Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Roma » Injil dan Keadilan
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Injil dan Keadilan

24 Maret 2019
(Roma 1: 16-21)
Pdt. Jimmy Pardede


Di dalam ayat 17 dikatakan kebenaran Allah itu dari iman kepada iman. Dan Paulus mengutip dari Kitab Habakuk, orang benar akan hidup oleh iman. Kita sudah membahas di dalam minggu lalu bahwa Injil tidak bisa dilepas dari pengertian Kitab Yesaya, dari pengharapan bangsa-bangsa akan Tuhan yang mau pulihkan segala sesuatu. Injil bersifat luas, Injil adalah berita keselamatan karena Tuhan sudah berencana mau hadir. Tuhan yang tidak kelihatan, Tuhan yang seperti sudah tarik diri, Tuhan yang seperti tidak lagi peduli kehidupan di bumi, berjanji akan datang dan memulihkan semua, inilah Injil. Injil akan menjadi kabar baik bagi orang yang merindukan perbaikan di bumi, bukan bagi orang yang rindu lari dari bumi. Injil adalah kabar baik bagi orang yang menantikan keadilan tapi tak kunjung mendapatkan keadilan. Injil adalah kabar baik dari orang-orang yang mengharapkan belas kasihan, tapi terus melihat kekerasan. Injil adalah kabar baik bagi orang yang penuh kasih, tapi terus menemukan benci di dunia ini. Jadi Injil adalah perbaikan yang Tuhan janjikan untuk seluruh ciptaan. Kalau Saudara lihat di Roma 8, seluruh ciptaan, di dalam terjemahan bahasa Indonesia disebut seluruh makhluk, tapi kata yang dipakai yaitu tisis itu bisa juga dimengerti sebagai seluruh ciptaan. Roma 8 mengatakan seluruh ciptaan sedang berada dalam keadaan menderita. Apa yang membuat ciptaan ini menderita? Karena seluruh ciptaan tidak seperti seharusnya. Mengapa ciptaan berjalan tidak seharusnya? Karena dosa. Ketika kita hidup di tengah-tengah himpitan ketidak-adilan, ditengah-tengah kesulitan karena kejahatan, korup, keadaan kacau dan rusak, kita merindukan Tuhan untuk bertindak. Dan ini yang dimiliki para nabi, mereka rindu Tuhan bertindak. Mereka tahu tidak ada lagi yang bisa bertindak, mereka tahu tidak ada lagi yang bisa diharapkan, mereka tahu tidak ada lagi yang bisa dipegang janji dan perkataannya. Sehingga baik pemimpin agama dan raja sudah mengecewakan para nabi. Para nabi berseru dengan mengatakan “raja-raja sudah menyeleweng, para pemimpin agama sudah rusak hidupnya, maka tidak ada orang yang bisa diharapkan”. Tapi Saudara bisa baca di dalam Kitab Yesaya, di Kitab Habakuk, setiap kali nabi-nabi ini berseru kepada Tuhan, Tuhan menjanjikan raja yang adalah manusia. Mereka mau berharap kepada Tuhan, Tuhan tidak pernah berhenti “berharap” kepada manusia. Tentu Tuhan tidak perlu berharap kepada manusia, tapi Tuhan tidak pernah menarik tanggung jawab yang Dia berikan kepada manusia untuk menangani segala sesuatu yang ada di bumi. Ketika para nabi mengatakan “Tuhan, bertindaklah”, Tuhan mengatakan “Aku akan bangkitkan raja, Aku akan bangkitkan pemimpin, Aku akan bangkitkan hambaKu, Aku akan bangkitkan Dia yang adalah keturunan Daud”. Jadi Tuhan tidak pernah berhenti memakai manusia, meskipun para utusanNya yaitu nabi sudah berhenti berharap kepada manusia. Jangan berharap kepada manusia. Tapi heran, Tuhan berjanji akan perbaiki semua lewat kehadiran manusia yang diangkat itu. Manusia yang diangkat adalah Mesias. Janji Tuhan di dalam kitab nabi-nabi awalnya begitu tersebar pengertiannya, kadang-kadang nabi-nabi mengatakan ini dan itu yang berkait dengan keselamatan, tapi semuanya masih begitu tersebar. Ada satu nabi yang memunyai pengertian Injil sangat berkait dengan keadilan, itu adalah Habakuk. Di dalam Kitab Habakuk, Habakuk terus berseru “Tuhan, mengapa keadilan menghilang dan Tuhan seperti tidak peduli. BangsamaMu dianiaya dan Engkau seperti tidak melihat. Keadilan berjalan terbalik dan Tuhan seperti tidak peduli. Seolah Habakauk berseru, “mana mungkin saya lebih peka dari pada Tuhan. Kalau saya ingin dunia ini adil, mengapa Tuhan tidak ingin? Kalau saya ingin umat Tuhan menjalankan keadilan, mengapa Tuhan seperti tidak ingin melakukan itu?”. Tapi Habakuk tahu tidak mungkin dia lebih baik dari pada Tuhan, tidak mungkin dia lebih benar dari Tuhan, tidak mungkin dia lebih saleh dari pada Tuhan, tidak mungkin dia lebih ingin adil dari pada Tuhan. Ini yang menjadi pergumulannya, dia tahu Tuhan lebih adil dari pada dia, tapi mengapa tidak tergerak? Banyak pertanyaan yang kita miliki dan mungkin kita pendam tentang Tuhan.


