Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Janganlah menipu diri
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Janganlah menipu diri

Vik. Dewi Arianti

(Bilangan 22: 2-20)
Kita menjadi orang yang dengan ahli menipu diri kita sendiri atau kita menjadi orang yang dengan tidak sadar menipu diri kita sendiri. Kita bisa melakukan hal ini dengan berkata “saya tidak seperti itu. Saya tahu kebenaran, saya tahu bagian-bagian dari firman Tuhan, saya lumayan rajin ke gereja, saya rajin baca Alkitab, saya sering ikut PA”. Ada satu hal yang membedakan apakah kita di dalam mendengarkan firman atau mencari tentang apa yang Alkitab katakan, sebenarnya yang kita cari kebenaran atau pembenaran? Karena dua hal ini membuat kita berada dalam jalur yang berbeda jauh karena orang yang self deception ini bukan orang yang tidak mengenal firman, orang yang bukan malas membaca Alkitab, tapi orang yang mungkin rajin membaca Alkitab, orang yang rajin mencari teologi yang benar. A.W. Tozer pernah mengatakan bagaimana mendeteksi kita tidak menipu diri sendiri dan kita tahu siapa diri kita sebenarnya, beberapa hal yang bisa kita tanyakan kepada diri kita adalah apakah yang paling banyak menyita waktu kita, itu akan memperkenalkan diri kita sebenarnya siapa. Apa yang menyita paling banyak uang kita, itu akan memperkenalkan diri kita siapa. Apa yang kita kagumi, itu sebenarnya akan memperkenalkan diri kita siapa. Bahkan apa yang kita tertawakan, itu akan memberitahukan kepada kita, kita siapa. Jadi kita tidak bisa mengatakan “saya tidak seperti itu”, sebenarnya kita bisa survei pada diri kita sendiri, apa yang paling banyak menyita waktu, apa yang paling banyak menyita uang, apa yang paling kita kagumi, apa yang kita tertawakan, kira-kira itu menjadi gambaran yang lebih clear tentang siapakah diri kita. Ini adalah suatu hal yang sangat mengkhawatirkan, kita kalau ditipu orang lain bisa marah-marah, tapi kalau kita ditipu oleh diri sendiri, kita lebih sering melakukannya. Karena kita mungkin tidak mau fakta yang terjadi, kita tidak mau kebenaran, tapi kita sangat ingin pembenaran. Dan inilah yang terjadi pada kehidupan Kristen kita.

Dalam bacaan Bilangan 22: 2-20, mungkin kita tidak terlalu melihat Bileam itu salahnya apa. Ketika dia didatangi oleh utusan Balak, dia mengatakan “nanti tunggu kalau Tuhan mengatakan sesuatu, baru saya bisa beri tahu kamu”. Kemudian Tuhan berkata kepadanya, dan Bileam mengatakan sama persis, “saya tidak bisa pergi karena begini begini”, maka mereka pulang. Mereka kemudian kembali dengan membawa upeti yang lebih besar lagi. Kita mungkin tidak melihat motivasi yang lain, dan dia mengatakan “meskipun diberi istana emas atau perak pun, saya tidak bisa pergi. Saya tidak bisa melakukan perbuatan dari yang kecil sampai besar, tanpa Tuhan memberi tahu apa”. Kita sepertinya melihat ini tidak ada satu kesulitan, melihat Bileam baik-baik saja, dia juga lumayan kenal Tuhan. Ayat 8 “sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan kepadaku”. Self deception tidak dimulai dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Atau kalau kita mengatakan dalam lingkungan Kristen, self deception tidak mulai dengan orang yang tidak mengerti siapa Yesus, apa itu Alkitab, pengenalan akan Allah. Tapi justru dimulai oleh orang yang ada pengetahuan, ada pengertian. Bileam bisa mengidentifikasi “bangsa ini Allahnya pasti Tuhan”, karena di dalam zaman itu semua bangsa punya allahnya masing-masing. Maka dia bisa mengenali kalau ada suatu bangsa dari Mesir, ini kemungkinan besar adalah orang Israel, dan orang Israel punya Allah adalah TUHAN. Dia bisa punya pengertian yang lumayan tepat siapa Allahnya orang Israel dan kemudian ketika orang-orang suruhan itu datang “baik, tunggu dulu, saya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap bangsa ini tanpa seizin Tuhannya, maka saya tanya dulu”. Bileam lumayan punya akses, dia mengatakan “kamu tunggu