Kasih & Keterasingan

Filipi 1: 1-6 “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

Saudara di dalam pembahasan yang lalu kita sudah mendengarkan mengenai bagaimana Injil masuk ke Kota Filipi dan mengapa kota ini penting. Dan Tuhan yang merancangkan supaya Paulus datang ke Filipi. Tuhan yang pilih siapa yang akan diselamatkan, Tuhan yang arahkan para pekabar Injil untuk memberitakan Injil di tempat yang Tuhan mau. Yang jauh lebih penting bukan cuma sekedar bakat atau kemampuan orang memberitakan Injil, tetapi juga kepekaan untuk tahu Tuhan arahkan ke mana. Itu sebabnya tidak ada seorang pun yang mengabarkan Injil yang dapat melakukannya tanpa dipimpin oleh Tuhan. Dan tidak ada orang atau kelompok atau siapapun yang bisa mendengar Injil dan bertobat jika bukan Tuhan yang menggerakkan.

Doktrin pilihan sangat jelas, orang mengatakan doktrin pilihan itu tidak tepat karena membuat Tuhan seperti tidak adil. Tapi kalau tidak ada kaum pilihan maka orang yang bisa bertobat dan menerima Injil adalah orang yang memang lebih baik dari yang tidak menerima. “Mengapa kamu jadi Kristen?”, “Karena saya percaya.” “Mengapa kamu percaya?”, “Karena saya memang lebih baik dari orang lain.” Maka tanpa mempercayai doktrin pilihan kita harus menjadi sombong dan mengatakan “saya orang Kristen karena saya lebih baik dari orang lain”, dan ini bukan ajaran Alkitab. Maka kalau orang menolak doktrin predestinasi, sebenarnya dia sedang berada di dalam kondisi jiwa yang sombong, “Mengapa kamu percaya?”, “Karena saya memang mau percaya.” Tapi dengan mempercayai doktrin predestinasi, maka kita tahu baik Injil yang diberitakan kepada saya maupun kemampuan saya berespons kepada Tuhan, itu pemberian Tuhan. Pemberian yang indah, yang agung, yang mulia, yang membuat saya tidak ada hak untuk sombong. Mengapa engkau percaya Tuhan yang gerakkan, mengapa engkau bisa lebih baik dari orang lain? Tuhan yang gerakan. Mengapa engkau mau hidup suci? Tuhan yang gerakan, sehingga segala kemuliaan bagi Tuhan, bukan diri. Segala kemuliaan adalah karena Roh Allah yang bekerja di dalam diri kita, bukan diri kita. Tidak ada kemuliaan bagi saya, hanya untuk Tuhan.

Maka ketika Paulus pergi, ke mana dia pergi, dia pergi karena dituntun oleh Roh Kudus. Dia mau pergi lebih ke arah timur, tapi Tuhan mengatakan “pergi ke Eropa”, pergi ke tempat dimana Injil Tuhan harus diberitakan sesuai dengan rencana Tuhan. Ketika Paulus berencana pergi terus masuk ke Asia, Tuhan melarang. Mengapa dilarang? Karena Tuhan tidak memilih daerah itu. Mengapa Tuhan suruh pilih pergi ke Filipi? Apa karena Filipi lebih baik, apa karena orang-orang Filipi lebih potensial untuk menjadi taat atau bagaimana? Tentu bukan itu, orang-orang di Filipi tidak lebih baik dari pada orang-orang di Asia. Orang-orang di Makedonia, di Yunani, di Eropa tidak lebih baik dari pada orang di Asia. Bahkan kalau kita melihat di dalam sejarah manusia yang sudah sangat panjang sebelum abad pertama, Eropa tidak mempunyai sejarah yang besar. Orang sudah tahu budaya Mesir sangat unggul dari keadaan lama sekali. Orang tahu budaya Babel adalah budaya unggul, orang tahu budaya daerah Timur Dekat Kuno sangat unggul dari dulu, tetapi tidak banyak yang tahu apa itu Eropa. Eropa baru mulai muncul di dalam perkembangan dari bangsa Yunani, lalu makin berkembang dengan perkembangan dari budaya, filosofi, pemikiran politik yang sangat-sangat menerobos dan sangat berpengaruh.

Jadi kalau kita mengatakan Eropa baik, Romawi bagus, Yunani bagus, bagi orang-orang di daerah Mediterania, budaya Romawi, budaya Yunani, budaya baru tidak selama budaya-budaya besar yang sudah berkembang. Tetapi Tuhan seolah mengatakan Injil diberitakan ke tempat yang baru itu. Injil diberitakan ke daerah-daerah yang tidak ada potensi berkembang baik.

Ketika Kekristenan berkembang mulai abad 7 sampai akhirnya mendominasi Eropa dengan pencerahan, itu dilakukan ketika penginjilan dikerjakan bagi orang-orang Barbarian. Kelompok-kelompok seperti orang-orang Frankis. Kekaisaran Frank jadi besar setelah mereka jadi Kristen, sebelumnya Kekaisaran Frank, yang daerahnya sekarang ada di Prancis dan juga sebagian dari Jerman dan Eropa di lebih ke utara, mereka adalah kelompok yang terpecah-pecah, sangat bersifat suku. Suku-suku ada di situ dan para pemimpinnya cuma tahu menjarah, cuma tahu berkelahi, cuma tahu berperang. Bagaimana kalau kurang makan? Berburu. Bagaimana kalau berburu tapi tidak dapat makanan? Menjarah kampung.

Pendahuluan Eksposisi Filipi

Surat ini surat yang sangat indah, menekankan tentang pentingnya sukacita. Kalau di dalam Surat Efesus penekanan kepada cinta kasih Tuhan itu sangat jelas, maka dalam Surat Filipi ini penekanan akan sukacita karena diterima, karena dicintai itu juga sangat indah dan sangat jelas. Surat ini sangat mungkin ditulis ketika Paulus ada di penjara di Kaisarea. Ada sebagian mengatakan sepertinya ini adalah surat pemenjaraan di Roma, yang mana pun kita tidak bisa tahu dengan pasti. Tetapi bahwa surat ini ditulis dari penjara itu jelas, karena Paulus sendiri menyatakannya di dalamnya bahwa dia menulis dari penjara. Dan ini unik karena ketika Paulus melayani di Filipi pun, dia dipenjara. Itu satu kisah yang kita bisa lihat dari Kisah Rasul 16, Paulus memberitakan Injil ke Filipi dan dia dipenjara karenanya. Filipi ini kota yang sangat penting, ini kota yang tadinya adalah kota terkenal karena tambang emas. Tambang emasnya sangat produktif dan sangat menghasilkan bagi Kerajaan Yunani.

Ketika Kerajaan Makedonia bangkit dibawah pemerintahan Raja Philip yang kedua, dia memperbesar kota yang akhirnya dinamai Filipi atas nama Raja Philip. Raja Philip kedua ini adalah ayah dari Alexander Agung. Setelah Alexander muncul menjadi raja menggantikan ayahnya, dia juga menjadikan Filipi sebagai kota supply untuk kampanye perang dia di Turki. Ini kota perbatasan antara Yunani dan Turki, antara Eropa dan Asia. Jadi ini kota yang sangat penting dan di abad yang pertama ini adalah kota yang sangat dipengaruhi oleh Romawi. Banyak pejabat yang pensiun ada di kota ini dan pengaruh-pengaruh penting dari Romawi entah itu puisi atau juga dunia pembelajaran, bahkan tren berpakaian ini ada populer sekali di Filipi. Ini adalah kota yang sangat ingin diketahui sebagai kota yang beridentitas Roma. Dan kalau kita lihat perkembangannya dari zaman Yunani sampai zaman Romawi maka ini adalah kota yang sangat gampang beradaptasi dalam budaya Yunani sebelumnya dan budaya Romawi setelah ditaklukan oleh Romawi. Ini kota yang akhirnya menjadi Kristen setelah Paulus menginjili di sana, tapi hancur di abad 14 ketika kerajaan dari Dinasti Ottoman, Turki menyerang daerah perbatasan Eropa dan menghancurkan kota ini sama sekali.

Kemudian orang membangun kembali Kota Filipi modern tapi di tempat yang lain, sedikit jauh dari kota aslinya. Sehingga kalau Saudara pergi ke daerah Yunani di sebelah timur dari Makedonia, Saudara akan melihat reruntuhan kota ini masih terpelihara. Inilah Kota Filipi, kota yang sangat penting di dalam kebudayaan abad pertama karena menjadi tempat penghasil emas dan juga menjadi tempat pertama yang ada di Eropa, kalau Saudara melakukan perjalanan dari Asia Minor atau dari Turki. Meskipun kota ini penting tapi tentu ini bukan kota utama dari Makedonia, kota utama adalah Amphipolis. Tetapi kota ini tetap kota yang sangat penting dan sewajarnya inilah kota yang pertama dikunjungi kalau Paulus berangkat dari Turki atau dari Asia Minor menuju ke Eropa. Ini adalah pertama kali Injil masuk Eropa, kota inilah penerima pertamanya dan setelah itu kita lihat bahwa Eropa sangat dipengaruhi Kekristenan di dalam 300-400 tahun berikut. Bahkan ketika ada kontroversi tentang Tritunggal, Kekristenan di Eropa justru yang pertama mempertahankan pengertian Tritunggal yang sejati secara populer.

