Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Hati-hati pada Kesombongan Rohani
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Hati-hati pada Kesombongan Rohani

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 18: 9-14)
Banyak kali di dalam Injil Lukas, hal-hal seperti ini diulang-ulang dan dibagikan dengan sangat jelas. Saudara kalau baca Injil, maka sindiran Tuhan Yesus terhadap relasi yang kacau di bumi oleh sebab tidak ada pengampunan, tidak ada kasih akan sesama, itu akan berulang kita temukan. Kalau Saudara merasa relasi dengan Tuhan sudah baik, merasa sudah kenal firman, sering berdoa kepada Dia, tapi Saudara punya kesulitan di dalam relasi dengan orang lain, maka Kitab Injil akan menjadi duri dalam daging bagi kita. Karena ketika membaca, tidak lama kemudian akan menemukan kalimat “maka Tuhan memerintahkan kamu harus mengasihi. Di dalam ayat 1-8 Yesus mengingatkan ketekunan untuk berdoa datang kepada Tuhan tanpa jemu. Terus datang kepada Tuhan dengan giat, dengan gigih, tidak pernah malas datang kepada Tuhan untuk berdoa, tidak pernah kehilangan gairah dan kerinduan untuk berdoa. Tidak pernah kehilangan niat dan motivasi yang benar untuk berdoa. Kalau ini tidak ada, Saudara dan saya benar-benar harus cari sampai kita menemukan gairah berdoa kembali berkobar di dalam hati kita. Doa di hati kita harus dipelihara, doa kepada Tuhan harus menjadi dorongan yang tidak pernah hilang di dalam diri manusia. Ketika Martin Luther sudah menggerakan reformasi, lalu di Jerman Protestan atau pengikut dari Luther dan reformasi mulai stabil, Luther pernah mengajarkan berdoa kepada seorang tukang pangkas rambut. Maka Luther menjawab “pertanyaanmu adalah pertanyaan yang penting, sebab waktu Yesus melayani di bumi murid-muridNyapun bergumul tentang hal ini. Jadi Luther mengingatkan “kamu punya pergumulan mirip dengan pergumulan Petrus, Yohanes, Andreas, Yakobus, waktu mereka datang kepada Tuhan dan bertanya: Tuhan, bagaimanakah cara berdoa, dan pertanyaan ini sangat serius dan penting. Oleh sebab itu saya minta waktu untuk bergumul, saya baca baik-baik Kitab Suci, saya renungkan, baru saya tulis jawabannya untuk kamu. Saya tidak mau bicara, takut saya salah jawab. Maka saya akan pulang dan tuliskan dengan teratur, supaya kamu dapat jawaban yang baik”, maka Martin Luther pun pulang, lupa untuk potong rambut. Ketika Luther pulang, dia bergumul dan akhirnya dia tuliskan tulisan yang judulnya A Simple Way to Pray. Ini adalah tulisan yang sangat baik karena mengingatkan kita tentang gairah berdoa dan ketekunan berdoa yang harus jadi satu. Orang sering mengatakan “saya mau punya kehidupan doa yang teratur, asal ada gairah. Sebelum ada gairah berdoa, saya malas berdoa”, atau ada yang mengatakan “saya rutin berdoa, tapi rasanya kosong, karena saya tidak ada gairah untuk berdoa, lebih baik saya tidak berdoa”. Buku ini atau karya pendek ini mengingatkan kita untuk perlunya melakukan keduanya, jadi Saudara harus punya gairah untuk berdoa dan waktu yang rutin untuk berdoa. Dan Luther mengingatkan doa itu berarti konsentrasi tentang Tuhan, merenungkan Dia, memikirkan tentang kebaikanNya, memikirkan firmanNya, lalu berdoa dengan cara me-reply pengertian itu, ini seperti komunikasi. Maka hal pertama yang diajarkan, jangan percaya bahwa kamu sanggup konsentrasi di tempat yang tidak menunjang kamu untuk konsentrasi. Sering orang berpikir orang sakti adalah orang yang dapat berdoa di tengah-tengah gangguan, seperti kaum stoik meskipun ada badai tetap stabil, jiwanya tenang tidak dipengaruhi apa pun. Tapi martin Luther mengingatkan Yesus pun cari tempat sepi dan berdoa. Saudara berani bilang kalau Yesus kurang kuat imanNya? Tidak mungkin, Yesus sendiri cari tempat sepi untuk berdoa, maka kita perlu waktu-waktu seperti ini, kata Luther. Jadi jangan pikir bisa berdoa tanpa masuk dalam satu keadaan dimana kamu bisa berkonsentrasi memikirkan tentang Tuhan, tentang anugerahNya, tentang firmanNya. Ini hal pertama.