Tapi Alkitab menunjukan orang-orang saleh tidak takut untuk mengungkapkan pemikiran mereka dalam doa. Orang-orang yang mulai curiga mengapa Tuhan bertindak begini, mereka tidak takut untuk tanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa Engkau tidak bertindak?”. Mereka adalah orang-orang yang jujur berbicara kepada Tuhan dan kejujuran mereka adalah kejujuran yang sangat saleh. Orang saleh yang jujur itulah para nabi. Kalau kita menjadi jujur mungkin kita akan menunjukan ketidak-salehan kita. Tetapi waktu Alkitab menunjukan bahasa dari pada nabi, para nabi itu memanjatkan apa yang menjadi seruan hati mereka. Nabi-nabi itu ingin supaya Tuhan tahu derita mereka. Apa yang membuat mereka menderita? Elia dan Elisa dipakai Tuhan dalam keadaan krisis. Krisis apa yang sedang terjadi? Krisis politik. Pemimpin pada waktu itu, baik Ahab maupun keturunannya begitu menyimpang dari Tuhan. Mereka adalah pemimpin politik yang menjalankan politiknya berhala, yang menjalankan politiknya Baal dan Asytoret. Mereka tidak peduli Tuhan, karena itu sistem negara mereka ubah untuk berhala mereka. Nabi-nabi seperti Elia dan Elisa mengerti bahwa kalau Tuhan mengarahkan umat untuk datang kepada Dia, Tuhan menginginkan supaya umat datang kepadaNya dan menjadikan Dia segalanya di dalam kehidupannya. Krisis Israel bukan hanya penyembahan berhala, krisis Israel adalah krisis politik, karena politiknya dikaitkan dengan berhala. Politik dan agama itu sangat berkait. Di dalam zaman modern politik dan agama pasti terpisah, politik sangat sekuler. Tapi Saudara harus tahu mental atau jiwa di dalam politik adalah agama, meskipun bukan agama seperti Islam, Budhisme dan lain-lain. Karena di dalam zaman modern banyak berhala palsu mengambil tempat agama. Berhala seperti uang, kesenangan hidup dan lain-lain. Ketika negara tidak punya arah yang diatur oleh konsep Kristen, maka negara itu akan menjadi kacau. Dan kalau negara kacau, konsep pengadilannya jadi kacau, sistem pemerintahan jadi kacau, undang-undang akan jadi kacau, pemimpin-pemimpin akan menurunkan kekacauan dan seluruh rakyat menjadi kacau. Maka di tengah-tengah kekacauan seperti ini, nabi-nabi berseru bukan hanya untuk menyerukan ketidak-adilan politik, tapi langsung menggabungkan seruan politik dengan agama. Seruan politik dan agama disatukan oleh para nabi. Sehingga Saudara sulit satukan yang mana yang mengurus politik, yang mana yang mengurus agama. Elia mengatakan bahwa Raja Ahab sudah bersalah menghancurkan seluruh bangsa. Apa yang Raja Ahab lakukan? Menyembah berhala. Penyembahan berhala merusak seluruh bangsa. Konsep keadilan, kebenaran dan juga ketentraman dalam masyarakat sudah diganti oleh keadilan, kebenaran dan ketentraman yang berpihak pada berhala. Elia punya tugas yang sangat besar, dia harus bereskan ini semua. Waktu dia gagal, dia berseru kepada Tuhan “Tuhan, saya minta mati saja kalau begini”. Kegagalan sangat besar yang Elia rasakan karena dia sulit ubah pemerintahan dan keadaan yang terjadi di Israel. Padahal Tuhan sudah pakai dia besar sekali. Tuhan sudah izinkan dia turunkan api dari langit, Tuhan sudah izinkan dia menjadi orang yang dengan kuasa sorga membawa orang kembali kepada Tuhan, tapi itu tidak cukup. Elia mengatakan “Tuhan, saya minta mau mati saja. Karena saya tidak melihat negara ini ada harapan di depan”, Tuhan mengatakan “turun dari gunung dimana kamu sekarang berseru kepada Tuhan. Turun dari Gunung Sinai, kemudian kamu pergi untuk urapi beberapa orang. Urapi Raja Israel, Raja Yehuda, urapi