Predestinasi dan Hidup Suci

Di sini ditekankan orang yang lembut hati, dilembutkan hatinya oleh Tuhan dan orang yang keras hati, dikeraskan hatinya oleh Tuhan. Ayat 17 menyatakan Tuhan membangkitkan Firaun supaya memperlihatkan kuasa Dia di dalam Firaun. Kekerasan hati Firaun tidak lepas dari rancangan Tuhan. Ada beberapa cara memahami ketetapan Tuhan dalam menyelamatkan dan membiarkan sebagian lainnya atau tetap di dalam kebinasaan. Pertama kita tidak mungkin bisa pahami dengan sempurna. Kita sedang masuk dalam pikiran yang hanya Tuhan bisa mengerti dengan sempurna. Saudara mungkin mengatakan semua juga tentunya hanya Tuhan, betul. Kita bergumul untuk mengerti, tapi pengertian sejati yang sepenuh-penuhnya hanya mungkin dipahami oleh Tuhan sendiri. Tapi ini tidak berarti Tuhan tidak menginginkan kita bergumul dan memahami setiap Firman. Ketika Dia mengajarkan kepada kita tema-tema tertentu di dalam Kitab Suci, tugas kita memahami baik dan mohon Tuhan tuntun supaya kita tidak salah memahami kebenaran firman Tuhan. Di dalam pandangan orang-orang yang menolak doktrin predestinasi, mereka mengatakan Tuhan tidak bersalah karena bukan Tuhan yang mengeraskan hati. Jadi kalau orang keras hati, itu kesalahannya sendiri, Tuhan tidak bertanggung jawab. Orang dalam tradisi Reformed mengatakan Tuhan tidak bertanggung jawab untuk kekerasan hati Firaun, tapi Alkitab juga mengatakan Tuhan mengeraskan hati Firaun. Kalau Tuhan mengeraskan hati Firaun bukankah seharusnya Tuhan bertanggung jawab? Argumen ini tidak kuat karena memberikan pertangggungan jawab kepada Tuhan. Tuhan tidak bertanggung jawab kepada diriNya untuk tindakan yang Dia lakukan. Jadi ada sesuatu yang miss di sini. Kita tidak meletakkan Tuhan di bawah akuntabilitas atau di bawah penilaian Tuhan sendiri. Kalau Saudara mengatakan “saya ingin tahu rancangan Tuhan itu adil atau tidak”. Bolehkah kita tanya itu ke Tuhan? Tuhan mengizinkan kita tanya. Kitab Ayub penuh dengan pertanyaan. Tapi Saudara harus membedakan antara pertanyaan dengan keluh kesah atau pertanyaan yang menggugah kita untuk bertanya kepada Tuhan, karena kita sedang berada di dalam keadaan meratap, dengan pertanyaan yang dilemparkan karena berada dalam kepahitan, tidak lagi mau ikut rencana Tuhan. Di dalam Kitab Suci dibedakan ratapan dan bersungut-sungut, kedua hal ini benar-benar harus kita pegang. Tuhan marah kepada Israel yang bersungut-sungut di padang gurun. Tapi Tuhan tidak marah kepada Yeremia, Ayub, dan Pemazmur karena mereka mempertanyakan dengan keinginan tunduk kepada Tuhan. Mereka mempertanyakan karena desakan keadaan yang membingungkan “dimanakah janji dan penyertaan Tuhan? Mengapa kami tidak merasakannya?”, kadang-kadang mereka tanya dengan kalimat keras kepada Tuhan. Tapi Tuhan penuh kesabaran menerima dan mengizinkan orang meratap sedemikian. Tapi tidak demikian dengan keluh kesah, karena mereka memanfaatkan kemungkinan mempengaruhi orang lain, lalu bersama-sama mempengaruhi mau memberontak kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan tidak bisa menjadi pemimpin kami”, itulah keluh kesah, itulah sungut-sungut. Maka di dalam Kitab Suci, dua hal ini dibedakan. Saudara jangan mencegah orang yang bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa hidup saya begitu keras, apakah Tuhan lupakan saya?” Waktu orang menyadari “saya berada dalam keadaan yang seharusnya tidak ditimpa seperti ini”, seperti Ayub, maka dia tanya kepada Tuhan. Dan Tuhan memberikan kesempatan dia untuk bergumul sedemikian dan mempertanyakannya kepada Tuhan. Tapi Tuhan tidak memberikan kesempatan untuk orang pergi ke orang lain dan mengatakan “untuk apa kita melayani Tuhan, untuk apa kita terus datang kepada Tuhan kalau begini caranya kita tidak perlu menjadi umat Tuhan”, itu adalah sungut-sungut, itu adalah pemberontakan kepada Tuhan. Saudara punya beban hati, katakan kepada Tuhan, bukan kepada orang lain, provokasi orang lain untuk membenci Tuhan. Itu keadaan yang tidak baik, itu tidak pantas. Karena kita tidak mengerti keadilan Tuhan di dalam gambaran yang penuh, tapi kita sudah berani menghakimi dan mengajak orang lain untuk mempertanyakan Tuhan juga. Tapi kalau kita dengan serius datang kepada Tuhan dalam doa, Tuhan tidak pernah membuang orang yang doa dengan jujur, lalu memanjatkan hal-hal yang mempertanyakan keadilan Tuhan bertindak. Tapi orang-orang seperti ini harus melakukan itu dengan segala kerendahan hati. Dia melakukan dengan kesadaran “saya tidak akan pernah tinggalkan Tuhan, baik atau buruk saya akan datang kepada Tuhan, keadaan apa pun saya akan datang kepada Tuhan”, ini orang yang jujur dan merupakan umat yang sejati. Tetapi orang yang tanya ke Tuhan lalu mengatakan “kalau begini saya kecewa dan tidak mau Tuhan lagi”, itu orang bukan mau mencari jawaban dari Tuhan, dia tidak benar-benar ber-Tuhan. Karena dia tidak mau terus berpegang kepada Tuhan dalam setiap keadaan.

Apa bedanya umat sejati dengan yang palsu? Ketika bangsa Israel di padang gurun, sebagian adalah pemberontak yang tidak mau Tuhan dan hanya sebagian kecil, bahkan generasi yang lebih muda, itu yang Tuhan berkati dengan kemungkinan masuk Tanah Kanaan. Orang lain adalah umat palsu, tidak benar-benar mau Tuhan. Mereka sedang pikirkan alternatif Tuhan atau yang lain. Saudara tidak bisa pikirkan alternatif Tuhan atau yang lain, karena yang lain itu tidak ada. Saudara berpegang kepada Tuhan atau Saudara berpegang pada ketiadaan, ini pilihanya. Maka jangan mengatakan “saya tidak tahu masih terus akan ikut Tuhan atau tidak”, itu kalimat secara logis bodoh, itu kalimat kalau di dalam anugerah Tuhan kita lihat merupakan kalimat yang tidak mengerti betapa baiknya Tuhan. Maka Yosua pernah bertanya kepada orang Israel, “kamu mau melayani Tuhan? Saya minta komitmenmu, kamu mau berpegang kepada siapa sampai mati?”. Iman bukan sesuatu yang main-main, iman adalah pilihan, satu kali pilih Saudara mau berkomitmen di dalam setiap keadaan. Maka Yosua mengatakan “pilihlah pada hari ini siapa yang kamu mau sembah. Apakah engkau mau sembah dewa-dewa nenek moyangmu di Mesopotamia, yang Tuhan sudah singkirkan karena Tuhan memanggil Abraham keluar dari sana. Dewa-dewa di sana tidak ada, itu hanya patung-patung buatan manusia dan legenda-legenda cerita mitos yang dikarang oleh manusia. Lalu kamu mau sembah siapa? Jika kamu tidak mau menyembah dewa-dewa di Mesopotamia dan kamu tidak mau menerima dewa-dewa di Kanaan, sembahlah Tuhan. Lalu mereka mengatakan “iya, kami akan lakukan”. Tapi Yosua mengatakan “kamu jangan pikir ini komitmen sembarangan”. Banyak orang komit dengan kalimat tapi hatinya tidak pernah sungguh-sungguh mau melakukan komitmen ini. Komitmen sesuatu yang menunjukkan karakter Saudara, siapa yang lemah dalam memegang komitmen yang penting, dia bukan orang yang baik, dia mesti bertobat dan menunjukkan karakter yang sejati. Maka Yosua mengatakan “kamu tidak sanggup, saya sudah melihat bangsa Israel di padang gurun terus mengaku dengan mulut: saya mau ikut Tuhan, kami menyembah Tuhan. Tapi faktanya tidak ada”. Di dalam keadaan goncang, Tuhan ditinggalkan. Di dalam keadaan sulit makan, mereka mengatakan “mau kembali ke Mesir”. Di dalam keadaan sulit air, mereka mengatakan “mau kembali ke Mesir”, inikah komitmen? Kalau komitmen hanya di keadaan baik, itu bukan komitmen. Itu adalah jiwa oportunis yang diberi makan oleh situasi, situasional sekali. “Saya mau ikut Tuhan kalau baik, kalau tidak baik saya tidak mau”. Kadang-kadang dalam keadaan buruk, ini sebuah ujian penting untuk komitmen dari hati Saudara kepada Tuhan dan ini menunjukkan karakter Saudara. Jika engkau mengatakan “saya mau ikut Tuhan”, seserius apa, sepenuh apa kekuatanmu untuk menjalankan janji itu? Karena tanpa komitmen kepada janji, Saudara bukan siapa-siapa. Tidak peduli berapa banyak uang didapatkan, berapa pintar pikiran, berapa besar bakat jika Saudara tidak punya komitmen, Saudara adalah orang rendah. Maka Yosua bertanya “kamu mau menyembah Tuhan? Kamu harus sering dengar peringatannya. Kamu harus janji mau taat firmanNya”, tanpa berinteraksi dengan Tuhan, tidak satu pun dari kita akan pegang komitmen perjanjian ini. Maka orang Israel dituntut oleh Tuhan untuk mengikat perjanjian dengan Dia, dan Dia berjanji akan setia kepada Israel. Tuhan ikat diriNya dengan umat perjanjianNya, dan umat perjanjianNya juga mengikat perjanjian dengan Tuhan. Maka ketika perjanjian ini dibuat, Tuhan mempunyai umat di bumi yang memberitahukan seluruh dunia bahwa Allah adalah Allah dan mereka gambar Allah yang ditebus dan dipulihkan sebagai bangsa. Ini pekerjaan besar, panggilan mulia. Maka ketika Tuhan memanggil Israel, Tuhan panggil dengan segala keseriusan, baik dari pihak Tuhan maupun Israel.

