Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Berita Penting dari Kebangkitan Kristus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Berita Penting dari Kebangkitan Kristus

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 24: 36-53)
Yesus menampakan diri kepada para murid, dan Dia menunjukan hal yang sangat penting. Dia menunjukan bahwa Dia adalah Kristus yang bangkit secara fisik. Kebangkitan secara fisik ditekankan dalam Kitab Suci. Kitab Suci tidak memberikan ruang untuk kita menafsirkan bahwa kehidupan roh tanpa tubuh itu lebih penting. Itu tidak ada dalam berita Kitab Suci. Kitab Suci tidak mengajarkan setelah kita mati, kita selama-lamanya hidup sebagai roh, harap ini diingat baik-baik. Ajaran platonis, ajaran yunani, dan juga ajaran dari gnostik, ajaran dari kelompok-kelompok neo-platonis sangat mempengaruhi ajaran Kristen dengan ide yang kacau seperti ini. Jadi kalau Saudara berpikir kehidupan kita di dalam kekekalan adalah roh tanpa fisik, Saudara sedang percaya ajaran gnostik, proto-gnostik, atau neo-platonik atau platonik atau pythagorean dan juga ajaran yunani mulai dari Yunani Klasik dan juga Yunani Kuno, tapi bukan dari Kristen. Kekristenan tidak percaya bahwa nasib manusia dan hidup final adalah dalam bentuk roh. Alkitab mengajarkan nasib final atau keadaan sempurna nanti ada di dalam kebangkitan tubuh, bukan roh. Sehingga ketika Saudara mati, roh Saudara pergi ke Tuhan di sorga, itu pun masih penantian. Sorga tempat penantian? Iya. Dan realita final yang sempurna adalah kebangkitan tubuh. Itu sebabnya di dalam 1 Korintus 15, Paulus menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah yang pertama dari yang banyak, ini yang sulung. Karena Kristus bangkit, kamu pun akan memperoleh kebangkitan. Paulus tidak mengatakan “karena Kristus bangkit kamu akan memperoleh hidup kekal”, karena hidup kekal bisa dipahami dengan cara yang salah. Apa hidup kekal? “hidup kekal itu roh saya kekal selamanya”, bukan. Hidup kekal adalah kebangkitan, maka Paulus mengaitkan hidup kekal dengan kebangkitan. Dan dia mengatakan “sia-sia kamu jadi orang Kristen kalau kamu tidak percaya Yesus bangkit”, dengan kata lain Paulus sedang mengatakan “sia-sia kamu jadi orang Kristen kalau kamu tidak percaya kebangkitan”. Apa itu kebangkitan? Kebangkitan itu dari keadaan mati menjadi bangkit, bukan dari satu mode ke mode lain. Ulat jadi kupu-kupu itu bukan bangkit, karena kupu-kupu tidak dibangkitkan dari ulat, kupu-kupu bermetamorfosis dari ulat. Manusia tidak bermetamorfosis jadi roh. Manusia diberikan tubuh dan akan, bahkan harus mempercayai kebangkitan tubuh. Sehingga perkataan Paulus harus kita pahami dengan benar, yang tidak percaya kebangkitan tubuh meresikokan iman Kristen menjadi sia-sia. Paulus mengatakan “sia-sia iman Kristenmu, sia-sia kami berjuang, sia-sia kamu percaya kepada Yesus, jika kamu tidak percaya Yesus bangkit maka kamu tidak percaya kamu akan bangkit”, dan dengan demikian sia-sialah iman Kristen. Ini berita yang jelas, kalimatnya tidak missleading, kata-kata yang dipakai tidak double meaning. Tapi heran, orang Kristen tidak mengerti waktu membacanya. Banyak orang Kristen baca 1 Korintus 15, itu bicara tentang roh, bukan tubuh, “jika kamu tidak percaya Yesus bangkit, maka kamu tidak percaya kamu punya hidup selamanya di sorga dalam bentuk roh”, itu bacaan dari mana? 1 Korintus 15 tidak menyatakan demikian. Maka ada sesuatu yang salah dalam Kekristenan dalam beberapa puluh terakhir. Ini bukan Kekristenan yang dari dulu. John Calvin percaya kebangkitan tubuh, Martin Luther percaya kebangkitan tubuh, bahkan Martin Luther dikritik oleh Calvin karena Martin Luther tidak percaya realita roh. Maksudnya adalah Luther percaya setelah kita mati, kita tidur. Lalu waktu kita kita dibangkitkan, kita tidak sadar sudah berapa lama kita tertidur, tahu-tahu sudah bangkit, ini pengertian Luther. Jadi kalau Saudara mati nanti, tidak sadar, tiba-tiba sadar, sudah dunia yang baru. Meskipun Saudara mati dan jarak kematian Saudara sampai dunia yang baru itu ratusan tahun tapi tidak terasa, terasa seperti kedipan mata. Tapi Calvin kritik dengan mengatakan Alkitab tidak pernah membicarakan orang yang sudah mati itu tidak sadar. Alkitab membicarakan setelah orang mati, dia masih sadar. Dia bisa dalam kesadaran di sorga atau di neraka. Tapi kesadaran di sorga, roh di sorga itu bukan selamanya. Kebangkitan tubuh akan menyusul kemudian. Jadi ini tema yang indah, penting dan juga akan membawa pengharapan di sorga untuk dibawa ke bumi. Itu sebabnya Alkitab sangat ngotot menekankan Yesus bangkit secara fisik. Dan 1 Korintus 15 juga menekankan hal yang sama, kalau kamu tidak percaya Yesus bangkit, maka sia-sialah imanmu dan percuma aku sudah mengorbankan diri masuk ke dalam pelayanan yang penuh bahaya kalau aku tidak percaya bahwa Kristus bangkit. Dan kalau Kristus tidak bangkit, kita juga tidak bangkit, sia-sialah iman kita. Ini semua berita penting yang harus kita pahami, baru kita mengerti esensi dari kebangkitan Kristus.

