Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Injil tidak meniadakan moral
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Injil tidak meniadakan moral

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 23: 13-25)
Ayat-ayat ini menunjukan kepada kita betapa menakutkannya ketika bangsa pilihan Tuhan sudah memberontak kepada Tuhan, mereka tidak lagi bisa melihat mana yang benar mana yang baik mana yang pantas, semua pengertian yang harusnya ada dikacaukan oleh karena beberapa hal yang kita bisa kita lihat di ayat-ayat ini. Mesias bisa membuat mereka mengikuti Dia, tapi orang lain juga bisa membuat mereka berontak kembali. Jadi kelompok orang banyak adalah kelompok yang sangat kasihan karena tidak ada pendirian yang tegas dan tidak ada keberanian untuk menyatakan identitas yang jelas. Banyak orang ikut Yesus hari ini, besok mereka bisa berubah pikiran untuk mengkhianati Yesus. Lukas sedang memberikan pengertian yang sangat umum kita dapatkan di dunia politik, sangat umum kita dapatkan dalam keadaan sosial kita, orang banyak sangat sulit dipegang, orang banyak sangat sulit diidentikan dengan satu kelompok tertentu. Ini peringatan bagi orang Kristen, termasuk kita, apakah kita termasuk ke dalam kelompok yang disetujui oleh Lukas sebagai orang-orang yang menantikan Mesias atau jangan-jangan kita cuma masuk dalam kelompok kebanyakan orang Kristen yang tidak terlalu tahu bagaimana beribadah, yang tidak terlalu tahu apa itu hidup Kristen yang baik, yang tidak terlalu tahu apa itu cinta kasih Tuhan, yang tidak pernah mengalami perubahan yang secara radikal membuat dia memikirkan ulang tentang hidup. Orang yang tidak pernah memikirkan ulang tentang hidupnya untuk dikembalikan kepada Tuhan, mungkin cuma orang yang ikut-ikut. Banyak orang kalau dengar khotbah itu mengangguk-angguk bukan karena terima khotbah tapi ingat ada orang yang kena khotbah ini.

Maka dengan pengertian seperti inilah Lukas memberikan penjelasan yang lebih menakutkan di ayat-ayat yang kita baca. Ada crowd, ada kumpulan besar orang yang mengaku diri sebagai umat Tuhan. lalu kumpulan besar orang ini hati menghadap Pilatus. Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin serta crowd, orang banyak, ayat 13. Semua dikumpulkan Pilatus, jadi ada umat Tuhan dan Pilatus. Lalu yang dikatakan di ayat 14 “kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai orang yang menyesatkan rakyat, kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksanya. Dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepadaNya, tidak ada yang kudapati dariNya”. Pemimpin dunia yang ini melihat Yesus tidak salah. Karena tuduhan orang-orang ini berkontradiksi dengan fakta. Meskipun Pilatus bersalah karena dia tidak punya ketegasan untuk membebaskan Yesus, tetapi dia jauh lebih baik dari pada pemimpin Israel yang mau membunuh Yesus. Dia mengatakan “saya tidak menemukan kesalahan, haruskah saya menghukum orang yang tidak bersalah?”. Lalu dia pakai pembelaan lain “Herodes pun tidak, karena saya sudah mengirimkanNya ke Herodes dan Herodes mengirimkanNya kembali”. Apa maksudnya? Herodes tidak bisa hukum karena tidak ada kekuatan menghukum, Herodes cuma menaruh jubah lalu suruh kembali ke Pilatus. Berarti Herodes tidak menghukum orang ini, “kalau Herodes tidak menghukum, saya juga tidak punya alasan untuk menghukum. Dia tidak melakukan apa yang setimpal dengan hukuman mati”, ayat 15. Ayat 16 Pilatus mengatakan “jadi aku akan menghajar Dia dan melepaskanNya”, karena di peristiwa hari raya ini, dia harus melepaskan satu tahanan. Orang Yahudi yang ditangkap oleh orang Roma akan dilepaskan 1 orang. Tapi mereka berteriak “kami tidak mau Yesus, kami maunya Barabas”, nama Barabas sangat unik karena artinya adalah anak dari sang bapa, Barabas. Yesus juga adalah Anak dari Sang Bapa, Allah di sorga. Dan ini ada orang yang namanya mirip, Barabas. Barabas yang palsu, dan Anak dari Bapa yang asli. Orang Israel pilih yang palsu, ini merupakan peristiwa yang sangat menghancurkan Tuhan. Tuhan disingkirkan demi penjahat, Tuhan diabaikan demi orang yang memberontak, membunuh dan melakukan perampokan. Injil Lukas membagikan kepada kita betapa bobroknya umat Tuhan. Umat Tuhan sudah sangat kehilangan identitas, sehingga mereka lupa siapa Tuhannya dan lupa siapa musuh. Mereka lupa siapa yang seharusnya dihukum dan lupa siapa yang seharusnya menjadi hakim. Inilah keadaan yang sedang dinyatakan oleh Lukas, umat Tuhan tersesat dan mereka dibuang ke pembuangan.

