Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Iri Hati
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Iri Hati

Pdt. Jadi S. Lima, M.Th.

(1 Samuel 18: 1-30)
Di sini Yonathan digambarkan sebagai seorang Israel sejati. Saudara mungkin masih ingat pesan terakhir Musa sebelum dia meninggal, yaitu pidato syema yitsrael, dengarlah hai orang Israel apa yang paling penting engkau lakukan ketika masuk negeri itu, engkau harus mengajarkan ini berulang-ulang kepada anakmu, engkau harus memegangnya ketika engkau berdiri, ketika engkau duduk, ketika engkau masuk ke dalam rumah, ketika engkau keluar rumah yaitu kasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, kekuatanmu, pikiranmu dan kasihilah orang lain sesamamu seperti dirimu sendiri. Dua perintah ini saja, mengertilah hal itu, lakukanlah itu dan jadilah hidup. Jangan mati seperti penduduk asli dari pada Kanaan, yang mati karena mencemari tanah itu dengan kejahatan. Jangan ikuti laku mereka yang sia-sia, tapi berjalanlah dalah hukum Tuhan. Hukum Tuhan dapat disarikan dalam 2 hal ini, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu. Dan orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya akan melakukan kehendak Tuhan yaitu mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Kita terlahir otomatis untuk mengasihi diri sendiri, kita tidak perlu diajar untuk mengasihi diri sendiri. Kasihilah orang lain seperti dirimu sendiri dan Yonathan melakukannya. Yonathan mengasihi Daud seperti dia mengasihi dirinya sendiri. Yonathan berpadu jiwanya dengan Daud ketika Daud sudah selesai berbicara kepada ayahnya. Dan ini menarik sekali, karena secara natural hal itu tidak dapat terjadi di dalam natur yang sudah jatuh di dalam dosa. Daud adalah saingan Yonathan. Yonathan itu putra mahkota, kalau Daud mendapat kepercayaan yang semakin hebat dari Saul, kira-kira apa yang akan terjadi? Yang terjadi mungkin Yonathan tidak akan menjadi raja. Tapi Yonathan mengasihi Daud seperti jiwanya sendiri, bahkan dia menanggalkan jubah yang dipakainya memberikannya kepada Daud, bahkan baju perangnya, sampai pedangnya dan panahnya dan ikat pinggangnya. Itu berarti Yonathan memberikan secara simbolik kedudukannya kepada Daud. Yonathan melakukan yang antitesis dari pada iri hati kepada Daud. Yonathan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri.

Bagaimana kita mengobati iri hati? Jawabannya adalah kita melakukan kasih. Iri hati adalah korupsi dari pada kasih. Iri hati adalah kita mengasihi diri sendiri dan tidak mengasihi orang lain. Kita mengasihi orang lain demi mengasihi diri sendiri, itu adalah iri hati. Iri hati adalah kita ada untuk diri kita sendiri. Si aku ada untuk aku, karena si aku mengira dia ada oleh sebab aku, dan sia ku ada bagi diriku sendiri. Tidak ada sama sekali bagian orang lain, apalagi bagian Tuhan. Dan kita terpanggil untuk mengasihi Tuhan lebih dari pada diri sendiri dan mengasihi orang lain seperti diri sendiri. Mengapa Tuhan memberikan perintah yang sepertinya kejam ini? Mengapa Tuhan memberikan perintah yang sepertinya kontra terhadap natur ini? Di dalam Teologi Reformed kita tidak percaya bahwa ada sesuatu yang disebut natural, barangkali itu dipakai oleh teologi medieval, ada sesuatu yang namanya natural, alamiah lalu ini Tuhan menambahkan sesuatu yang supernatural. Tapi dalam Teologi Reformed kita tidak percaya Alkitab mengajar