Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Roma » Apakah itu Kematian?
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Apakah itu Kematian?

Pdt. Jimmy Pardede

(Roma 1: 24-32)


Tema utama dari Surat Roma adalah Injil. Injil dinyatakan untuk memberikan pengharapan, Injil diberikan untuk membuat orang sadar bahwa diri mereka yang sekarang adalah yang tanpa harapan dan diri mereka perlu solusi dari Tuhan. Paulus memakai interaksi antara segala problem yang dibagikan dalam kitab nabi-nabi dengan solusi yang juga dinyatakan oleh kitab nabi-nabi. Paulus tidak mendirikan teologi yang mulai dari nol, Paulus tidak membangun pemikiran yang lepas dari pemikiran sebelumnya. Dia membangun di atas pemikiran para nabi dan para penulis Taurat, Mazmur dan lain-lain. Seluruh penulis Perjanjian Lama memberikan dasar untuk Paulus lanjutkan. Maka tema problem dan solusi adalah tema yang Paulus bahas di dalam Surat Roma, ada problem dan ada solusi. Apakah ada kabar baik? Kabar baik adalah ada solusi terhadap problem yang kamu alami. Tapi manusia tidak akan merasa dia akan mengerti solusi kalau dia tidak mengerti problem, dia tidak akan merasa senang dapat solusi kalau dia tidak tahu problemnya. Orang tidak tahu problem mereka, maka mereka tidak melihat pengharapan di dalam berita Injil. Kalau Saudara salah mengerti problem, Saudara akan salah punya pengharapan. Dan waktu kita ingin sesuatu yang Tuhan tidak janjikan, akhirnya antara apa yang kita ingin dengan apa yang Tuhan janjikan, tidak klop. Dan kalau ini tidak sama, maka Saudara sulit punya pengharapan. Dan Paulus menafsirkan dengan sangat tepat bahwa para nabi berbicara tentang problem utama yaitu mati.

Problem utama manusia adalah kematian. Dan kematian ini bukan sekedar keadaan mati secara fisik, tapi kematian ini berada dalam keadaan tidak bisa keluar dari belenggu yang keras yang menjauhkan kita dari Tuhan. Ketika orang memutuskan jauh dari Tuhan, dia tidak hanya jauh dari Tuhan saja, tapi dia akan masuk dalam kekuatan besar yang menarik dia jauh dari Tuhan. Sekali orang memutuskan jauh dari Tuhan, maka akan ada kuasa besar yang tarik dia jauh, inilah kuasa kematian. Dan kuasa kematian seringkali disampaikan dalam bentuk metafora atau gambaran. Banyak gambaran menggambarkan tentang kematian. Di dalam Perjanjian Lama, kematian dilukiskan sebagai kuasa yang sudah aktif sejak kita masih hidup. Kematian bukan sesuatu yang terjadi setelah kita tidak berfungsi normal secara fisik. Perjanjian Lama tidak tertarik membahas kematin fisik saja. Perjanjian Lama membahas kematian di dalam banyak gambaran. Dan salah satu gambaran adalah tenggelam, ditelan dan gambaran lain adalah dibuang. Pembuangan identik dengan kematian, waktu Israel menolak Tuhan dan menyembah berhala, Tuhan buang mereka. Dan pembuangan ini membuat mereka tidak hidup. Maka Perjanjian Lama sebenarnya menjelaskan dalam bentuk gambaran yang indah sekali dan menakutkan. Indah karena membuat kita mengerti begitu banyak cara Tuhan berkomunikasi dengan kita. Menakutkan karena ternyata yang dikomunikasikan adalah keadaan kita yang mati. Waktu Israel dibuang ke Babel, waktu itu ada gambar kematian yang dibagikan oleh Yesaya, Yeremia, maupun Yehezkiel. Di