Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Roma » Kristus yang bangkit dan hati nurani
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kristus yang bangkit dan hati nurani

Pdt. Jimmy Pardede

(Roma 1: 28-32)

Banyak yang berpikir bahwa Kekristenan adalah tentang hati yang mencintai, tapi bukan tentang pengetahuan. “Kalau kamu cuma tahu tapi tidak punya tingkah laku, percuma. Kalau kamu cuma tahu tapi tidak ada perubahan, percuma. Lebih baik orang yang ada perubahan meskipun tidak ada pengetahuan, itu lebih baik”, itu tidak benar. Baik tingkah laku maupun pengenalan akan Tuhan sama pentingnya bagi Tuhan, tidak ada gunanya kita bertingkah laku baik kalau kita tidak kenal Tuhan, tidak ada gunanya mengaku kenal Tuhan kalau kita tidak bertingkah laku baik. Itu sebabnya semua orang Kristen harus kenal pokok-pokok iman dari Kekristenan. Banyak orang mengatakan “saya sudah sibuk kuliah, saya sudah sibuk pakai otak dan pikiran saya untuk kerja, saya sudah sibuk pikir hal-hal yang rumit waktu studi atau di kantor. Maka waktu saya ke gereja, saya ingin lepas dari itu, saya ingin santai, saya ingin tenang”, tapi saya akan beri tahu satu hal bahwa studi yang dalam bermula dari gereja. Kalau Saudara pelajari sejarah, universitas dimulai dari apa yang disebut sebagai sekolah di dalam gereja. Mengapa ada sekolah-sekolah di dalam gereja di abad ke-7, 8, 9 kemudian abad pertengahan? Karena orang-orang di gereja sadar pentingnya menggali firman dan menggali firman tidak bisa lakukan tanpa bisa baca dan tulis. Orang zaman dulu tidak banyak  yang bisa baca dan tulis, sangat sedikit yang bisa. Maka gereja mempelopori belajar membaca dan menulis, “supaya kamu bisa mengerti Alkitab, kamu mesti tahu bagaimana membaca”. Lalu mereka juga yang mengajarkan bagaimana mengerti apa yang dibaca. Ada begitu banyak ilmu yang perlu dibagikan, ada begitu banyak pengertian yang tadinya hanya dimiliki oleh orang-orang ahli filsafat, sekarang dibagikan oleh gereja kepada orang-orang yang belajar menjadi pelayan Tuhan. Pelajaran yang menuntut orang untuk berpikir dimulai dari gereja. Sehingga kalau kita tidak mendedikasikan pikiran kita untuk mengerti Alkitab, kita akan menjadi orang Kristen yang timpang sekali. Jangan pikir kita sanggup menghadapi dunia, jangan pikir kita sanggup mengenal Tuhan kalau kita tidak konsentrasi untuk mengetahui apa yang Alkitab mau sampaikan.


Maka waktu Paulus mengatakan “inilah berita Injil”, dia mengaitkan bahwa Kristus yang adalah yang dipercaya oleh orang Kristen, Kristus ini adalah Penggenap dari seluruh Perjanjian Lama. Kalau Kristus ini menggenapi Perjanjian Lama, bukankah Perjanjian Lama itu untuk orang Israel? Bagaimana tema untuk Israel sekarang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain juga? Apa gunanya bagi saya yang bukan Israel? Pelajari sejarah Israel. Maka kita masuk dalam 2 kesimpulan, pertama sejarah Israel tidak penting, yang penting adalah Kristus. Apa yang terjadi di Perjanjian Lama itu tidak penting, yang penting Kristus. Atau yang kedua, bahwa saya memahami Kristus sesuai Perjanjian Lama, lalu saya mesti menjadi Israel supaya saya nyambung dengan Perjanjian Lama. Kedua-duanya ditolak oleh Paulus. Maka kalau kita mau kenal Kristus, kenal dulu argumen Perjanjian Lama dalam dirinya sendiri, baru nanti kita bisa belajar apa yang mau disampaikan Perjanjian Baru tentang Kristus.


