Senantiasa Mengingat Penebusan Kristus | GRII Bandung
Anda disini : Home » Reformed Theology » Kematian dan Kebangkitan Kristus Menurut Paulus » Senantiasa Mengingat Penebusan Kristus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Senantiasa Mengingat Penebusan Kristus

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(1 Korintus 11: 23-26)
Konsep penebusan menurut Paulus itu sangat luar biasa dalam dan unik. Dia memadukan begitu banyak hal, sehingga ketika kita membaca Alkitab dan dikurung oleh konsep-konsep utama saja, kita kehilangan banyak hal yang sangat penting. Dan tanpa kita mengerti apa yang dimaksudkan oleh penulis, kita bisa menafsir sembarangan dari ayat-ayat yang ada. Salah satu tujuan dari gerakan reformasi adalah membawa orang kembali kepada Firman untuk menafsirkan Firman berdasarkan cara yang benar untuk menafsirkan sebuah tulisan. Maka teologi kita terus diperkaya berdasarkan kebenaran Firman. Ini tidak berarti teologi kita tidak perlu dipegang, ini tidak berarti pengakuan iman kita tidak perlu ada. Harus ada, tetapi kelimpahan Kitab Suci tidak boleh dikurung hanya di dalam cara berpikir yang umum. Maka kalau Saudara berpikir tentang keselamatan, Saudara mengatakan “Yesus mati untuk dosaku, Dia bangkit, aku selamat”, ini kalimat yang akan menyempitkan banyak hal, yang sebenarnya sangat dalam di dalam tema-tema tentang keselamatan yang sangat limpah. Alkitab menunjukkan cara untuk menikmati kebenaran doktrin itu dengan cara yang sangat limpah. Kita akan melihat konsep Paulus mengenai kematian dan kebangkitan Kristus dilihat dari sudut pandang makan. Apa kaitan penebusan Kristus dengan makan? Paulus mengatakan sangat ada dan sangat penting.

Dalam 1 Korintus 11, Paulus membahas makanan, makan perjamuan harus dengan hormat. Lalu dalam 1 Korintus 10, Paulus juga membahas makanan “makan makanan yang dipersembahakan kepada berhala, tidak apa-apa, tetapi kamu harus lihat Saudaramu. Waktu engkau makan, mereka dapat berkat atau tidak”. Itu sebabnya Paulus mengingatkan bagi orang Kristen yang penting itu bukan mana boleh mana tidak, yang penting adalah mana berguna, mana tidak. Jangan berlindung di bawah tafsiran palsu dari Kitab Suci untuk apa yang sedang kita kerjakan di dalam hidup. Maka Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 10 “yang kamu kerjakan berguna atau tidak untuk pertumbuhan iman orang lain”. Kita mengerjakan sesuatu berguna atau tidak untuk pertumbuhan iman orang lain? Maka di dalam Imamat 19, kalau Saudara mau belajar berelasi tapi tidak pernah membahas Imamat 19, Saudara tidak tahu apa-apa tentang relasi. Karena ketika Yesus berkata tentang relasi, berkata tentang kasih, Dia mengasumsikan Saudara sudah pernah baca Imamat 19. Banyak kalimat dari Tuhan Yesus adalah kalimat kesimpulan yang berguna kalau Saudara sudah dalami Perjanjian Lama. Kalau Saudara sudah dalami Perjanjian Lama dengar kalimat Tuhan Yesus, langsung tersambung “oh, ini maksudnya”. Waktu Yesus mengatakan “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”, Saudara langsung ingat Imamat 19. Dan di dalam Imamat 19 dibahas dengan limpah kasih dan kekudusan itu satu. Saudara tidak mungkin hidup kudus tanpa mengasihi. Dalam Imamat 19 dibahas kasih berarti Saudara harus membuat kehidupan sosial menjadi kudus, inilah kasih. Imamat 19 mengingatkan kasih berarti Saudara membawa perubahan secara sosial. Saudara tidak kudus dengan menghindarkan diri dari dosa saja, orang Kristen tidak pernah mengenal kekudusan secara pasif seperti ini. Kalau Saudara mengatakan “aku tidak pernah ini, aku tidak pernah itu”, terus tidak pernah, itu bukan tanda kudus tapi tanda Saudara adalah orang yang mampu menahan diri, itu saja. Tapi kalau sudah mampu mengatakan “saya tidak pernah” ini baru separuh jalan, kekudusan yang sejati harus disambung dengan mengatakan “saya sedang kerjakan ini, sudah kerjakan ini, akan kerjakan ini”. Kerjakan apa? Kerjakan yang perlu adanya masyarakat yang lebih baik. Itu sebabnya Paulus mengingatkan “kamu makan pun untuk orang lain mampu hidup dalam cara yang benar, kamu berbisnis supaya orang lain mampu hidup dalam cara yang benar. Kamu bekerja supaya orang lain mampu hidup di dalam cara yang benar”. Inilah pengertian-pengertian yang sangat agung dan dalam yang kadang-kadang kita merasa idealis dan merasa tidak mungkin. Karena itu Alkitab mengatakan “yang engkau kerjakan tidak mungkin engkau kerjakan tanpa topangan dari Tuhan”.

