Kristus Mati untuk Seteru Allah | GRII Bandung
Anda disini : Home » Reformed Theology » Kematian dan Kebangkitan Kristus Menurut Paulus » Kristus Mati untuk Seteru Allah
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kristus Mati untuk Seteru Allah

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Roma 5: 1-11)
Paulus mengatakan Kristus mati untuk kita orang-orang durhaka. Kristus mati untuk kita ketika kita masih seteru. Kristus mati untuk kita waktu kita masih status berdosa. Ini 3 hal yang penting untuk kita ketahui. Allah tidak mati untuk orang pilihan saja, Allah mati untuk orang pilihan yang masih berdosa, Anak Allah rela mati untuk orang pilihan yang masih seteru, Anak Allah rela mati untuk orang pilihan yang masih hidup di dalam pemberontakan. Ketika sedang menyelidiki ini seorang bernama Cornelius Van Til menemukan satu pemikiran yang dalam sekali, dia mengatakan Allah itu tidak hanya memberikan wahyu saja, anugerah umum saja. Allah tidak hanya memberikan anugerah umum untuk diterima semua, tetapi Allah juga memberikan murka umum untuk diterima oleh semua. Murka umum berarti Allah melihat manusia sebagai seteru dan Dia melihat dengan murka, entah orang ini orang pilihan atau bukan, selama dia belum di dalam Kristus, bahkan orang pilihan pun mendapatkan murka Tuhan sebelum dia datang kepada Tuhan. Allah datang kepada kita dan mengatakan “Aku membencimu karena engkau musuh”. Ini yang kadang-kadang kita lupa, Allah kita adalah Allah yang berhak membenci, Dia yang kudus dilanggar kekudusanNya, Dia yang penuh anugerah dihina anugerahNya, Dia yang memanggil manusia diabaikan panggilanNya. Maka Dia berhak marah, Dia berhak murka, sama seperti seorang ibu yang berhak marah ketika anak yang dilahirkannya sendiri bertindak kurang ajar kepada dia. Keberadaan kita adalah karena Tuhan ciptakan, kita ada karena Dia. Adam dicipta Tuhan dengan cara yang sangat intim, Allah membuat ada tanah untuk membentuk manusia, lalu Allah menghembuskan nafas lalu manusia menjadi hidup. Allah yang memberikan hidup dan bukan saja Allah memberikan hidup, Allah memberikan topangan supaya kita hidup. Allah kita bukan hanya Allah pencipta, Dia juga Allah Pemelihara, Dia memelihara semua, Dia memelihara seluruh ciptaan. Dia mengizinkan manusia boleh menikmati begitu banyak hal dari kebaikanNya. Kita lebih senang mendapatkan apa yang kita perlukan dalam hidup kita, tetapi kita tidak mau Dia, kita tidak mau Dia ada bersama-sama kita. Kita mau berkat kita tidak mau Dia, kita mau pemeliharaanNya kita tidak mau Tuhan. Betapa jahatnya orang seperti ini, ketika dia datang kepada Tuhan, dia hanya mau “Tuhan, tolong hidupku, tolong saya” tapi dia sama sekali tidak ingin Tuhan. Apakah Tuhan kurang baik? Tuhan sangat baik.

Di dalam Taman Eden Tuhan mengizinkan manusia menikmati berbagai hal. Setelah Tuhan menciptakan Adam, Tuhan sengaja membiarkan Adam menyelidiki apa yang harus dia kerjakan, sampai di sadar perlu penolong, kemudian Tuhan siapkan penolong yang sudah Dia siapkan sejak awal. Tuhan tahu kebutuhan Adam, Tuhan perhatikan dia. Waktu Adam keliling-keliling, dia tahu ini pekerjaan berat, dia tidak bisa kerjakan sendiri, dia perlu seorang penolong. Dikatakan “makin Adam melihat taman, makin dia melihat ciptaan Tuhan, makin dia memberi nama binatang, makin dia lihat semua, dia tahu “saya sendiri tidak mungkin bisa, saya perlu seseorang” maka pada waktunya Tuhan membuat dia tertidur, lalu Tuhan ambil dari rusukunya kemudian Tuhan bangun seorang perempuan. Waktu Adam melihat perempuan ini dia langsung mengatakan “ini dia tulang dari tulangku, daging dari dagingku. Dia akan