Jadi kita memahami Allah secara tema atau secara pikiran yang selalu akan ada seperti kontradiksi, seperti tidak bisa didamaikan satu dengan lain. Allah kita terlalu besar untuk persatuan pikiran dalam diri kita yang membuat kita nyaman menerima Dia. Selalu ada hal-hal yang di luar pikiran yang tidak mampu kita satukan di dalam kemampuan pikiran kita untuk mensistematisasikan segala pengertian yang kita terima. Semua hal tentang Tuhan indah dan baik, tapi ada hal-hal yang tersembunyi bagi pikiran kita. Ini ditekankan di dalam Ulangan 29 misalnya, hal-hal yang kamu tahu yang diajarkan kepadamu ajarkanlah turun-temurun. Hal-hal yang kamu tidak mungkin ketahui, itu rahasia Tuhan. Kamu mati-matian cari tahu pun tetap tidak bisa tahu. Maka Allah tidak mungkin diketahui secara sempurna, tapi Allah harus diketahui sampai level pikiran yang kita mampu. Jadi, bayangkan bahkan pikiran manusia pun tidak bisa mengkhayalkan Allah seperti seharusnya Allah itu dipahami. Mana ada dongeng yang menyatakan tentang Tuhan seperti iman Kristen? Iman Kristen sulit diterima, sulit dipahami, sulit diterima oleh pikiran dan pikiran kita telah mengatakan “saya sudah mengerti”.

Saudara coba lemparkan tema Tritunggal, ini pun membuat orang bingung. Banyak orang mengatakan, “Saya tidak mau percaya imannya Kristen, karena percaya Allah Tritunggal. Apa itu Tritunggal? Tritunggal itu khayalan manusia.” Kita jawab balik dengan mengatakan tidak ada orang bisa mengkhayalkan Tritunggal. Menjelaskannya pun tidak bisa, bagaimana itu dikhayalkan? Maka, tema Ilahi dari seluruh mitos dan seluruh agama tidak pernah bisa mencapai level setinggi Wahyu Tuhan tentang diri-Nya. Tapi heran, Allah yang sangat tinggi lebih tinggi dari kemampuan manusia berpikir adalah Allah yang rela merendah, lebih rendah dari semua mitos, lebih rendah dari semua agama, lebih rendah dari semua pikiran manusia. Ini tentang kerelaan Ilah merendahkan diri. Tidak ada cerita di mana Ilah merendahkan diri sampai membiarkan kemuliaan-Nya dihina serendah Kristus. Kristus ambil posisi orang berdosa, itu posisi rendah bukan main. Dia ambil level yang sama dengan pendosa, dikutuk seperti orang berdosa, dimatikan seperti orang berdosa. Dari yang sangat tinggi menjadi sangat rendah. Ini tema yang sangat mengagumkan. Di mana ada Tuhan yang seperti ini? Kalau kita tanya, “Allah, mengapa Engkau rela merendahkan diri? Mengapa mengutus Anak Tunggal-Mu menjadi sama seperti kami yang adalah sampah yang rendah?” jawabannya adalah karena kasih. Maka, pengertian tentang cinta kasih adalah pengertian yang hanya mungkin menjadi sempurna di dalam diri Allah yang rela berinkarnasi. Ini tema yang sangat menarik. Tidak ada hal seperti ini di dalam sejarah manusia, hanya di dalam Kitab Suci. Maka Saudara kalau mengatakan, “Doktrin itu membosankan, doktrin itu membuat saya bosan. Saya tidak mau lagi belajar tentang doktrin, yang penting mengasihi!” Saudara tidak tahu betapa bodohnya statement itu. Doktrin tentang Tuhan itulah yang menarik bagi orang Kristen mula-mula, sehingga mereka rela menderita demi memegang iman yang benar ini. Maka, mari pikirkan lagi yang dikatakan Richard Mouw, orang Kristen mula-mula sebelum Kekristenan menjadi agama resmi di dalam Kekaisaran Roma adalah orang-orang yang sangat giat mencintai Tuhan dan rela kehilangan segalanya demi memegang iman kepada Tuhan. Apakah mereka suka menderita? Tidak! Apakah penderitaan itu ringan? Berat! Waktu orang mengatakan, “Aku siap mati demi nama Kristus!” Apakah itu kalimat yang ringan? Tidak! Sulit diucapkan! Tapi, di tengah kesulitan seperti ini mereka pilih tetap percaya kepada Kristus dari pada menjadi hilang iman! Dari pada menyangkal Kristus! Itu sebabnya, Kekristenan mula-mula menyebar dengan sangat cepat dan penganiayaan tidak menghentikan penyebarannya. Ini mengherankan!

