Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Roma » Surat Roma adalah surat Injil
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Surat Roma adalah surat Injil

Pdt. Jimmy Pardede

(Roma 1: 1-7)
Surat Roma adalah tentang Injil. Seluruh surat dari pasal 1-16 adalah tentang Injil Kristus. Kalau Saudara mengetahui surat ini sebagai surat yang dalam, surat yang penuh dengan doktrin yang berat dan penting, dan surat yang penuh dengan ajaran-ajaran Kristen yang dasar. Maka Saudara harus tahu satu hal bahwa Injil tidak bisa lepas dari ajaran-ajaran yang dalam itu, dari prinsip Kristen dan juga dari doktrin-doktrin yang begitu penting untuk diketahui. Injil tidak boleh direduksi. Injil bukan sekedar kamu percaya masuk sorga, Injil bukan sekedar Yesus mati dan bangkit saja. Tapi Injil adalah makna mengapa Yesus bangkit, makna mengapa Dia naik ke sorga, makna sebelumnya mengapa Dia dimatikan di atas kayu salib demi orang berdosa. Jadi Injil memunyai konten cerita yang panjang di dalamnya, yang dirangkum lewat kehadiran Kristus, kematianNya dan kebangkitanNya. Sehingga Surat Roma dari pasal 1-16, kita sedang belajar tentang Injil. Yang harus kita tahu adalah Roma bukan mengandung Injil, tapi Roma adalah berita tentang Inijl. Sebenarnya ini juga sangat penting untuk kita ketahui waktu kita baca Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. 4 Kitab ini disebut sebagai Kitab Injil, berarti Injil adalah yang diceritakan oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Inijl tidak simple tapi begitu banyak hal yang dibagikan Kitab Suci yang harus kita mengerti. Maka tidak ada orang menjadi Kristen dan bertumbuh tanpa mengenal Kitab Suci dengan pelajaran yang intens. Belajar Kitab Suci bukan pilihan, belajar Kitab Suci adalah mandat untuk mengenal Tuhan.

Ini sudah dinyatakan dari awal, Paulus menyatakan, “dari Paulus yang dikhususkan untuk memberitakan Injil”. Dan dia mengatakan “saya ingin datang ke Roma untuk bicara sendiri tentang Injil kepada kamu. Saya sungguh ingin ke Roma tapi terus terhalang”, Paulus belum sempat ke Roma. Maka dia tulis surat “saya tulis surat kepadamu karena saya belum sempat datang, kalau saya datang, saya akan bicarakan Injil kepada kamu. Kalau saya belum sempat datang, saya akan tulis tulisan ini untuk menjelaskan kamu tentang Injil”. Banyak orang merangkum Injil dan itu bukan hal yang salah, merangkum Injil melalui peristiwa Yesus mati dan bangkit, itu baik. Tapi memberikan penjelasan mengapa Dia mati dan bangkit, itu adalah sesuatu yang penting untuk kita pelajari. Maka di dalam ayat-ayat awal dikatakan “aku adalah Paulus, hamba Yesus Kristus, dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah”. Dia dikhususkan untuk memberitakan Injil, membuat orang mengenal berita Injil. Berita Injil bukan berita yang jelek, karena ini berita bahagia. Berita Injil artinya berita sukacita, ada kabar baik yang mau diberitakan. Apa baiknya kabar yang diberitakan Paulus? Di dalam sudur pandang dari Perjanjian Lama, kabar baik yang mau diberitakan adalah tentang Raja yang ditunggu-tunggu, “kita sudah lama menunggu Raja ini dan sekarang Dia sudah datang”, ini yang Paulus mau beritakan. Maka dia mengatakan “dari Paulus, hamba Kristus Yesus”, ini hamba, pengertiannya sangat penting untuk kita pahami. Dia sedang mengatakan “saya ini adalah orang yang diikat untuk menjadi pelayan Yesus Kristus”. Dia bukan orang