Hidup dari Kematian

Di dalam Adam dan Kristus, ini dua hal yang kita lihat dalam pertemuan yang lalu. Di dalam Adam adalah mati, di dalam Kristus adalah hidup. Dan kita bisa melihat limpahnya pengertian hidup di dalam Kristus sama seperti kita bisa melihat banyak ragam pengertian yang bisa kita pahami tentang apa itu mati. Ini bukan hanya sekedar mati dalam arti tidak lagi punya kesadaran diri atau mati karena tubuh kita tidak lagi berfungsi. Ini juga bukan hidup hanya karena kita sadar kita hidup. Mati dan hidup dalam Kitab Suci menunjukan dua ekstrim yang beda. Mati adalah keadaan yang bentur dengan kuasa penciptaan Tuhan, tidak berbagian di dalam penciptaan Tuhan. Sedangkan hidup adalah sebaliknya, mengambil kelimpahan dari rencana penciptaan Tuhan. Ini bukan sekedar hidup atau mati dalam pengertian sempit, “nanti saya akan ke sorga atau ke neraka?”. Kalimat-kalimat dari Kitab Suci memberikan penjelasan tentang hidup sebagai sesuatu yang Tuhan sudah topang dan akan Tuhan sempurnakan nanti. Hidup bukan sesuatu yang mendadak diberikan pada titik kita mati. Hidup adalah sesuatu yang Tuhan sudah kerjakan sekarang. Maka firman Tuhan mengajak kita untuk melihat apa yang Tuhan kerjakan, hal apa yang Tuhan sudah lakukan, dan yang Tuhan janjikan akan lakukan. Ini yang membuat kita mengerti tentang keindahan hidup. Kalau Saudara lihat dalam ayat 17 ada benturan di dalam Adam mati, tetapi di dalam Kristus tidak langsung dibilang hidup. Dikatakan di dalam Kristus akan ada kelimpahan, akan ada kasih karunia, ini perbandingan mati dan hidup. Paulus mengatakan “kalau bukan mati maka kamu akan menerima segala kelimpahan kasih karunia, anugerah, kebenaran”, dan itulah hidup. Di ayat 18 benturan ini kembali dilakukan oleh Paulus, sama seperti satu pelanggaran, semua beroleh penghukuman, harus terpotong dari keindahan kehidupan. Demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Pembenaran adalah kata yang sangat sering dibahas dalam Perjanjian Lama. Pembenaran adalah cara Tuhan menyatakan keunikan dari umatNya. Di Kitab Imamat dikatakan “kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allahmu adalah kudus”. Dan kalau Saudara menyelidiki kata yang dipakai, itu bukan kata perintah. Tuhan tidak mengatakan “ayo hidup kudus, supaya kamu sama dengan Aku”. Tuhan mengatakan “kamu sudah kudus”, itu bagian yang sangat indah. Dan pengertian kudus berarti orang-orang yang di dalam Tuhan diberikan status sebagai manusia seperti rancangan awal yang Tuhan mau ada pada manusia. Ini berkait dengan segala keteraturan kehidupan yang penuh hikmat karena mengenal Tuhan. Roma tidak mengatakan hidup dan mati dengan cara yang simple, Roma membandingkan mengapa hidup itu penting dan mengapa alternatif yang lain yaitu mati adalah sesuatu yang sia-sia. Juga di dalam ayat 19, ketidaktaatan satu orang telah membuat semua orang berdosa, ketaatan satu orang membuat semua orang menjadi orang benar. Adam tidak taat karena dia tidak mau dalam status dan kondisi limpah yang Tuhan rancangkan, sedangkan Kristus berada dalam kerelaan yang tunduk, berada dalam status dan kondisi yang Tuhan rancangkan untuk Dia. Hal-hal ini membuat kita sadar bahwa manusia terkutub menjadi dua di dalam Adam atau di dalam Kristus, tidak ada in between. Pengertian seperti ini sangat penting karena ini adalah keunikan berita Injil yang Paulus sedang sampaikan di Roma 5. Jadi Paulus sangat menekankan di sini bahwa baik Israel maupun seluruh bangsa lain adalah berada di dalam Adam. Ada di dalam Adam dan itu berarti semua orang, termasuk bangsa Israel, termasuk umat yang mengaku diri bahwa “aku sudah mengenal Tuhan”, mereka pun ada di dalam Adam. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita ada di dalam Adam. Bisakah kita lepas dari pengaruh di dalam Adam? Tidak bisa. Kita ada di dalam kaitan dengan Adam, seperti kepala dengan tubuhnya. Dialah kepala dari manusia.

