Cara Menghakimi

Mari kita membaca dari Surat Roma 14: 1-12 “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”. Saudara sekalian ayat 1 dan seterusnya dari pasal 14 ini berbicara tentang kehidupan orang Kristen di Roma tentunya, yang mengalami kesulitan karena ada dua kubu, dua kelompok Yudaisme atau kelompok Yahudi yang sudah menjadi Kristen dan kelompok dari orang-orang non Yahudi yang juga sudah menjadi Kristen. Saudara di sini ada satu pergumulan besar yaitu mengenai ibadah, mengenai persekutuan, mengenai makan bersama dan mengenai banyak tradisi yang sudah diberlakukan dan dijalankan oleh orang-orang Yahudi. Ini tradisi yang sangat besar, kita tahu bahwa Kekristenan adalah penggenapan dari janji Tuhan dari tradisi Yahudi dan karena itu apa yang orang praktekkan di dalam agama Yahudi mengikuti Taurat, mengikuti Kitab Suci Perjanjian Lama merupakan sesuatu yang akan disempurnakan di dalam kehadiran Kristus. Kristus menyempurnakan Taurat dan inilah yang kita musti pahami sehingga kesempurnaan itu tidak datang sendiri, kesempurnaan itu tiba setelah ada penantian panjang. Saudara tidak bisa menikmati kehadiran Kristus dan menikmatinya kecuali Saudara juga berbagian di dalam menanti. Jadi kita membaca Perjanjian Lama dengan cara mundur, retrospektif. Kita sudah menikmati penggenapannya tapi kita perlu mempelajari kembali pergumulan di dalam Perjanjian Lama. Ternyata menantikan Kristus bukan hal yang mudah, ternyata sudah ada tradisi besar dimana setiap kehidupan sudah diatur oleh liturgi, baik liturgi ibadah maupun liturgi kehidupan sehari-hari yang berfokus pada penantian Kristus. Kristus dengan serius dinantikan. Kristus bukan pribadi yang ditunggu dengan santai, ada begitu banyak simbol dan juga ada begitu banyak dedikasi diberikan untuk menantikan Dia. Dedikasi yang diberikan untuk menunggu Kristus begitu besar, maka seharusnya perayaan dan ucapan syukur yang menyusul setelah Kristus hadir menguasai kehidupan orang Kristen. Ini pola yang harus kita pahami, penantian yang serius dan ucapan syukur yang serius setelahnya. Penantian yang serius dan kesenangan yang sangat besar yang menyusul setelah Kristus hadir. Kalau pola ini kita pahami maka akan kita lihat bahwa mereka yang menantikan Kristus menantikan dengan sulit, dengan sungguh-sungguh, dengan sangat serius. Dan mereka yang menikmati kehadiran Kristus menikmati di dalam ucapan syukur yang sangat besar. Ucapan syukur yang besar ini dialami oleh orang Kristen, sedangkan penantian yang sulit dialami oleh orang Yahudi. Di dalam Surat Ibrani dikatakan bahwa pergumulan orang-orang yang dikeluarkan Tuhan dari Mesir yaitu pergumulan orang-orang Israel, waktu mereka ada di Kanaan adalah pergumulan hidup di padang gurun, mereka belum sampai di Tanah Kanaan. Tetapi ketika orang-orang itu sudah sampai dan menang menaklukkan Kanaan, harusnya mereka hidup di dalam keadaan bersyukur, di dalam keadaan merayakan. Maka Paulus mengatakan bahwa orang Kristen adalah orang-orang yang penuh ucapan syukur, yang penuh sukacita, yang penuh damai sejahtera karena sudah menikmati kehadiran dari Dia yang dinanti-nanti sangat lama oleh umatNya yaitu Israel. Demikian di dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus mengatakan kalimat bahwa Abraham bapamu di surga bersukacita untuk apa yang kamu terima, sebab dia menanti-nantikannya dan sekarang dia bersukacita. Abraham menantikan janji Tuhan digenapi di dalam Kristus dan orang Israel menantikan janji Tuhan digenapi di dalam Kristus. Maka seluruh upacara Israel dan tata hidup yang diatur oleh Taurat ada tujuan. Ini bukan cuma sekadar dijalankan untuk menjadi keteraturan sosial supaya Israel hidupnya baik, tapi ini merupakan aturan yang dijalankan untuk menantikan Kristus. Ada liturgi untuk menantikan Kristus yang dijalankan di Bait Suci dan juga di dalam kehidupan sehari-hari. Saudara lihat betapa ketatnya mereka diatur dengan liturgi seperti ini dan pengaturan itu menjadi bagian dari cara hidup yang sangat besar, sangat mendarat daging dan sangat dipegang dengan setia turun-temurun. Meskipun tidak sepanjang sejarah Israel mereka setia, karena sangat banyak saat di dalam sejarah Israel mereka memberontak, justru mereka sangat setia mempertahankan ibadah di dalam periode Bait Suci yang ke-2, setelah mereka kembali dari pembuangan. Maka kalau Saudara baca Roma 14, ini tidak berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya kecil atau sepele. Kita sering baca Alkitab dengan terlalu banyak mendikte Alkitab, apa yang kita pikir itu yang keluar dalam membaca Alkitab, bukan yang Alkitab mau nyatakan. Maka hal-hal seperti ini luput dari pikiran kita kadang-kadang, bahwa Roma pasal 14 tidak sedang bicara tentang hal-hal sepele. Roma 14 sedang bicara tentang aturan hidup yang dipegang, kalau bisa dipegang sampai mati kalau perlu. Ini bukan masalah sepele, ini masalah besar.

Tetapi Saudara lihat kontroversi dari Paulus, di dalam ayat yang kedua dia mengatakan “yang seorang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis makanan”, tentu ini berkait dengan orang non Yahudi yang menjadi Kristen, “tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja”. Orang yang menjadi Kristen dari Yahudi, Paulus anggap orang yang lemah imannya, ini sesuatu yang mengagetkan. Satu-satunya alasan mengapa Paulus menganggap ini adalah lemah dalam iman karena orang yang menjalankannya menganggap tradisi yang mereka jalankan, memisahkan mereka dari yang tidak jalankan. Orang yang menganggap tradisi yang mereka lakukan membuat mereka lebih tinggi dari orang lain, itu adalah tanda kelemahan iman. Imanmu lemah jika engkau menganggap cara kamu menjalankan agama membuat engkau lebih tinggi dari orang lain. Di dalam Kitab Suci, kita yang merasa diri lebih tinggi akan menjalani hidup yang lebih rendah, menjadi pelayan bagi mereka yang lebih rendah. Jadi siapa anggap diri penting, dia menjadi hamba bagi orang yang tidak penting. Dia bukan menjadi hakim bagi orang yang tidak penting. Orang yang lemah imannya akan merasa bahwa praktek agamanya lebih baik dari orang lain dan karena itu dia menolak untuk berelasi dengan orang lain. Inilah yang dinyatakan sebagai kelemahan iman di dalam pengertian Paulus. Mari kita serius mempelajari Kitab Suci sehingga kita tidak jatuh di dalam pikiran yang terus-menerus salah. Seorang psikolog Rusia menekankan bahwa belajar adalah sesuatu yang hanya mungkin dilakukan kalau kita ada di dalam level yang pas, tetapi kita ada di level yang bawah. Kita tidak mungkin belajar kalau kita di luar level itu. Saudara tidak mungkin belajar kalau Saudara mempunyai pra-pengetahuan yang terlalu beda dengan apa yang sedang diajarkan. Maka di dalam mendengar khotbah juga sama, Saudara perlu ada di dalam level yang sama. Pengakuan iman yang sama, kepercayaan yang sama. Bagaimana bisa mempunyai itu? Dengan terus-menerus diperdengarkan firman. Cara kita berpikir adalah cara yang masih sangat perlu dikoreksi. Roma 14 tidak sedang bicara tentang hal-hal kecil, tapi Roma 14 sedang bicara tentang hidup yang diperjuangkan dengan serius untuk Tuhan. Roma pasal 14 yang Paulus tekankan bukan selera boleh dilegitimasi. Kalau kamu jalankan Kekristenanmu dengan cara yang mendarah-daging, kamu pegang dengan sangat, kamu perjuangkan itu, kamu rela menderita untuk jalankan, maka kamu jalankan dengan keyakinan yang benar. Dan untuk itu kamu tidak perlu dihakimi, tetapi engkau harus tahu kalau kamu yang sudah jalankan dengan benar, dengan berjuang, kamu jalankan itu dengan rela mati sekalipun, lalu kamu anggap dirimu lebih tinggi dari yang lain dan menolak menjadi pelayan yang lain, memisahkan diri dari mereka, maka engkau adalah orang yang lemah imannya. Paulus mengatakan orang yang lemah imannya jangan dijauhi, karena ini jadi kontradiksi. Di dalam kehidupan Yesus, Yesus bertemu dengan banyak orang yang lemah iman. Farisi lemah iman, orang-orang Ahli Taurat mereka lemah iman. Mengapa lama iman? Karena setelah mereka menjalankan praktik hidup yang mereka rela jalankan dengan mati sekalipun. Tetapi mereka anggap karena mereka sudah rela berkorban, karena mereka sudah penuh dengan kemampuan jalankan tradisi, mereka lebih tinggi dari yang lain, ini namanya lemah iman. Yesus menegur orang Farisi tapi Yesus tidak memisahkan diri dari mereka. Ketika Simon, seorang pemimpin dari orang Farisi mengundang Dia makan, Yesus datang ke rumah Simon dan makan. Ini tentu akan membuat banyak pengikutnya yang sangat-sangat benci orang Farisi menjadi heran dengan keputusan Yesus Kristus. “Mengapa Engkau makan di rumah Simon orang Farisi? Diakan orang Farisi, Engkau sudah mengatakan “celakalah Farisi”. Yesus mengatakan “celakalah Farisi”, supaya mereka bertobat. Tapi Yesus tidak menganggap kalau Dia lebih baik dari orang Farisi maka Dia harus memisahkan diri dan tidak menjadi bagian yang mau mengoreksi atau memberikan sebuah usaha untuk membuat perubahan di dalam orang Farisi. Yesus memang memisahkan murid-murid dari orang Farisi. Yesus memang mengatakan “waspadai ragi orang Farisi”, tetapi itu terjadi karena orang Farisi lebih dulu menyingkirkan mereka, bahkan ingin membunuh Yesus, dan menganggap murid-murid Kristus sebagai orang-orang yang menjadi pengkhianat, yang belok dari iman sejati. Maka Saudara mesti melihat ketika Yesus pergi ke rumah Simon yang adalah seorang Farisi, Dia melakukannya dengan satu jiwa yang beda dengan jiwa orang Farisi. Farisi lemah iman, Yesus Kristus menjadi teladan iman. Demikian ketika Zakheus datang mau melihat Dia, Zakheus naik atas pohon, Yesus tidak menganggap rendah Zakheus. Dia lebih tinggi dari Zakheus. Dia lebih punya hikmat, Dia lebih punya iman, Dia lebih punya kekudusan, Zakheus bukan orang yang berhasil menjalankan hidup yang kudus. Tetapi Yesus tidak memisahkan diri dari Zakheus, Yesus menjangkau dia, bahkan mengatakan “Aku akan makan di rumahmu”. Ini merupakan undangan makan dari Tuhan kepada umat. Ini bukan undangan makan dari Zakheus kepada Tuhan. Maka Saudara bisa melihat Kristus yang jauh lebih baik dari Zakheus, tidak menjadi lemah iman karena memisahkan diri dari Zakheus. Itu sebabnya di dalam Roma pasal 14 bagian awal, Paulus menyindir orang yang hanya makan sayur-sayuran sebagai orang yang lemah iman, tetapi jangan pikir ini sebagai aktivitas yang sepele. Ini adalah keputusan hidup yang sangat terhormat yang dijalankan dengan penuh wibawa dan penuh dedikasi. Tetapi sayang, setelah dijalankan, orang yang jalankan merasa diri eksklusif dan membentuk komunitas yang terpisah dari yang lain. Bagaimana orang yang lemah iman harus diperlakukan terima dia, tapi jangan terima pendapatnya? Ini satu hal yang sangat unik, yang dibagikan di ayat pertama, “terimalah orang yang lemah iman tanpa mempercakapkan pendapatnya”, atau dengan kata lain yang bisa juga diterjemahkan dari bahasa Yunaninya, “terimalah orang yang lemah iman tanpa menjadikannya partner dialog”. Jangan terlalu pikir pendapat dia, pendapat dia kurang penting, tapi cintai dia. Tapi penjelasan seperti ini, Saudara orang bijak, mengerti siapa yang bisa dijadikan partner dialog dan yang tidak. Tapi orang yang tidak dijadikan partner dialog tetap dicintai, tetap di jalankan segala kewajiban untuk menjadi teman yang baik bagi orang itu. Saudara menjadi teman bagi siapapun, tetapi Saudara tidak menjadikan siapapun partner dialog. Karena ada orang-orang yang meskipun banyak belajar, tapi sulit menerangkan pelajaran itu dengan hikmat Kristen yang sejati. Hikmat Kristen bukan cuma dipelajari, tetapi kadang-kadang Tuhan menganugerahkannya sebagai anugerah. Ada orang dianugerahkan lebih, langsung menangkap hal inti. Ada orang selamanya kanak-kanak, selamanya kurang mengerti, selamanya salah mengerti, selamanya cuma ada di dalam level yang rendah. Lalu bagaimana orang ini harus diperlakukan? Terima dia, cintai dia, dia temanmu, dia teman persekutuanmu, dia saudara seimanmu. Jangan anggap dirimu lepas dari kewajiban untuk bersekutu dengan dia. Tetapi jangan jadikan dia partner dialog, pikirannya masih rendah, pikirannya masih kanak-kanak, pikirannya masih menunjukkan kelemahan iman. Tuhan tidak mengajarkan kita memperlakukan semua orang sama, ada orang perlu diperlakukan dengan tegas dan keras tapi tetap dicintai dan tetap dirangkul. Ada orang perlu diperlakukan dengan sangat sabar, ada orang perlu didengar pendapatnya, ada orang harus dihargai kemungkinan dia bicara tapi tidak dengan serius dianggap teman yang bisa memberikan masukan secara partner dialog. Semua orang perlu teman untuk dialog, tidak ada orang bisa punya pikiran sendiri tanpa berdiskusi dengan orang lain. Yang bisa diajak berdiskusi di dalam gereja Tuhan adalah mereka yang siap menjadi pelayan, mereka yang selain mempunyai hikmat, mempunyai teologi yang tepat, mempunyai penafsiran akan Kitab Suci yang sesuai tradisi dan juga limpah di dalam pengertian eksegesis atau penafsiran yang benar, juga mempunyai jiwa melayani orang lain, ini teman dialog. Dia tidak akan pernah mempunyai pola pikir yang sifatnya sombong dan merendahkan orang lain. Dia akan menempatkan dirinya sebagai hamba yang akan dipakai Tuhan untuk menolong orang lain, ini teman dialog. Maka saya minta Saudara melakukan 2 hal, yang pertama kira-kira engkau ada dimana, engkau jadi teman dialog yang baik atau tidak, engkau jadi orang yang sudah punya hikmat atau belum. Jika belum, carilah itu, jika belum, tuntut. Di dalam Amsal dikatakan “kamu harus kejar berhikmat”, cari hikmat. Bagaimana mencari hikmat? Cari hikmat selalu ada dua jalur, jalur pertama adalah jalur mengerti tradisi yang sudah Tuhan izinkan engkau nikmat. Tradisi agama yang benar sangat penting, tradisi penafsiran yang benar sangat penting, tradisi memahami Allah dengan benar sangat penting. Tapi kemudian ada yang kedua, kelincahan untuk memahami zaman ini juga perlu dipelajari. Kelincahan memahami zaman, mengerti apa yang sedang terjadi sangat penting. Bagaimana pengertian kita akan tradisi dengan kelincahan kita memahami zaman bersatu itu menjadikan kita orang berhikmat. Orang berhikmat adalah orang yang mampu mendialogkan, menjadikan teman bicara antara tradisi dengan kebutuhan zaman. Tradisi dan kebutuhan zaman saling berdiskusi, saling berbicara, saling memberikan kesatuan. Ini sangat penting, Saudara menikmati tradisi yang diwarisi dan Saudara menikmati bagaimana tradisi itu berbicara untuk kebutuhan zaman sekarang, itu namanya berhikmat. Tapi berhikmat tidak bisa dijalankan di dalam kondisi hati yang tertentu, ada prakondisi namanya.

