Rela Dipakai Tuhan

Lukas 1: 39-56
Pada bagian ini kita akan memperlajari sifat yang agung dari Maria, yaitu betapa dia rela melihat pekerjaan Tuhan jadi dan betapa dia rindu melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan. Waktu malaikat datang memberitakan kepada dia “engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak”, waktu itu Maria bingung “aku belum punya suami, bagaimana bisa punya anak?”, lalu malaikat itu mengatakan “kuasa Roh Kudus akan turun atasmu, kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau dan engkau akan melahirkan seorang anak laki-laki, engkau akan menamai Dia Yesus. Dia akan menjadi Anak Allah yang Mahatinggi, Dia akan meneruskan tahta Daud, bapaNya”. Ini semua diberitakan oleh malaikat sebagai berita yang agung, tetapi implikasinya dalam kehidupan Maria sangat berat. Setiap hari dia bisa mendapat kesalah-pengertian dari orang. Dan dia memohon supaya orang-orang diperbaiki pengertiannya, supaya Tuhan sendiri yang membela dia. Tuhan tidak menjawab, Tuhan tidak mengutus malaikat, lalu memberitahukan ke semua orang bahwa bayi di kandungan Maria adalah dari Tuhan. Dia harus tanggung ini, dia harus jalani ini, dia harus mendapatkan kehinaan yang besar dan mungkin resiko diusir bahkan resiko dihukum oleh orang-orang sekitar. Tapi dengan rela Maria mengatakan “kalau Tuhan mau bekerja, kalau itu harga yang harus dibayar untuk melihat pekerjaan Tuhan, jadilah itu”. Inilah hal pertama yang bisa kita lihat, kita rindu pekerjaan Tuhan bisa terjadi, tapi harga apa yang siap kita bayar. Pak Tong pernah mengatakan “kamu mengeluarkan pendapat, kamu harus siap bayar” you say you pay. Ada orang yang mengatakan “I say I pray, not pay yet”, “saya mau beri pendapat, saya mau doa dulu”, Pak Tong mengatakan “sudah, kalau begitu say, pray dan pay, yang pay tidak boleh lupa”. Siapa yang rindu pekerjaan Tuhan jadi, kerinduannya akan ditujukan dengan berapa besar dia rela dipakai. Ini prinsip yang terus diajarkan kepada murid-murid “engkau lihat ladang yang sudah menguning ini, engkau lihat banyak sekali tuaian, engkau lihat penuai sangat diperlukan, kalau begitu doa kepada tuan yang empunya tuaian, minta kirim penuai”. Tapi sambil doa sambil minta kirim, sambil sendiri mengatakan “ini aku, pakailah aku”. Yesaya ketika melihat kemuliaan Tuhan, dia mengatakan “ini aku Tuhan, pakailah aku”. Tapi kalau kita “Tuhan, ini saya, pakai teman-temanku sebelah kanan kiri, depan belakang, pakai mereka, saya sibuk”. Kalau kita terlalu sibuk, kita belum punya kerinduan untuk melihat pekerjaan Tuhan jadi, kalau kita cuma sebatas merasa terbeban tapi tidak ada terjun sama sekali, kita belum punya kerinduan untuk melihat pekerjaan Tuhan jadi. Maria mengatakan “jadilah pekerjaan Tuhan, pakailah aku”, mungkin kamu akan disalah mengerti “pakai aku”, mungkin kamu akan dianggap pezinah “pakai aku”, mungkin kamu dianggap pendosa, diusir dari tempatmu “pakai aku”. Ini kalimat “pakai aku” adalah kalimat yang agung sekali.

Satu kali ada seorang pemuda, waktu dia bicara dengan papanya, papanya selalu tunjukkan peta dan tunjukkan daerah Tiongkok kepada anak muda ini. Anak muda ini namanya Robert Morisson, tiap kali dia mendengar papanya mengatakan “ini daerah harus kamu doakan”, lalu dia mulai lihat daerah itu dan cinta daerah itu karena melihat petanya. Dia mulai doakan dan gumulkan kapan dia boleh pergi, dia mulai belajar bahasa yang diperlukan, dia mulai belajar adat istiadat, dia mulai belajar mendapatkan semua kekuatan untuk menjangkau orang-orang di Tiongkok. Lalu ketika saatnya tiba, dia berdoa “Tuhan, saya sudah siapkan smeua, saya sudah menggali potensi diriku, saya sudah melatih diriku, ini saya Tuhan, pakai saya, utus saya untuk menginjili mereka”. Ini adalah beban berat, tetapi sekaligus disertai dengan perkataan “saya juga mau dipakai”, mari kita belajar seperti ini. Saudara mengatakan kepada Tuhan “Tuhan, pekerjaanMu harus jadi”, lalu engkau di mana? “di sini saya, Tuhan, saya siap, pakailah saya”. Doa seperti inilah yang diajarkan oleh Alkitab. Mari kita berdoa sambil siap bayar harga, mari kita rela menjadi orang Kristen sambil siap pikul salib. Ada pendeta mengatakan sekarang orang Kristen maunya pikul salib yang gampang, salibnya ukurannya diperkecil, kemudian diberi rantai dan dipakai di leher. Pikul salib ganti dengan kalung salib. Ini tidak berarti tidak boleh pakai kalung salinb, tidak apa-apa, sambil pakai kalung salib sambil pikul salib, itu tidak apa-apa. Tapi kalau mengatakan “Tuhan, saya sudah pikul salib, salib yang ini” Tuhan mengatakan “terlalu kecil, ganti dengan yang besar”. Yesus mengatakan “siapa yang mau ikut Aku, dia harus menyangkal diri dan pikul salib”. Ini kalimat yang sering kali kita anggap sebagai satu kesulitan menjadi orang Kristen. Karena meskipun secara teori kita aminkan, terkadang kita tidak mau hidup dengan menyangkal diri, kita ingin hidup dengan menikmati apa yang kita mau. Kapan kita boleh menikmati apa yang kita mau? Kapan kita boleh menikmati hidup sesuai dengan cara kita? Kapan aku boleh bersenang-senang? Jawaban dari Tuhan adalah “engkau akan masuk dalam sukacitaNya Tuhan”. Jonathan Edwards mengatakan “kenikmatan paling agung adalah waktu melayani Tuhan”. Jadi sebenarnya kita bukan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, kita bersakit-sakit dan secara paradoks sekaligus bersenang-senang waktu melayani Tuhan.

Pikul salib itu berat sekaligus mulia, pikul salib itu berat sekaligus penuh dengan kelegaan. Karena Tuhan Yesus mengatakan “ikut Aku, belajar dari Aku, datang kepadaKu hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat”, ini kata Tuhan. Yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada Yesus, lalu setelah datang kepada Yesus mendapatkan kuk, suruh pikul salib. Mengapa bebannya malah ditambah? Tuhan tidak menambah beban, Tuhan ganti bebanmu. Bebanmu yang tidak perlu, Tuhan ambil, Tuhan beri yang perlu. Tuhan mengatakan jangan pikul yang berat, tapi pikul yang enak dan ringan. Tapi apakah betul enak dan ringan? Kita tanya kepada Tuhan Yesus “apakah bebanMu enak dan ringan?”, “bebanKu adalah enak dan ringan. Aku tinggal jalan ke Golgota dan mati”. Bukankah itu berat? Itu ringan, karena sedang menjalankan pekerjaan Tuhan. Yesus Kristus meskipun banyak penderitaan, tapi Dia jalan dengan langkah yang mantap. Inilah yang Tuhan katakan bebanKu sepertinya memang begitu sulit, sepertinya begitu banyak, sepertinya begitu berat, tapi Tuhan sudah janjikan kalau tukar dengan beban dari Tuhan, ini beban yang akan membuat engkau mengalami kelimpahan di dalam Tuhan. Itu sebabnya banyak orang melayani Tuhan begitu berat, melayani Tuhan begitu capek, tetapi tetap sukacita bisa terus terpancar dari wajahnya. Maka Maria mempunyai iman seperti ini, dia mau mengerjakan pekerjaan Tuhan, “pakai saya Tuhan”, tapi nanti berat, harus pikul salib, nanti akan dianggap apa oleh orang? “Silahkan jadi apa yang Tuhan mau dari diri saya”. Dia sudah siap “pakai saya, supaya pekerjaan Tuhan jadi. Saya bukan siapa-siapa, tapi kalau Tuhan mau pakai saya, silahkan pakai”. Maka Maria mempersembahkan dirinya. Dia bisa apa? Dia mungkin tidak bisa apa-apa, tapi dia mengatakan “kalau Tuhan mau pakai rahimku untuk melahirkan Sang Penebus, Tuhan pakai saja”. Sebab Tuhan rela lahir didunia, itu adalah satu mujizat dan satu kemuliaan yang sangat besar. Tapi Maria juga mengerti bahwa pekerjaan Tuhan tidak harus selalu dikerjakan lewat dia. Ini hal kedua yang harus kita pelajari, Maria mengerti bahwa pekerjaan Tuhan tidak hanya lewat dia. Maka setelah malaikat mengatakan “engkau akan mengandung, melahirkan seorang anak”, Maria mengatakan “tidak mungkin, saya belum menikah”, malaikat mengatakan “tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, sebab sepupumu, saudaramu yaitu Elizabet, sekarang sudah tua dan sekarang dia sedang mengandung”. Setelah malaikat mengatakan itu, Alkitab mengatakan Maria berjalan dari daerah Nazaret terus ke daerah dekat Yerusalem, ini perjalanan jauh melewati gunung dan bukit. Mengapa dia berjalan jauh? Bagi orang muda, bagi seorang perempuan yang belum 20 tahun untuk pergi jauh, ini sangat bahaya. Orang zaman dulu kalau pergi mesti bersama suaminya atau dengan keluarganya, tapi di sini tidak dicatat Maria pergi dengan siapa, mungkin dia pergi jalan kaki sendiri. Mengapa dia berjalan kaki sendiri? Dia mau melihat pekerjaan Tuhan di dalam diri Elizabet. Dia tidak fokus pada diri “yang penting aku, Tuhan sudah kerjakan apa kepada diriku”, dia terus melihat “Tuhan mau kerjakan apa di tempat aku ingin lihat”. Ingin melihat Tuhan bekerja, ini adalah sifat kedua yang harus kita pelajari. Ingin supaya Tuhan menyatakan pekerjaanNya, ingin menjadi saksi. Bolehkah aku menjadi saksi Tuhan bekerja? Mungkin bukan aku yang dipakai, tapi aku ingin lihat sendiri Tuhan bekerja menyatakan diriNya kepada dunia ini.

Maka Maria berjalan dari daerah utara, Israel, terus ke daerah selatan hanya untuk bertemu Elizabet, tunggu Elizabet sampai kandungannya cukup waktu lalu melahirkan anak, cuma ingin lihat anaknya lahir. Begitu bayinya lahir, Maria pulang lagi. Keuntungan apa yang Maria dapatkan? Apakah dia sekalian ekspansi bisnis ke daerah dekat Yerusalem? Tidak, cuma lihat bayi lahir lalu pulang. Ini kegiatan yang makan waktu banyak, makan energi banyak, tapi efeknya secara finansial secara keuntungan tidak ada. Tapi Maria mengatakan “aku ingin lihat Tuhan bekerja melahirkan anak bagi Elizabet, ini sangat penting, aku ingin lihat”. Di dalam sejarah kita temukan orang yang rela bayar harga untuk sesuatu kebanyakan dari mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Kalau cuma kebanyakan cita-cita, tapi tidak pernah bayar harga untuk cita-cita itu, percuma. Ada pepatah mengatakan, kalau tidak salah Bung Karno yang mengatakan, “gantungkan cita-citamu setinggi langit”, setelah digantung apa? Banting diri untuk ambil, loncat dan jatuh beberapa kali sampai dapat. Pak Tong pernah bilang “Yohanes Sebastian Bach mengapa besar? Karena dia waktu umur 20 pernah jalan kaki 250 km hanya untuk dengar seorang bernama Buxtehude main organ. Kalau kita maunya kemana-mana naik taksi, diantar jemput, mau yang paling nyaman, makanya kita tidak pernah dapat apa yang kita mau. Kalau ingin pekerjaan Tuhan jadi, harga apa yang mau kita bayar? Maria rela jalan jauh hanya untuk menyaksikan Tuhan sedang bekerja. Dan yang dia saksikan bukan pekerjaan Tuhan lewat dia melainkan lewat Elizabet. Kita harus lihat Tuhan bekerja, lalu kita ingin berada di tempat di mana Tuhan sedang bekerja, inilah kerinduan yang harus kita punya. Saudara menyaksikan di mana Tuhan ada, kadang-kadang gereja mengadakan kebaktian secara rutin terus tanpa sadar apakah Tuhan sedang bekerja di tempat ini atau tidak. Maka kalau Saudara mau melakukan apa pun dalam hidup, Saudara harus tanya apakah saya ada di dalam pekerjaan Tuhan? Apakah Tuhan sedang mengerjakan sesuatu lalu saya berbagian? Kasihan sekali kalau tidak. Sayang sekali kalau kita menjadi seperti orang-orang di Betlehem, semua sibuk tidur, lalu Yesus sudah lahir. Nanti di sorga waktu Yesus sudah lahir, mereka tahu mereka tidak berbagian di dalam apa yang Tuhan sudah kerjakan, ini pun kalau mereka masuk ke sorga.

