Paulus mengatakan “hormati orang tua”, jangan pikir ini cuma anak hormati orang tua, ini harus diberlakukan setiap generasi. Sehingga setiap generasi akan dengar orang tua yang menghormati orang tuanya. Dan orang tua-orang tua itu akan me-refer kembali ke dalam periode ketika Musa memimpin Israel keluar dan waktu mereka masuk dalam Kanaan. Mereka masuk ke sungai yang terbelah dan Yosua mendirikan ada batu-batu peringatan. Jadi ada momen di dalam sejarah yang sifatnya itu sangat penting. Momen ini tidak boleh diabaikan. Di dalam sejarah selalu ada milestone, ada poin penting yang semua orang tidak boleh lupa. Ada bagian sejarah yang tidak penting tapi ada bagian penting yang mesti diingat terus. Inilah pentingnya Guru Sejarah. Guru Sejarah membagikan pengertian yang penting dari sejarah, bukan membagikan tanggal ini terjadi apa. Saudara tahu akan lelucon yang mengatakan “Guru Sejarah itu adalah guru yang membuat memori otak terlalu penuh”, karena semua tanggal mesti dihafal. “Tanggal berapa Diponegoro pertama kali sikat gigi?”, itu siapa yang tahu? Tanggal berapa terjadi perang ini, tanggal berapa terjadi perang itu. Akhirnya sejarah identik dengan hafalan, bukan dengan hikmat mempelajari apa yang orang zaman dulu ketahui. Setiap orang di dalam gereja pun harus tahu ada titik-titik di dalam sejarah yang tidak boleh diabaikan. Tapi orang modern mengubah ini. Hegel sebenarnya orang modern, tapi dia punya pikiran yang menghargai sejarah. Kebanyakan orang modern mengatakan “pikiran juga improve, orang dulu sudah kuno pikirannya. “Calvin, pikirannya apa itu? Kita mau selidiki pikiran yang lebih advance dari orang sekarang”, tapi ini membuat gereja dan juga orang modern jadi bodoh. Orang modern pintar dalam teknologi tapi bodoh di dalam hikmat. Pintar di dalam mengembangkan science yang bersifat teknis, tetapi sangat bodoh di dalam bijaksana, filosofi dan teologi. Maka gereja mesti kembali ke zaman lampau, jangan dengar ajaran yang mengatakan “yang penting sekarang, yang lalu sudah ketinggalan zaman”, karena hikmat cuma muncul satu kali, setelah itu tidak akan ada lagi. Sekarang ada Pdt. Stephen Tong, 100 tahun lagi kalau orang mau menyelidiki hikmat yang Tuhan berikan lewat Pdt. Stephen Tong mesti mundur 100 tahun. “Tunggu saja nanti ada hikmat baru muncul 100 tahun kemudian”, itu hikmat lain yang tidak sama dengan sekarang.

Maka siapa mau jadi orang Kristen mesti mengerti bahwa Tuhan mempercayakan pengertian di dalam dua periode, yang pertama namanya periode Kanonik. Periode Kanonik adalah periode sejarah dari Kejadian sampai Wahyu, periode ini tidak boleh dianggap tidak penting dan periode ini harus menjadi acuan, makanya disebut Kanonik. Kanon itu artinya measuring stick, tongkat pengukur, ini jadi istilah umum. Kanon berarti yang dimasukkan ke dalamnya harus menjadi acuan. Contohnya kalau Saudara mengatakan “saya mau belajar biologi, baca buku apa?”, “ini buku kanon”, itu istilah umum, artinya buku kanon bukan Alkitab tapi kalau mau belajar biologi mesti baca buku ini, tidak boleh tidak, itu kanon. Demikian juga Alkitab adalah kanon yang sejati. Siapa mau belajar teologi mesti kembali ke Alkitab. Tapi Alkitab itu begitu dalam, firman Tuhan yang berlimpah dinyatakan lewat periode kanon ini dan lewat tulisan kanon ini. Maka waktu kita baca, kita perlu bantuan. Sudah baca, sudah bisa mengerti, tapi sepertinya masih bisa dibantu. Bisa, dibantu oleh siapa? Oleh tokoh-tokoh di dalam sejarah. Mari pelajari momen-momen penting di dalam sejarah. Dan salah satu momen yang menentukan gereja adalah momen ketika Pengakuan Iman dirumuskan, ini benar-benar penting. Tapi gereja mengatakan “itu kan cuma doktrin, itu buatan manusia”, bagaimana bisa orang mengatakan buatan manusia lalu meremehkan? Saudara tahu Alkitab juga buatan manusia. Saudara mengatakan “tidak Pak, ini kan firman Tuhan”, betul, tapi Tuhan nyatakan lewat Yesaya. Yesaya itu Tuhan atau manusia? Manusia, berarti Nabi Yesaya punya perkataan, itu perkataan manusia atau perkataan Allah? Saudara akan mengatakan “sepenuhnya Allah sepenuhnya manusia”, itu benar. Surat Paulus itu firman Tuhan atau bukan? Firman Tuhan. Tapi itu kan Surat Paulus, surat manusia? Betul, jadi Surat Paulus adalah surat manusia tetapi juga firman Tuhan. Ini yang harus kita tahu, jadi kalau mengatakan “ini ajaran doktrin, itu ciptaan manusia”, Saudara harus mengatakan Alkitab pun di dalam pengertian yang tepat adalah tulisan manusia meskipun adalah Firman Allah. Jadi Allah pakai Roh Kudus-Nya bekerja lewat manusia. Roh Kudus bekerja lewat orang, Roh Kudus bekerja lewat gereja yang kelihatan untuk merumuskan ajaran yang penting. Itu sebabnya jangan mengatakan doktrin itu ciptaan manusia, yang harus Saudara bahas adalah doktrin mana yang benar dan doktrin mana yang salah. Jangan men-dismiss semuanya tanpa mempelajari. Saudara mesti punya keputusan, Saudara mesti ambil posisi. Dan ini sebabnya tidak ada gereja yang kalau berdiri boleh menjadi gereja bebas yang tidak terkonfirmasi ke dalam ajaran manapun. Mana boleh membuat gereja bebas? “Saya mau membuat gereja bebas Indonesia”, “tidak bisa”, “mengapa tidak bisa?”, (ini singkatannya hanya kebetulan saja), “karena kamu terlalu sombong kalau kamu mengabaikan pekerjaan Tuhan di dalam sejarah. Sekarang pilih kamu mau ikut ajaran mana?”, “tidak bisa, saya punya ajaran baru, firman Tuhan dinyatakan baru tiap hari”, itu kan dari ratapan dari Yeremia, sepertinya tafsirannya bukan berarti setiap tahun harus ada ajaran baru. “Ini ajaran baru dari Tuhan, tidak ada di dalam periode sejarah karena periode sejarah tidak berisi orang secanggih saya” orang kalau ngomong seperti ini sulit dianggap sebagai kebenaran. Karena kesombongan dan kebenaran tidak go hand in hand, tidak bisa menyatu. Kalau orang mengatakan “ini ajaran baru, saya yang menyatakan dan gereja harus berdiri berdasarkan ajaran saya”, itu orang tidak beres dan dia tidak boleh mendirikan gereja.

« 4 of 8 »