Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Jangan memodifikasi Yesus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Jangan memodifikasi Yesus

Vik. Dewi Arianti

(Kisah Para Rasul 2: 41-47)
Mengapa ada jemaat yang begitu bagus, jemaat mula-mula ini? secara pengajaran bertekun, secara persekutuan juga indah, kuat, bagaimana bisa? Kalau kita tidak lihat setting sebelumnya yaitu khotbah Petrus, kita akan segera mencari alternatif-alternatif untuk membuat gereja kita user-friendly, misalnya kalau selesai ibadah ada makanan, ada prasmanan mungkin Saudara akan bisa bersekutu satu sama lain. Tapi apakah itu yang benar? Tidak, karena kita sering mencomot bagian ini lalu kemudian memformulakan bagaimana caranya supaya gereja bisa seperti itu dan kita pakai tips-tips saja. Tapi mari kita pikirkan, gereja ini muncul setelah 50 hari huru-hara di Yerusalem di mana seluruh kota berteriak “salibkan Dia, salibkan Dia”. Kalau kira-kira Saudara berada di dalam situasi seperti itu, seumpama hari ini 50 hari dari 50 hari yang lalu, Saudara mungkin tidak akan memikirkan “nanti kalau pulang jemaat diberi apa ya? Diberi kenang-kenangan apa? Kalau dia ulang tahun diberi surprise apa? Kalau dia sakit bagaimana kita akan mengunjungi?”, tidak mungkin seperti itu, Saudara pasti akan cari yang paling esensial. Dan sebenarnya inilah yang menjadi kunci utama bagaimana sebuah gereja mempunyai persekutuan dan pertumbuhan yang begitu bagus secara persekutuan karena di bawahnya dibangun dengan satu dasar yang sangat essensial. Coba bayangkan cara hidup jemaat mula-mula ini tidak boleh kita lepaskan dari setting 50 hari sebelumnya ketika seluruh Yerusalem teriak “salibkan Dia”, kemudian murid-murid menjadi kelompok yang sangat minoritas dalam minoritas. Mereka mengunci pintu, tidak berani keluar sampai Tuhan Yesus menampakan diri kepada mereka. Saudara bisa bayangkan persekutuan seperti ini mencari apa untuk bertumbuh? Pasti tidak mencari sesuatu yang tidak esensial. Dan ini yang mau kita renungkan sekarang, apa yang bisa membuat persekutuan atau hidup berjemaat demikian indah, kuat satu dengan yang lain.

Alkitab memberikan gambaran kepada kita di dalam khotbah Petrus di bagian atasnya, mereka kembali kepada sesuatu yang esensial yaitu mengenal Kristus. Kita seringkali berpikir “saya sudah tahu tentang mengenal Kristus. Mengenal Kristus itu Yesus adalah Juruselamat, Tuhan yang menjadi manusia, saya sudah mengerti semuanya”, tapi mari kita lihat perspektif ini, karena khotbah Petrus yang bagi kita sepertinya sederhana, merupakan khotbah yang menusuk sampai ke dalam hati kemudian memberikan pertobatan bagi 3.000 orang ini. Dan 3.000 orang ini menghasilkan suatu jemaat yang betul-betul bagus. Maka kalau kita tidak pernah mulai basic dasarnya, kita akan membangun di atas sesuatu yang salah. Kalau Saudara membaca Kisah Para Rasul 2: 36-40, Petrus memberikan satu tafsiran di dalam bagian khotbahnya yaitu Yesus dari Nazaret ini siapa? Penjelasan