bebas, dia adalah orang yang menyerahkan diri untuk diikat dan mengikuti Yesus Kristus. Dia tidak punya opsi, dia tidak bisa mengatakan “saya tidak mau yang ini, saya mau yang itu. Saya tidak mau mengerjakan ini, saya mau mengerjakan itu”, dia adalah hamba yang sudah diikat oleh Kristus. Di dalam bagian yang lain dari suratnya, dia mengatakan “aku adalah hamba, namun aku juga bebas”. Ini membingungkan, jadi Paulus itu hamba atau orang bebas? Paulus mengatakan “saya bebas, tapi saya juga hamba”. Kalau orang Reformed, sudah tidak aneh mengenal argumen ini, all ready and not yet. Maka ini bebas dan hamba, ini namanya paradoks. Ini bagian yang kita mengerti dari Israel, semua orang Yahudi akan kembali ke peristiwa Israel keluar dari Mesir untuk mengerti bebas namun menjadi bebas. Apa yang Tuhan lakukan kepada Israel? Tuhan bebaskan Israel, keluar dari Mesir. Mereka bukan lagi budak di Mesir, mereka adalah orang bebas. Tapi setelah mereka bebas, mereka diikat oleh Tuhan di dalam perjanjian di Gunung Sinai supaya mereka melayani Tuhan selama-lamanya. Sudah bebas, sekarang disuruh menjadi budak lagi, mana mau? Namun satu hal yang harus kita ketahui, bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah yang mau tidak mau harus tunduk dan melayani Allah sebagai pemilik gambar yang ada pada kita ini. Jadi kita adalah gambar Allah dan Tuhan adalah tuan kita,. Kita terikat dengan Dia oleh karena kita adalah ciptaanNya. Di dalam Institutio, John Calvin mengatakan “saudara dan saya yang diciptakan oleh Tuhan adalah orang-orang yang seharusnya melayani Tuhan sebagai ciptaan melayani Penciptanya”. Satu-satunya cara kita tidak melayani Tuhan adalah kita mengklaim bahwa kita bukan ciptaan. Tapi tidak ada satu pun dari kita yang bisa melakukan itu. Sebagai ciptaan dia perlu tunduk kepada Allah yang sudah menciptakan dia. Ini prinsip yang semua orang tahu, tapi mengherankan ini prinsip yang paling longgar Tuhan kenakan di dunia ini. Saudara bisa melawan Tuhan hari ini dan Saudara bisa lakukan itu dengan bebas. Saudara bisa memutuskan melakukan hal yang berdosa dan menyakiti hati Tuhan dan itu Saudara bisa lakukan seolah dengan bebas. Tuhan adalah Allah yang sangat menghargai kebebasan yang diberikan kepada gambarNya. GambarNya diberikan kebebasan begitu besar dengan satu tujuan supaya gambar Allah ini, yaitu Saudara dan saya, manusia yang diciptakan mau sujud kepadaNya dengan sepenuh hati. Mau datang kepadaNya dengan kerelaan dan kasih. Mau datang kepada Dia dengan satu hati untuk mengasihi dan untuk taat kepada Dia. Mengasihi dan menaati Tuhan hanya mungkin dilakukan dalam kebebasan. Hanya orang bebas bisa menentukan apa yang dia lakukan dan karena manusia bebas, karena anugerah Tuhan, dia boleh menjadi hamba Tuhan yang mengerjakan pelayanan itu dengan kelimpahan. Tuhan menjanjikan hidup yang limpah, Saudara bisa mendengar ini dari perkataan Tuhan Yesus. Yesus memberikan hidup yang limpah, bukan hanya hidup saja. Tuhan tidak memberikan hanya hidup saja, Yesus tidak memberikan kehidupan yang cuma berjalan begitu saja. Menjadi orang Kristen adalah hidup yang mengerti apa itu hidup dengan kelimpahan. Kita tidak tahu seberapa besar kita rugi karena kita tidak kenal Tuhan. Tuhan itu asing bagi kita, tidak tidak kenal siapa Yesus, kita tidak kenal apa yang Dia lakukan, kita tidak mengenal Allah Tritunggal yang sudah menyelamatkan kita dan itu bukan kerugian