Masa lalu atau masa depan? | GRII Bandung
Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Masa lalu atau masa depan?
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Masa lalu atau masa depan?

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 20: 41-47, Mazmur 110: 1-7 )
Di dalam pasal 20:41, Yesus menanyakan pertanyaan yang membuat orang lain terdiam. Kalau bagian lain dari Matius setelah Yesus terus ditanya, Yesus balik bertanya, tidak ada orang yang bisa menjawab, lalu mereka berhenti memberikan pertanyaan. Ini pertanyaan yang sangat sah karena pertanyaan ini membuat orang berpikir tentang mana yang lebih besar, apakah yang menjadi pendahulu lebih besar dari pada yang kemudian, apakah yang menjadi kepala dari keturunan lebih besar dari keturunan yang dihasilkan, atau bagaimana? Yesus memberikan tantangan untuk orang kembali mempertimbangkan mana yang lebih penting, yang lebih dulu atau yang akan datang, yang menjadi masa lalu atau masa depan. Ini dua hal yang boleh kita gumulkan dalam pertanyaan Tuhan Yesus, siapakah Mesias itu, Anaka siapakah Dia? Orang-orang Yahudi akan mengatakan Dia Anak Daud, apa artinya anak? Dalam konsep Yahudi ada 3 pengertian tentang anak, yang pertama adalah kata yang dipakai adalah yelet, arti kata yelet adalah anak, tapi yang dimaksudkan adalah anak yang secara natural dilahirkan, secara biologis. Saya menikah dengan seorang perempuan, setelah itu perempuan itu melahirkan anak dari persetubuhan saya dengan dia, ini adalah anak yang wajar saya dapatkan, itu yang namanya yelet. Tapi ada istilah lain yaitu ben. Bukan hanya sekedar relasi fisik, ben berarti anak ini adalah seseorang yang akan melanjutkan kehidupan dari papa dan mamanya. Jadi ini masih berkait dengan pertanyaan sebelumnya di Injil Lukas, waktu ada orang menikah dengan seorang pria, lalu suaminya mati, kemudian perempuan ini menikah dengan saudara suaminya, sampai 7 orang, setelah itu perempuannya mati, istri siapa dia? Karena dia tidak punya anak. Ini jadi pertanyaan yang menyindir tentang kebangkitan, karena zaman dulu orang Saduki tidak percaya kebangkitan. Orang Saduki percaya bahwa orang bisa kekal karena diteruskan oleh keturunannya. Ini konsep yang ada dalam Perjanjian Lama meskipun tidak persis sama. Orang Perjanjian Lama berpikir bahwa “saya akan hidup terus, paling tidak nama saya, karena diteruskan oleh anak saya. Anak saya meneruskan nama saya, anak saya meneruskan usaha saya, anak saya meneruskan apa yang saya kerjakan”. Pada zaman dulu jarang sekali ada orang yang mengerjakan hal berbeda dari ayahnya. Maka apa yang anak lihat ayahnya lakukan, itu yang akan dia lakukan. Seorang yang punya ayah seorang tukang kayu, dia akan menjadi tukang kayu. Seorang yang punya ayah seorang nelayan, dia akan menjadi nelayan. Seorang yang punya ayah seorang tabib, dia akan menjadi tabib. Tidak ada anak pada zaman itu yang ditanya oleh orang tuanya “nak, kalau kamu besar mau jadi apa?”, karena secara otomatis dalam kebudayaan waktu itu seorang anak akan meneruskan pekerjaan ayahnya. Maka zaman sekarang kita sekarang individualistik, kita sangat susah melihat kaitan antara kita dan komunitas yang lebih besar atau antara kita dengan orang yang sebelum kita. Jadi orang yang ada sebelum kita akan mewariskan kepada kita apa yang menjadi hidupnya, namanya dan pekerjaannya. Itu sebabnya kata ben sangat berkait dengan mewarisi sesuatu, bukan cuma sekedar anak yang dilahirkan. Pengertian yang ada 2 inilah yang harus kita pahami, Yesus adalah Anak Allah bukan secara fisik karena Allah tidak berfisik seperti kita. Itu sebabnya pertanyaan yang mempertanyakan kalau Yesus itu Anak Allah, Allah menikah dengan siapa? Lalu siapa yang jadi bidannya? Itu pertanyaan yang menunjukan keengganan berpikir dari cara berpikir orang lain. Kalau mau mengkritik orang lain, Saudara harus ambil sudut pandang dia dulu baru kritik dia dari sudut pandang dia, itu akan menolong dia. Saudara mau kritik orang dari sudut pandang dia, maka ketika Saudara memberi tahu “saya sudah sorot dari sudut pandangamu pun tetap lihat kesalahan dari pemikiranmu”, itu akan menolong orang. Tapi kalau Saudara mengkritik orang dari sudut pandang Saudara, itu namanya kritik yang tidak nyambung. Makanya kritik Alkitab itu banyak tidak nyambung karena mereka mengkritik Alkitab berdasarkan worldview mereka sendiri. Mereka tidak punya worldview yang mengambil sudut pandang dari Alkitab dulu baru kemudian kritik.