Cara Menanggalkan Kecemaran

Roma 13: 11-14 “Hal ini harus kamu lakukan karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam telah hampir siang sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang. Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Saudara sekalian di dalam ayat yang ke-11 Paulus mengatakan “kamu sudah tahu sekarang waktunya apa”, dikatakan disini sekarang adalah waktunya kamu bangun dari tidur. Di dalam gambaran dari pemikiran Paulus bangun dari tidur adalah gambaran untuk kebangkitan. Bagian ini menekankan tentang kebangkitan, kebangkitan fisik, kebangkitan tubuh. Kamu tahu sekarang waktunya apa, yaitu waktunya kebangkitan tubuh sudah dekat. Gambaran ini merupakan gambaran penting untuk kita memahami tentang etika. Kalau Saudara baca di dalam surat-surat Paulus ada yang konsisten di situ yaitu bahwa saat kebangkitan adalah alasan paling kuat untuk kita menjalankan kehidupan yang baik. Hidupmu beretika, hidupmu baik, hidupmu saleh, mengapa? Karena engkau akan mengalami kebangkitan. Maka Saudara jangan salah berpikir, kita tidak bekerja baik, kita tidak saleh, kita tidak beretika, kita tidak berbuat baik demi diselamatkan. Ini kita sudah tahu dengan jelas, tetapi kadang-kadang kita terlalu menekankan keselamatan bukan karena pekerjaan baik sehingga kita lupa meletakkan pekerjaan baik itu di mana kalau begitu. Ada yang mengatakan pekerjaan baik itu sebagai tanda ucapan syukur, kamu sudah dicintai dan kamu bersyukur dengan pekerjaan baik. Tetapi Paulus tidak mendorong itu lebih utama, kamu sudah diselamatkan maka kamu memuji Tuhan. Kamu sudah diselamatkan maka kata-katamu harus penuh Mazmur, bersyukurlah kepada Tuhan. Kamu sudah diselamatkan maka bersukacitalah senantiasa, itu yang sering ditekankan. Jadi kaitan antara diselamatkan dan ucapan syukur adalah diselamatkan dan pujilah Tuhan. Tapi Paulus jarang mengaitkan karena kamu sudah diselamatkan bersyukurlah dengan berbuat baik.

Kalau begitu berbuat baik itu apa? Kalau kita lihat dalam pemikiran Paulus, perbuatan baik adalah cara menyambut kebangkitan. Ini sesuatu yang kita sulit mengerti kecuali kita lihat argumen yang nanti saya akan bagikan dari pemikiran Paulus. Paulus menekankan pekerjaan baik dengan pengharapan kebangkitan, “bangunlah dari tidur”, tidur maksudnya mati. Mengapa mati disebut tidur? Apakah waktu kita mati kita tidak sadar? Tentu tidak, kita tahu bahwa waktu kita mati roh kita bersama dengan Tuhan, tapi tubuh kita belum bangkit. Jadi roh kita bersama dengan Tuhan tapi tubuh belum bangkit. Tubuh yang belum bangkit ini yang disebut tidur. Mengapa disebut tidur? Karena tidur selalu akan dilanjutkan dengan bangun. Kalau pakai kata mati seperti tidak ada harapan. Tapi kalau dikatakan “orang ini tidur”, maka akan ada saat dimana dia bangun. Saya percaya teologi Paulus berkait dengan apa yang Yesus ajarkan menjadi tradisi Kristen mula-mula. Yesus berkata ketika ada seorang anak perempuan yang mati, Dia mengatakan “jangan ribut, anak ini tidak mati tetapi dia tidur”. Lalu ketika Yesus berbicara tentang kematian Lazarus, Yesus mengatakan “Lazarus saudara kita sudah tertidur”. Murid-murid tidak mengerti “sudah tertidur, berarti dia bisa sehat karena tidur membuat dia istirahat”. Tapi Tuhan mengatakan “Lazarus sudah mati”. Jadi mengapa mati diidentikan dengan tidur? Karena ketika Yesus hadir, orang mati akan dibangunkan, akan ada kebangkitan. Dari mati menjadi bangkit, inilah yang membuat orang Kristen mula-mula menggambarkan kematian sebagai tidur. Jadi yang dimaksudkan adalah kamu sudah tahu saat ini saat apa, saat kebangkitan tubuh sudah dekat. Tubuhmu sudah bangkit, maksudnya ketika Kristus datang. Kristus datang dan orang mati bangkit, ini pengajaran doktrin Akhir Zaman yang kita mesti jelas pengertiannya. Yang diharapkan adalah Kristus hadir kembali ke dua kali dan kita bangkit, kita dibangkitkan secara tubuh. Dan inilah sebabnya ada gambaran bangun dari kematian. Ini merupakan salah satu hymne tertua atau pengakuan iman, kita tidak tahu apakah ini hymne atau pengakuan iman, tetapi dikatakan “hai kamu yang tertidur, bangkitlah sebab Kristus bercahaya atas kamu”, jadi cahaya Kristus akan membuat orang mati bangkit. Jadi Paulus sedang mengatakan hari ini adalah hari mendekat hari kebangkitan tubuh, sekarang kamu harus tahu saatnya saat apa. Ini bukan sangat lama yaitu saat ketika kuasa jahat menguasai, ini adalah saat ketika Kristus sudah menang dan kamu sedang menantikan kebangkitan tubuh, ini gambaran yang sangat indah. Akhir zaman adalah indah, gambaran tentang kedatangan Kristus kedua kali adalah gambaran yang indah. Kamu ada di dalam keadaan buruk, keadaan jelek, keadaan tidak ada pengharapan, tetapi jangan khawatir keadaan itu sudah disirnakan, sudah lewat, sekarang Kristus sudah datang dan kedatangan Kristus membuat kamu masuk tahap yang baru dari sebuah zaman. Zaman apa? Zaman mendekat ke janji Tuhan yang sempurna itu, janji damai, janji istirahat, ada rest yang sempurna yang Tuhan janjikan dan ada kemenangan atas musuh. Di dalam pengertian Paulus musuh pertama yang ditaklukan adalah dosa. Musuh kedua yang ditaklukan adalah kecemaran. Musuh ketiga yang ditaklukan adalah kematian. Dosa sudah dihancurkan ketika kita percaya kepada Kristus atau lebih tepat ketika Kristus mati di atas kayu salib. Kecemaran dihancurkan melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam pengudusan kita. Maut dihancurkan pada waktu Kristus datang kedua kali. Pada waktu itu kubur akan terbuka dan orang-orang mati akan bangkit. Siapa yang di dalam Kristus akan bangkit untuk bersama Dia mewarisi seluruh bumi dan menikmati surga turun. Siapa yang di luar Kristus akan bangkit dan mendapatkan penghakiman yang membuat mereka tidak berhak mewarisi apapun yang Tuhan sudah jadi kan. Jadi mereka akan terusir dari langit dan bumi yang baru, sedangkan orang percaya akan menjadi pewaris dari langit dan bumi yang baru. Ini gambaran pengharapan orang Israel. Jadi kami bukan lagi ada di dalam zaman yang menyusahkan, zaman yang kelam, zaman yang gelap, tetapi kami ada di dalam zaman yang penuh kesukaan karena sudah dekat kebangkitan.

