Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Roma » Injil Kekuatan yang Merubah Hidup
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Injil Kekuatan yang Merubah Hidup

Pdt. Jimmy Pardede

(Roma 1: 17-24)

Tema penting ayat 17 adalah kebenaran. Injil menyatakan kebenaran Allah, Injil menyatakan righteousness dari Allah. Ayat 18 dikatakanmurka Allah nyata dari atas karena manusia menindas truth, alethea, dengan kelaliman, ketidak-benaran, unrighteousness. Ini tema penting Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya 20-32. Dalam Bahasa Indonesia, benar versi pertama yaitu righteousness dengan benar versi kedua yaitu truth, itu sama, katanya adalah benar. Tapi dalam Bahasa Inggris dibedakan, yang pertama benar, righteousness, yang kedua adalah truth. Di dalam bahasa asli ada dikaiosunē, dikei itu berkait dengan adil dan kebenaran, righteousness. Lalu ada juga alethea, itu berkait dengan truth. Dua hal ini dibahas oleh Paulus dengan sangat indah. Kalau salah mengerti apa itu kebenaran yang dimaksud oleh Paulus, sulit memahami seluruh argumen Paulus. Di dalam tradisi Reformasi sebenarnya banyak dibahas tentang righteousness, temapenting di dalam Reformasi. “Saya adalah orang yang benar karena Tuhan mendeklarasikannya bagi saya di dalam Kristus. Jadi saya benar karena Kristus yang memberikan kebenaranNya kepada saya. Dalam pemikiran Paulus, kebenaran dan moral itu sangat berkait. Saudara tidak bisa menjadi orang benar yang tidak hidup dengan benar. Dinyatakan benar berarti orang yang percaya di dalam Injil, pelan-pelan ditarik keluar dari ketidak-benaran dan masuk dalam kehidupan yang diperkenan oleh Tuhan. Maka dalam tema pembenaran atau kebenaran terkandung dorongan untuk bertindak benar. Di dalam bukunya, Richard Hays mengkritik pandangan Reformed yang memisahkan antara pembenaran orang Kristen dan keharusan hidup baik. Akhirnya orang terus beranggapan, “kalau saya sudah milik Tuhan, semuanya beres”. Tapi Paulus selalu mengaitkan pembenaran dengan perubahan keadaan kecemaran hidup. Kecemaran hidup Tuhan benci, maka Tuhan memberikan pembenaran ini. Maka pembenaran itu sudah satu paket dengan pengudusan. Pembenaran tidak bisa dipisah dari tuntutan untuk hidup lebih baik. Dalam Roma 1, pembenaran adalah cara Tuhan perbaiki orang-orang yang bodoh karena penuh dengan kekotoran dari dalam hati dan dari tindakan keluar. Orang-orang cemar ini mau Tuhan perbaiki dengan memberi Injil karena di dalamnya nyata kebenaran Allah.


Ayat 17 dikatakan kebenaran memimpin orang dari iman menuju kepada iman. Ayat ini dikutip dari Kitab Habakuk, ada pengharapan janji Tuhan terwujud dalam kehidupan yang kelihatan. Habakuk menangis dan berseru supaya Tuhan memulihkan Israel. Ia memahami orang Israel mengalami banyak penderitaan dan kekosongan karena mereka sudah jahat. Untuk memperbaikinya maka penyebab keadaan itu harus diperbaiki dulu. Israel dibuang karena berdosa. Kalau begitu kebenaran akan memperbaiki kejahatan Israel, supaya mereka tidak dibuang lagi. Habakuk mengatakan “orang benar akan hidup oleh percayanya”. Percaya bahwa Tuhan akan tangani kebobrokan Israel. Dalam Kitab Yesaya dikatakan Tuhan membuat orang Israel mencintai Tuhan secara alami. Tuhan mengubah mereka sehingga dari dalam mereka mencintai Tuhan. Yeremia mengatakan “Tuhan akan memberikan kepadamu hati yang baru”. Yehezkiel mengatakan bahwa apa yang Tuhan masukan ke dalam akan keluar dalam bentuk kasih dari orang Israel. Jadi Tuhan akan memperbaiki orang Israel dari iman kepada iman seperti yang tertulis dalam Habakuk, kata Paulus. Dia kutip dari Habakuk dan apa yang sedang digumulkan oleh Habakuk adalah keinginan diperbaiki oleh Tuhan. Keinginan untuk diperbaiki itu anugerah, Saudara punya keinginan itu, itu dari Tuhan. Karena kalau orang sudah berbuat dosa, dia akan nyaman dengan dosanya. Dia tidak mau berubah kecuali ada sesuatu yang membuat dia terpaksa berubah. Tidak ada orang yang dengan rela menyadari perlu diubah oleh Tuhan. Itu sebabnya Kitab Habakuk dijelaskan dalam kepercayaan kepada Tuhan ada pengharapan karena kita tahu Tuhan akan perbaiki kita semua. Jadi perbaikan dari natur rusak kita yang dipercaya Habakuk.


