- Khotbah
- 13 Dec 2017
Seri Mengapa Allah Menjadi Manusia(1): Allah mau berdiam bersama ciptaan-Nya
(Yohanes 1: 1-18)
Mengapa Allah harus menjadi manusia? Banyak hal yang dijelaskan di dalam Alkitab, di mana salah satu yang penting adalah Dia datang untuk menebus dosa Saudara dan saya. Tapi saya ingin membahas dari sudut pandang yang lain yaitu mengapa Allah menjadi manusia di dalam sorotan Alkitab yang tidak terlalu banyak dibahas. Yang pertama saya ingin membahas dari Yohanes, meskipun mungkin Saudara sering membaca dari Injil Yohanes, tapi saya ingin membahas dari sudut pandang yang penting, yang mungkin luput dari perhatian kita sewaktu kita mengingat berita Natal. Dalam Yohanes 1 ini ada pengertian yang penting yang harus kita pahami yaitu Yesus datang ke dalam dunia untuk menggenapi apa yang Dia sudah rencanakan di Taman Eden, di dalam penciptaan. Kedatangan Yesus adalah penggenapan sempurna dari apa yang Tuhan kerjakan di dalam penciptaan. Umumnya teologi membagi antara Allah Pencipta di satu sisi, lalu Allah Penebus di sisi lain. Allah itu siapa? Dia adalah Allah yang mencipta segala sesuatu. Lalu setelah Dia selesai mencipta, Dia menebus manusia yang jatuh dalam dosa. Ini pengertian klasik yang dimiliki oleh banyak teolog, termasuk teolog reformed. Tetapi beberapa teolog reformed dengan kritis melihat hal ini, dengan kritis mereka membaca pengertian ini melihat ada sesuatu yang kurang. Yang kurang adalah Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa karya Allah mencipta sudah selesai di dalam Kejadian 1. Allah belum selesai mencipta sampai genap, Allah belum selesai menggenapi proyek penciptaan yang Dia rancang di dalam pikiranNya sebelum dunia ada. Itu sebabnya banyak teolog sekarang yang lebih percaya bahwa Allah adalah Allah yang mencipta di dalam Kitab Kejadian, lalu terus menyempurnakan ciptaanNya sampai pada titik kesempurnaan yaitu titik yang dibahas oleh Kitab Wahyu. Seluruhnya membahas tentang penciptaan dimana penebusan ada di dalamnya. Penebusan bukanlah karya Allah yang Allah kerjakan setelah penciptaan, tapi penebusan adalah karya Allah menjalankan rencana penciptaanNya yang sampai sekarang belum tuntas. Tuhan belum selesai mencipta langit dan bumi, Tuhan belum selesai mencipta semua, Tuhan belum selesai mencipta kita semua. Itu sebabnya Calvin mengatakan kita ini ciptaan baru tapi kita belum selesai dicipta. Bumi ini belum selesai dicipta karena manusia yang harus menjadi kepala mewakili Allah, menjadi gambar Allah, dia sendiri belum masuk ke dalam kesempurnaan. Maka Paulus mengatakan di dalam Surat Roma, dulu ada Adam, yang nanti membawa ciptaan menuju kesempurnaan adalah Adam yang terakhir. Di dalam Roma 8, Paulu mengatakan ciptaan ini sedang mengeluh seperti rasa sakit bersalin. Mengapa ciptaan disebut sakit bersalin? Karena ciptaan pun mengeluh oleh karena beratnya tekanan hidup di tengah-tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Seluruh ciptaan mengeluh, alam mengeluh. Dikatakan Paulus di dalam Roma 8, Allah mengeluh karena ciptaan belum sampai pada titik kesempurnaan seperti yang dirancang oleh Tuhan. Tapi keluhan mereka seperti keluhan orang sakit bersalin. Sakit bersalin dimiliki oleh orang dan setelah dia melahirkan anak yang menyebabkan sakit bersalin itu, sakit bersalinnya digantikan oleh sukacita yang besar. Tapi ketika seorang anak sudah dimiliki, maka dia memiliki sukacita menggantikan rasa sakit yang sebelumnya dimiliki. Rasa sakit hilang digantikan oleh sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang indah, sesuatu yang penuh sukacita dan memberikan bahagia. Demikian juga ciptaan dikatakan mengalami sakit bersalin, karena setelah ini akan datang kelegaan, ciptaan itu sendiri pun akan ditebus. Maka Roma 8 bicara tentang penebusan penciptaan. Di dalam Roma, Paulus juga bicara tentang penebusan tubuh, di dalam pasal yang sama. Jadi tubuh kita akan ditebus, seluruh ciptaan ditebus. Tuhan sedang dalam progres untuk menjadikan seluruh ciptaanNya sempurna. Maka kalau dikatakan mengapa ciptaan seperti ini? sepertinya berbenturan antara alam dan manusia. Alam kalau mau berkembang harus mengorbankan manusia. Kalau mau tanah menjadi subur maka harus ada sebuah gunung yang meletuskan lava di dalamnya, setelah itu menjadi tempat yang subur, tapi manusia harus berkorban dulu untuk seluruh permukaan bumi diatur dan ditata, harus ada pergerakan urat-urat bumi yang membuat gempa yang menakutkan di berbagai belahan dunia. Ini menunjukan sepertinya alam belum sempurna atau sepertinya alam dalam keadaan rusak. Tetapi Alkitab mengajarkan kepada kita Tuhan belum membawa alam ini kepada kesempurnaannya. Tuhan merancangkan alam yang sempurna dan Tuhan akan membawa ini nanti. Tuhan merancangkan sorga dan bumi yang sempurna dan Tuhan akan membawa kesempurnaan ini pada waktu final penciptaan. Kalau kita mengerti ini kita tidak perlu kehilangan pengharapan, kita hidup di tengah dunia yang rusak tapi tetap ada pengharapan. Kita hidup di tengah-tengah keadaan fisik yang tidak sempurna, tapi tetap ada pengharapan. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang banyak cacat tapi tetap ada pengharapan.
Lalu bagaimana kita mengerti pengharapan dari seluruh ciptaan Tuhan? Ini kita bisa baca dari Yohanes 1. Yohanes adalah teolog yang sangat dalam, dia adalah seorang yang saleh, tapi juga mempunyai pengertian teologis yang begitu hebat. Dia mempunyai pengertian spiritual yang mencapai kerinduan akan sorga di dalam tulisan-tulisan. Yohanes adalah penulis yang lebih bersifat sorgawi dari pada penulis-penulis yang lain, baik Matius, Markus, Lukas dan Paulus. Tapi kehebatan yang dimiliki Yohanes adalah sesuatu yang bisa kita kaitkan dengan Yohanes Pembaptis. Mengapa Yohanes penulis Injil mesti dikaitkan dengan Yohanes Pembaptis? Karena Kitab Suci memberi kesaksian bahwa Yohanes penulis Injil ini tadinya adalah murid dari Yohanes Pembaptis. Injil Sinoptik: Matius, Markus, Lukas, Yohanes hanya menulis sedikit tentang kata-kata Yohanes Pembaptis, dia adalah orang yang berseru, berkhotbah dengan berani, menegur dosa, membawa kebangunan lewat khotbah yang dia bawakan di padang gurun. Dia berkhotbah di padang gurun, tapi banyak orang datang kepadanya untuk mendengarkannya. Pada waktu itu ada tanda penting yang Tuhan sedang kerjakan yaitu firman bersuara bukan di Bait Suci, firman bersuara di padang gurun, seolah-olah Tuhan sudah mengabaikan Bait Suci dan mengangkat seorang nabi berbicara di luar Bait Suci. Dia pergi ke padang gurun dan berkhotbah di situ. Yohanes lahir di tengah keluarga yang sudah tua dan pada waktu mereka sudah usia lanjut, baru dia lahir. Sehingga Saudara bisa mengetahui kemungkinan yang sangat besar, mereka mati ketika Yohanes masih anak-anak, ketika Yohanes masih perlu orang tua untuk mendidik dia. sehingga tradisi umumnya menggambarkan Yohanes sebagai seorang yang dibesarkan di dalam tradisi qumran, tradisi dari orang-orang yang tinggal di goa-goa di sekitar Laut Mati. Siapakah orang-orang qumran ini? mengapa Yohanes berakhir di situ? Dan kalau Saudara bertanya tahu dari mana Yohanes dipengaruhi oleh kelompok qumran? Karena Yohanes punya gaya pelayanan yang mirip dengan gaya mereka, Yohanes memakai bulu unta mirip dengan pakaian orang-orang qumran. Yohanes juga membaptis, mirip dengan tradisi yang dikerjakan oleh orang-orang qumran kalau ada orang yang mau jadi murid mereka, “maukah kamu menjadi bagian dari komunitas kami?”, dia harus dibaptis di tempat-tempat yang sudah disediakan. Jadi Yohanes melakukan praktek yang persis sekali dengan yang dilakukan orang-orang qumran. Itu sebabnya waktu Saudara baca kehidupan Yohanes dan Saudara lihat sejarah dari Israel pada abad ke-1, Saudara akan tahu ini orang bergaya qumran. Mengapa Yohanes bisa ada disitu? Kalau dia anak seorang imam harusnya dia melanjutkan pekerjaan imamat dari papanya, tapi dia menjadi orang qumran. Kelompok qumran adalah komunitas yang benci politik, yang benci pemimpin agama, mereka benci Bait Suci, mereka benci semua praktek yang terjadi karena semua penuh korupsi. Mereka sudah sangat capek menghadapi dunia ini, sehingga mereka memutuskan hidup berkelompok dan hanya memikirkan hal yang sorgawi, hanya merenungkan tentang Tuhan, hanya berpikir tentang sorga dan tidak terlalu banyak pusing akan keadaan bumi. Di kelompok qumran akhirnya ada ajaran-ajaran yang nanti berkembang menjadi ajaran-ajaran gnostik. Ini adalah penyelidikan dari seorang bernama F.O Francis, dia adalah ahli Perjanjian Baru dan dia selidiki banyak tulisan-tulisan qumran itu berbau spiritual sekali, “mari kita abaikan penderitaan badan kita, mari kita abaikan kesulitan dunia kita, mari kita coba capai kedewasaan yang ada di sorga”, kedewasaan yang tidak dipengaruhi oleh apa pun di dunia ini, tapi dipengaruhi oleh sorga saja. Mereka banyak menantikan sorga, mengharapkan sorga, merindukan Tuhan, dan tulisan mereka berbau spiritual sekali. Mereka sangat saleh dan mereka terus merindukan untuk adanya kerajaan yang dinyatakan di bumi. Yohanes mungkin terpengaruh oleh mereka, sehingga waktu Yohanes Pembaptis melayani, banyak pengaruh dari qumran itu masuk. Dan meskipun dia seorang pembawa khotbah yang keras, dia menegur dosa dengan berani, seperti nabi-nabi Perjanjian Lama. Tapi sangat besar kemungkinan waktu dia bimbing murid-murid secara dekat, dia banyak membawa ajaran qumran dlebih dari ajaran para nabi yang ada di dalam Perjanjian Lama. Saya tidak mengatakan ajarannya sesat, tapi yang saya katakan adalah Yohanes Pembaptis berkhotbah seperti nabi-nabi Perjanjian Lama, namun mengajar seperti orang qumran. Dan apa buktinya kalau dia mengajar dengan cara seperti orang qumran? Muridnya yaitu Yohanes menulis Injil dan dia menggambarkan ajaran Yohanes Pembaptis beda dengan apa yang digambarkan dengan Matius, Markus dan Lukas. Saudara kalau baca Yohanes Pembaptis versi Yohanes, digambarkan sebagai orang yang lebih lembut dari pada yang di Matius. Apakah ini dua orang yang berbeda? Apakah Matius dan Yohanes mengarang seorang tokoh dari sudut pandang masing-masing? Tentu tidak, tapi mereka melihat sisi yang berbeda dari satu pribadi yang kompleks yaitu Yohanes Pembaptis. Matius menggambarkan Yohanes Pembaptis sebagai pengkhotbah yang membawa kebangunan, seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang berseru menyatakan “bertobatlah kamu”. Tapi Yohanes menulis bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang guru yang mengajarkan untuk sabar menantikan Tuhan, hidup dengan bersekutu, hidup dengan berdoa, hidup dengan membaca Kitab Suci, hidup dengan mengabaikan semua kesulitan-kesulitan dunia, hidup dengan tidak memusingkan apa yang ada di dunia ini, tapi merindukan sorga saja.
Dari inilah Yohanes mempunyai sense spiritual sorgawi yang besar sekali. Yohanes mempunyai sense tentang teologi yang membawa kita kepada pengertian pengharapan sorga lebih besar dari dunia ini. Dia bisa membahas tema-tema sederhana tapi mengaitkan maknanya dengan sorga, ini khas qumran. Orang qumran akan berbicara tentang hal duniawi tapi memberikan makna sorgawi di dalamnya. Mereka sering berkata “kalau kamu meminum air, ingatlah air yang ada di sorga juga”. Jadi pengertian ini yang dibawa oleh Yohanes, Yohanes menulis Injilnya dengan menggambarkan hal duniawi tapi memberikan makna spiritual di dalamnya. Dia akan menggambarkan tentang roti dan memberikan makna sorgawi di dalamnya. Dia menjelaskan tentang minum dan memberikan makna sorgawi di dalamnya. Tapi kalau Saudara baca Injil Yohanes, Saudara akan menemukan dia adalah seorang yang sangat menekankan hal yang spiritual, yang sorgawi, tapi dia paling menekankan kehidupan Yesus di bumi, bahkan menulis sampai akhir mengenai Yesus di bumi di dalam segala keseharian. Ini seperti dua hal yang bertentangan, tapi disatukan oleh Yohanes. Sehingga kalau Saudara baca Injil Yohanes, Yohanes adalah Injil yang paling sorgawi sekaligus paling membumi, Yohanes adalah Injil yang paling bermakna spiritual tapi juga paling berbicara tentang keadaan sehari-hari. Yohanes tidak bicara kerajaan dari sudut pandang politik yang besar, Yohanes bicara tentang kerajaan dari sudut pandang seorang perempuan yang mau timba air, malu terhadap orang-orang dikampungnya karena dia sudah punya aib yang besar. Dan Yesus mengatakan Kerajaan Sorga adalah tempat untuk orang-orang seperti itu bisa bergaul kembali dengan orang-orang di komunitas. Yohanes membicarakan komunitas kerajaan seperti komunitas persekutuan yang tidak besar. Ini satu keunikan dari Injil Yohanes, berbicara sorga sekaligus berbicara tentang bumi dengan cara yang sangat menekankan keduanya. Maka kalau kita mengerti ini, kita tahu bahwa sang penulis Injil yaitu Yohanes adalah orang yang dipengaruhi Yohanes Pembaptis. Dan Yohanes Pembaptis banyak bicara dari sudut pandang aspek spiritualitas yang bersifat sorgawi, lalu dia mempengaruhi Yohanes sang penulis Injil. Setelah itu Yohanes mendengarkan ajaran dari Yesus, dia akan kombinasikan apa yang dia pahami ini di dalam sturktur berpikir yang indah sekali. Dan dia menemukan rahasia yang penting yaitu rahasia di dalam Kitab Kejadian. Waktu Tuhan menjadikan langit dan bumi, waktu Tuhan menciptakan segala sesuatu, ada hal yang banyak orang tidak deteksi, tapi Yohanes deteksi.
Apa yang Yohanes deteksi, di dalam ayat 1, Yohanes mengatakan “pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Ayat 3 “segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Sang Firman) dan oleh Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”. Jadi Sang Firman ini adalah yang menciptakan segala seuatu, Dia mencipta semua, Dia yang menciptakan langit, Dia juga mencipta bumi, Dia yang mencipta sorga, Dia juga yang mencipta dunia. Dia Pencipta segala sesuatu. Langsung orang akan memikirkan Kitab Kejadian. Di dalam Kitab Kejadian dibahas tentang ciptaan, tapi Saudara bisa bayangkan, selidiki apa yang Kitab Kejadian belum bahas. Kitab Kejadian belum membahas bahwa di dalam ciptaan masih ada satu hal yang kurang, Allah sudah menciptakan semuanya, tapi masih ada yang kurang. Apakah yang kurang itu? Yang kurang adalah diri Allah sendiri. Diri Allah belum termasuk bagian yang menyertai ciptaan dengan cara yang tidak terpisahkan. Kitab Kejadian membahas ciptaan sebagai yang diciptakan oleh Allah. Allah menciptakan segala sesuatu, tapi Allah sendiri tidak disebut berada bersama ciptaan di dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Allah dan ciptaan adalah dua hal yang terpisah, Allah dan ciptaan tidak mungkin disamakan, ini jelas sekali di dalam Kitab Kejadian. Tetapi Yohanes merasa di dalam teologinya perlu ada kesatuan antara Pencipta dan yang dicipta. Ini rumit sekali, kesatuan antara Pencipta dan yang dicipta, bagaimana bisa terjadi? Kalau Pencipta dan yang dicipta bersatu maka yang dicipta menjadi ciptaan itu tidak boleh diterima. Pencipta bukan ciptaan, yang mencipta tidak boleh dianggap sama dengan ciptaan, Dia yang menjadikan segala sesuatu, Dia sendiri tidak termasuk dari apa yang sudah dijadikan. Ini pembedaan yang harus kita tekankan. Yohanes menyadari kita harus memisahkan antara Pencipta dan ciptaan. Pencipta dan ciptaan tidak boleh digabung. Saudara kalau mengatakan ciptaan sebagai pencipta, itu namanya jahat, itu berarti Saudara adalah orang kafir, karena Saudara memper-ilah ciptaan. Jadi kalau engkau menyebut ciptaan itu Allah, itu dosa besar. Sebab Allah beda dengan ciptaan, Allah bukan ciptaan. Pak Stephen Tong memberikan contoh bagus sekali waktu ada orang mengatakan “saya mau Allah dibuktikan dulu keberadaanNya, tunjukan Allah itu”, maka Pak Tong memberi contoh lukisan, tidak ada pelukis yang melukis dirinya di dalam lukisan. Kalau ada pelukis melukis dirinya di dalam lukisan, tetap itu lukisan dirinya, bukan dirinya sendiri. Adakah orang yang paku dirinya di tengah-tengah kanvas, setelah itu dia jadi bagian di tengah-tengah kanvas? Sepertinya tidak ada. Jadi waktu Saudara sendiri melukis, Saudara tidak termasuk di dalam lukisan itu. Sang pelukis bukanlah lukisannya. Waktu Tuhan menciptakan alam semesta, Tuhan yang sejati bukan bagian dari alam. Kalau Saudara meletakan Tuhan sebagai bagian dari alam, Saudara jatuh di dalam aliran panteisme. Panteisme artinya semua adalah allah dan allah adalah semua. Agama Budhis dan Hindu adalah agama yang mengakui panteisme. Orang Hindu percaya dewa itu ada banyak, bahkan katanya ada ratusan juta, mereka percaya bahwa alam dan allah itu satu, sehingga di dalam alam selalu ada allah, di dalam alam ada jiwa ilahi. Saudara dan saya harus hati-hati jangan merusak apa pun karena di dalam apa pun ada allah. Di dalam tanaman ada allah, di dalam saya ada allah, di dalam lalat ada allah, di dalam kecoa ada allah, ini namanya panteisme. Allah memang besar tapi tetap di dalamnya allah ada ciptaan. Jadi kita ini bagiannya dari allah, mungkin Saudara adalah perutnya atau apanya, saya tidak tahu. Jadi ada allah dan alam ini termasuk di dalamnya. Kekristenan menolak ini, alam dan Allah mesti dipisah, tidak boleh samakan Allah dengan alam. Tapi pemisahan ini juga jatuh ke dalam konsep yang lain, yang juga bahaya. Kalau alam dan Allah dianggap sama itu namanya panteisme. Kalau alam dan Allah dianggap tidak ada kaitan sama sekali, ini namanya deisme. Allah adalah Allah yang tidak connect dengan alam, ini deisme. Dan banyak orang Kristen di abad modern adalah orang Kristen deisme. Mereka tidak percaya kalau Allah berkait dengan ciptaan, mereka percaya bahwa Allah itu di luar sana yang tidak perlu berkait dengan alam. Sebenarnya ajaran deisme adalah ajaran kuno dari abad yang ke-2 sebelum Masehi, ajaran dari Epikuros yang disebut dengan epikureanisme. Epikuros mengajarkan bahwa dewa-dewa itu tinggal di sorga yang enak, di Olympus. Olympus lebih bagus dari pada tempat-tempat lain. Kalau sudah tinggal di tempat yang bagus, mana mungkin memikirkan orang-orang yang tinggal di tempat jelek. “Dewa-dewa itu tidak peduli kamu, kamu sembahyang tidak sembahyang, apakah mereka memikirkannya”. Kalau Saudara tidak sembahyang, dewa akan rugi apa? jadi mereka sedang menikmati pesta setiap hari, lalu ada orang bilang “dewa, ampuni saya, saya lupa berdoa kepadamu”, dewa mengatakan “kamu siapa?”, “saya umatmu”, “saya tidak tahu kalau punya umat. Jangan ganggu saya”, itu menurut Epikuros, maka manusia jangan terlalu bersalah kalau lupa beribadah, karena terus terang dewa tidak perlu ibadahmu. Kamu bersalah, dewa tidak peduli, kamu benar pun dewa tidak peduli. Maka ajaran Epikuros mengatakan “percuma kamu terlalu saleh, percuma juga kamu terlalu takut sama dewa-dewa, karena dewa-dewa tidak peduli kamu”. Sehingga di dalam pikiran Dawkins dan Epikuros, dewa-dewa itu seperti pengganggu saja. Kalau dewa-dewa itu tenang-tenang saja, hidupmu enak, mereka tidak peduli kamu dan kamu tidak peduli mereka, itulah idealnya. Baik Tuhan maupun ciptaan tidak saling peduli, itu baru ideal. Tapi kalau Tuhan dan ciptaan tidak saling peduli, tidak saling berinteraksi maka ciptaan ini kehilangan makna. Karena sejak awal Tuhan menciptakan ciptaan ini untuk sebuah makna. Harus ada makna, tanpa makna semuanya jadi tidak ada gunanya. Zaman sekarang banyak orang ateis mengatakan makna itu tidak penting, ada orang mengatakan “kita bisa jelaskan segala sesuatu dengan sains”, “kalau semuanya dijelaskan dengan sains, nanti tidak ada makna”, lalu orang-orang ini dengan berani mengatakan “memang tidak ada makna, kita harus hidup tanpa makna, karena makna itu karangan manusia, makna itu tidak realistis, makna itu bukan sesuatu yang saintifik, jadi ada makna atau tidak ada makna itu tidak penting. Kalau kamu merasa perlu makna, terserah. Tapi makna itu tidak bisa dibuktikan dengan sains. Apa makna hidup manusia? Tidak ada urusan, yang penting saya bisa buktikan bagaimana harusnya hidup, bagaimana otak bekerja, bagaimana sistem tubuh bekerja dan itulah penjelasan tentang manusia, tidak ada makna. Tapi benarkah makna hidup itu tidak penting? Kalau tidak penting berarti kita semua cuma berada secara kebetulan dan tidak punya makna. Hidup tanpa makna itu tidak ada arti sama sekali. Waktu kita tahu betapa bermaknanya sesuatu baru bisa kita hargai. Demikian juga alam ciptaan ini, kalau kita tidak mengerti maknanya ciptaan, kita tidak mungkin hargai ciptaan. Kita tidak akan hargai ada pohon, ada binatang, mengapa ada engkau, mengapa ada kota, mengapa ada segala sesuatu, kita tidak mungkin hargai. Tapi kalau kita mengerti maknanya baru kita akan menghargai segala sesuatu yang dicipta ini. Dan Yohanes mengerti yang kurang dari ciptaan di Kejadian adalah, karena belum sampai pada titik final, yang kurang adalah Tuhan belum menyatakan kehadiran secara sempurna, Tuhan belum bersatu dengan ciptaan.
Mengapa Tuhan dan ciptaan bersatu? Itu tidak boleh. Tapi Yohanes mengatakan “bukan tidak boleh, tapi harus”, “jadi Tuhan menjadi ciptaan?”, “bukan menjadi ciptaan, tapi menjadi satu dengan ciptaan”. Dengan cara apakah Tuhan bersatu dengan ciptaan? Orang-orang zaman dulu mengatakan Tuhan menjadi satu dengan ciptaan, dengan Dia hadir di tengah-tengah ciptaan, Tuhan bersatu dengan ciptaan dengan berkunjung kepada ciptaan. Tapi bagi Yohanes itu bukan bersatu dengan ciptaan, bersatu itu berarti tinggal bersama. Ini tema yang sangat khas dari Yohanes, tinggal bersama. Waktu Yesus diikuti oleh murid-murid karena Yohanes Pembaptis mengatakan “inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, Dialah yang aku maksudkan”, lalu murid-murid ikut. Yesus bertanya “kamu mau kemana? Apakah yang kamu cari?”, satu orang murid mengatakan “Rabi, kami ingin tahu dimana Engkau tinggal”, dan Yesus mengatakan “mari ikut”. Dan mereka melihat dimana Yesus tinggal. Alkitab mencatat sejak waktu itu, mereka tinggal bersama dengan Yesus. Jadi yang Yohanes mau nyatakan adalah alam ini belum lengkap karena Tuhan belum mau tinggal bersama di dalam alam ini. Kalau Tuhan belum mau tinggal bersama, percuma kamu punya hidup, kekayaan, seperti zaman Salomo. Salomo itu raja yang penuh hikmat, dia tahu banyak hal, dia mengerti banyak hal. Salomo juga adalah raja yang sangat kaya, ganteng, pintar. Orang terus mengharap ingin seperti Salomo, Salomo adalah raja yang paling ideal, paling hebat, paling agung, tapi Salomo pun tidak mampu membawa pengharapan sejati dari apa yang Tuhan sudah ciptakan. Jadi dari segala yang Tuhan ciptakan masih ada yang kurang. Orang yang bijaksana adalah orang yang menyadari kekurangan dunia ini. Dan kalau dia tahu ada yang kurang dari dunia ini, dia akan berjuang supaya yang kurang itu bisa teratasi.
