Mati dan Bangkit di dalam Kristus | GRII Bandung
Anda disini : Home » Reformed Theology » Kematian dan Kebangkitan Kristus Menurut Paulus » Mati dan Bangkit di dalam Kristus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Mati dan Bangkit di dalam Kristus

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Roma 6: 5-11)
Paulus ketika membahas tema ini bagaimana manusia berpindah dari cara hidup yang lama kepada cara hidup yang baru, Paulus mengambil cara orang dalam Perjanjian Lama memandang tema ini. Dunia Perjanjian Lama tidak mengenal cara yang hanya sekedar perubahan tingkah laku. Saudara tidak dituntut oleh Tuhan untuk mengalami hanya perubahan tingkah laku. Itu sebabnya dalam Perjanjian Lama waktu Tuhan berfirman akan memanggil Israel menjadi umatNya, Dia membawa keluar dari penyembahan berhala untuk masuk ke dalam penyembahan kepada Allah. Jadi mereka dipanggil bukan hanya untuk perubahan tingkah laku saja, mereka dipanggil untuk mengubah komitmen, mengubah kehidupan, mengubah segala sesuatu dalam hidup mereka untuk dipersembahkan kepada Allah. Manusia lama sebelum diberikan perjanjian oleh Tuhan adalah penyembah-penyembah berhala. Tuhan mengatakan di Mesir, Israel menyembah berhala, di dalam daerah Mesopotamia Abraham dan keturunannya dan keluarganya menyembah berhala, maka Tuhan memanggil Abraham keluar, memanggil Israel keluar. Keluarnya Abraham dari tempat dia ke Tanah Kanaan dan keluarnya Israel dari Mesir ke Kanaan bukan hanya sekedar perubahan tingkah laku. Tuhan tidak memberikan kepada mereka hukum-hukum untuk ditaati secara lahiriah saja, Tuhan memberikan Taurat setelah memberikan hukum paling utama yaitu “jangan ada allah lain dihadapanKu”. Jadi kehidupan orang Israel sebelum dipanggil Tuhan dan sesudah adalah perbedaannya itu sangat menyeluruh, bukan hanya lahiriah, bukan hanya kebiasaan berubah-berubah, bukan kalau dulu pergi ke tempat hiburan sekarang pergi ke gereja, kalau dulu tidak belajar Alkitab sekarang rindu belajar Alkitab, kalau dulu tidak tahu apa itu doa sekarang punya kebiasaan mulai berdoa. Itu semua hanyalah tindakan-tindakan luar yang sama sekali tidak berarti kalau hal yang paling inti belum berubah.

Maka Tuhan mengatakan kepada Israel “hal utama yang kamu harus lakukan adalah ubah berhalamu, buang dewamu, sembahlah Allah”. Dari memberikan komitmen kepada berhala, sekarang memberikan komitmen kepada Allah yang hidup. Dari hidup melayani berhal ayang mati, sekarang berkomitmen untuk melayani Allah yang hidup. Apakah berhala itu ada? tidak. Tetapi orang yang menolak Tuhan lalu mau membuat agama sendiri, mau membuat ilah-ilah palsu yang disembah sendiri, dia sedang jatuh dalam dosa perbudakan kepada berhala. Jadi berhala menindas dan memperbudak dia meskipun berhala itu tidak ada. Mereka diperbudak oleh keberdosaan mereka sendiri. Sama dengan Surat Roma 6, Paulus mengatakan dulu kamu memperhamba diri, menyembah dosa. Dosa itu bukan keberadaan yang nyata, bukan satu bagian di luar kita yang kita sembah, dosa itu sangat nyata, tapi dosa itu bukan seperti berhala yang benar-benar ada. Dosa itu yang ada di dalam diri, yang kita keluarkan karena kita memberontak kepada Tuhan. Tapi Paulus mengubah cara dia membahas dengan memberikan dosa satu tempat seperti berhala, lalu kita sujud menyembah berhala. Maka di dalam Perjanjian Lama, Tuhan menekankan sekali “engkau harus menyembah hanya Tuhan, Tuhan Allahmu kamu harus ikuti. KepadaNya kamu harus berbakti, kepadaNya kamu harus menyembah, kepadaNya kamu harus berpaut, kepadaNya engkau harus beribadah, tidak boleh ada allah lain”.

