Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Roma » Semua orang punya titik awal yang sama dalam dosa
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Semua orang punya titik awal yang sama dalam dosa

Pdt. Jimmy Pardede

(Roma 2: 1-8, 18-32)

Kita perlu melihat bagian awal apa yang dimaksud dengan menghakimi dan mengapa kalimat ini muncul. Seringkali orang-orang memakai ayat-ayat dari Alkitab lalu memasukan ke dalam konteks yang tidak sesuai. Misalnya Saudara melihat satu orang melakukan hal yang salah, lalu Saudara tegur, kemudian orang itu mengutip Roma 2 “hai kamu manusia, jangan menghakimi” atau pakai kalimat-kalimat lain yang mengatakan jangan menghakimi. Bagian ini harus diselidiki berdasarkan argumen atau kalimat Paulus yang sebelumnya. Apa yang membuat orang menghakimi? Tentu dosa-dosa yang dibukakan di pasal 1. Dosa apa yang paling parah di pasal 1? Dosa yang paling parah di pasal 1 adalah homoseksualitas. Bukan hanya orang Kristen yang menganggap homoseksualitas itu dosa, orang Yahudi sangat membenci praktek ini. Dua dosa yang mengakibatkan kesalahan atau kehancuran besar dalam Perjanjian Lama adalah karena adanya praktek homoseksualitas. Orang-orang di Sodom dan Gomora menjalankan praktek ini sehingga Tuhan menghancurkan seluruh kota. Lalu di dalam Kitab Hakim-hakim ada sebuah kota di daerah Benyamin yang melakukan praktek seperti ini, sehingga Tuhan memutuskan untuk membuat kacau segala keadaan. Akhirnya ada perang besar dengan Suku Benyamin yang melindungi kota ini, dan akhirnya Suku Benyamin hampir dipunahkan dari Israel. Dari dua narasi itu kita bisa tahu bahwa orang Israel mempunyai tradisi yang membenci praktek homoseksualitas. Siapa yang melakukan tidur dengan laki-laki seperti laki-laki dengan perempuan, wajib dihukum mati. Ini sesuatu yang sangat jelas sekali di Kitab Suci. Maka sangat tidak masuk akal menafsirkan Roma 1 dengan trend LGBT zaman ini. Jadi kita tidak bisa menafsirkan segala sesuatu di Kitab Suci berdasarkan apa yang kita suka atau berdasarkan preferensi budaya kita. Kita harus belajar untuk tidak menjadikan budaya kita super lalu memahami bahwa bagi pembaca Surat Roma kebudayaan merekalah yang berlaku. Sehingga kalau Saudara mau setia membaca Surat Roma, Saudara harus membacanya dengan pengertian tadi yaitu bahwa homoseksualitas adalah dosa yang sangat besar bahkan memuncakan murka Tuhan di dalam Perjanjian Lama. Tuhan murka kepada Benyamin karena melindungi sebuah kota yang melakukan praktek ini. Maka suka atau tidak suka kita harus belajar untuk cari makna yang sesuai, yang setia dengan apa yang dinyatakan, lalu belajar untuk menggumulkan bagaimana kita menaatinya. Setiap kali kita membaca Kitab Suci, akan selalu ada bagian dari diri kita yang lama dimatikan, dan bagian diri kita yang baru di dalam Kristus diteguhkan, dimunculkan dan disempurnakan. Jadi tidak ada orang membaca Alkitab lalu tidak mengalami apa pun. Semua yang membaca Alkitab akan mengalami murka atau teguran Tuhan yang besar akan kena pada dirinya. Orang yang mempunyai kecenderungan homoseks akan tertegur keras sekali dengan kasus-kasus yang tadi saya sebutkan. Tapi untuk orang-orang yang tidak melakukan praktek homoseks atau tidak punya kecenderungan itu, tidak berarti dia aman waktu membaca Alkitab, karena begitu banyak hal yang dia kerjakan, yang akan juga ditegur oleh Kitab Suci. Kitab Suci meng-counter diri kita yang lama dan itu demi kebaikan kita. Kitab Suci mengkonfirmasikan Kristus di dalam diri kita, dan oleh karena itu diri kita yang lama harus keluar.