Kalau Saudara tanya “mengapa dia kepala dari manusia?”, karena Alkitab menyatakan demikian. Dialah manusia yang pertama, dialah adalah archetype-nya manusia yang pertama. Saudara tidak bisa lari dari ini, karena kita percaya Tuhan memenuhi bumi ini dengan manusia melalui satu orang saja. Ini ditekankan oleh Paulus dalam khotbahnya di Kisah Para Rasul, bahwa seluruh bumi penuh dengan manusia dimulai dari satu orang. Dan di dalam Bahasa Ibrani, kata Adam punya permainan kata yang bisa dikaitkan dengan tanah. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan manusia pertama ini menjadi kepala, menjadi nenek moyang dari semua manusia. Dengan demikian kita terikat di dalam dia, karena dia adalah kepala kita. Kita mungkin akan baca Alkitab dengan pemikiran modern kita, kalau begitu kita akan salah baca, karena Alkitab bukan tulisan modern. Kalau Saudara mengatakan “mengapa saya nasibnya harus berkait dengan Adam? Saya kan individu yang bebas, saya tidak perlu satu dengan Adam.” Tapi itu adalah pembacaan modern. Dalam pembacaan modern, manusia itu individu-individu yang katanya bebas, tapi kalau dikaji lagi ini pun belum tentu benar, karena Saudara pun tidak bebas untuk menentukan apa pun sendiri. Kapan kita pernah bebas? Saudara dari kecil ikut kepala sehingga Saudara ditentukan oleh komunitas. Kalau Saudara mengatakan “itu kan waktu saya masih kecil, nanti kalau sudah dewasa, bebas dari papa mama”, bebas dari papa mama tidak membuat Saudara bebas dari sebuah negara. Kalau Indonesia berada dalam keadaan resesi, Saudara tidak bisa pilih otherwise. Jadi orang modern salah memahami apa itu individu. Sedangkan Kitab Suci lebih akurat di dalam memahami kondisi manusia. Saudara tidak pegang nasib Saudara sendiri, ditentukan oleh komunitas. Dalam pengertian Alkitab, bebas itu berarti ketika Saudara memilih untuk bertindak kasih, Saudara bebas. Karena waktu Saudara melakukan tindakan karena kasih, pada saat itu tidak ada yang sedang memaksa Saudara. Tidak ada orang yang memaksa Saudara untuk menikahi orang yang Saudara cintai, Saudara melakukan itu karena cinta. Maka Alkitab mengatakan cinta adalah kebebasan, kebebasan adalah waktu Saudara mampu mencintai. Dan Paulus dengan jeli mengatakan kalau kita kumpulkan komunitas yang ada lalu kita satukan maka kita akan mendapatkan di dalam Adam. Ini cara lain untuk membahasakan kamu adalah manusia di dalam Adam. Ini hal yang unik, “Saya adalah manusia, bagaimana nasib saya?”, sama dengan kepalamu, “kepala saya kan mati, Adam mati”, tepat sekali, kamu pun berada dalam keadaan mati. Dan kalau Saudara mengatakan “saya mau protes, mengapa kalau Adam mati saya juga ikut mati? Tuhan menguji kepala, setelah itu nasib semua orang yang dikepalai, sama dengan orang itu. Kita tidak bisa ganti ini, mau tidak setuju, silahkan. Tapi Paulus mengatakan “saya hanya mengatakan kepadamu kebenarannya.” Realitanya adalah kita semua berbagian di dalam Adam. Dan berada dalam Adam berarti kita menikmati keberadaan sebagai gambar Allah, Adam adalah gambar Allah.