Dalam 10 Hukum, hukum yang pertama sangat ditekankan “jangan ada allah laih di hadapanKu” jangan ada berhala apa pun, orang Israel harus menyembah hanya Tuhan. Maka waktu mereka dipanggil keluar, Tuhan menekankan jangan ada berhala, jangan ada Allah lain, jangan ada sembahan lain, hanya Tuhan dan perintah ini ditekankan sampai perintah-perintah berikut ketika Tuhan mengatakan “jangan membuat image apa pun”. Tuhan tidak mau ada image apa pun yang bisa membuat orang menyembah Tuhan tetapi dengan pikiran yang sama tentang dewa-dewa yang lain. Mereka menyembah Tuhan secara fisik, tetapi pikiran mereka menafsirkan Tuhan, mengerti Tuhan dengan cara yang salah, Tuhan tidak mau ini. Kita tidak boleh menyembah Allah, Allah yang sepertinya benar, tetapi pengertian kita tentang Allah itu salah, ini adalah penyembahan berhala. Maka Tuhan mengatakan “jangan membuat gambar apa pun”. Tuhan juga sangat menekankan ibadah dari Israel, harus benar-benar mencerminkan ibadah kepada Allah Israel, sehingga orang tidak salah mengerti tentang Allah, sehingga orang tidak mencampur-adukan konsep berhala yang palsu dimasukan kepada Allah. Sehingga orang tidak berpikir Allah adalah satu dari berhala-berhala orang Israel yang banyak. Oleh karena itu ibadah mereka harus murni, penyembahan mereka harus khusus dan cara mereka beribadah tidak sama maknanya dengan bangsa-bangsa lain. Inilah perbedaan yang Tuhan mau Israel miliki, karena Tuhan mau menekankan hanya Dialah Allah tidak ada yang lain. Ini sebabnya ketika Daud mau pindahkan tabut perjanjian dari Silo ke Yerusalem. Tetapi ketika mau diangkut, tabut itu ditaruh di kereta, ditarik oleh sapi. Masukkan ke kereta kemudian ditarik oleh sapi ini adalah cara orang Filistin memindahkan berhala mereka. Jadi kalau mereka mau memindahkan dewa dagon akan ditaruh di kereta kemudian ada sapi yang menarik, lalu mereka mengiringi semua. Waktu tabut perjanjian ditaruh, ada kemungkinan orang mengatakan “cara orang Israel mengangkut dewa sama seperti orang Filistin mengangkut dewa”, akhirnya pengertian menjadi campur, dan Tuhan tidak mau. Karena Tuhan tidak mau, Tuhan sangat keras menegur. Dikatakan bahwa tabut itu berjalan sebentar dibawa oleh kereta, lalu sapi yang membawa kereta itu terpeleset. Waktu sapi terpeleset, kereta mau jatuh, Uza cepat-cepat pegang, waktu dipegang dikatakan “Tuhan menghantam Uza dengan keras”. Cara angkut tabutnya salah, tapi mungkin Saudara berpikir “tapi kan maksud Daud baik, tidak ada niat yang lain” kalau motivasi kita baik, mengapa Tuhan tidak terima? Karena motivasi baik termasuk mencari tahu Tuhan maunya apa, itu baru motivasi baik. Saudara kalau tidak peduli Tuhan mau apa, itu bukan motivasi baik. Ada gereja mengatakan kami mau membuat musik-musik supaya anak muda merasa nyaman di sini, supaya mereka tidak tahu bedanya antara night club dengan gereja. Akhirnya gereja dibuat sedikit gelap, pakai lampu-lampu disko, pakai suasana asap membuat orang merasa nyaman di sini, mirip seperti diskotik. Tuhan tidak mau seperti itu. Tuhan mengijinkan kita bergumul untuk mencari kehendak Tuhan, ini menunjukkan berapa seriusnya kita mengikuti dia.

Salah satu teolog yang mengerti ini adalah Yohanes Calvin, dalam buku satu Institutio, Calvin mengatakan Allah menyatakan diri di dalam ciptaan, Allah menyatakan diri dalam penciptaan manusia juga. Maka Saudara melihat alam melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan, Saudara melihat manusia juga melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Tetapi setelah membahas kemuliaan Tuhan dinyatakan langsung Calvin menjelaskan “Tuhan yang saya maksud adalah Allah Tritunggal karena tidak ada Allah, tidak ada Tuhan yang lain. Calvin menolak konsep Allah secara umum, tidak ada Allah abstrak, Allah pasti Allah yang person, yang Tritunggal. Saudara kalau bilang “Allah”, orang lain tanya “Allah yang mana?”, “tidak ada yang lain, cuma ini” ini pengertian Calvin.