Allah mempunyai Anak, tapi Anak ini bukan anak dalam pengertian yeled, tapi anak dalam pengertian ben. Dan anak dalam pengertian ben inilah yang membuat Yesus mewarisi segala hal yang ada dalam Bapa. Dia mewarisi nama Bapa, kerajaan Bapa, apa yang Bapa rancang dan Dia mewarisi janji yang ditetapkan oleh Bapa. Lalu apakah berarti Bapa akan kehilangan kerajaan karena diberikan kepada Anak? Ternyata tidak. Gregory dari Nyssa mengatakan bahwa Allah itu memberi tapi tidak kekurangan. Ini dikutip oleh Agustinus di dalam Confessiones, Confessiones adalah buku yang sangat indah. Kalau ada sebuah karya mempengaruhi kemanusiaan, karya itu mempengaruhi Saudara, Saudara akan mempunyai kemanusiaan yang makin limpah di dalam Tuhan. Ketika orang memahami tentang semua narasi Alkitab, dia akan sadar satu hal ternyata Yesus akan mewarisi apa yang Allah Bapa miliki, Kerajaan dan lain-lain. Dalam buku Agustinus, dia kutip dari Gregory dari Nyssa, dia mengatakan dalam Confessiones bahwa kalau Allah memberi, Dia tidak kehilangan. Itu sebabnya Allah mengatakan kepada umatNya, memberi lebih bahagia dari pada waktu menerima. Karena waktu Saudara memberi, Saudara tidak kehilangan sebab sorga mengetahui berkat yang diberikan dan apa yang Saudara berikan sebagai berkat itu tidak akan lepas dari genggaman Saudara di dalam kekekalan. Sementara lepas dari genggaman dalam kesementaraan, tapi tidak akan lepas dalam kekekalan. Karena Allah pun seperti itu, Bapa mewariskan Kerajaan kepada Anak, Bapa tidak kehilangan Kerajaan. Anak menerima Kerajaan dari Bapa, Anak tidak mendapat sesuatu yang akhirnya tidak lagi dimiliki oleh Bapa. Jadi Kerajaan itu dimiliki baik oleh Bapa maupun Anak, dan juga dimiliki oleh Sang Roh Kudus, Ketiganya yang Esa. Ini pengertian indah yang saya baca dalam Confessiones, Bapa ada Anak, dan Anak ini adalah pewaris. Bukan anak secara fisik, bukan anak secara daging, tapi pewaris dari sang bapa.

