Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Makna Kenaikan Kristus ke Sorga
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Makna Kenaikan Kristus ke Sorga

Pdt. Jimmy Pardede

(Matius 28: 16-20)

Ketika orang Yahudi melihat kenaikan Yesus, tidak ada hal lain selain kagum. Mereka kagum karena mereka yang mengenal Kristus mengetahui bahwa ini sudah diberitakan di Kitab Suci. Yesus pernah mengatakan Ahli Taurat yang mendengar berita Injil Kerajaan itu seperti orang yang keluarkan dari perbendaharaannya semua hartanya. Orang Yahudi yang sudah kenal Perjanjian Lama, kalau dia mau percaya Yesus, dia akan mendapatkan kekayaan yang limpah di dalam mengerti semua ujung Perjanjian Lama yang sulit disatukan. Jadi begitu banyak hal di Perjanjian Lama yang seperti cerita terpisah-terpisah dan berlainan satu dengan lain, kedatangan Kristus mengikat semuanya menjadi satu di dalam diri Dia. Satu hal yang orang Yahudi lihat setiap Imam Besar mengadakan pendamaian untuk dosa, yaitu mengambil darah dari korban yang disembelih untuk pengampunan dosa. Setelah itu dengan satu wadah dia akan masuk ke ruang suci dari mezbah. Dari ruang suci akan masuk ke ruang Maha suci melewati tirai yang tidak boleh dilewati orang lain. Setelah masuk ke ruang maha suci, dia akan percikan tujuh kali darah itu ke tutup pendamaian. Setelah itu maka upacara penghapusan dosa selesai. Kita sering melihat gambaran Bait Suci dan upacara itu terpisah dari Injil, orang Kristen bingung apa gunanya cerita Perjanjian Lama terutama terkait Bait Suci. Bedanya kita dengan orang Yahudi adalah kita selalu menganggap cerita Bait Suci tidak relevan lagi, itu problemnya. Sedangkan orang Yahudi melihat cerita Bait Suci sebagai inti agama mereka. Orang Yahudi mengatakan “kalau kamu tidak setuju Bait Suci, kamu bukan Yahudi”. Saya ingin katakan, kalau Saudara tidak setuju Bait Suci, Saudara bahkan bukan orang Kristen. Karena orang Kristen pun harus mengerti sentralnya Bait Suci. Inti Perjanjian Lama ada di seputar Kemah Suci di Keluaran, Imamat, Bilangan, atau Bait Suci di zaman Daud dan seterusnya. Jadi Kemah atau Bait Suci menjadi inti menafsirkan apapun di Perjanjian Lama. Daud pernah mengatakan “Korban yang Tuhan mau lihat adalah hati yang hancur”, setelah itu ditutup dengan perkataan “setelah itu aku akan membawa korbanku dan bersukaria waktu mempersembahkan korban di hadapan Tuhan”. Jadi korban Bait Suci menjadi inti penting. Dalam Kitab Keluaran atau Kitab Raja-raja, orang Yahudi melihat gambaran bumi ada di Bait Suci. Sebagai contoh, gambaran detail yang Tuhan perintahkan kepada Bezaliel di Keluaran, atau yang Salomo kerjakan waktu dia mendirikan Bait Suci. Salomo mempunyai garden theology, sangat banyak memakai contoh gambaran taman, pohon-pohonan, buah-buahan. Mengapa taman begitu penting? Karena taman me-refer pada Taman Eden, lambang baiknya ciptaan jika manusia taat kepada Tuhan. Jika manusia taat, maka bumi akan seindah Taman Eden. Bahkan Tuhan menjanjikan Taman Eden yang sempurna nanti ketika manusia berhasil menjalankan tugasnya.