Yang paling Tuhan benci adalah ketika orang menjadi Kristen dan membaca Alkitab untuk meneguhkan dirinya yang lama, “karena diri saya yang lama seperti ini, maka saya akan membaca Alkitab untuk menyegel pengertian bahwa apa yang saya anggap benar itu memang benar”. Kalau orang membaca Alkitab untuk membenarkan diri, dia sulit untuk diubah oleh Tuhan. Praktek yang paling dibenci oleh orang Israel dan Tuhan adalah praktek homoseksualitas. Dan itu sebabnya Paulus menulis, “awalnya kamu menolak untuk menerima Tuhan. Awalnya kamu menolak untuk menyembah Tuhan. Awalnya kamu tidak mau mengenal Dia. Maka Tuhan biarkan kamu di dalam hawa nafsumu. Karena itulah kamu menyala dalam birahi laki-laki dengan laki-laki, laki-laki dengan perempuan”. Mengapa Paulus memakai contoh dosa seperti ini? Karena dia ingin pergi dari titik awal ke puncak. Titik awal menolak menyembah Tuhan. Dosa yang paling parah adalah homoseksualitas. Maka setelah Paulus menyinggung apa yang paling puncak, dia menyatakan juga bahwa ini terjadi karena Tuhan membiarkan manusia. Dan di dalam ayat 29 dan seterusnya, Paulus memberikan daftar dari pelanggaran-pelanggaran Taurat, banyak melakukan kelaliman, kejahatan, kebusukan, dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat, kefasikan, pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyanyang, tidak mengenal belas kasihan. Ini semua dosa disebut oleh Paulus. Jadi selain menyinggung dosa homoseksualitas, Paulus juga menyinggung segala kecenderungan manusia untuk memberontak kepada Taurat. Tapi uniknya Paulus tidak mengatakan bahwa praktek-praktek ini melanggar Taurat. Paulus mengatakan praktek-praktek ini sebenarnya melanggar hati nuranimu juga. Jadi apa yang Taurat larang sebenarnya dilarang juga atau kita punya perasaan itu dilarang di dalam hati nurani kita. Ini yang sudah kita bahas minggu lalu, hati nurani adalah cara Tuhan untuk membuat masyarakat yang baik sesuai dengan yang Dia mau. Tapi ketika hati nurani diabaikan, maka manusia akan hidup dengan semakin rusak. Semakin membenarkan diri, semakin rusak. Semakin mengabaikan teguran, semakin rusak. Semakin menolak untuk berubah, semakin rusak. Semakin toleransi dan menganggap wajar kerusakan diri, semakin rusak. Dosa-dosa ini yang Paulus bukakan dan Paulus tahu orang membaca kalimat ini langsung mengatakan “amin, Tuhan layak menghukum orang-orang seperti ini. Tuhan layak menghukum orang yang setuju praktek ini, Tuhan layak menghakimi orang-orang jahat ini”.

Tapi Paulus mengatakan di dalam pasal 2: 1, kalau kamu menghakimi dengan mengatakan “memang orang yang menjalankan homoseksual adalah orang jahat, mesti dihukum oleh Tuhan”, Paulus mengatakan “kamu juga sama, kamu menghakimi orang lain, kamu sendiri tidak bebas dari salah”. Saudara mungkin bingung “saya bukan gay, saya tidak jatuh dalam dosa seksual. Mengapa dikatakan saya melanggar apa yang dikatakan oleh Tuhan sama seperti orang homoseksual melanggar yang dikatakan oleh Tuhan. Kalau saya menghakimi mereka dengan mengatakan kamu salah”, mengapa Paulus mengatakan “kamu sendiri tidak bebas dari salah”? Yang Paulus mau katakan adalah bahwa setiap dosa dimulai dari tidak mau mengenal Tuhan, ini yang harus kita ingat terus. Jadi pasal 1: 18 dan seterusnya memberikan argumen yang jelas sekali. Saudara tidak bisa potong Surat Roma dengan sembarangan apalagi hanya ambil satu dua ayat lalu jadikan itu sesuatu untuk apa pun, untuk apologetika, untuk pembenaran diri, untuk kerangka teologi sistematik dan lain-lain. Paulus menulis argumen yang panjang di dalam Surat Roma. Kalau Saudara mau bersabar mendengar argumen yang panjang, Saudara akan mendapat berkat. Tapi kalau Saudara cuma mau mencari kalimat-kalimat emas, atau kata-kata mutiara untuk dimasukan dalam instagram dan menjadi pic quote abad ini, maka Saudara akan sulit memahami apa yang Paulus katakan. Paulus memberikan argumen yang panjang dan Saudara harus peka dan sabar mempelajarinya dengan tekun. Maka Paulus mengatakan Tuhan menyatakan diri tapi manusia tidak mau kenal Tuhan, maka Tuhan marah. Tuhan menyatakan diri, manusia tidak mau, maka Tuhan membiarkan manusia. Biarkan itu berarti meskipun Tuhan terus menyatakan diri, tapi Tuhan membiarkan manusia mengabaikan pernyataan diri Tuhan. Dan kalau pernyataan diri Tuhan diabaikan, dampaknya apa?

