Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Kesabaran Allah
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kesabaran Allah

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 20: 9-19)
Ini adalah bagian yang sangat menakutkan, terutama bagi orang Israel karena di dalam Kitab Yesaya, Israel dianggap sebagai kebun anggur. “Kebun anggurku tidak menghasilkan apa-apa”. Di dalam Yeheskiel perumpamaan ini juga diulangi, Tuhan melihat Israel sebagai kebun anggurNya yang tidak memberikan hasil pada waktunya. Anggur merupakan minuman yang sangat mempunyai simbol di dalam Perjanjian Lama. Anggur adalah simbol sukacita akhir zaman, simbol kesenangan karena Tuhan memulihkan langit dan bumi. Itu sebabnya setelah Nuh selamat dari air bah, dia keluar dari bahtera, Tuhan suruh dia untuk menjadi petani anggur. Mungkin kita berpikir mengapa Nuh harus bertani anggur, karena anggur melambangkan janji pemulihan yang Tuhan berikan, janji kesenangan dan sukacita yang Tuhan berikan tidak dimatikan melalui air bah. Air bah tidak membatalkan janji Tuhan kepada manusia. Sehingga meskipun ada hukuman yang sangat global, menghancurkan seluruh manusia kecuali Nuh dan keluarganya, Tuhan tetap setia kepada janjiNya memberikan kesenangan, sukacita dan damai atau shalom di tengah-tengah manusia. Tuhan berencana memberikan shalom. Ada seorang filsuf dan teolog dari Amerika bernama Nicholas Wolterstroff, dia adalah orang yang sangat pintar, pemikirannya diakui di bidang filsafat, dia sangat diakui di bidang etika, teologi, dia juga sangat bersuara di tengah-tengah orang yang ahli seni dan musik. Dia adalah seorang yang sangat fasih memahami musik dan lukisan. Saudara kalau bicara dengan orang seperti ini seolah dia tahu semua dalam level doktor untuk yang Saudara bicarakan. Saudara Wolterstroff mengatakan bahwa Tuhan menetapkan shalom menjadi keadaan yang akan dinikmati oleh manusia. Tuhan tidak mau manusia terus hidup di dalam keadaan kacau-balau, tidak adil, penuh kejahatan, penuh dosa, penuh kecemaran, baik dosa dan kecemaran di luar manusia dan di dalam manusia, baik di luar diri kita dan di dalam diri kita. Tuhan tidak mau kita dikacaukan oleh dosa di dalam kita dan Tuhan tidak mau kita hidup di tengah-tengah dunia berdosa. Maka Tuhan menyiapkan penebusan, Tuhan mau bereskan semua yang rusak, dan Tuhan mau berikan damai sejahtera, shalom. Dan apakah tugas orang Kristen? Tugas orang Kristen adalah menyatakan cicipan shalom itu melalui keberadaannya. Ini tugas yang sangat berat, ini tugas yang sulit dilakukan di tengah dunia yang berdosa, di tengah dunia yang tidak mengerti apa itu keadilan, di tengah dunia yang hanya tahu diri, hanya tahu kemakmuran untuk diri, hanya tahu merugikan orang lain, kita tetap harus mengusahakan shalom itu. Tuhan merencanakan shalom, damai sejahtera. Tapi damai ini diberikan hanya bagi umat bukan bagi semua. Hanya bagi orang yang di dalam Kristus dan bukan untuk semua yang lain. Itu sebabnya Tuhan menyiapkan umat untuk nanti mendapatkan kenikmatan, menerima shalom, menerima damai sejahtera dari Tuhan. Dan salah satu yang dipakai sebagai lambang dari damai sejahtera adalah anggur.