Maka Maria waktu mendengar “Elizabet akan mengandung”, dia mengatakan “saya harus lihat”, lalu dia pergi lihat. Setelah lihat bayi itu dilahirkan, barulah dia merasa ada suatu kepuasan melihat Tuhan bekerja. Tetapi ketika dia baru datang, dikatakan “salam hai Elizabet”, Elizabet langsung melihat dia, kemudian mengatakan “salam untuk kamu”. Di dalam ayat 42 dikatakan “diberkatilah engkau di antara semua perempuan. Diberkatilah buah rahimmu. Sebab siapakah aku sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku. Sesungguhnya ketika sampai salammu, anak dalam kandunganku melonjak kegirangan. Berbahagialah dia yang percaya sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana”. Ini pasti membuat Maria kaget, Maria datang dengan persiapan untuk menghormati Elizabet yang jauh lebih tua, yang sekarang sedang mengandung. Tapi Elizabet balik menghormati dia. Maria adalah orang yang tetap merasa dirinya rendah, tetap merasa dirinya kecil, tetap merasa dirinya bukan siapa-siapa. Ini bisa kita lihat dari puji-pujiannya di ayat 46 dan selanjutnya. Dia terus merasa “aku orang kecil yang Tuhan mau pakai”. Maka ketika Elizabet mengatakan kalimat begitu penting, dia heran, “mengapa aku dihormati dengan penghormatan yang demikian besar?”. Lalu Alkitab mengatakan bayi di dalam kandungan Elizabet yaitu Yohanes Pembaptis langsung melonjak kegirangan waktu mendengar suara Maria. Bayi ini melonjak karena dia dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus sangat mudah mengagumi Kristus. Apa pun yang berkaitan dengan Kristus akan membuat orang yang dipenuhi Roh Kudus penuh dengan perasaan penuh dengan kelimpahan. Kita mengaku dipenuhi oleh Roh Kudus, tapi apa pun tentang Kristus bikin kita tetap bosan, ini tidak mungkin dari Roh Kudus. Roh Kudus meninggikan Kristus. Orang yang dipenuhi Roh Kudus, rindu dengar tentang Tuhan Yesus. Apa pun yang berkait dengan Kristus membuat dia merasa penuh dengan kelimpahan. Saudara kalau mencintai seseorang, lalu sudah lama terpisah dari orang itu sampai berapa lama, Saudara akan muncul rindu atau ucapan syukur? Waktu berpisah ingin bertemu, ini relasi yang baik. Waktu berpisah dengan Kristus, ingin bertemu “Tuhan, kapan bisa bertemu dengan Tuhan langsung? Kapan bisa bertemu dengan Engkau?”, in ikerinduan akibat Roh Kudus, bukan kita. Karena hanya Roh Kudus yang memampukan kita melihat kemuliaan Kristus yang sengaja disembunyikan dari dunia.

Waktu Yesus datang ke dunia, Dia tidak menunjukkan kemuliaan dengan cara yang terlihat, Dia pilih perempuan sederhana seperti Maria. Lalu dia lahir sebagai bayi yang kecil, tidak ada tanda apa pun bahwa Dia adalah yang Ilahi. Saudara waktu lihat Dia, sama seperti bayi lain. Waktu lihat dia besar, Saudara akan mengatakan “ini kan anak tukang kayu”. Waktu Dia memanggil murid-murid, mungkin kita sama dengan Orang Farisi, mengatakan “Kamu orang rendah, cuma menarik pelayan bodoh. Semua orang pendidikan tidak menyukai Kamu, semua orang bodoh ikut Kamu. Maka sebenarnya Kamu adalah orang rendah”. Kita akan melihat Dia sebagai orang yang rendah. Waktu kita melihat Dia dihakimi, mungkin kita akan mengatakan “hukum Dia, karena Dia memang diriNya Anak Allah, padahal diriNya hanyalah manusia biasa”. Waktu Dia disiksa, mungkin kita mengatakan “Kamu mendapatkan apa yang pantas Kamu dapatkan”. Mungkin waktu Dia di kayu salib, kita sama-sama berkata seperti orang lain “turun dari salib, baru kami percaya. Kalau tidak, kami sudah tahu Engkau hanyalah pemberontak yang layak dihakimi”. Dunia lihat Yesus tidak lihat kemuliaan, dunia melihat Yesus tapi tidak melihat hal yang menyatakan kemuliaan sorgawi. Tetapi justru Tuhan datang seperti cara ini, supaya orang dengan iman melihat kemuliaan Kristus, mereka ini lah yang akan diselamatkan. Maka Yesus datang dengan menyembunyikan kemuliaanNya, menjadi hina. Hidup dengan cara yang hina. Itu sebabnya Kristus mempunyai fokus dan perhatian yang besar untuk orang hina. Ini kita sulit mengerti, tapi dalam Injil Sinoptik Yesus banyak terus memanggil orang berdosa, banyak memanggil orang cemar, banyak memanggil orang yang dianggap rendah oleh dunia ini. Ini sesuatu yang kita tidak bisa lakukan. Dan kalau kita ingin menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita harus ubah cara pikir kita memandang sama dengan cara Kristus memandang. Ini prinsipnya, Paulus mengatakan orang penting harus dijangkau, orang pintar jarus dijangkau, yang bodoh pun juga harus. Mengapa kita harus jangkau orang pintar? Karena orang pintar harus jadi hambanya orang bodoh. Orang pintar dijangkau supaya dia melayani orang bodoh. Supaya yang bodoh tidak bodoh terus. Maka orang yang rohani dijangkau untuk menjangkau orang yang tidak rohani. Orang yang rohani cuma mau kumpul dengan sesamanya sendiri, ini bukan rohani.

yang kalau cuma mau nyaman sendiri, tidak pernah menjangkau, tidak pernah mengekspose diri untuk terlibat dalam dunia, itu bukan Kristen. Yesus tidak terus tinggal di sorga, Yesus tidak membuat komunitas sorgawi dengan para malaikat, bersekutu dengan Gabriel, Mikael dan Allah Tritunggal. Dia datang bertemu pelacur, Dia datang bertemu pemungut cukai, Dia datang bertemu dengan orang kerasukan setan kemudian Yesus sembuhkan. Ini Kristus yang dikenal oleh Injil Sinoptik, ini Kristus yang dikenal oleh gereja mula-mula. Mereka tahu Yesus sangat memperhatikan orang hina, karena Dia sendiri pernah jadi hina. Dia sendiri adalah objek hinaan dunia ini. Kalau Saudara pernah mengalami sesuatu, Saudara akan mudah berbelas-kasihan kepada orang yang sama. Orang yang pernah lapar gampang kasihan kepada orang yang lapar, orang yang pernah mengalami keluarga hancur gampang kasihan kepada orang yang mengalami keluarga hancur. Orang yang pernah kehilangan orang yang dikasihi gampang sekali untuk akrab dan memahami orang yang kehilangan. Itu sebabnya Kristus sangat mau menjangkau orang hina, karena Dia pernah jadi objek hinaan dunia ini. Dia Allah yang paling mulia tapi rela diludahi. Itu sebabnya Dia mengerti kalau ada orang-orang yang, waktu orang lain lihat mau ludahi wajahnya, ketika dunia ingin meludahi wakah orang itu, Yesus mengulurkan tangan mengatakan “maukah engkau mengikut Aku?”, ini adalah keagungan dari Kristus. Maka kalau kita mau melayani, harus mempunyai ciri seperti Kristus, jangan gampang geli sama orang, jangan gampang memberikan label apa pun kepada orang lalu hindari. Pak Tong pernah bilang kalau kamu mau menginjili, cari orang yang paling kamu benci, injili dia, baru kamu jadi penginjil sejati. Orang bilang “mau pergi ke Afrika, mau pergi ke Amerika, karena orang Indonesia musuhku semua” ini namanya lari dari musuh. Maka Pak Tong mengatakan “coba belajar pengampunan dulu, injili orang yang kamu benci, lalu dia menjadi murid Tuhan, baru kamu menjadi penginjil yang sejati”. Maka kita mau jangkau orang yang dunia ini tidak mau lihat, tapi ini yang Kristus nyatakan. Maka waktu Roh Kudus menggerakkan orang melihat kemuliaan Kristus, Roh Kudus juga akan menggerakkan orang untuk melihat pekerjaan Tuhan yang mulia yang mau menjangkau orang-orang yang tidak layak untuk datang kepada Tuhan. Saya tidak lupa pelayanan penginjilan kepada orang-orang yang benar-benar sudah ditinggalkan, kami lakukan terlalu kecil, tapi ada orang-orang yang terjun lalu setiap hari ketemu orang-orang ini. Di Malang ada seorang jemaat yang menjadi pembina rohani untuk satu panti cacat mental dan panti ini pun sangat kasihan, setiap sumbangan datang dipotong sebagian untuk pengelolanya, dipotong sebagian untuk pengurus, dipotong sebagian untuk pemilik. Lalu yang masuk bantuang beneran itu sangat kecil, orang-orang yang menjadi pekerja di situ digaji kecil sekali. Kadang-kadang gaji lupa dibayar. Jadi ini adalah pelayanan yang sangat-sangat perlu kesabaran, tetapi Tuhan mengijinkan kita harus belajar melihat siapa yang hina, dia adalah objek kasih Kristus yang justru utama.

Saudara punya kelebihan dan bakat apa, Saudara menjadi pelayan bagi orang yang kurang berbakat. Saudara rohani agung, Saudara menjadi hamba bagi yang brengsek, bagi yang jahat, bagi yang rusak, bagi yang tidak peduli kepada Tuhan. Saudara menjadi orang kaya, Saudara harus menjadi hamba bagi orang yang tidak punya. Saudara menjadi orang pintar, Saudara harus jadi hamba orang-orang bodoh membawa mereka mengerti kebenaran. Inilah prinsip Kekristenan yang sejati, dan hanya ketika Roh Kudus menggerakkan kita baru kita bisa melihat apa yang Kristus lihat, baru kita bisa melihat kemuliaan pekerjaan Tuhan. Tuhan kerja di mana? Kita mau di situ. Lalu kita mengatakn “Tuhan, aku sudah kerjakan pekerjaanMu, aku sudah melakukan banyak hal bagiMu”, lalu Tuhan Yesus akan tanya “waktu Aku dipenjara, engkau di mana? Waktu Aku lapar, engkau ada di mana? Waktu Aku haus, engkau ada di mana? Waktu Aku telanjang, engkau ada di mana?”. Mengapa Tuhan Yesus kembali memberikan kita fokus balik lagi ke orang-orang seperti itu? Saya sangat bersyukur di tempat ini ada pelayanan rutin ke penjara, nanti kapan-kapan kita atur waktu yang suka pelayanan itu harus sharing bagaimana pelayanan menjangkau orang-orang seperti ini di penjara. Saudara bertemu orang-orang seperti ini, lihat pun tidak mau, lihat tipe seperti ini langsung pegang dompet. Tapi mereka datang, mengatakan “Yesus memperhatikanmu, Yesus mengasihimu. Karena begitu besarnya cintaNya kepadamu, maka Yesus mengutus saya untuk melayani engkau”. Jadi kita adalah pelayan bagi mereka yang hina, sama seperti Kristus rela menjadi hina untuk melayani kita. Kiranya kita boleh belajar ketika melihat pekerjaan Tuhan yang agung, kita boleh belajar menerapkannya kepada orang-orang yang hina tetapi yang dikasihi oleh Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Dialah Yang Mempersiapkan Jalan Bagi Tuhan

(Lukas 1: 1-25)
Di dalam bagian awal dikatakan bahwa Lukas menulis bagi seorang bernama Teofilus. Buku ini adalah edisi pertama dari 2 buku yang ditulis oleh Lukas. Di dalam semua catatan bukunya tidak ada nama Lukas sebagai penulis. Tetapi kita tahu dalam Kisah Para Rasul bahwa ada seorang tabib yang menyertai Paulus. Waktu Lukas menulis, dia menulis pola yang sangat mirip dengan pola-pola tulisan pada umumnya di abad pertama. Orang Yunani klasik, orang-orang Roma klasik, ketika menulis tulisan mereka, umumnya akan didahului dengan kepada siapa buku ini ditujukan. Waktu orang menulis, biasanya akan menulis “buku ini ditujukan untuk seseorang” tapi bukan berarti buku itu hanya dibaca oleh orang itu. Buku ini akan menyebar keseluruh orang, tapi nama di depan adalah penghargaan kepada siapa buku ini ditujukan. Kita tidak tahu siapa Teofilus ini, tidak ada catatan mengenai siapa dia, tidak ada penjelasan tentang dia, hidup seperti apa, apa pengaruhnya kepada gereja, semua tidak ada, sehingga kita sulit mengetahui siapa orang ini, yang kita tahu dia pasti orang yang punya jabatan tinggi. Maka dikatakan “Teofilus yang mulia, banyak orang menyusun suatu berita yang terjadi di antara kita”, Lukas mengatakan “yang saya tulis kepada kamu adalah berita yang sudah pernah engkau dengar” tentang Yesus, yang telah mati dan bengkit, benarkah Dia bangkit, benarkah yang dipercayai oleh gereja. Lukas menulis dengan mengatakan “yang sudah terjadi, yang kamu dengar mungkin bukan suatu yang akurat. Saya akan tolong kamu untuk menulis yang akurat dari saksi mata. Saya akan catat apa yang saksi mata saksikan kemudian saya bukukan untuk engkau supaya engkau mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Berarti waktu Lukas menulis, dia tidak menulis hanya berdasarkan pemikirannya saja, tapi dia menjadi orang yang scientific sebelum istilah scientific muncul, dia menjadi proto-scientific. Dia menjadi penulis yang menulis dengan penyelidikan, menulis dengan argumen yang bisa diterima karena ada saksi yang mengatakan tentang kebenaran ini. Maka berita Injil waktu ditulis, bukan berita yang tidak bisa diselidiki oleh akal sehat. Orang sering kali membenturkan antara iman dengan penyelidikan scientific. Kalau scientific tidak beriman, kalau beriman tidak scientific. Akhirnya ada benturan antara iman dengan pengetahuan, iman dengan pemikiran, “sudahlah kalau kamu beriman, tidak perlu banyak tanya, orang beriman tutup mulut, tidak pernah bertanya mengapa”, sedangkan orang science sudah ada jawaban pun terus tanya mengapa. Lukas pun mengatakan kepada Teofilus atau kepada seluruh pembacanya “engkau ingin mengenal Allah yang sejati, engkau ingin mengenal Yesus, begitu banyak berita yang masuk. Jangan ambil semua lalu percaya semua, selidiki baik-baik”, maka Lukas mengatakan “saya akan membukukan dengan teratur supaya kamu bisa membedakan mana ajaran yang sejati mana yang tidak, supaya kamu bisa pelan-pelan bertanggung jawab dengan imanmu lalu menyelidiki mana yang sesuai mana yang tidak”. Sikap seperti ini adalah sikap kritis yang mempunyai sifat mau tuntut mengerti sampai dalam, itu tidak lagi ditekankan di dalam gereja.