itu, yang kita percaya adalah Tuhan menciptakan langit dan bumi, Tuhan menciptakan hanya satu ciptaan saja, tidak ada natural dan supernatural, yang ada adalah ciptaan dan Pencipta. Dan Tuhan menciptakan kita bagi mengasihi Dia. Kita memang dicipta untuk mengasihi Allah, itulah natur kita. Kalau kita katakan manusia itu naturalnya adalah mengasihi diri, mengasihi Allah dan orang lain demi kepentingannya sendiri, kita kan tidak mengatakan itu naturalnya, maka Tuhan memberikan kepada manusia itu suatu bubuhan atau infus supernatural dari atas untuk membuat natural dari pada sifat manusia itu, sifat alamiah itu terangkat, kita tidak percaya itu. Kita mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan kita dengan natur egoistis, Tuhan menciptakan kita bagi kemuliaanNya. Tuhan menciptakan kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita dengan segenap pikiran dan tubuh kita, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dengan kata lain Tuhan menciptakan kita eksentrik, Tuhan menciptakan kita bagi orang lain. Pusat dari diri kita bukan di dalam diri kita, pusat diri kita ada di luar diri kita, eksentrik. Yonathan adalah Israel sejati, dia adalah Israel yang bergumul dengan Allah (manusia arti dari pada Israel), dan dia menang. Dia adalah yang bergulat bukan dengan manusia saja, tetapi dengan Allah dan dia menang. Dia bukanlah Yakub lagi, dia bukanlah yang bergumul dengan saudaranya saja, seperti si Yakub itu ingin merebut hak kesulungan Esau dan seumur hidup dilanda iri kepada Esau, yang sebetulnya Esau juga iri kepada Yakub. Dia bukan Yakub lagi, dia adalah Israel. Yonathan adalah Israel yang sejati. Dan dia itu barangkali juga dapat menjadi bayang-bayang dari pada Kristus, bayang-bayang dari apa yang akan datang yaitu seseorang yang diperkenan hati Allah, yang mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bagaimana dengan Saul? Saul kebalikannya, dia adalah orang yang tidak mengasihi orang lain seperti dirinya sendiri, dalam hal ini juga tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Dan akibat bagi orang yang tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan orang yang tidak mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, akibatnya adalah Saul menjadi takut, Saul dipenuhi benci, kemarahan. Benci, takut, marah, inilah 3 hal yang selalu menyertai orang-orang yang tidak mengasihi, selalu hidup bagi dirinya sendiri. Saul tahu takut kepada Daud karena Saul melihat Daud disertai Tuhan. Ayat 12,15,29 Saudara melihat Saul takutnya ekskalatif, kali pertama dia takut kepada Daud karena Daud bisa mengelakan lemparan lembingnya. Kali berikutnya dia melihat Daud tidak saja tidak mati di tangan orang Filistin, bahkan bisa mengalahkan orang Filistin dengan mudah. Saul merencanakan sesuatu yang licik, Saul menawarkan Daud untuk menjadi menantunya, “ini Merab anakku, kuberikan kepadamu, anakku yang sulung ini”. Lalu ketika harinya sudah datang, Merab diberikan kepada orang lain. Ini strategi khas dari pada orang yang insecure untuk merebut semacam rasa hormat dan takut dan semacam memberikan kepada dirinya sendiri imbalan berupa rasa bangga karena merasa inpower dengan cara mengiming-iming kemudian menghina, mengiming-iming lantas menolak dan dengan demikian membuat orang yang kepingin terlihat malu, hina. Saudara mungkin melihat hal seperti itu, ini mungkin strategi yang