dari bermacam-macam ayat, akhirnya Petrus menemukan satu kesimpulan Yesus ini adalah, ayat 36 “jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus”. Siapakah Dia? Dia adalah Yesus dari Nazaret. Siapakah Yesus dari Nazaret? Dia adalah Tuhan dan Kristus. Yesus adalah Tuhan maksudnya berdasarkan Kisah Para Rasul 2: 21 dimana Petrus mengutip Yoel “dan barangsiapa berseru kepada nama Tuhan, dia akan diselamatkan”, berarti Yesus ini adalah pokok keselamatan. Lalu Yesus ini adalah Kristus yang artinya Mesias, yaitu seseorang atau pembebas yang ditunggu-tunggu sepanjang sejarah umat. Yesus yang adalah Tuhan dan Kristus ini adalah Dia yang dikirim oleh Allah, Dia adalah Raja yang akan menyelamatkan umatNya. Ayat 22 dikatakan Yesus orang Nazaret ini datang dengan kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan Allah dengan perantara dia ditengah-tengah kamu. Berarti Yesus dari Nazaret ini dikirim Allah untuk menyatakan bahwa Allah mempedulikan umatNya. Maka bagian-bagian seperti ini mesti kita pikirkan, Yesus adalah yang dikirim oleh Allah, siapa Dia? Juruselamat. Dan Yesus Sang Juruselamat ini bukan juruselamat yang alien. Abraham Kuyper menjelaskannya dalam terminologi yang kita mesti pikirkan. Pertama, dikatakan bahwa Tuhan dan Kristus ini adalah sesuatu yang bersifat organically connnected. Maksudnya Kristus yang adalah Mesias ini bisa dicapai oleh siapa pun, bangsa apa pun, latar budaya apa pun, strata sosial mana pun. Apakah yang mendekati Dia adalah Ahli Taurat? Dia terima undangan makannya. Apakah yang mendekati Dia adalah pemungut cukai? Dia juga menerima undangan makannya. Apakah yang mendekati Dia adalah orang Israel? Dia terima. Siapa yang berseru kepada nama Tuhan, dia akan diselamatkan. Siapa yang bisa berseru? Apakah orang Israel saja? Tidak. Apakah hanya orang yang menghafal Taurat? Tidak, buktinya pemungut cukai pun didengar olehNya. Maka pengertian Tuhan yang semacam apa yang sedang dipresentasikan oleh Petrus ini, Saudara mesti mengerti baik-baik. Dia adalah Tuhan, barangsiapa berseru kepadaNya akan diselamatkan. Berarti organically connected. Bagaimana kita memahami organically connected? Kalau dikatakan Kristus sebagai kepala dan kita adalah anggota tubuh, coba pikirkan, anggota tubuh mana saja yang berkait dengan kepala? Jantung saja, karena dia paling penting? Tidak. Kuku pun berkait dengan kepala, rambut kita berkait dengan kepala, tidak ada yang bisa lepas dengan sendirinya tanpa ada koordinasi dengan kepala. Jempol kaki pun berkait dengan kepala. Maka mendekati Yesus, mendekati Tuhan dimana kita berseru dan kemudian kita diselamatkan, kita tidak harus menjadi orang Israel, tidak harus menjadi strata tertentu, tidak harus mempunyai pencapaian yang sangat tinggi. Karena Mesias yang Tuhan berikan adalah Mesias yang organically connected, secara organik berkait dengan Saudara dan saya. Ini hal pertama yang Petrus presentasikan, “Tuhan, pada siapa engkau berseru, engkau akan diselamatkan”.