dalam Yehezkiel dikatakan dia melihat tulang-belulang manusia dan Tuhan mengatakan “inilah Israel”. Israel seperti tulang-belulang, mereka sudah mati meskipun mereka hidup di Babel. Mereka mati karena mereka tidak punya Tuhan. Mereka mati karena mereka tidak menikmati apa yang Tuhan mau berikan di dalam hidup. Saudara jangan salah kenal Tuhan. Tuhan adalah Allah yang mau memberikan kelimpahan di dalam hidup. Tapi kelimpahan Tuhan sering disalah-mengerti. Orang pikir kelimpahan yang Tuhan berikan adalah sesuatu yang sulit, kosong dan menyedihkan, karena kita lebih senang kelimpahan palsu dari dunia ini. Dunia menawarkan kelimpahan palsu dan itu yang kita mau tangkap. Tapi Tuhan menyatakan “kamu mati kalau kamu tidak ada di dalam Tuhan”. Kematian seperti ini adalah kematian yang tidak terasa di dalam hidup manusia, kecuali manusia menyadari berkat yang Tuhan berikan kemudian. Ini gambaran yang sangat indah di dalam Surat Roma. Kalau kita berada dalam keadaan rusak dan mati, jauh dari Tuhan, kita tidak tahu berapa indahnya hidup, kita tidak tahu berapa indahnya berada di dalam Kristus, karena kita tidak pernah punya pembanding. Saudara hanya punya satu cara hidup, satu cara memandang dan satu cara memandang pengalaman yaitu berada di luar Tuhan. Dan waktu kita menjalani seperti ini, kita seperti punya kesenangan, seperti bisa punya pengharapan, seperti bisa punya kekuatan, seperti bisa punya makna, tapi itu semua palsu. Kemarin saya mendapat berkat dari perspektif Vik. Jethro bahwa gambaran yang Alkitab berikan berupa cerita adalah gambaran untuk membuat kita bercermin. Cerita Alkitab bukan jendela untuk melihat kita keluar, tapi cerita Alkitab adalah cermin untuk membuat kita melihat diri kita, baru kita sadar diri kita begitu jelek, diri kita begitu kotor, diri kita tidak ada pengharapan, diri kita perlu Tuhan tapi kita malah menyembah berhala. Berapa bodohnya penyembahan berhala itu. Ketika orang membentuk dari kayu atau batu lalu sujud pada apa yang dia bentuk, bukankah itu kebodohan yang besar. Semua hilang karena semua sudah melakukan apa yang mereka mau. Semua orang mengerjakan kehendaknya sendiri, akhirnya tidak ada yang tunduk kepada Tuhan dan manusia menjadi hancur dan rusak. Itu sebabnya Paulus menekankan bahwa problem utama manusia itu mati.

Kalau problemnya mati, karena kehidupan yang rusak ini, bagaimana ada solusi? Solusi dari kematian bukan hidup, karena hidup tidak ada ketika orang sudah mati. Solusi dari kematian adalah bangkit. Itu sebabnya Paulus mengatakan di Surat Roma “saya memberitakan Injil dan Injil itu adalah Sang Kristus dinyatakan secara kedagingan sebagai keturunan Daud”. Dari daging keturunan Daud, tapi dari Roh Kekudusan Dia adalah Anak Allah yang berkuasa yang dibangkitkan dari antara orang mati. Siapa Kristus? Anak Daud secara fisik. Siapa Kristus? Anak Allah, mengapa Dia disebut Anak Allah? Karena Dia bangkit. Jadi kebangkitan Kristus adalah solusi, kunci untuk hidup yang beres kembali. Saudara jangan percayakan hidup yang beres dengan cara-cara dan teknik yang ada di dunia ini. Dunia ini puany versi kw dari kasih, keadilan, kekudusan. Sehingga kalau tidak dari Tuhan, semua versi itu akan menyeleweng dan akhirnya