Doktrin Predestinasi 3

Kita melanjutkan pembahasan tentang pilihan Tuhan. Ini menjadi kontroversi di dalam gereja, apakah Tuhan memilih siapa yang diselamatkan dan memilih untuk membiarkan yang lain menjadi binasa. Ketika orang mendengar pengertian ini, mereka bereaksi dengan dua cara, pertama seperti Paulus, “terpujilah Allah”. Kedua, mulai mempertanyakan keadilan dari pengertian ini. Ketika Agustinus berbicara tentang konsep anugerah dan menekankan bahwa keselamatan manusia diberikan karena Tuhan berbelas-kasihan. Pelagius mengatakan, “tidak, manusia punya kebebasan, bisa menentukan sendiri mau terima anugerah atau tidak”. Manusia bisa memilih sendiri apakah dia merespon atau tidak. Ketika Martin Luther menekankan tentang kejatuhan total dan ketidakmampuan manusia untuk kembali kepada Tuhan, Erasmus meresponi dengan menyatakan manusia punya kehendak untuk memilih dan punya kemampuan untuk melakukan apa yang tepat jika dia memilih untuk melakukannya. Jadi yang satu menekankan pilihan Tuhan, yang lain menekankan manusia memilih. Ketika Calvin menekankan tentang tema predestinasi, respons yang diberikan kepada dia ada dua, pertama, dari Pigius. Dia menulis sebuah buku menentang konsep predestinasi dari Calvin. Lalu Calvin meresponi Pigius dengan menulis buku untuk me-reply dia. Maka mereka saling serang untuk memberikan argumen bagi posisi masing-masing. Kedua, kaum Remonstran, diawali oleh Yakobus Arminius. Ia adalah murid Calvin yang mencintai semua commentary Calvin, dia mengatakan dia belum pernah membaca tafsiran Alkitab seindah, seakurat dan semembangun commentary Calvin. Itu sebabnya dia tidak malu mengakui diri sebagai murid Calvin. Tetapi dia keberatan dengan pengertian predestinasi, karena ini membuat manusia seperti tidak ada pilihan selain menerima apa yang Tuhan sudah tentukan bagi dia. Tradisi Reformed Belanda dari pengikut Arminius, akhirnya mengeluarkan lima statement penolakan ajaran predestinasi Calvin disebut dengan 5 poin kaum Remonstran. Kalau kita membaca keberatan mereka, kita akan melihat ini masih lebih baik daripada keberatan yang dilemparkan sekarang. Karena yang mereka tekankan adalah sesuatu yang dari tradisi Reformed tidak anti. Manusia mempunyai kesadaran untuk memilih, tidak ada orang Reformed yang mengatakan manusia tidak punya kesadaran. Manusia punya kesadaran, manusia tahu mana baik mana jahat, manusia bisa punya kemampuan untuk pilih mana baik mana jahat di dalam aspek moral. Tetapi ketika menyangkut relasi dengan Tuhan, buku pertama Institutio Calvin, dikatakan manusia tidak mau datang ke Tuhan. Ini bukan masalah apakah manusia mempunyai pengetahuan untuk melakukan yang baik atau jahat. Manusia punya kemampuan untuk melakukan mana baik mana jahat di dalam aspek moral. Tetapi di dalam kaitan dengan mengenal Tuhan, manusia tidak punya kemampuan dan kemauan untuk datang ke Tuhan. Manusia memusuhi Tuhan di dalam hatinya. Ini jadi pergumulan yang penting dari buku Institutio. Di Jenewa, Calvin mengirim banyak misionaris Eropa karena dia percaya bahwa Reformasi adalah perang untuk memperbaiki ibadah. Ketika misionaris dikirimkan, mereka mulai mendirikan gereja aliran Refromed, menekankan bahwa kita mesti kembali kepada Tuhan. Mereka digerakkan oleh teologi agama atau pengertian tentang apa itu agama. Ada yang mengatakan, Protestan tidak mungkin mengirim misionaris, karena Protestan percaya predestinasi. “Mana mungkin kamu menginjili, kan Tuhan sudah pilih mana selamat mana tidak”. Pengertian ini salah fatal. Kalau kita membaca baik-baik pikiran Calvin, predestinasi adalah bagian kecil dari teologi dia. Dia punya pembahasan yang begitu beragam. Bahkan De Young, yang memelajari Calvin, mengatakan “sayang, orang cuma ingat beberapa aspek pemikiran Calvin. Padahal Calvin mengerti banyak hal. Kita cuma paham dalam aspek teologi dan celakanya kita cuma mengenal dalam pengertian predestinasi. Satu yang penting dari pemikiran Calvin adalah teologi agama, dia menekankan bagaimana manusia punya pengenalan akan Tuhan di dalam diri, tetapi tidak pernah sampai kepada Tuhan yang sejati. Apa yang salah? Tuhan memanggil kita dengan memberikan hati yang mencari Dia, tapi dosa merusak sehingga arah kita bukan mencari Tuhan, tetapi mencari yang lain. Itu sebabnya kita menjadi penyembah berhala, karena mencari yang lain dengan dedikasi dan dorongan yang Tuhan berikan untuk mencari Dia. Jadi dengan kekuatan untuk mencari Tuhan kita pakai itu untuk mencari yang lain, sehingga kita menjadi penyembah berhala. Berhala mengikat hidup kita dengan sangat keras, tidak bisa lepas. Ini pikiran yang Calvin tekankan. Maka ketika pengikutnya membaca, mereka menyadari kalau semua orang mau mencari Tuhan tapi dibelokkan dosa, maka pasti ada hal yang sama dari berita Injil dengan komitmen agama apapun, tetapi komitmen agama yang lain menjadi menyimpang. Ini yang dipahami oleh pengikut Calvin, sehingga ledakan penginjilan pun dimulai. Penginjilan baik dari tradisi Lutheran maupun Reformed sangat besar bahkan melampaui gerakan penginjilan yang dikerjakan tradisi Katolik sebelumnya. Kalau tradisi Katolik menyebarkan penginjilan bersamaan dengan armada laut yang kuat, maka gerakan Protestan di dalam abad 18 akhir membagikan lewat para misionaris.

Ada orang datang, termasuk ke Indonesia, punya tradisi Reformed. Orang seperti Van Asselt, salah satu pendiri HKBP, berdoa dan mengatakan “kami pergi menginjili, kami akan jadikan daerah ini mengenal Tuhan.” Ini awal perkembangan HKBP, penginjil dari tradisi Reformed bergerak. Mengapa mereka bergerak memberitakan Injil? Karena teologi agama. Ternyata orang yang menyembah patung, batu, roh nenek moyang, mengapa mereka bisa dedikasi total bahkan rela korbankan hidup? Karena ternyata itu gerakan yang Tuhan berikan di dalam hati untuk mencari Tuhan. Semua orang mencari Tuhan, tapi karena dosa pencarian itu dibelokkan ke yang lain. Ini sebabnya mereka merasa kalau begitu Injil bisa disampaikan ke agama mana pun, sehingga gerakan penginjilan dimulai. Jadi, dari tradisi Reformed, gerakan penginjilan didorong oleh pengertian teologis, ternyata ada kemungkinan memberitakan Injil secara teologi, ternyata Alkitab sudah memberitakan semua agama mencari Tuhan, semua agama ingin menyembah Allah, tapi mereka diselewengkan oleh hati yang berdosa, sehingga mereka mencari berhala. Ini sebabnya mereka pergi memberitakan Injil. Jadi di dalam tradisi Reformed ada banyak pengertian penting bukan hanya predestinasi, tapi predestinasi juga adalah pengertian penting yang banyak dibantah dan banyak ditentang. Maka para pengikut Remonstran mengatakan “kami menolak karena ada 5 poin keberatan kami. Kami tidak percaya manusia tidak mempunyai kemungkinan untuk percaya, kemungkinan untuk berespon”. Maka Canon of Dort di Belanda dibuat untuk menjawab keberatan ini.

Doktrin Predestinasi 2

Rancangan Tuhan bukan hanya mengenai keselamatan kita, tetapi mengenai pemanggilan orang-orang untuk menjadi milik Tuhan. Ini penting karena kita melihat di dalam Reformasi ada dua gerakan yaitu gerakan Reformasi angkatan pertama, dipimpin Martin Luther. Tidak ada orang mempunyai posisi sepenting dia karena ketika Reformasi berlanjut dan generasi kedua muncul kita melihat sekelompok orang, salah satunya Calvin, yang berpengaruh untuk memberikan pertumbuhan Reformasi di Eropa. Tapi tidak ada yang mendominasi seperti Luther dalam memberikan pengaruh. Maka Luther adalah tokoh yang sangat penting, apa yang dia katakan merombak pemikiran gereja Tuhan. Ada hal unik dari Reformasi Luther yang tidak lagi dilanjutkan di dalam generasi berikut. Pertama, Reformasi yang menekankan tema Re-discovery of The Gospel, penemuan kembali Injil. Di dalam pemikiran Martin Luther, gereja Tuhan sudah lupa berita Injil, sehingga perlu diingatkan kembali. Tuhan memakai Luther untuk mendobrak dan memberikan Injil kepada gereja Tuhan, bahwa kita dibenarkan karena Kristus. Pembenaran oleh iman adalah cara paling penting untuk mengkhotbahkan Kristus, sebab jika engkau diselamatkan karena iman kepada Dia maka Dialah yang memberikan keselamatan itu. Kristus yang membuat kita benar bukan diri kita. Ketika Luther menekankan tentang pentingnya Inijl, dia menyatakannya dengan doktrin pembenaran oleh iman. Apakah gereja ingat hal ini? Tidak, meskipun gereja di dalam sejarah terus diingatkan tentang tema ini, tetapi pada zaman Luther, gereja melupakannya. Sehingga Luther mengatakan ketika dia dibangkitkan oleh Tuhan, dia berkhotbah menyatakan Injil untuk menggoncang Eropa, seperti yang belum pernah dilakukan siapapun sebelumnya. Dan menurut Martin Luther ini adalah tahap akhir dari sejarah, karena setelah gereja Tuhan dipulihkan, tinggal tunggu satu lagi yaitu orang Yahudi menerima Injil, maka Tuhan datang kembali. Tapi generasi berikutnya dari Reformasi menekankan tema yang lain, bukan berarti mereka menolak tema Martin Luther. Tapi mereka sadar ada satu hal penting yang Luther belum lakukan, yaitu memerangi penyembahan berhala di gereja. Sehingga tema dari Reformasi generasi berikut, dari Calvin dan rekan-rekan, adalah kita perlu bukan cuma menyatakan Injil yang sudah dilupakan kembali diingat, tetapi kita perlu menekankan pentingnya gereja, cara beribadah yang salah harus dikoreksi. Penyembahan berhala tidak bisa dipertahankan dalam gereja.

Di dalam pengertian sebelum para reformator, orang mempunyai pemikiran bahwa Kristus adalah Allah sejati dan memang Dia adalah Allah sejati. Tetapi akibat tidak memahami atau melupakan bahwa Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, membuat orang merasa perlu ada pengantara untuk datang kepada Dia. Jika Dia adalah Allah yang mulia, layakkah kita datang kepada Dia? Tidak. “Maka saya perlu diantar oleh Maria, saya perlu diantar oleh tokoh-tokoh yang suci, yang jasanya melampaui yang Tuhan tuntut.” Tetapi Reformasi generasi kedua mengingatkan bahwa mengabaikan bahwa Dia sudah datang menjadi Imam Besar kita, membuat kita tidak mengerti Dia satu-satunya Pengantara. Ketika orang menekankan Yohanes membuktikan Yesus adalah Allah, Calvin justru menekankan Inijl Yohanes tentang Yesus sebagai manusia. Apakah John Calvin tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah? Ini tuduhan yang diberikan oleh musuh-musuhnya. Tapi kalau kita membaca commentary itu kita tahu Calvin mengakui Konsili Kalsedon yang percaya Kristus memiliki 2 natur. Tapi Calvin mengingatkan perlunya memahami keseimbangan yang diberitakan di dalam konsili itu. Itu sebabnya Reformasi generasi kedua lebih menekankan person of Christ, pribadi Kristus untuk menyeimbangkan natur Ilahi dan natur manusia. Ini tradisi penting di dalam Reformed, kita mesti tahu hal ini. Jika kita tidak kenal Tuhan, maka kita sulit bertumbuh. Karena tanpa mengasihi Allah, sulit bagi kita untuk bertumbuh ke arah Dia yang adalah Kepala. Di Efesus ditekankan pertumbuhan itu terjadi karena Kristus adalah Kepala dan kita bertumbuh ke arah Dia. Kalau kita bertumbuh ke arah Dia, maka tidak mungkin kita bertumbuh tanpa mengerti betapa besar kasih Allah di dalam Kristus. Itu sebabnya Efesus menekankan dua hal, yaitu cinta Tuhan melampaui pengertian kita. Dan Paulus mengatakan “saya berdoa supaya kamu mengetahui kasih Allah meskipun itu melampaui segala kemungkinan kita mengetahui”. Mengapa penting untuk mengetahui kasih Allah? Supaya engkau belajar mencintai Tuhan dan di dalam cinta kepada Tuhan ada pertumbuhan. Kita punya kecenderungan ingin sama dengan orang yang kita cintai dan kagumi. Jika kecintaan kita kepada Tuhan tidak ada, maka kita tidak mungkin bisa jadi orang Kristen, karena tidak ada yang dapat mengalahkan gairah dan cinta kasih hati Kita. Tapi bagaimana bisa mencintai Tuhan jika kita tidak mengenal Dia? Maka di dalam pemikiran Calvin, hal paling utama adalah harus mengenal Tuhan. Tuhan mencipta manusia supaya bisa mengenal Tuhan karena inilah yang membentuk manusia. Itu sebabnya firman Tuhan penting karena kita diberikan pengenalan akan Dia melalui firman. Kita boleh bertumbuh di dalam Dia karena kita kenal Dia. Pengenalan ini yang menumbuhkan kecintaan kepada Dia, serta kebencian kepada diri yang lama dengan pengharapan bahwa kita diubahkan. Karena kalau kita benci dosa, tapi kita tidak punya pengharapan diri yang baru, kita akan depresi dan merasa tidak ada guna memperjuangkan hidup yang suci. Tapi jika Kita tahu bahwa “diri saya yang lama sangat jelek dan perlu disingkirkan, dan diriku yang baru di dalam Kristus sedang dijadikan Tuhan di dalam diri saya”, itu akan membangkitkan Kita untuk semakin mengasihi Tuhan. Ini harus kita ketahui, tanpa mengenal ini, kita menjadi Kristen palsu.