raja dari Aram, lalu urapi Elisa menjadi penerusmu”. Mengapa Tuhan mengatakan masih ada harapan? Karena Elia masih akan dilanjutkan pelayanannya. Raja-raja akan berubah, politik yang baru akan muncul dan Elia akan punya penerus. Kalimat yang paling menghibur Elia meskipun tidak tercatat, yang saya bisa tafsirkan adalah kehadiran Elisa. Elia sangat terhibur karena ada Elisa. Karena waktu Tuhan menyuruhnya untuk melantik penerusnya, dia tahu Tuhan belum berhenti bekerja. Tuhan masih mau bekerja, Tuhan masih mau memanggil orang-orang Israel untuk datang kepada Tuhan, menyembah Tuhan dan memperbaiki seluruh konsep hidup mereka yang salah. Setelah mereka datang kepada Tuhan, mereka akan diperbaiki. Tapi bagaimana cara mereka datang kepada Tuhan? Dengan pemimpin yang baru, harapan yang baru, dengan nabi yang baru. Tuhan masih mau bekerja dan Tuhan bangkitkan orang-orang ini. Maka pemanggilan Elisa adalah peristiwa yang sangat penting, dari Elia turun ke Elisa. Dan dua orang ini mengubah banyak hal di tengah-tengah Israel. Waktu Saudara melihat Elia diakhir hidup dan juga Elisa, Raja Israel tetap kacau hidupnya tapi belajar untuk menghormati Tuhan. Saudara bisa lihat Ahab di awal mau membunuh Elia, lama-kelamaan di bagian akhir hidupnya begitu takut dengan Elia. Raja-raja berikutnya mulai menghormati agama. Ketuhanan yang dipercayai para nabi mulai dihormati oleh para raja. Kita tidak mungkin melakukan pelayanan di bumi ini sampai pelayanan 100% sempurna, itu tidak mungkin. Dan Tuhan memberikan kita kekuatan, karena waktu Tuhan membangkitkan Elia dan Elisa masuk dalam akhir hidupnya, mereka memunyai pengaruh untuk membuat pemerintah mulai tunduk, meskipun tidak sepenuhnya. Jadi jangan taruh harapan terlalu tinggi, sehingga kalau kita nanti sudah melayani Indonesia menjadi negara yang lebih hebat lebih dari pada Jenewa di bawah Calvin, misalnya. Tapi Saudara juga jangan tidak berharap “negara sudah kacau seperti ini, biarkan saja”. Saya paling tidak suka kalau bicara dengan orang yang terlalu negatif atau terlalu positif. Yang terlalu negatif itu menyebalkan, apa pun tidak beres “ah, sudahlah”, saya pun akan mengatakan “ah, sudahlah, saya juga tidak mau ngomong sama kamu lagi”. “Ah, sudahlah. Coba lihat semuanya sudah korup, kecuali saya. Saya sudah tidak bisa percaya siapa pun”, kalau Saudara terlalu negatif, Saudara sedang berada dalam dustanya setan. Setan membuat Saudara tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan di tengah dunia ini. Tapi kalau terlalu positif juga jelek, “bagaimana pemerintahan kita?”, “baik 200%, gereja 150%. Pokoknya semuanya baik”. Tapi kalau ditanya “apakah ada kekacauan yang seharusnya diperbaiki?”, “tidak, semuanya sudah oke”, orang ini juga tidak terlalu bisa dipakai Tuhan, “apa yang perlu dikoreksi?”, “tidak ada”. Saudara kalau minta masukan sama orang, “apa masukan untuk saya?”, “tidak ada, kamu sudah sangat bagus”, ini yang positif. “Apa masukan untuk saya?”, “ah, sudahlah, kamu tidak ada harapan”, ini terlalu negatif, keduanya tidak bagus. Tuhan tidak mau kita terlalu berharap, tapi Tuhan juga tidak mau kita tidak berharap. Tuhan tidak mau mengganti raja yang baru atau mengganti keadaan yang baru dengan pengharapan mesianik, hanya Yesus yang bisa membuat kedamaian sejati. Tapi Tuhan juga tidak mau kita tidak berharap akan adanya perbaikan di dalam keadaan yang berikut. Para nabi seperti Elia dan Elisa bekerja dengan giat dan meskipun Israel Utara pada akhirnya akan hancur, pada waktu mereka melayani, mereka mulai