di sini, nanti kalau Tuhan memberi tahu sesuatu, saya beri tahu kamu”. Dan ternyata betul, Tuhan mendatangi dia terlebih dahulu dan Tuhan memberikan firmanNya. Kita tidak mungkin mengatakan Bileam tidak tahu siapa Tuhan, dia tahu tapi yang masalah adalah tahunya tahu apa? Tapi ternyata pengetahuannya tidak membuat dia mengenal Tuhan secara utuh. Karena kalau kita bandingkan, ketika orang Israel hampir menyeberangi Sungai Yordan, sebelum mereka menyeberang ada beberapa daerah, ada daerah yang mengizinkan mereka lewat, ada daerah yang tidak mengizinkan mereka lewat. Salah satunya adalah daerah Moab ini dan Midian. Maka kalau Bileam tahu orang Israel punya Tuhan seperti apa, tetapi ternyata pengetahuan itu tidak membuat dia bisa berespon dengan benar. Kita bandingkan dengan beberapa kitab berikutnya, dan sebenarnya jarak waktunya tidak begitu jauh, yaitu antara respon Rahab. Rahab juga tahu ini adalah bangsa yang dikeluarkan oleh Allahnya dari Mesir, ke padang gurun, melewati lautan yang besar, dibelah menjadi dua, tidak mungkin tidak berespon apa-apa. Rahab langsung berubah teologi dan kemudian berespon dengan tepat. Self deception dimulai dengan menyetujui apa yang telah dikhotbahkan. Sok tahu tentang Tuhan adalah langkah yang paling cepat untuk kita menipu diri kita sendiri. Karena kita bukan menjadi orang yang terhakimi ketika mengatakan “kamu tidak tahu Tuhan ya?”, “saya tahu”, tapi ternyata kalau itu tidak membuat kita digerakan mengenal Tuhan dan berespon dengan tepat, maka itu akan menjadi titik awal yang mudah untuk kita masuk dalam self deception.

Lalu hal kedua, ketika kita masuk dalam satu langkah ini “saya tahu Tuhan”, kita bisa salah dalam sindiran Tuhan kita bisa anggap jadi konfirmasi. Peringatan Tuhan, kita bisa anggap jadi satu legitimasi. Kita bisa pilih-pilih mana yang kita mau, dan itu dari Tuhan, dari Alkitab, tapi kita tidak melihat seluruh konteks sehingga kita lihat itu sebagai sindiran yang kita ubah menjadi konfirmasi. Kalau kita lihat di ayat 19 & 20, masih tidak terlalu kelihatan. Tapi mari kita lihat lebih teliti, karena di bagian lain kalau Saudara memperhatikan, seperti yang A.W Tozer ingatkan, apa yang sangat kita inginkan, kita kagumi, kita fokus di dalam hidup, itulah yang akan memperkenalkan siapa kita. Meskipun di bagian awal kita bisa menyembunyikan dengan pengetahuan, pengenalan akan Tuhan, ketaatan, etos pelayanan, Bileam tidak menerobos salah satunya, dia oke-oke saja, Tuhan bicara baru dia lakukan. Tapi ini ternyata tidak bisa menyembunyikan dari apa yang diinginkan hatinya. Karena kalau Saudara baca dalam Yudas 11, 2 Petrus 2: 15-16, Bileam sebenarnya menginginkan upah yang Balak sudah tawarkan. Di sini tidak terlalu kelihatan, tapi kita bisa lihat di bagian lain. Kita bisa melihat bagaimana diri itu bisa menipu sampai diri itu tidak tahu, seolah-olah. Bahkan orang lain tidak merasa dia melakukan hal itu, ini kan motivasi di dalam yang tidak ada orang yang tahu. Tapi self deception ini membuat sindiran dianggap menjadi konfirmasi. Bileam tidak bisa lihat lagi bahwa Tuhan tidak mau dia melakukan itu dan kemudian ketika dia disuruh pergi, dia langsung pergi, segera dipelanai keledainya, segera pergi. Lalu kemudian bangkitlah murka Tuhan, di sini kita baru tahu sebenarnya Tuhan tidak mau dia melakukan itu. Kalau orang tidak cinta kebenaran, kebenaran itu bukan menjadi sesuatu yang diharapkan di dalam hidupnya, Tuhan itu bukan menjadi hal yang betul-betul dicintai. Maka semua hal yang dikatakan oleh Tuhan akan dipakai sebagai alasan untuk membenarkan diri sendiri. Kita bisa serang orang lain pakai ayat, kita bisa nasihati orang lain pakai ayat dengan tujuan orang itu berubah atau kita bisa menasihati orang lain dengan memakai ayat firman Tuhan dengan tujuan menyerang dia? Dari luar tidak ada perbedaan, dari luar sepertinya kita sangat mengenal Tuhan, dari luar kita sangat mengerti teologi, dari luar kita akan