Sekarang gereja mengatakan “kamu tidak perlu pikir banyak, yang penting kamu cinta Tuhan, yang penting kamu mau melayani Tuhan. Selesai”. Tapi dunia perlu jawaban mengapa engkau beriman kepada Kristus? Orang Kristen yang tidak bertanggung jawab tidak memperdulikan hal-hal ini, tidak pernah menyelidiki dengan dalam mengapa percaya Alkitab, mengapa percaya Injil yang dinyatakan disini, mengapa harus dengar setiap argumen ini? Maka kita akan tumbuh menjadi orang-orang yang eksklusif, yang mempunyai iman tapi tidak bisa menjelaskan mengapa, yang mempunyai iman tapi cuma menuntut orang mengerti dengan iman saja tapi tidak memakai pikiran yang baik dan tajam. Lukas menyatakan tulisan dia tidak seperti itu, dia tulis pelan-pelan, baik-baik, dia beri tahu sumbernya siapa. Lukas tidak mengatakan “menurutku Yesus Juru Selamat, menurutmu Dia siapa terserah kamu”. Maka dia mengatakan “saya gali dari para saksi yang menyaksikan sendiri kehidupan Yesus. Sekarang kamu punya catatan, silahkan buktikan”. Ayat 2 mengatakan “ini adalah sesuatu hasil penyelidikan dari saksi mata dan pelayan Firman”. Ayat 3 mengatakan “setelah selidiki semua itu, saya putuskan untuk bukukan dengan teratur untuk engkau”, ini cara menulis yang unik. Orang Yunani pun ketika membaca bagian ini akan mengetahui tulisan Lukas mempunyai pembagian standar yang umum. Tetapi kalau Saudara lihat pendahuluan masuk ke dalam inti pemberitaan Lukas, seperti ada pecah. Begitu masuk inti berita, Saudara mesti punya pengetahuan Perjanjian Lama. Begitu masuk inti berita Lukas, semua gaya Yunani langsung hilang digantikan oleh gaya Yahudi Perjanjian Lama, ini membingungkan. Lukan kan orang Yunani, mengapa menulis buku yang menuntut orang untuk mengerti Perjanjian Lama? Menuntut orang untuk mengerti konteks bangsa Israel untuk bisa mengerti? Ini yang harus kita pelajari, Lukas sedang mengatakan bahwa Yesus tidak bisa dilepaskan dari konteks Perjanjian Lama. Orang mau mengenal Yesus, harus kenal budaya Yahudi, harus kenal budaya Israel, kalau tidak maka tidak akan menerima pengetahuan yang akurat tentang Tuhan Yesus. Itu sebabnya orang Kristen punya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kalau kita hanya mewarisi Perjanjian Baru, kita tidak akan mengerti apa yang dinyatakan di sini dengan tuntas. Karena Perjanjian Baru menawarkan jawaban, tetapi pertanyaannya di dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Baru menyatakan penggenapan, tetapi janji dan proses menuju kepada penenggapan itu ada dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Baru menawarkan kesimpulan, tetapi Perjanjian Lama menceritakan sejarah pergumulan supaya sampai kepada kesimpulan itu. Banyak orang Kristen mengatakan “Christ is the answer. Yesus jawabannya”, waktu dibalik “pertanyaannya apa?”, “saya tidak tahu, tapi apa pun itu, Yesus jawabannya”. Bagaimana kita bisa mengukur arus listrik yang kuat? Yesus jawabannya, bagaimana saya bisa tahu kondisi dari latar belakang Perjanjian Lama? Yesus jawabannya, kalau begini caranya ujian kita paling gampang. Dan ini bisa kita ketahui kalau mengikuti proses yang panjang dari Perjanjian Lama untuk sampai kepada penggenapan. Richard Pratt, seorang ahli Perjanjian Lama mengatakan cara baca Alkitab yang paling hebat adalah Saudara kagum terhadap Perjanjian Lama, merasa ini sudah mewakili kekagumanku sampai puncak. Tapi begitu Saudara baca Perjanjian Baru lebih kaget lagi, ini namanya cara baca Alkitab. Richard Pratt katakan waktu baca Alkitab, waktu baca Perjanjian Lama “ini sudah maksimal, ini totalitas dari kemuliaan Tuhan sudah dinyatakan” begitu lihat Perjanjian Baru “ternyata ini penggenapannya”. Maka tidak ada pengertian yang total bisa kita dapat dari Perjanjian Baru kalau kita tidak mengerti Perjanjian Lama. Tapi kalau kita cuma mengerti Perjanjian Lama, kita tahu pertanyaannya, kita tahu pergumulannya, tapi kita tidak tahu jawabannya. Perjanjian Lama berakhir dengan janji “akan ada suara berseru-seru”, sedangkan Perjanjian Baru berakhir dengan mengatakan “Yesus sudah datang”, ini yang ditulis dalam Kitab Wahyu. Berarti orang baca Perjanjian Lama dengan pengertian nanti ada kegenapan, orang baca Perjanjian Lama lalu lanjutkan dengan Perjanjian Baru, baru mengatakan “sekarang saya memiliki kegenapan yang sangat indah, yang sangat agung dan mengagumkan”.

Jonathan Edwards mengatakan ketika kita masuk sorga kita akan mengalami peningkatan yang tidak terbatas tentang pengenalan akan kemuliaan Allah. Ini yang harap kita dapatkan ketika membaca Alkitab, terus mendapatkan pengertian makin limpah sehingga berita Injil memberikan kegenapan. Dan karena itu waktu Lukas mau menceritakan kegenapan di dalam Kristus, dia harus pakai gaya Yahudi. Dia . Lukas mengatakan “tradisi dunia Perjanjian Lama harus kamu mengerti untuk mengerti berita Injil”. Orang mau mendapatkan emas yang bagus harus kerja keras untuk dapat. Saudara ingin mendapat pengetahuan yang baik, saudara harus kerja keras untuk mendapatkan. Saudara mau mutiara iman yang baik, mari paksa diri untuk belajar lebih baik tentang apa yang dikatakan dalam Perjanjian Lama untuk membuat kita mengerti siapakah Yesus. Maka Lukas menulis dengan mengabaikan kesulitan budaya yang akan dimiliki pembacanya. Baca Injil Lukas susah karena tidak mengerti latar belakang Yahudi dan Perjanjian Lama, maka Lukas akan menyarankan “belajar, supaya mengerti dan bisa tahu”. Jadi kalau untuk hal-hal di dalam dunia ini Saudara harus kerja keras untuk mendapatkannya, Lukas mengatakan “mau kenal Yesus, belajar Firman baik-baik, belajar Alkitab baik-baik, selidiki Alkitab baik-baik, jangan mau jawaban instan”. Jadi orang diajar untuk cari, setelah itu mendapat pengertian karena terbiasa mencari. Lukas mengatakan yang saya tulis adalah peristiwa yang saya bukukan dengan teratur. Masuk dalam ayat 5 dan seterusnya, langsung budaya Yahudi yang kental masuk. Di dalam ayat 4 dikatakan “saya lakukan ini supaya engkau tahu yang diajarkan kepadamu sungguh benar”. Lalu Lukas masuk dalam pendahuluan di dalam berita Injil.

Waktu Lukas memberitakan tentang Injil, dia tidak langsung beritakan tentang Yesus, tetapi memberitakan Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus. Siapakah Yohanes Pembaptis ini? Mengapa dia harus ada sebelum Yesus datang? Ini dilakukan karena Tuhan sudah menubuatkan di dalam Kitab Yesaya dan Maleakhi. Di dalam Yesaya dikatakan “akan ada utusanku yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan”. Di dalam Maleakhi dikatakan “dia akan berjalan di dalam roh dan kuasa Elia”. Mengapa harus ada Yohanes dulu? Karena Tuhan mengumpulkan umatNya dari banyak tempat, waktu mereka dikumpulkan kembali setelah dibuang perlu ada orang yang memastikan mereka siap menerima kedatangan Yesus dan orang ini adalah Yohanes Pembaptis. Jadi harus ada nabi terakhir dulu berbicara menunjuk langsung kepada Yesus. Ini merupakan satu nubuat yang mempunyai pengertian simbolik yang sangat penting. Yohanes Pembaptis akan memadukan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru karena melalui dialah, orang Perjanjian Lama yang menantikan akhirnya melihat siapa penggenapnya. Yohanes Pembaptis harus datang karena dia mempersiapkan umat, lalu ketika umat itu muncul, Yohanes Pembaptis akan tunjuk “Yesus adalah ini, engkau harus datang kepada Dia”. Hanya Lukas yang membahas kedatangan Yohanes Pembaptis dengan membahas kedatangannya dan kelahirannya seperti dinubuatkan malaikat kepada orang tua Yohanes Pembaptis. Ini adalah satu-satunya kitab yang mencatat papa mama Yohanes Pembaptis, Zakharia dan Elizabet. Dikatakan bahwa Tuhan memanggil Zakharia dan Elizabet, dan mereka bukan orang penting, meskipun mereka adalah keturunan Harun, tapi Alkitab mengatakan mereka adalah salah satu imam. Dan waktu itu diperkirakan ada 1800 imam yang akan melakukan pekerjaan di Bait Suci. Orang Yahudi punya kebiasaan sebelum membakar korban harian, mereka akan membakar ukupan menyatakan doa umat Tuhan kepada Tuhan. Siapa yang bertugas membakar? Imam. Siapa boleh masuk ke dalam Bait Suci lalu membakar ukupan? Ada 1800 imam dari 1 golongan, belum golongan lain. Kalau imam begitu banyak, nanti satu orang mungkin cuma kebagian 1 kali, mungkin yang lain tidak kebagian tugas ini. Maka untuk masuk harus pakai undian, mengapa undian? Supaya adil, ini dari Tuhan, tidak ada yang protes. Ternyata yang dapat Zakharia, lalu Zakaharia masuk ke dalam Bait Suci. Di dalam Bait Suci sudah ada malaikat, ini benar-benar peristiwa once in a life time, dapat undian membakar ukupan, waktu bakar ukupan ketemu malaikat, dan ternyata malaikatnya adalah Gabriel. Gabriel adalah pemimpin malaikat yang Tuhan tugaskan untuk memberikan nubuat raja-raja besar akan datang dan Gabriel diutus kepada orang penting. Di dalam Perjanjian Lama setiap wujud malaikat itu selalu digambarkan perkasa, besar, tentara yang sangat kuat, tidak pernah malaikat digambarkan lucu-lucu dan imut-imut. Malaikat tidak gemulai, malaikat tidak cantik, malaikat menakutkan, perkasa dan mereka adalah alat perang Tuhan yang sangat efektif. Malaikat gagah, mereka pakai pakaian perang yang lengkap dan mereka adalah prajuritnya Tuhan. Alkitab mengatakan salah satu nama Tuhan adalah Yehovah Sevaoth, artinya Dia adalah pemimpin dari pasukan malaikat yang jumlahnya tidak terhitung. Malaikat besar jadi tentaranya Tuhan. Malaikat Mikael bertugas untuk berperang dengan iblis, malaikat Gabriel bertugas untuk memberikan Firman kepada orang penting. Waktu itu Daniel-lah orang penting itu, dia adalah orang jajahan, tapi dia bisa menjadi orang nomor 2 di seluruh Kerajaan Babel. Bahkan setelah Babel hancur, Persia muncul, dia tetap menjadi orang nomor 2 yang dipercaya oleh Gubernur Darius. Maka Daniel itu orang penting, Gabriel datang kepada Daniel lalu mengucapkan kalimat yang penting berkaitan dengan perpolitikan internasional pada waktu itu. Jadi Gabriel mempunyai tugas memberikan berita besar kepada orang besar. Tetapi kali ini Gabriel diutus kepada seorang yang bernama Zakharia, Zakharia itu dari 1800 imam dari negara jajahan yang tidak jelas perpolitikannya. Tetapi siapa Zakharia? Zakharia lahir, tumbuh, tua, mati, tidak ada kaitan apa pun dengan Israel, dia orang kecil. Tapi Tuhan mengatakan Gabriel datang kepada Daniel, Gabriel datang juga kepada Zakharia. Daniel dapat berita besar, Zakharia juga dapat berita besar. Bagi Tuhan orang beriman benar dan setia harus punya kedudukan tinggi. Maka didalam Alkitab dikatakan, ayat 6 mengatakan “baik Zakharia maupun Elizabet hidup benar di hadapan Allah menurut ketetapan Allah dan tidak bercatat”. Mereka orang-orang yang kerohaniannya baik dan Tuhan menghargai orang demikian. Saudara carilah dihargai oleh Tuhan, bukan dihargai dunia. Saudara menjalani hidup yang saleh di hadapan Tuhan, tidak peduli pangkat Saudara, tidak peduli gaji Saudara, sekecil apa pun kalau punya hidup seperti ini Tuhan akan hargai. Tuhan tidak menghargai Daniel karena dia pintar, hebat dan menjadi pemimpin besar. Tuhan menghargai Daniel karena kesetiaan dan kesalehannya. Sekarang kita jangan salah sering mendewa-dewakan orang pintar dan bukan tanpa alasan, kita sadar orang pintar akan berpengaruh lebih besar. Tapi Tuhan akan lihat siapa orang yang lupa diperhatikan, mungkin orang bodoh yang kurang penting, Tuhan mengatakan “engkau adalah orang yang Kristus pun rela mati bagimu”. Maka malaikat datang pada Zakharia, kemudian dia langsung mengatakan “jangan takut Zakharia”, waktu Zakharia mendengar ini dia kaget sekali, tapi sudah dibilang jangan takut, mesti taat. Dia belajar tidak takut. Tapi malaikat itu memberikan berita yang luar biasa, dikatakan “istrimu akan mengandung dan melahirkan anak”. Orang pada zaman itu yang tidak punya anak dianggap sedang dikutuk Tuhan dan kisah Alkitab justru membalikkan konsep itu. Yang tidak punya anak berbahagia, itu dikatakan oleh Maria dalam magnificatnya di Injil Lukas, “berbahagialah orang yang sedang berada dalam tahanan, berbahagialah orang yang tidak mempunyai anak”. Maksudnya adalah berbahagialah orang yang setia kepada Tuhan meskipun dicela oleh masyarakat. Zaman dulu beda dengan zaman sekarang, zaman sekarang orang bebas memutuskan tidak punya anak, tapi zaman dulu orang yang tidak punya anak dianggap dosa besar, kalau bukan dia mungkin nenek moyangnya yang berdosa besar. Buktinya tidak punya anak, buktinya tidak bisa melahirkan anak, pasti dikutuk Tuhan. Tetapi Alkitab dengan tegas melawan pengertian ini dengan menulis banyak orang tidak melahirkan anak itu dihina tapi Tuhan membalas hinaan mereka dengan mengatakan “dia adalah orang yang kepadanya Aku tetap berkenan”. Maka Elizabet meskipun mandul di hari tua, Tuhan berjanji kepada Zakharia “dia akan Aku pakai untuk melahirkan seorang anak”. Di dalam Alkitab hanya Simson, Yesus dan Yohanes Pembaptis yang sebelum kelahirannya, malaikat datang kepada ibunya. Maka malaikat berbicara kepada Zakharia kemudian menyampaikan berita ini bahwa nanti istrinya akan melahirkan anak. Kemudian berita ini ditanggapi dengan skeptik oleh Zakharia “mana mungkin, istriku suda tua, sudah lewat masanya. Meskipun istriku mengandung, ini adalah kandungan dengan resiko sangat tinggi, tidak mungkin. Secara manusia ini tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi”. Lalu malaikat itu mengatakan “karena tidak percaya, engkau akan bisu sampai janji Tuhan tergenapi”.

