Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Seri Mengapa Allah Menjadi Manusia(6): Betapa mulianya menjadi manusia
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Seri Mengapa Allah Menjadi Manusia(6): Betapa mulianya menjadi manusia

Pdt. Jimmy Pardede

(Roma 5: 1-5)
Allah menjadi manusia karena Dia ingin menyatakan kemuliaan bagi kehidupan manusia. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang mulia. Dan ketika Allah menjadi manusia, hal ini dikonfirmasi. Bukan hanya itu saja, Allah menjadi manusia dan menyatakan kehidupan yang mulia, sehingga kita semua boleh berbagian di dalam kehidupan yang mulia yang Allah tawarkan di dalam diriNya untuk manusia. Tidak ada kepercayaan atau agama manapun yang memberikan tempat sangat mulia kepada manusia dibandingkan dengan ajaran Kristen. Kekristenan membuat manusia menyadari bahwa manusia mempunyai nilai, kemuliaan, dignitas, kehormatan yang besar karena Tuhan memberikannya kepada manusia. Sejak awal Alkitab sudah bicara bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia adalah gambar dan rupa Allah. Dan Alkitab tidak memberikan pembedaan antara laki-laki dan perempuan, keduanya adalah gambar Allah. Demikian juga dengan kemuliaan yang Allah tetapkan sehingga manusia boleh mewakili Allah, memenuhi bumi, menaklukan itu demi Tuhan. Ini semua adalah hal yang sangat penting untuk kita pahami supaya kita bisa menghargai sesama. Tidak ada ajaran yang bisa menuntut kita untuk menghargai sesama dengan konsep yang teratur, teliti, konsisten seperti Kitab Suci. Memang Kitab Suci membahas manusia sudah jatuh dalam dosa, manusia begitu bobrok dan rusak, tidak ada kebaikan sedikit pun dalam manusia karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Tetapi keadaan di dalam dosa bukanlah keadaan di dalam rancangan Tuhan, Tuhan tidak merancang manusia berdosa, meskipun dosa berada di dalam seluruh rencana Tuhan yang total dan Tuhan menggunakan dosa ada di dalam rencana Tuhan. Tuhan tidaklah menjadi sumber dari dosa. Tapi Tuhan di dalam kedaulatanNya mengizinkan terjadinya kejatuhan. Lalu Tuhan menyatakan kejatuhan itu di dalam seluruh skema yang akan menyatakan kemenangan dan kemuliaan Tuhan. Saya pernah ditanya apakah Tuhan menetapkan dosa? Saya balik bertanya “apakah kamu percaya apa yang Tuhan sedang tuju di dalam semua ciptaanNya, apakah kamu tahu apa yang Tuhan sedang lakukan? Kalau kamu tahu apa yang Tuhan lakukan sampai pada final, titik akhir kemuliaan yang Tuhan nyatakan, maka kamu bisa mengatakan Allah menggunakan dosa di dalamnya untuk menyatakan kemenanganNya. Allah tidak memerlukan dosa, tapi di segala hal mulia yang Tuhan kerjakan, dosa berbagian di dalamnya untuk Allah taklukan, kemudian Allah menyatakan kemenanganNya melalui Kristus”. Ini hal yang sangat sulit untuk kita pahami. Itu sebabnya di dalam abad sebelum Martin Luther, akhir abad pertengahan, seorang teolog bernama Ockham mengingatkan kembali rekan-rekannya untuk berhati-hati dalam teologi karena masih banyak hal yang misteri tentang Tuhan. Tuhan mengerjakan apa yang Dia kerjakan, karena Dia adalah Tuhan, dan semua alasan mengapa Dia mengerjakan yang Dia kerjakan, tidak dapat dijawab dengan semudah itu. Tetap ada misteri mengapa Tuhan mengerjakan ini atau itu. Tetap banyak hal yang misteri mengapa Tuhan melakukan dengan cara yang Dia sudah lakukan. Namun segala hal yang misteri itu tidak membatalkan segala hal yang kita ketahui. Semua yang jelas kita ketahui tentang Tuhan tidak batal oleh misteri itu. Allah adalah Allah yang baik, tapi mengapa di dalam penciptaanNya ada kejahatan? Misteri, apakah misteri ini membatalkan fakta bahwa Allah baik? Tidak. Sehingga ini diingatkan oleh Ockham, hati-hati ketika engkau mengatakan engkau sudah tahu mengapa Allah melakukan dengan cara ini dan bukan dengan cara itu. Karena banyak hal yang masih misteri yang tidak mudah dijawab, namun segala hal yang misteri itu tidak membuat kita salah mengerti Allah sebagaimana Allah sudah menyatakan dengan cara yang sudah kita pahami.