Menikmati keberadaan sebagai manusia yang Tuhan undang bersama dengan Tuhan. Tapi secara pradoks juga “menikmati” kekacauan karena dihakimi dan diusir oleh Tuhan. Di satu sisi Adam adalah yang dipanggil untuk bersekutu dengan Dia. Di sisi yang lain dia adalah yang terusir di hadapan Tuhan. Ini sulit untuk kita pahami, manusia di satu sisi adalah ciptaan yang indah, begitu penuh keagungan. Di sisi yang lain manusia adalah jauh lebih buruk dari segala ciptaan lain yang Tuhan sudah buat. Kitab Suci mengatakan malaikat yang sudah jatuh pun punya kata-kata yang masih mempertahankan kehormatan kepada Tuhan. Tapi manusia dengan sembarangan menghujat yang mereka tidak sadar kemuliaanNya yaitu Tuhan. Kalimat ini benar-benar membuat takut. Iblis dan penghulu malaikat, ketika mereka bertengkar, tidak satu pun memakai kata-kata menghujat sorga. Mengapa manusia berani? Karena manusia lebih parah dari malaikat jatuh sekali pun. Manusia berani menghadap kemuliaan Tuhan, tidak ada rasa gentar. Banyak orang sudah Kristen pun tapi tidak punya rasa gentar waktu ibadah. Lalu kita pikir kita adalah yang lebih hebat dari yang lain, itu omong kosong. Jadi Adam sudah terusir dan seluruh keturunannya menjadi kacau. Tetapi Adam dan seluruh keturunannya tetap gambar Allah, tetap adalah ciptaan Tuhan yang Tuhan cintai. Tetap adalah ciptaan Tuhan yang Tuhan berikan akal untuk mengatur segala sesuatu yang lain. Manusia punya keagungan dan keunggulan karena manusia adalah gambar Allah.

Adam dan Kuasa Maut

Di ayat 16 dan 17 sekali lagi kita diingatkan mengenai peran Adam dan Kristus. Adam memberi mati dan Kristus memberi hidup. Kita harus tahu apa yang dimaksudkan dengan mati, kita mesti tahu juga apa yang dimaksudkan dengan hidup. Dan tentu konteks yang paling mungkin memberikan kita pengertian tentang mati adalah peristiwa Taman Eden. Kita lihat bahwa Kitab Suci kita bukan hanya memberikan pengetahuan sebagai teori, tetapi memberikan kepada kita kisah untuk kita renungkan. Dan setiap kisah ada konteks, setiap kisah ada cerita, ada tokoh, ada kejadian, ada hal yang diajarkan di dalamnya. Demikian juga dengan peristiwa di Taman Eden yang adalah kelanjutan dari karya Tuhan menciptakan dunia ini. Kejatuhan Adam di sini yang dimaksud tentu adalah kegagalan Adam menaati firman, yaitu titik dimana dia mengambil buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, kemudian memakannya. Ini merupakan pesan yang penting bagi kita karena ada perubahan dari kisah yang diceritakan di Kejadian 1 & 2, di dalam Kejadian 3. Kalau Saudara lihat Kejadian 1 & 2, kita lihat bagaimana Tuhan dengan teliti menciptakan segala sesuatu, Tuhan mengenyahkan hal-hal yang mengganggu hidup. Manusia tidak mungkin hidup kalau seluruh bumi penuh dengan air, maka Tuhan singkirkan air dan munculkan daratan. Kita sudah bahas kisah ini harus dipahami berdasarkan budaya dari Timur Dekat Kuno. Kita bisa melihat bahwa Kejadian 1 & 2 adalah peristiwa membuat hidup di dalam skema bait. Hidup tidak bisa lepas dari ibadah, hidup tidak mungkin lepas dari berada di hadapan Tuhan. Itulah yang diatur dalam Kejadian 1 & 2, Tuhan menciptakan segala sesuatu, menata segala sesuatu. Itu adalah kisah Allah membangun bait. Dan hari ke-7 Dia beristirahat, ini berarti Dia mendiami baitNya dan memerintah. Lalu Kejadian 3 memutarbalikan keadaan ini karena kata baik dan bahkan sungguh amat baik, tov dan meot tov, ini adalah kata yang dipakai untuk penilaian terhadap progres dari ciptaan. Pembangunan bait ada progres, dan progresnya adalah sesuatu yang Tuhan nilai baik. Tapi di dalam Kejadian 3 kata baik muncul lagi dalam bentuk pohon pengetahuan baik dan jahat. Kalau kita tafsirkan dengan cara kita, kita taruh pohon dalam pengertian kita di dalam kisah itu. Tapi yang harus kita lakukan adalah melihat bagaimana cerita itu menceritakan segala sesuatu sebagai simbol dari pesan yang Tuhan mau berikan. Pohon pengetahuan yang baik dan jahat adalah pernyataan bahwa untuk selanjutnya ciptaan ini, bumi yang Tuhan sudah jadikan adalah bumi yang akan menjadi bait di dalam cara Tuhan. Tapi putaran yang terjadi adalah ketika Adam dan Hawa melanggar perintah itu. Banyak yang mengatakan bahwa perintah Tuhan tidak boleh dilanggar, kalau dilanggar pasti akan mati. Tapi Kejadian 3 sedang tidak bicara se-simple itu. Ada sesuatu yang lebih dari nuansa perintah itu, “jangan makan dari pohon pengetahuan baik dan jahat ini, pada hari kamu memakannya kamu akan mengalami kematian kematian”, atau matinya mati. Sama ketika Tuhan memberikan tekanan untuk keindahan ciptaan yang total itu, Tuhan juga memberikan tekanan untuk kematian. Maka di dalam pohon pengetahuan baik dan jahat terkandung makna yang bentur dengan keindahan ciptaan. Apa pun yang indah dari ciptaan diwakili dengan kata baik. Baik menurut siapa? Menurut Tuhan. Maka apa pun yang melawan itu atau bentur dengan kebaikan ciptaan adalah mendirikan versi baik di luar Tuhan. Kalau ada versi baik di luar Tuhan, berarti pemilik konsep baik, penentu mana baik dan mana jahat adalah Tuhan di dalam baik ini.