Dalam Injil Yohanes waktu itu murid-murid ada 5.000 laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak, semua berkumpul untuk ikut Yesus. Lalu mereka ikut tanpa tahu apa yang harus dipersiapkan, tanpa tahu mau jadi apa ke depan, ini beriman. Tapi beriman ternyata tidak cukup, karena beriman harus kepada objek iman yang benar, harus kepada Kristus yang sejati, bukan Kristus yang sesuai dengan bayangan kita. Akhirnya 5000 orang makan dan semua menjadi kenyang, perempuan dan anak-anak juga ikut makan. Lalu semua dikumpulkan dan masih ada sisa 12 keranjang. Sisa 12 keranjang, 5.000 orang laki-laki ini paralel dengan 12 suku Israel 600.000 laki-laki. Israel keluar dari Mesir tidak dicatat berapa perempuan, berapa anak-anak, hanya dicatat 600.000 laki-laki. Lalu ketika Yohanes menulis, dia mengatakan 5.000 laki-laki ada 12 keranjang sisa, 12 murid membagi, ini sangat paralel. Yohanes saat menulis ingin pembacanya mengetahui “saya sedang paralelkan kisah ini yang memang sangat paralel dengan waktu Israel keluar dari Mesir”. Lalu dalam bagian Yohanes 6, Yesus memberikan makan 5.000 orang ini diparalelkan oleh Yohanes dengan Israel di padang gurun dapat roti. Maka ketika murid-murid mengejar Tuhan Yesus, Yesus mengatakan “engkau tidak melihat tanda, engkau cuma mau roti lalu menjadi kenyang”. Engkau tidak mau tanda, engkau cuma mau menikmati apa yang Tuhan bisa berikan dalam tanda itu, Yesus mengatakan ini dengan keras. Lalu Yesus berkata “jangan cari makanan yang bisa binasa, cari makanan yang tidak bisa binasa”. Setelah itu mulai pertentangan datang, 5.000 orang yang awalnya setia mulai goyah, karena tadinya mereka setia ikut Tuhan, tapi Tuhan kritik mereka. Waktu Yesus mengatakan kalimat-kalimat tidak setuju, saya mulai kontra Dia, saya mulai anti Dia. Maka ada yang mengatakan “Engkau terlalu sombong, terlalu percaya diri. Engkau memberi makan 5.000 orang, bandingkan dengan Musa. Musa memberikan 600.000 orang laki-laki makan” memberi makan 5.000 dengan 600.000 besar mana? Tapi Yesus jawabnya lain “siapa bilang Musa pernah memberi roti”, lalu orangYahudi mengatakan “pernah, di dalam Taurat dikatakan dia menurunkan roti dari langit”. Yesus bilang “yang turunkan Musa atau Allah”, mereka baru kaget “selama ini teologiku salah, bukan Musa yang menurunkan, tetapi Allah”. Maka kalau benar menyamakan diri dengan Allah, orang Yahudi akan protes “mengapa berani menyamakan diri dengan Allah?”, Yesus akan mengatakan “lihat pekerjaanKu, lalu sangkalah bahwa Aku setara dengan Allah”, tidak ada yang berani. Yesus memberikan makan, Allah memberi makan, maka ini sama. Tetapi Yesus mengatakan “roti yang Allah turunkan itu bukan roti yang kita makan lalu mati”. Tetapi perkataan Yesus jauh lebih keras “roti yang dulu dimakan nenek moyangmu, membuat nenek moyangmu tidak dicegah dari kematian, mereka makan roti dan mati”, ini kalimat yang tidak bisa dicegah. Sehebat-hebatnya mujizat di padang gurun, nenek moyang mereka mati. Yang Yesus tawarkan bukan melanjutkan pekerjaan Musa, kalau Saudara bandingkan Musa dengan Yesus, Yesus akan mengatakan “Aku tidak mungkin dibandingkan dengan