Mengapa Tuhan mencipta? Karena Dia mau membagi relasi Tritunggal. Kalau Dia mau membagi relasi Tritunggal yang adalah kasih, mengapa ada murka? Karena yang Dia kasihi harus dilindungi, yang Dia mau berkati, limpahkan dengan kasih, harus Dia jaga. Dan apakah yang akan Tuhan bagikan? KasihNya. Dalam apa Tuhan membagikan kasihNya? Di dalam seluruh ciptaan, ini penting untuk kita pahami. Seluruh ciptaan mencerminkan kasih dari Allah. Seluruh ciptaan mencerminkan kebaikan dan pemeliharaan Allah. Seluruh ciptaan mencerminkan diri Allah, meskipun ciptaan bukan Allah. Maka siapa yang merusak ciptaan, dia akan dirusak oleh Tuhan. Siapa yang menghancurkan ciptaan, dia akan dihancurkan oleh Tuhan. Siapa membumi-hanguskan bumi, dia akan dibumi-hanguskan oleh Tuhan. Siapa membunuh orang, dia akan dibunuh oleh Tuhan. Siapa yang memperlakukan orang dengan tidak adil, dia akan menerima murka Tuhan yang adil. Siapa yang sembarangan dengan orang lain, dia akan diperlakukan oleh Tuhan sesuai dengan apa yang dia sudah kerjakan yaitu sembarangan dengan orang lain. Relasi manusia yang indah, adil, penuh kasih, relasi antara manusia dan alam yang harmonis, relasi antara manusia dan Allah yang penuh ibadah, inilah kenikmatan, kesempurnaan, inilah cara Tuhan berbagi cinta kasihNya. Jadi Tuhan berbagi cinta kasihNya dengan kondisi seperti ini. Inilah kondisi yang akan terjadi kalau cinta kasih Tuhan diterima dengan sepenuh hati oleh manusia. Tapi Saudara bisa di dalam Kitab Suci, dari awal sudah ada perkataan yang berbau perang, karena ternyata ada musuh Tuhan yang bernama iblis. Saya sedang mempelajari riset tentang John Calvin, saya akan tulis tentang John Calvin di dalam disertasi dan saya menemukan ada satu orang komentar “begitu banyak tema dibagikan oleh John Calvin, tapi ada sedikit sekali yang dibahas yaitu tentang setan”. Jadi saya kepikiran apakah saya tulis tentang John Calvin dan setan. Lalu dia katakan Calvin banyak bicara tentang setan dan mungkin para pembaca akan mengkritik “bukan Calvin, Luther yang banyak bicara tentang setan”. Tapi penulis buku itu mengatakan “sebenarnya Calvin juga”. Tapi bedanya Luther membahas setan dengan cara yang spektakuler. Calvin akan membahas bahwa peperangan sesungguhnya antara Tuhan dan setan adalah peperangan untuk membuat manusia jatuh ke dalam salah satu, entah Tuhan entah setan. Ciptaan jatuh ke tangan Tuhan, berarti akan ada harmoni antara manusia dan alam, kasih dan adil antara manusia satu dengan manusia lain, ibadah antara manusia dan Allah. Ini kalau ciptaan seluruhnya jatuh ke tangan Allah atau ditopang oleh tangan Tuhan. Tapi kalau ciptaan ini jatuh ke tangan setan, maka pembalikan dari kondisi tadi akan terjadi. Bukan ibadah antara manusia dan Tuhan, melainkan penyembahan berhala yang dilakukan manusia. Bukan kasih dan adil antar manusia, melainkan kegarangan, kebencian, penindasan. Bukan harmoni antara manusia dan alam, melainkan pengrusakan, ini kalau jatuh ke tangan setan. Jatuh ke tangan setan, ciptaan tidak bisa menampung keindahan kasih Tuhan. Karena keindahan kasih yang mau dibagikan dirusak oleh ciptaan. Tapi kalau jatuh dalam tangan Tuhan yang penuh kasih, maka segala hal yang Tuhan mau terjadi, itu benar-benar akan terjadi. Sehingga ketika Tuhan mencipta, Dia mau membagikan kasihNya. Dan siapa yang merusak rencana ini pasti dihukum oleh Tuhan. Itu sebabnya poin awal dari pasal 2 ini adalah Roma 1: 18 dan seterusnya, “hai manusia, kamu menghakimi orang lain?’, “iya”, “kenapa?”, “karena mereka salah”, “tahu tidak asal mula salah mereka dari mana?”. Asal mula salah mereka adalah mereka tidak mau terima tujuan penciptaan yang Tuhan tetapkan dan mereka menjalankan tujuan sendiri. Tuhan mau ada ibadah, ada kasih, ada harmoni, ada keadaan harmonis antara manusia dan alam, tapi manusia menolak. Maka penolakan ini membuat manusia hidup dengan cara yang rusak. Dan semakin mereka mengabaikan Tuhan, semakin rusak, dan puncaknya adalah kegiatan homoseksual tadi. Jadi apa yang kamu lihat sebagai tindakan yang sangat jahat, sangat jelek, sangat negatif adalah buah dari penolakan pernyataan Tuhan. “Tuhan menyatakan diri dan saya tolak, saya abaikan, saya tidak mau”, maka manusia jatuh dalam dosa seperti tadi, homoseksual dan lain-lain.