saya, itu kerugianmu. Maka Tuhan membebaskan kita, lalu ketika kita mengatakan “Saya rela tunduk, saya rela datang, saya rela memperhamba diri kepada Tuhan”, Tuhan akan tanya “kamu yakin? Kamu bebas, boleh pergi kalau tidak mau, tidak harus datang”. Lalu orang Israel tetap mengatakan “tidak, kami tetap akan menyembah Engkau”, baru mereka mengerti kebebasan di dalam kerelaan untuk memperhambakan diri. Yosua pernah mengatakan kepada orang Israel “saya dan keluarga akan ikut Tuhan, tapi kalian terserah. Kamu mau menyembah dewa-dewa orang Kanaan yang baru kami taklukan? Atau ada pilihan yang lebih baik lagi, kamu pulan ke Mesopotamia, daerah asal Abraham. Kamu pergi ke Mesopotamia dan menyembah berhala di sana”, ini sindiran Yosua, mereka dari Mesir ke padang gurun sampai ke Tanah Kanaan, kalau diteruskan lagi sampai ke utara lalu ke daerah timur, maka mereka akan sampai ke Mesopotamia. Ini adalah tempat yang budayanya maju sekali dan dewa-dewanya sangat banyak. Maka Yosua mengatakan “kalau kamu mau menyembah dewa di Kanaan, silahkan. Tapi kuil-kuilnya sudah hancur, dewa-dewanya tidak ada, imam-imamnya sudah kita bunuh dan bangsanya sudah tidak ada, mau menyembah dewa pecundang ya silahkan. Tapi kalau kamu tidak mau dewa pecundang, masih ada opsi lain. Pergi ke Mesopotamia dan sembah dewa-dewa di sana, maukah kamu? Tapi aku dan keluargaku, kamu mau menyembah Tuhan”, orang Israel mengatakan “kami mau menyembah Tuhan, kami pilih sembah Tuhan”. Yosua mengatakan “kamu tidak sanggup menyembah Tuhan, karena meskipun kamu dengan rela datang kepada Tuhan, kamu tidak tentu akan punya ketekunan untuk ikut Dia”. Begitu banyak orang berkomitmen ikut Tuhan di awal, tapi kemudian berjatuhan di tengah dan akhir, tidak ada ketekunan untuk ikut Tuhan. Saudara doakan orang yang dibaptis dan sidi supaya ada ketekunan mengikut Tuhan dan iman mereka bertumbuh terus. Tuhan memberikan kebebasan supaya orang-orang yang sudah dibebaskan mengerti betapa indahnya kerelaan untuk tunduk itu. Tidak ada yang memaksa mereka dan mereka rela datang, tidak ada yang memaksa mereka dan mereka melayani Tuhan, tidak ada yang memaksa mereka dan mereka mau menjadi umat yang tunduk kepada Tuhan selama-lamanya. Inilah yang dimaksudkan Tuhan memberikan kebebasan, lalu orang-orang bebas ini rela tunduk kepada Tuhan. Inilah yang Paulus miliki dalam pikirannya. Paulus itu adalah orang yang sangat PL pikirannya. Dia baca Alkitab terus dan yang dia baca pasti Perjanjian Lama. Paulus adalah orang yang terus mau kenal Tuhan dengan memberikan dirinya, menceburkan dirinya dalam Perjanjian Lama, terus baca sampai dia dipenuhi oleh Perjanjian Lama. Sehingga apa pun yang dia kemukakan adalah sesuatu yang akan dipengaruhi oleh Perjanjian Lama. Kalau kita mau memahami Paulus, kita harus rajin-rajin ingat Perjanjian Lama. Paulus mengatakan “saya adalah hamba Kristus Yesus”, hamba adalah orang bebas yang sekarang rela memperhamba diri kepada Tuhan. Orang bebas yang sekarang sudah tinggalkan semua belenggu yang lama, tetapi juga melepas belenggu kebebasan untuk kembali menjadi milik Tuhan. Di dalam Keluaran 20-21 dikatakan kalau ada budak yang sudah melayani 6 tahun, tahun ke-7 dia harus dibebaskan. Tuannya harus membebaskan dia “kamu sekarang bebas, silahkan hidup sebagai orang bebas, kamu bukan lagi budak saya”. Lalu budak itu mengatakan “tuan, saya mencintai engkau, saya mengasihi engkau. Saya tidak mau