kita alami di sini. Dari kecil sampai besar kita menjumpainya pada bully yang kita temui di sekolah kita, kita menjumpai sedihnya barangkali juga terjadi di gereja, di rumah, di perusahaan. Bos kita mengatakan, ayah kita mengatakan, guru kita mengatakan, “hadiah yang luar biasa akan kuberikan kepadamu, sesuatu yang diinginkan semua orang”, ketika kita sudah ingin, kemudian simply hadiah itu diberikan ke orang lain, atau hadiah itu simply disimpan atau dihancurkan. Jadi tidak ada yang dapat. Itu adalah strategi kejam dari orang-orang yang dibuat menjadi gila oleh karena takut, marah, benci dan akarnya adalah oleh karena menolak apa yang Tuhan suruh yaitu mengasihi orang lain seperti diri sendiri. Lawan dari mengasihi orang lain seperti diri sendiri adalah mengasihi orang lain demi diri sendiri. Jadi jangan salah, mengasihi itu bukan sesuatu yang lawan katanya membenci orang lain. Lawan katanya adalah memperalat orang lain, lawan katanya adalah demi diri sendiri. Jadi inti dari perintah itu bukan urusan mengasihi atau membenci, tapi poinnya adalah melakukannya demi siapa? Apakah engkau melakukannya demi dirimu sendiri atau melakukannya demi Allah atau demo orang lain itu sendiri, yang mana? Dan Saul, apa pun yang dia lakukan kepada Daud, Saudara bisa bayangkan barangkali Saudara keberatan terjebak dalam pola berpikir yang tadi saya katakan, Saudara bisa katakan Saul tidak melakukan yang buruk kepada Daud. Saul memberikan kesempatakan kepada Daud untuk melakukan pekerjaan besar, Daud disuruh memimipin pasukan berperang melawan Filistin, itu bagus karena memang Tuhan suruh berperang melawan Filistin. Lalu bukankah Saul juga menunjuk orang yang tepat di saat yang tepat untuk melakukan pekerjaan yang tepat? Karena Saul adalah orang yang sudah mendengar sendiri dari rakyat bahwa Daud itu lebih baik dari pada dirinya sendiri. jadi walaupun dengan muka yang merah dan hati yang panas, rakyat mengatakan Saul membunuh beribu-ribu, itu hebat, tidak banyak orang bisa membunuh beribu-ribu. Tapi tidak selesai sampai di situ, Daud membunuh berlaksa-laksa, berpuluh-puluh ribu, ini membuat Saul marah. Saul dipuji dan Saul marah bukan karena dia tidak dipuji, Saul marah karena ada orang lain dipuji lebih besar. Dan Saul bertindak untuk menempatkan Daud dalam pekerjaan yang cocok. Daud adalah pahlawan yang hebat, membunuh berpuluh-puluh ribu, maka ini adalah pekerjaan yang cocok untuk Daud. Apa salahnya disini? Salahnya di sini adalah untuk apa dia melakukannya? Jawabannya untuk melenyapkan Daud memakai tangan orang Filistin. Apakah Tuhan tidak bisa memakai hal itu? Jelas bisa, Tuhan memakai hal itu untuk mengalahkan orang Filistin, Tuhan memakai hal itu untuk memperkuat Kerajaan Israel. Tuhan memakai hal itu juga untuk memberikan pengajaran kepada jemaatNya. Tuhan memakai hal itu untuk memberikan pengajaran kepada kita hari ini, Tuhan memakai hal itu, iri hati Saul, niat jahat Saul yang dibungkus dengan permen yang indah di luar, untuk memberikan pelajaran bagi kita, untuk menjadikan hal ini cermin bagi kita supaya kita bisa bercermin mengenai diri kita sendiri. Dan kita bercermin bahwa kegagalan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati itu bukan kegagalan dimana Saudara membenci Allah, tapi itu adalah kegagalan Saudara mengasihi dengan segenap hati. Jadi ada bagian dari hati Saudara yang tidak mengasihi Allah.