Apa yang kurang dari ciptaan itu perlu kita ketahui, apa yang kurang dari diriku sebagai manusia, apa yang kurang dari gereja sebagai gereja, apa yang kurang dari umat sebagai umat, apa yang kurang dari alam ciptaan sebagai alam ciptaan ini. Kalau kita tidak mengerti, kita tidak akan cari. Kalau kita tidak merasa ada yang kurang, kita pun tidak akan cari karena kita merasa tidak ada yang kurang, semua sudah baik. Kalau kita menganggap hidup hanya sekedar apa yang boleh kita nikmati sekarang, maka kita tidak rasa ada yang kurang, kita rasa semua sudah baik. Kita selalu menilai hidup kita dengan banyak hal, apakah saya bisa berkeluarga, apakah saya bisa kasi makan anak, apakah saya bisa cari karier, apakah saya bisa cari pekerjaan yang baik, tapi hal yang paling esensial dari hidup manusia, apakah saya berelasi dengan Tuhan, itu tidak kita cari.
Dan Yohanes sadar, ini yang kurang dari ciptaan, maka dia mengatakan “Firman itu menciptakan semua, tapi pada waktunya Firman itu menjadi manusia, berdiam bersama dengan kita”, ini adalah Allah menjadi manusia. Sang Pencipta di dalam ciptaanNya, Dia menjadi manusia. Ini tema yang luar biasa anggun. Banyak orang mengatakan “mengapa orang Kristen percaya Allah menjadi manusia?”, saya akan balikan kepada mereka “justru agamamu kering dan sempit karena kamu tidak percaya Allah yang menjadi manusia. Tetapi Kekristenan begitu limpah karena mempercayai Allah yang menjadi manusia”. Maka hal pertama yang kita pelajari mengapa Allah menjadi manusia adalah karena manusia perlu Allah yang hadir bersama dengan manusia. Ciptaan ini perlu Allah hadir di tengahnya, baru bisa menjadi ciptaan yang berfungsi dengan benar. Apakah Allah sudah hadir di tengah ciptaan? Belum. Kapan Dia mulai hadir? Dengan mengirim AnakNya yang tunggal sebagai titik awal kehadiranNya. Maka Natal adalah titik awal kehadiranNya, Natal adalah titik awal pemulihan seluruh langit dan bumi, seluruh sorga dan seluruh ciptaan dimulai dari titik inkarnasi. Natal begitu penting, bukan hanya mengenai ada orang-orang Majus datang, bukan hanya mengenai orang-orang yang membawa hadiah, bukan hanya mengenai gembala yang sujud. Tapi ini adalah mengenai dimulainya ciptaan yang disempurnakan oleh Tuhan.
Ketika merenungkan Natal, Saudara ingat ini peristiwa besar di dalam ciptaan baru yang Tuhan sedang ciptakan. Karena ciptaan baru nanti menjadi ciptaan yang sempurna oleh karena Tuhan mau berdiam bersama kita. Kalau Tuhan sudah berdiam bersama kita, pada waktu itu sudah tidak ada air mata lagi. Waktu Tuhan sudah berdiam dengan kita dengan sempurna, waktu itu tidak ada penyakit lagi. Waktu Tuhan berdiam dengan kita dengan sempurna, waktu itu tidak ada kematian lagi, tidak ada kesedihan, tidak ada kejahatan, tidak ada alam yang keras kepada manusia, tidak ada manusia yang konflik dengan alam, tidak ada setan, tidak ada maut, tidak ada dosa, tidak ada kejahatan, akan menjadi satu ciptaan yang sempurna, yang sudah didesign Tuhan dari awal. Ini tidak dimulai dengan Israel dipanggil menjadi kerajaan, ini dimulai ketika Yesus menjadi manusia. Waktu Allah menjadi manusia, waktu itu kita tahu ciptaan akan dipulihkan oleh Tuhan. Oleh sebab itu Yohanes mengatakan segala sesuatu diciptakan oleh Dia. Sudah selesai? Belum. Setelah Tuhan menciptakan di Kejadian 1, setelah Tuhan menciptakan semuanya, apa berikutnya? Yohanes mengatakan berikutnya adalah Dia menjadi manusia dan berdiam bersama kita. Biarlah kita mengingat ini ketika kita merenungkan Natal. Natal bukan titik yang membuat kita hura-hura, tapi Natal adalah saat di mana ciptaan baru yang suci, yang adil, yang benar, yang penuh kenikmatan karena kehadiran Tuhan, sedang dimulai oleh Tuhan. Karya monumental dari ciptaan yang sempurna dimulai dari titik inkarnasi ini. Tuhan sudah menciptakan dari Kejadian 1, setelah itu Tuhan memulai kehadiranNya. Seluruh ciptaan perlu kehadiran Tuhan dan kehadiran itu diberikan ketika Natal. Itu sebabnya ketika Yesus akan pergi ke sorga, Yesus mengatakan “Aku tidak akan meninggalkan kamu”. Kehadiran Yesus bersama ciptaanNya tidak akan tergantikan oleh apa pun dan tidak akan dibatalkan. Maka ketika Yesus pergi ke sorga, Dia menjanjikan Roh Kudus turun melanjutkan kehadiran Allah di tengah dunia. Sampai kapan? Sampai Kristus datang lagi dan Allah Tritunggal berdiam bersama dengan manusia. Waktu itu seperti yang dikatakan Wahyu, yang juga ditulis oleh Yohanes, akan diserukan orang Kemah Allah akan berdiam bersama dengan kita. Kemah yang mana? Allah sendiri, di dalam kota yang baru itu. Biarlah kita bersyukur karena Natal adalah momen yang penting Allah menyempurnakan ciptaanNya.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah
- 13 Dec 2017
Zakheus, buah pertobatan sejati
(Lukas 19:1-10)
Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah Zakheus ini. Tapi mungkin ada satu poin yang sangat penting yang sering kita luput, yaitu peristiwa Zakheus memanjat pohon sikamor, di sini diterjemahkan pohon ara. Dan bagaimana ini menjadi inti sari dari ayat-ayat yang kita baca pada hari ini. Injil Lukas sangat penting karena Injil ini memberitakan bahwa Yesus mempunyai pekerjaan puncak di kayu salib. Dia mempunyai pekerjaan utama untuk mati di kayu salib menebus dosa manusia. Injil Lukas sebenarnya sudah membagikan kepada kita hal yang utuh mengenai Injil, Injil berkait dengan kita pergi ke sorga diselamatkan oleh Tuhan. Tapi Injil juga berkait dengan perubahan sosial yang harus kita kerjakan di tengah-tengah kita. Teologi Kristen sering kali cuma menekankan satu sisi. Teologi dari kaum Injili sangat menekankan bagaimana Kristus yang mati bagi saya, menebus dosa saya, membuat saya aman di sorga, di dalam pelukanNya Tuhan. Ini tentu benar, Injil tentu bicara hal ini. Tapi jika kita hanya menekankan sisi ini, maka kita tidak mengerti apa kaitan Injil dengan perubahan hidup di dalam dunia ini. itu sebabnya banyak orang dari aliran social gospel mengatakan bahwa Injil itu salah dipahami, orang Kristen hanya tahu beriman, lalu masuk sorga, selesai. Orang Kristen cuma tahu “diriku diselamatkan oleh Tuhan”, lalu selesai. Kita lihat teologi sering menjadi pendulum, yang swing terlalu banyak ke satu arah, lalu swing lagi terlalu banyak ke arah yang lain. Akhirnya teologi Rauschenbusch menolak keselamatan dari darah Yesus. Menolak pengertian mujizat dan juga penebusan yang menggantikan kita mati di kayu salib. Injil hanya sebatas menolong orang, Injil hanya sebatas melakukan perubahan sosial. Kalau terus hanya satu sisi, maka kita gagal memahami pesan yang utuh dari Alkitab mengenai Injil. Alkitab menyatakan Yesus punya tugas utama pergi ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Tapi Alkitab juga mengatakan Yesus juga berhenti di tiap kota untuk menolong orang yang memerlukan. Yesus berhenti untuk tindakan belas kasihan, tapi Dia tidak berhenti sampai di situ, Dia terus berjalan ke Yerusalem, sampai akhirnya Dia harus mati di kayu salib. Maka Injil menawarkan seluruh aspek ini harus ada. Saudara mau mengikuti Alkitab, Saudara harus tahu bahwa kita harus didamaikan dengan Allah oleh penebusan darah Yesus. Dan kalau kita tahu kita perlu didamaikan dengan Allah oleh darah Yesus, maka kita sadar bahwa kita orang berdosa yang harus ditebus. Tetapi setelah penebusan itu Saudara dan saya dituntut melakukan tindakan yang mengubah masyarakat. Gerakan Reformed Injili menyadari hal ini, mandat budaya, pekabaran Injil, teologi yang menekankan tentang penebusan Sang Anak Allah yang menjadi manusia, semua harus dipahami dan dijalani. Demikian juga dengan Injil Lukas, Lukas melakukan hal yang sama, Yesus berhenti di datu tempat menolong orang, lalu Dia lanjutkan perjalananNya. Termasuk ketika Dia sudah hampir sampai ke Yerusalem, Dia harus sampai Yerikho dulu. Dia bertemu dengan seseorang bernama Zakheus.
Di dalam Alkitab, di ayat yang kita baca dikatakan bahwa Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai, ini bukan hanya orang yang melakukan tindakan memungut cukai, dia adalah pemimpinnya. Dan orang-orang yang berada di dalam kelompok ini, sebagai kepala pemungut cukai adalah orang yang mempunyai kekuatan untuk tarik uang sebanyak mungkin, lalu setorkan sebagian untuk Roma, dan dia bisa tahan sebagian yang sangat besar untuk dirinya sendiri. Orang Roma mau ada orang yang teliti, selidiki semua orang di dalam daerah Yahudi, lalu tarik pajak sesuai dengan apa yang harusnya ada pada mereka. Dan orang Roma tidak peduli kalau pemungut cukai ini tarik sangat banyak, lalu ambil sangat banyak untuk dirinya lalu setorkan sedikit untuk Roma, asalkan setoran minimal sudah masuk, dia mau ambil berapa untuk kantongnya sendiri itu urusan dia. Itu sebabnya kepala pemungut cukai sangat dibenci oleh banyak orang. Tapi Alkitab mengatakan Zakheus bukan orang yang suka ambil uang lebih banyak. Dia mengikuti perintah dari pemerintahan Roma, kita tahu itu dari mana? Kita tahu itu dari apa yang Zakheus katakan sendiri di ayat 8 “kiranya ada yang saya peras, saya berani balas 4 kali lipat ganti yang saya peras”, ini bukan pernyataan mau balas, mau ganti, ini pernyataan dia tidak pernah pungut yang lebih besar dari yang dituntut oleh tentara Roma. Jadi Zakheus dibenci oleh orang Yahudi bukan karena dia korup, melainkan karena dia adalah kaki tangan Roma untuk mengatur para pemungut cukai memungut pajak untuk Kerajaan Roma. Dikatakan Zakheus ingin melihat Yesus waktu Dia masuk Yerikho, tapi dia tidak berhasil karena ada orang banyak, sebab badannya pendek. Badan pendek ternyata bisa punya beberapa pengertian. Badan pendek bisa berarti secara fisik dia pendek, tapi istilah ini bisa juga diartikan sebagai orang yang disingkirkan oleh komunitasnya. Jadi apakah Zakheus benar-benar badannya pendek atau tidak, kita tidak tahu. Bukan karena badan pendek dia panjat pohon, tapi dia terpaksa panjat pohon karena dia terus dihalangi untuk melihat Yesus. Saudara bisa bayangkan, ketika orang banyak mengerumuni Yesus, Zakheus mendahului mereka lalu panjat pohon. Mengapa dia lari mendahului mereka lalu panjat pohon, mengapa dia tidak lari mendahului mereka lalu tunggu di pinggir jalan? Karena kalau dia tunggu dipinggir jalan, dia akan tertutup orang lain, dan orang akan menghalangi dia menemui Yesus. Dalam Kitab Suci pohon ara menjadi lambang berkat Tuhan. Di Ulangan 8:8, selain buah anggur, buah ara menjadi simbol Tuhan memberkati. Di dalam Ulangan 8:8 Tuhan mengatakan “Aku akan beri kamu tanah yang berlimpah hasil anggur dan ara”, ini tanda Tuhan memberkati. Saudara bisa juga lihat di Mazmur 105:33, tidak ada buah ara itu tandanya Tuhan sedang mengutuk tanah. Tuhan mengatakan “hai Mesir, Aku akan hancurkan tanamanmu, pohon aramu tidak lagi akan berbuah”. Arti pohon ara tidak berbuah adalah Tuhan sudah kutuk tanah dan Tuhan tidak berikan berkat lagi. Itu sebabnya pohon ara mengandung makna teologis bagi orang Israel, ini bukan sekedar pohon yang random dipilih. Lalu di dalam Yeremia 8:13, Tuhan mengatakan “Aku akan membuat pohon aramu kering”, dan ini adalah ancaman pembuangan yang Tuhan nyatakan bagi Israel. Tuhan mengancam Israel dengan mengatakan “pohon aramu akan kering dan tidak akan menghasilkan buah”. Saudara juga bisa lihat di dalam Yoel 1: 12, disitu dikatakan bahwa pohon ara sudah tidak ada buah, Tuhan hukum kita dengan berat sehingga pohon ara tidak ditemukan lagi. Lalu bagaimana di tengah keringnya pohon ara, yang artinya Tuhan buang Israel, adakah pengharapan bagi mereka? Alkitab mengatakan Tuhan memberikan pengharapan, karena pohon ara akan kembali menghasilkan buah. Saudara bisa melihat ini di dalam Hosea 9:10 Tuhan mengatakan “Israel, Aku melihatmu seperti pohon ara yang buahnya banyak. Aku mengasihi engkau karena engkau seperti pohon ara bagiKu yang buahnya banyak. Tapi ketika engkau menyembah berhala, Aku akan membuat engkau kering”, dan pohon ara itu tidak lagi berbuah. Di dalam janji pemulihan, misalnya di Yoel 2, Tuhan menjanjikan pohon ara akan kembali mengeluarkan buah. Dan yang dikatakan akan mengeluarkan buah adalah sebelum panen besar yaitu buah sulung. Buah sulung adalah buah yang keluar sebelum pohon yang lain mengeluarkan buah, dan ini yang menjadi tanda Tuhan akan pulihkan Israel. ada buah sulung, ada buah ara yang keluar sebelum musim ara. Dan Saudara baru mengerti mengapa Tuhan mengutukpohon ara di dalam Matius 21, Yesus menemukan pohon ara lalu dikatakan Dia tidak menemukan buah. Alkitab Bahasa Indonesia mengatakan “karena belum musim ara”, tapi sebenarnya yang dimaksudkan adalah karena dekat musim ara, berarti kalau sudah dekat musim ara akan ada pohon ara yang menghasilkan buah sulung. Waktu pohon ara itu tidak menghasilkan buah sulung, Yesus mengutuknya hingga kering, kemudian Dia berjalan lanjut. Banyak orang tidak mengerti mengapa Yesus kutuk pohon ara, salah apa pohon ini. Dan kita sulit menjawab orang karena kita tidak mengerti latar belakang Yahudinya. Saudara kalau ditanya “mengapa Tuhan Yesus mengutuk pohon? Dia kejam”, Saudara akan menjawab apa? Mungkin Saudara menjawab “karena Dia kan Tuhan, terserah Dia mau kutuk siapa. Dia boleh kutuk pohon, Dia juga boleh kutuk kamu karena tanya terus”, jawaban itu salah. Tuhan mengutuk pohon ara karena ini melambangkan kalau pohon itu tidak menghasilkan buah sulung, Tuhan akan buang Israel. “Mana buah sulungnya hai Israel? pohon aramu sudah menghasilkan buah atau tidak?”, ini alasan mengapa Tuhan Yesus mengutuk buah ara. Harap dari sekarang dan seterusnya, Saudara mengerti, sehingga ketika ada orang yang minta penjelasan dari Matius 21, Suadara tidak harus mempertemukan dia dengan saya terus. Pohon ara itu bermakna teologis sekali, makna eskatologis. Kalau buah ara sudah ada berarti pemulihan sudah akan terjadi. Dan ini sebabnya di dalam Zakharia 3 ada janji Tuhan yang limpah, dikatakan Aku akan perbaiki pohon anggur dan pohon ara. Aku akan berikan dengan limpah dari buah anggur dan ara, dan pada waktu engkau sadar pohon ara sudah mengeluarkan buah, di bawah pohon ara engkau akan undang teman-temanmu pesta. Zakharia 3 digenapi Yesus di bawah pohon sikamor. Yesus mengundang Zakheus berpesta di rumah Zakheus, di bawah pohon, itu menggenapi Zakharia 3. Tapi Saudara mungkin protes, “maaf pak, penggenapan kok begini? Zakharia kan bilang pohon ara, Zakheus naik pohon sikamor. Dua pohon yang berbeda. Tidak ada janji pohon sikamor di dalam Alkitab, yang dijanjikan itu pohon ara”. Ketika saya lihat pohon ara, tingginya tidak terlalu besar. Waktu saya tanya ke Pak Cornelius, “pak, Zakheus naik dimananya?”, “Zakheus tidak naik pohon ini, tapi pohon sikamor, mirip ara tapi lebih besar”. Tidak ada janji tentang pohon sikamor. Maka ketika Alkitab mengatakan Yesus jalan terus lalu berhenti di bawah pohon sikamor, dan Dia melihat ke atas dan mengatakan “hai Zakheus turunlah, Aku mau mengajak makan di rumahmu”, kalimat ini menggenapi apa yang dikatakan di Zakharia 3 dengan cara yang sangat aneh, karena Tuhan mengatakan ada hasil pohon yang mulai mengeluarkan buah sulung. Saudara mungkin bertanya mana buah sulungnya? Orang yang nongkrong di atas itu buahnya. Itu yang Yesus katakan, Zakheus inilah buah dari Kerajaan Allah. Jadi jangan heran kalau Zakheus memanjat pohon.
Apa kaitan Zakheus memanjat pohon dengan teologiNya Yesus, dengan teologi yang Lukas mau bagikan? Jangan pernah lupa Lukas itu orang Yunani, tetapi yang sangat menguasai Perjanjian Lama. Dia mengerti Tuhan berbicara dengan simbol. Tuhan kita bukan hanya berbicara dengan teologi, dengan pernyataan saja, tapi dengan simbol. Dan bedanya Yesus dengan kita adalah kita pintar membuat simbol, mungkin dalam bentuk ukiran atau lukisan, tapi Yesus membuat simbol di dalam kehidupanNya. Dia menjalani hidup yang menjadi gambaran. Maka kalimat Lukas sangat penting, Yesus berkuasa di dalam perkataan dan tindakan. Waktu berkata-kata, Dia mengajarkan teologi kepada kita. Waktu bertindak pun Dia mengajarkan teologi kepada kita. Dan tidak ada teologi yang lebih indah dibandingkan dengan teologi diriNya yaitu Yesus sendiri, menggenapi seluruh rangkaian di dalam Perjanjian Lama. Apa yang dijanjikan Perjanjian Lama adalah pemulihan bagi Israel, tapi pemulihan bagi Israel tidak hanya mencakup Israel secara bangsa, melainkan pemulihan ini akan menjangkau semua bangsa. Tetapi ketika kerajaan itu datang, mana buah pertamanya? Dan Yesus di dalam Injil Lukas menyatakan ini buahnya. Yesus datang kepada Zakheus, di bawah pohon itu lalu lihat ke atas, ini persis yang dikatakan Tuhan di beberapa bagian di Mazmur maupun Yeremia, “Aku sudah lihat pohon ini, mana buahnya? Karena engkau kering terus, Aku buang”. Yesus lihat ke atas dan pohon sikamor ini tidak kering, karena ada buahnya, dan buahnya itu Zakheus. Yesus sedang menggenapi Zakharia 3. Kamu akan undang temanmu karena pohon ara mulai berbuah. Dan waktu itu Zakheus diundang Tuhan Yesus, Zakheus senang sekali. Alkitab tidak tahu apakah Zakheus mengerti simbol yang sedang terjadi di sini, tapi dia sangat senang karena Yesus mau datang ke rumahnya. Dia langsung mengundang teman-temannya, para pemungut cukai, bawahannya. Lalu mereka kumpul, mereka berbicara, mereka adakan pesta, makan-makan di rumah Zakheus. Pesta yang melambangkan Zakharia 3 karena Tuhan sudah mulai memberikan hasil sulung yang pertama di dalam Kerajaan Allah. Ini pesta yang menyenangkan sekali.
Lalu Alkitab mengatakan orang-orang benar-benar marah karena Dia makan di rumah orang berdosa. Orang lain melihat Zakheus sebagai orang yang disingkirkan, mengapa Yesus mau makan di rumah dia? Waktu Yesus datang ke dalam dunia, Dia merombak cara berpikir orang dan tidak banyak orang suka dirombak cara berpikirnya. Banyak orang bereaksi berbeda-beda waktu pikirannya dirombak, ada yang marah, menolak, membenci. Saya tidak pernah bisa membuat apa pun untuk memukau Tuhan. Kita mau bilang “Tuhan, prestasi saya bagus di kuliah”, Tuhan mengatakan “Aku tidak peduli prestasimu sebagus apa, sorga tidak dibangun oleh kemampuanmu studi”. Atau mungkin Saudara mengatakan “saya ini lulusan arsitek yang paling hebat, saya bisa design-kan sorga lebih bagus dari sekarang”, tidak mungkin, Tuhan tidak perlu design untuk sorga. Kita tidak bisa kasi apa pun. Tapi Tuhan datang untuk panggil yang tidak pernah layak, yang tidak pernah mendapatkan apa pun bahkan di tengah masyarakat, tapi Tuhan panggil. Dan ini menunjukan ketika Yesus sendiri yang berseru kepada Zakheus, “turun, Aku mau makan di rumahmu”. Waktu orang-orang tidak mengerti cara Tuhan memanggil, mereka membuat standar sendiri, membuat urutan sendiri, membuat kelompok siapa yang bagus secara rohani, inilah kelompok yang paling mungkin masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Ini cara berpikir yang salah sekali, kita terus membandingkan diri dengan orang lain lalu membuat peringkat demi peringkat. Tapi orang-orang yang melihat Yesus mau menerima Zakheus, mereka marah bukan main. Mereka mengatakan “jangan makan dengan orang berdosa”, tapi apa yang terjadi? Ayat 8 mengatakan Zakheus berdiri dan mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, setengah dari harta milikku, kuberikan kepada orang miskin”, kalimat ini besar sekali. Maka Lukas menggambarkan Zakheus mengatakan “saya kasi separuh hartaku bagi orang miskin”, berarti dia bebas dari itu. Dan Saudara bisa bayangkan betapa piciknya orang-orang di sekitar Zakheus yang mengatakan “Tuhan, jangan makan di rumah orang ini, karena dia membagi hartanya 50% ke orang lain”, orang ini tidak punya alasan untuk membenci Zakheus. Tapi tetap mereka mengatakan Yesus tidak boleh makan di rumah Zakheus, padahal Zakheus lebih baik dari orang lain, orang-orang rohani yang gila harta. Lukas menekankan bahwa Zakheus lepas dari cinta akan harta setelah dia bertemu dengan Tuhan Yesus. Dia mengatakan “separuh yang saya miliki akan saya berikan”. Berapa banyak kita rela mencintai dengan harta, mencintai dengan memberi, itu sesuatu yang mungkin sulit, tapi perlu kita latih. Siapa malas memberi, dia berada dalam bahaya besar terlalu cinta uang. Siapa malas memberi baik untuk pekerjaan Tuhan, baik untuk sesama, dia berada dalam bahaya besar terlalu cinta uang. Dan untuk menghindarkan diri dari cinta uang adalah belajarlah memberi, tidak ada cara yang lain. Maka di sini dia adalah buah sulung yang tidak pernah disangka. Ketika orang mengharapkan buah ara dari pohon ara, mereka mendapatkan Yesus mengatakan ada Zakheus dari pohon sikamor, itu tidak masuk akal. Tapi Tuhan justru mengatakan inilah cara Kerajaan Allah dimulai di bumi ini. Kerajaan Allah dimulai dengan Tuhan panggil orang-orang yang tidak layak jadi buah sulung, tapi benar-benar Tuhan pakai jadi buah pertama kerajaan itu. Saudara dan saya juga buah-buah yang Tuhan pakai di dalam kerajaanNya, dan kita tahu kita tidak lebih baik dari Zakheus, kita mungkin lebih parah dari Zakheus, tapi Tuhan panggil kita dan mengatakan “hei kamu, Aku mau makan di rumahmu. Kamulah hasil dari Kerajaan Allah”. Dan harap ketika kita menyadari hal ini, kita semakin rindu dipakai Tuhan, seperti Zakheus. Menyadari bahwa kita punya posisi di hadapan Allah dibenahi oleh Tuhan Yesus. Itu sebabnya Yesus mengatakan di dalam ayat 9 “kata Yesus kepadanya: hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun akan Abraham”. Mengapa Yesus mengatakan terjadi keselamatan? Karena Zakheus mendeklarasikan “saya bagikan separuh hartaku pada yang lain”, itu aspek pertama. Aspek kedua, karena orang ini keturunan Abraham, maksudnya adalah Tuhan yang pilih dia. Abraham waktu dipilih, tidak ada prestasi apa pun. Zakheus pun Tuhan yang pilih, bukan Zakheus yang punya jasa untuk datang kepada Tuhan. Tuhan pilih Zakheus dan mengatakan “kamu diselamatkan”. Kita diselamatkan karena Yesus rela menebus kita. Tapi setelah itu kita diselamatkan untuk membawa perubahan sosial di sekeliling kita.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
- Khotbah
- 13 Dec 2017
Soli Deo Gloria
(Filipi 2: 1-11)
Kita bersyukur karena di dalam Reformasi ada tekanan tentang teologia salib. Ini adalah suatu tekanan teologi yang Martin Luther ajarkan melalui kotbahnya atau melalui pemaparan tentang imannya di kota Heidelberg. Pada waktu itu Roma ingin memanggil dia untuk datang ke Roma mempertanggung-jawabkan apa yang dia katakan. Tapi waktu itu Pangeran Fredrick melarang untuk dia pergi. Pangeran Fredrick mengatakan bahwa semua hearing, semua pendengaran, semua pengadilan untuk Luther harus dilakukan di Tanah Jerman, dan dia punya otoritas ketat untuk pertahankan ini, sehingga akhirnya dia memberikan pertanggungan jawab di Kota Heidelberg. Di sini dia membahas tentang perbedaan dari teologi gereja pada waktu itu dengan apa yang Alkitab ajarkan. Dia mengatakan bahwa gereja pada waktu itu mengenal teologia kemuliaan, teologia yang menekankan tentang kemuliaan, tapi bukan kemuliaan Tuhan melainkan kemuliaan diri. Sedangkan Kristus menekankan tentang salib, dan salib beda dengan kemuliaan yang dicari oleh gereja, adalah tempat dimana kemuliaan itu menjadi kosong. Mengapa Yesus mengosongkan diri? Di Surat Filipi dikatakan supaya kemuliaan Allah dinyatakan. Ini adalah hal yang sangat terkait, tidak ada orang yang bisa menyatakan kemuliaan Tuhan tanpa dia mengosongkan diri. Jika kita pegang kemuliaan bagi diri, Tuhan tidak mungkin dipermuliakan. Jika kita mau kosongkan diri, baru kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan. Ini adalah pola yang Surat Filipi nyatakan, karena di dalam Surat Filipi dikatakan Kristus dalam rupa Allah. Kata yang dipakai untuk rupa di sini adalah morphe, dan morphe disini bukan berarti Dia adalah Allah lalu kehilangan ke-Allah-an. Kalau Dia adalah Allah, ketika menjadi manusia Dia berhenti jadi Allah, maka semua berita yang Paulus beritakan di Filipi 2 kehilangan maksudnya. Tuhan Yesus adalah Allah, waktu Dia menjadi manusia, Dia tetap Allah. Dia adalah Allah sejati, Dia juga manusia sejati. Dia mempunyai 2 natur di dalam 1 pribadi, Dia adalah Allah sejati dan Dia adalah manusia sejati. Tapi waktu Dia menyatakan diri di dunia, Dia menyatakan morphe manusia, Dia menyatakan sebagai rupa manusia, bukan Allah. Itu sebabnya Surat Filipi mengatakan bahwa waktu manusia hidup di dunia, manusia harus hidup dengan meneladani Kristus. Mengapa meneladani Kristus begitu penting? Karena kalau seorang meneladani Kristus, dia akan menjadi orang yang menyatakan kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan tidak bisa dinyatakan selain dengan kekosongan dari orang yang mau menyatakannya. Pola ini sangat tidak dimengerti oleh setan Karena dia ingin kemuliaan bagi diri, karena dia penuhi dirinya dengan kemuliaan diri, sehingga tidak ada tempat bagi kemuliaan Tuhan.
