- Khotbah
- 19 Sep 2017
Iri Hati
(1 Samuel 18: 1-30)
Di sini Yonathan digambarkan sebagai seorang Israel sejati. Saudara mungkin masih ingat pesan terakhir Musa sebelum dia meninggal, yaitu pidato syema yitsrael, dengarlah hai orang Israel apa yang paling penting engkau lakukan ketika masuk negeri itu, engkau harus mengajarkan ini berulang-ulang kepada anakmu, engkau harus memegangnya ketika engkau berdiri, ketika engkau duduk, ketika engkau masuk ke dalam rumah, ketika engkau keluar rumah yaitu kasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, kekuatanmu, pikiranmu dan kasihilah orang lain sesamamu seperti dirimu sendiri. Dua perintah ini saja, mengertilah hal itu, lakukanlah itu dan jadilah hidup. Jangan mati seperti penduduk asli dari pada Kanaan, yang mati karena mencemari tanah itu dengan kejahatan. Jangan ikuti laku mereka yang sia-sia, tapi berjalanlah dalah hukum Tuhan. Hukum Tuhan dapat disarikan dalam 2 hal ini, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu. Dan orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya akan melakukan kehendak Tuhan yaitu mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Kita terlahir otomatis untuk mengasihi diri sendiri, kita tidak perlu diajar untuk mengasihi diri sendiri. Kasihilah orang lain seperti dirimu sendiri dan Yonathan melakukannya. Yonathan mengasihi Daud seperti dia mengasihi dirinya sendiri. Yonathan berpadu jiwanya dengan Daud ketika Daud sudah selesai berbicara kepada ayahnya. Dan ini menarik sekali, karena secara natural hal itu tidak dapat terjadi di dalam natur yang sudah jatuh di dalam dosa. Daud adalah saingan Yonathan. Yonathan itu putra mahkota, kalau Daud mendapat kepercayaan yang semakin hebat dari Saul, kira-kira apa yang akan terjadi? Yang terjadi mungkin Yonathan tidak akan menjadi raja. Tapi Yonathan mengasihi Daud seperti jiwanya sendiri, bahkan dia menanggalkan jubah yang dipakainya memberikannya kepada Daud, bahkan baju perangnya, sampai pedangnya dan panahnya dan ikat pinggangnya. Itu berarti Yonathan memberikan secara simbolik kedudukannya kepada Daud. Yonathan melakukan yang antitesis dari pada iri hati kepada Daud. Yonathan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri.
Bagaimana kita mengobati iri hati? Jawabannya adalah kita melakukan kasih. Iri hati adalah korupsi dari pada kasih. Iri hati adalah kita mengasihi diri sendiri dan tidak mengasihi orang lain. Kita mengasihi orang lain demi mengasihi diri sendiri, itu adalah iri hati. Iri hati adalah kita ada untuk diri kita sendiri. Si aku ada untuk aku, karena si aku mengira dia ada oleh sebab aku, dan sia ku ada bagi diriku sendiri. Tidak ada sama sekali bagian orang lain, apalagi bagian Tuhan. Dan kita terpanggil untuk mengasihi Tuhan lebih dari pada diri sendiri dan mengasihi orang lain seperti diri sendiri. Mengapa Tuhan memberikan perintah yang sepertinya kejam ini? Mengapa Tuhan memberikan perintah yang sepertinya kontra terhadap natur ini? Di dalam Teologi Reformed kita tidak percaya bahwa ada sesuatu yang disebut natural, barangkali itu dipakai oleh teologi medieval, ada sesuatu yang namanya natural, alamiah lalu ini Tuhan menambahkan sesuatu yang supernatural. Tapi dalam Teologi Reformed kita tidak percaya Alkitab mengajar itu, yang kita percaya adalah Tuhan menciptakan langit dan bumi, Tuhan menciptakan hanya satu ciptaan saja, tidak ada natural dan supernatural, yang ada adalah ciptaan dan Pencipta. Dan Tuhan menciptakan kita bagi mengasihi Dia. Kita memang dicipta untuk mengasihi Allah, itulah natur kita. Kalau kita katakan manusia itu naturalnya adalah mengasihi diri, mengasihi Allah dan orang lain demi kepentingannya sendiri, kita kan tidak mengatakan itu naturalnya, maka Tuhan memberikan kepada manusia itu suatu bubuhan atau infus supernatural dari atas untuk membuat natural dari pada sifat manusia itu, sifat alamiah itu terangkat, kita tidak percaya itu. Kita mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan kita dengan natur egoistis, Tuhan menciptakan kita bagi kemuliaanNya. Tuhan menciptakan kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita dengan segenap pikiran dan tubuh kita, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dengan kata lain Tuhan menciptakan kita eksentrik, Tuhan menciptakan kita bagi orang lain. Pusat dari diri kita bukan di dalam diri kita, pusat diri kita ada di luar diri kita, eksentrik. Yonathan adalah Israel sejati, dia adalah Israel yang bergumul dengan Allah (manusia arti dari pada Israel), dan dia menang. Dia adalah yang bergulat bukan dengan manusia saja, tetapi dengan Allah dan dia menang. Dia bukanlah Yakub lagi, dia bukanlah yang bergumul dengan saudaranya saja, seperti si Yakub itu ingin merebut hak kesulungan Esau dan seumur hidup dilanda iri kepada Esau, yang sebetulnya Esau juga iri kepada Yakub. Dia bukan Yakub lagi, dia adalah Israel. Yonathan adalah Israel yang sejati. Dan dia itu barangkali juga dapat menjadi bayang-bayang dari pada Kristus, bayang-bayang dari apa yang akan datang yaitu seseorang yang diperkenan hati Allah, yang mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bagaimana dengan Saul? Saul kebalikannya, dia adalah orang yang tidak mengasihi orang lain seperti dirinya sendiri, dalam hal ini juga tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Dan akibat bagi orang yang tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan orang yang tidak mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, akibatnya adalah Saul menjadi takut, Saul dipenuhi benci, kemarahan. Benci, takut, marah, inilah 3 hal yang selalu menyertai orang-orang yang tidak mengasihi, selalu hidup bagi dirinya sendiri. Saul tahu takut kepada Daud karena Saul melihat Daud disertai Tuhan. Ayat 12,15,29 Saudara melihat Saul takutnya ekskalatif, kali pertama dia takut kepada Daud karena Daud bisa mengelakan lemparan lembingnya. Kali berikutnya dia melihat Daud tidak saja tidak mati di tangan orang Filistin, bahkan bisa mengalahkan orang Filistin dengan mudah. Saul merencanakan sesuatu yang licik, Saul menawarkan Daud untuk menjadi menantunya, “ini Merab anakku, kuberikan kepadamu, anakku yang sulung ini”. Lalu ketika harinya sudah datang, Merab diberikan kepada orang lain. Ini strategi khas dari pada orang yang insecure untuk merebut semacam rasa hormat dan takut dan semacam memberikan kepada dirinya sendiri imbalan berupa rasa bangga karena merasa inpower dengan cara mengiming-iming kemudian menghina, mengiming-iming lantas menolak dan dengan demikian membuat orang yang kepingin terlihat malu, hina. Saudara mungkin melihat hal seperti itu, ini mungkin strategi yang kita alami di sini. Dari kecil sampai besar kita menjumpainya pada bully yang kita temui di sekolah kita, kita menjumpai sedihnya barangkali juga terjadi di gereja, di rumah, di perusahaan. Bos kita mengatakan, ayah kita mengatakan, guru kita mengatakan, “hadiah yang luar biasa akan kuberikan kepadamu, sesuatu yang diinginkan semua orang”, ketika kita sudah ingin, kemudian simply hadiah itu diberikan ke orang lain, atau hadiah itu simply disimpan atau dihancurkan. Jadi tidak ada yang dapat. Itu adalah strategi kejam dari orang-orang yang dibuat menjadi gila oleh karena takut, marah, benci dan akarnya adalah oleh karena menolak apa yang Tuhan suruh yaitu mengasihi orang lain seperti diri sendiri. Lawan dari mengasihi orang lain seperti diri sendiri adalah mengasihi orang lain demi diri sendiri. Jadi jangan salah, mengasihi itu bukan sesuatu yang lawan katanya membenci orang lain. Lawan katanya adalah memperalat orang lain, lawan katanya adalah demi diri sendiri. Jadi inti dari perintah itu bukan urusan mengasihi atau membenci, tapi poinnya adalah melakukannya demi siapa? Apakah engkau melakukannya demi dirimu sendiri atau melakukannya demi Allah atau demo orang lain itu sendiri, yang mana? Dan Saul, apa pun yang dia lakukan kepada Daud, Saudara bisa bayangkan barangkali Saudara keberatan terjebak dalam pola berpikir yang tadi saya katakan, Saudara bisa katakan Saul tidak melakukan yang buruk kepada Daud. Saul memberikan kesempatakan kepada Daud untuk melakukan pekerjaan besar, Daud disuruh memimipin pasukan berperang melawan Filistin, itu bagus karena memang Tuhan suruh berperang melawan Filistin. Lalu bukankah Saul juga menunjuk orang yang tepat di saat yang tepat untuk melakukan pekerjaan yang tepat? Karena Saul adalah orang yang sudah mendengar sendiri dari rakyat bahwa Daud itu lebih baik dari pada dirinya sendiri. jadi walaupun dengan muka yang merah dan hati yang panas, rakyat mengatakan Saul membunuh beribu-ribu, itu hebat, tidak banyak orang bisa membunuh beribu-ribu. Tapi tidak selesai sampai di situ, Daud membunuh berlaksa-laksa, berpuluh-puluh ribu, ini membuat Saul marah. Saul dipuji dan Saul marah bukan karena dia tidak dipuji, Saul marah karena ada orang lain dipuji lebih besar. Dan Saul bertindak untuk menempatkan Daud dalam pekerjaan yang cocok. Daud adalah pahlawan yang hebat, membunuh berpuluh-puluh ribu, maka ini adalah pekerjaan yang cocok untuk Daud. Apa salahnya disini? Salahnya di sini adalah untuk apa dia melakukannya? Jawabannya untuk melenyapkan Daud memakai tangan orang Filistin. Apakah Tuhan tidak bisa memakai hal itu? Jelas bisa, Tuhan memakai hal itu untuk mengalahkan orang Filistin, Tuhan memakai hal itu untuk memperkuat Kerajaan Israel. Tuhan memakai hal itu juga untuk memberikan pengajaran kepada jemaatNya. Tuhan memakai hal itu untuk memberikan pengajaran kepada kita hari ini, Tuhan memakai hal itu, iri hati Saul, niat jahat Saul yang dibungkus dengan permen yang indah di luar, untuk memberikan pelajaran bagi kita, untuk menjadikan hal ini cermin bagi kita supaya kita bisa bercermin mengenai diri kita sendiri. Dan kita bercermin bahwa kegagalan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati itu bukan kegagalan dimana Saudara membenci Allah, tapi itu adalah kegagalan Saudara mengasihi dengan segenap hati. Jadi ada bagian dari hati Saudara yang tidak mengasihi Allah.
Dan kegagalan untuk melakukan perintah kedua, mengasihi orang lain seperti diri sendiri itu bukan pada Saudara membenci orang lain. Itu sudah jelas gagal. Tapi juga saat Saudara mengasihi orang lain, tapi demi diri sendiri. Mengasihi orang lain supaya diri sendiri lebih aman atau terlihat lebih baik, atau supaya dalam hal ini orang itu hancur. Saul yang digerakan oleh ketakutan, kebencian semakin besar, ayat 8,9,21,25,19 menyatakan kemarahan dan kebencian Saul kepada Daud yang semakin besar. Tapi akhirnya Saul pun tidak bisa melakukan apa pun akan hal itu karena semakin dia melampiaskan marahnya dan bencinya kepada Daud yang didorong oleh ketakutannya kepada Daud, tidak pernah membuahkan pengurangan dari pada rasa irinya. Tidak pernah membuahkan keamanan pada dirinya, tapi justru membuat Daud terlihat semakin baik di mata rakyat, ayat 7, 28, Daud makin dikasihi oleh rakyat, rakyat makin tahu Daud disertai Tuhan. Dan Saul juga semakin tahu Daud disertai Tuhan, ayat 5,14,15,30, penulis mencatat hal itu, Saul mengerti dengan makin jelas bahwa Daud disertai Tuhan. Tapi saya kira seperti komentar saya mengenai Aristotle, orang mengetahui itu satu hal, tapi orang melakukan itu hal yang lain. Saul tahu bahwa Daud disertai Tuhan, Daud dikasihi rakyat, dia tahu menyerang Daud adalah sesuatu yang sia-sia, tetapi dia terus melakukannya. Saul terus melakukannya, dia tidak digerakan oleh pengetahuan itu karena memang pengetahuan tidak menggerakan. Ketika orang terjerumus ke dalam tindakan yang destruktif, menghancurkan dirinya sendiri, menghancurkan komunitasnya, menghancurkan dunia ini, persoalannya bukan karena dia tidak tahu. Kepada orang yang sudah tahu kemudian diberi tahu lagi itu hampir tidak mengubah apa-apa, jadi kita perlu strategi yang lain.Saya kira itu sebabnya juga Tuhan tidak memberi tahu Saul, karena Saul sudah diberi tahu berkali-kali. Saul sudah diberi tahu secara verbal, visual, pengalaman, Saul sudah diberi tahu. Tapi Saul mengeraskan hati. Siapa bisa menolong kita dari iri hati? Siapa bisa menolong kita dari penyakit yang membuat kita selalu ingin menggigit tapi tidak pernah memakan? Iri hati hanya membuat kita ingin menghancurkan dan kita tidak pernah mendapat benefit apa-apa dari yang kita hancurkan.
Iri hati membuat kita tidak bisa bersukacita atas sukacita orang lain, kita tidak bisa bersukacita atas apa yang orang lain bahagia, orang lain kepenuhan, orang lain kelimpahan, kita tidak bisa bersukacita. Dan ini mengapa sesuatu dosa yang fatal? Karena justru mengapa kita, manusia ada di dalam dunia? Agar melalui umat Tuhan, segala bangsa yang lain, yang asing mendapat berkat. Jadi janji Tuhan kepada Abraham dan keturunannya, dan kita adalah keturunan Abraham, kita adalah keturunan dari janji yang diberikan Yahweh kepada Abraham karena kita percaya akan datangnya pemerintahan Allah yang itu, kita tidak percaya bahwa kekuasaan, uang, militer, bully, dan yang lainnya akan menjadi raja selama-lamanya, kita tidak percaya itu. Kita percaya bahwa mulai dari 2.000 tahun yang lalu dan akan terus-menerus memenuhi bumi semakin nyata yang menjadi raja atas sejarah adalah Tuhan, Yesus Kristus. Dan bagaimana kita dapat menjadi umat yang mengadministrasikan berkat-berkat dari Tuhan kepada bangsa-bangsa jiki kita tidak dapat bersukacita atas bahagianya orang lain, atas kesuksesannya orang lain, atas kehidupan. Iri hati adalah dosa yang fatal karena dia mencintai kematian, padahal dia membenci kematian, dia mencintai kekurangan padahal dia membenci kekurangan.
Dan apakah penghiburan, solusi dari masalah Saul? Solusinya tidak lain adalah terimalah kasih Allah itu, bukalah hati untuk kasih Allah itu, berikan dirimu untuk dikasihi oleh Allah. Solusinya bukan sesuatu latihan rohani yang berat, yang harus kamu lakukan, mudah-mudahan bisa kamu lakukan, dan kalau kamu lakukan kamu akan bisa mengatasi masalah kamu, bukan seperti itu. Solusinya adalah kamu membuka hati untuk ditolong oleh Tuhan. Dan bagaimana Tuhan menolong kita? Kata Katekismus Heidelberg, pertanyaan 1 jawaban 1, penghiburan kita ialah kita bukan milik diri kita sendiri, penghiburan kita ialah kita dimiliki oleh Yesus Kristus Juruselamat kita yangh setia. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari Kristus. Kutipan dari Paulusm Roma 8, tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan kita dari Kristus, kita adalah milik Kristus bukan milik diri kita sendiri dan itulah penghiburan kita, itulah solusi bagi iri hati. Bagaimana dimiliki oleh Yesus dan mengimani percaya bahwa kita dimiliki Yesus itu dapat membebaskan kita dari iri hati? Pertama-tama, Saudara kalau perhatikan iri hati itu esensinya apa? kita tadi sudah singgung, esensi dari iri hati adalah diskonten, esensi dari iri hati adalah apa yang saya tidak punya, sehingga iri hati itu dalam cara yang distortif itu cara yang eksentrik juga karena kehidupanmu berputar seolah-olah bukan dari dirimu sendiri, tapi kehidupanmu berputar di sekitar orang lain. Kamu lebih sibuk mengurusi apa yang orang lain berhasil capai dari pada yang kamu kerjakan, kamus ibuk mengurusi dia yang baru dipuji bos atau dia dapat A dari dosen, sementara kita dapat A minus. Kita sibuk mengurusi orang lain, sama saingan kita, tapi problematiknya adalah kita lakukan ini karena kita kosong dan kita berusaha mengisinya dengan menjadi Tuhan. Tetapi kalau kita mau menerima kenyataan bahwa Allah mengasihi kita di dalam Yesus dengan cara Dia mengosongkan diri, dengan Dia memiliki kita dan tidak mau melepaskan kita, dengan cara mengakui bahwa kita telah dibeli dengan darah Kristus ketika kita percaya, maka kita akan bisa dibebaskan dari itu. Orang yang iri selalu ribut mengenai dia memiliki apa, tapi dia kurang sadar bahwa dia dimiliki oleh siapa. Kita tidak melihat kepada siapa yang memiliki diri kita. Perkara kita punya sesuatu itu bisa hilang. Tapi yang tinggal tetap adalah kamu milik siapa, itulah penghiburan kita, itulah sekuritas kita. Anda bukan milik diri anda sendiri, anda dan saya adalah milik Yesus Kristus, Juruselamat kita yang setia. Anda milik Yesus, itu sangat mengkuatirkan bukan? Karena sekarang sekuritas sangat bergantung kepada Yesus, kita tidak nyaman karena kita tidak memegang setirnya. Bagaimana kalau Yesus berubah pikiran? Tapi Heidelberg Cathecism menghibur kita dengan menambahkan itu, kita dimiliki oleh Yesus, Juruselamat kita yang setia. Kita dimiliki oleh Yesus yang setia bukan raja yang semena-mena, tapi Yesus yang memberikan diriNya bagi kita. Dia yang sudah mengalahkan maut, Dia yang sudah mengalahkan kematian, Dia yang bangkit sebagai yang sulung, yang bangkit dari dunia orang mati. Yesus yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di sorga, yang adalah Raja bagi sejarah, Raja bagi segala yang ada, kita dimiliki oleh Yesus itu. Betapa kita berbahagia.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 12 Sep 2017
Dilepaskan dari kuasa gelap
(Kolose 1: 9-14)
Di dalam momen hidup kita sebagai orang Kristen, ada momen-momen tertentu di mana kita harus rethink our definition. Dan saya pikir mungkin ada momen tertentu, seperti ketika kita berduka kita memikirkan ulang apa itu kematian, pengharapan, hidup kekal, kebangkitan, baru terasa. Kita juga bukan orang yang kekurang pekerjaan yang setiap hari memikirkan kematian. Kalau kita me-rethink kematian setiap hari, kita mungkin perlu konsultasi, karena itu kelainan tertentu. Tapi kalau ada momen-momen dimana kita harus memikirkan beberapa poin di dalam iman Kristen kita. Kita terkadang terlalu lugu menjadi orang Kristen. Terlalu lugu karena kita mudah membawa diri kita mudah ditipu dan memungkinkan diri kita untuk ditipu, karena keluguan kita. Keluguan itu bukan polos, lugu itu artinya memegang erat definisi lama yang sudah kita anggap benar dan tidak pernah memikirkan ulang sehingga kita berpegang pada itu mati-matian dan ketika ada satu momen yang sangat krusial, kita tidak punya kecukupan tenaga untuk berdiri. Kita mungkin jadi Kristen mulai kecil, dari Sekolah Minggu kita dididik baik-baik, kita seolah-olah bertumbuh memegang iman Sekolah Minggu kita secara lugu. Saya tidak mengatakan iman Sekolah Minggu kita salah, tapi iman Sekolah Minggu kita tidak cukup ketika Saudara mulai beranjak 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, masuk ke dunia akademik, iman Sekolah Minggu tidak cukup kuat untuk memberikan satu payung yang besar untuk menjawab semua kemungkinan masalah yang ada di dunia ini. Oleh karena itu saya mengajak kita berpikir ulang apa yang kita pikir sudah tahu, karena Francis Bacon mengatakan small knowledge is a great danger, dan saya pikir itu betul. Karena kalau kita disuruh rethink, tapi tidak ada yang di-think, Saudara mau think apa? Memang itu tidak mungkin, karena kita tidak mungkin kosong, kita pasti ada sistem kepercayaan tertentu yang kita bawa, entah itu dari keluarga, society, dari teman, dan itu sistem kita. Maka ketika kita rethink, pikir-pikirnya masih di lingkaran ini, Saudara akan disitu-situ saja, bahkan tidak menemukan jalan keluar sama sekali, karena tidak ada option. Rethink salah satunya adalah membandingkan, ada ini dan ini. Kita tidak pernah membuka komparasi terhadap firman, mau rethink apa? semua sejenis, maka kita putar-putar disitu seperti reinkarnasi. Kita tidak siap me-rethink banyak hal dalam pengertian kita, di dalam teologi kita. Saya di sini tidak meninggikan rasio, tapi saya mau kita bersama-sama bertanggung jawab, kasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dengan segenap kekuatan. Itulah yang harus kita pikirkan.
Saya akan mengajak untuk melihat definisi umum, dari Mesir dibebaskan dari dosa, ditebus, diselamatkan. Kita akan baca dari Kolose dan kita me-rethink kembali, Kolose 1:9-14. Kata yang dipakai di sini, di ayat 13 “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan”, kata melepaskan seperti ketika Allah melepaskan orang Israel dari perbudakan Mesir dan juga kata yang sama dipakai ketika Allah membawa pulang orang-orang dari pembuangan di Babel kembali ke Yerusalem untuk membangun Bait Allah. Jadi dari sini kita akan memikirkan ulang apa namanya melepaskan dari kuasa kegelapan dan memindahkannya ke dalam Kerajaan AnakNya, di ayat 12 akhir dikatakan Kerajaan Terang. Kita mungkin beberapa dari kita yang berpikir tentang kuasa gelap itu seperti dukun, jimat, cari orang pintar, hari baik tanggal berapa, fengshui, itu yang dimaksud kuasa gelap dan kita merasa diri kita tidak seperti itu. Atau kita berpikir kuasa gelap itu seperti dosa mabuk, judi, main perempuan, pornografi, obat-obatan, kalau merasa diri tidak seperti itu, berarti tidak terlalu kuasa gelapnya yang ada pada diri. Kalau begitu apa yang krusial? Kita dari kuasa gelap ke Kerajaan Terang hanya take it for granted, tahu kalau manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri maka perlu dibawa dari kegelapan menuju terang, “terima kasih Tuhan atas anugerahMu”, cuma seperti itu? Kalau kita berpikir seperti itu berarti terlalu over-simplify. Kalau kita lihat di dalam kata yang dipakai memindahkan dari kerajaan gelap menuju Kerajaan Terang, dipakai kata melepaskan, mengeluarkan orang Israel dari Mesir menuju ke pembebasannya, maka kita harus tahu apa yang terjadi di dalam perbudakan di Mesir. Kita seringkali mengurung perbudakan di Mesir sebagai physical persecution, dimana itu memang terjadi di Alkitab, di Kitab Keluaran awal, orang Israel memang berseru-seru kepada Tuhan karena beratnya perbudakan, mereka dikuasai oleh pemerah, mereka disuruh membuat batu bata dan lain-lain, itu memang memberatkan dan memang physical. Tapi kalau kita mengatakan physical, kita agak susah, kita tidak terlalu physical dalam kuasa dosa, kita tidak dapat ancaman kalau tidak kerja maka tidak dapat uang, mungkin tidak terlalu seperti itu. Jadi kita terlalu merasa perbudakannya seperti apa.