Kristus adalah Allah

Ketika Paulus berbicara tentang Allah yang harus disembah, dia menyatakan sebuah doxology atau ucapan puji-pujian kepada Tuhan. Roma 1: 25 “mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja menyembah makhluk dengan melupakan penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin”. Pencipta yang harus dipuji selama-lamanya adalah kalimat pujian atau doxology kalau dalam pengertian tradisi Kristen. Roma 11: 36, dia menekankan pengertian Allah adalah Pemilik dan juga Penyebab dan yang harus dimuliakan dalam segala sesuatu. Dan dia kembali menyatakan doxology, “sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Dalam ayat yang ke-5 dikatakan “Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin” Ini adalah kalimat pujian yang dipanjatkan karena kesadaran siapa Allah. Kita perlu menyadari dan mengalami kesadaran ini, menikmati bahwa mengenal Allah itu bukan hanya peristiwa kognitif. Tapi lebih dari itu, pengenalan ini adalah pengenalan yang membebaskan kita dari segala limpahan atau sukacita yang palsu, karena di dalam hidup kita mencari kemungkinan untuk menikmati kebenaran Tuhan di dalam keadaan yang penuh. Saudara ingin hidup dengan segala hal yang membuat penuh hidup kita. Kita tidak ingin menjalani hidup yang stabil dan standar, kita ingin terjadi sesuatu besar di penghujung hidup. Ini jadi keinginan setiap orang, Saudara masih hidup jadi Saudara punya harapan. Pengharapan itu tidak mungkin diprediksi dengan kemampuan mengatur hidup. Hans Weder mengatakan kalau kita punya cita-cita atau rencana depan yang baik, itu bukan pengharapan. Karena pengharapan lebih dari sekedar menginginkan keadaan baik. Pengharapan adalah sesuatu yang hanya mungkin terjadi dari atas atau dari Tuhan. Maka kalau Saudara punya cita-cita, itu bukan pengharapan, karena pengharapan adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi dengan kekuatan manusia. Jika Saudara mengharapkan pengharapan sejati, maka yang Saudara harapkan jauh lebih besar dari yang dikerjakan manusia. Banyak orang salah mengerti antara pengharapan dan cita-cita sehingga keduanya dikacaukan. Pengharapan versi Alkitab adalah sesuatu yang tidak bisa terjadi dari manusia, sehebat apa pun manusia bekerja. Dalam Alkitab, pengharapan itu seringkali terjadi di luar nalar, di luar semua prediksi manusia. Itu sebabnya kita hidup, sebagai orang Kristen, dengan penuh kelimpahan karena pengharapan. Jika kita tidak punya pengharapan, maka kita belum menikmati kehidupan Kristen sejati. Ketika kita sadar bahwa Allah satu-satunya yang membawa pengharapan menjadi nyata, maka kita akan memuji Dia, kita berdoxology. Kita memuji Tuhan karena Dia mengerjakan hal yang tidak mungkin dicapai manusia. Inilah alasan memuji Tuhan, inilah alasan doxology. Jadi kalau ditanya “mengapa memuji Tuhan?”, Saudara harusnya memberi jawaban bahwa Allah yang akan mengerjakan apa yang saya harap, tapi harapan ini adalah harapan yang saya pegang dengan segala hal bentuk pesimisme karena saya tidak yakin ini bisa terjadi, jadi saya berharap kepada Tuhan. Jadi ketika manusia tidak punya harapan lagi, lalu dia berharap kepada Tuhan, begitu Tuhan menyatakan diri, pada waktu itu dia akan memuji Tuhan, itulah alasan berdoxology.

Memuji Tuhan adalah hal terindah bagi manusia. James K.A. Smith mengatakan manusia adalah makhluk yang mencintai dan manusia adalah makhluk yang memuja. Jika kita tidak memuji, kita tidak menyembah, kita bukan manusia. Manusia bukan manusia karena punya rasio, manusia bisa punya rasio tapi tetap tidak jalankan hidup sebagai manusia. Manusia bisa punya kehendak, tapi tetap tidak menjalankan hidup sebagai manusia, ini perkataan dari John Duns Scotus. Dia mengatakan manusia punya kehendak dan itulah hal paling penting yang kita miliki dan jalankan. Jika kehendak Saudara baik, maka hidup Saudara pun baik. Jika kehendak Saudara buruk, maka banyak pengalaman pahit yang Saudara akan alami ke depan, karena Saudara akan didorong oleh keinginan yang buruk itu. Tapi lebih dari itu, James Smith mengatakan manusia adalah makhluk yang menyembah. Kita akan kosong jika kita tidak menyembah, kita perlu menyembah. Siapa yang disembah? Tentu Tuhan. Tapi manusia tidak didesain untuk menyembah Allah yang abstrak. Menyembah Allah yang astrak berarti Saudara menyembah Allah tapi tidak digerakkan oleh pengertian yang tepat. Pengertian yang tepat tentang Allah sangat diperlukan, kalau kita tidak tahu siapa Dia dan kita tidak kenal Dia, kita akan sulit memuji Tuhan. Lalu bagaimana kita mengenal Tuhan? Biasanya orang Kristen akan mengatakan sesuai Kitab Suci, mengenal Allah berdasarkan firman, mengenal Allah berdasarkan teologi yang benar. Itu pun kalimat yang belum dijelaskan dengan lebih detail. Ini kalimat-kalimat slogan yang perlu penjelasan lebih. Kita sering mendengar orang mengatakan “jangan dengar khotbah tentang Allah yang salah, nanti pengenalanmu akan Allah jadi salah, harus dengarkan Dia berdasakan pengenalan yang benar”. Pengenalan yang benar itu apa? Ini perlu penjelasan dan kita tidak membiasakan diri untuk mendapatkan penjelasan. Kita tidak mau dianggap tidak tahu, sehingga kita sulit bertanya, karena pertanyaan akan menunjukan kalau kita tidak tahu. Tapi kalau Saudara memang tidak tahu, apa salahnya dikenal sebagai orang yang tidak tahu? Kalau Saudara mengambil langkah bertanya, mungkin Saudara akan menjadi pahlawan karena semua orang ingin menanyakan itu, cuma semua orang takut ditertawakan, tapi Saudara mengambil kerelaan ditertawakan dan tidak ada yang menertawakan karena semua juga tidak mengerti. Mengenal Allah yang benar berarti Saudara mendapatkan kaitan yang erat antara hidup di sini dengan siapakah Tuhan. Kita selalu ingin menjawab pertanyaan siapakah Tuhan, tapi Saudara tidak bisa menjawab pertanyaan itu tanpa Saudara mengaitkan siapa Tuhan dengan kehidupan kita di sini. Ketika Calvin menulis Institute of Christian Religion buku 1, dia mengaitkan pengenalan Allah dan pengenalan diri sebagai dua hal yang utuh. Saudara tidak bisa mempunyai pengenalan Allah yang abstrak, tahu informasi tentang Dia tapi Saudara tidak tahu apa kaitannya dengan pergumulan hidup. Tetapi Kitab Suci selalu mengaitkan siapa Allah dengan apa yang terjadi di dunia. Ketika Allah menyatakan diri sebagai Allah perjanjian, itu terjadi karena Dia mengikat perjanjian dengan orang Israel. Waktu Allah menyatakan diri sebagai Allah yang setia, itu terjadi karena orang Israel perlu Pencipta yang mendampingi mereka, menebus mereka, dan membawa mereka ke dalam tanah perjanjian, mereka perlu Allah seperti itu, dan Allah adalah Allah yang seperti itu. Jadi tidak ada tema apa pun tentang Tuhan yang tidak berkait dalam hidup. Maka ada dua hal, pertama adalah tentang Allah, kedua adalah tentang hidup. Dua ini berkait, kita tidak bisa kenal Allah kecuali kita kaitkan Dia dengan hidup. Kita tidak bisa tahu apa yang harus dijalankan dalam hidup, kecuali kita menjalankan hidup sebagai sesuatu yang dijalankan demi Tuhan dan bukan diri kita sendiri. Jadi siapa Allah? Pertama Saudara kaitkan pengenalan akan Allah dengan apa yang dialami di dalam hidup. Baru kita sadar bahwa banyak orang salah mengenal Allah, karena mereka salah merumuskan tentang apa yang harus dipahami dalam hidup. Mengapa sulit bagi kita untuk mengenal Tuhan? Karena kita tidak tahu apa yang harusnya kita temui dan jalankan dalam hidup. Ketika ditanya tentang hidup, kita pun bingung jawaban ini. Ini membuktikan kita sulit mengenal Allah jika kita sulit mengenal makna hidup. Tapi bagaimana tahu apa itu hidup kalau kita kaitkan dengan Allah? Mengaitkan Allah dengan hidup adalah hal yang harus terjadi supaya Saudara tidak mengenal Allah secara abstrak. Kalau Saudara tidak punya paralelnya di dalam hidup untuk mengerti konsep ini, Saudara akan mengenal Allah dengan salah. Termasuk kalau meletakkan itu di dalam konteks yang salah, “Allah itu setia karena kemarin saya mencuri dan Tuhan melindungi saya, tidak ditangkap polisi”, itu mengaitkan kesetiaan Allah dengan konteks hidup yang salah. Ini akan membuat Saudara salah mengenal Tuhan dan Saudara akan mengatakan “puji Tuhan untuk alasan yang salah”. Maka hal pertama yang kita perlukaan adalah mengenal siapa Allah dan mengenal apa yang terjadi dalam hidup, apa yang Dia lakukan di dunia ini, apa yang Dia mau terjadi di bumi, apa yang Dia mau terjadi, apa yang Dia atur supaya terjadi di dalam kehidupan manusia. Sehingga pertanyaan tentang siapa Allah harus dijawab setelah kita merenungkan tentang apa yang harusnya terjadi di dalam hidup manusia. Jadi keadaan manusia yang baik menjadi satu pikiran yang harus jelas dulu, baru kita bisa mengagumi siapa Tuhan. Karena kita tidak akan bisa mengenal Dia lebih dari apa yang Dia kerjakan dalam hidup kita. Calvin juga yang mengatakan ini, kita tidak mengasihi Tuhan kecuali kita mengenal Dia sebagai Allah yang melakukan segala kebaikan yang benar-benar baik, bukan kebaikan lewat versi kita yang sempit, itu yang membuat kita mengenal dan bersyukur kepada Dia. Kita berdoxology, kita akan mengatakan “terpujilah nama Tuhan karena hal ini”. Jadi kita perlu bereskan dulu tentang pengharapan manusia.

Terkutuk Demi Israel

Kita sampai ke dalam pasal 9, berbicara tentang sejarah keselamatan, bagaimana Tuhan menggenapi rencana menyelamatkan bangsa-bangsa lain dengan membiarkan Israel tertolak. Ini satu rencana bagi Paulus yang sulit dipahami, apalagi dia orang Israel yang punya zeal yang besar untuk Israel. Ada beberapa tema yang bisa kita pelajari yang sulit diterima tapi fakta. Kalau kita mau menerima tema ini, kita hanya mungkin bisa menjadi tenang jika kita tahu apa tujuan final Tuhan mengerjakan segala hal yang Dia kerjakan. Apa yang terjadi di dalam sejarah keselamatan, apa yang Tuhan mau buat, itu hanya mungkin berarti jika kita lihat apa tujuan final Allah mengerjakan segala sesuatu. John Duns Scotus mengatakan bahwa ketika Allah menjadikan segala sesuatu, maka tujuan final dia menjadikan segala sesuatu itu adalah supaya Kristus menjadi segalanya. Kristus menjadi segalanya baik di surga maupun di bumi. Ini pikiran yang sangat penting di dalam sejarah Kekristenan. Scotus pernah mengkritik tradisi Dominikan, ada dua tradisi yaitu Dominikan dan Fransiskan. Dominikan adalah tradisi berdebat, ini tradisi biara yang didirikan untuk berdebat dengan orang Muslim. Tradisi ini berdiri tidak beda lama waktunya dengan berdirinya tradisi Fransiskan yang didirikan oleh Franscis dari Asisi dengan menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan menjadi pengaruh besar. Jadi Fransiskan dan Dominikan memengaruhi banyak tempat di Eropa, keduanya sebagai tradisi yang sama-sama kuat, mereka bersaing. Yang satu menekankan keindahan, seni dan juga kerohanian, satu lagi menekankan bagaimana berapologetik, berdebat, dan mengekspresikan kebenaran Kristen dengan cara yang meyakinkan. Salah satu yang dijadikan keberatan dari tradisi Fransiskan adalah ketika orang Dominikan berusaha untuk menjelaskan kedaulatan Allah dengan argumen-argumen yang bagi mereka tidak kena. Argumen-argumennya ada banyak, tapi orang seperti Scotus, seorang Fransiskan, menyerang tradisi Dominikan dengan mengatakan “kamu tidak mengerti yang paling penting dari Tuhan. Yang paling penting dari diri Tuhan itu bukan rasionya Tuhan, tapi kehendakNya Tuhan”. Maka kalau orang Dominikan mengatakan Allah itu Mahakuasa, Dia bisa mengerjakan segalanya, apa pun yang Dia mau kerjakan akan Dia kerjakan. Dia akan mengerjakan hal yang suci dan baik karena diriNya suci dan baik. Tentu semuanya akan setuju dan tradisi Fransiskan juga akan setuju, tapi pertanyaannya adalah apakah kebaikan Tuhan sesuatu norma yang melampaui Tuhan atau ada di dalam Tuhan? Apakah Tuhan tunduk kepada prinsip baik? Menurut Fransiskan, orang-orang Dominikan, termasuk Thomas Aquinas, terlalu banyak menekankan argumen yang membuat seolah-olah Tuhan harus tunduk kepada aturan di luar Dia. Tuhan sendiri seperti harus tunduk dengan keharusan menjaga keadilan, Tuhan seperti harus tunduk pada konsep kasih. Maka Scotus mengkritik argumen seperti itu dengan mengatakan yang paling utama dalam menjelaskan Tuhan adalah kehendak. Tuhan mempunyai keinginan dan kesukaan. Apa yang Dia sukai itu yang Dia kerjakan. Jadi Saudara mengatakan Tuhan itu Mahakuasa karena Dia hanya melakukan apa yang Dia suka. Dia tidak akan melakukan apa yang tidak Dia suka. Kalau Saudara mengatakan “apakah Allah Mahakuasa, bisakah Allah menciptakan Allah yang lain, Allah yang setara dengan Dia? Kalau tidak bisa, Dia tidak Mahakuasa”. John Duns Scotus akan menjawab “mengapa begitu tanda Mahakuasa?”, tanda Mahakuasa adalah Dia akan kerjakan apa yang Dia suka. Tanda Dia Mahakuasa adalah Dia tidak terkurung untuk melakukan apa yang Dia tidak mau. Saudara tidak bisa meminta Dia melakukan apa yang Dia tidak mau, Tuhan hanya melakukan apa yang Dia sukai, yang Dia inginkan. Ini mirip kalau Saudara punya kedaulatan, Saudara akan memilih melakukan apa yang Saudara suka, itu menunjukan Saudara berdaulat. Demikian juga menurut Scotus, Tuhan melakukan apa yang Dia mau, yang Dia sukai.