Lalu hal kedua, Martin Luther mengingatkan untuk senantiasa mengingat firman sehingga ketika Saudara berdoa, baik kata-kata yang Saudara pakai mau pun kerangka doa Saudara adalah sesuatu yang sangat dipengaruhi oleh firman. Ini yang Luther katakan dipoin kedua, mendoakan firman, mendoakan pengakuan iman, mendoakan dengan teratur berdasarkan kerangka yang disusun oleh gereja, lalu kita merenungkan itu. Sambil merenungkan, sambil mendoakan.

Lalu ketiga, Martin Luther juga merasa perlu ada puji-pijian yang mengingatkan orang akan Tuhan, yang menenangkan hati. Tapi Yesus menambahkan aspek lain, selain konsentrasi memohon kepada Tuhan, punya permohonan yang jelas yaitu untuk Kerajaan Tuhan dipulihkan, jangan melupakan relasimu dengan sesama. Karena doa adalah relasi dengan Tuhan, maka ini tidak mungkin mengecualikan atau meniadakan relasi kita dengan sesama. Itu sebabnya dalam Doa Kami ada kalimat “ampuni kami seperti kami mengampuni orang lain”. Dan di dalam Lukas 18 ajaran tentang ketekunan berdoa, dilanjutkan dengan ajaran untuk menyadari bahwa diri tidka lebih baik dari orang lain. Sebab semakin Saudara bedoa, semakin dekat dengan Tuhan, semakin Saudara punya pertumbuhan rohani yang baik, maka Saudara bisa jatuh di dalam perasaan eksklusif, perasaan unggul di dalam kerohanian. Dan kalau kerohanian adalah sesuatu yang dihargai oleh komunitas Saudara, Saudara akan jatuh di dalam kesombongan.

Maka Lukas memberikan penjelasan tentang cerita Yesus, Lukas mengatakan “dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini”. Jadi setelah Yesus mengatakan doa dengan tidak jemu-jemu, Yesus mengetahui penyakit yang mungkin ada pada diri orang-orang yang merasa doanya begitu baik karena kerohaniannya begitu tinggi. Maka Yesus melanjutkan dengan perumpamaan yang oleh Lukas diberikan penjelasan, perumpamaan berikut adalah untuk menyindir orang-orang yang merasa dirinya benar. Dan Saudara kalau baca kalimat ini sudah tahu kira-kira siapa yang disindir Yesus karena menganggap dirinya benar, orang Farisi. Kita berada di dalam kebudayaan yang selalu melihat orang Farisi sebagai penjahat, dari zaman Sekolah Minggu kita sudah diberi tahu the bad guys adalah orang Farisi, sedangkan the good guys adalah Yesus dan murid-murid, Yesus, murid-murid, pemungut cukai adalah orang-orang baik, sedangkan Farisi, Saduki, Ahli Taurat adalah orang-orang jahat. Maka begitu kita ingat orang Farisi, langsung menggambarkan wajah-wajah yang jahat, yang garang, yang ingin menghancurkan yang lain, pokoknya Farisi itu sangat negatif. Tapi pembaca mula-mula dari Lukas tidak punya konsep seperti itu. Orang Farisi adalah kelompok yang sangat berjasa di dalam abad pertama Israel. Merekalah pengumpul dan pengajar begitu banyak commentary para rabi bagi Israel. Merekalah yang sangat giat, pergi ke rumah-rumah untuk menjelaskan tentang Taurat, tentang Mazmur, tentang Yesaya dan tentang lain-lain. Sehingga tanpa mereka, Israel abad kesatu sudah habis dihancurkan oleh sekularisme dari gerekan Helenisme, pengaruh Yunani yang disebarkan sejak abad ke-3 sebelum Masehi. Tanpa Farisi, Israel tidak mungkin punya orang-orang yang gigih mempertahankan agama mereka. Jadi orang Farisi punya sumbangsih luar biasa, mereka sangat gigih di dalam memberikan tafsiran, mereka menyelidiki Kitab Suci dengan sangat baik, dan mereka tulis ratusan volume commentary untuk Alkitab Perjanjian Lama. Jadi Saudara tidak sepelekan peran mereka di dalam masyarakat. Hanya orang bodoh di dalam zaman itu yang akan menegasi atau mengatakan kelompok Farisi adalah orang yang tidak layak ada di sini. Kalau kita punya kerangka seperti ini lalu membaca kalimat Yesus yang selalu menyatakan hal negatif tentang orang Farisi, kita akan kaget “masa orang Farisi senegatif ini? apakah Tuhan tidak salah?”