Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Kasih
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kasih

Pdt. Romeo Mazo, M.Div

(1 Korintus 13: 1-13)
Setiap agama pasti berbicara mengenai kasih. Tapi kita sebagai orang Kristen pasti mempunyai pemahaman yang lain dari pada yang lain. Hari ini saya akan membagikan dari pasal yang sangat istimewa, pasal yang mengingatkan kita apa yang harus kita bicarakan sebagai orang Kristen. Pada hari ini kita datang ke tempat ini karena Tuhan mengasihi manusia dan manusia juga harus mengasihi Tuhan dan sesama. Itu adalah berita inti di dalam Alkitab. Karena itu hari ini kita membahas apa yang dikatakan Rasul Paulus di 1 Korintus 13. Pasal 12 membahas tentang karunia Roh Kudus. Pasal 14 juga membahas tentang karunia Roh Kudus. Semestinya kalau kita membahas sesuatu, apa yang dimulai pertama kali harus diselesaikan dulu, jangan loncat ke bagian yang lain. Tapi secara normal tulisan itu harus selesai dulu. Namun ini lain, karena ada pesan yang tidak boleh terlewatkan. Pasal 12 membahsa tentang karunia, semestinya dilanjutkan di pasal 13, tapi dilanjutkan di pasal 14. Dan dia menaruh kata yang paling menyukakan segala sesuatu yaitu kasih. Contohnya, kita semuanya pasti tahu hamburger, istilah lainnya sandwich, sandwich itu pasal 12, 14, dan ditengahnya itu yaitu pasal 13, itulah sandwich. Pada waktu Saudara makan sandwich, Saudara bisa buang yang atas atau bawah, tapi tidak membuang yang di tengahnya, karena itu yang paling enak dan paling dibutuhkan manusia. Pasal 12 dan 14 boleh tidak ada, tapi pasal 13 tidak boleh tidak ada, itu namanya kehidupan sebagai orang Kristen. Saya membagikan dalam 3 bagian pasal 13 ini. Ayat 1-3 namanya love distinction, kasih berbeda dengan yang lain. Ayat 4-8a namanya love description, Rasul Paulus mendeskripsikan apa itu kasih. Ayat 8b-13 namanya love durability, kalau yang lain bisa hilang, bisa tidak ada, tapi kasih selama-lamanya tidak akan hilang. Pada waktu dikatakan love distinction, itu adalah sesuatu yang intinya adalah kasih, dia lebih tinggi dari pada segala sesuatu. Pasal 12 dan 14 membahas tentang karunia Roh Kudus, tapi yang dikatakan di sini, kasih lebih tinggi dari pada karunia-karunia itu. Harus Saudara perhatikan, kalau engkau mempunyai karunia dari Tuhan semestinya engkau merasa lebih rendah hati dari biasanya. Semua yang kita miliki adalah karunia Tuhan. Tuhan yang sangat suci, sangat mulia, Dia dari sorga turun ke bumi, itu karena dipenuhi kasih. Engkau mempunyai karunia, tapi engkau merasa lebih tinggi dari pada yang lain, itu adalah suatu kesombongan rohani. Kalau kita mempunyai karunia, justru membuat kita lebih rendah dari yang lain, itu baru namanya karunia. Dan dikatakan kalau pun punya bahasa malaikat pun tapi kalau tidak ada kasih, itu sama sekali tidak berguna. Justru diberi karunia supaya kita lebih merendahkan diri, bukan meninggikan diri. Distinction atau perbedaan kasih dari orang Kristen ada 2 hal, yaitu di dalam quality dan motivation. Di dalam quality, kasih Tuhan sangat murni, tidak tercampur dengan segala sesuatu. Kasih yang murni, kita ingat kalimat “you can give without loving, but you can’t love without giving”. Kasih yang murni bukan apa yang engkau dapat, tapi apa yang engkau berikan, itu namanya sacrificial love. Kasih yang berkorban, not what you can get but what you can give, that is pure love. Pada waktu Tuhan mengasihi manusi, Dia tidak mengharapkan apa yang bisa didapat dari manusia, tapi Dia memberikan nyawaNya, 100% tidak tercampur apa pun. Itu namanya the pure quality of love, dengan mempunyai motivasi yang murni. Kalau saya bertanya siapa yang sudah berkeluarga dan punya