Anggur adalah lambang pesta, lambang kesenangan. Dan sering kali Perjanjian Lama memakai gambaran pernikahan untuk menggambarkan sukacita ketika Tuhan pulihkan semua. Dan bagi orang Yahudi, pernikahan adalah sedikit simbol. Bersifat simbolik untuk pemulihan yang Tuhan janjikan bagi Israel. Jadi setiap kali mereka pergi ke pesta pernikahan, ada nilai sakral di dalamnya. Pesta pernikahan Yahudi sangat unik, mereka akan mengikat janji, disahkan, lalu mereka akan deal tentang perjanjian apa yang harus dilakukan oleh keluarga laki-laki dan oleh keluarga perempuan. Setelah itu mereka akan pesta, kemudian mereka lanjutkan dengan perjanjian kepada keluarga, setelah itu pulang. Ini menunjukan bahwa ada keseriusan dari orang Israel untuk mempersiapkan pernikahan, bukan hanya untuk dua orang yang mau dinikahkan, tapi untuk menggambarkan sukacita yang akan datang. Maka pergi ke pesta nikah itu penting, bukan penting karena dapat makan gratis, karena senang-senang, tapi penting karena boleh mengingat kembali janji Tuhan yang akan pulihkan langit dan bumi dan pulihkan umatNya bersama dengan Dia. Waktu orang-orang masuk dalam pesta pernikahan, mereka disegarkan kembali dengan janji ini. Maka ini menjadi satu hal yang bagus dari tradisi Yahudi, harus diambil juga oleh orang Kristen. Orang Kristen kalau menikah coba pikir apa yang akan didapat oleh orang yang diundang. Tapi Saudara harus punya aspek rohani yang besar dalam pernikahan. Saudara ingin dipaparkan pada kesetiaan dan janji Tuhan, sehingga waktu mereka datang ke pernikahan, mereka menikmati disegarkan kembali oleh janji Tuhan yang akan menikahkan gerejaNya dengan Kristus. Kesatuan antara Kristus dan gerejaNya mesti dinyatakan dalam pernikahan.

Lalu ada satu juga yang penting, bahwa kembalinya Tuhan ke bumi untuk memulihkan Israel itu akan menjadi seperti upacara kemenangan perang. Tuhan akan membuat bukan hanya pesta nikah, tapi juga upacara kemenangan perang. Tuhan menang perang, musuh ditaklukan dan ini salah satunya digambarkan dalam Mazmur 118, ayat-ayat ini sangat penting karena ini menunjukan kemenangan Israel atas musuh-musuhnya. Orang menghimpit Israel, tapi Tuhan membela. Orang menghancurkan Israel, tapi Tuhan meninggikan kembali. Tuhan datang dan memberikan kemenangan, kejayaan. Lalu bagaimana dengan satu bagian yang sangat unik? Karena ada satu bagian yang mengatakan “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”, ini seperti kalimat yang aneh sendiri. Dalam Mazmur 118 ada pernyataan Tuhan menang, Tuhan pembelaku, aku tidak akan kalah, aku tidak akan hancur, tapi kalimat batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan ini menjadi gangguan dalam hermeneutik, dalam menafsirkan bagian-bagian ini. Ini menjadi isu bagi para Ahli Taurat, mereka membaca Mazmur 118 dan mereka bingung mengapa ada ayat ini, mengapa ada batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan? Siapa batu ini? Apakah batu ini sedang berbicara tentang seseorang atau bagaimana? Ini menjadi bagian yang ditafsir banyak sekali oleh orang Yahudi. Dan inilah yang Yesus pakai untuk mereinterpretasi kemenangan Israel. Israel menang, bagaimana cara mereka menang? Dengan cara Tuhan menghakimi musuh-musuhnya. Maka waktu Yesus masuk Yerusalem, banyak orang berpikir sekarang Tuhan akan menghakimi musuh-musuhNya, sekarang Tuhan akan menghancurkan musuh-musuhNya. Tapi yang tidak mereka sadari bahwa isu yang lebih penting pada saat ini bukan menghancurkan musuh-musuhNya, melainkan orang yang kekasihnya Tuhan sekarang berbalik jadi musuhNya Tuhan. Tuhan datang untuk menghancurkan musuhNya, tapi siapa musuhNya? Israel sendiri sudah menolak Dia, dengan menolak Sang Anak. Yesus mau memberikan pesan yang penting sekali untuk orang Israel pada waktu itu bahwa merekalah masalahNya Tuhan. Tuhan tidak punya problem dengan bangsa-bangsa lain lebih besar dari pada Tuhan punya problem dengan Israel. Maka Tuhan membicarakan tenang penggarap-penggarapan kebun anggur. Anggur yang dijadikan lambang perjanjian, lambang sukacita, lambang pemulihan dari Tuhan, sekarang dijadikan contoh yang negatif sekali. Yesus ambil dari Yesaya dan Yehezkiel, ketika Tuhan berkata Israel kebun anggurKu yang tidak menghasilkan buah. Tuhan jadi seperti pemilik anggur, Israel jadi seperi kebun anggur di satu sisi atau sebagai orang-orang yang merawat kebun anggur, di perumpamaan yang lain. Jadi Tuhan Sang Pemilik tanya “bagaimana hasil anggurnya?”, lalu orang Israel bilang “kami tidak kenal Engkau dan kami tidak mau serahkan hasilnya kepadaMu”, maka Tuhan buang, itu di Yesaya. Di dalam Yehezkiel, Israel adalah kebun anggur, tapi Tuhan tunggu-tunggu hasilnya, tetap tidak ada, maka Tuhan buang mereka. Jadi baik Yesaya maupun Yehezkiel menceritakan tentang Tuhan yang membuang kebun anggur.