Allah sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menyatakan kemenangan dan kemuliaanNya untuk dibagikan bersama manusia. Allah meninggikan manusia, Allah memberikan tempat utama kepada manusia di dalam ciptaanNya, dan Allah mempunyai tempat bagi manusia yang sangat dalam, indah, dan sangat luar biasa agung yaitu Dia mau membagi kemuliaanNya dengan manusia. Sehingga Saudara dan saya harus mengerti kemanusiaan dalam cara berpikir seperti ini. Jangan punya asumsi dulu tentang kemuliaan manusia, lalu kita menafsirkan Alkitab berdasarkan asumsi yang kita sudah miliki dulu. Manusia mempunyai nilai yang begitu tinggi sehingga Allah menjadikan segala yang akan Dia buat final, pernyataan kemuliaanNya dibagi bersama manusia. Tapi ada satu hal yang membuat kita tahu bahwa Allah benar-benar memberikan tempat yang penting bagi manusia yaitu ketika Dia mengutus Anak TunggalNya menjadi manusia. Sang Anak Allah rela menjadi manusia. Ini bukan hanya menunjukan berapa relanya Kristus merendahkan diri, ini bukan hanya menunjukan berapa agung dan besarnya kerelaan Sang Anak Allah turun ke dalam dunia dan menjadi manusia. Ini juga menunjukan berapa berartinya manusia bagi Allah. Harap ini kita pahami dengan baik, karena kadang-kadang kita membahas manusia dengan cara yang sangat remeh. Seringkali sampai sekarang pun kita mengatakan ketika kita sudah melakukan hal yang salah, “maafkan saya sudah salah, tapi saya hanya manusia”. Manusia memang terbatas, tapi manusia tidak harusnya berdosa. Sehingga ketika kita melakukan sesuatu yang jahat, harusnya kita tidak sembunyi dengan mengatakan “saya hanya manusia”. “Mengapa kamu selingkuh?”, “saya hanya manusia biasa”, “mengapa kamu merampok?”, “saya hanya manusia biasa”, “mengapa kamu korupsi?”, “maaf, saya sudah berusaha, tapi saya lemah, saya hanya manusia biasa”. Manusia biasa harusnya tidak berdosa. Tuhan menciptakan manusia dengan dignitas demikian tinggi, bukan untuk ditaklukan oleh dosa dan bukan hidup di dalam kecemaran, di dalam kehilangan kemuliaan, di dalam segala hal yang rusak menggantikan kemuliaan Allah, itu bukan design-Nya Tuhan. Itu sebabnya ketika Allah rela menjadi manusia, hal itu membuat kita disadarkan tentang siapakah manusia di dalam pikiran Allah.

Allah tidak pernah buang manusia di dalam pikiranNya, Allah tidak pernah meremehkan kemanusiaan dan manusia yang sudah Dia ciptakan. Allah tidak pernah membuat manusia menjadi sedemikian hina sehingga dibuang secara total dan tidak lagi diperhatikan. Allah tetap mempunyai rencana di mana manusia berbagian di dalamnya. Allah mempunyai rencana untuk Sabat, di mana Dia akan berdiam bersama manusia. Dan Allah mempunyai rencana untuk membagi kemuliaan dengan manusia. Allah mempunyai rencana untuk menyebut manusia anakNya, bahkan Allah mempunyai rencana untuk mengirim Anak TunggalNya menjadi sama dengan manusia. Kalimat yang sangat mengharukan kita dan membuat kita menghargai cinta kasih dan kesetiaan Tuhan meskipun kita sudah jatuh dalam dosa. Maka tidak ada agama, atau ajaran moral, atau apa pun, doktrin, teori, atau filsafat mana pun yang memberikan tempat utama bagi manusia. Tidak ada tempat yang lebih baik bagi manusia selain di dalam rancangan Allah, pikiran Allah, di dalam semua hal yang Allah mau kerjakan di bumi ini. Dari semua inilah manusia bisa mendapatkan tempat utama.