Musa karena Aku jauh lebih besar dari Musa”. Yesus mengatakan “tetapi roti yang turun dari sorga adalah tubuhKu. Dan darahKu adalah minuman yang Tuhan sediakan bagimu”. Ini membuat kontroversi lagi “menurutMu kami harus makan tubuhMu dan minum darahMu?”, Yesus bukan malah menjawab, bukan meng-clear-kan suasana, Dia malah menambah heboh suasana. Ini salah satu ciri Yesus, Saudara tanya apa, Dia akan tambah membuat Saudara bingung lagi. “Jadi kami harus memakan tubuhMu?”, Yesus mengatakan “tubuhKu adalah benar-benar makanan dan darahKu benar-benar minuman”, ini membingungkan, mereka ingin tanya, tapi Yesus tidak membuka tanya jawab. Yesus berhenti berkhotbah pada waktu itu. Yesus kadang-kadang membiarkan orang dalam kebingungan dan Dia tidak mau bukakan. Alkitab mengatakan “Aku memberitakan Injil, memberitakan Firman melalui kamu Yesaya, supaya meskipun mereka mendengar mereka tidak menganggap, meskipun mereka melihat mereka tidak mengerti”. Inilah kekerasan hati Israel, Tuhan memberitakan Firman, tapi Tuhan sengaja menyatakan dengan membunyikan artinya dulu supaya semua orang tidak mendapat arti, hanya orang-orang yang Tuhan mau berikansaja. Maka setelah Dia mengatakan “tubuhKu benar-benar makanan, darahKu benar-benar minuman” ketika semua orang kebingungan, maka mereka sambil bingung sambil kecewa, setelah kecewa mereka pergi. Setelah 5.000 pergi tinggal sisa 12, Yesus mengatakan kepada yang 12 “masihkah engkau tinggal di sini?”, tidak mau pergi juga. Ini penurunan drastis, dari 5.000 orang menjadi 12, lalu Yesus mengatakan “kamu tidak mau pergi juga?” Petrus menjawab dengan luar biasa “Engkaulah perkataan dan hidup, Engkaulah yang menyatakan hidup kepada kami, kepada siapa lagi kami pergi”. Yesus mengatakan “memang benar, Aku yang memilih kamu yang 12 ini, tetapi 1 dari kamu adalah setan”. Jadi dari 12 dikurangi 1, lalu sekarang tinggal 11, yang kesebelas orang inilah Yesus mengatakan maknanya. Yesus mengatakan “tubuh dan daging tidak berguna, tetapi roh dan kehidupan itulah yang Aku beritakan kepadamu, sebab FirmanKu adalah roh dan kehidupan”. Firman Yesus adalah kebenaran yang menghidupkan, Firman Yesus berbicara tentang kehidupan. Maka ketika Dia menyatakan kepada para murid, para murid sekarang mengerti dan para murid disiapkan untuk nanti dalam perjamuan sebelum Yesus ditangkap, Yesus kembali melakukan hal yang sama. Yesus memecah-mecahkan roti lalu mengatakan “ini tubuhKu perbuat ini untuk mengingat Aku”, Yesus memberikan cawan dan mengatakan “ini darahKu perbuatlah ini,. Sesungguhnya Aku tidak akan melakukan ini sampai zaman yang baru ketika Aku datang”. Jadi murid-murid ini sengaja dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang besar. Murid-murid ini harus menyebarkan ke seluruh dunia. Itu sebabnya diperintahkan pergi dan jadikan seluruh bangsa, Tuhan mau seluruh bangsa, Tuhan tidak mau satu-satu, Tuhan mau semua bangsa kenal. Inilah satu dorongan semangat yang harus dimiliki orang Kristen. Saudara kalau baca ayat itu, Saudara harus ingat tekanannya adalah pada bangsa, harus menjangkau seluruh bangsa, semua bangsa harus datang kepada Tuhan.