Tetapi keadaan Israel di pembuangan bukan keadaan paling parah. Keadaan mereka akan semakin parah justru ketika Tuhan membukakan anugerah lebih besar. Di sini kita bisa beljaar hal yang penting sekali, ketika Tuhan memberikan anugerah besar, Israel justru memberontak di dalam keadaan yang paling besar. Makin limpah Tuhan menyatakan diri, makin besar orang Israel menolk Tuhan. Inilah puncak pelanggaran orang Israel sepanjang sejarah Perjanjian Lama. Dari dulu mereka memberontak kepada Tuhan, dari dulu mereka tidak setia kepada Tuhan, dari dulu mereka terus menguji kesabaran Tuhan. Tetapi Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhan Israel adalah Tuhan yang semakin diuji semakin menunjukan kesabaran, semakin diuji semakin menyatakan berkat, semakin diuji semakin menyatakan cinta kasih, ini unik sekali. Waktu orang Israel memberontak, Tuhan justru menyiapkan pekerjaan yang semakin limpah. Sehingga kalau kita membaca di Perjanjian Lama, pekerjaan Tuhan selalu mengalami keadaan yang makin tambah, terus bertambah bukan berkurang, dan ini aneh sekali. Karena kalau kita baca Perjanjian Lama, keadaan Israel semakin buruk, semakin ke bawah. Tapi sambil menunjukan berapa hancurnya Israel, makin ke belakang makin hancur, Alkitab juga mengatakan semakin ke belakang semakin tinggi. Ini adalah sesuatu yang sangat berharga untuk kita ketahui, kalau kita lihat Israel semakin memberontak, pekerjaan Tuhan tidak batal malahan semakin bagus. Israel memberontak sehingga mereka dibuang, harusnya membuat penundaan terhadap kedatangan Mesias. Mesias sudah akan datang tapi Israel memberontak, Tuhan mengatakan “baik, tidak jadi kirim Mesias, karena kamu memberontak. Harusnya Mesias datang 500 tahun yang lalu, tapi kamu memberontak”, itu yang sewajarnya terjadi. Kalau Israel semakin kacau, maka pekerjaan Tuhan seperti terhambat. Tapi pekerjaan Tuhan tidak pernah terhambat. Saudara bisa lihat dalam beberapa kasus. Kasus pertama adalah Adam dan Nuh, coba bandingkan Adam dan Nuh. Waktu Saudara membaca kisah tentang Adam, Tuhan mengatakan “kamu harus bertambah banyak, beranak cucu, penuhi bumi dan taklukanlah itu”. Tuhan mengatakan taklukanlah, berkuasalah atas binatang-binatang di darat, di bumi dan di mana pun. Ada kata berkuasalah, kata Tuhan kepada Adam. Setelah itu manusia semakin parah, mengalami degradasi terus, bukan semakin baik. Setelah semakin parah, Tuhan mengirimkan air bah. Seluruh bumi kena hukuman Tuhan, bukankah ini menunjukan betapa mundurnya pekerjaan Tuhan? Tuhan ingin menyatakan kuasa dan kebenaranNya di bumi, tapi bumi dihancurkan oleh karena ketidaktaatan manusia. Namun Tuhan pertahankan Nuh dan seluruh keluarganya. Setelah Nuh keluar dari bahtera, Tuhan mengatakan “akan takut kepadamu semua binatang di bumi”. Apa bedanya Tuhan kepada Nuh dan Adam? Kepada Adam, Tuhan mengatakan “berkuasalah, taklukanlah”, kepada Nuh, Tuhan mengatakan “akan takut kepadamu”, aka ditaklukan, ini progress bukan regress, perkembangan bukan kemunduran. Jadi Tuhan menyatakan pekerjaanNya dengan cara yang semakin berkembang. Yang terjadi setelah Nuh, keluar tokoh di Kitab Kejadian yaitu Abraham. Dan Tuhan melanjutkan janjiNya, “Aku akan berikan