anak yang dewasa dan bekerja? Misalnya ada masalah di Siria dan Irak, anakmu yang sudah sangat berhasil, kalau engkau sungguh-sungguh prihatin dengan masalah di Siria dan Irak, apakah engkau mau mengirimkan anakmu ke sana? Pasti tidak mau kirim. Allah Bapa sudah tahu AnakNya nanti akan dicela, dihina, disalib dan dibunuh, tapi tetap Allah Bapa mengirimkan AnakNya yang tunggal, itu yang namanya pure love, quality love, tidak tercampur dengan segala sesuatu. Karena kasih yang sesungguhnya adalah kasih yang memberi bukan apa yang kita dapat. Dan inilah yang namanya reformasi, mengapa Martin Luther sangat mati-matian. Pak Tong sering mengutip apa yang dikatakan Martin Luther, kalau dia berkotbah dengan kotbah yang sangat bagus adalah kalau dia didorong oleh kemarahan Allah yang kudus. Seringkali kita mempunyai unsur-unsur seperti zaman dulu, walau pun berdosa, nanti bisa dibeli dan bisa dibereskan dosanya. Kita sekarang ada “indulgensia”, kita berpikir “tidak apa-apa berbuat salah, nanti kalau saya berdoa kepada Tuhan, Tuhan juga akan ampuni”. Paling celaka lagi, sebelum kita berbuat dosa, kita mengatakan “nanti juga Tuhan akan mengampuni saya”. Saya mau bertanya dengan jujur, kita sadar tidak kalau Allah yang suci itu sangat marah? Kalau engkau tidak sadar akan hal ini, berarti engkau adalah orang Kristen yang bermain-main dengan anugerah Tuhan. Apakah engkau bisa menjamin, kalau engkau minta ampun kepada Tuhan, Tuhan akan ampuni engkau? Saudara ingat Ananias dan Safira? Mereka berbohong dan langsung mati pada saat itu juga. Mengapa Tuhan lakukan itu? Karena itu permulaan gereja, dan Tuhan tidak main-main. Tapi setelah itu tidak seperti itu lagi. Jangan sederhanakan yang namanya pengampunan Tuhan. Itu yang dikoreksi Martin Luther, bagaimana mungkin dosa dibeli dan diampuni dengan uang. Ditambah lagi, kalau punya keluarga yang mungkin masuk ke purgatori, masih ada jalannya. Ajaran Katolik memang kurang Alkitabiah dalam hal ini. Ajarannya, kalau orang sangat baik, dia langsung ke sorga. Tapi kalau orang itu jahat, langsung ke neraka. Dan kalau sedang-sedang, dia akan ke purgatori, dia masih ada harapan. Harapannya karena bisa membeli surat pengampunan. Johann Tetzel mengatakan “kalau lebih cepat, lebih banyak surat, pengampunan lebih banyak”. Koin yang dimasukan ke kotaknya, akan berbunyi, maka satu jiwa di purgatori akan cepat naik. Kalau beli 7 surat, berarti 7 koin, maka lebih cepat naik ke atas karena banyak uang. Itu yang membuat Martin Luther marah. Saya mau bertanya betulkah setiap kali kita datang kepada Tuhan dan Tuhan akan mengampuni kita? Kita ingat Saul, kita ingat bangsa Israel yang membawa korban tapi Tuhan tidak terima, apakah semudah itu “nanti saya juga akan diampuni Tuhan” apa bedanya dengan beli indulgensia? Kita harus sadar Allah itu suci, Allah itu kasih, walau pun Dia adalah Allah yang mengampuni, kita harus sadar siapa Dia. Kualitasnya adalah murni Dia mengasihi kita, motivasinya? Tuhan tidak meminta apa yang engkau kembalikan kepada Dia, itu namanya sacrificial love, Dia berkorban. Apa itu berkorban? Not what you can get but what you can give. Saya mau tanya siapa yang sudah menikah? Apa bedanya I like you dan I love you? I like you hanya yang menyenangkan, tapi pada waktu mengatakan I love you, yang tidak menyenangkan pun harus diterima. Sebenarnya apakah kita layak diterima Tuhan? Kita banyak sembarangan di hidup kita. Tuhan tidak mengatakan I like you, tapi Tuhan mengatakan I love you. Apa adanya kita diterima Tuhan, itu namanya the purity of love, tidak tercampur apa pun. Yang dicintai bukan hanya kelebihanmu, yang merupakan kekuranganmu pun diterima, itu namanya sacrificial love.