Yesus dalam bagian ini memberikan sesuatu yang baru. Yesus memberikan alasan mengapa Tuhan buang Israel. Karena kalau kita baca Yesaya atau Yehezkiel, seolah-olah Tuhan buang Israel karena tidak ada hasil saja. Tuhan datang lalu lihat “mana hasilnya?”, “tidak ada”, “hancurkan”, Tuhan jahat sekali hanya karena tidak ada hasil maka dihancurkan. Bukan hanya karena tidak ada hasil, sebab seluruh Yehezkiel dan bagian dari Yesaya sedang menceritakan jahatnya Israel. Kebun anggur yang tidak ada hasil ini bukan hanya kebun anggur yang mandul, tapi ini adalah kebun anggur yang sangat jahat. Maka Tuhan Yesus memberikan interpretasi yang penting sekali yaitu ada seorang menyewakan kebun anggurnya kepada penggarap-penggarap. Seluruh penggarap kerja di situ dan mereka mengklaim kebun ini menjadi milik mereka. Mereka tidak mau serahkan hasilnya kepada pemilik, mereka secara sepihak mengklaim hak dan otoritas atas sesuatu yang mereka tidak punya hak atasnya. Ini tidak hanya terjadi pada zaman Yesus, zaman sekarang pun terjadi seperti itu. Orang mengklaim dirinya punya otoritas, orang mengklaim dirinya di atas hukum. Kita tinggal di negara yang hukumnya tidak jelas menyatakan kebenaran, apa yang benar bisa dibalik dijadikan salah, apa yang salah bisa dibalik jadi benar. Orang Kristen yang punya anak, tidak arahkan anaknya untuk berjuang di tengah masyarakat, selalu arahkan anaknya untuk sukses, kaya, banyak uang. Orang tua kalau tidak arahkan anaknya untuk cinta Tuhan, cinta lingkungan, masyarakat dan negara, orang tua itu akan dihakimi oleh Tuhan. Kalau cuma sharing “nak, jadi orang kaya, punya banyak uang, pintar bisnis”, Tuhan akan hancurkan usaha orang itu, Tuhan akan membuat uangnya jadi karat dan tidak ada gunanya. Taati Tuhan dan perjuangkan kebenaran Tuhan di tengah negara ini, share ini ke anakmu. Dan jika Saudara anak muda, miliki visi untuk ini. Saudara harus tahu apa yang harus dilakukan, tapi lebih dari itu Saudara mesti tahu mengapa harus lakukan itu. Banyak anak muda tanya “pak, saya harus kerja apa ya? Panggilan saya apa?”, saya selalu mengatakan “jangan tanya panggilan spesifik, tanya dulu kamu sudah siap berkorban belum?”. Di retret pemuda pakai tema living sacrifice, karena orang selalu ingin tahu ke kiri atau ke kanan. Saya selalu bilang, tidak masalah kamu ke kiri atau ke kanan, asal kamu rela berkorban atau tidak. Jika kamu rela berkorban, jalanilah ke kiri atau ke kanan dengan semangat berkorban. Kalau di kiri atau di kanan kamu tidak rela berkorban, kamu pindah jurusan, pindah pekerjaan, atau pindah panggilan pun tetap tidak berguna. Saya sering amati orang yang bertanggung jawab dalam segala hal, itu yang akan dipakai Tuhan. Lebih baik salah memilih keputusan untuk kerja, dari pada punya jiwa yang salah untuk kerja. Anak muda sering bertanya “kalau saya salah studi bagaimana? Salah kerja bagaimana? Salah kantor bagaimana?”, itu tidak sefatal kalau kamu salah sikap. Karena meskipun kamu ada di tempat yang benar, sikapmu salah, kamu akan permalukan Tuhan. Kita mau berjuang supaya ada keadilan dan kebenaran.