menanamkan takut akan Tuhan di dalam hati raja yang masih menyembah berhala. Apakah raja jadi menyembah Tuhan? Tidak juga, tapi mereka mulai gentar dan takut kepada prinsip-prinsip Tuhan yang Tuhan percayakan kepada mereka. Saudara mau apa? Presiden berikutnya Kristen? Dua calon ini tidak ada yang Kristen. Tapi kita akan mengatakan orang Kristen harus berjuang sedemikian sampai mereka menghormati prinsip-prinsip Kristen meskipun mereka tetap tidak mau jadi Kristen. Ini tugas orang Kristen. Elia dan Elisa mengerjakan tugas itu. Maka perhatikan kalau Saudara baca di bagian awal pelayanan Elia dengan di akhir, sikap raja kepadanya beda sekali. Ketika Elisa akan mati, raja bahkan mengatakan “bapaku, engkaulah kekuatan Israel, penunggang kuda dan pasukan berkuda Israel. Waktu Elisa akan mati, raja menghormati dia. Waktu Elia akan masuk dalam akhir pelayanannya, raja menghormati dia. Apakah raja berubah dan jadi menyembah Tuhan? Mungkin tidak. Pengharapan Israel adalah pengharapan yang kadang-kadang cerah kadang-kadang redup, sampai Mesias yang sejati datang. Pengharapan ini terus dinanti sampai Kitab Habakuk.


Habakuk adalah seorang dengan kepekaan luar biasa, dia mengatakan “Tuhan, saya mau menyatakan keadilan, tapi bagaimana caranya? Saya mau Tuhan yang kerjakan, tapi bagaimana caranya? Sebab Tuhan seperti tidak peduli, Tuhan seperti membiarkan ketidak-adilan terjadi”, itu yang ditangisi oleh Habakuk. Tapi Tuhan berfirman kepada Habakuk, pada pasal 2 Tuhan berfirman “Aku akan kerjakan sesuatu yang belum pernah dilihat orang sebelumnya”. Ini salah satu hal yang sering Tuhan janjikan kepada para nabi “Aku akan kerjakan hal yang baru, hal yang melampaui pikiranmu”. Dan kalau Saudara melihat di dalam Injil, hampir semua yang Yesus lakukan membuat orang kaget dan menyadari ini hal yang baru. Saudara bisa lihat ini di dalam Injil, waktu Yesus menyembuhkan, mereka mengatakan “hal ini belum pernah terjadi sebelumnya”, waktu Yesus mengusir setan, mereka mengatakan “hal ini belum pernah kita lihat terjadi di tengah-tengah Israel, hal ini belum pernah kita jumpai sebelumnya”. Kalimat-kalimat itu sebenarnya adalah kalimat kunci untuk kita memahami bahwa Yesus adalah penggenap dari Perjanjian Lama. Maka kita perlu mengubah cara membaca Alkitab kita menjadi lebih teliti dan tidak difokuskan pada satu fokus yang sebenarnya tidak sejati. Saya terus mengulangi ini bahkan mungkin agak kontroversial, fokus Alkitab bukan keselamatan pribadi kita. Setiap kali Saudara membaca Alkitab dan fokusnya adalah keselamatan pribadi, banyak yang akan miss. “Yang penting saya sudah selamat dan masuk sorga”, lalu apa kaitan Injil dengan keadilan? “Injil dan keadilan itu khotbah moral, saya tidak mau khotbah moral, saya maunya khotbah Injil”, apa itu khotbah Injil? Khotbah Injil adalah khotbah saya selamat karena apa. Saya akan memberi tahu khotbah Injil adalah khotbah Kristosentris, yang berpusat pada Kristus. Tapi yang sering dimaksudkan orang dengan berpusat pada Kristus adalah berpusat pada keselamatan, itu dua hal yang berbeda meskipun tidak bisa dipisah. Saudara selamat karena Kristus, tapi yang Tuhan tuntut untuk dikhotbahkan bukan khotbah yang berpusat keselamatan, tapi khotbah yang berpusat pada Kristus. Dan Kristus memberikan semua termasuk keselamatan, tapi kata semua perlu kita ketahui, semua berarti melampaui hanya keselamatan. Memang benar Tuhan memberi keselamatan, tapi Tuhan memberikan begitu banyak hal lain yang luput kita baca karena kita terlalu fokus pada keselamatan.