malaikat pada waktu mendatangi Zakharia dengan mengatakan engkau akan melahirkan anak. Zakharia mengucapkan kalimat bagaimana mungkin saya sudah tua, istriku sudah tua, malaikat mengatakan bisu kamu. Lalu malaikat mendatangi Maria dengan mengatakan “engkau akan mempunyai anak”, Maria mengatakan “bagaimana mungkin, sebab aku belum bersuami”, malaikat tidak bilang “bisu kamu”, mengapa maikat diskriminatif begini? Karena waktu malaikat mengatakan kepada Zakharia “kamu di hari tuamu akan melahirkan anak” ini sudah pernah terjadi. Kalau sudah pernah terjadi tapi Zakharia tidak percaya berarti Zakharia tidak mengimani apa yang Tuhan sudah pernah kerjakan. Tapi anak dara melahirkan, ini belum pernah terjadi. Maka waktu malaikat mengatakan kepada Maria “engkau akan melahirkan anak”, Maria mengatakan “bagaimana mungkin, sebab aku belum bersuami”, memang belum pernah ada orang yang belum bersuami melahirkan anak, jadi Maria yang pertama, wajar kalau Maria tidak percaya. Kalau Zakharia “bagaimana mungkin, sebab aku sudah tua”, malaikat bilang “Abraham dan Sara sudah tua.
Dan ini tidak terjadi pada Maria karena belum ada sejarahnya seorang perawan mengandung dan melahirkan anak. Maka Zakharia diberikan hukum sedikit “engkau akan bisu sampai pada hari di mana anak itu lahir”. Kemudian setelah dia keluar, orang-orang sadar dia pasti telah mendapatkan penglihatan dan setelah itu Elizabet bersyukur ketika dia akhirnya mengandung, dia menyembunyikan diri dan mengatakan “Tuhan mencabut aibku”. Ini merupakan bagian awal dari Injil Lukas yang menggabungkan beberapa hal. Yang pertama Injil Lukas menggabungkan tentang penggenapan janji sebagai sesuatu yang Tuhan ingat. Tuhan tahu kalau Dia sudah berjanji, Dia akan menyatakan pada waktunya. Injil Lukas menyatakan kepada orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan, Tuhan tidak lupa engkau, Tuhan tidak lupa bahwa Dia sudah berjanji kepada kita. Tuhan tidak lupa menyatakan pemeliharaan dan penebusan di dalam Kristus, Dia tidak akan lalai menjalankan janjiNya. Kedua, Injil Lukas mengingatkan bahwa Tuhan menjalankan hal hebat melalui orang benar dan saleh, bukan melalui orang-orang hebat dan besar. Ada orang-orang taat, setia melayani Tuhan, setia melakukan pekerjaan yang mungkin bagi dunia kecil, ada orang yang membimbing beberapa orang dengan setia, tapi orang cuma melihat bagaimana hamba Tuhan besar bisa berkhotbah kepada ribuan orang, ini yang dicari. Tapi yang Tuhan cari bukan prestasi besarnya, yang Tuhan cari adalah berapa setia orang ini dalam kebenaran. Inilah sebabnya Daniel bisa disejajarkan dengan Zakharia yang sebenarnya dalam pandangan dunia bukan siapa-siapa. Hal ketiga, dikatakan bahwa ketika Kristus datang mesti ada Yohanes yang mempersiapkan jalan, supaya ada murid, ada orang-orang yang akan beralih dari Yohanes kepada Yesus. Dikatakan Yohanes Pembaptis akan datang dan dia akan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia. Berarti dia punya kuasa dan roh yang sama dengan kuasa dan roh yang bekerja pada Elia. Elisa adalah penerus Elia, dia mengatakan “berikan 2 bagian dari roh Elia”, Yohanes Pembaptis tidak perlu minta, dia langsung mendapat 2 bagian. Mengapa 2 bagian? Karena dia memiliki roh dan kuasa, ini merupakan 2 hal, penyertaan dan kuasa yang menyertai penyertaan itu ada pada Yohanes Pembaptis. Hamba Tuhan yang berkuasa itu datang dari mana? Kuasa tidak bisa dipelajari, kuasa tidak bisa dilatih, kuasa adalah anugerah Tuhan bagi gereja pada zaman itu. Kalau ada orang berkhotbah dan orang bisa merasakan kuasa dari Tuhan, ini bukan kehebatan dia. Itu sebabnya kalau Saudara punya cita-cita masa depan, Saudara tidak mungkin isi cita-cita itu “saya ingin menjadi pendeta yang berkuasa”, untuk memiliki kuasa itu anugerah Tuhan bagi Gereja Tuhan. Maka Tuhan membangkitkan Yohanes Pembaptis yang mempunyai kemampuan berkhotbah begitu luar biasa. Dia kalau berkhotbah di padang gurun, orang dari jauh datang ke padang gurun. Mengapa dia bisa melakukan itu? Karena kuasa dari Tuhan. Kita tidak mengerti mengapa kuasa itu diberikan, kita pun tidak tahu bagaimana mengeluarkan kuasa itu. Jadi orang mempunyai kemampuan besar itu anugerah Tuhan bukan untuk dia tapi untuk gereja Tuhan. Tuhan kasihani gerejaNya maka bangkitkan orang seperti ini, Tuhan kasihani Israel maka bangkitkan Yohanes Pembaptis. Lalu Yohanes Pembaptis harus khotbah, setelah dia kumpulkan orang-orang menjadi pengikutnya, langsung dia mengatakan “sekarang kamu semua ikut Yesus. Saya siapkan kamu untuk Yesus, bukan untuk saya. Saya siapkan engkau supaya engkau bisa bertemu dengan Yesus Kristus”. Sifat seperti ini sulit dimiliki. Kalau Saudara tidak punya kemampuan kumpulkan orang ya gampang mengatakan “saya kumpulkan engkau untuk orang lain”, orang yang ikut Saudara mengatakan “memang saya merasa tidak kamu kumpulkan”. Tapi Yohanes Pembaptis punya kemampuan seperti ini, lalu dia mengatakan “sekarang kamu ikut Yesus”. Setelah Yesus muncul, pelayanan Yohanes mulai pelan-pelan turun, murid-muridnya tinggalkan dia ikut Kristus, setelah itu dia ditangkap, dipenjara, tunggu saat eksekusi sampai akhirnya dia dimatikan. Orang lupa akan dia, kalau Yesus tidak ingatkan apa yang sudah dia lakukan. Maka Yohanes Pembaptis pelan-pelan makin turun, Yesus makin lama makin mulia. Inilah panggilan Tuhan kepada sang pembuka jalan ini. Maka Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat besar, Yesus sendiri mengatakan “tidak ada orang yang lahir dari manusia yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis”. Apakah Yesus tidak lebih besar dari Yohanes Pembaptis? Yesus mengatakan “yang dari sorga, yang di sorga yang paling kecil pun tetap lebih besar dari Yohanes Pembatis”. Yesus sedang mengatakan dalam dunia Perjanjian Lama, Yohanes paling besar, nabi-nabi lain kalah dari Yohanes karena Yohanes melihat penggenapannya di dalam Kristus. Tetapi pengikut Kristus yang paling kecil pun sebenarnya lebih istimewa dari Yohanes Pembaptis, karena boleh mengikuti Tuhan Yesus. Inilah hal berikutnya yang Lukas mau nyatakan, ada pendahulu yang mempersiapkan umat untuk memandang kepada Kristus. Dan di dalam zaman sekarang kita semua juga disiapkan oleh Firman Tuhan untuk menyambut Kristus yang akan datang kembali. Kita menjadi umat yang fokus penglihatannya adalah kepada Kristus. Kita menjadi umat yang imannya bergantung kepada Kristus dan yang mengatakan “aku rindu Tuhan boleh datang menyatakan persekutuan yang intim dengan saya, dengan kami semua umatNya dengan sempurna”. Inilah yang dinyatakan dalam pendahuluan Injil Lukas, sebelum berbicara tentang Sang Mesias ada persiapan Tuhan ada umat yang menyambutNya. Kiranya kita menjadi umat yang juga menyambut Tuhan, merindukan dia dan boleh menggumulkan hidup yang disiapkan untuk kemuliaan Kristus.

(Ringkasan belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Bila Kupandang Salib-Nya ~ When I Survey the Wondrous Cross

Apa yang senang kita pandangi di dalam hidup keseharian kita? Ada orang-orang yang adalah budak nafsu yang senang memandangi gambar-gambar yang tidak senonoh. Ada orang-orang yang adalah budak uang yang senang memandangi uang atau jumlah rekening di buku ta-bungannya. Ada anak-anak muda yang senang memandangi tokoh idola- nya yang ganteng atau cantik. Ada juga yang senang memandangi produk-produk terbaru dari jenis barang yang disukainya. Dan juga ada yang ge-mar memandangi refleksi dirinya di dalam cermin. Hal-hal yang kita pan-dangi ada yang wajar untuk dipandang dan dinikmati dengan sewajarnya, tapi ada juga yang sama sekali tidak layak untuk dipandang. Namun yang pasti, segala hal yang memikat pandangan kita itu memanifestasikan apa yang menjadi ketertarikan hati kita.
Marilah kita untuk sejenak mengalihkan pandangan kita dari hal-hal tersebut dan memandang Salib Raja kita, Tuhan Yesus Kristus: di sana-lah Sang Anak Allah tersalib. Apakah ini pandangan yang mengenakkan? Di satu sisi, tidak. Siapa yang senang melihat tubuh yang terluka, wajah yang rusak, atau kepala yang berdarah? Tapi jangan tutup matamu! Teta-plah pandangi salib itu! Biarkan pemandangan itu berkata-kata kepada jiwamu. Pemandangan itu sedang mengatakan bahwa terlukanya tubuh Kristus adalah luka-luka borok di dalam hatimu, rusaknya wajah Kristus adalah kerusakan gambar Allah di dalam dirimu, dan darah di kepala Kristus adalah kebobrokan pikiranmu. Jangan kabur dari dirimu sendiri! Tetaplah pandangi salib itu! Di dalam salib itu ada kenyataan yang pahit tentang dirimu yang berdosa, dirimu yang hina, dirimu yang layak dibuang dari hadirat Allah.