kepadamu tanah yang berlimpah susu dan madunya”. Jadi Tuhan sudah menyiapkan tanah yang berlimpah susu dan madu, lalu terjadi kemunduran. Israel yaitu Yakub dan 70 orang di keluarganya pindah ke Mesir. Yang terjadi di Mesir adalah mereka jadi budak di situ. Setelah jadi budak Tuhan membuat mereka bertambah banyak memenuhi Mesir, ini satu cuplikan yang mirip dengan Kitab Kejadian, bertambah banyak dan penuhi bumi, sedangkan di dalam Keluaran, bertambah banyak dan penuhi Mesir, kedua hal ini paralel. Tuhan sedang menyatakan “Aku tidak pernah mundur, Aku tidak mengerem pekerjaanKu. PekerjaanKu ada di dalam kecepatan yang semestinya”. Manusia boleh gagal tapi pekerjaan Tuhan akan terus. Terus-menerus ada di dalam kecepatan yang Tuhan sudah tetapkan. Tuhan tidak mengerem atau melambatkannya karena kegagalan manusia. Maka setelah Tuhan mengeluarkan Israel dari Mesir, sekarang terbentuk umat. Padahal mereka tadinya budak di Mesir, harusnya ini membuat rencana Tuhan mundur. Rencana Tuhan mundur karena Israel menjadi budak. Tuhan mengatakan “pembentukan bangsa Kumundurkan lagi, harusnya targetnya sekarang tapi mundur”, ini mirip manusia kalau membuat proyek mesti mundur karena Lebaran. Mundur karena kekurangan tenaga, ada perpecahan, ada yang mencuri uang, semua membuat proyek terhambat lagi. Tuhan punya proyek tidak pernah terhambat. Maka meskipun kecepatan dari manusia terus-menerus sepertinya menghambat pekerjaan Tuhan, pekerjaan Tuhan jalan terus. Dan yang paling menghambat adalah ketika Israel dibuang ke Babel. Israel harusnya menjadi umat Tuhan, tapi mereka gagal, mereka dibuang ke Babel, bukankah ini memperlambat pekerjaan Tuhan? Tidak, karena momen Mesias harus datang tetap pada waktu yang tepat. Mesias tetap datang meskipun Israel dalam keadaan kacau balau di dalam keadaan politik dan juga agama. Maka ketika mereka kembali dari Babel, Tuhan mengatakan “sekarang saatnya Anak Allah datang”, inilah waktu yang Tuhan sudah tetapkan, inilah waktu yang Tuhan sudah tentukan. Waktu Tuhan tidak pernah menjadi lambat karena kegagalan manusia. Termasuk dalam bagian ini, Yesus menyatakan puncak dari pekerjaan Tuhan, meskipun umat Tuhan sedang berada dalam keadaan yang mundur sekali, “kami sudah memberontak kepada Tuhan dan kami tidak peduli kepada Mesias kami. Kami memilih pengkhianat sebagai pemimpin kami. Dan kami mengabaikan Mesias untuk berkuasa atas kami”. Mereka membuang Raja yang diberikan kepada mereka dan menerima penjahat. Bukankah ini akan menunjukan kegagalan yang besar? Tuhan mengatakan “tidak, karena Aku akan tetap pimpin umatKu, Aku akan tetap dirikan kerajaanKu”. Yesus akan tetap menjadi Raja, Yesus sudah jadi Raja, Yesus akan bertahta dan umat Tuhan tetap akan terbentuk dalam kecepatanNya Tuhan. Kalau Israel gagal terus bagaimana? Tuhan mengatakan “biar Israel gagal, Aku sudah siapkan bangsa lain”. Sebelum engkau menunjukan pemberontakanmu sampai puncak, Tuhan sudah menyiapkan pemanggilan untuk bangsa-bangsa lain. Inilah sebabnya di awal Injil, Kitab Matius, digambarkan tentang peristiwa yang unik, datangnya orang majus dari daerah Babilonia, Mesopotamia datang untuk menyembah Raja Israel. Tuhan sedang mengatakan lihat