Yang saya mau kita sama-sama lihat adalah bagian pertama, every physical persecution will lead us to spiritual persecution. Apa yang menjadi perbudakan 430 tahun orang Israel di Mesir? Apakah orang Israel itu diperbudak dosa, main judi terus, saling mengkhianati, saling berzinah selama 430 tahun? Tidak. Apa yang terjadi di dalam perbudakan? Mereka hidup tanpa Tuhan, tanpa beribadah, itulah perbudakan. Mereka bekerja dengan rajin, dengan etos kerja yang baik, dengan kualifikasi kualitas batu bata yang baik, mereka menghasilkan produk yang baik. Tapi Alkitab mengatakan mereka berada dalam perbudakan dosa. Perbudakan dosa adalah Saudara dan saya masuk ke dalam satu sistem dunia yang berdosa ini dan kita tidak ada kesempatan untuk beribadah kepada Allah yang sejati. Mari kita lihat beberapa ayat di dalam Keluaran 5:1, “Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun”. Keluaran 7:16, “Dan katakanlah kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah mengutus aku kepadamu untuk mengatakan: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun; meskipun begitu sampai sekarang engkau tidak mau mendengarkan”. Keluaran 8:1, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah menghadap Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Keluaran 10:3, “Lalu Musa dan Harun pergi menghadap Firaun dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Berapa lama lagi engkau menolak untuk merendahkan dirimu di hadapan-Ku? Biarkanlah umat-Ku pergi supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Kita berada dalam sistem perbudakan ketika kita hidup mungkin sangat baik, mungkin sangat elegan, mungkin punya etos kerja yang baik, mungkin punya sistem value di dalam masyarakat yang lumayan oke, tapi kita tetap di dalam perbudakan ketika kita tidak mengerti bahwa kita bekerja mengerjakan tanah ini bukan untuk Tuhan. Kita tidak punya kesempatan untuk beribadah, memberikan persembahan kepada Allah yang sejati, ini namanya perbudakan dan ini namanya perbudakan dosa, perbudakan kuasa kegelapan. “Saya usahanya wajar, tidak pakai pesugihan, saya kerja dengan baik, mengatur toko dengan baik, saya pakai HRD terbaik, saya pakai sistem komputerisasi terbaik. Apa salahnya?”, apa yang ada dalam perbudakan kuasa gelap? Ketika Saudara kerjakan itu pagi siang malam dan tidak pernah concern siapa yang namanya Allah sejati, Saudara tidak pernah concern bagaimana beribadah kepada Allah yang sejati. Tahunya siang sore malam kejar omzet, seperti orang Israel di Mesir, dikejar omzet batu bata, kualitas harus bagus, semua harus prime. Kelihatannya begitu sempurna tapi kita berada di dalam perbudakan spiritual yang mengerikan yaitu ketika kita berada di dalam perbudakan tidak bisa beribadah kepada Allah. Maka ketika Musa diutus menghadap Firaun, Musa tidak mengatakan “Firaun, coba mereka diberi hak asasi manusia, jam kerjanya diperpendek, beri gaji yang bagus, beri makan yang bagus, beri tunjangan kesehatan”, itu bukan menjadi komplain Musa atau perintah Tuhan ketika Musa menghadap Firaun. Yang diperintahkan berkali-kali, kalau Saudara baca referensi berulang-ulang adalah let my people go to the wilderness to worship Me. Maka Saudara dan saya harus mengerti kita dikeluarkan dari perbudakan adalah ketika kita bisa memiliki satu hati untuk beribadah kepada Allah yang sejati. Dan itu perlu pengeluaran secara ekstrim, orang Israel pun dikeluarkan secara ekstrim dari perbudakan Mesir. Seringkali kita menganggap ada Tuhan dan tidak ada Tuhan, bedanya cuma setipis kertas. Memang tidak kelihatan, yang terlihat sukses bukan berarti ada Tuhan, dan yang terlihat gagal bukan berarti ada Tuhan. Karena di dalam Alkitab dikatakan Tuhan memberikan hujan kepada orang baik dan orang fasik, Tuhan memberikan matahari bagi orang baik dan orang fasik. Jadi kalau Saudara dan saya menilai berkat itu dari Tuhan dan yang jelek dari setan dan itu untuk yang tidak percaya Tuhan, Saudara salah. Karena teologi kita tidak mengatakan seperti itu. Yang beda adalah dedikasi hati. Beda dedikasi itu beda total. Saudara dedikasi ke suami atau dedikasi ke istri dengan dedikasi ke pria lain atau wanita lain itu beda total. Dari dalam hati itu menentukan Saudara menyenangkan Tuhan seumur hidup atau mengkhianati Dia seumur hidup. Maka tidak bisa dibilang beda tipis, karena mungkin secara mata melihat, tapi Tuhan melihat dari dalam hati. 430 tahun di dalam perbudakan Mesir itu memimpin kemana? Memimpin kepada orang Israel akhirnya menikmati keadaannya diperbudak dengan sangat ahli. Karena mereka sangat sulit untuk dikeluarkan.
Jangan bilang Saudara dan saya terjebak di dalam perbudakan ini dan mudah dikeluarkan, tidak. Saudara sangat sulit dikeluarkan dari cara berpikir seperti itu, karena ada kenyamanan jaminan yang kita sudah pegang dan rasakan. Bilangan 11: 5 memberikan pengertian kepada kita bahwa jaminan semu ini adalah buah dari perbudakan itu. Perbudakan tidak selalu mengakibatkan kesengsaraan yang membuat kita ingin cepat kabur, kadang-kadang kalau perbudakan terlalu lama membuat kita terlalu nyaman dan tidak bisa dilepaskan. Mereka menikmati jaminan semu yang tidak ada apa-apanya, hal-hal yang sangat remeh. Tapi kenyamanan di dalam penindasan itu membuat kita tidak bisa dilepaskan. Saudara dan saya kalau sudah nyaman di dalam satu sistem tertentu dan tidak bisa dilepaskan, tidak bisa diajak pikir ulang, itulah perbudakan yang asli. Kalau kita teruskan lagi, perbudakan itu akan membawa kemana? Kepada penganiayaan secara rohani yang kita tidak sadar. Karena orang Israel di padang gurun menyembah anak lembu emas. Mereka keluar dengan bungkus yang terlihat baik, “Yahweh yang
melepaskan kami dari perbudakan”, tapi mereka tetap dengan mindset menyembah berhala. Ini akan sangat membuat kita tidak bertumbuh sama sekali ketika kita tidak pernah memikirkan ulang teologi kita. Kita jadi orang Kristen berapa tahun? Pernahkah kita memikir ulang jangan-jangan kita merasa duduk di GRII maka teologi kita otomatis berubah? Belum tentu. Maka penting sekali untuk kita me-rethink our theology. Karena setelah orang Israel dibebaskan dari Mesir, mereka sampai ke Tanah Kanaan, mereka ada tugas. Mereka harus menjadi contoh dari umat Tuhan yang menjalankan firman. Waktu di Gunung Sinai mereka diberikan Taurat, bagaimana respon kepada Allah, bagaimana respon kepada sesama, bagaimana vertikal dan horizontal, bagaimana secara individu dan komunal berespon kepada Allah. Sebelum mereka masuk Tanah Perjanjian, sekali lagi Yosua diingatkan, taklukan, jangan menyimpang ke kiri dan ke kanan, kelola tanah dan nikmatilah. Ini adalah tugas yang harus kita lakukan terus-menerus ketika kita sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, masuk dalam Kerajaan Terang.
Bagian kedua adalah ketika mereka dipulangkan dari pembuangan di Babel menuju ke Yerusalem. Daniel 1: 4-8. Tuhan melepaskan dari pembuangan menuju ke Yerusalem. Kita berpikir mengapa dilepaskan sebegitunya, apakah ada tulah lagi? Mungkin tidak. Tapi hanya dengan kekuatan tangan Tuhan yang sama yang bisa membawa mereka pulang. Di sini kita akan melihat intelectual persecution will lead to spiritual persecution. Dalam konteks ini Daniel tidak mengalami kesulitan seperti yang mungkin kita pernah bayangkan waktu Sekolah Minggu, Daniel dibuang dan kita merasa kasihan, kerja rodi, kerja dari pagi sampai malam, dicambuk, ternyata tidak. Dia dibuang dengan cara diberi beasiswa, dapat jaminan kerja. Senangkan? Siapa yang tidak mau seperti itu? Bukankah mahasiswa ITB setelah lulus banyak yang mencari beasiswa LPDP untuk keluar negeri dan kalau bisa cari yang ada jaminannya. Tapi kalau Saudara lupa adanya intelectual persecution, you will lose your faith, kita akan kehilangan jati diri kita sebagai orang Kristen. Karena polanya sama, intelectual persecution, mereka dididik dengan budaya Babel selama 3 tahun, setelah itu mereka dapat jaminan kerja, harus bekerja kepada raja. Ganti pola pikir, ganti gaya hidup, bahkan sampai ganti nama, ganti identitas. Kita seringkali terlalu naif, saya pikir saya sekolah yang baik, dapat beasiswa, sekolah ke luar negeri, dapat title dari luar negeri, begitu pulang dapat gaji yang besar. Dan kita seolah-olah jadi orang Kristen yang bersaksi bagi Tuhan. Tapi kalau Saudara tidak pernah berpikir ini, Saudara sedang dicuci otak. Ini bukan anti akademik, tapi kita mesti rethink terus selama kita pergi ke luar negeri ke mana, untuk apa, melakukan apa setelah saya dapat beasiswa yang adalah uang negara, saya mesti melakukan apa? “tidak apa-apa saya dapat uang negara, yang penting nanti saya dapat gaji yang lebih besar”, ini sebenarnya Saudara dididik apa? Saudara dididik jadi pengemis atau koruptor tingkat paling halus? “saya pakai uang negara, tidak ada ikatan hutang budi, saya bebas saja pergi kemana pun juga”. Itu Saudara sedang dihancurkan dengan intelectual persecution dan kita tidak sadar. Inilah yang Tuhan tidak mau ada pada umatNya, maka Dia membawa pulang umatNya dari pembuangan masuk ke Tanah Perjanjian kembali. Ada perbudakan karena dipaksa seperti orang Israel di Mesir, tapi di Babel ini hanya 4 orang yang tidak mau dibawa ke perbudakan dalam pembuangan. Saya percaya tidak hanya 4 orang itu saja, mereka mungkin mengangkut 400 orang pemuda yang bagus. Misalnya semuanya 400 orang, dan yang 396 lainnya mengatakan “Daniel, kamu bodoh sekali, ke Amerika sekolah di Berkeley, dapat jaminan kerja, tapi kamu tidak mau”.Tapi Saudara mesti ingat di dalam setiap kesempatan Saudara harus berpikir “Tuhan, saya mesti respon apa, saya mesti rethink apa, saya ini siapa, saya ini identitasnya apa”, itu yang mesti Saudara pikirkan. Sehingga dimana pun Saudara berada, Saudara tahu kita adalah umatNya Tuhan. Karena kalau tidak, inilah yang Tuhan mau kita sadar bahwa ini kuasa gelap. Saudara berpikir ganti identitas juga boleh, ganti apa pun oke, ganti pola pikir pun oke, ganti life style pun oke, tapi jangan lupa kalau kita terus baca Daniel, semua intelectual persecution will lead to spiritual persecution. Teman-teman Daniel terus dididik, dan sampai waktunya ketika mereka harus dihadapkan pada patung Nebukadnezar yang sangat besar. Di situ ketika semua bunyi, maka mereka harus tunduk dan sujud. Kalau kita sudah menikmati makannya, menikmati beasiswanya, menikmati gaya hidupnya, menikmati jaminannya, menikmati semuanya, Saudara punya kekuatan untuk tidak menekuk lutut? Sulit. Dan ketika itu tidak ada kesempatan untuk rethink. Mari kita memikirkan ini. Teologi Reformed bukan anti kenyamanan, karena Tuhan memberikan dalam teologi penciptaan banyak hal yang begitu indah. Tapi hanya rethink, pikirkan terus. Karena kalau kita tidak rethink, kita akan hanyut, ini sangat soft, intelectual persecution sangat soft. Saudara rethink dari awal ada buahnya 15 tahun kemudian. Saudara tidak rethink pun ada buahnya, jangan berpikir netral “saya tidak mau terlalu ekstrim, biasa saja”, buahnya juga tidak terlalu ekstrim, biasa saja, ikut dengan dunia ini. Kalau Saudara mau memanen buah itu juga boleh, cuma kalau saya tidak mau, karena saya tahu ada anugerah berarti ada responbility, berarti ada yang harus saya kerjakan. Tidak semua kita aware akan segala sesuatu, kita hanya bisa rethink yang bisa kita rethink, tidak bisa semuanya. Ada beberapa yang kita bisa loss, karena kita bukan manusia yang super komperehensif. Tapi yang bisa kita pikir, tapi tidak kita pikir, kita akan pasang batu di depan. Dan orang Israel dikeluarkan supaya mereka dibawa kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah. Untuk apa membangun kembali Bait Allah? Supaya menjadi contoh bagaimana satu umat beribadah kepada Allah sejati.
- Injil Lukas
- 12 Sep 2017
Rela Merendahkan Diri
(Lukas 18: 15-27)
Di sini Yesus sedang tidak hanya mengajarkan bahwa anak-anak kecil diterima Tuhan, tapi Yesus mengajarkan orang-orang yang menjadi murid Tuhan belajar untuk melihat anak kecil sebagai individu yang penting bagi Tuhan, meskipun mereka tidak punya peran apa pun bagi masyarakat pada waktu itu. Seringkali kita menghargai manusia oleh karena apa yang mereka bisa sumbangsihkan untuk masyarakat kita. Jadi ada bagian penting dibagikan di sini yaitu bagaimana kita menganggap orang yang paling tidak dianggap sebagai orang penting. Penting bukan di dalam hal apa pun, penting karena Tuhan mementingkan orang yang tidak penting. Tuhan melihat mereka yang tidak berarti dan Tuhan masukan mereka ke dalam KerajaanNya. Berapa sering kita hidup di dalam masyarakat yang membagi-bagi orang lalu mengatakan “kamu yang golongan bawah tidak bisa dianggap penting, kamu adalah kelompok pengganggu, kalau bisa kamu tidak perlu ada. Sehingga kami hanya perhatikan orang-orang yang baik, yang berpotensi dan yang berguna”. Tapi Injil justru menawarkan kebalikannya “mari hargai orang-orang yang tidak dapat tempat untuk dihargai oleh dunia ini”. Ini pesan yang sangat besar, penting, dan yang dengan setia dijalankan oleh gereja Tuhan.
Tetapi pesan itu berlanjut karena di dalam ayat 17 Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya”. Yesus tidak hanya mengatakan “kamu perhatikan orang-orang rendah”, lalu kita mulai perhatikan orang rendah, kita mengatakan “kamu lebih rendah dari saya, tapi tidak apa-apa, saya perhatikan kamu, saya kasihani kamu, saya anggap kamu sebagai bagian dari Kerajaan Tuhan. Saya tidak kecualikan kamu, saya hargai meskipun kamu tidak layak dihargai”. Itu pesan dari bagian pertama. Tapi bagian kedua Yesus mengatakan “kamu jadilah anak kecil”, apa maksudnya? Dan bagian kedua Yesus mengatakan “jadilah orang yang tidak penting ini”. Maksudnya adalah Saudara mesti melihat kedudukan di dalam masyarakat atau bahkan kedudukan di dalam Kerajaan Tuhan bukan sebagai sesuatu yang penting. Bahkan kita cari tempat yang rendah. Ini kalimat yang sangat sulit untuk kita taati, karena kita tahu meskipun kita sanggup mengasihi orang yang level bawah, tapi kita sangat tidak ingin dianggap sebagai kelompok level bawah. Saudara dan saya ingin dianggap penting, tapi Tuhan justru mengingatkan Kerajaan Allah adalah milik orang-orang yang menganggap diri tidak penting. Saya punya tanggung jawab dan itu yang saya kejar, tapi apa pun yang dihasilkan karena saya giat mengejar tanggung jawab saya, tidak membuat saya bangga atau tidak membuat saya mengejar kedudukan yang tinggi. Banyak orang ingin cari kehebatan atau pengakuan bahwa saya adalah kelompok yang elit, ada pada level yang tinggi di masyarakat. Dan terkadang kita pakai kerohanian atau pun gereja untuk hal ini. Lalu, hendaklah kamu seperti anak kecil di dalam menyambut Kerajaan Allah, hendaklah kamu senantiasa mau mencari untuk merendahkan diri. Biarlah kita menganggap kemungkinan untuk merendahkan diri adalah privilege besar dari Tuhan, kemuliaan dalam merendahkan diri. Jangan pura-pura dalam merendahkan diri. Saya cuma tahu tanggung jawab kepada Tuhan dan Tuhan urus semua yang lain”. Inilah yang dimaksudkan Yesus di dalam bagian ketika Yesus memberkati anak-anak.
Tapi ilustrasi ini berkait dengan bagian selanjutnya, kisah ayat 15-17 berkait erat dengan ayat 18-27. Di dalam ayat 18 ada seorang pemimpin bertanya kepada Tuhan Yesus. “Guru yang baik, apakah yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Kalau cerita sebelumnya Yesus bertemu anak-anak kecil, sekarang Yesus bertemu pemimpin. Anak kecil dan pemimpin, lebih mulia pemimpin, lebih dihormati pemimpin. Jadi kalau ada pemimpin dan anak kecil, kita sudah tahu pemimpin itu yang mulia, anak kecil itu yang hina. Tapi cerita ini berkait, Yesus menyuruh pemimpin itu untuk jadi seperti anak kecil. Maka pemimpin ini datang dan bertanya “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk beroleh hidup yang kekal?”. Kita sudah pelajari sebelumnya, hidup yang kekal itu berarti ketika Kerajaan itu datang, saya bisa masuk ke dalamnya, saya bisa dapat bagian ketika Tuhan memulihkan KerajaanNya, itu hidup yang kekal. Entah itu Kerajaan di sorga ketika kita mati kita bertemu Tuhan di sorga atau pun Kerajaan yang dipulihkan di bumi ketika Tuhan datang kembali. Jadi intinya bukan masuk sorganya tapi diterima oleh Tuhan, itu yang jadi pertanyaan orang ini, “apa yang harus aku perbuat untuk beroleh hidup yang kekal?” Jadi dia sedang bertanya bagaimana menunjukan identitas bahwa aku adalah orang yang diterima di dalam Kerajaan Allah, itu yang dia tanya. “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal”. Lalu ayat 19, jawab Yesus “mengapa engkau katakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja”. Bagaimana mengerti ini? Peraturan etika di dunia Arab mirip dengan di dunia Yahudi, saya salam apa kamu balas yang sama. “Kiranya Tuhan memberkati engkau dengan limpah”, Saudara harus membalas “kiranya Tuhan memberkati engkau juga dengan berlimpah”, itu baru sama. Kalau saya mengatakan “kiranya Tuhan memberkati engkau dengan limpah”, lalu Saudara cuma “ya selamat siang”, saya akan tanya kepada Saudara “mengapa balasnya cuma seperti itu?”, “ya sudah, selamat siang”, “itu tidak boleh, karena aku bilang Tuhan akan memberkatimu, kamu harus balas dengan Tuhan akan memberkatiku juga”. Itu yang pertama, ucapan berkat harus dibalas dengan ucapan berkat. Yang kedua, ucapan salam dari orang golongan tinggi harus dijawab dengan penghargaan yang sama untuk orang itu. Ketika saya mengatakan “Pak Edhi yang mulia”, Pak Edhi harus menjawab “ya Pak Jimmy yang mulia”. Kalau saya cuma bilang “Pak Edhi yang mulia”, dan Pak Edhi hanya menjawab “iya, ada apa?”, itu dia tidak menghargai saya, karena ucapan penghargaan harus dijawab dengan ucapan penghargaan. Maka ketika orang Farisi mengatakan “Rabi yang baik”, Yesus harusnya menjawab “ya, rabi yang baik”, itu yang harusnya Dia lakukan. Tapi mengapa Dia menjawab lain? Dan Yesus bongkar motivasi orang ini. Oleh sebab itu Yesus runtuhkan kesombongan dia dengan mengatakan “mengapa bilang Aku baik? Tidak ada seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja”. Yesus tidak jawab salamnya dalam level yang sama. Ada satu artikel yang menulis tentang (kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia) sifat kasar Yesus dan teologi kasar Yesus. Dia selidiki latar belakangnya, kaitannya dengan orang Yahudi, Perjanjian Lama dan lain-lain. Salah satu sifat kasar Yesus di dalam Injil adalah Dia tidak pernah menjawab salam dengan level yang sama. “Rabi yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk dapat hidup yang baik?”, Dia langsung jawab “kamu sudah tahu”, Dia tidak balas salam. Yesus punya kebiasaan tidak suka balas salam. Tapi jangan pikir ini boleh diteladani, Yesus ingin menekankan bahwa kesamaan level orang elit itu bukan suatu yang Dia suka. “Guru yang baik, kita ini golongan yang penting”, “tidak ada yang baik selain Allah”. Jadi Yesus ingin merendahkan orang ini, ingin membuat dia rendah hati dengan tidak menjawab salam dalam level yang sama. Kalau Saudara tidak mengerti ini, pasti akan ragu, “Yesus tidak baik? Yesus bukan Allah?”. Kalau Saudara tahu latar belakang, Saudara tahu Yesus sedang tidak bicara Kristologi di sini, Yesus tidak bicara etika Dia, Yesus tidak sedang membantah Dia baik. Tapi ketika orang mengatakan “Engkau Guru yang hebat, seperti saya”, Yesus mengatakan “kamu tidak hebat, jangan cari kehebatan dan pengakuan seperti itu”. Maka Dia mengatakan “tak ada yang baik selain dari Allah”, dan kalimat ini dikaitkan dengan tabut perjanjian yang masuk ke Yerusalem, atau inagurasi yang diadakan di Yerusalem. Waktu tabut perjanjian masuk, Daud mengatakan “bahwa hanya Tuhan yang baik, sebab Dia baik bahwasannya tak berkesudahan kasih setiaNya”. Waktu Bait Suci diinagurasikan, Salomo mengatakan hal yang sama “sebab Tuhan baik, bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”. Tuhan baik, dan Yesus tidak sedang bicara bahwa Dia bukan Allah, tapi Dia sedang membalas salam dengan meninggikan Tuhan, “salam hai Guru yang baik”, “salam, Tuhan yang baik”, itu yang Dia katakan.