Itu sebabnya di dalam Filipi 2 ini ada pesan yang sangat penting untuk kita. Di dalam Filipi 2 diajarkan bahwa Saudara dan saya mesti lihat Kristus, mesti mengamati Kristus, mempunyai keadaan yang meneladani Kristus. Itu sebabnya di ayat yang ke-1 Paulus mengatakan “dalam Kristus ada nasehat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan roh, ada kasih mesra dan belas kasihan”. Paulus mengatakan “kalau kamu ingin jadi gereja yang memuliakan Tuhan, kamu harus lihat kepada Kristus yang memberikan penghiburan, persekutuan, kasih mesra dan belas kasihan”. Paulus meminta untuk semua mempunyai satu pikiran, satu hati dan satu jiwa. Gereja tidak boleh hidup dalam keadaan yang terpecah, tidak boleh punya banyak proyek yang bukan dari Tuhan. Saudara bisa cek dari apa yang dikerjakan oleh GRII, adakah proyek yang bukan pekerjaan Tuhan? Adakah kita buang-buang waktu, tenaga terlalu besar hanya untuk merayakan HUT, misalnya. Tidak. Kita mati-matian kerjakan sesuatu yang berkait dengan rencana Tuhan. Tapi sekarang banyak gereja mendirikan gereja tanpa tahu dia harus pegang doktrin apa. ini tidak terjadi pada GRII, pada waktu Pak Stephen Tong mau mendirikan, dia mengatakan “berteologi Reformed. Kamu baca Westminter Cathecism, kamu baca Westminster Confession of Faith, kamu baca Pengakuan Iman Rasuli, kamu baca dari Heidelberg dan lain-lain. Dari tradisi Reformed” itu yang kami pegang. Maka jika gereja kehilangan identitas, kehilangan arah, kehilangan tujuan untuk melayani, dia akan dipakai setan untuk mengacaukan banyak orang. Dan salah satu indikasi bahwa gereja itu sudah tersesat adalah keinginan untuk terus menjadi besar dan megah, terus ingin menjadi populer, terus ingin menjadi pusat, terus ingin menjadi sorotan yang paling penting. Tetapi Paulus mengingatkan gereja Tuhan tidak boleh seperti itu, gereja Tuhan harus melihat kepada Kristus.
Bagaimana melihat kepada Kristus? Charles Spurgeon pernah mengatakan Tuhan memerintahkan kita untuk mengamati, melihat Kristus, melihat dengan keinginan besar untuk mengadopsi gaya hidupNya. Bukan cuma melihat untuk tahu, tapi melihat supaya saya bisa jalankan yang Dia sudah jalankan. Saya mau jalankan apa yang Kristus jalankan. Dan apakah yang Kristus jalankan? Alkitab mengatakan Kristus menjalankan jalan salib. Apa itu jalan salib? Jalan salib berarti Kristus rela meninggalkan kemuliaan yang Dia memang berhak dapat, poin pertama ini berat sekali. Paulus tidak menyuruh kita untuk melihat kepada yang lain, Paulus suruh kita untuk melihat kepada Kristus. Dan Paulus tidak mengatakan Kristus kehilangan kemuliaan yang asing. Kristus rela kehilangan kemuliaan yang Dia memang miliki. Kalau kita tidak mempunyai kemuliaan, kita tidak kehilangan kemuliaan, itu adalah hal yang wajar. Tapi banyak manusia mengejar hidup seperti ini, hidup untuk dianggap lebih mulia dari aslinya. Orang Kristen yang munafik seperti ini, ingin dianggap lebih suci dari aslinya, ingin dianggap lebih pintar dari aslinya, ingin dianggap hebat dari aslinya, sehingga menampilkan hal yang baik supaya orang menilai dia lebih baik dari aslinya. Ini sebenarnya berlawanan dengan pengertian dari Alkitab yang disebut dengan kemurnian atau kesucian. “Berbahagialah orang yang murni hatinya”, apa itu murni? Murni berarti siapa saya di dalam sama seperti saya di luar, apa yang saya miliki di dalam itulah yang kamu bisa lihat ke luar.
Dan saya ingin bagikan dalam 4 hal yang akan berkait dengan kehidupan praktis kita ketika kita ingin menghidupi kehidupan seperti Kristus. Hal pertama yang Kristus ajarkan kepada kita adalah cara mengosongkan diri, cara pertama adalah kita tidak hidup untuk diri, itu standar paling utama, standar paling penting. Kalau saya hidup untuk diri, saya sulit untuk tidak munafik, saya pasti akan pura-pura, saya pasti akan tampilkan yang lebih baik dari pada aslinya, saya pasti cari kemuliaan lebih dari aslinya, karena saya terus merasa saya mesti hidup untuk diri. Kalau saya hidup untuk diri maka diri harus dianggap hebat, diri harus dianggap pada posisi yang lebih tinggi karena diri yang menjadi fokus dari kehidupan saya. Tapi waktu kita belajar melihat yang lain, pada waktu itu kita belajar melihat diri kita sebagai orang yang mendedikasikan diri bagi orang lain. Waktu seseorang mendedikasikan diri bagi orang lain, pada waktu itu dia akan melihat dirinya menjadi lebih baik. Ketika orang tua mempunyai anak, dia akan mulai lihat dirinya bukan untuk dirinya sendiri, “sekarang saya hidup ada anak, saya harus memelihara dia, mendidik dia, menjadi contoh untuk dia”. Waktu dia melihat kepada pribadi yang lain, baru dia menemukan dirinya menjadi lebih lepas, menjadi diri yang lebih utuh. Manusia tidak pernah diciptakan untuk berfokus kepada diri, manusia diciptakan untuk mendedikasikan diri kepada yang lain. Ini dedikasi diri yang mesti kita pelajari, mesti benar-benar kita ketahui. Tanpa dedikasi kepada yang lain, kita tidak sedang menjadi manusia. Seorang bernama Buber mengatakan manusia itu relasional, kalau dia tidak berelasi dengan yang lain, dia akan habis. Tapi kalau relasi itu hanya sekedar mengenal dan menyapa “hai” itu bukan relasi. Saya yakin banyak di antara kita yang relasinya hanya sekedar “hai”, ini bukan relasi. Bahkan mengenal nama pun belum tentu relasi. Relasi adalah ketika kita mengizinkan diri kita diubah oleh orang yang kepadanya kita berelasi. Kalau kita tetap menjadi diri kita tanpa ada perubahan, tanpa ada penyesuaian untuk berelasi dengan orang lain, kita tidak sedang berelasi. Kalau saya orangnya keras, lalu saya berelasi dengan orang yang mudah sekali hancur, saya mesti kurangi kadar kekerasan saya, kalau terus ngotot orang itu akan hancur. Maka saya mengizinkan diri saya diubah, mengizinkan diri saya berproses supaya saya boleh berelasi dengan orang itu. Itu baru namanya relasi. Di dalam relasi kita akan membuka diri untuk orang yang kita terima di dalam relasi. Makin dalam relasi itu makin besar bagian diri kita yang harus diubah. Demikian ketika kita berelasi dengan Tuhan, kita mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, di dalam relasi ini saya sedang membuka diri saya untuk diubah oleh Tuhan, biarlah Tuhan ubah apa pun yang tidak beres yang harusnya tidak ada pada saya, Tuhan singkirkan. Yang baik, yang harusnya ada, biar Tuhan yang bentuk. Ini hal pertama, bagaimana caranya saya meneladani Kristus? Poin penting nomor satu, Saudara harus hidup dalama relasi, in relationship, tapi bukan dalam arti pacaran. Ketika saya hidup dalam relasi dengan orang, dengan tetangga, dengan yang lain-lain, pada waktu itu saya sedang belajar meniadakan diri. Makin saya mendedikasikan diri bagi yang lain, makin diri saya ditiadakan. Tapi meniadakan diri cuma aspek pertama dari kemuliaan Tuhan yang akan dinyatakan.
Maka kedua, relasi Saudara adalah relasi yang memberkati demi kemuliaan Tuhan. Saudara ingin menjadi berkat untuk orang lain mengenal Tuhan, ingin menjadi berkat untuk orang lain mencicipi kebaikan Tuhan. Di dalam Surat Efesus, Tuhan adalah Tuhan yang begitu baik, Tuhan memberikan kebaikan di sekeliling kita, kita dikurung oleh kebaikan Tuhan. Saudara mau lihat kemana pun, Saudara akan lihat tidak ada inci yang tidak menyatakan kemuliaan Tuhan, ini kutipan John Calvin. John Calvin mengatakan kemana pun kamu memandang, tidak ada inci yang tidak menyatakan kemuliaan Tuhan. Tuhan begitu baik, Tuhan mengurung kita dengan kebaikan. Saudara mau pergi ke kanan, ke kiri, pergi ke depan, ke belakang, lihat kemana pun Saudara akan melihat kebaikan Tuhan sedang dinyatakan. Kita tidak bisa menyangkal ini, Saudara dan saya adalah orang-orang yang sangat diberkati, karena kemana pun Saudara melihat, kebaikan Tuhan itu real. Tapi kalau Saudara lihat kiri kanan cuma lihat hal-hal yang jelek sekali pun, tetap ada hal baik yang Tuhan akan nyatakan kemudian. Sering kali kita mengatakan “Tuhan, saya ingin melihat kebaikan, tapi saya tidak lihat. Saya rasa hidup saya seperti Ayub, semuanya rusak, semuanya kacau”. Bahkan kepada Ayub pun Tuhan meminta Ayub melihat kebaikan Tuhan yang meski pun tidak dimengerti tapi pasti ada di kehidupan Ayub. Orang yang gagal melihat ini akan sulit untuk melepaskan dirinya, mendedikasikan dirinya bagi yang lain. Kalau Saudara mau dedikasikan diri bagi yang lain, pertama-tama Saudara harus sadar bahwa Tuhan itu baik. Bagaimana bisa menolong orang lain, bagaimana bisa menjadi berkat bagi orang lain, kalau kita pun masih bergumul tentang kebaikan Tuhan? Tuhan yang baik adalah Tuhan yang mengurung kita dengan berbagai berkat, sehingga waktu kita sadar kita dikurung oleh berkat yang demikian limpah, kita tidak bisa tidak menjadi berkat. Kita punya kerinduan untuk kosongkan diri demi yang lain karena kita tahu kita tidak akan mungkin pernah kosong. Orang yang menyampaikan firman, akan tahu dia tidak akan pernah kosong meskipun harus menyampaikan firman berkali-kali. Orang yang tidak ingin menyalurkan adalah orang yang belum mengerti mana sumbernya. Kalau sumbernya adalah Tuhan, maka keinginan kita adalah untuk berbagi. Ini poin kedua yang sangat penting, Saudara tidak hanya ingin berelasi, tapi ingin bersumbangsih di dalam relasi itu. Kebaikan kepada sesama manusia adalah kebaikan yang bukan optional. Saudara kurang dalam murah hati, mesti perbaiki kemurahan hati. Saudara kurang dalam berdedikasi, mesti perbaiki dedikasi. Jangan berlindung di dalam hal yang kita sudah kuat lalu mengabaikan hal yang kita masih lemah.
Hal ketiga, di dalam Filipi 2 adalah keharusan untuk mengambil posisi yang rendah, ini aspek ketiga yang penting. Saudara menjadi berkat dengan kerelaan merendahkan diri, bahkan kewajiban merendahkan diri. Sekali lagi Paulus mengatakan perendahan diri itu bukan pilihan. Saudara dan saya tidak diberikan opsi “kamu mau merendahkan diri atau tidak?”, tapi Saudara dan saya dipanggil untuk merendahkan diri. Kita dipanggil untuk meneladani Kristus, bukan kalau bisa ikut Dia. Saudara harus rendahkan diri, itu jadi tuntutan yang Tuhan mau kita kerjakan. Kita semua punya level perendahan diri yang kita kerjakan, ada di antara kita yang mungkin harus terpaksa luangkan uang atau waktu atau apa pun untuk pekerjaan Tuhan, lalu harus merendahkan diri untuk menjalankan pelayanan itu. Menyangkal diri adalah sesuatu yang harus kita kerjakan. Maka waktu saya menjalankan pelayanan dengan keharusan merendahkan diri, pada waktu itu saya tahu Tuhan sedang bentuk saya untuk menjadi orang yang bisa mencerminkan kemuliaan Tuhan.
Yang keempat, di dalam Filipi dikatakan bahwa waktu Saudara merendahkan diri, Saudara merendahkan diri bukan hanya dengan kerelaan, tapi juga dengan ketaatan. Perendahan diri adalah sesuatu yang bisakita pilih, tapi John Calvin juga mengatakan di buku ke-3 kadang-kadang Tuhan akan paksa. Ini poin keempat, Saudara dan saya akan dikosongkan oleh Tuhan, kita akan dipaksa untuk merendah, untuk menghabiskan diri sampai serendah-rendahnya. Dan ketika momen ini tiba, Saudara tidak bisa lihat kepada siapa pun, kecuali kepada Kristus. Kalau engkau tidak melihat kepada Kristus, engkau tidak mungkin memiliki pengharapan. Kalau engkau tidak melihat kepada Sang Juruselamat, engkau tidak mungkin bertahan di dalam keadaan seperti ini. Waktu saya membaca buku ketiga dari John Calvin, saya sangat gentar karena John Calvin mengalami begitu banyak hal sebelum dia menulis buku ketiga ini. Waktu dia pelayanan di daerah Strasbourg, dia mendapatkan seorang istri, kemudian mempunyai seorang anak. Ketika baru datang kembali ke Jenewa, tidak berapa lama anak yang dilahirkan itu meninggal. Kemudian dia mendapatkan anak kedua, ternyata meninggal juga. Anak ketiga dilahirkan dan meninggal juga. Tiga anak dilahirkan dan meninggal waktu usianya masih bayi. Semua orang yang menjadi musuhnya, kumpulkan orang-orang di Jenewa untuk menentang Calvin dengan mengatakan “Calvin itu adalah nabi terkutuk, buktinya anaknya mati semua. Dia bukan orang yang baik, dia adalah palsu, mari kita singkirkan dia dari Jenewa karena dia tidak pernah boleh dianggap sebagai hamba Tuhan yang baik”. Keadaan itu sangat menakutkan bagi Calvin dan keluarganya. Lalu mereka mendirikan begitu banyak kelompok untuk menentang Calvin. Akhirnya Calvin menjadi orang yang dianggap hina sekali. Bayangkan melayani di tempat seperti itu, tapi Calvin tetap lakukan. Calvin mengatakan jika engkau dipaksa untuk merendahkan diri itu cara Tuhan untuk membentuk kerohanian kita. Kita hidup begitu enak, semua serba manja. Saya kadang sedih sekali waktu melihat anak muda yang terlalu mudah menyerah. Ada yang mengatakan “saya tidak bisa datang kebaktian karena gerimis”, karena gerimis tidak datang? Gerimis akan selalu ada, lebih baik ada gerimis supaya tidak kekeringan. Banyak orang yang meng-excuse dirinya, diri capek sedikit langsung di-excuse, diri lemah sedikit langsung di-excuse. Saya sekarang mengerti kekuatan Calvin di mana, di salib. Dia melihat Yesus yang tekun jalan ke salib, sampai mati di kayu salib, dia jalankan hal yang sama. Maka kita semua harus melihat hal yang keempat ini sebagai poin yang utama yaitu Tuhan akan dipermuliakan kalau kita sudah tahu salib kita itu apa. Salib kita adalah keadaan di mana kita rela menghabiskan semua sampai nyawa kita sekali pun, di titik itu. Ada orang yang mengatakan “demi berita Injil, nyawa saya akan saya berikan sampai titik penghabisan”, “saya mau memberikan kekuatan saya untuk membangun bangsa ini”, maka dia akan habiskan kekuatannya sampai mati. Waktu orang mengatakan “saya akan dedikasikan hidup saya untuk generasi muda”, dia akan habiskan hidupnya untuk generasi muda. Kalau orang Kristen mempunyai niat yang kurang dari ini, kita sulit mengatakan kita orang Kristen. Harap kita mengerti Soli Deo gloria. Mengapa ada soli Deo gloria di dalam hati Luther? Karena Luther mengatakan “hidup saya untuk memberitakan firman dan Tuhan akan dipermuliakan”. Waktu Calvin mengatakan dia akan memikul salib pada akhirnya, pada waktu itu kemuliaan Tuhan dinyatakan. Soli Deo gloria.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 13 Dec 2017
Solus Christus
(Yohanes 20:24-28)
Jika kita kembali memikirkan jabatab Kristus sebagai Raja. Yang biasanya salah tafsir akan mengatakan “iya, karena Dia Raja, maka saya anak Raja, saya mendapat privilege”, sepertinya itu salah, di Alkitab tidak ada semacam nepotisme seperti itu. Saudara kenal orang suci kemudian Saudara lebih mudah akses kepada Allah, tidak ada seperti itu, jadi itu pasti penafsiran yang salah. Kemudian apa poinnya kalau kita mau mengenal Yesus secara seutuhnya, Dia adalah Imam, Nabi dan Raja. Raja adalah satu pengertian yang perlu kita pikir sebelum kita menerimanya, karena tidak ada raja yang tidak ada demand sesuatu. Saudara tidak bisa merajakan seseorang, atau punya raja, Saudara tidak punya kewajiban terhadap raja itu. Terhadap imam kita mendapat manfaat, terhadap nabi kita mendapat manfaat. Begitu Saudara menganggap Yesus adalah Raja, itu tidak bisa Saudara merasa dapat manfaat saja. Mungkin yang perlu kita pikirkan adalah “apa yang perlu saya berikan untuk raja, kewajiban apa yang saya perlu dapat untuk saya pikul ketika saya merajakan Yesus?”. Dan kalau orang tidak mau pikul tanggung jawab ini, dia akan ambil tafsiran yang tadi “Yesus Anak Raja, kita semua anak Raja”, privelege. Dan itu pasti hal yang salah. Salah pengertian atau tidak mengerti Yesus sebagai Raja secara tepat, ini membuat Kekristenan hancur lebur.
