Taurat Membangkitkan Dosa?

Di dalam Alkitab dikatakan Taurat ini akan membuat peraturan di dalam sebuah perjanjian, jadi perjanjian menjadi jelas karena ada yang mengikat perjanjian itu. Sehingga orang tidak hanya menjalankan sebuah perjanjian yang tidak mempunyai arah. Adalah hal yang sangat wajar ketika seseorang diikat oleh perjanjian dan itu memberikan apa yang mengikat kedua belah pihak. Jadi ketika seorang ada dalam sebuah perjanjian, dan contoh yang Paulus pakai adalah perjanjian pernikahan, perjanjian ini akan mengikat suami dan istri bukan cuma untuk saling mengasihi, tapi juga untuk memberikan tanggung jawab, setia, serta dorongan untuk mematikan diri dan hidup untuk menghidupi apa yang harus dijalani di dalam perjanjian itu. Ini merupakan contoh yang sangat jelas di dalam kebudayaan Israel, terutama di dalam memahami Taurat. Di dalam kebudayaan Perjanjian Lama, Tuhan mengikat relasi antara Dia dengan umatNya melalui sebuah perjanjian. Dan perjanjian ini akan memastikan umatNya mempunyai kesetiaan dan Tuhan menunjukan kesetiaanNya. Jadi kesetiaan adalah hal yang mau dimunculkan lewat adanya perjanjian, dan kasih yang menyala-nyala di dalamnya adalah hal yang juga diinginkan ada di dalam perjanjian. Kita mungkin tidak terlalu akrab dengan cara berpikir seperti ini karena kita senantiasa memisahkan antara tanggung jawab dan keharusan dengan kasih. Saudara tidak akan mengatakan bahwa saya punya kewajiban untuk menaati perjanjian kerja karena saya mengasihi. Yang saya jalani adalah sesuatu yang harus saya lakukan, itu tidak ada kaitan dengan cinta kasih misalnya. Tapi di dalam pengertian orang Israel, ketika orang Israel membahas tentang kasih terutama di dalam budaya yang sudah dipengaruhi Yunani, mereka memakai agape untuk menerjemahkan kasih Allah. Dan hal unik di dalam kasih agape adalah kaitan antara kasih dan perjanjian. Di dalam zaman modern kita, kita tidak melihat kasih agape dengan pengertian seperti itu, karena kita sangat dipengaruhi, sadar atau tidak, oleh dua orang, seorang bermana Soren Kierkegaard dan Anders Nygren. Kasih agape adalah kasih yang membiarkan orang berada dalam keadaan buruk dan “saya tetap mengasihi dia apa pun yang terjadi”. Tapi di dalam Kitab Suci, terutama Perjanjian Lama, pengertian agape adalah kasih perjanjian, kasih yang menuntut. Tuhan memberi diri dan Dia menuntut manusia yang mengikat perjanjian dengan Dia untuk memberi dirinya bagi Dia. Dan kasih perjanjian, sangat mirip dengan kasih di dalam pernikahan misalnya. Ketika Saudara menikahi seseorang, Saudara mengikat janji dengan orang itu, dan inilah yang disebut dengan pernikahan, Saudara mengasihi dan Saudara diikat dengan perjanjian. Dan apa yang sudah Saudara ikat dalam perjanjian memaksa Saudara, memaksa dengan sangat keras, untuk berubah supaya sesuai dengan perjanjian.

Di dalam tradisi awal sebelum Israel muncul, ada kebiasaan mengikat perjanjian dengan memotong binatang. Membantai seekor binatang dengan mengatakan “saya akan dibantai seperti ini kalau saya tidak setia kepada perjanjian saya”. Sesuatu yang sangat serius, perjanjian tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang dipandang sebelah mata. Di dalam budaya Perjanjian Lama, kehormatan seseorang akan sangat ditentukan dengan kemampuan dia menjalankan bagian yang harus dia jalankan di dalam perjanjian. Apakah kamu setia dalam perjanjianmu atau tidak, apakah kamu melakukan apa yang Tuhan tuntut atau yang dituntut oleh perjanjian? Kalau kamu tidak bisa melakukannya, kamu bukan orang yang boleh diperhitungkan sebagai orang yang hebat, atau bahkan tidak boleh diperhitungkan sebagai orang yang bisa dipercaya. Di dalam masyarakat, orang seperti kamu sebaiknya tidak ada karena kamu bukan orang yang setia kepada perjanjian. Segala hal yang mengaitkan diri seseorang dengan kehormatan akan diperhitungkan lewat perjanjian. Jadi tanpa perjanjian kita tidak bisa menilai seseorang. Saudara tidak bisa mengatakan “dia orang hebat karena aku suka dia”, atau “dia orang hebat karena berbakat”, itu tidak ada urusan. Kita sudah kehilangan nilai-nilai tentang kemasyarakatan yang sebenarnya sangat diajarkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai orang-orang yang berhak dikagumi, orang-orang yang bisa kita berikan perasaan kagum. Kita sudah mengganti kehormatan seseorang dengan keadaan menjadi artis yang membuat dia dikagumi begitu banyak orang. Maka tidak heran jika keadaan masyarakat kita berada dalam keadaan makin rusak. Orang berlomba-lomba mempunyai keunggulan yang dikagumi. Ingin dikagumi adalah problem besar, karena yang paling layak dikagumi hanya Tuhan. Tugas kita bukan untuk dikagumi, tugas kita adalah untuk setia kepada perjanjian. Dan ini berlaku baik dalam relasi kita dengan Tuhan maupun relasi kita dengan sesama. Tuhan tidak peduli apakah Saudara punya kemampuan untuk dikagumi seperti artis atau tidak. Tuhan peduli apakah kamu orang perjanjian atau tidak, engkau menjalankan perjanjian atau tidak. Jadi aspek ini hilang sehingga waktu kita memikirkan tentang agape, tentang kasih, kita tidak ingat perjanjian. Kita hanya ingat bahwa agape itu adalah kasih yang rela berkorban. John Owen pernah mengatakan kalimat yang sangat bagus, dia mengatakan tidak pernah ada tindakan Tuhan yang bisa dinilai di luar perjanjian, di luar konteks perjanjian. Ini yang kita mungkin harus hati-hati lihat, bahwa setiap istilah di dalam Alkitab akan ditafsirkan berdasarkan konteks perjanjian. Kalau ada yang tanya “mengapa Yesus mati menebus dosa kita?”, John Owen akan menjawab “karena itulah perjanjiannya dari awal”. Bukan karena Yesus mempunyai sesuatu yang secara netral bisa ditafsirkan sebagai penebus, konteks ini hanya bisa dipahami lewat perjanjian. Demikian juga agape adalah kasih yang harus dipahami dalam konteks perjanjian. Sehingga tidak ada pengertian bahwa kalau kita sudah dikasihi Allah, ada kasih agape dari Allah, maka apa pun yang kita lakukan tidak masalah, kasih agape adalah kasih yang menuntut. Bahkan kalau mau lebih ekstrim lagi, kasih agape adalah kasih yang menggerakan Tuhan untuk membinasakan orang fasik di Israel. Kasih akan membuat Saudara penuh dengan damai sejahtera dan sukacita jika Saudara berjalan di dalam perjanjian. Dan perjanjiannya selalu akan jelas dan tertulis. Ini bukan cuma perjanjian yang diturunkan mulut ke mulut. Budaya Yahudi adalah budaya sangat unik karena meskipun banyak sekali tradisi turun-temurun yang mereka miliki, tapi mereka adalah umat yang berpegang pada sebuah kitab. Jadi mereka mengandalkan ini, mereka mengikat hidupnya pada perjanjian dengan Tuhan. Kasih dan perjanjian adalah hal yang utuh, tidak bisa dipisah.