Kalau Saudara tidak berfokus pada keselamatan tapi Saudara juga mengabaikan keselamatan, itu juga salah. Saudara tahu Saudara selamat, sekarang gerak, gerak dalam pengertian apa yang Tuhan mau kerjakan di dunia ini. Para nabi seperti Habakuk mulai berseru “Tuhan, dimana keadilan? Aku ingin Tuhan nyatakan”. Tapi kalau Tuhan mau menyatakan, caranya apa? Di pasal 2 Tuhan mengatakan “Aku akan kerjakan hal yang baru, yang belum pernah dilihat orang sebelumnya. Aku akan lakukan cara yang kontroversial yaitu bangkitkan Babel”. Babel adalah kerajaan yang menyembah berhala, tapi Tuhan membuang Israel karena menyembah berhala. Sekarang Tuhan mau membuang Israel pakai Babel yang adalah penyembah berhala, kira-kira adil tidak? Ini pikiran Habakuk, kalau Tuhan bangkitkan Babel yang adalah penyembah berhala untuk menghukum Israel karena menyembah berhala, bukankah itu tidak adil? Dimana keadilan? Itu seperti pencuri yang dihukum oleh maling. Tapi heran, di tengah-tengah pasal 2 itu Tuhan mengatakan kepada Habakuk “orang benar akan hidup oleh percayanya”, jadi percaya apa? Percaya Tuhan akan menjalankan keadilan meskipun dengan cara yang tidak adil. Tapi Tuhan mengatakan terus tunggu, terus percaya. Ada bagian di dalam Kitab Suci dimana Tuhan minta kita terus percaya dan Tuhan akan jawab nanti. Dan kita bersyukur nantinya itu sudah datang di Perjanjian Baru. Banyak pertanyaan yang Habakuk miliki, Tuhan sudah jawab di zaman kita. Sayangnya kita tidak bergumul dengan pertanyaan Habakuk, sehingga jawaban diberikan dan kita tetap anggap itu sepele, “inilah jawabannya”, “tapi apa pertanyaannya?”. Para nabi mengatakan “keadilan bisa ditemukan dimana?”, Tuhan belum jawab pada waktu itu, Tuhan mengatakan “Aku akan kirim Babel untuk hukum orang yang tidak adil di Israel”, orang tidak adil di Israel akan dihukum oleh orang Babel yang sama tidak adilnya. Orang di Israel jahat dihukum oleh Babel yang sama jahatnya, sampai kapan ini terjadi? Habakuk terus bergumul dan Tuhan tidak beri tahu. Tuhan hanya mengatakan orang benar hidup karena percayanya. Percaya itu mengandung banyak sekali unsur, percaya itu Saudara mengamini setiap kalimat Tuhan sebagai sesuatu yang terbukti kebenarannya meskpun belum sekarang. Iman adalah percaya kepada kata-kata Tuhan sebagai sesuatu yang akan terbukti kebenarannya meskipun belum sekarang. Ini namanya beriman. Iman berarti meyakini Tuhan tidak pernah lupa kata-kataNya. Iman itu berarti mengetahui Tuhan tidak kurang kuasa untuk menjalankan kata-kataNya. Bagaimana orang bisa beriman? Dalam 3 apek tadi, tahu bahwa Tuhan berbicara dan pasti jadi meskipun belum sekarang, tahu bahwa Tuhan tidak akan lupa perkataanNya dan tahu bahwa Tuhan tidak mungkin kurang kuasa untuk menjalankan perkataanNya. Maka Habakuk telan semua yang dia gumulkan dan dia mengatakan kalimat “meskipun pohon ara tidak berbuah…” dan lain-lain, yang kita sering kutip kalau keadaan sedang sulit. Mengapa Habakuk mengatakan itu? Karena 3 hal tadi, Tuhan pasti jalankan perkataanNya, Tuhan tidak mungkin melupakan perkataanNya, Tuhan tidak mungkin kurang kuasa menjalankan perkataanNya.