ke tempat lain, saya ingin menjadi budakmu saja terus”. Apa yang harus dilakukan tuannya? Tuannya mengatakan “bawa dia di hadapan imam, lalu tusuk telinganya”, itu sebagai tanda “saya budak dengan pilihan”, budak by choice. Apakah bisa berkarier yang lain? bisa. “bodoh kamu, masa mau jadi budak, apa gunanya?”, “saya ingin menjadi budak karena itu adalah pernyataan kasih saya”. Dan ini yang Paulus sedang katakan “saya budak karena rela”. Lalu budak apa? Budak yang dipanggil menjadi rasul, ini agung sekali. Rasul punya otoritas yang besar, tapi Paulus mengatakan “saya menjadi budak yang diangkat menjadi rasul. Saya rela melayani Tuhan, dan itulah yang menjadi inti identitas saya”. Kerasulan Paulus adalah kerasulan yang harus dinyatakan demi berita yang dia sampaikan itu dipercaya banyak orang. Namun kerelaan sebagai hamba ini yang ditekankan sebagai identitas, “saya hamba Kristus Yesus, dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah”. Paulus mengatakan “tugas saya adalah saya harus memberitakan Injil, saya tidak punya pilihan lain, saya harus menyatakan Injil Tuhan, saya harus membuat orang lain kenal Injil”. Bagaimana cara membuat orang lain kenal Injil? Dengan cara menyatakan apa yang Kitab Suci ajarkan tentang Yesus. Ini yang bagi Paulus satu berita penting tentang apa itu Injil. Injil adalah mengenalkan Yesus kepada banyak orang.

Dikatakan di ayat selanjutnya, Injil yang dia kabarkan ini, sudah dijanjikan dengan perantaraan nabi-nabinya dalam Kitab Suci. Injil ini sudah dijanjikan, sudah diberikan sebagai pengertian lewat firman. Jadi Injil bukan penemuan Paulus, Injil bukan dinyatakan setelah Yesus. Injil sudah dinyatakan dari Perjanjian Lama, namun digenapi waktu Yesus datang. Injil yang Paulus beritakan adalah Injil yang sudah diberitakan oleh nabi-nabi dalam Kitab Suci. Apa yang dikatakan nabi-nabi? Untuk memahami Paulus kita harus mengerti dulu istilah yang dipakai pada abad pertama. Saudara harus mengerti istilah pada zamannya, baru bisa mengerti. Waktu Paulus mengatakan Injil ini sudah dijanjikan dengan pengantara para nabi. Apa arti Injil lewat para nabi? Ada pengertian yang umum pada zaman Paulus di dalam gereja Tuhan pada waktu itu. Artinya adalah para nabi sudah menubuatkan periode dimana Tuhan mengampuni bangsa Israel, itulah Injil. Jadi para nabi sedang bicara ketika Israel dibuang dan waktu Israel ada dalam pembuangan, Tuhan mengatakan “Aku akan panggil engkau kembali. Aku akan panggil Israel kembali, Aku akan pulihkan engkau”, inilah Injilnya. “Tuhan, bagaimana Engkau akan memulihkan?”, “Aku akan kirim Raja yaitu Anak Daud. Anak Daud akan Aku kirim dan kerajaanmu akan beres”. Untuk mengerti Injil berarti kita harus punya imajinasi, bayangkan. Waktu baca Alkitab harus sering membayangkan. Maka orang yang penuh imajinasi akan membayangkan Alkitab. Orang dengan imajinasi miskin akan belajar punya imajinasi karena baca Alkitab. Apa yang bisa kita pahami di sini? Coba bayangkan, Saudara tinggal di negara yang namanya Israel, ini negara yang Tuhan begitu banyak memberikan janji. Tuhan menjanjikan kepada Israel tanah yang berlimpah susu dan madunya”. Begitu banyak susu dan madunya, begitu banyak pohon yang menghasilkan buah, kemudian hasil tanah, semuanya ada. Tuhan berjanji “kamu tidak mungkin kelaparan, bahkan kamu tidak mungkin normal, kamu pasti akan kelimpahan”. Tuhan tidak memberikan yang pas-pasan untuk