Kunci pertama dalam pengertian ini yang seringkali kita tidak tepat mengertinya. Kalau kita melihat dari kelahiran Yesus, tidak ada satu fase di dalam hidup Kristus yang tidak menyatakan Dia Raja. Masalahnya adalah diterimakah atau ditolak? Cuma 2 fakta ini. Jadi responnya benar-benar ekstrim, satu sisi menuhankan Yesus, tahu Dia adalah Raja dan benar-benar berespon dengan tepat, dan satu sisi lagi tidak. Saya rasa kalau kita mau memikirkan dengan detail, dengan adil, Raja yang paling berkuasa, Raja di atas segala raja, bahkan yang kita nyanyikan, dan kita mungkin bisa akui, itu adalah Kristus. Tetapi Raja ini adalah raja yang paling mudah kita abaikan, paling mudah kita gulingkan kekuasaannya dan paling mudah dikudeta oleh kuasa lain tanpa kita sadari, atau kita sendiri tergiur untuk mengkudetanya. Kalau Saudara mau melakukan percobaan makar di Indonesia, Saudara akan ditangkap. Berapa banyak kita melakukan pembangkangan, ujaran kebencian kepada Allah, tidak patuh? Itu sering kali, kita lakukan itu dengan beraninya kepada Raja di atas segala raja. Maka tidak heran mengapa Kekristenan bisa sampai sekarang meskipun kita lihat secara KTP mungkin begitu banyak orang Kristen di daerah Kristen, atau kalau kita lihat di Eropa banyak sekali negara yang katanya Kristen, tapi sekarang sudah merosot. Kuncinya adalah bukan karena mereka tidak tahu Yesus bersyafaat, bukan mereka tidak tahu Yesus menyatakan kebenaran, kuncinya adalah mereka menggulingkan Kristus dari tahtaNya. Ini hal serius karena tahta raja mempunyai demand. Demand adalah whole hearted, seluruh hati, whole life, seluruh hidup, whole aspect, seluruh aspek hidup kita. Dan seperti yang dikatakan oleh Abraham Kuyper, tidak ada di dunia ini satu inci di mana Yesus tidak berhak mengatakan that’s Mine. Dan kita melokalisir kerajaanNya, kita menggeser Dia, pindah patok areanya, dan kemudian kita sebagai umat, sebagai rakyat tidak mengakui Dia sebagai Raja. Bahkan kita dengan mudah mengkudeta Dia, inilah problem terbesar. Saudara menjadi Kristen atau tidak Kristen secara keseluruhan, bukan urusan “saya terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat”, menangis, punya catatan memori yang begitu indah tentang pengalaman pertobatan. Tapi kalau Saudara tidak hidup whole hearted, whole life, whole aspect untuk Tuhan dan Kristus adalah Rajanya, kita akan segera menggulingkan Dia cepat atau lambat. Sadar tidak sadar, Saudara sedang mengkudeta Tuhan. Atau Saudara membiarkan Raja Saudara dikudeta orang lain. Fakta ini harus kita deteksi, karena kalau tidak kita akan merasa diri kita nyaman karena merasa sudah Kristen, tapi ternyata kita tidak menghidupinya secara keseluruhan. Kita hanya mengakui Yesus adalah Nabi, Imam dan Raja kalau itu menguntungkan bagi hidup saya, tapi kalau itu menuntut suatu kewajiban, saya akan segera kecewa, membentuk tembok sendiri, dan segera melokalisir dimana Dia bisa bertahta. Sebagian besar orang mentahtakan Yesus sebagai Raja di dalam spiritual. Ini suatu analisa yang sangat baik, kalau kita terlanjur atau sudah melokalisir Kerajaan Yesus di dalam spiritualitas saja, Abraham Kuyper mengatakan di dalam generasi pertama, orang-orang tua akan merasa agamaku agamaku, agamamu agamamu, kita dipublik berdamai saja, ke gereja tidak perlu memaksa orang jadi Kristen, semua orang punya juruselamatnya masing-masing, maka mari merajakan Kristus di dalam kerohanian. Kuyper menubuatkan bahwa generasi kedua tidak akan merajakan Yesus sama sekali, karena orang tuanya bisu, orang tuanya hanya berdoa “beriman di dalam Kristus, Engkau adalah Juruselamatku, Rajaku”, tapi dalam hidup sehari-hari tidak pernah kalimat Kristus diucapkan, tidak pernah merajakan Yesus dibicarakan kepada anaknya. Maka generasi kedua akan tidak tahu, they will passed over in silent. Orang tua mengatakan “anak-anak sebagai orang Kristen kita harus hidup beretika, hidup menjadi berkat, hidup yang memanusiakan orang”, tapi semua sumber atasnya, Rajanya didongkel. Ketika Rajanya didongkel maka prinsip Kristennya naik. Prinsip Kristen naik, hukumnya menjadi abstrak, tak berpribadi. Maka hukum abstrak ini lama-lama akan menjadi bias, apa yang baik pada 500 tahun lalu entah akan menjadi apa 500 tahun kemudian. Ini mudah sekali diisi oleh muatan yang lain karena prinsip Kristen sudah naik. Prinsip kebaikan Kristen, lama-lama prinsip kemanusiaan, semua merosot karena Rajanya sudah hilang. Dan kemudian generasi kedua hanya mengatakan “mari hidup baik-baik, kita bayar pajak, ada asuransi kesehatan, kita tidak boleh serobot antrian orang”, semuanya oke. Lalu generasi ketiga akan melupakan. Dan ini terjadi di negara-negara yang sangat baik pengaturannya. Mengapa mereka bisa begitu empty walaupun hidupnya baik? Karena Rajanya sudah dibuang. Kita sudah menggulingkan Raja itu dengan semena-mena dan itulah yang terjadi, humanity mulai naik. Waktu humanity naik yang terjadi ada beberapa option, bisa ekstrim kiri yaitu dictatorship, humanity, Rajanya hilang. Posisi ini tidak bisa kosong, kita diciptakan dengan urutan dari atas ke bawah yaitu Allah, manusia – Raja, wakil raja, yang pertama tidak bisa kosong. Cuma kalau kita tendang Raja yan asli maka yang naik adalah macam-macam, mungkin kita sendiri. Maka ketika manusia naik menjadi raja akan terjadi dictatorship, komunitas menjadi raja, komunis, atas kepentingan orang banyak. Atau ketika manusia pikir “itu zaman dulu, kita kan berkembang, kita penuh dengan kemungkinan-kemungkinan besar, kita bisa maju” dan segala macam, maka naiklah sains. Sains, ilmu pengetahuan dijunjung tinggi menjadi rajanya manusia. Maka dulu yang tidak bisa terjelaskan, sekarang bisa dijelaskan, dulu kalau gempa orang tidak siap menghadapi gempa, sekarang ada detektor gempa, ada detektor tsunami, apa pun ada detektornya. Jadi kita tidak merasa bagaimaan kepada Tuhan karena yang mengontrol itu bukan Tuhan, semua bisa dideteksi, bisa diantisipasi, bisa diatur. Maka akshirnya sains naik. Atau kalau sains tidak naik, yang naik adalah uang. Uang naik, uang jadi raja. Perhatikan, dulu pusat kota adalah alun-alun, ada gereja, tempat pengadilan dan macam-macam, tapi sekarang pusat kota adalah mall. Saudara tidak akan mengatakan “mari kita kumpul di gereja”, itu tidak mungkin, bahkan hal religius pun ditendang secara konsep umum. Manusia menendang Tuhan, maka ganti yang difokuskan adalah mall. Sekarang semua juction isinya mall, dulu semua juction isinya gereja. Perhatikan kota-kota lama, pusatnya adalah tempat ibadah, Jakarta misalnya ada katedral. Itulah yang terjadi, ketika uang naik menjadi raja, maka kadang-kadang kita pikir ada benarnya juga, terkadang uang ada benarnya juga, menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, mirip Tuhan. Orang tidak ada menjadi ada, misalnya dia tidak hormat kepada saya tiba-tiba bisa jadi hormat ketika saya punya uang, dia tidak taat sama saya bisa jadi taat karena uang, tidak suka bisa menjadi suka karena uang, apa pun bisa dilakukan kalau ada uang.
Akibat karena menggulingkan raja yang sejati, uang menjadi suatu yang kelihatan yang bisa menyatukan prinsip atau kekuatan di atas manusia. Dan semua manusia mau menyembha uang, kemudian waktu uang ini ke atas terus-menerus, somehow manusia akan sampai ke satu titik. Tidak bisa. Uang itu suatu visible, yang kelihatan, manusia tidak bisa hidup yang visible saja. Kita akan tetap merasa kosong, banyak uang tapi tidak bisa beli persahabatan, punya banyak uang tidak bisa beli kesehatan, punya banyak uang tidak bisa beli iman, semua kepuasan hidup tidak bisa dibeli. Ternyata setelah Raja yang asli ditunggangbalikan, muncul raja-raja gadungan, ternyata raja-raja gadungan juga tidak memberi kepuasaan. Maka manusia berpikir mesti ada yang lain, ada yang memberi higher value terhadap hidup kita, memberi kita makna. Maka ketika Raja yang sudah ditendang dan ini dilupakan orang menaikan yang namanya art. Art bisa menjadi pengganti Tuhan yang paling mirip, karena di dalam art atau seni kita bisa dibawa mengenal makna yang lebih tinggi, lebih mendalam, memberikan penjelasan hidup yang lebih kompleks, lebih luas, kita bisa memiliki makna hidup yang memuaskan kita di satu titik, dan ini adalah seni. Saudara bisa membagi dua orang yang tercengkeram seni karena kekosongan raja, rajanya sudah digulingkan, digantikan seni, ada 2 macam. Orang pertama adalah orang yang mengisinya dengan seni yang agung. Maka tidak heran seniman atau orang yang kecanduan seni yang bagus, lukisan yang indah, lukisan yang penuh dengan filosofi, pokoknya luar biasa, mereka senang dengan itu, dan mereka merasa hidup fulfill. Tapi kalau Saudara meninggalkan Tuhan demi itu, itulah menendang Raja dan mengganti dengan hal-hal yang mirip dengan Raja. Tapi ada juga orang yang mengisi dengan seni yang remeh, pornografi, art-art yang remeh, art yang remeh, yang membuat kecanduan. Kecanduannya karena dosa, poinnya dia tidak punya Raja, tahtanya kosong. Maka muncul pesaing dan bakal calon yang masuk, dan itulah yang tidak disadari manusia. Manusia menempatkan oknum-oknum seperti ini, Saudara bisa tempatkan uang, tempatkan seni, tempatkan tradisi, Saudara bisa menempatkan apa pun sebagai raja yang mengontrol hidup kita. Inilah yang terjadi, kita menjadi orang Kristen seringkali tidak menyadari hal ini, kita sibuk melokalisir Yesus di dalam spiritualitas, kita sibuk melokalisir Yesus dalam suatu bidang pelayanan. Kalau pelayanan, Yesuslah Rajanya, tapi kalau kerja, bergaul, bukan Yesus. Maka sebenarnya hidup kita tidak solus Kristus, kita Yesus plus plus, cuma mungkin kita tidak mengakui, karena di dalam hal lain kita menjunjung tinggi raja itu.
Mari kita memikirkan hal ini dalam melihat perjuangan 500 tahun Rformasi, sola-sola ini sangat penting. Solus Kristus, sudahkah kita merajakan Kristus secara seluruhnya? Jangan-jangan kita tidak merajakan Yesus, tapi kita hanya mengambil beberapa aspek. Oleh karena itu bagaimana caranya kita merajakan Kristus? Karena kita kadang tahu konsep idealnya tapi menuju ke sana itu satu pergumulan yang sulit dan kita juga tidak tahu bagaimana caranya kesana. Mari kita lihat Yohanes 20: 24-28, saya akan menyoroti dalam angle yang sedikit berbeda yaitu dengan melihatnya di dalam pengertian Kingship of Christ. Mari kita lihat ini dalam sudut pandang pergumulan orang yang betul-betul mau merajakan Yesus karena dalam konklusi imannya ini adalah konklusi iman yang sangat besar yang diucapkan oleh seorang manusia yang tercatat dalam Injil Yohanes. Langkah pertama adalah kita hanya bisa merajakan Yesus lewat pergumulan. Tidak bisa kita merajakan Yesus hanya dengan sekedar tahu “Yesus adalah Raja, amin”, ini harus lewat satu pergumulan yang tidak asal. Harus mencari satu keakuratan dalam pergumulan ini. Karena kalau kita salah mengerti, salah bergumul, maka kita akan mudah jatuh. Banyak orang Kristen menjadi Kristen karena terburu-buru mengambil konklusi iman. Banyak keturunan orang Kristen menjadi Kristen karena terburu-buru mengambil konklusi iman. Dalam pengakuan iman Tomas, kata yang sangat penting yang ada di sini adalah kata “ku”. “Ku” di sini menunjukan pergumulan yang dikunyah sendiri. Saudara dan saya harus bergumul sendiri dan mengambil satu komitmen “Tuhan, Engkau adalah Rajaku, my whole herat, my whole life, my whole aspect, saya persembahkan untuk Engkau”, itu baru kita benar-benar menjadi Kristen. Eropa kurang apa Pengakuan Iman Rasuli, tapi berapa banyak yang betul-betul merajakan Yesus? Tidak ada. Sumatera Utara kurang apa Pengakuan Iman Rasuli? Ambon, Manado kurang apa Pengakuan Iman Rasuli? Tidak ada, tapi mereka tidak betul-betul bergumul mengambil standing point sebagai orang Kristen, maka itu tidak akan jadi apa-apa. Kita pasti merajakan Yesus dalam spiritualitas, mungkin. Tapi kita pasti tidak merajakan Yesus dalam seluruh aspek, karena kita tidak pernah bergumul dengan akurat dan memikirkan secara serius. Ini adalah hal serius yang mesti kita ambil secara komitmen iman.
Bagian kedua, setelah bergumul kita mesti sampai kepada konklusi yang benar yang kita gumulkan. Tomas menggumulkan dia mesti lihat, kalau katanya Yesus bangkit, sudah disalib dan bangkit, dia mau lihat bekas salibnya dan tanda kebangkitan. Karena hanya disitulah fondasi iman Kristen berdiri. Tomas tidak bergumul di dalam hal yang tidak essensial, dia tidak mengatakan “saya mau lihat Tuhan meredakan angin ribut, saya mau melihat Tuhan melakukan mujizat”, Tomas mengatakan “kalau Dia benar-benar bangkit, saya mau lihat bekas tangannya, karena itu adalah tanda Dia yang disalib itu Dia yang bangkit”. Dan itu yang mau kita kejar di dalam merajakan Yesus, mengapa mesti di situ? Karena di situ titik poin Dia adalah Raja yang betul. Mengapa titik poin bahwa Dia raja yang betul adalah ketika Dia mati dan bangkit? Karena kematian dan kebangkitan Kristus mengalahkan penguasa dunia ini. Ada 2 beda yang jelas, satu sisi Tuhan Yesus sendiri mengatakan setan adalah penguasa dunia ini, ruler of this world, dan kemudian Yesus adalah Raja dunia ini. beda Raja dan penguasa adalah penguasa selalu mengeruk keuntungan, Raja selalu memikirkan bagaimana rakyatnya. Maka yang mau dikejar oleh Tomas bahwa Dia adalah Raja, Dia mesti bisa mengalahkan kuasa yang paling besar, yang sementara ini menguasai dunia, bagaimana caranya? Waktu Dia mengusir setan? Bukan, tapi waktu Dia mati dan bangkit. Maka itulah yang dikejar oleh Tomas “saya mau mempunyai standing point ini, maka saya baru mengenal Tuhan”. Saudara hanya bergumul terus-menerus tentang Yesus yang menjawab doa saya, Yesus yang begini begini. Saudara belum secara esensi mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Raja. Mengenal sampai esensi terdalamnya apa, kalau Dia adalah Raja maka Dia adalah Raja yang mengalahkan kematian. Kalau Dia adalah Raja yang bisa memerintah saya, maka Alkitab sudah memberikan pengertian kepada kita, Dia adalah Raja yang mengasihimu terlebih dahulu. 1 Yohanes 4: 19, kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Dia menjadi Raja bukan dengan mengikat kita dengan janji palsu, Dia menjadi Raja dengan memberikan kita kasih terlebih dahulu. Raja itu memikirkan umatNya, Dia bukan ruler yang memanfaatkan umatNya. Dia adalah Raja yang mau memberikan apa yang Dia punya untuk kesejahteraan rakyatNya. Inilah Raja yang kita sembah.
Setelah 2 step ini, Tomas masuk dalam pengakuan iman yang sangat klimaks yaitu dikatakan “ya Tuhanku dan Allahku”, my Lord and my God. Saya beberapa kali dalam doa selalu bilang “dalam nama Tuhan Yesus, Raja dan Tuan kami, kami berdoa”, karena saya mau mengingatkan diri saya akan teks ini, Pengkotbah mengatakan “if you receive Christ as your Savior but He is not your Lord at all, He is not your Savior at all”. Kita sering dengan mudah mengatakan “terima kasih Tuhan Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin”, kita tidak tahu ternyata Juruselamat itu punya power yang begitu besar, yang harusnya mendominasi hidup kita. Yohanes mencatat ini sebagai pengakuan iman yang klimaks. Sederhana, “ya Tuhanku dan Allahku” my Lord and my God, “saya percaya Engkau menciptakan saya, dan saya percaya Engkau memerintah saya. Dan saya akan berikan the whole heart, the whole life, the whole aspect untuk diperintah oleh Tuhan”. Ini namanya pengakuan iman sejati dan ini namanya Solus Christus.
- Khotbah Tematik
- 31 Oct 2017
Sola Scriptura
(2 Timotius 3: 14-17, 2 Petrus 1: 19-21)
Hari ini kita akan mengingat salah satu poin dari sola-sola yang dikemukakan oleh reformasi. Keunikan dan signifikansi dari pada reformasi adalah kata yang sederhana yaitu sola. Kita tidak bisa mengatakan “tinggal ditambahkan satu kata sola saja, semuanya beres”, karena untuk mengembalikan sola ini ke dalam posisi yang seharusnya, ternyata perjuangan Reformasi yang didahului dengan orang-orang pra-reformasi yaitu tahun sekitara 1200an, 1300an, itu menambahkan kata sola tidak seperti Saudara dan saya menambahkan satu kata editan ke dalam satu buku, tapi mereka membayarnya dengan perjuangan, pergumulan, peperangan dan bahkan dengan mati dipanggang hidup-hidup di atas kayu-kayu kering. Kita bisa mengingat ratusan tahun sebelum reformasi Luther, 1517, maka ada seorang bernama John Wycliffe 1329-1384, dia adalah orang yang mulai mempertanyakan ajaran-ajaran dari Gereja Katolik Roma saat itu dan kemudian mulai mengajarkan kepada jemaat pengajaran yang benar, kemudian mulai menerjemahkan Alkitab, dan ternyata Wycliffe mengalam condemn yang besar dari Gereja Katolik Roma saat itu. Kemudian disusul Jan Hus 1374-1415, Jan Hus bahkan sampai dibakar hidup-hidup karena dia insist menerjemahkan Alkitab, dan saat itu Alkitab tidak ada dalam bahasa mana pun selain bahasa Latin, Ibrani, Yunani. Tidak ada dalam Bahasa Inggris, Prancis, Jerman. Lalu kemudian disusul William Tyndale, 1526, dia meninggal dan kemudian di atas bakaran kayu dia mengatakan satu doa yang sangat mengharukan “Lord, open the King of England’s eye”, supaya penerjemahan ini bisa dilakukan. Dan itu semua mendahului apa yang digumulkan juga secara keras dan mendalam oleh Luther, kemudian bergulirlah satu roda besar yang namanya Reformasi dan menggelinding sampai sekarang dan itu merupakan intervensi Tuhan.
Lalu apa yang mereka perjuangkan? Mereka memperjuangkan salah satunya adalah Sola Scriptura, hanya Alkitab yang memegang otoritas mutlak dalam kebenaran, hanya Alkitab yang memegang otoritas mutlak dalam penafsiran kebenaran, hanya Alkitab yang boleh mengatasi segala macam tradisi manusia, bahkan tradisi gereja yang mungkin sudah dikontaminasi oleh pengertian-pengertian yang salah. Zaman itu adalah zaman dimana banyak orang 500 tahun lalu buta huruf, mereka tidak bisa membaca dan tidak ada mesin cetak seperti sekarang, sehingga mereka tidak mempunyai Alkitab. Alkitab dicopy dengan cara ditulis satu huruf demi satu huruf, karena tulisan tangan maka kerjaannya cukup lama, hasilnya cukup mahal, berarti tidak semua orang bisa punya, kalau punya pun tidak ada gunanya karena tidak bisa baca. Maka memperjuangkan sola scriptura menjadi satu-satunya otoritas adalah satu hal yang penting karena dengan tidak adanya akses, tidak ada kekuatan, monopoli interpretasi, dan mahalnya Alkitab yang tidak tersedia juga dalam berbagai bahasa, mereka tidak punya akses pada kebenaran yang katanya adalah firman Tuhan. Maka hanya mengandalkan kotbah yang mereka dengar, kotbah yang mereka dengar zaman itu Gereja Katolik Roma sangat besar, menunggangi politik, sehingga sangat mungkin sekali bias dengan kepentingan politik saat itu. Tapi kalau begitu kita jadi berpikir sekarang tidak perlu sola scriptura, toh kita semua punya Alkitab, kita sekarang mau interpretasi apapun juga dari yang apl;ing sesat sampai mendekati kebenaran juga ada, Saudara tinggal cari di Youtube. Kita juga tidak perlu jenjang tertentu untuk bisa punya akses terhadap Alkitab, sekarang kita bisa punya Alkitab dalam berbagai macam terjemahan. Mari kita baca, 2 Timotius 3: 14-17 dan 2 Petrus 1: 19-21.
Kita mungkin tidak berhadapan dengan otoritas Paus zaman Katolik Roma 500 tahun yang lalu, seperti yang Luther hadapi. Tetapi di dalam kita mempertahankan kata sola dalam sola scriptura, menurut Abraham Kuyper, Saudara dan saya sedang berhadapan dengan pseudo wisdom, bijaksana yang sepertinya cukup komprehensif, yang cukup menjelaskan banyak hal, dan cukup rasanya kita bisa percaya, karena penjelasannya lumayan tidak semudah itu. Tapi pseudo wisdom adalah penjelasan-penjelasan yang menjelaskan fakta yang tidak berpijak pada Alkitab. Jadi adanya penjelasan-penjelasan yang sepertinya menjelaskan tetapi kalau tidak berpijak pada kebenaran Alkitab maka mereka hanya berupa penjelasan-penjelasan kosong yang kelihatannya bijaksana, tapi tidak menjelaskan apa-apa. Dan ini yang kita hadapi, kita dikelilingi pseudo wisdom yang bisa menjelaskan banyak hal. Saudara mau tahu tentang penciptaan, “hari ini siapa yang masih percaya cerita Adam dan Hawa, itu hanya cerita anak Sekolah Minggu”. Kuyper pernah mengantisipasi dengan mengatakan seperti ini di dalam buku Pro-Rege, dia mengatakan banyak anak lulus SMA, mereka dengar cerita Alkitab di Sekolah Minggu, tapi begitu mereka masuk bangku kuliah, mereka bertemu dengan pseudo wisdom, mereka langsung terpukau, dan mereka baru tahu inilah yang benar, “cerita Sekolah Minggu hanya penghantar supaya beriman, lebih dari pada itu tidak ada. Ternyata ini yang bijaksana sejati. Orang yang percaya Alkitab itu cupu sekali, yang cuma tahu beriman, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan segala sesuatu”. Kita sudah tertipu di dalamnya karena kita pikir itu penjelasan yang ilmiah, lebih komprehensif, lebih mendalam. Tapi jangan lupa itu adalah pseudo wisdom yang sama sekali tidak berkait dengan Alkitab. Saudara dan saya akan bisa mengetes sejauh ini apakah kita hidup berdasarkan sola scriptura atau hidup kita dibangun di atas pseudo wisdom ini. pertanyaan-pertanyaan diagnostik yang Saudara bisa jawab adalah hal apa atau pikiran apa yang paling banyak membentuk pola pikir Saudara? Lalu kata-kata atau siapa atau pihak mana yang paling otoritatif yang Saudara rasa itu bisa menjawab apa yang Saudara tanyakan dalam hidup. Ketiga, kata-kata mana yang paling banyak mempengaruhi Saudara mengambil keputusan? Keempat, kata-kata mana yang bisa menghibur Saudara ketika Saudara di dalam masa krisis? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang kalau kita jawab, kita akan mengerti ternyata jawaban yang kita terima yang mempengaruhi keputusan kita, baik keputusan kecil atau besar dalam kehidupan sehari-hari, apakah itu sola scriptura atau itu adalah kumpulan pseudo wisdom yang kita kumpulkan dari berbagai macam aliran yang ada di dunia ini? ini adalah betul-betul hal yang perlu kita perhatikan, karena di dalam 2 Timotius 3: 15 dikatakan “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus”. “Kalau keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus, saya tahu, karena memang Yesus kan satu-satunya Juruselamat, mana mungkin saya percaya agama lain, karena dari kecil saya Kristen. Kalau urusan keselamatan, saya sudah mengerti”, hampir kita secara mayoritas percaya sola scriptura. Tapi kemudian kita seperti orang yang mengunci pintu dan membuka jendela, karena setelah itu urusan hikmat hidup sehari-hari, mendefinisikan apa itu sukses, apa itu pernikahan, apa itu pergaulan, apa itu keren, apa itu diterima masyarakat, kita pakai pseudo wisdom yang ada di sekeliling kita. Saudara gembok rapat-rapat, satu-satunya jalan keselamatan hanya Kristus, itu betul, tapi Saudara buka juga semua jendela. Kalau rumah seperti itu saya rasa pencuri akan masuk dan semuanya habis dirampok. Kita lupa sola scriptura tidak hanya sekedar ke gereja tiap hari Minggu, beriman, pertumbuhan rohani, sola scriptura itu menyangkut seluruhnya karena Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang menciptakan Saudara dan saya, Allah yang menciptakan di luar Saudara dan saya. Maka hal-hal yang berkaitan dengan Saudara dan saya dan diluar Saudara dan saya sepertinya harusnya sola scriptura. Kalau kita pikirkan hikmat, dikatakan dalam ayat 16 “menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran”, kita hanya memikirkan “oke ini diajar, memperbaiki kelakuan yang dulunya malas jadi rajin. Mendidik orang dalam kebenaran, jangan jahat-jahat jadi orang”, bukan. Ini menjawab pertanyaan yang Saudara mesti jawab, hikmat itu berbuat apa? Poin mengajar adalah what to do? Sola scriptura mengajarkan kepada kita apa yang harus kita kerjakan. Lalu menyatakan kesalahan, what not to do? Apa yang tidak boleh dilakukan? Pantas, tidak pantas. Dari mana kalau dari luar Alkitab? Saudara akan pakai pseudo wisdom. Memperbaiki kelakukan, what should be done? Kalau saya tidak boleh begini, maka saya harus berbuat apa? Lalu mendidik orang dalam kebenaran, definisinya apa? Baik itu apa, jahat itu apa, berkenan kepada Tuhan itu apa, bijaksana itu apa, sukses itu apa, terkenal itu apa, berkontribusi bagi masyarakat itu apa, menderita itu apa? Semuanya itu Saudara definisikan dari mana? Dan kita seringkali neglect sola scriputra, karena kita pikir sola scriptura ini urusannya kalau saat teduh mesti pakai Alkitab, ke gereja bawa Alkitab. Maka hanya berurusan dalam lingkup rohani, kita pasti pegang Alkitab. Tapi begitu berurusan dengan hikmat, faktanya setiap hari kita sering dibentuk oleh pseudo wisdom itu setiap hari. Maka tidak heran, kalau urusan ke gereja seminggu sekali, Senin sampai Sabtu Saudara dibentuk oleh pseudo wisdom, maka Saudara bukan menjadi orang Kristen, itu tidak heran.