Injil adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan, mengubah orang keadaan cemar karena dosa menjadi kudus. Bukan hanya status. Injil bukan hanya mendeklarasikan seseorang benar, Injil mengubah seseorang menjadi orang benar. Dalam Surat Galatia, Paulus mengatakan “kalau kamu menyunatkan dirimu, kamu harus menjalankan seluruh Taurat”, karena identitas harus berkait dengan hidup. Saudara punya identitas apa, hidup Saudara harus mencerminkan identitas itu. Paulus ingin menyatakan kebenaran versi Habakuk, kebenaran memimpin orang hidup oleh iman. Orang yang benar akan hidup oleh percaya bahwa Tuhan sanggup memperbaiki lingkungan dan kita yang rusak. Orang berdosa biasanya akan menyalahkan lingkungan, tapi lupa lihat diri. Waktu Adam ditanya “mengapa kamu jahat?”, dia menuduh istri. Lalu ditanya lagi “perempuan, mengapa engkau makan buah itu?”, dia masih dapat ular, akhirnya berhenti di ular. Sehingga kita punya scapegoat yang asli, “mengapa kamu jahat?”, “karena setan”. Tapi Tuhan tidak menerima jawaban itu karena Adam dan Hawa juga kena hukuman, bukan cuma ular. Tuhan tidak terima argumen “karena dia saya jahat, karena lingkungan saya jahat”, kita memang jahat dari awal. Setelah jatuh dalam dosa, kita tahu cuma berbuat jahat. Kita tidak perlu dididik untuk jahat, kita sudah jahat. Kita perlu dididik setengah mati untuk menjadi baik, tapi itu sulit setengah mati. Orang sudah mendengarkan khotbah lama, kok tidak benar-benar? Kita sedang dalam proses untuk menyingkirkan dosa, tapi belum selesai. Itu sebabnya tidak boleh menganggap pengudusan tema gampangan, sekali dengar firman langsung seperti malaikat. Saudara perlu rutin untuk dibentuk oleh Tuhan. Paulus sedang mengajarkan perubahan hidup itu penting. Tuhan sedang memberikan Injil, dan Injil akan mengubah. Pembenaran dari Injil adalah hadiah dari Tuhan yang besar sekali. Di ayat 18 dikatakan Tuhan marah pada manusia. Kita memunyai kecenderungan berdosa, dan itu yang membuat Tuhan benci, murka kepada kita. Saudara bisa menjadi orang yang kelihatan baik, tapi itu tidak menjadi poin pembenaran oleh Injil. Jadi Tuhan murka kepada manusia bukan karena yang telah dilakukan, tapi karena potensi kita lakukan. Namun Tuhan kita sangat sabar, Ia berjanji hanya menghukum tindakan. Kalau Tuhan menghukum kita berdasarkan kecenderungan, kita sudah hancur dari dulu. Mengingini itu sudah salah, misalnya. Tapi baik sistem pengadilan di bumi ini, maupun Tuhan sendiri, menyatakan akan menghukum tindakan. Keputusan Tuhan untuk menghukum kita karena tindakan menunjukan kesabaran Tuhan. Sebelum kita berlaku, Tuhan mengizinkan kita hidup dalam anugerahNya. Tapi setelah Adam jatuh dalam dosa, semua manusia jatuh dalam dosa.