Tetaplah pandangi salib itu. Perlahan, kepahitan realita hidup kita yang ditelanjangi oleh salib itu menjadi sesuatu yang manis, bahkan hal termanis di dalam hidupmu. Di dalam salib, engkau diterima se-bagaimana adanya. Di dalam salib, engkau diampuni dari segala dosamu. Di dalam salib, hatimu diobati sehingga gambar Allah di dalam dirimu bisa pulih. Tetaplah pandangi salib itu dan engkau akan tersenyum. Di dalam salib itu engkau sekarang menemukan senyuman Allah. Ada tangan yang terbuka yang menyambut engkau sebagai anak. Ada kesembuhan dari setiap kebiasaan berdosa yang sudah begitu membelenggu hidup kita. Tetaplah pandangi salib itu.
Charles Wesley, pencipta lirik lagu “When I Survey the Wondrous Cross”, sungguh mengerti kuasa transformasi di dalam memandangi salib Kristus. Salib itu akan melepaskan kita dari segala pemandangan yang membelenggu kita di dalam pemberhalaan. Ketika kita memandang salib Kristus, hal yang lain menjadi redup di bawah terang keindahan salib-Nya. Kiranya lagu ini boleh dipakai oleh Roh Kudus untuk mendorong kita un-tuk terus memandangi salib Kristus dan hidup kita boleh terus disem-buhkan oleh cinta kasih Allah

Tema Lagu April 2014 – Kematian dan Kebangkitan Yesus

Dalam rangka merayakan Jumat Agung dan Paskah, tema puji-pujian di kebaktian umum bulan April adalah “Kematian dan Kebangkitan Kristus”. Tidak ada tema lain di dalam sejarah yang mendorong manusia dengan gerakan yang sebegitu kuatnya untuk menciptakan lagu-lagu yang indah, selain daripada cinta kasih Allah yang nyata di dalam Yesus Kristus. Sejak dari masa Perjanjian Lama sampai pada saat ini, umat Allah adalah umat yang bernyanyi, karena kita telah didorong oleh tingginya, da-lamnya, luasnya, dan lebarnya kasih perjanjian yang dicurahkan TUHAN Allah kepada kita. Kasih Allah yang teramat besar ini berpuncak di dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
Kematian dan kebangkitan Kristus adalah inti dari berita kesela-matan. Kematian dan kebangkitan Kristus bukanlah sekedar satu hal ajaib yang terjadi di dalam sejarah tanpa ada kaitan dengan kita yang hidup hampir 2000 tahun setelah kejadian tersebut. Pohon yang terkutuk itu menjadi pohon berkat bagi kita. Bukit kematian itu mengalirkan air hidup bagi kita. Di dalam kematian Kristus, kita ikut mati bersama-sama dengan Dia. Di dalam kebangkitan Kristus, kita ikut bangkit bersama-sama dengan Dia. Barangsiapa beriman kepada Kristus, ia dipersatukan dengan Kristus, sehingga apa yang Yesus Kristus kerjakan teraplikasikan di dalam dirinya.
Di dalam bidang teologi sistematika, biasanya para teolog Reformed membagi penebusan menjadi dua bagian: penebusan yang telah digenapi oleh Kristus (redemption accomplished) dan penebusan yang diaplikasi-kan kepada kita (redemption applied). Redemption accomplished biasa dibahas di dalam topik Kristologi, sedangkan redemption applied biasa dibahas di dalam topik soteriologi. Dua hal tersebut bisa dibedakan, na-mun tidak bisa dipisahkan. Apa yang dikerjakan oleh Kristus secara “objektif” di dalam sejarah itu berkait langsung secara “subjektif” di da-lam diri kita melalui karya Roh Kudus yang mempersatukan kita dengan Kristus.

Begitu pula puji-pujian Kristen yang bertemakan kematian dan kebangkitan Kristus dapat dibedakan menjadi dua: yang menekankan ten-tang apa yang Kristus sudah kerjakan di dalam sejarah, dan yang menekankan tentang apa yang terjadi di dalam hidup kita secara nyata pada saat ini. Namun, sekali lagi, kedua hal itu adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika kita memandang dengan kagum kematian dan kebangkitan Kristus, hidup kita diubahkan. Ketika hidup kita diubahkan oleh Roh Kudus, hidup kita semakin serupa dengan Kristus yang meren-dahkan diri hingga mati di atas kayu salib. Redemption accomplished tidak mungkin tidak teraplikasikan di dalam diri umat pilihan; redemption ap-plied tidak mungkin terjadi tanpa karya Kristus. Kedua hal tersebut ibarat satu koin dengan dua sisinya yang berbeda.
Pembedaan dua hal tersebut berguna untuk membuat kita sadar akan limpahnya keselamatan yang TUHAN Allah berikan kepada kita. Ma-ta kita terlalu terbatas untuk melihat kedua sisi mata uang itu secara sekaligus. Namun ketika kita melihat satu sisi, kita selalu ditarik untuk melihat sisi yang lainnya, hingga kita terhilang di dalam kekaguman kita akan karya Allah di dalam Kristus dan di dalam hidup kita. Kiranya puji-pujian yang kita nyanyikan di bulan April akan membantu kita melihat kelimpahan tersebut.

Ia Meneduhi Jiwaku ~ He Hideth My Soul

Kegelisahan adalah fakta hidup manusia di dalam dunia ini. Ada orang-orang yang gelisah karena kesulitan ekonomi, ada juga yang lain gelisah karena tekanan sosial, dan yang lain lagi gelisah karena rusaknya relasi dengan sesama. Tetapi apakah benar bahwa itu semua adalah sumber permasalahan dari kegelisahan jiwa kita?
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa sumber permasalahan dari kegelisahan yang melanda seluruh umat manusia sebenarnya adalah rusaknya relasi manusia dengan Allah. Kita diciptakan untuk berteduh di dalam naungan kasih Allah, namun kita memusuhi Allah dan berdosa melawan Dia. Dari rusaknya relasi dengan Allah inilah timbul segala kegelisahan-kegelisahan yang lain.
Marilah kita perhatikan hidup Tuhan Yesus. Ia hidup dalam keterbatasan ekonomi, dipandang hina secara sosial, dan dimusuhi oleh berbagai pihak: baik kaum Farisi, Herodes, Pilatus, bahkan oleh murid-Nya sendiri. Namun, di tengah segala kesesakan hidup tersebut, Tuhan Yesus sangatlah stabil dan penuh dengan damai sejahtera, karena Ia senantiasa berpaut kepada Bapa-Nya yang terkasih dan Ia selalu berteduh di dalam kasih Bapa-Nya. “Aku tinggal di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku” (Yohanes 14:11). Apakah hati kita pun bisa mengalami perteduhan yang dialami oleh Yesus Kristus di dalam Bapa?
Lagu “Ia Meneduhi Jiwaku” yang diciptakan oleh Fanny Crosby merupakan pujian kepada Tuhan Yesus Kristus, yang disebut sebagai Juruselamat yang ajaib (A wonderful Saviour), karena Ia meneduhi jiwa kita ibarat batu karang yang besar dan kokoh. Ditengah perjalanan hidup kita yang diibaratkan sebagai perjalanan di gurun dunia, kita berteduh di bawah batu karang tersebut. Terlebih lagi, dari batu karang tersebut memancar air kehidupan, sehingga jiwa kita yang haus bisa mendapatkan kelegaan yang sungguh.

Kita hanya bisa mendapatkan kedamaian jiwa yang sejati di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib, kita diperdamaikan dengan Allah. Bagi kita yang berteduh di dalam Kristus, Allah bukan lagi musuh kita, melainkan Bapa kita. Roh Kudus memampukan kita, di dalam segala pergumulan hidup kita yang berat, untuk berseru kepada Allah dan memanggil-Nya, “Bapa” (Roma 8:15)! Terlebih lagi, dengan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, kita dimampukan untuk mengalami kesembuhan demi kesembuhan dari kerusakan natur kita di dalam dosa. Dari kebangkitan-Nya, air hidup itu memancar secara berlimpah, sampai kepada kekekalan!
Apa yang menjadi sumber penghiburan terbesar di dalam hidup Saudara? Kemapanan ekonomi, kuasa, atau kebijaksanaan kita sendiri? Itu semua bukanlah mata air hidup yang di dalamnya kita bisa mendapatkan sukacita dan kedamaian yang berkelimpahan. Itu semua bisa menjadi berhala yang menggantikan sumber sukacita kita yang sejati. Kembalilah kepada Yesus Kristus, Gembala jiwa yang Agung itu, yang memanggil hatimu untuk berbalik dan kembali berteduh di dalam Dia

SalibNya ~ Near The Cross

Banyak orang zaman post-modern ini yang menganggap bahwa semua pujian untuk Tuhan itu semua sama saja, diciptakan siapapun juga sama. Bukankah semua orang memiliki hak untuk mengekspresikan diri untuk Tuhan? Apalagi menciptakan lagu bukankah yang penting niatnya? Asalkan dengan lagu yang dicipta kita dapat merasakan hadirat Tuhan kan?
Bagaimanakah pandangan gerakan Reformed (baca: yang dianggap kolot) mengenai pertanyaan-pertanyaan ini?
Kita perlu menyadari bahwa tidak semua jenis musik sama saja karena dari sisi penciptaannya saja kita dapat melihat bahwa semua penciptaan musik merefleksikan penciptanya baik dari sisi pergumulan hidup, kewarga-negaraannya, roh zaman ketika penciptaan, pengaruh teologisnya, pendidikannya, motivasinya, dan terutama relasi pribadi antara sang pencipta lagu dengan Tuhan. Kita ambil contoh ekstrim saja, bagaimana lagu-lagu coptaan Fanny Crosby tentunya memiliki bobot dan kualitas jauh lebih baik dibandingkan dengan ciptaan “calon” presiden kita, Rhoma Irama.
Bagaimana tidak?! Fanny Crosby adalah seorang yang taat dan takut akan Tuhan, di dalam pergumulannya, di dalam kebutaan fisiknya, ia justru memegang rekor menciptakan lagu Kristen paling banyak, yaitu 8.500 lagu! Jumlah ini pun tidak termasuk himne-himne (puisi) yang belum ditemukan, karena sebagai wanita ia banyak menggunakan nama pena atau nama samaran lainnya. Iman dan relasinya yang intim dengan Tuhan dapat kita simpulkan lewat dialog Fanny Crosby dengan penginjil besar D. L. Moody. Moody bertanya, “Jika engkau hendak dikabulkan doamu oleh Tuhan, akankah engkau meminta agar matamu disembuhkan?”. Tertegun Fanny Crosby menjawab, “Lebih baik aku buta di dunia, karena kerinduanku adalah ketika aku mati dan dipanggil Tuhan, ketika aku membuka mataku, hal yang pertama kulihat adalah Ia yang menebus aku”.

Dalam lagu ciptaannya ini, “Salib-Nya, Salib-Nya, s’lamanya mulia!”, kemuliaan di dalam salib yang hina merupakan rahasia yang begitu besar dan paradoks (1 Korintus 1:31, Galatia 6:14, 2 Korintus 12:9). Pdt. Dr. Stephen Tong berkata bahwa orang pertama yang mempertemukan tema salib sebagai kemuliaan bukan toko teologi besar tetapi seorang nenek tua yang buta bernama Fanny Crosby. Mungkinkah seseorang dapat menciptakan himne dengan kualitas seperti ini tanpa menghidupi arti dan nilai anugerah di balik kemuliaan Salib yang hina? Tanpa kesaksian hidup dan pergumulan yang nyata, musik yang tercipta akan menjadi kosong dan palsu.
Fanny Crosby selama hidupnya tidak pernah menjadi kaya raya, seringkali ia malah berkekurangan karena ia banyak memberikan uangnya kepada yang memerlukan. Ia mungkin tidak menjadi kaya dari ribuan himne dan jutaan manusia yang menyanyikan karya ciptaannya, namun ia dapat bermegah di dalam Salib Kristus yang mulia itu.
Kita sering meremehkan kemurah-hatian Tuhan, kita menganggap dengan hanya niat yang baik saja Tuhan akan menerima semua bentuk persembahan kita. Tuhan punya hak untuk menolaknya jika cara kita tidak sesuai dengan keinginan Tuhan (Kejadian 4:1-6) dan Tuhan tidak mengindahkan kita.
Mari kita belajar pentingnya faktor siapakah composer di dalam musik, lewat Fanny Crosby kita dapat melihat contoh yang baik dalam penciptaan musik yang layak untuk Tuhan, melihat seseorang yang begitu mengenali Penciptanya hingga mampu menjabarkan rahasia Salib yang begitu dalam, namun tetap rendah hati di dalam talenta yang diberikan Tuhan, serta menghubungkan kecacatan fisiknya dengan harapan pertemuan kembalinya dengan Tuhan. Banyak yang kita dapat pelajari dari Fanny Crosby hanya dengan mempelajari dan menyanyikan 20-30 himne yang sering dinyanyikan saja, apalagi jika kita dapat mempelajari dan menyanyikan 8470 himne lainnya bukan?