Israel. Tuhan menjanjikan Israel akan kelebihan buah, kelebihan kesuburan, kelebihan tanah, kelebihan uang dan lain-lain. Dan yang membuat Israel semakin bangga adalah Tuhan menyatakan diri sebagai Tuhan dari bangsa ini. “Bangsa lain punya dewa tidak seperti kami punya Allah”. Lalu Tuhan menyatakan bahwa seluruh bumi akan Tuhan pulihkan lewat bangsa ini. Ini bangsa besar sekali, bangsa ini boleh sombong karena janji-janji Tuhan ini. Dan bayangkan kalau Saudara jadi orang Israel di abad 10 atau 9, waktu Israel dipimpin oleh Daud, Saudara mengatakan “inilah zaman keemasan kami, kamilah bangsa paling hebat dan Tuhan berkati kami”. Tibalah saat ketika itu semua tinggal mimpi, Tuhan begitu marah dan habisi bangsa ini. Mereka tidak punya tempat, tidak punya rumah, tidak punya tempat ibadah, tidak punya kota, tidak punya raja, mereka tidak punya apa-apa, mereka ada di pembuangan. Hanya bisa mengingat masa lalu yang jaya. Kadang-kadang saya ngeri kalau Pak Stephen Tong mengatakan “gerakan ini tidak boleh jadi monumen, gerakan harus gerak”. Israel sekarang sudah dibuang dan mereka tidak punya apa pun yang mulia. Tapi ada janji Tuhan. Mereka hanya memegang janji, hanya itu yang menguatkan mereka. Mereka tidak punya apa-apa, tapi mereka ingat Tuhan akan pulihkan mereka, dan itulah penghiburannya. Kalau Saudara mendapatkan penderitaan lalu ingat perkataan Tuhan “jangan khawatir, sebentar lagi semua akan beres”, maka itulah momen yang Saudara tunggu-tunggu. Itu yang dilakukan oleh orang Israel, mereka menunggu mana Anak Daud, itu yang mereka tunggu. Mereka mau disiksa seperti apa pun, mereka punya kekuatan karena mereka tahu Anak Daud akan datang. Sangat kasihan kalau sampai sekarang mereka mengharapkan hal yang sama. Mereka menghadapi Nazi dan Hitler lalu mereka mengatakan “kami tunggu Anak Daud datang untuk mengalahkan musuh-musuh kami”. Anak Daud sudah datang, tapi mereka tidak sadar. Anak Daud datang itulah penharapannya. Dan Paulus membawakan berita itu. Di dalam ayat 3, “tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud”, mengapa Paulus mesti mengatakan ini? Dia diperanakan dari keturunan Daud karena itulah pengharapan sukacita yang diberitakan oleh para nabi. Nabi-nabi mengatakan “Anak Daud akan datang, jangan khawatir hai Israel, kamu sekarang ditindas, kamu sekarang disiksa, jangan khawatir karena Anak Daud akan datang”, ini yang menjadi pengharapan mereka. “Anak Daud kapan Engkau datang? Segeralah datang dan pulihkan kami”. Dan Paulus mengatakan “ini berita sukacitany Dia sudah datang. Hai orang-orang Israel kembalilah kepada Tuhan. Hai Israel datanglah kepada Tuhan”. Ini berita sukacita yang Paulus mau bagikan. Dia adalah Anak Daud yang dijanjikan oleh Tuhan. Dan ayat selanjutnya mengatakan “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”. Dia adalah Anak Allah yang berkuasa karena dibangkitkan oleh Allah. Kebangkitan Yesus adalah tanda bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa itu. Paulus sedang menekankan bahwa kita mengharapkan berita Injil karena nabi-nabi sudah bicara dulu. Saudara Kristus. Para nabi sudah bicara Anak Daud sudah datang dan itu yang kita harapkan terjadi. Sehingga waktu Yesus datang, Paulus akan memproklamirkan “ini yang sudah kamu nanti-nantikan, sambutlah Dia”. Berita Injil perlu konteks untuk dibagikan. Orang mengharapkan Juruselamat karena mereka berada dalam kesulitan, kesulitan pembuangan.

