Jadi siapa pemilik Kekaisaran Roma? Dewa. Siapa boleh menjadi kaisar? Anak dewa. Maka anak dewa atau anak allah adalah raja, simple. Bayangkan orang-orang Kristen awal menyebut Yesus sebagai Anak Allah, ini bukan istilah agama, tapi istilah politis. Maka saya katakan Alkitab itu sangat politis beritanya. Sangat politis bukan berarti Saudara mesti pilih siapa, mau pilih partai mana. Politik praktis hanya bagian kecil dari politik. Jadi jangan mengatakan “Alkitab adalah buku yang sangat politis”, Saudara langsung mengatakan “berarti ada tendensi untuk memilih salah satu partai”, bukan itu. Di dalam Kekaisaran Roma, anak allah adalah raja, cuma kaisar. Waktu para murid menyebut Yesus Anak Allah, berarti mereka mengklaim bahwa Yesus adalah Raja. Dan kalimat ini sangat mengganggu kestabilan pemerintahan yang lama. Setiap kali ada kepercayaan raja baru, langsung raja yang lama marah. Ketika murid-murid Tuhan Yesus mengatakan Yesus adalah Anak Allah, waktu ditanya “jadi Engkau Anak Allah?”, dan Yesus mengatakan “iya, untuk itulah Aku datang”, ini politis, ini bukan istilah agama tapi politik. “Jadi Engkau Raja?”, “betul, Aku Raja”. “Jadi Engkau adalah Raja?”, “engkau mengatakannya. Dan Aku berkata kepadamu bahwa Anak Allah akan menyatakan kerajaan yang lain dengan kerajaan di dunia ini”. Maka pengikut Kristus di abad pertama itu sulit sekali, mereka menyebut Yesus Anak Allah, itu title politis. Mereka menyebut Yesus Kurios, waktu mereka mengatakan Kurios, itu berarti Yesus adalah Tuhan, waktu mereka mengatakan Soter, itu berarti Yesus adalah Juruselamat. Dua title ini bukan title agama tapi title politis. Siapa boleh disebut sebagai Tuhan? Kaisar. Siapa boleh disebut Soter? Kaisar. Jadi waktu Yesus disebut Soter, disebut Kurios, berarti mereka sedang mengklaim “ini yang kami sembah adalah Raja”. Orang Kristen dianiaya itu ada sebabnya, bukan tanpa sebab. Sebabnya adalah “karena kamu seperti ingin revolusi, kamu adalah pengganggu negara kami, stabilitas politik kami rusak gara-gara kamu punya Raja baru, maka kami tangkap kamu, kami aniaya kamu, kami hakimi kamu, mana Rajamu? Buktikan bahwa kamu punya Raja yang kuat”. Maka banyak dari mereka yang ditangkap, dibakar, dilemparkan ke penjara, dilemparkan ke binatang buas, karena mereka percaya ada Raja. Kalau kita menjadi orang Kristen abad pertama, mungkin kita sudah merusak tradisi Kristen dengan mengatakan “sudahlah, itu hanya istilah, kompromi saja, yang penting kita tetap mengagumi Yesus. Kalau tidak boleh sebut Anak Allah, ganti nama. Pokoknya jangan konflik”, orang Kristen sekarang bicaranya seperti itu. Orang Kristen zaman dulu mengatakan “mengapa konflik dan ribut harus ditentukan oleh orang dunia? Saya punya Tuhan, mengapa saya tidak boleh sebut Allahku dan Tuhanku dengan title yang saya pikir pantas diberikan kepada Dia? Kamu mau setuju, silahkan. Tidak setuju pun tidak apa-apa. Kamu mau marah, mau ancam kami, kami tidak akan berubah”, ini yang membuat Kristen menyebar. Saya tidak tahu orang Kristen macam apa kita, kalau kita orang Kristen sangat lemah, gampang kompromi, cari aman, sulit sekali mengatakan Kekristenan akan memunyai kemampuan menyebar lagi. Sekarang tidak ada lagi yang berani bayar harga. Sekarang semua orang mau hidup enak, santai, tenang, tidak mau gangguan. Kristen payah yang mengaku Kristus, tapi lepas dari tradisi yang agung, yang Tuhan sudah nyatakan dari awal. Di dalam kumpulan para teolog ketika mereka mau melawan Hitler, mereka berkumpul di Barment, mereka membuat satu kesimpulan iman, mereka mengatakan “dengan ini kami sepakat hanya ada satu fuhrer yaitu Kristus, hail Kristus, bukan Hitler”, kalimat ini tidak berpengaruh di Indonesia. Tapi di Jerman pada awal abad 20 sebelum masuk perang, kalimat ini sangat bahaya. Setiap orang Kristen mengatakan “hail Kristus, kami punya Kristus sebagai Juruselamat, Dialah fuhrer kami”, orang itu pasti ditangkap dan dipenjara. Saya kadang-kadang bingung, kalau kita ada di dalam kekacauan politik seperti itu, kita jadi seperti apa? Apakah kita akan mengatakan “ini Tuhanku, jangan main-main, aku akan tetap menyebut Dia dengan apa yang aku rasa pantas untuk Dia. Saya tidak terganggu, saya akan tetap sebut Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat”. Inilah yang membuat Kristen akhirnya menggoncang dunia, para Kristen di Kisah Para Rasul. Mereka bukan hanya goncang dunia, mereka ganti Kekaisaran Roma yang sekuler, menjadi kerajaan yang mengakui Kristus. Tapi ada harga yang harus dibayar. Mereka tahu bahwa title Anak Allah itu kaisar, tapi mereka mengatakan “tidak, Anak Allah adalah Kristus”. Jadi kata anak berarti ahli waris. Siapa ahli waris? Sang Anak, Pribadi kedua. Pribadi Kedua menerima kerajaan dari Pribadi Pertama, diangkat menjadi Raja. Pribadi pertama memberi seluruh ciptaan baik langit maupun bumi untuk dimiliki oleh Pribadi kedua sebagai Raja, ini namanya diwariskan. Sang Anak adalah ahli waris. Harap ini kita mengerti, kalau ada orang bertanya “jadi orang Kristen percaya Allah punya Anak?”, “iya”, kalau tidak kita tidak akan mengerti konsep raja. Raja punya anak atau orang lain yang akan mewarisi kerajaannya. Ini hal pertama yang kita pelajari, jadi Sang Anak bukan anak secara biologis, bukan yelet kalau pakai istilah dari Perjanjian Lama, tapi pakai ben.

« 2 of 4 »