Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Seri Mengapa Allah Menjadi Manusia(7): Dikasihi Allah dan dijadikan kudus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Seri Mengapa Allah Menjadi Manusia(7): Dikasihi Allah dan dijadikan kudus

Pdt. Jimmy Pardede

(Yohanes 3: 14-16)
Sekarang masuk yang ketujuh, mengapa Allah menjadi manusia. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Sang Allah yang mencipta langit dan bumi, mencintai manusia. Alkitab mengatakan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal. Apakah dampak dari Sang Anak Allah turun dari sorga datang ke dunia? Bapa mencintai dunia, maka Dia mengutus Sang Anak. Setelah Sang Anak diutus, apa dampaknya? Alkitab mengatakan dampaknya adalah hidup yang kekal. Hidup kekal dipahami secara salah oleh banyak orang. Semua orang benci kematian dan semua orang menganggap bahwa hidup kekal adalah kehidupan setelah kematian. Kalau saya sudah mengalami kematian, saya masih tetap hidup, itu hidup kekal. Hidup kekal adalah hidup yang tidak pernah berhenti terus ada terus tidak berkesudahan. Tapi kalau kita kembali ke Kitab Suci, Kitab Suci mengajarkan bahwa orang berdosa pun, orang yang dibinasakan Tuhan dalam murka kekalNya pun mengalami kehidupan yang tidak berkesudahan. Mereka “hidup” dalam murka Tuhan selama-lamanya. Jadi kesadaran diri yang tidak habis-habis, bukan itu pengertian hidup kekal. Hidup kekal tidak sama dengan kehidupan yang tidak berhenti-berhenti. Hidup kekal tidak sekedar “aku tahu aku ada”, dan kesadaran bahwa aku ada ini tidak berhenti-berhenti, bukan itu. Juga bukan hidup dalam kesenangan yang terpisah dari Tuhan. Terlalu banyak orang senang hal-hal yang cemar dari dunia ini, kemudian mereka menganggap bahwa nanti hidup kekal dia akan menerima semua kesenangan yang dia harapkan di dunia, dan nanti kesenangan itu tidak akan berkesudahan, kesenangan itu akan sempurna, kesenangan itu tidak akan dikacaukan oleh penderitaan, bebas penderitaan, penuh bahagia, itulah hidup kekal yang banyak dimiliki konsepnya oleh dunia ini. Alkitab akan meredefinisi banyak hal yang kita sudah take for granted, banyak konsep yang kita pikir sudah tahu, tetapi Tuhan menyatakan Kitab Suci yang merombak itu. Kita pikir kita tahu apa itu kesenangan, tapi setelah baca Kitab Suci baru kita tahu kesenangan yang kita nikmati bukan kesengan menurut Alkitab. Waktu kita pikir kita sudah tahu apa itu hidup kekal, waktu kita teliti baca Alkitab, baru kita sadar kita belum tahu apa itu hidup kekal. Waktu kita pikir kita tahu apa yang membuat jiwa bahagia, yang membuat jiwa sehat, maka kita pikir kita hidup untuk mengejar hal-hal itu. Tapi Kitab Suci mengatakan banyak hal yang harus dirombak dari pemikiran tentang kesenangan jiwa. Di dalam abad sebelum masehi, di dalam zaman keemasan dari pemikiran klasik Yunani, ada seorang filsuf bernama Aristotle yang mengatakan bahwa jiwa yang baik itulah yang harus dicari oleh semua manusia. Apakah jiwamu baik, apakah jiwamu menikmati kesenangan, apakah jiwamu menikmati kebajikan, apakah jiwamu menikmati bijaksana, apakah jiwamu menikmati keberanian, apakah jiwamu menikmati kemampuan menahan diri, apakah jiwamu menikmati hidup dengan seimbang di dalam jalur yang normal, bukan di dalam jalur yang ekstrim dan berlebihan, apakah jiwamu sudah baik? Kalau keadaan tubuhmu baik tapi jiwamu tidak baik, itu percuma. Maka biarlah kita mengejar apa yang membawa kebaikan bagi jiwa dan melatih tubuh kita untuk mencapai kebaikan itu. Semua orang sudah mencari hal ini, bagaimana caranya supaya jiwaku tenang, bagaimana hidup dengan kesenangan, bagaimana meminimalkan penderitaan dan memaksimalkan kesenangan. Maka kalau kita salah menafsirkan hal-hal ini kita akan baca janji Tuhan dengan cara yang bahaya sekali. Tuhan menjanjikan hidup yang senang dan kita pikir senang itu kalau kaya, akhirnya kita menafsirkan “Tuhan menjanjikan kekayaan”. Kita berpikir kita senang kalau bebas penyakit, maka kita berpikir “kalau sakit berarti dituluk, kalau sehat berarti diberkati. Kalau sakit-sakitan berarti jauh dari Tuhan, kalau dekat dengan Tuhan, tidak ada penyakit yang hidup denganmu”. Banyak orang Kristen, bahkan Reformed sekali pun, waktu sakit kembali bertanya “saya sudah Kristen, tapi mengapa bisa sakit? Saya sudah melayani, tapi mengapa Tuhan tidak beri sehat terus?”. Sehingga kita dengar khotbah, kita mengamini, sampai kita masuk dalam keadaan yang menguji iman kita, baru kita tahu konsep Reformed kita cuma teori, cuma pemikiran yang tidak benar-benar kita hidupi. Kita masih dikuasai oleh konsep yang lama tentang apa itu kesenangan, apa itu penderitaan, apa itu bahagia jiwa dan apa itu kesusahan jiwa. Maka mari kita baca Alkitab baik-baik untuk cari tahu apa yang sebenarnya Alkitab sedang ajarkan, yang mungkin merombak cara berpikir kita. Mari baca Alkitab, meng-counter apa yang kita pikir selama ini dengan pengertian Kitab Suci.