Dalam Yesaya 24 dan seterusnya, pembuangan itu dibagi dalam beberapa bagian yang sangat cocok untuk zaman kita sekarang. Di dalam pasal 24, Yesaya mengatakan pembuangan itu sama dengan kekosongan. Orang Israel yang dibuang merasa hidupnya kosong dan tidak berarti, tidak ada Bait Suci, tidak ada ibadah, tidak ada hak apa pun yang mereka hargai ada di dalam hidup. Kita sebagai manusia selalu punya sesuatu yang kita hargai. Dan kalau sesuatu yang lain kita miliki itu hilang, kita tetap tidak merasa kosong. Tapi kalau sesuatu yang paling kita hargai itu hilang, baru kita merasa kosong. Ada orang yang akan merasa kosong kalau pasangannya meninggal. Ada orang yang akan merasa kosong kalau bisnisnya hilang. Ada orang akan merasa kosong kalau ini dan itu, dan perasaan kosong itulah yang digambarkan oleh Yesaya 24. Di pembuangan itu seperti orang yang hilang pengharapan. Jadi Saudara bisa ambil pengertian itu untuk hidup kita sekarang. Banyak orang sebenarnya hidup dalam keadaan kosong karena tidak punya apa pun untuk dipegang. Semua yang berharga yang kita pegang ternyata tidak berharga. Dan baru waktu itu kita akan merasa kehilangan makna. Kehilangan makna adalah derita lebih besar dari pada kehilangan harta. Banyak orang kaya bunuh diri karena merasa hartanya tidak bisa memberikan makna apa pun. Di dalam keadaan kehilangan makna ini orang menderita dan akhirnya menantikan kapan bisa pemulihan terjadi, “saya mau hidup saya berubah, bagaimana bisa berubah”. Lalu Yesaya 24 mengatakan hal yang kedua, bahwa pembuangan itu juga identik dengan perasaan kematian sebentar lagi datang. Ini perasaan yang sangat menakutkan, ketika Saudara diburu oleh kematian. Waktu orang diburu dengan ketakutan, dia akan sangat tidak nyaman. Bayangkan kalau yang memburu Saudara adalah kematian. Kematian itu adalah sesuatu yang akan menangkap Saudara cepat atau lambat. Dan ini menakutkan. Orang Israel di pembuangan seperti cuma menunggu mati. Mereka merasa kehilangan harapan akan hidup dan mereka mengatakan “kita tinggal tunggu mati saja”. Sangat kosong hidup seperti ini, hidup seperti menunggu mati, tidak ada harapan. Lalu yang ketiga, Yesaya 24 mengatakan pembuangan itu seperti kehilangan kedaulatan di dalam komunitas. Tidak ada raja, tidak ada pemimpin, tidak ada apa pun, semua yang kita putuskan keputusannya tergantung orang luar. Kita tidak berdaulat atas diri kita sendiri, kita cuma kaum jajahan. Israel tidak memunyai kenikmatan untuk bangsanya sendiri, mereka hidup di dalam keadaan yang sangat kosong, tidak ada pemimpin, tidak ada kedautalan. Lalu hal yang terakhir dikatakan oleh Yesaya 24, bahwa pembuangan itu adalah seperti Tuhan memalingkan wajah dan menunjukan kebencian kepada Saudara. Ini yang paling menakutkan. Tuhan sudah muak, Dia palingkan wajahNya dan mengatakan “cukup, Aku tidak tahan lagi sama kamu, Aku singkirkan kamu, silahkan hidup sesukamu. Aku sudah muak kepadamu”. Yesaya 24 mengatakan ini kematian yang lebih mengerikan dari pada kematian sebelumnya, ini kekosongan yang lebih mengerikan dari pada kekosongan apa pun yang pernah dialami Israel. Ini ketakutan yang paling besar dibandingkan dengan ketakutan apa pun yang pernah dialami Israel. Bagaimana perasaan Saudara ketika Tuhan yang Mahakuasa mengatakan “Aku membencimu”, Dia tidak harus lemparkan neraka kepada kita, Dia palingkan wajahNya itu sudah cukup untuk membuat kita tidak mau hidup lagi.