Paulus mengatakan dalam Surat Roma, “Kristus adalah yang saya beritakan”, Injil ini tentang Yesus Kristus. Siapa Yesus Kristus? Menurut daging Dia keturunan Daud, Anak Daud. Menurut roh kekudusan, Dia adalah Anak Allah yang berkuasa, seperti yang dinyatakan lewat kebangkitanNya. Jadi Paulus mengatakan Kristus adalah Anak Daud dan Anak Allah. Anak Daud dapat dari Kitab 2 Samuel 7, Tuhan menjanjikan kepada Daud akan punya dinasti yang memimpin Israel dan Anak Daud akan memerintah selama-lamanya. Anak Allah didapat dari Mazmur 2, Tuhan berkata bahwa Dia akan menundukan semua musuh-musuh ke bawah kaki dari Sang Anak, “AnakKu Engkau, Engkau telah Kuperanakan pada hari ini, mintalah kepadaKu dan Aku akan memberikan semua bangsa menjadi milikMu”, ini Mazmur 2. Dua ini digabungkan oleh Paulus. Yang dimaksud dengan Anak Daud adalah Kerajaan Israel akan Tuhan pulihkan di dalam Kristus, spesifik Kerajaan Israel. Kalau Saudara memperhatikan alur ini dan bertanya “pak, tadi kita baca ayat apa ya, kenapa ke sini?”, saya akan mengatakan “kalau kita langsung ke sini, poin utama Paulus akan hilang”, karena Saudara  bisa menafsirkan ayat 28,29,30 secara etika saja dan itu bisa kelihatannya bagus. Banyak orang merasa khotbah itu bagus karena menyentuh hidup. Tapi saya akan memberi tahu khotbah itu bagus kalau membuat Saudara semakin mengerti Alkitab, bukan mengerti hidup. Semakin mengerti Alkitab dulu baru mengerti hidup. Kalau mengerti hidup dulu baru mengerti Alkitab, itu namanya salah mengerti hidup. Maka banyak khotbah yang tidak menyentuh Alkitab sebenarnya sedang mengajarkan tentang salah mengerti hidup. Ini semua perlu proses, semua orang mengalami proses ini termasuk hamba Tuhan. Saya pun sedang belajar bagaimana memahami Alkitab, lalu memahami bagaimana harus bertingkah dalam hidup. Bagaimana menjalankan panggilan, bagaimana menghadapi situasi seperti ini? Semua berada dalam kerangka pikir Alkitabiah. Maka Paulus sedang mengatakan bahwa Kristus adalah Anak Daud, Dia adalah Penggenap Kerajaan Israel, Kristus adalah penggenap Mazmur 2, Anak Allah, :AnakKu Engkau, Engkau telah Kuperanakan pada hari ini”. Orang-orang dari zaman Augustinus sampai Luther mengatakan hari ini adalah di dalam kekekalan. “Engkau Kuperanakan pada hari ini”, hari ini sama dengan kekal, jadi Kristus adalah Anak Allah yang kekal. Calvin beda sendiri, kalau Saudara membaca tafsiran Calvin, Saudara akan merasa tafsirannya dangat modern dan maju. Tapi Saudara harus tahu tafsiran Calvin bukan modern dan maju, tapi juga kontroversial pada zamannya. Calvin mengatakan Mazmur 2 bukan bicara tentang kekekalan, Anak Allah dinyatakan sebagai Anak Allah ketika Dia sudah bangkit, ini keunikan teologi Calvin. Jadi kapan Mazmur 2 menjadi genap? Pada waktu Yesus bangkit. Pada waktu Yesus bangkit, Allah mengatakan “naiklah ke sini, duduk di sebelah kananKu”, baru Tuhan mengatakan “di sini Kamu tunggu sampai musuh Kutaklukan kepadaMu”. Lalu Tuhan minta bangsa-bangsa. Jadi bangsa-bangsa mulai diberikan kepada Kristus pada waktu Dia sudah bangkit. Jadi ini bukan di dalam kekekalan, tapi ini bicara kebangkitan dan kenaikan Yesus, di sebelah kanan Allah. Ini menarik sekali. Apa yang ditafsirkan Calvin cocok dengan apa yang Paulus katakan. Anak Daud, menurut 2 Samuel 7, Anak Allah menurut Mazmur 2. Anak Daud berkait dengan Israel, Anak Allah berkait dengan bangsa-bangsa lain, dan ini