rusak. Semua orang perlu Kekristenan, semua orang perlu the resurrection one, kalau pakai bahasa teologi. Semua orang perlu Dia yang sudah bangkit. Indonesia perlu apa? Indonesia bukan perlu apa-apa, tapi Indonesia perlu siapa. Siapa yang diperlukan Indonesia? Indonesia perlu Dia yang bangkit karena Indonesia sedang mati. Manusia perlu Dia yang bangkit, karena kita semua sedang mati. Kita mati karena kita tidak peduli Tuhan. Ini berita yang sangat penting untuk kita pahami. Kita mati bukan karena kita melakukan tindakan yang jahat terlebih dahulu. Kita mati karena kita berhenti beribadah kepada Tuhan, berhenti menyembah Tuhan, berhenti dibentuk Tuhan, berhenti menikmati Tuhan di dalam datang kepada Tuhan. Waktu Israel diperbudak dengan kejam di Mesir, mereka tidak punya harapan. Lalu mereka mengatakan “oh Tuhan, kami minta Tuhan bebaskan kami”, dan Tuhan benar-benar bebaskan mereka. Bagaimana cara Tuhan membebaskan mereka? Dengan cara melepaskan mereka dari belenggu Mesir kemudian letakan mereka ke dalam keindahan memperhamba diri dalam beribadah kepada Tuhan. “Aku akan keluarkan kamu dari Mesir supaya kamu beribadah kepadaKu di gunung ini”, Tuhan mau Israel beribadah kepada Tuhan di Gunung Sinai. Mengapa mesti beribadah? Karena ini jalan keluar dari mati. Kamu tadinya mati di Mesir, tapi kamu akan menikmati hidup dalam beribadah kepada Tuhan. Itu sebabnya di pasal 1 ini Paulus menjelaskan kalau manusia berhenti beribadah kepada Tuhan, mereka akan beribadah kepada berhala. Tuhan pasti akan diganti oleh berhala, karena kita adalah ciptaan Tuhan yang secara unik memunyai tempat, waktu dan perspektif. Saudara dan saya unik karena kita ini lokal, ini tema yang ditulis oleh Craig Bartholomew dalam buku yang berjudul “Where The Mortals Dwell”, dimana para mortal itu berdiam, mortal itu maksudnya adalah manusia. Manusia perlu tempat dan tempat kita terbatas. Saudara pasti akan menempati tempat, tidak mungkin tidak. Kalau Saudara ingin melintasi batas Saudara dan ingin menjadikan diri Saudara semacam ilah, Saudara akan jatuh dalam ilusi yang menyedihkan. Saudara harus tahu keterbatasan dan Saudara perlu yang lain, Saudara perlu komunitas, Saudara perlu orang-orang di sekitar Saudara, tapi yang jauh lebih penting adalah Saudara perlu Tuhan. Karena kalau tidak ada Tuhan, kita akan terus terbatas. Dan kalau kita perluas keterbatasan kita dengan berelasi dengan manusia, kita tetap hanya punya perspektifnya ciptaan, kita tidak punya perspektif sang pencipta. Dan untuk ciptaan melihat dari perspektif sang pencipta itu mustahil. Person perlu person, pribadi perlu pribadi, perlu ada relasi antar kelompok atau pribadi supaya kita bisa menjadi manusia. Tapi lebih dari itu kita juga perlu relasi antara kita dengan Allah yang saling berelasi, Allah Tritunggal. Kalau kita tidak percaya Allah Tritunggal, kita hanya berelasi dengan sesama manusia, kita pasti akan kosong hdupnya. Orang yang tidak beribadah kepada Allah Tritunggal akan kosong hidupnya, sadar atau tidak sadar, inilah kematian. “Kalau begitu saya akan menyembah berhala, saya akan mengganti Tuhan dengan yang palsu. Lalu saya sendiri menjadi kosong karena yang palsu itu”. Kekosongan terbentuk di dalam kebobrokan berelasi.