Kita sering berpikir seperti ini, jadi Kristen itu seperti gelas, diisi firman Tuhan sampai penuh. Kalau Senin-Sabtu jadi kurang sedikit sampai setengah, Saudara pikir masih baik-baik saja, belum sampai kosong, saat teduh masih bolong-bolong, jarang baca Alkitab, tapi masih oke, tidak jahat-jahat sekali. Maka Hari Minggu diisi lagi, kalau perlu seharian di gereja. Kemudian Senin, kita merasa no guilty feeling, kita masih Kristen. Tapi ini cara yang salah melihat pembentukan pola pikir, pola pikir tidak bisa diisi. Pola pikir itu dibentuk, seperti Saudara membentuk keramik. Kalau membentuk keramik menggunakan alatnya yang berputar itu, ketika Saudara tidak sengaja dipanggil orang dan tangan Saudara menyenggol keramik yang sedang dibentuk, bentuknya jadi lain. Tidak harus rusak, tapi bentuknya lain. Saudara jadi Kristen juga begitu, Hari Minggu dibentuk, tiba-tiba hari Senin-Sabtu sudah jadi guci yang tidak tahu bentuknya, jadi lain. Kemudian Hari Minggu dirombak lagi, karena ini belum kering, Saudara belum mati, kalau sudah mati berarti sudah tidak bisa dibentuk lagi. Tapi kira-kira begitu terus, maka tidak heran mengapa kita tidak bisa menjadi orang Kristen, karena kita hanya satu kali hari Minggu. Sola scriptura, bukan hanya membaca Alkitab saja dan tidak baca yang lain, tapi Saudara perlu baca Alkitab untuk bisa mengerti yang lain. Mari kita kembali pada otoritas firman, sola scriptura adalah otoritas tertinggi yang memimpin hidup kita, kita tidak bisa tafsirkan lain selain Alkitab yang adalah firman Tuhan. Dan ini pasti perlu perjuangan, bukan haya sekedar Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu kemudian langsung tiba-tiba bisa, pasti tidak seperti itu.
Hal kedua, mengapa keseluruhan Alkitab adalah sola scriptura? Karena Alkitab menjelaskan Tuhan siapa yang Saudara dan saya percaya. Alkitab mengatakan Allah Tritunggal, mengapa harus Allah Tritunggal? Karena hanya satu-satunya kita percaya kepada Allah Tritunggal, kita bisa mempunyai dasar yang kuat, apa itu person, apa itu relation, apa itu community, di luar itu Saudara dan saya tidak bisa menjalaninya dengan konsisten antara Allah yang kita percaya dan hidup yang kita hidupi. Hanya Allah Tritunggal yang memungkinkan ada pribadi, kemudian pribadi saling berelasi, dan relasi antara 2 pribadi bisa dinikmati oleh pribadi yang ke-3. Maka sama, ini menjadi pattern yang sangat bisa dihidupi kalau Saudara dan saya mau konsisten antara iman dan praktek. Kita seringkali mau prakteknya saja, suami istri harus saling mengasihi, Efesus 6, yang dibuka itu terus. Saudara lupa, kita bisa mempraktekan relasi suami istri karena ada Allah Tritunggal, relasi Allah Bapa dan Allah Anak yang dinikmati oleh Roh Kudus. Ada pihak ketiga yang menikmati. Dalam keluarga ada suami, istri dan anak, itu menjadi satu society di mana ada eksklusifitas, tetapi juga ada pluralitas. Kedua, kita bisa mengatakan mau hidup baik, 2 Timotius 3: 17, “dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”, apalagi di atasnya sudah diberi tahu untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik dalam kebenaran. Apa maksud dari perbuatan baik? Tidak mencuri, jangan egois, jangan membunuh, jangan terlambat, jangan pelit, semua yang sifatnya hanya seperti itu saja. Kita tidak bisa melakukan perbuatan baik yang sungguh-sungguh berkenan kepada Allah kalau Saudara tidak tahu the whole message. Sekali lagi, kita menafsirkan ayat 17 segala perbuatan baik adalah perbuatan yang definisi kita baik tapi kita tidak tahu baiknya Tuhan itu seperti apa, kita tidak mengerti karena kita tidak mau concerning His whole message, kita tidak mau pegang sola scriptura. Kita menentukan sendiri “Tuhan, pokoknya saya sudah dengar firman Tuhan, saya bisa tentukan mana yang baik dan jahat. Tuhan menyuruh saya berbuat baik, maka saya lakukan perbuatan baik, tapi kita tidak mau tahu apakah perbuatan baik kita cocok dengan Tuhan, pokoknya perbuatan baik, tidak saya langgar. Itu bukan sola scriptura, itu namanya your own wisdom, karena kita tafsirkan sendiri apa yang menurut kita baik, sejauh tidak menyalahi aturan Tuhan. Itu tidak cukup, karena perbuatan baik adalah Saudara menjalankan apa yang menjadi keseluruhan firman dari penciptaan sampai Tuhan Yesus datang kembali. Maksudnya adalah apa yang Saudara kerjakan berbagian di dalam cerita besarnya Tuhan dari penciptaan, jatuh dalam dosa, penebusan dan Tuhan Yesus akan datang kembali. Yang Saudara jalankan adalah berbagian dalam hal ini, ada kaitannya, itu baru namanya kita mengerjakan perbuatan baik yang diperkenan oleh Allah. Karena kita tahu rencana Dia apa, kita tahu maksudnya Dia menciptakan segala sesuatu itu apa, maksudnya Tuhan menebus itu apa, maksudnya Tuhan akan datang kembali itu apa. Kita seringkali tidak mau tahu rencana besar, kita hanya ingin tahu apa yang praktis, menguntungkan, bisa dikerjakan, dan akhirnya sebenarnya kita tidak mengerjakan apa-apa. Kita sibuk bekerja tapi kita tidak mengerjakan apa-apa, karena apa yang Tuhan minta tidak kita kerjakan, kita kerjakan yang lain. Dan itu bukan sola scriptura.
Sola scriptura juga memberikan kita satu package Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita mengenal Yesus sebagai Raja, Mesias, Juruselamat, apa pun juga, kalau Saudara lepaskan dari konteks Perjanjian Lama, kita sudah tidak bertanggung jawab, karena kita hapus itu creation, fall, tahu-tahu redemption. Tiba-tiba muncul Tuhan Yesus, bagaimana ceritanya dari awal kita tidak tahu. Dan kita hanya merasa ini supaya kita masuk sorga, supaya kita ditebus, hati kita yang hitam menjadi putih. Tidak bisa seperti itu. Saudara harus tahu the whole package. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru semuanya sinkron, semua menuju satu puncak yaitu Yesus. Sehingga Saudara bisa melihat betapa hebatnya Tuhan kita. Karena dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, dari Allah mencipta, manusia jatuh dalam dosa, penebusan dan sampai nanti Tuhan Yesus datang kembali seperti di dalam janji Wahyu, itu semua mengapa begitu lama? Dari Adam ke Yesus, Kejadian ke Matius mengapa sampai ribuan tahun? Apakah Saudara pernah memikirkan itu? Karena Tuhan mau memberitahukan bahwa rencanaNya real bukan mitos.
Dan ini yang membuat kita mengerti mengapa perjuangan kita belum selesai. Reformasi boleh 500 tahun yang lalu, tapi kita punya challenge tersendiri dalam zaman kita sekarang, dalam gereja Tuhan menjalankan sola scriptura. Karena sola scriptura akan berbenturan keras atau lembut dengan banyak pseudo wisdom yang mengeliling kita. Harap kita terus berdoa “Tuhan, ikatlah hatiku di dalam kebenaran firman. Saya tidak bisa melakukan yang lain kalau hati saya sudah diikat oleh kebenaran”. Dan ini menjadi doa kita bersama, barulah kita menjadi orang yang meneruskan reformasi.
- Khotbah Tematik
- 31 Oct 2017
Sola Fide
(Galatia 2: 15-21)
Ayat 16, tidak ada seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat. Bagian ini memuat pernyataan Paulus mengenai justification by faith, bagian ini merupakan statement of faith-nya Paulus mengenai justification by faith alone. Kita perlu mengerti baik-baik, tidak cukup hanya berkata justification by faith, karena Gereja Katolik pun prcaya justification by faith. Kata alone sangat penting. Persoalan antara Gereja Katolik dengan Protestan itu bukan faith-nya, tapi faith alone-nya. Karena itu slogan dari Reformasi sangat menarik karena sola gratia, sola scriptura, karena di sinilah titik perdebatan antara Gereja Katolik pada zaman itu dengan Gereja Protestan sampai hari ini, mengenai faith alone. Alone artinya tidak boleh ditambah, tidak ada tambahan yang bisa diberikan ke dalamnya, itu namanya alone. Maka setiap kali kita memperingati Reformasi kita selalu diingatkan dengan 5 slogan yang dimulai dengan sola. Sola artinya hanya atau alone, tidak boleh ditambah lagi, sudah cukup pada dirinya. Paulus menegaskan pandangan dan posisinya mengenai justification by faith alone, pembenaran hanya oleh iman. Mengapa Paulus menuliskan bagian ini? karena Jemaat Galatia mulai meninggalkan doktrin pembenaran hanya oleh karena iman. Waktu Paulus mendirikan gereja di Galatia, dia sangat tegas “manusia dibenarkan oleh iman bukan karena disunat, bukan karena melakukan Hukum Taurat”. Paulus dilahirkan dalam agama Yahudi, dia dibesarkan dalam keluarga Yahudi, murid-murid Tuhan Yesus yang pertama juga orang Yahudi, mereka sangat identik dengan Hukum Taurat dan sunat. Orang Yahudi yang tidak disunat bukanlah orang Yahudi, bukan karena dilahirkan dalam keluarga Yahudi, orang menjadi Yahudi. Tapi karena disunatlah maka orang menjadi orang Yahudi. Sunat itu adalah obedience. Saudara perhatikan bagaimana Yesus harus disunat, karena sunat itu merupakan first obedience. Saudara tidak disunat, Saudara bukan Yahudi, Saudara tidak disunat, Saudara bukan covenant people. Saudara tidak disunat, Saudara bukan siapa-siapa, Saudara tidak berhak atas janji Allah kepada Abraham. Agama Yahudi itu sangat menekankan justification bukan by faith, tapi by obedience, Saudara dibenarkan karena Saudara disunat. Walaupun Saudara belum bisa memutuskan disunat atau tidak, orang tua Saudara mewakili Saudara. Orang tua Saudara mewakili Saudara, membawa Saudara ke Bait Allah, disunat sebagai tanda ketaatan. Mereka berpikir ketaatannya itulah yang membenarkan mereka. Salah satu pergumulan orang sejak kejatuhan sampai sekarang adalah bagaimana supaya diterima oleh Allah. Nama lain dari justification adalah acceptance, dibenarkan oleh Allah berarti diterima oleh Allah. Ketika Adam memakan buah dari pohon pengentahuan tentang yang baik dan jahat, hal pertama yang dilakukan oleh Allah kepada dia adalah rejection. Setelah Adam memakan buah itu, semua manusia membawa bekas rejection itu kemana pun. Bukan hanya Kekristenan yang bicara mengenai justification, setiap agama bicara tentang justification, bagaimana kita bisa diterima oleh Allah. Bukan hanya orang beragama yang bicara mengenai penerimaan, orang sekuler pun bicara mengenai penerimaan. Bukan justification-nya, tapi justification by what? Orang Batak mau Kristen atau pun tidak, justification-nya ada 3, yaitu harta, keluarga, kehormatan. Orang yang beragama cari justification, orang sekuler pun cari justification. Intinya kita itu ingin diterima. Bagaimana dengan orang sekuler? Kekayaan, kekuasaan, harta, popularitas. Orang beragama dan sekuler mencari hal yang sama, mencari justification. Pada zaman Martin Luther, pergumulannya juga sama, pergumulan Paulus dan Martin Luther mirip.
Nama lain justification adalah acceptance, bagaimana saya diterima. Di dalam kondisi itulah Paulus berbicara kepada jemaat Galatia, karena mereka mulai meninggalkan justification by faith alone. Latar belakangnya, sekelompok Yahudi Kristen masuk ke dalam gereja dan mengajarkan kepada jemaat Galatia bahwa seseorang dibenarkan jika melakukan Hukum Taurat. Orang-orang Galatia ini bukan orang Yahudi, jadi mereka tidak akan disunat dan mereka juga tidak punya kewajiban melakukan Hukum Taurat, tapi mereka percaya kepada Kristus. Di tengah perjalanan, waktu Paulus sudah pergi dari Kota Galatia, masuklah sekelompok orang Yahudi Kristen, mereka mengajarkan bahwa percaya saja itu tidak cukup. Dan orang Yahudi itu bertanya kepada orang Galatia, mereka tahu hal itu dari mana, dijawab dari Paulus, dan orang Yahudi itu mengatakan kalau Paulus adalah rasul gadungan. Itulah sebabnya mengapa Surat Galatia dimulai dengan perkenalan diri Paulus, dia memperkenalkan dirinya dalam satu pasal yang panjang. Di saat-saat seperti itulah maka Paulus menuliskan suratnya yang begitu keras. Galatia adalah satu-satunya surat Paulus yang sangat keras, tidak ada surat lain dimana Paulus begitu marah. Hanya satu surat dimana Paulus berkata “orang Galatia yang bodoh”, saya bayangkan pakai surat saja ada kalimat seperti itu, bagaimana kalau bertemu langsung. Leon Morris mengatakan ini satu-satunya surat yang ditulis oleh Paulus dengan rasa kemarahan dan kegeraman. Mengapa Paulus marah? Karena doktrin. Ini bukan zamannya lagi orang marah-marah karena doktrin, yang penting hidup baik. Saya yakin orang Galatia itu adalah orang yang baik. Paulus bisa marah karena jemaat Galatia meninggalkan doktrin yang benar kepada doktrin yang salah. Dan zaman kita adalah zaman yang bingung karena persoalan doktrinal dibuat seperti demikian. Bagi Paulus persoalan doktrinal adalah persoalan yang kekal, life and death. Hari ini orang tidak memikirkan life and death, terserah apa yang dipercaya yang penting baik, mau dipercaya apa pun itu tidak penting. Zaman kita adalah anti intelektual, “apa pun yang kamu percaya itu urusanmu, yang penting bagaimana kamu menghidupinya”, itulah yang terjadi pada zaman sekarang. Rasul Paulus marah karena Jemaat Galatia meninggalkan doktrin yang benar dan doktrin ini sangat penting bagi Paulus, justification by faith. Ayat 21, jika justification by faith itu salah maka Christ died for nothing, taruhannya Kristus. Tidak heran Martin Luther mengatakan justification by faith adalah doktrin dimana gereja akan jatuh dan bangun. Gereja dipegang akan berdiri, gereja dilepas akan roboh.
Pada zaman Martin Luther, gereja kehilangan kembali doktrin ini. Jemaat Galatia sudah mulai meninggalkan doktrin ini, Paulus tarik mereka kembali. Tapi ratusan tahun kemudian, gereja kehilangan doktrin ini lagi. Banyak orang mengatakan Reformasi itu menemukan yang baru, itu salah, itu bukan arti Reformasi, karena ada kata re yang artinya kembali, form artinya bentuk. Martin Luther tidak menemukan sesuatu yang baru, dia hanya mengembalikan sesuatu yang lama. Gerakan Reformasi bukan gerakan yang menciptakan sesuatu yang baru, tapi gerakan yang ingin membawa kembali yang benar dan lama itu ke dalam gereja. Sebelum zaman reformasi disebut dengan later middle ages, 1300-1500, gereja ada di mana-mana, tapi Injil tidak ada di dalam gereja, itulah ironinya abad pertengahan. Pada zaman gereja mula-mula itu terbalik, gereja tidak ada dimana-mana, hanya di tempat-tempat tertentu, tapi ada Injil di situ. Injil dulu baru gereja. Yesus hidup, naik ke sorga, itulah Injil. Injil yang memulai gereja. Tapi anehnya dalam perjalanan sejarah, gereja berdiri, kehilangan Injilnya. Injilah yang mendirikan gereja, tapi hari ini, sampai zaman ini banyak gereja yang sudah kehilangan Injil. Inilah yang terjadi pada zaman later middle ages, gereja dimana-mana, tapi tidak ada Injil di dalam gereja. Ketika tidak ada Injil di dalam gereja, maka tidak ada lagi bedanya ada gereja atau tidak ada gereja. Martin Luther bukan menemukan sesuatu yang baru, dia hanya mengembalikan Injil ke dalam gereja. Karena pada saat itu gereja sudah kehilangan Injil. Mungkinkah gereja kehilangan Injil? Sangat mungkin, di setiap zaman, gereja berpotensi kehilangan Injil. Di setiap zaman gereja berpotensi meninggalkan Injil, gedungnya ada, Injilnya tidak ada. Maka tidak heran memilih nama Reformed Injili itu sudah tepat, karena gerakan Reformasi adalah gerakan mengembalikan Injil ke dalam gereja, maka Gereja Reformasi adalah gereja yang harus mengabarkan Injil. Mengapa gereja Reformasi hari ini ada yang tidak memberitakan Injil? Jangan-jangan sudah kehilangan Injilnya. Gedung ada, pengurus ada, jemaat ada, program ada, tapi Injil tidak ada. Di zaman itu butuh reformasi, mengembalikan yang harusnya ada ke dalam gereja, dan membuang yang seharusnya tidak ada keluar gereja. Program gereja memperlihatkan Injilnya gereja itu, Saudara tidak perlu heran kalau ada gereja yang programnya tidak masuk akal, karena memang itulah injilnya yang bukan Injil. Dan seperti yang saya katakan tadi, gereja sampai mengambil alih tugas dinas kebudayaan. Satu kali saya pergi ke satu gereja pada hari Natal, mereka mengadakan lomba tari poco-poco dalam rangka menyambut hari Natal. Saya bingung, mengapa tidak membuat acara ini di hari yang lain, mengapa diadakan ketika Natal? Gereja telah kehilangan visi Injil.
Ayat 15, dalam NIV diterjemahkannya “kami orang Yahudi ini tahu bahwa tidak seorangpun tidak dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat” statement of faith. Ini yang dikatakan Paulus “sebagai orang Yahudi, saya berbicara kepada kalian orang bukan Yahudi, saya sudah memberitakan Injil bahwa Yesus mati bagi orang berdosa, itu cukup, tidak perlu ditambah. Kaerna saya orang Yahudi sudah tahu apa itu melakukan Hukum Taurat, tidak ada yang dibenarkan karena melakukan hukum”. Paulus mengatakan kalau iman pun tidak bisa membenarkan, tidak ada yang bisa membenarkan Saudara. Kalau iman pun tidak bisa membuat Saudara diterima oleh Allah, no one can, apa pun tidak bisa, ketaatan pun tidak bisa. Karena kalau iman pun tidak bisa, maka karya Kristus sia-sia. Dia sudah menderita semua itu dan ternyata semua itu tidak cukup, artinya sia-sia. Kalau orang yang percaya kepada Kristus meninggalkan keyakinannya bahwa dibenarkan oleh iman itu cukup, dia sedang mengatakan kematian Kristus itu sia-sia, tidak ada gunanya. Ternyata yang dikerjakan Kristus, yang begitu menderita, yang total itu ternyata tidak bisa menyelesaikan semuanya, I have to add something. Paulus memperingatkan jemaat Galatia. Dan ini juga adalah peringatan bagi gereja, ini peringatan dari Luther kepada gereja zaman itu. Dan ini peringatan bagi seluruh gereja “hati-hati”. Kalau iman pun tidak cukup, maka tidak ada yang cukup. Mengapa iman cukup? Karena karya Kristus komplit dan sudah final. Orang selalu mengatakan jadi orang Kristen itu aneh, hanya dengan percaya saja, itu mudah. Percayanya saja itu mudah, tapi untuk memungkinkan percaya saja itu tidak mudah, Anak Allah harus mati. Kalau kematian Anak Allah saja tidak cukup, apa lagi yang cukup? Untuk membaya dosa kita, Anak Allah harus mati. Yang Saudara perlu lakukan cuma percaya, itu bukan cuma. Percaya saja itu mudah, tapi untuk memungkinkan supaya percaya saja itu tidak mudah. Kalau Yesus tidak mati, apa yang bisa dipercaya? Tapi Yesus sudah mati dan kita mengatakan tidak cukup? Itu keterlaluan. Maka Paulus berulang-ulang mengatakan “tidak ada yang dibenarkan”, ayat 16 “sebab itu kami pun telah percaya”. “Kami tahu”, setelah itu “kami percaya”. “Sebagai orang Yahudi kami tahu tidak seorang pun dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat”. Ayat 16 b ”sebab itu kami percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus”. Mengapa percaya cukup? Karena kematian dan kebangkitan Kristus itu final. Yang Saudara lakukan hanya satu, percayalah. Saya tertarik dengan definisi imannya Pdt. Stephen Tong, didalam bukunya dikatakan iman adalah menerima bahwa Saudara sudah diterima, itulah iman. Di atas kayu salib, 2.000 tahun yang lalu, Anak Allah itu terpaku dengan tangan terlentang dan mewakili Bapa di sorga mengatakan “datanglah kepadaKu, Aku menerimamu”. Yang Saudara perlu lakukan di bawah kayu salib adalah menerima bahwa Saudara sudah diterima. Hanya menerima, betul hanya, tapi untuk memungkinkan bahwa Saudara sudah diterima, Anak Allah harus mati. Itulah yang dikatakan dengan iman.Dan iman itu bukan datang dari Saudara, iman itu datang dari Allah. Karena sebelum Saudara buka mata, Saudara mati dalam dosa. Efesus 2: 1 mengatakan kita semua sudah mati dalam dosa. Orang mati itu tutup mata. Roh Kudus melahir-barukan kita, yang mati dihidupkan. Dan tindakan pertama orang hidup adalah buka mata. Sama seperti tindakan pertama ketika bangun dari tidur adalah buka mata, bukan gerakan kaki, itulah definisi kapan Saudara bangun yaitu ketika buka mata. Normalnya mata terbuka, kemudian perlahan-lahan syaraf mulai bekerja, makanya maka terbuka dulu baru Saudara stretching. Dari tidur menjadi terbangun, mata terbuka, itulah signal Saudara sudah bangun. Dari mati rohani menjadi hidup. Apa tandanya bahwa ada kehidupan? mata terbuka, itu iman. Alkitab mengatakan bukan iman yang memberikan anugerah, anugerah yang memberikan iman. Anugerah dulu baru iman. Ini perbedaan orang Reformed dengan Injili, orang Injili mengatakan mendapat anugerah adalah ketika beriman, Reformed mengatakan beriman ketika mendapat anugerah. Iman adalah tanda hadirnya anugerah.