Kalau Timur di Turki, Kekristenannya adalah Kekristenan yang sangat berbau Arianisme, tidak melihat Yesus Kristus sebagai Pribadi kedua yang satu substansi dengan Pribadi pertama. Maka di daerah Timur, gelombang ajaran bidat yang tidak menerima Tritunggal populer sekali. Meskipun beberapa tokoh teolog utama adalah orang-orang yang memperjuangkan doktrin Tritunggal, tetapi Eropa lebih dulu menerimanya. Eropa juga menjadi daerah pertama yang menyatakan politiknya tunduk kepada gereja di dalam aliran Tritunggal. Kalau Saudara mengatakan “bukankah dari abad ke-4 Kekaisaran Roma sudah menjadi Kristen?” iya, tetapi tidak benar-benar memegang doktrin Tritunggal. Tetapi ketika Kerajaan Frank menjadi Kristen, mereka menganut pengertian Tritunggal dan mereka tunduk kepada gereja yang mempunyai ajaran yang benar. Jadi Filipi adalah tempat pertama dan ketika Paulus masuk ke kota ini, dia digerakkan Tuhan untuk berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada di rumah doa orang Yahudi.        

Satu orang perempuan bernama Lidia, dia terima Tuhan, dia ingin dibaptis, dia ingin dapat pelajaran sehingga dia minta kepada para pekabar Injil, kepada Paulus dan rekan-rekannya, “tolong mampir di rumah saya. Saya ingin belajar, saya ingin tahu karena saya orang Yahudi. Saya sudah menerima nubuat tentang Mesias, tapi saya tidak tahu Mesias sudah datang, mohon berikan pengertian kepada saya, bagaimana saya harus kenal Sang Mesias ini berdasarkan Kitab Suci dan siapa Sang Mesias yang engkau katakan sudah datang itu. Dan mengapa Dia mesti mati, mengapa Dia mesti dimatikan di atas kayu salib?” pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting diinginkan oleh perempuan ini dan dia menjadi tokoh utama atau tokoh pertama yang penting di daerah Filipi. Maka Paulus memberitakan Injil, orang-orang menjadi percaya dan Kekristenan mulai bertumbuh di Eropa melalui Filipi.

Lalu bagaimana Paulus bisa sampai ke Filipi? Sampainya Paulus ke Filipi pun pakai jalan yang unik. Dia tidak rancang strategi masuk ke Eropa. Dia merancang strategi untuk lebih jauh masuk ke daerah Asia. Ketika dia berencana mau mengunjungi daerah Bithynia, Roh Kudus mencegah dia. Bagaimana Roh Kudus mencegah tidak dicatat oleh Kitab Suci, tetapi fakta bahwa Roh Kudus yang mencegah itu jelas tercatat. Jadi Roh Kudus mencegah Paulus untuk membawa Injil ke satu daerah dan mengarahkan Paulus untuk memberitakan Injil ke daerah lain. Ini memberikan pengertian kepada kita bahwa Injil bukan milik manusia dan bukan terserah mereka mau diarahkan kemana. Injil adalah milik Tuhan dan Tuhanlah yang berkedaulatan untuk menyatakan Injil ke daerah yang Dia mau.

Kita cuma bisa lihat secara parsial, tetapi Tuhan melihat secara total. Kita hanya melihat di dalam pandangan yang terbatas tapi Tuhan melihat di dalam seluruh rancangan yang diatur. Maka sangat tidak bijak bagi kita untuk mempunyai pengertian bahwa kita mengerti mana baik dan mana jahat. Kalau kita mengatakan “saya tahu harusnya begini”, kita akan tanya lagi “tahunya itu dari mana? Prinsip yang kamu pakai untuk mengatakan bahwa ini lebih baik dari rencana Tuhan, itu dari mana? Kalau Tuhan memang baik harusnya semua orang jadi percaya, mengapa Dia biarkan sebagian tidak percaya?” Tapi pertanyaannya kembali lagi ke pertanyaan tadi “tahu dari manakah engkau bahwa inilah hasil terbaik di dalam totalitas dari rencana Tuhan?”

Di dalam Kitab Mikha pasal 6 “hai manusia telah diberitahukan apa yang Tuhan tuntut yang Tuhan ingin dari manusia, berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup rendah hati dihadapan Allahmu.” Kita tidak bisa setarakan diri kita dengan Allah, selalu merasa sudah tahu bagaimana Allah harusnya melakukan rencanaNya. Kita ini begitu fana, hidup kita begitu pendek, pengetahuan kita begitu sedikit, rencana kita begitu terpecah-pecah dan kita tidak mungkin menjadi penasihat Tuhan. Di dalam Surat Roma, Paulus mengatakan “hei, manusia siapa yang angkat engkau menjadi penasihat Tuhan? Apakah engkau berencana memberikan masukan kepada Dia tentang rencana yang Dia buat sebelum engkau ada?” ini saya parafrasekan dari Surat Roma. Tuhan tidak mungkin tunggu masukan dari manusia baru dia buat rencanaNya, karena penciptaan manusia pun masuk di dalam rencana-Nya dan rencana ini dibuat sebelum manusia dijadikan.

Itu sebabnya hidup rendah hati di hadapan Tuhan, hidup adil dengan sesama, hidup penuh belas kasihan dan mencintai kesetiaan, ini yang Tuhan tuntut dari manusia. Maukah engkau adil? Maukah engkau hidup dengan rendah hati dihadapan Allah? Maukah engkau penuh belas kasihan dan kesetiaan? Jika iya, maka engkau akan menjadi manusia yang penuh, yang utuh sebagaimana Tuhan rancangkan.   

Maka kita tidak tahu mengapa Tuhan tutup jalan ke Bithynia, bukankah di sana juga ada banyak orang perlu Injil? Bukankah di sana juga bagus kalau Injil diberitakan? Injil diberitakan kemanapun bagus, tapi apakah ke mana itu sesuai dengan rencana Tuhan?

Paulus punya rencana “kita mesti taklukan Asia dulu, lalu bergerak terus ke arah yang makin ke arah dari tradisi Persia, bahkan mungkin terus ke India”, ini mungkin pikiran dari Paulus, kita tidak tahu karena Paulus tidak nyatakan. Tapi gerakan dia adalah ke timur. Tapi Tuhan mengatakan “pindah, stop, Aku hentikan, Aku halangi kamu.” Mengapa Tuhan menghalangi orang memberitakan Injil? Karena Dialah yang berhak menentukan daerah mana dapat Injil, Dia yang berhak menentukan daerah mana ditutup dari Injil. Mengapa Tuhan lakukan itu? Kita tidak tahu, tapi itulah yang Dia lakukan. Maka Tuhan menghalangi Paulus, lalu Tuhan berikan mimpi kepada Paulus.

Kegenapan Waktu

Kita sampai pada bagian terakhir. Mari kita membaca Roma pasal 16 kita melihat membaca dan mempelajari ayat yang ke 25-27. Saya bacakan dari 24 bagian penutup dari pasal 16 ini. Mari kita membacanya Roma 16: 24-27 “[Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.] Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin”.