Maka kasih harus ditafsirkan dalam perjanjian dan inilah yang Paulus mau jelaskan di pasal 7 arti Hukum Taurat. Di dalam ayat yang kesatu, itu hal yang wajar, Saudara tidak mungkin mengikat perjanjian dengan orang yang sudah mati. Orang yang sudah mati akan lepas dari perjanjian, kematian akan membubarkan perjanjian apa pun karena perjanjian itu diikat dengan orang hidup, bukan orang mati. Ini akan disetujui baik oleh orang Romawi, maupun oleh orang Yahudi. Sama seperti orang Yahudi, orang Roma pun sangat diikat dengan perjanjian, mereka mempunyai tata negara mereka yang mengharuskan baik senat maupun kaisar, maupun warga mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Tidak ada orang-orang di dalam Roma yang akan hidup tanpa menyetujui perjanjian. Bagi mereka hidup tanpa perjanjian adalah kebiasaan hidup bangsa barbar. Ini juga yang harus kita pikirkan dalam relasi kita, Saudara berelasi di dalam pernikahan atau di dalam relasi bisnis jangan lupa atur semuanya baik-baik, buat perjanjian dari awal. Tuhan kita tidak pernah mengatakan kepada manusia “sudah ya, kita sama-sama percaya. Saya percaya kamu dan kamu percaya saya, mari jalan sama-sama”, tidak ada. Tuhan mengatakan “Aku janjikan melakukan ini dan itu, dokumenkan. Aku tuntut kamu harus lakukan ini dan itu, dokumenkan”, itu rohani, itu suci, itu Tuhan. Kalau tidak melakukan itu berarti kafir, menurut orang Yahudi, “kami tidak pernah punya allah yang tidak jelas. Kami tidak pernah punya ilah yang tidak memberikan perjanjian”. Bangsa-bangsa lain punya perjanjian yang turun-temurun, yang ceritanya ngawur, yang kita tidak mengerti mana versi yang benar. Maka orang Yahudi menganggap remeh bangsa-bangsa lain karena mereka tidak pernah jalan dalam perjanjian yang jelas dengan ilah mereka. Mari biasakan ini. Israel tidak pernah dibiasakan untuk mengenal allah yang tidak pernah berjanji. Jadi mereka mengenal Allah yang memberi diri dan mereka juga mengenal Allah sebagai yang menuntut mereka untuk memberi diri. Jadi agape adalah kasih perjanjian. Kasih yang menuntut, Tuhan menuntut umatNya untuk mengerjakan yang Dia mau dan Dia tuntut dengan keras.

Menerima Hidup Kekal

Saudara bisa melihat ada 2 hal di sini yaitu dosa dan maut, kemudian di sisi lain ada hidup yang kekal di dalam Kristus. Saya ingin simpulkan melalui pembahasan yang panjang di dalam Perjanjian Lama mengenai perjuangan antara kekacauan dengan kestabilan, keindahan dan juga kekudusan. Di dalam dunia kita melihat pertikaian ini, pertikaian dari kuasa kegelapan, dan kuasa yang baik yang menaklukan. Ini pandangan yang akan kita pikirkan, ada kuasa gelap melawan kuasa terang, ada kuasa kacau melawan kuasa yang membawa keteraturan. Tapi Alkitab tidak melihat bahwa dunia ini ada pertarungan antara kuasa jahat dan baik yang sedang berperang. Alkitab melihat bahwa yang terjadi di dunia ini adalah pekerjaan Tuhan yang senantiasa dinyatakan. Tidak pernah ada keadaan di dalam alam ciptaan ini dimana Tuhan lepas kontrol, Tuhan tidak berkuasa dan Tuhan seperti ditaklukan. Ini dikonfirmasi dengan pengertian yang dibagikan misalnya di dalam Kitab Kejadian, atau di dalam Kitab Ayub, atau Mazmur 8, Mazmur 19, yang menekankan Tuhan sebagai Allah yang menopang segala sesuatu. Di dalam pengertian orang Yahudi, Allah tidak pernah berhenti menopang dan memelihara, sehingga mereka tidak bisa jatuh di dalam pengertian agama dari dunia ini yang melihat adanya pertempuran antara gelap dan terang, pertempuran antara kuasa baik dan jahat. Hampir semua agama, memiliki pengertian seperti ini. Dalam pengertian dari agama mana pun ada kesadaran bahwa gelap dan terang itu senantiasa bertarung, termasuk juga ada kuasa jahat dan kuasa baik yang sedang merebutkan hidup kita. Tentu kita percaya pada akhirnya kuasa baik yang akan menang. Kuasa baik akan mengalahkan kekuatan kacau balau dan gelap. Dan agama-agama kuno membuktikan hal ini, ketika kekuatan baik yang menang, maka kita bisa hidup. Salah satu bentuk kekuatan baik adalah disingkirkannya laut oleh dewa langit atau dewa petir, ini menjadi pemikiran umum di dalam dunia kuno zaman Perjanjian Lama. Dan tanpa sadar kita juga berpikir begitu, Saudara akan mengatakan “memang ada kuasa jahat dan kuasa baik yang sedang bertempur”.

Tapi bagian ini sedang tidak membicarakan tentang dua kekuatan yang seimbang saling bertarung. Karena kalau Saudara mengkritik sesuatu tapi tidak menempatkan kisah Saudara di dalam cara yang mirip dengan sesuatu, tentu kritik itu tidak akan masuk. Alkitab memberikan kritik dengan cara membagikan dengan cara berpikir sama namun menyoroti sisi yang beda.

Salah satu yang saya mau angkat dari kritik Alkitab adalah tentang natur dari penciptaan alam semesta. Semua agama kuno punya cerita penciptaan, cerita perang, ada cosmic battle, ada peperangan, ada perjuangan yang akan membuat terjadinya kebaikan, ketenangan dan juga ketentraman dalam waktu tertentu, selama peperangan antara kuasa jahat dan kuasa baik ini dijaga dengan seimbang. Kalau gelap dan terang dijaga dengan seimbang, terjadilah hari demi hari. Dan bahasa ini adalah bahasa yang umum, semua orang tahu inilah cara dari penciptaan semesta dalam agama kuno. Tapi herannya dalam Kitab Suci hanya ada satu tokoh yaitu Allah yang membuat kacau dan baik di tangan Dia. Di tangan Dialah kacau dan kosong menjadi baik. Di tangan Dialah gelap, di tangan Dialah muncul terang. Keunikan dari pesan Alkitab dalam kisah penciptaan adalah satu yang mengatur semua yaitu Allah. Allah adalah yang mengatur baik yang kacau maupun baik untuk tujuan Dia. Sebenarnya ini kritik agama, Alkitab mengkritik agama dengan kritik yang paling keras dari semuanya. Kitab Kejadian adalah kritik terhadap agama Babel, agama Timur Dekat Kuno. Kitab Keluaran adalah kritik terhadap penyembahan orang Mesir, agamanya Mesir. Kitab Taurat adalah kritik terhadap semua agama penyembahan berhala yang mempersembahkan makanan untuk dewa. Dalam perkataan Yesus, kritik terhadap agama begitu besar, tidak ada yang kritik Taurat dan Yahudi lebih keras dari Yesus dan Perjanjian Baru. Nabi-nabi adalah kritikus agama paling keras. Kitab Suci berisi kritik yang sangat keras terhadap agama, tapi orang tidak bisa baca itu. Sehingga ketika orang Kristen mengatakan “bahaya ya, banyak musuh yang menyerah kita”. Orang Kristen yang kerdil selalu berpikir agama dan imannya sedang diserang dari luar, itu apologetik yang buruk. Mari lihat sisi lain, Kekristenan bahaya bagi dunia. Kekristenan bahaya bagi stabilitas politik orang Romawi, itu alasan orang Kristen dianiaya, kekacauan, kekejaman, kemunafikan, akan dibongkar oleh Kekristenan. Mari mulai mengamini bahwa ketika Tuhan menurunkan firmanNya, firmanNya selalu menjadi ancaman bagi kehidupan beragama yang stabil di dalam Timur Dekat Kuno dan juga di dalam dunia Greko Roman di abad 1, ini faktanya. Maka Alkitab mengkritik cara orang beragama, karena kebanyakan agama dimanapun akan memahami agamanya sebagai cara untuk berperang melawan kekuatan yang sedang mengganggu atau sedang menghancurkan. Ini kan wajar terdapat dimana-mana. “Kamu jalankan kehidupan beragama maka keteraturan menjadi milikmu, semua kesucian yang akan membuat kamu mengalahkan kuasa jahat. Kuasa jahat ditaklukan dengan saya menjalankan kehidupan beragama”. Itu semua dikritik oleh Paulus dengan bentuk kritik yang diberikan kepada orang Yahudi yang berpikir “dengan menjalankan kaidah agama, saya bisa berbagian di dalam keadaan yang baik dan menyingkirkan keadaan yang buruk”.