Maka Paulus mengaitkan antara kecemaran tidak beribadah kepada Tuhan dengan kecemaran penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual adalah tanda penyimpangan yang parah sekali, ini yang ditekankan di dalam Surat Roma. Kita tahu yang ditekankan di dalam sejarah, termasuk zaman kita sekarang, banyak orang yang menekankan kewajaran relasi homoseksual. “Ini kan kecenderungan yang dulu dianggap tidak boleh, sekarang boleh”. Saya akan kritik pendapat itu dengan mengingatkan dari dulu homoseksualitas itu sudah kontroversial. Di dalam sejarah ada seorang yang bernama Sappho, ini adalah seorang sastrawan Yunani Kuno, dia berasal dari Pulau Lesbos. Pulau Lesbos ada di Laut Aegean, dekat ke Turki. Sappho seorang perempuan, penyair yang pintar sekali, dia seringkali memberikan pernyataan kasih erotis antara dia dengan perempuan lain. Dia terus bicara tentang relasi antara perempuan dan perempuan dengan cara yang penuh hawa nafsu, dengan keindahan cinta dan juga seksualitas. Sebab itu orang curiga dan membaca karya ini dan mengatakan “mengapa kamu mendukung perempuan dengan perempuan, mengapa tidak perempuan dengan laki-laki?”, lalu dia mengatakan dalam pembahasannya bahwa banyak sekali keindahan di dalam perempuan yang hanya perempuan bisa pahami. Sehingga kalau perempuan dekat dengan perempuan, mengagumi, saling menikmati tubuh masing-masing, itu indah sekali. Dia bahas puisi sehingga banyak sekali kontroversi, ada yang mengatakan Sappho tidak bermaksud menekankan relasi perempuan dengan perempuan, tapi sebagian mengatakan Sappho adalah pendorong relasi antara perempuan dengan perempuan. Sappho dari Lesbos, berarti dia penduduk Lesbos, penduduk Lesbos disebut dengan Lesbian, kata itu mulai dari situ karena karya atau pekerjaan Sappho. Dia mendorong relasi yang indah antara perempuan dengan perempuan, atau dalam tradisi ada Kaisar Hadrian, ini adalah kaisar yang memerintah di awal abad ke-2. Kaisar Hadrian sangat jatuh cinta dengan anak muda yang bernama Antonius. Kaisar Hadrian bertemu dengan Antonius ketika berada di sebuah perayaan, dia lihat anak muda ini dan dia tanya siapa anak muda itu, orang mengatakan anak muda itu bernama Antonius, dia sedang belajar untuk menjadi seorang yang berguna di masyarakat, dia masih muda, baru memasuki usia awal 20. Kemudian Hadrian mengatakan “saya ingin berbicara dengan dia”. Lalu mereka berdua menjadi akrab dan kemana-mana Hadrian pergi, dia akan mengajak Antonius. Kemana Hadrian pergi, di situ ada Antonius. Relasi mereka semakin dekat, Hadrian menunjukan kepada Antonius segala yang dia kerjakan sebagai kaisar dan dia jauh lebih dekat dengan Antonius dibandingkan dengan siapa pun. Kemudian dia menyatakan kekagumannya kepada Antonius, dia mengatakan “kemudaan Antonius, gantengnya dia, fisiknya dia, semuanya tidak bercacat, sehingga saya tidak pernah kekurangan kesukaan memandang dia. Saya tidak pernah ingin ada momen tidak melihat dia”, ini ekspresi yang menakutkan. Lalu Antonius mengalami kecelakaan, tenggelam dan meninggal. Kaisar Hadrian sangat kosong hidupnya dan mengatakan “saya ingin Antonius hidup selama-lamanya, maka saya harus menjadikan dia dewa yang melihat saya, mengamati saya, dan tetap dekat di hati saya”, ekspresi homoseksual seperti ini sangat wajar sepertinya berada di dalam tradisi Roma. Tapi yang melawan kebiasaan ini juga ada, ada orang bernama Asirtophanes dari Yunani, dia menghina semua bentuk homoseksualitas sebagai penyelewengan dari natur, “kamu tidak bisa mengesahkan relasi homoseksual dan mengatakan ini alami. Secara fisik pun itu sudah tidak mungkin bisa. Kamu tidak bisa menikmati seks kecuali kamu adalah laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan laki-laki tidak mungkin menikmatinya dengan cara yang wajar, perempuan dengan perempuan tidak mungkin menikmatinya dengan cara yang wajar. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu kunci untuk adanya relasi seksual”. Dia banyak menyindir orang-orang yang memunyai kecenderungan homoseksual karena pada waktu itu ada kelompok Yunani yang menganggap homoseksual itu adalah ide tertinggi. Karena yang paling tinggi itu dewa-dewa, nomor dua laki-laki, nomor tiga adalah kuda-kuda yang bagus, setelah itu perempuan. Maka kalau kamu laki-laki, kamu mencintai perempuan berarti kamu mencintai orang yang secara step, kedudukan lebih rendah dari dewa, dari laki-laki dan lebih rendah dari kuda yang bagus. Jadi kalau kamu mencintai perempuan kamu berada dalam level yang kurang tinggi, kalau kamu tidak menikah dan mencintai dewa-dewa, kamu berada di dalam level dewata. Tapi kalau kamu mencintai sesama laki-laki, kamu berada di level normal, laki-laki itu lebih tinggi dari kuda perempuan. Maka kalau kamu senang laki-laki, seleramu bagus. Ini yang dihina oleh Aristophanes, dia mengatakan penyelewengan ini tidak bisa dianggap indah, ini adalah kebodohan. Tidak hanya Aristophanes, Plato juga mengalami perubahan isu. Di awal filsafatnya Plato sangat menjunjung relasi antara laki-laki dan laki-laki sebagai ideal yang tinggi. Saudara lihat saja kalau orang Yunani melukiskan keindahan manusia, pasti laki-laki yang berotot, jarang perempuan seksi. Sekarang zaman sudah berubah, laki-laki berotot kurang laku kecuali untuk minuman energy drink, sekarang adalah perempuan yang seksi. Kalau dulu perempuan jarang digambarkan untuk menjadi objek yang dilihat. Heran, orang Yunani agak lain di dalam tradisi klasiknya, semuanya adalah laki-laki yang berotot. Ideal seperti ini yang dianggap mengesahkan homoseksualitas, ini yang disetujui oleh Plato di awal. Tapi di dalam buku Nomos, Plato mengkritik kebiasaan ini, dia berubah pendirian. Dia mengatakan “setelah saya gumulkan, saya lihat, saya amati, tidak ada hal yang wajar dari laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki. Itu adalah hal yang sangat tidak alami, sangat terpaksa dan sangat tidak cocok”. Jadi kontroversi antara homoseksualitas dan anti-homoseksualitas bukan hal yang baru. Kemudian kelompok homoseksualitas sebagai kelompok eksklusif yang dianggap terpinggirkan dan perlu disanjung kembali, perlu diangkat kembali, itu sudah ada dari dulu, bukan baru ada sekarang. Kaum LGBT berteriak “bela hak kami”, itu dari dulu sudah ada. Maka perdebatan seperti ini adalah perdebatan yang menyertai sejarah manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Homoseksualitas adalah dosa dan tidak ada cara melihatnya dengan cara yang lain. Imamat 18 sangat menekankan ini, 1 Korintus 6 juga sangat menekankan ini. Demikian juga Roma 1, tapi banyak orang mengatakan “Roma 1 itu bicara tentang homoseks yang tidak setia, homoseks yang setia disetujui oleh Paulus. Coba baca: mereka meninggalkan kewajaran dan menyala-nyala dalam birahi. Itu berarti homoseks yang brengsek, tapi ada homoseks yang setia dan itu oke”. Tapi kita tanya “ayatnya dimana?”, “Paulus tidak sempat tulis”, “kalau Paulus tidak sempat tulis, kamu tahu dari mana?”, “itu karena Paulus di sini sedang marah kepada orang yang seksnya sembarangan”, “apakah seks laki-laki dengan laki-laki itu bukan seks sembarangan?”, “bukan”, “mana ayatnya?”, “Paulus belum sempat tulis”. “Mengapa Paulus belum sempat tulis?”, “karena kami belum membela hak kami”. Tapi Saudara membaca ayat ini, Saudara tidak bisa lari dari penafsiran bahwa kejelekan relasi homoseksual adalah latar belakang tulisan Paulus. Tradisi Yahudi yang sangat anti dengan homoseksual itu yang menjadi latar belakangnya di sini. Jadi kita harus membacanya dengan tepat, Paulus sedang menyindir homoseksualitas.