sangat betul-betul punya kerohanian yang sangat baik. Tapi sindiran yang kita anggap sebagai konfirmasi ini sangat membahayakan. Self deception kalau sampai tahap kedua, kita akan melihat semuanya sebagai tools yang kita bisa pakai untuk membentengi diri sendiri atau menyerang orang yang tidak sepaham dengan kita menggunakan senjata yang paling rohani yaitu Tuhan. Ini seringkali jatuh dalam pergumulan kita. Kita menunggu saat lowong dimana ada sesuatu kita bisa masuk di celah. Dan kita mendapatkan pembenaran untuk yang kita maui. Dan Tuhan tahu Dia sedang dimanipulasi oleh Bileam. Dia tahu bahwa Bileam akan menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan “Tuhan yang suruh, saya tidak melakukan apa-apa”. Tapi kalau kita melihat cerita sampai ke belakang, nanti kita akan tahu bahwa sebenarnya Tuhan itu bukan Tuhan yang hanya senang kalau kita hanya pertimbangkan dosa atau tidak berdosa, tertulis atau tidak tertulis. Tuhan ingin kita betul-betul mengenal Dia sehingga mengerti isi hatinya dan melakukan apa yang seharusnya.

Kalau kita melihat di sini, Bileam kan profesional, kalau disuruh dia akan pergi, dibayar lagi. Kita sering mengatakan kalau profesional itu ada bayaran, “saya kan dukun profesional. Ada yang order dan dia bayar, saya tidak melanggar apa-apa. Maka saya pergi. Lagi pula saya tidak salah kalau menginginkan bayaran”. Maka kata profesional seringkali kita kunci dalam dibayar atau tidak. Kalau kita kerja “profesional sedikit dong”, artinya “kamu sudah saya bayar, kamu jangan tidak kerja apa yang seharusnya”. Lalu kita bisa kontrakan ini dengan yang non-profesional yaitu pelayanan. “Di gereja kan tidak perlu pakai profesional, karena tidak ada bayaran, ini pelayanan”. Ini kesalahan pengertian profesional yang kita semua mengerti. Profesional bukan kita dibayar maka kita kerja, profesional bukan karena gajinya semakin tinggi maka kita kerja makin baik. Profesional kata dasarnya adalah profess, mengaku. Mengaku kita adalah sesuatu maka kita lakukan yang kita akui itu dengan semaksimal mungkin yang kita bisa, itu profesional. Kita mengaku, seumpama kita mengaku kita adalah manusia, maka kita harus melakukan apa yang sepatutnya, seharusnya, sebesar-besarnya kita sebagai manusia. Atau kita mengaku kita sebagai orang Kristen, maka kita harusnya kerjakan apa yang perlu, yang maksimal, yang seharusnya sehingga menunjukan apa yang kita profess itu kita jalankan. Maka kalau kita salah mengerti di dalam masalah profesi ini, apa yang kita mengaku apa dan kita kemudian lakukan apa, bisa jadi Senin-Jumat kita maksimal melakukan persiapan, tapi begitu masuk Minggu, kita mengatakan “saya guru Sekolah Minggu, saya tidak lakukan persiapan apa-apa karena ini tidak dibayar. Yang profesional kan Senin-Jumat, yang Minggu kan pelayanan”. Kalau kita bagi hidup kita menjadi dua seperti itu, kita akan menjadi orang yang bisa menipu diri sendiri. Jadi bapak itu profesional tidak? Jadi bapak itu bukan profesional, kita kan pikirnya karena bapak tidak dibayar. Tapi kalau Saudara profess “saya bapak, saya ibu, saya papa, saya mama”, sudahkah kita melakukan hal yang perlu untuk melakukan jabatan itu? Saya rasa tidak. Kalau kita mengatakan “saya ini anak, saya ini menantu, saya ini mertua”, sudahkah kita lakukan hal yang semaksimal mungkin di dalam kata itu dengan semaksimal mungkin yang saya bisa usahakan? Saya rasa tidak. Hal-hal seperti itu go with the flow dan kita melihat hidup kita ada beberapa yang kacau di tengah jalan karena hal-hal itu tidak kita tangani dengan benar, karena kita pikir profesional itu dibayar. Seperti Bileam, “kalau saya dibayar saya jalani saja. Permintaanya seperti itu, saya tidak melanggar apa-apa. Dia yang datang mencari saya, ini kan rejeki”. Karena kita cuma mengerti point reference dari profesional adalah uang. Tetapi Tuhan mau kita mengerti point of reference dari profesional adalah Allah yang menentukan kita berbuat apa. Tuhan