Dalam Kisah Kejadian, di dalam pengertian “baik, baik, baik, sungguh amat baik”, sekarang ada perkataan matinya mati, “kalau kamu makan pada hari kamu memakan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, pastilah kamu mati”, jadi ada baik, hari dan mati. Ketiga hal ini adalah hal yang Saudara bisa baca dari Kejadian 1 & 2. Tuhan tidak mengatakan “begitu kamu telan, kamu mati”. Bukan tanpa alasan Tuhan mengatakan “pada hari kamu memakannya pastilah kamu mati”, tugas kita waktu kita membacanya adalah mendeteksi pengulangan ini. Saudara bisa mendeteksi itu dengan melihat kata hari, itu pun sudah membantu Saudara mengerti. “pada hari kamu memakan”, saya makan di hari apa? bukan itu poinnya. Poinnya adalah apa yang kamu makan pada hari kamu makan akan menjadi hari yang bentur dengan hari penciptaan. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tidak imbang dengan hari kamu makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Lalu Tuhan mengatakan pada hari kamu makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, ini merupakan pertanda bahwa pohon ini memberikan peringatan tentang keindahan ciptaan kalau ciptaan dipelihara di dalam versi baikNya Tuhan. Tapi kalau Adam dan Hawa melanggar pada hari makan pastilah kamu akan mengalami matinya mati. Pada waktu hari penciptaan selesai, Tuhan mengatakan “sungguh amat baik”. Waktu Tuhan bilang “sungguh amat baik” ini bentur dengan mengalami matinya mati. “Matinya mati” bentur dengan “sungguh amat baik”. Dengan kata lain Kejadian 3 sedang mengatakan “jika kamu makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, kamu akan mati karena kamu akan terkucilkan dari seluruh rancangan ciptaan Tuhan”. Jadi kematian yang dimaksud adalah kematian karena ter-exclude atau dikeluarkan dari keindahan ciptaan Tuhan. Siapa yang dikeluarkan? Ini poin yang mengerikan, yang dikeluarkan adalah imamnya, kalau bumi adalah bait, manusia adalah imamnya. Kalau imamnya keluar, maka seluruh bait menjadi bait yang tidak jelas lagi gunanya. Bait SuciNya Tuhan adalah untuk imam Tuhan, bukan imamnya berhala. Sekarang kalau Saudara lihat seluruh bumi adalah bait dan imam ini yaitu kita sudah memberikan diri kepada ilah yang palsu, yaitu ketiadaan, karena mereka menjadi hamba dari sesuatu yang lain yang bukan Tuhan, maka seluruh bumi jadi kacau, seluruh bumi tidak jelas gunanya apa. Dan manusia menjadi imam yang tidak jelas di bait yang tidak jelas lagi gunanya, ini mati. Jadi mati adalah sesuatu yang scoop-nya sangat besar dan global. Ini yang diceritakan Paulus, ia sangat mengerti pengertian ini. Maka dia mengatakan mati datang dari Adam. Kalau Saudara mengatakan “heran ya, karena makan saja jadi mati. Tapi iya, kita harus mengerti bahwa kalau perintah Tuhan pasti mati”, itu tidak salah, tapi itu bukan tekanan Kitab Kejadian.