Itu sebabnya keadaan damai dan limpah dari taman digambarkan di Bait Suci. itu merupakan gambaran kosmos dalam pengertian Yunani. Artinya, gambaran tentang seluruh dunia diwakili oleh Bait Suci,  simbol ciptaan Tuhan. Uniknya, Bait Suci bukan hanya simbol ciptaan di bumi, itu juga simbol sorga. Itu sebabnya ruang maha suci identik dengan sorga. Jadi seluruh bait melambangkan bumi dan ruang maha suci melambangkan sorga. Imam yang masuk ke ruang mahasuci merupakan gambar Allah yang sejati. Maka di Bait Suci ada pemulihan manusia lewat contoh imam, image of God. Kita adalah gambar Allah yang menyatakan kehadiran Allah di bumi. Maka kita membayangkan betapa mengharukannya bagi orang Israel yang setia, ketika melihat sang imam besar itu ke ruang maha suci. Ketika itu, dia mendapatkan kesempatan mewakili seluruh Israel menikmati Tuhan dan menyatakan pengampunan bagi seluruh Israel. Orang Israel bisa melihat upacara korban itu sebagai pengulangan yang membosankan. Tetapi mereka tidak mungkin bosan merenungkan Gunung Sinai. Di sana, Musa ke atas gunung yang penuh dengan kemuliaan Tuhan. Bisa bayangkan betapa menggentarkannya pemandangan ini, karena orang Israel takut, mereka menyuruh Musa pergi. Dia ditemani oleh Harun, beberapa tua-tua dan Yosua. Tuhan suruh yang lain berhenti di tengah gunung kecuali Musa. Hanya Musa boleh masuk, tembus tempat yang penuh dengan kemuliaan Tuhan. Tuhan berkali-kali memberikan pesan bahwa kemuliaan Gunung Sinai mau dibawa oleh Tuhan ke tengah perkemahan. Yang Israel lihat di Sinai, mau Tuhan jadikan pengalaman kekal di Kemah Suci. Maka kita lihat terangnya Tuhan tercermin dalam wajah Musa, sehingga waktu Musa turun mukanya bercahaya. Jadi ada gambaran itu, mereka sekarang bisa menikmati Tuhan di tengah perkemahannya karena Tuhan mau hadir hanya di Kemah Suci. Kitab Keluaran mengatakan di atas tutup pendamaian Tuhan hadir dan hanya Musa yang boleh berbicara dengan Tuhan di atas tabut perjanjian itu. Waktu Harun dan Miriam iri dengan Musa, “sungguhkah Tuhan hanya berfirman lewat Musa?”Akhirnya Tuhan membela Musa. Tabut Perjanjian dibuat demikian indah tapi bentuknya mirip tumpuan kaki raja. Gambaran dari tabut perjanjian mirip seperti tempat kaki raja. Ini menjadi lambang kehadiran Tuhan di atas Tabut Perjanjian. Maka ada 2 gambaran, gambaran pertama Bait Suci sebagai kosmos, seluruh bumi dan sorga dilambangkan oleh Bait Suci. Yang kedua, Bait Suci sebagai tempat di mana Imam Besar bertemu Tuhan.