Mengapa setelah Kristus bangkit Dia terus menampakan diri? Dia menampakan diri karena Dia ingin orang tahu bahwa Dia bangkit secara fisik. Padahal bisa saja Yesus mati, tubuhNya dikubur, tapi rohNay melayang kemana-mana. Dia menunjukan diri “lihat, meskipun tubuhKu mati, rohKu hidup”, lalu murid-murid kaget “ternyata Plato yang selama ini benar”, lalu Yesus menunjukan diriNya hidup meskipun tubuhNya dikubur. Dia mengatakan “tubuh tidak penting, lihat tubuhKu akan membusuk dan hilang. Tapi yang penting adalah realita roh”, Yesus yang roh hidup, Yesus yang tubuh mati, apakah begitu? Tidak. Dia ngotot menyatakan kehadiran fisikNya. Tapi di dalam Lukas, kehadiran fisik Yesus tidak sama dengan fisik sebelum Dia bangkit. Katanya tadi sama? Ada samanya ada bedanya. Kalau semuanya sama, maka Saudara akan menikmati kelanjutan hidup bukan kebangkitan. Kebangkitan bukan kelanjutan hidup, kebangkitan adalah tahap sempurna dari hidup. Kebangkitan adalah hidup yang dilanjutkan tapi dalam realita yang sempurna, yang sekarang belum kita miliki. Itu sebabnya di dalam Injil Lukas ditekankan ada keadaan Yesus yang dikenal juga sekaligus ada keadaan yang seperti penampakan. Saya sudah pernah membahas ini di dalam tema kebangkitan pada pertengahan tahun ini. Yesus bangkit tetapi kebangkitanNya adalah kebangkitan yang menunjukan diri yang beda sebelum Dia mati. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang beda dengan Yesus yang mati dalam pengertian kali ini Dia menunjukan diri bisa dengan keadaan yang tidak dimengerti, Dia bisa menunjukan diri mendadak di tengah-tengah kumpulan orang, Dia bisa mendadak menghilang dari tengah-tengah kumpulan orang. Tetapi meskipun Yesus yang sepertinya berbeda ini menyatakan Diri dengan cara yang lain, Dia juga menunjukan bahwa Dirinya tetap diri yang sama. Jadi kalau Saudara baca di ayat-ayat sebelumnya, ayat 30-49, Saudara akan menemukan sepertinya ada hal yang berkontradiksi. Di dalam ayat-ayat sebelumnya Yesus digambarkan seperti penampakan, mendadak datang ketika dua orang sedang berjalan, lalu dua orang itu tidak kenal siapa ini, ajak bicara, lalu ajak makan malam bersama, dan ketika Dia memecahkan roti, baru mereka sadar ini Yesus, dan tiba-tiba Yesus hilang. Ini seperti penampakan. Ini penampakan atau realita? Ini Yesus yang di dalam sejarah atau Yesus yang cuma pernyataan seperti penampakan saja? Di dalam cerita itu sepertinya kesimpulannya adalah bahwa Yesus hanya menampakan realita yang lain bukan yang lama itu. Tapi waktu kita baca ayat 36 sekarang dinyatakan realita yang lama itu. Yesus mengatakan “lihat ada bekas paku kan? Hantu tidak punya tubuh”, sekarang dikasi makan ikan goreng, Dia masih makan ikan. Coba bayangkan Yesus dan murid-murid dan ikan, ini sering berulang. Itu sebabnya ketika kita melihat Kekristenan mula-mula, kata Yesus disingkatkan menjadi sama dengan bahasa Yunani untuk ikan. Artinya bukan Yesus sama dengan ikan, tapi ikan menjadi simbol Kekristenan mula-mula, karena kemiripan akronim dari pengakuan iman Kristen dengan kata ikan dalam bahasa Yunani. Tapi ternyata dalam Kitab Injil juga sering kali murid dan Yesus bertemu, dan ada teman lain yang namanya ikan. Ketika Yesus memanggil murid-murid pertama, mereka sedang menjala ikan tapi tidak dapat, setelah Yesus ada di tengah mereka, mereka dapat ikan yang banyak. Ini yang sering diselewengkan menjadi teologi sukses, jika Yesus hadir, ikannya banyak. Lalu di dalam bagian akhir masih sama, Yesus bertemu dengan para murid dan Dia meminta ikan untuk dimakan, Dia makan di depan para murid. Yang Kitab Lukas mau bagikan adalah bahwa ini Yesus yang mati sekarang bangkita secara fisik. FisikNya ada dalam keadaan yang sudah dibangkitkan. Tapi kebangkitan itu tetap memiliki nuansa yang melampaui apa yang kita tahu sekarang. Seorang teolog bernama Soskice mengatakan bahwa ketika Saudara dan saya punya pengharapan, pengharapan itu melampaui apa yang kita pikir kita tahu. Lalu seorang hali Perjanjian Lama bernama Brueggemann, dia mengatakan bahwa seluruh tulisan apokaliptik atau akhir zaman selalu bersifat simbolik. Bersifat simbolik supaya Saudara bisa menangkap kira-kira apa yang akan