Dan kegagalan untuk melakukan perintah kedua, mengasihi orang lain seperti diri sendiri itu bukan pada Saudara membenci orang lain. Itu sudah jelas gagal. Tapi juga saat Saudara mengasihi orang lain, tapi demi diri sendiri. Mengasihi orang lain supaya diri sendiri lebih aman atau terlihat lebih baik, atau supaya dalam hal ini orang itu hancur. Saul yang digerakan oleh ketakutan, kebencian semakin besar, ayat 8,9,21,25,19 menyatakan kemarahan dan kebencian Saul kepada Daud yang semakin besar. Tapi akhirnya Saul pun tidak bisa melakukan apa pun akan hal itu karena semakin dia melampiaskan marahnya dan bencinya kepada Daud yang didorong oleh ketakutannya kepada Daud, tidak pernah membuahkan pengurangan dari pada rasa irinya. Tidak pernah membuahkan keamanan pada dirinya, tapi justru membuat Daud terlihat semakin baik di mata rakyat, ayat 7, 28, Daud makin dikasihi oleh rakyat, rakyat makin tahu Daud disertai Tuhan. Dan Saul juga semakin tahu Daud disertai Tuhan, ayat 5,14,15,30, penulis mencatat hal itu, Saul mengerti dengan makin jelas bahwa Daud disertai Tuhan. Tapi saya kira seperti komentar saya mengenai Aristotle, orang mengetahui itu satu hal, tapi orang melakukan itu hal yang lain. Saul tahu bahwa Daud disertai Tuhan, Daud dikasihi rakyat, dia tahu menyerang Daud adalah sesuatu yang sia-sia, tetapi dia terus melakukannya. Saul terus melakukannya, dia tidak digerakan oleh pengetahuan itu karena memang pengetahuan tidak menggerakan. Ketika orang terjerumus ke dalam tindakan yang destruktif, menghancurkan dirinya sendiri, menghancurkan komunitasnya, menghancurkan dunia ini, persoalannya bukan karena dia tidak tahu. Kepada orang yang sudah tahu kemudian diberi tahu lagi itu hampir tidak mengubah apa-apa, jadi kita perlu strategi yang lain.Saya kira itu sebabnya juga Tuhan tidak memberi tahu Saul, karena Saul sudah diberi tahu berkali-kali. Saul sudah diberi tahu secara verbal, visual, pengalaman, Saul sudah diberi tahu. Tapi Saul mengeraskan hati. Siapa bisa menolong kita dari iri hati? Siapa bisa menolong kita dari penyakit yang membuat kita selalu ingin menggigit tapi tidak pernah memakan? Iri hati hanya membuat kita ingin menghancurkan dan kita tidak pernah mendapat benefit apa-apa dari yang kita hancurkan.

Iri hati membuat kita tidak bisa bersukacita atas sukacita orang lain, kita tidak bisa bersukacita atas apa yang orang lain bahagia, orang lain kepenuhan, orang lain kelimpahan, kita tidak bisa bersukacita. Dan ini mengapa sesuatu dosa yang fatal? Karena justru mengapa kita, manusia ada di dalam dunia? Agar melalui umat Tuhan, segala bangsa yang lain, yang asing mendapat berkat. Jadi janji Tuhan kepada Abraham dan keturunannya, dan kita adalah keturunan Abraham, kita adalah keturunan dari janji yang diberikan Yahweh kepada Abraham karena kita percaya akan datangnya pemerintahan Allah yang itu, kita tidak percaya bahwa kekuasaan, uang, militer, bully, dan yang lainnya akan menjadi raja selama-lamanya, kita tidak percaya itu. Kita percaya bahwa mulai dari 2.000 tahun yang lalu dan akan terus-menerus memenuhi bumi semakin nyata yang menjadi raja atas sejarah adalah Tuhan, Yesus Kristus. Dan bagaimana kita dapat menjadi umat yang mengadministrasikan berkat-berkat dari Tuhan kepada bangsa-bangsa jiki kita tidak dapat bersukacita atas bahagianya orang lain, atas kesuksesannya orang lain, atas kehidupan. Iri hati adalah dosa yang fatal karena dia mencintai kematian, padahal dia membenci kematian, dia mencintai kekurangan padahal dia membenci kekurangan.