Israel kehilangan begitu banyak hal ketika Tuhan mengatakan “Aku sudah muak dan Aku palingkan wajahKu dari kamu, Aku tidak mau melihat kamu lagi”. hal ini menakutkan sekali, terutama bagi orang saleh seperti para nabi. “Tuhan, sudah sedemikian marahkah Engkau? Adakah cara kami untuk meredakan marahMu? Kami para nabi mau berdoa, bolehkah kami berdoa? Dan Kitab Suci dalam Kitab Yeremia, Tuhan mengatakan “jangan doa lagi, Aku sudah sangat benci bangsa itu”. Israel belajar dengan cara yang paling keras, bahwa mereka terlalu rusak, terlalu bebal, terlalu keras hati, sehingga Tuhanp un merasa cukup untuk beranugerah dan berbelas kasihan kepada mereka. Tuhan tidak punya kewajiban untuk selalu kasihan sama kita, akan ada titik dimana Dia mengatakan “Aku tidak mau kamu lagi”. Dan ketika itu terjadi, kita tidak punya apa-apa lagi, Tuhan sudah tinggalkan kita dan kita habis. Ini yang dialami Israel, Tuhan sudah palingkan wajah. Terus bagaimana cara mempalingkan lagi Tuhan ke sini? Tidak ada lagi caranya. Saya ingat ketika anak saya lebih kecil dari sekarang, ketika kami marah kepadanya, hal yang paling dia inginkan adalah dia ingin kita baik lagi sama dia. “Ayo papa, ayo mama, senyum lagi dong”, ketika kami sedang marah, “jangan marah terus, sekarang boleh dong senyum lagi, saya ingin kalian baik lagi sama saya”. Tapi Israel sudah begitu jahat sehingga Tuhan tidak lagi berniat untuk baik lagi sama mereka dalam waktu dekat. Dan kadang-kadang kita tidak sadar, kita pikir Tuhan itu the all-powerful dan juga the all-passionate dan lain-lain, Dia adalah yang mempunyai kesabaran paling besar, Dia adalah Allah yang tidak mudah marah, itu benar. Tapi ada titik di mana Dia mengatakan “murkaKu tidak tertahankan lagi dan Aku akan tinggalkan kamu”. Jangan mencobai Tuhan, jangan membuat Dia marah kepada kita. Jangan hidup dengan keraskan hati terus, terus lemparkan hal-hal yang membuat Tuhan marah. Tuhan memang sabar, tapi Tuhan akan kembali mengatakan “kamu sudah keterlaluan, sehingga Aku harus buang kamu”. Mau tidak kita ada di titik itu? Kalau kita tidak mau ada di titik itu, berhenti keterlaluan kepada Tuhan. Jangan terus berdosa. Jangan terus abaikan perintahNya, Dia menyuruh kita untuk mengasihi tapi kita membenci, Dia suruh menyatakan belas kasihan tapi kita marah-marah terus, Dia menyuruh kita jujur tapi kita bohong terus. Dia menyuruh kita punya kejujuran di dalam bisnis dan di dalam pekerjaan kita tapi kita terus menipu orang. Dia menuruh menjadi berkat tapi kita terus mau mengambil berkat dari orang lain. Sampai kapan kita menguji kesabaran Tuhan? Israel akhirnya dibuang. Tuhan sudah teruji kesabaranNya dan akhirnya Tuhan mengatakan “cukup, Aku akan buang kamu”. Dan di dalam pembuangan, Tuhan masih mau ampuni dan panggil. Inilah berita sukacitanya, ketika Israel sudah kapok, di dalam kitab nabi dikatakan “di mana lagi kamu mau dipukul hai Israel, semua badanmu sudah bengkak karena Aku hajar, mau dimana lagi yang dihajar?”. Tapi ada saat dimana Tuhan mengatakan “baiklah, Aku akan ampuni kamu, Aku akan pulihkan kamu”, itulah Injil.