Sekarang Rasul Paulus memberikan suatu deskripsi, apa sebenarnya kasih itu? Pasal 13: 13, the nature of love is 13. Itu bukan kebetulan, tapi Tuhan mengatur sedemikian rupa dan Tuhan menjelaskan kasih yang sesungguhnya itu apa. Kasih yang sesungguhnya itu bukan pernyataan, kasih yang sesungguhnya adalah perbuatan. Karunia yang tertinggi bukanlah karunia Roh Kudus, karunia yang tertinggi adalah buah Roh Kudus. Itu bedanya karunia dengan buah, buah lebih tinggi dari pada karunia. Orang tidak boleh tidak ada buah, orang boleh tidak ada karunia. Galatia 5:22-24, di situ ada suatu yang Rasul Paulus tambahkan apa itu buah Roh Kudus. Saya kaitkan ayat ini dengan pelayanan yang baru saja selesai, dimana Tuhan bekerja, iblis juga bekerja. Kasih yang sesungguhnya kalau kita bisa mengasihi yang tidak layak dikasihi, itu baru namanya kasih. Kalau kita mengasihi sesama saja, semua orang juga bisa, siapa yang tidak bisa? Karena yang tidak layak dikasihi pun harus kita kasihi. Kalau kita tidak bisa mengasihi yang lain, berarti kita belum mengerti apa itu kasih yang sesungguhnya. Dan ketika ada sedikit salah paham dan sebagainya saya mengatakan, ada 3 hal yang bisa membuat orang emosi walau pun dia sudah Kristen. Yang mempengaruhi emosi orang kalau dia ada problem di kantornya, di keluarga, dan kalau ditambah pelayanan di sini, emosinya bisa tidak stabil. Dan faktor kedua mengapa bisa emosi adalah kalau orang lapar dan disuruh-suruh. Secara emosi orang yang lapar, kemudian disuruh-suruh, dia bisa makan kamu. Dan itulah mengapa Tuhan bukan saja Teolog tapi juga Psikolog yang sangat baik. Kita harus bijaksana terhadap hal semacam ini, kalau itu betul-betul terjadi di dalam pelayanan, di situ kita bisa memratekan namanya kasih. Kalau dia sudah sangat marah, yang meredakan kemarahannya hanyalah cinta dari Tuhan. Kita sering mengerti kasih itu adalah aktif, kalau dia butuh dia kasih, selalu aktif. Tapi apakah kita juga tahu kalau kasih itu pasif? Misalnya istri sudah marah-marah, semestinya suami bisa membalas, tapi demi cinta kepada istrinya, dia tidak membalas, itu yang namanya kasih yang pasif. Istilahnya mengalah tapi bisa menang. Pada waktu saya tidak membalas apa yang diperbuat orang, berarti itu saya sudah mencintai, walau pun saya punya hak untuk membalas. Kita mempunyai hak untuk membalas, tapi pada waktu saya tidak membalas, itu kasih yang pasif, karena saya mencintai orang itu.

Bagian terakhir, Yohanes 3:16 “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Walau pun Rasul Paulus menjelaskan pasal ini dengan sangat baik, tapi kalau untuk mengerti doktrin kasih, saya lebih memilih Rasul Yohanes. Injil Yohanes, 1-3 Yohanes, kalau engkau membaca keempat itu, engkau pasti diubah oleh Tuhan sepenuhnya. Kita tahu Yohanes 3:16 itu pekerjaan Tuhan kepada kita. Tapi saya paralelkan dengan 1 Yohanes 3:16, mirip sekali tapi hanya beda sedikit “demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”. Diteruskan ayat 17-18 “barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”. Pada waktu Rasul Paulus mendiskripsikan kasih, kasih itu bukan perbuatan, itu bukan teologi di otak, tapi itu teologi di dalam hati. 1 Yohanes 4: 20-21, kalau kita menyadari hal ini, tidak mungkin kita berantem di dalam gereja, mungkin bisa salah paham, tapi tidak mungkin sampai berantem, karena kita harus mengerti ayat ini.

1 Korintus 13: 8b-13. Segala hal yang terjadi di dalam dunia ini sifatnya sementara, tapi ada sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini dan sifatnya kekal. Rasul Paulus mengatakan 3 hal yang sangat penting, yaitu iman, pengharapan dan kasih, tetapi yang terbesar dan terpenting adalah kasih. Iman dan pengharapan tidak mungkin dipisahkan. Dimana ada iman pasti ada pengharapan, dimana ada pengharapan pasti ada iman. Tetapi saya mau bertanya, kalau Tuhan sudah datang ke dunia ini dan kita sudah bersama-sama di sorga apakah kita masih butuh iman? Segala sesuatu akan berakhir, tapi ada satu hal yang sifatnya kekal selama-lamanya yaitu kasih, karena natur dari Allah adalah kasih. Ada 4 macam kasih, yang pertama kasih storge, yaitu natural live, this is love between parents and childrens, orang tua mencintai anak dan anak mencintai orang tua. Yang kedua adalah eros, sexual love, kalau Saudara mendengar sexual love, itu adalah suci adanya, doktrin yang namanya seks harus diajarkan di gereja. Banyak yang mengatakan sepertinya ini kurang enak dibahas di