Maka setelah itu Dia langsung menjawab dengan mengatakan “engkau sudah tahu perintahnya jangan berzinah, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan mengucap saksi dusta, hormatilah ayah dan ibumu. Kamu sudah melakukan semuanya ini, kamu sudah kerjakan, inilah caranya”. Lalu orang itu mengatakan “saya sudah lakukan sejak masa mudaku”, orang ini adalah orang yang punya kemampuan menjalankan apa yang Tuhan perintahkan, sehingga dia punya keunggulan di dalam apa yang dia sudah lakukan, tapi dia ingin kepastian dari Tuhan, apakah menjalankan ini semua sudah cocok. Di dalam zaman dulu orang Yahudi ada dua golongan, golongan pertama adalah yang percaya bahwa orang yang diselamatkan adalah orang yang menaati Taurat. Sedangkan kelompok kedua percaya bahwa orang yang diselamatkan adalah orang yang rela berjihad demi Tuhan, yang rela perang bagi Tuhan. Siapa yang cuma tahu teologi, cuma tahu saleh, itu tidak bisa masuk Kerajaan Tuhan, yang mau perang itu yang bisa masuk. Maka orang ini sedang tanya Yesus versi yang mana, subversif atau konservatif. Yesus menjawab “kamu sudah tahu, lakukanlah Taurat”, “oh, berarti Engkau konservatif”. Tapi orang subversif mengatakan “untuk apa kamu taat, jalankan firman, akhirnya negara kamu diambil oleh Romawi, kamu tidak mau berperang melawan mereka? Apa gunanya hidup kalau dijajah oleh Romawi, mana sumbangsihmu untuk bangsa dan negara?”. Jadi orang ini bertanya “kalau saya sudah saleh secara spiritual sepertinya masih kurang, bagaimana relasi dengan pemberontakan, kerajaan, menaklukan Romawi dan lain-lain?”, tapi Yesus mengatakan “memang ada satu yang kurang”. Saudara kalau pernah dengar Pak Tong mengkotbahkan hal ini, Pak Tong mengatakan “pemuda itu mengeluarkan pena, kertas, dia mau catat”, lalu Tuhan Yesus mengatakan “jualah hartamu, bagikan kepada orang miskin maka engkau akan beroleh harta di sorga. Setelah itu kemarilah dan ikutlah Aku”, ini susah, jual harta dan kasi ke orang miskin. Saudara jangan jadikan ini syarat keselamatan, Tuhan tidak pernah mengatakan syarat keselamatan adalah jual harta dan kasi ke orang miskin. Karena kalau syarat keselamatan adalah jual harta dan kasi ke orang miskin, kasihan orang miskinnya yang dapat harta Saudara. Begitu dia dapat berarti dia tidak selamat, dia harus menjualnya lagi dan kasi ke orang miskin lagi. Dia kasi ke orang miskin lain, dan orang miskin yang lain itu juga kasihan. Akhirnya orang berlomba-lomba menjual, orang yang terakhir dapat harta ini yang kasihan. “Terus saya jual ke siapa? Semuanya tidak mau terima. kalau begitu semua masuk sorga, saya masuk neraka”, tentu bukan itu yang dimaksud. Yesus sedang menekankan satu hal yang sangat penting yaitu orang ini anggap dirinya bagus karena kaya. “Saya orang level tinggi karena ada uang. Sudah banyak uang, saleh lagi. Siapa yang seperti saya? Banyak orang kaya tapi sembarangan hidupnya. Saya kaya dan saleh. Banyak orang saleh tapi miskin. Saya sudah saleh, kaya lagi”, saya tidak tahu apakah dia tampan, anggap saja begitu. Dia kaya, saleh, tampan, tidak sembarangan dalam berpacaran, pokoknya segalanya, dia adalah golongan elit dari komunitasnya. “Tahu siapa saya? Saya orang saleh, yang kaya, yang jaga hidup baik-baik”. Tapi Yesus mengatakan “justru itu sumber kesombongamu. Dirimu anggap kamu ada di top level karena uang. Sekarang kalau tidak ada uang, apakah kamu masih menganggap dirimu berharga?”, ini yang Yesus mau tekankan. Yesus mengatakan anak kecil tidak mungkin ada di top level, karena mereka tidak penting. Yang anggap anak kecil penting adalah orang tuanya. Waktu Yesus mengatakan jadi seperti anak kecil, orang kaya ini punya problem uangnya membuat dia hebat. Dan Yesus mengatakan “tinggalkan uangmu”, “kalau tinggalkan uang berarti saya bukan siapa-siapa”, “tepat, waktu kamu jadi bukan siapa-siapa, ikutlah Aku”, itulah masuk dalam Kerajaan Sorga. Orang yang nobody, ikut Kristus, yang rela dianggap nobody, inilah Kekristenan. Maka Yesus sedang mengatakan anggaplah kamu bukan siapa-siapa, waktu kamu datang ke Kerajaan Tuhan, kamu akan penuh ucapan syukur. Mengapa saya yang bukan siapa-siapa bisa dipilih? Apa yang sudah kamu kerjakan? Tidak ada. Apa kehebatanmu? Tidak ada, saya tidak hebat, apa pun saya tidak punya, yang saya dapat semua dari Tuhan, semua cuma karena Tuhan mau kasi, saya tidak ada alasan untuk sombong. Mari kita kejar kemungkinan untuk merendahkan diri sebagai kemungkinan yang mulia sekali.
Karena itu Alkitab mengatakan orang kaya itu sangat sedih karena banyak harta dan dia tidak rela kehilangan itu. Dan Yesus memandang dia dan mengatakan “alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah, sebab lebih mudah seekor unta masuk ke lobang jarum dari pada seorang kaya masuk Kerajaan Allah”. Yesus mengucapkan ini sambil memandang dia pergi. Jadi dia sudah pergi dan Yesus menyesalkan, alangkah sukarnya, sulit sekali bagi orang kaya untuk merendahkan diri, menganggap dirinya kosong, sangat sulit. Karena segala aspek yang dimiliki orang kaya akan membuat orang cenderung menilai dia dalam posisi yang tinggi. Tapi bukan berarti tidak mungkin, karena Yesus mengatakan lebih mudah seekor unta masuk lobang jarum dari pada seorang kaya masuk Kerajaan Allah. Yang dengar itu semua shock. Apa artinya seekor unta masuk lobang jarum? Ini tidak ada yang bisa pastikan artinya apa. Jadi orang dulu kalau mengatakan hal yang tidak mungkin mengatakan seperti ini “lebih mudah unta masuk lobang jarum dari pada itu terjadi”, dan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Saudara tunjukan lobang jarum dan unta, unta pun shock. Maka ini adalah satu ungkapan tidak kemungkinan, arti persisnya apa kita tidak tahu. Tapi ini menyatakan suatu hal yang tidak mungkin, tidak mungkin orang kaya masuk ke Kerajaan Tuhan. Lalu murid-murid tanya “siapa yang bisa diselamatkan?”, Yesus mengatakan “apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah”, merendahkan orang untuk mengerti anugerah itu mungkin bagi Tuhan. Sampai Saudara dapat pekerjaan, Tuhan yang merendahkan Saudara, Saudara akan sulit menghargai anugerah Tuhan. Kalau kita hidup bukan seperti anak kecil yang masuk Kerajaan Tuhan, orang yang rasa tidak layak menerima berkat, kita akan terus kecewa kepada Tuhan. Mengapa kecewa? Karena kita merasa berhak, orang penting berhak dihormati, orang penting berhak dapat fasilitas, orang penting berhak dapat ini dan itu. Maka dari awal dia sudah mengatakan tidak ada perasaan apa pun selain bersyukur kepada Tuhan. Apakah kita orang yang mudah bersyukur? “Tuhan, terima kasih untuk hidup hari ini, terima kasih untuk kemarin, terima kasih untuk suami saya, terima kasih untuk istri saya, terima kasih untuk anak saya, terima kasih untuk keluarga saya”. Atau kita orang sombong yang merasa Tuhan kurang hargai kita “Tuhan, tahu tidak siapa saya? Saya kerja lebih giat dari pada yang lain. Banyak orang cuma tahu kantor, saya sudah tahu kantor, tapi masih juga rapat di gereja. Terkadang pulang jam 1 malam, mana penghargaanMu untuk saya?”, Pak Elfan tidak mungkin bicara seperti ini. Karena Pak Elfan yang asli akan mengatakan “Tuhan, kok besar sekali berkatMu bagi saya”. Dan saya yakin bukan cuma Pak Elfan, kita semua harus merasa seperti itu “Tuhan, saya ini siapa, diberikan kepercayaan seperti ini, diberikan berkat seperti ini. Saya nobody, tapi di dalam Kerajaan Tuhan kok Tuhan memberkati saya?”, orang seperti ini bukan saja tidak akan pahit kepada Tuhan, orang seperti ini hidupnya limpah sekali karean ucapan syukur. Maka kalau ditanya mengapa orang Kristen sering bersukacita? Karena saya anak Tuhan, saya tidak boleh dapat apa-apa dari Tuhan, tapi kok Tuhan kasi. Inilah upah atau buah dari perendahan diri. Makin kita anggap diri bukan siapa-siapa, makin kita bertanggung jawab karena sadar diri bukan siapa-siapa dan harus bertanggung jawab, maka diri akan banyak ucpaan syukur, itu yang Yesus katakan, bagi manusia tidak mungkin, bagi Allah mungkin. Maksudnya adalah Allah akan rendahkan orang dan orang itu akan berbahagia di dalam Tuhan. Jadi jangan pikir orang kaya tidak masuk sorga, Yesus tidak bilang seperti itu. Yesus mengatakan ketika orang kaya rela merendahkan diri, rela menganggap dirinya nobody, waktu itu dia akan mengalami berkat Tuhan yang limpah.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 22 Aug 2017
Sekarang saatnya, sudahkah engkau bersiap?
(Yohanes 1: 19-23)
Hari ini saya ingin kita mengerti apa yang dikerjakan oleh orang-orang di dalam sejarah gereja untuk mendirikan atau untuk mengarahkan kembali gereja ke arah yang benar. Umat Tuhan adalah sekelompok orang yang sangat gampang diselewengkan karena umat Tuhan adalah target dari serangan setan. Setan kalau mau serang, dia akan serang umat Tuhan lalu bikin umat Tuhan menyeleweng, berbelok dari arah yang seharusnya sehingga tidak menjadi efektif. Karena umat Tuhan tidak melakukan apa yang seharusnya maka Kerajaan Tuhan di bumi pun tidak menjadi nyata. Bagaimana Kerajaan Allah dinyatakan? Alkitab mengatakan Kerajaan Allah dinyatakan ketika pewaris kerajaan itu ada di bumi yaitu orang-orang yang dipilih dan disiapkan Tuhan. Tapi kalau orang-orang ini tidak mengerjakan apa yang Allah sendiri kerjakan, maka kerajaan itu akan terselewengkan dan dunia ini tidak mungkin mempunyai harapan. Banyak orang Kristen yang menjalani kehidupan Kristen dengan cara pasif, “asal saya tidak ini, tidak itu. Tidak mencuri, tidak seks bebas, tidak narkoba, tidak dan tidak, maka saya saya sudah Kristen”, bukan, itu masih separuh dari tuntutan Tuhan dalam hidup kudus. Hidup kudus bukan hanya mengenai tidak berdosa atau tidak jatuh di dalam dosa atau tidak nyaman di dalam dosa. Hidup kudus berarti mendedikasikan diri untuk Tuhan. Mengkhususkan diri untuk Tuhan karena kemuliaanNya hanya boleh dinikmati oleh mereka yang mengkhususkan seluruhnya untuk Tuhan. Jadi kekudusan bukan hanya sisi pasif, “kamu sudah hidup kudus hari ini?”, “sudah. Karena hari ini saya tidak jatuh dalam dosa, berarti hari ini saya kudus”, itu cuma separuh dari tuntutan kekudusan Tuhan. Tapi ketika tuntutan yang lain lagi yaitu bertindak demi nama Tuhan, menjalankan hidup bagi Tuhan, kalau itu tidak dikerjakan maka Kekristenan tidak mempunyai dampak di dalam dunia ini.
Cara paling mudah untuk membuat Kekristenan tidak berdampak, ada 2, yang pertama buat orang Kristen malas mengerjakan panggilannya. Apa yang dilakukan orang Kristen di dunia? Sama dengan orang lain, berusaha bertahan hidup, berusaha cari makan, berusaha kerja, selesai. “Saya sudah bekerja, saya mendapat pendapatan, saya bisa menikmati hidup, selesai”. Ini cara pertama, buat orang Kristen tidak tahu apa yang harus dia perjuangkan di tengah dunia ini. apakah kita tahu apa yang harus diperjuangkan? Apakah kita tahu energi kita, hidup kita, seluruh diri kita harus didedikasikan kemana, apakah kita tahu? Kalau tidak, maka kita akan hidup dengan cara yang salah di dalam kehendak Tuhan. Tuhan menjadi tidak dipermuliakan. Dan orang Kristen tidak mengerjakan apa pun demi Tuhan di dalam hidupnya. Aspek kedua, cara mudah membuat orang Kristen tidak kerjakan apa-apa adalah buat orang Kristen sibuk dengan kerohanian yang palsu. Karena banyak orang merasa diri rohani tapi kerohaniannya itu palsu. Orang Farisi punya kerohanian palsu karena mereka hanya menyoroti keunggulan sucinya mereka, membandingkan dengan kegagalan orang lain. Banyak orang melakukan ini di dalam hidupnya, orang yang tidak jatuh di dalam dosa seksual akan mengunggulkan hal ini lalu menghina orang lain sebagai pendosa, tapi dia sendiri tidak melihat kesombongannya. Orang yang mempunyai keunggulan apa yang dia rasa kuat, dia akan pakai itu sebagai perbandingan lalu menuntut untuk dinilai di dalam standar itu. Orang Kristen mesti melakukan apa? Orang Kristen harus rajin, maka orang yang rajin akan memakai itu sebagai satu standar untuk menentukan orang itu Kristen atau bukan, “kamu malas, kamu bukan Kristen. Kalau kamu rajin, baru kamu Kristen”. Tapi ada orang yang rajin dan sombong, dia tidak melihat sombong sebagai satu aspek yang dinilai untuk kerohanian seseorang. Farisi salah di dalam kerohanian seperti ini. Kerohanian yang palsu membuat orang Kristen merasa nyaman dengan keadaan rohani yang sebenarnya bukan dari firman Tuhan. Apakah kita nyaman dengan keadaan rohani kita? Apakah kita nyaman karena kita rajin memuji Tuhan? Apakah kita nyaman karena kita aktif melakukan sesuatu untuk Tuhan tapi hanya demi diri merasa nyaman saja? Apakah kita rajin ikut persekutuan atau pergi kebaktian supaya rohani kita ditenteramkan dan kita bisa menyatakan kepada diri sendiri “saya sudah Kristen karena saya sudah melakukan ini dan ini”, apakah seperti itu? Kalau ini terjadi berarti kita dijerat oleh setan, masuk ke dalam keadaan rohani yang palsu untuk membuat kita nyaman dengan keadaan kita. Mengapa nyaman dengan keadaan kita? Karena merasa sudah mengerjakan apa yang Tuhan tuntut. Saya mau tanya, siapa di sini yang yakin kita sudah kerjakan apa yang Tuhan tuntut? Tidak ada yang yakin, kalau begitu kita perlu berjuang lagi, masih perlu belajar lagi, masih perlu cari tahu lagi apa kehendak Tuhan, masih perlu memaksa diri untuk menjadi Kristen yang lebih baik. Tapi heran, banyak orang mengatakan “saya tahu saya belum sempurna, tapi saya tidak kejar kesempurnaan itu”, ini kontradiksi. Kalau ada orang mengatakan “saya terlalu malas membuat PR, saya mesti kejar itu”, dia mesti kerjakan PR-nya. Kalau ada orang mengatakan “saya belum baik jadi orang Kristen”, dia harus kejar atau kalau tidak sebenarnya hati dan mulutnya beda. Mulutnya mengatakan “saya belum Kristen yang baik”, tapi hatinya mengatakan “sudahlah, standar Kristen itu rendah, apa yang saya kerjakan sudah cukup, saya begini pun sudah oke. Tuhan tidak pernah tuntut terlalu tinggi, Tuhan tidak pernah tuntut apa-apa.. Banyak orang begitu santai di dalam kerohanian, tahu belum sampai tujuan tapi tidak mau paksa diri. Begitu banyak orang baca Alkitab dengan malas, karena tidak mau paksa diri. Bagitu banyak orang yang malas dengar kotbah yang berat, karena tidak mau paksa diri. Begitu banyak orang yang malas mempelajari Kekristenan yang sejati karena tidak mau paksa diri. Mengapa tidak mau paksa diri? Karena di dalam abad 20 akhir dan abad 21 semua orang dilatih menjadi pasif di dalam menerima hiburan. Saudara sekarang makin dilayani makin senang, kalau nonton televisi makin gampang makin senang. Saya punya rekan yang punya TV, kalau dia tepuk langsung pindah channel-nya. Jadi yang paling mudah mendapatkan hiburan, itu yang paling menyenangkan.
Sayangnya dengan keadaan seperti ini kita lupa bahwa Kekristenan bukan seperti itu. Kekristenan bukan suatu keadaan dimana kita menerima tanpa usaha, tiba-tiba kita sudah bertumbuh. Itu sebabnya Tuhan perlu dorong lagi, Tuhan perlu membuat mereka tidak nyaman, harus bangkit, harus rasa tidak nyaman, harus melakukan apa yang perlu dan harus kejar apa yang masih tertinggal. Dan cara Tuhan untuk dorong umat Tuhan adalah kirim nabi. Nabi-nabi dikirim untuk mendorong umat Tuhan bertobat dan kembali kepada panggilan seharusnya. “Kamu terlalu santai, bertobatlah kamu. Kamu tidak setia kepada Tuhan, bertobatlah kamu. Kamu tidak menjadi umat Tuhan yang baik, bertobatlah kamu”. Inilah yang diteriakan para nabi supaya umat Tuhan tetap ada di dalam jalur yang benar. Dan Tuhan kerjakan ini dengan membangkitkan para nabi. Jangan punya kenyamanan yang bodoh di dalam kehidupan rohani kita. Karena kalau Tuhan masih sayang kita, begitu kita nyaman di dalam keadaan rohani atau kenyamanan yang palsu, Dia akan ganggu kita. Cara mengganggunya dengan kirim orang bersuara keras mengatakan “bertobatlah”. Israel nyaman karena mereka pulang dari pembuangan di Babel, pada zaman Persia mereka pulang. Mereka diganggu peperangan terus-menerus, mereka terus diganggu keadaan yang tidak pernah tenang. Sampai muncul satu negara besar, kerajaan besar yaitu Romawi. Ketika Romawi menaklukan daerah di Mesopotamia dan Mesir, Romawi sengaja membiarkan daerah Israel, tidak mereka sentuh. Keadaan ini membuat mereka secara politik lumayan aman, tidak ada yang berani serang karena ada Romawi yang menguasai di daerah Mesopotamia dan Mesir. Siapa pun yang mau mengambil daerah Israel dianggap mengganggu Mesopotamia dan Mesir. Karena siapa yang mendirikan daerah di sini akan memotong jalur Roma dari daerah Italia ke Mesir atau dari Italia ke Mesopotamia. Itu sebabnya daerah ini tidak diganggu siapa pun, dan Roma belum masuk untuk mencaplok daerah ini. Waktu itu keadaan politik lumayan tenang dan mereka pikir kalau keadaan seperti ini sudah tenang. Tuhan tidak mau mereka tenang, maka Tuhan kirimkan Yohanes Pembatis. Lalu Yohanes Pembaptis berseru “bertobatlah kamu, kembali kepada Tuhan”, orang tanya “siapa engkau?”, “akulah yang akan mendahului Yesus”. Berarti Tuhan kirim Mesias, ini kecepatan luar biasa dari Tuhan. Seluruh nubuat yang Tuhan nyatakan dari zaman Abraham, kemudian Musa, kemudian para nabi, Daud dan para nabi, sekarang akan digenapi. Tuhan siap untuk membuka kerajaanNya ke seluruh negara. Tuhan siap untuk mengerjakan pekerjaan yang akan menggoncang seluruh sorga dan bumi, demikian kata Kitab Suci. Ini adalah pekerjaan besar, apa yang Tuhan nyatakan dari Kejadian sampai Maleakhi, sekarang digenapi dalam pribadi ini yaitu Yesus Kristus. Dialah center dari sejarah, Dialah yang pusat dari seluruh pekerjaan Tuhan, Dialah yang paling mulia, Dialah yang paling besar, dan sekarang Tuhan mau nyatakan pekerjaan ini, membawa Kristus ke dalam dunia, menjadikan Dia Raja di bumi ini. Menjadikan pengorbananNya, titik keselamatan yang sempurna bagi orang-orang yang dipilihnya. Ini momen penting, tapi Israel tidak siap. Pernahkah ada keadaan besar tapi orang-orang yang harus kerjakan tidak siap? Maka Tuhan dorong mereka untuk siap dengan mengirim Yohanes Pembaptis. Dan Yohanes Pembaptis punya kuasa kotbah luar biasa, dia kotbah menarik kembali orang kepada Tuhan. Dia tanpa takut menyatakan kebenaran, tanpa takut menyatakan “bertobatlah kamu” kepada siapa pun. Sebab siapa yang nyaman rohani mesti digoncang dulu sedikit. Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat berani, dia rela melakukan apa yang Tuhan mau dengan apa pun akibat yang muncul belakangan. Yohanes Pembaptis dengan berani berkotbah dan satu zaman disiapkan untuk kedatangan Kristus. Kristus sudah akan datang dan goncangan yang Tuhan bikin sebelum Kristus datang sangat luar biasa, karena Yohanes Pembaptis yang lakukan. Ini orang yang sangat besar, kalau dia berkotbah di padang gurun, orang akan datang kepada dia. Dia tidak perlu ke Bait Suci, dia datang ke padang gurun dan berkotbah, orang datang kepada dia. Dan Alkitab mengatakan dia menggenapi nubuat Yesaya. Yesaya sangat penting karena di dalam kitabnya dia membagikan pengharapan pulih bukan hanya bagi Israel. saya akan bagikan sedikit sesuatu yang sangat penting, harap Saudara bisa terima ini dan bisa mengertinya sekali ini sampai seterusnya. Israel dibuang oleh Tuhan ke Babel, lalu setelah dibuang, Tuhan menjanjikan pemulihan. Yesaya adalah nabi yang menjanjikan pemulihan itu yang bukan hanya bagi Israel, tapi bagi semua bangsa. Inilah titik dimana Tuhan menjadi Raja baik atas Israel maupun atas seluruh bangsa-bangsa di dunia.
Dan ini titik yang penting, maka Yesaya berbicara ada 4 hal yang sangat penting. Yang pertama, pemulihan bukan hanya Israel tapi bangsa-bangsa lain. Yang kedua, pemulihan terjadi karena Raja yaitu Mesias akan Dia kirim. Ketiga, Raja yang Dia kirim tidak banyak disadari orang. Raja ini tidak datang dengan cara yang membuat orang sadar, hanya mereka yang kaum sisa, hanya mereka yang punya kepekaan rohani yang Tuhan anugerahkan, yang bisa lihat bahwa ini adalah Sang Raja. Yang keempat, Dia akan datang dengan menunjukan cinta, pengorbanan dan pengampunan. Berarti Tuhan berikan pengampunan kepada seluruh bumi dengan cara yang unik, Tuhan pulihkan seluruh bumi dengan kirimkan Mesias, Tuhan pulihkan seluruh bumi tapi tidak banyak yang sadar Mesias ini, dan Tuhan pulihkan seluruh bumi melalui cinta kasih dan pengorbanan Sang Mesias ini. Dan itu digenapi dalam zaman Yohanes Pembaptis. Jadi apa yang dinubuatkan Yesaya, digenapi oleh Yohanes Pembaptis. Ada suara berseru-seru mempersiapkan jalan bagi Tuhan, “siapkanlah jalan bagi Tuhan”. Lalu dia berseru dengan sangat berani supaya orang siap melihat bahwa Mesias yang direncanakan Tuhan itu sekarang sudah ada di dalam dunia. Ini sesuatu yang membuat orang tidak mengerti, banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini, banyak orang Kristen cuma tahu kehidupan sehari-hari tanpa mengaitkannya dengan kairosNya Tuhan. Karena ketika Tuhan kerjakan dengan momen paling penting, tidak banyak orang yang sadar. Kita cuma tahu ulang tahun, kalau ulang tahun kita dilupakan, kita marah atau kalau kita melupakan ulang tahun orang, kita minta maaf. Saudara kalau lupa ulang tahun orang yang tidak terlalu dekat, masih aman. Tapi kalau lupa ulang tahun suami atau istri bagaimana? Rasanya tidak enak, tapi itu tidak penting. Melupakan ulang tahun itu tidak terlalu fatal. Tapi melupakan kairosNya Tuhan itu fatal sekali. Kalau Tuhan sudah kerjakan sesuatu dan kita tidak sadar, itu fatalnya luar biasa. Maka Tuhan kirim Yohanes Pembaptis, dia berseru “siap sedia, Tuhan akan kerjakan sekarang. Sekaranglah saatnya”.Dan coba pikir, apa yang Yesus kerjakan sehingga sekarang waktunya? Saya akan memberi tahu Saudara hal yang akan membuat Saudara kaget, Yesus membawa akhir zaman, itu yang Alkitab ajarkan. Jesus Christ brings the end of the ages, Dia membawa akhir zaman itu sekarang, karena bagi Perjanjian Lama terjadi kalau Raja Daud, keturunannya dipulihkan, tahta Daud dipulihkan, dan janji Tuhan diseluruh Perjanjian Lama digenapi di dalam Kristus. Berarti momen kehadiran Kristus adalah puncak dari penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh Tuhan di dalam Kejadian 1. Puncak dari semua yang Tuhan kerjakan adalah Yesus. Dia datang ke dalam dunia, inilah puncak dari pekerjaan Tuhan. Saudara mengagumi Tuhan menciptakan langit, Saudara mengagumi Tuhan menciptakan bulan dan bintang, Saudara mengagumi Tuhan menciptakan manusia, atau bagi orang narsis, Saudara mengagumi Tuhan menciptakan Saudara. Tapi apa pun yang Saudara kagumi dari pekerjaan Tuhan, sadari satu hal bahwa yang Tuhan kerjakan di dalam apa pun, tidak semulia yang Tuhan kerjakan mengirimkan Yesus Kristus ke dalam dunia. Kalau ini adalah puncak, master piece, pekerjaan paling besar yang Dia kerjakan, mengapa banyak orang tidak sadar? Mengapa banyak orang tidak sadar hidupnya untuk disesuaikan dengan periode penting ini? Mengapa banyak orang anggap sepele hal ini? Dan itu yang terjadi dalam zaman Yesus Kristus turun ke dunia. Dia datang ke dalam dunia dan banyak yang tidak sadar inilah momen memperbaiki seluruh ciptaan dan Tuhan menggenapi apa yang Dia sudah rancang dari awal. Sekarang ubah cara hidup, hidupmu disesuaikan dengan apa yang Tuhan sedang atur. Banyak orang kira pertobatan itu adalah kalau kita berubah, dulu suka mencuri, sekarang tidak, dulu suka menyontek, sekarang tidak, dulu merokok, sekarang tidak. Semua itu penting, tapi itu semua aspek yang kecil dari pertobatan yang sejati. Karena pertobatan sejati mencakup seluruh hidup diubah untuk bisa menampung apa yang Tuhan sedang kerjakan. Seluruh hidup di-set untuk sesuai dengan momen besar yang Tuhan sedang kerjakan. Dan momen besar itu adalah kedatangan Tuhan Yesus. Maka Yohanes Pembaptis menyiapkan orang untuk kedatanan Kristus pertama. Dan orang-orang yang dipakai Tuhan zaman ini berkotbah menyiapkan kemuliaan Tuhan dinyatakan sampai Dia datang kedua kali nanti. Maka Saudara dan saya senantiasa hidup di dalam momen puncak itu. Gereja Tuhan menyebar ke seluruh dunia, inilah momen puncak itu. Tuhan menyatakan inilah saatnya.