mau kita mengerti profesionalitas kita di dalam point of reference kebenaran, di dalam point of reference takut kepada Tuhan, sehingga kalau seperti ini Saudara tidak mungkin menjadi orang yang menipu diri. Saudara mahasiswa, apa yang Saudara perlu kerjakan sebagai mahasiswa? Pelajar, apa yang Saudara perlu kerjakan sebagai pelajar? Dosen, apa yang perlu Saudara kerjakan sebagai dosen? Pengurus, apa yang perlu Saudara kerjakan sebagai pengurus? Diaken, sebagai istri, sebagai suami, sebagai orang tua, hal-hal ini kita seringkali tidak tangani dengan profesionalitas di hadapan Tuhan. Ini yang perlu kita perhatikan, kita melihat bahwa firman Tuhan seringkali memberikan peringatan-peringatan, tapi yang kita ambil cuma konfirmasi-konfirmasi. Karena kita memang sudah masuk step kedua dalam menipu diri kita yaitu cuma mau ambil pembenarannya saja.

Kalau kita maju lagi maka kita akan melihat bahwa di dalam ayat seterusnya yaitu ayat 31-35, perikop ini cuma ada tiga tokoh yaitu Bileam, malaikat Tuhan dan keledai. Saudara bisa lihat siapa yang keledai dan siapa Bileam, karena seharusnya dia adalah pelihat yang melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat. Seharusnya Bileam tahu kalau dia profesional, dia adalah pelihat, seharusnya dia jauh bisa melihat dari yang lain. Tapi ternyata keadaannya berbanding terbalik, tiga kali malaikat Tuhan menghalangi jalan Bileam, tiga kali keledainya menghindar karena keledainya melihat dan tiga kali Bileam memukul keledainya karena dia tidak melihat. Self deception itu bisa sangat mengerikan karena Bileam tidak melihat, keledainya melihat, Bileam tidak peka, keledainya lebih peka. Maka kita bisa bukan hanya merasa lebih pintar dari orang lain, kita bahkan bisa lebih buta dari pada orang lain yang memberikan peringatan kepada kita. Kita bisa menganggap orang lain yang memperingatkan kita adalah halangan. Peringatan dianggap sebagai halangan. Kita bisa begitu kejam dengan orang yang memberikan kita peringatan. Kita bisa begitu kejam dengan orang-orang yang Tuhan tempatkan untuk menolong kita keluar dari kekacauan yang bisa dihindari, karena kita sudah masuk dalam step ketiga dalam menipu diri yaitu peringatan kita anggap sebagai halangan. Pertama tadi sindiran dianggap konfirmasi, sekarang peringatan dianggap sebagai halangan. Dan ini adalah kesulitan yang sulit sekali, hasilnya terjadi di perikop ini. Di sini Bileam bahkan dikatakan di ayat 29 “Jawab Bileam kepada keledai itu: “Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang”, ini mengerikan sekali. Sesuatu yang dipakai untuk menghindarkan dia dari kesulitan besar, tapi dia mengatakan “kalau ada pedang, engkau akan kubunuh”, dan kita bisa sedemikian kejam dengan orang-orang yang memperingatkan kita. Suami dikasi tahu istri, suami mengatakan “kalau ada pedang, aku bunuh kamu”, demikian sebaliknya. Orang tua diberi tahu anak, jawabnya “papa ini sudah hidup lebih lam dari kamu”. Atau sebaliknya anak tidak menghormati orang tua karena tidak terima peringatannya, tidak lagi mengerti profess apa, kalau anak mestinya bagaimana sebagai anak, kalau orang tua mesti bagaimana sebagai orang tua. Mertua dan menantu, banyak cekcok yang tidak perlu. Karena kita tidak mengerti apa yang kita profess lagi, kita lakukan apa yang seperlunya, kemudian kita mengambil langkah ketiga, menganggap peringatan itu sebagai halangan. Dan sebenarnya malaikat Tuhan mengatakan “kalau keledaimu tidak ada dan ada pedang, pasti kamu yang mati, dia yang hidup”. Self deception di hadapan Tuhan, kalau Tuhan yang menilai, mengerikan. Ini tidak kelihatan tapi sangat mematikan, karena Tuhan sendiri melihat ini adalah hal yang patut dijatuhi hukuman yang besar. Karena kalau di hadapan Tuhan ada keledai dan Bileam, Tuhan akan mengatakan “Aku lebih pilih keledainya yang hidup dan kamu mati”. Ini adalah bagian yang lebih parah lagi, dalam step ketiga yaitu peringatan dianggap sebagai halangan.