pemberontakanmu tidak membuat lambat rencanaKu, pemberontakanmu tidak membuatKu mundur dalam rencanaKu. Alkitab menyatakan berita yang sangat menakutkan, rencana Tuhan makin progress terus sedangkan reaksi manusia makin lama makin kacau makin buruk makin menjauh dari Tuhan. Reaksi manusia semakin menolak Tuhan, tapi pekerjaan Tuhan makin menanjak terus, berarti setiap orang yang mengikuti pekerjaan Tuhan akan terus mulia, sedangkan yang tidak mengikuti pekerjaan Tuhan akan makin lama makin berada dalam pemberontakan. Makin tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, semakin tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, semakin tidak bisa membedakan mana yang indah dan mana yang jelek, semakin tidak bisa membedakan mana Tuhan mana setan, ini keadaan yang terjadi pada orang-orang yang menolak Tuhan. Kita berada dalam keadaan seperti ini di sekeliling kita. Tapi orang yang tetap menantikan Tuhan akan mempunyai perbedaan yang sangat besar dengan orang-orang yang menolak Tuhan.

Inilah sebabnya dalam Injil Lukas 23 digambarkan keadaan seperti ini. Orang Israel sudah gagal melihat siapa Raja mereka. Mereka memandang kepada Kristus dan mereka melihat kepada orang yang akan menghambat rencana mereka, orang yang akan membuat kehidupan mereka tidak sebaik apa yang mereka mau, orang yang akan membuat apa yang mereka mau tidak terjadi karena kehadiranNya. Mereka menganggap Dia sebagai penghalang, mesti mati, mesti disingkirkan, mesti dibuang. Lalu bagaimana dengan orang-orang lain? Mereka cuma bisa jadi pengikut. Imam kepala mengatakan “kami mau Barabas”, yang lain mengatakan “ya, kami juga mau Barabas”. Barabas itu pembunuh, “biar dia pembunuh, tapi dia adalah orang yang tidak menghancurkan identitas Israel. Mengapa dia mesti disingkirkan? Dia kan membunuh demi memberontak kepada orang Roma, kalau pembunuh ini membunuh demi pemberontakan, demi kesuksesan kerajaan Israel, kami akan toleransi perbuatannya”. Di sini kita melihat relativisme moral yang jelas sekali, mana baik mana buruk? Tergantung. Mencuri itu baik atau buruk? Tergantung untuk apa, kalau saya mencuri dihukum atau tidak? Tergantung kamu partai apa. Kalau saya melakukan kejahatan akan dipenjara atau tidak? “Tergantung kamu berpihak kepada siapa. Kalau engkau berpihak kepada saya, engkau bebas hukum. Kalau engkau berpihak kepada kelompokku, engkau bebas dari jamahan semua alat negara untuk menghukum”, ini sudah ada dari dulu. Barabas pembunuh, tapi dia dianggap membunuh demi Israel, dia merampok demi memberontak. Tapi yang dirampok orang Israel juga, “yang dirampok adalah orang Israel yang tidak sejati, tidak apa-apa. Dia merampok demi Israel sejati”, ini menakutkan sekali. Relativisme moral, mana baik mana jahat tidak jelas lagi, mana benar mana salah tidak jelas lagi. Yang jadi jelas ada 4 hal, pertama yaitu amarah dan emosiku, itu membuat moral menjadi relatif. “Saya sudah sangat marah, maka saya teriak Yesus mesti mati”, Pilatus mengatakan “saya tidak menemukan kesalahan apa pun”, “salibkan dia”, “coba kita bicara dulu”, “tidak perlu bicara, kami mau Dia mati”, “kalau begitu Dia akan saya hukum dengan hukuman cambuk. Setelah dicambuk, saya akan bebaskan, karena