Paulus mengatakan tidak ada gunanya kita melakukan Hukum Taurat karena kita tidak bisa dibenarkan dengan itu. Ayat 17, Paulus mencoba menjawab orang-orang yang keberatan. Karena orang mengatakan “kalau hanya percaya begitu saja berarti enak. Hidup sesuka hati”. Pelayan dosa, ayat 17, apakah berarti Yesus adalah pelayan dosa? Kalau justification by faith itu benar, bukankah kalau begitu Yesus itu melayani dosa manusia? Kalau dibenarkan hanya karena iman, bukan oleh perbuatan, kalau bagitu bisa hidup suka-suka. Paulus mencoba pertanyaan itu, dan secara rasional pertanyaan ini benar. Kalau dibenarkan hanya karena iman, bukan karena perbuatan, apa gunanya lagi berbuat baik? Bukankah ini memberikan alasan untuk tidak berbuat baik, apakah itu yang dimaksud dengan faith alone? Tidak. Para Reformator merumusan seperti ini we are saved by faith alone, but that faith is never alone. Secara rasional maka justification by faith menjadi rasionalisasi untuk hidup sesuka hati, tapi secara pengalaman tidak mungkin. Ayat 18 “karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat”, apa maksudnya yang telah kurombak? Ayat 19, “aku telah mati”, ayat 20 “namun aku hidup”, new creation. Pada waktu Saudara percaya kepada Kristus, Saudara dibenarkan, dan pada detik yang sama Saudara tidak sama lagi, Saudara adalah new creation, ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Secara rasional mungkinkah justification by faith itu memberikan alasan untuk berbuat dosa? Sangat mungkin, tapi secara pengalaman tidak mungkin, karena Saudara bukan orang yang lama, Saudara adalah orang baru. “Aku mati tetapi aku hidup”, hidup itu seperti apa? Ayat 20, “dan hidupku yang kuhidupi sekarang ini di dalam daging adalah hidup oleh iman”. Kita bukan hanya dibenarkan oleh iman, tapi sekarang kita hidup oleh iman. Orang yang dibenarkan oleh iman akan hidup oleh iman. Mungkinkah orang yang sudah menerima justification by faith alone akan hidup sesukanya? Tidak mungkin. Kalau ada orang yang seperti itu berarti dia belum menerima pembenaran oleh iman. Ini bedanya Katolik pada zamannya Martin Luther, pada zaman itu terbalik, Saudara benar dulu baru dibenarkan, itu namanya forensic justification. Saudara benar dulu dari lahir sampai mati benar, baru nanti di akhir, Tuhan mengatakan “kamu benar”, tunjukan dulu kalau Saudara benar, baru dinyatakan benar. Itu namanya forensic justification. Tapi Reformasi bukan mengatakan forensic justification, Reformasi mengatakan legal declarative forensic justification, bukan karena Saudara benar dulu baru setelah itu dibenarkan. Apakah sudah benar? Belum, tapi pada hari Saudara dideklarasikan benar, pada saat itu Roh Kudus mulai mengubah Saudara menjadi benar. Aku mendeklarasikan kamu benar. Baru Saudara tanya “Tuhan, mengapa orang berdosa seperti saya bisa dikatakan benar?”, Tuhan mengatakan “Aku tahu kamu tidak benar, yang Aku lihat bukan kamu tapi AnakKu yang benar itu yang Aku lihat”. Dia melihat Saudara sebagai milik Kristus, di dalam Kristus, in Christ alone. Karena Saudara sekarang sudah dilihat di dalam Kristus, maka Bapa di sorga tidak melihat Saudara sebagai orang berdosa. Apakah Saudara orang berdosa? Iya, realitasnya benar orang berdosa. Tapi di hadapan Allah, Dia tidak melihat Saudara, Dia melihat AnakNya. Yang Saudara perlu lakukan adalah apakah Saudara percaya itu atau tidak? Itulah iman, saya menerima kalau saya sudah diterima.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas / Khotbah Tematik
- 20 Oct 2017
Sola Gratia
(Lukas 17:22-27, Roma 1:20-21, Kisah Para Rasul 14:8-18)
Di dalam Kisah Para Rasul baik di pasal 14 maupun 17, di situ ada berita yang sangat indah dari Paulus, berita tentang Tuhan yang baik, berita tentang Tuhan yang adalah sumber kebaikan, berita tentang Tuhan yang berdaulat. Dia bukan cuma memberikan kebaikan, tapi Dia juga yang berdaulat menentukan batas-batas bangsa. Dialah yang memberikan bangsa-bangsa tempat untuk mereka bisa hidup, Dia juga yang memberikan berkat untuk semua orang bisa bertahan hidup. Di dalam Kisah Para Rasul 14 dan 17, Paulus berbicara kepada orang kafir yang menyembah berhala. Mereka menyembah berhala karena mereka mendapatkan kebaikan dan karena mereka merasakan ada kekuatan besar, ada kedaulatan yang melampaui mereka yang ada di atas sana. Tapi mereka tidak tahu kekuatan siapakah itu, dan mereka tidak tahu berkat dari siapakah yang mereka terima setiap hari. Ini yang terjadi di seluruh dunia. Orang menerima kebaikan demi kebaikan dari Tuhan tapi tidak pernah tahu bahwa itu adalah Tuhan yang menyediakan. Orang-orang hidup dalam batasan hukum-hukum dan batasan negara yang ditetapkan oleh Tuhan tanpa mereka sadari. Sehingga mereka hidup tahu ada kuasa tapi tidak sadar siapa pemilik kuasa itu. Mereka hidup dengan kesadaran ada berkat, tapi mereka tidak sadar siapa pemberi berkat itu. Mereka tidak pernah sampai pada pengenalan personal, karena mereka tidak pernah mendapatkan pengertian atau pernyataan lebih lengkap tentang siapa Tuhan. Namun demikian, Tuhan tetap memberikan kebaikanNya, Tuhan tetap memelihara mereka, Tuhan tetap memberikan musim-musim yang terus berganti menyatakan kebaikan, keadilan dan keteraturan dari Allah, Pencipta langit dan bumi. Allah terus melakukan ini, tapi manusia tidak pernah tergerak sedikit pun untuk mencari siapakah sumber yang sejati ini. Dan ketika mereka berusaha mencari sumber itu, datanglah tipuan dari dunia maupun setan yang mengarahkan mereka untuk sembah ilah palsu. Mereka tidak menyembah Allah yang sejati, tapi mereka menyembah ilah yang palsu. Dan terlalu banyak orang merasa bahwa ilah yang mereka sembah itulah yang benar, agama yang mereka peluk itulah yang benar, kepercayaan yang dijalankan dari nenek moyang sampai mereka, itulah yang benar. Karena itu mereka tidak mencari Allah yang sejati, sebab mereka merasakan “kami sudah dapat, kami sudah menyembah Tuhan, kami sudah tahu berkat ini dari mana, kami sudah tahu siapa yang mengatur segala sesuatu”, dan mereka berhenti pada titik itu. Bagaimana kita bisa tahu kalau apa yang dipercaya orang-orang itu salah dan apa yang kita percaya benar? dari mana kita tahu waktu kita berdiskusi dengan orang lain bahwa kita sedang berdiskusi dengan orang yang menutup mata terhadap Tuhan yang sejati dan membuka telinga terhadap dusta yang dari ilah palsu? Bukankah mereka akan mengatakan sebaliknya kepada kita? “Kamulah yang buta tidak lihat tuhanku, kamulah yang tuli sehingga dengar firman aneh dari tradisi yang tidak pernah menyatakan kebenaran yang sejati”, semua orang klaim agamanya benar, semua orang klaim yang dikerjakan itu benar. Ketika Paulus mulai berjalan memberitakan firman keapda bangsa-bangsa lain, kita melihat ada bijaksana yang sangat penting, yaitu Paulus tidak pernah tidak, dia selalu membahas apa yang dinyatakan Tuhan di dalam firman kitab suci yaitu Perjanjian Lama. Paulus tidak pernah lari dari Perjanjian Lama. Dia bisa membahasakan kalimat yang dimengerti oleh orang kafir, tapi dia tidak pernah lari dari inti pembahasan siapakah Tuhan melalui Perjanjian Lama. Kalau kita mengerti apa yang dinyatakan Tuhan, baru kita tahu tidak ada Tuhan selain Tuhan yang dinyatakan kepada Abraham, Ishak, Yakub dan seluruh Israel. Mengapa kita bilang ini Allah yang sejati? Karena Allah yang sejati ini waktu Dia menyatakan diri, Dia menyatakan diri dengan dampak ibadah dan dampak sosial, dua hal yang tidak terpisah satu dengan yang lain. Saudara makin menyelidiki Allah yang satu ini, Saudara akan makin memiliki insight pengertian untuk kaitkan pengenalan akan Tuhan dengan segala pemikiran manusia sepanjang zaman. Saudara mengenal Allah yang sejati ini maka Saudara mengetahui bagaimana caranya waktu saya menggumulkan tentang hidup sehari-hari pergumulan ini akan semakin diberikan penerangan, jawaban dan pencerahan waktu saya merenungkan tentang Tuhan. Ketika Saudara mempelajari Tuhan yang satu ini, Saudara akan melihat realita sebagai sesuatu yang tidak terpisah dari Tuhan dan tidak menjadi aneh waktu dijalankan di dalam dunia ini. Banyak orang mempunyai iman yang kalau diterapkan menjadi sangat salah dan Tuhan sindir itu waktu Dia memanggil Israel keluar dari Mesir. Waktu Tuhan memanggil Israel keluar dari Mesir, Tuhan tunjukan bahwa kepercayaan Mesir itu palsu, kepercayaan mereka itu tidak ada isinya karena begitu mereka terapkan semua yang mereka percaya, semua hidup mereka jadi rusak. Hidup jadi rusak dan tidak ada lagi makna, karena iman mereka hanya akan mengganggu realita hidup mereka. Mereka percaya bahwa Sungai Nil adalah darah dewa, maka Tuhan benar-benar ubah menjadi darah. Waktu Tuhan mengubahnya jadi darah, mereka semua setengah mati. Tuhan yang limpah akan berani tantang orang untuk mengatakan “lihat kepadaKu dan akan kutunjukan”. Banyak orang yang berdoa kepada ilah yang palsu, agama yang salah, mereka tidak sadar berapa jahatnya itu. Orang pikir agama banyak boleh pilih salah satu, tapi mereka tidak sadar berapa jahatnya itu.
Kita sudah terlalu lama hidup mengabaikan Tuhan, sehingga kita tidak punya lagi kepekaan kapan Tuhan terluka hatiNya. Kita tidak pernah berpikir Tuhan bisa sakit hati, hatiNya Mahakuasa tidak mungkin dilukai, hati Dia terlalu kuat. Tapi Alkitab mengatakan memang Tuhan kuat, memang Tuhan Mahakuasa, tapi hatiNya bisa luka. Mengapa hati Tuhan luka? Karena cinta kasih yang dicurahkan kepada manusia dibalas dengan pengkhianatan. Ini kejahatan yang tidak ada orang pikir terlalu jahat. Ini biasa, karena bagi manusia berdosa mengkhianati Tuhan itu bukan suatu hal besar. Sama seperti orang jahat mengkhianati istri itu bukan hal besar atau mengkhianati suami itu bukan hal besar. Semua orang yang sudah terlanjur dalam di sebuah dosa, tidak merasa dosanya itu terlalu bahaya. Kita tidak rasa sudah salah kepada Tuhan karena kita tidak rasa sudah menyakiti hatiNya itu sesuatu yang penting, karena kita tidak anggap hatiNya penting. Bahkan kita tidak anggap keberadaan Dia penting, “Dia boleh ada, bagus. Dia boleh tidak ada, bagus. Dia boleh ada boleh tidak ada, hidupku akan tetap berjalan seperti itu”. Ini kita lakukan kepada Tuhan dan kita anggap ini biasa. Tapi kalau Saudara lakukan ini ke orang lain atau orang lain melakukan ini ke Saudara, Saudara baru tahu berapa sakitnya ini. “Kamu kok punya agama yang lain? Orang lain punya agamanya sendiri, mana yang benar?”. “Sama saja. Tuhan itu pemaklum, maka meskipun aku mengabaikan dia dan menyembah allah yang lain, Dia oke-oke saja”. Tidak ada orang yang oke-oke saja. Kita tidak pernah berpikir bahwa menyakiti hati Tuhan itu berarti, tapi Tuhan selalu berpikir pengkhianatan kita selalu berarti. Tuhan selalu berpikir berpalingnya kita kepada dewa-dewa palsu yang ilah-ilah yang lain, sangat berarti dan sangat menyakiti Dia.Ketika Paulus sampai di Athena dengan sangat sedih mereka melihat seluruh kota penuh dengan barang-barang pujaan dan patung-patung dewa. Alkitab mengatakan Paulus sangat terbakar hatinya. Di Alkitab dikatakan waktu Paulus melihat banyak patung berhala, sedih hatinya. Kalimat ini tidak tepat, katanya kurang tepat. Yang benar adalah Paulus merasa sangat terganggu dan terbakar hatinya, emosi kudusnya muncul. Dia dengan marah melihat patung-patung ini dan mengatakan seharusnya tidak ada patung-patung ini. Dia dengan marah melihat penyembahan berhala yang terjadi dan mengatakan “harusnya ini diberikan kepada Tuhanku”. Maka marah yang suci ini karena mau menghormati kemuliaan Tuhan dan mengasihi orang Athena mendorong Paulus untuk menginjili orang satu per satu, dia pergi ke tempat-tempat dimana dia bisa berdiskusi dengan orang-orang. Dan Paulus mengatakan “kamu tidak boleh berpikir seperti itu, kamu tidak boleh berpikir Tuhan itu gangguan karena Dia yang membuat kamu hidup. Apakah kamu merasa terganggu waktu Dia pelihara kamu dengan makanan, waktu Dia turunkan hujan untuk membuat tanah subur, terganggukah kamu dengan berkat Tuhan? Kalau kamu tidak terganggu dengan berkat Tuhan, mengapa kamu terganggu dengan kewajiban menyembah Dia?”. Banyak orang tidak terganggu waktu Tuhan baik menyatakan semuanya, tapi banyak orang terganggu waktu Tuhan menginginkan ada kesetiaan hidup, kekudusan dan ketaatan kepada Dia. Semua mengganggu kita kalau tidak menyenangkan hati kita yang sangat licik dan egois ini.
Maka Paulus menekankan bahwa Tuhan yang baik, Dia yang menyatakan semuanya ini supaya kamu cari Dia. Mudah-mudahan kamu benar-benar mendapatkan Dia, karena Tuhan menunggu kamu cari. Tuhan menyatakan kebaikan dan Tuhan mengatakan “mari cari”. Jangan pikir doktrin Calvinis Reformed tidak percaya hal ini, ini tertulis di dalam Alkitab. Prinsip Reformed kita mengakui bahwa Kisah Para Rasul 17:27 bisa dibaca dan diamini oleh kita, “supaya mereka mencari Dia (yaitu Tuhan) dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia”, ini tidak ada masalah. Karena doktrin Reformed percaya kedaulatan Tuhan yang mengatur segala sesuatu, bahwa Tuhan menetapkan segala hal, dan Dia dengan aktif menjalankannya menjadi real. Tapi ini tidak meniadakan keharusan kita untuk berespon tanggung jawab kita dan pergumulan kita untuk memilih. Dua-duanya disatukan di dalam pikirannya Calvin, Agustinus dan lain-lain, yang sangat menekankan kedaulatan Allah. Jadi saya tidak mengerti kalau Arminian berdebat dengan Calvinis dan mengatakan “teorinya doktrin Calvinis salah, coba lihat Kisah Para Rasul 17: 27, Tuhan cari manusia atau manusia cari Tuhan?”. Pak Tong mengatakan manusia bisa cari Tuhan karena Tuhan lebih dulu cari manusia, jadi kedua-duanya tidak ditolak. Lalu selanjutnya “karena Dia menetapkan waktu di mana Dia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan”, “amin”, mereka semua tepuk tangan. Paulus melanjutkan “dengan cara membangkitkan Dia dari antara orang mati”, begitu sampai momen ini, tidak ada suara amin dan tepuk tangan lagi. “Ini ada bukti jelas yang menyatakan membangkitkan Dia yang telah mati dari antara orang-orang mati”, “apa? bangkit? Maksudmu ada orang mati bangkit? Saya kira kamu punya teori yang baru, ternyata masih yang lama itu. Untuk yang lama seperti ini, kami kurang tertarik”, beberapa dari mereka ada yang pergi, tapi ada juga yang tetap berminat. Dikatakan “lain kali kami mendengar engkau berbicara tentang hal ini”, “lain kali” saja harusnya diterjemahkan dengan tepat “lain kali lagi kami mau dengar lagi, bolehkah engkau lanjutkan?”. Jadi ketika Paulus berbicara, ada intelektualnya yang terangsang “kami ingin tahu lebih banyak”. Tapi apakah ini berarti mereka mau datang untuk mengenal Kristus? Ternyata tidak. Mereka tetap mengeraskan hati. Seperti yang dinyatakan dalam Roma 1, Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaan dan segala yang menyatakan kekuatanNya yang tidak terlihat melalui ciptaan yang terlihat. Tapi yang dilakukan manusia adalah manusia melihat kekuatan itu dan manusia membuat berhala, manusia melihat baiknya Tuhan dan membuat agama lain, manusia melihat penyertaan Tuhan dan membuat ilah palsu. Maka di seluruh Alkitab diberitakan manusia tanpa harapan berespon kepada Tuhan. Tidak ada yang berespon dengan benar, kebaikan Tuhan dibalas dengan susunan agama yang palsu, kebaikan Tuhan dimanipulasi, diterima dan setelah itu tetap manusia menjadikan dirinya patokan dan sumber dan pusat dari segala hal baik yang mereka dapatkan. Jadi Alkitab mengunci semua manusia itu sesat, tidak jelas, semua manusia mencari semua hal yang berlawanan dengan Tuhan lalu pegang itu baik-baik. Satu kali ada seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa kita ini benci pada pribadi yang berdaulat mutlak. Kalau yang berdaulat mutlak itu bukan pribadi, kita masih oke. Banyak manusia mau kuat-kuatan sama Tuhan. Dan herannya Tuhan tidak terpancing untuk ikut kuat-kuatan dengan manusia. Banyak contoh di dalam Alkitab dimana manusia mau kuat-kuatan sama Tuhan dan Tuhan biarkan mereka merasa menang. Ada kalanya Tuhan langsung tegur, itu anugerah Tuhan, ada kalanya Tuhan biarkan. Ada orang yang teriak mengatakan “Tuhan, aku tidak percaya Engkau”, kalau tidak percaya mengapa di awalnya memakai kata Tuhan? Ada orang berani menghujat Tuhan, Tuhan biarkan. Ada orang menunjukan keberanian melawan Tuhan, Tuhan biarkan. Tuhan tidak terpancing untuk beradu fisik dengan kita, tapi Dia adalah Hakim yang menghakimi.
Itu sebabnya tanpa anugerah Tuhan, manusia tidak mengerti anugerah Tuhan. Tuhan memberikan anugerah kepada kita dan Dia memberikan anugerah lain lagi yaitu anugerah untuk sadar anugerah, anugerah untuk tahu ternyata Tuhan baik, ternyata Tuhan yang memberikan ini semua, ternyata Tuhan yang memberikan saya hidup, ternyata Tuhan yang memberikan kebaikan yang diberikan setiap hari dari pertama kali saya ada di tengah dunia ini sampai saya meninggalkan dunia ini. Baru kita tahu Tuhan baik dan memberikan anugerah, itu semua anugerah Tuhan. Maka ketika para reformator menekankan prinsip sola gratia, yang mereka maksudkan adalah Tuhan itu tidak pernah tidak baik, tapi Tuhan memberikan anugerah untuk menyadarkan kamu bahwa Dia benar-benar baik. Hanya ketika Tuhan sadarkan engkau, baru segala kecurigaan sirna, baru engkau mengatakan “ternyata segala kebaikan yang saya miliki tidak mungkin bisa saya nikmati kecuali Tuhan berkenan memberikannya kepada saya”. Mari kita berharap Tuhan terus memberikan anugerah, tapi terutama kiranya Tuhan memberikan kita anugerah yang melunakan keras hatinya kita. Paulus berbicara di dalam Kisah Para Rasul 14 dan 17, dan dia bertemu dengan orang-orang yang tidak dilunakan hatinya oleh Tuhan. Tapi Saudara dan saya bukan orang-orang yang dibiarkan keras. Tuhan melihat kita dan Tuhan kasihan kepada kita. Mengapa Tuhan kasihan kepada kita? Kita tidak tahu. Tidak ada alasan apa pun Tuhan menunjukan belas kasihanNya kepada kita, tapi Tuhan tetap mengasihani kita. Tuhan mengasihani kita yang tidak layak walaupun kita tidak pernah berhak mendapatkan apa pun dari Tuhan. Pak Stephen Tong pernah mengatakan di dalam bukunya yang pertama kali saya baca, setelah baca buku itu saya berjanji kepada Tuhan “Tuhan, saya berjanji mau mengikuti Tuhan lebih baik lagi”. Di buku itu dikatakan “kalau kamu tidak sadar apa yang kamu dapatkan dari Tuhan, maka engkau akan terus mencela Dia”, kalimat itu mengena sekali. Jika engkau tidak sadar apa yang engkau terima dari Tuhan, engkau akan terus mencela Dia. Engkau akan mencela Dia karena keadaan ekonomimu, engkau akan mencela Dia karena keadaan relasionalmu yang buruk, engkau akan terus mencela Dia karena keadaan politik yang tidak kunjung baik, engkau akan terus mencela Dia karena kesehatan yang tidak pulih juga, engkau akan mencela Dia karena keadaan yang ada di sekeliling tanpa menyadari bahwa engkau tidak pernah berhak mendapatkan satu titik kebaikan pun dari Dia. Apa yang Tuhan tahan dari kita? Semuanya Tuhan berikan, Tuhan ijinkan dipelihara oleh Dia, bahkan Tuhan memberikan firman, Tuhan berikan Roh KudusNya, Tuhan berikan semua hal yang akan datang untuk menjadi bagian kita dan Tuhan memberikan Roh KudusNya sebagai materai, dikatakan dalam Efesus 1. Tuhan menjanjikan hal yang limpah nanti dan Tuhan berikan untuk kita sekarang. Maka di dalam Surat Efesus, Paulus mengatakan “saya berdoa supaya kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilanmu, berapa besarnya anugerah yang Dia siapkan untuk orang yang percaya kepada Kristus”. Ini titik penting untuk kita memahami hidup. Waktu Saudara sadar anugerah, Saudara tidak pernah sama lagi. Ketika kita menyadari Allah yang baik yang memberikan anugerah kepada kita, kita tidak mungkin sama lagi. Tidak ada titik dari dalam diri kita yang mengatakan “Tuhan, mengapa begini?”, kita lebih banyak mengatakan “Tuhan, saya tidak layak terima apa pun. Engkau sudah begitu baik kepada saya dan memberikan begitu banyak anugerah”.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 20 Oct 2017
Yesus berbelas kasihan
(Lukas 18: 35-43)
Lukas mengajarkan kepada kita bahwa hal paling penting dari kehidupan Yesus adalah Dia rela mati kemudian bangkit, inilah Injil. Injil adalah bagian penting, Injil adalah bagian yang menjadi sorotan utama dari Lukas. Maka kalau Saudara baca Injil ini, Saudara akan tahu bahwa Lukas mengarahkan kita untuk melihat Yesus dari Galilea, Dia berjalan terus sampai bertemu Yerusalem, sampai masuk Yerusalem, sampai dipakukan di kayu salib. Inilah Injil itu, Injil itu bukan hanya sekedar mengatakan “kamu orang yang sudah hidup, hiduplah baik-baik”. Injil bukan hanya sekedar mengajarkan “kamu harus jalani aturan dari Tuhan”, bukan hanya sekedar mengatakan “kamu mesti berbuat apa yang diperkenan oleh Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama”. Injil melampaui itu semua karena Injil menyatakan satu fakta realita bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang memperbaiki keadaan dunia ini, itu Injil. Injil adalah berita bahwa Tuhanmu Raja. Ini berita Injil pertama kali dinyatakan pertama kali dengan istilah Injil atau kabar baik itu dari Yesaya. Yesaya adalah pemberita Injil yang pertama, meskipun pemberitaan kabar baik ini dimulai dari Kitab Kejadian, namun kata kabar baik baru dipakai oleh Yesaya. Yesaya mengatakan “alangkah bahagianya waktu engkau melihat kaki dari orang yang memberitakan kabar baik”. Kabar baik bahwa Allahmu itu Raja. Yang jadi Raja bukanlah yang kamu lihat sekarang, yang jadi Raja bukan kondisi politik yang terus bergolak sepanjang masa, yang menjadi Raja bukan orang-orang serakah yang ingin menekankan dinastinya menjadi dinasti paling utama, yang menjadi pokok dari berita Injil adalah “hai manusia, Allahmu Raja”. Kalau Allahmu Raja, maka tidak ada Raja lain selain Dia, tidak boleh ada komitmen yang diberikan apa pun atau siapa pun yang lebih diberikan kepada Sang Raja ini. Jika Allahmu adalah Raja, sudahkah kamu perlakukan Dia sebagai Raja? Bagaimana engkau bersikap di hadapan Sang Raja ini? Kepada siapakah komitmen hidupmu? Ini menjadi tema dari berita Injil. Berita Injil bukan hanya sekedar mengatakan “kamu sudah selamat. Jangan khawatir kehidupanmu dipegang oleh Tuhan”, itu bagian kecilnya. Tapi bagian utama dari Injil adalah Allahmu itu Raja. Dan jika Dia adalah Raja, Dia tidak akan toleransi adanya pemerintahan lain yang menolak dan memberontak kepada Dia. Dia akan menghakimi semua yang berani menyatakan klaim kerajaan tapi menjalankan perintah dan prinsip yang beda dari Dia. Allah kita adalah Allah yang adalah Raja, Dia mempunyai prinsip kebenaran, Dia mempunyai hukum, Dia mempunyai kesucian dan keadilan. Setiap orang yang memimpin tetapi melanggar prinsip-prinsip ini adalah orang yang pertama-tama akan dihakimi.
Lalu bagaimana cara Dia mendirikan kerajaanNya? Ternyata yang sangat indah adalah Dia mau menebus umatNya, bukan untuk menghakimi yang jahat. Dia menebus yang jahat untuk menjadi umat, Dia menebus orang yang dipinggirkan untuk menjadi umat, Dia menebus kelompok yang dianggap tersingkir untuk ditaruh di tempat utama, di dalam hatiNya, di dalam sejarah, dan di dalam masa depan nanti. Berbahagialah kalau kita menjadi Kristen. Kita tidak mendapatkan sesuatu yang kosong, kita mendapatkan Kristus yang akan memimpin di sorga dan di bumi. Ada kalimat yang sangat indah bernama Borke, dia mengatakan bahwa orang Kristen mula-mula selalu bicara tentang kesalehan hidup karena mencintai Tuhan. Mereka tidak pernah bicara tentang kesalehan hidup supaya masuk sorga. Selalu mereka bicara tentang hidup kudus karena cinta Tuhan, tidak pernah mereka bicarakan hidup kudus demi masuk sorga. Ini kalimat yang sangat menyentuh, mereka bicara tentang kehidupan yang penuh kesucian, penuh keadilan, penuh belas kasihan, karena cinta Tuhan bukan karena yang lain. “Oleh karena aku mencintai Tuhan maka aku menjalankan hidup yang benar, yang beres, yang tidak korup, yang tidak cemar, oleh sebab cintaku kepada Tuhan”. Segala hal yang dilakukan dengan motivasi selalu indah, tidak ada pengorbanan terlalu berat jika kita mencintai dan cinta itu menjadi alasan kita untuk berkorban. Maka kalau Saudara punya pasangan dan mulai mengungkit pengorbanan, itu tandanya perlu konseling, cintanya sudah mulai kurang. Tidak ada cinta yang mengatakan “saya sudah berkorban”. Dengan demikian orang yang mengenal Kristus dan Kekristenan mengatakan “Tuhan, saya mau mengikuti Engkau, dan saya bersama Tuhan menikmati kemuliaan Tuhan, menikmati berkat Tuhan, menikmati perjuangan Tuhan”. Yesus datang ke dalam dunia, tidak pernah satu kali pun Dia mengatakan sedang berkorban. Dia tidak pernah mengatakan “Aku dari sorga, di bumi cuma dapat tempat seperti ini?”, itu kita yang bilang. Dia datang dari sorga, Dia rela datang ke bumi, tapi Dia tidak pernah mengeluh waktu di bumi. Saudara bisa melihat orang-orang yang rela bekerja, rela berkorban, rela bekerja apa pun, rela mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan karena tahu “Engkau adalah Raja yang akan pulihkan segala sesuatu, saya mau berbagian di dalamMu”. Yesus sudah datang dan Dia menuntut orang untuk mengikuti Dia supaya berjuang bersama-sama di dalam Kerajaan Allah.