Dan siapa yang melihat kegenapannya? Paulus. Paulus mengutip Habakuk seolah-olah mengatakan “apa yang Habakuk mau lihat, saya sudah lihat”. Tahu tidak apa yang Habakuk harapkan? Yang Habakuk harapkan adalah ada keadilan Tuhan. Bagaimana keadilan dinyatakan? Satu bangsa dihakimi bangsa lain. Israel dihakimi Babel. Babel jahat, dihakimi oleh Persia. Persia jahat, dihakimi oleh Makedonia. Makedonia jahat, dihakimi oleh Romawi. Romawi jahat, dihakimi oleh orang Goth, Visigoth, Ostrogoth dan Franc. Lalu Tuhan bangkitkan Turki, Seljuk untuk hancurkan Romawi. Seljuk jahat, Goth jahat, Visigoth jahat, Orstrogoth jahat, Franc jahat, siapa yang hancurkan mereka? Tuhan hancurkan bangsa memakai bangsa lain, ini sampai kapan? Paulus mengatakan ini berita yang luar biasa, Injil adalah yang menyatakan kebenaran Allah. Bagaimana cara Injil menyatakan kebenaran Allah? Injil menyatakan kebenaran Allah pada akhirnya yang menghancurkan dan yang dihancurkan menjadi satu. Siapa yang menghancurkan? Tuhan. Siapa yang dihancurkan? Bangsa-bangsa yang jahat. Tuhan hancurkan bangsa jahat memakai bangsa jahat. Nanti bangsa jahat ini harus dihancurkan lagi. Sampai kapan? Paulus mengatakan Injil itu kekuatan Allah yang menyelamatkan, menyelamatkan dengan cara penghakiman dan korban disatukan. Siapa yang akan mendapatkan hantaman akhir? Yesus. Siapa yang seharusnya memberikan hantaman? Tuhan. Maka Tuhan memberikan DiriNya menjadi manusia, lalu penghakiman Tuhan tiba atas Dia. Di sini Paulus menyadari yang menjadi tidak adil bukan hanya karena satu manusia diserang oleh manusia lain, ada orang jahat diserang oleh orang jahat, maka tidak adil. Paulus menyadari bahwa ketidak-adilan yang sejati bukan hanya antar manusia, tapi antara manusia dan Tuhan. Paulus memunyai pengertian yang sangat jenius di ayat-ayat selanjutnya bahwa yang jadi korban itu bukan Habakuk. Orang benar yang mendapat kesulitan karena ketidak-adilan, yang sekarang sudah menjadi korban itu Tuhan. Tuhan adalah korban ketidak-adilan manusia. Tentu Tuhan tidak bisa menjadi korban dengan pengertian Dia menderita, tapi Saudara bisa lihat di ayat-ayat selanjutnya yang tidak adil itu adalah seluruh manusia, karena seluruh manusia tidak memberikan penyembahan kepada Tuhan sebagaimana mereka seharusnya. Dan tidak mau kenal Dia sebagaimana mereka seharusnya mengenal. Tuhan adalah Tuhan yang terus menyatakan diri, pasal 18 & 19, tapi manusia membalasnya dengan tindakan yang tidak adil. Adil dan tidak adil itu harus berdasarkan prinsip. Dan prinsip itu tidak boleh sifatnya subjektif yang hanya dimiliki oleh satu pihak dan tidak dimiliki oleh pihak yang lain. Keadilan adalah sifatnya Tuhan. Bukan persetujuan masyarakat, bukan persetujuan antara seorang dengan orang yang lain. Adil adalah sifatnya Tuhan. Atribut Tuhan adalah Tuhan itu Tuhan yang benar, Tuhan yang adil. Dan Tuhan yang adil adalah Tuhan yang menyatakan berkat dan yang menyatakan bahagia melalui ibadah. Tuhan adil karena Dia menyatakan diri kepada manusia. Keadaan adil kalau kita menerima pernyataan Tuhan, kita ibadah kepada Tuhan, itu baru adil. Di dalam Kitab Habakuk, Paulus menemukan berita yang luar biasa indah yang Paulus terjemahkan dengan sangat baik, adil itu bukan suatu bangsa diserang bangsa lain jadi tidak adil, lalu bangsa yang lain diserang bangsa lain lagi. Adil berarti apa yang Tuhan nyatakan dan yang manusia responi berada dalam keharmonisan, itu baru adil. Dan Paulus