temanya Roma. “Kamu orang Kristen?”, “iya”, “Kristen Yahudi atau non-Yahudi?”, “non”, “non-Yahudi? Kamu dari mana?”, “saya dari Roma” atau “saya dari Turki” atau “saya dari Mesir”. “Apakah saya tidak boleh jadi Kristen?”, “boleh”, “tapi Kristen percaya kepada Yesus, Mesias orang Yahudi, Anak Daud, apakah saya harus menjadi Yahudi dulu atau boleh langsung jadi Kristen tanpa jadi Yahudi?”, Paulus mengatakan “boleh langsung”, kalau boleh langsung berarti Perjanjian Lama tidak penting? Ini yang Paulus tekankan bagaimana orang Kristen mengerti bahwa dia boleh menjadi Kristen tanpa harus jadi Yahudi, tapi tetap mengambil Perjanjian Lama sebagai bagian penting dalam hidupnya, inilah inti dari Surat Roma. Jadi kalau Saudara baca Surat Roma ada berita tentang Injil dan Taurat, Injil itu yang menyelamatkan, bukan Taurat. Ini cara Paulus untuk menyatakan kamu bisa bypass, tidak harus jadi orang Yahudi, bisa langsung jadi Kristen. Karena itu waktu KKR langsung ditantang “siapa yang mau Kristen?”, bukan “siapa yang mau jadi Yahudi dulu baru jadi Kristen?”. “Kalau boleh langsung, bukankah seluruh Perjanjian Lama bicara tentang Tuhan membentuk Israel? Bagianku dimana di situ, aku tidak berbagian di dalam pembentukan Tuhan di Perjanjian Lama, kalau begitu aku mengharapkan ada yang baru dinyatakan untuk membentukku”, Paulus mengatakan “tidak, pembentukanmu yang Perjanjian Lama”, “saya siapa?”, “kamu orang Kristen”, “saya tidak ada kaitan dengan Yahudi, berarti Perjanjian Lama bukan untuk saya”, “tidak, itu untuk kamu”. Ini yang Paulus katakan, Yesus adalah yang menghubungkan keduanya, Dia adalah Anak Daud, Kerajaan Israel dipulihkan, dan Dia adalah Anak Allah, seluruh bangsa diberikan kepada Dia. Termasuk kita, yang dari bangsa-bangsa lain diberikan kepada Dia. Berarti Dia Raja atas Israel dan Raja atas bangsa-bangsa lain.


Lalu mengapa 2 hal ini digabungkan? Apakah kita harus menjadi Israel? Tidak, tapi Saudara harus tahu Tuhan bentuk Israel lewat Perjanjian Lama, lewat Taurat, lewat firman di dalam seluruh Perjanjian Lama. “Bagaimana saya dibentuk?”, lewat Taurat dan seluruh Perjanjian Lama. “Bagaimana saya yang bukan Israel dibentuk lewat Perjanjian Lama?” dengan membaca Perjanjian Lama lewat penafsiran Kristus. Maksudnya penafsiran Kristus bukan penafsiran di Matius, Markus, Lukas, Yohanes, tapi penafsiran yang disoroti dari kacamata penggenapan yaitu Yesus sudah datang. Ini mungkin agak sulit, tapi Saudara harus paham. Bagaimana mengerti Perjanjian Lama? Dengan menjalankan lewat Kristus yang sudah genapi. Bagaimana melihat Perjanjian Lama lewat Kristus yang sudah menggenapi? Itu yang Paulus coba ajarkan. Maka dari pasal 1-11 Paulus berusaha menjelaskan “kamu yang dari Israel, Yesus itu Mesiasmu, Dia Anak Daud. Kamu yang dari bangsa-bangsa lain, Yesus itu Rajamu, Dia Anak Allah”. Tanda Dia Anak Allah adalah Dia sudah dibangkitkan. Dan Paulus banyak membahas tentang daging dan roh. Daging dan roh itu bukan fisik dan rohani, daging dan roh itu yang lama dan yang baru, ini konsepnya Paulus. Kalau dia bilang daging dan roh, selalu adalah yang lama dan baru, yang lama tidak tentu jelek, yang baru tidak tentu lebih bagus, di dalam pengertian Roma 1. Yesus menurut daging adalah Anak Daud. Yesus menurut roh adalah Anak Allah. Artinya Yesus menurut daging, keadaan yang lama, adalah penggenap Perjanjian Lama. Yesus menurut roh, yang dibangkitkan dari