Anugerah yang Menghidupkan

Di dalam ayat 23 ada kesimpulan yang sangat indah tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan yang lama dan apa yang terjadi di dalam Tuhan. Yang lama upahnya adalah maut, upah dosa adalah maut, tapi di dalam karunia Allah ada hidup yang kekal di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Tentu ayat 23 adalah kesimpulan yang harus dipahami dari seluruh pembahasan sebelumnya. Ini bukan ayat emas yang kita bisa hafal tanpa tahu konteks. Perbedaan dari orang-orang Kristen, tentunya tidak semua, tapi perbedaan dari Kekristenan dari sebagian gereja dengan tradisi Yahudi adalah kebiasaan untuk menghafal ayat. Orang Yahudi biasa menghafal sebuah kitab atau menghafal seluruh bagian, jadi tidak ada ayat per ayat yang dihafal, tapi seluruh bagian. Kita akan memiskinkan diri kita sendiri jika kita memenuhi pikiran kita dengan ayat-ayat hafalan. Maka kalau mau melatih diri untuk menghafal Kitab Suci adalah baik jika kita mulai menghafal perikop. Misalnya Saudara menghafal Roma 6 seluruhnya, bukan hanya Roma 6: 23. Tentu ini bukan hal yang mudah tapi jauh lebih baik dari pada kita hanya menghafal satu atau dua ayat saja. Demikian juga ayat 23 adalah ayat yang sangat penting, “upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita”. Yang disayangkan adalah kalau kita salah memahami apa itu upah dosa ialah maut, dan kita salah memahami apa itu hidup yang kekal. Sehingga kita menafsirkan bahwa ayat ini sedang berbicara bahwa kalau kamu percaya Tuhan, nanti kalau kamu mati, kamu akan masuk sorga, ini anugerah besar tapi jadi problem kalau kita memahami ayat 23 dengan cara sedemikian. Karena kalau kita baca seluruh ayat dari pasal 6, ternyata arah dari penjelasan pasal 6 tidak menuju kesana. Arah penjelasan pasal 6 melanjutkan argumen dari pasal 5 adalah mengenai bangkit di dalam Kristus, kehidupan yang baru. Kehidupan yang tidak sama dengan kehidupan yang dulu. Yang dulu adalah hidup di dalam perhambaan dosa, yang sekarang adalah kehidupan dalam kerelaan untuk menjadi hamba, dan itu artinya engkau bebas. Bebas untuk memperhamba diri, dengan kerelaan, karena gerakan dan dorongan kasih. Kalau ini yang sedang dibagikan dalam pasal 6, tentu aneh kalau kita menafsirkan ayat 23 sebagai sesuatu yang lepas dari seluruh pergumulan tentang kehidupan diperbudak dosa dan kehidupan menjadi hamba Tuhan karena Tuhan lebih dulu melayani kita. Jadi kita akan kehilangan banyak berita yang indah dari Kitab Suci kalau kita tidak memberikan perhatian kepada ajaran, tapi memberikan fokus kepada ayat yang akhirnya kita masukan konten yang salah dari pikiran kita sendiri. Saudara bisa membaca ayat 23 dan memasukan segala macam ide agama. Dan ide agama yang biasa kita masukan adalah kalau kamu tidak percaya Tuhan Yesus, kalau kamu mati kamu akan masuk neraka, kalau kamu terus mau percaya Tuhan Yesus, nanti kalau kamu mati akan masuk surga. Saya tidak bilang itu hal yang salah, tapi pasal 6 tidak sedang membicarakan hal itu. Ini sama dengan kalau Saudara mendengar seseorang bicara, Saudara hanya mengambil kalimat terakhir, lalu Saudara masukan segala macam pengertian yang tidak nyambung dengan argumen yang dia coba berikan. Diskusi ini meskipun benar dan memang teori yang ada di dalam sejarah, tapi tidak nyambung dengan apa yang coba disampaikan. Demikian juga ayat 23, bukan ayat yang pisah dari pasal 6. Maka kita tidak bisa menghafal ayat ini lalu mengkategorikannya dan memasukan segala pergumulan yang kita pikir penting tapi tidak nyambung dengan pasal 6. Maka sekali lagi, Saudara percaya Tuhan Yesus, Saudara mengalami hidup yang kekal dalam arti kalau Saudara meninggalkan dunia ini, Saudara akan bersama Tuhan, itu benar. Tapi ada hal lain yang dibahas di dalam Roma 6 yaitu mengenai hidup bebas dari perhambaan dan hidup rela menjadi hamba.