Setelah malaikat Tuhan menampakan diri dan Bileam mengatakan “aku telah berdosa”, kita pikir dia bertobat. Step keempat di dalam self deception adalah sulit bertobat. Jangan pikir ayat 34 ini adalah pertobatan, ketika dia mengatakan “aku sudah berdosa, karena aku tidak tahu kamu di sini. Maka kalau begitu aku pulang saja kalau tidak boleh”. “Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang”, tapi malaikat mengatakan “jangan, pergi saja”. Kalau begitu ini bukan kesalahan Bileam, kesannya seperti itu. Tapi kalau kita lihat dalam kata “aku berdosa”, yang dimengerti Bileam bukan “aku sudah melawan, menentang, melanggar Engkau”, Bileam cuma mengerti “aku sudah salah jalan”, salah jalan sedikit karena tidak ketemu yang benar. Beda jauh. Orang bisa menyesal “saya sudah salah jalan”, tapi tidak merasa dia langgar, dia cuma merasa tersesat saja, tidak merasa berdosa sekali, cuma salah belok. “Salah belok tidak perlu dipermasalahkan, bukan melanggar, membunuh, semua orang pernah membuat kesalahan. Saya cuma nyasar sedikit, kalau tidak boleh, ya saya pulang saja”. Bilangan 23 dan seterusnya, memang Bileam tidak mengutuki karena tidak bisa, tapi dia tidak salah. Saudara akan melihat sulit bertobat akan mengakibatkan bencana besar. Karena kalau Saudara baca dalam Bilangan 31: 16 “Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN”, Bileam setelah tiga kali bertemu Balak, tidak bisa mengutuk karena Tuhan memang tidak membuat dia bisa mengutuk. Tapi setelah itu apakah selesai? Tidak, karena dia ingin uang, uang itu harus didapat. Caranya tidak boleh melanggar firman Tuhan, maksudnya dia disuruh pergi tapi tidak mengutuk, maka dia tidak mengutuk. Tapi dia mencari alternatif lain, dia hanya memberikan saran bagaimana membuat orang Israel berdosa, yaitu jangan suruh mereka untuk melanggar, ajak mereka pelan-pelan, kirim perempuan-perempuan, lalu tidur dengan mereka, sehingga kalau mereka melanggar dengan sendirinya, Tuhan pasti akan menghukum mereka. Dan itu yang dilakukan Bileam. Bilangan 25, Israel betul-betul menyesatkan dirinya sendiri dengan mengikuti perempuan-perempuan yang mengajak mereka tidur bersama, menyembah berhala. Itu dari saran Bileam, karena Balak tidak kepikiran itu. “Saya tidak melanggar Tuhan, saya mengikuti jobdesc. Tapi saya boleh kan melakukan sesuatu yang tidak melanggar?”, Bilangan 31, dia tetap melakukan apa yang diinginkan oleh Balak dan dia memperoleh uang yang banyak. Karena Yudas 11 dan 2 Petrus 2: 15-16, Bileam adalah salah satu contoh orang yang mengejar upah lalu lakukan apa yang seharusnya dia lakukan untuk dia akhirnya bisa membuat itu terjadi. Orang yang jatuh dalam self deception akan sulit bertobat. Mungkin kita akan melihat di dalam ayat 34-35 sepertinya dia sadar kalau dia salah, tapi apakah dia bertobat? Tidak, dia cuma berputar, kalau tidak boleh lewat sini, maka dia akan mencari jalan lain, re-route, untuk melakukan hal yang sama. Re-route untuk melakukan hal yang sama yang memang dia inginkan. Dan itulah hasilnya kalau kita self deception, menipu diri sendiri. Kita akan masuk dalam lingkaran tidak bisa bertobat lagi. Meskipun kita kelihatannya tidak melanggar saat apa pun. Saudara dan saya sebagai orang Kristen bisa ke gereja dengan tidak melanggar apa pun, tapi kita bisa putar balik, selalu cari cara, celah-celah dimana kita bisa masuk. “Saya tidak salah, pintunya terbuka sendiri”, kita memang ingin pintunya terbuka. Bukankah kalau pintunya terbuka sendiri berarti harus kita tutup? Tapi kita tidak melakukan itu.