antara orang mati, artinya adalah Dia pemilik seluruh bangsa. Jadi antara Israel yang dipimpin Tuhan dan bangsa-bangsa lain yang dipanggil Tuhan harus disatukan. Dan apa yang Tuhan mau terjadi pada Israel akan dimiliki bangsa-bangsa lain di dalam Kristus. Apa yang Tuhan mau dari Israel? Yang Tuhan mau dari Israel adalah hidup yang benar. Ini tekanan Surat Roma. Bagi Paulus, orang Israel dikonfirmasi hati nurani lewat Taurat. Jadi Israel dibimbing oleh Taurat, yang adalah (seharusnya) cetusan hatinya Israel. Ini menarik, Tuhan yang memberikan Taurat kepada Musa, tapi menurut Paulus, Taurat adalah ekspresi hatinya orang Israel. Maka ketika Israel gagal menjalankan Taurat berarti ada perbedaan antara apa yang harusnya menjadi ekspresi hati dengan hati yang sesungguhnya. Taurat adalah ekspresi hati Israel, tapi apa yang ditulis di Taurat dilanggar oleh orang Israel. Maka problemnya di hati, tidak sesuai dengan ekspresinya. Itu sebabnya di Yeremia dikatakan “aku akan ganti hatinya orang Israel”, diganti karena yang lama gagal. Sebab ekspresi hati mereka beda dengan yang tertulis di dua loh batu. “Maka Aku mau hati yang sinkron dengan dua loh batu itu, Aku akan memberikan kepada mereka hati yang baru”. Di hati itu, hati daging itu tertulis persis apa yang tertulis di dua loh batu, itu yang Tuhan katakan di dalam Yeremia. Jadi Taurat adalah ekspresi hati Israel yang seharusnya terjadi, berarti Tuhan menekankan pentingnya hati nurani untuk dipimpin oleh firman.


Apakah hati nurani saja sudah cukup? Tidak, Saudara bisa membaca pembahasan tentang hati nurani yang terpolusi dari Pak Stephen Tong. Salah satu teologi Pak Tong yang penting adalah pembahasan hati nurani. Hati nurani gampang terpolusi, hati nurani gampang disingkirkan oleh kejahatan tapi hati nurani punya peran penting sekali. Dan ini yang Paulus katakan di dalam Roma 2, ini nanti kita akan bahas, dan juga Roma 1 bagian akhir, bahwa yang menyebabkan hati nurani manusia menjadi rusak adalah karena hati itu dihancurkan oleh keinginan lari dari Tuhan. Manusia tidak bisa berbuat baik bukan karena tidak punya hati nurani, tapi karena hati nuraninya sudah didesak oleh dosa yang menginginkan jauh dari Tuhan. Kita tidak ingin dekat Tuhan, kita ingin jauh dari Dia. Kita ingin hidup sendiri, kita ingin bebas dari Dia. Dan karena kita ingin menghindar dari Dia, maka hati nurani kita dihancurkan dari keinginan kita menghindari Tuhan, dia menjadi rusak. Hati nurani rusak karena kita menolak Tuhan. Tapi apakah hati nurani total rusak? Tidak, karena Tuhan tetap membangkitkan orang-orang yang akan mengingatkan kerusakan yang terjadi itu sebagai sesuatu yang harus disingkirkan dari kehidupan berbangsa. Israel rusak, tapi ada nabi-nabi yang berseru, “tidak boleh begini, bertobatlah”. Tapi Paulus akan mengatakan demikian juga di bangsa-bangsa lain, di bangsa-bangsa lain pun akan ada orang yang tidak setuju dengan praktek yang terjadi, karena praktek yang terjadi itu tidak pantas. Maka Paulus mengatakan di ayat ke-32, ”sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri tapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya”, hati nurani berada di dalam konflik. Orang yang tidak kenal Tuhan, hati nuraninya konflik, tahu mana yang baik tapi bisa setuju dengan komunitas, tahu ini salah tapi tidak berdaya untuk jalankan hal yang beda. Ini problem dari setiap orang yang sudah jatuh dalam