Setelah simbol itu datang, simbol yang lain jadi tidak relevan. Bagaimana tahu dosa itu besar efeknya? Anak Allah mati di kayu salib, itulah simbolnya. Itu yang membuat kamu mengerti dosa itu besar sekali. Kalau begitu makanan apa? Makanan tidak ada lagi arti. “Kalau makanan tidak ada lagi artinya, ya sudah, biar orang-orang Yahudi bodoh itu mati dengan makanan mereka, kita mau pesta sendiri”. Paulus mengatakan “tidak bisa”. Mengapa tidak bisa? Karena kamu sekarang sedang gagal menghidupi salib. Kalau kamu mengatakan salib adalah simbol untuk cemarnya dosa maka berhentilah bersifat egois, karena itu bagian yang membuat Yesus harus mati dikayu salib. Egomu, sifat mementingkan dirimu, sifat mementingkan kelompokmu, itu yang membuat Yesus harus mati dikayu salib. Maka sekarang kalau kamu sudah jadi orang Kristen, belajar menghidupi salib. Bagaimana menghidupkan salib? Yaitu dengan hidup bagi orang lain juga. Apa yang kamu lakukan, kamu lakukan untuk orang lain. Inilah prinsip yang penting di dalam Roma pasal yang ke-14. Ayat 15, Paulus mengatakan “jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu karena Kristus telah mati untuk dia”. Tentu ini harus kita transfer ke kebudayaan kita, sekarang kita ada di kebudayaan yang tidak lagi memikirkan larangan makanan. Tapi sangat penting bagi kita untuk berpikir bahwa apa yang kita makan pun kita makan dengan berpikir tentang orang lain juga. Ini yang menjadi pengekang dari hidup Kristen yang bebas itu. Saudara dan saya dengan rela mengekang diri karena kita tahu ada cara menghidupi hidup untuk orang lain dan cara itu harus kita jalankan. Ayat yang ke-17 “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”. Kerajaan Allah yang paling penting, yang membuat engkau sukacita adalah Dia yang sudah memberikan kita tempat di dalam KerajaanNya, Dia memberikan kita kebenaranNya, Dia memberikan kita damai sejahteraNya, Dia memberikan kita sukacitaNya, di dalam kelompok orang yang diselamatkan itu. Saudara akan menikmati Tuhan jika Saudara makin belajar hidup bagi orang lain. Ini penting dan indah sekali. Sebenarnya ini prinsip hidup yang kalau tidak kita jalankan, kita akan miskin terus. Mungkin bukan miskin harta, tapi miskin kelimpahan, damai sejahtera dan sukacita di dalam Roh Kudus. Ayat 18, “karena siapa melayani Kristus dengan cara ini”, yaitu dengan berpikir tentang orang lain juga, “ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia”. Mari kerjakan apa yang mendatangkan damai dan mari kerjakan saling membangun, mari saling membangun. Orang lain perlu apa untuk semakin kenal Tuhan, mari jadi orang yang memberikan kebutuhan itu. Orang lain perlu ditegur, tegurlah dia. Orang lain perlu dikuatkan, kuatkan dia. Orang lain perlu dinasehati, nasehati dia. Orang lain perlu dihibur, beri kata-kata penghiburan. Tapi ketika Saudara sudah menjalankan itu, namun kehidupan Saudara memberikan benteng bagi dia untuk menganggap engkau satu dengan dia, engkau tidak bisa menjadi berkat bagi dia. Ini yang menjadi problem dengan makanan. Apa problem makanan? Makanan membuat kamu sulit bersekutu dengan orang Yahudi. Kamu makan babi, orang Yahudi tidak bisa bersekutu dengan kamu. “Itu masalah mereka, mereka tidak mengerti bahwa perenungan tentang dosa itu digenapi oleh salib, bukan lagi makanan. Mereka masih pikir makanan adalah cara untuk memahami cemarnya dosa, silakan saja. Saya dan kelompok saya bebas”. Kalau engkau melakukan sesuatu yang membuat orang lain terpisah dari kelompokmu, engkau bersalah. Ini yang menjadi pengertiannya. Jadi kalau Saudara berpikir persekutuan, lalu ada sesuatu yang menghalangi orang lain bersekutu, sesuatu itu tidak akan