Apa itu hidup kekal? Hidup kekal bukan menikmati kesenangan duniawi dan menikmati bebas sakit sampai selama-lamanya. Hidup kekal mempunyai pengertian yang dalam maknanya dalam Injil Yohanes. Itu sebabnya Yohanes tidak memberikan Yohanes 3: 16 terpisah dari bagian-bagian sebelumnya. Bagian sebelumnya ada seorang bernama Nikodemus datang kepada Yesus dan dia mengatakan “Engkau benar-benar datang dari Allah”, tapi Yesus mengatakan “kalau engkau tidak lahir dari atas, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Kalau engkau tidak dilahirkan kembali, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Kalau engkau tidak lahir dari roh, kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah”. Nikodemus bingung, “bagaimana mungkin saya yang sudah tua ini lahir kembali? Apakah saya masuk rahim mama lagi, kemudian mama melahirkan saya lagi? Apa maksud hal ini?”, Yesus mengatakan “yang lahir dari fisik dari dunia ini adalah fisik dan dari dunia ini. Engkau perlu juga lahir dari atas, engkau perlu dilahirkan dari roh”, “apa itu lahir dari roh?”, Nikodemus terus bertanya dan Yesus mengatakan “ini konsep yang sederhana, kamu pemimpin Israel dan tidak mengerti hal ini?”. waktu saya baca itu, saya heran, masa lahir dari atas itu konsep sederhana, mengapa Yesus bilang ini adalah hal yang sederhana, kamu pemimpin agama harusnya tahu? Karena Yesus sedang membahas kembali pengertian yang ada di dalam Perjanjian Lama. Siapakah Israel? Israel adalah umat milik Tuhan. Tuhan mengatakan “engkau bukan dari dunia ini. Engkau milik Tuhan karena Tuhan dari atas memilih”. Dalam Kitab Kejadian banyak konsep ini juga yang mulai dicetuskan oleh Tuhan, mengapa Ishak anak pilihan, bukan Ismael? Karena Ishak adalah anak perjanjian. Perjanjian dari atas ke bawah, dari Tuhan kepada Abraham. Jadi dibentuk dari atas, dipanggil dari atas, dijadikan umat dari atas, itulah yang dimaksudkan lahir dari atas. Kalau kamu mau jadi Israel sejati, kamu bukan jadi Israel karena keturunan Israel, kamu lahir di satu daerah di Israel karena kamu mengakui Yerusalem ibukota Israel sekarang, bukan itu. Kamu lahir dari atas karena Roh Kudus menjadikan kamu bagian dari umat Tuhan. Bagaimana hal itu mungkin? Apa bedanya lahir dari atas dengan orang yang belum lahir dari atas? Yesus menceritakan kisah bahwa engkau bisa lahir dari atas seperti pada peristiwa Kitab Bilangan. Di dalam Kitab Bilangan 21, Israel mengeluh kepada Tuhan “mengapa kami harus makan roti ini yang turun dari Tuhan, mengapa kami harus menderita, mengapa kami tidak boleh menikmati daging yang enak di Mesir, mengapa hidup kami semakin sengsara di padang gurun ini?”, mereka marah, mereka ingin kembali, mereka bosan hidup menderita, mereka bosan hidup di tengah-tengah padang gurun. Lalu Tuhan mengirimkan ular tedung, gigit mereka. Ular ini berbisa sekali, banyak dari mereka yang mati karena digigit ular. Kemudian Tuhan menyatakan kepada Musa, “sebelum semua yang digigit mati, dirikan ular tembaga, sehingga siapa pun yang memandang ular itu bisa sembuh”. Maka Musa segera membuat ular dari logam yang sangat keras, setelah jadi, dia dirikan di satu tiang. Lalu semua orang yang sudah digigit, tinggal tunggu mati, cepat-cepat lihat ular itu lalu mereka pun sembuh. Mengapa mereka perlu disembuhkan? Karena mereka sedang dibentuk jadi umat yang sejati.

