Anda disini : Home » Reformed Theology » 10 Hukum Taurat » Hormati Ayah dan Ibumu – 2
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Hormati Ayah dan Ibumu – 2

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Keluaran 20: 12)

Beberapa minggu lalu kita sudah membahas hal ini, yaitu orang tua diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menyatakan siapa Tuhan kepada anak. Sehingga pengertian tentang perjanjian dan siapa Allah, ini boleh dibagikan dari orang tua kepada anak. Ini adalah hal yang penting. Saudara membagikan kebenaran tidak bisa hanya membagikan pengertian, itu sebabnya anak mendapatkan pelajaran dari orang tua tentang siapa Tuhan, baik dalam pengertian, dalam pengenalan siapa Tuhan, juga sekaligus dalam contoh. Karena kehidupan orang tua adalah kehidupan dari 2 pribadi yang disatukan dalam pernikahan sehingga menjadi 1. 2 Yang menjadi 1, ini adalah gambaran dari Allah Tritunggal, karena Allah Tritunggal adalah Allah yang 3, yang banyak, tetapi juga 1, yang plural tapi juga 1. Yang lebih dari 1 Pribadi yaitu 3, Bapa, Anak dan Roh Kudus, tetapi 1 Allah. Banyak orang bingung bagaimana menjelaskan doktrin Tritunggal, apakah doktrin Tritunggal itu masuk akal, apakah saya bisa terima dan percaya apa yang dikatakan Alkitab tentang Tritunggal. Manusia berkali-kali berusaha untuk menemukan apa pentingnya mengenal Allah Tritunggal, bagaimana menjelaskan Allah Tritunggal. Tapi ada satu yang mereka lupa gumulkan yaitu kalau saya tidak mengenal Tritunggal begitu banyak hal dalam dunia yang menjadi misteri tidak terpecahkan. Allah Tritunggal adalah kalau kita mengenal Dia, kita akan mengenal dunia dengan lebih baik. Saya bukan menjadi ahli yang mengerti Allah yang 3 Pribadi tapi 1 Allah, tapi saya tahu bahwa kalau saya menerima dengan iman bahwa Allah adalah Tritunggal, baru saya mengerti natur yang terjadi di tengah-tengah dunia ini”.

Itu sebabnya mengapa anak harus dididik oleh orang tua, karena orang tua adalah yang disatukan menjadi satu. Pernikahan membuat 2 pripadi menjadi 1. Alkitab mengatakan “mereka bukan lagi 2, tetapi menjadi 1”. Itu sebabnya ketika anak diajar oleh orang tua, mereka bukan hanya mendapatkan pengertian tentang siapa Tuhan, orang tua bukan hanya mengajarkan Allah itu siapa, apa yang dikerjakan Allah sepanjang sejarah, tapi orang tua dengan keberadaannya sendiri membuat anak melihat “oh, orang tuaku ada papa dan mama, mereka 2, tapi sehati, mereka kompak, mereka saling mengasihi, mereka mempunyai kebijaksanaan yang sama, mereka menjadi 1”. Banyak bayang-bayang tentang Tritunggal tersebar di seluruh Alkitab tetapi manusia tidak bisa mengerti sampai Kristus datang. Lalu dalam Injil Yohanes mengatakan “Aku adalah satu dengan Bapa”, waktu Filipus tanya “tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, kami ingin tahu Bapa itu siapa”, lalu Yesus mengatakan “kamu sudah lama bersama dengan Aku, masih jugakah kamu belum mengerti bahwa kalau engkau melihat Aku, engkau sudah melihat Allah. Kalau engkau melihat Aku, engkau melihat Allah, sebab Aku berada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku”. Tuhan Yesus dengan berani mengatakan Aku dan Bapa adalah satu. Kita tidak bisa mengatakan aku dan Bapa adalah satu, kalau kita tidak di dalam Kristus. Kristuslah yang satu dengan Bapa, berarti ada pengertian tentang Tritunggal. Konsep Tritunggal ini sangat membingungkan banyak orang sepanjang sejarah, tetapi ada satu orang bernama Gregory dari Nissa. Gregory dari Nissa mengatakan sebenarnya kalau kita mau mengerti secara proposisi secara kalimat, tidak mungkin ada pengertian lain selain Tritunggal. Dia mengatakan kalau Yesus adalah Allah maka Dia adalah Allah yang sejati, Allah yang memenuhi segala sesuatu. Kalau Roh Kudus adalah Allah maka Roh Kudus adalah Allah yang sejati, yang memenuhi segala sesuatu. Kalau Bapa adalah Allah maka Dia adalah Allah yang sejati, yang memenuhi segala sesuatu. Kalau saya dan manusia lain, kita tidak mungkin menjadi satu dengan utuh seperti Allah Tritunggal.

