Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah » Iman yang percaya Kerajaan Allah tidak goncang
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Iman yang percaya Kerajaan Allah tidak goncang

Pdt. Jimmy Pardede

(Habakuk 2: 1-5)
Iman adalah hal yang dimiliki oleh orang-orang di dalam hal Kerajaan. Di dalam Yohanes 3 Yesus mengatakan karena Allah mengasihani dunia ini, Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya, yang beriman, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Ini merupakan kalimat yang ada pada konteks lebih besar yang sedang berbicara tentang Kerajaan. Yesus mengatakan “jika engkau tidak lahir dari atas, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Jika engkau tidak dilahirkan kembali, engkau tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Jadi tema pembahasan dari Yohanes 3 adalah mengenai Kerajaan. Dan di dalam ayat 16 Yesus mengatakan “siapa beriman, dia tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Ada banyak bagian di dalam Matius dan Markus yang menekankan tentang perlunya ada iman untuk mengerti Kerajaan Allah. Jadi iman bukan cuma sekedar keyakinan kosong, bukan cuma sekedar kepastian yang kita miliki walau tidak ada bukti. Bukan itu iman yang diajarkan oleh Kitab Suci. Kitab Suci mengajarkan bahwa firman berkait dengan iman, iman berkait dengan firman. Apa yang Tuhan firmankan itu diterima dengan sepenuhnya, itulah iman. Dan apa yang Tuhan mau nyatakan waktu Dia mau mendatangkan KerajaanNya, itu juga dipahami dengan iman. Jadi iman sebenarnya adalah respon ketika Tuhan menyatakan firman tentang Kerajaan. Tuhan mendeskripsikan Kerajaan dan Tuhan menyatakan seperti apa Kerajaan itu akan datang dan bagaimana kerajaan itu akan dihidupi oleh orang-orang percaya. Orang yang mendengarkan penjelasan dan juga apa yang Tuhan ajarkan tentang Kerajaan Allah, lalu mereka mau ikut, itulah orang beriman. Jadi beriman bukan hanya sekedar mengakui “saya percaya”, bukan juga hanya pegangan walaupun tidak ada bukti atau kebenaran. Iman selalu berkait dengan kerelaan untuk hidup di dalam Kerajaan Allah. Jadi di bagian awal saya sudah membahas bahwa iman bukan merupakan suatu keyakinan kosong, tapi iman merupakan suatu kerelaan untuk menghidupi hidup dengan cara Kerajaan Allah. Hidup dengan cara Kerajaan Allah hanya mungkin dilakukan kalau kita menghidupi kehidupan kita dengan tunduk kepada firman. Jadi Tuhan menyatakan firmanNya dan kita menyetujui, mengikuti, menjalankan dengan penuh sukacita, itu adalah iman.