Adam dan Kristus

Di dalam bagian sebelumnya kita sudah mempelajari mengenai pembenaran yang Tuhan berikan melalui kematian Kristus. Bahkan ada kepastian pertama kali menjadi bagian dari umat, Saudara dan saya menjadi bagian dari Kristus. Maka Roma 5 dimulai dengan mengingatkan kita bahwa kita sudah dibenarkan melalui Kristus yang rela mati bagi kita waktu kita masih seteru. Saudara dan saya adalah pemberontak yang harusnya dihukum, tapi karena kita disatukan di dalam Kristus, maka kita mendapatkan pembenaran. Ini yang kita lihat dari ayat 1-11.

Di dalam ayat 12-21, Paulus memberikan fondasi sangat penting. Kita tidak bisa mengerti Injil, mengerti mengapa Yesus mati bagi kita, jika kita tidak menafsirkan ayat 12-21 dengan benar. Jadi ayat-ayat yang akan kita pelajari adalah ayat-ayat dengan peran yang sangat besar di dalam pemahaman akan penebusan. Paulus di ayat 12-21 mengatakan Kristus menjadi Juruselamat karena Dia paralel dengan Adam secara fungsi bagi manusia. Sama seperti Adam menjadi kepala dari seluruh manusia, demikian Kristus menjadi kepala bagi semua orang yang diselamatkan. Ini yang akan kita gali pada hari ini dan kita akan gali sesuatu yang harusnya membuat cara berpikir kita berubah. Jadi Saudara dan saya tidak hanya menambahkan satu atau dua pengertian baru dalam pikiran kita, tapi Paulus sedang menuntun kita untuk berpikir dengan cara yang benar, cara yang tepat, cara yang sesuai dengan yang Alkitab mau bagikan. Kita akan ubah cara berpikir tentang dunia, maka Injil sebenarnya sangat berkait dengan mengerti worldview, mengerti cara pandang hidup. “Saya mengerti hidup dari siapa, mengapa saya mengerti hidup dengan cara seperti ini?”, itu semua adalah sesuatu yang harus dirombak. “Saya mesti tahu bagaimana cara hidup dari Tuhan, Tuhan yang memberi tahu saya apa itu hidup, mengapa hidup, mengapa ada manusia, apa guna manusia, mengapa Allah mengasihi manusia, apa gunanya saya ada di dunia ini”, semua ini harus ditafsirkan dengan cara yang benar. Karena itu ayat 12-21 sangat penting, bukan hanya untuk tambahan informasi. Saudara tidak perlu tambahan informasi kalau fondasi pemikirannya sudah salah dari awal. Kesalahan punya fondasi akan membuat seluruh pemikiran di atas ditambah-tambah dalam jalur yang salah, sama seperti kalau Saudara punya mobil yang mampu jalan dengan cepat sekali, tapi arahnya salah, makin bagus mobilnya, makin bagus mesinnya, makin cepat jalannya, makin jauh dari sasaran. Itu sebabnya hal pertama yang harus kita ubah adalah hal yang sangat mendasar yaitu pemahaman tentang hidup. Kalau kita tidak kembali ke Kitab Suci, kita tidak tahu apa itu hidup. Dan kalau kita tidak tahu apa itu hidup, kita tidak mungkin jalani hidup dengan limpah. Dunia berhasil menarik hati kita, menarik hawa nafsu kita, menarik segala sesuatu yang bersifat menyimpang karena dunia menawarkan alternatif pada kita yang tidak punya fondasi melihat hidup dengan benar. Ini sebabnya dunia begitu menarik, dunia menarik bukan karena dia memang pada dasarnya menarik. Dunia menawarkan bajunya yang sudah jelek dan kita senang, kita mau karena kita tidak mengerti apa itu baju. Jadi Saudara dan saya sangat tidak mengerti apa itu hidup, maka kita mudah dipikat oleh dunia ini. Kita perlu mengerti apa itu hidup, kita perlu kembali ke Kitab Suci untuk menafsirkan apa itu hidup. Di dalam Roma 5: 12-21 ada pengertian yang sangat dasar, yang merombak cara kita berpikir tentang hidup, karena Paulus mengarahkan seluruh problem yang ada dimulai dari Adam di Taman Eden, dimulai dari Kejadian 1-3.