Pertanyaan berikutnya, “kalau Dia melakukan apa yang Dia sukai, apakah kita bisa pastikan semua yang terjadi di dalam sejarah, apakah semua Tuhan sukai? Kalau semua Tuhan sukai, bagaimana dengan dosa, kekejaman, kecemaran, kejahatan?”. Scotus akan menjawab “Tuhan mempunyai kehendak dan kehendak itu harus kita anggap sebagai yang utama dulu”, jadi Saudara harus tahu apa yang menjadi utama, baru yang lain kita gumulkan sebagai cara untuk mencapai yang utama itu. Maka Scotus memberikan argumen seperti ini bahwa kita melaksanakan hidup sebelumnya kita merancang dalam pikiran kita. Apa yang kita rancang, yang pertama kita pikirkan adalah tujuan rancangan kita. Kalau Saudara ingin pergi ke Surabaya, maka Saudara akan menjadikan ke Surabaya sebagai tujuan final. Lalu Saudara akan memikirkan bagaimana cara ke Surabaya, apakah dengan beli tiket pesawat, mengemudi sendiri atau naik kereta. Cara ini Saudara pilih karena Saudara sudah menetapkan tujuan dulu. Jadi tujuan itu selalu ditetapkan di awal rencana, cara itu belakangan. Tapi waktu Saudara jalankan akan terbalik, cara itu duluan baru tujuan belakangan. Scotus mengatakan cara itu selalu dipikirkan belakangan tapi dilaksanakan terlebih dulu, ini berkait dengan Tuhan. Demikian juga Allah, di dalam merancang segala sesuatu, Tuhan menetapkan tujuan yang paling Dia sukai lebih dulu. Apa yang paling Dia inginkan dalam mencipta? Mengapa Dia mencipta, tujuannya apa? John mengatakan tujuannya adalah kemuliaan Kristus di surga dan di bumi. Mengapa Tuhan menciptakan segala sesuatu? Untuk meninggikan Kristus. Kristus dimuliakan di surga dan di bumi adalah tujuan. Kalau Tuhan merancang tujuan, berarti tujuan itu akan belakangan di dalam penciptaan, ini yang tadi kita lihat dengan rancangan dan tujuan. Tuhan merancang bagaimana caranya meninggikan Kristus di surga dan di bumi? Ada rencana, ada keselamatan, ada penciptaan. Tujuan Tuhan mencipta, menebus manusia, mengizinkan sejarah keselamatan, Israel dipilih, lalu Israel dibuang, Tuhan memanggil bangsa-bangsa lain, semua menuju kepada kemuliaan Kristus di surga dan di bumi. Jadi kemuliaan Dia final tapi itu dalam rancangan Tuhan pertama. Sehingga kalau ada orang tanya “John kamu tahu dari mana kalau tujuan Tuhan yang final itu adalah meninggikan Kristus di surga dan di bumi?”, John akan menjawab “karena itu yang final, yang belakangan di dalam Alkitab, itu yang terjadi terakhir”. Apa yang terjadi terakhir berarti adalah tujuan yang di dalam rancangan Tuhan itu pertama. Kalau John menggambarkan Tuhan berpikir, tentu kita tidak tahu bagaimana Tuhan berpikir di dlaam keterbatasan kita”, tapi John akan mengatakan “Tuhan, seolah-olah mengatakan Aku ingin meninggikan Sang Anak, meninggikan Kristus di surga dan di bumi maka Aku mencipta surga dan bumi, Aku merancang keselamatan, Aku membuat segala hal yang disiapkan untuk meninggikan Kristus di surga dan di bumi”, ini yang Allah siapkan. Maka menurut John, Saudara dan saya tidak bisa menggumulkan apa yang terjadi di dalam dunia kalau kita tidak tahu mengapa Tuhan menciptakannya, finalnya apa. Kalau kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan utama maka Saudara tidak akan punya kesadaran tentang mengapa sesuatu terjadi. Maka dalam pasal 9-11 dia memberikan pengertian mengapa Tuhan beralih dari Israel ke bangsa-bangsa lain. Hal-hal seperti ini perlu kita tahu, kadang-kadang kita berharap bisa mendengat khotbah dan mengharapkan khotbah itu bersifat praktis. Maka hal penting sebelum kita mengerti bagaimana harus hidup, kita harus tahu dulu apa yang Tuhan kerjakan di dalam Kitab Suci, Tuhan melakukan apa saja di dalam sejarah. Karena zaman di dalam Kitab Suci, mulai dari Kejadian sampai Wahyu, memberikan kepada kita pengertian siapa Tuhan di dalam sejarah. Saudara tidak akan menemukan sumber lain yang mengajarkan siapa Tuhan di dalam sejarah, selain Kitab Suci. Maka untuk tahu bagaimana hidup, Saudara harus tahu lebih dulu apa yang Tuhan kerjakan di dalam sejarah, bagaimana Dia bertindak, apa yang Dia katakan kepada manusia, bagaimana Dia menyingkirkan manusia berdosa, ini semua dicatat di Kitab Suci. Kecuali kita mengerti bagaimana Tuhan bertindak dalam sejarah, maka kita tidak mungkin bagaimana Tuhan bertindak sekarang. Jadi caranya bukan “saya menilai hidup saya dulu, saya sudah mengerti bagaimana hidup cuma ada sedikit lubang, itu yang saya harapkan didapat dari khotbah”, tapi khotbah bukan seperti itu. Khotbah akan mengatakan pemahaman kita terhadap hidup itu pun harus kembali ke Alkitab. Firman Tuhan bukan untuk mengisi yang kurang, tetapi mengganti seluruh pemahaman yang salah tentang hidup supaya kita bisa memahami yang benar dengan melihat bagaimana Tuhan menyatakan berkatNya atau murkaNya atau pemeliharaanNya atau hikmatNya di dalam Kitab Suci. Jadi Saudara perlu tahu apa yang terjadi dari Kitab Suci, apa yang terjadi pada Israel di dalam Kitab Suci.

Kebutuhan untuk Dikasihi

Dikatakan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari cinta kasih Allah. Sebenarnya ini bagian dari pengharapan orang Israel, karena ketika orang Israel mendapatkan keadaan dibuang oleh Tuhan, mereka menginginkan untuk dipulihkan dan pulih di dalam pemikiran mereka itu mengandung banyak sekali aspek. Paling tidak ada 5 aspek penting yang mereka kejar, yang pertama mereka rindu Tuhan memulihkan mereka di tanah yang Tuhan janjikan. Kedua, mereka rindu Tuhan memulihkan mereka dengan memberikan raja yang akan memberikan keadilan di tengah-tengah mereka. Mereka juga merindukan supaya Tuhan memberikan kembali damai sejahtera dari penyertaan Tuhan yang tidak kunjung hilang, yang sempurna diberikan. Kemudian mereka juga menginginkan supaya Tuhan menyatakan kasih dan perkenanan Tuhan selama-lamanya. Mereka rindu Tuhan berkata kepada mereka bahwa Tuhan mencintai mereka. Lalu yang terakhir, mereka merindukan Tuhan mengubahkan hati mereka. Ini semua adalah aspek-aspek dari pengharapan Israel di dalam Kitab Yeremia, Yesaya dan Yehezkiel. Apa yang diinginkan Israel? Supaya mereka dipulihkan, semua keadaan yang Tuhan pernah janjikan menjadi sempurna di dalam kehidupan mereka. Tapi di dalam Perjanjian Lama apa yang dijanjikan ini tidak mencapai kesempurnaannya, belum tercapai dengan tuntas. Itu sebabnya setelah penulisan Perjanjian Lama selesai, harus ada seruan dari Yohanes Pembaptis yang menyatakan janji Tuhan sekarang sudah tiba. Perjanjian Lama menyatakan apa yang Tuhan mau berikan, Perjanjian Baru menyatakan bagaimana yang Tuhan janjikan ini sudah terjadi. Apa yang Tuhan mau berikan dan yang Tuhan janjikan, menjadi sempurna di dalam kehidupan gereja Tuhan. Kita melihat bahwa Paulus mengerti pengharapan ini, Paulus mengerti apa yang dia selidiki sendiri dari Perjanjian Lama. Paulus tahu ini yang diperlukan oleh Israel. Sekarang Tuhan tidak hanya menjanjikan bagi Israel, tapi bagi seluruh bangsa yang mau beriman kepada Kristus. Ini kesempurnaan janji yang Tuhan berikan. Itu sebabnya ketika Paulus berbicara tentang Injil, dia berbicara di dalam konteks, dia tidak berbicara dalam tema baru. Paulus bukan pemikir original yang menyampaikan teori baru. Paulus menyampaikan apa yang dia tahu dari Taurat, apa yang dia tahu dari Mazmur, apa yang dia tahu dari Kitab Nabi-nabi, dan dia menyatakan “sekarang saatnya sudah tiba, inilah kegenapan waktu. Apa yang kamu nanti-nantikan sekarang sudah diberikan”. Maka, ketika Paulus memberitakan Injil, dia akan memberitakan pengharapan Israel kepada bangsa lain. Ini sesuatu yang berbeda dengan praktek penginjilan yang kita tahu, kalau kita memberitakan Injil kita menekankan keperluan akan Juruselamat, tetapi tidak membagikannya dengan cara yang diajarkan Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama yang Tuhan ajarkan adalah kebutuhan akan dicintai Tuhan. Semua bangsa memerlukan adanya Allah yang membawa mereka ke dalam relasi yang indah dengan Dia. Ini adalah pernyataan di dalam Kitab Suci, dan fakta yang Paulus temukan waktu dia memberitakan Injil. Ketika dia pergi ke Athena, dia tidak memberitakan tentang Israel secara eksplisit, Perjanjian Lama secara pengutipan ayat. Tetapi dia menyatakan bahwa sama seperti orang Israel punya Tuhan bukan buatan tangan, demikian orang Athena perlu Allah yang bukan buatan tangan. Paulus mengatakan perbedaannya adalah dewa-dewa buatan tangan manusia perlu dipelihara, sedangkan Allah yang bukan buatan tangan manusia yaitu Allah yang sejati adalah yang memelihara manusia. Allah memelihara manusia dan Allah yang mencintai kamu seperti ini yang kamu perlu. Tuhan adalah Tuhan yang menjaga, memelihara, melindungi, menyertai, mendampingi, dan memimpin umatNya. Siapa bangsa yang merasa tidak perlu Ilah seperti ini? Jadi waktu Paulus memberitakan tentang Tuhan, dia memberitakan tentang Allah sejati yang sangat diperlukan oleh semua orang. Kalau kita kupas dan bongkar kebudayaan di zaman kita, di balik kulit yang bagus, ada kekosongan di mana Tuhan yang sejati absen. Kalau melihat kebudayaan modern atau postmodern, kita lihat kecanggihan teknologi, tapi tidak menemukan Tuhan makin dikenal, dicintai, dikagumi, karena manusia seperti punya juruselamat baru, “Kami sudah tahu bahwa buruknya zaman dulu karena orang belum mengerti teori ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, dan segala hal yang diperlukan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena kamu belum tahu maka kamu cari Tuhan. Kami sudah tahu, kami tidak cari Tuhan lagi”. Maka ketika Saudara membaca karya dari para teolog zaman kuno, Saudara akan sadar kita kehilangan banyak hal yang indah, karena kita merasa tidak perlu Tuhan. John Calvin dari buku Institio, mengatakan jika engkau tidak merasa bahwa kebaikan Tuhan adalah sesuatu yang engkau tidak bisa hidup tanpanya, kalau Tuhan tidak baik dan tidak mencurahkan kebaikan kepadamu, kamu tidak mungkin hidup. Kalau engkau tidak mengenal Tuhan sampai segitu, engkau tidak akan mencintai Dia. Manusia tidak mungkin mencintai Tuhan, kecuali dia tahu dia memerlukan Tuhan. Kita bisa lihat bagaimana zaman modern meruntuhkan iman orang dengan mengatakan “kita tidak perlu Tuhan, kita perlu teknologi.”, ini yang meruntuhkan iman manusia. Kalau Saudara mengatakan “saya bukan seperti itu, pak. Saya adalah orang yang tetap beriman kepada Tuhan meskipun teknologi yang baik saya miliki.” Meskipun di satu sisi itu benar, tapi di sisi lain kerinduan untuk mendapatkan Tuhan yang melampaui apa pun mungkin sudah hilang dari kita. Karena mungkin kita tidak siap menukar apa yang menjadi jaminan hidup kita demi mengenal Tuhan, misalnya.