Dan kecenderungan ini ada dari dalam. Ayat 18 mengatakan manusia menindas truth, dimanipulasi. Karena di dalam diri manusia ada anti-kebenaran. Righteousness adalah segala sifat yang Tuhan ingin manusia cerminkan sebagai gambar Allah. Jadi kebenaran versi righteousness itu yang Paulus katakan di dalamnya nyata kebenaran Allah. Saudara mengasihi itu bagian dari righteousness, Saudara adil itu bagian dari righteousness. Kita memunyai rasa belas kasihan, itu pun bagian dari righteousness. Itu semua bagian dari diri kita sebagai gambar Allah. Saudara harusnya senang yang teratur, indah, adil, bermoral baik, suci dan lain-lain. Tapi Alkitab mengatakan di ayat 18 semua yang saya deskripsikan tadi dibalikan oleh natur berdosa kita.


Lalu apa lagi yang disebut dengan unrighteousness? Ketidaksukaan akan keindahan, manusia merusak keindahan demi yang jelek. Seks adalah hal yang indah, tapi dimanipulasi untuk jadi jelek dan kotor di dunia kita. Itu namanya un-righteousness, tidak benar. Setiap orang yang sudah punya sifat un-righteous di dalam dirinya, dia akan memanipulasi kebenaran berdasarkan keuntungan dia. Ini yang dikatakan Paulus, murka Allah nyata karena kamu menindas kebenaran, menindas fakta, menindas truth dengan sifat jahat yang anti kebenaran Tuhan. Namun tidak semua itu dimiliki oleh kita. Saudara akan menemukan diri masih righteous di dalam satu aspek tapi un-righteous di aspek yang lain. Mungkin ada orang yang benar di dalam keadilan, sifat adilnya tinggi sekali, tapi dalam hal lain dia tidak benar. Maka kita semua sebenarnya sedang dalam proses untuk memperbaiki diri karena kita memunyai kecenderungan untuk memanipulasi kebenaran oleh karena sifat un-righteousness kita. Celakanya manipulasi kebenaran itu termasuk manipulasi Firman yang keluar dari mulut hamba Tuhan. Terimalah teguran, jangan manipulasi Firman untuk membenarkan ketidak-benaran kita.


Alkitab mengatakan di ayat 19, karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah, itulah truth-nya. Truth-nya adalah pengenalan akan Allah, tapi mereka selewengkan karena mereka un-righteous. Tuhan menyatakan diri namun mereka tidak sampai pada pengenalan akan Tuhan. Mereka menjadi atheist Karena mereka un-righteous. Bukan karena Tuhan belum menyatakan diri. Kita perlu mengerti kalau kita ini tidak suka kebenaran. Kita lebih suka kebenaran yang megnkonfirmasi ketidakbenaran kita. Ketika orang melihat alam, mereka langsung mengkhayal tentang dewa-dewa. Zaman dulu pakai mitos, orang sekarang pakai science, seolah-olah science bisa menjawab semua. Saya tidak mengatakan kita tidak boleh cari sumber dari alam semesta, tapi jangan jadikan teori itu titik awal. Kalau Saudara menjadikan teori itu titik awal dan Saudara mengatakan “tidak ada Allah”, itu bodoh, karena Saudara memutlakan yang Saudara tahu. Padahal intisari dari science jangan mutlakan yang kamu tahu, karena itu yang menjadikan science menarik. Science tidak boleh putar-putar yang sudah diketahui, lalu mengatakan “inilah segalanya”, itu bodoh sekali. Science justru menarik karena masih ada yang belum diketahui. Maka Saudara tidak bisa mengatakan “science berkata ini tidak mungkin”. Kita tidak bisa menyimpulkan apa pun tentang alam, kecuali kita menyimpulkan itu dari Tuhan, hasil penciptaan Tuhan. Alkitab menjelaskan keserasian antara sifat Tuhan dan alam, itu tidak ada dalam mitologi manapun. Keserasian antara Tuhan dan alam sudah dinyatakan dari awal di Kitab Kejadian. Tuhan adalah Tuhan yang menciptakan dari kacau menjadi baik, berarti pola kacau dan baik itu tidak kekal. Saudara tahu dari baik bisa menjadi kacau, tapi dari kacau bisa menjadi baik lagi. Hans Weder mengatakan bahwa Tuhan itu menciptakan secara baru bukan cuma creatio ex nihilo, tapi juga dari kekacauan, creatio ex vetere. Ketika terjadi kacau bisa yang baru muncul. Kalau Saudara tahu tentang perbintangan, ada partikel-partikel angkasa yang kacau balau tapi kemudian bisa berkumpul dan akhirnya menjadi bintang dalam waktu jutaan tahun. Mengapa bintang bisa lahir dari keadaan kacau? Karena Tuhan memang mencipta dengan cara itu. Dan kalau Saudara baca Kitab Suci terus dengan konsisten menyatakan sifat Tuhan yang seperti itu.