saya juga harus bebaskan tahanan”, “tidak, bebaskan Barabas, jangan bebaskan Dia”, “tapi salah Dia apa?”, “Dia bersalah, hukum mati saja”, ini orang sudah emosi. Orang sudah emosi langsung merelatifkan moral, langsung merelatifkan sense benar dan salah. Hati-hati orang Kristen tidak bisa mengatakan dirinya aman dari hal ini. Saudara tahu mana benar mana salah, mana pantas mana tidak, tapi kalau emosi sudah menguasai, Saudara dibutakan oleh emosi yang mengatakan “yang saya mau harus jadi”, “tapi yang kamu minta tidak pantas”, “pokoknya kami sudah marah. Moral jadi relatif karena emosi sudah membakar. Jadi emosi lalu Saudara mulai meremehkan semua peraturan dan kepantasan. Karena Tuhan tidak kenal alasan amarah selain amarah suci dari Tuhan sendiri. Saudara marah karena Tuhan marah, itu baik. Tapi kalau Saudara marah, Tuhan tidak akan jadikan itu alasan untuk mengurangi hukuman. “Kalau saya sudah marah, benar dan salah tidak penting lagi”, dan ini kesalahan pertama yang Lukas bukakan. Lihat mereka cuma tahu teriak-teriak, marah-marah, menyatakan emosi, “orang ini harus mati”. Tapi apa salahnya? Salah atau tidak itu tidak penting, yang penting saya sudah emosi.

Lalu kesalahan kedua di dalam bagian ini adalah moral direlatifkan demi nama agama. Kalau sudah urusan agama, moral itu nomor belakangan. Karena antara moral dan agama ada keterpecahan. Keterpecahan yang membuat teologi menjadi bahaya sekali. Membunuh itu salah atau benar? Tergantung demi nama apa. “Saya membunuh demi nama agama”, “itu tidak apa-apa”, “tapi masa membunuh orang, meledakan diri demi nama agama itu kan kacau sekali”, “tidak kacau, karena demi nama agama”. Kita sulit mengerti kekacauan dari pikiran orang yang merelatifkan moral demi nama agama. Maka kita mengatakan “masa ada orang yang meledakan diri untuk membunuh orang lain?”, bagi orang yang kacau inilah yang sepantasnya terjadi. Cara berpikir kita tidak nyambung dengan cara berpikir mereka. Dan mereka tidak bisa diyakinkan dengan argumen yang kita percaya akan menguatkan kita. Kita tidak akan bisa mengatakan “bodohnya orang-orang itu”, mereka akan mengatakan “kamu yang bodoh, karena kamu tidak mengutamakan agama dan merelatifkan moral. Agama harus dimutlakan dan moral direlatifkan. Kalau saya mau orang jahat bebas dan orang baik dihukum, itu tidak apa-apa atas nama agama. Agama lebih penting dari pada moral”. Ini problem dari agama mana pun, Budhisme bisa ada problem di sini, Islam ada problem di sini, Hindu ada problem di sini, agama-agama bisa punya problem karena moral dan agama seperti terpisah. Siapa standar paling besar? Agama. Kalau begitu moral direlatifkan untuk agama? Iya. Maka kalau saya mengatakan “membunuh itu salah”, itu belum tentu salah kalau mengutamakan agama. Tapi Kekristenan tidak seperti itu karena di dalam Kekristenan moralitas dan sifat Tuhan itu satu. Kalau begitu bukankah Israel juga bersalah, Israel membunuh di Kanaan demi nama agama, bapak mau bilang apa? Bukankah ini juga kekacauan yang sama? Saya mengatakan “tidak”, karena Tuhan mengatakan orang Kanaan harus dibasmi maka Israel masuk. Orang Kanaan harus dibasmi karena mereka sudah sangat jahat hidupnya. Kalau begitu tidak