saya lakukan. Mari berpikir sesuatu itu apa. Konteksnya di gereja kita, “kalau saya membuat kelompok dimana orang lain sulit mengakses kelompok itu, saya berdosa kepada Tuhan”. Ini salah satu bahaya dari homogeneous di gereja. Homogeneous group, kelompok remaja, kelompok pemuda, kelompok anak-anak, kelompok-kelompok ini memang harus ada. Ada persekutuan di mana orang-orang dengan pergumulan di usianya bisa bergumul bersama-sama. Tapi kelompok ini berhenti di dalam persekutuan itu saja. Setelah persekutuan selesai, kembali ke gereja di hari Minggu misalnya, orang kembali membaur dengan orang yang usianya lain dengan dia, orang yang pendidikannya lain dengan dia. Maka sebenarnya Paulus sedang mengatakan apapun yang menjadi kesulitan bagi saudaramu untuk bersekutu dengan engkau, jangan jalankan itu. Jangan ciptakan gaya hidup dimana orang sulit untuk berelasi dengan engkau. Jangan ciptakan gaya hidup di mana orang sulit merasa satu dengan engkau. Ini tanpa sadar dilakukan di dalam budaya kita, misalnya berbahasa, cara berbahasa yang sulit membuat orang lain bersekutu itu tidak benar untuk dilakukan. Kalau di dalam Roma masalahnya makanan, kalau kita mungkin bukan makanan, mungkin bahasa, atau mungkin pendidikan, atau mungkin kekayaan. Atau komunitas orang yang hobi sekali bicara hal yang luar biasa tinggi sehingga orang yang kurang pendidikan seperti tidak bisa nyambung. Jadi Paulus sedang mengingatkan jangan engkau membuat sesuatu yang membuat orang lain sulit untuk bersekutu denganmu. Apapun, sehingga orang tidak merasa gereja ini terlalu tinggi bagi mereka. Ada orang datang kemudian dia punya tato di satu bagian yang kelihatan, bagian tubuhnya yang sangat terpamerkan jadi orang akan lihat tato itu. Lalu dia mengatakan “saya sudah berusaha tutup dengan rambut, dengan apa supaya tatonya tidak kelihatan”, lalu saya mengatakan “saya tidak terlalu peduli, kamu ada tato dan mau datang ke gereja, silakan”, “tidak apa-apa ya? “Apapun yang kamu lakukan, terserah. Cuma kamu harus lakukan itu dengan kematangan iman yang sudah dewasa. Tapi apa yang kamu lakukan secara kanak-kanak, harusnya tidak membuat kamu dikucilkan oleh gereja ini”. Tapi Saudara jangan kebablasan. Saudara mau jadi pelayan ada standar. Saudara mau datang kebaktian, ada standar, yaitu Saudara mau ikut kebaktian dengan teratur. Asal Saudara mengikuti kebaktian dengan hormat Saudara belum Kristen pun silakan datang. Ada standar untuk orang melayani, tapi harusnya tidak ada jarak untuk orang merasa “saya tidak layak ada di sini”. Siapapun mari datang, kita semua orang berdosa. Tuhan Yesus panggil pemungut cukai, panggil perempuan yang tadinya pelacur yang mau bertobat, bahkan ada orang petinggi Farisi juga ikut. Tuhan tidak mengatakan “kelompok kami terlalu suci untuk orang munafik seperti pemimpin Farisi”, tidak, pemimpin Farisi mau ikut, silakan. Kelompok yang diciptakan, yang dibuat oleh Tuhan Yesus di dunia ini yang nanti menjadi gereja adalah kelompok yang menyambut siapapun silakan masuk. Tapi setelah masuk kamu harus belajar salib, kamu harus belajar hidup bagi orang lain, kamu harus belajar hidup untuk membuat orang lain bisa nyambung dan bisa bertobat. Inilah yang Paulus tekankan, mari jangan membuat Kerajaan Allah dihalangi oleh hal-hal yang membuat engkau menjadi kelompok yang ekslusif. Lalu ayat ke-22, “berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki sendiri dan dihadapan Allah”. Maksudnya kamu percaya salib adalah simbol untuk memahami dosa, tidak perlu lagi simbol seperti makanan, pegang itu di hadapan Allahmu. Yang lain bagaimana? Yang lain belum hidup dengan cara seperti itu, tunggu mereka