Penghukuman adalah bagian penting di dalamnya. Mengapa Tuhan memusnahkan generasi pertama? Karena mereka menolak dibentuk menjadi manusia. Dan resiko untuk mereka menghancurkan yang lain terlalu besar, maka Tuhan hancurkan mereka. Kalau begitu Tuhan tidak mengasihi? Tuhan justru mengasihi yang perlu dilindungi, generasi kedua dengan cara membinasakan generasi pertama. Jadi cara berpikir reflektif lebih cocok untuk memahami Alkitab dari pada dengan cara berpikir curiga. Karena dengan kecurigaan, Saudara mengambil satu aspek dan menjadikannya total, menjadikannya segalanya. Kita tidak limpah, kita kurang reflektif mempertimbangkan begitu banyak aspek lain yang Tuhan mau ajarkan kepada kita. Ini yang mereka katakan “mengapa Tuhan mengatur hidup Israel?”, kalau bukan Tuhan yang mengatur, siapa yang atur? “Mereka harus bebas”, jadi kebebasan mendominasi seluruh kehidupan? Salah, kebebasan tidak bisa mendominasi seluruh kehidupan. Kebebasan adalah unsur penting dan harus ada, tapi dia harus didampingi dengan hal-hal lain, seperti perjanjian, pembatasan diri, relasi, kasih dan juga kebertundukan. Itu sebabnya Tuhan membebaskan Israel lalu memberikan kepada mereka dua hal. Yang pertama adalah ibadah, ibadah diperlukan untuk mereka menjadi manusia yang sejati, menikmati kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. Dan yang kedua adalah Tuhan memberikan kepada mereka komunitas. Tuhan memberikan kepada mereka kelompok yang di dalamnya mereka bisa belajar menjadi manusia. Cara menjadi manusia menurut Taurat adalah dengan memperlakukan orang lain sebagaimana Tuhan mau mereka diperlakukan. Manusia menjadi manusia bukan karena dia diperlakukan secara manusiawi. Manusia menjadi manusia karena dia memperlakukan orang lain secara manusiawi. Orang lain memperlakukan kita apa, itu tidak akan mempengaruhi siapa kita, ini prinsip kebebasan yang penting. Orang bisa memperlakukan engkau sebagai yang bukan manusia, tapi engkau tidak berhenti menjadi manusia hanya karena orang lain tidak perlakukan engkau seperti bukan manusia. Tapi momen kamu memperlakukan orang lain sebagai bukan manusia, pada waktu itu kamu bukan manusia lagi. Jadi sebenarnya ini pengertian yang ditekankan oleh Taurat. Andaikan kita mengerti keindahan Taurat memberikan pengertian kemanusiaan seperti ini, pasti Taurat sudah mendominasi segala pembahasan filosofi. Sayangnya ini tidak terjadi. Baru di abad 20 ada pemikir-pemikir yang dipengaruhi oleh Perjanjian Lama, yang mulai membagikan filosofinya. Emmanuel Levinas dipengaruhi oleh konsep salibnya Kristen meskipun dia Yahudi, bukan Kristen. Ketika manusia memikirkan ulang apa yang mereka bagikan dan ajarkan, baru mereka tahu betapa penting sumbangsih dari Perjanjian Lama. Kita bersyukur punya Alkitab dan Alkitab mengajarkan kepada kita, “kamu bebas itu baik, tapi kebebasan itu harus membentuk kamu menjadi manusia dengan ibadah dan komunitas”. Ibadah dan komunitas adalah hal penting.

Maka Roma 6: 18 mengatakan “kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran”. Dimerdekakan lalu menjadi hamba. “Bukankah itu rugi? Taurat memberikan pengertian tentang bebas lalu memberikan pengertian setelah bebas menjadi hamba itu adalah tingkatan tertinggi mengenai kebebasan. Orang yang bebas itu orang yang apa? Pertama, bebas dari belenggu orang lain. Kedua, rela membelenggu diri demi orang lain, ini kebebasan tertinggi. Di dalam Taurat ini dijelaskan, dikatakan ketika seorang budak melayani sebagai budak untuk tuannya, tuannya hanya boleh mendapatkan di sebagai budak selama 6 tahun. Tahun ketujuh adalah tahun dimana dia boleh bebas. Jadi angka 7 berkait dengan bebas di dalam tradisi Israel. Pembatasan masa jabatan budak, ini revolusioner karena di dalam tradisi bangsa-bangsa lain umumnya adalah seorang menjadi budak lalu generasi selanjutnya ikut menjadi budak seperti papanya, terus-menerus. Hanya Taurat yang mendobrak itu dengan mengatakan tidak boleh ada relasi tuan dan budak yang kekal, harus ada saat dimana budak berhenti menjadi budak, 6 tahun saja. Bayangkan 6 tahun saja, kalau orang dijadikan budak untuk belasan tahun, berarti waktu dia umur 20an tahun, 25 tahun, dia harus bebas, dia sudah berhenti menjadi budak waktu masih muda. Betapa membebaskannya Taurat kalau kita soroti dari pengertian yang tepat. Tuhan memperhatikan kehidupan orang termasuk budak. Tapi ada budak yang mengatakan “saya tidak mau bebas dari engkau ya tuan, aku mencintaimu, aku mau terus melayanimu sebagai budakmu”, maka tuannya mengatakan “itu keputusanmu, bukan keputusanku”. Saudara mungkin heran mengapa ada orang bodoh seperti ini. Tapi Taurat mengatakan ada, karena Taurat membukakan kepada kita kemanusiaan sejati, yang rela hidup demi cinta, bukan rela hidup demi jadi budak. Manusia punya kekuatan untuk mencintai, maka Tuhan memberikan Taurat yang memungkinkan manusia melakukan itu. Itu jelas dikatakan dalam Kitab Taurat, jika engkau mencintai tuanmu, jika dia mencintai tuannya maka dia harus pergi menghadap imam, dia akan mendapat tanda di telinganya dan dia akan menjadi budak orang itu selamanya karena cinta kasih.

« 3 of 5 »