Ciptaan itu terdiri dari beragam aspek, tapi saling menyatu. Ini juga ciri dari Tuhan. Tuhan mencipta dengan keberagaman, tapi semua punya kaitan yang erat sekali. Tuhan menyatakan itu di dalam ciptaan. Kalau Saudara tertarik bisa membaca buku yang diedit oleh John Polkinghorne dan Michael Welker yang berjudul The End of The World and The Ends of God, ini interaksi antara orang-orang science dan orang-orang teologi yang sama-sama Kristen. Tuhan sudah menyatakan kalau kamu melihat alam ini dan kamu berbijaksana melihat, kamu akan kaitannya dengan sifat Tuhan. Sayang kamu mengabaikan fakta, seluruh hal yang terjadi pada alam membuat manusia membuat legenda tentang Tuhan. Ada cerita tentang Tuhan. Ini yang diserang oleh Gregory dari Naziansus mengenai Tritunggal. Orang Arian ada mengatakan “kalau kamu percaya Tritunggal, itu berarti percaya 3 dewa, bukan 1 Allahnya Alkitab. Tritunggal adalah dongeng dewa-dewa”. Ia membalasnya dengan mengatakan mengatakan Allah tidak punya cerita sendiri, Dia tidak menceritakan ceritaNya, Dia hanya menceritakan cerita relasi Dia dengan manusia. Sejarah Allah adalah sejarah manusia, satu sejarah. Dengan demikian Tritunggal itu bukan berhala, berhala selalu punya 2 cerita, cerita berhala dan cerita manusia. Manusia melihat alam langsung membuat cerita, tapi kalau kita lihat alam, langsung kita melihat cerita kita bersama dengan Tuhan. Cerita berhala akan meniadakan cerita manusia. Sedangkan cerita Alkitab akan meninggikan cerita manusia, karena ternyata cerita manusia itu juga cerita Tuhan. Maka kalau orang melihat alam dan tidak melihat kekuatan Allah, keilahianNya lewat karyaNya. Ayat 21, meskipun mereka melihat karya Allah, lewat dunia ini, mereka tidak memuliakan Dia, sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Ayat 23, “mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambar yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang berkaki empat dan lain-lain. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, ayat 24. Allah mengatakan “karena kamu tidak ingin menyembah Aku. Sudah melihat alam, malah ingin membuat berhala, Aku serahkan kamu untuk berhala. Anggap berhalamu memang ada, silahkan sembah dia”, itu yang dimaksudkan di sini. Jadi Tuhan serahkan kita kepada berhala kita. Ketika kita ngotot mempertahankan itu, Tuhan akan mengatakan “ya sudah, sesukamu, buat yang kamu mau, sembah berhalamu dan ikuti dia”, itu yang disebut dengan menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran. Ketika orang menggantikan Allah dengan berhala, mereka akan mulai bertindak cemar karena berhala tidak punya penahan untuk kecemaran manusia. Ini pikiran jenius Agustinus. Agustinus menulis City of God, mengatakan yang membuat negara hancur bukan karena orang Kristen tetapi raja yang tidak mampu mengekang hawa nafsunya, raja yang tidak mampu mengekang tindakan hidupnya. Dan raja tidak mampu kekang karena berhalanya diam. Berhala tidak akan pernah tegur Saudara kalau Saudara jahat karena berhala-berhala punya ceritanya sendiri. Karena mereka punya ceritanya sendiri, Saudara akan ditarik untuk masuk ke ceritanya mereka, mereka tidak peduli cerita Saudara. Ini penting untuk kita pahami, tidak ada berhala atau ajaran apa pun mempunyai kekuatan untuk mencegah orang-orang dari moral yang rusak. Tidak ada kekuatan karena tidak ada kepedulian terhadap cerita manusia. Bukan hanya masalah harus hidup dengan menahan hawa nafsu, tapi masalah tentang ajaran yang benar, menegakan keadilan dan lain-lain. Dorongan untuk bertobat itu dari Tuhan, tanpa ada Tuhan orang akan rusak hidupnya. Itu sebabnya Paulus mengaitkan antara kebodohan, ketidak-benaran, unrighteousness, akhirnya orang tidak mau fakta tentang Tuhan. Maunya fakta tentang Tuhan tapi ditafsirkan dengan salah menjadi berhala dan lain-lain. Dan ketika Tuhan serahkan “silahkan sembah berhala”, maka manusia pelan-pelan menjadi kacau dan rusak, tidak ada standar lagi. Saudara mungkin mengatakan banyak orang bukan Kristen tapi punya etika yang bagus, mengasihi, tolong-menolong dan lain-lain. Saya mau tanya, etika yang bagus itu tidak mungkin muncul kecuali dari Kekristenan. Kekristenan memengaruhi yang lain untuk mengerti tema-tema ini. Tidak ada ajaran kasih selain dari Kitab Suci. Silahkan pelajari sejarah, silahkan pelajari agama, silahkan pelajari turun-temurun Islam dari mana, Budha dari mana dan Saudara akan temukan tidak ada ajaran yang baik tentang kemanusiaan yang bisa menyamai Kekristenan. Kalau begitu bagaimana orang-orang di sana bisa baik? Mungkin mereka mendapat anugerah dari Tuhan untuk boleh menjalankan apa yang kita masih gagal. Tapi mereka tidak punya sumber untuk itu. Ini yang Paulus sedang katakan, moral akan rusak karnea mereka tidak kenal Tuhan.