terjadi, tapi tidak bisa menjelaskannya secara detail. Ada gambaran tapi tidak ada penjelasan terlalu detail, ada gambaran tapi bukan berbentuk deskriptif, tidak menggambarkan ciri-ciri yang terjadi. Maka Brueggemann mengatakan karya apokaliptik atau tulisan-tulisan tentang akhir zaman atau zaman akhir adalah tulisan nubuat. Dan nubuat bukan prediksi. Prediksi berarti ada pernyataan akan terjadi ini, dan terjadi. Nubuat bukan prediksi, nubuat mengandung prediksi tetapi nubuat bukan hanya prediksi. Nubuat menyatakan sesuatu yang tidak ada padanannya sekarang. Bagaimana menjelaskan sesuatu yang tidak ada padanannya? Hanya mungkin dengan memakai simbol. Saya sering mengatakan bahwa Tuhan memakai bahasa yang sifatnya simbolik karena Tuhan memunyai begitu banyak kata atau cara menyampaikan di dalam bentuk kalimat. Tapi kita seringkali terbatas menyampaikan sesuatu yang seperti tidak ada padanannya. Tuhan pakai gambaran simbolik. Ada begitu banyak bahasa simbolik untuk menunjukan kamu akan mengerti, tapi kamu tidak akan mengerti total. Ada banyak hal yang sulit dipahami meskipun ada hal-hal yang kamu mengerti juga. Yang sulit dipahami karena yang sulit dipahami ini adalah sesuatu yang lebih besar dari yang kita bisa antisipasi. Kebangkitan adalah realita yang melampaui antisipasi kita. Saudara dan saya tidak akan tahu akan jadi seperti apa kebangkitan itu. Tapi Saudara dan saya diberi tahu bahwa kebangkitan itu melanjutkan hidup kita yang sekarang. Inilah keunikan dari berita Alkitab, maka kita akan punya kontinuitas, kelanjutan sekaligus dis-kontinuitas, ada hal baru yang akan dinyatakan pada waktu itu. Inilah yang Lukas gambarkan dalam peristiwa kebangkitan Yesus.

Pada waktu Yesus bertemu para murid, Dia berseru “damai sejahtera bagi kamu”, ini ada di dalam Lukas, juga Yohanes. Yesus berseru “damai sejahtera bagi kamu”. Apa artinya damai sejahtera bagi kamu? Saudara ingat di dalam Kitab Suci yang tinggi memberi damai sejahtera kepada yang lebih rendah. “Damai kiranya ada padamu”, bukan yang rendah yang minta ada damai pada yang tinggi. Di dalam agama lain, yang tinggi diharapkan dapat damai, “oh bapak ini kiranya damai ada padamu”, siapa yang memberi damai? Masa pengikut mengharapkan damai bagi nabi? Itu tidak benar. Nabi mengharapkan damai bagi pengikut, itu baru benar, “peace be upon you”. Yesus yang bilang kepada murid, bukan murid yang mengatakan “aku mengikut Yesus, peace be upon Him”, tidak. Jadi damai diberikan dari yang tinggi kepada yang rendah, bukan dari yang rendah kepada yang tinggi. Di dalam Kitab Suci, Allah adalah Allah yang memberi diri kepada manusia, self-giving love, self-giving action, self-giving adalah ciri dari Tuhan. Tuhan akan memperbaiki diri dengan cara memberi diri. Bukan cuma memberi perkataan, bukan hanya dengan memberi kuasa dari tempat tinggi, tetapi memberi diri. Bisakah Tuhan memperbaiki semuanya hanya dengan berkata dan bertindak dari sorga? Bisa. Mengapa Dia tidak melakukan itu? Karena bagi Tuhan semua yang ada di bumi akan dibereskan melalui self-giving dari Tuhan. Tuhan bertindak memberi diri. Itu sebabnya Paulus mengatakan di dalam Roma, “jika kamu mau jadi milik Tuhan, persembahkanlah tubuhmu”. Apa itu persembahkan tubuh? Saudara adalah tubuh Saudara. Ini perkataan yang unik dari seorang bernama Gabriel Marcel, satu filsuf Prancis yang sangat unik. Dia mengatakan bahwa engkau memiliki sesuatu yang diluar dirimu, tapi engkau satu dengan apa yang tidak lagi di luar dirimu. Tuhan menuntut siapa kamu akan diwujudkan lewat tubuh, lewat tindakan real yang kelihatan. Itu sebabnya ketika Tuhan menyatakan panggilan kepada kita, Tuhan mau kita berespon dengan tubuh kita yaitu seluruh diri kita. Tapi ini merupakan tindakan yang tidak dimulai dari manusia, ini adalah tindakan yang dimulai dari Tuhan. Tuhan mengasihi? Iya, apa tandanya Tuhan mengasihi? Dia memberi diriNya, self-giving. Ini pengertian penting yang perlu kita kenal dari Tuhan kita. Itu sebabnya ketika Yesus mengatakan “damai sejahtera bagimu”, Dia menyatakannya sambil menunjukan diriNya hidup, “Aku ada, Aku hidup, Aku sudah memberi diri bagi kamu dan Aku terus akan memberi diri bagi kamu”.