Jangan Engkau Lalu ~ Pass Me Not, O Gentle Saviour

Himne yang dipakai di dalam Gereja Reformed Injili Indonesia banyak diambil dari buku kidung pujian, seperti buku Kidung Jemaat (GKI), Kidung Puji-Pujian Kristen (Gereja-gereja Tionghoa), Kidung pujian reformed injili (KPRI), buku pujian Perkantas, dan masih banyak lagi. Buku pujian yang berisi kompilasi himne yang agung ini muncul dari tradisi gerakan reformasi dan mulai berkembang setelah Calvin dan Luther melihat pentingnya bernyanyi berjemaat (congregational singing). Lalu seiring dengan inovasi Gutenberg yang menciptakan mesin cetaknya, gereja mulai banyak mempublikasikan literatur Kristen, baik dari Alkitab, buku filsafat, hingga buku-buku lagu pujian Kristen.
Namun kita harus mengamati sejarah dan latar belakang pemilihan lagu yang tercantum dalam buku-buku pujian ini, karena harus dapat dipertanggungjawabkan secara menyeluruh, baik dalam sisi teologis dan juga sisi estetika keindahan musik tersebut. Mengingat bahwa himne-himne ini terciptakan oleh gerakan atau denominasi yang berbeda-beda. Seperti Lutheran (Paul gerthard, Phillp Nicolai), Calvinist (Louis Borgoueise), Methodist (Charles Wesley, Fanny Crosby), Baptis (Gloria Gaither), bahkan di dalam Gerakan Reformed Injili (Pdt. Dr. Stephen Tong, Pdt. Billy Kristanto). Perbedaan denominasi dan teologis mempengaruhi dimasukannya beberapa lagu tertentu ke dalam buku-buku pujian.
Lalu bagaimanakah lagu ini? Kita baca kata-kata aslinya dalam bahasa Inggris yang berkata, ”Pass me not, O Gentle Saviour, Hear my humble cry, While on others Thou art calling, Do not pass me by. Bukankah bagi orang Reformed lagu ini berkesan kurang ‘TULIP’? Bukankah lagu ini berkesan kita yang tidak terpanggil dan dipilih Tuhan (While on others Thou art calling), memohon agar Tuhan bisa mendengar panggilan kita (Do not pass me by)? Jika demikian mengapa lagu ini ada di dalam hampir semua buku pujian Kristen?

Fanny Crosby terinspirasikan menuliskan lagu ini ketika ia sedang melakukan PI bersama rekan-rekannya kepada para narapidana di salah satu penjara. Satu sel demi satu sel Fanny layani dengan pemberitaan Injil dan menyanyikan lagu pujian. Namun karena waktu besuk terbatas dan tidak semua sel dapat dilayani, Fanny Crosby harus menyudahi pelayanannya dan mereka dipersilakan oleh sipir menuju pintu keluar. Tetapi karena banyak yang belum terlayani, Fanny Crosby pun dengan berat hati segera bergegas. Namun tiba-tiba dari sebuah sel yang belum dilayani, terdengar suara yang begitu pilu berkata, “Tolong, jangan engkau lalui aku.”. Fanny Crosby menulis dalam surat-suratnya bahwa ketika ia menulis himne ini, suara pilu dari satu sel itu terngiang di dalam pikirannya, sama seperti suara dua orang buta meraung-raung mencari Yesus (Matius 20:29-31). Teringat besar kasih Tuhan Yesus yang akan mendengarkan suara orang yang mencariNya, lalu terciptalah himne ini.
Sebagai orang reformed yang mengerti kedaulatan Tuhan, mudah sekali untuk kita menghakimi himne ini secara teologis kurang tepat, tetapi bukankah faktanya kita telah berdosa dan tidak layak lagi bersama dengan Tuhan, malah justru SEHARUSNYA Tuhan lewati? Bukankah harusnya kita bernyanyi demikian? Pujian ini secara universal menaruh posisi kita sebagai orang yang memohon kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan berkat-Nya kepada kita.
Himne yang agung mendorong jemaat kembali kepada Firman dan memposisikan kebenaran Firman Tuhan dalam liriknya di posisi utama, secara bersamaan menyatukan para penyanyinya secara universal, baik dari denominasi dan latar belakang teologis manapun. Hingga kini hampir semua buku pujian selalu mencantumkan himne ini di dalamnya.

Rescue The Perishing ~ Selamatkanlah Yang Akan Binasa

Lagu Rescue the Perishing yang diciptakan Fanny Crosby ini memiliki satu kisah yang sangat menggerakkan hati. Berikut adalah kisah Fanny Crosby sendiri mengenai insiden yang terjadi dalam penggubahan lagu tersebut:
“Pada waktu saya berkhotbah kepada satu kelompok pekerja pada satu sore yang panas di bulan Agustus, ada satu hal terus menggugah pikiran saya yang mengatakan bahwa ada satu anak laki-laki dari seorang ibu yang harus diselamatkan pada malam itu atau dia tidak akan diselamatkan sama sekali. Maka saya meminta bahwa jika ada satu orang anak laki-laki yang sedang mendengar khotbahnya, yang sudah berpaling dari ajaran ibunya, saya mengundang dia untuk datang dan berbicara dengan saya sesudah kebaktian. Ada seorang muda berumur 18 tahun datang dan berkata, ‘Apakah orang yang Anda maksud adalah saya? Saya sudah berjanji kepada ibu saya untuk bertemu dengannya di surga; tetapi jika saya hidup dengan cara hidup saya sekarang, hal itu adalah sesuatu yang mustahil.’ Kami berdoa untuk dia, dan dia berdiri dengan cahaya baru di matanya. Dia berseru dengan seruan kemenangan, ‘Sekarang saya dapat bertemu dengan ibu saya di surga, karena saya telah menemukan Allah ibuku.’
Beberapa hari sebelumnya, Mr. Doane mengirimkan kepada saya satu topik, ‘Selamatkanlah yang akan Binasa,’ dan ketika saya duduk di sana pada sore itu datanglah satu barisan kata-kata, ‘Rescue the perishing, care for the dying.’ Saya tidak dapat memikirkan hal lain lagi malam itu. Saya menggubah lirik lagu itu seketika itu juga dan himne itu juga seketika siap untuk melodinya. Hari berikutnya lirik tersebut sudah selesai ditulis dan langsung dikirimkan kepada Mr. Doane, yang menuliskan musik yang indah dan menyentuh seperti yang ada sekarang.
Di November 1903, saya pergi ke Lynn, Massachusetts, untuk berkhotbah di Young Men’s Christian Association. Saya menceritakan kepada mereka insiden yang memimpin saya untuk menulis lagu ‘Rescue the Perishing,’ seperti yang saya tulis di atas. Setelah pertemuan tersebut, banyak pemuda berjabat tangan dengan saya, dan salah satu pemuda terlihat sangat tergerak. Saya begitu terkejut ketika dia berkata, ‘Miss Crosby, saya adalah anak laki-laki yang tiga puluh lima tahun yang lalu sudah berpaling dari Allah ibuku. Pada sore ketika Anda berkhotbah dalam pertemuan misi tersebut saya mencari dan mendapatkan kedamaian, dan saya telah mencoba untuk menghidupi kehidupan Kristen yang konsisten sejak saat itu. Jika kita tidak bertemu lagi di dunia, kita akan bertemu di sana.’ Ketika dia mengatakan hal ini, dia mengangkat tanganku ke bibirnya (ket.: Fanny Crosby adalah seorang buta); dan ketika saya kembali dari keterkejutan saya, dia sudah pergi, dan sampai sekarang saya tidak mengenal namanya. Dia terus teringat di dalam hati saya setiap saya mengingat melodi lagu ‘Rescue the Perishing’.”
Kiranya lagu ini juga menggerakkan kita dengan satu urgensi untuk menjangkau orang-orang yang belum mengenal Injil Kristus, karena mungkin momen itu adalah satu-satunya momen yang Roh Kudus ingin pakai untuk kita memberitakan Yesus Kristus, satu-satunya pribadi yang dapat menyelamatkan orang tersebut dari dosa.
Sumber: http://cyberhymnal.org/htm/r/e/rescuetp.htm

Great Jehovah Mighty Lord

Himne baru yang kita nyanyikan di minggu ini berjudul “Great Jehovah Mighty Lord”. Himne ini diciptakan oleh Fanny Crosby dan Ira D. Sankey dan sarat akan berita penginjilan kepada seluruh dunia. Nama tune lagu ini disebut “Missionary Hymn” dan sering dinyanyikan pada KKR D. L. Moody.
Great Jehovah, mighty Lord, Vast and boundless is Thy Word;
King of kings, from shore to shore Thou shalt reign forevermore.
Bagian pertama lagu ini menyatakan Allah pencipta yang begitu berkuasa, yang Firman-Nya luas dan tidak terbatas, dan dari ujung bumi sampai ujung bumi. (Filipi 2:9-11; Roma 10:12)
Jew and Gentile, bond and free, All shall yet be one in Thee;
All confess Messiah’s Name, All His wondrous love proclaim.
Kristus yang telah mati di atas kayu salib menjadi korban penggantian kita, yang kemudian kita, umat manusia yang telah berdosa dan terpisah dengan Tuhan Allah dapat dipersatukan kembali. Orang Yahudi maupun bukan Yahudi, budak dan orang merdeka menjadi satu di dalam kesulungan Yesus Kristus.
From her night shall China wake, Afric’s sons their chains shall break; Egypt, where Thy people trod, Shall adore and praise our God.
India’s groves of palms so fair, Shall resound with praise and prayer; Ceylon’s isle with joy shall sing,Glory be to Christ our King.
Dua bagian ini memperlihatkan kekuatan Firman yang menembus banyak batas seperti negara, warna kulit, dan bahasa. Tersebutlah Cina yang pada abad 19 yang masih tertidur di dalam keterbelakangan dan keterpurukan supaya Firman Tuhan membangunkannya, tersebutlah Afrika yang lewat FirmanNya dapat bebas belenggu di dalam perbudakan, serta India dan Sri Lanka (Ceylon) terdengar suara pujian kepada Tuhan.

Bukan saja lagu ini diciptakan pada tahun 1800-an di mana terjadi kebangunan besar di Inggris dan Amerika, dan memulai perjalanan misi ke seluruh pelosok dunia. Kita jarang melihat himne seperti ini, yang bukan saja memuji nama Tuhan tetapi sekaligus juga menjadi doa penginjilan kepada negara-negara tersebut.
North and South shall own Thy sway; East and West Thy voice obey;
Crowns and thrones before Thee fall, King of kings and Lord of all.
Akhir lagu ini menggunakan ayat yang digunakan dalam oratorio “Messiah” oleh Handel yaitu Wahyu 19:16 “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.” yang menjadi pernyataan terakhir dalam konsumasi bahwa seluruh dunia akan tunduk (Wahyu 15:4) dan semua lidah mengaku Yesus menjadi Raja segala Raja dan Tuhan di atas segala Tuhan.
Lirik lagu dalam Bahasa Indonesia (terjemahan bebas)
Great Jehovah, Might Lord
Fanny Crosby 4/4
Ira D. Sankey Do = Bes

Tu- han Al – lah a – gung per – ka sa Fir- man- Mu tak ter- ben-dung;
U – mat da – ri s’ga – la bangsa, ja – di sa – tu da- lam – Mu
Se-mua be-nua, se – mua pu- lau, ha – rus de-ngar In – jil – Mu
U – ta – ra ke Se – la – tan, pe- nuh de-ngan pu- jian – Mu
Kris- tus kan se – g’ra kem – ba – li, me- mu- lih – kan se – mu – a

Ra – ja da – ri s’ga – la ra – ja, Kau ber-takh-ta s’la- ma- nya
S’mua menga- ku Kris-tus- lah Tu-han, dan me- mu- ji ka – sih – Nya
S’ga – la su – ku, s’ga – la bangsa, me – ni- nggikan Sa – lib – Mu
Da – ri Ba- rat sam – pai ke Ti- mur, ber – ge- ma mu- lia – kan- Mu
De – ngan gentar semua ber – su- jud, pa – da Tu-han se – mes- ta