Saudara di dalam bagian ini ada dua penutup seperti kita sudah lihat ada ayat 24 yang menutup surat ini, lalu ada ayat 25-27. Ada beberapa variasi dari teks salinan yang kita dapat dan kita tahu bahwa segala variasi yang muncul membuat kita mempunyai kelimpahan. Ini satu cara untuk melihat, banyak orang yang menjadi ragu mengatakan “mengapa Surat Roma di dalam naskah asli ada beberapa versi, versi mana yang benar? Saya mau tahu versi yang paling benar yang mana”, tidak ada versi yang benar, semua versi itu benar. Karena ketika surat ini disebar kadang-kadang ada variasi, kadang-kadang ada bagian ditambahkan, kadang-kadang ada bagian dikurangi, supaya surat ini sesuai dengan kebutuhan lokal. Sebab setiap surat yang ditulis oleh para rasul lalu disebarkan ke tempat-tempat di mana jemaat ada, semua adalah surat yang perlu address, perlu membahas kebutuhan lokal. Itu sebabnya, misalnya waktu Paulus tulis surat kepada Korintus, atau kepada Kolose, atau kepada Roma, surat ini akan menjadi khotbah yang dibaca di mana-mana, termasuk di kota-kota lain. Itu sebabnya ketika dibacakan di kota lain ada perbedaan variasi, ada yang ditambahkan, ada yang dikurangi. Kalau Saudara mengatakan “kalau begitu yang Alkitab mana? Yang ditambah itu masuk Alkitab atau bukan?”, iya, karena kita percaya kanon itulah yang memutuskan bahwa kita sekarang menerima seluruh kebenaran firman yang diinspirasikan. Kita tidak harus mencari lagi di sejarah, lalu cari versi yang paling asli mana, karena semua surat yang beredar pada zaman rasul-rasul masih ada, semua surat yang dianggap diinspirasi itu adalah Kitab Suci. Itu sebabnya kalau Saudara mendalami studi teks baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Saudara akan menemukan di dalam naskah bahasa asli ternyata ada beberapa varian, ada beberapa perbedaan. Orang-orang seperti Bart Ehrman menganggap ini adalah kesalahan dari gereja. Gereja mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan padahal ada banyak versi, “ini versi editan, ini versi yang sudah ditambah, apakah benar ini firman Tuhan?”. Tapi itu cara berpikir yang salah. Satu orang yang berdebat dengan Bart Ehrman, yaitu seorang ahli Perjanjian Baru bernama N.T. Wright mengatakan “problem dari Ehrman adalah dia dibesarkan di dalam keluarga Injil yang sangat saleh, keluarga Injil yang takut Tuhan”, kita juga orang Injili, kita Gereja Reformed Injili”. Kadang-kadang orang-orang Injili sangat ketat dengan mengatakan “Alkitab itu suci dari Tuhan”, dan itu benar, “dan karena itu benar adanya, ini adalah Kitab Suci yang seolah-olah turun dari surga langsung sehingga ketika orang mempelajari ternyata tidak turun dari surga. Ternyata ada yang ditambahkan dan dikurangi di dalam zaman para rasul. “Kalau begitu ini bukan Kitab Suci, iman saya jadi ragu”, ini cara berpikir salah. Sebab waktu Tuhan memberikan Firman, Dia menggunakan proses normal untuk manusia membuat tulisan dan proses normal untuk menyebarkannya. Jadi waktu Tuhan pakai Paulus, Tuhan bukan cuma pakai Paulus, seperti kita sudah bahas di pertemuan yang lalu. Paulus dan rekan-rekannya sama-sama berpikir, sama-sama berdiskusi untuk cari tahu apa yang mesti ditulis. Maka di dalam tradisi Reformed, kita diingatkan bahwa inspirasi dari Tuhan kepada penulis Alkitab bukan bersifat mendikte. Tuhan tidak mengatakan kepada Paulus dalam mimpi “tulis ini”, lalu dia tulis per kata. Tapi Paulus tulis di dalam kesadaran. di dalam pikirannya dan di dalam diskusi dengan sesama orang-orang Kristen yang menjadi pemimpin dan menjadi teolog pada waktu itu. Lalu setelah tulis apakah ada koreksi? Bisa ada tapi bukan koreksi karena ada yang salah, melainkan koreksi karena ada kebutuhan lokal yang harus dibahas melalui surat itu. Itu sebabnya bagian-bagian dari naskah asli Alkitab kita kadang ada variasi dan ini bukan variasi harus membuat kita takut. karena setiap varian yang ada, kita percaya sebagai firman Tuhan. Maka kalau Saudara membaca LAI mengambil dari versi tertentu, waktu Saudara membaca Bahasa Inggris (Bahasa Inggris ada banyak versi, kalau Indonesia hanya dua, versi lama dan versi terjemahan baru. Yang berikut akan keluar, yang memperbaiki beberapa kesalahan penerjemahan. Kita nantikan LAI mengeluarkan versi yang terbaru itu) bisa ada perbedaan. “Mengapa versi ini mengatakan ini, versi ini begini? Alkitab mana yang benar?”, kalau Saudara ditanya itu, Saudara jawab “semua benar”. “Tidak bisa semua benar, pilih salah satu”, tidak bisa pilih karena Tuhan mengizinkan kita menikmati Firman dengan proses yang namanya kanon. Di dalam kanon Alkitab seluruhnya adalah Firman Tuhan. Jadi kita tidak menggali masuk lagi ke abad pertama lalu cari tahu mana yang Kitab Suci, tapi kita mengandalkan waktu gereja mengkanonkan Alkitab karena versi-versi yang ada di selidiki dan kemudian dilihat yang menjadi sangat baik di dalam alur dan juga yang menjadi tradisi yang diterima dari awal, itulah yang dimasukkan ke dalam kanon. Maka kanon itulah yang kita percaya sebagai pemberian Tuhan bagi kita. Tuhan berfirman di dalam versi yang genap lewat kanon Alkitab. Ini namanya tradisi kanonik. Saudara ini satu kata yaitu kanon yang sudah sangat umum, orang bisa mengatakan “mana karya yang asli dari Mozart”, ini namanya kanonnya Mozart. Jadi Kekristenan sudah memberikan sumbangsih istilah yaitu istilah kanon.

Pengakuan Iman

Di dalam pertemuan terakhir kita akan membahas satu doxology yang sangat indah. Paulus memakai dua kali doxology atau pernyataan kemuliaan bagi Tuhan di dalam Roma pasal yang ke-11 dan di dalam Roma pasal yang ke-16. Tapi saat ini kita masih membahas sebagian salam. Mari kita membaca Roma 16 dari ayat yang ke 19-24. Kalau Saudara melihat di dalam ayat 24 itu ada tanda dalam kurung persegi ini, berarti di dalam beberapa teks tidak ada tapi di dalam teks-teks yang lain ada. Ada beberapa pendapat bahwa kita harus ikut teks yang lebih lama dan kalau teks lebih lama tidak ada maka kita tidak masukkan. Tapi juga ada yang berpendapat bahwa teks lebih lama itu tidak diketahui, dia dapat copy dari mana, sedangkan teks yang lebih baru yang ada tambahan ini mungkin ambil dari teks lebih lama yang sudah memiliki tulisan ini, maka tetap dimasukkan. Saya sendiri pikir ketika Tuhan mengizinkan di dalam kanon ada ayat, itu tetap kita ambil sebagai Firman. Ada naskah yang tidak dimasukkan, tidak berarti ini bukan bagian darinya. Tapi kalau Saudara lihat di dalam seluruh Alkitab yang pakai tanda kurung seperti ini tidak signifikan banyaknya, sedikit. Dan tidak mempengaruhi antara Saudara pilih masukkan atau tidak, ini tidak akan mengubah ajaran apapun dan tidak akan menambah ajaran apapun. Jadi sebenarnya tidak terlalu penting untuk kita perdebatkan. Tapi saya sendiri ada di dalam posisi bahwa setiap bagian kita terima sebagai Firman. Mari kita baca dari ayat 19 sampai 24, saya akan bacakan bagi kita semua, “Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu! Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa. Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini. Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, Saudara kita. [Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.]

Ayat-ayat ini ada salam dan Saudara mungkin mengatakan bahwa salam ini sepertinya salam yang merupakan titipan dari orang-orang. Jadi orang-orang mengatakan ke Paulus, “Paulus tulis surat ke jemaat Roma ya? Salam ya”. Tapi fungsi salam ini bukan titipan seperti itu, fungsi salam ini adalah menekankan bahwa apa yang Paulus tulis di dalam Surat Roma bukan pikiran Paulus sendiri, tetapi didiskusikan bersama dengan orang-orang ini. Kira-kira seperti ini bentuknya, Paulus sudah menulis Surat Roma, lalu dia mengatakan “selain saya ada orang-orang di sekitar saya yang juga memberikan sumbangsih untuk mengajar kamu, inilah orang-orang itu”. Saudara bisa lihat di sini ditulis ada Timotius, kemudian ada Lukius, Yason dan Sosipater. Lalu ada Tertius “yaitu aku yang menulis surat ini”. Paulus menulis dengan ada seorang yang menuliskannya, ini sekretarisnya, jadi Tertius yang menulis surat tapi Paulus yang mendiktekan. Apakah hanya Paulus? Ternyata tidak, sebab ada Timotius, Lukius, Yason dan Sosipater, ada Gayus, ada Erastus dan juga ada Kwartus. Ini menekankan bahwa Paulus tidak sendirian di dalam mengajar. Dia rasul, tetapi ajarannya dikonfirmasi oleh orang-orang lain juga. Inilah yang kita harus ketahui waktu Paulus mau benturkan dengan mengatakan “hati-hati terhadap mereka yang memecahkan diri dari gereja”. “Jadi ada pengajar palsu? Ajaran mana yang benar?”, “ajaran saya, karena selain, orang-orang yang menyepakati ajaran ini bersama dengan saya. Ini bukan ajaran tunggal dari satu orang. Di dalam sejarah gereja, gereja tidak pernah menerima ajaran tunggal satu orang menjadi ajaran khusus bagi gereja, tidak pernah ada. Itu sebabnya banyak orang di dalam tradisi Reformed kurang suka kata Calvinis. Seolah-olah kata Calvinis kita ambil dari Calvin. Kalau Saudara lihat dari tradisi Reformed, banyak yang kita ambil itu diringkas dan dirangkum dari pengakuan iman, baik itu di dalam Belgic Confession ataupun juga di dalam Westminster Standard. Baik itu di dalam Three Forms of Unity di Eropa, maupun Standard Westminster di Inggris dan Skotlandia. Ini menunjukkan kita tidak pernah menganggap satu orang menjadi sumber bagi pengajaran Kristen. Tidak ada orang Reformed yang senang istilah Calvinis kalau itu dimaksudkan kita ini penerus ajaran Calvin saja. Itu sebabnya Pengakuan Iman kita bukan Pengakuan Iman tunggal dari satu orang, tetapi Pengakuan Iman yang disepakati bersama. Ini sudah dilakukan oleh gereja Tuhan baik di dalam tradisi bapa-bapa gereja. Karena di dalam periode bapa-bapa gereja, para bapa gereja pun berkumpul untuk menyatakan apa yang kita percaya, ada credo. Credo itu artinya adalah “saya percaya” atau “kami percaya”. Ini sesuatu yang dipegang gereja bersama-sama. Maka dari awal para bapa gereja menyepakati cara ini. Dan kalau kita lihat di dalam Kitab Suci, para penulis Kitab Suci pun melakukan hal yang sama, tidak ada pengajar tunggal. Kita tidak bisa mengatakan bahwa teologi ditemukan oleh Paulus saja. Paulus bersumbangsih mengajar tapi Paulus perlu konfirmasi dari orang-orang lain bahwa yang diajarkan adalah Firman Tuhan. Itu sebabnya tidak pernah ada saat di dalam gereja yang benar, di mana orang diberikan kuasa sedemikian besar sehingga dia tanpa konfirmasi dari orang lain. Termasuk kita sekarang, Saudara boleh dengar ajaran dari pendeta-pendeta di dalam GRII, tapi Saudara harus pikirkan apakah yang diajarkan disepakati di dalam Pengakuan Iman atau tidak. Kalau tidak, mungkin pendeta itu sedang soroti dari sudut pandang kita gagal tangkap, mungkin dia salah bicara. Tapi kalau itu terus-menerus dia lakukan, mesti hati-hati, mesti diawasi apakah orang ini punya posisi yang beda dari apa yang disepakati. Kalau beda, apakah perbedaan itu ada penjelasannya sehingga kita bisa lihat ini merupakan perbedaan cuma beda perspektif. Tapi kalau perbedaan itu perbedaan karena ajaran yang bentur, maka ini mesti diselesaikan di dalam dewan gereja.