Sayang sekali manusia mengkarikaturkan Tuhan, seolah-olah karena ada Tuhan, manusia tidak lagi bebas. Karena ada Tuhan, manusia dikepung dengan segala kedaulatanNya. Karena ada Tuhan, manusia dikekang sehingga tidak bebas, manusia tidak bisa menikmati kebebasan, manusia tidak bisa menikmati menjadi manusia yang lepas karena diperbudak oleh Allah yang kejam, ketat, yang menghilangkan semua kebebasan, dan yang menindas manusia dengan kedaulatan dan kekejamanNya. Ini gambaran palsu tentang Tuhan. Saudara tidak akan mendapatkan pengertian kemanusiaan lebih baik selain di dalam rencana Tuhan. Saya baru menyelidiki tentang apa yang dikatakan Roma 5 ini, Allah menjadi manusia untuk membagikan kemuliaanNya, bagaimana caranya? Dengan menekankan berapa pentingnya manusia dalam pandanganNya sejak awal, sehingga Dia rela menjadi manusia. Dan Yesus tidak pernah mengatakan di dalam Alkitab, betapa menyebalkannya menjadi besar, betapa besar keluh kesah menjadi manusia, itu tidak pernah keluar dari mulut Yesus. Yesus menjadi manusia karena betapa pentingnya manusia di dalam gambaran Allah untuk rencanaNya. Itu sebabnya Dia rela menjadi manusia, Dia mau menjadi manusia, bahkan sejak Dia berinkarnasi sampai selamanya, Dia akan terus menjadi manusia. Harap Saudara benar-benar mengerti hal ini, karena saya pernah membagikan hal ini dan ada orang bertanya “pak, bukannya Yesus setelah naik, Dia berhenti menjadi manusia? Dia menjadi manusia hanya di sini, setelah itu manusiaNya hilang dan Dia kembali lagi ke asal, menjadi Allah sebagaimana awalnya”, itu pengertian yang salah total. Yesus sejak berinkarnasi sampai selamanya terus adalah Allah sejati dan Manusia sejati. Dia adalah Allah dan Manusia sejati sejak titik awal inkarnasi sampai selama-lamanya, Dia terus adalah Allah sejati dan Manusia sejati. Dia menjadi manusia bukan untuk meninggalkan kemanusiaan, Dia menjadi manusia untuk terus menjadi manusia, menjadi Imam Besar kita sampai selama-lamanya. Itu sebabnya waktu Saudara mengenal Kristus, Saudara akan mengenal Dia sebagai manusia sulung, saudara sulung kita sampai selama-lamanya sekaligus juga Sang Anak Allah, Pribadi kedua dari Tritunggal, sampai selama-lamanya. Maka kita menyembah Kristus dari titik inkarnasi menjadi manusia sampai selama-lamanya terus menjadi manusia. Dia adalah Kepala dari seluruh manusia, Dialah yang membimbing manusia kembali kepada Tuhan. Dan waktu Dia datang menjadi manusia, itu menunjukan hal pertama yang mau saya bahas dalam khotbah ini. Yaitu Dia menunjukan betapa pentingnya manusia dalam rencana Tuhan.