Gregory dari Nissa mengatakan karena kita dihalangi oleh fisik, saya ada di sini, Saudara ada di tempat itu, tapi Allah tidak dibatasi dengan tempat, Allah tidak dibatasi oleh keterbatasan ruang, Allah Maha hadir. Kalau Bapa ada, Anak ada, Roh Kudus ada maka keberadaan mereka kalau dalam pikiran kita yang terbatas, akan memenuhi segala sesuatu. Kalau keberadaan mereka memenuhi segala sesuatu, apakah mungkin ada 3 Allah? tidak mungkin, berarti Allah 1. Tapi kalau Allah adalah 1, Yesus juga Allah, Roh Kudus juga Allah, berarti Allah adalah Tritunggal. Mengapa doktrin yang sepertinya begitu aneh, dirumuskan dari Alkitab, dipercayai gereja sejak abad ke-4 setelah itu bertahan terus sampai saat ini meskipun di tengah banyak serangan. Ini merupakan ujian waktu, Saudara mempercayai sesuatu yang palsu, mempercayai sesuatu yang bohong, maka ketidak-konsistenan dalam Saudara makin lama makin terlihat. Tetapi ketika kita mempercayai Tritunggal, makin lama makin jelas relevansinya dalam kehidupan manusia. Dalam Tritunggal kita melihat bahwa manusia harus belajar bersosialisasi, belajar berelasi, belajar mengerti bahwa ada banyak manusia tetapi tetap harus menjadi 1.

Perlu berapa abad untuk orang mengerti benar harus ada Tritunggal, maka saya percaya ratusan tahun yang akan datang orang akan belajar dari Kristen apa itu Tritunggal supaya mereka bisa hidup lebih bijak. Maka orang Kristen mendahului ratusan tahun karena Firman Tuhan. Banyak hal Allah sudah nyatakan, manusia baru sadar belakangan. Sekarang manusia baru sadar tentang konsep keluarga dan konsep kedudukan orang yang menjadi pemimpin dan yang di bawah, suami istri itu harus dilambangkan apa? Kita percaya iman, Allah, ciptaan harus sinkron. Maka kalau saya belajar tentang Allah, pelajaran saya tentang Allah akan menjelaskan tentang ciptaan. Waktu saya belajar tentang Allah, saya menjadi jelas tentang siapa saya. Yohanes Calvin mengatakan “makin engkau mengenal Allah, engkau akan makin mengenal diri. Waktu makin kenal diri, makin menyadari perlu kenal Allah lebih baik lagi dengan cara yang lebih tepat”. Maka semua pengenalan kita harus menjadi satu kalau tidak kita terpecah. Ketika orang tanya “suami dan istri mana lebih unggul? laki-laki atau perempuan?”, zaman dulu mengatakan “laki-laki lebih unggul maka perempuan itu adalah kaum yang lebih rendah”. Bahkan ada budaya yang mengatakan kalau laki-laki dan perempuan jalan, perempuan harus jalan beberapa meter di belakang laki-laki, lalu kalau jalan perempuan harus tunduk tidak boleh lihat ke atas. Saya pernah baca sejarah budaya bahwa ada perempuan yang dipenjara karena jalan terlalu dekat dan berani lihat ke atas. Tapi kemudian perempuan mulai melawan, akhirnya muncul golongan feminis yang mengatakan “sekarang kita balik, laki-laki kalau jalan 10 meter dibelakang tunduk, perempuan jalan di depan dengan perkasa”. Zaman sekarang kebalikan, sekarang kita lihat perempuan perkasa-perkasa, laki-laki lembut-lembut, bukan hanya lembut tapi juga lemah. Dunia ini tidak pernah seimbang, kalau dulu perempuan ditindas, sekarang balik perempuan yang menindas. Jadi zaman sekarang adalah zaman perempuan mengatakan “laki-laki memang kepala tapi kami leher yang menundukkan kepala”. Zaman sekarang mengapa perempuan yang lebih sigap, perempuan yang lebih cepat, perempuan yang lebih berani ambil keputusan, perempuan yang tahu mau melakukan apa, lalu laki-lakinya ke mana? Laki-lakinya sudah terbuai, ini namanya zaman beralih, pendulumnya beralih.