Bahaya Perpecahan Gereja

Kita melanjutkan pembahasan dari surat Roma, kita membaca surat Roma 16: 17-20. Kita sudah sampai ketiga bagian terakhir dari surat Roma kita sampai kepada bagian ini dan dua kali lagi kita akan bahas, setelah itu eksposisi Roma selesai. Mari kita membaca Roma 16: 17-20, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!”

Saudara, di dalam ayat yang ke-18 dikatakan orang-orang yang demikian yaitu pengajar-pengajar palsu, tidak melayani Kristus tetapi melayani perut mereka sendiri dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. Kata tulus sebenarnya lebih tepat diterjemahkan polos atau naif, dan naif itu lain dengan tulus. Orang yang hatinya tulus itu adalah orang dengan karakter hati yang positif, tetapi orang dengan hati yang naif adalah orang dengan karakter hati yang negatif. Naif itu bukan kebajikan, naif adalah kondisi yang Tuhan tidak suka. Dan ini yang ditegur, jadi bukan orang yang tulus hatinya. Orang-orang yang ajarannya sesat gampang menyelewengkan orang-orang yang hatinya naif, yang hatinya polos secara negatif. Yang tidak bisa bedakan mana ajaran benar mana ajaran salah, terlalu gampang percaya kepada apapun yang dikatakan dari mimbar, terlalu miskin di dalam pengertian yang cukup untuk membedakan mana ajaran benar dan mana ajaran salah. Hari ini kita akan melihat dua kondisi yang sangat bahaya di dalam gereja Tuhan. Kondisi pertama adalah sombong karena mengerti pengajaran dan kondisi kedua adalah naif karena tidak mengerti pengajaran. Kita akan bahas dua hal ini untuk nanti melihat tema dari Roma 16: 17-20 yaitu mewaspadai perpecahan dan ajaran yang sesat.

Di dalam Surat Paulus bagian akhir ini, Paulus memberikan peringatan setelah dia membeberkan argumen dan ajaran mengapa Injil adalah untuk setiap bangsa. Tapi kalau setiap bangsa dilibatkan, ditarik, dimasukkan ke dalam Kristus maka setiap bangsa itu harus kembali kepada ajaran yang benar. Bukan menggabungkan ajaran yang diterima dengan pengertian dari bangsa mereka sendiri. Termasuk orang Israel, orang Israel tidak bisa mengaitkan antara kabar mengenai Injil dengan kesombongan Yudaisme mereka, “hanya orang Yahudi spesial, hanya orang Yahudi penerima Taurat, hanya orang Yahudi yang baik dimata Tuhan”, ini kesalahan di dalam menafsirkan Injil. Jadi bangsa-bangsa bisa ada kemungkinan salah menafsirkan Injil karena menggabungkan ajaran Injil dengan ajaran lain yang mereka sudah biasa dengar, dari tradisi agama lama atau pun juga dari kebudayaan bangsa mereka. Orang Yahudi bisa salah memahami Injil dari tradisi Yahudi yang salah menafsirkan Taurat, yang mengaitkan Taurat dengan kesombongan diri. Jadi ajaran yang salah ini sangat diperingatkan untuk diwaspadai. Paulus mengatakan “hati-hati terhadap orang-orang yang memecahkan gereja dengan ajaran yang lain”, ini penting untuk kita garis bawahi. Gereja baru, itu boleh muncul. Tapi gereja yang pecah dari gereja yang lama, ini mesti diwaspadai. Saudara tidak bisa mengatakan “saya melihat gereja ini cocok, saya mau datang ke sini”, sebelum Saudara datang, Saudara selidiki dulu apakah gereja ini merupakan pecahan dari gereja yang sejati atau bukan. Kalau ditanya “apa maksudnya pecahan?”. Apakah pecah itu berarti ada organisasi yang baru? Tadinya ada GRII lalu ada gereja lain pecah, dari GRII atau tadinya ada GKI, lalu ada gereja lain yang pecah dari GKI. Apakah ini bicara soal organisasi? Bukan, ini bicara soal pengajaran. Adakah gereja yang pecah karena ajarannya mulai lain lalu mengatakan “kami tidak lagi terima ajaran yang lama, kami sekarang terima ajaran yang baru. Kami tidak lagi terima tradisi beribadah yang lama, kami sekarang mempunyai penerobosan di dalam tradisi ibadah baru”.

On Christian Freedom

Di bagian ketiga dari pasal yang ke-15 ini, Paulus menekankan pengharapan untuk datang ke Roma. Tetapi hal yang penting untuk disoroti dari ayat-ayat ini adalah perjalanan Paulus ke Yerusalem. Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita bisa juga akan menemukan catatan tentang ini. Sebelum perjalanan Paulus berakhir di Roma, dia ada di Yerusalem. Paulus datang ke sana bersama dengan rombongannya untuk membawa bantuan keuangan dari orang-orang Kristen di daerah Makedonia dan juga di daerah Yunani seperti Korintus. Jemaat di Korintus dan di Makedonia sama-sama tergerak untuk memberikan bantuan, karena mereka tahu sesama manusia memerlukan bantuan. Tapi Paulus menegaskan mereka bukan saja tergerak lalu memberikan persembahan, mereka sebenarnya diwajibkan untuk memberikan persembahan. Saudara, kalimat ini sering dimanipulasi atau sering diabaikan. Gereja Tuhan saat ini terlalu menekankan kewajiban memberikan persembahan demi kekayaan dari individu atau kelompok, itu dosa besar. Tapi gereja yang tidak menekankan pentingnya keharusan memberikan persembahan juga berdosa, karena gereja itu melalaikan kewajiban orang Kristen untuk memberikan persembahan. Orang Kristen wajib memberi persembahan, termasuk pendeta. Orang Kristen wajib memberikan perpuluhan, ini bukan pilihan. Kita ditekan untuk membayar pajak oleh negara, Paulus mengatakan itu di Roma 13. Dan sekarang di dalam pasal 15 Paulus mengatakan “kamu diwajibkan memberikan persembahan, itu sudah sewajarnya dan seharusnya.

Saya pikir kesalahan pertama gereja adalah memanipulasi persembahan demi kepentingan pendeta atau demi kepentingan kelompok tertentu saja. Gereja seharusnya punya organisasi yang teratur, tertib dan profesional mengenai keuangan. Kalau gerejamu tidak seperti itu, kritik lembaganya, kritik pengurusnya, kritik orang orang yang menjadi pemimpin, karena keuangan hal serius. Sebab jemaat tidak mungkin tenang memberikan persembahan jika persembahan disalurkan kemana pun mereka tidak tahu. Penyelewengan keuangan untuk membuat kekayaan bagi gereja atau bagi hamba Tuhan, itu dosa besar yang membuat Tuhan akan menyingkirkan gereja. Gereja seperti besar, seperti berkembang, seperti sangat megah, tetapi tidak ada penyertaan Tuhan yang asli. Saudara bisa lihat kejatuhan dari gereja selalu dimulai dari berkembangnya gereja yang tidak sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Kalau Gereja yang tidak sungguh-sungguh berkembang itu bahaya, berarti Kekristenan sedang hancur.