Seluruh Alkitab mengatakan apa yang Tuhan mau kerjakan untuk manusia, apa yang Tuhan mau kerjakan demi manusia, demi kemuliaanNya dan demi kemuliaan yang Dia mau bagikan kepada manusia. Karena orang baca Alkitab maka orang mulai menyadari betapa berharganya manusia itu. Mengapa ada hak asasi manusia, mengapa ada perkataan bahwa semua manusia equal, tidak ada manusia yang bernilai lebih, tidak ada kelompok manusia yang lebih rendah nilai kemanusiaannya, semua karena pengaruh dari Kitab Suci. Kitab Suci membuat semua manusia berharga dan penting, tidak seperti kitab-kitab kuno atau pun dari tradisi-tradisi dari bangsa lain, dimana hanya raja dan hanya pemimpin (raja atau kaisar) yang hanya boleh disebut sebagai keturunan dewa, semua manusia lain tidak boleh disebut punya kaitan dengan dewa. Hanya raja atau kaisar yang boleh disebut gambar Allah, semua orang lain tidak boleh disebut gambar Allah. Tapi Kitab Suci menggambarkan hal yang berbeda, semua manusia adalah gambar Allah dan semua manusia adalah anak-anak Allah, jika dia benar-benar kembali kepada Allah. Maka kemanusiaan ditinggikan dan diberikan pada tempat yang seharusnya. Sedangkan ketika manusia membuang Tuhan, manusia meremehkan kemanusiaan, manusia tidak tahu bagaimaan mengurus manusia, manusia tidak tahu bagaimana bersikap kepada manusia lain, manusia tidak tahu bagaimana memberikan penghargaan kepada manusia lain. Saya baru mendengar khotbah dari Pdt. Ivan tentang seorang yang sangat penting, teolog dari Chekoslovakia, yang juga sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, yang bernama Jan Amos Comenius. Dia menyelidiki Kitab Suci dan menyadari satu hal bahwa gambaran yang Tuhan berikan kepada manusia adalah manusia dipertumbuhkan di dalam keindahan, di dalam kesenangan yang Tuhan janjikan dan di dalam kedamaian. Itu sebabnya Tuhan memberikan Taman Eden untuk Adam, Comenius mengatakan Adam menumbuhkan tanaman di taman itu, tapi bagi Tuhan Adamlah yang sedang dipertumbuhkan oleh Tuhan. Tuhan mendidik dan membimbing Adam bertumbuh dengan perasaan yang sangat penuh cinta kasih dan penuh penghargaan. Allah yang sempurna, Allah yang memiliki segala sesuatu, menghargai manusia setinggi itu. Allah menghargai manusia dan menginginkan pertumbuhannya. Dan itu sebabnya gambaran tentang taman sangat penting di dalam dunia pendidikan karena pengaruh dari orang ini. Waktu Tuhan memberikan penghargaan sedemikian, Tuhan membuktikan dengan Dia rela menjadi manusia. Maka inkarnasi menjadi titik yang penting sekali, yang tidak disaingi oleh ajaran mana pun bahwa manusia itu berharga bagi Tuhan dan bagi iman Kristen. Jika engkau tidak memiliki iman Kristen, jika engkau tidak memiliki iman yang kembali ke Kitab Suci, sulit untuk menghargai manusia. Manusia akan dimanipulasi, dimanfaatkan bagi diri, manusia hanyalah gangguan bagi satu orang yang hidup di dalam sebuah lingkungan, manusia tidak akan diberi nilai apa pun oleh orang yang tidak kembali kepada Alkitab. Allah menjadi manusia dan Allah menghidupi kehidupan manusia. Dan Saudara bisa melihat di dalam ayat-ayat yang kita baca, Paulus bicara tentang kemuliaan setelah itu dia bicara tentang penderitaan. Apakah kaitan penderitaan dan kemuliaan? Ketika Yesus menjadi manusia, Dia bukan hanya menunjukan penghargaan yang Allah berikan kepada manusia, namun Dia juga memberikan petunjuk kepada manusia, bagaimana manusia harus hidup. Setiap kalimat-kalimat ini sangat penting, saya coba gumulkan dan kristalisasikan dari apa yang saya coba baca atau gumulkan tentang menjadi manusia. Tanpa kembali ke Alkitab, kita akan sulit untuk tahu betapa pentingnya menjadi manusia. Kita akan dikacaukan oleh ide-ide yang rusak dari dunia ini tentang menjadi manusia. Tapi Kristus mengembalikan semuanya.