Kebebasan Sejati

Dahulu kita adalah hamba dosa, tapi syukur kepada Allah, tadinya adalah orang-orang yang dibelenggu dan mengerjakan apa yang diinginkan oleh tuan kita yaitu dosa. Sekarang kita memerlukan hamba tuan yang baru, demikian kata Paulus. Kita perlu tuan yang baru, dan kita pindah dari memperhamba diri kepada tuan yang lama menjadi seseorang yang memperhamba diri kepada tuan yang baru. Tapi dalam pengertian ayat 18 dikatakan kamu telah dimerdekakan, kemudian menjadi hamba. Ini pola dari dimerdekakan kemudian menjadi hamba adalah pola Taurat, pola di dalam Kitab Keluaran. Ini pola yang perlu kita pahami dari keadaan Israel, Israel setelah dibebaskan dari Mesir, lalu mereka menjadi milik Tuhan. Saya menyenangi kalimat dari Walter Wink, “kita memunyai pengertian yang kita sudah dapatkan dari kebudayaan kita. Lalu waktu kita membaca Kitab Suci, kita akan menemukan banyak kemiripan tema, cara berbahasa. Sayangnya kita memberikan konten, isi yang berbeda.” Jadi apa yang dikatakan oleh Kitab Suci, kita berikan makna yang beda dengan apa yang dimaksudkan oleh penulis Kitab Suci. Jadi sebenarnya kita berada dalam keadaan yang sulit, memahami apa yang dimaksudkan dalam Kitab Suci yang ditulis dalam cara pandang yang beda dengan budaya yang biasa kita alami sekarang ini. Namun Walten mengatakan Saudara dan saya memang menemukan kalimat yang mirip lalu kita tafsirkan secara beda. Pengertian kita beda dengan apa yang dimaksud oleh penulis Alkitab waktu mereka menuliskan kata-kata ini. Tapi kita akan sangat terbantu karena Alkitab itu dirangkum atau dikanonkan dalam bentuk kisah. Dari sini Saudara dan saya bisa menafsirkan berdasarkan kisah yang kita sudah ketahui di bagian sebelumnya. Ini cara yang sangat bagus untuk kita tertolong menafsirkan Kitab Suci. Karena kalau Kitab Suci bukan satu kesatuan, kita akan sulit memahami apa yang dimaksudkan oleh Roma, karena Roma akan berbicara berdasarkan budaya Roma dan kita tidak menemukan cara untuk memahami apa yang dimaksudkan kecuali kita menyelami sejarah. Tapi sekarang kita mendapatkan bantuan karena meskipun menyelami sejarah adalah cara yang baik untuk memahami arti Alkitab. Tapi cara yang lain adalah memparalelkan, mengaitkan satu berita dari salah satu bagian Kitab Suci dengan berita dari bagian yang lain. Dari situ kita akan sangat mendapatkan pertolongan sehingga kita dapat mengerti apa yang sedang terjadi atau dibahas. Ini sesuatu yang terjadi di dalam literatur mana pun, seringkali ada referensi, ada keterkaitan dengan yang lain. Kalau Saudara suka menonton film, kadang-kadang ada adegan yang sengaja mengingatkan kita kepada adegan terkenal dari film yang lain. Kitab Suci melakukan hal yang sama, tentu saja bukan Kitab Suci yang meniru Hollywood, mungkin saja kebalikannya, mereka yang meniru. Kitab Suci berusaha untuk mengarahkan kita untuk mengenal kisah yang Tuhan sudah berikan. Itu sebabnya kalau Saudara membaca Alkitab sebenarnya Saudara sedang berusaha mengenal kisah yang Tuhan sedang bagikan. Tuhan sedang bercerita kepada kita dengan memakai kisah-kisah yang ditulis oleh para penulis Alkitab, dan Saudara akan sangat terbantu kalau Saudara akrab dengan kisah-kisah yang ada. Sehingga ketika pemahaman teologis dibagikan berdasarkan pengertian di dalam sebuah kisah, Saudara akan langsung bisa kaitkan pemahaman itu dengan kisah yang dimaksud. Ini yang sebenarnya Paulus coba lakukan, dia memberikan konsep-konsep teologi terutama tentang siapa Kristus, konsep-konsep Kristologis kalau mau dibilang demikian, yang sangat dalam tapi yang terbantu dengan pemahaman kita akan kisah yang terjadi sebelumnya. Maka Paulus sudah mengatakan di sini, “kamu adalah orang yang lemah dan karena itu saya minta kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada kebenaran. Serahkan dirimu menjadi hamba lagi. Kalau engkau tidak menjadi hamba lagi, kamu tidak akan dimerdekakan”. Orang merdeka yang kemudian rela menjadi hamba, itu adalah orang-orang yang mengenal siapa Tuhan, contohnya adalah Israel. Israel dibebaskan dari Mesir, mereka menjadi orang bebas, kemudian mereka mendapatkan Taurat. Taurat diberikan untuk orang yang bebas, bukan untuk orang yang dibelenggu. Israel dibebaskan dulu dari keadaan menjadi budak, supaya mereka mendapatkan Taurat. Taurat adalah bukunya orang bebas, bukan bukunya budak. Ini adalah buku pengajaran dari Tuhan untuk orang-orang bebas menikmati kebebasan mereka. Tuhan memberikan Taurat sehingga Israel menghidupi kebebasan mereka dengan limpah. Pdt. Jadi mengatakan bahwa kita terus berbicara tentang kebebasan dari sesuatu tapi kita juga harus tahu bahwa kebebasan bukan dari sesuatu. Kita juga mempunyai kebebasan jika kita menuju kepada sesuatu yang jelas. Kebebasan yang ada arahnya, kebebasan untuk mencapi tujuan kita, bebas untuk menjadi sesuatu. Bukan hanya bebas dari sesuatu, tapi juga bebas menjadi sesuatu, dalam hal ini menjadi manusia, menjadi umat. Penafsir Imamat bernama Kyuchi mengatakan tujuan Taurat diberikan adalah supaya manusia belajar menjadi manusia. Dengan pengerian seperti itu, berarti tanpa Taurat, kita sedang dikacaukan kemanusiaannya, kita sedang menjadi budak, bukan orang bebas. Jadi Tuhan bebaskan Israel dari Mesir, setelah itu memberikan Taurat kepada mereka, supaya mereka mengerti apa itu arti bebas. Bebas itu apa? Bebas itu berarti saya bisa menjalani hidup yang mengenal Tuhan dan saya dapat mempunyai hidup di dalam komunitas yang memunculkan kemanusiaan saya. Saya ada di dalam kelompok di mana di dalamnya saya bisa menjadi manusia. Saya bisa berbagian di dalam sebuah kelompok yang di dalamnya Tuhan rela hadir. Ini 2 hal yang Tuhan tekankan mengenai bebas. Di Mesir mereka tidak mendapatkan ini, mereka tidak mendapat Tuhan yang hadir, Tuhan tidak hadir di tengah-tengah Mesir. Lalu yang kedua, mereka tidak bisa menjadi manusia, mereka menjadi budak. Jadi mereka berada dalam keadaan yang tidak manusiawi, tanpa Tuhan dan menjadi budak. Ini yang sebenarnya Paulus katakan di surat-suratnya, misalnya di Efesus. Di dalam Efesus 2, Paulus mengatakan kamu dulu tanpa Tuhan dan kamu dulu saling memusuhi satu dengan yang lain, hidup dalam kebencian, hidup dalam kedurhakaan, kamu tidak hidup.

Hamba Kebenaran

Masuk dalam pengertian tentang Taurat, Paulus sudah mulai bicarakan di ayat 14 dan nanti dia akan jelaskan lebih limpah lagi di dalam pasal 7. Pembacaan kita akan Taurat sangat dikuasai oleh tradisi Reformasi dan boleh dibilang pemikiran Taurat dari tradisi Reformasi adalah pemikiran yang perlu dikoreksi. Salah satu hal yang sulit kita temukan dengan akurat mengenai Taurat adalah kita tidak tahu mengenai apa yang orang Yahudi pikirkan tentang Taurat. Luther dan Calvin belum sampai pada pemikiran itu. Tentu kita tidak abaikan sumbangsih yang diberikan Luther dan Calvin yang sampai sekarang membentuk kerangka pikir kita. Salah satunya adalah tanggapan tentang Taurat, karena baik Luther maupun Calvin melihat bahwa Taurat ada di depan membawa orang Israel masuk tapi gagal. Kemudian ada Kristus, setelah Kristus baru ada first use of the law, kalau Calvin katakan, yaitu Taurat berguna sebagai pengajar. Tapi Calvin kurang mengkritik Luther dalam pendirian bahwa Taurat sebenarnya tidak pernah dipahami oleh orang Israel sebagai jalan masuk untuk menjadi umat. Bisa dikatakan bahwa pengertian kita diselamatkan oleh iman, itu kita warisi dari orang Yahudi, bukan dari pengajaran Luther, Luther memperlajarinya dari Kitab Suci, dari Paulus. Dan Paulus mempunyai pengertian bahwa kita diselamatkan karena iman itu dari tradisi Perjanjian Lama. Sejak keluarnya Israel dari Mesir, Israel sudah mengerti bahwa mereka dibebaskan karena anugerah. Mereka tidak kenal Tuhan, mereka tidak tahu bagaimana bertindak, bahkan mereka belum punya Taurat. Jadi tentu mereka tidak bisa andalkan ketaatan kepada Taurat untuk dibebaskan dari Mesir, itu tidak mungkin, itu adalah anakronisme. Saudara tidak bisa terapkan yang ada baru di belakang untuk dimiliki oleh orang-orang yang belum pada zaman itu. Jadi tidak mungkin orang Israel mengatakan “kami harus taat Taurat supaya selamat”, karena saat itu Taurat belum diberikan. Maka sebenarnya sangat jelas orang Israel tahu bahwa mereka selamat karena iman, mereka tidak pernah melihat Taurat sebagai syarat keselamatan.