Kesalahan kedua adalah gereja yang tidak menekankan kewajiban persembahan. Kedewasaan rohani seseorang bisa dilihat dari persembahannya, apakah serius dan sungguh-sungguh atau sembarangan. Dalam gereja, Hamba Tuhan harus menjadi contoh yang baik juga dalam hal ini. Hamba Tuhan harus memberikan perpuluhan, janji iman dan persembahan. Meskipun mungkin bukan contoh dalam jumlah, tetapi bisa menjadi contoh dalam persentase persembahan yang diberikan untuk gereja. Itu adalah keharusan dan kewajiban di hadapan Tuhan. Paulus mengatakan “ternyata jemaat di Akhaya dan jemaat di Filipi sudah mempersiapkan keuangan dan mereka tergerak karena melihat orang-orang di Yerusalem sangat kasihan. Tapi aku mengatakan itu kewajiban mereka, mereka sudah mendapat berkat dari Tuhan, biar mereka memberkati orang lain demi Tuhan”, ini yang ditekankan di dalam pasal yang ke-15 bagian ketiga. Paulus menekankan kewajiban persembahan yang dijalankan dengan rela.

Injil dan Panggilan Allah

Pada bagian pertama kita sudah bahas Paulus menjadi seorang yang membangun pengertian tentang Tuhan atau membangun teologi bagi bangsa-bangsa yang belum kenal Tuhan. Di dalam bagian kedua ini, kita lihat Paulus menekankan kembali tentang tugas Injil yang didapatnya. Ini sangat menarik karena Paulus mengaitkan dirinya di dalam nubuat Yesaya, sebagai orang yang menggenapi nubuat panggilan bagi bangsa-bangsa lain. Dia mengutip Yesaya 52:15, “Tuhan memperkenalkan diri sebagai Gembala yang menuntun bangsa-bangsa kembali kepadaNya.” Ini kalimat-kalimat yang sangat indah. Dan Paulus mengatakan “Adalah kehormatan bagi saya untuk menjadi yang pertama yang melakukannya.” ‘Yang pertama’ itu pasti tidak mulia secara kemegahan, tetapi mulia secara dobrakkan. Karena Paulus tidak akan menikmati buah pelayanannya, seperti jemaat yang stabil, yang berkembang, dan yang besar. Tetapi dia menikmati kesulitan tantangan mendirikan. Dia memperkenalkan panggilannya sebagai orang yang Tuhan percayakan memulai dasar, membangun di atas dasar yang dibuat sendiri, dan bukan di atas dasar orang lain. Tentu dia tidak sedang menghina orang yang membangun di atas dasar orang lain. Tetapi dia sedang mengatakan meskipun kelihatan pelayanan dia begitu remeh, sulit, dan penuh tantangan, inilah kemuliaan yang Tuhan percayakan kepadanya. Paulus bermegah tentang pelayanan sulit yang penuh salib ini. Saudara, kita tidak bisa sembarangan mengatakan kalau menderita itu adalah kemuliaan, tapi kita bisa mengatakan bahwa setiap kali kesulitan datang karena saya mau ikut Tuhan, itu adalah kemuliaan.

Lalu bagian berikutnya di ayat 18, Paulus mulai membandingkan antara Injil yang dia beritakan dengan kepercayaan bangsa-bangsa lain. Paulus mengatakan “saya memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain dengan (1) kuasa tanda-tanda, (2) dengan perkataan, (3) dengan perbuatan, (4) dengan mujizat, (5) dengan kuasa Roh”. Lima hal ini tidak bisa dimengerti dalam pengertian modern, yaitu berarti ada khotbah, ada kekuatan bertindak dan juga ada tanda-tanda mujizat untuk dipamerkan. Tapi yang Paulus katakan adalah berita tentang Kristus, perkataan yang Dia bagikan, tindakan yang Dia lakukan, tanda-tanda yang Dia kerjakan. Semua itu membuktikan Kristus adalah Juruselamat. Apapun yang dibuat untuk meninggikan Kristus, itulah yang Paulus kerjakan. Dia tidak kerjakan apapun untuk kemuliaan dirinya.

Paulus mengutip 5 hal ini dari kitab Yesaya, yaitu “Tuhan memanggil bangsa-bangsa (1) dengan kalimat yang penuh kuasa; (2) dengan perbuatanNya menopang bangsa-bangsa itu; (3) dengan tanda-tanda bahwa Dia adalah Allah; (4) dengan pernyataan-pernyataan agung yang tadinya dimiliki oleh Israel, sekarang boleh dimiliki oleh bangsa-bangsa lain; (5) melalui pekerjaan Roh yang memberi hidup.” Paulus tidak sedang menyamakan dirinya dengan Allah tentunya, tapi Paulus sedang menyamakan Roh yang bekerja dalam dirinya dengan Allah. Itu sebabnya kita tidak dapat memahami kata-kata yang Paulus katakan, kecuali kita menyorotinya dari sudut pandang Kitab Yesaya. Roy Clouser, dalam bukunya The Myth of Religious Neutrality menekankan satu fakta penting, yaitu orang-orang kuno tidak mengerti doktrin penciptaan dan karenanya mereka tidak peduli tentang asal mula segala sesuatu. Dalam kepercayaan Yunani misalnya, dewa-dewa sebenarnya berasal dari keberadaan yang lain, yang tidak jelas apa dan tidak diperhatikan. “Keberadaan” ini dalam tradisi filsafat Yunani disebut dengan arke, artinya yang menjadi permulaan atau zat dasar dari segala sesuatu. Beberapa pemikir Yunani di dalam tradisi kuno, sebenarnya mulai mencari tahu tentang arke. Misalnya Thales. Dia mengatakan bahwa asal mula segala sesuatu adalah air. Ini diselidiki oleh para filsuf tapi tidak disadari oleh orang-orang beragama. Orang beragama tidak mementingkan asal-usul, tapi mereka mementingkan para dewa, ini aneh. Orang Kristen, orang Islam dan orang Yahudi sangat menekankan asal-usul. Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu berasal dari Tuhan. Ini bagi kita argumen yang kuat. Tapi bagi penyembah berhala tidak penting. Roy Clouser mengatakan alasan itu tidak diperhatikan adalah karena penyebab dasar dari semua, tidak sepenting para dewa di dalam interaksi dengan kehidupan manusia. Berarti penyembahan identik dengan kepentingan hidup manusia. Saudara tidak bisa menyembah teori, yang hanya diajarkan tanpa diperhatikan kaitannya dengan hidup. Manusia mencari 3 hal ultiman, yaitu hidup senang, bebas takut, dan penuh damai. Seolah manusia mengatakan “saya tidak peduli dari mana asal dewa-dewa, selama mereka bisa menjamin hidup senang, damai dan bebas takut bagi saya.”

Roy Clouser bukan orang pertama yang menyelidiki tentang fenomena agama, salah satu yang sangat teliti dalam menyelidiki agama-agama adalah John Calvin. Di dalam karyanya, Institute of Christian Religion, Calvin menyelidiki menemukan bahwa “Setiap agama yang dikembangkan manusia untuk menyembah adalah agama yang diinspirasikan, yang digerakkan oleh pernyataan keindahan Tuhan.” Tuhan begitu baik, indah, dan agung. Dia memancarkan kebaikanNya, keindahanNya dan keagunganNya untuk menarik orang datang kepadaNya. Maka di dalam tarikan Tuhan, manusia datang. Tetapi kuasa jahat menyelewengkan manusia. Manusia mau mencari damai, sukacita dan bebas takut, tapi tidak bisa, karena mereka diselewengkan. Agama adalah cara manusia mencapai Tuhan, tetapi sayangnya di tengah jalan mereka tersesat.

Kalau Saudara selidiki agama-agama kuno, selalu ada pecahan dari narasi Alkitab. Biasanya orang mengatakan Alkitab mirip dengan mitos-mitos kuno. Tetapi sebenarnya mitos-mitos kuno itu adalah pecahan cerita dari Alkitab. Kita harus bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan. Yang asli itu utuh dan tidak terpecah-pecah. Tidak ada kitab yang bicara tentang asal-usul, sejarah, pengharapan, dan tentang final yang indah di dalam satu kesatuan cerita, selain Kitab Suci kita. Ini berarti Alkitab adalah yang asli dan banyak mempengaruhi dan menginspirasi cerita-cerita lain. Ini membuat kita meyakini fakta bahwa dunia mencari Tuhan dan menemukan sedikit dari Dia. Tapi setelah menemukan, mereka menolak menyembah Tuhan, dan malah membentuk berhala. Manusia mau mencari damai, sukacita, dan bebas takut, maka mereka beragama. Tetapi mereka gagal menemukannya secara utuh, karena sudah diselewengkan.