Menikmati Keindahan Kristus

Roma 13 ayat 8-10, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga. Tetapi hendaklah kamu saling mengasihi sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga sudah tersimpul dalam firman ini yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”. Eksposisi Taurat yang Paulus lakukan mulai dari pasal 12 sampai seterusnya adalah eksposisi yang sangat indah karena Paulus membagikan sudut pandang dari orang yang sudah kenal Tuhan ketika dia ingin mempelajari tuntutan Taurat. Tuntutan Taurat adalah tuntutan yang Tuhan masih tuntut dari orang Kristen karena Taurat adalah bagian dari perjanjian yang Tuhan berikan kepada umatnya. Maka Israel adalah umat Tuhan dan Tuhan berikan Taurat kepada mereka. Orang percaya adalah umat Tuhan maka Tuhan juga berikan Taurat kepada mereka. Tetapi di dalam zaman Paulus terutama di dalam surat-surat Paulus, Saudara akan melihat ada kritik yang cukup besar, bahkan sangat besar dari Paulus kepada Taurat atau kepada hukum, kata nomos dipakai di sini. Dan orang Yahudi mengerti nomos itu sebenarnya adalah nama untuk Taurat. Jadi apakah Paulus sedang mengeritik Taurat dengan mengatakan Taurat tidak lagi berlaku karena tuntutannya adalah tuntutan untuk orang Israel bukan untuk kita. Paulus tidak kritik Taurat, tapi Paulus kritik penerapan Taurat oleh pemimpin Yahudi yaitu Taurat adalah cara untuk memamerkan identitas Israel. Kalau Taurat dilihat sebagai cara untuk memamerkan identitas Israel berarti bangsa lain tidak berhak mendapatkannya, kecuali bangsa lain menjadi Israel dulu. Sekarang Paulus punya satu teologi yang sangat unik yaitu membahasakan kembali Taurat tetapi untuk setiap bangsa. Jadi di dalam Roma ada seruan Paulus misalnya kalau ada bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal hukum Taurat tetapi dorongan hatinya menjalankan Taurat maka dia dibenarkan oleh Tuhan. Tuhan anggap ia setia menjalankan Taurat biarpun dia tidak dapat informasi tentang perintah-perintah Taurat. Orang kafir yang menghormati orang tuanya sudah memenuhi hukum hormatilah orang tuamu. Sedangkan orang Yahudi yang dapat hukum hormatilah orang tua, tapi tidak jalankan, mereka pelanggar Taurat. Orang kafir yang menghormati hak orang, orang kafir yang menghargai orang miskin, yang menolong orang yang lemah adalah orang-orang yang sudah menggenapi Taurat. Sedangkan orang Israel yang sudah dapat Taurat gagal menjalankannya. Seringkali kita membaca Alkitab dengan kacamata selamat tidak selamat, tentu itu juga satu pengertian yang Alkitab bagikan, apakah orang di luar Kristus selamat? Tidak. Tetapi Paulus mau mengingatkan orang di luar Kristus bisa bertindak mentaati Taurat tanpa mereka sadari. Ini merupakan persiapan dari Paulus. Pada bagian awal Paulus mengatakan kalau ada bangsa lain tidak mengerti Taurat, tidak pernah tahu ada Musa, tidak pernah tahu ada Israel, tidak pernah tahu peristiwa di Gunung Sinai, tapi mereka menjalankan maka Tuhan anggap mereka jalankan Taurat. Ini yang Paulus mau siapkan supaya pembacanya melihat ketika orang-orang bangsa-bangsa lain menjadi Kristen karena percaya Kristus, mereka juga adalah pemilik Taurat. Jikalau mereka menjalankan hukum kasih, maka mereka sudah memenuhi hukum. Paulus memakai pengertian hukum, baik untuk Taurat dan kasih. Jadi kasih pun ada hukumnya. Paulus menyoroti, “Kalau kamu melihat Taurat sebagai aturan yang membanggakan identitas, saya hebat karena saya punya Taurat dan saya jalankan. Maka kamu gagal memahami hukum karena kamu tidak interaksikan Taurat dengan kasih. Jadi Paulus memberikan tawaran atau memberikan teologi yang sangat indah. Taurat mesti diparalelkan dengan kasih dan disatukan, tanpa kasih Taurat tidak jalan, tanpa Taurat kasih juga tidak jalan. Ini bagian yang kita sering luput, Taurat hilang sekarang, dan pakai kasih. Akhirnya kasih itu jadi konsep abstrak, kita mengerti tuntutan kasih tapi kita menafsirkannya berdasarkan pikiran dan kehendak kita. Kita merasa kita sudah cukup mengasihi karena strategi dan juga cara yang kita pikir sudah benar. Jadi kita kurang standar untuk kasih, karena kita pikir kasih harusnya bebas tidak pakai standar. Kalau kamu melakukan sesuatu karena ada aturan berarti kamu kurang mengasihi, tapi kalau kamu rela menjalankan dari hati, itu baru kasih. Tapi tidak demikian yang Paulus ajarkan, Paulus mengajarkan adanya aturan ketat untuk mendeskripsikan kasih. Saudara sudah mengasihi kalau Saudara sudah memenuhi tuntutan ini. Saudara belum mengasihi kalau Saudara belum memenuhi tuntutan ini. Maka kasih, kalau kita lihat tidak ada kaitan dengan ketenangan dan juga gairah hati. Saudara belum tentu tenang hatinya menjalankan kasih, Saudara belum tentu dipuaskan gairah hatinya menjalankan kasih, karena ketenangan dan gairah hati kita mungkin saja masih dikuasai oleh dosa. Jadi kalau hati kita masih dikuasai oleh dosa maka kasih tidak bisa dikaitkan dengannya. Saudara tidak bisa mengatakan “saya sudah mengasihi karena saya sudah melakukan apa yang saya suka”, tidak bisa. Mengapa tidak bisa? Karena engkau dituntut standar mengasihi yang Kitab Suci berikan.

Sekarang yang kita perlu pikirkan standarnya itu apa? Karena kalau kita baca Taurat ada banyak sekali aturan di situ, bolehkah kita pilih? Kalau kita boleh pilih, pilih berdasarkan apa? Ini yang menjadi pergumulan dari para teolog Kristen dari awal teologi dikembangkan setelah Alkitab selesai ditulis. Karena orang-orang Kristen di abad yang kedua, abad ketiga banyak berinteraksi dengan orang Yahudi. Mereka mengatakan “Hei orang Yahudi, Yesus itu Juruselamat, Yesus itu Mesias”, lalu mereka membuktikan dari Kitab Suci, orang-orang Kristen ini membuktikan “Lihat di Yesaya dikatakan Dia seperti ini, lihat di dalam Mazmur dikatakan Dia seperti ini. Dia harus menderita, Dia sekarang sudah di surga ditinggikan, menggenapi Mazmur 2. Dia sudah dipulihkan dari mati, Dia sudah dibangkitkan seperti yang dinyatakan di dalam Yesaya 53”, ini yang mereka berikan sebagai argumen. Tapi orang Yahudi berikan argumen balik dari Taurat, “lihat yang selamat adalah orang Israel. Jadi Mesiasmu kalau bener Dia Mesias, hanya akan berguna bagi orang Israel. Lalu kalau kamu mengatakan kamu sudah menjadi umat Tuhan, mengapa tidak jalankan Taurat?”, ini jadi membingungkan. Orang akhirnya melihat Taurat sebagai batu sandungan untuk orang Kristen. Ini terbalik, orang Israel melihat salib sebagai batu sandungan bagi mereka, tapi orang Kristen melihat Taurat sebagai batu sandungan bagi mereka. “Mengapa ada Taurat di Alkitab kita? Bagaimana memahami ini?”, akhirnya dari awal teologi Kristen dibangun, salah satu pergumulan yang terus dijalankan, dipikirkan, didiskusikan adalah bagaimana orang Kristen seharusnya melihat perintah-perintah Taurat. Tentu di zaman sekarang kita lihat hal itu tidak lagi menjadi problem yang terlalu besar, karena metode hermeneutika yang ditemukan di dalam zaman kita atau zaman abad 20 akhir mungkin sampai zaman kita atau 20 pertengahan, adalah metode untuk melihat konteks. Intinya metode hermeneutika kita mengatakan kita baca Surat Roma sama metodenya dengan baca Surat Kitab Imamat, mengerti budaya lokal dan mengerti konteks lokal. Dengan pengertian akan budaya lokal dan konteks lokal kita dapat pesan untuk kita sekarang. Jadi sama tidak ada kesulitan bagi kita sekarang, baca Roma harus lihat konteks abad ke-1, baca Imamat harus melihat konteks abad ke-15 sebelum Masehi. Jadi tidak ada problem karena hermeneutika makin berkembang. Tetapi di dalam zaman ketika hermeneutika belum berkembang juga ada bantuan bagi kita untuk memahami Taurat. Bantuan yang paling besar adalah pembagian antara sebelum digenapi dan sesudah digenapi. Ini penting untuk jadi pegangan, waktu baca Taurat Saudara lihat ada yang belum digenapi yaitu hal-hal yang berkaitan dengan Kristus, pengorbananNya, kemudian Bait, aktivitas di Bait Suci. Lalu setelah Kristus datang pengorbanan Kristus menggenapi korban, maka hal-hal yang berkaitan dengan korban membuat kita mengerti Kristus, tapi bukan lagi untuk dijalankan. Atau dengan kata lain semua tulisan di Taurat mengenai aturan korban bersifat Kristologis bagi orang Kristen, membuat kita mengerti natur dari pengorbanan Kristus. Jadi kita tidak lagi menjalankan Imamat sebagai liturgi, tapi kita membaca Imamat sebagai alat hermeunetis atau sebagai pengertian firman untuk membuat kita mengenal apa yang sudah Kritus lakukan bagi kita. Kita akan menjadi sangat jelas dalam memahami salib dan pengorbananNya Kristus. Jadi setiap pengertian dari Taurat masih berguna bagi kita, tapi bukan berguna untuk liturgi ibadah. Lain dengan Israel, Israel melihat itu sebagai liturgi ibadah, ada korban harian, ada korban waktu tertentu, ada kandil yang harus dinyalakan, ada imam yang di dalam waktu-waktu yang khusus, itu semua bagian dari liturgi yang harus dijalankan. Maka kalau orang Kristen ditanya, “Apa guna Taurat bagimu?” Saudara menjawab, “Menjelaskan tentang Kristus”. Kalau mereka tanya “Bagaimana caranya?” Saudara bisa menjelaskan dengan pengertian yang kita dapat dari apa yang Imamat bagikan lalu digenapi Kristus. Korban, Kristus menggenapi, ada penebusan lewat darah yang dibawa oleh imam masuk ke ruang maha suci, Kristus menggenapi mati di kayu salib dan masuk ruang maha suci di surga. Jadi ibadah di Bait Suci adalah miniatur dari realita yaitu pengorbanan Kristus. Ini yang kita pahami, jadi Imamat, Bilangan, Ulangan atau Keluaran yang memuat liturgi Taurat, Taurat sebagai liturgi, itu tidak kita jalankan sebagai bagian dari liturgi kita, tetapi kita membaca dengan sungguh-sungguh sebagai firman Tuhan yang menjelaskan tentang apa yang Kristus lakukan buat saya. Maka kalau kita tidak mempelajarinya, kita akan miskin pengertian tentang Kristus. Kita bisa mengatakan, “Saya beriman kepada Kristus”, “Apa yang Dia lakukan untukmu?”, “Dia mati”, “Mengapa Dia mesti mati?”, “Karena keadilan Tuhan dipuaskan”, bukan cuma keadilan Tuhan dipuaskan. Di dalam Imamat ada begitu banyak hal yang dibagikan, tentang pengudusan, kesatuan dengan kematian, kuasa kebangkitan, semua dibagikan dalam bentuk simbol liturgi. Maka tentu ada perbedaan, liturgi menanti dengan liturgi setelah datang. Saudara kalau pakai liturgi menanti di dalam zaman setelah Kristus datang, tidak akan nyambung. Liturgi sebelum Kristus datang pasti beda dengan liturgi setelah. Pengertian teologi sebelum Kristus datang penting untuk kita pahami apa yang dilakukan Kristus setelah Dia datang. Intinya adalah Paulus mencoba membagikan kalau Taurat tidak lagi dipahami sebagai liturgi maka ada dua fungsi dari Taurat. Fungsi pertama adalah fungsi Kristologis, fungsi memberikan kepada kita pengertian teologis tentang siapa Kristus. Ada banyak bagian dari kehidupan Kristus itu mencerminkan dua hal, yang Yesus lakukan dengan tindakan dan yang Yesus katakan dengan perkataan mencerminkan dia adalah pertama adalah nabi, yang kedua adalah dia sedang menjalankan Taurat sesuai dengan perintah di dalam Kitab Taurat. Itu sebabnya kita mengerti bahwa hal pertama yang dinyatakan Taurat adalah pengertian kristologis, teologi tentang siapa Kristus. Taurat berfungsi memberikan teologi tentang siapa Kristus.