Di Perjanjian Baru, ada gambaran yang indah. Bait Suci tidak lagi center agama, melainkan Kristus. Tapi perpindahan dari Bait Suci ke Yesus itu mirip dengan perpindahan Gunung Sinai ke Kemah Suci. Alkitab secara unik memberikan penjelasan tentang apa pun yang dia bagikan melalui cerita-cerita di dalamnya. Maka sekarang kita mengerti Perjanjian Baru menggambarkan Yesus sedang masuk ke ruang maha suci. Kitab Ibrani menjelaskan itu dengan detail, Yesus masuk ke ruang maha suci, seluruh bumi ini seperti Bait SuciNya, itu agung sekali. Kita seperti orang Israel yang melihat imam besar melakukan prosesi. Yesus sebagai Imam Besar menyembelih diri-Nya sendiri di atas kayu salib. Kita sedang melihat Yesus pergi ke salib seperti imam pergi ke mezbah. Mengapa kayu salib ada di luar Yerusalem? Karena mezbah ada di luar tempat suci, apalagi tempat maha suci. Mezbah untuk menyembelih binatang adalah simbol penggenapan salib. Yesus mati di kayu salib sama seperti korban mati di mezbah. Orang Yahudi yang mengerti ini langsung melihat genapnya gambaran Kemah Suci yang sangat penting. Setelah Kristus disalib, seperti imam besar, dia akan membawa darah ke ruang maha suci. Yesus membawa itu pada saat Dia akan naik ke sorga. Jadi pentingnya peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus sama pentingnya dengan peristiwa imam besar masuk ke ruang maha suci. Seluruh bumi adalah Bait Suci dan sorga adalah ruang maha sucinya. Maka, peristiwa naiknya Tuhan Yesus ke sorga sangat penting karena itu peristiwa masuknya Imam Besar sejati ke ruang maha suci membawa darah-Nya, yaitu diri-Nya sendiri. Dia membawa darah-Nya di dalam tubuhNya, Dia naik ke sorga sebagai manusia berdarah dan berdaging. Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai persembahan penuh kemenangan, bukan seperti binatang yang dipersembahkan oleh imam besar. Yesus menjadi korban hidup yang pertama. Paulus mengatakan, “kamu semua adalah korban hidup, mirip Yesus. Dia tidak membawa diriNya mati ke sorga, Dia membawa diriNya hidup. Di sana Dia bersyafaat bagi kita. Ini yang dilakukan imam setelah imam memercikan tujuh kali, dia keluar dan berdoa bagi bangsa itu kepada Bapa. Yesus juga senantiasa berdoa bagi kita di sorga, ini gambarannya. Kalau Yesus melakukan itu di sorga, kita melakukan apa di bumi? Dalam Matius 28, Yesus mengatakan “yang harus kamu lakukan adalah mengerti apa yang sudah terjadi dan kamu boleh nikmati, dan apa yang akan engkau nantikan” Sorga adalah ruang maha suci, tidak berguna bagi seluruh rakyat kecuali imam. Imam harus keluar dari ruang maha suci, lalu memberkati rakyat. Yesus menjanjikan hal yang sama “Aku akan pergi ke rumah Bapa, Aku akan datang kembali”. Dia akan keluar dari sorga dan menjemput kita. Di dalam Kitab Wahyu kita melihat gambaran sorga dan bumi menjadi sempurna dan Bait itu menjadi genap. Kita bisa melihat cerita Alkitab dari salah satu sudut pandang mengenai perjalanan Bait menuju Bait yang sejati, Bait yang berupa Taman Eden di Kejadian, berupa Kemah Suci di Kitab Keluaran, berupa Bait Suci di Kitab Raja-Raja, berupa Kristus dan gereja-Nya di Perjanjian Baru, akan menjadi genap di Kitab Wahyu. Maka tema utama dari Alkitab jangan pernah Saudara lupakan. Kalau kita melihat tema Bait Suci, tema Bait Suci juga yang sedang digambarkan dalam Kitab Injil. Tuhan Yesus pergi ke ruang maha suci yaitu sorga. Sebelum Dia pergi, Dia memberikan pesan kepada murid-murid, berbeda dari pesan untuk orang tidak percaya. Ini gambaran yang indah sekali dari ayat 11-15 dilawankan ayat 16-20. Di ayat 11-15 ada keadaan dari orang-orang yang tidak percaya Tuhan, penuh dengan kebohongan, suap dan segala hal yang berkait dengan diri dan uang. Tapi di dalam ayat 16-20, orang yang mengikut Kristus mendapatkan satu hal yaitu kuasa. Pengikut Kristus mendapatkan kuasa, pembenci Kristus mendapatkan kesulitan karena mereka hidup dalam dusta, kebohongan, penerimaan diri, dan keadaan ingin mencari uang. Dua hal ini menjadi dua benturan yang Kitab Matius ingin sampaikan kepada kita. Yesus memberkati seluruh murid dengan kalimat yang indah sekali “Aku pemilik kuasa di sorga dan di bumi”. Kuasa bukan untuk menghancurkan orang, tetapi membangun orang. Kuasa sejati bukan untuk menunjukan diri lebih hebat. Kuasa sejati untuk menunjukan kamu berelasi, kenal, ikut, dan taat dengan Aku, kamu menjadi lebih baik. Di mana orang berkuasa ada dan hadir di situ, sekitarnya mendapat berkat kelimpahan pengenalan akan Tuhan. Kristus punya kuasa di sorga dan di bumi, tidak ada lebih tinggi dari kuasa Dia. Kuasa-Nya tidak pernah dinyatakan untuk menghancurkan orang lain, tapi memulihkan sorga dan bumi. Dialah Pembaru yang sejati itu.