Waktu orang meninggalkan berhala, lalu menyembah Tuhan, dia akan meninggalkan seluruh hidup yang lama dan sekarang dia akan menyembah Tuhan dengan sepenuh-penuhnya. Orang menyembah berhala, orang menyembah dewa, orang mempunyai agama, agama itu akan mengatur seluruh aspek hidup, ini salah satu ciri keagamaan. Di dalam Imamat dikatakan “inilah yang harus kamu makan”, makan pun diatur. Lalu Imamat juga mengatakan “inilah yang harus kamu pakai” pakaian pun diatur. “Inilah yang harus kamu tebar di ladangmu” ladang juga diatur cara tebarnya. “Inilah yang harus kamu lakukan ketika engkau harus tinggal dengan sesamamu” kehidupan sosial pun diatur. “Inilah yang harus dilakukan orang tua kepada anak” keluarga juga diatur. “Inilah syarat bagi raja” raja pun diatur. Ini pertama kali dalam catatan sejarah manusia di mana secara eksplisit dikatakan “raja mesti begini-begini” peraturannya banyak. Belajar menyingkirkan konsep menyembah berhala untuk melayani Tuhan dengan benar. Jadi cara ini Tuhan pakai “engkau pindah dari menyembah berhala kepada menyembah Tuhan” berarti engkau pindah cara hidup dari cara hidup yang lama ke cara hidup yang baru. Konsep inilah yang diketahui oleh Paulus dan karena itu dibagian pasal 6 Paulus mengatakan “engkau sudah mati terhadap dosa, engkau sekarang hidup bagi Kristus”. Jadi ada periode lama di mana kita menyembah yang namanya dosa.

Di dalam Yohanes, Tuhan Yesus mengatakan “jika engkau tetap berada dalam FirmanKu, maka Aku akan membebaskan kamu dan kamu akan menjadi bebas. Aku akan memberikan kebebasan kepada kamu”, waktu dengar ini orang Israel marah. Orang Yahudi mengatakan “kami keturunan Abraham, kami belum pernah dijajah siapa pun, mengapa Engkau bilang kami harus bebas, siapa yang jajah kami” orang Yahudi benar-benar tidak mau lihat realita. Saya kalau jadi Tuhan Yesus pada waktu itu mungkin ketawa, orang Yahudi mengatakan “kami belum pernah dijajah siapa pun, mungkin saya akan bilang “Babel, Romawi, Makedonia”, mereka lupa 3 negara besar ini. Sekarang pun mereka sedang dijajah Romawi, mereka tidak bisa melaksanakan hukuman mati, mereka tidak bisa memiliki politik yang mandiri, setiap keputusan yang dianggap mengganggu oleh Romawi, langsung Romawi menginterupsi. Jadi mereka tidak punya otoritas, tapi mereka pura-pura, mereka benar-benar sombong, pokoknya Israel tidak ada yang menjajah. Tapi Yesus tidak pernah pakai kuasa politik untuk membuktikan mereka terjajah, Yesus mengatakan “ada kuasa lain yang menjajah kamu lebih besar dari Herodes, lebih besar dari Kaisar Romawi, yaitu kuasa yang namanya dosa. Karena siapa pun yang melakukan dosa adalah hamba dosa”. Maka Paulus mengatakan “dulu kamu menyembah dosa”, apakah ada berhala yang namanya dosa? tidak, tapi tingkah laku mereka membuktikan mereka adalah penyembah berhala yang namanya dosa. Mereka terus menyebarkan kecemaran, mereka hanya bisa bertindak cemar, hanya bisa melakukan perbuatan-perbuatan kotor, mereka diperbudak dosa. Dan ketika dosa memperbudak seperti ada kekuatan yang membuat kita tidak bisa berbuat hal yang lain, hanya melakukan apa yang dikatakan oleh hamba ini. Maka Paulus mengatakan “sekarang kamu sudah pindah” lagi-lagi Paulus memakai contoh di dalam Perjanjian Lama, cara pikir Perjanjian Lama, pindah berarti pindah total. Kalau total dalam Perjanjian Lama dari menyembah berhala menjadi menyembah Allah.