Maka ketika Saudara dan saya mengenal Kristus, kita akan mengubah hidup untuk bisa menampung apa yang Tuhan kerjakan lewat Kristus. Yang diubah bukan cuma satu dua sifat dari diri saya, yang diubah adalah seluruh hidup, sehingga meskipun saya mau kerjakan hal yang sama, meskipun saya punya keluarga yang tetap sama, tapi sekarang saya melihat dengan cara yang beda. Pengenalan akan Kristus adalah pengenalan yang life changing, apakah hidupmu berubah setelah mengenal Kristus? Perubahan hidup sedahsyat apakah yang Kristus ajarkan, yang Kristus kerjakan di dalam hidupmu? Sudahkan Kristus mengubah hidupmu? Jika belum, datang kepada Kristus, katakan kepada Dia, “Tuhan, Engkau Rajaku, ambil hidup saya dan kerjakan ap ayang Tuhan mau kerjakan di dalam diri saya ini. Saya bukan orang baik, Tuhan tahu itu, saya bukan orang yang pintar, Tuhan tahu itu, saya bukan orang yang saleh, Tuhan tahu itu. Tapi saya datang kepadaMu mau mengejar untuk mendapatkan apa yang seharusnya saya dapat di dalam Tuhan demi kemuliaan nama Tuhan. Maka saya memberikan diri saya kepada Sang Raja, kiranya Tuhan memerintah atas diri saya dan merombak hidup saya untuk sesuai dengan yang Tuhan mau”.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 4 Aug 2017
Hati-hati pada Kesombongan Rohani
(Lukas 18: 9-14)
Banyak kali di dalam Injil Lukas, hal-hal seperti ini diulang-ulang dan dibagikan dengan sangat jelas. Saudara kalau baca Injil, maka sindiran Tuhan Yesus terhadap relasi yang kacau di bumi oleh sebab tidak ada pengampunan, tidak ada kasih akan sesama, itu akan berulang kita temukan. Kalau Saudara merasa relasi dengan Tuhan sudah baik, merasa sudah kenal firman, sering berdoa kepada Dia, tapi Saudara punya kesulitan di dalam relasi dengan orang lain, maka Kitab Injil akan menjadi duri dalam daging bagi kita. Karena ketika membaca, tidak lama kemudian akan menemukan kalimat “maka Tuhan memerintahkan kamu harus mengasihi. Di dalam ayat 1-8 Yesus mengingatkan ketekunan untuk berdoa datang kepada Tuhan tanpa jemu. Terus datang kepada Tuhan dengan giat, dengan gigih, tidak pernah malas datang kepada Tuhan untuk berdoa, tidak pernah kehilangan gairah dan kerinduan untuk berdoa. Tidak pernah kehilangan niat dan motivasi yang benar untuk berdoa. Kalau ini tidak ada, Saudara dan saya benar-benar harus cari sampai kita menemukan gairah berdoa kembali berkobar di dalam hati kita. Doa di hati kita harus dipelihara, doa kepada Tuhan harus menjadi dorongan yang tidak pernah hilang di dalam diri manusia. Ketika Martin Luther sudah menggerakan reformasi, lalu di Jerman Protestan atau pengikut dari Luther dan reformasi mulai stabil, Luther pernah mengajarkan berdoa kepada seorang tukang pangkas rambut. Maka Luther menjawab “pertanyaanmu adalah pertanyaan yang penting, sebab waktu Yesus melayani di bumi murid-muridNyapun bergumul tentang hal ini. Jadi Luther mengingatkan “kamu punya pergumulan mirip dengan pergumulan Petrus, Yohanes, Andreas, Yakobus, waktu mereka datang kepada Tuhan dan bertanya: Tuhan, bagaimanakah cara berdoa, dan pertanyaan ini sangat serius dan penting. Oleh sebab itu saya minta waktu untuk bergumul, saya baca baik-baik Kitab Suci, saya renungkan, baru saya tulis jawabannya untuk kamu. Saya tidak mau bicara, takut saya salah jawab. Maka saya akan pulang dan tuliskan dengan teratur, supaya kamu dapat jawaban yang baik”, maka Martin Luther pun pulang, lupa untuk potong rambut. Ketika Luther pulang, dia bergumul dan akhirnya dia tuliskan tulisan yang judulnya A Simple Way to Pray. Ini adalah tulisan yang sangat baik karena mengingatkan kita tentang gairah berdoa dan ketekunan berdoa yang harus jadi satu. Orang sering mengatakan “saya mau punya kehidupan doa yang teratur, asal ada gairah. Sebelum ada gairah berdoa, saya malas berdoa”, atau ada yang mengatakan “saya rutin berdoa, tapi rasanya kosong, karena saya tidak ada gairah untuk berdoa, lebih baik saya tidak berdoa”. Buku ini atau karya pendek ini mengingatkan kita untuk perlunya melakukan keduanya, jadi Saudara harus punya gairah untuk berdoa dan waktu yang rutin untuk berdoa. Dan Luther mengingatkan doa itu berarti konsentrasi tentang Tuhan, merenungkan Dia, memikirkan tentang kebaikanNya, memikirkan firmanNya, lalu berdoa dengan cara me-reply pengertian itu, ini seperti komunikasi. Maka hal pertama yang diajarkan, jangan percaya bahwa kamu sanggup konsentrasi di tempat yang tidak menunjang kamu untuk konsentrasi. Sering orang berpikir orang sakti adalah orang yang dapat berdoa di tengah-tengah gangguan, seperti kaum stoik meskipun ada badai tetap stabil, jiwanya tenang tidak dipengaruhi apa pun. Tapi martin Luther mengingatkan Yesus pun cari tempat sepi dan berdoa. Saudara berani bilang kalau Yesus kurang kuat imanNya? Tidak mungkin, Yesus sendiri cari tempat sepi untuk berdoa, maka kita perlu waktu-waktu seperti ini, kata Luther. Jadi jangan pikir bisa berdoa tanpa masuk dalam satu keadaan dimana kamu bisa berkonsentrasi memikirkan tentang Tuhan, tentang anugerahNya, tentang firmanNya. Ini hal pertama.
Lalu hal kedua, Martin Luther mengingatkan untuk senantiasa mengingat firman sehingga ketika Saudara berdoa, baik kata-kata yang Saudara pakai mau pun kerangka doa Saudara adalah sesuatu yang sangat dipengaruhi oleh firman. Ini yang Luther katakan dipoin kedua, mendoakan firman, mendoakan pengakuan iman, mendoakan dengan teratur berdasarkan kerangka yang disusun oleh gereja, lalu kita merenungkan itu. Sambil merenungkan, sambil mendoakan.
Lalu ketiga, Martin Luther juga merasa perlu ada puji-pijian yang mengingatkan orang akan Tuhan, yang menenangkan hati. Tapi Yesus menambahkan aspek lain, selain konsentrasi memohon kepada Tuhan, punya permohonan yang jelas yaitu untuk Kerajaan Tuhan dipulihkan, jangan melupakan relasimu dengan sesama. Karena doa adalah relasi dengan Tuhan, maka ini tidak mungkin mengecualikan atau meniadakan relasi kita dengan sesama. Itu sebabnya dalam Doa Kami ada kalimat “ampuni kami seperti kami mengampuni orang lain”. Dan di dalam Lukas 18 ajaran tentang ketekunan berdoa, dilanjutkan dengan ajaran untuk menyadari bahwa diri tidka lebih baik dari orang lain. Sebab semakin Saudara bedoa, semakin dekat dengan Tuhan, semakin Saudara punya pertumbuhan rohani yang baik, maka Saudara bisa jatuh di dalam perasaan eksklusif, perasaan unggul di dalam kerohanian. Dan kalau kerohanian adalah sesuatu yang dihargai oleh komunitas Saudara, Saudara akan jatuh di dalam kesombongan.
Maka Lukas memberikan penjelasan tentang cerita Yesus, Lukas mengatakan “dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini”. Jadi setelah Yesus mengatakan doa dengan tidak jemu-jemu, Yesus mengetahui penyakit yang mungkin ada pada diri orang-orang yang merasa doanya begitu baik karena kerohaniannya begitu tinggi. Maka Yesus melanjutkan dengan perumpamaan yang oleh Lukas diberikan penjelasan, perumpamaan berikut adalah untuk menyindir orang-orang yang merasa dirinya benar. Dan Saudara kalau baca kalimat ini sudah tahu kira-kira siapa yang disindir Yesus karena menganggap dirinya benar, orang Farisi. Kita berada di dalam kebudayaan yang selalu melihat orang Farisi sebagai penjahat, dari zaman Sekolah Minggu kita sudah diberi tahu the bad guys adalah orang Farisi, sedangkan the good guys adalah Yesus dan murid-murid, Yesus, murid-murid, pemungut cukai adalah orang-orang baik, sedangkan Farisi, Saduki, Ahli Taurat adalah orang-orang jahat. Maka begitu kita ingat orang Farisi, langsung menggambarkan wajah-wajah yang jahat, yang garang, yang ingin menghancurkan yang lain, pokoknya Farisi itu sangat negatif. Tapi pembaca mula-mula dari Lukas tidak punya konsep seperti itu. Orang Farisi adalah kelompok yang sangat berjasa di dalam abad pertama Israel. Merekalah pengumpul dan pengajar begitu banyak commentary para rabi bagi Israel. Merekalah yang sangat giat, pergi ke rumah-rumah untuk menjelaskan tentang Taurat, tentang Mazmur, tentang Yesaya dan tentang lain-lain. Sehingga tanpa mereka, Israel abad kesatu sudah habis dihancurkan oleh sekularisme dari gerekan Helenisme, pengaruh Yunani yang disebarkan sejak abad ke-3 sebelum Masehi. Tanpa Farisi, Israel tidak mungkin punya orang-orang yang gigih mempertahankan agama mereka. Jadi orang Farisi punya sumbangsih luar biasa, mereka sangat gigih di dalam memberikan tafsiran, mereka menyelidiki Kitab Suci dengan sangat baik, dan mereka tulis ratusan volume commentary untuk Alkitab Perjanjian Lama. Jadi Saudara tidak sepelekan peran mereka di dalam masyarakat. Hanya orang bodoh di dalam zaman itu yang akan menegasi atau mengatakan kelompok Farisi adalah orang yang tidak layak ada di sini. Kalau kita punya kerangka seperti ini lalu membaca kalimat Yesus yang selalu menyatakan hal negatif tentang orang Farisi, kita akan kaget “masa orang Farisi senegatif ini? apakah Tuhan tidak salah?”. Sebenarnya penulisan Injil sangat bersifat provokatif. Kita sudah melihat Farisi sebagai pahlawan, dan saya mau create ini di dalam pikiran kita, orang-orang yang suka pergi ke rumah-rumah, door to door, mereka mengajar jemaat, mereka membuat perkumpulan-perkumpulan di tempat-tempat doa untuk membuat mereka mengerti apa yang dikatakan Kitab Suci. Seringkali mereka datang ke orang lalu meminta mereka membacakan satu bagian dari Kitab Perjanjian Lama atau kitab tradisi Yahudi, setelah mereka baca, mereka akan ditanya “tahukah kamu apa yang sudah kamu baca?”, orang itu kalau menjawab “saya tidak tahu”, maka orang Farisi dengan rela hati akan mengatakan “biar aku jadi gurumu dan aku akan jelaskan kepadamu pengertian ini”. Mereka punya jasa Banyak kali di dalam Injil Lukas, hal-hal seperti ini diulang-ulang dan dibagikan dengan sangat jelas. Saudara kalau baca Injil, maka sindiran Tuhan Yesus terhadap relasi yang kacau di bumi oleh sebab tidak ada pengampunan, tidak ada kasih akan sesama, itu akan berulang kita temukan. Kalau Saudara merasa relasi dengan Tuhan sudah baik, merasa sudah kenal firman, sering berdoa kepada Dia, tapi Saudara punya kesulitan di dalam relasi dengan orang lain, maka Kitab Injil akan menjadi duri dalam daging bagi kita. Karena ketika membaca, tidak lama kemudian akan menemukan kalimat “maka Tuhan memerintahkan kamu harus mengasihi. Di dalam ayat 1-8 Yesus mengingatkan ketekunan untuk berdoa datang kepada Tuhan tanpa jemu. Terus datang kepada Tuhan dengan giat, dengan gigih, tidak pernah malas datang kepada Tuhan untuk berdoa, tidak pernah kehilangan gairah dan kerinduan untuk berdoa. Tidak pernah kehilangan niat dan motivasi yang benar untuk berdoa. Kalau ini tidak ada, Saudara dan saya benar-benar harus cari sampai kita menemukan gairah berdoa kembali berkobar di dalam hati kita. Doa di hati kita harus dipelihara, doa kepada Tuhan harus menjadi dorongan yang tidak pernah hilang di dalam diri manusia. Ketika Martin Luther sudah menggerakan reformasi, lalu di Jerman Protestan atau pengikut dari Luther dan reformasi mulai stabil, Luther pernah mengajarkan berdoa kepada seorang tukang pangkas rambut. Maka Luther menjawab “pertanyaanmu adalah pertanyaan yang penting, sebab waktu Yesus melayani di bumi murid-muridNyapun bergumul tentang hal ini. Jadi Luther mengingatkan “kamu punya pergumulan mirip dengan pergumulan Petrus, Yohanes, Andreas, Yakobus, waktu mereka datang kepada Tuhan dan bertanya: Tuhan, bagaimanakah cara berdoa, dan pertanyaan ini sangat serius dan penting. Oleh sebab itu saya minta waktu untuk bergumul, saya baca baik-baik Kitab Suci, saya renungkan, baru saya tulis
Saudara berdoa, baik kata-kata yang Saudara pakai mau pun kerangka doa Saudara adalah sesuatu yang sangat dipengaruhi oleh firman. Ini yang Luther katakan dipoin kedua, mendoakan firman, mendoakan pengakuan iman, mendoakan dengan teratur berdasarkan kerangka yang disusun oleh gereja, lalu kita merenungkan itu. Sambil merenungkan, sambil mendoakan.
Lalu ketiga, Martin Luther juga merasa perlu ada puji-pijian yang mengingatkan orang akan Tuhan, yang menenangkan hati. Tapi Yesus menambahkan aspek lain, selain konsentrasi memohon kepada Tuhan, punya permohonan yang jelas yaitu untuk Kerajaan Tuhan dipulihkan, jangan melupakan relasimu dengan sesama. Karena doa adalah relasi dengan Tuhan, maka ini tidak mungkin mengecualikan atau meniadakan relasi kita dengan sesama. Itu sebabnya dalam Doa Kami ada kalimat “ampuni kami seperti kami mengampuni orang lain”. Dan di dalam Lukas 18 ajaran tentang ketekunan berdoa, dilanjutkan dengan ajaran untuk menyadari bahwa diri tidka lebih baik dari orang lain. Sebab semakin Saudara bedoa, semakin dekat dengan Tuhan, semakin Saudara punya pertumbuhan rohani yang baik, maka Saudara bisa jatuh di dalam perasaan eksklusif, perasaan unggul di dalam kerohanian. Dan kalau kerohanian adalah sesuatu yang dihargai oleh komunitas Saudara, Saudara akan jatuh di dalam kesombongan.
Maka Lukas memberikan penjelasan tentang cerita Yesus, Lukas mengatakan “dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini”. Jadi setelah Yesus mengatakan doa dengan tidak jemu-jemu, Yesus mengetahui penyakit yang mungkin ada pada diri orang-orang yang merasa doanya begitu baik karena kerohaniannya begitu tinggi. Maka Yesus melanjutkan dengan perumpamaan yang oleh Lukas diberikan penjelasan, perumpamaan berikut adalah untuk menyindir orang-orang yang merasa dirinya benar. Dan Saudara kalau baca kalimat ini sudah tahu kira-kira siapa yang disindir Yesus karena menganggap dirinya benar, orang Farisi. Kita berada di dalam kebudayaan yang selalu melihat orang Farisi sebagai penjahat, dari zaman Sekolah Minggu kita sudah diberi tahu the bad guys adalah orang Farisi, sedangkan the good guys adalah Yesus dan murid-murid, Yesus, murid-
amat besar. Maka orang akan khawatir dan juga kaget ketika Yesus mengatakan “celakalah kamu”. Dan Tuhan Yesus juga tidak pernah meniadakan pengaruh dari orang Farisi. Yesus pernah mengatakan “orang Farisi dan Ahli Taurat sudah menduduki kursi Musa”, ini pujian. “Merekalah yang akan menjelaskan ajaran Musa kepadamu, tetapi jangan ikuti kalau perbuatan mereka kacau”. Jadi Tuhan Yesus memberikan peringatan untuk orang seimbang dalam menilai orang lain. Jangan menilai orang berdasarkan konsep yang terlalu suci atau pun yang terlalu negatif. Saudara kalau sudah terlalu meninggikan seseorang, yan negatif dari orang itu sudah tidak kita lihat. Ajaran mereka sangat banyak dan banyak yang mempengaruhi tulisan-tulisan dari Paulus, Yudas, dan juga ajaran dari Yesus. Yesus bukan dipengaruhi oleh orang Farisi, tapi Yesus mengajar kepada masyarakat yang dipengaruhi oleh ajaran Farisi. Jadi Saudara tidak bisa meremehkan pengaruh mereka, tapi Yesus mengingatkan ketika orang sampai pada pengaruh yang besar di dalam kerohanian, mampu menjangkau banyak sekali orang dengan ajaran, maka kesombongan rohani menjadi dosa yang sama besarnya dengan dosa yang lain. Dan ini problem dalam relasi antar manusia. Saudara akan mengalami kesulitan bergaul dan juga bersosialisasi dengan siapa pun ketika Saudara melihat orang lain lebih rendah dari Saudara. Ini prinsip yang penting di dalam pergaulan dan juga pemikiran sosial dari Tuhan Yesus. Tuhan Yesus selalu mengaitkan doa dan relasi dengan Tuhan dan sesama menjadi satu paket. Rajin berdoa, jangan jemu-jemu berdoa seperti seorang janda yang meminta perkaranya dibela oleh seorang hakim yang lalim. Dia rajin sekali minta, kamu jangan kalah rajin karena Tuhanmu jauh lebih baik dari pada hakim yang lalim itu. Maka kamu harus berdoa dengan tidak jemu-jemu.
Lalu ayat 9 dan seterusnya, kalau kamu berdoa, jangan anggap dirimu lebih baik dari orang lain. Jadi biarlah kita mengerti bahwa ada dosa yang namanya kesombongan yang sangat berbahaya. Maka Yesus mengatakan di ayat 10 ada 2 orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Pemungut cukai adalah tokoh yang dianggap jelek, karena abad pertama Kerajaan Roma sangat ketat dengan pajak. Dimulai dari Agustus mulai ada periode yang disebut dengan Roma yang damai, pax romana, ini adalah keadaan di mana Roma memutuskan tidak lagi banyak konflik dan akan berfokus unutk menyejahterakan orang-orang yang ada di daerah Romawi, baik client city maupun daerah jajahan, atau pun kota-kota Roma asli, ini semua akan diberikan kesejahteraan. Agustus punya pengertian seperti ini “kamu mau tinggal di Roma?”, “mau”, “kamu mau perang atau damai?”, “damai”, “kamu mau sejahtera, kamu mau berusaha dengan tenang, kamu mau bisa tinggal di dalam rumahmu dengan baik, kamu mau bisa kumpulkan uang, bisa mendidik anakmu, membesarkan anakmu, dan berharap nanti akan gendong cucu, lalu berharap juga masih bisa gendong cicit. Jadi kamu berharap umur panjang, tidak diganggu apa pun, maukah kamu kerajaan Roma mampu memberikan ini?”, semua rakyat akan menjawa “mau”, “kalau mau, berarti kita harus pastikan kamu tinggal di tempat yang ada benteng, kami pastikan kamu dijaga oleh tentara dan kami pastikan kamu akan dijaga oleh orang-orang yang setia siang malam menjaga keamananmu dari serangan orang-orang diluar Roma. Kalau begitu kamu harus bayar pajak. Pemungut cukai adalah orang yang dianggap hina di dalam wilayah Israel. Dan Tuhan Yesus sengaja memakai ini, ada orang Farisi, pahlawan rohani dari Israel dan ada pemungut cukai, pengkhianat dari Kerajaan Israel. Mereka sama-sama berdoa, lalu Yesus menggambarkan orang Farisi berdoa dengan hati yang sangat sombong “ya Allah, saya mengucap syukur kepadaMu, karena saya tidak sama dengan orang lain”, ada prestasi rohani yang membuat dia lebih baik dari orang lain. Prestasi rohani ini seringkali menjadi kejatuhan bagi orang-orang yang ada di dalam lingkungan yang menghargai prestasi itu. Saudara kalau pergi di lingkungan yang semuanya atheis, Saudara pasti tidak dianggap hebat kalau rajin saat teduh. Saudara ada dimana itu menentukan aspek yang Saudara bisa sombongkan apa. Saudara kumpul dengan orang yang uangnya banyak, Saudara juga akan pamerkan uang. Banyak orang punya penyakit “ketika saya menjadi orang yang beribadah di tempat ini, saya mempunyai level pengetahuan yang lebih baik, saya punya level kerohanian yang lebih baik dan saya mempunyai kemampuan jadi Kristen lebih baik dari yang lain”, lepas dari benar atau tidak, perasaan itu sudah menjadi dosa. Kalau Saudara memang lebih baik dari orang Kristen lainnya, mengerti banyak hal, itu bagus, tapi kesombongan menganggap “ini adalah kualitas yang mengangkat saya”, itulah yang menjadi dosa orang Farisi. Maka kesombongan menjadi bagian yang ditegur oleh Tuhan Yesus dalam diri orang Farisi, bukan karena dia melakukan tindakan dosa, tapi karena kebiasaan meremehkan yang lain, kebiasaan menganggap rendah yang lain. Dan ini terjadi karena ada pengakuan terhadap kerohanian yang besar. Maka kesalahan Farisi adalah kesombongan dengan merasa dirinya lebih baik dari yang lain oleh sebab pencapaian yang dia sudah miliki. Harap kita semua diamankan atau dihindarkan oleh Tuhan dari perasaan hati seperti ini. Dan seringkali kita menghakimi orang lain dengan ide yang muluk-muluk tanpa kita sendiri tahu kita sangat sulit untuk jalankan. Kita merasa diri kita aman karena sudah punya idenya, sekarang orang lain harus jalankan secara real, dan itulah yang dilakukan orang Farisi.