Kedua, Mesias ini adalah Mesias yang historically determined, maksudnya secara histori sudah ditentukan spesifik. Mesias ini tidak bisa kebetulan, kebetulan ada, kebetulan mantap, kebetulan bagus. Mesias ini ternyata sudah disiapkan sejak manusia jatuh dalam dosa, Kejadian 3: 15, ada keturunan perempuan yang akan meremukan kepala ular. Maka Mesias ini bukan rencana dadakan dari Tuhan, kelahiran Yesus bukan rencana dadakan dari Allah, karena Dia sudah ditentukan sejak awal. Lalu Tuhan teruskan janjiNya kepada Abraham, “keturunanmu akan menjadi berkat bagi banyak bangsa”, Tuhan Yesus akan menjadi Juruselamat bukan hanya bagi Israel saja tapi bagi banyak bangsa. Kemudian dilanjutkan kepada Daud, “keturunanmu akan mempunyai tahta yang tak akan berkesudahan”. Maka Yesus yang seperti ini yang dipresentasikan oleh Petrus, Raja seperti inilah yang diperkenalkan oleh Petrus di dalam khotbahnya setelah Pentakosta. Apakah Saudara dan saya mengenal Yesus yang seperti ini? Ini menjadi pertanyaan yang berikutnya. Kalau kita baca khotbah Petrus, dia mengutip dari Yoel dan Mazmur. Sebenarnya saya waktu awal-awal baca Alkitab, saya kurang mengerti mengapa harus dikaitkan antara Kitab Yoel kemudian Mazmur, kemudian ambil Daud. Di sini kita mesti tahu konteks orang Israel, kalau dikatakan Yesus adalah Tuhan dan Mesias, Dia adalah Raja yang akan menyelamatkan, Dia adalah Raja yang organically connected, historically determined, itu kita terima. Kalau begitu apakah Dia lebih hebat dari Daud atau sama atau hampi sama? Orang Israel akan mempunyai pola pikir tertentu dalam pikirannya ketika menyangkut ada Raja yang dikirim oleh Allah. Apakah Dia lebih hebat dari Daud? Bukankah Daud itu sepanjang sejarah adalah raja yang paling berkenan di hadapan Allah, adalah orang yang paling berkenan hatinya di dalam hati Tuhan. Apakah Mesias lebih hebat dari Daud? Kalau Daud tidak pernah kalah perang, apakah Mesias ini lebih hebat dari dia? Tapi buktinya Dia mati, kalau Dia lebih hebat dari Daud, harusnya Dia tidak pernah kalah, harusnya Dia tidak pernah di salib dan kemudian mati. Lalu apa yang membuatnya lebih hebat dari Daud? Maka Petrus menggali ini dengan mengatakan di dalam ayat 29 “Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini”. Maka superioritas Yesus dibandingkan dengan Daud, raja terbesar mereka adalah justru karena Yesus mati dan bangkit. Ini sebenarnya satu tafsiran yang sangat berani. Raja ini membawa damai dan keselamatan bukan seperti Daud yang memberi banyak emas, memberi keamanan militer, memberi “kemewahan” kerajaan yang besar. Raja ini adalah Raja yang memenangkan pertempuran dari dalam, dari hati. Daud tidak pernah memenangkan pertempuran di dalam hati manusia, meskipun dia sangat ada pasukan-pasukan yang loyal. Tapi setelah Daud, setelah raja-raja atau setelah hakim-hakim yang baik ada, urusan manusia terharu, lalu memberontak kepada Tuhan terus terjadi secara sirkular. Waktu hakim yang bagus naik, umat taat, tapi begitu hakimnya mati, umat Tuhan memberontak. Raja yang baik muncul, orang taat, raja yang baik itu mati kemudian muncul raja berikutnya, orang langsung menyembah berhala. Maka sebenarnya pertempuran paling besar ada di dalam hati manusia dan itu tidak pernah diselesaikan oleh raja terbaik Israel. Jadi kalau mau raja, raja yang bagaimana? Petrus menafsirkan “kamu perlu satu raja yang betul-betul memenangkan kamu, yang betul-betul membebaskan kamu. Yaitu raja yang berani masuk perang sampai titik paling dalam”. Perang di dalam hati. Ini adalah tafsiran yang sangat dalam, mengapa Yesus mesti mati dan bangkit? Karena perangnya adalah memenangkan jiwa orang di dalam hati jiwa yang memberontak ini harus dibawa kepada Tuhan. Waktu setan menjatuhkan manusia, setan tidak menjatuhkan Adam dan Hawa dengan membuat keadaan chaos di Taman Eden, setan membuat kekacauan di dalam hati. Adam membuat keputusan di hati, Adam membuahkan dosa di luar, akibat dosa itu seluruh ciptaan hancur dan jatuh dalam dosa. Peperangannya di dalam hati. Maka ketika Tuhan Yesus menjadi Raja, Dia memenangkan pertempuran di dalam hati Saudara dan saya. Maka Dia harus mati menanggung dosa, karena dosanya di dalam peperangan yang paling dalam. Dia adalah Raja yang berdiri di depan menanggung hukuman umat yang diselamatkan. Dia adalah Raja yang berdiri di depan, mempunyai kemampuan membayar hutang Saudara dan saya. Dia adalah Raja yang berdiri