dinamai perempuan sebab dia diambil dari laki-laki”. Setelah itu Tuhan mengizinkan mereka menikmati taman yang begitu indah. Tuhan membuat bagi mereka taman untuk mereka kelola, untuk mereka pelihara. Di taman itu Tuhan menumbuhkan berbagai macam pohon yang mengeluarkan buah. Dari begitu banyak pohon yang mengeluarkan buah yang baik, Tuhan melarang mereka satu, tetapi manusia yang jahat selalu fokus pada yang satu. Kita sering mengatakan “Tuhan tidak adil, mengapa ada satu yang tidak boleh”, kita tidak melihat pada yang boleh, kita lihat pada yang tidak boleh. Kita mudah sekali curiga sama Tuhan. Bayangkan adam dan Hawa dicipta dan dipelihara oleh Tuhan, Tuhanlah sumber semua kehidupan mereka, mereka berhutang semua kepada Tuhan. Tetapi Tuhan mengatakan “jangan makan”, lalu datang ular, ular ini siapa? Ular ini pernah berjasa apa pada hidup mereka? Ular ini pernah tolong apa kepada mereka? Tetapi ular memberi nasihat, mereka langsung mendengar ular dan langsung curiga kepada Tuhan. Kita juga sering curiga sama Tuhan, kalau kehidupan kita baik, kita mengatakan “semua baik” lalu kita percaya semua FirmanNya. Begitu ada goncangan dalam hidup, mulai kita meragukan. Kita ini punya tendensi natural jauh dari Tuhan. Kalau jauh dari Tuhan senang, tapi kalau ada susah kita salahkan Tuhan. Maka ketika iblis mengatakan Tuhan itu jahat, kita langsung percaya. Bayangkan ada penipu mengatakan orang jujur itu penipu, kita kagumi si penipu itu, kita percaya dan semua yang dia katakan itu kita aminkan. Tetapi Tuhan yang adalah kebenaran, kita tanya lagi “benarkah Engkau baik? Kalau baik, mengapa begini?

Jurgen Moltmann seorang teolog yang sangat besar, dia pernah mengatakan sering kali teologia Kristen lupa sisi kerentanan Tuhan. Tuhan rentan dalam pengertian diriNya rela disakiti waktu Dia memulai relasi dengan manusia. Tidak ada satu pun dari kita yang dilukai oleh orang yang tidak dikenal. Tapi kalau Saudara disakiti pacar, disakiti suami, disakiti istri, disakiti anak, disakiti orang tua, ini perasaan sakit yang besar sekali, karena Saudara mengharapkan ada keintiman yang lebih dari orang ini, tetapi dia memberikan kepada Saudara hal yang menyakiti Saudara. Maka Tuhan sakit hatiNya, Dia menyatakan “kamu musuh” karena Dia peduli. Satu orang pernah mengatakan kepada saya “menurutmu lawan kata dari kasih itu apa?”, ada orang bilang “benci”, salah, lawan kata dari kasih adalah tidak peduli. Kalau saya tidak peduli, saya tidak kasih, saya juga tidak akan benci. Tuhan murka kepada kita karena Dia ingin ada relasi yang baik antara kita dengan Dia. Apakah Tuhan perlu kita? Tidak, kita yang perlu Tuhan, tapi Tuhan yang cari kita. Kita yang perlu Tuhan, kita sakiti hati Tuhan, tapi Tuhan mengampuni kita, ini terbalik. Kita mengatakan “aku melawan Engkau” Tuhan murka, Tuhan benci, Tuhan marah kepada kita. Tetapi di tengah-tengah kemarahanNya, Tuhan justru mengirim AnakNya yang tunggal, inilah kasih yang paling besar. Sampai Saudara punya musuh yang Saudara dendam sepenuh hati, baru Saudara tahu berapa besarnya cinta kasih Tuhan. Dan yang saya bilang musuh bukan cuma sekedar hal-hal sepele. Kalau saya tanya sekarang, mungkin sebagian besar dari kita tidak punya musuh. Kalau Saudara mengatakan “saya punya musuh, saya benci kakak saya. Kakak saya curi sarapan pagi saya, saya marah” ini namanya bukan musuh, ini namanya pertengkaran kecil. Tapi musuh sejati adalah yang benar-benar membuat luka paling dalam. Pernahkan mengalami keluarga Saudara dibantai oleh suku lain, lalu Saudara marah mati-matian kepada suku itu, ini dendam, ini musuh yang dimaksud. Saudara merasa mau bunuh