dosa. Orang berdosa ada dalam komunitas yang berdosa dan komunitas berdosa itu perlu hati nurani di tengah-tengahnya. Tidak ada hati nurani di tengah masyarakat akan membuat masyarakat semakin hancur dan rusak. Paulus sedang membahas efek yang terjadi pada komunitas, seluruh manusia entah itu kota atau bangsa menjadi semakin rusak. Dan dia mengatakan di sini orang-orang berdosa itu mengganti persetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar. Masyarakat yang mengganti persetubuhan yang wajar dengan tidak wajar itu adalah suatu yang pernah terjadi di Perjanjian Lama. Di Sodom dan Gomora, dan satu lagi di sebuah kota di Benyamin pada zaman Kitab Hakim-hakim. Dan kasus yang dibagikan baik di Sodom dan Gomora maupun di dalam Kitab Hakim-hakim sama-sama menyebutkan seluruh kota sudah rusak. Alkitab memberikan peringatan berapa bahayanya penyimpangan seksual itu. Penyimpangan seksual, kehidupan seks yang rusak adalah sesuatu yang cepat sekali mewarnai masyarakat dan mengubahnya. Setiap kali orang mengatakan “kami punya kecenderungan seks yang lain, harus didengar, harus punya tempat di masyarakat”, penyebarannya cepat sekali. Perlu ada hati nurani yang mengatakan “tidak, itu salah”. Penyebaran yang cepat mampu untuk membuat masyarakat hidup di dalam keadaan rusak, maka Paulus memberikan contoh. Mereka mencemarkan tubuh mereka, laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan peremuan. Mengapa memakai contoh ini? Karena di dalam Perjanjian Lama diberikan contoh bahwa tindakan ini adalah tindakan yang dengan cepat mewarnai seluruh masyarakat. Dan Paulus mengatakan “dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran- pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan”, waktu Saudara baca ayat 29-32, Saudara akan mengetahui bahwa ini melanggar Taurat. Taurat melarang orang untuk melakukan apa yang dikatakan di ayat 29 “lalim, jahat, dengki, membunuh, menipu, fasik, bicara sembarangan, fitnah, sombong, tidak berakal, tidak setia, tidak penyanyang”, itu semua dilarang Taurat. Tapi yang Paulus bagikan ini juga dilarang oleh hati nurani bangsa-bangsa lain. Saya ingin membagikan ini supaya kita semua mengerti, waktu Paulus mengatakan kalimat-kalimat di ayat 29 dan seterusnya, orang Romawi pun sebagian akan ada yang mengamini. Mereka akan mengatakan “ini benar, kita tidak seharusnya hidup seperti ini”. Dan Saudara bisa lihat seruan-seruan ini ada pada pujangga dari Kerajaan Romawi sendiri. Banyak orang di tradisi filsafat Romawi sangat benci dengan keadaan Kota Roma. Mereka mengatakan kalau Roma begini terus, mustahil akan bisa bertahan. Pemikir-pemikir seperti Seneca, pemikir-pemikir di zaman yang lebih kuno, pemikir-pemikir yang keluar dari tradisi Kerajaan Roma sama-sama mengutuk kebiasaan-kebiasaan orang Roma. Mereka bukan Kristen, mereka tidak mengerti Paulus, banyak dari mereka yang  hidup sebelum Paulus. Tapi beberapa dari mereka menulis kalimat-kalimat seperti ini “Roma tidak akan bertahan lama, kalau Roma seperti ini terus, tidak lama lagi mereka akan hancur”. Mengapa kita bisa tahu ada pujangga Roma yang tulis ini? Salah satunya adalah karena Augustinus mengutip mereka. Di dalam Buku City of God, Augustinus memberikan pembelaan bahwa hancurnya Roma bukan karena Kristen, hancurnya Roma sudah diprediksi oleh banyak orang, pemikir-pemikir penting di zaman yang dulu. Maka Augustinus mengutip “ini ada orangmu