PERSEKUTUAN DOA

Dipimpin oleh Pdt. Jack Kawira pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, pk. 07.00 di Jl. Moh. Toha No. 229. Hanya fisik. Info: 0811-222-111-88(WA)

PERSEKUTUAN PEMUDA

Dengan tema “A Broken World oleh Bpk. Hendra Parningotan, pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, pk. 16.00 di GRII Bandung Jl. Moh. Toha no. 229. Info: Sekretariat 0811-222-111-88

Roh Kudus bagi Pemerintah

Kita lanjutkan pembahasan dari Surat Roma, kita bahas kembali mengenai Kekristenan dan ketaatan kepada pemerintah, ini bagian yang kedua. Mari kita membaca Roma 13: 4-7, “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu, tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan Dia. Karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri bukan saja oleh karena kemurkaan Allah tapi juga oleh karena suara hati nurani kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar, pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai, rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut, dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat”. Saudara, bagian kedua ini saya ingin membahas tentang pekerjaan Tuhan lewat pemerintah dan mengapa ini merupakan sesuatu yang penting untuk kita pahami. Di dalam Kitab Suci kita mendapatkan pengertian bahwa Roh Allah adalah Roh yang bekerja dari awal, ini pengertian yang kita dapat dari Kejadian pasal pertama dikatakan bahwa “Seluruh ciptaan itu kacau balau dan kosong. Seluruh bumi penuh dengan air”. Di dalam gambaran masyarakat kuno bumi adalah sesuatu yang merupakan dua bagian, ada darat dan ada laut yang ada di bawahnya. Jadi dalam konsep dunia kuno, daratan mengapung diatas laut, dan laut itu sebenarnya seringkali identik dengan kuasa jahat. Tetapi di dalam Kitab Suci, laut yang tadinya penuh ke semua tempat, sekali lagi ini bukan pengertian yang kita bisa baca dari zaman modern, tapi ini adalah pembacaan dari kacamata dunia kuno. Kalau Saudara tanya mengapa Alkitab begitu kuno? Jawabannya adalah karena Alkitab ditulis di dalam dunia kuno. “Kalau begitu itu sudah ketinggalan zaman”, kata ketinggalan zaman adalah kata sombong dari orang modern yang merasa zaman kita adalah standar ukuran terbaik dan kalau ketinggalan berarti kurang baik, itu pengertian yang salah. Kita bersyukur di dalam zaman kita sekarang pengertian zaman kuno atau zaman dulu itu jadi satu konsep yang balik lagi muncul menjadi sebuah tren untuk mengingatkan bahwa ada cara yang berbeda untuk menjalankan hidup. Sekarang orang tidak lagi mengatakan zaman dulu dengan cara negative. Orang sekarang akan mengatakan zaman dulu dengan hormat. Sekarang orang mengagumi istilah vintage, orang mengagumi istilah zaman yang lampau sebagai sesuatu yang penting untuk dikaji lebih baik. Jadi kalau dikatakan mengapa sudut pandang Alkitab melihat dunia pakai kacamata zaman kuno? Jawabannya karena Alkitab ditulis di zaman kuno. “Kalau begitu Alkitab ketinggalan zaman?”, bukan, zaman kita yang ketinggalan Alkitab. Jadi waktu Saudara mengatakan Alkitab ditulis di zaman kuno, karena zaman kuno adalah zaman yang Tuhan pilih untuk mewahyukan DiriNya. Kalau begitu apakah pengertian di dalam Kitab Suci menjadi tidak tepat? Sangat tepat. Bukankah secara scientific salah? Sains bukan satu-satunya cara membaca, dan perhatikan kalimat berikutnya, dan sains bukan hanya terdiri dari ilmu yang mempelajari benda-benda yang kelihatan secara materi saja. Seorang bernama seorang bernama Christoph Schwöbel seorang teolog Jerman yang melayani di Skotland, yang sekarang sudah meninggal baru-baru ini, tahun ini dia meninggal. Dia mengingatkan bahwa kata sains tidak boleh diidentikan dengan Fisika, sains tidak sama dengan Fisika. Maka mengatakan Alkitab benturan dengan sains, kalau sains maksudmu bentur dengan Fisika, maka kita perlu mengingatkan diri bahwa Fisika bukan satu-satunya ilmu yang diperlukan untuk memahami hidup, meskipun dia salah satu. Kalau dia bukan satu-satunya ilmu, berarti dia bukan satu-satunya acuan. Ada banyak kemungkinan kita berbicara tentang kebenaran, tanpa menyentuh aspek Fisika sama sekali. Tidak mungkin tidak menyentuh aspek fisik, menyentuh aspek fisik tapi bukan pakai teori Fisika, itu bisa. Itu sebabnya kalau ditanya “bagaimana memahami Kitab Kejadian?”, harus pakai pandangan dunia kuno di mana laut ada di bawah, darat ada di atas, sebagian. Lalu di dalam pandangan Alkitab, Alkitab memberitahu tadinya laut menutup semua, darat tidak ada. Lalu Tuhan yang mengatur sampai lautnya menyingkir kemudian darat yang muncul. Maka di dalam pandangan Kitab Suci seluruh darat tadinya ditutupi laut, tapi Roh Tuhan menaunginya dan Roh Tuhan beserta dengan firman menjadikan ada terang, menjadikan ada laut yang disingkirkan. Saudara bisa lihat gambaran di dalam Kitab Keluaran laut disingkirkan lewat angin besar yang ditiupkan dan Roh. Kata yang dipakai untuk Roh dan kata yang dipakai untuk angin di Keluaran meskipun beda tetapi tetap mengacu kepada fenomena yang sama, tiupan. Berarti ketika Roh menutupi seluruh air, di dalam Kejadian 1, Roh sedang berkuasa untuk menyingkirkan air, memunculkan darat. Dengan kata lain Roh Kudus bekerja menciptakan tempat hidup bagi manusia yang senantiasa dikerjakan oleh Roh Kudus menciptakan tempat hidup bagi manusia. Ini yang senantiasa dikerjakan Roh Kudus, menciptakan tempat hidup bagi kebaikan manusia. Tetapi sejak adanya manusia, Roh Kudus menciptakan tempat hidup bagi kebaikan manusia lewat manusia. Kalau sebelumnya Roh bertindak tanpa manusia, karena manusia belum ada, menciptakan darat maka Roh bertindak melalui manusia, menciptakan kota, menciptakan bangunan, menciptakan tempat tinggal yang aman bagi manusia lewat manusia. Kalau Saudara punya pengertian tentang ilmu tata kota, tentang bagaimana bangun-bangunan, tentang bagaimana membangun kota, itu adalah buah dari pekerjaan Roh Kudus untuk tempat hidup manusia. Ini penting untuk kita pahami, John Calvin mengingatkan jika kamu tidak melihat pekerjaan Roh Kudus di luar orang Kristen, engkau sedang menghina Dia. Jangan menghina Roh Kudus, Calvin tidak memakai kata menghujat, tapi dia mengatakan jangan menghina. Maksudnya adalah engkau terus mendeteksi ada pekerjaan Roh Kudus lewat orang percaya. Jadi kita tidak mengatakan teknologi itu dari setan, perkembangan zaman itu dari setan melawan gereja. Gereja tidak perlu melawan perkembangan dunia, perkembangan dunia dari Tuhan, kemampuan manusia mengembangkan teknologi dari Roh Kudus, kemampuan manusia membuat orang mampu berkomunikasi jarak jauh dari Roh Kudus. Kemampuan untuk membuat kemampuan komunikasi jarak jauh menjadikan manusia berjarak, tidak lagi komunikatif dan menjadi sangat tereksklusi satu sama lain, itu baru pekerjaan setan. Jadi kita mesti lihat Roh Kudus bekerja menyiapkan tempat untuk manusia bisa berdiam dan mendapatkan damai sejahtera, dan Dia memakai manusia.

Taat Kepada Pemerintah?