Di dalam bagian ini kebangkitan Kristus memberi makna banyak sekali. Saya akan membahas beberapa poin yang lebih penting saja. Yang pertama adalah kebangkitan Kristus menunjukan bahwa tindakan memberi diri itu tidak pernah sia-sia. Yesus mati di kayu salib, itu hal bodoh menurut pandangan orang. Tapi kebangkitanNya menunjukan tindakan Dia memberi diri sangat bijaksana. Orang yang tahan berkat untuk diri, hidup untuk diri, cari keuntungan untuk diri, memperkaya diri, mau menyenangkan diri, hanya pikir diri terus, dia akan sadar kebangkitan tidak ada makna buat dia. Kekristenan tidak akan ada makna untuk orang yang hanya pikir diri. Tapi ketika orang punya kehidupan yang bertindak dengan memberi diri, pada waktu semua orang mengatakan “bodoh kamu memberi diri seperti itu”, kebangkitan Kristus akan mengkonfirmasi bahwa tindakan dia benar. Semua orang geleng kepala dan mengatakan “jika Engkau Mesias, mengapa rela mati di kayu salib? Jika Engkau memang Mesias, mengapa harus mati? Jika Engkau adalah Raja, mengapa mesti dihina? Jika Engkau adalah Pemimpin yang akan datang itu, mengapa Engkau rela dihancurkan oleh pemimpin dunia?”. Tapi kerelaan Dia terbukti benar karena Dia bangkit. Maka kebangkitan menunjukan tindakan self-giving tidak pernah sia-sia. Itu yang Paulus maksudkan di dalam 1 Korintus 15, mengapa tindakan pelayanan kita tidak sia-sia? Karena self-giving Kristus terbukti tidak sia-sia. Itu sebabnya kebangkitan Kristus menunjukan kepadamu, hidup pelayananmu tidak sia-sia. Itu sebabnya 1 Korintus 15:58 tidak boleh dipisah dari kebangkitan tubuh. Tapi biasanya orang kutip ayat ini tanpa tahu konteks, “jadi saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh jangan goyah dan giatlah selalu di dalam Tuhan, karena kamu tahu dalam persekutuanmu dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia”. Kalau ada orang tanya “mengapa tidak sia-sia?”, Paulus akan menjawab “karena ada kebangkitan”, “mengapa kebangkitan membuat tidak sia-sia?”, lihat Yesus, Dia sudah menghabiskan semuanya di kayu salib, tidak sia-sia. Kamu habiskan apa yang tidak akan sia-sia? Tidak akan, kecuali dihabiskan untuk diri. Apa pun yang kamu jalani tidak akan sia-sia kalau itu untuk Tuhan karena ada kebangkitan, Yesus sudah memberi bukti. Kebangkitan Yesus menunjukan segala yang Dia kerjakan sampai salib itu tidak sia-sia, ada kebangkitan. Kalau orang Kristen tidak percaya kebangkitan, orang Kristen tidak mungkin total dalam menjalankan hidup.

Hal kedua, kita bisa lihat di ayat selanjutnya “mereka terkejut dan takut karena menyangka mereka melihat hantu”. Kita sudah sangat familiar dengan hantu karena bioskop dan film-film Indonesia. Kita akan ingat semua tradisi hantu-hantu yang ada. Kita selalu melihat hantu dengan pengertian yang ada di dalam tradisi kita, tradisi Tionghoa, tradisi Sunda, tradisi Jawa, tradisi Betawi atau apa pun. Tetapi hantu tradisi Yahudi itu apa? Ini yang perlu kita tahu. Adakah tradisi hantu versi Yahudi? Di dalam tradisi Yahudi, hantu adalah keberadaan yang tidak jelas ada di bumi atau di sorga. Jadi hantu itu tidak tentu menakutkan, hantu itu semacam pernyataan yang bisa dinyatakan untuk menghina seseorang atau seluruh keberadaan dari orang itu. Misalnya ada orang sudah mati, dia ditolak untuk rohnya bisa berada di sorga dan di dunia mati dia tidak tenang, maka dia bisa gentayangan. Gentayangan bagi orang Yahudi adalah tanda bahwa dia tidak memiliki identitas yang jelas, apakah sorga atau bumi. Kita harus tahu mengapa kalau gentayangan itu tidak jelas? Pengertian ini akan mengagetkan Saudara, karena bagi orang Yahudi, jelas di sorga sama dengan jelas di bumi. Kalau identitasmu jelas di sorga, engkau pasti akan jelas di bumi. Kalau identitasmu benar di sorga, engkau akan benar juga di bumi. Jadi bagi orang Yahudi, sorga itu bukan antara kelihatan atau tidak kelihatan. Sorga adalah