Pentingnya Hidup Manusia bagi Tuhan

Di dalam Roma 5 ini, di dalam ayat-ayat yang kita baca ada tekanan yang sangat besar dari Paulus, mengenai kerelaan Kristus untuk mati. Mengapa Kristus rela datang lalu Dia mati bagi kita? Ini jadi penjelasan yang mau dibahas Paulus. Dan untuk memahami ini kita mesti mengerti apa yang menjadi tekanan di dalam firman Tuhan bagi Israel. Tuhan mengajar Israel untuk mengerti nilai hidup. Hidup itu sangat penting dan itu sebabnya Tuhan memanggil Israel. Sebab Tuhan menciptakan manusia supaya manusia hidup. Dan hidup yang Tuhan berikan ini adalah hidup yang berkait dengan Tuhan. Di dalam Injil Yohanes, Yesus mengatakan bahwa hidup yang Dia peroleh adalah hidup dari Bapa. Dan hidup yang Dia peroleh dari Bapa inilah hidup yang ingin Dia bagikan kepada orang-orang percaya. Jadi di dalam pengertian Kristus, di Injil Yohanes, hidup tidak bisa dipisah dari relasi dengan Tuhan. Tidak ada hidup yang muncul dari diri sendiri, tidak ada auto hidup. Tidak ada manusia yang diciptakan dengan kemampuan hidup yang muncul dari dirinya sendiri. Jadi kita perlu mendefinisi ulang mengenai arti hidup. Hidup bukan cuma sekedar energi atau kemampuan untuk bertahan di dunia ini, melainkan hidup adalah sesuatu yang kita peroleh dari Tuhan. Itu sebabnya momen ketika manusia terpisah dari Tuhan, manusia dalam keadaan mati bukan hidup. Hidup yang diajarkan di dalam Kitab Suci adalah hidup karena berkait dengan Tuhan. Salah satu tema penting dalam pembahasan doktrin Tritunggal Gregory dari Nissa adalah pengertian bahwa dalam relasi Tritunggal ada aktivitas saling memberi. Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi dari Allah Tritunggal yang saling memberi. Maka inilah pengertian hidup, hidup adalah ketika satu pribadi mencurahkan dirinya bagi pribadi yang lain, itu hidup. Hidup tidak mungkin dilakukan di dalam keadaan pasif, hidup hanya mungkin dilakukan dalam relasi yang aktif. Ini dimiliki di dalam Allah Tritunggal dan inilah yang dibagikan Allah Tritunggal kepada manusia. Manusia tidak bisa hidup dengan sendirinya, banyak contoh yang bisa kita pahami, Saudara lihat alat elektronik tidak mungkin hidup kalau tidak disambungkan dengan listrik, misalnya. Demikian manusia tidak mungkin hidup jika tidak ada koneksi dengan Allah. Maka seluruh Perjanjian Lama membahas ada 2 hal penting.

Hal pertama yang dibahas oleh Perjanjian Lama adalah pentingnya hidup. Dari bagian awal penekanannya adalah hidup, jangan mati. “Jangan makan buah, kalau tidak kamu pasti akan mati”. Penekanan hidup ini juga yang diberikan oleh Tuhan ketika Tuhan memberikan hukum. Di dalam hukum ada pengertian bahwa hidup itu penting. Dan hidup bukan cuma sekedar bertahan hidup, tapi hidup di dalam lingkungan yang penuh kelimpahan. Hidup itu penting maka Tuhan berikan hukum. Karena hidup itu penting, maka Tuhan melarang ada pembunuhan, “kamu tidak boleh membunuh”. Dalam Kitab Taurat itu jelas sekali thou shall not commit murder, ini sesuatu yang kita tidak boleh salah mengerti. Tuhan tidak mengatakan tidak boleh membuat mati, yang Tuhan katakan adalah tidak boleh membunuh. Pembunuhan tidak sekedar hanya membuat mati. Pembunuhan dalam Bahasa Inggris lebih jelas murder, bukan hanya sekedar membuat yang tadinya hidup menjadi mati. Alkitab melarang pembunuhan karena hidup itu penting. Tidak ada orang yang membaca Alkitab lalu meremehkan hidup, itu salah baca. Semakin membaca Alkitab, semakin sadar hidup itu penting, semakin sadar saya penting, orang lain juga penting, milik saya penting, milik orang lain juga penting. Dan itu sebabnya Tuhan melarang ada pencurian. Mengapa tidak boleh mencuri? Karena milik orang lain itu penting. Alkitab melatih kita untuk melihat hidup itu penting, adil dalam hidup ini penting, menghargai hidup dalam hidup ini penting, menghargai milik orang lain dalam hidup ini penting. Dan kalau kita tidak dapat pengajaran itu, kita salah mengerti Kekristenan. Alkitab mengajarkan kamu harus hargai hidup orang lain. Kamu harus hargai orang lain dalam usahanya untuk hidup, kamu harus menghargai sesamamu dan kepemilikan yang Tuhan percayakan kepada mereka. Jadi makin baca Kitab Suci makin sadar bahwa tidak ada highview of life di luar Alkitab. Pandangan terhadap hidup yang tinggi hanya mungkin dari Kitab Suci.