Kita masuk ke dalam pasal yang ke-13. Roma 13: 1-7, saya bacakan bagi kita semua ayat-ayat ini, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya. Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah. Dan siapa yang melakukannya akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seseorang berbuat baik ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu, tetapi jika engkau berbuat jahat takutlah akan dia karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah tetapi juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak, karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar, pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai, rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut, dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat”. Saudara, bagian ini bagian yang sangat melimpah dibahas di dalam tradisi Neo-Calvinis, di dalam tradisi Kuyperian yang terutama, itu sebabnya kita akan bahas dalam dua kali, tapi yang kali ini kita akan bahas secara garis besar terutama di dalam sudut pandang dari Perjanjian Lama mengenai Roma 13, bagian ini. Mengapa sudut pandang Perjanjian Lama sangat penting dan terutama sudut pandang di dalam pengertian kerajaan? Terutama di dalam pengertian doktrin tentang Anak Allah atau tentang sang Mesias. Karena kalau tidak baca demikian, kita akan lihat ini sebagai bagian dari propaganda pemerintah untuk membuat orang Kristen tunduk kepada pemerintah, itu cara baca yang salah. Bayangkan kalau Saudara adalah orang yang memimpin, lalu ingin bawahanmu taat kepadamu, engkau tidak ingin ada orang memberontak, engkau tidak ingin ada orang mencurigai tindakanmu, dan engkau akan mengatakan “Roma 13 mengatakan taatlah kepada pemerintah”. Dan ini bukan hal yang baru atau hal yang belum pernah terjadi. Di dalam zaman abad pertengahan, seringkali para pemimpin, para pangeran, para tuan memakai ayat ini untuk membuat orang-orang di bawahnya tidak berani berbicara apapun menentang dia. Mungkin dia mengenakan pajak yang sangat besar dan dia memerintahkan orang taat karena Tuhan, “Tuhan mengatakan bayar pajak, jangan memberontak”, itu cara yang salah membaca Roma 13. Roma 13 bukanlah ayat-ayat untuk menolong pemerintah, untuk menjilat pemimpin dan untuk memastikan keadaan baik demi kepentingan pemimpin. Itu sebabnya jika kita tidak membacanya dari sudut pandang Perjanjian Lama terutama sudut pandang dari berita Mesias kita akan sulit memahami ini. Jadi kita mesti lihat di dalam Roma pasal yang pertama sampai Roma yang ke-11, Paulus bercerita tentang bagaimana Tuhan memberikan janji kepada umat yang terdiri dari orang Romawi, orang Yunani dan juga orang Yahudi, tidak peduli kamu bangsa, kamu adalah bagian dari umat perjanjian. Ini tentu akan membuat orang bertanya “Jika kami adalah bagian dari umat perjanjian, siapa pemimpin kami?”, Mesias. Tapi apakah Mesias ini Raja bagi orang Yahudi saja atau Raja bagi segala bangsa? Tentu Dia adalah Raja bagi segala bangsa. “Kalau Mesias adalah Raja dari segala bangsa, maka kami tidak diharuskan untuk tunduk pada pemerintah mana pun, karena Raja kami cuma satu yaitu Kristus”. Dan Saudara juga tahu natur yang kontroversial dari Kristologi di abad pertama. Kristus disebut sebagai Tuhan atau Kyrios, ini merupakan gelar yang nantinya hanya dikhususkan untuk kaisar. Di zaman Domitsian, siapa pun orang yang menyebut Kyrios kepada orang lain selain kaisar, dia akan dianggap bersalah dan bisa dijatuhi hukuman mati. Orang-orang yang mengatakan Kyrios kepada Kristus akan sangat mungkin dianggap memberontak melawan pemerintahan Romawi. Demikian juga ketika Kristus disebut sebagai Juruselamat, atau kata yang dipakai itu adalah Soter, ini merupakan ucapan yang juga diberikan kepada kaisar. Kaisar adalah pelindung, dia juga adalah penyelamat orang Roma. Dia juga yang membuat bangsa-bangsa takluk demi besarnya Roma. Siapa yang mendapat kedudukan sebagai warga Roma, warga Roma itu ada 4 lapisan tapi budak tidak dihitung, jadinya ada 3. Ada warga utama, warga nomor dua, warga yang menjadi warga karena dia bagian dari suku yang menjadi tentara bayaran Roma, dan terakhir ada budak. Warga nomor satu dan nomor dua dipastikan akan damai, karena Roma bertindak untuk melakukan ekspansi. Dia menaklukan kerajaan lain supaya orang-orang Roma mendapatkan tempat tinggal dengan tenang, dengan damai. Dengan kata lain kalau bukan karena pemerintahan Roma, maka orang-orang yang ada di dalam kewarga-negaraan Roma, semua akan punya kedudukan yang bahaya, keadaan yang tidak aman. Maka kaisar adalah penyelamat Roma, Soter, jadi Soter, Juruselamat itu untuk kaisar. Kata Kyrios, Tuhan, itu juga adalah untuk kaisar. Jadi ketika kita membaca, kita akan menyadari bahwa surat Roma adalah tentang kontroversi ini salah satunya, kalau Tuhanmu adalah Kristus dan Rajamu adalah Dia, juru selamatmu adalah Kristus dan tidak ada yang lain selain Dia, apa gunanya kita melakukan hidup yang tunduk kepada kaisar? Apa gunanya kita taat kepada pemerintah lokal? Kita cuma punya Tuhan yang bernama Kristus. Lalu bagaimana menjawab ini? Di pasal 12 kita baru membahas bahwa Paulus mengatakan jika itu tergantung padamu, cari damai, jangan ribut dengan orang lain, cari damai jika itu memungkinkan. Maka di dalam pandangan yang diberikan di dalam Roma 12, Tuhan menekankan bahwa apa yang Dia lakukan untuk keadilan yaitu membalaskan orang jahat, itu hak Dia yang akan melakukannya. Maka dari Roma 12 ada sambungan yang sangat mulus ke Roma 13 Tuhan mengatakan “Hai kamu yang ditindas orang, jangan cari balas dendam”, “lalu kalau saya tidak cari balas dendam bagaimana?”, “Berikan tempat bagi murka Tuhan”. “Oke, bagaimana cara berikan tempat bagi murka Tuhan?”, Roma 13 jawabannya hargai pemerintah, pakai jalur hukum, tekankan pemerintahan yang Tuhan pakai menjadi pembalas dari kondisi tidak adil yang terjadi. Ini sebenarnya latar belakang penting untuk kita memahami apa yang Paulus ajarkan tentang pemerintah di sini. Maka yang pertama ini bukan propaganda untuk memastikan pemerintah mendapatkan dukungan dari orang Kristen. Paulus mungkin didekati oleh pemimpin politik. Paulus adalah orang yang sangat terdidik dan dia dengan mudah berteman dengan para pemimpin. Kita melihat di dalam perjalanan misinya yang pertama pun dia langsung akrab dengan gubernur namanya Sergius secara natural dan juga tentu karena dia adalah seorang yang punya kemampuan otoritas mengerjakan mujizat. Dia secara natural punya kemampuan bergaul dengan pemimpin-pemimpin. Kita melihat ketika orang Yahudi mau bunuh dia, yang paling concern, paling khawatir tentang hidup Paulus bukan cuma orang-orang Kristen, tapi juga petinggi-petinggi. Jadi pemimpin-pemimpin dekat dengan Paulus sehingga orang bisa salah tafsir dan mengatakan, mungkin dari antara mereka mengatakan “Paulus, kamu kan pemimpin Kristen, kami perlu daerah damai, kami perlu mendapatkan persetujuan dari kaisar supaya kami naik pangkat, supaya kami di pindah ke tempat yang lebih baik. Kami perlu kondisi bagus, bolehkah kamu pastikan orang Kristen tidak berontak? Bolehkah kamu pastikan mereka jadi orang yang hidup baik-baik dan damai?”, itu bukan tujuan Roma 13. Roma 13 mesti ditafsirkan dari sudut pandang Mesiasnik karena di bagian sebelumnya Paulus mengajarkan bagaimana seluruh bangsa punya satu Tuhan yaitu Kristus.