Apakah yang mulia dari manusia? Yang mulia dari manusia adalah manusia adalah milik Tuhan. Dan waktu dia menjalani hidupnya bagi Tuhan, di situ kemuliaannya dipulihkan. Bagaimana waktu dia menjalani kehidupan bagi Tuhan, namun kehidupan itu penuh dengan penderitaan dan kesulitan, apakah penderitaan dan kesulitan akan membuat menusia berkurang kemanusiaannya? Orang dunia akan mengatakan kemiskinan membuat manusia kurang manusia, pendidikan yang rendah membuat manusia kurang manusia, segala kesempatan hidup yang bagus kalau tidak bisa dimiliki membuat manusia kurang dari manusia. Sehingga untuk menjadi manusia kita menyingkirkan semua hal ini dan berusaha untuk masuk dalam level yang lebih baik. Kita berusaha untuk mempunyai kekayaan karena kita berpikir kemanusiaan kita didefinisikan oleh kekayaan itu. Kita berusaha untuk menjadi orang yang pintar, karena kita berpikir kepintaran kita akan mendefinisikan kemanusiaan kita. Tapi Alkitab menyatakan dosa membuat manusia hancur, dosa membuat manusia tidak lagi menjadi manusia. Ketika manusia membelakangi Tuhan, mengabaikan Dia dan hidup untuk sendiri, pada waktu itu dia sedang menghancurkan kemanusiaannya sendiri. Dan kemanusiaan sudah hancur sampai saat ini, dan banyak dari kita pun mungkin jatuh dalam kesalahan yang sama yaitu berpikir bahwa kemanusiaan kita baik-baik saja, kita adalah manusia yang baik padahal kita sedang dalam keadaan berdosa, kita sedang berpaling dari Tuhan, kita sedang lari dari Tuhan, kita sedang tidak hidup dalam caranya Tuhan. Kristus datang ke dalam dunia untuk menyatakan seperti apakah hidup yang mulia itu. Kemanusiaan dimunculkan kembali oleh karena Kristus rela datang, kemanusiaan diberikan penghargaan oleh karena Kristus menjalankan kehidupan menjadi manusia yang sejati. Dan waktu Kristus menjalankan kehidupan sebagai manusia, Dia tidak berbuat dosa. Namun Dia rela hidup di segala penderitaan yang dimiliki oleh orang yang hidup dalam dosa. Kehidupan penderitaan tidak membuat manusia berkurang kemanusiaannya. Inilah poin penting yang Paulus mau bagikan, kita bermegah karena pengharapan akan kemuliaan Allah dan kemuliaan ini akan kita dapatkan walaupun saat ini kita sedang dalam berbagai kesulitan. Alkitab mempunyai cara yang unik untuk menangani tentang kesulitan dan penderitaan dan banyak pemikir-pemikir penting di dalam abad-abad atau tahun-tahun setelah perang merenungkan makna menjadi manusia. Semua hal yang ada di dunia menunjukan segala usaha manusia pada akhirnya akan hancur, karena penderitaan dan kematian akan muncul. Setiap orang akan berusaha mati-matian untuk menjaga fisiknya sebaik mungkin, tapi akan datang saat dimana fisiknya tidak sanggup lagi menanggu segala hal yang harus ditanggung di dunia ini. Ada saatnya fisik tidak sanggup lagi berjalan, tidak sanggup melakukan apa pun yang dulu biasa dilakukan. Semakin menurun, semakin menurun, sampai akhirnya masuk dalam kematian. Ada orang-orang yang berharap pada harta, tapi dia pun tahu satu hal bahwa harta tidak tentu dan kehidupannya tidak bergantung pada harta. Adakah orang yang karena kaya maka tidak mati-mati? Waktu orang berpikir semua keadaan dia adalah aman, sejarah punya cara yang paling baik untuk mendidik dia rendah hati. Bahwa ternyata manusia tidak punya kekuatan untuk mempertahankan apa pun, penderitaan, kesulitan, aniaya, bahkan kematian menjadi ciri dari kehidupan manusia. Sehingga kita akan terpaksa berteriak lagi “apa makna menjadi manusia?”.