mengatakan di ayat selanjutnya, Tuhan menyatakan diri, Tuhan tidak lalai menyatakan diriNya, Tuhan tidak lalai untuk berlaku adil pada manusia. Kalau mau mengatakan Allah itu tidak adil, harus tahu dulu apa yang membuat Allah itu adil. Allah adalah Allah yang adil kalau Dia terus menyatakan diri kepada kita dan memanggil kita kepada Dia. Ini keadilan Allah di tengah manusia yang sudah berdosa. Dan bagaimana cara manusia dipanggil oleh Tuhan? Dengan cara menerima kebaikan dari Tuhan. Saudara dan saya pasti pernah menerima kebaikan dari Tuhan. Dan salah satu kebaikan dari Tuhan yang sangat besar itu adalah hidup. Adam diciptakan lalu dihembuskan nafas hidup dan dia menjadi makhluk hidup. Hidup sebagai manusia adalah belas kasihan Tuhan. Maka jangan pernah mengatakan kepada Tuhan, “saya kan tidak pernah mau hidup”, Saudara  bisa ngomong seperti itu pun karena Saudara sudah hidup, Saudara bisa punya pendapat mana bagus mana tidak itu pun karena Saudara sudah hidup. Kalau Tuhan tidak pernah memberi hidup, tidak mungkin ada begini. Kesempatan hidup adalah anugerah besar yang tidak pernah dimiliki oleh mimbar ini, bunga ini. Tapi dia tidak pernah menyesal tidak hidup, karena dia memang tidak hidup. Orang yang pernah menyesal tidak hidup adalah orang yang pernah hidup. Siapa diantara orang hidup yang maunya mati saja? Tidak ada orang mau mati, orang mau hidup. Karena hidup itu berkat. Dan Tuhan tidak lalai untuk menyatakan diri untuk memelihara hidup manusia meskipun di dalam waktu terbatas, karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Kalau manusia jatuh dalam dosa dan dikatakan upahnya adalah maut, harusnya hidup tidak pernah berlangsung lagi. Tapi Tuhan masih memberikan hidup, Tuhan masih menyatakan diri, Tuhan masih memberikan apa pun yang bisa menopang kita untuk hidup. Itu adalah Tuhan yang sedang berlaku adil. Tuhan sedang melakukan apa yang harusnya Dia lakukan di dalam relasi Dia dengan ciptaan ini. Tuhan tidak pernah lalai di dalam tugas yang Dia berikan kepada ciptaan. Tapi apa yang harus dilakukan manusia? Manusia harus berespon dalam pengenalan dan penyembahan. Mengenal Tuhan dan menyembah Tuhan. Setelah Tuhan menopang kita dengan hidup, kita harus mencari Dia. Tapi kita tidak mencari Dia, kata Paulus, kita malah mencari berhala. Di dalam keadaan kita sedang mencari berhala, kita sedang tidak adil kepada Tuhan. Dan waktu terjadi ketidak-adilan versi Paulus yaitu Tuhan diperlakukan tidak adil oleh manusia, apa yang Tuhan lakukan? Tuhan menyeimbangkan keadilan ini dengan menghukum manusia yang adalah Kristus. Kristus adalah satu-satunya cara bagi kita untuk berada di dalam keadilan dengan Tuhan meskipun kita sudah berlaku tidak adil kepada Dia. Ini menarik sekali untuk kita pahami, di dalam sejarah bapa-bapa gereja dan juga abad pertengahan, ini tema yang banyak digali dan kita bisa belajar banyak dari para tokoh ini. Salah satu tokoh yang bernama Anselm mengatakan bahwa ketika Tuhan memanggil manusia kembali, gambaran antara Tuhan dan manusia itu tidak mungkin dikacaukan oleh setan. Setan tidak bersumbangsih apa pun di dalam mengacaukan atau memperbaiki. Setan tidak ada urusan dengan kita dan Tuhan. Ini adalah urusan kita tidak adil sama Tuhan. Meskipun konsep keadilan Anselm itu agak beda dengan kita dan kita kurang setuju penjelasan dia tentang ketidak-adilan. Konsep ketidak-adilannya sangat berkait dengan zamannya, dimana ada tuan tanah dan budak, kita tidak