Kasihilah Musuhmu

Mari kita baca Surat Roma pasal yang ke-12: 14-21, “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk. Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis. Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama, janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya kalau hal itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Saudara-saudaraku yang kekasih janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah. Sebab ada tertulis pembalasan itu adalah hakKu, Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar berilah dia makan, jika ia haus berilah dia minum, dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”. Pada bagian berikut ada 2 hal yang ditekankan, di ayat yang ke-14 sampai ayat yang ke-21 yaitu bagaimana bersikap kepada musuh dan bagaimana bersikap kepada sesama di dalam persekutuan. Di ayat 14 dikatakan “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk”. Di dalam bahasa asli kata berkat itu berarti mengucapkan hal-hal baik demi kesejahteraan orang lain. Berarti Saudara dan saya diminta Tuhan untuk mengucapkan hal-hal baik demi kesejahteraan orang yang mengatakan hal-hal buruk demi kecelakaan kita. Ini bukan hal yang mudah, bagaimana orang bisa mengatakan hal baik kepada orang yang menginginkan kecelakaan kita? Kita tentu mengharapkan ada keadilan. Bukankah keadilan adalah bagian dari cinta kasih, bukankah keadilan dicintai dan disukai oleh Tuhan. Berarti kalau ada orang jahat kepada kita, wajar kalau kita balas jahat kepada dia. Tapi di dalam Kitab Suci ada satu prinsip yang sangat ditekankan yaitu lemah lembut. Meekness ini adalah 1 kata yang sangat penting dan yang dikatakan baik oleh Kitab Perjanjian Lama, di dalam Kitab Keluaran maupun di dalam Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Lama dikatakan Musa adalah orang yang paling lemah lembut. Di dalam Perjanjian Baru Yesus memperkenalkan diriNya sebagai orang yang lemah lembut. Apa itu lemah lembut? Lemah lembut menjadi karakter yang Paulus ajarkan ada di dalam penguasaan Roh. Kalau Roh Kudus ada pada kita, maka lemah lembut akan Tuhan bentuk di dalam kita, dan mengalir keluar. Di dalam tradisi Romawi dan Yunani, lemah lembut adalah kemampuan menggunakan pedang tetapi kemampuan untuk memilih menyarungkannya. Mungkin kalimat ini sangat unik yang kita bisa tafsirkan di dalam keadaan orang yang punya kekuatan. Orang punya pedang mampu untuk pakai, dia sanggup bertarung, dia mampu bunuh orang, dia punya kekuatan hancurkan orang, tapi dia pilih untuk sarungkan. Maka di dalam tradisi Greco-Roman inilah yang disebut dengan penguasaan diri dalam hal kelemahlembutan. Orang lemah lembut bukan orang yang tidak berdaya, orang lemah lembut adalah orang yang pilih seolah tidak berdaya. Tapi apa gunanya itu, mengapa ada pilihan sikap seperti orang tidak berdaya? Ini harus dikaitkan dengan pengertian Paulus tentang komunitas Kristen. Orang Kristen itu siapa? Maka saya akan bahas dulu tentang apa yang harusnya ada pada umat Tuhan kalau kita telusuri dari janji Tuhan dan juga nubuat dari nabi-nabi di Perjanjian Lama. Di dalam nubuat dari nabi-nabi di Perjanjian Lama ada janji Tuhan bahwa Tuhan akan pulihkan Israel. Tadinya dibuang, ditindas oleh kerajaan lain, ditindas oleh Babel, lalu menjadi jajahan Persia tapi Tuhan janjikan “Aku akan bebaskan kamu”. Lalu orang Israel mulai mendapat janji-janji lain yang besar sekali, kamu bukan cuma dibebaskan dari penindasan musuh, kamu juga akan menjadi umat yang menikmati damai sejahtera. Apa itu shalom, apa itu damai sejahtera? Mengapa setelah Kristus bangkit lalu Dia muncul di tengah-tengah murid yang sedang bersekutu berdoa? Dia mengatakan “Damai sejahtera bagimu”. Yesus di dalam Injil Yohanes juga mengatakan “damai sejahteraKu Kutinggalkan bagi kamu”, Dia akan naik ke surga tapi damai sejahteranya tinggal. “Dan damai sejahtera yang Kuberikan kepadamu lain dengan apa yang dunia ini tawarkan.” Damai sejahtera Tuhan bukan damai palsu. Dunia ini cuma bisa tawarkan 3 model hiburan tadi, yang pertama damai palsu, yang kedua kepura-puraan, yang ketiga adalah hiburan yang bersifat sensasi, sensasi yang menyenangkan sense, memuaskan hawa nafsu tapi membuat jiwa kosong. Berapa banyak orang yang merasa senang terhibur di sebuah night club, begitu pulang ke rumah kembali rasa kosong. Berapa banyak orang yang lupa kesulitan waktu dia sedang mabuk, tapi ketika dia kembali sadar, dia sadar hidupnya kosong dan tidak berarti. Saudara obat-obatan ataupun zat-zat kimia tertentu bisa membuat otak kita berpikir bahwa kita sedang damai, tapi itu bukan damai yang sejati. Karena lingkunganmu tidak damai, tidak ada pengharapan dan tidak ada realita. Kalau tidak ada pengharapan dan tidak ada realita, mustahil orang mengalami shalom, mengalami damai sejahtera. Mengapa orang diajar untuk selidiki ilmu sampai sedalam mungkin? Tujuannya cuma satu supaya dia berfungsi sebagai manusia yang menaklukan ciptaan demi damai sejahtera. Inilah yang Tuhan mau di dalam Kejadian pasal yang pertama. Tuhan menciptakan manusia, memerintahkannya beranak cucu penuhi bumi dan taklukan itu. Yang ditaklukan bukan bumi dihantam sampai kalah, yang ditaklukan adalah keadaan kacau. Kacau ditaklukan dengan damai sejahtera. Chaos ditaklukan dengan shalom. Maka inilah panggilan manusia, manusia tidak suka keadaan kacau, manusia yang masih baik tentunya akan punya kecenderungan memperbaiki kekacauan. Orang bodoh adalah orang yang membiarkan malas menang. Di dalam pengertian dari Plato ini namanya kita membiarkan epithumia menang. Epithumia itu hawa nafsu yang akan menguasai hal yang kita tahu baik. Plato pakai contoh ada kuda hitam, ada kuda putih. Kuda putih baik, mau yang baik-baik, mau yang teratur. Kuda hitam merusak semuanya demi kesenangan sementara. Lalu apa tugas rasio? Plato mengatakan rasio bertugas untuk mengendalikan diri supaya menunggangi kuda putih, jangan sampai diri naik kuda hitam. Mengapa jangan? Karena ini membuat kacau. Maka kita semua punya kecenderungan mau bereskan hal yang tidak beres. Tapi kemalasan bilang “Saya setuju keadaan mesti beres, keadaan mesti baik, tapi nanti saja bereskannya. Hari ini bersenang-senanglah”, hari ini bersenang-senang, besok kita pikir kesulitan. Bersenang-senang dahulu, bersulit-sulit kemudian, ini pepatah yang kurang beres. Jadi ini yang ditawarkan oleh epithumia, oleh kuda hitam itu. “Sudah senang-senang dulu, mengapa repot? Nanti kamu sudah repot bersih-bersih, kemudian mati, kan rugi belum sempat senang-senang”. Jiwa kita perlu dibiasakan untuk menginginkan yang baik, mengejar yang baik, mengejar yang teratur, mengejar yang mendatangkan harmoni. Itu sebabnya Saudara dan saya punya kecenderungan membangun budaya, budaya sebenarnya adalah buah dari usaha penaklukan alam dari manusia. Alam kalau di tidak ditaklukan sulit memberikan keadaan aman bagi manusia. Setelah dunia jatuh dalam dosa kita tahu bahwa alam seperti bekerja menghancurkan manusia. Kekacauan sepertinya lebih identik dengan alam yang mentah dari pada damai sejahtera. Jadi kita punya insting untuk cari shalom, cari damai sejahtera. Itu sebabnya Wolterstorff mengingatkan mengapa ada pendidikan tinggi? Supaya orang siap jadi berkat, mau kerjakan sesuatu untuk membuat hidup orang lain lebih baik. Mengapa studi teknik, mengapa studi kedokteran, mengapa studi politik, mengapa studi ekonomi, for shalom, supaya damai sejahtera Tuhan turun lewat manusia. Kalau begitu manusia harusnya punya sikap menjadi gambar Allah yang mendatangkan baik, hal baik yang diinginkan. Sehingga seperti di dalam Kitab Kejadian, Tuhan melihat ciptaanNya dan Tuhan berkomentar “Baik, apa yang terjadi sungguh amat baik”, ini yang Tuhan mau. Lalu kalau Saudara lihat dunia sudah jatuh dalam dosa dan Tuhan panggil Israel, Israel pun gagal menjadi umat lalu dibuang. Maka pengharapan dari nabi-nabi ini menjadi penghiburan yang besar bagi kita. Nabi nabi mengatakan “Tuhan berjanji akan pulih kan kamu”, pulihkan untuk jadi apa? Supaya kamu benar-benar jadi umat yang mendatangkan damai sejahtera. Tapi Kitab nabi-nabi, saya ambil contoh Nabi Yesaya, memberikan nubuat yang lebih besar daripada cuma sekedar janji. Yesaya memberikan deskripsi, ini yang unik. Meskipun penjelasan atau deskripsinya berbentuk simbolik, tapi Yesaya memberikan deskripsi itu. Misalnya dia memberikan deskripsi tidak ada orang bodoh di tengah-tengah kamu, semua adalah orang bijak. Tidak ada orang yang usianya muda sudah mati, semua akan lanjut usia. Tidak ada orang yang mati waktu masih bayi, tidak ada orang yang akan sakit dan mati di usia muda, semua akan sejahtera sampai tua. Ini tentunya merupakan ucapan simbolik, karena di dalam langit dan bumi yang baru tidak ada orang yang akan mati, semua orang tua tidak akan mati. Tapi yang Yesaya mau katakan adalah ada peningkatan dari kualitas umat yang sekarang. Pemulihan Israel bukan pemulihan kembali ke periode sebelum pembuangan. Tapi pemulihan yang bersifat progresif. Yeremia pun menyatakan hal yang sama “Kamu bukan cuma akan bebas dari tekanan, bebas dari belenggu, bebas dari serangan bangsa lain, kamu akan menjadi umat yang lebih baik”, bahkan jauh lebih baik karena di dalam Yeremia dikatakan kamu akan diberikan hati yang baru dan Tuhan akan tulis tauratnya kenalah Tuhan, cintailah sesama itu akan dituliskan di dalam loh hatimu. Tuhan akan berikan Firman yang tidak tertulis di Batu ini perjanjian yang sudah dilanggar oleh nenek moyang, Tuhan memberikan kepadamu hati yang baru, Tuhan tulis Tauratnya di hatimu dan tidak perlu ada orang mengatakan ‘Hei, kenallah Tuhan karena setiap orang besar atau kecil sudah kenal Tuhan. Inilah yang Yesus sebut ada Perjanjian Baru”, Mengapa ada Perjanjian Baru? Karena yang lama sudah gagal. Yang lama gagal karena perjanjiannya salah? Bukan, yang lama gagal karena umatNya salah, umatNya gagal, umatNya eror, umatNya tidak mampu penuhi perjanjian maka Tuhan murka. Tetapi umat yang baru ini akan jauh lebih baik karena anugerah Tuhan. Mereka akan mampu tunduk kepada Firman. Maka dari nubuat Yesaya akan ada damai sejahtera seperti laut penuhi pasir di dalam laut, sama seperti Tuhan berjanji akan penuhi bumi dengan kemuliaan-Nya, demikian umat Tuhan akan dipulihkan dan keadaannya akan menjadi jauh lebih baik dari umat yang sekarang, dari umat yang dibuang. Progres ini yang dijanjikan. Di dalam Yesaya, di dalam Yeremia, juga di dalam Yoel. Di dalam Kitab Yoel dikatakan yang penuh roh itu bukan cuma imam pemimpin atau orang-orang tokoh rohani, bukan cuma nabi-nabi, bukan cuma raja, tapi semua orang, tua atau muda, besar atau kecil, laki-laki atau perempuan, semua akan penuh dengan roh. Tuhan akan curahkan roh kepada mereka semua. Ini umat yang jauh lebih baik. Musa, waktu dia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan saya tidak sanggup jadi pemimpin, Israel terlalu nakal, terlalu keras hatinya, tegar tengkuk, saya tidak bisa atur mereka. Tolong Tuhan angkat teman-teman untuk tolong, masa Israel cuma ada satu pemimpin tapi tidak ada bantuan? Tidak ada menteri, tolong angkat menteri-menteri, tolong angkat teman-teman untuk bantu saya memimpin”. Maka Tuhan mengatakan “baik, Aku akan angkat”. Lalu Tuhan ambil sebagian dari roh yang ada di Musa, lalu Tuhan berikan ke yang lain. Roh Kudus yang memimpin Musa, yang juga akan memimpin yang lain. Lalu beberapa mulai bernubuat, Saudara jangan salah mengerti nubuat, di dalam Efesus 5, penuh dengan roh itu diidentikan dengan kata-kata yang memuji Tuhan. Dan kata-kata yang menyegarkan sesama, itu namanya bahasa, sebenarnya itu namanya bahasa lidah. Bahasa lidah adalah ucapan yang memuliakan Tuhan dan memberkati sesama, Kalau Saudara punya bahasa yang lain yang orang tidak mengerti, mesti ada yang terjemahkan, kata Paulus. Mengapa mesti pakai penerjemahan? Karena tidak ada gunanya kamu bagi yang lain yang tidak mengerti bahasa itu. Jadi berhenti pakai bahasa seperti itu. Mengapa Paulus menganggap ini problem besar di Korintus? Karena Korintus kota besar yang banyak orang dari berbagai negara kumpul di situ, sehingga gerejanya adalah gereja yang multi nation, dari mana-mana ada dan bahasanya beragam. Kalau ada orang satu gereja bahasa beragam, itu repot. Bayangkan kalau Korintus terdiri dari beberapa bahasa lalu orang yang berpendidikan, yang berbahasa Yunani menganggap kemampuan Bahasa Yunani adalan tanda intelek tinggi. Yang mampu Bahasa Aramaik, bahasa Israel waktu itu menganggap Injil dan Kekristenan datang dari Israel, maka bahasa asli adalah Bahasa Aramaik. Maka yang rohani menganggap bahasa Aramaik lebih penting, yang intelektual menganggap Bahasa Yunani lebih penting. Dan Bahasa Yunani pun ada banyak sekali dialek. Kalau Saudara pelajari sejarah, dialek Yunani itu banyak, kemudian dibedakan dengan zaman, zaman di dalam zaman klasik bahasanya lain dengan zaman di dalam zaman Yunani hellenis, ini membuat bahasa jadi rumit sekali. Lalu orang yang punya kemampuan Bahasa Arkaik, bahasa Yunani yang lebih klasik itu memamerkan kemampuan berbahasanya, lalu orang Yunani lain di dalam dialek sehari-hari kurang mengerti, “Saya kurang mengerti, bahasamu terlalu tinggi”, lalu orang yang bahasa tinggi mengatakan“Itu masalahmu. Mengapa kamu tidak terdidik?” Tapi Paulus mengatakan kalau ada orang berbahasa sesuatu yang orang lain tidak mengerti, dia tidak lebih dekat dengan Tuhan karena bahasa itu sebab dia tidak jadi berkat, jadi kamu mesti mampu mengatakan kata-kata yang memberkati orang lain. Maka ketika Paulus kaitkan penuh dengan Roh, dia langsung kaitkan itu juga dengan kemampuan memuji Tuhan dan mengatakan hal-hal yang menjadi berkat karena dipahami juga oleh orang lain lain. Ini yang dilakukan Roh ketika hadir dan memenuhi seseorang. Maka ketika Musa mengatakan “Tuhan angkat yang lain juga”, lalu yang lain itu diberikan Roh oleh Tuhan, mereka langsung bernubuat. Mereka mampu berkotbah, memimpin orang dengan semangat yang baik dan dengan kata-kata yang membakar semangat orang lain. Sehingga Yosua menjadi sedikit panik, “Tuan Musa, kalau ada pemimpin yang berkarisma muncul, nanti kamu tidak jadi pemimpin tunggal. Nanti Israel pecah, nanti ada yang lebih suka orang lain dibandingkan engkau”. Tapi jawaban Musa begitu mengharukan, Musa mengatakan “Saya tidak peduli, andai lebih banyak lagi, bahkan andai semua orang penuh Roh, sehingga saya tidak diperlukan lagi”, ini mentalitas pemimpin yang baik. “Saya jadi pemimpin selama diperlukan, andai kamu sudah dewasa, sudah baik, tidak perlu saya, saya lebih bahagia”, Musa ini bukan orang gila kuasa. Maka dia mengatakan “andai Roh Kudus penuhi setiap orang, maka saya akan senang, karena berarti saya tidak diperlukan lagi”, orang sudah pintar semua. Jadi Musa menginginkan semua orang penuh Roh. Ini baru dilanjutkan oleh nubuat Yoel. Yoel mengatakan akan ada saat Tuhan mencurahkan RohNya sehingga semua orang besar-kecil, tua-muda, budak ataupun orang merdeka, semua akan bernubuat. Dan di dalam Kisah Rasul pasal yang kedua, Petrus mengatakan semua yang diinginkan Musa dan semua yang dinubuatkan Yoel terjadi pada hari Pentakosta. Roh Kudus turun dan semua orang percaya mampu berkata-kata di dalam bahasa lidah, ini yang dimaksudkan. Jadi ketika orang penuh dengan Roh, dia mampu membahasakan kalimat-kalimat dari Tuhan yang menyemangati orang, yang membuat orang merasa dapat berkat, yang penuh dengan kelimpahan. Itulah yang Musa inginkan dan itulah yang dia harapkan terjadi. Berarti yang diinginkan Musa dan yang dinubuatkan Yoel akan terjadi pada umat nanti, umat yang jauh lebih baik dari Israel. Dimana umat itu? Kisah Rasul mengatakan umat itu adalah gereja. Jadi dalam pandangan Paulus, gereja adalah versi lebih baik dari Israel. Yang membuat kita jadi jauh lebih baik itu Kristus dan Roh Kudus, bukan kita. Jadi kita tidak bisa mengatakan kita lebih hebat dari orang Israel. Yang dimaksudkan lebih baik adalah karena Roh Allah yang menyatukan dengan Kristus ada pada kita, sehingga kita mesti belajar menjadi versi yang lebih baik dari Israel. Maka di dalam khotbah di bukit, Yesus mengatakan “Kamu sudah mendengar perkataan dari zaman dulu”, itu yang dimaksud dengan firman, perkataan dulu bahwa kalau kamu hidup bersama, cintai sesamamu, bencilah musuhmu”. Mengapa mesti benci musuh? Karena Tuhan memerintahkan kita untuk mencintai sesama, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, ini berarti kamu cari orang yang mirip kamu lalu cintai dia, itu arti perintahnya, kalau Saudara baca susunan kata dari Matius 22, Saudara akan melihat bahasa asli lebih ke arah “Cintailah sesamamu yang sama dengan kamu”. Jadi tidak mengatakan “cintailah orang lain seperti kamu mencintai diri”, bukan. Yang dikatakan adalah “Cintai orang lain yang mirip kamu”. Cintai orang lain yang mirip saya, berarti yang beda dengan saya tidak perlu dicintai? Ini yang dipahami oleh orang Israel. Berarti cari orang yang mirip saya dan cintai dia, lalu yang beda dari saya musuhi dia, karena kita tidak nyambung. “Kamu dan saya tidak nyambung, kita tidak bisa cocok satu sama lain”, ini yang di maksudkan di dalam urutan atau di dalam tata dari bahasa Yunani dan juga di dalam bahasa Ibrani. “Kalau begitu Tuhan ingin kita untuk cintai yang mirip kita? Kalau begitu wajar kalau kita benci musuh?” Tapi di dalam Imamat 19: 18 dikatakan “Janganlah kamu menaruh dendam kepada sesamamu, tapi kasihilah sesamamu manusia yang kamu anggap sama dengan dirimu”. Tapi ada penutup “Akulah Tuhan”, ini penting untuk dipahami.