Dan kata anak, pengertian ketiga, kalau disebut Anak Allah, maka Sang Anak ini adalah Raja. Jadi Anak Allah berarti Anak dari Sang Bapa, Anak Allah juga berarti Sang Raja yang diangkat. Ini Raja besar yang Tuhan mau angkat, Anak Allah lebih besar dari raja-raja lain yang juga mengaku dirinya anak Allah. Raja-raja Romawi mengaku diri mereka adalah anak Allah. Tapi dalam Alkitab, Sang Anak Allah sejati hanya ada satu. Itu sebabnya dikatakan Anak Allah ini akan menghakimi para allah. Allah akan menghakimi para anak allah yang lain, semua raja akan dihakimi oleh Sang Anak Allah yang sejati. Karena Dia adalah Anak Allah satu-satunya. Semua yang lain yang mengaku dirinya anak allah, dia sedang mengambil posisi dari Sang Anak Allah sejati sebagai wakil. Kalau saya mengatakan saya adalah gembala, maka saya adalah wakilnya Gembala yang sejati yaitu Kristus. Gembala sejatinya Saudara adalah Kristus, dan saya mewakili Kristus untuk menjadi gembala di dunia ini. Demikian juga Anak Allah, kalau raja-raja di dunia menyebut dirinya anak allah, maka mereka adalah wakil dari Sang Anak Allah sejati yaitu Kristus. Kristus adalah Sang Anak Allah, Dia adalah Raja itu, Dia adalah yang akan mewarisi seluruh Kerajaan dari BapaNya. Sehingga posisi Dia begitu penting dan besar. Waktu Daud mendapatkan nubuat “akan ada keturunanmu yang memerintah, tahtanya adalah tahtaku dan Dia akan disebut Anak Allah. Aku akan bangkitkan keturunanmu yang kemudian, setelah Aku kumpulkan engkau bersama dengan nenek moyangmu”. Jadi Daud akan mati, setelah itu Tuhan akan bangkitkan AnakNya yang kemudian. Dalam Kitab Raja-raja sangat jelas ditulis bahwa Daud sendiri berkata “aku bersyukur kepadamu ya Tuhan, karena Engkau meneruskan tahtaku dan mengijinkan aku melihat penerusku”. Dia lihat penerus, berarti ada 2 hal yang dimaksud, yang pertama dia tahu janji Tuhan itu benar, karena dia boleh melihat anaknya yang meneruskan dia. Yang kedua, dia tahu bahwa anak yang Tuhan janjikan bukan yang ini, karena Daud masih hidup. Padahal Tuhan mengatakan “kalau engkau sudah mati, sudah dikumpulkan bersama nenek moyangmu, barulah aku bangkitkan keturunanmu yang kemudian”, ini yang ditunggu-tunggu oleh orang Israel. Karena Tuhan menjanjikan hal yang besar melalui Kitab Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel. Dikatakan bahwa Raja yang akan datang ini akan sangat besar, lebih besar dari pada Daud, lebih besar dari siapa pun. Dikatakan Raja ini akan menggembalakan raja-raja dan bangsa-bangsa dengan gada dari besi. Ini Raja yang akan menaklukan semua kerajaan. Maka orang Israel sangat berharap suatu saat nanti ada anak Daud yang bertahta melampaui siapa pun untuk membesarkan Kerajaan Israel. Tapi dalam masmur 110 dikatakan Daud sendiri berkata “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku, duduklah di sebelah kananKu sampai Aku menjadikan semua bangsa sebagai tumpuan kakiMu”. Jadi Raja ini duduk di sebelah kanan Allah dan Raja ini raja besar sehingga Daud berkata “Tuanku”.