Tapi Paulus mengingatkan waktu kamu menghakimi orang, kamu hakimi tindakannya saja atau kamu hakimi penyebabnya juga? Orang kalau menghakimi tindakan saja, itu orang yang tidak adil dalam menghakimi, kalau hanya melihat tindakan luar. Tapi Saudara akan menggali “, tapi coba selidiki lagi apa yang dikatakan Roma 1. Mengapa orang melakukan tindakan homoseksual itu? Karena mereka meninggalkan Tuhan. Mereka meninggalkan Tuhan karena mereka bodoh dan jahat. Dalam hati mereka hanya mau tahu diri mereka. Kebenaran yang mereka tahu adalah satu-satunya, mereka tidak pernah meng-counter kebenaran mereka dengan kebenaran Tuhan. Maka mereka melihat fakta dengan kebenaran yang salah. Yang salah dari manusia adalah kebenaran manusia, righteousness adalah kebenaran diri, bukan kebenaran Tuhan. Maka karena kita punya kebenaran sendiri, righteousness, kita melihat kebenaran, truth, dengan cara yang terdistorsi. Apa pun yang kita lihat terdistorsi. Sayangnya yang kita lihat itu adalah anugerah Tuhan. Dan kalau anugerah Tuhan terdistorsi berarti kita diselewengkan, kita diluputkan dari mendapat anugerah, ini menyedihkan. Kalau kita diluputkan dari bahaya, diluputkan dari bencana itu bagus. Tapi diluputkan dari anugerah Tuhan, itu kasihan sekali, dan itu yang terjadi. Ketika manusia mendirikan kebenaran sendiri, kita tidak bisa melihat alam dengan cara yang benar, kita tidak bisa melihat manusia dengan cara yang benar, kita tidak bisa lihat ada Tuhan dengan cara yang benar. Akhirnya melihat Tuhan dengan cara yang salah, sehingga dia menyembah berhala. Cara melihat alam salah, sehingga dia mendominasi, menguasai dan merusak. Cara melihat sesama salah, sehingga dia memanipulasi orang lain. Sehingga pernikahan yang rusak, kekerasan di dalam rumah tangga, pelecehan dari yang tinggi ke rendah dan lain-lain, semua terjadi dalam komunitas manusia. Semua kerusakan dan kebobrokan terjadi karena manusia cuma mau dengar dirinya dengan kebenaran yang terdistorsi itu. Jimmy Pardede punya righteousness, kebenaran yang sudah terdistorsi, Saudara pun sama, setiap Saudara sudah punya kebenaran yang sudah terdistorsi. Jangan dengar kebenaran sendiri, jangan keras kepala, jangan anggap diri benar, kembali ke Alkitab. Berpikir dengan cara pikir Tuhan. Ketika kita sudah terdistorsi, kita terluput dari berkat Tuhan, kita tidak mendapat apa yang Tuhan mau berikan. Dan karena itu keadaan kita semakin rusak. Maka Paulus mengatakan “kamu menghakimi orang yang melakukan homoseksualitas, penyakit mereka apa?”, “praktek homoseks”, “awalnya apa?”, “praktek homoseks”, “bukan, awalnya adalah mereka menolak untuk menyembah Tuhan, awalnya mereka menolak untuk menerima kebenaran Tuhan, awalnya mereka menolak untuk menerima righteousness dari Tuhan dan mereka mendirikan righteousness mereka sendiri sebagai ganti kebenaran Tuhan. Itu titik awal kesalahan mereka”.