Lalu mengapa homoseksual dan lesbian sangat dibenci oleh Tuhan? Karena tidak pernah ada dalam rencana Tuhan. Kalau tidak ada dalam rencana Tuhan, mengapa ada orang yang seperti itu? Paulus sudah beri tahu “karena dari dulu kamu sudah lari dari Tuhan”. Ketika orang lari dari Tuhan, segala penyimpangan akan terjadi. Dan ketika orang sudah menyimpang, dengan bisa sembarangan lempar ke Tuhan, ini jahat sekali. “Tuhan mengapa saya begini?”, “dari dulu kamu yang lari dari Tuhan”, “iya, tapi tidak boleh begini. Saya boleh lari dari Tuhan, tapi tidak boleh hidup seperti ini”, “kamu yang lari, Tuhan sudah mengatakan kamu akan mati kalau tidak menyembah Tuhan”. Putus menyembah Tuhan membuat manusia menjadi sembarangan, dan sembarangan itu memunyai kekuatan untuk membuat Saudara menjadi inhuman, membuat Saudara kehilangan kemanusiaan. Kemanusiaan hilang karena Saudara tidak lagi kait dengan Tuhan Sang Sumber kemanusiaan itu. Manusia disebut gambar Allah, dan tanpa Allah, manusia bukan gambar yang baik. Kerusakan dosa membuat manusia tidak bisa kembali ke Tuhan, tidak sanggup jalani hidup dan akhirnya berada dalam kehancuran. Dan Paulus mengatakan satu contoh kehancuran adalah kamu berada dalam relasi yang rusak secara seks. Seksualitas hal yang sangat penting. Menjadi manusia berarti menjadi laki-laki dan menjadi perempuan, Tuhan sudah menyatakan itu dari awal. “Maka diciptakannya dia laki-laki dan perempuan, diciptakannyalah mereka”. Tuhan menciptakan manusia dengan peran sebagai laki-laki, dengan fisik sebagai laki-laki dan dengan kecenderungan seorang perempuan. Dan Tuhan menciptakan seorang perempuan dengan peran seorang perempuan, fisik seorang perempuan dan kecenderungan seorang perempuan. Laki-laki punya hal yang secara unik ada pada laki-laki, perempuan memunyai hal yang secara unik ada pada perempuan, baik fisik maupun batin. Laki-laki memunyai fisik yang beda dengan perempuan, perempuan juga memunyai fisik yang beda dengan laki-laki. Ketika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, Tuhan ingin laki-laki dan perempuan saling mengisi kebutuhan yang satu dengan yang lain, saling menyatakan kasih, relasi, kesetiaan dan juga kehangatan emosi, kehangatan fisik dan keintiman. Baru setelah itu Tuhan mau percayakan keturunan. Tuhan tidak mau mempercayakan keturunan kepada pasangan yang tidak menjalankan fungsi laki-laki dan perempuan yang baik dalam pernikahan. Itu sebabnya kekacauan dan kerusakan di bidang seks adalah cara paling efektif dipakai setan untuk merusak manusia. Manusia akan rusak karena seksnya menyimpang. Orang yang seksnya menyimpang tidak mungkin jadi orang tua yang baik, tidak mungkin bisa jadi teladan, kecuali dia benar-benar bertobat dan kembali kepada Tuhan. Tanpa ada pertobatan dari kehidupan seks yang rusak, tidak ada harapan bagi generasi selanjutnya dalam kemanusiaan. Setan sedang menghancurkan bukan hanya satu dua orang, setan sedang menghancurkan kemanusiaan. Sadarkah Saudara akan hal ini? Dia penghancur kemanusiaan, dia penghancur gambar Allah yang ada di bumi, dia punya proyek lebih besar dari pada cuma sekedar mengganggu Saudara. Kalau Saudara bertemu setan yang hobinya cuma mengganggu Saudara pindah-pindahkan barang, Saudara tidak perlu pedulikan dia, dia itu setan bodoh yang tidak mengerti apa itu panggilan setan dalam rencana kepala setan. Setan memunyai concern untuk membuat kemanusiaan rusak, membuat sepertinya tidak ada harapan lagi, dan itu yang sedang dia kerjakan. Manusia begitu pintar menciptakan banyak hal yang akan membuat energi untuk kehidupan kita, energi yang sama bisa digunakan untuk membunuh orang. Setan ingin manusia berhenti di dunia ini. Dan cara lain adalah biar manusia