Tapi mengapa mereka pilih iman Kristen? Ini yang diselidiki Richard Mouw. Dan waktu penyelidikan terhadap sejarah di abad-abad awal Kekristenan dilakukan, ternyata salah satu daya tarik Kekristenan yang paling kuat adalah kerelaan Kristus untuk mati yang merupakan tanda kasih dari Allah! Ini hal yang tidak ada dalam agama lain! Tidak ada agama yang mempunyai berita bahwa Allah mencintai manusia dengan cinta yang serius. Tidak ada ajaran agama manapun yang memberitakan kasih Allah seperti Kekristenan memberitakan kasih Allah. Kalau orang mengatakan, “Saya tidak mau agama Kristen karena kecewa sama orang Kristen!” Ini adalah argumen yang disayangkan jika dianut! Mengapa? Karena orang Kristen tidak bisa jadi contoh dari cinta kasih Tuhan. Cinta kasih Tuhan dinyatakan lewat Kristus. Kristuslah contoh dari cinta Tuhan. Tuhan mencintai manusia sebesar apa? Tuhan mencintai manusia dengan kerelaan untuk mati bagi manusia. Ketika Pribadi kedua dari Allah Tritunggal menjadi manusia, pada waktu itulah cinta kasih Tuhan dinyatakan dengan cara yang tidak ada pada agama manapun. Ini daya tarik yang besar sekali! Mengapa ada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, lebih tinggi dari siapapun, lebih besar dari semua dongeng dan mitos yang bisa dipikirkan manusia? Mengapa ada Allah sebesar ini yang rela mengecilkan Diri-Nya demi mencintai kita?

Saudara kalau selidiki ajaran dari agama atau kepercayaan atau mitos manapun, Saudara akan menemukan tidak ada agama punya konsep Allah setinggi Kekristenan. Adakah agama di zaman Yunani atau di zaman Romawi atau zaman Mesir atau di zaman Babel yang percaya ada satu Allah yang mencipta segala sesuatu, satu Allah yang melampaui segala kuasa, satu Allah yang berdaulat melampaui apapun yang ada di seluruh realm, seluruh langit dan seluruh bumi, adakah agama percaya ini? Tidak ada! Agama politeisme hanya melihat dewa-dewa di dalam level yang di bawah. Dewa-dewa itu lebih tinggi dari manusia, tapi dewa-dewa itu lebih rendah dari prinsip utama yang mengatur segala sesuatu. Ini merupakan celah di dalam penyembahan berhala. Semua agama politheistik tidak sadar akan hal ini. Penyembah berhala mengatakan, “Kami punya dewa hikmat! Kami punya dewa perang! Kami punya dewa kesuburan! Kami punya dewa-dewa yang seperti manusia cuma lebih kuat.” Dewa-dewa mirip manusia, tapi tidak bisa mati. Mereka berinteraksi, mempunyai kehidupan sosial, mempunyai hierarki, mempunyai struktur, mempunyai politik tetapi di atas manusia.

Sampai akhirnya, pemikir-pemikir penting dari Yunani mulai bongkar kelemahan dari agama. Orang-orang seperti Protagoras mulai memikirkan, benarkah dewa-dewa itu patut disembah? Kalau kita punya dewa, punya berhala, bentuknya mirip manusia. Kalau kuda punya berhala, nanti bentuknya juga mirip kuda. Kalau ikan punya berhala, bentuknya mirip ikan. Jadi, apa itu berhala? Kemudian seorang bernama Sokrates mempertanyakan, apakah etika lebih rendah atau lebih tinggi dari para dewa? Apakah hukum lebih rendah atau lebih tinggi dari para dewa? Apakah kebaikan lebih rendah atau lebih tinggi dari para dewa? Sokrates menyimpulkan kebaikan lebih tinggi daripada para dewa. Dewa-dewa pun harus tunduk kepada kebaikan yang melampaui dirinya. Jadi, agama politheistik memerlukan satu prinsip pengatur yang bukan salah satu dari dewa. Dewa-dewa pun nasibnya ditentukan oleh prinsip yang mengatur. Seringkali para dewa itu mendengar oracle atau nubuat, nubuat palsu yang mengatakan, “Kamu akan punya anak,” atau, “Kamu akan diperangi oleh anakmu,” atau “Kamu akan dibunuh oleh anakmu.” Lalu, dewa-dewa itu bertindak berdasarkan oracle itu, “Saya akan dibunuh anak saya? Kalau begitu, sebelum anak saya lahir, saya telan dulu dia.” Ini cerita dewa-dewa dari Yunani. Jadi, ada prinsip yang lebih tinggi dari para dewa, apakah prinsip itu? Ini ide yang diselidiki oleh Socrates dan dilanjutkan oleh Plato, sama-sama berpikir tentang prinsip paling tinggi, lebih tinggi daripada para dewa.

Tetapi, iman Kristen yang dimulai dari tradisi Yahudi di Perjanjian Lama, menceritakan tentang Allah yang melampaui segala sesuatu. Apa itu kebaikan? Kebaikan itu adalah sifat yang ada pada Allah. Apa itu kasih? Kasih itu ada pada Allah. Allah adalah yang paling besar, yang paling tinggi, yang berdaulat, yang mengatur segala sesuatu berdasarkan kekudusan, keadilan dan cinta kasih yang Dia miliki. Segala hukum tertinggi ada pada Allah, pengaturan paling utama ada pada Allah. Allah tidak diatur oleh apapun, selain oleh diri-Nya sendiri. Baik dan buruk bukan menentukan Allah, tapi Allah adalah penentu baik dan buruk. Segala hal dimulai dari Allah, segala prinsip dimulai dari diri Allah, segala pengaturan ditentukan oleh Allah yang berdaulat. Ini tidak ada dalam ajaran manapun! Jadi, Allah adalah Allah yang berdaulat, lebih tinggi dari semua dewa-dewa Romawi, lebih tinggi dari semua dewa-dewa Babel. Kalau Allah lebih tinggi dari semua dewa, berarti Allah ini lebih agung, lebih besar dari segala yang ada di dalam pikiran manusia. Bayangkan, pikiran manusia waktu menghayalkan berhala pun tetap tidak bisa menghayalkan berhala setinggi Tuhan! Saudara kalau berpikir tentang Allah, Saudara akan menemukan pikiran Saudara buntu, tidak bisa sampai tuntas. Kalau saya tanya apakah Allah berdaulat dalam segala sesuatu? Iya. Lalu, Saudara tanya lagi dalam diri “kalau Allah memang berdaulat, mengapa Dia izinkan keadaan kacau terjadi?” Susah dijawab! Tapi, Allah mengatur semua, dan Allah akan mengatur segalanya jadi baik, meskipun tadinya ada yang jahat.

« 3 of 8 »