Seruan ini paling dimengerti oleh Ayub, apa makna hidup saleh, apa makna hidup baik di hadapan Tuhan, apa makna menerima semua firman dan menjalankan dengan setia, kalau ternyata kehidupan penderitaan tetap tidak jauh dari orang-orang yang beriman kepada Tuhan? Saya paling geli dan alergi kalau dengar pendeta atau orang-orang Kristen selalu pakai slogan-slogan yang sifatnya itu tidak ada argumen dan kosong sekali, “kalau ada Tuhan, kita selalu sejahtera. Kalau ada Tuhan kita tidak mungkin menderita. Orang-orang terus berpikir kalau ada kecelakaan berarti dia sedang dihukum Tuhan, kalau kehidupannya jelek berarti sedang jauh dari Tuhan, kalau hidupnya menderita berarti Tuhan tinggalkan. Kalau Tuhan tidak tinggalkan, mengapa menderita, mengapa miskin, mengapa sakit terus? “alasan sakit terus adalah karena Tuhan sedang menjauh, coba Tuhan datang mendekat”, Saudara dan saya sudah salah menafsirkan tentang kemanusiaan, tentang apa itu menjadi manusia. Menjadi manusia hanya dikurangi atau dihancurkan oleh dosa dan pemberontakan kepada Tuhan, bukan yang lain. Kalau saya berdosa, kemanusiaannya akan hancur, kalau saya mementingkan diri saya bukan manusia, kalau saya mengabaikan Tuhan, saya bukan manusia. Kalau saya tidak peduli Tuhan, saya bukan manusia. Tapi kalau saya menderita, saya tidak tentu bukan manusia. Maka waktu Yesus datang ke dalam dunia, Dia mau berinteraksi dengan penderitaan manusia. Allah menjadi manusia karena Dia tahu bahwa kehidupan sulit di tengah-tengah dunia ini bukan tanda Tuhan tidak sertai, kehidupan sulit di tengah dunia ini bukan tanda Dia kurang manusia. Yang Yesus nyatakan adalah dosa membuat engkau kurang manusia, kalau engkau membenci, kalau engkau mempunyai sifat jahat kepada orang lain, kalau kamu berpandangan negatif dan mau menyingkirkan orang-orang di sekelilingmu, kalau kamu sulit mengampuni, kalau kamu membenci, kalau kamu mendendam, baru kemanusiaanmu dicederai. Tapi kalau kamu hidup di dalam kesulitan, tidak ada yang berubah dari kemanusiaanmu. Yesus menyadari bahwa kehidupan manusia di bumi begitu sulit, dan Dia berbagian bersama-sama menghadapi kesulitan yang dialami manusia. Maka waktu Kristus datang, Dia menjalani mode hidup yang mirip, sama-sama sulit, sama-sama menderita. Saudara mau mengatakan hidup di bumi sulit, Yesus sudah jalani. Waktu kita mengatakan hidup di bumi penuh penderitaan, Yesus sudah jalani dan alami penderitaan. Waktu kita mengatakan hidup di bumi penuh pertentangan dengan orang-orang, mau pertahankan kebenaran itu sulit karena orang-orang yang korup berusaha untuk menindas kita, Yesus sudah mengalami hal itu. Hidup di dunia sulit, karena kita sudah dikepung oleh orang-orang yang mau membinasakan kita, Yesus sudah alami itu. Bagaimana bisa ada harapan? Hanya kalau Allah rela menderita. Ketika Allah rela meninggalkan segala kekuatan, segala keadaan yang tidak berinteraksi dengan kesulitan dan penderitaan di bumi, waktu Allah tinggalkan itu dan menjadi manusia. Pada waktu itu ada harapan bagi manusia. Allah menjadi manusia untuk berbagian di dalam kehidupan di bumi, memurnikan makna menjadi manusia di tengah keadaan apa pun. Hal pertama yang sudah saya bagikan adalah Kristus menyatakan kehidupan manusia penting dengan Dia berbagian menjadi manusia.