Alkitab satu-satunya yang stabil, Saudara tidak kembali ke Alkitab, Saudara akan ekstrim terus, ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Maka Alkitab mengatakan laki-laki dan perempuan, laki-laki menjadi kepala sekaligus rela berkorban. Itu sebabnya di Inggris ketika dipengaruhi Puritan, itu sangat-sangat baik untuk diteladani. Zaman itu adalah kalau perempuan keluar sendirian malam-malam, orang akan bertanya “untuk apa kamu keluar sendirian malam-malam?”, kalau perempuan jalan dengan laki-laki yang bukan pasangannya, orang akan berkata “mengapa kamu lakukan itu? itu tidak pantas”. Waktu orang jalan dengan pasangan orang lain, langsung orang mengatakan “tidak boleh seperti itu, itu tidak baik”. Zaman ini adalah zaman ketat, lalu zaman ini juga adalah zaman yang membiasakan tingkah dari seorang gentleman yang sejati. Inilah yang menjadi keunikan dalam zaman Inggris kuno ketika masih dipengaruhi oleh kaum puritan. Tapi kalau sudah dipengaruhi oleh ajaran yang salah, yang tidak berkait dengan ajaran Firman Tuhan, maka yang terjadi adalah kerusakan. Tetapi ketika dipengaruhi Puritan, orang-orang Inggris itu sangat luar biasa, mereka mempertahankan kehidupan yang baik, mereka mempertahankan harmonis antara laki-laki dan perempuan di dalam pernikahan. Laki-laki tetap menjadi pemimpin, laki-laki tetap dihormati. Saudara yang perempuan, perempuan tidak pernah Alkitab katakan harus menjadi orang lemah yang tidak punya pendirian apa pun, ini bukan perempuan yang baik. Di dalam Amsal bagian yang terakhir dikatakan perempuan yang baik itu punya pendirian tapi rela tunduk, ini bedanya. Bukan orang yang tidak tahu mau melakukan apa, suaminya bilang “kita ke kiri” lalu ke kiri, “kita ke kanan” kanan, ini bukan perempuan yang dianggap. Saudara kalau tidak punya pendirian apa pun pasti tunduk, tidak punya pilihan yang lain. Tapi perempuan “ini yang benar, ini yang harus di kerjakan”, tapi dia rela tunduk itu adalah panggilan yang sejati sebagai seorang perempuan. Perempuan yang benar adalah yang tegas tapi rela tunduk, maka perempuan-perempuan harus belajar, Saudara hargai suami Saudara, karena Alkitab memerintahkan demikian, Saudara tunduk bukan karena Saudara tidak punya kemampuan, begitu punya kemampuan Saudara langsung injak suami, tidak boleh seperti itu. Saya pernah bertemu dengan satu orang yang sharing “pak, saya susah hormat kepada suami saya, kalau suami saya bisa lakukan 10 poin itu” jadi perempuan ini sudah membuat daftar, taruh di ruang makan lalu suruh suaminya baca 1-10. Kalau suaminya melakukan semuanya itu, dia akan tunduk kepada suaminya. Lalu dia sharing kepada dia kalau suaminya tidak bisa menaati beberapa poin, jadi dia susah untuk tunduk kepada suaminya. Lalu saya mengatakan “jadi ibu sadar suami ibu adalah pemimpin?”, “iya pemimpin, tapi harus melakukan 10 poin ini”. “Jadi ibu sadar suami ibu adalah presidennya dan ibu adalah MPRnya, ibu kan yang membuat undang-undangnya” ini bukan tunduk.