di depan mau meredakan kemarahan Allah di atas kayu salib. Dia adalah Raja yang berdiri di depan menjadi satu-satunya utusan yang sah untuk merenkosiliasikan Saudara dan saya yang berdosa kepada Tuhan. Maka Dia harus mati dan bangkit. Ketika orang betul-betul menyerahakan hatinya kepada Tuhan, dia akan punya sikap yang sangat berbeda terhadap sesamanya, dia akan punya sikap yang sangat berbeda terhadap harta, alam, terhadap segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, dan dia akan punya sikap yang berbeda terhadap setan. Sekali Tuhan Yesus memenangkan Saudara dan saya, Dia memenangkan seluruh pertarungan. Pengertian Kristus yang seperti inilah yang sebenarnya dipresentasikan oleh Petrus dan kemudian hal ini membuat orang-orang itu, di dalam Kisah Para Rasul 2: 37 dikatakan “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”, sebenarnya kata terharu kurang tepat, di dalam bahasa Inggris pierce to the heart, tertusuk hatinya. Sehingga mereka sadar ada pertobatan. “Saya selama ini sudah memodifikasi Kristus sebagai Mesias yang saya harapkan”, yang orang Israel harapkan. Harapan Mesias seharusnya memenangkan pertarungan, Mesias harusnya mengalahkan Romawi, Mesiasnya seharusnya membuat kita tidak membuat kita berperang satu dengan yang lain, Mesias seharusnya menjadikan kita negara yang bebar. Maka orang-orang yang tadinya mengharapkan Mesias dengan harapan dia, sekarang menjadi tertusuk hatinya dan mengalami pertobatan. Maksudnya mengalami pertobatan apakah tadinya dia tidak percaya Mesias? Percaya, tapi dia tadinya memercayai Mesias dengan cara pikirnya sendiri. Dia berharap Mesias, tapi berharap dengan cara yang salah. Inilah yang namanya pertobatan.

Seringkali mendefinisikan pertobatan dengan macam-macam. Ada yang mendefinisikan: saya sudah bertobat. Dulu waktu saya SMP saya suka menyontek. Dulu waktu saya belum percaya Tuhan Yesus, saya orang yang malas, tidak suka kerja, maunya senang-senang. Sekarang saya sudah sadar, saya tahu saya kuliah untuk apa, studi untuk apa. Kalau bertobat semacam ini, orang Islam, Budha, Hindu, orang atheis pun bisa bertobat seperti ini. Apa itu bertobat versi Kristen? “Dulunya tidak percaya Yesus sekarang jadi percaya”, apakah itu cukup bertobat? Kalau pakai definisi Petrus, itu belum. Karena kita percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, terkadang kita bisa memodifikasi Yesusnya model apa yang kita terima. Seperti orang Israel “saya percaya Mesias”, tapi dimodif, mesiasnya adalah mesias pertempuran, kalau bisa dia kalahkan Romawi. Ekspektasi itu yang mereka harapkan waktu Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, “hosana, hosana, terpujilah Tuhan. Dia yang datang dalam nama Tuhan”, ekspektasi mesias, tapi bukanlah mesias seperti yang dipresentasikan oleh Allah terhadapa AnakNya. Maka kita bisa menerima Tuhan Yesus, dulu tidak percaya sekarang percaya, tapi dengan modifikasi tertentu yang membuat kita luput di dalam mengenal Tuhan. Dan ini dalam kategori Petrus belum bertobat, mereka belum tertusuk hatinya. Di dalam versi Petrus, pertobatan yang diinginkan adalah pertobatan perubahan pikiran tentang persepsi atau pengertian kita terhadap Kristus sesuai yang Tuhan mau. Saudara tidak bisa menerima Yesus seperti yang Saudara mau, Saudara harus terima Yesus seperti yang Allah presentasikan di dalam Alkitab, di dalam sejarah, seperti itulah. Maka di ayat 36 dikatakan “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus”, di luar itu sebenarnya kita masih belum bertobat. Kita mesti mengejar pertobatan ini, kita bisa bertobat dalam arti mengenal Yesus dengan berbagai cara, berbagai entry point. Dan semua entry point yang Tuhan izinkan, saya rasa itu adalah anugerah Tuhan. Tetapi setelah Saudara masuk entry point itu, pekerjaan kita tidak selesai, karena kita mesti mengejar pengertian yang seperti Allah mau AnakNya dikenal, kalau tidak, kita akan masuk dalam “pintu keselamatan”, lalu kita maunya sendiri. Maka itu adalah hidup yang tidak cocok dengan yang namanya pertobatan. Maka Rasul Paulus mengatakan kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar. Maksudnya, ketika Saudara sekali selamat tidak langsung kemudian sudah tahu Yesus itu begitu, Saudara mesti kejar, mesti pikir, mesti gali benar tidak kita menerima Yesus sesuai dengan yang Allah presentasikan atau jangan-jangan kita memodifikasi Yesus sesuai dengan yang kita perlu.

