Gereja kita punya jiwa penjangkauan yang besar. Kadang-kadang saya sedih kalau orang mengatakan “mengapa kita tidak belajar dari gereja itu? Gereja itu juga bagus”. Sepertinya kalau dalam hal bergereja, salah satu yang saya pikir mesti jadi contoh adalah GRII dalam penjangkauan. Saya tidak mengatakan kita satu-satunya, tapi jiwa menjangkau dalam GRII, jiwa mau ajak orang, jiwa mau membuat kebaktian besar, jiwa mau membuat seminar besar, jiwa seperti ini harus ada di setiap gereja. Tapi gereja-gereja mengatakan “kami lain dengan GRII, kami mau fokuskan pembinaan ke dalam dulu, baru nanti pembinaan keluar. Pembinaan ke dalam dulu, nanti kalau sudah kuat, baru keluar”. Itu kalimat aneh. Yang lebih penting bagi anak Saudara itu jalan-jalan atau makan? Makan, jadi dia kenyang dulu baru jalan-jalan. Kapan kenyangnya? Makan pagi sudah kenyang, apakah kemudian ajak jalan-jalan jam 9? Tidak, nanti ada makan siang. Jadi mana yang lebih penting, makan atau jalan-jalan, mana dulu? Saudara akan mengatakan “kedua hal itu tidak bisa dijauhkan, kedua hal itu dikerjakan secara simultan. Anak diberi makan dan juga jalan-jalan”. Jadi mana yang lebih penting, makan dulu atau jalan-jalan? Keduanya bersamaan. Aneh, kalau Saudara mengatakan hal duluan, padahal hal itu hal rutin, itu aneh. Membina jemaat itu hal rutin, Saudara tidak bisa mengatakan “bina dulu”, tapi itu kan hal rutin. Saudara mengatakan “memberi makan terlebih dahulu atau menyekolahkan anak?”. Memberikan makan kepada anak itu hal terus-terusan, terus makan, jadi sampai mati jangan sekolah dulu. Pokoknya urus makan anak dulu, “sampai kapan?”, “sampai 90”. Anak itu sudah menjadi kakek, “bagaimana kek?”, “sudah kenyang”, “kalau begitu mari sekolah”, “tidak kuat”, tidak bisa. Banyak hal yang gereja itu bodoh sekali karena tidak berpikir hal sederhana. Pikirannya sudah terlanjur dikacaukan oleh tradisi. “Saya dengar dari gerejaku, dari hamba Tuhanku”, sehingga kita tidak melihat Alkitab. ALkitab itu buku simple yang memberitahukan kepada kita bagaimana hidup, dan ini kita abaikan. “Pokoknya pelayanan ke dalam dulu”, pelayanan ke dalam tidak akan selesai sampai Tuhan Yesus datang. Pelayanan ke dalam mesti dikerjakan rutin, sama seperti memberi makan anak itu rutin. Tapi bukan berarti anak tidak disuruh olah raga, tidak disuruh sekolah, tidak diajak jalan-jalan. Kalau ada orang mengatakan “mari kuatkan dulu yang di dalam”, saya hina orang itu. Orang itu tidak mengerti hal paling simple, hal paling dasar yang diajarkan Kitab Suci dalam berlaku simultan. Kerjakan semua sekaligus. Kerjakan penginjilan, kerjakan penggembalaan, kerjakan pengajaran sekaligus. Orang sekaligus dibimbing, sekaligus diterjunkan di dalam pelayanan. Ada satu gereja diundang ke KKR Pak Tong, tapi mereka mengatakan “maaf, kami tahun ini tahun pembinaan ke dalam”, “kapan pembinaan keluarnya?”, “pokoknya kapan itu bukan bersamaan dengan waktu kalian membuat KKR. Ini pembinaan khusus hanya untuk orang-orang kunci saja”, “sayang sekali, siapa yang membimbing?”, “yang membimbing adalah orang ini”. Akhirnya orang ini datang, kumpulkan hanya beberapa puluh orang. Lalu kita membuat kegiatan yang sangat diberkati Tuhan, tapi orang itu tidak ikut, sayang sekali. Maka mari kita pikirkan hal ini, kita berjuang jangkau orang, kita berjuang ajak orang untuk ikut kebaktian kita, ikut kegiatan kita, ikut KKR kita, itu sangat penting. Mari pelihara ini. Kalau Saudara mau GRII Bandung berkembang ke depan, jangan cuma pikir diri. Pikir untuk penjangkauan, pikir untuk ajak orang, pikir untuk memperbesar kegiatan, pikir untuk memperbesar pengaruh, pikir untuk memperbesar firman didengar oleh banyak orang, ini penjangkauan massal. Kalau gereja tidak lakukan, kita akan dihabisi oleh agama lain. Islam geraknya cepat sekali, dan mereka kerjakan dengan besar. Kita yang Kristen mengatakan “kita ke dalam dulu”, ya sudah kita ke dalam dulu dan Tuhan akan tinggalkan kita. Maka jangan sampai GRII Bandung ditinggalkan Tuhan, Saudara berjuang untuk menjangkau orang, Saudara berjuang untuk kerja sama baik-baik, Saudara berjuang untuk pelihara pelayanan ke dalam. Sambil bertumbuh di dalam sambil melayani keluar, sambil membimbing orang di dalam sambil menjangkau banyak orang dari luar untuk mengerti Tuhan, untuk kenal Injil, untuk datang kepada Tuhan, untuk bertumbuh di dalam Tuhan, ini harus kita perjuangkan. Gereja tidak bisa ditangani sebagai sesuatu yang dikerjakan sambilan. Saudara tidak bisa pelihara kehidupan bergereja hanya dengan kegiatan sambilan. Saudara mesti pikirkan baik-baik, bagaimana gereja bisa bertumbuh, apa yang harus saya lakukan, apa yang bisa saya bagikan, apa yang bisa saya layani, hal apa yang bisa saya lakukan untuk pertumbuhan bersama? Inilah yang Paulus sedang katakan. Mari kerjakan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantah. Mari jangan bertengkar, mari jangan terlalu cepat meraas lelah, mari jangan terlalu cepat mengeluh. Mari pikul apa yang Tuhan mau bebankan, karena tiap kali Tuhan pikul, Tuhan rela menyatakan kehadiranNya untuk menolong kita pikul juga. Pasangan dari pengurus atau aktivis, relakan pasanganmu kerja keras bagi Tuhan, jangan terlalu banyak dihalangi. Kalau pasanganmu dipakai Tuhan, bertanggung jawab untuk keluarga, maka dia boleh dipakai Tuhan bertanggung jawab di gereja. Tapi orang yang terus sulit bertanggung jawab di dalam keluarganya, jangan lari untuk melakukan pelayanan di dalam gereja sehingga diri merasa signifikan dan abaikan tanggung jawab di rumah, itu tidak baik. Kiranya Tuhan menggerakkan kita untuk punya rasa takut dan gentar, dan rela berjuang demi pertumbuhan gereja, demi kemuliaan Tuhan
(Ringkasan ini belum di periksa oleh pengkhotbah)