Tanpa disadari sebenarnya 2 hal ini memberikan konflik. Ini yang Yesus bukakan di dalam pertanyaanNya. Yang pertama, Daud berkata “ada Tuanku duduk di sebelah kanan Allah”, lalu orang Israel percaya bahwa Sang Tuan ini, Raja, Mesias adalah Anak Daud. Siapa yang akan Tuhan bangkitkan? Anak Daud. Ini siapa? Anak Allah. Jadi Anak Daud akan bertahta menjadi raja. Mengapa ada Anak Daud disebut Tuan? Tapi kebingungannya bukan hanya itu, kebingungan ini lebih besar, ii kebingungan tentang tradisi, tentang nilai Kerajaan Israel dan juga tentang harga diri dari orang-orang yang ada pada waktu itu. Kita atau orang Israel punya nama, harga diri dan nilai dari masa lalu. Mereka adalah keturunan dari bapa-bapa yang menerima janji Tuhan, mereka orang-orang hebat, karena mereka keturunan dari Abraham, Ishak, Yakub, mereka keturunan dari Israel, keturunan dari bangsa besar yang Tuhan berkati dengan raja yang hebat. Jadi nama mereka dapat dari nenek moyang, dari tradisi, dari apa yang zaman dulu sudah kerjakan. Ini yang menjadi kebiasaan dari semua manusia di dunia. Semua manusia di dunia membanggakan apa yang jadi identitas mereka karena melihat apa yang terjadi dulu. Kalau Saudara adalah keturunan dari seorang yang penting, pasti ini jadi satu nilai tambah untuk Saudara. Kita membanggakan kita ini dari mana. Orang sering membanggakan apa yang jadi harga diri mereka karena mereka berasal dari mana. Lalu mereka menekankan mereka berasal dari mana untuk dibanggakan sekarang. Dulu dan sekarang, “sekarang saya orang penting karena dulu”. Maka ini yang jadi kebiasaan Israel dulu, “dulu pernah ada Daud. Dulu ada Abraham”. Orang Israel membanggakan, dulu kami punya raja hebat, dulu kami punya nabi-nabi, dulu dan dulu. Maka tempat makam nabi mereka hias baik-baik dengan mengatakan “dulu ada Yesaya, dulu ada Yeremia, andaikan dulu kami hidup di zaman mereka, kami tidak akan terlibat pembunuhan kepada mereka”. Yesus mengatakan “omong kosong, kamu tidak terlibat pembunuhan Yesaya, kamu terlibat pembunuhan Anak Allah. Kamu tidak terlibat pembunuhan Yeremia, kamu sudah rancang pembunuhan Sang Mesias. Kamu lebih parah dari pada nenek moyangmu”, kalimat ini membuat orang Yahudi marah sekali. Orang Israel membanggakan “kami keturunan Abraham, kami anak Abraham. Kami keturunan dari Musa, Musa dulu adalah pemimpin besar dan kami adalah keturunannya”. Membanggakan keturunan, itulah yang dihancurkan oleh Tuhan. Masa lalu menjadi masa ideal, yang jadi standar adalah zaman keemasan. Kapan zaman keemasan? Dulu. Orang selalu ingin zaman keemasan dan selalu ingin membandingkan keadaan sekarang dengan zaman keemasan dulu. Makanya ada istilah “enak zamanku toh”, itu selalu dipakai untuk menyindir zaman sekarang. Kita membanggakan periode emas, tapi Tuhan tidak mau orang Israel lakukan itu.

Ada beberapa bagian yang membuat orang Israel harus sadar bahwa masa lalu bukan emas. Yang menjadi keemasan atau yang menjadi periode standar, periode indah adalah akhir zaman. Bukan dulu tapi nanti. Orang Israel disuruh lihat nanti bukan yang dulu. Karena itu Yesus merombak pemikirkan ini melalui Mazmur 110. Tapi sebelum ke Mazmur 110, saya ingin membagikan 1 kitab lagi yang juga merombak pemikiran ini yaitu Kitab Pengkhotbah. Saudara kalau baca Pengkhotbah, Saudara akan melihat di situ ada banyak sindiran atau kata-kata yang menggambarkan 2 hal. Yang pertama menggambarkan Bait Allah, yang kedua menggambarkan Taman Eden. Dia mengatakan “aku adalah raja dan aku tinggal di taman”, siapa raja yang tinggal di taman? Adam. Jadi Pengkhotbah sedang menggambarkan