Umat yang sejati itu yang seperti apakah yang Tuhan mau. Dalam Ulangan 8: 1-5, Tuhan mengatakan “mengapa Aku taruh kamu di padang gurun, mengapa Aku tuntun kamu keluar untuk dicobai?”, di Kitab Ulangan ini dinyatakan dengan jelas, “Aku taruh kamu di padang gurun karena Aku mau mencobai engkau”. Mencobai? Bukankah di dalam Yakobus dikatakan Tuhan tidak mencobai dan tidak dicobai? Dua pengertian ini tidak berlawanan, karena di dalam Yakobus, yang Yakobus sedang sindir atau tegur adalah orang-orang yang jatuh dalam dosa dan mengatakan “aku jatuh dalam dosa itu salah Tuhan. Mengapa Tuhan memberiku kemungkinan berdosa, mengapa Tuhan berikan lingkungan yang menggodaku, mengapa Tuhan berikan godaan sehingga aku jatuh dalam dosa?”, maka Yakobus mengatakan “yang membuat kamu jatuh dalam dosa bukan Tuhan. Yang membuat kamu jatuh dalam dosa adalah keinginanmu. Kamu ingin maka kamu jatuh. Dan terbukti kamu adalah orang yang jauh dari Tuhan”. Jadi Tuhan tidak membuat kita berdosa, tapi Tuhan memang memberikan kita keadaan yang membuat kita dicobai. Ini pengertian yang harus kita tangkap dengan jelas, karena Kitab Ulangan mengatakan dengan jelas “Aku mencobai engkau hai Israel”. Mengapa Tuhan mencobai? Supaya terbukti mana setia mana tidak, “Aku taruh kamu di tempat pencobaan, supaya ketahuan mana yang jatuh dan tidak”. Mengapa Tuhan melakukan ini? Di dalam Ulangan 8 dikatakan “supaya kamu tahu bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, tapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Tuhan”. Jadi mengapa Tuhan mencobai Israel? Karena Tuhan mau buktikan ada sebagian yang tetap setia, yang lainnya palsu. Apakah Tuhan tetap mencobai kita? Iya, supaya benar-benar ketahuan mana yang milik Tuhan, mana yang palsu. Yang palsu, dapat godaan dari dunia, langsung lari tinggalkan Tuhan. Dapat tawaran kenikmatan dari dunia, langsung lupa Tuhan. Dapat tawaran untuk sukses di dunia, langsung lupa Tuhan. Engkau mencari firman lebih dari apa pun, atau engkau menaruh firman di prioritas paling bawah? Maka Tuhan mencobai orang Israel supaya terbukti mana milikNya dan yang bukan. Apa bedanya milikNya dan tidak? MilikNya akan menikmati perkataan Tuhan, yang bukan milik Tuhan akan menikmati banyak hal, tapi tidak menikmati Tuhan. Milik Tuhan akan menikmati perkataan Tuhan. Mengapa perkataan Tuhan itu nikmat? Karena perkataan Tuhan akan membuat manusia hidup di dalam kekudusan. Sedangkan yang tidak menikmati perkataan Tuhan, tidak menikmati kekudusan. Maka di dalam Imamat, Bilangan, dan Ulangan sangat ditekankan keinginanNya untuk membagikan kemuliaanNya kepada Israel. Di dalam Ulangan 19 dikatakan “kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allahmu, Aku adalah kudus”. Maka Israel dipanggil untuk menjadi umat yang kudus. Ini bedanya Israel dengan Mesir, ini bedanya umat Israel sejati dengan umat Israel palsu. Umat Israel sejati mencintai firman karena mereka mencintai kekudusan. Umat Israel palsu mencintai diri, mencintai hiburan, mencintai kesenangan, mencintai segala hal yang rusak karena mereka bukan milik Tuhan. Mereka tidak tahu menikmati Tuhan, mereka tidak tahu menikmati kekudusan. Sehingga di dalam Kitab Imamat, Ulangan dan Bilangan ada pelajaran yang sangat penting untuk semua manusia sampai sekarang yaitu kamu harus kudus dan kudus itu nikmat. Bagaimana menikmati kekudusan? Kalau ada di dalam firman. Pengertian ini ketat harus kita pahami. Dari memahami inilah Saudara bisa membaca Yohanes 3 dengan lebih tepat.