Maka Injil Lukas menggambarkan Yesus dengan rela pergi ke Yerusalem lalu Dia mati di sana. Inilah kabar baik, Yesus menebus engkau supaya zaman baru, kerajaan dari orang-orang yang ditebus itu dikonfirmasikan. Dosa kita dipaku di atas kayu salib, segala penghakiman, kecemaran, murka yang Tuhan akan berikan kepada kita sudah ditanggung oleh Sang Kepala. Kristuslah Sang Kepala perwakilan kita yang menanggung hukuman bagi orang-orang di dalam Dia. Maka Kerajaan Allah datang dengan memanggil orang-orang yang tidak layak berbagian. Lukas mencatat Yesus pekerjaan utamaNya salib, pekerjaan utama Dia adalah mati di kayu salib, pekerjaan utama Dia adalah menebus manusia untuk menjadi milik Bapa di sorga. Tapi Lukas juga mengingatkan bahwa meskipun Yesus mengerjakan tema utamaNya yaitu berjalan ke Yerusalem dan mati di kayu salib, Dia tidak meremehkan semua hal yang dia dapatkan di perjalanan. Salib Kristus adalah fondasi, tapi Dia tidak meniadakan perlunya berbuat baik, perlunya berbelas kasihan, perlunya menganggap serius orang-orang lain yang Tuhan percayakan di sekeliling kita sebagai orang yang Tuhan kasihi dan sebagai orang yang harus kita kasihi, ini yang dilakukan Yesus. Maka Lukas dengan seimbang menyatakan tugas utama salib, tapi semua pekerjaan lain Yesus lakukan dengan serius.
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Orang buta ini kasihan sekali, dia tidak mendapatkan pengakuan di dalam kota, dia hanya bisa tunggu di luar, dan dia hanya bisa menunggu orang jalan masuk dan minta sedekah. Minta-minta karena dia berada dalam keadaan sangat kasihan, karena orang Yahudi percaya seperti yang dikatakan di dalam Mazmur dan Yesaya, bahwa buta, tuli dan bisu itu adalah kutuk Tuhan akibat penyembahan berhala. Tahu dari mana? Di dalam Mazmur ada perkataan “berhala itu dari kayu dan batu, lalu engkau ukir, engkau berikan mata, telinga, mulut dan engkau menyembah dia. Padahal itu bodoh. Berhala itu punya mata tapi tidak bisa melihat, punya telinga tapi tidak bisa dengar, punya mulut tapi tidak bisa bicara, demikianlah penyembahnya akan punya mata tapi tidak bisa melihat, punya telinga tapi tidak bisa mendengar, punya mulut tapi tidak bisa bicara”. Ini adalah perintah atau firman untuk menyindir orang Israel yang dibuang ke Babel. Mereka dibuang ke Babel karena mereka tidak dengar firman, mereka mengeraskan hati. Mereka dibuang ke Babel karena mereka tidak melihat pekerjaan Tuhan, mereka punya mata tapi gagal melihat pekerjaan Tuhan. Mengapa dibuang ke Babel? Karena mulut mereka mengucapkan pujian kepada Baal dan berhala, mereka menyanyi nyanyian hymn bukan untuk Tuhan tapi untuk dewa-dewa yang palsu. Maka Tuhan sangat marah dan mengatakan “Israel, kamu punya mata tapi tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan, kamu punya telinga tapi tidak bisa dengar firman Tuhan, kamu punya mulut tidak mengucapkan pujian bagi Tuhan. Aku buang kamu”. Itu sebabnya tekanan “punya mata tidak bisa melihat, punya telinga tidak bisa dengar, punya mulut tidak bisa bicara, Aku buang kamu”, maka orang Farisi dan kebanyakan orang yang masuk di dalam zaman ketika Tuhan pulihkan di abwa ke-2 sebelum Masehi sampai ke abad ke-2, mereka mempunyai keketatan untuk tetap kerjakan kesucian menyembah Tuhan, jangan ada penyembahan berhala, “Tuhan buang kita ke Babel karena kita menyembah berhala. Maka mari jangan sembah berhala lagi, mari komitmen. Buang semua patung, buang semua penyembahan palsu, buang semua berhala, kita tidak mau lagi”. Dan karena itu mereka menuduh orang buta berarti dia dikutuk oleh Tuhan karena menyembah berhala. Orang tuli, terkutuk oleh Tuhan oleh sebab penyembahan berhala. Orang bisu, dikutuk oleh Tuhan karena penyembahan berhala. Ini kasihan sekali. Banyak orang cacat akhirnya dihakimi demikian, “kamu buta karena menyembah berhala, kamu tuli karena menyembah berhala”. Dan Yesus membalikan ini di dalam pelayananNya di dunia. Faktanya, Tuhan begitu baik, sehingga ketika orang buta ini pun mengalami kebutaan, lalu orang sekeliling mengatakan “kamu buta karena menyembah berhala, kamu dikutuk oleh Tuhan”. Dia dengan tenang menerima semuanya “biarlah saya dikutuk oleh Tuhan, biarlah saya terima ini. Saya memang tidak layak, tapi saya harus melihat”. Maka dia memohon kepada Tuhan dengan sudut pandang yang berbeda. Dia merasa tidak layak dapat, tapi dia ingin dapat, maka dia memohon. Dia tidak menuntut tapi meminta, memohon. Dia memohon kepada Yesus, karena dia percaya yang dikatakan kitab para nabi. Kitab para nabi mengatakan “karena kamu menyembah berhala, buta tidak bisa melihat Tuhan, tuli tidak bisa mendengar firmanNya, bisu tidak bisa mengucapkan pujian bagi namaNya, saya buang kamu ke Babel”. Tapi Yesaya juga mengatakan, Tuhan memanggil engkau kembali, sehingga yang buta bisa melihat lagi, yang tuli bisa mendengar lagi, yang bisu bisa berkata-kata lagi. Inilah sebenarnya makna mujizat yang Tuhan sedang katakan. Tuhan akan pulihkan keadaan umatNya. Yang tadinya tidak bisa mendengarkan Tuhan, akhirnya mempunyai kepekaan telinga dengar Tuhan. Yang tadinya tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan, akhirnya mengerti dan bersukacita karena pekerjaan Tuhan. Jadi mujizat bukan sesuatu yang dikerjakan hanya demi kesembuhan itu sendiri, tapi mujizat dikerjakan sebagai simbol bahwa Tuhan sedang memperbaiki umatNya dan mengembalikan kutuk yang Dia berikan menjadi berkat. Sehingga orang buta tidak perlu berkecil hati, dia akan mengatakan “kalau Mesias datang, yang buta akan kembali melihat, yang tuli akan kembali mendengar”. Bahkan Yesus mengatakan kalimat yang lebih lengkap ketika Yohanes Pembaptis datang kepada Dia dan bertanya “benarkah Engkau Mesias itu atau haruskah kami menanti yang lain?”, Yesus mengatakan “katakan ke Yohanes, orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang miskin diberitakan kabar baik, dan orang mati bangkit, ini tambahan luar biasa sekali.
Dan ini yang dilakukan oleh orang buta itu, waktu Yesus dari Nazaret datang ke Kota Yerikho, orang buta ini dengar. Dia tidak bisa melihat, ketika dia meminta sedekah, orang-orang tidak ada yang memperhatikan dia, lalu dia dengar suara ribut, orang banyak sedang datang. Lalu dia mulai bertanya “siapa itu, siapa yang datang?”, kemudian satu orang mengatakan “Yesus dari Nazaret”. Zaman dulu orang biasanya punya nama yang tidak terlalu banyak variasi. Nama Yesus ada banyak, nama Yoses ada banyak, nama Yusuf ada banyak, nama Simon ada banyak. Karena banyak, orang akan mengatakan nama orang itu dan nama papanya, itu alternatif pertama. Sayangnya lagi, nama papa pun pasaran. Akhirnya orang perlu tambahkan lagi julukan. Misalnya namanya Yakobus si kecil, James the last, itu julukannya, mungkin dia kurang tinggi. Atau cara lain lagi adalah beri tahu dari mana asalnya, kalau misalnya itu bisa menjadi sesuatu yang bisa mengungkapkan siapa dia. Waktu Yesus disebut dari Nazaret, ini bukan cuma membedakan Dia dari yang lain, ini juga sindiran karena Nazaret dianggap kota yang negatif, kurang penting, dianggap tidak mungkin menghasilkan orang yang suci karena terlalu banyak kompromi dalam hal perdagangan dan budaya Yunani. Maka Nazaret sangat dihina, orang mencibir Dia dan mengatakan “Engkau bukan nabi, karena Engkau berasal dari Nazaret”. Ketika orang buta itu bertanya “siapa yang lewat?”, orang-orang yang tidak percaya pada Yesus mengatakan “itu Yesus dari Nazaret”. Waktu orang buta itu dengar Yesus dari Nazaret, dia sudah percaya Yesus, dia mengatakan “ini Mesias, saya mesti teriak untuk memanggil Dia, karena kalau Mesias itu datang, Tuhan mengatakan yang buta akan melihat, yang tuli akan mendengar, yang bisu akan berbicara”. Maka dia mulai berteriak dengan keras “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku”. Suaranya membahana kemana-mana. Dan ketika orang mengatakan “Anak Daud”, ini bahaya sekali karena waktu Yesus datang, banyak sekali orang percaya Dia Anak Daud, tapi ada sebagian kecil orang pemimpin yang menentang Dia bukan Anak Daud, mereka mengatakan “itu Yesus dari Nazaret, bukan Anak Daud”. Sehingga ada 2 kubu yang bisa bentrok, maka jangan ucapkan yang provokatif seperti “Anak Daud”. Itu sebabnya orang mengatakan “diam, jangan teriak-teriak”, mereka bukan hanya menyuruh orang buta ini diam, tapi karena bicaranya dia “Yesus Anak Daud”, sangat provokatif. Jika ada orang mengatakan “Yesus Anak Daud” bisa membuat 2 kubu ini pecah. Nanti murid-murid dan orang yang percaya pada Yesus mengatakan “amin, memang betul Dia Anak Daud”, lalu nanti orang-orang yang anti Dia bisa marah dan akhirnya terjadi konflik. Untuk mencegah konflik lebih baik tidak mengatakan hal-hal yang provokatif. Maka orang ini disuruh diam “jangan berseru seperti itu”. Tapi dia makin keras mengatakan “Anak Daud, kasihanilah aku”. Karena dia merasa Yesus itu satu-satunya harapan. Kita mungkin sering tidak rasa, tapi Yesus satu-satunya harapan kita. Saudara tidak mungkin mendapatkan apa pun di dalam hidup, kenikmatan relasi, ketenangan hidup, jaminan setelah kematian, pengharapan kebangkitkan, tidak bisa diperoleh dimana pun. Hanya Yesus satu-satunya yang mungkin memberikan jalan bagimu di hidup ini. Dia yang mati bagi engkau supaya engkau hidup. Dia yang mengorbankan diriNya supaya engkau memperoleh hidup kekal. Dialah yang paling engkau butuhkan. Banyak orang belum sadar kalau dia perlu Yesus, orang buta ini sadar dia perlu Yesus. Dia tahu kalau Yesus tidak datang, dia tidak ada harapan. Maka makin dia dilarang, makin keras dia berseru “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku. Karena jika Engkau memutuskan lewat dari pada aku, aku tidak punya harapan apa pun. Engkau satu-satunya yang dapat menolong, satu-satunya yang dapat memberi pengharapan, Engkau satu-satunya yang kepadaNya aku mau berpaut dan aku mau ikut”, maka dia semakin keras berteriak. Kemudian Yesus memanggil dia, Yesus berhenti dan meminta orang membawa dia kepadanya. Yesus tidak terus jalan, Dia mengatakan “panggilah orang itu”. Orang itu dipanggil dan mendekat kepada Yesus. Ayat 41, Yesus bertanya “apakah yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”, Yesus yang berinisiatif tanya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tahu dia harus kerjakan sesuatu untuk orang yang dipimpinnya, ini konsep Kristen beda dengan yang lain. Konsep Kristen mengajarkan siapa yang jadi kepala, yang dipikirkan adalah kebutuhan orang-orang yang di bawahnya. Kepala yang hanya memikirkan diri sendiri, tidak cocok menjadi kepala. Siapa jadi pemimpin, yang jadi concern dia adalah orang-orang dibawahnya. Maka Dia menyatakan kasihNya dengan besar “apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”.
Saudara dapat pertanyaan seperti ini, orang buta itu terus merendah. Ketika Yesus bertanya “apa yang bisa Aku perbuat untukmu?”, orang buta itu tidak menjawab “bagus, Engkau sudah mengerti bahwa Engkau harus melayani saya. Jadi yang pertama”, tidak. Dia langsung menjawab dengan “Tuhan”, Kyrios, ini pernyataan hormat yang besar sekali, “Tuhan, Engkaulah yang Raja, saya hanya seorang bawahan. Saya datang bukan untuk menuntut, saya datang untuk mengemis”. Aku tidak minta yang lain, hanya satu ini yang aku minta”, karena itu yang dijanjikan. Dan ini juga yang Tuhan Yesus kabulkan, Dia mengatakan “melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan”. Bukan hanya melihat, tapi juga berbagian di dalam Kerajaan Tuhan karena imannya. Bukan karena iman dia bisa melihat, karena iman dia menjadi milik Tuhan, ini hal penting yang Tuhan mau nyatakan. Maka dia mengikuti Yesus dan seluruh orang memuliakan Allah karena peristiwa ini.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Injil Lukas
- 30 Sep 2017
Lipat kali ganda pada masa ini juga
(Lukas 18: 28-34)
Siapa yang layak untuk menjadi bagian dari Kerajaan Tuhan? Orang-orang biasanya mengatakan yang berprestasi, yang dianggap hebat di masyarakat, yang dianggap tinggi kedudukannya, yang dianggap berperan penting di dalam pelayanan, yang mempunyai jasa di dalam Kerajaan Tuhan, merekalah yang akan masuk. Tapi ternyata Injil Lukas mengatakan bahwa mereka yang terus merasa diri tidak layak itulah yang justru Tuhan angkat. Ketika orang datang kepada Tuhan dengan merasa otomatis berhak mewarisi Kerajaan Tuhan, kepada orang ini Tuhan berkata “kamu harus berputar cari jalan yang sempit”. Jalan sempit maksudnya apa? Pada zaman kebudayaan abad ke-1, jalan sempit adalah jalan orang miskin kalau mau menikmati roti sisa dari sebuah istana yang sedang mengadakan perayaan. Istana kalau mengadakan perayaan, tamu-tamu penting akan masuk dari pintu utama, sedangkan orang-orang miskin akan mendapatkan bagian dari roti murah yang akan dibuang lewat dapur, dan orang miskin sedang rebutan di situ. Tuhan Yesus mengatakan “kalau kamu pikir kamu berhak VIP dalam Kerajaan Allah, kemungkinan besar kamu tidak akan masuk. Tapi kalau kamu terus rasa tidak layak, tapi kamu perlu mendapatkan berkat Tuhan, dengan rendah hati kamu memohon berkat itu, justru kamu akan menjadi pewaris Kerajaan Allah”. Yang rasa tidak layak tapi mau datang kepada Tuhan, dialah yang menjadi milik Tuhan. Yang rasa layak dan merasa otomatis Tuhan akan pilih dia, dia justru menjadi orang yang disingkirkan dari Kerajaan Tuhan.
Dengan pengertian inilah baru kita bisa memahami narasi selanjutnya dari Injil Lukas. Ketika Petrus berkata kepada Tuhan Yesus “kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikuti Engkau”. Petrus merasa kami sudah meninggalkan segala kesenangan, kami sudah tinggalkan segala hal yang baik dalam hidup kami, sekarang kami tinggalkan di belakang dan mengikuti Tuhan. Di dalam narasi lain, dalam Matius, Markus, Petrus menanyakan ini untuk meminta jawaban dari Tuhan, “apa yang kami bisa dapat? Kalau kami tinggalkan semuanya apa yang kami bisa dapat. Apakah kami harus tinggalkan semuanya dan hanya sampai begitu saja, sampai di situ, kami kehilangan semuanya dan mengikuti Engkau. Apa yang kami dapat setelah kami tinggalkan semua?”. Jawaban Tuhan Yesus adalah jawaban yang sangat dalam pengertiannya, karena kalimat jawaban Yesus hanya bisa ditafsir kalau Saudara mengerti apa yang diajarkan di dalam Perjanjian Lama mengenai pemulihan Israel. Jadi yang Yesus katakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya semua orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, istrinya, atau saudaranya, orang tuanya, atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga. Dan pada zaman yang akan datang, dia akan menerima hidup yang kekal”. Ini janji Tuhan untuk pemulihan Israel. Jadi Tuhan mengatakan kepada Israel, misalnya di dalam Mazmur 126 atau Yesaya 35, Yesaya 44, atau pun Yesaya 54. Di dalam 3 bagian ini Yesaya 35,44,54 saya jadikan contoh, tapi ini terus ada di dalam banyak sekali Kitab Yesaya. Kitab Yesaya menjanjikan bahwa Tuhan memulihkan tanah itu menjadi keadaan yang seharusnya. Berarti tadinya tanah itu memang dimilik oleh orang Israel, tapi Tuhan mengatakan pembuangan ini akan membuat engkau kembali dan menyadari berkat yang Tuhan berikan setelah pembuangan. Sehingga bagi orang jahat, pembuangan adalah hukuman. Bagi orang yang setia kepada Tuhan, pembuangan adalah tahap yang perlu untuk janji Tuhan direalisasikan. Berarti sebelum dibuang, janji Tuhan belum pernah mencapai kesempurnaannya karena waktunya belum tiba, ini yang banyak orang Israel tidak sadari. “Dulu kami ada Bait Suci, sekarang tidak ada, dulu kami hidup dalam damai sejahtera, sekarang tidak, dulu kami hidup dalam keadaan yang senang, sekarang dijajah Babel, kami ingin kembali ke zaman itu”. Tapi Tuhan mengatakan “tidak, kamu akan masuk ke dalam tahap yang baru dari rencana Tuhan, tahap yang melampuai keadaan yang kamu pernah lampaui sebelumnya”. Banyak orang merasa hidupnya baik-baik saja tanpa Tuhan, merasa hidupnya sudah punya keluarga yang baik, punya suami yang baik, punya istri yang baik, anak yang baik, orang tua yang baik, pendidikan yang baik, sehingga orang merasa hidupnya sudah baik. Waktu dia rasa seluruh hidupnya sudah baik dan dia harus meninggalkan hidup ini, dia merasa mengorbankan sesuatu. Waktu pilih ikut Tuhan dan harus mengorbankan semua, akan terasa unsur pengorbanan karena merasa sudah memiliki hidup yang baik. Tapi bagian ini memberikan hikmat penting bagi kita bahwa hidup di luar Tuhan atau hidup yang belum dipulihkan Tuhan adalah hidup yang tidak menikmati kebaikan yang Tuhan rancang. Banyak orang merasa tidak perlu Tuhan tapi bisa jalan sendiri, dan inilah bahayanya. Salah satu bahaya dari tipuan iblis adalah menawarkan alternatif hidup non-Kristen dan ternyata itu berhasil. Sehingga ketika Petrus mengatakan “kami sudah meninggalkan segala kepunyaan kami untuk mengikuti Engkau”, Tuhan seolah mengatakan mengapa kamu merasa meninggalkan sesuatu yang belum disentuh oleh Kristus sebagai sesuatu yang rugi. Sebaliknya ketika engkau mengikut Kristus maka segala sesuatu yang engkau tinggalkan justru punya potensi lebih baik karena akan disentuh oleh Kristus.
Jadi bagian ini mengingatkan kita bahwa ada dua dunia yang beda total, yang satu dunia tanpa Tuhan, yang kedua dunia di dalam design-Nya Tuhan. Apakah hidup kita sekarang adalah hidup di dalam design Tuhan atau tidak? Kalau saya mengatakan dunia, ini harus dipahami dengan jelas. Pengertian sudah disentuh Tuhan itu apa? Maksudnya disentuh oleh Tuhan adalah saya sudah melihat bidang ini di dalam cara yang baru yaitu di dalam cara Tuhan. Untuk melihat dengan cara baru yaitu hidup di dalam Tuhan, Saudara dan saya perlu mengerti betapa luas, limpah dan betapa multidimesionalnya berita Alkitab. Karena kalau tidak, kita akan buang dunia kita yang lama, lalu menyatakan ada dunia baru yang sudah disentuh oleh Tuhan, tapi dunia ini sangat sempit untuk hidup. Banyak kali orang sulit menjadi Kristen karena tidak merasa Kekristenan akan membahas sesuatu di dalam kehidupan yang real. Alkitab begitu multidimensional, sehingga waktu Alkitab mengatakan Tuhan harus segalanya, kasihi Tuhan dengan semua, maka Alkitab memberitahu caranya bagaimana mengasihi Tuhan di dalam semua. Bagaimana engkau mengasihi Tuhan di dalam studi, di dalam keluarga, di dalam waktu luangmu, di dalam keindahan, di dalam liburan, semua ada. Alkitab memberikan kepada kita kemampuan memandang hidup secara multidimensional. Sehingga kita baru mulai sadar ketika kita mulai mengerti firman, “ternyata pekerjaanku dulu tidak seberes yang saya pikir. Dulu saya pikir kalau saya cukup berprestasi, saya cukup dipuji sama Tuhan, gaji naik terus, itu sudah beres. Waktu saya mengerti pandangan Tuhan tentang pekerjaan, baru saya mengerti masih banyak yang harus diperjuangkan. Dulu saya pikir istri saya dan saya baik-baik saja, kami saling mengasihi, tidak sering bertengkar, kami saling merindukan satu sama lain, waktu saya mengenal kebenaran Alkitab, baru saya tahu masih ada unsur-unsur lain dalam pernikahan yang belum saya miliki. Jadi ketika Tuhan datang, dia akan mengubah banyak hal di dalam dunia ini. Yesus adalah Sang Pembawa perubahan yang paling sukses, paling radikal dan paling mulia dalam sejarah manusia. Siapa bisa mengubah dunia seperti Kristus? Tidak ada. Dulu banyak firaun besar muncul, tidak ada satu pun yang bisa mengubah banyak hal di dalam hidup, yang mereka bisa ubah hanya ruang-ruang museum diisi dengan mayat dari firaun mereka. Banyak orang melakukan perubahan, tapi tidak sesignifikan Yesus. Alexander Agung membawa budaya Yunani di seluruh daerah yang maju yang diketahui pada waktu itu, tapi dia hanya sebatas itu di dalam melakukan kehidupannya. Tapi kalau Saudara melihat Yesus, seorang yang mengakhiri hidupNya di atas kayu salib adalah orang yang merombak dunia secara total. Di mana tempat yang belum disentuh Kekristenan dan menjadi baik? Tidak ada.
Banyak orang pikir dia sudah korbankan sesuatu untuk Tuhan, padahal sebenarnya dia tidak korbankan sesuatu untuk Tuhan. Dia tinggalkan segala sesuatu untuk berbagian di dalam pekerjaan Tuhan yang efek besarnya akan mempengaruhi segalanya, termasuk apa yang dia tinggalkan. Tentu kalimat ini diberikan kepada orang yang sangat kesulitan meninggalkan keluarganya, ini bukan untuk orang yang benci keluarganya lalu cari jalan untuk keluar dari rumah. Ini namanya menunggangi pelayanan Tuhan demi kepentingan pribadi, hati-hati. Yang menunggangi apa-apa, itu biasanya terbongkar. Tapi orang yang mencintai keluarganya, yang setiap kali harus menghabiskan banyak waktu di luar, bukan di rumah, lalu merasa sangat sedih dengan tindakan ini, ini orang yang benar. Dan Tuhan memberikan penghiburan kepada orang-orang seperti ini, “kami sudah lama meninggalkan apa yang sebenarnya menjadi kesenangan kami demi Kerajaan Tuhan, kira-kira apa yang kami bisa dapat?”. Saudara mungkin berpikir Yesus akan berkata “upahmu besar di sorga”. Yesus tidak mengatakan itu di perikop ini. Tuhan Yesus mengatakan “yang kamu kerjakan akan membuat kamu dapat apa yang hilang itu, berkali-kali lipat sekarang”. Mengapa sekarang? Karena tidak ada orang yang ikut Yesus yang pekerjaannya tidak berdampak di sini, ini yang penting yang harus kita ketahui. Dampak yang dimiliki Tuhan Yesus terasa di sini. Mana ada dampak Tuhan Yesus yang terasa di sorga dan bisa kita nikmati? Sorga saat ini jauh karena tidak bisa kita lihat langsung, tapi dampak dari pekerjaan Kristus sangat nyata di bumi ini. Sehingga waktu Dia panggil orang-orang mengikuti Dia, orang-orang ini akan mengerjakan pekerjaan membawa Kerajaan Allah yang berdampak di sini. Jangan pikir kita punya harta di sorga,waktu kita kerjakan sesuatu yang tidak ada dampak di dunia ini. Sebab tidak ada harta di sorga yang diberikan kepada orang-orang yang tidak melakukan apa pun di dunia ini. Tuhan mengatakan hartamu tersimpan di sorga, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kerajaan Allah dan kebenaran yang dinyatakan di bumi ini. cari dahulu Kerajaan Allah, ini dikatakan di dalam Matius, dan Matius sering memakai Kerajaan Sorga. Dia memakai Kerajaan Sorga sebagai bentuk yang belum diwujudkan di bumi. Matius selalu memakai bentuk 2 ini, sorga dan bumi, Tuhan dan manusia, Tuhan dan setan, dan lain-lain, selalu ada tekanan dua ini. Maka dia dengan konsisten terus membandingkan antara sorga dan bumi. Sehingga waktu dia mengatakan Kerajaan Sorga, dia sedang mengingatkan orang ada kerajaan yang belum datang, tapi nanti akan datang. Ada studi dari seorang bernama Jonathan Pennington, ini studi yang penting sekali, karena umumnya dulu orang berpikir waktu Matius tulis Kerajaan Sorga itu karena Matius takut memakai kata Allah, karena Allah itu terlalu tinggi, sehingga tidak sopan waktu menyebut nama Allah. Sehingga waktu Matius bilang Kerajaan Sorga maksudnya Kerajaan Allah. Tapi Pennington membuktikan Matius tidak sungkan pakai kata Allah di tempat lain, mengapa dia sungkan memakai Kerajaan Allah? Matius tidak pernah sungkan pakai kata Allah di tempat lain, “kamu harus berbakti kepada Allah”, dia tidak mengatakan “kamu harus berbakti kepada Pemilik sorga”. Jadi mengapa dia memakai Kerajaan Sorga? Pennington memberi argumen bahwa Matius ingin mengatakan yang sekarang di sorga, yang kamu belum lihat, akan datang ke sini. Sehingga ketika Yesus mengatakan “kerjakan demi Kerajaan Allah”, berarti Kerajaan Sorga itu akan dinyatakan di sini, pikir dahulu itu. Cari dahulu Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah akan berdampak di sini. Ini pola pikir yang harus kita miliki. Karena banyak orang Kristen berpikir dia sudah cukup rohani dengan berdoa, banyak membaca Alkitab, mengetahui banyak hal, tapi tidak pernah bersumbangsih apa pun di dalam dunia ini. Kalau saya tidak berdampak di masyarakat, saya tidak berdampak mempengaruhi orang lain untuk ikut Tuhan, maka sebenarnya saya tidak berhak mendapat apa pun, termasuk harta di sorga. Tidak ada harta di sorga bagi orang yang tidak menikmati pekerjaan Tuhan di bumi yang berdampak di bumi. Itu sebabnya Yesus mengatakan “sesungguhnya orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan keluarganya, istrinya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga”. Mengapa menerima lipat ganda pada masa ini? Karena yang dikerjakan oleh Kerajaan Allah akan memulihkan banyak hal, termasuk hal-hal yang ditinggalkan di dalam keharusan untuk melayani Kerajaan Allah.