Waktu Tuhan membuat kebun anggur, lalu minta orang-orang untuk merawat kebun anggur ini, mereka langsung mengklaim kebun anggur ini “kami yang punya, kamu mau apa? pokoknya ini hak kami, kami mau melakukan apa yang kami mau”, “itu dari mana klaimnya?”, “dari kami dan kami banyak, kami punya massa, kami kuat”. Banyak problem di dunia seperti itu. “Mengapa kamu bisa membelokan hukum?”, “karena kami punya power, kamu mau apa?”. Maka utusan pertama dipukul, dia pulang dengan wajah yangs udah dipukul “tuan, mereka memukul saya”, tuannya tidak marah. Saudara kalau lihat cerita ini total, tuannya punya kekuatan yang besar sekali untuk menghancurkan penggarap-penggarap itu, tapi tuannya tetap sabar. Lalu dia kirim orang yang kedua. Orang kedua punya jiwa diplomasi lebih bagus dan orang kedua juga dipukul. Tuannya dengan sabar mengatakan “saya suruh orang ketiga”, orang ketiga adalah orang yang lebih tegas. Orang ketiga datang langsung dipukul, disiksa, dilempar ke luar, penuh luka lebih parah lagi. Lalu tuannya mengatakan “sekarang saya akan kirim anakku”, “tuan, saya sudah dilukai begini, mengapa masih mau kirim anak tuan?”, “mungkin mereka tersinggung karena saya cuma mengirim kamu, bukan anakku. Jadi saya akan kirim anakku”. Lukas itu sering sekali memberikan perumpamaan tentang Tuhan yang begitu lembut. Tuhan tidak hanya lembut, ada sisi tegasnya juga. Tapi Lukas sering menonjolkan sisi Tuhan yang begitu lembut. Lukas sedang menggambarkan bahwa ada ayah yang begitu sabar, ini mencerminkan kesabaran Tuhan. Tuannya begitu sabar kepada para penggarap kebun anggur ini, maka dia utus anakaya. “Anakku pasti mereka segani, ini anakku yang kekasih, aku sangat sayang anak ini. Sekarang saya minta anakku yang menangani, bicara dengan mereka”, “bagaimana kalau terjadi huru-hara?”, “tidak, saya yakin kamu akan disegani”. Ini namanya perumpamaan, tidak menjelaskan semua tentang Allah dari perumpamaan ini. Mereka menganggap Tuan itu berada jauh, tidak bisa menghakimi, dia toleransi kepada kita, dia tidak peduli akan apa pun yang kita lakukan, dia tutup mata karena dia bodoh. Tuan pemilik tanah ini bodoh karena dia tidak menghakimi”. Kesabaran Tuhan sering dianggap kebodohan oleh orang-orang yang melawan Tuhan. Tuhan tidak bodoh, Dia sabar. Kesabaran Tuhan kalau dianggap kebodohan itu jahatnya bukan main. Tapi waktu kabar anaknya mati ke tuan itu, tuan itu langsung tunjukan kekuatannya yang asli, dia kirim tentaranya, matikan semua penjaga kebun anggur itu. Berarti yang Yesaya dan Yehezkiel katakan itu adalah kesimpulannya, sedangkan Yesus menggambarkan pergumulan Allah untuk menghukum Israel. Tuhan masih tahan kesabaranNya, Tuhan masih tahan penghakimanNya, Tuhan masih tahan penghukumanNya, karena menanti orang-orang ini bertobat. Tuhan begitu sabar terhadap Israel, menunggu mereka bertobat “kapan kamu bertobat, kapan kamu kembali?”.