Dalam buku Proslogion Anselm, dia mengatakan bahwa kebutuhan manusia paling utama adalah kenal Tuhan. Orang yang sadar akan kebutuhan ini akan tinggalkan apa pun kalau perlu demi bisa mengenal Tuhan. Ini aspek yang hilang dari kehidupan kita karena tidak pernah mengetahui apa artinya menukarkan keadaan hidup yang lama dengan Tuhan. Kita tidak pernah ada dalam keadaan dimana kita harus memilih mau hidup baik atau Tuhan. Seolah-olah hidup baik dan Tuhan sekarang dengan akrab bisa disatukan, “saya tetap bisa jadi Kristen, saya tetap bisa menikmati mengikuti Tuhan tanpa kehilangan apa pun yang dunia modern tawarkan kepada saya. Sehingga mungkin kita menjadi orang yang luput menikmati hal yang dulu orang Kristen sangat nikmati. Orang Kristen zaman dulu kalau ditanya “mana yang kamu pilih, tetap beriman kepada Tuhan dan hidupmu rusak, hancur, usaha tidak mungkin jalan, uang tidak mungkin kamu terima, kami akan kejar kamu, bahkan mungkin siksa kamu. Masih mau percaya Tuhan Yesus? Kalau kamu menolak Dia, maka kamu akan hidup tenang. Kalau kamu menerima dan mengakui Dia, mungkin kamu akan dianiaya”. Orang Kristen zaman dulu akan mengatakan “kami tidak akan pernah memalingkan wajah dari Kristus. Kami sudah melihat yang paling indah dan tidak akan tergerak untuk keindahan apa pun yang ditawarkan kepada kami. Tidak ada apa pun di dalam hidup kami selain Tuhan. Sehingga jika engkau menyuruh kami untuk meninggalkan Tuhan, engkau suruh kami untuk mati, kami tidak bisa hidup tanpa Dia dan kami harus beriman kepada Dia. Apa pun resiko yang harus kami bayar, kami akan lalui karena kami tidak bisa kehilangan Tuhan”, aspek seperti ini jauh dari kehidupan kita sekarang. Sehingga kita dengan sangat tenang bisa beriman kepada Tuhan dan bisa dengan tenang menjalankan kehidupan yang stabil dan aman. Itu sebabnya Kekristenan menjadi agama yang pelan-pelan kehilangan makna, pengisi waktu lowong, penghibur jiwa jika yang lain sudah gagal. Berapa banyak orang berpaling kepada Tuhan ketika hidup seperti tidak menawarkan apa pun lagi? Waktu mereka berpaling kepada Tuhan, baru mereka sadar selama ini mereka salah memilih hidup karena sebenarnya sukacita sejati, tenang sejati, dan damai sejati hanya mungkin ada di dalam Tuhan. Itu sebabnya, Anselm menulis kalimat indah, jika kamu ingin belajar kenal Tuhan maka sebenarnya kamu sedang belajar mengenal tujuan manusia dicipta. Mengapa Tuhan menciptakan manusia? Supaya bisa kenal Tuhan. Mengapa kenal Tuhan? Jika kamu berusaha cari keindahan, kenyamanan, kesenangan, keagungan yang paling besar di dalam dunia, kamu akan sadar bahwa pencarian kesenangan, keindahan, kebaikan, kemuliaan di dalam dunia sangat remeh dibandingkan dengan kemuliaan Sang Pencipta. Kebenaran di dalam dunia ciptaan adalah sesuatu yang lebih rendah dibandingkan Sang Kebenaran itu sendiri yaitu Allah. Kesenangan di dalam dunia ciptaan jauh lebih rendah dibandingkan dengan sumber kesenangan sejati yaitu Allah. Maka bagi Anselm semakin kita mencari Tuhan dan kenal Dia dengan benar, semakin kita ingin untuk menjadi orang yang menikmati Dia. Tuhan jauh lebihindah dari apa pun yang dunia ini tawarkan. Itu sebabnya ketika orang Israel ada dalam pembuangan, yang mereka rindukan adalah Tuhan kembali berkenan untuk mencintai mereka. “Maukah Tuhan berkenan kembali mencintai kami? ini menjadi pengharapan mereka yang paling besar, dan ini yang Paulus bawa kemana-mana. “Kamu perlu Tuhan karena jika engkau tidak dikasihi oleh Dia, sebenarnya kehidupanmu akan menjadi kosong makna”. Tanpa cinta dari Tuhan, manusia tidak bisa hidup. Kita didesain untuk dicintai oleh Tuhan dan karena itu kita tidak bisa hidup jika kita tidak dicintai oleh Tuhan. Seorang teolog Kanada bernama James Smith mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mencintai dan dicintai. Manusia terutama bukanlah makhluk pemikir, ini kesalahan dari Aristotle ketika mengatakan manusia adalah binatang yang berpikir atau binatang rasional. Manusia itu manusia karena manusia perlu cinta kasih. Kalau Saudara mengatakan binatang pun memerlukan itu, tapi tidak sekompleks manusia. Manusia adalah makhluk yang utamanya adalah desire to love, keinginan untuk mencintai. Sehingga pertanyaan paling penting bagi manusia bukan “apakah itu kebenaran?”, ini pertanyaan abstrak di zaman modern. Tapi sekarang, orang mencari “dimana saya bisa tenang karena saya dicintai? Anselm mengingatkan karena kita sudah jatuh dalam dosa, kita tidak sadar akan kebutuhan ini, kita tidak mencari cinta Tuhan. Tapi ketika orang Israel ada di dalam pembuangan, orang saleh seperti Yeremia, Daniel, Yesaya, meratap kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan, kami rindu dicintai kembali oleh Tuhan”. Ini kerinduan besar yang diharapkan oleh orang Israel. Tapi kalau kita mengatakan “aku ingin Tuhan mencintai kami lagi?”, mengapa kita ingin Tuhan mencintai kita lagi? mengapa kita ingin Tuhan menyatakan kasihNya kepada kita? Karena kalau Tuhan tidak mencintai kita, maka kita akan menjadi orang yang kehilangan 4 hal penting dalam hidup. Kita akan kehilangan agama, karena agama menjadi kosong dan tidak berarti kalau tidak cinta Tuhan. Yang kedua, kita akan kehilangan kehidupan sosial, karena tanpa cinta Tuhan, Saudara tidak akan mungkin mengerti bagaimana hidup berkomunitas dengan manusia yang tidak pernah menjadi standar cinta kasih. Saudara kalau tidak punya Tuhan, bagaimana mengerti mencintai? Karena Saudara akan belajar cinta dari manusia yang tidak pernah mengerti apa itu cinta kasih. Yang ketiga, tanpa dicintai oleh Tuhan, Saudara akan sangat kosong makna di dalam hal keindahan. Apa itu keindahan sejati? Di dalam Institutio, Calvin mengatakan segala hal yang baik, indah, menyenangkan, dan mulia dari ciptaan adalah cermin untuk kita melihat Allah yang tidak terlihat dengan cara yang lain. Saudara tidak bisa melihat Tuhan, tapi dengan keindahan yang ditawarkan alam, Saudara bisa mengerti keindahan dari Tuhan yang memelihara. Maka tanpa cinta Tuhan, kita tidak akan mempunyai konsep keindahan. Saudara akan kehilangan agama, sosial, estetika, dan pada akhirnya kehilangan sisi etika. Tanpa dicintai oleh Tuhan, manusia hanya akan menjadi makhluk oportunis yang mencari kemungkinan untuk untung, kemungkinan untuk kehendaknya jadi, sehingga menjadi makhluk yang secara moral penuh dengan manipulasi, penuh dengan penipuan demi keuntungan diri sendiri. Siapa tidak dicintai Tuhan, tidak akan punya kehidupan beragama, sosial, tidak akan punya pengertian tentang indah, apa itu moral yang sejati. Empat hal ini sebenarnya adalah pilar utama adanya budaya dan peradaban yang baik. Charles Taylor mengingatkan bahwa ekspresi agama sebenarnya berubah wujud tapi tidak pernah hilang dari masyarakat. Bangsa paling sekuler yang mengatakan “kami tidak percaya Tuhan lagi”, tetap memercayai ide yang mereka pegang sekuat orang beragama memegang agamanya. Agama itu bukan cuma sekedar mengakui ada Tuhan lalu saya sembah Dia, agama adalah sistem kepercayaan yang dipegang dengan sangat kuat. Apa pun itu yang dipegang dengan sangat kuat, itu sebenarnya adalah religius value atau nilai agama yang dipegang oleh sebuah kebudayaan. Dia menyelidiki bagaimana ekspresi seseorang didalam menyatakan dirinya menjadi agama baru di masyarakat. Kalau Saudara bertanya sekarang agama yang paling populer di dunia barat itu apa? Sekarang agama paling populer adalah Saudara bersikap dengan cara yang sangat tidak esensial dalam mengerti identitas. Sekarang orang akan menyatakan identitas dia bukan di dalam hal yang paling utama, tapi hal yang paling remeh sekali. Bahkan identitas manusia dikaitkan dengan seksualitas, “saya adalah orang yang orientasi seksualitasnya ke arah ini atau arah itu.” Itu sebabnya manusia yang sudah kehilangan arah untuk dicintai oleh Tuhan, akan menjadikan agama sebagai sesuatu yang dipegang secara ketat tapi isi dari apa yang dipegang itu tidak akan membantu kemanusiaan untuk bertumbuh menjadi baik.

E-BOOK MENGENAL DIRI

Bandung, 13 Mei 2021

Salam sejahtera bagi Bpk/Ibu, Sdr/I yang terkasih di dalam Kristus,

Free e-book ini dipersembahkan dalam rangka Ulang Tahun GRII Bandung yang ke-15, dan dirilis bertepatan dengan hari Kenaikan Tuhan Yesus. E-book ini dibuat dalam dua buah format, yaitu ukuran kertas A5, dan ukuran untuk layar Smartphone/HP.

Pada akhir setiap bab, terdapat tuntunan pertanyaan refleksi untuk menajamkan pergumulan pembaca, sehingga e-book ini tidak hanya cocok untuk digunakan sebagai sarana pertumbuhan pribadi/perorangan, namun juga dapat digunakan dalam kelompok semacam KTB ataupun cell group, dan juga disarankan untuk digunakan dalam PA Keluarga.

Silakan info ini dibagikan kpd yg lain.

Tuhan memberkati kita semua 🙏

http://reforminglife.org/mengenal-diri-download/

Terkutuk demi Israel

Kita sampai ke dalam pasal 9, berbicara tentang sejarah keselamatan, bagaimana Tuhan menggenapi rencana menyelamatkan bangsa-bangsa lain dengan membiarkan Israel tertolak. Ini satu rencana bagi Paulus yang sulit dipahami, apalagi dia orang Israel yang punya zeal yang besar untuk Israel. Ada beberapa tema yang bisa kita pelajari yang sulit diterima tapi fakta. Kalau kita mau menerima tema ini, kita hanya mungkin bisa menjadi tenang jika kita tahu apa tujuan final Tuhan mengerjakan segala hal yang Dia kerjakan. Apa yang terjadi di dalam sejarah keselamatan, apa yang Tuhan mau buat, itu hanya mungkin berarti jika kita lihat apa tujuan final Allah mengerjakan segala sesuatu. John Duns Scotus mengatakan bahwa ketika Allah menjadikan segala sesuatu, maka tujuan final dia menjadikan segala sesuatu itu adalah supaya Kristus menjadi segalanya. Kristus menjadi segalanya baik di surga maupun di bumi. Ini pikiran yang sangat penting di dalam sejarah Kekristenan. Scotus pernah mengkritik tradisi Dominikan, ada dua tradisi yaitu Dominikan dan Fransiskan. Dominikan adalah tradisi berdebat, ini tradisi biara yang didirikan untuk berdebat dengan orang Muslim. Tradisi ini berdiri tidak beda lama waktunya dengan berdirinya tradisi Fransiskan yang didirikan oleh Franscis dari Asisi dengan menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan menjadi pengaruh besar. Jadi Fransiskan dan Dominikan memengaruhi banyak tempat di Eropa, keduanya sebagai tradisi yang sama-sama kuat, mereka bersaing. Yang satu menekankan keindahan, seni dan juga kerohanian, satu lagi menekankan bagaimana berapologetik, berdebat, dan mengekspresikan kebenaran Kristen dengan cara yang meyakinkan. Salah satu yang dijadikan keberatan dari tradisi Fransiskan adalah ketika orang Dominikan berusaha untuk menjelaskan kedaulatan Allah dengan argumen-argumen yang bagi mereka tidak kena. Argumen-argumennya ada banyak, tapi orang seperti Scotus, seorang Fransiskan, menyerang tradisi Dominikan dengan mengatakan “kamu tidak mengerti yang paling penting dari Tuhan. Yang paling penting dari diri Tuhan itu bukan rasionya Tuhan, tapi kehendakNya Tuhan”. Maka kalau orang Dominikan mengatakan Allah itu Mahakuasa, Dia bisa mengerjakan segalanya, apa pun yang Dia mau kerjakan akan Dia kerjakan. Dia akan mengerjakan hal yang suci dan baik karena diriNya suci dan baik. Tentu semuanya akan setuju dan tradisi Fransiskan juga akan setuju, tapi pertanyaannya adalah apakah kebaikan Tuhan sesuatu norma yang melampaui Tuhan atau ada di dalam Tuhan? Apakah Tuhan tunduk kepada prinsip baik? Menurut Fransiskan, orang-orang Dominikan, termasuk Thomas Aquinas, terlalu banyak menekankan argumen yang membuat seolah-olah Tuhan harus tunduk kepada aturan di luar Dia. Tuhan sendiri seperti harus tunduk dengan keharusan menjaga keadilan, Tuhan seperti harus tunduk pada konsep kasih. Maka Scotus mengkritik argumen seperti itu dengan mengatakan yang paling utama dalam menjelaskan Tuhan adalah kehendak. Tuhan mempunyai keinginan dan kesukaan. Apa yang Dia sukai itu yang Dia kerjakan. Jadi Saudara mengatakan Tuhan itu Mahakuasa karena Dia hanya melakukan apa yang Dia suka. Dia tidak akan melakukan apa yang tidak Dia suka. Kalau Saudara mengatakan “apakah Allah Mahakuasa, bisakah Allah menciptakan Allah yang lain, Allah yang setara dengan Dia? Kalau tidak bisa, Dia tidak Mahakuasa”. John Duns Scotus akan menjawab “mengapa begitu tanda Mahakuasa?”, tanda Mahakuasa adalah Dia akan kerjakan apa yang Dia suka. Tanda Dia Mahakuasa adalah Dia tidak terkurung untuk melakukan apa yang Dia tidak mau. Saudara tidak bisa meminta Dia melakukan apa yang Dia tidak mau, Tuhan hanya melakukan apa yang Dia sukai, yang Dia inginkan. Ini mirip kalau Saudara punya kedaulatan, Saudara akan memilih melakukan apa yang Saudara suka, itu menunjukan Saudara berdaulat. Demikian juga menurut Scotus, Tuhan melakukan apa yang Dia mau, yang Dia sukai.