Itu sebabnya bagian kedua tentang pemungut cukai memberikan pelajaran sangat baik bagi kita. Ayat 13, “tapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, lalu pukul diri dan mengatakan: kasihani aku orang berdosa ini”. Ini orang yang mengerti keadaan manusia secara real, di hadapan Tuhan manusia begitu bobrok, di hadapan Tuhan semua kekacauan kita terbongkar. Waktu kita makin kenal Tuhan, kita makin kenal diri kita yang rusaknya seperti apa. Calvin mengatakan makin kenal Tuhan, makin kita tahu bobroknya diri. Alasan kita tidak tahu berapa berdosanya kita adalah kita tidak punya ide berapa kudusnya Tuhan itu. Maka pemungut cukai ini menjadi teladan dengan menyadari posisinya dengan tepat. Orang yang menyadari posisinya dengan tepat, tidak akan tuntut orang lain berdasarkan tuntutan yang tidak real. Tetapi akan bergumul bersama dengan orang lain untuk menjalankan kekudusan dengan setaat mungkin. Inilah prinsipnya orang berdosa memimpin orang berdosa orang lain. Saya tahu ini berat, tapi mari kita jalani sama-sama. Saya tahu ini berat, tapi mari kita saling tegur. Saya tahu ini berat, tapi mari kita saling membimbing supaya kita bisa saling bertumbuh di hadapan Tuhan. Bukan saling melihat dimana kita berada dan menghina orang lain yang belum berada di dalam level kita. Maka Yesus mengingatkan bahwa doa untuk memulihkan kerajaan itu penting, doa untuk mengharapkan Kerajaan Tuhan dipulihkan itu baik, tapi bagaimana relasimu dengan sesama? Dan relasi dengan sesama umumnya rusak karena Saudara meletakan diri terlalu tinggi dan meletakan orang lain terlalu rendah. Orang lain hina dan diri mulia. Diri disakiti, Saudara bisa benci orang selama-lamanya, diri dipuji, Saudara bisa hargai orang itu selama-lamanya. Diri menjadi referensi terlalu kuat, terlalu besar dan akhirnya merusak kita dengan sesama. Maka biarlah kita belajar. Gereja kita adalah yang Tuhan percayakan banyak hal dan saya melihat potensi yang sangat merusak adalah kerusakan di dalam menerima orang lain. “Saya tidak nyaman dengan orang lain, saya hina orang lain, saya tidak suka orang lain, saya tidak suka mereka”, akhirnya kita tidak pernah bisa menjadi orang yang relasinya dengan Tuhan itu sangat memberkati kita. Makin dekat dengan Tuhan, makin rindu perbaikan relasi di dalam kehidupan sehari-hari. Ayat 14 mengingatkan kita, pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, dia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan. Ada kalimat penting dari seorang pengkotbah, untuk merendahkan diri kita perlu kualitas tinggi dan itu yang kita kejar. Karena kerendahan hati untuk menempatkan diri sama penting dengan orang lain itu sangat perlu.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 29 Jul 2017
Emosi yang Kudus
(Mazmur 76: 11)
Panas hati itu emosi, panas hati sama dengan marah. Di sini, “sesungguhnya panas hati manusia akan menjadi syukur bagimu”. Tuhan senang, mengapa senang? Emosi seperti apa yang bisa menyenangkan Tuhan? Adakah emosi yang bisa mempermuliakan nama Tuhan? Ada, ini firman Tuhan. Emosi ada yang benar, ada yang tidak benar. Kalau marah yang tidak benar, akan dihentikan. Jangan sampai marah tidak benar, emosi yang tidak benar itu Tuhan tidak suka. Saudara dan saya di dalam hidup ini tidak mungkin tidak punya masalah. Banyak masalah, banyak menghadapi karakter macam-macam di dalam dunia ini. Karakter orang bermacam-macam, ada yang ngomongnya keras, menyinggung dan sebagainya. Mungkin tidak bermakasud menyinggung orang lain, tapi tanpa sengaja menyinggung orang lain, biasanya orang seperti ini banyak musuh. Orang yang merasa paling benar, kalau bicara dengan emosi, sok tahu, bisa membuat kesal juga. Kadang-kadang orang seperti ini tidak semua orang bisa menerima, dan kadang-kadang itu ada dalam diri kita. Saya juga di dalam proses, kita semuanya di dalam proses. Orang yang percaya kepada Tuhan, kalau tidak masuk ke dalam proses penyucian, tidak merasa dibangung, tidak merasa dikoreksi oleh Tuhan, rasanya bukan anak Tuhan. Anak Tuhan dituntut Tuhan masuk untuk lebih dimurnikan. Hal-hal yang tidak baik, yang jelek, harus dibuang. Saya banyak menghadapi orang-orang yang suka sembunyi kalau menghadapi persoalan. Marah, tidak berani bicara, tapi lari dari kenyataan. Saya mengatakan “kalau kamu lari seperti ini, bisa menyelesaikan masalah?”, tidak juga, untuk apa lari? Karena takut? Tetap kita harus menghadapinya. Kita jangan lari dari masalah. Masalah itu harus dibereskan satu demi satu, jadi hidup, relasi dan sebagainya menjadi tenang. Firman Tuhan mengatakan “jadilah tenang supaya engkau dapat berdoa”. Kalau tidak tenang tidak bisa berdoa. Satu orang yang sudah sakit parah, dia mungkin berdosa begitu banyak, saya bacakan ayat ini dan mengatakan “pak, jadilah tenang supaya bisa berdoa”, “tidak bisa”, saya sedih mendengarnya karena sepertinya dia banyak pikiran dan macam-macam, sepertinya tidak bisa dipecahkan. “Jadilah tenang, semua kekuatiran tidak menyelesaikan masalah”, akhirnya beberapa hari kemudian bapak itu dipanggil Tuhan. Jadilah tenang supaya engkau dapat berdoa, itu adalah firman Tuhan. Kalau tidak tenang, emosi, semua perkataan menjadi tidak benar. Saya melihat orang yang tidak bisa menahan diri akhirnya akan kehilangan orang yang mengasihi dia. Hilang kepercayaan, hilang berkat, hilang relasi, karena itu mesti hidup baik-baik. Kita bersama-sama melayani, saling menjaga, saling menegur, itu gereja Tuhan. Gereja Tuhan seperti itu di dalam firman Tuhan yang diajarkan, saling menegur, saling mengingatkan, ini gerejaNya. Ada yang jadi tangan, jadi kaki, kita semua saling membutuhkan, ini adalah kebenaran firman Tuhan.
Kita perlu mengendalikan diri, ini penting sekali. Firman Tuhan mengatakan orang yang tidak bisa mengendalikan diri seperti kota yang tidak ada temboknya. Itu penguasaan diri. Kalau ada bahaya dan segala macam itu karena perbuatan diri kita sendiri. Pengendalian diri seperti kota yang ada temboknya, Saudara bisa mempertahankan sesuatu. Jadi emosi itu harus nalar, harus dipikirkan. Kalau situasi sudah menjadi rusak, buang waktu, sayang masa depan, sayang Tuhan mau berkarya lewat kehidupan Saudara dan saya. Kalau kebanyakan musuh, itu celaka. Makanya kita harus menjaga supaya tidak kehilangan kesempatan, cepat-cepat selesaikan kalau ada permasalahan. Kalau emosi karena relasi yang tidak baik, bisa mengganggu saat teduh, pelayanan, semua menjadi terhalang. Yang dipikirkan hanya kebencian dan karena itu setan senang sekali.
Kalau memelihara emosi, negatifnya banyak. Tapi tidak berarti tidak boleh marah. Firman Tuhan mengatakan menyempurnakan, menjadi kesenangan bagi Tuhan. Tapi marah yang seperti apa dulu? Tuhan Yesus sendiri pernah marah, meja-meja penjual di Bait Suci ditunggang-balikan. Tapi Tuhan Yesus punya tujuan mendidik, berjualan di rumah Tuhan itu tidak beres, motivasi ke rumah Tuhan untuk apa kalau seperti itu? Makanya Tuhan Yesus marah sekali. Panas hati yang menyempurnakan kemuliaan Allah, itu harus kita pelajari. Tuhan Yesus sendiri marah, kemarahan yang betul-betul mendidik, memberi tahu ini. Pak Arief tadi sudah mengumumkan tentang Reformasi 500, Pak Stephen Tong akan berjalan lagi dari kota ke kota, lebih banyak lagi. Kemarin konser diadakan selama 7 hari. Tuhan masih mau memakai beliau dengan luar biasa, puji Tuhan. Dan saya doakan supaya setiap kota ada pembaharuan di gereja-gereja. Doakan pekerjaan Tuhan. Saudara tidak diminta untuk membantu, tapi Saudara harus terlibat. Saudara harus mendoakan pembicara-pembicara yang akan dipakai. Saya harap tokoh-tokoh dari gereja, hamba-hamba Tuhan bisa belajar supaya spirit yang murni, yang pernah diperjuangkan 500 tahun yang lalu kembali ada di gereja-gereja. Kemarahan yang menyempurnakan, kemarahan yang membuat sukacita Tuhan. Martin Luther, satu orang tokoh yang berani mengatakan tidak ada kuasa yang lebih besar pada waktu dia marah. Dia marah sekali, sebagai orang yang sudah punya kedudukan yang sangat tinggi, kemarahan yang timbul dari dia belajar firman Tuhan, lahir dari pengertian baca firman. Dia melihat umat yang tertipu, umat termanipulasi karena dijualnya surat penebusan dosa. Gereja semakin kaya, keuangan dipagang seluruhnya oleh gereja, negara juga dipegang oleh gereja pada zaman itu. Martin Luther benar-benar geram melihat semuanya itu. Hal seperti itu tidak ada di firman Tuhan. Dia mengeluarkan 95 dalil yang menyatakan kemarahannya, dia menantang untuk berdialog, berdiskusi, siapa yang mau menjadi pembela kebenaran, siapa yang mau belajar kebenaran. Kemudian dia membuat undangan debat. Saya bisa membayangkan mukanya yang penuh dengan kemarahan karena kebenaran firman Tuhan dicoreng, mengutip ayat dengan tidak benar. Martin Luther yang begitu cinta kebenaran, dia ingin membela kebenaran firman Tuhan. Umat Tuhan kembali ke dasar Alkitab yang benar, semua pengajaran dan penjualan surat pengampunan dosa tidak ada di firman Tuhan. Gereja seperti marketing dunia, menakut-nakuti umat, mengatakan akan terjadi sesuatu di purgatori kalau tidak membeli surat ini semua. Apakah sorga semurah itu? Semurah kalau beli surat penebusan dosa, kemudian masuk sorga? Kacaunya luar biasa. Martin Luther mengkritik sakramen yang diarti salah, menurut mereka baptisan itu menyelamatkan, bayi yang dibaptis menjadi suci, yang seperti itu tidak ada di firman Tuhan. Baptisan adalah lambang, baptisan tidak menyelamatkan. Martin Luther marah sekali karena ada orang yang kutip ayat sembarangan. Karena itu di dalam 95 tesis itu dia jelaskan keselamatan hanya ada pada Tuhan Yesus yang mati dan bangkit menebus dosa. Kita bersyukur masih ada orang luar biasa yang dipakai oleh Tuhan untuk benar-benar membereskan zaman ini. Saya berharap di zaman ini kita juga dipakai oleh Tuhan. Marah yang benar, kalau Tuhan melihat semua ini, Tuhan senang, itu ada di firman Tuhan. Emosi jangan sampai tidak terkontrol. Emosi harus dikontrol oleh Roh Kudus. Saudara dan saya harus ada pengendalian diri, tunduk pada kebenaran firman Tuhan. Kalau Saudara menonton film Martin Luther, dia bertindak karena melihat ketidak-benaran. Dia sampai berdoa dengen merebahkan badannya, kepalanya sampai ke tanah, sedih “pakai saya sebagai alat Tuhan, saya berdiri di atas kebenaran firman Tuhan”. Pemimpin dari Martin Luther mengatakan “lenyapkan Martin Luther dengan seluruh berita injilnya”, Martin Luther mengatakan “siapa takut? Dimana rasa takutmu kepada Tuhan?”, dia melawan. Dia melawan semua yang tidak beres, dia hanya bertekuk lutut di hadapan Tuhan. Bertekuk lutut kepada Tuhan Yesus, pikiran dikendalikan oleh Roh Kudus, dikendalikan oleh firman, supaya emosi kita tidak kacau. Firman memenuhi hidup kita untuk masuk dalam kebenaran Allah. Kalau Saudara dititipin kebenaran, cobalah mengontrol seluruh pikiran, emosi kita, jangan memelihara hal-hal yang negatif, hal-hal yang tidak benar. Kalau Saudara mengatakan “saya orangnya memang seperti ini”, itu celaka. Jangan memupuk hal yang salah pada anak-anak kita, jangan membiasakan menuruti semua keinginan mereka meskipun mereka teriak-teriak menangis. Saya harap Saudara mulai mendidik bagaimana anak harus diajar, tidak semua yang diingini didapatkan. Dan dididik bagaimana takut Tuhan, mengutamakan Tuhan. Termasuk diri kita harus dididik, harus benar. Penguasaan diri yang firman Tuhan mengatakan kalau orang menuruti semua keinginan anak, itu artinya bukan sayang tapi sedang menjerumuskan anak-anak ke dalam masa depan yang tidak beres. Belajar dari firman Tuhan bagaimana Kristus yang tidak terbatas rela menjadi terbatas. Kristus mengambil rupa menjadi manusia, Allah menjadi manusia, Dia turun derajat. Semuanya itu demi kehendak Allah terjadi, Yesus rela lapar. Allah tidak perlu lapar, Allah tidak perlu merasa haus, tetapi Yesus rela demi tercapai apa yang direncanakan oleh Tuhan. Kita orang yang berdosa bisa kembali kepada Tuhan. Kita harus meneladani, kita turunkan gengsi kita, coba menjadi orang yang lapang dada, penuh pengampunan sesuai dengan firman Tuhan. Orang yang bisa mengendalikan diri, orang yang tidak mudah marah, orang yang tidak sembarangan marah. Kita harus mulai belajar marah yang benar, menyempurnakan kehendak Allah, membuat Tuhan senang. Kalau Saudara dan saya sehati, yang dimarahi itu adalah marah yang benar.
Saudara dipanggil oleh Tuhan untuk mewarnai dunia ini menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Lakukan yang Saudara sudah pelajari dan saling mengingatkan satu dengan yang lainnya, itu indah sekali. Kalau gereja Tuhan terjadi seperti itu, ini indah sekali dan Tuhan senang sekali. Ini marah yang benar. Tapi kalau marah-marah yang tidak jelas, tidak perlu, Saudara perikat-pinggangkan karena itu akan dihentikan juga oleh Tuhan. Bersyukur kalau marahnya benar. Tidak boleh asal-asalan untuk Tuhan, Kekristenan harus beres, tidak boleh seenaknya, marah itu harus mendidik. Marah yang lahir dari cinta kepada Tuhan itu berkenan di hadapan Tuhan. Marah yang sehati dengan kebenaran firman Tuhan. Satu kali saya melihat seorang bos yang sedang mendidik karyawannya, kata-katanya “saya ingin kamu maju, kalau cara kerjamu seperti ini, bagaimana kamu bisa naik tingkat? Sebetulnya saya mau tingkatkan kamu, tapi kamu seperti ini, kerjanya bagaimana?”, bersyukur karyawan punya bos seperti itu, diberi tahu mana yang tidak beres. Orang Kristen tidak boleh malas, harus memberi yang terbaik. Kalau malas, kalau tidak benar, kalau tidak setia, kalau melawn kebenaran, marahi. Marah itu penting kalau Saudara dan saya benar-benar mau sehati dengan Tuhan, sehati dengan hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan, mau sehati dengan para reformator, Saudara harus jalani. Mengerti kebenaran, kemudian kita mulai mengaplikasikan di dalam kehidupan kita. Kekristenan zaman ini bukan hanya tentang cinta kasih, Tuhan penuh dengan pengampunan, karena akibatnya bisa merusak Kekristenan, mengecewakan semua. Gerakan Reformed kiranya dipakai oleh Tuhan untuk semuanya harus benar, keras harus benar, marah harus benar, disiplin harus benar, menghukum harus benar. Gereja harus memarahi hal-hal yang tidak benar. Kemarahan yang benar sangat dibutuhkan oleh gereja Tuhan. Kalau masih ada yang marahi, harus bersyukur. Kalau Saudara melihat ada orang yang marah-marah terhadap ajaran, bersyukurlah berarti zaman ini masih ada harapan. Musa ketika marah, 2 loh batu dibanting sampai hancur, saya kira sudah pasti dia dihukum oleh Tuhan. Pada waktu bangsa Israel berpaling menyembah berhala, Musa marah luar biasa, dan Tuhan menyetujui kemarahan Musa, karena kemarahan Musa sinkron dengan kemarahan Tuhan, Tuhan dipermuliakan. Apa yang membuat marah Tuhan, Musa juga marah, Saudara harus ikut. Marahnya Musa itu marah yang menyempurnakan, seperti di firman Tuhan ini, cocok dengan Tuhan. Kalau cocok dengan Tuhan, Tuhan benar-benar dipermuliakan, Dia senang. Orang yang seperti itu dipakai sebagai alat di tangan Tuhan. Coba kita koreksi diri apakah kita sering emosi, kita mungkin sering menyakiti hati orang lain. Kalau Saudara tidak di jalur yang Tuhan berikan kepada kita, tidak sehati dengan Tuhan, bijaksana Tuhan tidak akan muncul dalam kehidupan kita. Ketika saya memarahi anak-anak, memarahi pasien yang saya layani, memarahi narapidana yang saya layani, saya harus sehati dengan Tuhan. Kalau Tuhan tidak suka, orang ini tidak beres, mesti dimarahi. Saya harap kita adalah orang-orang yang demikian. Orang yang sehati dengan Tuhan itu indah, sinkron, dan Tuhan juga senang melihat Saudara. Kalau Saudara seperti itu, Tuhan bangga. Sehingga tidak melahirkan dosa-dosa yang lain. Saya mengatakan “sebenarnya dendam itu tidak baik, nanti kamu di sini jadinya tidak tenang. Pembalasan itu hak Tuhan”, dia diam saja dan saya tidak terlalu banyak ngomong karena dia masih panas hatinya. Saya mulai menangkap feeling-nya “saya mengerti apa yang dialami, coba serahkan kepada Tuhan. Sekarang kamu di sini bisa belajar firman Tuhan, mungkin Tuhan punya maksudNya”. Pertengkaran keluarga, emosi bisa sangat mempermalukan diri. Saya harap anak-anak Tuhan waspada akan hal ini. Karena apa yang diperbuat oleh diri kita bisa mempermalukan Tuhan. Anak-anak Tuhan menjadi sorotan, dilihat oleh dunia ini. Kalau Saudara tidak bisa menahan diri, kita sama saja dengan anak-anak dunia yang tidak ditebus oleh Tuhan. Kita harus ingat kalau kita menyandang satu predikat orang yang suci, yang telah ditebus oleh Tuhan. Saudara dan saya harus lain dengan dunia ini, karena kita adalah anak Tuhan yang harus mempermuliakan Tuhan, nama Tuhan dimahsyurkan karena hidup Saudara dan saya, ini tuntutan. “Kamu harus menjadi garam, menjadi terang bagi dunia ini”, ini adalah perintah Tuhan. Sehingga kita tidak bisa sembarangan, kita tidak bisa seenaknya.
Tapi kita menjadi orang Kristen yang betul-betul sehati dengan Tuhan. Mazmur 76: 11 “sesungguhnya panas hati manusia akan menjadi syukur bagiMu dan sisa panas hati itu akan Engkau perikatpinggangkan”. Menjadi syukur bagiMu. Kiranya kita menjadi orang yang menjalankan, tidak menjadi orang yang sembarangan dalam tindak-tanduk kita, perintah Tuhan, Saudara sehati. Dan mulai mendidik orang lain karena mau jadi alat di tangan Tuhan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 21 Jul 2017
Merindukan Allah saja
(Wahyu 4: 1-11)
Orang Kristen tidak bisa menempatkan penyembahan kepada Tuhan maupun puji-pujian kepada Dia di dalam level yang rendah. Tidak ada satu orang pun boleh menghina ibadah kepada Tuhan, tidak ada satu orang pun boleh dengan sembarangan memberikan apa yang dikehendaki hatinya untuk dilempar kepada Tuhan dan berharap Tuhan akan terima itu. Hari ini saya membagikan Wahyu 4 ini sebagai prinsip penting ibadah. Manusia kalau tidak beribadah akan kosong dan kering. Dan kalau beribadah dengan cara yang kosong dan kering, dia tidak akan punya harapan untuk memperbaiki rasa kosong dan keringnya karena tidak ada apa pun yang bisa mengisi manusia dan membuatnya berlimpah selain ada kesempatan beribadah kepada Tuhan. Di dalam lagu yang kita nyanyikan, yang ditulis dalam periode pelayanan John Calvin yaitu As a Deer in Want of Water, ini diambil dari Mazmur 42, dan pemazmur menangis di hadapan Tuhan. Mereka mengatakan “Tuhan, kapan lagi kami boleh beribadah?”. Mengapa repot, ibadah kan bisa dilakukan dimana pun. Mengapa menangis? “Kami ada di Babel, kami tidak bisa beribadah kepadaMu”. Orang Israel mengatakan “kami biasa dapat kelimpahan dari Bait Suci, dimana lagi kami bisa dapatkan kalau tidak di Bait Suci?”. Kerinduan untuk hadir bersama Tuhan, itulah kerinduan umat Tuhan.
Kita rindu apa? Di zaman modern ini ilah kita sudah berganti, sudah geser bukan lagi Tuhan tapi uang. Kerinduan kita adalah ditemani uang yang banyak. Saya tidak mengatakan tidak perlu uang, kita perlu uang. Alkitab mengatakan bukan cuma perlu, tapi kita harus atur uang, karena salah satu aspek penghakiman yang Tuhan berikan kepada kita adalah bagaimana kita pakai uang kita, bagaimana kita cari uang. Apakah kita lakukan dengan cara yang baik? Apakah uang punya tempat prioritas di dalam hidupmu? Kalau iya, celakalah kita. Itu sebabnya orang modern yang sudah dikuasai cara berpikir hanya menyembah uang, hanya tahu uang, adalah orang yang kering tapi tidak mencari kelimpahan di dalam Tuhan. Sudah ditipu dengan kelimpahan palsu di dalam keuangan. Satu orang jemaat di Bintaro mengatakan “dulu hal yang menyenangkan saya adalah buka buku tabungan dan lihat ada berapa di situ. Kalau semakin banyak, hati saya tenang”, kalau jumlah berlimpah dari yang dia harapkan, di situ ada sukacita besar yang sulit digantikan sukacita apa pun. Dan dia mengatakan dia bergumul dengan hal ini meskipun orang lain tidak, dia bertanya kepada sesama jemaat atau orang Kristen “apakah kamu pernah bermasalah dengan perasaan senang kalau uang banyak? Hati saya terganggu karena saya cuma senang karena uang, kalau seperti ini saya merasa bukan Kristen”, lalu orang lain mengatakan “tenang saja, hal seperti itu tidak perlu dipermasalahkan, itu hal biasa, semua orang juga senang kalau uangnya banyak”, “saya tahu orang akan senang kalau ada uang, tapi mengapa kesenangan saya hanya itu? mengapa saya tidak bisa bersukacita untuk hal yang lain, mengapa mata saya hanya bisa lihat satu sumber terang palsu ini?”, dan itu sangat mengganggu dia. Kita lebih bersukacita kalau uang kita banyak, kita memang mengaku dengan mulut kita “aku senang jadi anak Tuhan”, tapi pada faktanya hati kita hanya digerakan oleh uang. Itu sebabnya zaman ini adalah zaman penyembahan berhala yang sangat parah, karena orang boleh mengucapkan dari mulutnya “aku percaya kepada Allah, aku setia kepada Tuhan. Aku setia kepada agama ini, aku setia kepada agama itu”, tapi pagi siang sore malam seluruh energi, seluruh fokus, seluruh perhatian hanya untuk dapat uang demi kesenangan pribadi. Dimanakah penyembahan kepada Tuhan kalau ini yang menjadi sikap kita?