Saudara tidak bisa tunduk dengan persyaratan yang Saudara sendiri tetapkan, ini palsu, ini bukan tunduk yang asli. Maka Alkitab mengatakan tunduklah karena Tuhan kepada pemerintah, tunduklah karena Tuhan kepada suami. Dan suami kasihi istri, rela berkorban bagi dia, bukan menjadi orang yang terus menunjukkan kuasa. Seperti Tuhan Yesus, bahkan Tuhan Yesus rela mencuci kaki murid-muridNya, tapi murid-muridNya tahu “ini pemimpinku, ini yang saya harus hormati”. Maka Alkitab memberikan harmonis yang luar biasa antara siapa kepala dan siapa yang di bawah. Lalu kalau kita tanya “Tuhan kok hanya beri bicara, Firman, tapi Tuhan sendiri jadi teladan atau tidak?”, kita mengatakan “iya, Dia menjadi teladan karena Dia Tritunggal. Kalau Dia tidak Tritunggal, Dia tidak mungkin menjadi teladan”. Saudara percaya Allah yang Esa, yang satu, tapi tidak Tritunggal, dia tidak mungkin menjadi teladan di dalam penundukan diri, Allah mau tunduk kepada siapa? Tapi ketika kita percaya Allah Tritunggal, Allah Anak tunduk kepada Allah Bapa, maka kita bisa belajar dari Allah Anak yang tunduk kepada Allah Bapa. Allah Bapa mengasihi Allah Anak, maka kita bisa belajar kasih dari kasih Allah Bapa yang diberikan kepada Allah Anak. Maka Allah Tritunggal menjadi dasar manusia bisa berelasi dengan benar. Tanpa mengenal Allah Tritunggal, tidak ada relasi yang benar, semua menjadi kacau, demikian juga pengertian tentang keluarga. Maka Alkitab menggambarkan manusia itu sama, sama seperti masing-masing Pribadi, Bapa, Anak dan Roh Kudus semua adalah Allah yang sejati. Tetapi Allah yang rela tunduk, Allah Anak tunduk kepada Allah Bapa, Allah Roh Kudus tunduk kepada Allah Anak, inilah keindahan doktrin Tritunggal yang menjadi kunci bagi kita untuk memahami relasi satu dengan lain. Begitu juga ketika kita menerapkan. Apakah semua manusia sama? Sama. Apakah manusia setara? Setara. Semua diciptakan sesuai gambar Allah, ini sudah dimulai dari Kejadian 1.

Tidak ada buku kuno yang menggambarkan kesetaraan manusia selain Kitab Kejadian. Mengapa suami otoritasnya lebih tinggi dari istri, bukan karena suami lebih hebat, jangan sampai minta tes IQ. Banyak pemimpin yang mungkin IQnya lebih rendah dari pada yang di pimpin, tapi karena Tuhan yang tuntut dia jadi pemimpin, kita rela tunduk. Maka semua prinsip Alkitab tetap sama, tapi tetap ada otoritas yang Tuhan bangkitkan. Maka ordo itu penting ketika kita menyadari semua sama. Manusia ada yang menjadi raja, ada yang menjadi rakyat. Rakyat harus tunduk kepada raja, tapi raja tidak lebih tinggi dari rakyat. Hamba Tuhan harus menjadi pemimpin, jemaat tunduk, meskipun hamba Tuhan dan jemaat sama-sama umat tebusan dari orang berdosa ditebus, orang yang lebih tua harus dihormati oleh orang lebih muda, bukan karena orang lebih tua itu lebih pintar atau lebih banyak harta. Tetapi karena ini yang Tuhan mau, orang tua harus dihormati oleh anak, karena orang tua dituntut oleh Tuhan menjadi pemimpin yang memberitakan Allah kepada mereka. Lalu anak dituntut untuk tunduk. Ini yang indah bagi Tuhan. Maka meskipun sama tetap ada fungsi di mana ada yang jadi pemimpin dan ada yang dikepalai. Mari kita terima pengertian Firman Tuhan dan terapkan.