sesuatu yang akan dikonfirmasi dengan keadaan di bumi. Itu sebabnya orang Yahudi percaya karena Tuhan menyukai Israel, Tuhan memberkati Israel, maka Israel akan punya tanah yang kaya susu dan madunya, dan itu harus ditafsirkan fisik, bukan secara rohani. Jangan sampai kita tafsirkan rohani, apa itu susu dan madu secara rohani? Susu dan madu itu berkait dengan pelayanan dan firman, tidak seperti itu. Ini susu dan madu secara literal, kehidupan yang penuh dengan kelimpahan secara fisik. Mereka akan dapat tanah yang sangat subur, hasil yang begitu melimpah, mereka akan dapat hidup yang sangat enak. Karena perkenanan sorga akan membuat bumi diberkati. Itu sebabnya kita bisa berharap ketika Tuhan memulihkan bumi, keadaannya akan limpah bukan main. Tapi segala yang indah itu sudah Tuhan mulai sekarang. Ini pengertian Kristen, apa pun yang Tuhan mulai tidak bersifat “hantu”, Tuhan tidak memberikan berkat “hantu”, Tuhan tidak menyatakan kehadiran “hantu”, kehadiran Tuhan sifatnya tidak pernah abstrak. Saudara bisa lihat dair Perjanjian Lama, ketika Tuhan hadir, Tuhan hadir dalam bentuk tiang awan, tiang api, atau dalam kemah suci, dalam bentuk awan. Tuhan tidak pernah hadir dalam cara yang membuat orang ragu “Tuhan ada atau tidak ada”. Dalam zaman akhir, dalam Surat Ibrani dikatakan Tuhan hadir dalam diri Kristus. kehadiranNya jelas sekali. Dan kebangkitan Kristus menunjukan bahwa perbaikan yang Tuhan akan kerjakan di bumi adalah perbaikan yang real, bukan bersifat “hantu”. Sehingga Tuhan Yesus terus menekankan “Aku bukan hantu, Aku ada tubuhNya”. Mereka terkejut mengatakan “oh, ada hantu”, lalu Yesus mengatakan “lihat tanganKu dan kakiKu, Aku sendiri ini”. Ini bukan keberadaan yang tidak jelas, dalam bahasa Inggris ada istilah stealth, stealth itu berarti ada dan tidak ada bergabung. Seperti ada tapi tidak ada, tidak kelihatan, itu namanya stealth. Tuhan tidak menyatakan kehadiran yang tidak terlalu ber-impact. Demikian juga kehadiran Bapa maupun kehadiran Anak, dan juga kehadiran Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus tidak pernah datang dengan keadaan mirip hantu. Kehadiran Roh Kudus adalah kehadiran real dan merubah. Maka kehadiran Kristus pun sama, ketika orang mengatakan “ini hantu, ini benar atau tidak?”, Yesus mengatakan “berikan Aku ikan goreng. Raba Aku dan berikan Aku ikan”. Saudara jangan pikir Yesus minta ikan cuma sekedar ngomong untuk memberikan contoh. Yesus mau menyatakan ada persekutuan makan bersama dengan murid. Mirip dengan yang Dia lakukan sebelumnya dengan murid-murid di Emaus. Dia menyatakan “kamu bisa kenal Aku karena kita bersekutu”, itu maksudnya. “Pegang Aku dan kita bersekutu makan sama-sama, kamu akan tahu Aku adalah Yesus”. Kehadiran Yesus itu berimpact dan kelihatan di dalam dunia real yang fisik. Kehadiran gereja seharusnya juga begitu. Kehadiran gereja bukan kehadiran hantu. Gereja tidak hadir di tengah Indonesia untuk menjadi hantu. Tapi bagaimana kita tidak jadi hantu kalau kita hidup dengan cara yang stealth, seperti hantu, tidak berdampak, tidak kelihatan, hanya tinggal tunggu dipanggil mati masuk sorga. Kita terus membanggakan sorga sudah jadi milik kita, tapi kita tidak punya gairah untuk menjadikan bumi mirip sorga. Kristus tidak pernah menyatakan kehadiran yang tidak berimpact kepada murid-murid, Dia menyatakan diriNya hadir secara fisik. Dan kebangkitan yang secara fisik ini akan menjadi yang awal dari seluruh kebangkitan yang lain, yang akan dialami baik oleh orang percaya maupun oleh ciptaan Tuhan, bumi ini. Jadi akan ada perubahan yang sangat dahsyat dan itu dimulai dari kebangkitan Kristus, ini hal kedua yang bisa kita lihat. Kristus mengatakan “lihat kakiKu, lihat tanganKu, rabalah Aku, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat ada padaKu”. Sambil berkata demikian, Dia memperlihatkan kepada mereka tangan dan kakiNya.