Kalau begini bagaimana caranya supaya kita terhindar dari hal seperti ini? Saya meminjam istilah dari Pdt. Jadi, “lalu kabar baiknya apa, bagaimana supaya kita tidak kena?”. Hal pertama, Saudara tidak bisa melakukan satu, dua, tiga lalu terjadi sesuatu, tidak bisa. Kita mesti datang kepada Tuhan dan mengatakan “Tuhan, saya mau mengenal Tuhan. Tuhan yang sesungguh-sungguhnya dengan segala macam perspektif yang ada, Tuhan yang begitu kaya”. Kalau kita bilang kita mengenal Allah, caranya bagaimana? Kenallah Kristus, karena Dialah yang diutus. Kristus mengenal Bapa maka kita lihat bagaimana Kristus berespon kepada Bapa, semuanya betul. Karena Dia mengenal dengan benar, Dia tidak datang ke dunia hanya untuk menjalankan jobdesc, Dia melakukan kehendak Bapa, “yang kulakukan adalah kehendak Bapa. Yang Kukatakan bukan dari diriKu sendiri, tapi apa yang dari Bapa. Yang Kukerjakan adalah seperti yang Bapa kerjakan”, ini akan menghindarkan kita dari self deception. Karena kita mulai belajar betul-betul mau mengenal Allah secara seluruhnya, Allah yang begitu baik, Allah yang begitu banyak perspektif. Dan kalau kita melihat Kristus, Dia tidak pernah jalankan mauNya sendiri, karena kemauanNya diikat oleh rencana Tuhan. Banyak kesempatan, pintu terbuka banyak sekali, tapi Dia tolak satu per satu. Kalau Tuhan Yesus dicobai, Dia bisa mengatakan “setan yang bilang, pakai kutip ayat”, tapi tidak begitu, Dia tolak kesempatan yang terbuka yang bisa membuat Dia jatuh. Lalu kemudian kita sebagai orang yang tidak terjebak dalam hal self deception adalah mari kita hargai semua peringatan sebagai pre-judgement, ini yang sering Pak Stephen Tong katakan. Karena kalau kamu diberi peringatan, tidak bertobat, seumpama saya diperingati oleh orang tua saya “kamu harus begini-begini”, kemudian saya berpikir “ini halangan, saya tidak mau dengar”, maka pre-judgemnet ini kalau saya tolak, saya tetap melakukan apa yang saya mau. Nanti yang akan judge bukan orang tua lagi, tapi judgement-nya datang dari Tuhan langsung, dan sosial. Kalau saya melakukan yang salah, pasti terus ada judgement, somehow, somewhere, di suatu hari nanti. Tapi Tuhan juga akan memberikan judgement-nya secara sosial pada saat saya hidup sekarang. Maka biarlah pre-judgement selalu kita anggap bukan sebagai halangan, tapi sebagai pre-judgement supaya kita terhindar dari sesuatu yang akhirnya mencelakakan kita dan nama Tuhan. Keempat, kita tidak boleh melihat “ini kan hanya, hanya nyasar. Saya kan hanya sedikit salahnya, saya kan hanya begini saja. Saya kan tidak melanggar, saya cuma mengambil kesempatan yang terbuka”, tidak, karena di hadapan Tuhan kita tidak bisa berpolitik. Kita tidak bisa mempolitisir Tuhan karena kita tidak bisa mengunci Tuhan dalam satu atau dua kalimat di Alkitab, “tuh kan, tidak ada di dalam Alkitab, Tuhan tidak mengatakan begitu di Alkitab”. Karena kita dididik mengenal Dia secara pribadi maka kita tidak bisa hanya sekedar boleh atau tidak boleh. Relasi itu tidak bisa sekedar boleh atau tidak boleh. Suami istri, orang tua anak kalau hanya berdasarkan boleh atau tidak boleh, itu relasi yang berbahaya sekali. Karena kita hanya memanfaatkan boleh atau tidak boleh itu sebagai celah-celah dimana kita masih bisa benar, karena kita cuma mencari pembenaran.

Kita melihat orang-orang ini yang ditempatkan Tuhan di sekitar kita, kita betul-betul hargai, peringatan Tuhan, pre-judgement dari Tuhan lewat mereka semua. Dan biarlah kita betul-betul menjadi orang Kristen yang sejati.