siap. Sebelum mereka siap, jangan membuat komunitas di mana mereka merasa tidak bisa masuk ke dalamnya. Surat Roma ini sangat mungkin ditulis pada waktu ada peralihan, pernah ada satu masa dimana Kaisar Klaudius mengusir orang-orang Yahudi di Roma. Kita tidak tahu kenapa, ada yang mengatakan mungkin istrinya Klaudius sudah mulai terpengaruh Kekristenan dan dia tidak suka cara orang Yahudi menindas orang Kristen, mungkin, kita tidak tahu. Karena faktanya di dalam catatan sejarah, Klaudius mengambil keputusan ini setelah istrinya pulang dari Yerusalem. Apakah terjadi sesuatu? Kita tidak tahu. Tapi pokoknya Klaudius menulis surat “orang Yahudi pokoknya tidak boleh tinggal di Roma”. Maka orang Yahudi sedang dalam keadaan diusir dari Kota Roma. Tadinya Kekristenan di Roma terdiri dari mayoritas orang Yahudi, minoritas non-Yahudi. Tapi karena pengusiran ini, orang yang masih tinggal di Roma jadi sedikit, jadi minoritas. Sehingga kelompok minoritas ini sangat tidak dapat tempat di dalam mayoritas orang Kristen yang tidak Yahudi, yang makan apa pun, yang kalau makan perjamuan mereka pakai menu sebebas-bebasnya. Lalu orang Yahudi Kristen yang sekarang sudah minoritas sulit bersekutu dengan orang-orang ini. Ini yang Paulus katakan “jangan membuat kelompok di mana orang lain sulit mengakses menjadi bagian dari kelompokmu”.

Lalu ayat ke-23, ini teguran bagi orang yang masih kanak-kanak, “barangsiapa bimbang kalau ia makan, ia telah dihukum karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa”, ini bagian yang mudah dimengerti kalau Saudara mengerti kata iman. Iman bisa berarti keteguhan hati untuk mengikut Tuhan. Iman juga bisa berarti Kekristenan. Di dalam tradisi Kristen ada yang disebut dengan peraturan iman. Peraturan iman itu sebenarnya pengakuan iman. Jadi yang dimaksud di sini iman adalah pengakuan iman Kristen atau Kekristenan. Paulus sedang mengatakan “barangsiapa bimbang kalau ia makan, ia telah dihukum karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman Kristen. Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman Kristen adalah dosa”. Jadi Paulus mengambil posisi jelas, “kamu yang makan makanan apapun, kamu benar. Mereka yang menolak makan makanan haram, mereka salah, mereka tidak melakukan berdasarkan iman Kristen. Tapi Kasihilah mereka, terima mereka dalam kelompokmu”. Bagaimana cara terima? Ubah menumu. Yang enak harus diubah, karena Tuhan juga memikirkan mereka. “Bukankah mereka yang salah, mereka yang belum matang imannya”, tunggu sampai mereka matang, tapi sebelum mereka matang, terima mereka. Terima, tapi jangan jadikan teman diskusi, ini yang Paulus katakan di awal. Ini yang dimaksudkan “barangsiapa bimbang kalau ia makan, ia telah dihukum”, maksudnya bimbang adalah dia masih merasa “ini harusnya tidak boleh”, dia dipaksa makan, akhirnya dia hidup tidak dengan cara Kristen. Maka tolong dia supaya dia tidak terganggu, biar kamu melakukan sesuatu yang membuat dia nyaman bersekutu dengan engkau. Ini yang menjadi pesan Injil bagi kita untuk hari ini, jangan membuat kelompok yang membuat orang lain sulit untuk masuk. Biasakan menjadi orang yang ramah, kalau ada orang kurang nyaman di dalam kelompok Saudara, jadilah orang yang terus menyambutnya. Di dalam percakapan Ini sangat penting, setelah kebaktian coba ajak orang yang masih rasa kurang berkomunitas di gereja ini, ajak dia. Dan jangan membuat apapun yang membuat orang merasa “saya tidak nyambung, tidak layak ada di kelompok ini”. Itu kira-kira yang Paulus tekankan. Kiranya Tuhan memimpin kita menjalani kehidupan Kristen kita dengan lebih baik demi Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

« 4 of 4