. Sebenarnya penulisan Injil sangat bersifat provokatif. Kita sudah melihat Farisi sebagai pahlawan, dan saya mau create ini di dalam pikiran kita, orang-orang yang suka pergi ke rumah-rumah, door to door, mereka mengajar jemaat, mereka membuat perkumpulan-perkumpulan di tempat-tempat doa untuk membuat mereka mengerti apa yang dikatakan Kitab Suci. Seringkali mereka datang ke orang lalu meminta mereka membacakan satu bagian dari Kitab Perjanjian Lama atau kitab tradisi Yahudi, setelah mereka baca, mereka akan ditanya “tahukah kamu apa yang sudah kamu baca?”, orang itu kalau menjawab “saya tidak tahu”, maka orang Farisi dengan rela hati akan mengatakan “biar aku jadi gurumu dan aku akan jelaskan kepadamu pengertian ini”. Mereka punya jasa Banyak kali di dalam Injil Lukas, hal-hal seperti ini diulang-ulang dan dibagikan dengan sangat jelas. Saudara kalau baca Injil, maka sindiran Tuhan Yesus terhadap relasi yang kacau di bumi oleh sebab tidak ada pengampunan, tidak ada kasih akan sesama, itu akan berulang kita temukan. Kalau Saudara merasa relasi dengan Tuhan sudah baik, merasa sudah kenal firman, sering berdoa kepada Dia, tapi Saudara punya kesulitan di dalam relasi dengan orang lain, maka Kitab Injil akan menjadi duri dalam daging bagi kita. Karena ketika membaca, tidak lama kemudian akan menemukan kalimat “maka Tuhan memerintahkan kamu harus mengasihi. Di dalam ayat 1-8 Yesus mengingatkan ketekunan untuk berdoa datang kepada Tuhan tanpa jemu. Terus datang kepada Tuhan dengan giat, dengan gigih, tidak pernah malas datang kepada Tuhan untuk berdoa, tidak pernah kehilangan gairah dan kerinduan untuk berdoa. Tidak pernah kehilangan niat dan motivasi yang benar untuk berdoa. Kalau ini tidak ada, Saudara dan saya benar-benar harus cari sampai kita menemukan gairah berdoa kembali berkobar di dalam hati kita. Doa di hati kita harus dipelihara, doa kepada Tuhan harus menjadi dorongan yang tidak pernah hilang di dalam diri manusia. Ketika Martin Luther sudah menggerakan reformasi, lalu di Jerman Protestan atau pengikut dari Luther dan reformasi mulai stabil, Luther pernah mengajarkan berdoa kepada seorang tukang pangkas rambut. Maka Luther menjawab “pertanyaanmu adalah pertanyaan yang penting, sebab waktu Yesus melayani di bumi murid-muridNyapun bergumul tentang hal ini. Jadi Luther mengingatkan “kamu punya pergumulan mirip dengan pergumulan Petrus, Yohanes, Andreas, Yakobus, waktu mereka datang kepada Tuhan dan bertanya: Tuhan, bagaimanakah cara berdoa, dan pertanyaan ini sangat serius dan penting. Oleh sebab itu saya minta waktu untuk bergumul, saya baca baik-baik Kitab Suci, saya renungkan, baru saya tulis
Saudara berdoa, baik kata-kata yang Saudara pakai mau pun kerangka doa Saudara adalah sesuatu yang sangat dipengaruhi oleh firman. Ini yang Luther katakan dipoin kedua, mendoakan firman, mendoakan pengakuan iman, mendoakan dengan teratur berdasarkan kerangka yang disusun oleh gereja, lalu kita merenungkan itu. Sambil merenungkan, sambil mendoakan.