Ini sama dengan berita dari Kitab Yesaya yang tadi saya sudah kutip. Yesaya 35, 44, 54, semua berbicara tentang pemulihan Israel yang melampaui Israel yang lama. Dulu Israel membangun Bait Suci yang besar sekali saat zaman Salomo, setelah itu hancur, mana Bait Sucinya sekarang? Adakah Bait Suci lebih besar dari yang dibangun Salomo? Daniel melihat Bait Suci yang besarnya itu dari ujung ke ujungnya bumi. Jadi Bait Suci yang kamu kenal itu kecil, nanti Tuhan akan membuat Bait Suci dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi yang lain. Sebab inilah batu yang Tuhan pakai yang akan menjadi gunung yang besar, yang menggantikan Bait Suci yang lama, dan inilah tubuh Kristus. Tubuh Kristuslah yang menggantikan Bait Suci yang lama. Lalu dulu ada Yerusalem sebelum dihancurkan Babel. Setelah dihancurkan Babel, adakah Yerusalem baru? Yerusalem baru menurut Wahyu, itu turun dari sorga. Maka Yesus adalah pembawa perombakan yang membuat kedamaian dan kesenangan lama menjadi sesuatu yang kurang, kosong dan tidak terlalu berarti dibandingkan dengan kesenangan yang akan diberikan nanti.
Kita semua punya hal yang kita nikmati sebelum kenal Tuhan, Saudara punya keluarga yang baik. Orang di luar Kristen tidak tentu keluarganya jelek, karena banyak orang di luar Tuhan, keluarganya sangat baik, pekerjaannya sangat baik, dia menikmati hidupnya dengan sangat baik, tapi Yesus mengingatkan ini adalah dunia yang belum disentuh oleh Tuhan, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan setelah Tuhan nyatakan kemuliaanNya. Pekerjaan yang Saudara miliki sebelum kenal Tuhan, sebelum didedikasikan kepada Tuhan, tidak ada bandingan dengan pekerjaan Saudara setelah Saudara dedikasikan bagi Tuhan. Keluarga Saudara yang Saudara nikmati kehadirannya sekarang tidak ada bandingan apa-apanya dengan keluarga yang sudah didedikasikan bagi Tuhan. Kalimat mengharukan yang diberikan papa saya kepada saya adalah dia mengatakan “saya sangat sayang kamu dari dulu, tapi sejak kamu berkotbah, melayani Tuhan di gereja, baru saya mengerti apa yang namanya mengasihi anak di dalam Tuhan”, kalimat ini mengharukan sekali. Dia dari dulu sayang saya, tapi setelah kami diubah oleh Kristus, kami sama-sama mendedikasikan hidup bagi Kristus, baru ada pengertian tentang keindahan memiliki seorang anak atau seorang anak merasakan kelimpahan memiliki seorang ayah, karena sudah didedikasikan bagi Kristus. Berikan hidupmu bagi Tuhan dan apa pun yang kamu kerjakan bagi Tuhan dan engkau akan saksikan bahwa ada cara di dalam Kerajaan Allah untuk menikmati hal itu dengan lebih limpah dibandingkan kenikmatan yang engkau miliki di luar Tuhan. Itu sebabnya Tuhan mau menyentuh seluruh aspek hidupmu, bukan aspek spiritual saja, bukan cuma penginjilanmu, bukan cuma doamu, bukan cuma baca Alkitabmu, tapi pekerjaanmu sehari-hari, pergaulanmu, pernikahanmu, pacaranmu, apa pun yang kamu miliki, Tuhan ingin itu masuk dalam kerajaanNya baru bisa dinikmati.
Tapi untuk itu masuk dalam Kerajaan Allah, itu berat, karena harus ada pengorbanan. Yesus mau memasukan seluruh umat dalam Kerajaan Allah. Dia harus pergi ke Yerusalem, dihina oleh para pemimpin, diludahi, disesah dan dibunuh oleh orang-orang Yerusalem. Tapi pada hari ke-3 Dia akan bangkit. Bagaimana caranya Kerajaan Allah masuk? Saudara dan saya harus berkorban, sama seperti Kristus dulu berkorban. Kita mau membawa prinsip Kerajaan Allah ke dalam dunia, itu sulit kalau kita tidak mau berkorban. Saudara mau orang kenal Tuhan Yesus, itu sulit kalau Saudara tidak mau berkorban. Saudara ingin orang mengenal Kerajaan Allah, sulit kalau kita sendiri terlalu nyaman di dalam keadaan kita dan menolak melakukan apa pun demi Kerajaan itu. Mari berkorban demi Kerajaan Tuhan karena di situ ada sukacita mendapatkan segala sesuatu lipat ganda pada masa ini. Yesus mengatakan pada ayat 30 “dan pada masa yang akan datang menerima hidup kekal”.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)
- Khotbah
- 19 Sep 2017
Kasih
(1 Korintus 13: 1-13)
Setiap agama pasti berbicara mengenai kasih. Tapi kita sebagai orang Kristen pasti mempunyai pemahaman yang lain dari pada yang lain. Hari ini saya akan membagikan dari pasal yang sangat istimewa, pasal yang mengingatkan kita apa yang harus kita bicarakan sebagai orang Kristen. Pada hari ini kita datang ke tempat ini karena Tuhan mengasihi manusia dan manusia juga harus mengasihi Tuhan dan sesama. Itu adalah berita inti di dalam Alkitab. Karena itu hari ini kita membahas apa yang dikatakan Rasul Paulus di 1 Korintus 13. Pasal 12 membahas tentang karunia Roh Kudus. Pasal 14 juga membahas tentang karunia Roh Kudus. Semestinya kalau kita membahas sesuatu, apa yang dimulai pertama kali harus diselesaikan dulu, jangan loncat ke bagian yang lain. Tapi secara normal tulisan itu harus selesai dulu. Namun ini lain, karena ada pesan yang tidak boleh terlewatkan. Pasal 12 membahsa tentang karunia, semestinya dilanjutkan di pasal 13, tapi dilanjutkan di pasal 14. Dan dia menaruh kata yang paling menyukakan segala sesuatu yaitu kasih. Contohnya, kita semuanya pasti tahu hamburger, istilah lainnya sandwich, sandwich itu pasal 12, 14, dan ditengahnya itu yaitu pasal 13, itulah sandwich. Pada waktu Saudara makan sandwich, Saudara bisa buang yang atas atau bawah, tapi tidak membuang yang di tengahnya, karena itu yang paling enak dan paling dibutuhkan manusia. Pasal 12 dan 14 boleh tidak ada, tapi pasal 13 tidak boleh tidak ada, itu namanya kehidupan sebagai orang Kristen. Saya membagikan dalam 3 bagian pasal 13 ini. Ayat 1-3 namanya love distinction, kasih berbeda dengan yang lain. Ayat 4-8a namanya love description, Rasul Paulus mendeskripsikan apa itu kasih. Ayat 8b-13 namanya love durability, kalau yang lain bisa hilang, bisa tidak ada, tapi kasih selama-lamanya tidak akan hilang. Pada waktu dikatakan love distinction, itu adalah sesuatu yang intinya adalah kasih, dia lebih tinggi dari pada segala sesuatu. Pasal 12 dan 14 membahas tentang karunia Roh Kudus, tapi yang dikatakan di sini, kasih lebih tinggi dari pada karunia-karunia itu. Harus Saudara perhatikan, kalau engkau mempunyai karunia dari Tuhan semestinya engkau merasa lebih rendah hati dari biasanya. Semua yang kita miliki adalah karunia Tuhan. Tuhan yang sangat suci, sangat mulia, Dia dari sorga turun ke bumi, itu karena dipenuhi kasih. Engkau mempunyai karunia, tapi engkau merasa lebih tinggi dari pada yang lain, itu adalah suatu kesombongan rohani. Kalau kita mempunyai karunia, justru membuat kita lebih rendah dari yang lain, itu baru namanya karunia. Dan dikatakan kalau pun punya bahasa malaikat pun tapi kalau tidak ada kasih, itu sama sekali tidak berguna. Justru diberi karunia supaya kita lebih merendahkan diri, bukan meninggikan diri. Distinction atau perbedaan kasih dari orang Kristen ada 2 hal, yaitu di dalam quality dan motivation. Di dalam quality, kasih Tuhan sangat murni, tidak tercampur dengan segala sesuatu. Kasih yang murni, kita ingat kalimat “you can give without loving, but you can’t love without giving”. Kasih yang murni bukan apa yang engkau dapat, tapi apa yang engkau berikan, itu namanya sacrificial love. Kasih yang berkorban, not what you can get but what you can give, that is pure love. Pada waktu Tuhan mengasihi manusi, Dia tidak mengharapkan apa yang bisa didapat dari manusia, tapi Dia memberikan nyawaNya, 100% tidak tercampur apa pun. Itu namanya the pure quality of love, dengan mempunyai motivasi yang murni. Kalau saya bertanya siapa yang sudah berkeluarga dan punya anak yang dewasa dan bekerja? Misalnya ada masalah di Siria dan Irak, anakmu yang sudah sangat berhasil, kalau engkau sungguh-sungguh prihatin dengan masalah di Siria dan Irak, apakah engkau mau mengirimkan anakmu ke sana? Pasti tidak mau kirim. Allah Bapa sudah tahu AnakNya nanti akan dicela, dihina, disalib dan dibunuh, tapi tetap Allah Bapa mengirimkan AnakNya yang tunggal, itu yang namanya pure love, quality love, tidak tercampur dengan segala sesuatu. Karena kasih yang sesungguhnya adalah kasih yang memberi bukan apa yang kita dapat. Dan inilah yang namanya reformasi, mengapa Martin Luther sangat mati-matian. Pak Tong sering mengutip apa yang dikatakan Martin Luther, kalau dia berkotbah dengan kotbah yang sangat bagus adalah kalau dia didorong oleh kemarahan Allah yang kudus. Seringkali kita mempunyai unsur-unsur seperti zaman dulu, walau pun berdosa, nanti bisa dibeli dan bisa dibereskan dosanya. Kita sekarang ada “indulgensia”, kita berpikir “tidak apa-apa berbuat salah, nanti kalau saya berdoa kepada Tuhan, Tuhan juga akan ampuni”. Paling celaka lagi, sebelum kita berbuat dosa, kita mengatakan “nanti juga Tuhan akan mengampuni saya”. Saya mau bertanya dengan jujur, kita sadar tidak kalau Allah yang suci itu sangat marah? Kalau engkau tidak sadar akan hal ini, berarti engkau adalah orang Kristen yang bermain-main dengan anugerah Tuhan. Apakah engkau bisa menjamin, kalau engkau minta ampun kepada Tuhan, Tuhan akan ampuni engkau? Saudara ingat Ananias dan Safira? Mereka berbohong dan langsung mati pada saat itu juga. Mengapa Tuhan lakukan itu? Karena itu permulaan gereja, dan Tuhan tidak main-main. Tapi setelah itu tidak seperti itu lagi. Jangan sederhanakan yang namanya pengampunan Tuhan. Itu yang dikoreksi Martin Luther, bagaimana mungkin dosa dibeli dan diampuni dengan uang. Ditambah lagi, kalau punya keluarga yang mungkin masuk ke purgatori, masih ada jalannya. Ajaran Katolik memang kurang Alkitabiah dalam hal ini. Ajarannya, kalau orang sangat baik, dia langsung ke sorga. Tapi kalau orang itu jahat, langsung ke neraka. Dan kalau sedang-sedang, dia akan ke purgatori, dia masih ada harapan. Harapannya karena bisa membeli surat pengampunan. Johann Tetzel mengatakan “kalau lebih cepat, lebih banyak surat, pengampunan lebih banyak”. Koin yang dimasukan ke kotaknya, akan berbunyi, maka satu jiwa di purgatori akan cepat naik. Kalau beli 7 surat, berarti 7 koin, maka lebih cepat naik ke atas karena banyak uang. Itu yang membuat Martin Luther marah. Saya mau bertanya betulkah setiap kali kita datang kepada Tuhan dan Tuhan akan mengampuni kita? Kita ingat Saul, kita ingat bangsa Israel yang membawa korban tapi Tuhan tidak terima, apakah semudah itu “nanti saya juga akan diampuni Tuhan” apa bedanya dengan beli indulgensia? Kita harus sadar Allah itu suci, Allah itu kasih, walau pun Dia adalah Allah yang mengampuni, kita harus sadar siapa Dia. Kualitasnya adalah murni Dia mengasihi kita, motivasinya? Tuhan tidak meminta apa yang engkau kembalikan kepada Dia, itu namanya sacrificial love, Dia berkorban. Apa itu berkorban? Not what you can get but what you can give. Saya mau tanya siapa yang sudah menikah? Apa bedanya I like you dan I love you? I like you hanya yang menyenangkan, tapi pada waktu mengatakan I love you, yang tidak menyenangkan pun harus diterima. Sebenarnya apakah kita layak diterima Tuhan? Kita banyak sembarangan di hidup kita. Tuhan tidak mengatakan I like you, tapi Tuhan mengatakan I love you. Apa adanya kita diterima Tuhan, itu namanya the purity of love, tidak tercampur apa pun. Yang dicintai bukan hanya kelebihanmu, yang merupakan kekuranganmu pun diterima, itu namanya sacrificial love.
Sekarang Rasul Paulus memberikan suatu deskripsi, apa sebenarnya kasih itu? Pasal 13: 13, the nature of love is 13. Itu bukan kebetulan, tapi Tuhan mengatur sedemikian rupa dan Tuhan menjelaskan kasih yang sesungguhnya itu apa. Kasih yang sesungguhnya itu bukan pernyataan, kasih yang sesungguhnya adalah perbuatan. Karunia yang tertinggi bukanlah karunia Roh Kudus, karunia yang tertinggi adalah buah Roh Kudus. Itu bedanya karunia dengan buah, buah lebih tinggi dari pada karunia. Orang tidak boleh tidak ada buah, orang boleh tidak ada karunia. Galatia 5:22-24, di situ ada suatu yang Rasul Paulus tambahkan apa itu buah Roh Kudus. Saya kaitkan ayat ini dengan pelayanan yang baru saja selesai, dimana Tuhan bekerja, iblis juga bekerja. Kasih yang sesungguhnya kalau kita bisa mengasihi yang tidak layak dikasihi, itu baru namanya kasih. Kalau kita mengasihi sesama saja, semua orang juga bisa, siapa yang tidak bisa? Karena yang tidak layak dikasihi pun harus kita kasihi. Kalau kita tidak bisa mengasihi yang lain, berarti kita belum mengerti apa itu kasih yang sesungguhnya. Dan ketika ada sedikit salah paham dan sebagainya saya mengatakan, ada 3 hal yang bisa membuat orang emosi walau pun dia sudah Kristen. Yang mempengaruhi emosi orang kalau dia ada problem di kantornya, di keluarga, dan kalau ditambah pelayanan di sini, emosinya bisa tidak stabil. Dan faktor kedua mengapa bisa emosi adalah kalau orang lapar dan disuruh-suruh. Secara emosi orang yang lapar, kemudian disuruh-suruh, dia bisa makan kamu. Dan itulah mengapa Tuhan bukan saja Teolog tapi juga Psikolog yang sangat baik. Kita harus bijaksana terhadap hal semacam ini, kalau itu betul-betul terjadi di dalam pelayanan, di situ kita bisa memratekan namanya kasih. Kalau dia sudah sangat marah, yang meredakan kemarahannya hanyalah cinta dari Tuhan. Kita sering mengerti kasih itu adalah aktif, kalau dia butuh dia kasih, selalu aktif. Tapi apakah kita juga tahu kalau kasih itu pasif? Misalnya istri sudah marah-marah, semestinya suami bisa membalas, tapi demi cinta kepada istrinya, dia tidak membalas, itu yang namanya kasih yang pasif. Istilahnya mengalah tapi bisa menang. Pada waktu saya tidak membalas apa yang diperbuat orang, berarti itu saya sudah mencintai, walau pun saya punya hak untuk membalas. Kita mempunyai hak untuk membalas, tapi pada waktu saya tidak membalas, itu kasih yang pasif, karena saya mencintai orang itu.
Bagian terakhir, Yohanes 3:16 “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Walau pun Rasul Paulus menjelaskan pasal ini dengan sangat baik, tapi kalau untuk mengerti doktrin kasih, saya lebih memilih Rasul Yohanes. Injil Yohanes, 1-3 Yohanes, kalau engkau membaca keempat itu, engkau pasti diubah oleh Tuhan sepenuhnya. Kita tahu Yohanes 3:16 itu pekerjaan Tuhan kepada kita. Tapi saya paralelkan dengan 1 Yohanes 3:16, mirip sekali tapi hanya beda sedikit “demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”. Diteruskan ayat 17-18 “barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”. Pada waktu Rasul Paulus mendiskripsikan kasih, kasih itu bukan perbuatan, itu bukan teologi di otak, tapi itu teologi di dalam hati. 1 Yohanes 4: 20-21, kalau kita menyadari hal ini, tidak mungkin kita berantem di dalam gereja, mungkin bisa salah paham, tapi tidak mungkin sampai berantem, karena kita harus mengerti ayat ini.
1 Korintus 13: 8b-13. Segala hal yang terjadi di dalam dunia ini sifatnya sementara, tapi ada sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini dan sifatnya kekal. Rasul Paulus mengatakan 3 hal yang sangat penting, yaitu iman, pengharapan dan kasih, tetapi yang terbesar dan terpenting adalah kasih. Iman dan pengharapan tidak mungkin dipisahkan. Dimana ada iman pasti ada pengharapan, dimana ada pengharapan pasti ada iman. Tetapi saya mau bertanya, kalau Tuhan sudah datang ke dunia ini dan kita sudah bersama-sama di sorga apakah kita masih butuh iman? Segala sesuatu akan berakhir, tapi ada satu hal yang sifatnya kekal selama-lamanya yaitu kasih, karena natur dari Allah adalah kasih. Ada 4 macam kasih, yang pertama kasih storge, yaitu natural live, this is love between parents and childrens, orang tua mencintai anak dan anak mencintai orang tua. Yang kedua adalah eros, sexual love, kalau Saudara mendengar sexual love, itu adalah suci adanya, doktrin yang namanya seks harus diajarkan di gereja. Banyak yang mengatakan sepertinya ini kurang enak dibahas di gereja, tapi seharusnya ini dibahas di gereja, kalau tidak akan dibahas di tempat lain yang tidak mempunyai pengertian yang benar. Oleh sebab itu sebagai orang tua harus menjadi teman anaknya. Kalau orang tua tidak bisa menjadi teman bagi anaknya, anak itu akan mencari pengertian seks di luar. Semestinya orang tua yang mendidik anaknya mulai dari masa kecil, pada waktu mereka di usia puber, orang tua harus mendidik mereka di dalam kasih Tuhan, bagaimana mereka menghargai yang namanya seks. Eros adalah sexual love, ini kasih antara suami dan istri saja, tidak boleh dibagi kepada yang lain, ini namanya eros, sexual love, suci di hadapan Tuhan. Yang ketiga adalah phileo, yang berarti brotherly love, kita harus mengasihi bukan hanya orang Kristen. Kalau kita hanya mengasihi orang Kristen, itu bukan kasih yang sesungguhnya. Perhatikan storge, eros dan phileo itu namanya horizontal love, kasih di antara manusia yang berdosa. Tetapi ada satu kasih yang vertikal. Kasih yang sesungguhnya bukan dari manusia ke manusia, kasih yang sesungguhnya dari atas ke bawah. Kasih yang sesungguhnya tidak bisa dimengerti dari bawah ke atas, tapi dari atas ke bawah, itu namanya vertikal. Horizontal tanpa vertikal bisa jatuh, tapi vertikal tanpa horizontal bisa bertahan selama-lamanya. Kalau kita tidak mempunyai kasih agape, segala sesuatu bisa runtuh. Bagaimana kita mengasihi pasangan kita, bagaimana kita mengasihi sesama kita, modalnya bukan dari diri Saudara, modalnya adalah kasih dari Tuhan. Kasih Tuhan menjadi modal bagi kita supaya kita bisa mengasihi yang tidak layak untuk dikasihi. Kadang-kadang ada orang mengatakan “saya sangat benci orang itu, dia tidak layak dikasihi”, saya mau bertanya siapa di antara kita bisa mengatakan “saya adalah orang yang layak dikasihi Tuhan”. Kita semua layak dibuang ke neraka. Kalau kita bisa masuk sorga itu karena anugerah Tuhan, yang kita tidak layak meneriman. Kita layak ke neraka, kita tidak layak ke sorga, kalau kita ke sorga itu hanya karena anugerahNya, itulah salib. Engkau dan saya tidak mempunyai kekuatan bertahan kalau kita tidak mengerti salib. Salib ini bukankah sangat paradoks? Di tempat yang hina tapi di tempat yang paling kuat. Mengapa Yesus Kristus mengatakan “Akulah terang”, tapi Dia mengalami kegelapan? Berapa jam Tuhan Yesus di atas kayu salib? Tuhan Yesus disalib mulai jam 9 pagi dan matinya jam 15, jadi Dia 6 jam berada di atas kayu salib. Secara alamiah bukankah jam 12 adalah saat dimana matahari bersinar paling terik, tapi saat itu yang terjadi adalah kegelapan, itu sangat paradoks. Selanjutnya, Tuhan mengatakan “Aku haus” perkataan ke-5. Perkataan terakhir di kayu salib adalah “Aku menyerahkan nyawaKu”. Kalau kita memahami apa yang dilakukan Tuhan Yesus di atas kayu salib, baru kita mempunyai kekuatan untuk mengasihi. Yesus mengatakan perkataan kedua “Akulah terang”, tapi kegelapan terjadi. Bukankah dimana Tuhan Yesus berada seharusnya selalu terang terus, tetapi mengapa kegelapan terjadi? Karena kita yang hatinya digelapkan oleh dosa, pada waktu Tuhan datang akan diterangi, Dia melewati kegelapan supaya kita diterangi. Perkataan kelima adalah “Aku haus”, Saudara ingat perkataan Yesus kepada perempuan Samarian “kalau engkau minum air yang dari padaKu, engkau tidak akan lagi haus”, tapi mengapa Dia haus di atas kayu salib? Supaya kita tidak lagi mengalami kehausan. Cerita Lazarus dan orang kaya, orang yang sangat kaya, dia mungkin memakai air dengan sembarangan karena dia sangat kaya, tapi pada waktu dia sudah di neraka, dia meminta belas kasihan untuk diberi air. Tuhan sudah mengalami neraka itu supaya Saudara tidak mengalami kehausan. Perkataan keempat di atas kayu salib, ini perkataan yang sangat keras, beda dengan yang lain, “Eli, Eli, lama sabhaktani”, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Perpisahan itu sangat menyakitkan, pada waktu Tuhan berteriak “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku”, Yesus berpisah dengan Allah Bapa, dan itu karena perbuatan dosa kita. Secara paradoks, perpisahan Yesus Kristus adalah perpisahan yang menyatukan. Yesus harus berpisah, dan karena keterpisahan itulah yang menyatukan kita dengan Allah, kasihNya adalah kasih yang menyatukan.
Betulkah kita mengasihi Tuhan dan sesama dengan sungguh? Kalau kita mengerti apa yang Yesus sudah perbuat di atas kayu salib, kita tidak akan main-main di dalam hidup kita.
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)