lagi punya sistem seperti itu. Tapi kita tidak bisa lupa bahwa kita sudah berlaku tidak adil kepada Tuhan. Lalu kita terus teriak-teriak “Tuhan, Engkau tidak adil”, kalau saya jadi Tuhan, saya akan mengatakan “kamu yang dari awal hidupmu tidak adil”. Dan kita tidak berpikir bahwa kita tidak adil, karena kita tidak berpikir bahwa Tuhan menginginkan relasi dengan kita karena Dia mencintai kita. Orang tidak mungkin disakiti oleh yang tidak dia kasihi. Dan Tuhan menciptakan manusia, Tuhan mengasihi yang Dia ciptakan. Meskipun Dia tidak pilih semua, ini konsep lain yang kita pelajari di dalam pasal 5 atau 6. Tuhan mengasihi manusia, Tuhan ingin manusia kembali. Waktu manusia mengabaikan berkatNya, manusia berlaku tidak adil kepada Tuhan. Jadi jangan pakai versi keadilan kita sendiri, tapi pakai versi keadilan Tuhan karena keadilan adalah sifatnya Tuhan. Dengan demikian kita sadar bahwa kita senantiasa tidak adil kepada Tuhan dan kalau begitu ini perlu diseimbangkan.

Karena kalau di dalam Habakuk, satu bangsa dihancurkan bangsa lain, tidak adil. Bangsa ini perlu dikoreksi lagi, dihancurkan oleh bangsa lain. Sekarang kamu yang tidak adil sama Tuhan, siapa yang hancurkan kamu? Tuhankah yang akan menghancurkan kita. Tapi Paulus mengatakan “puji Tuhan, Dia tidak memutuskan untuk menghancurkan kita. Dia memutuskan untuk hancurkan AnakNya menjadi korban”, inilah Injil. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, pihak yang dirugikan adalah Tuhan, pihak yang menawarkan damai adalah Tuhan, pihak yang membayar adalah Tuhan yang menjadi manusia. Indah sekali. Paulus mengatakan inilah yang diharapkan oleh Habakuk, sekarang sudah terjadi. Orang benar akan hidup oleh iman dan dia akan melihat segala keteraturan dan harmoni relasi antara Tuhan dan manusia terjadi. Dan dari situ baru kita mulai menggumulkan bagaimana dengan keadilan yang lain antara satu manusia dengan yang lain, keadilan ini mulai dijalankan juga dalam prinsip kasih di dalam Tuhan. Roma membahas semua ini bahwa Tuhan menghukum semua orang karena ketidak-adilan ini, tetapi di pasal 3 mengatakan meskipun semua orang sudah berdosa, Tuhan masih memanggil orang menjadi umat. Dan umat inilah yang akan mendapatkan anugerah, relasi yang diperbaiki dengan Tuhan. Dan Paulus mengatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, aku tidak malu karena Injil sebab Injil menyelamatkan orang percaya, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Siapa pun dari seluruh bangsa. Di dalam Habakuk dikatakan Israel sudah jahat, Babel juga jahat, semua jahat. Kalau semua jahat, sekarang Tuhan tawarkan kesempatan yang sama kepada semua bangsa yang jahat. Tidak ada lagi bangsa pilihan, tidak ada lagi Israel lebih baik dari pada bangsa lain, Israel sudah sama rusaknya dengan Babel, Babel sama rusaknya dengan Asyur, Asyur sama rusaknya dengan Mesopotamia, sama rusaknya dengan Makedonia, sama rusaknya dengan Roma, sama rusaknya dengan Malaysia, dan sama rusaknya dengan Indonesia. Sama rusaknya dengan semua bangsa, semua bangsa rusak. Kalau semua bangsa rusak, sekarang Tuhan tawarkan perdamaian dengan semua tanpa perbedaan lagi. Di sini lah yang Paulus nyatakan “aku tidak malu akan Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan siapa pun yang sudah berdosa”. Mari kembali kepada Tuhan dan mari tahu jalan Tuhan adalah jalan yang paling baik. Orang benar akan hidup oleh iman.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)