Hal kedua, zaman ini bukan hanya menyembah berhala, zaman ini juga sangat mengidolakan kesenangan. Richard Pratt mengatakan kesenangan itu adalah dewa yang tidak boleh saya, diganggu. Dan abad 21 menunjukan betapa marahnya orang kalau kesenangannya diambil dari dia. Orang penyembah uang dapat uang, orang pemuja kesenangan dapat kesenangan melalui obat-obatan. Ini terus terjadi mana pun. Orang mencari kesenangan, orang ini merasa senang, merasa sukacita, merasa lega, merasa semua kesulitannya bisa lari, cari kesenangan, cari hiburan, cari cara untuk membuat hidup lebih hidup. Itu sebabnya hiburan malam tidak akan pernah layu, karena orang terus mencari hiburan. “Kamu kalau sudah suntuk kerja, apa yang kamu lakukan?”, “cari club malam, nyanyi di karaoke, teriak-teriak sampai lega, inilah kesenangan saya”. Semua kesenangan dicari manusia, dan siapa berani cabut manusia dari kesenangan itu, dia akan marah sekali. Mengapa orang marah kalau dia diputus dari uang, kalau dia diputus dari kesenangannya? Karena hal-hal ini adalah dedikasi hatinya, inilah agama yang dia sembah, inilah yang membuat dia merasa sudah penuh. Orang merasa dirinya mendapat kepenuhan lewat hal-hal lain di luar Tuhan, itu kecelakaan paling besar. Jadi kesenangan sudah memperbudak kita, uang sudah memperbudak kita. Lalu kita pikir kesenangan dan sukacita sejati terdapat di dalam hal-hal ini? Maka kita di dalam zaman modern tidak mencari ibadah yang memuaskan. Mengapa tidak banyak orang yang komplain kalau gereja memberikan ibadah yang tidak memuaskan? Karena sudah dapat kepuasan di tempat lain, kepuasannya mungkin bukan di gereja. Orang datang ke gereja ngantuk-ngantuk, tidur, bangun waktu kotbahnya selesai. Tidak ada orang yang mengatakan “hari ini saya ibadah, mengapa saya tidak merasakan sukacita kehadiran Tuhan? Ini rugi besar, satu minggu akan lewat tanpa saya merasakan kehadiran Tuhan. Satu minggu lewat tanpa saya merasa Tuhan sedang berbicara kepada saya. Satu minggu lewat tanpa saya rasa Tuhan sedang menyapa saya”, apa yang bisa menggantikan hal ini? tidak ada. Uang Saudara tidak bisa menggantikan momen itu. Pacarmu, suamimu, istrimu, tidak bisa menggantikan momen itu. Tapi ada orang datang ke gereja dengan berharap bertemu dengan orang yang ditaksir. Saudara rugi tidak bertemu Tuhan. Tapi tidak ada yang menyerukan Mazmur 42, tidak ada yang mengatakan “Tuhan, saya seperti rusa yang mau mati. Jadi tolong, kalau Engkau mengasihi jangan lari dari padaku. Jangan tinggalkan saya, jangan biarkan saya tidak merasakan kenikmatan bersekutu dengan Engkau. Saya bukan orang kafir kan? Saya umatMu kan? Saya anakMu, saya umat tebusanMu, jangan buang kami”, ini yang mazmur 42 sedang nyatakan. Tapi banyak orang ikut ibadah dan mengatakan “kapan selesai? Oh puji Tuhan, hari ini selesai lebih cepat”, atau “wah, hari ini pasti lama selesainya. Lain kali saya akan cari gereja yang lebih singkat, karena saya tidak tahan bertemu dengan Tuhan”, apakah ini ucapan dari umat Tuhan? Bukan. Itu sebabnya jangan cari kesenangan di tempat lain, tidak ada yang bisa gantikan ini. Ketika Saudara dan saya lupa bahwa kesenangan utama adalah menyembah Tuhan, maka ibadah itu jadi sesuatu yang rutin, sesuatu yang biasa, sesuatu yang akan dilakukan minggu demi minggu.
Maka ketika orang makin terseret dengan kesenangan duniawi, oleh kesenangan uang, lalu kegentaran dan kesulitan hidup, ini hal ketiga yang membuat kita sulit menikmati Tuhan. Orang dianiaya kalau jadi Kristen, orang terus masuk dalam keadaan sakit, akhirnya terus konsentrasi pada keadaan itu dan ini sulit kita permasalahkan. Siapa pun dalam keadaan sulit akan terkonsentrasi pada kesulitan itu. Bayangkan kalau kita hidup di abad pertama ketika gereja Tuhan hidup, mereka sangat khawatir ditangkap. Dan kalau ditangkap bukan hanya diusir dari ibadah, mereka mungkin akan ditangkap untuk dibunuh. Di dalam ketakutan yang tiap minggu mereka rasakan, mereka bisa masuk kepahitan, bisa masuk dalam perasaan “apa gunanya saya ikut Tuhan kalau seperti ini? Tiap hari adalah hari sulit, tidak ada bahagia di dalamnya, hari-hariku semakin panjang, semakin membuatku muak. Lebih baik Tuhan persingkat waktunya supaya aku berhenti di bumi Tuhan yang menyusahkan ini”, ini beban sulit. Orang menghadapi kesulitan akan mungkin masuk dalam kepahitan. Saya sering mendoakan orang-orang yang penyakitnya terus kambuh, karena saya tahu satu hal ada bahaya kepahitan bisa masuk ke dalam hati dia. Mungkin dia lebih kuat dari saya, mungkin kalau saya dapat penyakit seperti itu akan lebih cepat merasa pahit kepada Tuhan. Ayub pun yang paling Tuhan banggakan pernah mengalami kepahitan seperti itu. Ketika iblis habis keliling dunia lalu datang kepada Tuhan, Tuhan langsung mengatakan “dari manakah engkau?”, “saya dari perjalanan keliling dunia”, untuk apa iblis keliling dunia? Iblis keliling dunia itu kerja bukan liburan, kerja menyesatkan orang. Maka Tuhan senyum kepada iblis dan mengatakan “kamu gagal ke Ayub ya?”, itu maksudnya. “Sudahkah kamu ketemu hambaKu Ayub?”, itu sindiran untuk iblis. Setelah itu tidak ada lagi diskusi Tuhan dengan iblis, meskipun kita tahu di akhirnya Ayub dipulihkan.
Tuhan menang, tapi Tuhan tidak perlu pamer sama iblis. Urusan kemenangan Tuhan bukan urusan untuk pamer ke iblis. Kemenangan Tuhan dan umatNya adalah urusan umatNya dan Tuhan. Maka waktu Tuhan sudah menang, tidak ada lagi diskusi. Tuhan tidak perlu pengakuan dari setan. Dia menang demi dinikmati umatNya, Dia menang demi Dia dan umatNya bersatu, iblis tidak ada urusan. Maka dia boleh muncul di awal, tidak boleh muncul di akhir. Tuhan tidak perlu banggakan kemenanganNya kepada setan. Maka ketika Tuhan tanya ke iblis “sudah keliling dunia?”, “sudah”, “kamu gagal sama Ayub”. Tapi meskipun Ayub begitu kuat, di tengah-tengah dia sempat mengalami kepahitan, “lebih baik saya tidak dilahirkan, saya mau kutuk hari lahirku, supaya saya tidak perlu ada, mengapa saya harus dilahirkan kalau hanya untuk menikmati kepahitan demi kepahitan. Kalau saya salah maka Tuhan adalah lawan saya, saya mengaku salah. Kalau saya tidak salah, maka saya mulai bingung mengenal Tuhan. Kalau saya tidak berdosa bagaimana saya mendefinisikan tentang Tuhan. Teologi tentang Tuhan itu bagaimana, doktrin Allah saya sangat rumit. Saya bingung merumuskan siapa Engkau ya Tuhan, karena saya tidak bersalah tapi Engkau timpakan tanganMu dengan demikian keras”. Teman Ayub mengatakan “kamu pasti salah, selidikilah dirimu”, “saya sudah menyelidiki diri setiap hari”. Dulu ketika sebelum anaknya mati, anaknya mengadakan pesta yang umumnya dilakukan anak muda, Ayub bakar korban lalu mengatakan “Tuhan, seumpama mereka mengutuk Engkau di dalam hatinya, ini korban penebusan”. Ayub mengatakan seperti itu, karena Ayub tidak pernah mengutuk Tuhan dengan mulut. Anak Ayub tidak pernah kelihatan jahatnya apa. Jadi Ayub mengatakan “kalau secara mata mereka oke, tapi saya tidak tahu hati mereka, saya persembahkan ini untuk Tuhan”. Ayub mengatakan “saya sekarang sedang bergumul tentang doktrin Allah, karena saya sulit menjelaskan Allah. Saya tidak salah, tapi Dia hantam saya dengan keras, kenapa?”. Maka pada bagian akhir, Tuhan tarik Ayub dari kepahitan dengan mendekatkan dia dengan kemuliaanNya. Segala bentuk kemuliaan Allah Sang Pencipta itu dan Allah yang untuk Dia kita dicipta, dinyatakan di depan. Siapakah Tuhan? Tuhan adalah Pencipta, inilah kredonya orang Israel. Siapakah Tuhan? Dia adalah yang untukNya kita hidup, Dia yang menciptakan kita. Dari situ Ayub mendapatkan kelegaan, “iya Tuhan, sekarang doktrin Allah saya beres. Tuhan adalah yang menciptakan saya dan yang untuk Dia saya hidup. Saya tidak hidup untuk diri, saya hidup untuk Engkau”, dan itu yang menjadi kekuatan untuk Ayub keluar dari kepahitan. Maka kepahitan dari penderitaan itu menjadi satu kesulitan yang mesti kita doakan untuk mampu kita atasi atau untuk orang-orang sekeliling kita mampu atasi. Mari punya hati yang peka, banyak jemaat di sekeliling kita yang punya kesulitan jauh lebih besar dari yang kita mungkin bisa bayangkan. Ada orang yang tiap hari menghadapi beban berat sekali, yang sulit dia pikul, setiap hari bergumul dengan kesehatan yang sangat hancur, setiap hari bergumul dengan segala kesulitan relasi dengan orang, kekejaman dari orang yang punya kuasa dan lain-lain. Dan ini mungkin membuat orang mengalami kepahitan.
Di Kitab Suci dikatakan Tuhan itu bertahta di tengah dengan segala keindahan dan kekayaan. Saudara bisa lihat di dalam pasal 4:3-4, “Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka”. Pelangi lambang kesetiaan perjanjian Tuhan, kesetiaan Tuhan di dalam perjanjianNya. Dan segala bentuk perhiasaan yang dinyatakan di dalam Kitab Suci menunjukan Tuhan itu mulia, indah dan kaya. Dialah pemilik semua harta. Engkau mencari uang, Tuhan itu sumbernya dan Dia akan kasi untuk membuat engkau bergantung kepada Dia. Maka Tuhan adalah sumber segala keuangan, tidak masuk akan kalau engkau mendewakan uang. Kedua, keindahan itu dari Tuhan, kenikmatan menikmati Tuhan, menikmati kemuliaanNya, semua hanya bisa dengan berfokus kepada Tuhan. Maka di sini ada tahta yang sangat mulia, lalu ada 4 malaikat utama berdiri di sekeliling Tuhan, melayang dengan 6 sayapnya. Ini gambaran yang dilihat oleh Yesaya. Malaikat disebutkan ada 4, dalam tradisi Yahudi, ada 4 penghulu malaikat, ini tidak ditulis dalam Perjanjian Lama, maka Saudara boleh terima boleh tidak. Mereka percaya ada Mikael, Gabriel, Rafael, Urkiel menurut tafsiran orang Yahudi dan gereja di abad pertengahan. Empat malaikat utama ada dekat Tuhan. Tapi kalau Saudara baca pasal 7 dan 8, dikatakan bahwa Anak Domba memeteraikan umatNya lalu keempat malaikat ini bertugas menjaga. Bayangkan 4 malaikat utama di sorga bertugas untuk menjaga ketika Yesus memeteraikan siapa milikNya. Lalu bagian selanjutnya di pasal 5 mengatakan Yesus datang lebih dekat tahta Tuhan dibandingkan 4 malaikat ini. Yesus datang lebih dekat lalu dilantik oleh Tuhan, Tuhan tanya “siapa dapat buka meterai dari kitab ini?”, tidak ada orang yang bisa, Yohanes pun menangis. Lalu Anak Domab, Singa dari Yehuda itu maju, mendekat ke tahta itu, lalu menerimanya dari tangan Tuhan. Ini adalah kebaktian sekaligus pelantikan Yesus menjadi Raja. Dan Yesus berdiri lebih dekat dengan tahta Tuhan dibandingkan dengan 4 malaikat utama. Dan di dalam Wahyu 7 & 8 dikatakan Yesus berdiri bersama dengan umat tebusanNya. Saudara punya tempat di mana di sorga? Lebih dekat tahta Tuhan, lebih dekat Tuhan dari pada malaikat utama, ini yang Tuhan janjikan. Engkau masih mau kenikmatan di dunia ini, padahal Tuhan sudah berikan tempat utama di sorga, engkau keterlaluan sekali. Jika kita mengganti kemuliaan yang Tuhan tawarkan dengan kemuliaan yang dunia tawarkan, kita benar-benar berdosa kepada Tuhan. Karena seolah Tuhan mengatakan “hai 4 malaikat minggir, beri jalan untuk Yesus dan untuk tebusanNya. Umat tebusanNya tidak ada di lingkaran luar, tapi dibagian yang lebih dekat”, bahkan 24 tua-tua pun dengan rela ada di pinggir supaya kita punya tempat lebih indah, lebih dekat dengan Tuhan. Ini keindahan sorgawi yang luar biasa. Siapa yang boleh dekat kepada Tuhan? Yang tidak rasa layak. Siapa yang mengijinkan kita dekat dengan Tuhan? Orang yang justru lebih layak dekat, mereka minggir dan mengatakan “kamu silahkan dekat dengan Tuhan”, ini kemuliaan sorgawi. Lalu dikatakan para malaikat sujud menyembah. Empat malaikat itu terbang lalu menyanyikan “kudus, kuduslah Tuhan, Allah yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang”, kalimat ini dikenakan kepada Tuhan maupun kepada Yesus. Engkaulah yang sudah ada dan yang akan datang. Sedangkan untuk pekerjaan iblis, Wahyu mengatakan “ini adalah yang ada tapi tidak ada lagi”, itu kalimat untuk menyebutkan pekerjaan iblis. Siapakah iblis? Dia adalah yang ada dan tidak ada lagi. Siapakah Tuhan? Dia adalah yang sudah ada dan yang akan datang, yang kekal selama-lamanya. Maka Tuhan dipuja oleh para malaikat ini dengan siang malam tidak henti-hentinya, dengan mata yang penuh di seluruh badan mereka memuji Tuhan. Mengapa mereka penuh dengan mata? Seluruh makhluk yang ada sujud menyembah kemudian tersungkurlah 24 tua-tua sambil melemparkan mahkota, “segala kemuliaan yang saya miliki, sebenarnya milikMu”. Ini ibadah yang terjadi di sorga. Ibadah di sini ingin memberikan kita mencicipi sedikit. Yohanes mencicipi dengan menjadi saksi, tapi Saudara dan saya mencicipi di dalam kebaktian untuk kita boleh merasakan Tuhan sungguh hadir. Biarlah kita melihat dengan mata iman, kita tidak berdiri di hadapan manusia, kita berdiri di hadapan tahta yang mulia, yang menyatakan kemuliaanNya dengan sangat indah, yang kita boleh nikmati.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 21 Jul 2017
Berdoa dengan tidak jemu – jemu
(Lukas 18: 1-8)
Bagian ini merupakan dorongan dari Tuhan Yesus sendiri supaya orang Kristen pengikut Kristus dengan tekun berdoa. Tetapi ada satu aspek, ketika doa dikaitkan dengan ketekunan, maka doa yang dimaksud adalah doa untuk pemulihan Kerajaan Tuhan. Ini adalah pelatihan yang Tuhan berikan bagi orang Israel, mereka harus bergantung pada Tuhan dan mereka begitu concern supaya Tuhan menyatakan kerajaanNya di bumi, supaya Tuhan membenarkan mereka. Apa yang dimaksud dengan Tuhan membenarkan? Itu berarti Tuhanlah yang mengkonfirmasi umatNya dan Tuhanlah yang menyatakannya kepada dunia bahwa Tuhan sudah menyatakan keperkenananNya kepada umat. Sehingga ketika umat Tuhan sepertinya ditinggalkan umat Tuhan, mereka doa mati-matian mau mohon Tuhan kembali, mohon Tuhan pulihkan keadaan bangsa ini supaya orang tahu kami adalah umatNya Tuhan. Jadi doa seperti ini adalah doa dari orang milik Tuhan yang tidak lihat konfirmasi kepemilikan Tuhan di dalam kehidupannya. Israel waktu dibuang ke Babel adalah kelompok umat yang merasa sedang ditinggalkan Tuhan. Maka mereka berdoa siang dan malam, berseru kepada Tuhan, terus berdoa supaya Tuhan pulihkan Israel. Inilah doa yang dilatih oleh Tuhan kepada Israel, mereka senantiasa memohon supaya Tuhan pulihkan kerajaannya. Tuhan mendidik mereka untuk melihat hal yang Tuhan sangat perhatikan. Hal yang Tuhan istimewakan, mereka harus belajar istimewakan. Di dalam lecture of calvinism, di dalam kuliah tentang calvinisme, Abraham Kuyper membahas tentang calvinisme dan agama. Dan dia mengatakan bahwa agama yang sejati adalah agama yang bersumber dari sorga tapi mempunyai fokus pandangan ke bumi, dan itulah orang Kristen. Gereja Tuhan adalah gereja yang terdiri dari orang percaya yang ada di sorga maupun yang ada di bumi. Sorga menjadi sumber terang, tapi bumi menjadi target dari terang itu. Orang Kristen mesti mengerti hal ini. Meskipun kewarganegaraan kita adalah sorga, tetapi beban dan pekerjaan kita ada di bumi. Meskipun sumber terang adalah sorga, tetapi fokus dari terang itu adalah bumi. Tuhan di sorga tapi matanya melihat ke bumi. Bumi diciptakan oleh Tuhan dengan satu perasaan penuh gairah, penuh kecintaan dan penuh perhatian dari Tuhan.
Itu sebabnya narasi penciptaan di Kejadian 1 menceritakan usaha yang luar biasa dari Tuhan untuk menciptakan ini. Dikatakan Tuhan memisahkan, ini tindakan yang sangat sulit. Tuhan memisahkan air supaya muncul daratan, Tuhan memisahkan air di atas dan di bawah supaya muncul cakrawala, Tuhan memisahkan terang dan gelap supaya terang boleh dinikmati oleh manusia. Semua ini menggambarkan usaha. Bisakah Tuhan menciptakan semua hanya dengan menjentikan jari? Bisa, tapi Dia tidak lakukan itu. Dia ingin menyampaikan kepada kita berapa penting ciptaan ini di dalam pandangan Tuhan. Meskipun Dia sanggup ciptakan bumi dengan sangat cepat, tapi Dia memutuskan untuk memberikan seluruh konsentrasinya untuk ciptaan ini. Maka Tuhan punya hati pada ciptaan ini, ada pada manusia, ada pada kemuliaanNya dinyatakan untuk bumi ini. Itu sebabnya orang yang mengerti hati Tuhan tidak mungkin tidak mengerti perjuangan Tuhan menyatakan kemuliaanNya di bumi. Dia akan punya beban yang sama dengan Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya di bumi. Itu sebabnya orang Israel berdoa untuk Kerajaan Tuhan dipulihkan lewat Israel karena inilah kesenangannya Tuhan. Kalau kita mengatakan “Tuhan, saya mau ikut Tuhan”, maka hal yang paling penting yang harus kita ambil adalah apa yang menjadi isi hati Tuhan, itu juga yang jadi pergumulan hati kita. Dan ketika orang mendoakan sesuatu yang besar ini, dia akan belajar untuk tekun mempunyai beban seperti bebanNya Tuhan. Tapi banyak sekali orang yang sangat kerdil karena berpikir segala hal yang ada di dalam kosmos, di dalam seluruh ciptakan bekerja demi kebaikan saya, itu tidak ada di dalam Roma 8. Roma 8 mengatakan segala sesuatu bekerja demi kebaikan orang-orang yang dinyatakan sebagai umat Tuhan, orang-orang yang mencintai Tuhan, orang-orang yang dipanggil sesuai dengan kehendakNya. Apa pun yang terjadi orang yang menjadi milik Tuhan akan dimunculkan dan mereka akan menjadi umat Tuhan dengan kerelaan untuk melayani Tuhan, dengan kerelaan untuk hidup kudus dan ikut Tuhan. Itu sebabnya orang yang berpusat pada diri, hanya pikir diri, sulit untuk menjadi orang yang mengerti bebanNya Tuhan. Kadang-kadang kita menjadi orang yang sangat egois dalam doa kita. Tentu tidak salah kita berdoa untuk diri, Tuhan izinkan bahkan dorong untuk minta apa pun kepada Tuhan. Bolehkah saya minta dapat istri atau suami atau pacar, lalu berdoa kepada Tuhan? Boleh. Tapi bolehkah ini menjadi pergumulan yang paling utama? Alkitab mengatakan jangan, karena ada hal yang sangat penting yang Tuhan mau kerjakan, meskipun Saudara punya beban yang Saudara jalani dalam hidup, tapi Saudara juga bagian dari umat Tuhan. Dan Saudara mesti mempunyai beban yang luas, sehingga hati Tuhan boleh teradopsi dalam hati Saudara. Terkadang kita menjadi egois dalam doa kita, hati kita menjadi sempit, sehingga penghiburan yang Tuhan berikan secara luas tidak pernah masuk dalam hati kita. Kita sulit terhibur dengan pekerjaan Tuhan yang semakin jadi, tapi kita terhibur kalau pekerjaan Tuhan itu terasa efeknya secara personal dalam diri kita. Saudara kalau belajar perhatikan dan mulai menjadikan beban apa yang sedang terjadi di dunia ini, lalu Saudara merasa sebagai bagian, Saudara akan merasa punya doa benar-benar memberkati, menguatkan Saudara. Saudara akan semakin rindu mendoakan terus untuk pekerjaan Tuhan jadi, gereja Tuhan dibangkitkan dan lain-lain. Lalu Saudara akan sadar pergumulan yang dimiliki oleh orang-orang kudus, yang tidak berfokus ke diri adalah pergumulan yang real. Ini pergumulan dari umat Tuhan yang tertindas, bukan orang yang punya mental victim.
Orang kalau punya mental victim, itu lain sekali dengan pengertian korban. Saya ingat apa yang Pdt. Billy katakan lalu saya coba lihat lagi apa yang dikatakan Pak Billy. Pdt. Billy mengatakan bahwa di dalam Bahasa Ibrani, korban tidak sama dengan victim dalam bahasa Inggris. Victim tidak cocok diterjemahkan korban, karena dua itu berbicara tentang pengertian yang berbeda. Victim itu berarti keadaan seperti ini, saya kena, saya dirugikan karena keadaan ini, saya adalah victim. Lalu kalau korban itu berarti saya tahu ini harus dikerjakan, tapi waktu saya kerjakan ini demi tujuan ini, saya mungkin akan hancur, mungkin saya akan mati, mungkin saya akan luka, mungkin saya akan rugi, itu namanya korban. Jadi korban itu diberikan tujuan dan dengan aktif diberikan. Yesus Kristus itu korban, bukan victim. Dia korban, Dia memberikan diri untuk mati di kayu salib, demi penebusan dosa untuk Saudara dan saya digenapi. Tapi kadang-kadang kita mengalami situasi yang membuat kita putus asa, kita tidak tahu harus melakukan apa. Kita tidak merasa diri victim, kita tidak salahkan orang lain untuk keadaan ini, tapi kita tahu keadaan ini tidak benar. Kita mengatakan harus berhenti, harus berubah, tidak boleh seperti ini, maka kita minta Tuhan nyatakan keadilan, ini permintaan doa yang agung sekali. Bukan hanya “Tuhan tolong saya”, tapi lain lagi “Tuhan, nyatakan kebenaranMu, nyatakan keadilanMu”. Atau pengertian lain “nyatakan siapa saya kepada orang-orang lain”, ini doanya orang benar. “Tuhan, biar orang lain tahu siapa saya di hadapanMu, nyatakanlah. Biar orang tahu saya orang benar, biar orang tahu saya difitnah, biar orang tahu saya ditindas, biar orang tahu kami seperti menjadi victim di tengah masyarakat padahal kami sedang mengalami ketidak-adilan. Maka Tuhan, nyatakanlah kebenaranMu”. Ini doa-doa orang benar. Maka dari dulu orang Israel mendoakan hal seperti ini, “Tuhan, kami setia kepadaMu, mohon pulihkan kami. Kami mau Tuhan nyatakan kemuliaan lewat hidup kami, tolong kami”. Inilah doa-doa dari orang Yahudi. Waktu mereka berada di dalam pembuangan, mereka berdoa seperti ini. Waktu mereka sudah kembali, mereka tetap berdoa seperti ini, karena mereka belum dapat Raja, Mesias, Anak Daud yang mau dikirimkan oleh Tuhan. Mereka terus berdoa. Lama-lama doa mereka menjadi doa yang indah-indah. Ada buku-buku yang menuliskan doa para rabi, indah sekali. Mereka berdoa dengan kalimat-kalimat agung yang bisa dinyanyikan. Doanya benar-benar menggerakan jemaat. Rabi biasanya berdoa, sebelum berdoa selesai, jemaatnya sudah menangis, ini kebangunan di dalam doa. Tapi doa dipakai untuk saling merebut jemaat, ini yang membuat Yesus marah sekali. Maka Yesus katakan “jangan seperti orang munafik itu yang doa di pinggir jalan untuk rebut murid, jangan seperti mereka. Tapi kalau kamu mau berdoa, doalah seperti ini”. Yesus tetap mau mengajarkan berdoa supaya kerajaan itu dipulihkan, jangan lelah berdoa. Jangan berhenti berdoa supaya ketidak-adilan pergi, jangan berhenti berdoa supaya pemerintahan yang korup ditaklukan oleh Tuhan, jangan berhenti berdoa untuk orang-orang yang menjadi victim, yang dihancurkan oleh sistem yang tidak adil, yang sedang menderita meskipun mereka mengikuti Tuhan dengan setia, doakan mereka dengan setia. Dan kalau kamu menjadi korban dalam keadaan seperti ini jangan lelah berdoa dan memohon kepada Tuhan.