orang lain karena dia sudah bunuh orang yang Saudara hargai, ini dendam yang sudah tidak tertahankan itu. Maka waktu dikatakan Tuhan menganggap kita seteru, yang dimaksudkan adalah dendam sebesar ini. Satu kali seorang teolog Kroasia bernama Miroslav Volf memberi seminar tentang pengampunan Allah, lalu diakhir seminar dia mengatakan setelah belajar pengampunan mesti diaplikasikan, mesti mengampuni. Lalu gurunya yang adalah Jurgen Moltmann berdiri dan mau bertanya “bisakah kamu mengampuni pasukan Chetnik yang membantai suku-suku bangsamu sendiri, yang mungkin sudah membunuh orang-orang yang kamu kasihi, yang kamu kenal, bisa ampuni?”. Mendengar ini Volf kaget, dia mengatakan “sepanjang bahan ini, yang saya pikirkan adalah aplikasi mengampuni orang yang pernah gores mobilmu, yang pernah tipu uangmu, orang yang pernah lakukan hal-hal yang sebenarnya kecil dibandingkan ini, saya belum pernah pikir sedalam ini. Tapi setelah saya pikir, saya mengatakan saya harus, karena justru ketika saya punya musuh sebesar ini, saya tahu sakit hatiNya Tuhan itu seperti apa”. Maka dendam dan sakit hatiNya Tuhan, Tuhan mau nyatakan, tetapi justru pada waktu Tuhan menghakimi, yang harusnya menghakimi, datang menjadi korban. Alkitab mengatakan pada hari penghakiman Dia akan datang, tapi justru Dia datang untuk menjadi korban. Yesus Kristus datang untuk menanggung dosa, inilah cinta kasih itu. Jadi kalau Saudara meragukan cinta kasih Tuhan, saya tidak mengerti alasan apa yang Saudara miliki untuk meragukan cinta kasihNya. Kalau Saudara masih merasa “Tuhan kurang mengasihi aku”, jangan lihat pada hal-hal sepele.

Sebelum Kristus datang, Kristus mengingatkan bahwa orang Israel angkatan ini akan menanggung dosa dari orang-orang benar, dosa dari orang-orang tertindas, dosa dari orang-orang yang membunuh orang benar, mulai dari Habel orang benar itu sampai Zakharia yang dibunuh di mezbah. Zakharia adalah nabi terakhir yang dibunuh sebelum Yesus datang dan kematiannya adalah kematian yang sangat mengerikan karena dilakukan di atas mezbah. Ini sangat menyakiti hati Tuhan, dia mati di mezbah tempat Tuhan yang suci dan dia adalah nabi Tuhan yang Tuhan kasihi, tetapi dibunuh oleh orang Yehuda, ini membuat Tuhan marah. Tapi justru di tengah kemarahanNya, Tuhan menahan kemarahanNya lalu memberikan belas kasihan dengan mengirimkan Anak Tunggal. Waktu Anak TunggalNya datang, malah Anak Allah dipaku di atas kayu salib dan mencucurkan darah di situ. Tapi Paulus mengatakan ini justru alasan mengapa Dia datang, Dia harus mati. Dia mati di kayu salib untuk menggantikan kita. Tuhan adalah Allah yang tidak mungkin mengompromikan kesucianNya karena Dia adalah suci, Allah tidak bisa menyangkal diriNya. Kalau Dia adalah suci mau mengampuni orang berdosa, dosa itu harus ditanggung. Maka Yesus datang menjadi Penanggung, Dialah yang mengganti kita untuk mati di kayu salib. Ini harus kita ketahui, orang belum mengetahui berita ini, belum Kristen karena inti berita Kristen adalah aku selamat karena ada yang menggantikan aku mati sebagai upah dosa. Yesus Kristus mati di kayu salib dan semua kebersalah kita, keberdosaan kita ditaruh di badanNya. Lalu seluruh kebenaranNya dan kemuliaanNya sekarang dibagikan kepada kita semua, inilah pembenaran itu. Maka ketika Martin Luther mengerti hal ini, dia kaget sekali, saya dipermuliakan setinggi Sang Anak, saya mendapatkan posisi sama dengan Sang Anak, apdahal saya orang berdosa dan Anak Allah paling mulia. Tetapi ini terjadi, Allah mengizinkan semua dosa kita ditaruh kepada Dia dan Dia membagikan kebenaranNya kepada kita semua, inilah cara manusia diselamatkan.