Mengapa di tangan dan kaki Yesus masih ada luka? Misalnya kalau kita mati karena ledakan di pesawat, maka waktu kita bangkit, masih serpihan kah? Karena Yesus mati dengan bekas luka di tangan dan kaki, berarti kalau kita bangkit masih ada bekas lukanya kah? Tentu tidak, Saudara jangan khawatir, Saudara meninggal dengan cara apa, bangkitnya tidak akan terus bawa sisa-sisa penderitaan itu. Karena kematian Saudara tidak semulia kematian Kristus. Kita pasti mengalami kematian, tapi kebangkitan kita tidak akan digerogoti atau ditarik terus oleh apa yang membuat kita mati. Sedangkan Yesus mati sebagai perwakilan manusia, sehingga seluruh tanda kemuliaan Dia dari matinya di kayu salib akan menjadi lambang kemuliaan. Ini bukan lagi tanda kematian, ini adalah lambang kemuliaan. Bekas paku di tangan dan kaki Yesus adalah tanda kemuliaanNya. Dengan cara inilah gereja Tuhan dibeli dan oleh sebab itu bekas luka akan terus ada. Maka Yesus menunjukan tangan dan kakiNya dan juga makan di depan murid-murid. Dan mereka akhirnya menyadari ini Yesus. Di tengah suasana sukacita tapi juga penuh ketakutan, Yesus membukakan pikiran mereka, ini ada di ayat 45. Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Dia menjelaskan apa yang pernah Dia bagikan, dan sekarang murid-murid mengerti. Mengapa sekarang mereka mengerti? Karena Yesus yang bangkit sudah ada di depan mereka, sehingga mereka sadar inilah Yesus yang menyatakan diri sebagai Juru Selamat dan sekarang bangkit. Mereka begitu bersukacita karena pengampunan dosa dan penaklukan kematian sudah dijalankan oleh Yesus. Yesus mati di kayu salib dan menyelesaikan seluruh hal yang akan membuat orang milik Tuhan diselamatkan bagi Tuhan. Maka Yesus mengatakan di ayat 47, berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem, kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Hal ketiga yang perlu kita ketahui dari kebangkitan Yesus adalah bahwa kebangkitan inilah yang membuat kita bisa melanjutkan berita tentang saksi. Saksi adalah orang yang sudah melihat, lihat Yesus bangkit dan saksi ini memberitahu kepada yang lain, lalu orang lain menerima berita ini memberitahukan kepada yang lain lagi, sehingga berita tentang Yesus bisa menyebar ke semua orang. Jadi saksi akan memberitahukan “kami sudah lihat”, lalu orang yang terima berita dari saksi percaya kepada Yesus dan setelah mereka percaya kepada Yesus, mereka perlu diberikan pengertian dari Kitab Suci yang Yesus lakukan. Yesus bangkit disaksikan para saksi. Para saksi menyaksikan Yesus kepada orang-orang lain. Bagaimana mereka menyaksikan? Mereka mengatakan “kami lihat sendiri, kami sendiri alami, kami sentuh sendiri”, setelah mereka menyatakan demikian, orang akan percaya karena kesaksian para rasul, bagi mereka yang akan percaya tentunya. Setelah mereka percaya, mereka perlu dibukakan tentang Kitab Suci, seperti yang Yesus sudah kerjakan kepada para murid. Ini dua hal yang penting untuk kita pahami. Yang pertama berita saksi, yang kedua pengertian dari Kitab Suci. Di dalam Perjanjian Lama sudah dikatakan tentang ini, sudah dinubuatkan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit. Saya pernah membahas ini dari Mazmur 22, Yesaya 52 dan 53, Yesaya 24-26, semuanya memberitakan harusnya ada kematian. Kematian adalah keharusan untuk munculnya tunas yang baru itu. Waktu kita akses Kitab Suci, kita tahu para saksi benar. Tapi akses Kitab Suci akan kita lakukan setelah kita mempercayai para saksi. Itu sebabnya kesaksian itu sangat penting. Yesus mengatakan kita harus menjadi saksi. Tapi saksi tidak bisa dipegang perkataannya kalau dia tidak punya otoritas hidup yang bisa dipercaya. Itu sebabnya ketika Yesus menunjukan diri kepada mereka, Yesus juga memanggil mereka menjadi saksi. Dan menjadi saksi berarti mampu menyampaikan berita yang dipercaya oleh karena berita itu benar pada dirinya sendiri dan oleh karena saya sendiri tidak pernah menghabiskan waktu membicarakan hal-hal yang tidak penting dari mulut saya. Itu sebabnya ketika Yesus memanggil para murid, Dia mengatakan “kamu adalah saksi, Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa yaitu Roh Kudus. Kamu akan menjadi saksi dan kamu akan diberikan Roh Kudus. Roh Kudus akan memakai kamu untuk menyaksikan kebenaran itu”. Tugas kita sebagai saksi adalah pelihara supaya setiap kali kita saksikan apa dari mulut kita, kita menyatakan hal yang bisa dipercaya. Jangan ada kebohonga, jangan ada hal-hal yang hanya mengungkapkan emosi belaka, jangan ada perkataan yang tidak penting. Di dalam Kitab Suci terus ditekankan jangan ada perkataan yang tidak penting atau sia-sia keluar dari mulutmu, melainkan dengan penuh kasih Tuhan, dengan penuh keramahan, hendaklah kamu penuh kasih mesra satu dengan yang lain. Saling mengasihi seperti