Selain orang yang beragama, ada juga orang-orang yang menganggap agama itu suatu kebodohan. Seorang dari tradisi Yunani kuno, bahkan sebelum Plato, Aristoteles dan Socrates, pernah mengatakan “kalau saya lihat ke atas dan mau menyembah ke atas, saya menemukan dewa-dewa rupa manusia. Kalau sapi lihat ke atas, kalau dia punya pikiran mau menyembah, dia akan lihat dewa-dewa berbentuk sapi. Jadi sapi akan membentuk dewa mirip sapi, sedangkan manusia membentuk dewa mirip manusia. Jadi dewa itu dibentuk berdasarkan gambar manusia.” Di dalam zaman modern pemikir-pemikir anti agama juga bermunculan, salah satu yang paling berpengaruh adalah Feuerbach. Dia mengatakan “setiap manusia menemukan tahap-tahap kemandirian dari kanak-kanak sampai dewasa. Waktu kanak-kanak dia ingin pegang yang lebih kuat. Waktu dia sudah dewasa, dia tetap perlu pegang yang lebih kuat dari dia, tetapi dia tidak menemukannya. Maka manusia menciptakan Tuhan dari hasil proyeksinya. Manusia sadar dirinya tidak sempurna, dan memproyeksikan gambaran dirinya yang sempurna. Itu disebut sebagai Tuhan. Itulah sebabnya, muncul agama. Feuerbach bukan sedang mengritik agama, tetapi dia sedang berusaha menafsirkan agama. Tetapi sayangnya, dia memasukkannya ke dalam skema yang tidak tepat. Menurutnya, agama adalah perjalanan menuju dewasa. Kita sadar kita perlu Tuhan, lalu kita membentuk agama. Kita percaya pada Tuhan, tetapi akan ada saat di mana Tuhan ini pun akan mengecewakan kita. Karena Tuhan sudah mengecewakan, maka saya jadi atheis. Setelah saya jadi atheis, baru saya tahu ternyata pelajaran saya bergantung kepada Tuhan itu, perlu untuk saya jadi atheis yang baik.

Theologi bagi Bangsa-bangsa

Kita akan membaca bersama-sama Roma 15:14-21, “Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya”.

Saudara, di dalam pasal 15 ini ada pesan yang unik di ayat 14-21, Paulus memberikan penjelasan mengapa dia menulis kepada Jemaat Roma. Diaa mengatakan di dalam bagian akhir dari ayat-ayat yang kita baca bahwa dia memang adalah rasul bagi tempat-tempat atau pemberita Injil bagi tempat-tempat yang belum kenal Tuhan. Roma sudah kenal Tuhan, mereka adalah orang-orang dari bangsa lain dan juga sebagian ada orang Yahudi, tetapi mereka sudah jadi gereja. Jadi Paulus bukan pendiri jemaat di Roma. Karena itu dia menjelaskan “saya menulis kepada kamu bukan karena kamu adalah jemaat yang saya dirikan, meskipun tugas utama saya adalah mendirikan jemaat baru di tempat dimana Kekristenan belum ada”. Kalau dia ditugaskan untuk membuka gereja, mendirikan gereja di tempat dimana gereja belum ada, apa pentingnya dia tulis surat ke Roma? Ini yang dia mau jelaskan di ayat 14 ini dan seterusnya. Dia mengatakan bahwa “saya tahu kamu Jemaat Roma sudah penuh dengan pengetahuan dan sanggup saling menasehati”, namun Paulus merasa bahwa dia bukan cuma penginjil yang mendirikan gereja di tempat yang belum ada gereja. Paulus merasa dia diberikan anugerah lain yaitu dia menjadi pelayan Kristus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi supaya mereka dapat menjadi korban yang diterima oleh Allah, yang disucikan oleh Roh. Ini yang saya mau jelaskan bagi kita, bagian yang sangat penting ini sebenarnya, yaitu Paulus bukan cuma pendiri gereja, pemberita Injil, misionaris yang pergi ke tempat-tempat yang belum ada Kekristenan, dia juga dipercayakan oleh Tuhan kerangka pikir Kristen, ini yang Paulus mau tekankan. Kamu sudah ada jemaat di Roma, yang menginjili siapa kita tidak tahu. Banyak spekulasi ada yang mengatakan “mungkin Apolos yang menginijli, mungkin tokoh ini, mungkin tokoh itu, mungkin Priskila dan Akwila”, kita tidak tahu. Ada satu tulisan dari Margaret Mitchell, dia seorang teolog dari Kekristenan mula-mula, dia ahli sejarah gereja dan dia pelajari Kekristenan mula-mula. Dia tulis kalimat yang sangat bagus, dia mengatakan Kitab Suci dan sejarah gereja penuh dengan kesaksian bahwa pekerjaan Tuhan itu dikembangkan oleh orang-orang tak bernama, bukan orang-orang hebat. Orang-orang biasa, orang-orang biasa yang rajin menginjili, orang-orang biasa yang hidupnya jadi teladan, orang-orang biasa yang mempraktekkan kasih dan keadilan, orang-orang biasa yang mempraktekkan kehidupan yang baik sehingga orang pelan-pelan tertarik datang ke Tuhan. Maka kalau ditanya siapa yang mendirikan Jemaat Roma? Tidak ada data. Dan kita bisa simpulkan bahwa yang mendirikan Jemaat Roma adalah orang biasa yang namanya bahkan tidak tercatat dan tidak dikenal. Jemaat Roma sudah berdiri dan Paulus tetap tulis surat kepada mereka. Mengapa mesti tulis surat? Karena Paulus juga adalah orang yang Tuhan percayakan untuk membangun pikiran Injil, membangun kerangka pikir Kristen. Seorang teolog Perjanjian Baru bernama N.T. Wright bahkan mengatakan Paulus adalah seorang yang pertama bisa disebut teolog Kristen, karena Pauluslah yang pertama-tama berusaha membangun sistem teologi yang Kristen. Ini bukan berarti sebelum Paulus tidak ada teologi Kristen, bukan berarti sebelum Paulus, Yesus Kristus tidak mengajar, bukan. Tapi Pauluslah yang berusaha membuat cara berpikir yang tunduk kepada Kristus, tetapi yang merangkum kebudayaan dari bangsa-bangsa lain. Inilah yang menjadi tugas Paulus, itu sebabnya dia mengatakan “ini alasan saya menulis kepada kamu”. Wajar kalau misalnya orang Roma mengatakan “Paulus, kami ini didirikan oleh orang lain, bukan oleh engkau. Dan sudah cukup banyak orang penting di sini”, banyak pengajar yang ada di Roma. Paulus bahkan memberikan salam kepada beberapa orang di pasal yang ke-16 dan orang-orang ini sangat mungkin adalah para pengajar. jJadi ada banyak pengajar di Roma dan Paulus tidak merasa dia lebih penting dari mereka. Namun Paulus dengan rendah hati mengatakan “Tuhanlah yang percayakan kepadaku pikiran tentang Injil dan teologi untuk saya bagikan kepada kamu”. Maka saya ingin kita sama-sama tahu dulu apa pentingnya teologi, mengapa belajar teologi itu penting, bukankah itu adalah pendidikan dan pengetahuan bagi para pendeta? Mereka yang berkotbah mesti mengerti teologi, tetapi jemaat yang tidak berkhotbah apakah perlu belajar tema yang sulit di dalam teologi atau jemaat tinggal dengar apa yang para teolog ajarkan, itu kan lebih baik. Tapi kita mesti mengerti dulu pengertian teologi menurut apa yang Alkitab bagikan.

Menjadi Orang Kuat

Mari kita membuka Roma pasal yang ke-15: 1-13, “kita, yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama, sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri. Tetapi seperti ada tertulis kata-kata cercaan mereka yang mencerca Engkau telah mengenai aku. Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita supaya kita teguh berpegang kepada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain sama seperti Kristus juga telah menerima kita untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikanNya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmatNya, seperti ada tertulis sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan Mazmur bagi namaMu. Dan selanjutnya bersukacitalah hai bangsa-bangsa dengan umatNya. Dan lagi pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia. Dan selanjutnya kata Yesaya, taruk dari pangkal Isai akan terbit dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa dan kepadaNyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan. Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan”.