Di dalam Paulus total berarti dari hidup di dalam dosa, hidup dikuasai dosa menjadi hidup di dalam Kristus. Perpindahan ini bagi Paulus adalah perpindahan dari hidup kepada mati. Kata Paulus “Diri kita yang lama sudah mati” jadi untuk pindah perlu mati, ini lebih ekstrim lagi dibanding Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama kalau mau pindah ubah cara menyembah, tidak boleh menyembah berhala, hanya boleh menyembah Tuhan. Kalau berubah dari menyembah berhala ke menyembah Tuhan berarti seluruh hidup berubah. Tetapi Paulus memberikan dorongan yang lebih dahsyat lagi, Paulus mengatakan “Mau pindah? Engkau harus mati dulu”, apakah ada syarat gereja seperti ini? ini menakutkan sekali, Saudara diminta mati dulu baru menjadi anggota. Tapi Paulus mengatakan “kita mati waktu Kristus mati, kita bangkit waktu Kristus bangkit, dan ini menjadi nyata waktu Kristus datang kembali”. Jadi Saudara harus tahu waktu Paulus membahas teologinya, seluruhnya bersifat eskatologis, seluruhnya bersifat melihat masa depan, seluruhnya mengenai pengharapan yang belum terjadi sekarang. Jadi kalau Paulus bicara apa pun selalu nanti-nanti, eskatologi, masa depan, suatu saat nanti. Tapi setiap praktek, dorongan, cetusan untuk taat selalu bersifat sekarang. Paulus mengatakan “nanti kita akan disempurnakan dengan Kristus, maka sekarang jalanilah hidup yang sesuai” ini yang biasanya Paulus katakan. Nanti hidupmu yang tersembunyi akan dinyatakan, maka sekarang tinggalkanlah dosa-dosamu. Nanti akan apa maka sekarang begini, inilah Paulus. Paulus tidak pernah “nanti akan begini, maka jangan lupa kalau nanti begini”. Paulus juga tidak mengatakan “sekarang kita begini, maka sekarang kita begini”. Paulus mengatakan “nanti kita dipermuliakan, maka sekarang setialah kepada Tuhan”. Ini namanya selalu melihat kepada eskatologi tapi mengambil semua contoh aplikasi sekarang, Saudara tidak dituntut untuk taat nanti tapi sekarang. Tapi Saudara diminta mengharap apa yang nanti Tuhan berikan. Inilah keindahan yang oleh teologi reformed disimpulkan dengan all ready, tetapi juga not yet. Kalau Saudara ditanya “sudah selamat?”, Saudara jawab “all ready”, “sudah?”, “not yet”, “lho, bukannya tadi sudah bilang all ready?”, all ready and not yet. Jadi intinya sudah selamat tapi masih berdosa. Apakah sudah selamat atau belum? Sudah sekaligus belum. Apa yang belum? Pengharapan, progress untuk menuju kepada pengharapan itu. Paulus memberikan contoh yang luar biasa. Paulus mengatakan “Bagaimana mati?”, Paulus mengatakan “waktu Kristus mati, di situ kita mati”. Apa pengharapan hidup kekal? Paulus mengatakan “Kristus bangkit itulah pengharapan hidup kekal”. Kita memiliki pengharapan hidup kekal bukan karena iman, kita beriman kepada Kristus, Kristus itulah yang menjadi jamina hidup kekal. Maka kalau Saudara lihat dalam Roma 4 ayat terakhir dikatakan “Kristus yang mati karena dosa-dosa kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita”. Alasan Kristus bangkit adalah pembenaran bagi umat pilihan sudah efektif, sudah berlaku. Berarti Kristus bangkit memberikan kepastian keselamatan. Satu-satunya yang bisa membatalkan keselamatan saya adalah kalau Kristus tidak bangkit. Kebangkitan Kristus memberikan tempat bersama-sama dengan Dia, kebangkitan Kristus memberikan kemenangan total. Kebangkitan Kristus memastikan bahwa saya pun akan bangkit”. Jadi Paulus mengharapkan bahagia, mengharapkan eskatologi yang indah, mengharapkan kemuliaan bersama dengan Anak Allah karena Dia sudah bangkit. Jadi kita berdoa hal yang besar karena kita tahu Kristus sudah bangkit. Kebangkitan Kristus mengalahkan semua kuasa yang mungkin membuat kita jauh dari Tuhan. Karena Kristus bangkit kematian tidak berkuasa, setan tidak berkuasa, penghakiman Tuhan tidak lagi dinyatakan dan karena itu iblis tidak punya senjata untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Maka karena Kristus bangkit, maka kebangkitan kita menjadi jelas dan ini lah satu jaminan keselamatan yang sangat kuat. Dalam Ibrani dikatakan karena Dia sudah bangkit, bukan itu saja, Dia sudah berada di kemah yang abadi itu, kemah yang suci untuk menjadi Imam Besar bagi kita semua, maka kita punya pengharapan yang tidak mungkin dibatalkan. Saudara yang menjamin keselamatan kita adalah Sang Imam, dan Sang Imam ini bukan Hanas dan Kayafas di bumi tapi Yesus Anak Daud, Anak Allah yang ada di sebelah kanan Allah.