Lalu mengapa Taurat diberikan? Ini pengertian asli sebelum dikacaukan oleh pengertian orang-orang Farisi di abad pertama, Taurat diberikan supaya orang Israel dapat mengenal keistimewaan menjadi umat yaitu mencintai Tuhan dan mencintai sesama, ini tujuan Taurat diberikan. Dan kita tidak lihat Taurat sebagai hukum, itu baru ditafsirkan di bahasa Yunani, nomos, tapi arti Taurat adalah teaching. Dan apa yang dimaksudkan dalam Taurat sama dengan maksud yang Tuhan berikan kepada kita melalui Kitab Amsal misalnya. Saudara menemukan di dalam Kitab Amsal, siapa yang menjalaninya akan hidup, akan selamat, siapa yang tidak menjalaninya akan mati. Sama, Taurat juga mengklaim demikian, siapa yang menjalaninya akan hidup, siapa yang tidak menjalaninya akan mati. Jadi keduanya berfungsi sama. Saudara tidak bisa mengatakan Taurat adalah aturan seperti undang-undang atau hukum negara kita, karena bukan itu tujuan Tuhan memberikan Taurat. Dalam konteks timur dekat kuno, ide tentang aturan sebuah negara adalah ide yang asing, tidak ada kelengkapan undang-undang seperti yang kita miliki sekarang. Jadi Taurat tidak pernah diberikan sebagai undang-undangnya Israel atau aturan hukum yang mengikat Israel, tapi ini diberikan sebagai tawaran untuk hidup, yang diluarnya adalah mati, mirip dengan nasihat Amsal. Seperti seorang ayah yang menasihati anaknya, “dengar nasihatku, nak. Kalau kamu jalani, kamu akan hidup, kalau tidak, kamu akan mati. Perhatikan perkataan mulutku, jika kamu tidak menaatinya kamu akan mati.” Mungkin memang ada ancaman, tapi bukan ancaman dari si pemberi amsal. Ini ancaman bahwa kalau kamu tidak setia menjalankan akan rugi sendiri, karena cara hidup yang baik itu ditawarkan dalam nasihatku, ini Amsal. Atau cara hidup yang baik diberikan lewat penawaran Taurat, ini dalam Kitab Taurat. Jadi kita harus memahami dulu bahwa Taurat tidak pernah berfungsi sebagai syarat masuk, karena sangat absurb melihat itu. Alasan urutannya juga sudah jelas, Tuhan bebaskan, baru Taurat diberikan. Mereka harus mengerti dulu bahwa mereka milik Tuhan, lalu mereka diberikan Taurat, penuntun hidup yang membuat mereka bisa hidup. Maka Taurat diberikan supaya orang belajar mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Sehingga tentu tradisi yang baik, yang Yesus juga ajarkan akan mempertahankan garis ini. Mana hukum yang utama? Kasihi Tuhan dan kasihi sesama. Kalau Saudara bingung mengapa ini disebut hukum yang utama, karena inilah satu penilaian bahwa kita jalankan Taurat. Bahwa kalau saya jalankan Taurat maka yang menjadi hasil itu bukan kebenaran saya, kebenaran dalam arti saya berhasil memenuhi syarat yang diberikan seperti tugas sekolah. Kamu akan tahu kalau jalankan, karena kamu akan mempunyai kasih kepada Tuhan dan sesama. Itu sebabnya dalam Taurat diarahkan begitu banyak hal yang dalam konteks Timur Dekat Kuno itu sangat berarti. Sangat berarti bagi mereka untuk membawa korban dan persembahkan ke dewa, sehingga konteks pemberian korban menjadi tema utama dalam Kitab Imamat, Saudara bisa lihat ini dalam pasal-pasal awal di Kitab Imamat, jika kamu mempersembahkan seekor lembu, kamu harus persembahkan seperti ini. Jadi pemberian korban itu sangat berarti, ini adalah tindakan sosial yang dalam maknanya. Sekarang kita tidak mengerti itu, tidak tahu apa yang signifikan dari Imamat. Kalau Saudara tahu budaya pemberian korban, Saudara akan melihat Kitab Imamat sebagai yang merevolusi cara memberikan korban. Korban diberikan bukan supaya dimakan oleh Tuhan, tapi darahnya yang dipakai. Darahnya dibawa masuk, baru setelah itu orang Israel bisa menikmati persekutuan. Dan di dalam keseluruhan tradisi Bait Suci, pemberian makan itu selalu dari pihak Tuhan kepada Israel, tidak pernah sebaliknya. Ini juga kontroversial, ini juga revolusioner, karena pengertian orang-orang pada zaman dulu beda dengan yang ditawarkan oleh Kitab Imamat. Baik tindakan memberikan korban, tindakan mencegah diri untuk masuk ke dalam masyarakat ketika ada penyakit atau keadaan tertentu, itu semua adalah bagian dari cara hidup yang punya makna dalam di dalam budaya Timur Dekat Kuno. Maka ketika Israel mendengar perintah ini, mereka tahu Tuhan sedang mengatur kita untuk mengekang apa yang bisa membuat kita menjadi orang yang merusak masyarakat. Mengekang diri supaya bisa membuktikan cinta kepada sesama. Sehingga Taurat sebenarnya mengajarkan kita untuk mencintai Tuhan dan sesama, itu saja tujuannya.

Senjata-Senjata Kebenaran

Kita bersyukur karena Tuhan membukakan cara melihat dosa dan harapan untuk menghancurkannya, dengan pandangan yang luas. Tuhan menunjukan kepada kita apa yang jarang kita pikirkan dan sesuatu yang tidak mungkin kita ketahui kecuali Tuhan menyatakannya kepada kita. Ketika Israel ada di Mesir, Tuhan melakukan satu pekerjaan besar yang Israel pun tidak sadar, Tuhan memulai memunculkan umat di tempat Dia bekerja di tengah dunia ini. Tuhan memunculkan umat yang menjadi tempat Dia berdiam. Di dalam buku Confession, Agustinus mengatakan ketika Tuhan berdiam memnuhi sebuah wadah, bukan wadah itu yang menampun Tuhan tapi Tuhan yang menampung wadah itu. Ketika Tuhan hadir di tengah Israel, bukan Israel yang menampung Tuhan tapi Tuhan yang sedang menggendong Israel. Bahkan di dalam Mazmur dikatakan, “Tuhan setia dan sampai putih rambutmu, Tuhan tetaplah Dia yang menggendong engkau”, ini tentu dikatakan untuk menunjukan bahwa bukan Israel yang menopang Tuhan tapi Tuhan yang menopang Israel. Tuhan sedang memulai proyek besar sekali, yang terus berlanjut sampai kita sekarang. Tidak ada orang Israel di Mesir yang sadar tentang besarnya pekerjaan yang Tuhan sudah mulai dengan memberikan 10 tulah. Mengapa 10 tulah Tuhan berikan untuk menghancurkan Mesir? Karena Tuhan sedang memulai sebuah proyek yang sampai sekarang Tuhan masih lakukan. Bukankah kita beda dengan Israel? Kita beda dengan Israel tapi kita berbagian di dalam Israel. Israel sejati menerima janji itu, Israel yang hanya fisik, hanya identitas luar tapi tidak benar-benar beriman, akan tersingkir. Dan bangsa-bangsa lain yang memunyai iman kepada Kristus akan berbagian di dalam janji yang Tuhan berikan kepada Israel. Ketika Tuhan mengeluarkan Israel dari Mesir, Tuhan melakuan sesuatu yang tidak ada orang Israel tahu Tuhan sedang kerjakan. Yang Tuhan kerjakan besar sekali dan Tuhan menyatakan secara progresif dalam Kitab Suci, pelan-pelan makin dibukakan bahwa ternyata peristiwa keluarnya Israel dari Mesir ujungnya panjang sekali. Ternyata peristiwa keluarnya Israel dari Mesir adalah titik awal adanya umat yang akan menghancurkan dosa, menghancurkan setan dan menghancurkan maut, siapa yang berpikir bahwa ini akan terjadi. Ketika Tuhan memulai sebuah pekerjaan, tidak ada yang sangka, final apa yang akan Dia buat dari titik permulaan ini. Tidak ada yang tahu betapa besarnya Tuhan bekerja. Kita harus belajar memunyai pola pikir seperti ini, melihat apa yang Tuhan mulai kerjakan. Tapi setelah itu mulai pikirkan apa yang akan Tuhan kerjakan sampai tuntas. Hal besar apa yang akan Dia kerjakan melalui penebusan yang Dia genapi di dalam Kristus. Maka Roma 6 tidak mengatakan kepada kita untuk tinggalkan dosa dan langsung memberitahukan apa itu dosa “dosa adalah ini, sekarang kamu harus berhenti, sekarang kamu harus lakukan itu, apa yang tadinya salah harus kamu hentikan, dan yang benar harus kamu lakukan.” Alkitab bukan berisi pesan untuk berubah secara etika saja. Tapi pesan untuk berubah secara etika menjadi pesan yang masuk di dalam seluruh skema yang Tuhan sedang kerjakan. Itu sebabnya Saudara tidak hanya melihat peraturan yang bersifat etis saja di Roma 6, tapi Paulus memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa Tuhan memanggil kita supaya kita berada dalam Kristus, bukan di dalam Adam. Kita di dalam Kristus, Dia sudah mati dan bangkit, maka kita bersama dengan Kristus mati dan juga bangkit. Paulus memakai hal yang indah dalam berteologi yaitu memakai Kristus sebagai ilustrasi, penjelasan. Dan Kristus bukan cuma ilustrasi untuk menjelaskan poin utama, Kristus adalah poin utamanya sekaligus ilustrasinya. Paulus mengisahkan tentang Kristus dan dia memakai Kristus untuk membuat kita mengerti apa yang dimaksud hidup di dalam Kristus, ini unik. Kristus menjadi ilustrasi untuk kita mengerti. Sayangnya kita mencari ilustrasi lain untuk ilustrasinya Paulus.