indahnya Taman Eden. Selain menggambarkan indahnya Taman Eden, juga ada sindiran sedikit tentang bait, ada penjelasan atau gambaran tentang bait dan Taman Eden di Kitab Pengkhotbah. Di dalam Kitab Pengkhotbah, kata apa yang paling terkenal? Sia-sia. Mengapa gambaran Taman Eden dan Bait Allah sama dengan sia-sia? Kitab ini sangat kontroversial karena menganggap zaman keemasan sebagai sia-sia. “Aku mengumpulkan harta begitu banyak”, siapa yang pernah mengumpulkan harta begitu banyak? Salomo, caranya dengan pergi ke luar negeri, dia tidak mengumpulkan dari negerinya sendiri, dia punya harta terbaik dari seluruh dunia. Dia cari tahu binatang paling bagus dari mana, dia ambil. Dia cari tahu besi paling bagus dari mana, dia ambil. Kayu palin g bagus dari mana, ukiran paling bagus dari mana, jadi dari seluruh dunia berkumpul di istana Salomo, bukan hanya di istananya saja, tapi di seluruh Yerusalem. Dikatakan Salomo memperkaya Yerusalem sehingga perak itu tidak berharga. Ada gambaran dari kekayaan yang dikumpulkan Salomo, dan Salomo bukan orang yang biasa yang cuma kumpulkan menabung uang. Tapi dia punya stok dari budaya manusia di dalam genggaman tangannya, ini orang kaya yang sejati. Orang kaya yang bodoh hanya mengumpulkan uang. Israel pada zaman Salomo akan melihat orang kaya sebagai orang yang kaya budaya. Itu sebabnya Salomo pergi kemana-mana untuk kumpulkan barang paling bagus dari tempat lain, masuk ke dalam koleksinya dia. Salomo sudah melakukan itu semua, tiba-tiba dia mengatakan “sia-sia”. Mengapa sia-sia? Karena semua ini tidak berguna, apa gunanya dikumpulkan semuanya ini dan pada akhirnya dia akan mati. Maka orang langsung berpikir apa yang dia kumpulkan tidak melampaui maut, itu tidak berguna. Salomo dalam Kitab Pengkhotbah sedang mengatakan kepada pembacanya di sepanjang sejarah, “berhenti melihat aku sebagai periode emas”, stop lihat Salomo, nanti akan ada Salomo lebih bagus akan datang. Jangan lihat masa keemasan yang dulu, lihat ke depan, jangan lihat yang sekarang, lihat nanti. Itu yang Salomo sedang ajaran. Maka Salomo dan Kitab Pengkhotbah sangat penting, tapi sering disalah-mengerti. Banyak orang baca Pengkhotbah sebagai alasan untuk tidak membaca buku. Pengkhotbah mengatakan “lagipula membaca banyak buku melelahkan badan”, tapi di Kitab Pengkhotbah juga tidak pernah ditulis “menonton banyak film melelahkan badan”, maka nonton film boleh, baca buku tidak boleh. Salomo tidak mungkin menulis menonton film melelahkan badan, dulu tidak ada film. Kitab itu bukan untuk kita merasa malas atau merasa hidup itu sia-sia, “untuk apa belajar, banyak belajar melelahkan badan, sia-sia. Maka orang Reformed tidak mendewakan orang dulu, bahkan orang yang sekarang kita kagumi pun akan mati. Jadi siapa yang dikagumi? Tuhan mengatakan apa pun yang menjadi pengharapanmu itu adalah nanti di masa depan. Masa depan akan ada sesuatu, itu yang kamu harapkan, kamu nantikan itu. Dan waktu kamu menantikan yang nanti, kamu akan kerjakan itu sekarang. Itu yang Tuhan nyatakan. Kitab Pengkhotbah menekankan ini, kamu kerjakan apa yang baik, tanggung jawab, masa mudamu berikan kepada Tuhan, kerjakan yang Tuhan mau, ingat ada penghakiman nanti. Apa yang kamu kerjakan sekarang akan dihakimi nanti. Jadi jangan lihat dulu, tapi lihat nanti. Nanti itulah pengharapanmu. Dan ini menguatkan banyak orang yang membaca kitab itu dalam periode pembuangan. Waktu mereka dibuang dan kembali, mereka melihat Bait Allah yang dibangun pada zaman Ezra dan Nehemia begitu kecil, sehingga mereka menangis “Tuhan, Baik Allah dulu besar, sekarang kecil”.