Di dalam pasal 14 ditekankan bahwa kalau kita melihat orang lain lemah maka kita ditugaskan untuk menjadi orang yang membimbing orang itu dengan kehidupan yang baik. Sehingga Saudara tidak lagi menjalani kehidupan untuk diri sendiri melainkan Saudara melakukannya untuk mereka yang lemah juga. Yang lemah tidak harus orang miskin atau orang yang sakit, tapi yang lemah termasuk orang yang belum matang pengertian imannya. Sehingga ketika Saudara mengatakan “orang ini belum terlalu rohani. Dia belum mengerti bagaimana hidup Kristen itu seharusnya dijalankan”, maka adalah tugas kita untuk memamerkan hidup yang akan membimbing orang itu. Ini merupakan pengertian hikmat yang sangat penting, yang tidak mungkin dimiliki orang Yahudi kecuali mereka beriman kepada Kristus. Karena di dalam tradisi Yahudi, orang dapat melihat simbol-simbol pelayanan di dalam Kemah Suci, tetapi mereka tidak menemukan figur atau pribadi yang sejati, yang akan memberikan kepada mereka contoh mengenai bagaimana hidup. Simbol itu baik dan penting. Dan simbol yang menggambarkan inilah yang harus kamu lakukan untuk hidup itu tetap tidak bisa menggantikan meskipun penting. Tetap tidak bisa menggantikan kehadiran dari seorang pribadi. Itu sebabnya di dalam Perjanjian Lama segala contoh, segala simbol, segala lambang harus berpusat pada Pribadi Kristus. Di dalam Imamat pasal yang ke-16 ada hari raya Penebusan Dosa, hari raya the day of the atonement. Dan pada waktu itu imam besar akan masuk ke dalam ruang Mahasuci membawa darah binatang. Semua gambaran ini menurut surat Ibrani adalah sesuatu yang digenapi di dalam kehidupan Kristus. Mengapa simbol harus bermuara pada Kristus? Mengapa setiap simbol harus menuju kepada Kristus? Karena simbol bertugas sebagai penunjuk bukan sebagai realitas utama. Siapa realita utama yang ditunjuk oleh simbol? Realita utama itu adalah Kristus. Jadi orang Israel tidak mungkin mengerti hikmat menjadi korban kecuali mereka mendapatkannya di dalam kehidupan Kristus. Itu sebabnya Paulus memberitakan Injil, dia ingin menghidupkan kembali berita tentang Taurat, tetapi yang sekarang sudah dihidupi oleh pribadi bernama Kristus. Maka Hari Raya Penebusan Dosa yang tadi saya sebut di dalam Imamat 16 adalah hari raya yang sangat penting, karena imam besar jadi simbol yang menunjuk harus ada Kristus. Tahu dari mana imam besar menunjuk kepada Kristus? Karena imam besar di dalam hari raya the day of the atonement, hari raya penebusan itu, dia pakai pakaian yang menjadi simbol yang menunjukkan alam semesta, sama seperti Bait Suci mempunyai simbol yang menunjukkan alam semesta. Jadi Bait Suci menunjukkan simbol alam semesta, lalu imam besar pakai baju yang juga menunjukkan alam semesta. Ini berarti antara imam besar dan Bait Suci ada kemiripan simbol dengan kata lain pada Hari Raya Penebusan Dosa, imam besar menjadi satu dengan Bait Suci. Dengan Demikian seluruh ibadah di Bait Suci sekarang ditekankan ada pada pundak 1 orang yaitu imam besar. Seluruh upacara yang dilakukan tiap-tiap hari atau tiap-tiap bulan khusus atau tiap-tiap acara khusus adalah perayaan yang akan digenapi oleh 1 orang, bukan oleh seluruh ibadah. Itu sebabnya imam besar pakai baju yang simbolnya sama dengan simbol Bai Suci. Berarti seluruh upacara yang dijalankan di Bait Suci akan dipikul oleh 1 orang. Ini pengertian yang jelas kalau orang melihat paralel antara Kitab Imamat dengan Ibrani. Inilah yang kita lihat sebagai kaitan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Di dalam ekspositori Ibrani yang dikhotbahkan Pendeta Stephen Tong, Pendeta Stephen Tong mengatakan dia pilih Surat Ibrani karena di dalam surat ini ada kaitan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang erat sekali. Dan kita lihat bukan hanya kaitan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru saja, tapi tekanan pada Kitab Imamat dengan pekerjaan Kristus di dalam Perjanjian Baru itu dikaitkan erat sekali oleh Surat Ibrani. Itu sebabnya segala praktek di Bait Suci akan diwujudkan melalui kehidupan satu orang imam besar dan kehidupan itu adalah kehidupan yang hanya mungkin dijalankan oleh Kristus. Berarti Kristuslah yang akan penuhi seluruh ibadah Bait Suci untuk diwujudkan di dalam kehidupan nyata.

Makanan & Batu Sandungan

Roma 14: 13-23 “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu. Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa”. Kita masuk kedalam bagian yang kedua dari pembahasan mengenai menghakimi dan menjadi batu sandungan. Tema yang sangat jelas di dalam tulisan Perjanjian Baru yang lebih belakangan yaitu tema mengenai orang percaya atau orang Kristen sebagai imam. Kita semua adalah imam karena Kristus. Tetapi tema ini tidak terlalu jelas di dalam tulisan Paulus, dia tidak menyatakan secara eksplisit seperti misalnya Petrus atau misalnya Surat Ibrani bahwa kita adalah kerajaan imam. Tapi pikiran tentang imam dan rakyat biasa kalau mau dimengatakan, yang sudah tidak ada batasan lagi itu jelas ada dalam pikiran Paulus. Namun Paulus membahasakannya dengan cara yang lebih umum, sangat mungkin karena dia menulis untuk orang-orang non-Yahudi juga sehingga orang-orang itu tidak perlu diberitahukan dulu tentang apa spesialnya imam, lalu kita semua sekarang sudah menjadi imam karena Kristus. Tetapi Paulus memakai bahasa yang lebih umum yang menekankan tentang fungsi manusia di dunia ini. Jadi manusia dipulihkan oleh Kristus dan mereka menjadi atau orang tebusan menjadi manusia sebagaimana yang Tuhan rancang. Dan menjadi manusia berarti menjadi manusia yang hidup untuk Tuhan dan hidup untuk sesamanya. Hidup bagi Allah dan sesama. Kita tidak bisa hanya hidup untuk Tuhan tapi tidak menikmati kehidupan dengan sesama. Dan sebaliknya kita tidak bisa mempunyai komunitas sosial yang baik, tapi kita tidak beribadah kepada Tuhan. Jadi baik ibadah kepada Allah maupun relasi dengan sesama, itu 2 hal yang harus ada dengan limpah pada manusia. Itu sebabnya karena manusia diciptakan Tuhan untuk menyembah Tuhan dan untuk saling melayani satu sama lain, maka manusia dipulihkan oleh Kristus menjadi penuh hidupnya karena dapat berelasi dengan Tuhan dan dapat berelasi dengan sesamanya dengan tepat. Ini sebenarnya sama dengan pengertian imam, seorang imam adalah dia yang datang ke Tuhan dan dia yang mewakili sesamanya untuk datang ke Tuhan.