Maka Paulus mengatakan “kamu yang menghakimi orang homoseks ini, apakah kamu punya problem yang sama di awal? Sama, kamu pun mendirikan kebenaran sendiri, kamupun tidak mau datang kepada Tuhan, kamu pun tidak menikmati apa yang Tuhan mau berikan, namun ekspresi keluarnya beda”. Ada orang yang menjalankan praktek homoseksual, orang lain mungkin mencuri tapi dia bukan homoseks. Maka berkait dengan seks, dia bebas. Tapi kalau dia menghakimi orang lain, Paulus mengatakan “hati-hati, kamu sendiri suka mencuri, mengapa kamu mencuri?”, “karena saya tidak bisa menikmati hidup kalau tidak cukup. Dan saya tidak bisa mendapatkan apa-apa yang cukup”, kalau tidak mencuri tidak cukup. Saudara coba perhatikan kalimat ini “kalau tidak mencuri tidak cukup”, kasihan karena dia tidak pernah mengalami ada Allah yang pelihara bunga bakung di padang, ada Allah yang memelihara burung di udara, ada Allah yang memelihara rusa-rusa di hutan, kata Mazmur, dan ada Allah yang memelihara setiap umatNya. Dia tidak punya Allah seperti itu. Dia tidak punya harapan untuk dipelihara, maka harus mencuri. Problemnya adalah dia tidak mengenal Allah sungguh-sungguh. Maka problem tidak kenal Allah adalah problem kita semua. Itu sebabnya Paulus mengatakan “kamu pasti menghakimi orang lain dengan cara yang tidak adil, karena kamu akan benturkan sisi dimana kamu kuat dengan sisi dimana orang lemah tanpa menyadari bahwa di dasarnya kita semua sama. Di dasarnya kita tidak cinta Tuhan, kita tidak ingin Tuhan, kita tidak mau Tuhan, maka kita jatuh dalam dosa kita masing-masing.


Bagaimana bisa kembali kepada Tuhan dan kebenaranNya? Tidak bisa, karena engkau tidak punya wakil, engkau tidak punya orang yang akan menyatukan engkau dengan Dia dan menjadikan kebenaranNya menjadi kebenaran kita juga. Paulus nanti akan berargumen dalam bagian yang berikutnya bahwa kita semua kekurangan kebenaran, kekurangan kemuliaan. Kalau kita sudah kurang kebenaran dan kurang kemuliaan, bisakah kita munculkan sendiri? Tidak kita perlu kebenaran dari luar untuk diterapkan kepada kita. Kita perlu yang dari luar untuk dimasukan dalam diri kita. Dalam diri kita sendiri kita sudah hopeless, tidak punya harapan. Ini yang Paulus katakan “hai manusia, siapapun engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah karena pada dasarnya kamu adalah pemberontak kepada Allah, sama seperti orang lain juga. Kalau begitu apakah kita tidak boleh saling tegur? Boleh, bagaimana cara menegur? dengan penuh belas kasihan. Saudara bisa membedakan orang yang menegur dengan kebencian kepada tindakan orang, dengan orang yang menegur karena kasih kepada orang itu. Kalau Saudara membenci orang, Saudara akan sangat terus terang, tapi tidak punya keinginan untuk orang itu kembali. Tapi kalau Saudara adalah yang belajar mengasihi seseorang, Saudara akan tegur dengan harapan mau kembali. Dan ada perasaan dalam hati yang sangat besar yang menginginkan orang itu untuk kembali. Jadi boleh menghakimi orang lain, dan itu harus, tapi Saudara harus ingat problem utama orang itu adalah problem yang Saudara juga miliki. Dengan demikian teguran kita akan menjadi teguran yang berbeda dengan teguran orang Farisi. Teguran kita adalah teguran dari yang pernah sama-sama merasakan, “saya pernah berdosa, kamu pernah berdosa, mari keluar dari keadaan ini. Menghakimi orang lain dengan menyadari problem utama mereka adalah problem saya juga”. Maka kita di sini akan dilatih oleh Tuhan untuk belajar melihat problem sampai akarnya, bukan cuma sekedar apa yang ada di luar.