Yohanes mengatakan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal. Siapakah AnakNya yang tunggal? Di dalam Yohanes 1 dikatakan Dialah Sang Firman. Saudara mulai melihat kaitannya, Ulangan 8 mengatakan “Aku membawa kamu ke padang gurun supaya kamu tahu manusia hidup tidak dari roti saja tapi dari setiap perkataan firman yang keluar dari mulut Tuhan”. Bukan roti tapi firman Tuhan, karena firman Tuhan akan membuat engkau kudus sebagai umat Tuhan. Yohanes 3, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini maka Dia memberikan firman yaitu Sang Anak Allah yang menjadi manusia, supaya kudus. Tapi mengapa Yohanes bilang hidup kekal? Hidup kekal dan kudus itu sama, tidak banyak yang tahu ini. semua sudah baca Alkitab tapi tidak banyak yang mengerti, Yohanes mengaitkan hidup kekal dengan kudus. Yohanes tidak mengaitkan hidup kekal dengan kesenangan. Di dunia aku tidak kaya, tapi di sorga aku kaya. Di dunia aku dihina orang, di sorga aku dipuji. Itu konsep sorga kafir! Konsep sorga/ Alkitab adalah kekudusan yang kamu nikmati sekarang akan dinikmati dengan sempurna di sorga. Yang tidak menikmati kekudusan di dalam Tuhan, engkau belum berada dalam hidup yang kekal. Ini peringatan yang keras sekali. Kamu tidak suka hidup kudus, mungkin kamu belum berada dalam hidup kekal, mungkin kamu belum diselamatkan.

Maka Kitab Suci menyatakan hal yang penting sekali, karena begitu besar kasih Allah, Dia mau memberikan yang baik kepada dunia ini. Apakah yang paling baik? Kekudusan Allah. Imamat 19 menyatakan dengan jelas, kuduslah kamu karena Aku Tuhan Allahmu adalah kudus. Bagaimana menjaga umatNya kudus? Dengan menguji mereka, mencobai mereka di padang gurun, supaya mereka sadar manusia perlu firman untuk hidup. Dan Yohanes menyatakan inilah Firman yang menjadi daging, engkau perlu Kristus, engkau perlu Dia untuk kamu bisa hidup. Maka kudus dan kasih Allah itu berkait erat sekali. Saudara bisa baca banyak bagian yang akan menyatakan ini dengan jelas, Imamat 10:3 pada waktu itu Tuhan menyatakan hal yang menakutkan sekali.

Apa itu karib? Di dalam kata Yunani ini diterjemahkan sebagai phileo. Phileo berarti “Aku adalah sabahatmu, kamu sobatKu maka aku menunjukan kekudusanKu”. Mengapa Tuhan begitu keras kepada Harun? Karena “engkau sobatKu”. Kalimat ini sulit dimengerti manusia, “karena Aku cinta kamu maka Aku paksa kamu kudus. Karena Aku cinta kamu maka Aku bentuk kamu menjadi orang yang kudus”. Karena kudus itu yang membuat manusia hidup dengan penuh kelimpahan. Hidup dalam dosa itu tidak ada kenikmatan. Saudara hidup di dalam dosa, kenikmatanmu palsu. Saya pernah hidup di dalam dosa, saya bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan saat ini saya bersaksi di hadapan Tuhan, tidak ada kenikmatan apa pun yang sebanding dengan apa yang saya nikmati di dalam Tuhan. Hai anak muda yang masih berdosa, hai orang dewasa yang masih berdosa, hai orang tua yang masih berdosa, bertobatlah kamu hari ini, karena kamu sedang hidup dengan cara mirip binatang. Dan kehidupanmu tidak membawa bahagia apa pun, kehidupanmu adalah kehidupan yang rusak, tidak ada kesenangan apa pun di dalamnya, berhenti lakukan dosa dan kembali hidup kudus. Hanya di dalam kekudusan, kenikmatan hidup sebagai manusia bisa dinyatakan. Maka Tuhan berkata kepada Musa, “bilang kepada Harun siapa yang sobatKu, Aku nyatakan kekudusanKu”. Saudara mau jadi sobat Tuhan? Tuhan didik sobatNya keras sekali. Waktu Ananias mengatakan “Tuhan, mengapa Engkau mau memakai Paulus, tidak tahukah Engkau kalau dia melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat sekali kepada orang Kristen?”, Tuhan mengatakan “Aku yang pilih dia, Aku akan tunjukan bagaimana menderita bagi Aku”. Mengapa Paulus begitu menderita hidupnya? Apakah karena Tuhan marah, “mengapa dulu kamu siksa orang Kristen? Sekarang Aku siksa kamu”, bukan seperti itu. Karena Paulus adalah karib dengan Tuhan. Konsep