Pertanyaan berikutnya, “kalau Dia melakukan apa yang Dia sukai, apakah kita bisa pastikan semua yang terjadi di dalam sejarah, apakah semua Tuhan sukai? Kalau semua Tuhan sukai, bagaimana dengan dosa, kekejaman, kecemaran, kejahatan?”. Scotus akan menjawab “Tuhan mempunyai kehendak dan kehendak itu harus kita anggap sebagai yang utama dulu”, jadi Saudara harus tahu apa yang menjadi utama, baru yang lain kita gumulkan sebagai cara untuk mencapai yang utama itu. Maka Scotus memberikan argumen seperti ini bahwa kita melaksanakan hidup sebelumnya kita merancang dalam pikiran kita. Apa yang kita rancang, yang pertama kita pikirkan adalah tujuan rancangan kita. Kalau Saudara ingin pergi ke Surabaya, maka Saudara akan menjadikan ke Surabaya sebagai tujuan final. Lalu Saudara akan memikirkan bagaimana cara ke Surabaya, apakah dengan beli tiket pesawat, mengemudi sendiri atau naik kereta. Cara ini Saudara pilih karena Saudara sudah menetapkan tujuan dulu. Jadi tujuan itu selalu ditetapkan di awal rencana, cara itu belakangan. Tapi waktu Saudara jalankan akan terbalik, cara itu duluan baru tujuan belakangan. Scotus mengatakan cara itu selalu dipikirkan belakangan tapi dilaksanakan terlebih dulu, ini berkait dengan Tuhan. Demikian juga Allah, di dalam merancang segala sesuatu, Tuhan menetapkan tujuan yang paling Dia sukai lebih dulu. Apa yang paling Dia inginkan dalam mencipta? Mengapa Dia mencipta, tujuannya apa? John mengatakan tujuannya adalah kemuliaan Kristus di surga dan di bumi. Mengapa Tuhan menciptakan segala sesuatu? Untuk meninggikan Kristus. Kristus dimuliakan di surga dan di bumi adalah tujuan. Kalau Tuhan merancang tujuan, berarti tujuan itu akan belakangan di dalam penciptaan, ini yang tadi kita lihat dengan rancangan dan tujuan. Tuhan merancang bagaimana caranya meninggikan Kristus di surga dan di bumi? Ada rencana, ada keselamatan, ada penciptaan. Tujuan Tuhan mencipta, menebus manusia, mengizinkan sejarah keselamatan, Israel dipilih, lalu Israel dibuang, Tuhan memanggil bangsa-bangsa lain, semua menuju kepada kemuliaan Kristus di surga dan di bumi. Jadi kemuliaan Dia final tapi itu dalam rancangan Tuhan pertama. Sehingga kalau ada orang tanya “John kamu tahu dari mana kalau tujuan Tuhan yang final itu adalah meninggikan Kristus di surga dan di bumi?”, John akan menjawab “karena itu yang final, yang belakangan di dalam Alkitab, itu yang terjadi terakhir”. Apa yang terjadi terakhir berarti adalah tujuan yang di dalam rancangan Tuhan itu pertama. Kalau John menggambarkan Tuhan berpikir, tentu kita tidak tahu bagaimana Tuhan berpikir di dlaam keterbatasan kita”, tapi John akan mengatakan “Tuhan, seolah-olah mengatakan Aku ingin meninggikan Sang Anak, meninggikan Kristus di surga dan di bumi maka Aku mencipta surga dan bumi, Aku merancang keselamatan, Aku membuat segala hal yang disiapkan untuk meninggikan Kristus di surga dan di bumi”, ini yang Allah siapkan. Maka menurut John, Saudara dan saya tidak bisa menggumulkan apa yang terjadi di dalam dunia kalau kita tidak tahu mengapa Tuhan menciptakannya, finalnya apa. Kalau kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan utama maka Saudara tidak akan punya kesadaran tentang mengapa sesuatu terjadi. Maka dalam pasal 9-11 dia memberikan pengertian mengapa Tuhan beralih dari Israel ke bangsa-bangsa lain. Hal-hal seperti ini perlu kita tahu, kadang-kadang kita berharap bisa mendengat khotbah dan mengharapkan khotbah itu bersifat praktis. Maka hal penting sebelum kita mengerti bagaimana harus hidup, kita harus tahu dulu apa yang Tuhan kerjakan di dalam Kitab Suci, Tuhan melakukan apa saja di dalam sejarah. Karena zaman di dalam Kitab Suci, mulai dari Kejadian sampai Wahyu, memberikan kepada kita pengertian siapa Tuhan di dalam sejarah. Saudara tidak akan menemukan sumber lain yang mengajarkan siapa Tuhan di dalam sejarah, selain Kitab Suci. Maka untuk tahu bagaimana hidup, Saudara harus tahu lebih dulu apa yang Tuhan kerjakan di dalam sejarah, bagaimana Dia bertindak, apa yang Dia katakan kepada manusia, bagaimana Dia menyingkirkan manusia berdosa, ini semua dicatat di Kitab Suci. Kecuali kita mengerti bagaimana Tuhan bertindak dalam sejarah, maka kita tidak mungkin bagaimana Tuhan bertindak sekarang. Jadi caranya bukan “saya menilai hidup saya dulu, saya sudah mengerti bagaimana hidup cuma ada sedikit lubang, itu yang saya harapkan didapat dari khotbah”, tapi khotbah bukan seperti itu. Khotbah akan mengatakan pemahaman kita terhadap hidup itu pun harus kembali ke Alkitab. Firman Tuhan bukan untuk mengisi yang kurang, tetapi mengganti seluruh pemahaman yang salah tentang hidup supaya kita bisa memahami yang benar dengan melihat bagaimana Tuhan menyatakan berkatNya atau murkaNya atau pemeliharaanNya atau hikmatNya di dalam Kitab Suci. Jadi Saudara perlu tahu apa yang terjadi dari Kitab Suci, apa yang terjadi pada Israel di dalam Kitab Suci.

Kebutuhan untuk Dikasihi

Dikatakan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari cinta kasih Allah. Sebenarnya ini bagian dari pengharapan orang Israel, karena ketika orang Israel mendapatkan keadaan dibuang oleh Tuhan, mereka menginginkan untuk dipulihkan dan pulih di dalam pemikiran mereka itu mengandung banyak sekali aspek. Paling tidak ada 5 aspek penting yang mereka kejar, yang pertama mereka rindu Tuhan memulihkan mereka di tanah yang Tuhan janjikan. Kedua, mereka rindu Tuhan memulihkan mereka dengan memberikan raja yang akan memberikan keadilan di tengah-tengah mereka. Mereka juga merindukan supaya Tuhan memberikan kembali damai sejahtera dari penyertaan Tuhan yang tidak kunjung hilang, yang sempurna diberikan. Kemudian mereka juga menginginkan supaya Tuhan menyatakan kasih dan perkenanan Tuhan selama-lamanya. Mereka rindu Tuhan berkata kepada mereka bahwa Tuhan mencintai mereka. Lalu yang terakhir, mereka merindukan Tuhan mengubahkan hati mereka. Ini semua adalah aspek-aspek dari pengharapan Israel di dalam Kitab Yeremia, Yesaya dan Yehezkiel. Apa yang diinginkan Israel? Supaya mereka dipulihkan, semua keadaan yang Tuhan pernah janjikan menjadi sempurna di dalam kehidupan mereka. Tapi di dalam Perjanjian Lama apa yang dijanjikan ini tidak mencapai kesempurnaannya, belum tercapai dengan tuntas. Itu sebabnya setelah penulisan Perjanjian Lama selesai, harus ada seruan dari Yohanes Pembaptis yang menyatakan janji Tuhan sekarang sudah tiba. Perjanjian Lama menyatakan apa yang Tuhan mau berikan, Perjanjian Baru menyatakan bagaimana yang Tuhan janjikan ini sudah terjadi. Apa yang Tuhan mau berikan dan yang Tuhan janjikan, menjadi sempurna di dalam kehidupan gereja Tuhan. Kita melihat bahwa Paulus mengerti pengharapan ini, Paulus mengerti apa yang dia selidiki sendiri dari Perjanjian Lama. Paulus tahu ini yang diperlukan oleh Israel. Sekarang Tuhan tidak hanya menjanjikan bagi Israel, tapi bagi seluruh bangsa yang mau beriman kepada Kristus. Ini kesempurnaan janji yang Tuhan berikan. Itu sebabnya ketika Paulus berbicara tentang Injil, dia berbicara di dalam konteks, dia tidak berbicara dalam tema baru. Paulus bukan pemikir original yang menyampaikan teori baru. Paulus menyampaikan apa yang dia tahu dari Taurat, apa yang dia tahu dari Mazmur, apa yang dia tahu dari Kitab Nabi-nabi, dan dia menyatakan “sekarang saatnya sudah tiba, inilah kegenapan waktu. Apa yang kamu nanti-nantikan sekarang sudah diberikan”. Maka, ketika Paulus memberitakan Injil, dia akan memberitakan pengharapan Israel kepada bangsa lain. Ini sesuatu yang berbeda dengan praktek penginjilan yang kita tahu, kalau kita memberitakan Injil kita menekankan keperluan akan Juruselamat, tetapi tidak membagikannya dengan cara yang diajarkan Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama yang Tuhan ajarkan adalah kebutuhan akan dicintai Tuhan. Semua bangsa memerlukan adanya Allah yang membawa mereka ke dalam relasi yang indah dengan Dia. Ini adalah pernyataan di dalam Kitab Suci, dan fakta yang Paulus temukan waktu dia memberitakan Injil. Ketika dia pergi ke Athena, dia tidak memberitakan tentang Israel secara eksplisit, Perjanjian Lama secara pengutipan ayat. Tetapi dia menyatakan bahwa sama seperti orang Israel punya Tuhan bukan buatan tangan, demikian orang Athena perlu Allah yang bukan buatan tangan. Paulus mengatakan perbedaannya adalah dewa-dewa buatan tangan manusia perlu dipelihara, sedangkan Allah yang bukan buatan tangan manusia yaitu Allah yang sejati adalah yang memelihara manusia. Allah memelihara manusia dan Allah yang mencintai kamu seperti ini yang kamu perlu. Tuhan adalah Tuhan yang menjaga, memelihara, melindungi, menyertai, mendampingi, dan memimpin umatNya. Siapa bangsa yang merasa tidak perlu Ilah seperti ini? Jadi waktu Paulus memberitakan tentang Tuhan, dia memberitakan tentang Allah sejati yang sangat diperlukan oleh semua orang. Kalau kita kupas dan bongkar kebudayaan di zaman kita, di balik kulit yang bagus, ada kekosongan di mana Tuhan yang sejati absen. Kalau melihat kebudayaan modern atau postmodern, kita lihat kecanggihan teknologi, tapi tidak menemukan Tuhan makin dikenal, dicintai, dikagumi, karena manusia seperti punya juruselamat baru, “Kami sudah tahu bahwa buruknya zaman dulu karena orang belum mengerti teori ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, dan segala hal yang diperlukan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena kamu belum tahu maka kamu cari Tuhan. Kami sudah tahu, kami tidak cari Tuhan lagi”. Maka ketika Saudara membaca karya dari para teolog zaman kuno, Saudara akan sadar kita kehilangan banyak hal yang indah, karena kita merasa tidak perlu Tuhan. John Calvin dari buku Institio, mengatakan jika engkau tidak merasa bahwa kebaikan Tuhan adalah sesuatu yang engkau tidak bisa hidup tanpanya, kalau Tuhan tidak baik dan tidak mencurahkan kebaikan kepadamu, kamu tidak mungkin hidup. Kalau engkau tidak mengenal Tuhan sampai segitu, engkau tidak akan mencintai Dia. Manusia tidak mungkin mencintai Tuhan, kecuali dia tahu dia memerlukan Tuhan. Kita bisa lihat bagaimana zaman modern meruntuhkan iman orang dengan mengatakan “kita tidak perlu Tuhan, kita perlu teknologi.”, ini yang meruntuhkan iman manusia. Kalau Saudara mengatakan “saya bukan seperti itu, pak. Saya adalah orang yang tetap beriman kepada Tuhan meskipun teknologi yang baik saya miliki.” Meskipun di satu sisi itu benar, tapi di sisi lain kerinduan untuk mendapatkan Tuhan yang melampaui apa pun mungkin sudah hilang dari kita. Karena mungkin kita tidak siap menukar apa yang menjadi jaminan hidup kita demi mengenal Tuhan, misalnya.