Perumpamaan ini menggambarkan isi hati Tuhan. Tuhan bisa menghantam Israel dengan langsung ketika kejahatan mereka semakin besar. Israel begitu kejam, mereka memanipulasi segalanya, pemimpin agama korup, pemimpin politik cari kedudukan, menindas rakyat demi membela diri di hadapan pemimpin Roma. Orang yang memimpin Israel, semua menjilat Kekaisaran Roma. Mereka ingin kuasa dan mereka menjilat senat Roma, mereka memberi persembahan yang banyak untuk Roma supaya mereka boleh duduk menjadi pemimpin di Israel. Tuhan masih sabar, “Aku kirim nabi dulu, supaya kalau nabi itu datang mengkoreksi semuanya”, maka Tuhan kirim nabi berseru “bertobatlah kamu”, nabi ini tidak hanya tidak didengar, tapi juga dipukul. Apakah Tuhan marah kepada Israel? Tidak, Tuhan kirim nabi yang lain. Tuhan kirim orang-orang yang sangat berjuang untuk membereskan Israel, tapi dia tidak dihargai. Tuhan dihina oleh umatNya sendiri, Tuhan dihina oleh Israel yang setiap hari terima berkat Tuhan. Kita tidak bisa mengerti ini semua kecuali kita dipaparkan banyak contoh oleh Tuhan. Tuhan beri contoh dalam hal ini, juga beri contoh dalam relasi pernikahan. “Bagaimana perasaanmu kalau kamu sangat cinta pasanganmu, kamu memberi apa pun untuk dia dan tidur dengan orang lain?”, ini yang sedikit mencerminkan perasaan Tuhan kepada Israel. Tuhan begitu sabar menanti Israel kembali, karena Tuhan begitu mencintai umatNya ini. Lalu Dia kirim nabi yang lain, nabi itu dihina lagi. Dia kirim nabi lain, nabi itu dibunuh. Terakhir adalah seorang nabi bernama Zakharia, yang dilempar batu di mezbah Tuhan. Dia sedang melayani di Bait Suci, lalu semua orang lempar batu atas perintah raja, sampai orang ini mati di tempat suciNya Tuhan. Dan Tuhan mengatakan “Aku akan mengirimkan Babel untuk menghancurkan Israel”. Tuhan murka dan Israel pun habis.

Perumpamaan ini menjelaskan hal yang sama, Tuhan begitu sabar, sekarang Dia kirim Anak TunggalNya. Apa yang dilakukan Israel? Anak Tunggal ini dipaku di atas kayu salib. Kecelakaan yang paling menakutkan adalah ketika Sang Anak Tunggal Allah dipaku di atas kayu salib. Maka Yesus mengatakan setelah itu terjadi semua pekerja kebun anggur itu dibunuh oleh tuannya. Orang Israel yang mendengar itu tahu maksud Yesus, langsung mengatakan “itu tidak mungkin terjadi, sekali-kali jangan”, tidak mungkin itu terjadi. Lalu Yesus tanya di Mazmur 118 apa artinya batu di buang oleh tukang bangunan? Mazmur 118 bicara tentang kemenangan Tuhan, mengapa ada kalimat batu yang dibuang tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Siapa batu yang dibuang oleh tukang bangunan itu? Batu yang dibuang itu adalah Kristus, mereka menolak Kristus, dan batu itu justru menjadi batu penjuru untuk kemenangan Tuhan. Di sini ada pesan yang indah sekali, karena mereka menolak Yesus maka Yesus menjadi Juruselamat bagi dunia. Penolakan Israel kepada Yesus membuat Dia dipaku di atas kayu salib dan peristiwa salib membuat keselamatan bagi bangsa-bangsa lain. Kebencian yang besar Tuhan ubah dan dipakai menjadi sumber keselamatan. Kita biasanya kalau baca bagian ini langsung main logika yang sempit, “jadi Israel benci Anak Allah, membunuh Yesus, pakukan Dia di kayu salib, jadi batu penjuru keselamatan, dari kayu salib itu keselamatan sampai pada semua orang, baik Israel mau pun bangsa lain”, Saudara kalau dengar kalimat ini langsung tafsirkan apa? Yang Saudara pikir “berarti Tuhan yang menggerakan Israel untuk membunuh kan? Tuhan tidak beres, ini permainan strategi tingkat tinggi dari Tuhan”, itu cara berpikir yang salah. Yang benar adalah waktu Israel membunuh Yesus, Tuhan pakai ini untuk jadi keselamatan. “Tapi Tuhan sudah nubuatkan bahwa kematian AnakNya ini yang akan menjadi keselamatan, berarti Israel yang harus membunuh Yesus kan?”, “harus”, “kalau begitu Tuhan yang gerakan?”, jangan melihat seperti itu. Saudara bisa soroti dari sisi lain, Saudara bisa soroti bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang bisa membuat peristiwa paling