ini penting sekali, mau jadi sobatNya Tuhan maka engkau akan diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup nikmat. Bagaimana hidup nikmat? Di dalam kekudusan. Bagaimana kudus? Mungkin dibakar di dalam api Tuhan, dibakar dalam pencobaan, ujian, keketatan, peringatan, ajaran Tuhan, supaya kita menikmati hidup. Siapa yang karib dengan Tuhan, dia akan dibereskan oleh Tuhan supaya dia boleh menikmati kekudusan. Waktu Tuhan mencintai, Dia memberikan yang paling baik, dan apa yang baik? Kekudusan. Kekudusan adalah hal paling baik yang Tuhan mau berikan kepada manusia. Saudara kalau cinta seseorang, tidak mungkin memberikan yang kurang baik. Bapa kita yang di sorga mau berikan yang terbaik untuk kita, dan Dia bijak. Maka Dia memberikan yang paling baik, Dia memberikan kekudusan, “kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allahmu kudus”. Tuhan tidak beri kamu sehat terus, tapi Tuhan pasti beri kamu kekudusan. Tuhan mungkin tidak beri kamu kekayaan, karena bagi Tuhan kaya itu nothing, kita yang terlalu mengagumi kekayaan, tapi bagi Tuhan kaya atau miskin bukanlah hal penting. Kudus atau tidak kudus itu yang jauh lebih krusial. Sudahkah kamu hidup kudus? Inilah pemberian Tuhan yang paling besar. Karena begitu besar cinta Tuhan kepada dunia ini maka Dia memberikan hidup yang kekal yaitu kudus. Bagaimana tahu Yohanes sedang berbicara tentang kekudusan? Karena dia mengaitkan ini dengan Imamat, Bilangan, Ulangan di mana Tuhan mau Israel kudus. Mengapa mereka dipatok ular? Karena mereka sedang diuji dan gagal. Apakah ada kesempatan bagi orang yang gagal untuk kembali ke dalam kekudusan Tuhan? Ada, caranya lahir dari atas. Bagaimana caranya lahir dari atas? Pandang ular tembaga yang ditaruh di atas tiang. Kamu mau kembali hidup kudus? Kamu sudah jatuh dalam dosa, maka pandang ular tembaga yang ditaruh di atas. Maka kamu kembali menjadi umat yang dibawa kepada kekudusanNya Tuhan. Kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allahmu kudus”. Tuhan begitu cinta Saudara dan Tuhan tidak mau Saudara menikmati yang lain selain kekudusan Tuhan. Maka mari tinggalkan dosamu. Mengapa senang tinggal di dalam dosa, mengapa senang di dalam foya-foya, mengapa senang di dalam pencarian uang yang gila-gilaan, mengapa senang merugikan orang, mengapa senang menipu orang? Itu semuanya membuat engkau semakin sengsara. Saudara jadi orang Kristen harus tetap punya pikiran yang lurus, karena Allah kita adalah Allah kebenaran. Saudara harus berpikir dengan sehat dan benar. Kalau orang tidak usahakan nama baik, jangan percaya nama baik, karena nama baik itu mahal. Saya pernah ingat seorang bisnisman dari Pusat mengatakan kepada anak muda “hai anak muda, kamu boleh rugi, kamu boleh kurang pintar, terserah. Tapi nama baik jaga baik-baik, karena 20 tahun lagi kamu akan tahu betapa pentingnya nama baik. Jangan pernah ingkar janji, kalau bilang iya lakukan, kalau sudah janji jangan pernah batal. Kalau besok mau datang jam 7, benar-benar datang jam 7. Kalau mengatakan mau begini, benar-benar lakukan. Kamu konsisten selama 20 tahun, orang sedunia akan percaya kamu. Sayalah buktinya, sekarang saya pergi ke bank dan pinjam 5 milyar, langsung diberi. Dan jaminan saya adalah nama saya sendiri yang sudah saya buat begitu harum selama 20 tahun”. Maka sekarang Saudara umur 17, 20, berjuang terus selama 20 tahun jangan pernah ingkar janji, jangan pernah sembarangan ngomong, jangan pernah rugikan orang, nanti engkau umur 40 akan mendapat buah yang limpah sekali. Mari terapkan prinsip Alkitab, Saudara tidak akan rugi terapkan prinsip Alkitab. Jangan mau cari untung, jangan mau bergaul dengan merugikan orang lain. Hidup dalam kekudusan. Apa gunanya dapat uang orang lain tapi hidup dalam kecemaran, apa gunanya tipu orang lain lalu kamu hidup sengsara di dalam dosa terus? Tuhan tidak mau berikan yang kurang, Tuhan mau berikan yang terbaik yaitu kekudusan.