Injil adalah ketika Tuhan tidak marah lagi dan mau memanggil kita kembali. Dan ini yang diberitakan Paulus “kamu tahu tidak? Tuhan tidak marah lagi”. Mengapa Tuhan bisa tidak marah lagi? Karena ada Juruselamat yang tanggung murka dari Tuhan untuk Dia terima di dalam diriNya di atas kayu salib. Inilah berita Injil, Tuhan tidak marah lagi, mari datang kepada Dia. Itu yang Paulus katakan, bahwa oleh kebangkitanNya di antara orang mati, Dialah Anak Allah yang berkuasa Yesus Kristus. Ayat 5 “dengan perantaraanNya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa supaya mereka percaya dan taat kepada namaNya”. Paulus tidak hanya mengatakan kepada Israel “hei Israel, ini Juruselamatmu, kamu diampuni. Tadinya kamu dibuang, sekarang kamu dipanggil kembali”. Paulus mengatakan “bukan hanya orang Israel, saya juga diperintahkan Tuhan untuk menuntun bangsa-bangsa lain”. Bagaimana caranya? Mesias Israel bagi bangsa lain? ini susah. Tuhan membuang Israel, lalu Tuhan mengatakan “baiklah, Aku ampuni kamu”, sekarang Paulus mau membawa ini kepada bangsa lain, bagaimana caranya? Ini yang Paulus lakukan di Surat Roma, “kamu tahu tidak? nabi-nabi berbicara tentang pembuangan, bukan hanya pembuangan Israel, tapi juga pembuangan bangsa-bangsa lain. Seluruh bangsa sedang dibuang oleh Tuhan karena dosa”. Maka Paulus adalah seorang teolog yang membagikan Injil orang Yahudi untuk dimengerti oleh bangsa-bangsa lain, ini indah sekali. Paulus mengatakan bangsa-bangsa akan dituntut untuk mengenal Tuhan karena semua bangsa sama seperti Israel sudah dibuang oleh Tuhan. Sekarang Paulus mengatakan “kamu adalah orang yang diberkati. Karena Injil saya beritakan kepadamu dan kamu dipanggil untuk menjadi milik Kristus”. Paulus mengatakan di ayat 6 “kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus”. Saya mau mengatakan hal yang sama kepada Saudara, Saudara bukan jemaat Roma tapi Saudara sama dengan jemaat Roma, sama-sama bukan orang Yahudi yang perlu kenal Juruselamatnya orang Yahudi. Dan saya mengatakan kepada Saudara, kamu pun termasuk di antara mereka yang sudah dipanggil menjadi milik Kristus.

Biarlah kita mengingat Injil dengan benar, Saudara sudah menjadi milik Kristus, Saudara sudah dimiliki oleh Dia, Saudara harus belajar untuk mempersembahkan hidup dengan rela kepada Dia. “Saya bebas, dosa sudah ditaklukan, maut sudah ditaklukan, Tuhan sudah tidak murka lagi, semua sudah dilepaskan dari saya, puji Tuhan. Sekarang saya mau menjadi hambaMu, saya mau tundukan diri menjadi milikMu karena kerelaan saya, bukan karena paksaan”. Mari kita menerima Injil dengan satu perasaan hati yang rela untuk hidup bagi Tuhan. Mari terima belas kasihan Tuhan dengan sepenuh-penuhnya untuk hidup dalam kekudusanNya dan hidup untuk memuliakan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati Saudara dan saya. Dan biarlah Injil yang Paulus bagikan dalam Surat Roma membuat kita semakin mengerti dan semakin kita hargai di dalam ayat-ayat selanjutnya. Saya terus doakan Saudara menjadi orang Kristen yang semakin mengerti kelimpahan berkat Tuhan, makin mampu hidup berkemenangan di dalam Tuhan, dan makin mampun untuk mematikan diri yang lama dan menyatakan hidup bagi Kristus, lalu menyatakan hidup di dalam Kristus.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)