sendiri, ada pujanggamu sendiri yang mengatakan Roma sudah terlalu rusak, brutal, jahat, penuh hawa nafsu”. Jadi banyak orang meskipun bukan Kristen memunyai panggilan di dalam anugerah Tuhan menjadi hati nurani untuk masyarakatnya. Bisakah ini terjadi di Indonesia? Bisa, Tuhan bisa memakai pujangga Islam, misalnya, untuk mengkritik keadaan rusak yang terjadi di Indonesia. Tuhan bisa memakai pujangga yang bukan Kristen untuk memikirkan keadaan yang terjadi, ketidak-adilan, kerusakan, lalu mulai adakan kritik sosial. Kritik sosial sangat penting, suara untuk mengkritik kebiasaan yang tidak beres itu sangat penting. Dan banyak orang memanfaatkan panggung seni untuk melakukan itu. Indonesia akan ada berada terus dalam keadaan korup, dimana orang akan minta uang untuk sesuatu, Saudara sudah memenuhi syarat-syarat tapi tetap harus ada uang. Dan itu yang akan terjadi terus, kecuali ada hati nurani yang berani muncul meskipun akan dibungkam.


Di mana hati nurani itu? Paulus mengatakan di setiap bangsa seharusnya punya hati nurani. Karena orang-orang akan setuju dengan poin-poin ini, hidup beres, hidup baik, hidup mengekang diri, itu ada dalam beberapa pemikir Romawi, di dalam beberapa pemikir Yunani, di dalam beberapa pemikir Tiongkok. Saudara baca ajaran dari Konghucu, dari Mencius, Saudara akan temukan ada banyak seruan hati nutani untuk sebuah budaya. Mencius pernah mengatakan rakyat lebih penting dari pada tanah, lebih penting dari raja juga. Raja tidak penting, rakyat yang penting, ini seruan di Tiongkok. Ini namanya bahkan hati nurani ada di budaya yang tidak kenal Tuhan. Maka Paulus mengatakan “yang saya nyatakan ini Tuhan sudah berikan ke semua bangsa. Semua bangsa harus hidup beres”. Tapi bisakah hidup beres? Tidak, karena hati nuraninya sudah dimatikan terus. Kalau hati nurani dimatikan terus, tidak akan ada harapan. Setiap kali hati nurani muncul kemudian dimatikan, muncul kemudian dimatikan. Maka Paulus mengatakan Israel tidak punya harapan karena begitu orang taat Taurat lalu menyebarkan berita untuk taat Taurat, dia mulai dibenci. Nabi-nabi mulai dibenci, orang-orang berkhotbah menyerang yang salah mulai dibenci, orang yang bicara jujur dan menyatakan kebenaran mulai dibenci. Benci akhirnya meningkat menjadi ingin membunuh. Ingin membunuh yang didukung oleh kemampuan, akhirnya benar-benar akan membunuh. Nabi-nabi dibunuh dan Israel semakin lama semakin hancur. Ketika hati nurani dibungkam, tidak diizinkan bicara, akhirnya bangsa semakin jahat. Tuhan mengatakan kepada nabi-nabiNya “akan ada kelaparan di Israel”, yaitu kelaparan firman karena Tuhan akan membuat firman tidak ada lagi, Tuhan akan mengurangi orang yang berseru, karena Tuhan sudah muak dengan Israel. Maka ketika firman tidak ada lagi, Israel pun dibuang. Yeremia menjadi hati nurani, tapi malah disuruh masuk sumur. Dibungkam, dipenjara, disuruh diam, diancam dengan kematian. Yeremia sudah bicara, lalu perkataannya dicatat. Ketika catatan itu sampai ke tangan raja, raja buang catatan itu ke perapian. Orang tidak mau mendengar firman, tidak mau mendengar hati nurani, tidak mau mendengar seruan bertobat, akhirnya seluruh bangsa dibuang. Seluruh bangsa dibuang karena suara Tuhan tidak pernah didengar. Mereka tidak mendengar karena nabi yang berbicara dimatikan.  Jadi apa harapan bagi Israel? Tidak ada, karena hati nurani sudah dimatikan. Benar tidak ada harapan.