Ayat 2 “tapi kita tahu bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau hai manusia, engkau yang menghakimi mereka berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?”. Saudara dan saya punya problem yang sama di akar, maka Tuhan akan hukum dia yang jahat itu dan Saudara yang sadar dia jahat, mengerikan.


Ketika Saudara mendeteksi rusaknya orang lain, sambil deteksi orang lain sambil sadar “diriku kalau dideteksi dengan detektor yang sama, akan ada di dalam level yang sama”, ini mengerikan. Jadi semua orang dihakimi oleh Tuhan dan semakin kita menghakimi orang lain semakin membuat kita sadar yang membuat mereka berdosa adalah fondasi menolak Tuhan. Jadi Paulus sedang mengatakan “kamu tidak akan luput dari murka Tuhan”. Dan Saudara mulai berpikir “kalau saya sama parahnya dengan Sodom dan Gomora, mengapa saya belum dihukum? Sodom dan Gomora gosong, saya tidak. Jadi saya tidak dihukum Tuhan, Sodom dan Gomora dihukum, bukankah itu tandanya saya lebih baik dari mereka?”. Tapi Paulus mengatakan di ayat 4 “maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya. kesabaranNya dan kelapangan-hatiNya? Tidakkah kamu tahu maksud kemurahan Allah adalah menuntun engkau dalam pertobatan?”. Kamu tidak tahu alasan kamu belum dihukum adalah kamu mendapat anugerah. Sodom dan Gomora tidak mendapat anugerah, mengapa kita dapat? Itu tidak ada yang tahu mengapa kita dapat. Anugerah diberikan kepada yang tidak layak, berarti satu-satunya yang kita tahu adalah kita tidak layak. Kita juga melakukan dosa yang sama, mengapa Tuhan belum hukum?”, karena Tuhan masih mau menuntun kita ke dalam pertobatan. Mengapa Tuhan mau menuntun kita dalam pertobatan? Karena belas kasihan Tuhan besar, Dia begitu murah hati kepada kita. Dan kalau Dia sudah menyatakan kemurahanNya, masakan engkau mau keras hati terus? ayat 5 “tapi karena kekerasan hatimu tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri, pada hari waktu mana murkan dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”. Tuhan akan memberikan hukumanNya maka bertobatlah sekarang.