hidup rusak sehingga ada komunitas anak yang hanya dibesarkan oleh mamanya, anak yang hanya dibesarkan oleh papanya, dan ini bukan karena salah satu meninggal tapi karena hidup seks yang tidak beres. “Ayo kita membuat keluarga yang suaminya tidak saling setia, istri juga tidak setia. Mari kita lihat masyarakat akan menjadi apa”, “itu tidak apa-apa, kita kan tidak harus ada papa dan mama, papa atau mama saja sudah cukup. Keluarga rusak itu tidak apa-apa, nanti anak-anak akan bertumbuh dengan cara yang mudah, anak-anak itu biarkan besar begitu saja, nanti akan ada penebusan, bawa ke Kristus dan semuanya akan beres. Jadi mari kita hidup rusak karena ada penebusan”, ini dari setan semuanya. Akhirnya manusia mengabaikannya dengan melampiaskan seks seenaknya, melampiaskan semaunya, melampiaskan tanpa kontrol, melampiaskan tanpa ingatan akan Tuhan. Berapa rusaknya kita sudah dihancurkan oleh setan, setan membuat sangat rusak. Lalu mulai ada kecenderungan tidak puas “saya mulai tidak puas dengan perempuan, harus dengan perempuan dan laki-laki, saya harus dengan 5 perempuan, saya harus dengan banyak orang”, keliaran seperti ini adalah cara setan merusak kita. Dengan membuat potensi yang ada dalam diri kita keluar tanpa tertahankan. Potensi untuk mengasihi, keindahan kehangatan, keindahan seksualitas, semua dimiliki oleh manusia, manusia punya drive untuk hal yang berbau seksualitas dalam pernikahan. Tapi dia perlu mengekangnya, perlu untuk menahan diri. Yang iblis katakan adalah “berhenti kekang diri, kalau kamu punya desire lampiaskan, kalau kamu punya kecenderungan seks yang menyimpang, orang harus maklum, pokoknya terserah kamu. Kamu punya kecenderungan apa, masyarakat harus mendengarkannya, kamu tidak boleh diabaikan, tidak boleh disepelekan, kamu itu penting, kamu berarti, kamu berharga”. Manusia itu penting dan berharga di dalam tujuan Tuhan, bukan di dalam kesewenang-wenangan sendiri. Sehingga ketika manusia jalankan kehidupan dengan sebebas-bebasnya, seenak sendiri, dia sedang kerja sama dengan setan untuk menghancurkan kemanusiaan. Kemudian orang mulai membuat peraturan, mulai paksa negara untuk setujui pernikahan ini, hak dan kewajiban juga diatur oleh negara dan pernikahan ini dianggap sama mengikat, sama penting dan sama indahnya dengan pernikahan orang biasa. Dan semua modal untuk mempopulerkan gerakan ini dimasukan kemana-mana. “Mari membuat film kartun yang membuat anak-anak celik matanya bahwa laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan itu oke. Keadaan romantis ketika seorang perempuan melihat perempuan lain, lalu tiba-tiba ada pelangi, ada burung berkicau, kemudian jatuh cinta antara laki-laki dengan laki-laki, antara perempuan dengan perempuan, ini semua rusak. Alkitab mengatakan ada dosa yang terjadi dan itu fakta, mari kembali ke Alkitab, mari kekang diri. Kalau ada orang mengatakan “saya punya kecenderungan ini, mengapa harus dikekang?”, saya akan kasi tahu bahwa semua orang bertugas untuk mengekang diri. Mungkin orang yang tidak punya kecenderungan homoseksual, bebas dari keinginan untuk berelasi intim dengan sesama jenis, dia tidak punya keinginan itu, tapi dia punya keinginan yang lain, dia harus batasi dirinya. Orang yang mudah marah, sedikit-sedikit langsung emosi, pokoknya lampiaskan dulu, menyesal kemudian, dia harus belajar mengekang diri. Ada orang terlalu egois, dia harus belajar mengekang diri. Ada orang yang terlalu mudah jatuh cinta sama orang, dia harus mengekang diri. Ada orang yang terlalu mudah dekat dengan orang, lalu jauh, lalu dekat lagi, lalu cari yang lain lagi, dia harus mengekang diri. Dia mesti kalahkan diri. Dosa akan kalahkan kita kalau kita tidak kalahkan dosa itu dulu.