Kalau kita baca selanjutnya, bagaimana jemaat ini selalu bisa bertekun dalam pengajaran, dalam persekutuan? Selain secara essensi mereka mengenal siapa Yesus, mereka juga dipimpin oleh Roh Kudus. Kita juga mau gereja kita dipimpin oleh Roh Kudus. Bagaimana? Gereja kita dipimpin oleh Roh Kudus adalah ketika kita menyadari bahwa kerjaan Roh Kudus yang paling besar dan penting adalah menunjukan kita kepada Kristus. Yohanes 16: 12-14, “Roh Kudus selalu memuliakan Aku”, kata Tuhan Yesus. Kalau kita mengharapkan pekerjaan Roh Kudus yang lain, kita tidak mungkin seperti jemaat mula-mula, karena ktia mengharapkan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Roh Kudus secara utama. Roh yang sama yang mengarahkan kepada Pribadi yang sama. Baru bisa gereja itu betul-betul seperti gereja mula-mula. Mari kita pikirkan ini di dalam gereja kita, karena gereja kita juga bukan gereja yang imune, sense of interest apa yang paling essensial di dalam jemaat Tuhan? Kristus, firmanNya dan doa, ini yang ada dalam ayat 41-47. Kalau kita kehilangan Kristus, sebenarnya jemaat itu hanya jadi arisan saja. Dan terkadang kita bisa masuk dalam hal ini, waktu Rally Doa kemarin Pak Jimmy membahas tentang waktu Maria Magdalena pergi ke kuburan Tuhan Yesus, didapatinya kosong, dia sangat sedih, karena bagi dia satu-satunya hal terpenting adalah Tuhan, kalau Tuhannya hilang, dia sedih, tidak bisa dihibur oleh hal lain karena itulah yang terpenting. Tapi kita sebagai gereja sangat mungkin menjadi gereja yang mudah dihibur oleh yang lain selain Kristus. Kita menjadi tidak masalah kalau Yesus ditendang keluar, yang penting bisa sharing, itu jadi sense of interest yang essensial, “kalau tidak ada sharing, kita tidak bisa bertumbuh bersama”, itu bahaya. Berarti Saudara menendang keluar yang esensial, dan memasukan ke dalam yang tidak esensial. Bukan berarti sharing tidak boleh, itu boleh, asalkan itu bukan sense of interest yang mengikat kita sebagai jemaat Tuhan. Kalau bukan Kristus, firman dan doa, kita segera menjadi arisan, segera menjadi jemaat yang sering mencari kegiatan seru. Mari kita diikat oleh sense of belonging yang benar, sama-sama memiliki Kristus, sama-sama memiliki firman, sama-sama memiliki kehidupan doa yang benar. Disitulah Saudara mendapatkan ikatan yang paling erat, yang paling esensial, lebih dari itu Saudara cuma akan mendapatkan persekutuan yang bergembira sana-sini, tetapi kita sudah kehilangan yang paling esensial. Mari kita doakan gereja kita maupun gereja yang lain, supaya yang namanya gereja tidak lupa tugas utamanya sebagai gereja, tidak lupa menu utamanya yaitu Kristus, firman dan doa.