Lalu ketiga, Martin Luther juga merasa perlu ada puji-pijian yang mengingatkan orang akan Tuhan, yang menenangkan hati. Tapi Yesus menambahkan aspek lain, selain konsentrasi memohon kepada Tuhan, punya permohonan yang jelas yaitu untuk Kerajaan Tuhan dipulihkan, jangan melupakan relasimu dengan sesama. Karena doa adalah relasi dengan Tuhan, maka ini tidak mungkin mengecualikan atau meniadakan relasi kita dengan sesama. Itu sebabnya dalam Doa Kami ada kalimat “ampuni kami seperti kami mengampuni orang lain”. Dan di dalam Lukas 18 ajaran tentang ketekunan berdoa, dilanjutkan dengan ajaran untuk menyadari bahwa diri tidka lebih baik dari orang lain. Sebab semakin Saudara bedoa, semakin dekat dengan Tuhan, semakin Saudara punya pertumbuhan rohani yang baik, maka Saudara bisa jatuh di dalam perasaan eksklusif, perasaan unggul di dalam kerohanian. Dan kalau kerohanian adalah sesuatu yang dihargai oleh komunitas Saudara, Saudara akan jatuh di dalam kesombongan.
Maka Lukas memberikan penjelasan tentang cerita Yesus, Lukas mengatakan “dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini”. Jadi setelah Yesus mengatakan doa dengan tidak jemu-jemu, Yesus mengetahui penyakit yang mungkin ada pada diri orang-orang yang merasa doanya begitu baik karena kerohaniannya begitu tinggi. Maka Yesus melanjutkan dengan perumpamaan yang oleh Lukas diberikan penjelasan, perumpamaan berikut adalah untuk menyindir orang-orang yang merasa dirinya benar. Dan Saudara kalau baca kalimat ini sudah tahu kira-kira siapa yang disindir Yesus karena menganggap dirinya benar, orang Farisi. Kita berada di dalam kebudayaan yang selalu melihat orang Farisi sebagai penjahat, dari zaman Sekolah Minggu kita sudah diberi tahu the bad guys adalah orang Farisi, sedangkan the good guys adalah Yesus dan murid-murid, Yesus, murid-
amat besar. Maka orang akan khawatir dan juga kaget ketika Yesus mengatakan “celakalah kamu”. Dan Tuhan Yesus juga tidak pernah meniadakan pengaruh dari orang Farisi. Yesus pernah mengatakan “orang Farisi dan Ahli Taurat sudah menduduki kursi Musa”, ini pujian. “Merekalah yang akan menjelaskan ajaran Musa kepadamu, tetapi jangan ikuti kalau perbuatan mereka kacau”. Jadi Tuhan Yesus memberikan peringatan untuk orang seimbang dalam menilai orang lain. Jangan menilai orang berdasarkan konsep yang terlalu suci atau pun yang terlalu negatif. Saudara kalau sudah terlalu meninggikan seseorang, yan negatif dari orang itu sudah tidak kita lihat. Ajaran mereka sangat banyak dan banyak yang mempengaruhi tulisan-tulisan dari Paulus, Yudas, dan juga ajaran dari Yesus. Yesus bukan dipengaruhi oleh orang Farisi, tapi Yesus mengajar kepada masyarakat yang dipengaruhi oleh ajaran Farisi. Jadi Saudara tidak bisa meremehkan pengaruh mereka, tapi Yesus mengingatkan ketika orang sampai pada pengaruh yang besar di dalam kerohanian, mampu menjangkau banyak sekali orang dengan ajaran, maka kesombongan rohani menjadi dosa yang sama besarnya dengan dosa yang lain. Dan ini problem dalam relasi antar manusia. Saudara akan mengalami kesulitan bergaul dan juga bersosialisasi dengan siapa pun ketika Saudara melihat orang lain lebih rendah dari Saudara. Ini prinsip yang penting di dalam pergaulan dan juga pemikiran sosial dari Tuhan Yesus. Tuhan Yesus selalu mengaitkan doa dan relasi dengan Tuhan dan sesama menjadi satu paket. Rajin berdoa, jangan jemu-jemu berdoa seperti seorang janda yang meminta perkaranya dibela oleh seorang hakim yang lalim. Dia rajin sekali minta, kamu jangan kalah rajin karena Tuhanmu jauh lebih baik dari pada hakim yang lalim itu. Maka kamu harus berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Lalu ayat 9 dan