Etika Mengasihi

Mari kita sama-sama membaca Roma 12: 9-13. “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura, jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa. Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan”. Setelah Paulus memberitakan tentang anugerah pelayanan atau karunia pelayanan yang dikaruniakan oleh Roh Kudus, maka di ayat-ayat yang kita baca hari ini sampai ayat yang ke-13, itu ada gabungan nasehat-nasehat pendek. Nasehatnya adalah nasehat yang sebenarnya sangat akrab dengan dunia Yunani pada abad pertama karena orang-orang Yunani sangat senang untuk mencari tahu bagaimana orang seharusnya hidup. Kalau kita lihat di dalam ayat yang ke 9-12 itu ada kata-kata yang saling memperlengkapi, ini ciri khas nasehat dari orang Yunani. Jadi ada satu istilah yang sudah dimengerti tapi tambah istilah lain untuk membuat kita mengerti bagaimana istilah yang pertama itu bisa dijalankan atau dimengerti. Saya ambil contoh di dalam ayat yang ke-9 dikatakan “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura, jauhilah yang jahat dan lakukan yang baik”, ada dua nasehat di sini. Yang pertama adalah dalam kasih ada ketidak pura-puraan, ini yang diperintahkan, kasih dan tidak pura-pura. Ada agape dan ada anypokritos, ada dua kata yang saling melengkapi. Kasih itu tidak pura-pura. Jadi Saudara bisa melihat ada istilah yang umum di dalam dunia etika ditambahkan dengan aplikatif. Dan nasehatnya juga sangat irit, karena cuma pakai 1 kata juga, jadi 1 kata dilanjutkan dengan 1 kata. Ini menarik sekali kalau kita mengerti cara menasehati dengan cara seperti ini, karena istilah-istilah penting ini digabungkan sehingga kita mempunyai gambaran yang indah sekali tentang bagaimana etika itu seharusnya dijalankan. Kita tahu di dalam sejarah pemikiran manusia aspek etika adalah aspek penting, dari awal orang-orang yang memberikan sumbangsih terhadap pemikiran dunia misalnya Socrates, kemudian Plato dan Aristoteles misalnya, mereka sangat concern, sangat ingin mengajarkan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup. Ada pertanyaan yang sangat penting tentang etika, misalnya yang ditanyakan oleh Socrates di dalam tulisan Plato, apakah etika itu perintah dari dewa atau sebenarnya etika pun memerintah dewa untuk taat? Jadi kebaikan itu kebaikan karena dewa perintahkan atau ada prinsip baik yang dewa pun harus tunduk? Ini menjadi pertanyaan yang membuat Plato berpikir, di dalam tokoh tulisan Plato adalah Socrates. Apakah para dewa itu mutlak? Harusnya tidak menurut dia. Harusnya ada prinsip yang lebih tinggi yang juga mengikat para dewa. Ini pikiran Socrates atau Plato, kita campurkan Socrates dan Plato, Socrates versi Plato karena Socrates tidak menulis apapun. Apakah para dewa itu dikuasai oleh prinsip yang lebih tinggi dari mereka? Harusnya iya, karena kalau tidak kita akan menyembah dewa dan berharap dewa-dewa itu menjadi sumber prinsip padahal itu tidak mungkin menurut Socrates. Mengapa tidak mungkin? Karena banyak hal yang para dewa ini tidak memiliki secara utuh. Misalnya dewa cinta mungkin tidak mempunyai bijaksana berperang, dewa hikmat mungkin tidak memiliki kemungkinan memberikan kesuburan dan lain-lain. Mereka tidak mungkin menjadi prinsip yang secara otoritatif mengatur semua. Mereka tidak mungkin menjadi prinsip paling tinggi. Kalau begitu prinsip paling tinggi inilah yang harus kita cari, bukan cuma sekadar menyembah dewa-dewa. Saudara bisa pahami mengapa Socrates dituduh sebagai ateis, karena dia menekankan pentingnya mencari yang lebih utama ketimbang para dewa. Ada hal yang lebih prinsipil yang mengatur segala sesuatu sehingga dewa pun ikut tunduk kepadanya. Plato dan Socrates ini sangat berpengaruh sehingga di dalam abad pertengahan, para teolog Kristen berusaha pikir baik-baik apakah kalau pertanyaan Socrates diterapkan pada Allah kita, pertanyaan itu masih valid atau tidak? Apakah kebaikan itu menjadi baik karena Allah perintahkan atau Allah pun sebenarnya dipayungi oleh prinsip universal yang Allah tidak bisa lepas darinya? Mana yang benar? Di dalam pikiran abad pertengahan akhirnya ditemukan istilah yang disebut dengan simplicity of God, Allah itu tidak terdiri dari bagian. Allah adalah Allah yang di dalam diriNya segala sesuatu ada. Jadi kalau ditanya apakah kebaikan itu ada di luar Allah? Prinsip tertinggi itu mengatur Allah? Jawabannya tidak, kebaikan itu ada di dalam diri Allah. Allah itu adalah baik, Allah itu adalah kasih, Allah itu adalah adil. Sehingga Allah dan prinsip itu menyatu. Di dalam Kekristenan diajarkan bahwa prinsip utama ada di dalam Allah, Allah-lah yang menjadi prinsip utama itu. Ini solusi dari abad pertengahan untuk pertanyaan dari Socrates yaitu simplicity of God, Allah tidak terdiri atas bagian sehingga Allah itu sendirilah yang menjadi prinsip utama yang mengatur segala sesuatu.