Manusia tidak bisa selamat dengan perbuatan, manusia tidak bisa selamat dengan kesalehan, manusia tidak bisa selamat dengan usaha apa pun, karena dosa yang kita miliki tidak mungkin tidak dihukum. Kristus datang untuk tanggung hukuman kita, tanggung semua yang kita perbuat di kayu salib. Dosa siapa yang Dia tanggung? Alkitab mengatakan secara efektif Dia menanggung dosa orang pilihan, tapi secara penawaran ini ditawarkan kepada seluruh manusia, meskipun tidak seluruh manusia mendapatkan. Jadi apakah Adam selamat? dia selamat. Dia melakukan apa untuk diselamatkan? dia dipertobatkan oleh Tuhan, diampuni oleh Tuhan, diberikan pakaian penebusan oleh Tuhan. Tapi penebusan itu bukan dari binatang pemilik kulit yang dibungkuskan kepada badan Adam. Penebusan dari Kristus, dosa Adam, dosa Abraham, dosa Musa, dosa Yesaya, dosa Yeremia, dosa Daud, semua dosa dari orang-orang yang Tuhan mau selamatkan sekarang ditanggung oleh Kristus di kayu salib. Sekarang Saudara tanya “mengapa satu orang bisa tanggung dosa banyak orang?”, kita mengatakan “karena Orang ini adalah inkarnasi dari Pribadi ke-2 Allah Tritunggal. Itu sebabnya penebusanNya tidak berbatas, tidak mengenal ruang, tidak mengenal waktu. Saudara percaya kepada Kristus, dosa Saudara dibawa kepada ribuan tahun yang lalu dan dipakukan di atas kayu salib”. Inilah penebusan itu, maka ketika Saudara berada di hadapan Tuhan, Saudara mengatakan “silahkan masuk”. Mengapa masuk kemuliaan Tuhan? Karena engkau mencerminkan kemuliaan Kristus, karena Kristus memberikannya kepada kita. Dan dosa kita diambil oleh Kristus. Maka Dia harus datang mewakili seluruh umat manusia untuk mati di kayu salib, mewakili kesetiaan manusia, setelah itu memberikan nyawaNya untuk menebus banyak orang.

Alkitab mengatakan itu terjadi ketika Tuhan harusnya menghukum orang jahat, ketika waktunya Tuhan menyatakan seteru, dan musuh harus dihukum, pada waktu itu Kristus mati di kayu salib. Ini merupakan hal yang sangat unik dari teologi Paulus. Paulus memberikan gambaran Allah itu sabar dengan kemarahanNya, tapi makin lama Dia tidak mau tahan kemarahanNya, makin sudah mau dicurahkan. Seperti orang isi ember dnegan air, pada waktu ember itu penuh air, inilah waktu penghakiman itu tiba. Dan Paulus selalu bicara kedatangan Kristus dengan kata-kata “waktunya genap”. Kalau Saudara tafsirkan waktunya genap apa sih? Artinya waktu pengampunanNya sudah tiba. Tapi kalau kita baca Paulus, yang terjadi sebaliknya waktu ketika murka Tuhan sudah tumpah, inilah waktunya sudah datang. Waktu ketika mau dicurahkan, ketika Tuhan sangat benci pada pendosa, pada waktu itu Kristus datang menanggung curahan murka Allah di kayu salib. Jadi ini kalimat yang sangat agung, Tuhan mengizinkan AnakNya mati untuk musuh-musuhNya. Apakah Saudara mau anak Saudara dikorbankan untuk musuh Saudara? Ini yang Allah kerjakan untuk Saudara. Ayat ini mengatakan ada orang yang mungkin rela mati untuk orang baik, tapi tidak ada orang yang mau mati untuk orang benar. Kita pun hidup di zaman yang mirip dengan zaman Paulus, kita senang orang yang baik, kita tidak suka orang benar. Tapi jutaru Yesus rela mati bagi seteru, rela mati bagi orang-orang yang jahat padaNya, inilah kasih Allah. Maka kasih Allah dicurahkan dengan Kristus yang datang kemudian menebus kita, memindahkan kita, dari seteru menjadi anak, dari musuh menjadi dikasihi, dari mau dicurahkan murka jadi dicurahkan cinta kasih yang kekal oleh Allah. Kita sekarang menjadi anak-anak Allah. Status dari berdosa menjadi anak Allah ini tidak ada jembatani yang harus kita jalani, langsung pindah, tidak ada proses dulu tapi langsung secara status. Inilah betapa besar Tuhan mencintai kita. Kita jatuh karena wakil kita Adam membawa kita ke dalam kejatuhan. Kita benar, karena wakil kita Kristus membawa kita kepada kebenaran. Menurut Saudara ini adil atau tidak? Kalau jatuh kita protes “mengapa gara-gara 1 orang kita ikut salah?” tapi karena 1 orang benar kita ikut benar, jarang ada orang yang protes. Berani protes “Tuhan, mengapa saya selamat?”. Kita senang karena Kristus yang menebus kita. Adam membawa kita kepada kejatuhan. Lalu Kristus menebus kita dari kedalam Adam menjadi anak Allah, ini tidak ada proses yang Tuhan tuntut. Tuhan menuntut proses setelah pindah, Tuhan menuntut proses setelah kita menjadi anak Allah. Jadi kita adalah anak-anak Allah, kita suci, kita sempurna, Alkitab mengatakan “ya, kita sempurna”. Tapi mengapa kalau sempurna masih seperti ini? Inilah yang namanya progres.