seterusnya, kalau kamu berdoa, jangan anggap dirimu lebih baik dari orang lain. Jadi biarlah kita mengerti bahwa ada dosa yang namanya kesombongan yang sangat berbahaya. Maka Yesus mengatakan di ayat 10 ada 2 orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Pemungut cukai adalah tokoh yang dianggap jelek, karena abad pertama Kerajaan Roma sangat ketat dengan pajak. Dimulai dari Agustus mulai ada periode yang disebut dengan Roma yang damai, pax romana, ini adalah keadaan di mana Roma memutuskan tidak lagi banyak konflik dan akan berfokus unutk menyejahterakan orang-orang yang ada di daerah Romawi, baik client city maupun daerah jajahan, atau pun kota-kota Roma asli, ini semua akan diberikan kesejahteraan. Agustus punya pengertian seperti ini “kamu mau tinggal di Roma?”, “mau”, “kamu mau perang atau damai?”, “damai”, “kamu mau sejahtera, kamu mau berusaha dengan tenang, kamu mau bisa tinggal di dalam rumahmu dengan baik, kamu mau bisa kumpulkan uang, bisa mendidik anakmu, membesarkan anakmu, dan berharap nanti akan gendong cucu, lalu berharap juga masih bisa gendong cicit. Jadi kamu berharap umur panjang, tidak diganggu apa pun, maukah kamu kerajaan Roma mampu memberikan ini?”, semua rakyat akan menjawa “mau”, “kalau mau, berarti kita harus pastikan kamu tinggal di tempat yang ada benteng, kami pastikan kamu dijaga oleh tentara dan kami pastikan kamu akan dijaga oleh orang-orang yang setia siang malam menjaga keamananmu dari serangan orang-orang diluar Roma. Kalau begitu kamu harus bayar pajak. Pemungut cukai adalah orang yang dianggap hina di dalam wilayah Israel. Dan Tuhan Yesus sengaja memakai ini, ada orang Farisi, pahlawan rohani dari Israel dan ada pemungut cukai, pengkhianat dari Kerajaan Israel. Mereka sama-sama berdoa, lalu Yesus menggambarkan orang Farisi berdoa dengan hati yang sangat sombong “ya Allah, saya mengucap syukur kepadaMu, karena saya tidak sama dengan orang lain”, ada prestasi rohani yang membuat dia lebih baik dari orang lain. Prestasi rohani ini seringkali menjadi kejatuhan bagi orang-orang yang ada di dalam lingkungan yang menghargai prestasi itu. Saudara kalau pergi di lingkungan yang semuanya atheis, Saudara pasti tidak dianggap hebat kalau rajin saat teduh. Saudara ada dimana itu menentukan aspek yang Saudara bisa sombongkan apa. Saudara kumpul dengan orang yang uangnya banyak, Saudara juga akan pamerkan uang. Banyak orang punya penyakit “ketika saya menjadi orang yang beribadah di tempat ini, saya mempunyai level pengetahuan yang lebih baik, saya punya level kerohanian yang lebih baik dan saya mempunyai kemampuan jadi Kristen lebih baik dari yang lain”, lepas dari benar atau tidak, perasaan itu sudah menjadi dosa. Kalau Saudara memang lebih baik dari orang Kristen lainnya, mengerti banyak hal, itu bagus, tapi kesombongan menganggap “ini adalah kualitas yang mengangkat saya”, itulah yang menjadi dosa orang Farisi. Maka kesombongan menjadi bagian yang ditegur oleh Tuhan Yesus dalam diri orang Farisi, bukan karena dia melakukan tindakan dosa, tapi karena kebiasaan meremehkan yang lain, kebiasaan menganggap rendah yang lain. Dan ini terjadi karena ada pengakuan terhadap kerohanian yang besar. Maka kesalahan Farisi adalah kesombongan dengan merasa dirinya lebih baik dari yang lain oleh sebab pencapaian yang dia sudah miliki. Harap kita semua diamankan atau dihindarkan oleh Tuhan dari perasaan hati seperti ini. Dan seringkali kita menghakimi orang lain dengan ide yang muluk-muluk tanpa kita sendiri tahu kita sangat sulit untuk jalankan. Kita merasa diri kita aman karena sudah punya idenya, sekarang orang lain harus jalankan secara real, dan itulah yang dilakukan orang Farisi.