gereja, tapi seharusnya ini dibahas di gereja, kalau tidak akan dibahas di tempat lain yang tidak mempunyai pengertian yang benar. Oleh sebab itu sebagai orang tua harus menjadi teman anaknya. Kalau orang tua tidak bisa menjadi teman bagi anaknya, anak itu akan mencari pengertian seks di luar. Semestinya orang tua yang mendidik anaknya mulai dari masa kecil, pada waktu mereka di usia puber, orang tua harus mendidik mereka di dalam kasih Tuhan, bagaimana mereka menghargai yang namanya seks. Eros adalah sexual love, ini kasih antara suami dan istri saja, tidak boleh dibagi kepada yang lain, ini namanya eros, sexual love, suci di hadapan Tuhan. Yang ketiga adalah phileo, yang berarti brotherly love, kita harus mengasihi bukan hanya orang Kristen. Kalau kita hanya mengasihi orang Kristen, itu bukan kasih yang sesungguhnya. Perhatikan storge, eros dan phileo itu namanya horizontal love, kasih di antara manusia yang berdosa. Tetapi ada satu kasih yang vertikal. Kasih yang sesungguhnya bukan dari manusia ke manusia, kasih yang sesungguhnya dari atas ke bawah. Kasih yang sesungguhnya tidak bisa dimengerti dari bawah ke atas, tapi dari atas ke bawah, itu namanya vertikal. Horizontal tanpa vertikal bisa jatuh, tapi vertikal tanpa horizontal bisa bertahan selama-lamanya. Kalau kita tidak mempunyai kasih agape, segala sesuatu bisa runtuh. Bagaimana kita mengasihi pasangan kita, bagaimana kita mengasihi sesama kita, modalnya bukan dari diri Saudara, modalnya adalah kasih dari Tuhan. Kasih Tuhan menjadi modal bagi kita supaya kita bisa mengasihi yang tidak layak untuk dikasihi. Kadang-kadang ada orang mengatakan “saya sangat benci orang itu, dia tidak layak dikasihi”, saya mau bertanya siapa di antara kita bisa mengatakan “saya adalah orang yang layak dikasihi Tuhan”. Kita semua layak dibuang ke neraka. Kalau kita bisa masuk sorga itu karena anugerah Tuhan, yang kita tidak layak meneriman. Kita layak ke neraka, kita tidak layak ke sorga, kalau kita ke sorga itu hanya karena anugerahNya, itulah salib. Engkau dan saya tidak mempunyai kekuatan bertahan kalau kita tidak mengerti salib. Salib ini bukankah sangat paradoks? Di tempat yang hina tapi di tempat yang paling kuat. Mengapa Yesus Kristus mengatakan “Akulah terang”, tapi Dia mengalami kegelapan? Berapa jam Tuhan Yesus di atas kayu salib? Tuhan Yesus disalib mulai jam 9 pagi dan matinya jam 15, jadi Dia 6 jam berada di atas kayu salib. Secara alamiah bukankah jam 12 adalah saat dimana matahari bersinar paling terik, tapi saat itu yang terjadi adalah kegelapan, itu sangat paradoks. Selanjutnya, Tuhan mengatakan “Aku haus” perkataan ke-5. Perkataan terakhir di kayu salib adalah “Aku menyerahkan nyawaKu”. Kalau kita memahami apa yang dilakukan Tuhan Yesus di atas kayu salib, baru kita mempunyai kekuatan untuk mengasihi. Yesus mengatakan perkataan kedua “Akulah terang”, tapi kegelapan terjadi. Bukankah dimana Tuhan Yesus berada seharusnya selalu terang terus, tetapi mengapa kegelapan terjadi? Karena kita yang hatinya digelapkan oleh dosa, pada waktu Tuhan datang akan diterangi, Dia melewati kegelapan supaya kita diterangi. Perkataan kelima adalah “Aku haus”, Saudara ingat perkataan Yesus kepada perempuan Samarian “kalau engkau minum air yang dari padaKu, engkau tidak akan lagi haus”, tapi mengapa Dia haus di atas kayu salib? Supaya kita tidak lagi mengalami kehausan. Cerita Lazarus dan orang kaya, orang yang sangat kaya, dia mungkin memakai air dengan sembarangan karena dia sangat kaya, tapi pada waktu dia sudah di neraka, dia meminta belas kasihan untuk diberi air. Tuhan sudah mengalami neraka itu supaya Saudara tidak mengalami kehausan. Perkataan keempat di atas kayu salib, ini perkataan yang sangat keras, beda dengan yang lain, “Eli, Eli, lama sabhaktani”, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Perpisahan itu sangat menyakitkan, pada waktu Tuhan berteriak “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku”, Yesus berpisah dengan Allah Bapa, dan itu karena perbuatan dosa kita. Secara paradoks, perpisahan Yesus Kristus adalah perpisahan yang menyatukan. Yesus harus berpisah, dan karena keterpisahan itulah yang menyatukan kita dengan Allah, kasihNya adalah kasih yang menyatukan.

Betulkah kita mengasihi Tuhan dan sesama dengan sungguh? Kalau kita mengerti apa yang Yesus sudah perbuat di atas kayu salib, kita tidak akan main-main di dalam hidup kita.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)