Dalam buku Proslogion Anselm, dia mengatakan bahwa kebutuhan manusia paling utama adalah kenal Tuhan. Orang yang sadar akan kebutuhan ini akan tinggalkan apa pun kalau perlu demi bisa mengenal Tuhan. Ini aspek yang hilang dari kehidupan kita karena tidak pernah mengetahui apa artinya menukarkan keadaan hidup yang lama dengan Tuhan. Kita tidak pernah ada dalam keadaan dimana kita harus memilih mau hidup baik atau Tuhan. Seolah-olah hidup baik dan Tuhan sekarang dengan akrab bisa disatukan, “saya tetap bisa jadi Kristen, saya tetap bisa menikmati mengikuti Tuhan tanpa kehilangan apa pun yang dunia modern tawarkan kepada saya. Sehingga mungkin kita menjadi orang yang luput menikmati hal yang dulu orang Kristen sangat nikmati. Orang Kristen zaman dulu kalau ditanya “mana yang kamu pilih, tetap beriman kepada Tuhan dan hidupmu rusak, hancur, usaha tidak mungkin jalan, uang tidak mungkin kamu terima, kami akan kejar kamu, bahkan mungkin siksa kamu. Masih mau percaya Tuhan Yesus? Kalau kamu menolak Dia, maka kamu akan hidup tenang. Kalau kamu menerima dan mengakui Dia, mungkin kamu akan dianiaya”. Orang Kristen zaman dulu akan mengatakan “kami tidak akan pernah memalingkan wajah dari Kristus. Kami sudah melihat yang paling indah dan tidak akan tergerak untuk keindahan apa pun yang ditawarkan kepada kami. Tidak ada apa pun di dalam hidup kami selain Tuhan. Sehingga jika engkau menyuruh kami untuk meninggalkan Tuhan, engkau suruh kami untuk mati, kami tidak bisa hidup tanpa Dia dan kami harus beriman kepada Dia. Apa pun resiko yang harus kami bayar, kami akan lalui karena kami tidak bisa kehilangan Tuhan”, aspek seperti ini jauh dari kehidupan kita sekarang. Sehingga kita dengan sangat tenang bisa beriman kepada Tuhan dan bisa dengan tenang menjalankan kehidupan yang stabil dan aman. Itu sebabnya Kekristenan menjadi agama yang pelan-pelan kehilangan makna, pengisi waktu lowong, penghibur jiwa jika yang lain sudah gagal. Berapa banyak orang berpaling kepada Tuhan ketika hidup seperti tidak menawarkan apa pun lagi? Waktu mereka berpaling kepada Tuhan, baru mereka sadar selama ini mereka salah memilih hidup karena sebenarnya sukacita sejati, tenang sejati, dan damai sejati hanya mungkin ada di dalam Tuhan. Itu sebabnya, Anselm menulis kalimat indah, jika kamu ingin belajar kenal Tuhan maka sebenarnya kamu sedang belajar mengenal tujuan manusia dicipta. Mengapa Tuhan menciptakan manusia? Supaya bisa kenal Tuhan. Mengapa kenal Tuhan? Jika kamu berusaha cari keindahan, kenyamanan, kesenangan, keagungan yang paling besar di dalam dunia, kamu akan sadar bahwa pencarian kesenangan, keindahan, kebaikan, kemuliaan di dalam dunia sangat remeh dibandingkan dengan kemuliaan Sang Pencipta. Kebenaran di dalam dunia ciptaan adalah sesuatu yang lebih rendah dibandingkan Sang Kebenaran itu sendiri yaitu Allah. Kesenangan di dalam dunia ciptaan jauh lebih rendah dibandingkan dengan sumber kesenangan sejati yaitu Allah. Maka bagi Anselm semakin kita mencari Tuhan dan kenal Dia dengan benar, semakin kita ingin untuk menjadi orang yang menikmati Dia. Tuhan jauh lebihindah dari apa pun yang dunia ini tawarkan. Itu sebabnya ketika orang Israel ada dalam pembuangan, yang mereka rindukan adalah Tuhan kembali berkenan untuk mencintai mereka. “Maukah Tuhan berkenan kembali mencintai kami? ini menjadi pengharapan mereka yang paling besar, dan ini yang Paulus bawa kemana-mana. “Kamu perlu Tuhan karena jika engkau tidak dikasihi oleh Dia, sebenarnya kehidupanmu akan menjadi kosong makna”. Tanpa cinta dari Tuhan, manusia tidak bisa hidup. Kita didesain untuk dicintai oleh Tuhan dan karena itu kita tidak bisa hidup jika kita tidak dicintai oleh Tuhan. Seorang teolog Kanada bernama James Smith mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mencintai dan dicintai. Manusia terutama bukanlah makhluk pemikir, ini kesalahan dari Aristotle ketika mengatakan manusia adalah binatang yang berpikir atau binatang rasional. Manusia itu manusia karena manusia perlu cinta kasih. Kalau Saudara mengatakan binatang pun memerlukan itu, tapi tidak sekompleks manusia. Manusia adalah makhluk yang utamanya adalah desire to love, keinginan untuk mencintai. Sehingga pertanyaan paling penting bagi manusia bukan “apakah itu kebenaran?”, ini pertanyaan abstrak di zaman modern. Tapi sekarang, orang mencari “dimana saya bisa tenang karena saya dicintai? Anselm mengingatkan karena kita sudah jatuh dalam dosa, kita tidak sadar akan kebutuhan ini, kita tidak mencari cinta Tuhan. Tapi ketika orang Israel ada di dalam pembuangan, orang saleh seperti Yeremia, Daniel, Yesaya, meratap kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan, kami rindu dicintai kembali oleh Tuhan”. Ini kerinduan besar yang diharapkan oleh orang Israel. Tapi kalau kita mengatakan “aku ingin Tuhan mencintai kami lagi?”, mengapa kita ingin Tuhan mencintai kita lagi? mengapa kita ingin Tuhan menyatakan kasihNya kepada kita? Karena kalau Tuhan tidak mencintai kita, maka kita akan menjadi orang yang kehilangan 4 hal penting dalam hidup. Kita akan kehilangan agama, karena agama menjadi kosong dan tidak berarti kalau tidak cinta Tuhan. Yang kedua, kita akan kehilangan kehidupan sosial, karena tanpa cinta Tuhan, Saudara tidak akan mungkin mengerti bagaimana hidup berkomunitas dengan manusia yang tidak pernah menjadi standar cinta kasih. Saudara kalau tidak punya Tuhan, bagaimana mengerti mencintai? Karena Saudara akan belajar cinta dari manusia yang tidak pernah mengerti apa itu cinta kasih. Yang ketiga, tanpa dicintai oleh Tuhan, Saudara akan sangat kosong makna di dalam hal keindahan. Apa itu keindahan sejati? Di dalam Institutio, Calvin mengatakan segala hal yang baik, indah, menyenangkan, dan mulia dari ciptaan adalah cermin untuk kita melihat Allah yang tidak terlihat dengan cara yang lain. Saudara tidak bisa melihat Tuhan, tapi dengan keindahan yang ditawarkan alam, Saudara bisa mengerti keindahan dari Tuhan yang memelihara. Maka tanpa cinta Tuhan, kita tidak akan mempunyai konsep keindahan. Saudara akan kehilangan agama, sosial, estetika, dan pada akhirnya kehilangan sisi etika. Tanpa dicintai oleh Tuhan, manusia hanya akan menjadi makhluk oportunis yang mencari kemungkinan untuk untung, kemungkinan untuk kehendaknya jadi, sehingga menjadi makhluk yang secara moral penuh dengan manipulasi, penuh dengan penipuan demi keuntungan diri sendiri. Siapa tidak dicintai Tuhan, tidak akan punya kehidupan beragama, sosial, tidak akan punya pengertian tentang indah, apa itu moral yang sejati. Empat hal ini sebenarnya adalah pilar utama adanya budaya dan peradaban yang baik. Charles Taylor mengingatkan bahwa ekspresi agama sebenarnya berubah wujud tapi tidak pernah hilang dari masyarakat. Bangsa paling sekuler yang mengatakan “kami tidak percaya Tuhan lagi”, tetap memercayai ide yang mereka pegang sekuat orang beragama memegang agamanya. Agama itu bukan cuma sekedar mengakui ada Tuhan lalu saya sembah Dia, agama adalah sistem kepercayaan yang dipegang dengan sangat kuat. Apa pun itu yang dipegang dengan sangat kuat, itu sebenarnya adalah religius value atau nilai agama yang dipegang oleh sebuah kebudayaan. Dia menyelidiki bagaimana ekspresi seseorang didalam menyatakan dirinya menjadi agama baru di masyarakat. Kalau Saudara bertanya sekarang agama yang paling populer di dunia barat itu apa? Sekarang agama paling populer adalah Saudara bersikap dengan cara yang sangat tidak esensial dalam mengerti identitas. Sekarang orang akan menyatakan identitas dia bukan di dalam hal yang paling utama, tapi hal yang paling remeh sekali. Bahkan identitas manusia dikaitkan dengan seksualitas, “saya adalah orang yang orientasi seksualitasnya ke arah ini atau arah itu.” Itu sebabnya manusia yang sudah kehilangan arah untuk dicintai oleh Tuhan, akan menjadikan agama sebagai sesuatu yang dipegang secara ketat tapi isi dari apa yang dipegang itu tidak akan membantu kemanusiaan untuk bertumbuh menjadi baik.