Apa bedanya orang biasa dan imam? Orang biasa kalau mau beribadah atau mempersembahkan korban, mereka melakukannya untuk diri, “saya perlu dekat dengan Tuhan, saya perlu di ampuni dosanya, saya perlu ditahirkan kembali, saya perlu diterima kembali. Saya mau menyatakan saya sudah tahir”. Maka mereka datang beribadah ke Tuhan lalu imam mewakili mereka. Jadi orang-orang biasa di Israel kalau mereka mau datang ke Tuhan, mereka datang untuk diri, mereka bahwa korban untuk diri. Dan mereka menyatakan cara dan persembahan juga untuk diri, cara ibadah dan persembahan untuk diri. Tapi imam tidak, imam melayani untuk orang lain, mereka mempersembahkan korban untuk orang yang bawa korban itu. Mereka mewakili orang yang datang beribadah sebagai wakil dari orang itu. Sehingga imam tidak hanya beribadah untuk diri, imam beribadah untuk orang lain juga. Imam mempersembahkan korban, bukan hanya bagi dosa sendiri, tetapi juga bagi dosa orang lain. Itu sebabnya aspek inilah yang Paulus msu tekankan di dalam ayat-ayat yang kita baca. Kamu adalah orang-orang yang sekarang beribadah demi orang lain juga, bukan hanya demi diri sendiri. Inilah yang kemudian menjadi ajaran yang Paulus tekankan di dalam Roma pasal 14 ini, bahwa setiap orang percaya tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain juga. Kalau kita pikir hidup bagi orang lain itu pasti berat dan sulit, tapi kalau kita pikir lebih dalam, jangan dangkal, tetapi lebih dalam, kita akan tahu bahwa kita tidak dirancang untuk hanya hidup bagi diri. Desain kita memang adalah untuk orang lain juga. Saudara tidak didesain untuk cukup bagi diri sendiri. Contoh yang paling jelas, Saudara tidak mungkin berketurunan kecuali Saudara punya orang lain, Saudara punya pasangan, yang perempuan tidak mungkin punya keturunan kecuali dia punya suami, yang laki-laki tidak mungkin punya keturunan kecuali dia punya istri. Jadi manusia secara desain baik fisik maupun jiwa, didesain untuk adanya hidup yang dibagikan bagi orang lain juga, jadi ini desain kita. Maka kalau dikatakan “sulit untuk hidup bagi orang lain”, sebenarnya kalau kita pikir lebih serius, jauh lebih sulit untuk tidak hidup bagi orang lain. Begitu banyak gangguan dialami oleh manusia di dalam kondisi makin banyak alternatif untuk berkomunikasi. Di dalam zaman media sosial, begitu banyak kekacauan jiwa terjadi. Kekacauan jiwa bukan karena orang itu punya penyakit atau orang itu punya tekanan batin yang begitu besar karena kondisi, tapi yang membuat orang sangat rentan untuk gangguan adalah tidak adanya kebiasaan berelasi. Relasi dilakukan dengan perantara sosial media dan tidak ada relasi asli yang dialami hari demi hari. Makin tidak berelasi makin rentan jiwa manusia. Kita diciptakan untuk menjangkau keluar, kita diciptakan untuk hidup di dalam komunitas di mana kita menerima pemberian orang dan kita membagikan pemberian bagi orang lain. Saya mau memberikan alternatif tawaran yaitu Saudara lebih tidak bisa lagi kalau Saudara tidak hidup bagi orang lain. Jika kita tidak punya cara pandang yang tepat, akhirnya kita memahami kekudusan juga dengan cara yang salah. Kita berpikir Tuhan sedang minta kita melakukan sesuatu yang berat. Tapi sebenarnya Tuhan minta jauh lebih ringan dari alternatifnya yaitu melawan perintah Tuhan. Mana lebih mudah mentaati perintah Tuhan, misalnya di Taman Eden ketika Tuhan mengatakan “semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya, tetapi pohon pengetahuan baik dan jahat jangan kamu makan. Pada hari kamu makan, pasti kamu mati”, ini perintah yang sangat-sangat mudah karena ada kejelasan. Tuhan memberikan pernyataan jelas sekali, kalau makan mati, sedangkan pohon yang lain silakan nikmati buahnya. Tapi datang ular memberikan alternatif yang jauh lebih sulit, alternatif ular itu jauh lebih sulit. Mengapa lebih sulit? Karena yang pertama dia tidak menjanjikan apa yang boleh, Tuhan mengatakan “semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas”. Tuhan memberikan kebebasan dan di dalam kebebasan itu Tuhan memberikan aturan. Sedangkan iblis datang untuk memberikan alternatif yang sama sekali tidak imbang, dia tidak mengatakan janji apapun, dia tidak datang ke Hawa lalu mengatakan “Hawa semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan”, Dia tidak bicarakan itu. Dia membicarakan aspek yang sangat sulit, Dia mengatakan “pohon pengetahuan baik dan jahat ini kalau kamu makan buahnya, kamu tidak mati, kamu akan jadi seperti Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat”, jadi seperti Allah itu apa? Jadi gambar Allah? Adam dan Hawa sudah gambar Allah. Jadi seperti Allah itu ambigu, maksudnya apa? Lalu kalau makan tidak akan mati tapi akan jadi seperti Allah, tahu bedakan mana baik mana jahat, bedakan baik dan jahat maksudnya apa? Jadi begitu banyak hal yang tidak jelas dari perintah ini dan jauh lebih sulit bagi manusia untuk hidup dalam perkataan iblis dari pada menghidupi perkataan Tuhan. Kita ini sering salah di dalam memahami Kitab Suci, kita berpikir gaya hidup taat Tuhan itu berat, gaya hidup dunia jauh lebih ringan. Akan tetapi, jauh lebih ringan untuk ikut Tuhan, jauh lebih berat untuk hidup dengan dosa seperti yang ditawarkan oleh dunia ini. Jauh lebih berat untuk hidup di dalam pernikahan yang penuh pertengkaran, jauh lebih mudah hidup dalam pernikahan yang saling mengasihi. Jauh lebih berat hidup dalam komunitas di mana orang-orang semua pikir diri, jauh lebih ringan hidup dalam komunitas di mana semua orang saling tolong. Aspek ini mesti jelas. Kita seringkali salah mengerti bahwa untuk jadi Kristen orang harus percaya Injil, dan Injil itu kabar baik. Injil bukan kabar buruk, Injil bukan kabar rumit, Injil bukan mengatakan “kalau kamu hidup gaya Injil, lebih berat tapi tidak apa-apa, nanti mati masuk surga”, tidak seperti itu. Yang Tuhan katakan adalah “kamu didesain untuk cara hidup yang Tuhan siapkan, kamu didesain untuk apa yang Aku perintahkan. Kamu tidak didesain untuk menghidupi cara dunia, engkau tidak didesain untuk ikut cara setan. Engkau didesain untuk ikut cara Tuhan”. Ini sebenarnya kabar baik dan Tuhan menyatakan “mari hidup dengan cara yang Aku suruh, yang Aku perintahkan”. Kalau Saudara mengatakan “saya mau belajar untuk ikut firman Tuhan”, bagus, itulah yang sebenarnya akan meringankan hidupmu, hidup yang ringan. Tapi mengapa dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa ikut Yesus itu harus sangkal diri dan pikul salib? Tuhan mengatakan sangkal diri dan pikul salib tapi alternatifnya itu jauh lebih berat. Tuhan sendiri mengatakan “Aku memberikan beban dan juga kuk yang enak dan ringan”, karena Tuhan pikul sama-sama. Saudara pikul salib mirip Yesus pikul salib, jauh lebih berat bagi Saudara untuk tolak salib karena Saudara akan dapat kesulitan yang jauh lebih besar di dalam kehidupan yang tidak ber-Tuhan. Ada satu perkataan yang dikatakan oleh seorang filsuf yang mengatakan bahwa kehidupan yang tidak pernah tahu apa artinya beban berat dan pergumulan, yang tidak menguji diri di dalam beban berat dan pergumulan, itu hidup yang tidak layak dihidupi. Socrates mengatakan kalau kamu punya hidup yang tidak dibentuk dengan ujian yang keras, itu hidup yang tidak layak dihidupi. Saya ingat ada satu pepatah di tengah pandemi yang pernah dikatakan oleh satu hamba Tuhan kita, dia mengutip tapi saya lupa dia kutip dari mana, dikatakan bahwa orang yang suka hidup dengan cari aman, dia tidak berhak dapat aman dan dia juga tidak sedang menikmati hidup. Jadi orang yang pikiran cuma mengamankan diri, dia tidak sedang mendapat aman karena hidup untuk taman itu bukan hidup, kalau Saudara tidak berani melangkah kemudian melakukan sesuatu yang memang jadi tugas Saudara. Hidup yang cuma pikirkan aman, itu bukan hidup. Bayangkan betapa kasihannya orang yang terlalu ketakutan atas apapun, kita sangat kasihan kepada orang itu. Terlalu ketakutan ketika ada pandemi saya tidak mengatakan pandemi bukan sesuatu yang yang berat atau sesuatu yang boleh kita pandang remeh, bukan. Cuma saya merasa hidup dalam ketakutan jauh lebih parah daripada hidup mengambil resiko untuk menjalankan apa yang memang harus kita jalankan. Hidup aman yang tidak hidup itu untuk apa? Itu sebabnya siapa tidak mengerti beban, tekanan dan juga keharusan berjuang di dalam hidup, dia tidak mengerti perintah Tuhan Yesus untuk pikul salib. Tetapi yang harus kita mengerti menolak pikul salib akan membuat kita pikul pikulan lain yang jauh lebih berat. Jadi siapa tidak mau pikul salib dia akan pikul kesulitan versi dunia ini. Orang yang tidak rela berkorban bagi orang lain hidup di dalam kungkungan yang menyedihkan di mana dia cuma pikir diri dan mati di dalam pikiran yang cuma berpusat ke diri. Maka Paulus mengingatkan “kamu hidup bukan untuk dirimu, tapi untuk sesamamu juga. Kamu hidup untuk Tuhan dan mati untuk Tuhan”. Dan hidup untuk Tuhan serta mati untuk Tuhan berarti engkau hidup bagi sesamamu. Kalau kita lihat di dalam ibadah Israel di Bait Suci hidup untuk sesama itu paling jelas dipraktekkan oleh imam. Merekalah yang bakar korban untuk orang lain, merekalah yang berdoa mewakili orang lain, merekalah yang bertindak di dalam Bait Suci demi orang lain. Ketika Imam Besar dalam hari penebusan, dia memercikan darah dari korban di dalam ruang Maha Suci, dia tidak lakukan untuk dirinya. Dia lakukan untuk seluruh umat diterima oleh Tuhan. Maka waktu dia masuk ruang Maha Suci, di dalam tutup dadanya, di dalam baju lapisan ketiga yang dia pakai, di situ ada 12 batu dengan bentuk kotak yang melambangkan setiap suku Israel. Dia masuk ruang Maha Suci bukan demi dirinya, dia masuk ruang Maha Suci bukan demi sukunya, dia masuk ke dalam ruang Maha Suci demi seluruh Israel. Demikian ketika orang sudah di dalam Kristus, dia menjadi imam, dia bertindak bukan hanya untuk diri tetapi juga untuk orang lain. Inilah sebenarnya dasar dari pemikiran yang harus kita paham ada di dalam di balik kalimat-kalimat yang Paulus katakan di sini, ini penting untuk kita pahami.