boleh jahat hidupnya karena di Tanah Kanaan dikhususkan oleh Tuhan, Bait Suci akan ada di situ. Jadi Tanah Kanaan tidak boleh ditinggali oleh orang yang hidupnya sembarangan. Kalau begitu orang-orang sebelumnya disingkirkan oleh Israel karena hidupnya sembarangan di Kanaan? Betul. Kalau begitu, kalau Israel hidupnya juga sembarangan apakah akan disingkirkan? Iya, akan disingkirkan, moralitas dipegang. Waktu Israel sembarangan, Tuhan mengatakan “kamu dibuang”, “mengapa kami dibuang?”, “sama seperti Aku telah membuang orang Kanaan, demikian Aku membuang kamu”. Hukum Tuhan standarnya jelas, hukum Tuhan tidak secara arbiter bisa diterapkan. Tuhan mengatakan “jika engkau tidak setia pada perjanjian maka engkau harus mati”. Kalau Tuhan tidak setia bagaimana? “Aku pun akan amti”, “tapi Tuhan kan tidak akan mati?”, “karena Aku tidak bisa tidak setia”. Jadi ada aturan main yang jelas dalam Alkitab. Moralitas dan sifat Tuhan itu menyatu, sehingga tidak ada tempat bagi relativisme moral di sini. Kalau ada mesias yang jahat dan orang kafir yang baik, bolehkah mesias itu bebas dan orang kafir yang baik dipenjara? Tidak, orang kafir yang baik harus bebas, mesias yang jahat harus dipenjara. Tuhan tidak ingin pembunuh dan pezinah sembarangan bertahta di Kerajaan Israel, maka Tuhan menghukum Daud. Meskipun Daud bertobat, dia disingkirkan dari tahtanya untuk sementara waktu, menunjukan Tuhan bertindak adil kepada sang raja yang sangat penting ini. Tuhan tidak lihat ini Daud atau siapa, dia telah bersalah, dia akan dihukum. Saul adalah raja tapi dia bersalah, dia akan dihukum. Tuhan tidak membuat orang spesial dan tidak tersentuh oleh kekudusan dan hukuman Tuhan hanya gara-gara dia orang penting. Sebaliknya justru karena engkau orang penting dan sembarangan, Tuhan akan hajar kamu dengan keras. Waktu anak Harun salah memberikan persembahan, Tuhan mengirimkan api dan menghanguskan. Tuhan mengatakan kepada Musa, “siapa yang akrab denganKu kepadanya Kutunjukan kekudusanKu”, ini Tuhan. Dia tidak mengatakan “siapa yang akrab denganKu kepadanya Kutunjukan kekhususan”, kekudusan bukan kekhususan. Hal ketiga yang dibongkar oleh Lukas dalam bagian yang kita baca adalah relativisme moral demi kenyamanan hidup. Mana yang seharusnya dipenjara? Barabas. Yang seharusnya bebas? Yesus. Kalau begitu mengapa Yesus tidak dibebaskan? Karena kalau Dia bebas akan ada huru-hara, nanti Yerusalem penuh demo, karena itu biarkan saja. Itu namanya relativisme moral demi kenyamanan. Jadi yang salah mesti dipenjara? Apa boleh buat, dari pada nanti bisnis kita tidak bagus. Kamu merelatifkan moral demi kenyamananmu, celakalah kamu”, kalau bisnis harus hancur tapi moral tetap dipegang, itu yang penting. Pegang moral bukan bisnis. Kalau moral direlatifkan demi bisnis, kita mau jadi apa? Kalau Saudara merelatifkan moral mana benar mana salah supaya bisnis Saudara maju, Saudara bukan anak Tuhan. Yang merelatifkan moral demi uang, engkau bukan anak Tuhan. Yang merelatifkan moral demi keuntungan pribadi, engkau bukan anak Tuhan. Jangan relatifkan moral demi kenyamanan pribadi. Sudah Yesus mati saja, Yerusalem akan aman. Sudah Barabas bebas saja, Yerusalam aman. Biar Yerusalem tenang.