Selain Salomo, ada 1 kitab lagi yang menekankan untuk tidak melihat masa lalu sebagai masa pegangan, yaitu Kitab Mazmur 110. Dalam Mazmur 110 Daud sendiri mengatakan “Tuhan berkata kepada Tuanku. Itu bukan anakku, aku tidak lebih besar dari Dia, Dia lebih besar dari aku dan Dia adalah Tuanku”. Daud melihat masa depan, dia tidak melihat masa lalu. Daud tidak mengatakan “alangkah indahnya kalau Yosua bangkit kembali, alangkah indahnya kalau Musa bersamaku”. Daud mengatakan “saya tidak melihat dulu, saya melihat nanti. Nanti akan ada Tuanku duduk di tahta, nanti akan ada tuanku berkuasa”, Tuan ini akan berkuasa menghancurkan bangsa-bangsa dan Tuhan berkata “Engkau adalah Imam”. Dan yang penting adalah kalimat berikutnya “menurut Melkisedek”. Melkisedek adalah nama yang dipakai untuk membuat orang tidak mengagungkan tradisi. Karena Melkisedek tidak diketahui tradisinya dari mana, dia adalah imam Allah yang maha besar. Tapi mengapa dia boleh jadi imam? Tidak ada yang tahu. Apakah Saudara tahu orang tuanya Melkisedek? Tidak. Dikatakan dalam Kitab Ibrani, Melkisedek itu imam meskipun dia tidak berbapa dan tidak beribu. Ada orang salah tafsir dengan menganggap Melkisedek itu tidak punya orang tua, dia itu turun dari langit. Mana ada orang turun dari langit, Yesus pun lahir dari seorang ibu. Lalu siapa orang ini, mengapa dia tidak berbapa dan tidak beribu? Ternyata orang salah baca, Ibrani sedang bicara tentang imamat, keimaman, maka yang dimaksud tidak berbapa dan tidak beribu adalah dia tidak punya bapa dan ibu yang imam, tapi yang pasti dia punya orang tua. Tidak ada bukti bahwa ada imam yang diteruskan oleh Melkisedek, Melkisedek tidak punya tradisi imamat, tidak ada kepala imam yang diturunkan sampai dia, dia tidak punya nenek moyang yang imam. Setelah itu pun tidak ada orang yang melanjutkan imamatnya Melkisedek. Melkisedek adalah imam yang aneh karena tidak bertradisi dan tidak punya pendahulu. Ini imam yang menjadi cermin dari Kristus yang adalah Imam, yang juga tidak bergantung pada periode sebelumnya. Yesus jadi Imam dengan tidak mengatakan “Aku ini Imam karena dulu Lewi jadi imam”. Bahkan dengan tidak mengatakan “Aku ini imam, karena Melkisedek imam”, karena antara Yesus dan Melkisedek tidak ada kaitan keturunan, Kristus bukan keturunan Melkisedek. Sehingga imamat Dia dengan Melkisedek tidak menyambung di dalam tradisi. Tapi Yesus menjadi penggenap dari tradisi Melkisedek karena Yesus menjadi Imam tanpa tradisi sebelum dan menjadi kekal karena tidak perlu tradisi sesudah. Lalu Daud mengatakan “ya Tuan” berarti kedudukan Yesus sebagai Raja lebih besar dari Daud dan bukan karena Daud. Bukan karena Daud seorang raja maka Yesus mewarisi kerajaan. Maka Yesus sedang mengatakan “mana yang harus kamu berikan jawaban kepadaKu, Mesias itu Anak Daud atau Tuannya Daud?”, mereka bilang “dua-duanya, Anak Daud dan Tuannya”, “mana mungkin dua-duanya?”, mereka tidak bisa menjawab karena mereka akan sangat tersindir oleh tradisinya sendiri. Mereka mengagungkan mereka dari mana, sedangkan Sang Mesias itu tidak perlu keagunganNya karena dari mana Dia berasal. Ini yang penting untuk menjadi pengajaran yang penting bagi kita di zaman ini. Kita tidak mengambil kemuliaan untuk diri dari apa yang ada dulu atau pun bahkan apa yang ada sekarang melanjutkan tradisi yang dulu. “Saya orang penting karena orang tua saya keturunan orang penting”, kita akan bilang “saya tidak peduli