuk memberikan Gifford Lectures dan biasanya nama mereka adalah nama yang sangat terkenal di dalam dunia teologi. Pemberi Gifford Lectures yang baru di 2 tahun lalu itu adalah Michael Welker, seorang teolog Jerman. Sebelumnya ada Reinhold Niebuhr, Niebuhr memberikan lecture yaitu tentang sifat alami, sifat natural dan nasib kemanusiaan. Ini salah satu karya teologi yang sangat penting, seperti yang saya tahu, tidak ada orang bisa masuk sekolah teologi tanpa diberikan tugas baca buku ini. Dan pasti akan ada kesempatan untuk berinteraksi dengan buku ini waktu Saudara studi teologi. Buku ini sangat penting, di dalamnya Niebuhr mengkritik modernisme, kritiknya sangat tajam. Dia mengatakan ketika manusia tidak kenal Tuhan, manusia akan menurunkan dirinya karena sebenarnya jiwa manusia ingin sesuatu yang melampaui dirinya. Manusia ingin lebih, manusia tahu bahwa apa yang dia alami sekarang belum final. Dia ingin mencapai yang lebih lagi, lebih di dalam hal kemuliaan, lebih di dalam hal kekudusan, lebih di dalam hal etika, lebih didalam hal yang bahkan dia tidak bisa deskripsikan. Dia perlu sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa. Ketika manusia menekan itu, mereduksi dengan mengatakan “tidak ada kebutuhan apa-apa, pokoknya kebutuhan kita sudah cukup”. Kita sudah cukup untuk mengenal diri lewat science, lewat pengetahuan, lewat zaman, kita tidak perlu apa-apa lagi yang melampaui itu. Maka manusia sedang buang aspek yang sangat penting bagi kemanusiaannya. Manusia sedang melakukan bunuh diri secara identitas. Sangat tidak kenal siapa manusia karena pengertian tentang manusia sudah direduksi, dikurangi sampai di dalam level yang cuma natural, cuma alamiah, manusia melampaui alam. Maka kalau manusia ditafsirkan sebagai bagian dari alam dan berhenti di situ, maka kemanusiaan mengalami krisis. Ini yang di ajarkan oleh Niebuhr. Niebuhr mengingatkan perlunya untuk manusia kembali kepada desain mula-mula Tuhan bahwa kita memerlukan sesuatu yang melampaui diri kita sendiri. Kita memerlukan Allah yang melampaui kita, ini yang sebenarnya diperlukan sehingga kita beribadah. Di pertemuan yang lalu saya sudah mengutip dari Herman Bavinck, dia mengingatkan bahwa seluruh ciptaan ini punya origin, punya asal dari Tuhan. Dari pikiran Tuhan, seluruh ciptaan berasal dari Tuhan, maka tidak mungkin ciptaan dipahami dengan membuang Tuhan. Saudara tidak akan mungkin memahami alam tanpa Allah. Ini sebenarnya yang Paulus bagikan di Surat Roma. Di pasal pertama Paulus mengatakan Allah sudah menyatakan diri, tapi manusia menolak untuk menyembah Tuhan. Apa yang tidak kelihatan dari kuasa Tuhan dinyatakan dengan jelas di dalam alam ciptaan. Tapi bangsa-bangsa menolak Tuhan dan menciptakan berhalanya masing-masing. Bayangkan indahnya surat ini, diawali dengan bangsa-bangsa tersesat, diakhiri di pasal 9 dan 10, panggilan bagi bangsa-bangsa lain. Waktu orang menyadari “Tuhan sudah panggil bangsa-bangsa lain, berarti Israel dibuang”. Paulus mengatakan Israel pun akan diberikan anugerah yang sama dengan bangsa-bangsa lain, yaitu dari keadaan memberontak, Tuhan berikan panggilan kepada mereka. “Kamu berontak, tapi Aku panggil kamu, kamu dapat kembali kepadaKu”, ini berkat Tuhan, inilah Injil. Injil diberikan kepada orang yang hatinya sedang memberontak. Bangsa-bangsa sedang memberontak, lalu Tuhan panggil. Israel memberontak dan Tuhan panggil. Jadi kalau kita telusuri kisah dari Surat Roma itu indah sekali, konsisten. Paulus membahas tentang Allah menyatakan diri di dalam alam. Tapi manusia tidak mau sembah Allah. Tapi Tuhan berbelas-kasihan, panggil bangsa-bangsa kembali kepada Dia, sehingga bangsa-bangsa dapat kembali mengenal Allah. Setelah merangkum di dalam pasal 11, betapa mulianya Tuhan, Paulus melanjutkan dengan mengatakan, “karena itu saudara-saudara, mari persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang sejati”. Dengan kata lain, Paulus sedang memberikan fondasi bagi ibadah. Ibadah bisa terjadi karena engkau tahu betapa mulianya Tuhan seperti yang Dia nyatakan di dalam alam dan di dalam sejarah. Jadi tanpa kenal Tuhan, manusia tidak akan mempunyai pengertian akan makna hidupnya sendiri. Kita akan ganti itu dengan berhala, dengan agama palsu. Mengapa manusia mesti beragama? Karena kalau tidak, kita kehilangan jati diri. “Bisa saja menjadi Agnostik, bisa jadi Atheis, bukankah itu juga opsi? Manusia tetap merasa damai meskipun tidak bertuhan? Iya, dia mungkin merasa damai, tapi damai palsu, damai di dalam kecukupan yang palsu. Di dalam pengertian Niebuhr, kita sedang melakukan pengosongan identitas, kita harusnya lebih dari itu, tapi