Itu sebabnya bagian kedua tentang pemungut cukai memberikan pelajaran sangat baik bagi kita. Ayat 13, “tapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, lalu pukul diri dan mengatakan: kasihani aku orang berdosa ini”. Ini orang yang mengerti keadaan manusia secara real, di hadapan Tuhan manusia begitu bobrok, di hadapan Tuhan semua kekacauan kita terbongkar. Waktu kita makin kenal Tuhan, kita makin kenal diri kita yang rusaknya seperti apa. Calvin mengatakan makin kenal Tuhan, makin kita tahu bobroknya diri. Alasan kita tidak tahu berapa berdosanya kita adalah kita tidak punya ide berapa kudusnya Tuhan itu. Maka pemungut cukai ini menjadi teladan dengan menyadari posisinya dengan tepat. Orang yang menyadari posisinya dengan tepat, tidak akan tuntut orang lain berdasarkan tuntutan yang tidak real. Tetapi akan bergumul bersama dengan orang lain untuk menjalankan kekudusan dengan setaat mungkin. Inilah prinsipnya orang berdosa memimpin orang berdosa orang lain. Saya tahu ini berat, tapi mari kita jalani sama-sama. Saya tahu ini berat, tapi mari kita saling tegur. Saya tahu ini berat, tapi mari kita saling membimbing supaya kita bisa saling bertumbuh di hadapan Tuhan. Bukan saling melihat dimana kita berada dan menghina orang lain yang belum berada di dalam level kita. Maka Yesus mengingatkan bahwa doa untuk memulihkan kerajaan itu penting, doa untuk mengharapkan Kerajaan Tuhan dipulihkan itu baik, tapi bagaimana relasimu dengan sesama? Dan relasi dengan sesama umumnya rusak karena Saudara meletakan diri terlalu tinggi dan meletakan orang lain terlalu rendah. Orang lain hina dan diri mulia. Diri disakiti, Saudara bisa benci orang selama-lamanya, diri dipuji, Saudara bisa hargai orang itu selama-lamanya. Diri menjadi referensi terlalu kuat, terlalu besar dan akhirnya merusak kita dengan sesama. Maka biarlah kita belajar. Gereja kita adalah yang Tuhan percayakan banyak hal dan saya melihat potensi yang sangat merusak adalah kerusakan di dalam menerima orang lain. “Saya tidak nyaman dengan orang lain, saya hina orang lain, saya tidak suka orang lain, saya tidak suka mereka”, akhirnya kita tidak pernah bisa menjadi orang yang relasinya dengan Tuhan itu sangat memberkati kita. Makin dekat dengan Tuhan, makin rindu perbaikan relasi di dalam kehidupan sehari-hari. Ayat 14 mengingatkan kita, pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, dia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan. Ada kalimat penting dari seorang pengkotbah, untuk merendahkan diri kita perlu kualitas tinggi dan itu yang kita kejar. Karena kerendahan hati untuk menempatkan diri sama penting dengan orang lain itu sangat perlu.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)