orang tuamu sepenting apa”, karena periode kemuliaan itu bukan berada pada zaman dulu. Dan Tuhan seringkali menyatakan bahwa Dia tidak peduli garis keturunan dengan menunjukan Tuhan sanggup membalikan keturunan yang negatif menjadi positif. Tuhan membuat keturunan Lewi sangat jelek. Di saat Yakub akan mati, Yakub berkati semua anaknya, kecuali 3 yaitu Ruben, “Ruben, kamu yang paling sulung, permulaan dari kegagahanku, namun engkau telah menaiki petiduranku”, Ruben tidur dengan gundik papanya. Maka kalimat terakhir Yakub untuk Ruben adalah “dia sudah menaiki petiduranku”, kemudian dia disuruh pergi begitu saja. Lalu Simeon dan Lewi, anak kedua dan ketiga, “Simeon dan Lewi, kekerasanmu melampaui semuanya, jangan biarkan aku berbagian dalam kekerasanmu. Terkutuklah kekerasanmu”. Jadi 3 orang itu tidak mendapat berkat apa-apa. Tapi di dalam Kitab Keluaran, tiga ini dicatat silsilahnya. Tuhan mengatakan “Aku masukan kamu kembali. Kamu berasal dari masa lalu yang jelek, Aku bikin yang baru lagi untukmu”. Lewi sekarang bukan keturunan orang keras yang amarahnya terkutuk, sekarang Lewi adalah kelompok yang amarahnya dipakai Tuhan untuk mereka membela Tuhan. Dengan marah mereka menikam saudara mereka yang menyembah berhala, dan Tuhan mengatakan “Aku sekarang jadikan kamu imam”. Jadi Tuhan bisa mengubah. Tuhan mengubah Nazaret menjadi tempat yang begitu bagus. Pengikut Yesus disebut sebagai pengikut Yesus dari Nazaret. Bahkan Tuhan membuat salib menjadi lambang kemuliaan. Ini adalah lambang yang dijadikan mulia karena Yesus mati di situ. Dan Tuhan juga, Tuhan yang sama, yang mengubah maut menjadi hidup. Maka kalau kita membaca Alkitab, kita benar-benar tidak punya alasan untuk tidak berharap. Karena apa pun yang membuat kita mulia bukan masa lalu, dan sama, apa pun yang membuat kita hina bukanlah masa lalu. Saudara punya masa lalu yang indah, percuma, itu tidak akan membuat engkau indah sekarang. Saudara punya masa lalu yang jelek juga tidak masalah, karena itu tidak membuat engkau jelek sekarang. Yang membuat kita jelek atau bagus sekarang adalah cara kita berharap untuk masa depan. Dimana kita harus berharap? Di dalam Kristus. Itu sebabnya Daud menjadi contoh, “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku”, bukan kepada anakku, “Dia juga adalah anakku dan Dia adalah pengharapanku, masa depanku, Tuanku”. Daud tahu bahwa Anaknya yang akan menjadi raja ini tidak ambil kemuliaan dari dia, dialah yang ambil kemuliaan dari Anak ini. “Aku istimewa di hadapan Allahku, karena janji yang Allahku berikan kepadaku”. Daud itu tidak pernah ge-er, Tuhan mengatakan “Daud, Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian. Dia akan Aku jadikan raja, akan Kuberikan tahtaKu dan tahtamu. Dan Dia akan Kusebut Anakku”, Daud mengatakan “terima kasih Tuhan”, lalu dia turun dan bicara dengan teman-temannya “engkau tahu tidak siapa saya?”, “iya tuan, engkau Raja Daud”, “menurutmu saya semulia apa?”, “engkau sangat mulia, engkau raja yang paling hebat”, “lebih dari itu, barusan Tuhan berbicara kepadaku. Tuhan bilang Dia akan mempertahankan keturunanku kekal selamanya. Lihat betapa hebatnya aku di hadapan Tuhan”, Daud tidak pernah seperti itu. Daud langsung mengatakan “Tuhan, tepatilah karena kemuliaanku bergantung pada itu. Saya tidak mulia, tapi karena Engkau memberikan Anak yang mulia itu, saya jadi mulia”. Pak Stephen Tong pernah mengatakan Daud punya konsep Kristologi