Bagaimana kita mengerti hidup kita? Paulus merangkum hidup kita sebagai hidup yang mengikuti polaNya Kristus, Kristus mati karena dosa, Kristus bangkit untuk memulai zaman baru. Maka sebelum Paulus mengatakan “ayo berhenti berdosa”, Paulus memberikan dulu pengertian mengapa berhenti berdosa itu penting, mengapa penting bagi kita untuk meninggalkan hidup kita yang lama? Tanpa penjelasan utuh kita akan menjadi moralis kosong. Mengajarkan etika bukanlah hal yang salah. Mengajarkan etika kosong itu yang salah. Banyak orang mengajarkan etika kosong ketika memberikan penjelasan, mengulangi tema yang sudah diketahui. Tapi ketika Saudara membagikan satu cara memandang realita lalu menjelaskan bahwa dosamu tidak cocok di sini, itu akan memberikan penjelasan tentang hidup kudus menjadi sangat kuat. Seringkali kita bermain di tataran umum, maksudnya adalah semua orang Kristen tahu itu salah, dan kita cenderung mengulangi tanpa memberikan satu pandangan yang utuh. Maka kita mesti perhatikan bagaimana cara Paulus menjelaskan tentang keharusan hidup suci. Paulus bukan anti hukum, anti-nomian kalau istilah teologinya, Paulus bukan seorang yang cuma memberikan penjelasan tentang moral tapi tidak menjelaskan wadah mengapa dosa itu tidak baik atau tidak masuk. Setelah membahas tentang di dalam Adam dan di dalam Kristus, Paulus melanjutkan dengan membahas apa yang terjadi di dalam Kritus. Di dalam Kristus kita melihat hidup Kristus sebagai hidup yang utama dimana di dalamnya hidup kita berada. Hidup Saudara bukan lagi milik Saudara, hidup Saudara adalah milik Kristus sekarang. Dan maksudnya hidup menjadi milik Kristus, itu bukan hanya Saudara dimiliki oleh Kristus saja, tapi Saudara akan mengimitasi Dia, Saudara akan menjalani keadaan yang sama dengan Dia. Dan kata “akan sama dengan Kristus”, itu bukan kata perintah, tapi kata penjelasan. Paulus memberikan penjelasan bahwa kamu di dalam Kristus, kamu akan jalani hidup seperti Dia, mati dan bangkit. Maka ada 3 sudut pandang yang ingin saya bagikan sebelum kita lihat lebih teliti mengenai ayat 12-14. Tiga sudut pandang mengenai di dalam Kristus yang Paulus berikan.

Mematikan Dosa

Banyak hal yang Alkitab jelaskan tentang dosa namun kita sering lupa untuk memahaminya. Kita mungkin hanya ingat dosa di dalam aspek tingkah laku, kejelekan dari sifat atau etika yang harus diubah. Bagaimana caranya mengubah? Tapi kalau kita lihat dalam Kitab Suci, ada gambaran yang lebih utuh tentang dosa. Dalam pembahasan sebelumnya kita sudah lihat bagaimana penjelasan yang sangat total dari Paulus bahwa dosa terjadi di dalam Adam dan penebusan terjadi di dalam Kristus. Hanya dari kisah Alkitab, kisah ini bisa masuk. Lalu di dalam penjelasan Paulus, bahwa segala sesuatu yang ditekankan tentang dosa menjadi beres di dalam Kristus. Ini sebabnya Saudara akan melihat kisah Perjanjian Lama dan menyadari bahwa kisah yang agung dari Perjanjian Lama, sebenarnya adalah kisah yang tidak tuntas. Kebangkitan Kristus yang membuat tuntas semua itu. Ini pola pikir yang harus kita punya dalam ajaran Paulus, kebangkitan Kristus adalah cara untuk menghentikan hidup yang lama.  Saudara tidak bisa mengajarkan orang meninggalkan dosa, karena dosa adalah bagian dari natur manusia yang sudah jatuh. Saudara tidak bisa lepas dari dosa, karena dosa bukan sekedar tingkah laku yang kita buat, tapi dosa adalah keadaan yang kita peroleh di dalam Adam. Dan Saudara tidak mungkin pindah dari Adam ke tempat yang lain, sebelum Adam yang terakhir datang. Pola Alkitab seperti ini tidak bisa diparalelkan dengan agama lain karena cara berpikirnya total beda. Ini yang membuat Injil sulit untuk diterima. Kita mungkin berusaha menyampaikan Injil dengan cara yang dimengerti, tapi orang sulit menerima berita Injil jika dia tidak mengubah seluruh pengertian dia tentang hidup yang lama. Maka Paulus menyajikan pengertian yang sangat luar biasa total, kalau kamu di dalam Adam, kamu hanya bisa berharap kebangkitan Kristus sebagai solusinya. Banyak orang mengatakan kebangkitan Kristus tidak unik atau orang mati bangkit itu bukan khasnya Kristus. Bukankah dalam tradisi Yunani ada banyak kisah tentang kebangkitan? Promithius dibilang bangkit, Sisiphus bangkit bahkan sampai 3 kali. Lalu kalau Alkitab mengatakan kebangkitan Kristus adalah yang pertama, ini juga aneh, Lazarus lebih dulu bangkit sebelum Yesus, Elia pernah membangkitkan seorang anak. Jadi kebangkitan orang mati tidak khas menjadi milik Kristus, itu yang akan orang-orang pikirkan. Tapi banyak orang yang salah mengerti tentang kebangkitan, seolah-olah kebangkitan adalah revitalisasi hidup, tubuh yang sudah mati dihidupkan kembali. Namun kebangkitan bukan menghidupkan kembali tubuh yang mati supaya kembali berfungsi seperti sebelum kematian. Kebangkitan adalah melanjutkan kemanusiaan dari Kristus, Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, untuk mencapai tubuh yang baru, kebangkitan. Jadi kebangkitan bukan kembali ke keadaan sebelum mati, kebangkitan adalah kelanjutan dari tahap berikut maruk ke tahap berikut dari menjadi manusia. Itu sebabnya kata resurrection itu lain dengan kata vivification, mengaktifkan kembali hidup. Lazarus diaktifkan kembali hidupnya, dan itu tubuh yang mati, itu bukan resurrection sebenarnya. Maka Yesus adalah yang pertama bangkit, belum pernah ada yang bangkit sebelumnya. Kitab Injil mengisahkan itu dengan teliti sekali. Setelah itu Yesus bangkit, ada hal yang sama tapi banyak yang beda. Ada hal yang sama, murid-murid dapat mengingat “ini Yesus” waktu Dia menawarkan makan, waktu Dia memecah-mecahkan roti, waktu Dia memberikan salam dan menyatakan berkat, orang langsung mengatakan ini Yesus. Tapi banyak hal beda yang belum pernah ditemui murid-murid sebelumnya. Itu yang pertama yang membedakan kebangkitan Kristus dengan kebangkitan orang mati di dalam kisah mana pun.