“Tapi bagaimana caranya bertobat, saya berusaha bertobat tapi masih tidak bisa”, pertobatan Paulus bukan hanya pertobatan tindakan saja tapi pertobatan yang menakup semua, kembali kepada Tuhan dan tindakan. Bukan cuma tindakan, tapi kembali kepada Tuhan. Bukan hanya kembali kepada Tuhan, tapi harus ada tindakan nyata. Dan keduanya disatukan oleh Paulus, maka dia mengatakan di ayat 6 “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidak-binasaan. Tapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri yang tidak taat epada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman”. Kalau kamu diberikan anugerah, Tuhan mau kamu kembali, cepat bertobat. Bagaimana cara kita kembali? Yaitu mengingat Tuhan akan menghakimi dengan melihat perbuatan. Yang berbuat baik, Tuhan akan beri hidup kekal. Yang mencari kepentingan sendiri, Tuhan berikan penghukuman. Di sini kita akan dikacaukan oleh teologi kita yang sempit. “Bukankah kita diselamatkan bukan karena perbuatan?’, ini membuat kita jadi bingung. “Kan keselamatan bukan karena perbuatan, mengapa di sini ditulis karena perbuatan?”, saya mau tanya benarkah keselamatan bukan karena perbuatan? Benar, di Efesus 2, Roma 3, Roma 5, Roma 6 dinyatakan kita selamat bukan karena perbuatan kita, itu betul. Tapi tidak pernah ada ayat satu pun mengatakan “keselamatan tidak akan pernah mengubah tindakan” atau “keselamatan tidak menghasilkan perbuatan baik”, tidak ada satu pun, kalau Saudara menemukannya berarti ayat Alkitab Saudara ngawur. Kita harus melihat urutan, perbuatan baik baru selamat, itu salah. Selamat setelah itu perbuatan baik, itu benar. Selamat tanpa perbuatan baik, tidak mungkin ada selamat. Tidak ada orang bisa mengatakan selamat kalau tidak ada perubahan. Kalau begitu selamat baru perubahan? Bukan, selamat dulu baru ada perubahan. Ini penting untuk kita pahami. Maka dalam bagian-bagian Perjanjian Baru, kadang-kadang penulis akan memadukan semuanya. Karena mereka tidak ada isu dengan teologi seperti di dalam zaman Reformed. Calvin berlawanan dengan Pigius. Pigius seorang teolog yang sangat menekankan jasa, gereja menawarkan jasa, harus kerjakan ini, harus melakukan upacara ini, baru bisa selamat. Tapi Calvin mengatakan tidak ada apa pun di dalam ibadah yang membawa kepada keselamatan, sebaliknya setelah selamat baru orang bisa ibadah. Sebelum Calvin di abad ke-5, abad ke-4 ada seorang bernama Pelagius. Pelagius berdebat dengan Augustinus, Pelagius mengatakan “kita bisa selamat karena melakukan ini dan ini”, Augustinus melawan dengan mengatakan “Tuhan yang pilih kita, Tuhan yang memberikan anugerah, bukan karena kita sudah kerjakan ini”. Jadi Augustinus dan Calvin punya isu melawan Pelagius dan Pigius. Tapi Paulus tidak ada isu itu, dia sedang tidak berdebat dengan orang yang meniadakan perbuatan. Kalau Saudara mengatakan “ada pak, di Galatia ada orang yang menawarkan perbuatan”, itu bukan perbuatan, itu tata cara Yahudi. Orang-orang ini mengatakan jadi Yahudi dulu baru bisa selamat.


Jadi orang-orang itu tidak pernah mengatakan berbuat baik dulu baru selamat, yang mereka katakan adalah jadi Yahudi dulu baru selamat. Dan Paulus melawan Judaiser, yang dikatakan Judaiser adalah kamu harus sunat seperti orang Yahudi, mengadopsi nama Yahudi, jadi bagian dari Yahudi, baru bisa selamat dan percaya Yesus, ini yang Paulus tolak. Jadi Paulus tidak punya isu berbenturan dengan orang yang menekankan perbuatan baik, tidak ada di Perjanjian Baru. Sebaliknya di Perjanjian baru banyak orang yang menekankan tidak perlunya etika yang baik. Orang-orang antinomian itu malah lebih banyak. Paulus mengatakan “kalau kamu sudah menerima Tuhan, tidak ada perbuatan baik, saya akan tegur kamu dengan keras, mungkin kamu belum Kristen”. Maka dalam bagian ini Paulus mengatakan “ada yang tekun berbuat baik”. Berbuat baik di sini yang ditekankan oleh Paulus adalah keindahan relasi dengan Tuhan. Keindahan relasi dengan Tuhan menghasilkan pekerjaan yang baik. Maka Paulus mengatakan “carilah Tuhan”. Saudara meninggalkan dosa tidak dengan “tinggalkanlah dosa”, tapi yang Paulus katakan “cari Tuhan dengan giat”.  “Hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan”, Berbuat baik mencari kemuliaan. Mencari kemuliaan, kehormatan, ketidakbinasaan di Tuhan. Jadi ayat 7 adalah perintah Paulus untuk kita mencari Tuhan. Dan dengan demikian Saudara akan mampu berbuat baik. Cari Tuhan tapi tidak mau berbuat baik, cari Tuhannya itu omong kosong. Banyak orang sangat baik untuk mendengar tapi tidak sanggup untuk menjalankan. Alkitab sudah memperingatkan ini, Paulus mengatakan di dalam suratnya hati-hati kepada perempuan-perempuan yang cuma senang bersilat kata, berdebat dan kemudian mendengar sesuatu hanya untuk diperdebatkan dengan yang lain. Tentu saja bukan hanya perempuan, tapi kasusnya di situ perempuan, dan kalau di gereja kita siapa pun bisa melakukan kesalahan ini. Orang sudah mendengar firman tapi tidak ada perubahan, karena apa yang dia dengar cuma menjadi teori untuk menyenangkan dia saja.