Bagaimana cara manusia dikuduskan? Alkitab mengajarkan kekudusan bisa terjadi dalam 2 tahap. Yang pertama status, tidak peduli berapa baiknya kita, waktu kita jatuh dalam dosa, kita tidak mungkin kudus lagi. Sekali jatuh, tidak ada kembali. Sama seperti orang yang sudah terlanjur tidur dengan pacarnya, tidak ada yang bisa mengembalikan keperawanannya, dia sudah jatuh di dalam dosa sex yang membuat dia selamanya cemar, yang membuat dia menjadi penjahat di dalam sex karena tidur dengan seseorang sebelum menikah. Maka ini menjadi cacat yang dibawa terus dan tidak bisa diganti. Demikian juga dosa, sekali manusia berdosa, relasi dengan Tuhan sudah hancur, dan tidak ada yang bisa pulihkan kecuali penebusan. Itu sebabnya semua ajaran agama terlalu memandang rendah kekudusan dan dosa. Kekudusan tidak dianggap penting dan dosa pun tidak dianggap bahaya. Sebab itu, mau jadi kudus? Mudah, caranya dengan berjuang meninggalkan dosamu dan mudah-mudahan kamu diterima oleh Tuhan. Berusaha berjuang untuk hidup baik-baik nanti diterima oleh Tuhan. Alkitab mengatakan tidak mungkin kamu bisa berjuang, sekali kamu berdosa kekudusan Tuhan sudah dicederai. Kekudusan terlalu mahal, sehingga waktu engkau menghancurkan itu di dalam dirimu, kamu sudah kehilangan itu selama-lamanya. Tidak ada kesempatan kedua, kecuali Allah sendiri memberikan itu dengan Dia menjadi manusia.

Maka mengapa Allah menjadi manusia? Karena kekudusan begitu mahal, kekudusan yang sudah dicederai tidak bisa dikembalikan lagi. Itu sebabnya Alkitab mengatakan Tuhan tetap mencintai manusia, Tuhan tetap mau manusia hidup dalam kekudusan. Maka Dia harus mengaruniakan Anak TunggalNya, Dia harus dipaku di kayu salib untuk mengembalikan status kita kembali kudus. Tidak ada jalan manusia bisa kembali kudus, jangan percaya ajaran mana pun yang mengatakan kalau kamu beramal kamu bisa mendapatkan kekudusan, kalau kamu beramal kamu bisa dibenarkan, semua terlalu memandang remeh kekudusan dari Tuhan. Agama-agama di dunia menganggap remeh kekudusan, itu sebabnya tawaran kenikmatan hidup tidak pernah ada di dalam kekudusan, karena bagi mereka kekudusan itu remeh. Kalau kekudusan begitu remeh, bagaimana manusia bisa bahagia di dalam kekudusan? “Manusia baru bahagia kalau semua yang dijanjikan secara kenikmatan itu diberikan pada saya”. Sorga itu apa? “sorga adalah tempat kenikmatan yang saya mau cari”. Banyak orang ditipu mentah-mentah “kamu ledakan dirimu, nanti kamu akan mendapat banyak istri di sana, cantik-cantik”. Bagaimana bisa kudus karena manusia sudah jatuh dalam dosa? Kristus mesti datang karena kekudusan adalah hadiah berharga, kekudusan adalah kesempurnaan hidup manusia. Tuhan menciptakan manusia untuk sempurna nikmat di dalam kekudusan. Ketika Kristus sudah datang, Dia menebus manusia, manusia diberikan status kudus karena status Kristus. Dia jadi manusia untuk memberi status ini kepada Saudara dan saya. Tapi bagaimana Tuhan memberinya? Dengan cara Dia mengambil status cemar kita untuk Dia. Karena cintaNya kepada kita, Dia rela melakukan ini. Tuhan mau terima dosa kita, Tuhan mau dihukum di kayu salib karena dosa kita, Tuhan mau mati karena dosa kita. Maka karena cintaNya yang besar, Dia mau mati untuk kita. Satu kali saya bicara ini kepada orang Islam “Yesus mati bagi kamu, bukan yang lain, kamu harus percaya Yesus”, “apa dampak matinya Yesus untuk saya?”, “kamu diselamatkan, kamu hidup kudus”, “apa itu selamat, apa itu hidup kudus?”, dia tidak mengerti. Tapi Saudara dan saya harus mengerti, Yesus mati di kayu salib supaya Saudara dan saya masih boleh berbagian di dalam kekudusan yang Tuhan berikan sebagai puncak dari kehidupan manusia. Kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allahmu adalah kudus. Maka Yesus mati kayu salib, membuat status kudusmu menjadi berlaku di hadapan Tuhan.