Menikmati Kemuliaan Tuhan

Di pasal 4 kita sudah membahas mengenai Abraham yang dibenarkan oleh Allah. Kebenaran Abraham adalah kebenaran karena beriman kepada Allah. Seringkali kita sempitkan pengertian iman menjadi hanya sekedar percaya, “pokoknya Allah berbicara apa, saya percaya”, itu iman. Tapi Kitab Suci selalu mengaitkan iman dengan keberanian untuk mengambil jalan hidup yang beda. Cara hidup yang lama, stop, cara hidup yang baru, mulai, itu iman. Karena tanpa cara hidup yang dari Tuhan, kita tidak tahu bagaimana harusnya hidup. Kita seringkali menjalani hidup seperti kita sudah tahu apa itu hidup. Mungkin kita tahu apa yang harus dicapai, bagaimana mencapai apa yang harus dicapai itu dan bagaimana memunyai hidup yang senang. Tapi kita tidak tahu bahwa Tuhan tidak mau kita hidup di luar Tuhan. Hidup tanpa Tuhan adalah hidup yang kosong, tidak ada apa yang bisa gantikan Tuhan dalam hidup. Sebab itu kosongnya hidup harus diganti dengan hidup yang penuh dan hidup yang penuh adalah hidup yang beriman kepada Tuhan. Kalau begitu iman bukan sekedar pengakuan, iman adalah keputusan yang membuat saya mengambil tekad untuk hidup secara baru. Sebelumnya saya sudah tahu, sekarang saya mau rombak, saya mau tahu dari apa yang Tuhan beri tahu, itulah iman. Maka Abraham disebut beriman bukan karena dia percaya kepada Tuhan saja, tapi karena dia memutuskan untuk punya hidup yang sama sekali baru. Sekarang hidup dia adalah hidup sebagai orang asing, di tanah asing oleh karena dia umat Tuhan. Kalau kita catat sejarah hidup kita, momen-momen penting selalu tanpa Tuhan. Apa momen penting hidupmu? Semua hal yang membuat kita merasa hidup berkelimpahan, hidupnya penuh, itu tanpa Tuhan. Itu tidak benar. Kita perlu iman supaya kita belajar mengarahkan hidup dimana setiap tahap penting dalam hidup adalah karena Tuhan, bukan karena yang lain. Tapi itu tidak terjadi, karena itu hidup kita kosong. Saudara pakai banyak cara untuk mengisi hidup, tetap kosong, karena tidak ada Tuhan dalam hidup. Maka iman berarti “saya mau Allahku ambil hidup saya dan tata sesuai dengan cara Dia. Saya tidak mau hidup dengan cara begini terus, saya tidak mau hidup tanpa Tuhan”.