Jadi bagaimana orang berdosa yang sudah punya unrighteous bisa menjadi righteous? Dengan Injil, hanya Injil, bukan pendidikan, bukan latihan, bukan baca buku, bukan yang lain-lain. Tapi Injil ini harus disertai dengan pelatihan, pendidikan, baca buku dan lain-lain karena Injil ini adalah awal yang akan menuntun orang ke dalam iman. Memimpin dari iman menuju kepada iman. Dalam hal apa iman ini berguna bagi kita? Dalam hal memberikan kita kebenaran, righteousness, baik di dalam status dan diri maupun dalam ekspresi keluar. Maka Injil sedang mengerjakan hal yang penting sekali, mengubah kita menjadi milik Tuhan baik secara status maupun secara tindakan. Mengapa secara tindakan kita bisa baik? Karena tindakan di dalam unrighteousness itu digantikan dengan kebenaran. Setelah unrighteousness digantikan dengan kebenaran, baru Saudara akan mulai melihat fakta-fakta dengan benar. Baru bisa melihat alam dengan benar, melihat Kitab Suci dengan benar, melihat pemerintahan dengan cara yang tepat, melihat politik dengan cara yang tepat. Dan Saudara pelan-pelan akan dibangun kerangka worldview yang benar, oleh karena unrighteousness dalam diri Saudara sudah tidak ada lagi dan diganti dengan kebenaran. Inilah yang dinyatakan Paulus mengenai kebenaran di dalam Injil. Kiranya ini boleh kita ingat dan kita terus-menerus dibentuk oleh Tuhan melalui kebenaran.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)