Lalu, kalau Saudara mengatakan, “Paling yang percaya Kristus itu orang-orang yang rendah, orang-orang yang tidak punya harapan apa-apa, mungkin sudah mau mati, sehingga tidak lagi ada kemungkinan untuk mempunyai hidup sukses. Dari pada mati tidak ada arti lebih baik mati demi suatu penyebab,” begitu bukan? Kekristenan menyebar memang awalnya dari level rendah, tapi tidak lama kemudian pemimpin-pemimpin mulai percaya. Paulus mengatakan kepada Jemaat Korintus, “Awalnya yang percaya Kristus orang-orang rendah. Kamu keadaannya rendah, tapi setelah itu kamu mempunyai keadaan makin tinggi, makin dipercaya, makin naik kedudukan, makin jadi orang penting.” Banyak orang setelah jadi Kristen punya hikmat untuk hidup melampaui orang-orang lain. Salah satu yang menyebabkan iman Kristen membuat penganutnya menjadi unggul adalah jiwa studi. Mengapa studi itu adalah panggilan di dalam prinsip Kristen? Studi membuat orang Kristen maju. Paulus mengatakan di Korintus, “Awal kamu terima Injil, kamu siapa? Orang rendahan. Sekarang lihat, banyak orang tinggi di antara kamu, banyak pemimpin.” Mengapa orang Kristen dipercaya? Jawabannya adalah karena orang Kristen punya hikmat. Dapat hikmat dari mana? Dari studi. Waktu orang jadi Kristen, mereka harus melakukan beberapa hal, yang pertama mereka mesti selidiki Kitab Suci. Ini ditekankan di dalam Kitab Kisah Rasul, ini bukan ditekankan secara perintah, tapi ini fakta. Orang yang Kristen menjadi punya kerinduan menyelidiki Kitab Suci. Jadi sesuatu yang unik dimiliki oleh orang Kristen yaitu penyelidikan Kitab Suci. Setelah percaya mereka penasaran, “Apa benar seperti ini? Yang diajarkan kepada saya itu dari Kitab Suci atau khayalannya Paulus?” Mereka mulai studi, mereka mulai pelajari kitab. Mereka membanjiri tempat ibadah atau rumah-rumah di mana ada kebaktian. Belajar adalah tema menjadi Kristen.

Agama lain apakah juga belajar? Tidak! Apakah ada agama lain menyelidiki Kitab Suci seketat orang Kristen? Tidak! Maka, ibadah di rumah-rumah selalu diisi oleh penyelidikan Firman. Lalu, setelah itu kumpulan-kumpulan orang Kristen adalah kumpulan orang yang menyelidiki Firman. Mereka ingin tahu dan ini adalah keinginan untuk tahu yang berasal dari Kitab Suci, “Saya mau tahu apa yang Tuhan nyatakan di sini,” Ini membuka cakrawala orang Kristen untuk memahami dunia. Di abad ke-16 seorang tokoh reformator bernama John Calvin mengatakan bahwa kalau orang Kristen percaya kepada Kristus, mereka percaya karena Injil, bukan karena apapun yang lain. Tapi, setelah mereka percaya kepada Injil, mereka mulai melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan di seluruh ciptaan, mereka mulai mengagumi ciptaan dan ini terbukti. Sebelum Calvin bicara, orang-orang yang menjadi Kristen sangat penasaran tentang alam, mereka mulai curiga kepada semua mitos tentang alam, mereka mulai ingin bukti dengan penyelidikan. Maka ilmu alam berkembang setelah orang menjadi Kristen. Banyak ahli-ahli di dalam bidang medis, di dalam bidang astronomi, dulu masih astrologi namanya, di dalam bidang alam yang munculnya dari biara. Mengapa biara memunculkan orang yang ahli? Mengapa orang pintar masuknya ke biara? Karena setelah mereka masuk biara, mereka menyelidiki Kitab Suci. Mereka lihat hubungan paralel antara Kitab Suci dan alam. Hukum Tuhan dinyatakan di dalam Kitab Suci juga dinyatakan di dalam alam. Mereka mulai lihat Allah yang sama. Allah yang memberi firman dan Allah yang menciptakan dunia. Dari sini ilmu pengetahuan berkembang.

 Maka, kalau gereja tidak lagi mengajarkan jemaat untuk belajar, gereja kehilangan identitas. Sekarang orang Kristen diajar untuk senang-senang, beribadah senang-senang, kumpul-kumpul senang-senang, whatever makes you happy! Kamu kumpul mau curhat, kita membuat kelompok curhat bersama, kelompok tumbuh curhat. Ini bukan Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), ini kelompok tumbuh untuk curhat. KTB bukan untuk curhat. KTB itu untuk bertumbuh, utamanya bukan wadah curhat. “Ayo kita kumpul, saya tidak punya wadah curhat!” Saudara tidak harus curhat untuk bertumbuh, tapi kalau bertumbuh, Saudara mesti belajar untuk membagikan hal yang membuat Tuhan dinyatakan, baik dalam pergumulan, kelemahan, kegagalan Saudara maupun di dalam kesuksesan, keberhasilan atau penopangan yang Tuhan berikan.

« 4 of 8 »