kita cuma ada di dalam level yang sangat rendah. Ketika kita memahami konsep ini, bahwa manusia perlu Tuhan untuk mengagumi hidup, mengagumi alam dan mengagumi segala sesuatu di dalam makna yang benar. Maka kita mengerti mengapa Tuhan panggil kita kembali. Herman Bavinck mengatakan, segala hal yang kita bisa lihat, tidak mungkin kita pahami, kecuali kita tahu bahwa ini adalah sesuatu di dalam rancangan Tuhan. Tuhan yang punya ide, Tuhan yang desain seluruh sejarah. Lalu Tuhan sekarang nyatakan di dalam penciptaan. Itu sebabnya di dalam pikiran manusia ada kapasitas untuk menangkap apa yang Tuhan nyatakan di dalam alam. Alam sendiri ada kapasitas untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Seluruh alam memamerkan kemuliaan Tuhan dan seluruh manusia diundang untuk menikmati kemuliaan Tuhan. Siapa sudah menyadari Allah mulia, dia akan menyembah Tuhan. Siapa belum sadar, dipaksa menyembah pun dia tetap hanya akan melakukan penyembahan secara kewajiban. Roma 12: 1 sebenarnya adalah konklusi dari pameran kemuliaan Tuhan. Karena Tuhan itu mulia, maka kamu akan menyembah. Jadi Paulus tidak sedang berikan perintah “karena itu saudara-saudara demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu”. Ini satu dorongan, Paulus memberikan eksortasi, Paulus memberikan dorongan “karena kamu sudah dengar apa yang saya bagikan. Maka karena kemurahan Allah mari menyembah Dia”. Penyembahan adalah ekspresi yang tak tertahankan yang ingin kita berikan. Saudara kalau lihat di dalam Mazmur, banyak sekali, contoh Mazmur di dalam pembuangan banyak sekali catatan tentang kerinduan orang Israel mau kembali ke Tuhan, Mazmur 42 mengekspresikan ini. Juga Mazmur-mazmur lain yang ditulis sebagai ratapan di pembuangan, selalu berisi keinginan untuk kembali beribadah ke Tuhan. Keinginannya bukan untuk kembali jadi kaya atau kembali sukses atau kembali di diakui sebagai bangsa. Tapi kerinduan mereka adalah “Tuhan, jangan buang kami. Bolehkah kami kembali ke baitMu? Bolehkah kami kembali menikmati kehadiranMu”. Tuhan senantiasa hadir dalam sejarah Israel, mengapa sekarang tidak lagi? Jadi mereka menangisi tidak hadirnya Tuhan. Dan mereka ingin dipulihkan dengan cara mereka dapat kembali beribadah kepada Tuhan. Kalau kita tidak punya kerinduan beribadah, sebenarnya ada sesuatu yang salah di dalam diri kita. Something wrong with us ada yang salah dengan kemanusiaan kita. Mirip dengan kalau Saudara tidak punya hati nurani waktu lihat penderitaan orang lain. Saya yakin di antara kita kalau sedang mengemudi lalu lihat ada kecelakaan, selalu ada perasaan yang mengerikan sekali, atau ada orang perlu bantuan Saudara pasti tergerak untuk tolong. Ketika Saudara lihat ada binatang ketabrak misalnya Saudara tidak terlalu peduli. Tapi kalau Saudara melihat ada manusia terluka, Saudara punya belas kasihan, hati Saudara tergerak untuk ingin tolong. Lalu kalau ada orang menjadikan penyakit orang lain sebagai hiburan, Saudara akan bilang “kamu gila, kamu error, hatimu seperti apa, nuranimu dimana?”, Saudara akan mengatakan begitu. Tapi sekarang saya ingin katakan hal yang sama tentang ibadah. Jika saya tidak punya keinginan untuk ibadah “something wrong with me, ada yang salah dengan saya”, mengapa salah? Karena engkau tidak bereaksi terhadap pameran kemuliaan Tuhan. Saudara kalau disoroti dengan terang yang yang terang sekali, Saudara akan bereaksi dengan menutup mata, matamu tidak sanggup lihat terang yang terlalu besar. Maka waktu terang disorot, Saudara akan bereaksi. Kalau Saudara tidak bereaksi, terang begitu terang dipancarkan dan Saudara tetap melotot lihat, orang akan pikir Saudara buta. Mtamu tidak mampu melihat makanya terang itu tidak direaksikan dengan cara engkau melindungi mata. Demikian juga Saudara dan saya sebagai manusia memahami kemuliaan Tuhan dipancarkan, lalu kita tidak menyembah, kita mengabaikan fakta Allah ada dan menyatakan kemuliaanNya. Mengapa begitu? Apa yang salah dengan manusia? Mengapa manusia tidak ingin beribadah? Kalau di dalam pengertian Paulus dari Roma pasal 1-11 manusia tidak beribadah karena tidak tahu betapa mulianya Tuhan. Mengapa bisa tidak tahu? Karena sudah diselewengkan oleh dosa. Dosa menyelewengkan kita dengan cara membuat kita menyembah yang lain, meskipun pancaran kemuliaan Tuhan itu bersumber dari Tuhan sendiri. Tuhan menyatakan kemuliaanNya di dalam alam dan di dalam sejarah. Namun kita bereaksi dengan menyembah yang lain. Ini problem dari manusia. Itu sebabnya saya tertarik untuk membagikan beberapa penyelidikan dari para pemikir tentang tema ibadah. Ada hal-hal menarik yang saya pikir kita semua mesti tahu.