Lalu yang kedua, Yesus hidup sebagai manusia untuk menunjukan kepada kita berapa sukacitanya hidup di dalam kekudusan. Yesus hidup di dalam kekudusan, maka kita hidup kudus sama seperti Dia adalah kudus. Di dalam Injil Yohanes tidak banyak kata kudus digambarkan, cuma ada empat. Tapi Yohanes banyak bicara tentang hidup yang me-refer pada hidup kudus, hidup kekal, hidup yang berkelimpahan, hidup di dalam Tuhan, hidup mengenal Tuhan, semua berkait dengan kekudusan kalau kita paralelkan dengan Imamat, Bilangan dan Ulangan. Tapi waktu Yohanes bicara tentang Allah Bapa, dia mengatakan Allah Bapa adalah kudus. Saudara bisa membaca ini misalnya dalam Yohanes 17: 11, Bapa yang kudus, demikian doa Yesus. Lalu dalam Yohanes 1:33 dan 20:22 dikatakan tentang Roh yang Kudus, Pribadi ketiga dari Tritunggal disebut kudus. Pribadi pertama dari Tritunggal disebut Bapa yang Kudus. Lalu Pribadi kedua dari Tritunggal yaitu Yesus, disebut yang kudus dari Allah, ini perkataan dari murid Yesus di Yohanes 6:69. Sehingga kata kudus hanya muncul empat kali dan keempat-empatnya hanya boleh diberikan pada Pribadi Allah Tritunggal. Sehingga ketika dikatakan Yesus mati memberikan kekudusan, Yesus mati memberikan berbagian dalam natur ilahi bagi Saudara dan saya, ini pengertian Yohanes. Kudus itu natur ilahi dan kita boleh berbagian di dalam kekudusanNya, itulah kelimpahan. Maka iblis berusaha menghancurkan kita, dia berikan investasi yang besar sekali supaya kita menikmati dosa. Dan waktu kita hidup dalam dosa, kita pikir kita baik, kita senang, tapi kita sedang berkurang kemanusiaannya dengan sangat ekstrim. Maka Yesus menunjukan hidup yang menyatakan kekudusan dan Tuhan mau kita hidup di dalam kekudusan. Kuduslah kamu sebab Tuhan Allahmu adalah kudus. Ketika manusia hidup di dalam kekudusan, apa pun yang terjadi di dalam hidup tidak akan mengambil sukacita kita. Yesus mengatakan di dalam Yohanes 12, jika benih itu mati terpendam di dalam tanah, yaitu Yesus sendiri, maka Kerajaan Tuhan dan hidup akan dinyatakan. Benih itu harus mati dulu baru kemudian akan muncul banyak orang mendapat berkat, barulah Dia akan ditinggikan di seluruh dunia. Siapa benih itu? Kristus, Dia harus mati dulu untuk memberikan hidup, Dia harus mati dulu untuk menjadi sumber hidup.