Jangan Mengucapkan Saksi Dusta dan Jangan Mengingini

(Keluaran 20: 16-17, Keluaran 23: 1-3, Imamat 5: 1, 19: 14-18)
Di dalam hukum yang ke-9 diucapkan “jangan mengucapkan saksi dusta”, ini merupakan perintah yang harus kita lihat lebih dalam dari hanya sekedar tidak berbohong. Tuhan tidak senang orang yang tidak jujur dan Tuhan tidak senang kepada orang yang tidak punya maksud yang murni. Maka untuk melihat perintah ini, ada 2 hal yang harus kita selidiki. Yang pertama, perintah jangan mengucapkan saksi dusta menuntut seseorang untuk mempunyai kemurnian hati. Hati yang murni, yang bersih, hati yang tanpa motivasi untuk merugikan orang lain, inilah yang Tuhan suka. Tuhan tidak senang kepada orang yang belat-belit, demikian kata Alkitab. Orang yang belat-belit, Tuhan juga akan bertindak belat-belit kepadanya. Tuhan tidak pernah palsu, tapi Tuhan tahu bagaimana bertindak menghadapi orang palsu. Kekristenan bukan hanya mengurus orang percaya masuk sorga, Kekristenan mengurusi keadilan, Kekristenan harus menyatakan keadilan di tengah dunia. Tuhan sangat benci kepada ketidak-adilan, itu sebabnya di dalam Injil, Tuhan membongkar pemerintahan yang korup itu seperti apa, pemimpin agama yang tidak tulus itu seperti apa. Semua bentuk kerusakan terjadi karena manusia tidak tulus, manusia tidak murni hatinya. Waktu Tuhan menyatakan berkat dalam Matius 5, Dia mengatakan “berbahagialan orang yang suci hatinya” itu juga bisa diterjemahkan “berbahagialah orang yang murni hatinya”. Itu berarti apa yang di dalam sama dengan apa yang ditunjukkan di luar. Apa yang di dalam benar-benar nyata dan persis dengan apa yang dia tunjukkan di luar. Kita sulit melakukan hal itu, kadang-kadang manusia penuh dengan kepalsuan, kadang-kadang kita mau bermain politik, kadang-kadang kita mau menjaga relasi yang baik sehingga kita mengabaikan kebenaran. Dalam Keluaran 23 maupun Imamat 19, dikatakan “jangan mengucapkan berita bohong tentang orang lain sesamamu” ini adalah pencegahan terhadap gosip. Tuhan benci gosip. Tuhan benci berita-berita yang menyebar, tetapi tidak ada fakta di dalamnya. Bahasa Yunani, ketika mereka mengatakan kebenaran, mereka memakai kata alethea, artinya tidak ada tutup, tidak ada kabut, tidak ada bayang-bayang, sehingga saya bisa melihat objek itu dengan jelas. Waktu saya melihat objek itu dengan jelas, saya tahu dengan fakta bahwa inilah keadaan objek itu semurni-murninya. Karl Popper dari abad 20, mengatakan bahwa Eropa menjadi maju karena sifat mentalitas seperti ini. Mentalitas berani tukar pikiran, berani bicara, berani berdialog, bukan hanya pegangan kebenaran sendiri “kebenaranku kebenaranku, kebenaranmu kebenaranmu, jangan saling sentuh”, sifat ini tidak bisa membuat maju. Yang bisa membuat maju adalah saling interaksi, saling mangasah, saling mengoreksi kalau pendapat orang lain salah, dan saling rela dikoreksi kalau pendapat sendiri salah. Standar dari Tuhan, ini yang ingin kita cari tahu, tafsiranku terhadap standar itu dan tafsiranmu terhadap standar itu harus didiskusikan supaya kita tahu mana yang lebih benar, mana yang lebih dekat dengan kebenaran yang Tuhan mau nyatakan. Itu sebabnya dalam hukum ke-9 mengatakan “jangan bersaksi dusta” berarti Saudara mesti belajar tahu apa yang benar. Saya cuma tahu apa yang benar sebagian, saya pikir ini benar, saya dengan tulus mengatakan ini benar tapi ternyata masih salah. Bagaimana saya tahu harus berani bicara? Karena takut salah lebih baik saya tidak bicara, dari pada saya salah berbicara tentang orang lain lebih baik saya diam. Tapi dalam Imamat 5 mengatakan “kalau kamu tahu ada yang salah, kamu tidak bicara, kamu pun salah”. Kalau engkau tahu kebenaran, tapi tidak bicara, itu salah. Kalau bicara salah, itu juga salah. Jadi lebih baik apa? Diam salah, bicara juga salah, bicara separuh artinya separuh salah, tidak bicara salah, terus bagaimana? Alkitab mengatakan yang pertama adalah engkau harus tahu engkau tulus atau tidak. Kalau Saudara tulus, Saudara mengatakan “ini kebenaran yang saya tahu, kalau saya salah tolong dikoreksi” inilah langkah pertama yang Tuhan mau untuk manusia boleh menyaksikan kebenaran dengan akurat. Itu sebabnya Saudara tidak perlu takut kalau pengetahuan Saudara kurang komprehensif, kurang menyeluruh dan bahkan mungkin bisa salah. Saudara mengatakan “berdasarkan pengetahuan saya, dengan hati nurani yang tulus, saya menyatakan inilah yang saya tahu”. Saudara kalau tahu ada kebenaran, silahkan ungkapkan, tidak perlu takut. Tapi Saudara juga jangan marah kalau dikoreksi. Inilah yang diterapkan oleh Tuhan, kemurnian hati kita diterapkan dalam cara berbicara kita tentang orang lain. Alkitab mengatakan tahu ada yang salah, mesti ngomong. Kalau Saudara tahu ada yang salah, Saudara bicara kepada orang yang bisa memberikan masukan kepada orang itu. Bukan asal bicara, tahu-tahu orang sudah tahu kejelekan orang lain, ini tidak menolong sama sekali. Tuhan tidak suka hal seperti ini. Saudara jangan sebarkan berita jelek tentang orang kalau tidak ada gunanya Saudara sebarkan. Kalau Saudara sebarkan dan bisa menolong dia, silahkan, kalau tidak apa gunanya. Mengapa satu orang dijelekkan ke semua orang, tetapi fakta kebenaran dan pertolongan untuk orang itu tidak ada. Lebih baik, Saudara kalau benci satu orang, Saudara doakan dia, Saudara lihat kejelekkannya, doakan lalu sharingkan ke orang yang bisa perbaiki kejelekkan itu. Lebih baik gosipnya dihancurkan, lalu Saudara mulai masukan Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan.

Lalu hal kedua, perintah ini adalah juga karena Tuhan mencintai keadilan. Tuhan kita adalah Tuhan yang adil. Tuhan kita mau setiap kesaksian diberikan untuk pengadilan memberikan keputusan yang tepat untuk orang yang bersalah. Itu sebabnya saksi adalah posisi yang sangat penting. Saksi harus memberitakan apa yang dia lihat, apa yang dia tahu, supaya pengadilan memutuskan dengan tepat. Di dalam Alkitab banyak contoh tentang saksi dusta, waktu Raja Ahab mau kebun anggurnya Nabot, Raja Ahab mengatakan “saya beli kebun anggurmu”, Nabot mengatakan “ini warisan, perintah Tuhan. Warisan tidak boleh diperjualbelikan”. Akhirnya Ahab marah, dia pulang ke rumah, masuk ke kamar, kunci diri tidak mau makan. Melihat itu semua Izabel mau menanganinya, maka dia mengumpulkan orang-orang jahat dan mengatakan “kalian ajak Nabot makan, setelah itu kalian bertiga langsung bersaksi bahwa orang ini menghujat raja dan menghujat Tuhan, lempar batu sampai mati. Dan ini yang terjadi, kesaksian palsu dari orang yang dibayar Izabel. Setelah bersaksi bahwa Nabot menghujat Tuhan, Nabot dilempar sampai mati, maka Ahab langsung adopsi tanahnya menjadi milik dia. Tuhan marah sekali, Tuhan kirim Nabi Elia, Elia berkata “engkau akan mati karena dosamu”. Lalu Ahab menangis dan bertobat, “Tuhan ampuni saya”, Tuhan mengatakan “karena kamu minta ampun, Aku tunda kematianmu beberapa tahun”. Tuhan berikan kelonggaran penghukuman sedikit. Ini adalah kasus pertama. Kasus kedua tentang Tuhan Yesus, Tuhan Yesus ketika diadili, tidak ada orang bisa menemukan dosaNya apa. Bayangkan betapa bencinya orang Farisi, di dalam Injil dicatat ada orang Farisi yang ikut Tuhan Yesus ke mana pun Dia pergi, lebih setia dari murid, tapi mereka ikut hanya untuk catat kesalahan. Lalu mereka terus mau catat, tapi tidak ketemu satu pun. Maka sepanjang karir Tuhan Yesus melayani, tidak ada satu pun kesalahan, mereka harus berbohong. Maka saksi dusta mulai dibangkitkan, tapi Alkitab mencatat kesaksian mereka bertolak belakang satu sama lain. Mungkin yang satu mengatakan “saya mendengar orang ini berkhotbah di Yerusalem, kira-kira 1 bulan yang lalu, Dia mengatakan hancurkan Bait Allah, ini provokator, saya berani bersaksi bahwa kesaksianku benar”. Orang kedua mengatakan “bulan lalu saya juga mendengar orang ini khotbah di Nazaret mengatakan Bait Allah hancur”, yang sebelumnya mengatakan di Yerusalem, tapi orang ini mengatakan di Nazaret, mana mungkin Dia berada di 2 tempat sekaligus, kesaksiannya rusak semua. Tapi kemudian satu orang berkata “Orang ini mengatakan hancurkan Bait Allah”, apakah Tuhan Yesus pernah mengatakan itu? pernah. Tuhan Yesus mengatakan “hancurkanlah Bait Allah ini” maksudNya adalah tubuhNya, kata “ini”-nya dihapus. Ini kesaksian jahat. “Orang ini provokator, dia mengatakan Bait Allah harus dihancurkan, Dia harus dibunuh”. Banyak orang kutip orang lain tidak tepat. Saudara kalau mau kutip kalimat orang lain bisa hancurkan orang itu dengan gampang. Banyak orang kritik Pdt. Stephen Tong dari khotbahnya, ambil kalimatnya tapi tidak lengkap. Kalimat orang bisa diputar, diselewengkan dan tujuannya adalah untuk menghancurkan orang itu. Inilah yang dimaksudkan dengan saksi dusta dan Tuhan sangat membenci itu. Itu sebabnya dikatakan yang berdusta berharap orang lain dapat hukuman apa, dia harus dikenakan hukuman yang sama. Kalau Saudara bersaksi dusta dengan mengatakan “orang ini bunuh orang lain” kalau benar dia bunuh, hukumannya harus mati. Tapi kalau ternyata saksi itu bohong, maka saksi itu yang harus dihukum mati. Seperti hukuman yang didapatkan oleh orang tertuduh, demikian hukuman akan diterapkan kepada yang memberikan saksi. Ini berarti Tuhan sangat ingin keadilan terjadi, yang salah dihukum, yang benar dibenarkan. Yang salah mendapatkan upah, yang benar harus mendapatkan pembebasan. Itu sebabnya kesalahan besar dihukum besar, kesalahan kecil dihukum kecil. Kerusakan dunia harus diperbaiki oleh prinsip keadilan dari Tuhan. Kalau dunia kita sudah begitu rusak, dunia kita tidak lagi mengenal keadilan yang sejati, maka orang Kristen harus belajar Alkitab, cari tahu dari Alkitab apa yang sebenarnya harus ada di dalam keadilan yang sejati. Orang Kristen harus memberikan dampak sosial, ini yang dikatakan oleh Abraham Kuyper. Kuyper mengatakan orang Kristen yang tidak memberikan dampak sosial adalah orang Kristen yang mati. Semua dunia akan menghina orang Kristen kalau kita tidak mempunya kontribusi apa-apa. Saudara kalau tinggal dalam suatu lingkungan yang ada satu kelompok atau satu keluarga yang tidak pernah berinteraksi dengan yang lain, Saudara akan anggap mereka tidak layak berada di tengah-tengah ini. Maka waktu orang Kristen mengatakan “kami ada di dunia, tapi kami orang-orang sorga” tidak pernah ada usaha untuk melakukan apa pun untuk kebaikan lingkungan, ini orang Kristen yang tidak benar-benar mengerti Kekristenan. Orang Kristen mengerti Kekristenan akan tahu Tuhan membenci ketidak-adilan, maka kita pun membenci ketidak-adilan. Tuhan membenci neraca yang serong, Tuhan benci pedagang yang menipu, Tuhan benci hakim yang tidak beres, Tuhan benci pengacara yang cuma cari uang, Tuhan benci polisi yang suka memeras, Tuhan benci orang Kristen yang menindas orang yang lebih lemah. Karena itu Tuhan sistem keadilan harus dirombak oleh Tuhan, Tuhan mengatakan sistem keadilan harus ada 2 hal, yang pertama adalah adanya 2 atau 3 orang saksi. Saksi tidak boleh tunggal, Alkitab tidak pernah mengijinkan saksi tunggal. Bahkan untuk kehidupan Kristus pun yang menyaksikan kehidupanNya secara utuh itu ada 4 orang penulis. jadi saksi harus lebih dari 1. Inilah yang dimaksudkan dengan hukum ke-9, biarlah kita punya motivasi hati yang murni dan mencintai keadilan. Setelah hukum yang ke-9, Tuhan menutup semuanya dengan hukum ke-10.