Yang kedua adalah Dia memulihkan apa makna menjadi manusia di dalam setiap keadaan. Tuhan mengaruniakan manusia berbagai keadaan, ada yang keadaannya baik, ada yang mungkin kurang baik secara ekonomi, ada keadaan lingkungan yang baik, ada yang mungkin kurang baik. Ada yang hidup di tempat damai, ada yang hidup di tempat yang penuh perpecahan dan perang. Ada yang hidup di tengah konflik, ada yang hidup di dalam zaman damai. Tuhan datang ke dalam dunia untuk menyatakan bagaimana berespon di dalam seluruh kehidupan seperti ini untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Kita tidak hidup untuk diri, kita hidup untuk Tuhan. Kita tidak hidup untuk menikmati apa yang jadi keinginan diri, tapi kita hidup untuk menikmati apa yang menjadi genap dalam rencana Tuhan. Sehingga Yesus mengajarkan hal ini dengan cara menjadi manusia. Dia menjadi manusia dan menunjukan bagaimana hidup di tengah kesulitan, bagaimana hidup bukan untuk diri. Alkitab mengatakan Dia tidak pernah pikir tempat untuk membaringkan kepala, Dia lebih berpikir apa yang harus dilakukan untuk menggenapi kehendak Tuhan. Dia tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi kalau Dia terus melayani seperti ini, mungkin nyawaNya dalam bahaya, tetapi yang Dia pikirkan adalah “tugas dari BapaKu harus dituntaskan”. Dia menjadi manusia yang melihat pada tujuan yang jelas yaitu bagaimana menggenapi kehendak Tuhan. Dan tujuan ini yang Dia kejar dan kerjakan sebagai manusia. Dengan demikian Dia mengajak seluruh manusia yang beriman kepada Dia, mari kejar hal yang sama, mari kejar memuliakan nama Tuhan, mari kejar menyatakan hidup yang suci di dalam keadaan apa pun. Tetapi manusia selalu bergumul untuk mengubah keadaannya sendiri. Saya tidak mengatakan Saudara harus pasif, terima apa pun, tapi kalau pun Saudara menghendaki perubahan, harap motivasi untuk adanya perubahan adalah motivasi yang baik. Tapi yang perlu dipertanyakan mengapa harus berubah? Apakah karena engkau mampu melayani lebih baik di dalam perubahan itu, apakah karena engkau mampu menjangkau orang lain lebih efektif, apakah karena engkau bisa menjadi berkat lebih lagi bagi orang lain? Jika iya, maka kejarlah perubahan itu. Tapi jika perubahan itu hanya melulu mengenai kenyamanan diri, maka ingatlah satu hal kemanusiaan bukan tentang kenyamanan. Kalau Yesus mau pilih nyaman, mungkin Dia memilih datang ke dalam dunia pada zaman Salomo. Dia langsung inkarnasi sebagai Anak Daud, lahir dari Batsyeba, sebelum Batsyeba menikah dengan Uria. Lahir dari anak dara yang menikah dengan Daud. Akhirnya Daud mempunyai anak yang lahir sebelum dia bersetubuh dengan Batsyeba dan dinamai Yesus. Setelah itu Yesus tumbuh dan mendirikan Bait Suci yang kekal selama-lamanya. Dan Dia tidak pernah mengalami kesulitan apa pun karena lahir di tengah kerajaan yang kokoh dan kuat, di tengah kekayaan dari Daud yang begitu banyak, di tengan relasi politik Daud yang begitu bagus. Dia mempunyai kekuatan politik, kekuatan keuangan, dan kalau Yesus lahir di zaman itu, bukankah Dia akan menjalani hidup yang diinginkan oleh semua orang? Bebas penderitaan, bebas ketakutan, bebas pergumulan uang, bebas pergumulan mau tinggal di mana. Banyak orang sekarang masih bergumul mau tinggal dimana, nanti kalau kontrakan habis mau tinggal di mana lagi, setelah ini mau tinggal di mana. Yesus kalau jadi anaknya Daud mungkin tidak ada pergumulan seperti itu, pergumulannya mungkin istana