Kemudian yang paling mengerikan adalah yang keempat yaitu menyalibkan Yesus demi nama Tuhan. Ini menakutkan sekali, moral direlatifkan demi nama “tuhan”. “Kami lakukan ini demi Tuhan”, bebaskan pembunuh itu demi Tuhan? “iya, karena “tuhan” tidak mungkin dihina oleh Yesus”. Sekarang antara Tuhan dan Yesus terpecah. Teologi orang Yahudi makin lama makin kacau. Yesus menggenapi semua yang dikatakan tentang Mesias di Perjanjian Lama. Tapi mereka mengatakan “tidak, Yesus adalah anti-tuhan, Yesus menghujat allah. Dia sudah menghujat, mari kita bunuh”, “Tuhan mana yang dihujat?”, “tuhanku dihujat oleh Dia”, “kalau begitu Dia harus dihukum?”, “iya”, “bagaimana cara Dia dihukum? Pilatus mau membebaskan Dia”, “kalau begitu bebaskan Barabas”, “jadi supaya membela nama tuhanmu yang dihujat, kamu mau untuk Barabas dibebaskan?”, “iya”. Ketika orang mengenal Tuhan lewat yang lain dan bukan Kristus, dia akan menuhankan tuhan yang palsu ini atas nama moral. Tuhan menjadi lebih penting dari pada moralitas. Ini agak mirip dengan yang pertama tadi, tapi poin saya di bagian keempat adalah Tuhan dikenal lewat jalan yang tidak sama dengan Kristus. Kalau Allah yang kita miliki mempunyai keberadaan, sifat dan karakter yang beda dengan Kristus, itu bukan Allah yang sejati. Bagaimana bisa mengenal Allah yang sejati? Lihatlah Kristus, tidak ada allah yang benar yang dinyatakan di luar jalur Kristus. Kristuslah Anak Allah yang memperkenalkan Allah yang sejati. Orang menyembah allah yang salah, mengorbankan Kristus dan meremehkan moralitas, “mari pilih pembunu sebagai pemimpin kita, mari bunuh pemimpin kita karena Dia menyimbolkan Tuhan kita”. Poin keempat ini sangat menakutkan, karena ini bisa terjadi ketika kita terus merenungkan Tuhan tapi tidak melihat perwujudan dari Tuhan di dunia ini. Kita makin menyembah tuhan yang sifatnya abstrak, kita makin menyembah allah yang tidak ada realitanya di dunia ini. Kita makin menyembah allah dan makin aneh dalam hidup. Kita makin menyembah allah dan makin bersifat other worldly dengan cara yang tidak menjadi berkat. Makin sembah tuhan makin berkajang pada penglihatan, makin sembah tuhan makin aneh hidupnya, makin sembah tuhan makin kacau hidup moralnya, makin sembah tuhan makin tidak terstruktur hidupnya, makin sembah tuhan makin kacau kuliah, kerja, keluarga dan sebagainya. Makin sembah tuhan makin rusak hidupnya di bumi, ini ada something wrong. Banyak orang mengatakan setelah menjadi Kristen, semua jadi sampah. Tuhan tidak mengatakan semuanya disampahkan, Tuhan mengatakan sejak mengenal Tuhan, Tuhan akan pulihkan sampah. “Aku sampahkan dunia karena dunia itu membuat aku populer, apa pun yang membuat aku besar, aku sampahkan”, itu yang benar. Sampahkan dunia artinya apa pun yang membuat kita besar, kita sampahkan. Yang Tuhan benci adalah apa pun yang menghancurkan ciptaan, bukan ciptaan secara keseluruhan. Maka ketika kita beriman kepada Tuhan kita harus pakai jalur Kristus, beriman lewat percaya pada Kristus. Kalau