Kedua, kebangkitkan Kristus adalah kebangkitan yang memuncakkan seluruh problem dalam Perjanjian Lama yang berhenti dengan kasar, mendadak. Saudara sangat tertekan kalau hanya punya Perjanjian Lama karena tidak memberikan penjelasan yang tuntas tentang kesempurnaan rencana Tuhan. Banyak janji di situ, tapi tidak ada pernyataan tuntasnya, tidak ada pernyataan bahwa akhirnya janji Tuhan selesai. Ketika Saudara membaca Perjanjian Lama, Saudara akan menemukan Perjanjian Lama membahas apa pun yang Saudara alami di dalam kisahnya, tidak ada yang tidak. Kalau ada yang bicara “pak, ada masalah, koneksi internetnya tidak lancar”, di mana di dalam Perjanjian Lama yang membahas koneksi internet lambat sebagai masalah. Saya mengatakan masalahmu bukan karena koneksi internet tetapi kamu kurang sabar, dan masalah itu ada di Perjanjian Lama. Problem Saudara ada di Kitab Kejadian, problem Saudara terjadi berkali-kali. Abraham mengalaminya, Ishak mengalaminya, Yakub mengalaminya. Kita bukan satu-satunya orang yang sedang mengalami problem kita. Ada orang-orang di Perjanjian Lama yang juga bergumul dengan hal yang sama. Maka Perjanjian Lama menunjukan kepada kita apa yang menjadi kesulitan hidup manusia dan memberikan janji solusi, tapi tidak ada janji yang genap, belum ada yang genap. Karena kalau kita membaca Kitab Kejadian, kitab itu diakhiri dengan tulang-tulang Yusuf harus dibawa kembali ke Kanaan, bukan ending yang bagus. Kitab Taurat berakhir dengan Musa tidak masuk di Tanah Perjanjian. Kitab Yosua berakhir dengan masih ada tanah-tanah yang belum ditaklukan. Kitab Hakim-hakim berakhir dengan perang saudara di tengah Israel. Saudara lanjutkan ke kisah Samuel, Saudara akan melihat Kitab Samuel ditutup dengan kematian Daud, bukan cerita yang bagus, ternyata raja idaman pun mati. Lanjutkan ke Kitab Raja-raja, Saudara tahu ternyata raja-raja ternyata Kitab Raja-raja terlalu cepat memberikan kesenangan di depan. Kemudian kerajaan itu pecah, ini sangat buruk. Maka kalau lihat Perjanjian Lama, kita tidak melihat pengharapan, namun Perjanjian Baru mengatakan pengharapan itu semuanya bermuara pada kebangkitan Kristus, disimpulkan pada kebangkitan Kristus. Ini perbedaan kedua, kebangkitan Kristus lain dari mitos mana pun karena kebangkitan Kristus memuncakkan tradisi selama 1.500 tahun sebelum Kristus datang. Adakah paralel dari cerita kebangkitan seperti ini? Promethius seperti itu? Atau bangkitnya Sisiphus memuncakan 1.500 tahun tradisi Yunani? Tidak ada cerita kebangkitan sebagai puncak dari pergumulan panjang selain di dalam Kitab Suci. Maka jangan bilang kisah kebangkitan Kristus sama dengan kisah kebangkitan yang lain. Alkitab mengajak kita untuk berpikir seperti ini, lihat apa yang terjadi secara besar, kemudian lihat tempatmu, pergumulanmu, permasalahanmu di dalam konteks yang benar, di dalam payung cerita besar ini. Kalau Saudara tidak menangkap cerita besarnya, Saudara tidak punya solusi untuk permasalahan detail yang Saudara hadapi hari demi hari. Kalau kita tidak tahu metanarasi, cerita besar, kita tidak tahu cerita kita.

Berdosa Tetap Selamat?

Dalam pembahasan yang lalu kita sudah melihat satu sudut pandang yang penting yaitu di dalam Adam dan di dalam Kristus. Ini tentu cara pandang yang tidak biasa kita miliki di dalam zaman kita, seperti saya sudah bagikan bahwa kita tidak terbiasa berpikir tentang pola seperti ini, berada di dalam Adam, berada di dalam satu kekepalaan yang memengaruhi kita dan di dalam Kristus, satu kekepalaan lagi yang memengaruhi kita. Kita terlalu banyak dipengaruhi dengan pikiran individu seperti yang dimiliki oleh orang zaman modern, “saya sendiri di hadapan Tuhan, saya pertanggung-jawabkan perbuatan saya di hadapan Tuhan. Saya menentukan nasib saya di hadapan Tuhan”. Tentu ada aspek kita harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan sendiri, kita tidak menanggung dosa orang lain dan kita tidak dihakimi oleh karena perkataan atau perbuatan orang lain. Tapi nasib kita di dalam Kerajaan Allah tidak individu. Keselamatan Saudara bukan keselamatan yang secara individu mampu miliki, tidak bisa. Saudara menjadi orang yang diselamatkan karena Saudara berada di dalam Kristus, bukan yang lain. Bukan karena Saudara beriman, tentunya iman mesti punya objek yang benar, bukan karena Saudara yakin, bukan karena Saudara berada dalam keadaan tertentu. Tapi karena Saudara ada di dalam Kristus dan hanya karena di dalam Kristus. Di dalam pasal 5, Paulus membagikan pengertian yang indah, Saudara dan saya berada di dalam Kristus, karena kita sudah diambil dari keadaan yang lama di dalam Adam. Jadi kekepalaan Adam adalah tema penting, saya pikir ini merupakan bagian yang sangat penting dari konsep Injilnya Paulus, tapi bagian yang sering diabaikan. Salah satu yang membuat seorang teolog di abad 20, Karl Barth, sangat populer adalah ketika dia menulis buku komentari surat Roma, yang dikenal sebagai buku Roman Brief. Dia mengatakan bahwa apa yang mungkin kita alami sebagai milik Tuhan hanya mungkin kita alami di dalam Kristus.

Di dalam Adam, di dalam Kristus. Kalau kamu di dalam Adam, kamu jalani hidup yang lama, entah kamu berbuat baik, entah etikamu baik, entah kamu sangat tidak bercacat di dalam hidup, tapi faktanya kamu di dalam Adam, kamu bukan di dalam Kristus. Kalau kamu berpindah dari dalam Adam ke dalam Kristus, maka kamu adalah pewaris bumi yang baru, ini poin penting yang sebenarnya ada dibalik kata-kata dari Surat Paulus ini. Orang-orang yang membaca Roma 5, jika memahami konsep ini, dia akan sadar Paulus sedang berbicara bahwa ada dunia yang baru melalui Kristus dan itulah yang ke dalamnya kita akan berbagian. Dunia baru ini dunia apa? Di dalam konteks orang Yahudi cuma ada konteks 2 zaman, jadi mereka tidak lihat perkembangan zaman dan kerajaan sebagai sesuatu yang terlalu penting. Orang akan mengatakan ada periode Babel, ada periode dari Persia, ada periode dari Yunani dan setiap periode ini adalah periode yang berpindah dan berganti dengan sangat signifikan. Waktu orang-orang Asyur menjajah semua daerah maka budaya Asyur yang akan disebar kemana-mana, meskipun tidak sekuat Babel dan Persia. Waktu Babel mengalahkan Asyur, bahasa Aram yang akhirnya menyebar kemana-mana, termasuk dalam penulisan Kitab Suci, Perjanjian Lama kita ditulis dalam Bahasa Ibrani dan Aramaik, dua bahasa tua itu. Babel dikalahkan oleh Persia, lalu ketika orang Yunani mengalahkan Persia, maka budaya dari Yunani menyebar kemana-mana. Ini sangat signifikan, penting sekali, perubahan yang sangat luar biasa. Ketika zaman berubah, ada banyak hal yang signifikan berubah. Tapi Alkitab membacanya hanya sebagai perubahan kecil yang tidak penting. Lalu perubahan besarnya di mana? Bagi orang Yahudi perubahan besar itu ada dari zaman sekarang yang jahat ini kepada zaman akhir. Perubahan ini diawali dengan kedatangan Sang Mesias. Ini pola pikir orang Yahudi yang kita tidak lihat dari Roma, tapi ini jelas dari pembacaan Kitab Kisah Para Rasul misalnya. Pergerakan dari zaman yang jahat setelah manusia jatuh dalam dosa, kepada zaman yang penuh pengharapan ketika Sang Mesias datang. Ini dua periode yang sangat penting, yang kita harus tahu ada dibalik pikiran Paulus. Paulus bukan orang Injili abad 21, Paulus itu bukan orang Reformed, dia tidak berpikir dengan kerangka pikir Reformed. Ada banyak cara berpikir yang kita tidak bisa paksakan kepada Paulus. Maka sewaktu kita membaca Kitab Suci, mari kita lihat pikiran di belakang Paulus, yaitu bahwa orang Israel mengharapkan zaman yang baru. Paulus ketika diadili mengatakan “aku ditangkap karena pengharapan Israel (adanya zaman yang baru)”. Orang Yahudi percaya bahwa Mesias yang bisa bawa. Jadi mereka menunggu-nunggu Mesias bukan untuk keselamatan individual mereka masuk surga. Saya tidak mengatakan keselamatan individu kita salah, “saya percaya Yesus supaya mati masuk surga”, itu tidak salah tapi itu bukan segalanya. Ini mungkin berita yang mengagetkan tapi kalau Saudara membaca Alkitab, Saudara akan sadar dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, porsi untuk keselamatan individual itu kecil, ada tapi tidak besar. Tujuan utamanya adalah Saudara mesti lihat dunia ini, yang sudah sangat rusak, dan perlu dunia yang baru. Orang yang bisa membuat dari yang lama menuju ke yang baru itu Sang Mesias. Dalam Kisah Para Rasul jelas sekali bahwa orang Yahudi, Paulus, Petrus, para rasul bahkan Kekristenan mula-mula percaya ini. Tapi Kekristenan modern melupakan hal ini. Tidak banyak orang kalau ditanya tentang Yesus akan menjawab Yesus adalah Pembawa bumi yang baru, Pembawa zaman yang baru. Kalau ditanya “siapa Yesus bagimu?”, banyak orang akan menjawab “Dia Nabi yang baru, Dia ini dan itu”. Lalu Tuhan bertanya “menurutmu siapakah Aku?”, Petrus menjawab “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Petrus tidak perlu menjelaskan pengertian Mesias, karena semua orang sudah tahu pada waktu itu. Petrus tidak mengatakan “Engkaulah yang akan membuat saya kalau saya mati akan masuk surga”, tidak ada konsep itu dalam pengertian utama, adanya dipengertian sampingan. Tokoh-tokoh Alkitab punya alur pikiran sendiri yang kita kurang pedulikan. Paulus bicara Adam dan Kristus untuk mengatakan Kristus adalah Pembawa zaman yang baru. Zaman yang sudah ada sejak Adam dan menjadi kacau karena Adam, dan manusia yang lain berbagian di dalamnya; sekarang Tuhan memberikan zaman yang baru, seolah Tuhan mengatakan “inilah saatnya, pembaruan itu sekarang sudah tiba”. Banyak hal di Kitab Suci menunjukan ke kita bahwa relasimu dengan Tuhan itu akan menjadi sangat penting di dalam zaman yang baru ini. Seluruh bumi akan kembali menikmati fungsinya di dalam zaman yang baru.