Calvin mengatakan tema dari Perjamuan Kudus bukan dari roti atau anggurnya, tetapi makna dari Perjamuan Kudus adalah kematian Kristus diberikan kepada kita dan diperlukan oleh kita seperti kita memerlukan makan setiap hari. Inilah pengertian yang seringkali kita lupa, adakah dari Saudara yang setelah makan mengatakan “hari ini makan, besok tidak usah. nanti kalau sampai mati kalau sudah lapar baru makan lagi”. Adakah di antara Saudara yang tidak makan selama sebulan terakhir ini? tidak mungkin. Saudara tiap hari perlu makan. Waktu tidak makan , badan mulai lemas, waktu kita tidak makan, badan mulai kehilangan tenaga. Maka hal yang sama diparalelkan oleh Paulus dan ini disadari oleh Calvin. Calvin mengatakan “makna perjamuan adalah di dalam aku perlu penebusan Kristus secara konstan setiap hari. Inilah konsep setiap hari yang diperlukan dalam pertumbuhan dan pengudusan manusia. Kapan kita ditebus? Kita ditebus waktu Yesus mati di kayu salib. Efesus 1:13 mengatakan “pada waktu kita percaya, kita memulai langkah penebusan ini”. Maka pada bab ke-17 Calvin menulis dengan cara yang sangat agung, dia mengatakan kematian Yesus kita perlukan setiap hari, tubuh Yesus kita perlukan tiap hari untuk penebusan kita boleh berefek dalam pengudusan sampai akhirnya mencapai pada kesempurnaan di zaman akhir nanti. Jadi Calvin mengatakan kita perlu ini sebagai pertumbuhan. Saudara perlu makanan bergizi untuk tubuh, Saudara perlu darah dan tubuh Kristus setiap hari untuk pertumbuhan rohani Saudara, ini pengertian yang sangat agung sekali. Karena Calvin mengatakan Yesus mati satu kali, tetapi efek dari kematian itu adalah efek kekal. Kalau orang diminta untuk menjelaskan apa itu kekal, ada yang menjawab kekal itu berarti terruuuuusss tidak berhenti, tidak ada akhir, lalu terus tidak ada awal. Jadi awalnya tidak ada, akhirnya tidak ada, tidak ada permulaan. Tidak ada waktu mulai tidak ada waktu akhir, ini penjelasan tentang kekekalan. Tapi satu tokoh di abad ke-3 bernama Origen, pada waktu dia ditanya apa itu kekekalan, jawabannya membuat kita kaget. Origen mengatakan tiap kekal itu berarti setiap hari diberikan secara baru. hari bahkan sebelum ada hari itu diberikan secara konsisten. Origen mengatakan kekekalan diaplikasikan ke hari ini berarti setiap hari seperti baru. Berarti waktu Yeremia mengatakan “sangat besar kesetiaanMu selalu baru tiap hari”, ini berarti waktu kekekalan diberikan tiap waktu, tiap hari itu fresh dan baru. Maka waktu Yesus mati, pengaruh kematianNya yang kekal itu diberikan setiap hari. Inilah pembaruan yang dikatakan Calvin dimiliki orang Kristen. Calvin adalah pemikir yang sangat besar, tapi kita harus hati-hati bacanya. Sekali lagi kalau Saudara baca Calvin dengan konsep teologi yang ketat dan sangat terlalu terperinci, akhirnya Saudara gagal mengalami kedalaman dia. Ini Calvin sedang bicara tentang pertumbuhan rohani.

Calvin mengatakan bertumbuh dalam 2 hal yang pertama adalah Firman, yang kedua adalah sakramen di dalam perjamuan. Sakramen dalam perjamuan menumbuhkan iman karena sakramen perjamuan itu adalah pernyataan secara fisik untuk hal yang terjadi secara mistik. Kalau Saudara tidak mengerti hal ini mesti baca bukunya Calvin, mesti diskusi akan apa yang Alkitab nyatakan tentang keselamatan kita. Maka Calvin mengatakan yang terjadi di dalam keselamatan kita sifatnya mistik. Mistik artinya hal yang other worldly, hal yang sifatnya lebih ke dunia yang bukan yang kelihatan di dalam dunia yang sekarang ini. Tidak ada kaitan mistik dengan tiba-tiba lampu menjadi gelap, ada suara-suara, ada langkah orang, itu mistik horor murahan. Calvin mengatakan ada 2 cara untuk mengreti yaitu yang pertama dengan iman yang pasti, kedua adalah dengan tanda, simbol yang bisa kita lihat dan kita rasa. Itu sebabnya ada roti dan anggur yang benar-benar ada. Waktu Saudara makan, ini merupakan iman yang Saudara ambil sambil Saudara makan rotinya sambil Saudara mengatakan “ini sama dengan Kristus yang saat ini sedang memberikan secara baru penebusanNya di kayu salib”. Jadi kematian dan kebangkitan Kristus tidak terjadi 2000 tahun yang lalu saja, efeknya secara segar Tuhan berikan setiap hari. Inilah makna kematian yang berpengaruh secara kekal, jadi setiap hari Tuhan memperbarui perjanjian dan