Allah di Pihak Kita

Di dalam Perjanjian Lama ada satu hal yang menjadi pergumulan orang Israel ketika mereka dibuang ke Babel, pergumulan apakah Tuhan berkenan atas mereka atau tidak. Apakah Tuhan mencintai mereka atau tidak. Ini bukan urusan satu orang di hadapan Tuhan, ini adalah urusan seluruh umat. Di dalam pengertian orang-orang Perjanjian Lama, menjadi bahagia itu tidak bisa dilakukan sendiri. Hanya orang kacau pikirannya dan gangguan pada kesehatan jiwanya yang akan berpikir dia bisa senang sendiri. Saudara tidak mungkin bersukacita di saat orang lain mengalami dukacita. Kalau Saudara berada di dalam keluarga, Saudara tidak mungkin bersukacita sendiri. Sukacita adalah tema komunal. Tidak ada orang bisa bersukacita kecuali di dalam kelompok yang bersukacita. Kalau orang gila bisa tertawa sendiri dan orang berpikir dia orang gila, tidak ada alasan untuk tertawa, tidak ada orang lain yang tertawa, tapi dia tertawa sendiri. Sukacita itu adalah tindakan komunal, tertawa juga tindakan komunal. Misalnya ada orang mengatakan “aku menerima sukacita dari Tuhan, hidupku penuh dengan sukacita”, orang akan tanya “kamu bersukacita bersama siapa? Kalau tidak ada berarti kamu gila”, orang bersukacita di dalam komunitas. Jika Israel sedang dibuang ke Babel dan keadaan mereka buruk, tidak ada Bait Suci, imam, raja, mereka ditaklukan oleh Babel, maka mustahil ada sukacita. Kalau ada orang mengatakan “aku orang Yahudi, satu-satunya sedang mengalami sukacita karena mendapatkan gaji tambahan”, satu orang di tengah komunitas yang berduka, tidak mungkin. Dia tidak mungkin bisa bersukacita, dia mengatakan “karena aku sukses sendiri, tapi kelompok Israel sedang berada dalam bahaya, saya menolak untuk bersukacita”. Di dalam Kitab Yesaya 24 dikatakan ketika Tuhan membuang Israel, pada waktu itu pengantin pun akan sungkan bersukacita. Dikatakan pesta pernikahan akan penuh dengan tangis dan ratap, bukan sukacita. Orang yang menikah dengan sedih akan datang dan mengatakan “di dalam kondisi seperti ini, kami mau membentuk keluarga, kami tidak akan mengalami kesenangan. Sebelum Tuhan memulihkan Israel, tidak ada kesenangan yang kami bisa nikmati”, harap ini menjadi bagian dalam perenungan kita. Di dalam zaman kita sekarang, orang-orang sangat egois, mereka berpikir “kalau satu orang mengalami kesenangan sendiri, itu cukup. Saya dapat uang, saya hidup senang-senang sendiri, tidak perlu ada orang lain, itu cukup”. Zaman modern ini zaman yang aneh, ini zaman yang berani berpikir pernikahan itu merugikan karena harus berbagi hidup dengan orang lain. Orang kalau merasa kehadiran orang lain itu merepotkan, sulit bagi orang ini bersukacita. Tidak tahukah Saudara kalau keadaan zaman ini yang penuh dengan kondisi yang menyebabkan depresi? Ternyata salah satu sumbangsih depresi adalah ketersendirian, minimnya komunitas dan komunikasi, orang yang menutup diri, tidak mau punya teman, sangat mungkin tertekan. Kalau Saudara mengatakan “berelasi itu menyebalkan, repot sekali berelasi dengan orang”. Jauh lebih repot kalau Saudara hidup sendiri, karena Tuhan tidak mendesain manusia untuk hidup sendirian. Tidak ada sukacita yang bukan komunal. Maka ketika Israel dibuang, seluruh bangsa meratap, tidak ada lagi yang mengatakan “ayo kita pesta”. Hanya orang yang rohaninya kacau, tidak peduli Tuhan, itu yang akan senang, yang lainnya tidak mengalami kesenangan. Di dalam Kitab Daniel, Saudara tidak melihat Daniel membuat pesta karena diangkat menjadi orang nomor 2 di Babel. “Daniel diangkat menjadi orang nomor 2, puji Tuhan, mari kita membuat perayaan”, tidak, mereka mengatakan “dikala umat Tuhan dibuang, kami akan bersedih, bersama dengan seluruh umat yang lain”. Setiap orang Israel yang saleh ketika dibuang, mereka mengharapkan pemulihan, bukan mengharapkan diri jadi baik. Mereka harapkan Tuhan segera pulihkan, “kembalikan kami ke Tanah Perjanjian, bangkitkan kembali Bait Suci, naikkan kembali keturunan Daud di takhtaMu ya Tuhan, baru kami bisa bersukacita”. Sebelum Tuhan menyatakan pemulihan itu, tidak ada sukacita di dalam. Keadaannya kelam dan keadaannya penuh dengan pergumulan. Lalu apa yang mereka harapkan? Cuma satu hal utama, mereka ingin Tuhan sendiri menyatakan “ini adalah umat yang Kukasihi”. Kita tidak mengerti hal ini, kita tidak mengerti berapa besarnya bagi Israel untuk mendapatkan perkenanan Tuhan. Orang Israel ingin ini lebih dari apa pun. Kalau mereka ditanya, tentu saja yang saleh bukan yang kafir, “apa yang kamu inginkan, apa yang paling kamu harapkan dari Tuhan?”, mereka akan mengatakan “yang kami harapkan Tuhan sendiri hadir dan mengatakan ke seluruh dunia kami adalah umat Tuhan, Dia mencintai kami, dan hidup kami diperkenan Dia”. Ini sesuatu yang Israel miliki. Tidak peduli Babel mau perkenan, mereka jadi kaya, apa pun yang terjadi pada mereka, yang mereka tanya adalah satu hal, “Tuhan, akankah engkau menyatakan kembali kasihMu dan menerima serta memperkenan kembali kami?”. Ini kerinduan mereka. Dan Tuhan berfirman di dalam kitab nabi-nabi “ini akan terjadi”. Bayangkan berapa besar sukacita orang membaca Kitab Yeremia, ketika Tuhan mengatakan “Aku akan mencintai engkau kembali. Aku akan pamerkan engkau, lalu seluruh bangsa akan melihat salehnya engkau karena di dalam hatimu engkau sudah punya kemampuan untuk cinta Tuhan dan menyenangkan Tuhan”, bayangkan berapa indahnya kalimat ini. Israel berharap dan nabi-nabi mengatakan ini akan terjadi, kamu ingin dicintai oleh Tuhan? Tuhan akan kembali mencintaimu. Kamu ingin diperkenan lagi oleh Tuhan? Itu akan terjadi. Maka penghiburan akhirnya diperoleh lewat kitab para nabi.

Tapi yang menjadi pertanyaan, kalau Tuhan baru akan lakukan nanti, di generasi akhir zaman, bagaimana dengan generasi sebelumnya? Bagaimana dengan Yesaya, Yeremia, Daniel, orang-orang saleh yang hidup di dalam zaman sebelum Tuhan menyatakan bahwa Israel diperkenan oleh Tuhan, bagaimana dengan mereka? Ini yang ditanyakan oleh mereka, sulit mendapatkan jawaban. Abraham dapat janji Tuhan, tapi janji Tuhan itu tidak dia lihat terjadi, dia sudah mati terlebih dahulu. Maka di dalam Perjanjian Lama kita temukan janji Tuhan yang begitu indah ternyata lebih jauh dari hidup manusia. Waktu hidup kita terlalu singkat dan janji Tuhan baru akan terjadi di akhir ini, ini yang menjadi pergumulan di Perjanjian Lama. Kalau begitu apa nikmatnya menjadi orang saleh sebelum zaman akhir? Karena sebelum janji Tuhan digenapi, mereka sudah mati. Bayangkan berapa sedihnya hati Daniel ketika menghitung “ternyata waktu 70 tahun Tuhan membuang kami sudah selesai. Kami sudah akan dipulihkan”. Tapi tiba-tiba Tuhan memerintahkan malaikat Gabriel datang dengan pesan yang berat sekali, Tuhan mengatakan “Engkau akan dikumpulkan bersama dengan nenek moyangmu”, Daniel akan mati. Berati Daniel tidak akan melihat Tuhan memulihkan Israel. Jadi pertanyaannya adalah kalau Tuhan memang akan pulihkan, bagaimana dengan orang yang sudah mati sebelum pemulihan itu terjadi? Mungkin kita tidak terlalu nyambung dengan pengharapan ini karena pikiran kita terlalu banyak dikacaukan oleh kondisi zaman kita yang menginginkan hal-hal remeh dan membuat kita terlatih mengharapkan hal-hal remeh. Banyak orang tidak mengerti apa itu hidup yang agung, cuma tahu apa itu hidup yang senang. Senang sudah menggantikan agung, kenikmatan sementara sudah menggantikan sukacita sejati. Zaman kita adalah zaman dimana segala hal yang indah menjadi manusia dikurangi, direduce, dijadikan sampah dan kita terbiasa menyenangi hal-hal yang dangkal. Tapi Kitab Suci mengarahkan kita kembali untuk punya pengharapan yang paling utama, apa kebutuhan utama menjadi manusia? Silahkan cari jawaban apa pun yang dunia tawarkan, tidak akan ada yang menjawab seakurat Alkitab. Hal yang paling kita perlukan sebagai manusia adalah diperkenan oleh Allah kita. Ketika Allah akhirnya mengatakan “Aku memperkenan hidupmu, engkau adalah umat yang Aku kasihi”, itu yang paling kita perlukan. Orang dunia tidak akan mendengarkan ini, Saudara bicara dengan orang dunia, Saudara akan stress sendiri. Karena Saudara bicara dengan mereka, mereka tidak ingin apa pun yang dalam, mereka cuma ingin hal yang dangkal, mereka cuma ingin seks, uang, jabatan. Penerimaan sejati bukan jabatan, ketenangan dipelihara oleh Tuhan tidak identik dengan uang, cinta kasih tidak identik dengan seks. Sekarang banyak anak muda cuma tahu jatuh cinta lampiaskan hawa nafsu, kalau punya pacar disetubuhi, kalau dekat dengan orang raba dia, itu tindakan gila yang membuat kita terus semakin dangkal kemanusiaannya, hati-hati. Kerohanian sejati di Kitab Suci identik dengan kemanusiaan, ini bukan hal yang terpisah. Orang yang spiritualitasnya terdalam adalah orang yang kemanusiaannya dimunculkan. You are not an animal, jangan cari hal yang mengurangi kemanusiaanmu membuat engkau mirip binatang. Engkau adalah manusia, cari hal yang akan memunculkan kemanusiaanmu. Maka Israel dilatih Tuhan untuk mencari hal paling utama yaitu diperkenan oleh Allah. Tapi pertanyaan tadi masih dilemparkan “Kalau Tuhan memperkenan kami, Israel, nanti belum sekarang, lalu bagaimana dengan kami yang hidup sekarang?”. Satu hal yang Alkitab nyatakan di Perjanjian Baru, yang menjadi perbedaan adalah kebangkitan. Mengapa kita mesti berharap kepada kebangkitan? Karena kebangkitan memastikan orang yang hidup di zaman lampau akan menikmati keadaan final. Zaman akhir akan ditutup oleh keadaan final, dimana semua orang saleh dibangkitkan lalu berbagian menjadi satu umat yang sempurna. Maka kebangkitan itu ada tempatnya di dalam kisah Alkitab. Kalau Saudara mempunyai iman yang dangkal, lalu meremehkan semua pesan Alkitab, saya ingin memberi tahu, engkau akan hidup dengan kosong terus. Jangan mau hidup kosong, saya sudah muak dengan hidup kosong zaman dulu. Saya terus mencari hal-hal yang menyenangkan, tapi tidak mendapatkan apa-apa, hidupnya benar-benar kosong. Kalau Saudara tanya “pak, apakah bapak ingin kembali ke masa muda bapak sebelum mengenal Tuhan?”, sama sekali tidak. Karena saya tidak mengerti nikmatnya hidup seperti sekarang. Dulu saya tidak tahu apa enaknya hidup, saya pikir saya bisa menikmati hidup dengan banyak sekali hal yang saya kejar. Kalau saya boleh beberkan semua hal yang pernah saya lakukan, saya akan sharingkan pernah melakukan banyak hal yang membuat saya malu untuk mencari kenikmatan hidup yang semua orang juga cari. Kalau ada orang mengatakan “pak, saya menikmati hidup, saya tidak mau jadi Kristen”, saya mau tanya “apa yang kamu nikmati? Hal apa, tidak rahasia untuk saya, saya tahu apa yang kamu cari, saya alami semua kesenangan yang kamu pikir menyenangkan. Saya di situ”. Saya tidak sembunyikan hal-hal memalukan karena saya tahu semakin menyatakan kejujuran, semakin Saudara mengerti Tuhan penuh cinta kasih mau mengampuni saya. Kalau Tuhan tidak mencintai saya, orang seperti saya tidak mungkin selamat, sangat tidak mungkin. Tapi saya jadi mengerti, semua hal yang semua orang bilang menyenangkan itu sampah. Saya tidak mengatakan begini “Tuhan, saya bersyukur sekarang hidup suci. Kalau ingat hidup dulu, memang nikmat, tapi nanti masuk neraka, untung saya tidak disitu”, saya tidak merasakan itu. Yang saya rasa adalah apa yang saya cari dulu adalah kebodohan, andaikan dulu saya mengerti apa yang saya mengerti sekarang, saya tidak akan jalani hidup seperti itu. Saudara tidak perlu mengancam saya dengan mengatakan “jangan lakukan ini, nanti masuk neraka”, bahkan kalau Saudara mengatakan “lakukan ini, nanti masuk surga”, saya tidak mau masuk surga. Saya mau Tuhan, bukan surganya. Kalau ada Tuhan, yang diperkenan Tuhan itu yang akan saya lakukan. Maka saya mengerti satu hal, firman Tuhan membuat saya mengerti bagaimana menjadi manusia secara nikmat. Ini yang Tuhan mau ajarkan kepada umat, cari hidup diperkenan Tuhan, dimana Tuhan pada akhirnya akan mengatakan “inilah umatKu”, ini yang penting. Di dalam akhir zaman, di penghakiman final ada satu hal yang penting terjadi, Tuhan sedang menyatakan siapa milikNya. Dari semua orang yang Tuhan bangkitkan, Tuhan akan menyatakan “inilah milikKu”, lalu Tuhan akan memamerkan mereka dan itu adalah hal paling indah yang akan Saudara alami, yang pernah Saudara alami dan mungkin Saudara alami. Saya tidak bisa memberikan janji apa pun selain yang Alkitab nyatakan. Inilah kebutuhan kita yang paling utama. Kalau sekarang Saudara membutuhkan diterima orang, dicintai, keyakinan, topangan, pemeliharaan, itu semua cuma percikan dari kebutuhan paling besar, yaitu diperkenan oleh Allah, lalu Allah pamerkan ke seluruh ciptaanNya, seluruh malaikat, bahkan dunia orang mati, termasuk roh jahat dan juga orang-orang binasa akan menyaksikan ini. Akan menyaksikan ketika anak-anak Allah dinyatakan. Dan waktu anak-anak Allah dinyatakan, Allah akan menyatakannya dengan sangat penuh kuasa, “inilah umatKu, untuk merekalah Aku bertindak, Aku menjadikan segala sesuatu, Aku mau hadir, untuk merekalah semua janjiKu”, dan pada waktu itu Saudara akan menyadari inilah tujuan hidup, “this is what life is meant to be, saya harusnya ada di sini, inilah yang saya kejar di dalam hidup, ternyata ini yang menyukakan saya”, ini sukacita terbesar. Dan ini umat Tuhan di Perjanjian Lama sudah sadar “Tuhan, tolong nyatakan bahwa Engkau berkenan kepada kami. Kami sudah dibuang ke Babel, tolong pulihkan. Lalu pamerkan kami milik Engkau”.