Dan apakah penghiburan, solusi dari masalah Saul? Solusinya tidak lain adalah terimalah kasih Allah itu, bukalah hati untuk kasih Allah itu, berikan dirimu untuk dikasihi oleh Allah. Solusinya bukan sesuatu latihan rohani yang berat, yang harus kamu lakukan, mudah-mudahan bisa kamu lakukan, dan kalau kamu lakukan kamu akan bisa mengatasi masalah kamu, bukan seperti itu. Solusinya adalah kamu membuka hati untuk ditolong oleh Tuhan. Dan bagaimana Tuhan menolong kita? Kata Katekismus Heidelberg, pertanyaan 1 jawaban 1, penghiburan kita ialah kita bukan milik diri kita sendiri, penghiburan kita ialah kita dimiliki oleh Yesus Kristus Juruselamat kita yangh setia. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari Kristus. Kutipan dari Paulusm Roma 8, tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan kita dari Kristus, kita adalah milik Kristus bukan milik diri kita sendiri dan itulah penghiburan kita, itulah solusi bagi iri hati. Bagaimana dimiliki oleh Yesus dan mengimani percaya bahwa kita dimiliki Yesus itu dapat membebaskan kita dari iri hati? Pertama-tama, Saudara kalau perhatikan iri hati itu esensinya apa? kita tadi sudah singgung, esensi dari iri hati adalah diskonten, esensi dari iri hati adalah apa yang saya tidak punya, sehingga iri hati itu dalam cara yang distortif itu cara yang eksentrik juga karena kehidupanmu berputar seolah-olah bukan dari dirimu sendiri, tapi kehidupanmu berputar di sekitar orang lain. Kamu lebih sibuk mengurusi apa yang orang lain berhasil capai dari pada yang kamu kerjakan, kamus ibuk mengurusi dia yang baru dipuji bos atau dia dapat A dari dosen, sementara kita dapat A minus. Kita sibuk mengurusi orang lain, sama saingan kita, tapi problematiknya adalah kita lakukan ini karena kita kosong dan kita berusaha mengisinya dengan menjadi Tuhan. Tetapi kalau kita mau menerima kenyataan bahwa Allah mengasihi kita di dalam Yesus dengan cara Dia mengosongkan diri, dengan Dia memiliki kita dan tidak mau melepaskan kita, dengan cara mengakui bahwa kita telah dibeli dengan darah Kristus ketika kita percaya, maka kita akan bisa dibebaskan dari itu. Orang yang iri selalu ribut mengenai dia memiliki apa, tapi dia kurang sadar bahwa dia dimiliki oleh siapa. Kita tidak melihat kepada siapa yang memiliki diri kita. Perkara kita punya sesuatu itu bisa hilang. Tapi yang tinggal tetap adalah kamu milik siapa, itulah penghiburan kita, itulah sekuritas kita. Anda bukan milik diri anda sendiri, anda dan saya adalah milik Yesus Kristus, Juruselamat kita yang setia. Anda milik Yesus, itu sangat mengkuatirkan bukan? Karena sekarang sekuritas sangat bergantung kepada Yesus, kita tidak nyaman karena kita tidak memegang setirnya. Bagaimana kalau Yesus berubah pikiran? Tapi Heidelberg Cathecism menghibur kita dengan menambahkan itu, kita dimiliki oleh Yesus, Juruselamat kita yang setia. Kita dimiliki oleh Yesus yang setia bukan raja yang semena-mena, tapi Yesus yang memberikan diriNya bagi kita. Dia yang sudah mengalahkan maut, Dia yang sudah mengalahkan kematian, Dia yang bangkit sebagai yang sulung, yang bangkit dari dunia orang mati. Yesus yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di sorga, yang adalah Raja bagi sejarah, Raja bagi segala yang ada, kita dimiliki oleh Yesus itu. Betapa kita berbahagia.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)