komitmenNya. Setiap hari itu baru. Dan ketika Alkitab mengatakan setiap hari itu bukan berarti sehari sekali, tetapi setiap saat. Kata lain untuk setiap saat adalah setiap hari. Selalu baru setiap hari, maksudnya Tuhan selalu memberikan yang fresh. Waktu Tuhan menyatakan penebusa, penebusan itu selalu baru. Saudara terima yang baru, Saudara tidak terima efek yang 2.000 tahun lalu, Saudara terima efeknya secara fresh saat ini, besok dan seterusnya, terus baru. Itu sebabnya sikap orang yang menyadari hal ini adalah mempunyai relasi yang terus diperbarui dengan Tuhan. Mengapa banyak orang mempunyai relasi yang seperti begitu lama dengan Tuhan, begitu muak untuk dekat dengan Tuhan, begitu sulit untuk mempertahankan kehangatan dengan Tuhan? Karena tidak sadar bahwa Tuhan sedang memberikan anugerah keselamatanNya tiap hari dengan cara yang baru. Seperti seorang anak yang ditopang oleh ibunya, waktu ibunya gendong dia tertidur, dia lupa waktu tidur ibunya sedang gendong. Maka sekarang dalam perjamuan Tuhan mengatakan “ambil roti ini, minum anggur ini”. Waktu engkau makan roti, engkau menyadari saat ini engkau sedang menerima dengan iman bahwa Allah sedang memberikan penebusan. Inilah pengertian Calvin, Calvin mengatakan kita dibawa keluar, ke atas, ke tempat Kristus ada, lalu diingatkan tiap hari kita sedang diebrikan secara fresh penebusan Kristus. Saudara tidak mendapatkan makanan basi, Saudara tidak mendapatkan roti yang kemarin. Saudara diberikan secara baru hari ini, besok baru lagi. Inilah efek kekekalan dari penebusan Kristus.

Maka ketika kita membaca 1 Korintus 11 ini kita mengerti Paulus mempunyai konsep kematian dan kebangkitan Kristus yang diaplikasikan secara baru. Inilah hal ketiga yang kita pelajari.
Hal pertama kematian dan kebangkitan Kristus memberikan kita status selamat. Karena untuk selamat kita harus mengalami status milik Sang Anak. Dan untuk dosa ditebus, Sang Anak harus mengalami status pendosa dan mengalami upah dosa. Lalu kedua, kematian Kristus adalah tanda kematian dosa kita, kebangkitan Kristus adalah tanda keselamtan kita didalam hidup yang baru. Dan pengertian ketiga kita bahas dari 1 Korintus 11, kematian dan kebangkitan Kristus terjadi ribuan tahuan yang lalu, tapi efeknya diberikan baru sekarang, hari ini dan nanti besok baru lagi diberikan, terus baru diberikan oleh Allah. Dan ini kita sadari waktu memakan roti perjamuan dan minum cawan anggur itu. Maka nanti kalau Saudara masuk dalam perjamuan, di dalam gereja ini, ingat baik-baik Tuhan sedang memberikan penebusan itu, sedang mengaplikasikan secara konstan setiap hari selalu baru. Dan dengan roti dan anggur itu kita mensyukuri “aku menerimanya dengan iman penebusan yang Kristus berikan kepadaku, aku menerimanya saat ini. Aku menerima sejelas aku memakan roti ini”. Orang beriman itu bisa melihat yang sifatnya mistik sejelas orang biasa melihat hal yang kelihatan. Untuk membuat kita tidak lupa maka ada tanda. Ada tanda roti, ada tanda anggur, tanda bahwa saat ini aku sedang menerima anugerah Kristus yang menyelamatkan saya. Saudara kalau ingat cinta Tuhan dan penebusan yang diberikan tiap hari, Saudara pasti berpikir berkali-kali sebelum Saudara melakukan dosa. Sebelum Saudara melakukan dosa, Saudara berpikir baik-baik Dia yang sudah mati 2.000 tahun yang lalu, sekarang sedang menyatakan penebusan itu saat ini. Kalau saat ini Tuhan sedang menyatakan penebusanNya di sini, bagaimana mungkin saya berani berdosa melawan Dia, bagaimana mungkin saya berani melawan Dia dengam berbuat dosa. Mari hidup dalam kekudusan. Dan Paulus mengingatkan siapa yang menghina simbol berarti sedang menghina yang Tuhan berikan. Yang menghina penebusan setiap hari dengan terus berdosa dan mengabaikan Tuhan, dia sedang menghina pengampunan yang dicurahkan secara baru. Orang yang memberikan sesuatu yang fresh dihina oleh orang yang menerima, akan menyinggung orang yang memberi. Kiranya kita tidak menyinggung Tuhan dengan hidup di dalam cara yang sembarangan. Biarlah kita hidup dengan cara yang diperkenan Tuhan tiap hari makin diperbarui karena tiap hari aplikasi dari penebusan sedang diberikan kepada kita saat ini. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati kita semua.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)