Jangan sampai kebablasan, di satu sisi pemimpin otoritasnya segalanya. Raja dan rakyat sama, tetapi raja dan rakyat harus ada fungsi, ada yang menjadi pemimpin ada yang menjadi dikepalai. Ini sebabnya Tuhan mengatakan anak hormati orang tua mu. Mengapa anak hormati orang tua? Karena Tuhan mau begitu. Tetapi prinsip Alkitab tetap sama, kita hormat karena Tuhan. Saya hormat kepada raja karena Tuhan, demi Tuhan. Saya hormat kepada orang tua juga demi Tuhan. Kalau orang tua perintahkan sesuatu yang berlawanan dengan Tuhan, saya harus berani mengatakan “maaf saya tidak bisa kerjakan karena Tuhan lebih besar dari orang tua”. Ini pengertian yang harus kita tahu sama-sama. Maka waktu Tuhan menuntut hormati orang tua, kita ingat Tuhan memanggil orang tua untuk menjadi kepala dari anak, menjadi pemimpin bagi anak. Tuhan memanggil suami menjadi pemimpin dari istri. Tuhan memanggil suami istri, orang tua menjadi pemimpin atas anak. Maka Tuhan perintahkan anak hormati orang tua supaya berkat Tuhan dalam hidupmu menjadi limpah. Panjang umur yang dikatakan dalam ayat 12 “lanjut umur di tanah yang diberikan” ini adalah kata yang memaksudkan berkat Tuhan akan limpah, penyertaan Tuhan akan limpah kepada kamu, ini janji Tuhan. Saudara taat kepada Tuhan, berkat yang limpah pasti Dia berikan, penyertaanNya Dia berikan. Itu sebabnya ketika diperintahkan “taati orang tua” siapa yang menjalankan dengan baik, dia akan mendapatkan berkat di dalam hidupnya. Maka orang tua mempunya otoritas dan dengan demikian anak mesti belajar. Tapi bagaimana kalau orang tua punya pendapat yang beda dengan anak, dua-duanya merasa benar dan dua-duanya tidak melanggar Firman Tuhan? ini yang menjadi problem. Kalau orang tua mengatakan kepada anak “nak, jangan percaya Tuhan Yesus”, maka anak itu dalam hati mengatakan “Tuhan, saya tidak mau dengar yang satu ini”, anak itu tidak berdosa. Tapi kalau anak itu mengatakan “papa mama, saya mau belajar kuliah Bahasa Inggris”, lalu orang tuanya mengatakan “jangan nak, kamu kuliahlah Bahasa Sunda”, tapi anak itu bilang “tapi Bahasa Inggris adalah bahasa internasional”, papa mama bilang “Sunda tradisi kita, pertahankan budaya kita”, lalu mereka bertengkar, siapa yang benar? Saudara kalau melihat Alkitab, tidak ada yang mengatakan “janganlah engkau kuliah Sunda” atau “haruslah engkau belajar Inggris”, tidak ada. Jadi kedua-duanya tidak melanggar Firman, dua-duanya sama mempunyai pendapat dan dua-duanya beda, bagaimana menyelesaikan ini.

Di dalam Alkitab dikatakan waktu dua orang tulus bertengkar karena pendapat, dua-duanya pasti suatu saat akan bertumbuh. Jadi Saudara jangan percaya kehidupan tanpa pertengkaran adalah kehidupan yang baik. Hidup tanpa pertengkaran itu dipertanyakan pertumbuhannya, Saudara akan bertumbuh justru ketika ada konflik, asal konflik itu dilakukan 2 orang dengan motivasi tulus. Kalau satu orang motivasi licik, sudah pasti konflik ini akan merugikan. Tapi kalau dua-duanya tulus, dua-duanya memahami kehendak Tuhan dengan cara yang terbatas. “Saya tahunya kehendak Tuhan begini” yang satunya bilang “pendapat Tuhan begini”, kedua-duanya bertengkar, ini justru baik. Paulus bilang kepada jemaat Korintus “saya tahu ada pertengkaran di antara kamu dan itu baik karena kamu akan makin teruji” ini perlu. Banyak orang memilih tidak bertengkar karena memang tidak perduli. Maka kalau ada suami istri tidak pernah bertengkar, mungkin karena tidak peduli satu sama lain. Waktu istri bilang “saya mau masak ayam goreng, bagaimana pak?”, “boleh tidak apa-apa”, “pakai sayur?”, “tidak apa-apa”, “kenapa?”, “karena saya mau makan di luar, masak apa pun terserah” tidak peduli. Tapi waktu peduli sesuatu, waktu orang tahu ini benar, waktu orang tahu ini harus dilakukan, dia harus ngotot. Tapi waktu dia bilang “ini yang benar” orang lain juga berpikir ini yang benar, sama-sama merasa benar. Waktu sama-sama merasa benar dengan tulus mau jalankan lalu konflik, saya percaya konflik ini akan membangun keduanya. Itu sebabnya konflik harus ada. Misalnya Saudara baca “Bagaimana Hidup Tanpa Konflik”, buang saja buku itu. Tapi kalau ada yang mengatakan “Bagaimana Bertumbuh dalam Konflik” beli bukunya, tapi lihat dulu Stephen Tong, Billy Kristanto, atau Sutjipto Subeno, kalau iya silahkan beli. Waktu orang mempunyai punya pendapat, dia pertahankan, pasti terjadi konflik, ini yang terjadi. Waktu si anak mengatakan “ini hidup saya, saya mau melakukan ini”, lalu orang tua mengatakan “kamu mesti begini” dua-duanya konflik untuk kepentingan yang baik, dua-duanya harus saling belajar apa yang Alkitab katakan. Dan Alkitab katakan yang pertama harus belajar dengar, harus anak belajar dengar orang tua, jangan dibalik.