Lalu di bagian yang sama di pasal 12 Yesus mengatakan “siapa rela kehilangan nyawanya akan mendapat hidup”. Di dalam Bahasa Yunani kedua katanya beda, kehilangan nyawa dan hidup. Siapa yang rela hilang jiwa akan dapat hidup. Siapa yang rela hilang nafas akan dapat hidup. Hidup bukan cuma sekedar nafas, tapi hidup berarti Saudara punya komitmen kekudusan di dalam Tuhan dan itulah yang memberikan kesempurnaan di dalam hidup. Mari nikmati hidup. Tuhan mau kita hidup dalam kelimpahan dan hidup kelimpahan hanya mungkin di dalam kekudusanNya Tuhan. Maka Tuhan menguduskan dengan Dia mati di kayu salib, mengubah status kita. Setelah itu Dia memberikan pimpinanNya dengan firman, supaya kita senantiasa hidup dikuduskan dan menikmati kekudusan itu. Mari nikmati hidup meninggalkan dosa, mari nikmati hidup mencintai Tuhan, mari nikmati hidup menaati Tuhan, ini semua bagian dari kekudusan. Cinta Tuhan, taati Tuhan, membenci dosa, cinta sesama, hidup bagi yang lain, hidup mengorbankan diri, inilah kekudusan yang Tuhan mau. Di dalam Imamat 19 dikatakan “kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allahmu adalah kudus”, dan bagian selanjutnya mengatakan bagaimana manusia harus bersikap di dalam hidup bersama orang lain. Kamu tidak boleh merugikan orang lain, jangan cemar, jangan pikiran sex yang menyimpang, jangan lakukan apa yang merugikan orang lain, jangan tidak beribadah kepada Tuhan, hiduplah kudus karena Tuhan adalah kudus. Semua kehidupan yang dibimbing firman akan mengarahkan kita pada hidup kudus. Di dalam Wahyu 3, Tuhan memberikan nasihat kepada jemaat di Laodikia, dikatakan “hendaklah kamu tidak suam-suam kuku, karena kamu tidak panas atau pun tidak dingin, Aku akan meludahkan dari mulutKu. Barangsiapa Kukasihi, dia Kutegur dan Kuhajar’, lagi-lagi kalimat itu muncul. Kalimat yang Tuhan pernah katakan kepada Harun “karena engkau sahabat karibKu, Aku disiplun kamu dengan keras”. Hal yang sama Tuhan katkaan kepada jemaat Laodikia “kamu Aku cintai, maka Aku tegur kamu dan hajar kamu, jangan suam-suam kuku”. Mengapa tidak boleh suam-suam kuku? Karena kamu tidak mempunyai identitas yang jelas untuk melayani Tuhan. Di Kota Laodikia ada 2 aliran yang penting sekali, satu aliran sumber dingin, barangsiapa punya luka berdarah dan lain-lain, rendam di situ dan akan sembuh. Ada satu sumber lagi yang panas, barangsiapa ada luka dalam, rendam di air panas nanti akan cepat sembuh. Dua-duanya adalah obat yang mujarab, tapi kemudian keduanya bersatu menjadi aliran yang bersatu dan akhirnya tidak berguna karena panas itu dinegasi oleh air dingin menjadi air biasa. Maka Tuhan mengatakan kalimat yang dimengerti oleh orang-orang di Laodikia, hendaklah kamu tahu panggilanmu dan jangan hidup dengan cara yang menegasi panggilan Tuhan di dalam dirimu. Dosa akan menegasi panggilan Tuhan dalam diri Saudara. Tinggalkan dosa, karena meninggalkan dosa adalah hidup yang nikmat yang Tuhan janjikan kepada Saudara. Keselamatan diberikan supaya Saudara menikmati kekudusan, kuduslah kamu karena Tuhan Allahmu adalah kudus. Kiranya Tuhan membawa kita dalam kasihNya untuk menikmati Dia. Tuhan begitu mencintai kita, maka Dia memberikan hal yang paling limpah yaitu kekudusan. Dan untuk Saudara bisa dikuduskan, Sang Anak Allah harus menderita. Sang Anak Allah menjadi contoh dan Sang Anak Allah menjadi korban membawa kita ke dalam kekudusan Tuhan. Mari nikmati kekudusan. Di luar Kristus, Saudara tidak bisa menikmati apa-apa, Saudara tidak bisa menikmat apa yang Tuhan janjikan. Tapi di dalam Kristus, hiduplah dalam kekudusan, karena Saudara akan tahu apa kenikmatan sejati menjadi manusia. Di dalam kerelaan berkorban, di dalam kerelaan cinta Tuhan, di dalam kerelaan untuk berkomitmen mengikuti Tuhan, di dalam kerelaan meninggalkan dosa, di dalam meninggalkan hawa nafsu cemar, semua akan membawa Saudara ke dalam keadaan nikmat kekudusan di dalam Tuhan yang boleh terpancar di dalam kehidupan Saudara. Kiranya Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita. Dan kiranya ini menjadi pesan Natal yang mengingatkan kita berapa besarnya cinta kasih Tuhan dan berapa besar anugerah yang Dia berikan di dalam kekudusan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)