Tanda Saudara benar-benar mencari Tuhan adalah adanya perubahan perilaku. Mengapa tingkah laku bisa berubah? Karena sekarang tahu problem utamanya. Mengapa Saudara bisa mengampuni orang lain? Karena kita tahu problem dia, kembali ke Tuhan. Dan kita punya problem sudah ditangani, kita sudah kembali ke Tuhan. Carilah Tuhan, tekun mencari Dia. Bukan sekedar cari dengan cara yang simple. Kata cari itu suka disalah-mengerti, cari itu berarti kalau belum ketemu, Saudara tidak berhenti, itu mencari. “Kamu sudah kenal Tuhan? Sudah menikmati Tuhan?”, “belum”, lalu sekarang melakukan apa? Minum kopi dengan santai. Tidak bisa, Saudara belum menikmati sukacita di dalam Tuhan, jangan berhenti cari. Bagaimana cara mencari? Mazmur mengatakan menikmati Dia, menjadikan Dia pengharapan, menjadikan Dia pegangan untuk doa dan permohonan, menjadikan Dia tempat untuk kita lari dan mendapatkan ketenangan. Dia adalah Gunung Batu, ini pengertian yang unik dari Daud, Daud dikejar siapa pun, dia lari ke gunung batu, lalu dia mendapatkan ketenangan di situ. Setelah itu dia menjadikan Yerusalem gunung batu yang berikut. Dia membuat Yerusalem menjadi kota di atas bukit dengan benteng yang kuat sekali. Maka dengan perlindungan dari Sang Gunung Batu yang sejati yaitu Tuhan, dia mendapatkan ketenangan. Dia mendapatkan ketenangan dari Tuhan, bukan dari perubahan suasana, meskipun dia bergumul. Jangan lupa Kekristenan itu bergumul karena bergumul adalah mencari Tuhan. Maka saya dan Saudara berada di jalan yang tepat meskipun belum sempurna, dengan terus mencari Tuhan, dengan terus datang kepada Dia, dengan terus belajar menikmati Dia. Menikmati mengenal Dia, menikmati pimpinan Dia, menikmati segala yang Dia percayakan kepada Saudara.


John Calvin mengatakan ketika Tuhan mendidik kita, Dia memberikan begitu banyak hal, salah satu tujuannya adalah menyadarkan tentang persekutuan. Saudara dan Yesus satu di dalam penderitaan, karena Saudara dan Yesus juga satu di dalam kemuliaan, kebangkitan dan hidup kekal. Jadi mengapa saya hidup susah? Karena Yesus pernah hidup susah. Mengapa kalau Dia susah saya harus ikut-ikutan susah? Karena nanti kamu akan ikut senang bersama dengan Dia. “Mengapa saya sekarang sulit?”, karena Yesus pernah sulit. “Mengapa saya sulit?”, karena kamu nanti akan mendapat bahagia. Maka Calvin mengatakan penderitaan bersama Kristus adalah kekuatan untuk mendapatkan pernyataan dari Tuhan bahwa suatu saat kamu dan Tuhan akan dipermuliakan bersama. Inilah mencari Tuhan. Maka Paulus mengingatkan mencari Tuhan dengan tekun, berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidak-binasaan, kamu akan mendapat hidup kekal. Tapi jika kamu cuma tahu kepentingan diri, tidak taat kepada kebenaran, taat kepada kelaliman, akan mendapat penderitaan dan kesesakan. Maka carilah Tuhan dan nikmatilah Dia, Saudara akan mendapatkan kelegaan lewat Dia.


(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)