Jadi isu di dalam umat Israel pada abad ke-1 adalah mereka ragu apakah Tuhan masih mendengar doa mereka, masihkah mereka harus berdoa? Maka Tuhan jawab ini dengan mengatakan perumpamaan yang sangat ekstrim. Di ayat 2 dikatakan perumpamaannya, di sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun. Ini hakim yang punya kedudukan tinggi sekali, sehingga dia tidak bisa dipaksa, ditindas atau pun disogok untuk lakukan apa pun. Dia benar-benar hakim yang powerful, dia tidak bisa disuruh untuk berpihak kepada siapa karena dia tidak takut pada siapa pun. “Kamu mau bawa nama raja, saya tidak takut. Kamu mau bawa nama jenderal, saya tidak takut”, orang tidak bisa intimidasi dia. Orang ini levelnya sudah lebih tinggi dari siapa pun. Orang itu dapat kekuasaan dari berbagai cara, dan orang ini menjadi hakim dan punya kuasa. Banyak orang mempunyai kuasa karena pengetahuan, mempunyai kuasa karena tahu informasi, mempunyai kuasa karena mengerti lebih dalam dari pada orang lain. Hakim ini punya kedudukan tinggi sekali dan dia tidak bisa diganggu siapa pun. Tetapi di dalam kasus yang harus ditangani, ada seorang janda yang kalau tidak dibela, dia mungkin akan dihancurkan. Kita tidak tahu kasusnya apa, Yesus tidak cerita, mungkin hartanya akan diambil, mungkin hutangnya harus dilunasi, atau apa pun yang terjadi. Janda ini kesulitan, dia sangat terjepit, dia mau tidak mau mesti minta tolong kepada hakim ini, supaya hakim ini bela dia. Tapi dia seorang janda. Di dalam abad pertama, janda itu kelompok yang sangat rendah karena pada zaman itu kalau seorang sudah tidak punya suami entah karena meninggal atau karena diceraikan, orang itu adalah orang yang diberi waktu 2 tahun untuk menikah lagi. Kalau sudah 2 tahun tidak menikah lagi, kaisar Roma akan terapkan pajak pelacur bagi dia. Karena bagi orang abad pertama di dalam kebudayaan itu, perempuan kalau tidak menikah berarti pelacur. Mesti menikah untuk menunjukan diirnya bukan pelacur, karena tidak mungkin dia tidak menikah tapi tidak melacurkan diri, makanya cepat menikah. Bayangkan ada seorang janda, kalau dia tua berarti tidak punya kemampuan, kalau dia muda berarti dibuang oleh suaminya, dia kesulitan sekali dan dia tidak punya cara lain untuk lepas dari kesulitannya selain minta tolong hakim ini. Maka dia mulai ganggu hakim ini “pak hakim, belalah perkara saya”, hakim itu bilang “jangan ganggu saya, kamu perempuan hina begini, jauh-jauh dari saya”. Perempuan ini masih menunggu di luar, ayat 5 ini perkataan yang provokatif sekali, “namun janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia supaya jangan terus saja dia datang dan akhirnya menyerang aku”. Kata terus datang dan menyerang, ini bahasa untuk pertandingan tinju menurut commentary. Dulu saya susah melihat kaitannya. Supaya bisa berdoa, diberi tahu cerita, dan ceritanya ada janda dikabulkan permintaannya karena memaksa si hakim. Sehingga sepertinya kita paksa Tuhan sampai Tuhan tidak tahan lagi, seperti itukah? Bukan. Tuhan Yesus mengatakan di ayat ke-7, “tidakkah Allah akan membenarkan orang pilihannya yang siang malam berseru kepadanya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”. Yesus tidak pakai contoh, “Allah seperti ini dan kamu seperti janda itu”, ini perbandingan bahwa yang kamu alami adalah totally different dari ini, Allah tidak seperti ini. Tetapi yang mirip bukan hakimnya, karena hakim di sini hakim yang kejam, yang tidak peduli orang, dan dia tidak peduli si janda ini, tidak ada relasi dengan si janda. Tapi yang Yesus mau katakan adalah “kamu terjepit seperti janda ini”, keadaan orang Kristen sedang terjepit, umat Tuhan sedang terjepit. Sebelum Kerajaan Allah datang, kita senantiasa berada dalam keadaan terhimpit. Kita tidak merasa terhimpit karena hidup kita baik. Saudara baru merasa terhimpit ketika apa yang Saudara dihalangi, ketika apa yang Saudara mau tidak didapat, ketika kita sendiri dalam bahaya, maru kita merasa terhimpit. Tapi umat Tuhan senantiasa terhimpit ketika Sang Raja belum datang. Dan keadaan kita mirip dengan si janda itu, kita sedang terhimpit dankita tidak bisa tidak teriak, kita tidak bisa tidak mengeluh, kita tidak bisa tidak panjatkan permohonan ini.
Maka Yesus sedang mengatakan “kamu mirip janda itu, tapi kamu harus bersyukur kepada Tuhan karena Allahmu berbeda dengan hakim itu. Kasusmu adalah kamu dipertemukan dengan hakim yang mencintai engkau, yang sudah tidak sabar membenarkan engkau. Permohonanmu dan beban hati hakim sama”, ini yang Yesus mau bagikan. Maka apakah ini menjadi alasan untuk berdoa atau alasan untuk malas berdoa? Kita mengatakan “puji Tuhan, Tuhan dengarkan doa saya”, maka kita doa satu kali “Tuhan tolong, saya percaya kepadaMu”, selesai. Orang yang berdoa seperti itu tidak sadar sense bahwa dia sedang terhimpit. Saudara dan saya tidak bisa tenang dan nyaman sebelum kehendak Tuhan menjadi nyata di bumi ini. Maka kita terus diganggu dengan keadaan yang terhimpit. Baru waktu lalu kita mengalami tindakan yang tidak adil, seorang yang baik memimpin Jakarta lalu disingkirkan begitu saja. Saudara merasa ada keterhimpitan, lalu Saudara berseru kepada Tuhan. Kalau ke depan ada keadaan yang lebih menghimpit lagi, Saudara berseru lagi kepada Tuhan. Teror yang menyebabkan banyak orang mati, membuat Saudara berseru kepada Tuhan. Atau diri yang mengalami ketidak-adilan membuat Saudara tidak tahan untuk berseru kepada Tuhan.
Bagaimana cara berserunya? Alkitab mengajarkan berserulah dengan terus-menerus, memohon, memanggil Tuhan untuk segera tolong. Ini seruan panggilan yang tidak pernah berhenti nyatakan, sampai kita lihat jawaban dari Tuhan tiba. Ini namanya beban sejati. Saudara kalau minta sesuatu yang Saudara sangat inginkan, Saudara akan terus akan pastikan yang Saudara inginkan itu Saudara dapatkan. Sebab Tuhan akan tetap pulihkan kerajaanNya tapi waktu Dia pulihkan, Dia bertanya “adakah iman di tengah dunia?” Adakah orang yang tekun yang terus meminta hal seperti ini kepada Tuhan? Atau kebanyakan orang-orang di dunia sudah sangat egois, sangat berfokus ke diri. Segala hal kecil yang menjadi pergumulan yang kurang penting, hanya itu yang menjadi beban doakah? Atau ada orang yang beriman yang siang malam berseru untuk pemulihan Yerusalem baru, yang siang malam berseru untuk pemulihan gereja Tuhan, yang siang malam berseru nama Yesus ditinggikan? Kalau ada orang beriman seperti ini, Yesus mengatakan ketika Tuhan datang, orang-orang itu akan dinyatakan benar “ini umatKu yang setia”, yang terus-menerus menanti kedatangan Tuhan, yang dengan tekun berdoa siang malam demi Kerajaan Tuhan dinyatakan di bumi ini. Biarlah kita adopsi sifat ini, tekun berdoa untuk untuk pokok doa ini. Sekali lagi, saya tidak menegasi pokok doa Saudara yang lain, Tuhan tidak hina doamu memohon dapat pekerjaan, Tuhan tidak hina doamu memohon dapat pasangan hidup, Tuhan tidak hina doamu memohon bisa lulus, Tuhan tidak hina doamu memohon supaya relasi keluargamu jadi baik. Tapi jangan lupa pokok doa yang sangat penting ini, doakan pemulihan Kerajaan Tuhan, doakan kesucian, kebenaran, keagungan dan dirinya yang setia pada perjanjian boleh dinyatakan di dunia ini. Ketika doa ini menjadi pokok doa Saudara siang dan malam, maka Saudara akan dinyatakan “inilah orang beriman yang benar”, dan dunia akan melihat orang benar ini dinyatakan oleh Tuhan. Kiranya Tuhan menggerakan kita menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa berdoa demi pekerjaan Tuhan dinyatakan.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 21 Jul 2017
Tanda Kedatangan Kerajaan Allah
(Lukas 17: 20-37)
Bagian ini membahas tentang eskatologi, akhir zaman. Apa itu akhir zaman, apa yang terjadi pada akhir zaman, lalu apa tanda-tanda akhir zaman, ini yang ditanyakan orang Yahudi. Ketika orang Yahudi bertanya tentang sesuatu kepada Yesus, di dalam Kitab Suci, yang mereka tanya umumnya hal-hal yang ada perdebatannya di tengah-tengah orang Yahudi. Ketika mereka bertanya kepada Yesus, mereka berharap Yesus bisa konfirmasi dari perdebatan yang ada kelompok mana atau golongan mana dari Judaisme atau Yahudi yang memegang teori tertentu, yang benar. Banyak sekali konsep akhir zaman dari Yahudi. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah siapa yang menjadi tokoh utamanya. Kalau Tuhan pulihkan kerajaanNya, akhir zaman itu, siapa yang jadi tokoh utamanya? Banyak yang mengatakan Mesias, Anak Daud. Tapi ada yang tidak setuju, mereka mengatakan tokoh utama harus Musa. Musalah yang datang, karena di dalam Alkitab dikatakan kubur Musa tidak diketahui, sebab Tuhan sendiri yang kuburkan Musa. Lalu yang kedua mengatakan yang harus datang adalah Henokh karena dia tidak mati ke atas, maka dia tidak mati ke sini lagi, umurnya sudah lama sekali, dia sudah lama tidak mati kemudian kembali. Ketiga mengatakan bukan Henokh karena Elia yang harusnya dimuliakan. Elia naik pakai kereta berapi, dia akan turun juga pakai kereta berapi. Akhirnya ada yang mengatakan Henokh, Musa, Elia, ini jadi perdebatan. Ada lagi yang mengatakan kalau akhir zaman datang, tanda-tandanya apa? Ada yang mengatakan tandanya Sang Raja, Anak Daud akan berperang, Israel akan dipulihkan dan lain-lain. Di tengah kebingungan ini mereka minta Yesus menjawab kira-kira teori mana yang benar. Maka Yesus menjelaskan dengan cara yang berbeda dengan pengertian Yahudi, tapi masih ada hal-hal yang cocok atau menyentuh kepercayaan dari orang Yahudi. Maka Yesus mengatakan Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Di dalam Alkitab, Kerajaan Allah itu datang kalau Sang Raja datang. Jadi ini maksudnya akhir zaman. Akhir zaman adalah periode dimana Sang Raja memerintah. Bagi Israel ada beberapa periode, pertama Israel di Mesir. Yang kedua adalah Israel di padang gurun. Ketiga, Israel di zaman hakim-hakim. Keempat, Israel dibawah pemerintahan Saul dan Daud, yang paling tinggi. Kelima, runtuhnya kerajaan itu, yaitu anak-anak Daud tidak setia. Yang keenam adalah pemulihan kerajaan itu. Ada yang usahakan supaya ketujuh adalah kembalinya Sang Raja, supaya pas tujuh. Jadi mereka percaya bahwa tahap terakhir akhir zaman adalah ketika Sang Raja datang. Sehingga akhir zaman itu tidak ada kaitan dengan sedikitnya waktu menuju kiamat. Maka jangan sampai orang mengatakan akhir zaman itu adalah titik dimana sudah mau kiamat, karena akhir zaman adalah Sang Raja datang. Jadi begitu Sang Raja itu datang, itulah akhir zaman. Sama seperti ketika Saudara ditanya kapan pemerintahan Jokowi dimulai? Ketika dia menjadi presiden. Kapan akhir zaman dimulai? Ketika Raja itu datang. Maka kalau Raja itu datang, akhir zaman pun tiba. Inilah yang menjadi pengertian yang sama dari seluruh orang Yahudi. Semua orang Yahudi percaya bahwa akhir zaman dimulai dengan kedatangan Sang Raja. Kalau Sang Raja datang pasti heboh, megah, Dia akan datang dengan segala kemuliaan, Dia datang dengan tentaraNya, dengan pasukan malaikat dan lain-lain. Menurut orang Yahudi ketika Sang Raja itu datang akan ada orang-orang kudus ikut menyertai kedatanganNya, itu pengertian mereka. Ketika orang Yahudi mempunyai konsep eskatologi, akhir zaman yang menjadi penanda akhir zaman adalah Raja itu datang. Siapa Rajanya? Mesias, dan Dia akan datang dari sorga. Karena Mazmur 2 mengatakan Raja itu dilantik di gunung Tuhan di sorga. Dan Dia akan datang disertai orang-orang kudusNya. Orang-orang kudusNya akan ikut dan menghakimi bumi bersama-sama Raja ini. Inilah konsep yang mereka pahami, Raja datang dan orang-orang kudus menyertai. Inilah yang Paulus jelaskan di 1 Tesalonika 4, yang mengatakan pada waktu tanda dibunyikan sangkakala Allah berbunyi dan suara penghulu malaikat dinyatakan, maka Anak Manusia akan turun. Yesus akan turun dari sorga. Dan kita yang masih tinggal pada hari itu, tidak akan mendahului mereka yang sudah meninggal. Tapi pada waktu tanda diberi, pada waktu malaikat berseru, maka mereka yang mati di dalam Yesus akan dibangkitkan Allah. Lalu kita yang masih hidup, yang masih tinggal, akan diubahkan dan diangkat dengan mereka berjumpa Tuhan di angkasa. Dengan demikian kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan. Orang salah menafsirkan ini sebagai pengangkatan. Pengangkatan itu tidak ada dasar alkitabnya. Di 1 Tesalonika 4 dikatakan kita akan diangkat, itu benar, karena Paulus mempunyai konsep yang dibangun dari Perjanjian Lama yaitu ketika Tuhan datang mau menghakimi, Dia akan menghakimi bersama orang kudusNya. Datangnya Tuhan menjadi Raja di bumi adalah kedatangan disertai orang kudusNya. Maka orang kudusNya harus naik dulu supaya bisa turun bersama-sama Dia. Jadi maksud 1 Tesalonika 4, orang-orang di dalam Tuhan diangkat oleh Tuhan, berjumpa Tuhan di angkasa, berjumpa di angkasa karena Tuhan dalam perjalanan turun. Dan kita berjumpa Tuhan di angkasa supaya kita turun bersama-sama dengan Dia. Maka Surat Yudas mengatakan Henokh bernubut “lihat, Tuhan turun bersama-sama orang kudusNya”, itu maksudnya. Yesus turun bersama orang-orang kudusNya. Kita naik dulu untuk make our entrance, menyatakan kehadiran Tuhan bersama-sama dengan kitadan datang ke bumi untuk menghakimi. Jadi dalam pengertian orang Yahudi, Raja itu akan datang dan memerintah. Yang datang itu Sang Raja, bukan Elia, bukan Musa, bukan siapa pun, mereka hanya pendahulu sebelum Raja itu datang.
Maka waktu Yesus hadir di bumi, Dia mengklaim diriNya sebagai Sang Raja. Dan orang Yahudi bertanya “kalau benar Engkau Raja, tanda apa yang membuktikan kamu itu benar-benar sudah datang? Karena kalau Raja itu datang pasti heboh, tapi Engkau datang dan tenang-tenang saja. Tidak ada yang melihat Engkau datang dari sorga, tidak ada yang melihat orang-orang kudus menyertai Engkau, tidak ada yang melihat tanda-tanda apa pun dari langit ketika Engkau datang”. Maka Yesus mengatakan Kerajaan Tuhan datang dalam 2 cara. Ini adalah hal yang unik, di dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa kedatangan Tuhan itu selalu ada 2 aspek. Aspek pertama adalah mulia, karena waktu Tuhan datang kembali pada akhir zaman, Dia akan memberikan penghakiman bagi bumi. Tapi ada aspek kedua yang orang tidak sadar, yaitu ketika Tuhan datang, Dia akan menyatakan kerendahan diri, kerendahan diri dan kerelaan berkorban. Dan tanpa disadari periode ini ternyata sangat panjang. Itulah yang Perjanjian Lama bahas dengan ringkas dan orang Yahudi gagal memahami, sehingga mereka tahunya kalau Raja itu datang, Kerajaan Tuhan akan hadir, kerajaan yang palsu akan dihancurkan dan Tuhan akan angkat murid-muridNya, Israel menjadi satu-satunya kerajaan dan seluruh kerajaan bumi ditaklukan, itu yang mereka pikir. Tapi mereka tidak tahu bahwa kedatangan yang pertama harus ada dulu, baru menyusul kedatangan kedua. Mengapa kedatangan pertama perlu? Karena kedatangan pertama membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain dan bagi pertobatan serta pengampunan supaya Kerajaan Tuhan menyebar di bumi dulu. Sebelum Yesus datang, Kerajaan Allah terdiri dari sorga dan bumi, Tuhan adalah Raja di sorga dan di bumi, tetapi Kerajaan Allah secara real hanya mungkin terjadi di Israel. Apakah Tuhan Raja atas Babel? Iya. Tuhan Raja atas Mesir? Iya. Tuhan berkuasa atas Siria? Iya. Tuhan berkuasa atas Asyur? Iya. Mengapa Kerajaan Tuhan tidak secara real dinyatakan disitu? Karena Tuhan belum buka, hanya nyatakannya di Israel. Sehingga Kerajaan Allah secara fakta adalah seluruh bumi, tapi secara real sehari-hari hanya Israel yang mungkin menunjukan inilah kerajaan. Tapi ketika Sang Anak Daud datang, Dia membuat bukan hanya Israel tapi seluruh bangsa menjadi tempat dimana Kerajaan Tuhan dinyatakan sehari-hari. Itu sebabnya Kerajaan Tuhan datang di dalam dua mode ini. Mode pertama, Kerajaan Tuhan datang dengan sangat sederhana, dengan sangat diam-diam, sangat tidak kelihatan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi bagian dari Kerajaan Tuhan. Baru kerajaan itu akan dinyatakan dalam bentuk penghakiman. Jadi kedatangan pertama adalah undangan untuk berbagian di dalam kerajaan, kedatangan kedua adalah penghakiman untuk mengusir yang tidak mau berbagian. Ini sebenarnya yang terjadi, pengertian yang utuh. Maka orang Yahudi mesti dibukakan tentang pengertian ini. Dan Yesus mengatakan kedatangan yang pertama adalah kedatangan yang tidak kelihatan. Maka ayat 21 dikatakan orang tidak dapat mengatakan “lihat, Dia ada di sini” atau “lihat, Dia ada di sana”. Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu, sudah datang. Tapi kamu tidak sadar. Ini kalimat yang sangat kuat sekali, “kamu sadar tidak yang kamu harapkan sudah ada di tengah kamu?”, “saya menantikan kerajaan itu dipulihkan”, “sudah, Rajanya sudah ada di tengah kamu. Tapi kamu tolak, kamu tidak lihat tanda-tanda. Kamu menuntut tanda-tanda yang lain, tapi itu tidak diberikan kepadamu”. Maka ketika Kerajaan Tuhan itu datang, orang salah mengerti, orang tidak tahu kerajaan itu sudah dibawa di tengah-tengah mereka. Yesus terus ada di tengah orang-orang ini dan mereka tidak tahu. Mereka minta tanda, Yesus mengatakan “tanda apa? Aku sudah datang”, “mana tandanya? Semuanya salah kalau tidak cocok dengan saya”. Yesus sudah hadir dan tanda kerajaan itu tetap tidak dipahami, maka Yesus mengatakan “tanda kerajaan itu tidak kelihatan, kamu tidak bisa lihat karena kamu tidak bisa melihat kerendahan hati, pengosongan diri dan pengorbanan yang dikerjakan oleh-Ku”. Kerajaan Allah datang bukan untuk menghakimi dulu tapi untuk menarik orang datang kembali ke dalam Kerajaan Tuhan. Bagaimana cara menarik orangnya? Dengan Yesus hadir mengosongkan diri. Maka kerajaan ini menyebar juga dengan usaha mengosongkan diri, bukan dengan merebut tapi dengan memberi, bukan dengan meninggikan diri tapi dengan mengosongkan diri, bukan dengan menghantam orang tapi mengundang orang dengan resiko diri dihantam. Prinsip ini berat sekali, tapi itu yang Yesus kerjakan. Maka orang tidak melihat kalau ini adalah prinsip kerajaan itu. Waktu Yesus datang, Dia menyatakan cara kerajaan yang beda dengan cara lain, dan inilah yang Dia bawa. Maka Dia datang pertama kali untuk disalib. Dia lebih besar dari siapa pun karena kedatanganNya untuk menyatakan begitu besar cinta Tuhan, maka untuk kerajaanNya disebarkan, Dia harus jadi korban dulu. Prinsip mencintai bukan membenci, prinsip mengampuni bukan mendendam, prinsip memberi diri bukan menuntut orang lain. Ini yang harus disebarkan dan ini yang akan disebarkan melalui Kekristenan. Waktu Kekristenan menyebar di akhir zaman, Yesus menjadi teladannya. Bagaimana menyebarkan kerajaan ini? Tanya pada Yesus. Apa yang Yesus kerjakan? Lihat cara Dia hidup. Bagaimana lihat Dia hidup? Lihat Injil, Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan prinsip-prinsip yang dikerjakan oleh para rasul, inilah cara untuk kita memahami bagaimana kita harus hidup. Waktu kerajaan itu datang, pertama-tama memberi contoh bagaimana caranya memanusiakan sesama manusia, bagaimana caranya mengagungkan nama Tuhan dengan menjalani kehidupan seperti Kristus sudah hidup. Waktu kerajaan itu disebarkan, orang tidak sadar karena prinsipnya beda dengan prinsip yang dipahami. “Tuhan, kapan Engkau datang? Kami ingin kerajaan-kerajaan besar dihancurkan”, Tuhan mengatakan “tunggu, Aku mau undang kerajaan-kerajaan kafir itu untuk menjadi milikKu”. Inilah saat akhir zaman tiba ada undangan bagi bangsa-bangsa lain, undangan bagi orang yang belum percaya, undangan bagi orang yang tidak kenal Tuhan untuk kembali kepada Tuhan. Undangan seperti ini selalu indah, agung, tapi terlalu sering kali diremehkan. Yesus adalah Pribadi yang paling banyak diremehkan karena Dia pernah disalib. Orang terus mengatakan “orang Krsiten itu bodoh mau menyembah orang yang mati dipaku di kayu, kamu pikir Dia Allah, kalau Dia Allah, mengapa Dia mati di atas kayu salib”, terus dihina. Orang tidak mengerti bahwa penghinaan itu diberikan kepada orang yang rela mati bagi dia yang menghina.