Kita tidak bisa memahami betapa banyaknya ajaran Alkitab memberikan peringatan tentang berhala. Mungkin kita pikir “saya tidak ada berhala dalam hidup, saya tidak menyembah mereka”. Tapi hidup kita tidak mungkin tidak dikuasai oleh ilah palsu. Itu adalah segala yang menasihati kita tentang hidup tanpa Tuhan. Dalam Kitab Suci, ilah palsu adalah yang mendikte hidup umatNya tetapi bukan Allah sejati. Jadi ketika umat didikte oleh ilah palsu, umat sedang menyembah berhala. Orang Kanaan disebut menyembah berhala, karena orang Kanaan didikte oleh ilah mereka. Kita mengatakan “saya tidak menyembah berhala, tidak ada berhala yang saya masukan dalam hidupku”. Tapi hidupmu didikte oleh berhala, didikte oleh kesenanganmu, didikte oleh cinta uang, didikte oleh keinginan untuk diterima. Maka jangan sampai kita gagal melihat hidup kita yang sebenarnya sudah sangat kasihan. Orang yang hidupnya kasihan tapi tidak sadar hidupnya kasihan, tidak akan berubah. Di Buku Institutio bagian 1, Calvin mengingatkan sebelum engkau tahu betapa malangnya kamu, betapa kasihannya kamu, betapa tidak berartinya hidupmu, maka engkau tidak akan kenal kemuliaan Tuhan. Jadi kita ini adalah orang-orang yang sudah diikat oleh berhala karena hidup didikte yang bukan Tuhan. Apa yang paling saya senangi? Bukan Tuhan. Apa yang ingin dikejar dalam hidup? Juga bukan Tuhan. Kalau begitu Saudara menyembah berhala, diikat oleh berhala. Bagaimana cara bebas? Caranya adalah beriman kepada Tuhan, bukan kepada berhala. Abraham berpaling dari berhala nenek moyangnya kepada Allah yang menyatakan diri kepadaNya. Orang beriman berarti orang yang atur hidupnya untuk berubah. Maka jangan berikan definisi iman yang dangkal sekali. Apa itu iman? Yakin dan percaya. “saya yakin dan percaya akan dapat ini”, dan memang dapat, tapi itu bukan iman. Itu omong kosong! Kitab Suci mengatakan iman berarti Saudara memutuskan harus melakukan sesuatu di dalam hidup dan yang harus saya lakukan adalah ubah hidup dari mengarah kepada berhala, sekarang mengarah kepada Tuhan, Allah yang sejati. Itu sebabnya kehidupan yang berarah kepada Allah adalah kehidupan yang polanya pun akan Tuhan ubah untuk sesuai dengan Sang Juruselamat.

Jadi pola hidup yang kita pahami itu pun salah. Sangat penting untuk kita tahu apa yang kita anut sebagai pola hidup. Karena tanpa kita sadar begitu banyak pengaruh masuk dalam hidup kita, dari kita kecil sehingga kita tidak tahu kalau kita sedang dipengaruhi untuk mengharapkan hidup yang salah. Kalau kita ditanya orang “apa yang kamu harapkan dalam hidup?”, pasti kita akan punya cita-cita untuk meminta hidup ke depan yang sesuai dengan keinginan dan gairah kita, keinginan-keinginan yang kita harapkan ke depan adalah keinginan-keinginan anti penderitaan, anti sulit, anti sakit, tapi tidak bisa. Maka banyak orang kecewa dalam hidup karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan, pola hidup yang dia anut bukan yang Tuhan ajar. Pola hidup yang harus kita dapat bukan pola hidup sendiri, tapi pola hidup di dalam sekelompok orang di dalam umat. Saudara bukan hidup sendiri, tapi hidup dalam komunitas yang dipimpin oleh Tuhan. Orang Kristen dipimpin oleh Sang Mesias yang menunjukan kepada kita bagaimana harusnya kita hidup. Maka saya ajak untuk berpikir lagi, apakah pola hidup yang selama ini kita anut itu adalah pola hidup real dan berpengharapan? Apakah pola hidup yang engkau harapkan di masa depan adalah pola hidup yang realistis dan berpengharapan? Saya beri tahu 2 hal ini tidak mungkin cocok. Kalau Saudara mau hidup yang realistis, tidak ada pengharapan. Kalau Saudara mau berpengharapan, Saudara akan mulai pikirkan hidup yang tidak real. Saudara cuma boleh memilih hidup yang real tapi tanpa harapan atau hidup berpengharapan tapi tidak realistis. Saya mau tanya model hidup apa yang engkau mau?  Hidup real, selamat tinggal pengharapan. Hidup berpengharapan, tapi tidak real. Jadi bagaimana? Alkitab menawarkan hidup yang real dan berpengharapan, dua-duanya. Coba dengarkan firman Tuhan. Firman Tuhan tidak minta hanya diberikan tempat kecil di otak, Tuhan mau Saudara pakai seluruh otak, seluruh pikiran, seluruh konsep untuk diarahkan kepada Tuhan. Kamu tidak bisa mengerti hidup dengan real tapi berpengharapan, kecuali engkau hidup kembali kepada Allah. Maka kehidupan seperti apa yang kurang dari kita? Alkitab mengatakan kita ini kurang benar, maka kita butuh kebenaran. Kebenaran itu berarti kita punya sense yang tepat untuk memperlakukan orang dengan benar. Problem kita selalu berkait dengan cara memperlakukan orang. Kita tidak tahu kebenaran, kita perlu kebenaran dari Tuhan.