yang bagus sekali, karena dia tahu kemuliaan dia ada di dalam konsep itu yang belum ada sekarang. Daud tidak lihat kemuliaannya sekarang, tapi dia melihat kemuliaan Anaknya nanti. Itu sebabnya ketika anaknya memberontak, dia dengan tenang meninggalkan kerajaannya. Dia tidak menggantungkan kemuliaannya kepada kerajaannya. Berbeda dengan raja yang lainnya, raja lainnya kalau perlu akan membunuh satu kota jika merasa terancam. Ini dilakukan oleh Herodes, ada orang Majus mengatakan “tuan, ada Raja baru lahir”, orang Majus ini polos sekali, bahkan kalau tidak dinasihati malaikat untuk tidak kembali ke Herodes, mungkin mereka akan kembali ke Herodes, ini spekulasi saya. Herodes marah luar biasa, dari pada mengambil resiko kerajaannya hancur, dia langsung bunuh seluruh anak di Betlehem. Adakah orang yang punya hati sekejam ini, bunuh bayi-bayi kecil karena takut tahtanya direbut? Ada dan itu bisa berulang terus. Saudara bisa tahu berapa gilanya kekuasaan itu dan berapa gilanya orang dibuat oleh karena kekuasaan. Seumpama Saudara sangat mencintai kedudukan di kantor, bisnis Saudara atau apa pun, tiba-tiba ada satu saat Tuhan mengatakan “kamu harus tinggalkan itu, ada orang mau rebut itu dari kamu”, apakah Saudara jadi gila, tertekan atau Saudara mengatakan “kemuliaanku, pengharapanku bukan ini, tapi masa depan di mana Kristus akan kembali, itu kemuliaanku. Maka kalau sekarang disuruh tinggalkan, saya akan tinggalkan”. Daud bisa melakukan itu, apakah kita bisa? Daud bisa melakukan karena sudah melihat “Tuhan berkata kepada Tuanku, duduklah di sebelah kananKu sampai kujadikan semua musuhMu tumpuan kakiMu”, itu pengharapan Daud bagi Israel dan seluruh kerajaan di bumi. Maka Daud punya kekuatan besar. Sekarang Yesus sindir orang-orang di zaman Dia, “kamu berharap pada masa lalumu atau masa kinimu? Apa yang kamu harap, apakah kamu berharap kemegahan masa lalu atau berharap kemegahanmu pada akhir zaman dimana Kristus akan menyatakan kegenapan dari segala sesuatu?”.

Di mana harta kita? Kristus atau bukan? Ada lagu yang mengatakan kalau Kristus milikku, aku akan hina dunia. Bukan hina berarti mau menghina, tapi berarti kita harus rela melepas. Ini pengertian yang penting, orang Kristen disuruh hina dunia, bukan suruh lepas sembarangan. Tapi orang Kristen disuruh unutk mengatakan kalau kamu cinta ini, kamu boleh pegang, tapi begitu Tuhan perintahkan untuk lepaskan, kamu harus lepas, itu maksudnya menghina dunia. Dunia adalah bagian yang indah dari ciptaan Tuhan, namun kita rela lepas kalau perlu, itu namanya menghina dunia. Maka dikatakan kalau Yesus jadi milik saya, saya tidak perlu yang lain. Aku milik Yesus bukan harta, aku milik Yesus bukan yang lain. Ini yang Yesus sedang katakan. Apakah kemegahanmu ada pada masa lalu, apakah kemegahanmu ada pada sekarang, apakah kemegahanmu karena apa yang kamu warisi dari masa lalu, ataukah kemegahanmu ada dalam Kristus? Kalau kemegahan kita ada di dalam Kristus, kemuliaan masa lalu tidak ada gunanya, dan kehinaan masa lalu pun tidak menghancurkan. Tapi respon kita kepada masa depan ketika Kristus datang kembali, itu yang penting. Maka mari kerjakan segala yang perlu, sehingga ketika Kristus kembali, apa yang kita kerjakan dikonfirmasi oleh Dia kelak. Biarlah kita kerjakan apa yang dikonfirmasi oleh Tuhan di dalam seluruh aspek hidup, sehingga kita boleh berharap kepada Kristus.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)