menakutkan menjadi peristiwa paling indah. Dia bisa membuat peristiwa yang paling menunjukan kejahatan manusia, menjadi peristiwa yang paling menunjukan kebaikan Tuhan. Ini Tuhan yang saya percaya, dan kalau engkau mau percaya Tuhan seperti ini, silahkan, kamu akan hidup dengan limpah. Kalau kamu tolak Tuhan yang seperti ini, saya tidak tahu kamu mau menyembah siapa. Tuhan adalah Allah yang sanggup membuat peristiwa paling kelam dalam sejarah menjadi peristiwa penuh pengharapan di sepanjang sejarah alam semesta. Kematin Kristus di kayu salib adalah titik kasih paling tinggi yang dinyatakan oleh Tuhan. Kematian Kristus di kayu salib adalah kebaikan paling tinggi yang mungkin dialami oleh seluruh makhluk di alam semesta. Dan itu terjadi dari kebencian yang paling jahat, dari peristiwa yang paling kejam, dari pembunuhan tidak adil sepanjang sejarah. Siapa berhak bunuh Yesus? Siapa berhak menyatakan kesakitan kepada Yesus? Tidak ada yang berhak, karena Yesus begitu baik dan begitu agung hidupNya. Maka kejahatan manusia tidak ada yang sebesar orang Israel memaku Yesus di kayu salib. Ini kejahatan yang paling mengerikan di sepanjang sejarah alam semesta. Tapi Tuhan pakai peristiwa ini untuk menjadi sumber kebaikan bagi semua orang. Inilah yang Yesus mau katakan, Dia akan mati dan Dia akan menjadi batu penjuru untuk bangunan yang besar, Bait Suci yang baru yaitu orang-orang Kristen yang percaya kepada Kristus. Kematian Dia menjadi tanda Tuhan siap membangun bangunan yang baru di dalam menyatakan kemuliaanNya. Dan ini terjadi setelah Tuhan Yesus memberikan peringatan “tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah pengurus kebun anggur yang jahat itu, kamu adalah penggarap kebun anggur yang sangat kejam, kamu berniat membunuh Aku, tapi ketahuilah kamu akan berhasil dan Aku akan menjadi batu penjuru untuk Bait Suci yang baru yang didirikan melalui penebusanKu”. Ini yang Yesus sedang nyatakan.

Dikatakan di ayat 19, Ahli-ahli Taurat itu berusaha menangkap Dia. Semakin Yesus memberitakan hal yang menunjukan kejahatan mereka, semakin mereka menunjukan bahwa kata-kata Yesus itu benar. Baru Yesus mengatakan “kamu orang-orang jahat yang membunuh Aku”, mereka mengatakan “tidak, Dia menuduh kita sembarangan, mari kita bunuh Dia”, itu langsung terbukti. Orang-orang itu mengatakan “mari kita tangkap”, tapi karena belum waktunya, mereka masih takut, belum waktu Jumat Agung itu. Kiranya kita makin mengagumi Tuhan yang mencintai umat manusia, memberikan kesabaran begitu besar untuk manusia bertobat dan memberikan kemenangan penuh kuasa dari keadaan yang paling kelam sekali pun. Saudara punya kehidupan bisa masuk dalam keadaan kelam, tapi tidak mungkin sekelam peristiwa salib. Tapi ketahuilah satu hal, dari salib keluar hidup maka dari kekelaman bisa keluar terang. Dari gelap akan terbit terang, ini pedoman reformasi yang penting. Dan saya sangat bersyukur karena Kartini juga pakai istilah itu, mengingatkan kita bahwa banyak orang intelektual di dalam negara ini pada zaman dulu yang mengerti banyak literatur, yang mengerti banyak musik bagus, yang mengerti banyak seni yang bagus. Di mana orang-orang itu? Saya terus berdoa supaya Tuhan membangkitkan Indonesia dengan orang-orang yang penuh jiwa agung, pengetahuan yang benar, cinta seni yang benar, dan juga cinta untuk berkorban demi gereja Tuhan demi orang dan lain-lain. Biarlah kita mengerti hal ini kehidupan yang paling kelam pun akan membuat terang muncul, habis gelap terbitlah terang, dari gelap muncul terang, post tenebras lux, setelah gelap muncul terang. Dari gelap Tuhan katakan “jadilah terang”, terang bercahaya dan kegelapan itu dipisahkan atau disingkirkan oleh Tuhan. Kebangkitan Kristus adalah terang yang menyingkirkan kegelapan. Kematian Kristus adalah kegelapan yang Tuhan akan ubah menjadi terang. Kiranya Tuhan memberkati kita dengan pengertian yang unik, yang dibagikan oleh Yesus dari Mazmur 118.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)