Tapi Paulus mengatakan “sebenarnya masih”, “mana harapannya?”, kalau ada suara hati nurani dimatikan, dibungkam, tapi setelah hari ketiga dia bangkit, itu baru ada harapan. Siapa harapan bagi Israel? Ketika sang hati nurani yang dimatikan kemudian bangkit, itu harapan. Lalu bagaimana dengan bangsa-bangsa lain? Sama, ketika hati nurani dimatikan tapi hari ketiga dia bangkit, baru ada harapan. Ternyata suara hati nurani yang paling jelas dan paling clear itu dibawa oleh Anak Daud dan Anak Allah. Mengapa Anak Daud dan Anak Allah bisa bawa suara ini? Karena meskipun Dia sudah mati, tapi Dia tetap bangkit. Dan suara hati nurani dari yang pernah mati kemudian bangkit, itulah yang akan memberikan pengharapan. Sebelum Paulus memberitakan tentang Krsitus, dia beritakan dulu bahwa seluruh bangsa mencari hati nurani yang anti dimatikan karena sekalipun dia mati, dia akan bangkit. Semua kerajaan perlu Yesus. Tanpa sadar bangsa-bangsa merindukan Dia, pulau-pulau mengharapkan ajaranNya meskipun tidak sadar, semua bangsa perlu hidup baik. Saudara kalau soroti Injil dengan cara ini, tiba-tiba Injil menjadi relevan untuk pergumulan kita. Maka Injil ada untuk mengubah hidup orang. Bisakah Israel menaati Taurat? Tidak bisa, tidak ada driving force-nya. Tapi Kristus yang bangkit menjadi driving force bagi Israel untuk menjalankan Taurat. Bagaimana dengan orang Kristen yang bukan Israel? Sama, Kristus yang bangkit menjadi driving force untuk orang menjalani hati nuraninya dengan setia kepada apa yang Taurat sudah bagikan. Apa yang dibagikan Taurat sebenarnya sudah selaras dengan hati nurani bangsa manapun. Jadi Paulus mengatakan Taurat itu ada di hati semua orang. Kita tidak sadar bahwa kita punya itu di dalam hati. Kita tindas, kita tidak peduli dan kita mau kerjakan apa yang kita mau. Ketika Tuhan memulihkan dengan kekuatan Dia yang sudah bangkit, Saudara akan mampu taati hati nurani lagi yang sekarang dibentuk kembali oleh firman. Firman yang ada di dalam Perjanjian Lama. Bagaimana mengertinya? Nanti Paulus akan coba rangkum di dalam pasal 12 dan seterusnya, indah sekali.


Jadi Paulus mencoba menegaskan dulu “ini identitasmu sebagai umat Kristus, baru nanti kamu akan tahu bagaimana melawan segala kebobrokan ini. Tapi tanpa Kristus, kamu tidak akan berdaya melawan segala kebobrokan ini”. Maka hari ini kita memelajari satu tema penting dari Paulus yaitu bahwa Tuhan ingin adanya bangsa-bangsa yang hidup dengan sejahtera. Tapi tidak sejahtera karena semua melakukan kelaliman, kejahatan, keserakahan, kebusukan, dan dengki. Bagaimana melawan ini? melawan ini bukan hanya dengan sekedar beriman kepada Kristus, tapi dengan iman kepada Kristus kita membentuk kehidupan yang penuh hati nurani. Saudara harus menjadi hati nurani di tengah masyarakat. Saudara harus berseru dengan mengatakan “ini tidak benar, kita mesti melawan ini”. Dan Saudara dengan sabar menyatakannya di dalam kehidupan Saudara. Ini mungkin berat, tapi saya akan kasi tahu satu hal, tanpa hati nurani, masyarakat kita akan mati.