Yesus sendiri sudah mengasihi kamu. Perkataan ini dari Paulus. Mulut saya adalah mulut saksi, dan sebagai saksi saya tidak boleh sembarangan memakai mulut saya. Saudara terbiasa memaki-maki orang, tiba-tiba memberitakan Injil, mana ada orang mau percaya? Itu akan membuat Saudara menjadi saksi yang sulit diandalkan. Ketika kebangkitan Kristus menyatakan bahwa kehadiran Tuhan, the present of our Lord adalah kehadiran yang menuntut kepada kebenaran. Yesus mengatakan “ini Aku”, dengan mulutNya, “Aku bangkit”, dengan mulutNya dan dengan seluruh tubuhNya. Demikian Dia ingin para murid untuk mewujudkan berita Injil tentang Yesus, diwujudkan dalam hidup. Sehingga baik perkataan maupun hidup dengan utuh mem-back up apa pun yang mau disaksikan oleh gereja Tuhan tentang Kristus. Mari jadi gereja yang bisa dipercaya. Bangsa ini adalah bangsa yang berkali-kali dikecewakan oleh gereja Tuhan. Berkali-kali ditipu oleh gereja Tuhan. Gereja mengumpulkan banyak orang, tapi mengajarkan hal-hal yang penuh kepalsuan. Gereja menawarkan bantuan yang palsu, semua niat yang palsu untuk menarik orang menjadi Kristen, tapi tidak pernah mendidik orang untuk benar-benar menjadi Kristen. Gereja menawarkan cara kebaktian yang penuh dengan kemunafikan, tarik anak muda untuk menyukai musik yang sangat tidak mendukung berita cinta Tuhan kepada manusia. Gereja penuh dengan skandal, penuh dengan pertengkaran, gereja berkelahi memperebutkan sekolah karena sekolah punya banyak uang, gereja dituntut karena pendeta menyelewengkan uang jemaat, gereja sudah terlalu banyak melakukan hal yang membuat gereja tidak bisa dipercaya. Dan untuk membeli kembali kepercayaan, susahnya bukan main. Itu sebabnya kita harus jadi orang yang mengerti Yesus yang bangkit mengutus saya, saya harus menjadi saksi, saya harus membawa berita, saya harus menghidupi berita itu. Berhenti mengeluarkan kalimat yang tidak penting dari mulutmu, karena mulutmu adalah mulut yang dipakai Tuhan untuk mengkhotbahkan Kristus di dalam percakapan sehari-hari. Yang sudah dikuduskan untuk Tuhan, jangan diberikan ke setan. Yang sudah dikuduskan untuk Kristus, jangan diberikan kepada mamon, jangan diberikan kepada emosi hati dan juga kecemaran-kecemaran lain. Kalau Saudara dengan sesukanya menggunakan mulut, Saudara bersalah kepada Tuhan karena Saudara adalah saksi Tuhan.

Yang menjadi saksi apakah hanya para murid yang melihat Yesus langsung? Bukan, tetapi semua orang yang menerima kesaksian para murid juga menjadi saksi. Dari mana saya tahu hal ini? dari ayat 49, Yesus mengirimkan apa yang dijanjikan dari Bapa yaitu Roh Kudus. Dan Roh Kudus membuat pengalaman para murid menjadi pengalaman langsung kita juga. Ini doktrin Roh Kudus yang penting untuk kita pahami. Roh Kudus membuat kehadiran pengalaman real dari satu kepada yang lain. Apa yang dialami Kristus, kita alami dengan real karena kehadiran Roh Kudus. Maka pengalaman para murid di abad pertama melihat Yesus bangkit akan disatukan dengan pengalaman kita melalui Roh Kudus. Karena ada Roh Kudus dalam diri kita maka kita adalah saksi yang sama dengan para murid di abad pertama. Kalau begitu kita pun punya mulut yang dikhususkan untuk Kristus, kita punya mulut yang dikuduskan untuk Tuhan kita. Mulai hari ini harap ingat dengan baik, mulai hari ini kita khususkan mulut kita hanya untuk hal yang menyatakan Injil Kristus dan apa pun yang menunjang hal itu. Jangan lagi keluarkan kalimat yang tidak penting, jangan lagi berbicara tanpa berpikir. Jangan jadikan mulut sekedar luapan untuk hati. Yesus pernah mengatakan kalau dari hatimu keluar yang jahat, lalu keluar dari mulutmu, maka kamu adalah orang yang akan dikutuk, diharamkan, dijadikan najis. Perkataan Yesus ini penting. Contohnya Saudara makan daging babi, masuk ke dalam perut, jadi najis? Tidak. Saya tertarik dengan perkataan satu orang yang punya panggilan untuk menginjili orang-orang Sunda, dia mengatakan “jika Paulus mengatakan: aku tidak akan makan daging lagi untuk memenangkan orang”, orang Kristen juga harus belajar untuk tidak makan makanan yang diharamkan untuk memenangkan orang lain. Kita harus belajar hal ini, menganggap apa yang menjadi bagian yang masuk ke dalam badan saya bukan hal yang penting. Tapi kalau makanan itu akan menyusahkan orang dan menjatuhkan orang lain, kita mesti menahan dari memakan apa pun yang membuat pelayanan kita tidak efektif. Orang sering salah mengerti bahwa saya adalah orang yang sangat senang makan babi. Saya tidak punya makanan favorit, saya bukan tipe orang yang punya keinginan harus makan ini atau itu, apa pun boleh makanya gemuk. Kalau di rumah cuma ada tempe, itu tidak masalah. Kita mesti melatih diri untuk tidak dikuasai oleh keinginan yang tidak terlalu penting, “saya sangat ini” lalu kejar. Saya tidak