Zaman sekarang adalah zaman yang salah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Budaya dari Barat awalnya dipengaruhi oleh Kristen sangat menghormati orang tua. Saudara kalau lihat orang pilgrim pertama datang ke Amerika, orang tua tidak pernah dibantah anak, anak dilatih seperti itu. Kita kalau lihat keketatan dulu dengan sekarang beda jauh sekali. Orang tua waktu itu kalau beri tugas kepada anak, mereka jalankan. Saya pernah dengar satu kalimat dari pelatih sepak bola terkenal, namanya Fabio Capelo, dia punya prinsip “tidak ada demokrasi dalam pelatihan, saya perintahkan kamu untuk taat”. Dalam sisi tertentu Tuhan mau orang tua pun seperti itu, anak pun seperti itu kepada orang tua, dengar dulu, taat dulu, kalau ini sesuatu yang tidak melanggar Firman Tuhan. Otoritas itu sangat penting, Tuhan sangat hargai. Saudara kalau belajar menghargai siapa yang Tuhan tempatkan sebagai kepala, Saudara pasti diberkati. Tapi dulu waktu jadi bawahan taat, waktu jadi pemimpin berhak memimpin. Tapi kalau dulu tidak pernah taat, mana berhak suruh orang lain taat.

Maka siapa yang belajar otoritas, tunduk kepada otoritas yang Tuhan tetapkan, dia akan dibimbing menjadi orang yang lebih baik. Inilah pengertian dari Kitab Suci yang dinyatakan dalam Keluaran. Maka anak-anak hormati orang tuamu, kalau ada beda pendapat, berdoalah, minta Tuhan sinkronkan pendapat saya dan orang tua dengan Tuhan. Kalau orang mau mengatakan “saya mau punya karir ini, saya mau menikah dengan dia”, lalu orang tua tidak setuju, kedua-duanya harus belajar. Ketika keduanya tulus, kemudian saling konflik, sama-sama belajar mau cari kehendak Tuhan, nanti Tuhan akan bukakan. Tapi kalau salah satu keras karena ego masing-masing, maka dia tidak mungkin mendapat berkat dari Tuhan. Itu sebabnya kita belajar sebagai anak kita taat kepada orang tua, sebagai orang tua peka terhadap suara Tuhan, supaya memimpin tidak salah. Orang memimpin dengan melawan Tuhan, suatu saat dia akan menerima pemberontakan. Maka jadi orang tua pun sama, biar kita belajar dengar suara Tuhan untuk menjadi orang yang punya otoritas untuk menyatakan ini kehendak Tuhan. Lalu siapa yang menjadi anak belajar untuk tunduk kepada otoritas yang diberikan oleh Tuhan. Lalu ketika si anak itu menjadi dewasa, dia sudah punya keluarga sendiri, urutan dari ordo orang tua anak sekarang berubah. Tidak ada orang tua boleh intervensi lagi anaknya setelah anaknya menjadi orang tua, sekarang relasinya berbeda. Tapi meskipun relasinya berbeda, orang tua tidak lagi punya otoritas kepala kepada anak, tidak pernah dicabut perintah kepada anak untuk menghormati orang tua, ini tafsiran dari Calvin. Calvin mengatakan hormat bisa berarti taat, tapi hormat juga bisa berarti mengingat, memperhatikan dan bersyukur. Jadi ketika orang tua sudah tua, anak sudah dewasa, anak sudah punya anak lagi, orang tua itu tidak lagi bersikap “saya orang tuamu, ini perintah saya”, tapi anak harus tetap tunduk, anak harus tetap mempunyai perasaan “saya bersyukur untuk perawatan yang selama ini papa mama berikan, saya berterima kasih karena boleh menjadi anak yang dibesarkan oleh papa mama”.