Kalau begitu ketika berbicara tentang prinsip hidup atau etika, apakah orang Kristen akan beda dari dunia ini, apakah etika setelah kenal Tuhan akan beda 180°, apakah akan beda total dari orang yang tidak kenal Tuhan, apa bedanya? Bisakah orang yang tidak kenal Tuhan seperti orang Kristen kenal Tuhan, punya etika yang sama juga? Apakah pencarian etika di dalam dunia lain yang bukan Kristen atau yang bukan Yahudi yang bukan menyembah Tuhan, apakah itu dibuang sama sekali? Saudara, tulisan-tulisan Paulus membuktikan bahwa Paulus tidak membuang ajaran etika dari dunianya. Da tidak membuang misalnya dari ajaran stoisisme, meskipun tentu dia bukan pengajar stoic, dia mengkritik ilah-ilah Yunani ketika dia berkotbah di Athena, sesuai catatan di Kisah Rasul 17. Tetapi dia tidak membuang semua prinsip etika yang ditemukan di dalam dunia Yunani. Namun Kekristenan mengarahkan etika yang sudah dipahami di dalam dunia lain, dunia sekuler, dunia di luar Kekristenan di-treat atau diperlakukan sebagai bagian dari prinsip mengenal Tuhan. Jadi ini bagian dari mengenal Tuhan, bukan sebuah pemikiran yang bentur dengan Kekristenan atau juga bukan sebuah pemikiran dan Kekristenan harus tunduk kepadanya. Ini cara Paulus untuk membicarakan tentang etika. Misalnya di dalam Filipi, dia membagikan prinsip-prinsip etika yang sangat dikenal oleh orang-orang Yunani, tetapi menambahkan dengan mengatakan “Lihatlah apa yang ada padaku dan teladanilah itu seperti aku juga sudah meneladani Kristus”. Tambahan kecil di belakang, ini mengubah segala sesuatu. Di dalam etika Yunani, orang tidak mengatakan “Lihat saya dan contoh saya, karena saya melihat orang lain dan mencontoh dia”. Paulus melihat Kristus dan mencontoh Kristus. Maka orang-orang di Filipi melihat Paulus dan mencontoh Paulus. Ini tidak ada di dalam dunia Yunani, karena di dalam dunia Yunani tidak ada orang khusus yang menjadi patokan beretika, yang kepadanya kita mesti pelajari dan teladani. Maka kekurangan figur inilah menjadi problem di dalam dunia Yunani, orang bisa berbicara tentang segala macam hal yang baik tetapi dia sendiri tidak identik dengan yang baik itu. Socrates pengajar yang sangat baik, tetapi di dalam akhir hidupnya pun dia mengakui dia akan pergi kepada dunia ideal dan dia sendiri tidak menjadi perwakilan dari dunia ideal itu. Dia bukan contoh, dia hanyalah sekadar orang yang bertanya, kalau dalam pendapat dia “Saya cuma orang bodoh yang bertanya, saya cuma minta orang lain menjawab dan kalau jawabannya kurang memuaskan, saya tanya balik, itu tugas saya”. Jadi Socrates tidak mengklaim dirinya sebagai contoh. Plato mengatakan Socrates adalah orang paling baik yang pernah dia kenal atau bahkan yang mungkin akan dikenal oleh siapapun, tetapi tetap Socrates bukan tokoh ideal karena di dalam pikiran Plato pun ketika Plato mendirikan Akademia, dia membuat Socrates menjadi tokoh yang waktu berdebat tidak bisa jawab, ini ada di dalam karya Simposium. Di dalam karya Simposium, Socrates kehilangan cara untuk menjawab tentang tema dikai atau keadilan, ini tema yang sulit dipahami keadilan dan cinta kasih. Jadi Socrates yang tadinya jadi tokoh yang sangat sentral di dalam pikiran Plato, ternyata juga adalah orang yang kebingungan waktu diminta menjawab hal-hal yang sangat besar. Plato adalah seorang yang sangat punya konsep berpikir kuat sekali, banyak tradisi dari dunia etika di Barat berhutang banyak sekali kepada dia. Dia pikir segala sesuatu dengan detail, dengan teliti sekali tentang adil. Apa itu adil? Apakah ketika engkau memperlakukan orang lain dengan sama itu adil? Ini sesuatu yang membingungkan untuk dijawab. Jadi dia membagikan kepada dunia, problem-problem di dalam dunia etika yang perlu dijawab. Dan banyak orang menemukan pikiran dia sepertinya mengunci pembahasan. Sepertinya orang mau membahas apapun, Plato sudah pernah pertanyakan sebelumnya. Makanya ada perkataan yang terkenal dari seorang filsuf abad 20 bahwa sejarah etika dan filsafat barat itu cuma footnote kepada Plato. Di dalam lukisan dari seorang bernama Jacques-Louis David, dia lukis tentang Plato yang sedang duduk, kemudian di belakangnya itu ada lukisan kematian Socrates. Ini kita tidak sadar Plato itu yang duduk, kita lihat ada lukisan Socrates sedang menunjuk sambil memegang cawan, siap untuk mati, karena dia dijatuhi hukuman mati, minum racun dan mati. Lalu murid-muridnya menangis di samping dia, murid-muridnya sedih sekali. Di situ ditunjukkan berdasarkan dialog di dalam karya terakhir dari Plato yaitu tentang kematian, ini dimasukkan di dalam satu dialog pendek yang mengisahkan tentang kematian Socrates, The Death of Socrates. Di situ murid-murid semua kumpul, ada yang tutup mata sambil menangis tidak tega melihat guru yang tercinta harus mati dengan cara ini. Lalu ada orang-orang yang sangat sedih duduk di kaki, dekat kaki Socrates. Kemudian orang lihat dialog dari bukunya Plato, lalu lihat lukisan itu, mereka heran karena di dalam dialog dipaparkan nama-nama orang yang hadir dan di dalam lukisan ini ada orang-orang yang mirip dengan yang di dalam dialog tapi kurang satu. Waktu mereka selidiki, kurang orang namanya Plato. Lalu di mana Plato? Socrates mau mati apakah Plato tidak ada? Ternyata lukisan itu menggambarkan Plato sudah tua, duduk dekat Socrates. Jadi kita lihat dalam lukisan itu ada Socrates yang siap minum racun sambil menunjuk ke atas, lalu di kaki tempat tidurnya ada orang tua seumur dengan Socrates, sedang duduk merenung. Semua bingung ini siapa, tidak ada dalam dialog dari Plato. Baru mereka sadar orang tua yang duduk dekat kaki Socrates itu Plato, dilukiskan dalam lukisan itu. Mengapa Plato menjadi seumur dengan Socrates? Baru kita sadar ini lukisan adalah imajinasinya Plato. Ini lukisan tentang Plato yang sedang duduk, sudah tua lalu dia ingat “Dulu guruku mati”, inilah yang dilukiskan. Ini cara lukisan untuk menggambarkan sebuah peristiwa. Jadi seluruh peristiwa kematian Socrates ada di dalam pikirannya Plato. Ini mau menggambarkan kegalauan kematian Socrates, dia bertanya banyak hal. Gurunya yaitu Socrates, mengatakan kematian tidak harus ditakuti, tapi mengapa dampak dari kematian Socrates seperti menghabiskan pengharapan untuk manusia bisa hidup? Apakah benar ada pengharapan yang indah di luar sana setelah kematian? Ini pertanyaan-pertanyaan yang terus dipertanyakan baik oleh Plato maupun oleh seluruh manusia. Kematian Socrates menjadi pergumulan besar dalam diri Plato, sehingga dia memikirkan ulang tentang apa yang dimaksud dengan baik, apa yang dimaksud dengan hidup, apa gunanya berjuang di tengah dunia yang katanya cuma ilusi yang tidak bagus dari dunia ideal yang lebih bagus. Ini pertanyaan-pertanyaan yang dia bagikan dan akhirnya konteks yang dibagikan oleh Plato tentang bagaimana beretika demi mengenal yang ideal, dimentahkan atau diganti oleh filsafat Kristen atau oleh pemikiran dari teologi Kristen. Karena Kekristenan mengingatkan semua tindakan etis adalah tindakan menyembah Tuhan, mentaati hukum Tuhan dan meneladani Kristus, ini 3 hal yang tidak mungkin ada di dalam pikiran dunia ini. Di dalam dunia Yunani tidak ada alasan beretika untuk menyembah, “Menyembah siapa?” Dunia Yunani kekurangan figur untuk disembah, sehingga etika dan penyembahan tidak bisa dengan harmonis bersatu. Lalu di dalam Kekristenan, etika berarti mentaati hukum Tuhan, hal kedua. Di dalam dunia Yunani tidak ada hukum yang diturunkan dari Tuhan, semua adalah pikiran manusia berusaha mencari kebenaran dan kebaikan. Tetapi di dalam Kekristenan tidak begitu, tindakan etika yang benar adalah ketaatan kepada Taurat atau kepada firman Tuhan. Lalu yang ketiga tindakan etika yang benar adalah usaha menyerupai Kristus, karena aku milik Kristus maka aku berusaha mirip Dia. Karena aku ditebus oleh Kristus maka aku berusaha menjadi seperti Dia di dalam tindakan. Tiga hal ini menjadi prinsip etika yang sangat penting bagi dunia, yang perlu dipelajari oleh dunia. Saudara kalau mau memberitakan Injil, Saudara bisa masuk dengan banyak sekali cara, karena terlalu banyak hal di dalam pikiran dari Kitab Suci yang melampaui apapun yang dunia bisa pikirkan. Misalnya ketika kita berdialog dengan dengan orang lain, kita mengatakan etika yang baik adalah bentuk ekspresi worship, “Aku menyembah Tuhan dan aku menunjukkannya di dalam perlakuanku kepada sesama”. Yang kedua “Aku berlaku baik adalah karena Tuhan perintahkan. Aku ingin damai, aku ingin menikmati hidup di dalam komunitas yang baik, karena itu aku menjalankan hukum Tuhan. Yang ketiga, “Aku bertindak baik karena Dia Kristus, figur yang menjadi Juruselamatku yang kepadaNnya aku ingin menjadi satu. Saya ingin mirip Kristus maka saya disebut Kristen. Saya berusaha mirip Dia, maka saya teladani Dia”. Ini tiga hal yang tidak ada di dalam dunia Yunani, di dalam dunia Timur, dunia Barat di manapun. Maka ketika Paulus memberikan ajaran etis, dia tidak hindari bahasa-bahasa etika dari sekelilingnya, meskipun itu bukan Kristen. Karena dia tahu sebelum penjelasan etika ini diberikan, dia sudah lebih dulu memberikan penjelasan tentang 3 hal tadi, tentang ibadah kepada Tuhan, tentang hukum Tuhan dan tentang siapa Kristus. Kalau tiga ini sudah dimengerti, Saudara justru mempunyai bijaksana untuk melihat keindahan dari pikiran dunia, tidak perlu takut. Kadang-kadang orang Kristen menjadi begitu antithetical, berlawanan dengan prinsip dunia. “Kalau dunia punya prinsip pasti salah, hanya Kristen yang benar”, akhirnya sifat antitesis ini sifat bentur seperti membuat orang Kristen menjadi begitu paranoid, begitu ketakutan dengan berita apapun dari dunia ini. Saya tidak bilang bahwa dunia ini semuanya baik adanya, tentu tidak. Banyak hal yang kacau, banyak hal yang rusak, banyak hal yang tidak benar dari dunia ini, tetapi Saudara bisa menyadari kekacauan dan ketidakbenarannya justru karena Saudara sudah kenal tiga hal tadi menyembah Tuhan, perintah Tuhan dan Kristus. Saudara perlu punya kepekaan melihat mana yang menghancurkan diri dan mana yang bisa diadopsi menjadi bagian dari pikiran Kristen. Karena memang pikiran itu dari Tuhan adanya, segala yang baik adalah dari Tuhan..