Itu sebabnya seorang tokoh penting dari Inggris mengingatkan kita bahwa kalau kamu tidak sibuk mematikan dosa, dosa akan akan matikan kamu. Mari matikan dosa, mari matikan kecenderungan apa pun yang tidak sesuai firman. Kembali ke Alkitab, lalu katakan kepada diri, saya mau taat kepada Tuhan. “Saya tidak mau taat diri, saya tidak mau taat hawa nafsu saya, saya tidak mau taat kecenderungan yang jahat dalam diri saya. Saya tidak mau, saya bukan milik setan lagi, saya bukan milik dunia. Sekarang saya adalah milik Tuhan”. Itu sebabnya Paulus mengingatkan semua orang sudah mati, semua orang sudah rusak. Dan contoh paling jelas yang Paulus pakai adalah relasi homoseksual, ini buktinya kalau manusia sudah sangat rusak. Homoseks dipakai Paulus untuk menggambarkan dosa yang paling najis dan menjijikan bagi Tuhan, baru kemudian ada dosa-dosa yang lain yang juga najis dan menjijikan di dalam kemanusiaan dan juga bagi Tuhan, yaitu penuh kelaliman, kejahatan, keserakahan, kebusukan, dengki, pembunuhan dan lain-lain, pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat, tidak berakal, dan lain-lain. Semua ini adalah contoh bahwa kamu sudah mati. Tapi yang Tuhan lakukan adalah menghidupkan kamu kembali dalam Kristus Sang Mesias. Jadi Paulus ingin mempresentasikan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang bisa bertindak. Tuhan bertindak dengan membangkitkan Kristus. Setelah Tuhan membangkitkan Kristus, bagaimana orang bisa dipulihkan dari matinya? Dengan beriman. Iman itu berarti percaya Tuhan sanggup dan Tuhan mau dan Tuhan sudah bertindak. Bertindak membangkitkan, ini pengertian Paulus di dalam Surat Roma. Apa itu iman, harap Saudara mengerti dengan jelas perspektif dari Roma. Bagi Paulus dalam Surat Roma iman adalah percaya bahwa Allah sanggup, mampu, mau dan sudah bertindak. Tindakan yang di dalam Kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dirumuskan oleh Paulus sebagai tindakan membangkitkan. Israel sudah mati tapi Tuhan akan membangkitkan, manusia sudah mati tapi Tuhan akan membangkitkan. Apa buktinya mati? Homoseksualitas, hawa nafsu dan semua kecenderungan yang melawan Tuhan dan menghancurkan sesama yang kita miliki, itu tandanya kita mati. Lalu bagaimana kita bisa hidup? Alkitab mengatakan kalau kamu beriman bahwa Tuhan sanggup, mau dan sudah membangkitkan Kristus. Maka kebangkitkan Kristus harus diimani sebagai tindakan Tuhan membangkitkan kita semua. Mau mengubah kita dari cara hidup yang sia-sia menjadi orang-orang yang menjalankan cara hidup yang penuh pengekangan diri, yang penuh ketaatan kepada Tuhan, yang penuh penghormatan kepada kekudusan, itu yang Tuhan kehendaki. Harap ini boleh menggugah kita dan mendorong kita untuk mengerti keadaan lama di dalam daging dan keadaan baru di dalam kebangkitkan Kristus.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)