Tapi kalau hati nurani itu tidak di back-up atau tidak diperbarui dan tidak dihidupkan oleh Kristus yang bangkit, hati nurani itu tidak akan sanggup bertahan. Pelan-pelan Saudara akan mati dan menjadi sama dengan orang-orang lain. Ini perjuangan besar dari kita semua. Saudara akan terjun ke dalam masyarakat atau sudah tentunya, Saudara akan menjadi hati nurani di situ. Kiranya Saudara mampu dipimpin Tuhan untuk membuat orang jahat tidak nyaman karena berada dekat dengan Saudara, dan membuat orang merasa tidak boleh mngerjakan apa-apa yang jahat karena ada Saudara yang dia tahu akan menegur. Tapi teguran diberikan dengan cara yang kadang-kadang tidak lansung ditanggapi dengan baik. Asalkan yang Saudara tegur benar-benar pantas ditegur. Jangan tegur berdasarkan selera, tapi tegur berdasarkan hati nurani. Martin Luther ketika disuruh mengingkari ajarannya di Worms, dia mengatakan “saya tidak akan melawan hati nurani saya, karena saya tahu yang saya nyatakan sesuai dengan Alkitab. Hati nurani saya sudah diikat oleh Kitab Suci dan tidak aman untuk melawan hati nurani saya. Maka saya tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan dan kiranya Tuhan menolong saya”, itu yang ditekankan Martin Luther. Saudara jangan tegur orang hanya gara-gara selera pribadi “saya tegur dia karena sisirannya tidak cocok dengan saya. Sisirannya ke kiri, padahal saya ingin sisirannya ke kanan”, itu selera, Saudara tidak perlu tegur soal selera. Tapi Saudara perlu tegur yang tidak sesuai dengan hati nurani. Ada orang menindas orang lain, membully orang lain, memanfaatkan orang lain lalu mengambil keuntungan, ada orang tidak menjalankan keadilan, Saudara tahu itu semua tidak benar dan itu yang harus dipelihara. Saudara harus peka melihat di luar dan ke dalam, diri Saudara pun potensi melakukan apa yang busuk dan bobrok. Biarlah kita melihat Tuhan bekerja di masyarakat kita menggunakan orang Kristen sebagai hati nuraninya karena itu yang Paulus tekankan sebagai fungsi dari umat Tuhan. Apa guna umat Tuhan? Menjadi hati nurani.


Bagaimana kalau hati nurani kita sendiri hancur? Kamu tidak mungkin hancur hati nuraninya karena sudah ada Kristus yang bangkit, Kristus yang sudah bangkit harus menjadi Tuhanmu dan melalui Dia kamu mendapat kekuatan untuk menjadi hati nurani di tengah-tengah masyarakat. Maka yang Paulus katakan di sini, semua kejahatan, pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan, semua sebenarnya disadari oleh semua orang. Tapi mereka tidak berdaya untuk melakukan yang lain, mereka cuma tahu mengerjakan apa yang jahat ini. Mereka tidak berdaya untuk mengubah kebiasaan dari masyarakat. Kalau begitu bagaimana bisa ada pengharapan? Di dalam Roma 3 Paulus mengatakan bahwa kasih karunia sudah diberikan, Tuhan menyatakan anugerahNya, Kristus Yesus ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian. Semua orang telah berbuat dosa, Roma 3: 23, dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 24, dan oleh karena kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kita biasanya kaitkan Roma 3: 22-24 hanya berdasarkan kerangka teologi kita yang kurang melihat Roma 1 dan 2. Tapi kalau Saudara membaca surat ini secara keseluruhan, Saudara akan tahu bahwa Roma 3: 22-24 adalah kesimpulan dari pergumulan di Roma 1. Semua manusia sudah jahat, bagaimana bisa berubah? Di dalam Kristus, itu yang ditekankan oleh Roma 3: 22-24. Maka sebenarnya Paulus tidak pernah kontra perbuatan baik. Sebaliknya dia mengatakan “kamulah menjadi hati nurani masyarakat”. Tujuan kita diselamatkan bukan untuk masuk sorga, masuk sorga itu adalah bonus, buah yang otomatis kita dapatkan. Tapi tujuan Saudara diselamatkan adalah supaya Saudara menjadi hati nurani di tengah-tengah masyarakat ini, masyarakat yang bobrok dan jahat.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)