Aspek kedua, ayat 22 dikatakan “Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya” yaitu kedatangan yang kedua. Hati-hati, kedatangan yang kedua ini adalah sesuatu yang sangat jelas. Pertama, kedatangan pertama sangat tenang, sangat pelan, sangat sembunyi tapi mempengaruhi dunia. Kedatangan kedua, tidak lagi sembunyi, seperti petir yang memenuhi langit, memancar dari ujung langit yang satu ke yang lain, demikian ketika Anak Manusia datang kedua kalinya. Maka Yesus berbicara sekarang dengan pesan mengenai kedatangan keduaNya. Dan Dia mengatakan kedatangan kedua tidak mungkin tidak disadari, Ayat 24 “Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya”. Maka Tuhan berikan peringatan Dia akan datang kedua kali. Ketika Dia datang kedua kalinya, Dia akan menghakimi. Tapi sebelum Dia datang, ada peringatan yaitu peringatan Nuh dan peringatan zaman Lot. Dikatakan di ayat 26 “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia”. Di dalam Kitab Suci, Nuh membangun bahtera. Di dalam Perjanjian Baru, di Petrus, dikatakan bahwa Nuh adalah pemberita kebenaran itu. Jadi Nuh berkotbah, sambil membuat bahtera, sambil berkotbah. Tapi apakah mereka mendengarkan? Tidak, Alkitab mengatakan mereka makan minum, kawin-mengawinkan dan lain-lain”, mereka tidak peduli, mereka menganggap remeh firman. Maka Yesus memberikan peringatan jangan seperti orang pada zaman Nuh, mereka dengar kotbah tapi tidak mau percaya, tidak ada perubahan hidup, jangan seperti itu. Karena ketika Tuhan marah, tidak ada yang bisa tenteramkan hatiNya lagi. Karena yang paling mungkin untuk tenteramkan hatiNya sudah diberikan yaitu Sang Anak sudah mati di atas kayu salib bagimu. Kalau itu pun tidak mengubah engkau, tidak ada harapan lagi.
Dan Yesus mengingatkan ayat 34-35.Ini bukan soal pengangkatan. Ini berbicara tentang orang yang diterima di dalam Kerajaan Tuhan, itu akan diterima tetapi yang ditinggal akan ditinggal meskipun mereka begitu dekat. Di ayat 34 dikatakan ada dua orang tidur di satu tempat tidur, ini pasti suami istri, yang seorang akan Tuhan ijinkan masuk kerajaanNya, yang seorang akan ditinggalkan, karena yang satu mengikuti Tuhan sedangkan yang satu tidak. Maka disini dikatakan bahwa relasi antar manusia yang dekat tidak bisa menolong lagi. Ada orang-orang yang bekerja di pengilangan, yang satu akan dibawa yang lain akan ditinggalkan. Ada orang-orang di ladang, yang satu akan dibawa, yang lain ditinggalkan. Yang boleh masuk ke dalam Kerajaan Tuhan, tidak tentu masuk bersama-sama orang dekatnya. Sehingga ini menjadi peringatan yang sangat besar dari Tuhan Yesus, hati-hati dengan hidupmu, hati-hati dengan imanmu, hati-hati dengan cara hidupmu. Biarlah Kerajaan Tuhan dinyatakan dengan cara hidupmu. Lalu murid-murid tanya, ini menjadi suati chiastic yang indah, di awal orang-orang tanya, di akhir murid-murid yang bertanya. Murid-murid bertanya “dimana, Tuhan?”, kalau sebelumnya bertanya “kapan, bagaimana?”, maka yang terakhir, “dimana tempatnya, Tuhan?”. Ada yang mengatakan di Yerusalem, ada yang mengatakan di tempat lain, yang mana tempatnya? Tapi Tuhan Yesus cuma mengatakan “dimana ada mayat, disitu berkerumun burung nasar”. Ada seorang penafsir mengatakan tanda penghakiman adalah sesuatu yang sangat jelek, tidak pakai tanda yang bagus. Tapi engkau akan sadar, ada mayat ada burung nasar, ini gambaran penghakiman yang mengerikan, ini gambaran kematian. Dan Yesus mengatakan penghakiman Tuhan akan terjadi dan kamu tidak akan gagal melihatnya. Tapi waktu engkau lihat, pada waktu itu sudah terlambat untuk menghindar dari penghakiman itu. Hari ini kita belajar peringatan yang sangat ketat mengenai hidup. Biarlah kita tidak menjadi orang-orang pada zaman Nuh yang terus mengabaikan firman. Biarlah hari ini menjadi hari dimana kita bertobat kembali kepada Tuhan, menginginkan kerajaan lebih dari apa pun, menginginkan hidup bagi Tuhan lebih dari apa pun.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 4 Jul 2017
Penerimaan dan Kenyamanan dalam Tuhan
(Lukas 17: 11-19)
Di ayat 11 dikatakan di dalam perjalananNya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ini adalah hal yang penting, Lukas memberikan penjelasan bahwa kesepuluh orang yang sakit kusta ini bertemu dengan Tuhan Yesus, terjadi di perbatasan Galilea dan Samaria. Pada zaman Yesus, Israel terbagi menjadi 3, daerah Galilea yang sangat terpengaruh oleh budaya Helenistik, dan ditengah adalah Samaria yang sangat dipengaruhi (menurut orang Yahudi) oleh penyembahan berhala, lalu di daerah selatan itu daerah Yudea, inilah tempat para imam, tempat penyembahan kepada Tuhan yang dengan ketat dilakukan, inilah tempat yang ada bait suci, dan inilah tempat yang sangat Yahudi. Jadi Galilea dianggap sekuler, Samaria dianggap sangat kafir, dan Yudea adalah tempat yang paling suci. Dan di dalam pertemuan ini, Yesus bertemu dengan orang-orang sakit kusta ini di perbatasan Samaria dan Galilea, berarti agak ke utara. Orang kusta adalah orang-orang yang dikeluarkan dari komunitas, dan di dalam perikop kita, mereka bertemu dengan Tuhan Yesus di perbatasan Samaria dan Galilea. Nanti Saudara akan mengerti pentingnya ini ketika Tuhan Yesus mengatakan “perlihatkanlah dirimu kepada imam”. Imam-imam ada di Yudea, berarti mereka harus menyeberangi Samaria untuk bertemu dengan para imam, ini bukan perjalanan dekat, ini perjalanan jauh. Dan satu dari mereka kembali melalui perjalanan yang jauh untuk bertemu dengan Yesus. Ini adalah mujizat yang Yesus kerjakan, menyembuhkan orang kusta ketika mereka sedang dalam perjalanan.
Di dalam ayat ke-13, mereka berteriak “Yesus, Master, kasihanilah kami”. Kita kekurangan kata yang tepat untuk menggambarkan istilah yang dipakai orang kusta ini, tetapi di dalam kebiasaan Lukas memakai kata Master itu mengaitkan Yesus dengan pemimpin zaman dulu yang dianggap mempunyai kekuatan sihir. Jadi bukan hanya pemimpin politik tapi juga pemimpin yang mempunyai kekuatan magic. Sehingga ketika mereka mengatakan “Yesus, Master”, yang mereka harap adalah Yesus melakukan suatu tindakan yang supranatural untuk menyembuhkan mereka. Jadi mereka tidak sekedar mengatakan “Guru”, tapi mereka memberikan title yang tinggi kepada Yesus sebagai divine healer, sehingga mereka berharap Tuhan yang punya kuasa kesembuhan ilahi mau sembuhkan penyakit kusta mereka. Orang kusta menderita bukan karena penyakit, meskipun penyakit itu memberikan penderitaan kepada mereka, tapi mereka sangat menderita karena mereka dikeluarkan dari masyarakat. Mereka adalah kelompok yang disingkirkan. Di dalam Imamat 13 diadakan peraturan kalau kamu punya tanda aneh di kulit dan makin membesar, bawa dirimu ke imam, tunjukan lukamu supaya imam dapat menentukan apakah ini kusta atau bukan. Pada zaman dulu yang dimaksud kusta bukan hanya satu jenis penyakit tapi berbagai macam penyakit kulit yang dianggap bahaya, itu akan disebut kusta. Orang-orang ini menunjukan diri kepada imam dan imam akan putuskan apakah ini kusta atau bukan. Kalau ini kusta, imam akan menyatakan mereka sebagai orang yang terusir. Mereka tidak boleh tinggal di perkemahan atau di desa atau di kota. Mereka harus tinggal di tempat yang tidak ditinggali manusia. Mereka harus ada di luar kota atau desa. Mereka tidak boleh bergabung dengan masyarakat. Dan kalau pun mereka berpapasan dengan orang yang sedang berjalan, mereka harus tutup wajah mereka dengan tudung dan harus mengangkat tongkat mereka, dan mereka teriak “najis, najis”, maksudnya adalah “saya orang kusta, jangan dekat-dekat. Karena kusta adalah penyakit yang mudah mengular dan mereka harus mengindarkan diri dari bertemu orang. jadi Saudara bisa membayangkan betapa menderitanya orang yang kena kusta, mereka harus tinggal di luar perkemahan, harus tinggal di luar komunitas, mereka menjadi orang yang tersendiri. Mungkin Saudara mengatakan “kok ada peraturan seperti itu di Imamat?”, saya harus mengingatkan Saudara untuk membaca Kitab Suci berdasarkan konteks dan di dalam zamannya Kitab Imamat tidak ada kerajaan atau bangsa atau apa pun yang tidak ada peraturan sejenis. Dan di dalam Imamat banyak hal lain yang dijadikan sebagai simbol. Orang yang sedang datang bulan dianggap najis. Sekali lagi, bukan diamenjadi najis, tapi dia menjadi simbol dari pernyataan Tuhan tentang apa itu dosa dan kenajisan dan lain-lain. Maka orang sakit kusta dikeluarkan dari masyarakat, ini menjadi simbol orang berdosa sebenarnya adalah orang yang disingkirkan dari masyarakat, sehingga dia mengalami keterasingan, alienasi. Kita sedang terasing karena tidak ada relasi, kita sedang terasing karena tidak ada orang di sekeliling kita yang kita anggap sebagai teman untuk kita membentuk komunitas dan inilah yang dilakukan dosa, dosa memisahkan kita dari komunitas. Dan inilah yang dialami oleh 10 orang kusta itu. Maka mereka dengan keputus-asaan, bertahun-tahun tidak bertemu istri, bertahun-tahun tidak bertemu anak, bertahun-tahun tidak bertemu keluarga, bertahun-tahun tidak punya komunitas, bertahun-tahun tidak boleh masuk kampung. Saat ini bertemu Yesus, sumber harapan mereka. Mereka dengan berani tapi juga dengan tahu diri, mereka menjauh. Mereka berteriak kepada Yesus yang sedang masuk ke kota, di dalam ayat 12 dikatakan ketika Ia memasuki suatu desa. Lebih tepat diterjemahkan ketika Ia akan memasuki desa, berarti Dia belum masuk. Dan orang-orang itu tidak boleh masuk desa, lalu mereka teriak “Guru, Master, Divine healer, Pemimpin yang punya mujizat, tolonglah kami, kasihani kami”. Ayat 14, Yesus mengatakan kepada mereka dan berkata “pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”. Dari tengah harus ke selatan, mereka harus berjalan menyeberangi Tanah Samaria untuk ke Yudea, bertemu para imam. Karena sejarah abad pertama mengatakan bahwa tidak ada imam pada zaman Tuhan Yesus, abad ke-1, yang ada di Galilea. Tidak ada imam yang diakui di Samaria, semua imam ada di Yudea. Apakah imam tidak boleh berjalan ke Galilea? Tentu boleh, tapi dia hanya melakukan upacara ke-Yahudi-an di Yerusalem dan di Yudea. Berarti waktu Yesus mengatakan “tunjukanlah dirimu kepada imam” Tuhan menuntut mereka berjalan melalui Samaria untuk pergi ke Yudea. Ini bukan perintah yang mudah. Jadi Tuhan tidak memerintahkan mereka ke daerah yang dekat, Tuhan menyuruh mereka berjalan melintasi Samaria untuk pergi ke Yudea, karena di dalam Imamat 14 dikatakan kalau orang kusta sudah sembuh, tunjukan diri ke imam, berikan persembahan yang dituntut oleh Taurat, setelah itu dia boleh kembali ke kampungnya, ini yang Yesus janjikan. Mereka boleh punya komunitas lagi, mereka bisa nyaman di dalam komunitas mereka. Lalu mereka dalam perjalanan, sedang dalam perjalanan, mereka sembuh. Meskipun tidak dikatakan kapan mereka sembuh, tapi saya percaya mereka sudah ada di jalan yang agak jauh, di tengah perjalanan. Orang Yahudi tidak punya kebiasaan mengatakan di tengah perjalanan, kecuali Saudara sudah sampai lebih dari separuh perjalanan. Kalau di awal akan dikatakan “dia akan memulai perjalanannya”, mereka sangat suka berjalan. Dan Saudara juga tahu dalam peraturan Taurat kalau ada orang tanya jalan, orang yang ditanya jalan mesti menemani sepanjang 1 mil. Sambil jalan, sambil ngobrol, ini satu persekutuan yang baik antara orang nyasar dan orang lokal. Ini persekutuan baik yang Tuhan mau bina, orang asing dan penduduk lokal itu langsung klop. Lalu bagaimana seharusnya orang asing dan lokal bersekutu, ada peraturan di Taurat, jalanlah bersama orang asing itu sejauh 1 mil. Mengapa harus jalan? Karena jalan berarti bersekutu dengan dia, tidak mungkin jalan diam-diaman. Mereka langsung akrab. Jadi ada fellowship antara orang asing dan orang lokal. Bayangkan Tuhan sudak memikirkan sampai sejauh ini sehingga tidak ada kaum yang dianggap pendatang yang disingkirkan oleh Israel. Semua boleh berbagian di dalam Kerajaan Israel yang menyatakan berkat Tuhan. Maka ini yang Tuhan mau lakukan.
Berarti orang Israel punya kebiasaan untuk melihat perjalanan yang jauh, baru kita mengatakan sedang dalam perjalanan. Jadi orang ini tidak jalan baru beberapa langkah langsung sembuh. Perjalanan ini sudah mereka tempuh lumayan jauh. Setelah mereka sudah tempuh jalan lumayan jauh, baru sadar mereka sembuh. Maka ketika mereka dalam perjalanan, lalu mereka saling melihat, ternyata mereka sudah sembuh. Langsung ada perasaan sukacita yang besar, “sekarang keterasingan kita berhenti, sekarang kita utuh kembali, sekarang kita sudah sembuh”. Memang wajar kalau orang-orang itu segera menaati Yesus, cepat-cepat cari imam supaya bereskan upacara penerimaan mereka kembali dan mereka bisa pulang ke daerah mereka. Dan ketika mereka sampai ke daerah mereka, akhirnya mereka bisa peluk anak mereka lagi, bisa bertemu suami atau istri, “lihat, aku sudah sembuh, maka dia sudah bisa memeluk anaknya, bisa kembali bertemu istrinya, bisa kembali diterima kampungnya. Ini sukacita besar sekali. Maka semua tidak ada yang ingat Tuhan, tapi ada satu orang Samaria yang ingat Tuhan. Satu orang ini setelah dia sadar kalau sembuh, dia kembali ke jalan tempat tadinya dia pergi, untuk cari Tuhan Yesus. Dia berjalan sangat jauh untuk dia mencari Yesus ada dimana, harus bertemu Yesus lagi. Yesus yang utama bagi dia, karena ini adalah Sang Master yang sudah sembuhkan dia, dia mesti bertemu Tuhan lagi. Alkitab bagian ini mengingatkan kita bahwa keterasingan orang kusta adalah pertama-tama keterasingan dari Tuhan, bukan hanya dari komunitas. Orang berdosa sedang terasing dari Tuhan, orang berdosa sedang tidak punya Tuhan. Dan kebutuhan paling penting yang mereka perlu adalah diterima kembali oleh Tuhan. Martin Luther menyadari ini ketika dia menggumulkan teologinya, dia mengatakan apa maksudnya upacara penebusan dosa, apa pentingnya saya mengaku dosa dan menjalankan hal yang dituntut gereja untuk dosa saya diampuni. Mengapa harus lakukan itu? karena dia ingin diterima Tuhan. Diterima Tuhan itu sangat penting bagi Luther, maka dia bergumul. Dan ada saat dimana dia mengatakan teologi tidak menjawab apa pun karena “teologi yang saya pelajari membuat Tuhan menjadi pribadi yang sangat tidak ingin saya temui. Kalau Dia hanya tahu murka dan kalau saya sudah penuhi keinginan Dia, baru Dia berhenti murka, maka saya tidak suka dengan Tuhan yang seperti ini, saya tidak mau diterima Tuhan seperti ini”, ini jadi pergumulan dia. “Tapi kalau Tuhan tidak ada, atau Tuhan hanya seperti ini maka jiwa saya habis, karena saya perlu diterima Tuhan. Tapi tuhan yang saya kenal dari teori yang saya dapat, itu bukan tuhan yang ingin saya temui”. Luther menyadari perlunya rekonsiliasi dengan Tuhan, semua orang perlu Tuhan. Tapi setan menawarkan alternatif supaya Saudara tidak merasa kosong. Salah satunya adalah relasi palsu. Berteman dengan teman yang tidak kenal Tuhan, yang hanya tahu hura-hura, Saudara akan merasa nyaman. Atau kedua, Saudara didorong atau dipikat dengan relasi yang tidak boleh tapi menyenangkan. Ini yang sering terjadi, berapa banyak keluarga yang akhirnya hancur karena relasi seperti ini. Laki-laki tidak lagi mengagumi istrinya, mulai mengagumi perempuan lagi. Perempuan tidak lagi cinta suaminya dan komit pada suaminya, dan mulai kagum kepada laki-laki lain. Pikatan adanya kenyamanan yang tidak boleh, ini pikatan palsu. Berapa banyak anak-anak harus hancur hidupnya karena papa mamanya tidak mengerti apa itu perjanjian, ini menyedihkan sekali. Maka waktu orang kusta, orang Samaria ini, sadar dia sudah sembuh, meskipun dia sangat ingin bertemu keluarganya, sangat ingin bertemu komunitas lamanya, pertama-tama dia harus cari Tuhan. Cari Tuhan itu pertama, cari Yesus dulu baru cari yang lain, cari Yesus dulu baru cari tempat yang Saudara nyaman sebagai rumah, cari Yesus lebih dari yang lain. Karena kalau kita tidak cari Yesus, kita tidak akan mendapatkan damai sejahtera itu. Bayangkan yang dilakukan oleh orang Samaria yang sudah sembuh ini, dia cari Yesus, dia jalan balik, dimana Yesus? “saya tidak tahu, saya harus cari Dia”. Bukankah Yesus dan rombongannya sudah pindah? Dia pergi kemana, kamu tidak tahu, “saya tidak peduli, saya harus temukan Dia lebih dulu”. Tapi bagaimana cara menemukanNya? Jalan. Bagaimaan kalau tidak dapat? Cari terus sampai dapat. Bagaimana kalau sulit ditempuh? Pokoknya saya harus bertemu Yesus. Bertemu Yesus dulu baru menikmati keluarga, bertemu Yesus dulu baru bertemu komunitas dimana di dalamnya saya merasa nyaman. Yesus dulu baru yang lain. Ini yang ditunjukan orang itu. Lalu dia mencari dan akhirnya bertemu Yesus.
Dengan memuji Tuhan dia sujud di hadapan Yesus dan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus mengatakan di dalam ayat 17 “bukankah kesepuluh orang itu tadi semuanya telah menjadi tahir, dimanakah yang kesembilan orang itu?”. Yesus tidak mengatakan kepada orang Samaria ini, “hebat kamu, kamu cari Aku sampai sejauh ini”, lalu Yesus senang sekali ada orang seperti ini, Dia kumpulkan seluruh jemaat, KKR mendadak, “sebelum kotbah akan ada kesaksian, Aku akan panggil orang kusta Samaria yang sudah sembuh”, lalu diwawancara oleh Yesus. Tidak, Yesus mengatakan “yang kamu lakukan ini normal, yang lain yang kurang normal. Kamu datang mencari Aku, itu biasa, memang seharusnya seperti itu. Yang lain mana?”. Orang pikir orang Samaria ini harus dimahkotai, tapi Yesus mengatakan orang ini biasa, yang lain yang tidak biasa. Satu kali Pak Stephen Tong ngobrol, ada majelis, ada Pak Tim dan lain-lain, lalu satu orang majelis di Pusat bertanya “Pak Tong capek ya? Baru datang dari luar negeri, tiap hari harus keliling kotbah dan lain-lain”, Pak Tong menjawab “tidak capek, biasa saja”, “Pak Tong jadwalnya padat sekali, tidak seperti kami”, langsung Pak Tong mengatakan “saya biasa, kamu yang kurang biasa. Saya standar, kamu yang dibawah standar, harusnya semuanya seperti saya”. Jadi dia tidak mengatakan dirinya luar biasa, dia bilang “kamu yang kurang biasa, saya biasa saja”. Maka ketika Saudara melayani Tuhan dengan giat, sudah cari Tuhan sedemikian hebatnya, jangan pikir diri luar biasa, diri biasa saja, yang lain yang kurang biasa. Kalau Saudara giat kerja bagi Tuhan, pontang-panting melayani Tuhan, lalu orang bilang “luar biasa ya orang GRII, kerjanya pontang-panting”, jangan pernah sombong apalagi berbangga. Kerja seperti itu biasa, banting tulang bagi Tuhan itu biasa. Yang tidak banting tulang itu yang something wrong.
Dan disinilah akar dari keterasingan, Saudara tidak akan terasing kalau giat mencari Tuhan. Tapi kalau Saduara diselewengkan oleh Tuhan, lebih suka cari kenyamanan di dalam komunitas yang tidak kenal Tuhan, lebih suka cari kenyamanan di dalam selingkuhan, lebih suka mencari kenyamanan di dalam kelompok yang anti Tuhan, maka Saudara akan mendapat kenyamanan, mendapat perasaan tidak asing, tapi semua itu palsu. Itu hanya akan memperburuk Saudara, keluarga, lingkungan, dan akan menjatuhkan mereka ke dalam kecelakaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Luther mengatakan pertobatan itu ada 2 inner dan outward. Inner berarti saya rasa saya berdosa, outward-nya adalah tindakan saya berubah. Maka meskipun dia menangis, saya mengatakan saya tidak peduli meskipun dia menangis, sampai dia berubah baru saya rasa ada harapan. Ini yang terjadi, kenyamanan palsu merusak diri dan merusak orang. Maka jangan cari kenyamanan palsu. Orang kusta ini cari yang benar, dia cari Tuhan dulu baru nanti dia dipulihkan komunitasnya. Maka Tuhan mengatakan “berdirilah, pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau. Sekarang engkau menjadi milik komunitas Tuhan”. Biarlah kita seperti orang Samaria yang kusta ini, menjadi outcast, pinggiran yang tidak berguna. Dan pemulihan hanya akan terjadi kalau kita kembali ke Tuhan. Waktu keluarga kembali kepada Tuhan, keluarga ini menjadi tempat yang kita merasa nyaman di dalamnya. Ketika komunitas itu milik Tuhan, maka kita akan menjadi orang yang nyaman di dalamnya dan menjadi bagian komunitas yang indah. Di luar ini semua, Saudara akan masuk ke dalam keterasingan yang semakin membuat Saudara mencari tapi tidak menemukan, bergumul tapi tidak ada jawaban, kehausan tapi tidak ada air dan kerinduan yang tidak terpuaskan menjadikan Saudara makin rendah, makin habis dan makin putus asa. Kiranya Tuhan membawa kita kepada Dia dan menemukan damai sejahtera sejati di dalam Dia.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)