Maka kata hormat juga mengandung pengertian bersyukur dan pengertian memelihara. Suatu saat orang tua akan menjadi makin tua makin lemah, lalu anak harus memperhatikan mereka. Anak yang tidak memperhatikan orang tua, Tuhan Yesus mengatakan lebih jahat dari pada orang kafir. Saudara mau taat kepada Tuhan, punya jabatan tinggi di gereja, dipakai Tuhan luar biasa, waktu Saudara mengabaikan orang tua, Saudara lebih parah dari orang kafir. Itu sebabnya kata hormat berarti ketika orang tua sudah makin tua, anak harus menjadi orang yang mendampingi yang bersyukur karena dulu dipelihara dan terus support orang tuanya. Anak akan ada waktu di mana dia menjadi kuat, dia harus support orang tuanya, ini lah pengertian hormat. Maka otoritas-otoritas orang tua kepada anak berhenti waktu anak itu punya otoritas kepada keluarganya sendiri. Tetapi kebertundukkan anak hormat kepada orang tua tidak pernah dicabut sampai orang tua dipanggil oleh Tuhan. Saya sedih sekali kalau banyak orang Kristen yang begitu kelihatan pelayanan bagus, tapi waktu ditanya “orang tuamu bagaimana?” mereka tidak peduli. Yohanes Calvin mengatakan sejelek-jeleknya orang tua, tetap Tuhan pakai dia untuk menghadirkan kamu di dunia ini. Dan itu merupakan suatu anugerah besar. Hidup itu anugerah, kalau Saudara merasakan hidup itu kutuk, bertobatlah. Tuhan pakai orang tua, Tuhan pakai relasi intim dari orang tua, kemudian Tuhan pakai seorang ibu untuk mengandung, sampai anak itu lahir, Tuhan pakai 2 orang tua ini untuk membesarkan. Saudara waktu bayi lemahnya luar biasa, ini bedanya kita dengan binatang, kuda melahirkan anak, tunggu beberapa menit anaknya sudah loncat-loncat, manusia melahirkan anak sampai 11 bulan belum ngapa-ngapain, ini bedanya. Dan ketika bayi tidak ada orang tua yang memelihara, apakah bisa bertahan? Maka waktu Saudara bayi, Tuhan pakai orang tua untuk mendidik, untuk memelihara. Setelah Saudara dipelihara, Tuhan memakai orang tua untuk mendidik. Setelah Saudara dididik oleh orang tua, maka sekarang Saudara boleh bertumbuh. Maka dikatakan oleh Calvin, sejelek apa pun orang tuamu, mereka dipakai Tuhan untuk menghadirkan kamu di dunia ini. Maka setelah engkau besar, biarlah engkau menghantar mereka dengan baik sampai waktunya mereka tinggalkan dunia, ini kalimat indah sekali waktu Calvin bahas. Tuhan pakai orang tuamu untuk menghadirkan kamu di dunia, nanti kamu hantar orang tuamu dengan sebaik mungkin waktu mereka akan dipanggil, kalimat ini mengharukan. Dan inilah yang menjelaskan sangat hormat, hormatilah orang tua, waktu kecil kita belajar taat, waktu sudah besar kita belajar memelihara. Kiranya Tuhan menguatkan kita untuk mengetahui posisi kita, mengetahui tuntutan Tuhan atas kita supaya menjalankan apa yang Tuhan perintahkan. Dan Tuhan janji barang siapa mentaati akan mendapatkan berkat penyertaan Tuhan di dalam kehidupan di tanah yang diberikan Tuhan.