mana yang mau ditempati malam ini. Kalau kita tidak lagi bergumul tentang tempat tinggal, tidak lagi bergumul soal keuangan, tidak lagi bergumul soal kenyamana hidup, maka saya akan jadi manusia yang lebih baik. Tapi Yesus datang untuk memberantas semua pemikiran yang salah. Tidak ada gunanya hidup lebih nyaman kalau ternyata tidak memuliakan Tuhan, lupakanlah karena kenyamanan itu tetap akan merongrong Saudara, hidup di dalam kegelisahan. Percayalah, banyak orang kaya yang menderita, banyak orang kaya yang gelisah, banyak orang yang tidak bergumul keuangan tapi gelisah. Sedangkan orang-orang yang bergumul keuangan tetap bergumul dengan cara yang halus, cara sopan, suci, menjalankan hidup dengan pantas, tetap menjalankan tanggung jawab, tetap menjalankan semua yang ada dengan rajin, dia tidak mungkin tidak diberkati Tuhan meskipun dengan kekurangan. Maka Yesus menjadi contoh dalam hal ini, Dia datang dengan hidup memfokuskan kepada Tuhan, dan Dia tahu segala keadaan yang lain tidak akan mengurangi kemuliaan yang Tuhan janjikan. Saudara hidup di dalam dosa, baru ada problem. Saudara hidup di dalam kepicikan, amarah, dendam, penipuan, hawa nafsu, baru ada problem.

Mari kita dengan tepat melihat problem kemanusiaan. Problem kemanusiaan bukan problem of evil, problem kemanusiaan adalah kalau Saudara jadi evil. Problem kemanusiaan bukanlah kalau kurang uang, problem kemanusiaan adalah kalau Saudara menjadi serakah kepada uang. Problem kemanusiaan bukan karena Saudara dijahati orang, problem kemanusiaan adalah ketika Saudara jahat kepada orang lain. Problem paling besar dari kemanusiaan adalah ketika manusia tidak mau Tuhan, bahkan memanipulasi Dia untuk kemajuan diri. Yesus tidak punya problem itu, tapi Saudara lihat sepertinya Dia orang yang hidupNya problematik, ketika dikatakan Dia tidak punya tempat untuk meletakan kepala, Saudara mengatakan “kok mau jadi hamba Tuhan tidak punya tempat tinggal?”. Lalu Dia difitnah dan akhirnya mati di kayu salib, Saudara akan mengatakan “kok mau jadi hamba Tuhan seperti ini”. Orang mungkin menangisi Maria dan mengatakan “kasihan kamu, anakmu bodoh pilih karier”. Tapi Yesus Kristus melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Dan kemuliaan Tuhan tidak pernah pergi dari Dia. Kemuliaan menjadi manusia yang mau diberikan kemuliaan oleh Tuhan. Paulus mengatakan “puji Tuhan karena Kristus sudah menjadi milik kita”. Maka kita menghidupi hidup seperti Kristus dan kemanusiaan Saudara dipulihkan karena Yesus rela menjadi manusia, itu yang pertama. Dan yang kedua Dia menjalani kemanusiaan dengan cara merombak kembali cara pikir manusia menjadi manusia. Sekarang kita mengerti menjadi manusia adalah dengan menaati Tuhan, dengan memberikan fokus kepada kemuliaan Allah. Dan di sini kita menjadi limpah, menjadi manusia di dalam kemuliaan Tuhan. Tidak ada penderitaan, kesengsaraan dan apa pun yang menjauhkan kita dari kasih Allah, karena kemuliaan yang dikaruniakan kepada kita tidak mungkin lepas, karena Tuhan sudah menjanjikannya dan memberikan di dalam Kristus.

Inilah hal keenam mengenai mengapa Allah menjadi manusia. Allah menjadi manusia supaya kita mengerti berapa pentingnya menjadi manusia dan bagaimana menjalani hidup yang penting itu supaya kita boleh berbagian di dalam kemuliaan Tuhan. Kiranya Tuhan menyertai dan memampukan kita menjadi manusia sebagaimana rancangan Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)