ada orang bertanya “apa pentingnya beriman kepada Kristus”, jawabannya karena Kristus adalah yang membawa Allah ke dalam ciptaan ini. Dia yang menyatukan Allah dengan ciptaan, sehingga kita tahu bagaimana harus bersikap di tengah ciptaan ini. Tapi ketika orang mengaku mengenal Tuhan dan mau bunuh Yesus, sebenarnya orang ini tidak kenal Tuhan. Tuhan yang palsu membuat moral menjadi standar yang sangat mudah dikompromikan. Mengapa tuhan palsu yang dikenal? Karena dikenal lewat jalur non-Kristus. Maksud non-Kristus adalah non-wahyu. “Bagaimana kamu kenal Tuhan?”, “lewat wahyu”, “wahyunya mana?”, wahyu utama adalah Kristus. Maka kalau orang kenal Tuhan tanpa Kristus, itu berarti kenal Tuhan tanpa wahyu yang resmi. Adakah wahyu yang tidak resmi? Banyak, misalnya kitab suci yang diturunkan setelah Wahyu, itu pasti wahyu yang tidak resmi. Kalau ada kitab diturunkan berapa ratus tahun setelahnya, kalau ada kitab diturunkan di abad 20, itu palsu karena tidak diturunkan lewat wahyu yang resmi, pernyataan Tuhan dari sorga ke bumi. Mana wahyu Tuhan yang resmi? Wahyu yang tertulis yaitu Alkitab dan wahyu yang sempurna yaitu Kristus. Jadi siapa yang percaya Kristus harus lewat jalur Alkitab. Tapi siapa percaya Kristus lewat jalur lain, percaya Allah lewat jalur lain bukan Kristus, dia bukan orang yang mengenal Allah yang sejati. Dan dia akan merelatifkan moral karenanya. Maka Saudara bisa lihat orang yang mengabaikan kitab demi mendapatkan wahyu, dia akan merelatifkan moral. Dia akan mengatakan “Tuhan sudah berfirman kepada saya, saya boleh menikah dengan orang yang berbaju merah”, orang lain mengatakan “bukankah kamu sudah menikah, kamu sudah punya istri”, “kalau ada wahyu baru dari Tuhan, itu jadi relatif. Karena ada wahyu langsung, wahyu langsung mengabaikan yang tidak langsung, karena ada revisi”. Ketika itu dinyatakan moral menjadi relatif, ini tidak benar, “tidak benar menurut siapa? Ini Tuhan yang bicara langsung, kalau Tuhan bicara langsung, semua jadi relatif”. Dan inilah kekacauan yang terjadi, kalau engkau tidak kenal Allah lewat Kristus, engkau akan relatifkan moral. Kalau engkau tidak kenal Kristus lewat firman, engkau akan relatifkan moral. Siapa berkajang pada penglihatan, dia berbahaya merelatifkan moral. Saya tidak mengatakan moral paling utama, moral tidak bisa menyelamatkan kita. Tapi Injil Tuhan tidak menegasi moral, Injil Tuhan tidak membuat kita menjadi orang yang tidak bermoral, Injil Tuhan tidak membuat kita menjadi orang yang tidak bisa bedakan mana salah mana benar. Injil Tuhan tidak menjadikan kita orang yang memihak kepada pembunuh lalu membunuh orang benar. Injil Tuhan tidak membuat kita menjadi orang amoral. Tapi lihat yang terjadi, para pemimpin agama, tua-tua dan orang banyak yang ikut-ikutan semua menjadi amoral, “mari bebaskan pembunuh, mari bunuh orang benar”, inilah kekacauan yang terjadi. Harap Tuhan selamatkan kita dan lindungi kita dari kekacauan sedemikian.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)