Dan hukum ke-10 ini adalah hukum yang merangkum seluruh hukum yang lain. Inilah hukum yang memberikan penjelasan kepada kita bahwa setiap ketaatan terhadap Hukum Taurat itu harus bersifat dari dalam. Tidak cukup kalau kita mentaati Taurat secara lahiriah, harus dari dalam. Maka Alkitab mengatakan dalam hukum ke-10 “jangan mengingini”. Saya tidak mencuri tapi mengingini, dosa. Saya tidak berzinah tapi mengingini, berdosa. Saya tidak membunuh tapi mengingini untuk membunuh dia, ini berdosa. Jadi kalau dari 1-9 menghakimi tindakan, hukum ke-10 tiba-tiba merombak semuanya dengan menghakimi motivasi. Siapa bisa menghakimi motovasi orang? Tidak ada yang bisa. Itu sebabnya kita harus periksa dari dalam diri kita sendiri apakah saya jujur dan tulus, apakah saya punya keinginan yang sungguh atau tidak di hadapan Tuhan. Saudara kalau tanya kepada saya “pak, motivasi saya tulus atau tidak?”, saya akan jawab “saya tidak tahu”. Maka hukum ke-10 memberikan suatu pengertian dasar bahwa meskipun saya sanggup mengerjakan seluruh hukum dengan baik, kalau motivasiku salah, kalau keinginanku tidak tepat, semua yang lain tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya Saudara mempertahankan hidup yang bersih hanya untuk dilihat orang, tapi keinginan hati Saudara tetap untuk hal yang cemar. Saya bisa menahan diri tapi keinginanku tetap menyala-nyala, suatu saat saya akan jatuh. Sigmun Freud pernah mengatakan kalau orang menekan semua keinginannya, suatu saat keinginannya akan bocor. Kalau Saudara berada dalam masyarakat yang membenci apa yang Saudara suka, maka Saudara akan tekan yang Saudara suka. Kalau makin ditekan akhirnya dia akan bocor. Bocornya itu membuat psikologi Saudara terganggu, inilah kegilaan. Maka dia menulis tentang kebudayaan kegilaan dari abad ini dan segala ketidak-puasan yang dihasilkannya. Makin maju bangsa, makin maju zaman, makin banyak ketidak-puasan yang dimiliki manusia. Lalu ketidak-puasan itu kita harus tekan karena tidak sesuai dengan masyarakat, yang kita ingin tidak boleh dilakukan, yang kita tidak ingin terpaksa kita lakukan. Ini semua membuat tekanan yang berat dan akhirnya bocor keluar berupa gangguan psikologis. Ini teori dari Freud dan kita tidak terima sepenuhnya, tapi kita tahu apa yang dia katakan tetap ada sisi benarnya. Yaitu Saudara menekan keinginan untuk berdosa, suatu saat akan keluar lagi. Maka kalau kita bertindak seolah-olah murni tapi keinginan kita belum diperbaiki, tinggal tunggu waktu kita akan jatuh lagi. Orang yang tidak pernah berzinah, tapi keinginan berzinah muncul terus, suatu saat akan jatuh. Orang tidak pernah mencuri, tapi terus ingin, terus mau, lama-lama dia akan jatuh. Orang yang tidak pernah membunuh tapi benci orang tanpa bisa dikekang, lama-lama dia akan jatuh. Tidak ada orang bunuh orang lain, orang curi barang orang lain karena itu memang adalah cita-cita ideal dia, tidak ada. Tidak ada anak SD ketika ditanya “nanti kamu mau jadi apa?”, “maling”, tidak ada. Anak-anak akan mengatakan “aku ingin jadi dokter, aku ingin jadi misionaris, aku ingin jadi pelaut” Semuanya yang bagus-bagus. Bahkan yang sekarang jadi maling besar pun, dulunya ingin menjadi guru mungkin, tapi lama-lama dia dipengaruhi oleh tekanan, lalu dipengaruhi oleh keinginannya, dipengaruhi oleh kesempatan yang ada, akhirnya dia jatuh di dalam dosa. Maka hukum ke-10 mengingatkan kita semua, keinginanmu itu ada di mana. Dalam hukum ke-10 dikatakan “jangan mengingini” ada beberapa hal. Yang pertama jangan mengingini harta yang dimiliki orang lain, jangan mengingini istri orang lain. Waktu kaum feminis baca ini, mereka prostes mengapa sitri disamakan dengan kambing, sapi, rumah dan lain-lain, “jangan mengingini rumah, jangan mengingini sapi, jangan mengingini kambing, jangan mengingini domba, jangan mengingini istri” maka mereka ngotot harus tambahkan suami juga “jangan mengingini suami”, maksudnya tetap sama. Alkitab ketika memberikan contoh beberapa sedang bicara tentang totalitas. Dalam ilmu bahasa ada yang membahas ini, bicara beberapa bicara tentang totalitas, pars pro toto, saya bicara bagian tapi yang saya maksud adalah seluruhnya. Maka Alkitab mengatakan “jangan mengingini” bagian-bagian ditulis, tapi yang dimaksudkan adalah Saudara jangan mengingini secara total.

Yang dimaksudkan dalam hukum ke-10, Saudara jangan ingin apa pun yang membuat Saudara tidak merasa diberkati Tuhan, itu yang pertama. Saudara ingin karena merasa tidak diberkati Tuhan, Saudara pasti jatuh. Lalu yang kedua, keinginan Saudara di dalam Tuhan itu yang harus menjadi yang utama. Saudara menginginkan Tuhan, Saudara menginginkan hidup suci, Saudara menginginkan hidup di dlam kebenaranNya, Saudara menginginkan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, ini yang harus ada. Maka kalau saya gagal terus hidup dalam kesucian, saya doa terus kepada Tuhan “Tuhan, biarlah saya mengingini yang suci”. Tidak ada orang bisa sempurna, langsung berubah, dari bertobat tiba-tiba langsung suci, masih banyak keinginan cemar di dalam dirinya. Dan keinginan cemar itu muncul kemudian menguasai orang ini, waktu keinginan cemar menguasai orang ini, dia akan mengatakan “saya benci keinginan saya, saya ingin melakukan yang Tuhan mau, tapi saya tidak sanggup. Yang saya lakukan adalah hal yang saya benci” inilah pergumulan yang Paulus tulis dalam Roma 7. Paulus sedang bergumul tentang siapakah? ini sulit dicari tahu, tapi Paulus sedang membagikan pergumulan yang dimiliki oleh semua orang. “Tuhan, saya ingin tinggalkan dosa, tapi mengapa tidak bisa? Tuhan saya ingin setia kepada Tuhan, tapi mengapa sulit? Bagaimana jalan keluar supaya saya boleh hidup seperti yang Tuhan mau”. Alkitab mengatakan ini yang harus kita perjuangkan. Maka kalau Saudara tahu diri Saudara punya keinginan yang tidak beres, yang terlalu banyak, Saudara mesti bergumul, Saudara isi dengan kebenaran Firman, lalu banyak doa minta Tuhan bebaskan. Tuhan menyatakan di dalam Alkitab bahwa kuasa dari doa itu sangat besar. Tapi gereja-gereja yang tidak bertanggung jawab ajarkan hal ini untuk kita minta hal-hal yang sangat kita inginkan secara kedagingan. “Mintalah, maka akan diberikan” ini janji yang sungguh, dikatakan kalau kamu orang benar, kamu berdoa, doamu besar kuasanya. Maka gereja masuk dalam pendulum, satu sisi “doa orang benar besar kuasanya, ya Tuhan berikan aku kekayaan”, sisi lain “sudahlah, yang penting Tuhan sudah punya kehendak, kita tidak minta lagi”. Akhirnya yang satu meyakini kuasa doa dengan cara yang salah, yang satu lagi adalah yang tidak pernah yakin akan kuasa dosa. Saudara kalau yakin akan kuasa doa, Saudara berdoa akan memohon kepada Tuhan, “Tuhan, saya tahu engkau mendengarkan doa saya, saya mohon Tuhan perbaiki keinginan saya. Mengapa saya terus ingin hal yang cemar, mengapa saya terus ingin berdosa? Tuhan perbaiki di dalam diri saya”. Saya percaya ini adalah pergumulan tulus yang harus kita miliki. Lalu Saudara memohon sambil mengingat janji Tuhan dan pimpinan Tuhan, pelan-pelan keinginan Saudara akan berubah. Dulu ingin hal yang cemar, lama-lama ingin Tuhan. Tetapi mengapa kita sekarang ingin menjadi kaya, ingin menjadi sukses, ingin jadi populer, ingin mendapatkan pengakuan, semua keinginan yang kosong dan tidak berguna. Tetapi kalau kita mengubah dengan mengatakan “Tuhan, aku menginginkan engkau, aku menginginkan hidup yang suci, aku menginginkan Kristus dan tidak lagi yang lain” inilah kalimat yang agung, yang akan Tuhan berikan kepada kita. Itu sebabnya saya percaya dalam hukum ke-10 ada penggenapannya di dalam nubuat Yeremia. Nabi Yeremia mengatakan “aku akan mengadakan perjanjian baru denganmu, dimana aku akan mengubah hatimu, akan memberikan Hukum Taurat tertulis di dalam hatimu. Enkau tidak perlu lagi mengajar sesamamu kenallah Tuhan, karena hukum itu sudah tertulis di dalam hati”. Hati yang diubah, sekarang keinginanku adalah untuk Tuhan, kepuasanku adalah berada dalam Tuhan. Saya kalau baca Confession dari Agustinus, saya sangat terharu, mengapa ada orang yang bisa mengatakan “Tuhan nyatakanlah wajahMu kepada saya. Kalau saya harus mati memandang wajah Tuhan, biarlah saya mati dalam kepuasan memandang wajah Tuhan. Tuhan adalah bagian saya, saya tidak ingin, saya tidak akan kurang”. Mazmur 23 begitu indah “Tuhan adalah Gembalaku, aku tidak kurang, aku tidak ingin yang lain, ada Dia sudah cukup”. Inilah keinginan yang suci, yang murni yang Tuhan ingin kita miliki. Saudara tidak dipanggil Tuhan untuk mematikan keinginan, Saudara dipanggil Tuhan untuk mengarahkan keinginan kepada hal yang benar. Bisakah kita sampai pada hal ini? harus bisa. Biarlah kita belajar untuk mulai menginginkan hal yang tulus, yang lebih suci. Kalau ada orang bertanya kepada saya “kamu sendiri khotbah ingin Tuhan-ingin Tuhan, kamu ingin uang atau tidak? Uang itu perlu, kamu kalau mau beli apa-apa perlu uang”, saya akan mengatakan “uang ada saya bersyukur, uang tidak ada saya juga bersyukur”. Saudara beri uang banyak kepada saya, saya pikirkan ini untuk pekerjaan Tuhan bukan untuk saya. Pdt. Sutjipto mengatakan bahwa begitu banyak yang sudah dia tinggalkan untuk melayani Tuhan, lalu banyak tawaran dari orang-orang datang untuk memberikan sesuatu kepada dia, lalu ketika dia mau terima, dia mengatakan kepada orang itu “saya mau terima, asal kamu harus rela saya pakai semua ini untuk pekerjaan Tuhan”. Maka makin diberi, makin diserahkan untuk pekerjaan Tuhan. Paulus dengan berani mengatakan “asal ada makanan, ada pakaian, cukup”, maka keinginan Saudara “asal ada Tuhan cukup” ini harus menjadi keinginan setiap orang Kristen. Saudara kalau belum sampai sini, Saudara rugi banyak, Saudara tidak tahu. Tapi kalau Saudara sudah sampai level ini, Saudara mengatakan “Tuhan, Engkau bagianku cukup, kalau ada Tuhan, pemeliharaan Tuhan tidak pernah kurang”. Saya tidak mengatakan Saudara tidak boleh menjadi kaya. Tuhan Yesus mengatakan kepada orang kaya “jual semua hartamu, ikut Aku” ini merupakan ujian yang bisa muncul, bisa juga tidak. Kalau Tuhan gerakan Saudara jual semua harta, ikut Tuhan, silahkan lakukan. Kalau tidak, silahkan Saudara ambil apa yang menjadi bagian Saudara. Dalam Pengkhotbah dikatakan “kalau engkau jujur bekerja, dapat hasil dari Tuhan, nikmati” tidak perlu takut menikmati. Saudara mendapatkan kekayaan, silahkan menikmati, karena Tuhan yang memberikan. Tetapi kalau pun suatu saat kekayaan itu tidak ada, Saudara siap. Kita hidup di dalam zaman dimana perekonomian begitu luar biasa dinamis, hari ini orang paling kaya besok orang paling banyak hutang, hari ini paling hebat besok jadi pengemis. Dan kita semua mesti siap, semua harta kita suatu saat mungkin habis, tapi kita berani mengatakan “kalau Tuhan adalah bagianku, apalagi yang saya inginkan”. Maka keinginan membuat semua tingkah laku kita menjadi terarah hanya kepada Tuhan. Inilah cara kita memenuhi hukum ke-10. Maka saya percaya hukum ke-10 mengarahkan kita kepada perjanjian yang baru, di mana Kristus akan memperbarui hati kita.

Maka mempelajari hukum tidak akan selesai, kecuali Saudara kembali kepada Kristus yang mengubahkan kita sehingga semua poin dalam Taurat bisa kerjakan di dalam anugerah Tuhan. Tuhan Yesus yang berfokus kepada Tuhan Allah di sorga akan memberikan kita kekuatan untuk berfokus kepada Allah Bapa di sorga, menginginkan tidak ada yang lain kecuali Tuhan saja. Kiranya Tuhan menguatkan kita, memampukan kita untuk menantikan Kristus, hidup dengan benar, hidup dengan kemurnian yang Tuhan inginkan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)