Taurat Membuat Dosa?

Paulus berbicara dengan argumen yang Panjang sampai nanti berpuncak pada pasal 8, lalu ada polemik lanjutan di pasal 9-11, merupakan argumen-argumen yang sangat penting untuk teologi Kristen. Kita memahami apa itu Kekristenan justru karena memahami arguman Paulus mengenai apa itu Kekristenan. Dalam bagian ini kita akan melihat lebih detail mengenai Hukum Taurat. Apa yang Paulus pahami tentang Taurat itu jelas dalam Surat Roma. Paulus berusaha untuk membereskan pemikiran yang salah dari orang-orang Farisi atau orang-orang Yahudi pada zaman dia. Tapi kita seringkali salah baca karena kita berpikir bahwa orang Yahudi mirip dengan orang-orang Katolik di abad ke-16, percaya bahwa kalau kita tidak mengumpul jasa pada level yang pas maka kita tidak akan pernah selamat. Kita mesti berjuang untuk terus dapat, dapat jasa, dapat merit atas apa yang kita kerjakan berdasarkan perintah gereja, supaya kita bisa selamat. Lalu kita membaca Kitab Suci dan kita menemukan mungkin orang Yahudi juga berpikir sama, “saya mesti menjalankan Taurat supaya saya bisa selamat”, ini yang kita baca dari Alkitab karena kita dikurung oleh pemikiran dari tradisi Reformasi. Tentu kita tidak akan menganggap tradisi Reformasi salah karena kita berasal dari situ, tapi kita juga tahu bahwa tradisi Reformasi mempunyai cara untuk mengekspresikan teologi yang spesifik sesuai zaman mereka. Dan zaman itu tidak tentu sama dengan zamannya Paulus. Itu sebabnya ketika Martin Luther mengatakan “kita semua mesti kembali ke ajaran yang benar, kita tidak selamat karena kita melakukan sakramen penebusan dosa, kita selamat karena kita beriman kepada Kristus. Kita selamat bukan karena kita melakukan perbuatan jasa, tapi kita selamat karena kita beriman kepada Kristus”. Luther tahu hal ini dari Paulus. Paulus menyatakan hal yang sama, “engkau diselamatkan karena iman, bukan karena engkau menjalankan Taurat”. “Berarti orang Yahudi percaya bahwa menjalankan Taurat akan membuat mereka selamat”, ini yang kita pikirkan. Tapi kita tidak teliti dalam memahami dunia Alkitab. Karena kalau kita memahami dunia Alkitab dalam Perjanjian Baru, kita akan sadar bahwa tidak ada orang Yahudi yang merasa dirinya tidak otomatis selamat. Ini jelas sekali kita salah baca. Orang Yahudi adalah orang yang jelas tahu bahwa mereka lebih baik dari semua bangsa. “bagaimana caranya kamu bisa selamat?”, orang Yahudi akan menjawab “otomatis, orang Yahudi, darah asli. Saya bukan orang kafir, saya dari lahir adalah orang Yahudi dan tidak termasuk bangsa-bangsa lain”, ini yang Paulus katakan juga di awal Surat Roma. “Kami orang Yahudi, kami tidak termasuk dari bangsa-bangsa lain”. Mereka selamat sejak Tuhan membentuk mereka keluar dari Mesir, sudah selamat. Lalu isunya Taurat di mana? Taurat adalah cara untuk membuktikan bahwa mereka berhak dapatkan keselamatan karena menjalankan identitas mereka. Jadi Taurat digunakan bukan supaya mereka selamat atau bukan supaya mereka masuk ke dalam perjanjian, Taurat diberikan supaya mereka tetap ada dalam perjanjian. Inilah perbedaan konsep orang Yahudi tentang keselamatan dengan Kekristenan di dalam zaman abad pertengahan. Jadi cara pemikiran pertama mereka adalah bukan “bagaimana supaya saya selamat, apa yang mesti saya lakukan supaya selamat?”, mereka sudah rasa otomatis selamat.

Hal kedua, pola pikir mereka bukan individual, tapi bangsa, nation, mereka tidak mengatakan “bagaimana saya bisa mempertahankan keselamatan?”, tapi mereka akan bertanya “bagaimana bangsa ini tetap utuh, tidak lagi dibuang oleh Tuhan”. Jadi isunya adalah apakah kita akan tetap menerima berkat dari Tuhan atau kita dibuang? Taurat itu seperti Pancasila bagi orang Indonesia, kalau Saudara mau tafsirkan dengan pemikiran orang Yahudi. Kita perlu Pancasila supaya kita tetap satu, kita tetap kompak, kita tetap merasa satu bangsa meskipun terdiri dari banyak suku. Demikian juga orang Israel, “bagaimana caranya supaya bangsa ini tetap sejahtera di dalam Tuhan?”, “caranya adalah taati Taurat, jika engkau melanggar akan dibuang”. Tidak ada gunanya Saudara berusaha taati Taurat sendiri, jalankan Taurat sendiri, benar-benar saleh sendiri, tapi seluruh bangsa rusak, akhirnya dibuang juga. Jadi keadaan komunal ditentukan kekompakan seluruh anggota menjalankan apa yang harus. Dan orang Israel sudah mendapatkan pelajaran ketika Akhan tidak setia, di dalam Kitab Yosua, semua Israel kena. Maka Taurat berfungsi sebagai cara orang Israel tetap berada dalam perjanjian. Dan ini yang Paulus kritik. Ini sesuatu yang mungkin mengagetkan, kita sudah mendapatkan pengertian ternyata orang Israel melihat Taurat sebagai cara untuk tetap dalam perjanjian, sekarang Paulus memberikan alternatif untuk menafsirkan Taurat yaitu menafsirkan Taurat sesuai pengertian Perjanjian Lama. View dari orang Israel adalah “bagaimana kami menikmati janji Tuhan”. Apakah janji Tuhan sudah diberikan? “sudah, tapi kami menantikan kegenapannya”. Inilah yang menjadi pandangan mereka tentang Taurat, dan saya harap tema-tema seperti ini semakin akrab di kepala kita. Karena semakin kita mengerti cara para penulis Alkitab berpikir, semakin kita mudah mendapatkan pengertian-pengertiannya. Alkitab tidak hanya ditulis untuk orang-orang yang akademisi yang cerdas atau tajam pikirannya. Tapi Alkitab ditulis untuk orang-orang biasa mempratekan hidup dan menikmati Tuhan.