Paulus mengucapkan kalimat yang luar biasa, dia mengatakan “kamu selamat karena Kristus bangkit, kamu juga harus berbagian di dalam kematianNya. Mengapa cuma mau kebangkitanNya, tidak mau kematianNya. Kalau kamu ingat siapa Kristus, kamu akan tahu Dia bangkit setelah Dia mati. Dia mati baru bangkit. Maka siapa yang mau menjadi satu dalam kebangkitan Kristus, dia juga menjadi satu di dalam kematian Kristus”. Yang tidak mau menjadi satu dalam kematian Kristus, tidak mungkin menjadi satu dalam kebangkitan Kristus. Ayub dengan sangat elegan, dengan sangat luar biasa, dengan sangat fasih mengatakan “siapa yang mau menerima yang baik dari Tuhan harus mau terima yang buruk juga”. Siapa mau kebangkitan Kristus, harus mau terima kematianNya, jangan enaknya saja. Maka Paulus mengatakan “siapa menjadi satu di dalam kebangkitanNya, dia menjadi satu di dalam kematianNya”. Dan satu di dalam kematian berarti hidup kita yang lama yang mati. Kita tidak lagi hidup dengan cara lama. Sekali lagi Paulus mengatakan sesuatu yang eskatologis “aku mati, nanti sempurnanya ketika Kristus datang”. Saudara benar-benar mati terhadap dosa itu nanti, belum sekarang. Sekarang matinya dosa itu kadang-kadang masih bangkit-bangkit sedikit. Maka secara status kita sudah mati, tapi kita sedang bergumul mematikan diri dengan meninggalkan semua dosa. Inilah perjuangan mematikan diri yang Paulus maksudkan. Paulus di Efesus mengatakan “tanggalkan semua, matikanlah dirimu”. Dia tidak mengatakan “ubah tingkah laku saja”, tapi dia mengatakan “matikan”. Mengapa matikan? Karena diriku yang lama sudah mati waktu Kristus disalib. Waktu Kristus menyerahkan nyawaNya di kayu salib, pada saat itulah aku juga menyerahkan diriku yang lama. Waktu Kristus menyerahkan nyawaNya, aku yang percaya kepadaNya sudah mati pada momen aku percaya kepada Dia”. Efesus 1 juga mengatakan “kamu juga, ketika kamu sudah percaya, sudah dinyatakan sama dengan Dia di dalam kematianNya dan akan menjadi sama di dalam kebngkitanNya. Itu sebabnya waktu iblis mencari Saudara, Saudara mengatakan “maaf, orang yang kamu cari sudah mati”. Waktu kita sudah percaya Tuhan Yesus, kita mati, dan kita harus mematikan diri karena status kita sudah mati. Lalu kita bangkit, hidup dalam hidup yang baru. Paulus mengatakan “tinggalkanlah dosa-dosamu seperti orang yang mau mematikan diri yang lama, bukan tinggalkan sebagian, tapi seluruh”. Makna kematian Kristus bagi Paulus adalah waktu Kristus mati, diriku pun disatukan dalam kematian pada saat aku percaya. Waktu Kristus bangkit, diriku yang baru dibangkitkan bersama-sama dengan Dia. Jadi Saudara tidak hidup dalam cara yang lama, mari tinggalkan dosa-dosa Saudara. Apapun dosa yang masih ada, Saudara harus berani katakan sekarang saya mau matikan dosa ini, saya minta kekuatan dari Tuhan, saya minta pertolongan Tuhan, saya minta FirmanNya mengisi hidup saya sepenuhnya, dan saya minta kekuatan untuk mengatakan “dosa saya akan matikan kamu”, dan besok saya akan hidup lebih baik, lusa lebih baik. Dan dengan demikian kita memiliki progres dalam pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Kiranya Tuhan menguatkan kita untuk terus konsisten mematikan dosa, hari demi hari hingga saatnya kita bertemu dengan Kristus

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)