Mari kita terus kuduskan hidup, dan bagaimana kuduskan hidup? Alkitab mengatakan sejak kita pindah menjadi anak dan sampai bertemu dengan Kristus serangkaian hidup kita adalah rangkaian pemrosesan dari Tuhan. Inilah sebabnya Paulus ketika membahas di dalam pasal 5, terlebih dauhlu mengatakan “meskipun ada penganiayaan, penganiayaan itu akan membuat kita tekun. Ketekunan menimbulkan tahan uji. Dan tahan uji menimbulkan pengharapan”. Kata yang dipakai untuk menerjemahkan tahan uji bisa juga diterjemahkan satu keadaan yang baik secara karakter, yang adil, yang suci dan yang mengeluarkan semua kualitas ini untuk dilihat orang lain. Ini yang kita harapkan. Jangan menjadi orang Kristen yang tidak bertumbuh, jangan jadi orang Kristen yang sama dengan orang non-Kristen, mengabaikan Tuhan, tidak peduli Dia dan tidak mau dekat dengan Dia. Mari belajar dan mau dikuduskan oleh Dia. Waktu ini terjadi, orang Roma sangat kesulitan, maka Paulus mengatakan “waktu engkau susah pun, engkau sebenarnya sedang dibentuk oleh Tuhan”. Kita ini anak-anak Tuhan, kalau anak-anak Tuhan di dunia ada priviledge yaitu pembentukan Tuhan. Apa yang kita alami kalau kita pelihara kedekatan kita dengan Tuhan dan mau terus hidup ikut Dia, maka Saudara akan makin terbentuk. Tapi ada orang yang mengatakan “kalau anak Tuhan itu dibebaskan dari sakit, dari susah, dari miskin. Apakah Tuhan meluputkan kita dari semua jenis penyakit? Apakah Tuhan meluputkan kita dari semua jenis kemiskinan, kesusahan dan lain-lain? Jawabannya tidak. Jemaat di Roma tidak diluputkan, Kristus pun tidak diluputkan. Kalau Anak Tunggal Allah saja tidak diluputkan, mengapa kita mau minta hak untuk diluputkan dari hal-hal seperti ini? Maka Paulus mengatakan “jangan menjadi gelisah. Kalau engkau menderita, tidak berarti engkau bukan anak Tuhan. Justru sebaliknya, ketika engkau menjadi anak Tuhan, penderitaan itu akan membuat negkau menjadi makin teruji dan makin memancarkan kemenangan untuk dinikmati orang lain”. Inilah yang dilakukan Paulus dalam Roma 5. Justru di dalam anugerah Tuhan, Tuhan mengizinkan pedang, kelaparan, aniaya sekalipun menyertai kehidupan orang Kristen, tapi Tuhan menjanjikan kemenangan di dalam Dia. Inilah yang Tuhan nyatakan. Tapi bagi Saudara yang hidupnya kurang menderita jangan iri sama yang menderita. Ada orang di reformed bertanya “pak, mengapa hidup saya kurang menderita? Apa yang harus saya lakukan?”. Paulus tidak minta orang Kristen cari penderitaan, Paulus mengatakan “kalau penderitaan datang, jangan ragukan status. Kalau penderitaan datang , jangan marah sama Tuhan. Kalau penderitaan datang, jangan kecewa sama Dia, engkau tidak berhak. Kalau penderitaan datang, ingat Tuhan sedang membentuk”. Tapi kadang-kadang Tuhan bentuk bukan dengan penderitaan saja, terkadang dengan kemulusan pun Tuhan bentuk, karena banyak orang gagal justru kalau tidak menderita. Maka dalam kesulitan anak Tuhan diuji, dalam kelimpahan anak Tuhan diuji, dalam apa yang akan Saudara hadapi di depan anak Tuhan sedang diuji. Diuji untuk karakternya makin memancarkan kemuliaan anak Allah, sehingga kita makin hidup dengan cara yang Tuhan mau. Bahagialah kita yang mendapat anugerah di dalam Kristus. Anugerah yang tidak pernah kita pikir, tidak pernah kita cari, tapi anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma kepada dia yang sudah Dia pilih dan perkenan. Kiranya kita makin mengasihi Tuhan dengan pengertian akan salib Kristus.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)