mengerti orang yang mengatakan “saya sudah kangen, ingin ke daerah ini, ingin coba makanan ini”, saya tidak ada keinginan untuk coba apa pun, pokoknya ada makanan apa, itu yang saya makan. Ini nasihat yang penting, kamu orang Kristen jangan terlalu bangga dengan kebebasan makananmu kalau itu akan menjatuhkan orang Islam. Orang Islam melihat orang yang sembarangan makan itu sebagai orang yang tidak punya kontrol diri, apa pun kamu makan. Yesus mengatakan “jangan hakimi orang karena makanannya”, bukan Yesus menyarankan kamu makan apa pun. Yesus seumur hidup tidak pernah makan babi, bukan berarti kita tidak boleh. Tapi Saudara dan saya harus mengetahui bahwa makanan bukan segalanya, jangan mendedikasikan hidup hanya untuk makanan. Maka kita harus khususkan mulut kita seperti orang Yahudi mengkhususkan mulutnya waktu mereka makan. Mulut saya adalah bagian dari tubuh yang menjadi milik Tuhan, maka mulut saya tidak boleh sama dengan mulut-mulut orang kafir. Kalau mereka makan semuanya, saya tidak akan ikut makan. Tapi sekarang bagi Tuhan tidak boleh ada orang yang dicap kafir, karena sekarang sama-sama kafir. Sekarang semua yang mau datang kepada Kristus dia berhenti jadi kafir. Itu sebabnya sekarang makanan tidak lagi menunjukan identitas. Tuhan menginginkan kita mengingat bahwa kalau dulu kamu berpikir apa yang masuk itu yang menajiskan, saya mau memberi tahu satu hal yang keluar juga menajiskan. Maka kalau ada yang najis tidak boleh dimakan, sama kalau ada yang najis di dalam jangan dikeluarkan, itu yang Yesus katakan. Yang najis di luar jangan kamu makan supaya kamu tetap terjaga tidak menjadi cemar. Demikian Yesus mengatakan yang di dalam najis jangan dikeluarkan. Kita selalu menggunakan mulut sebagai saluran hati, hati ada apa dilemparkan keluar. Kalau hati Saudara bermasalah, jangan keluarkan lewat mulut. Karena kalau hatimu bermasalah lalu dikeluarkan sembarangan lewat mulut akhirnya semua orang ikut masalah. Kalau hati Saudara penuh kedengkian, jangan ngomong dengki. Hati Saudara penuh kebencian, doa sama Tuhan minta berhenti membenci. Jangan ungkapkan kebencian sembarangan. Hati penuh dengan kedegilan, kepicikan, hati penuh dengan apa pun, berhenti sampai di hati. Karena begitu Saudara keluarkan dari mulut, apa yang ada di hati akan menyebar ke yang lain. Hati penuh cinta kasih, silahkan keluarkan, itu tidak akan menajiskan dan orang akan diberkati dengan mulut yang penuh ucapan cinta kasih. Pak Stephen Tong pernah mengatakan kutipan dari suatu negara, kita punya sua telinga dan satu mulut, supaya kita bisa dengar yang jahat dan baik, tapi hanya mengucapkan yang baik. Mulut bukan saluran untuk membuat hati Saudara lega. Mulut adalah saluran untuk menyatakan berita Kristus. Maka kita tidak boleh pakai ini untuk hal-hal lain. Berhenti berdusta, berhenti berkata picik, berhenti mengatakan apa pun hanya untuk membuat orang lain marah, atau sedih atau hancur hatinya. Berhenti berkata jahat tentang orang lain. Katakan kebenaran, tegur kalau perlu tapi tidak pernah dengan intensi untuk mengucapkan apa yang busuk di dalam hati. Biar yang busuk tetap di dalam dan kita mohon Tuhan yang hancurkan kebusukan itu lewat pekerjaanNya. Semua berpikir kalau apa yang ada di dalam hati tidak kita keluarkan, akan nyesek. Kalau Saudara sesak hatinya, tahan saja, setidaknya Saudara menahan itu di dalam lalu Saudara berdoa “Tuhan, yang sesak sudah saya kurung di sini, hancurkan segera”. Tapi kalau yang sesak itu dikeluarkan akan menyebar kemana-mana. Mirip kalau ada orang yang kena penyakit tertentu yang berbahaya, akan langsung dikarantina, bukan disebarkan. Kalau ada kebencian di hati saya, ada perasaan sesak, kalau ada perasaan tidak tenang, tidak enak atau apa pun, kurung di sini, jangan keluarkan lewat mulut karena mulutmu milik Kristus. Inilah yang Tuhan nyatakan. Kita semua adalah saksi dan kita harus diperlengkapi dengan Roh Kudus, karena apa yang menjadi pengalaman para murid akan Tuhan bagi kepada yang lain juga. Sama seperti mereka adalah saksi, demikian kita adalah saksi.

Lalu bagian akhir mengatakan Yesus membawa mereka keluar kota sampai Betania, Dia memberkati murid dan berangkat ke sorga. Mereka penuh sukacita dan mereka pergi ke Yerusalem dengan niat berdoa. Mereka bersukacita karena Yesus naik akan datang kembali. Dan sebelum Yesus datang kembali, mereka punya niat untuk menjadikan seluruh Yerusalem menjadi siap menerima Tuhan. Ini berita yang diberikan di bagian akhir Lukas, akan dilanjutkan di Kisah Para Rasul. Dan di Kisah Para Rasul kita melihat bahwa Tuhan bukan jadikan Yerusalem basis untuk menerima Yesus. Tuhan akan sebarkan para murid ke seluruh bangsa. Inilah berita tentang Kristus yang diberikan Injil Lukas.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)