Sekarang dipengertian berikutnya, saya akan membahas dari Perjanjian Lama. Habakuk 2: 1-5, di dalam bagian ini saya ingin membahas mengenai iman dikaitkan dengan keadaan hidup di tengah-tengah penghukuman Tuhan. Ini adalah pengertian yang sering dibahas di dalam Kitab Suci yaitu orang hidup dengan tunduk kepada Tuhan namun mengalami keadaan yang penuh sengsara, penderitaan, bahkan pembuangan. Orang-orang yang beriman adalah orang yang mengerti bahwa Kerajaan Allah tidak kacau, rusak dan hancur seperti yang dia alami. Akan ada kerajaan yang baik itu tiba dan menyingkirkan segala yang buruk. Namun sebelum kerajaan itu datang, orang yang beriman mengarahkan hati kepada Tuhan dan tidak menjadi kecewa kepada Dia. Ini poin kedua yang saya bahas, pertama saya sudah mengingatkan bahwa iman berkait dengan firman. Tuhan berfirman apa, saya percaya. Tuhan menyatakan apa, saya mengakuinya sebagai kebenaran. Kalau saya tidak terima firman Tuhan, saya akan menerima semua yang dari tradisi manusia untuk menafsirkan hidup. Jadi saya akan menafsirkan hidup berdasarkan apa yang tradisi saya katakan. Ada banyak hal yang kita jalani dalam hidup. Kita jalani tanpa mempertanyakan mengapa harus menjalani. Saudara akan menjalani hidup seperti umumnya orang-orang menjalani hidup di dalam tradisi yang Saudara sedang jalani. Jadi ada tradisi yang membuat kita menjalani hidup kita tanpa mempertanyakan kenapa. Tradisi manusia semua akan membakukan hal-hal yang terjadi dulu sampai sekarang menjadi kebiasaan hidup yang kita jalani. Manusia memang perlu tradisi, manusia memang tidak bisa lepas dari tradisi. Tapi tradisi tidak bisa menjanjikan masa depan. Itu sebabnya ketika Tuhan mau menyatakan KerajaanNya, KerajaanNya adalah Kerajaan yang dinyatakan dari akhir ke zaman kita, dari titik omega ke zaman kita sekarang. Sedangkan tradisi manusia adalah tradisi yang bergerak dari masa lalu ke sekarang. Bagaimana hidup? Berdasarkan tradisi, ini yang harus terjadi. Tapi Alkitab menggambarkan ini yang Tuhan akan lakukan, maka kamu harus lakukan ini. Waktu Tuhan panggil Abraham, Tuhan tidak mengatakan “Abraham, tradisi Mesopotamia-mu seperti ini, maka kamu harus hidup seperti ini. Jalani hidup yang sama dengan tradisi masa lalumu”. Tapi Tuhan mengatakan “lepas dari tradisimu dan engkau sekarang akan Aku berikan tanah. Keturunanmu akan mewarisi tanah ini”, itu pasti akan terjadi. Abraham belum memunyai keturunan, “anakmu yang kemudian, keturunanmu akan jadi berkat bagi banyak bangsa”, itu pun belum terjadi. Semua ini adalah in the future, semua ini adalah masa depan, belum terjadi. Jadi cara Tuhan membentuk tradisi itu unik sekali, bukan apa yang kita tahu di dalam sejarah, tapi apa yang akan terjadi nanti. Tuhan menjanjikan ada Kerajaan, Tuhan menjanjikan Mesias akan datang, Tuhan menjanjikan pemulihan di langit dan bumi, Tuhan menjanjikan langit dan bumi yang baru. Dari sini orang Kristen membentuk tradisinya, bukan apa yang terjadi di masa lalu, tapi apa yang Tuhan janjikan nanti akan terjadi. Itu sebabnya orang-orang Kristen di Perjanjian Lama adalah orang-orang yang senantiasa menantikan Yesus datang. Tapi repot, kalau memegang kalimat yang menyatakan apa yang akan terjadi nanti, tidak ada bukti yang kelihatan sekarang, karena itu baru nanti. “Nanti semuanya akan baik”, “kapan?”, “nanti”. Untuk terima “nanti” ini perlu iman. Ini bedanya, orang yang tidak beriman maunya sekarang “mana, mengapa belum beres, mengapa kerja seperti ini, mengapa bumi seperti ini?”, itu orang yang tidak beriman. Tapi orang yang mengatakan “nanti akan baik, saya mesti ikut baik-baik di dalam rencana Tuhan”, itu beriman. Ini yang sudah saya bahas.

Sekarang saya lanjutkan di Habakuk 2, yaitu iman adalah kesadaran bahwa Kerajaan Allah tidak akan goncang apa pun yang terjadi di sekitar saya. Kerajaan Allah tidak ikut-ikutan goncang karena saya goncang. Saya goncang, Kerajaan Allah tidak. Saya bisa kacau, Kerajaan Allah tidak. Saya bisa mati, Kerajaan Allah tidak mungkin. Saya bisa ada dalam keadaan sangat sulit, sangat kacau dan sangat penuh penderitaan, Kerajaan Allah tidak akan pernah sulit, kacau dan penuh penderitaan. Ini hal kedua tentang aspek iman. Di sini agak repot, kita bahas poin pertama, poin kedua, yang dengan poin pertama tidak dengar poin kedua, yang dengar poin kedua tidak dengar poin pertama. Meskipun tidak urut kita ketahui, kita dapat menjalani apa yang kita dapat menjadi bagian kita. Tuhan tuntut kita untuk menjalani apa yang Tuhan percayakan, bukan seluruh kebenaran Tuhan nyatakan lalu Saudara bertanggung jawab untuk semuanya. Jadi apa yang Tuhan mau Saudara kerjakan, harus dengan peka Saudara tangkap. Iman berarti saya tahu Kerajaan Allah tidak akan goncang. “Mana mungkin tidak goncang, lihat sekelilingmu goncang”, “sekeliling saya bisa goncang, tapi Kerajaan Allah tidak mungkin goncang seperti ini”. Inilah pengertian yang sedang dibagikan di dalam Kitab Habakuk. Kitab Habakuk sangat terkenal karena pasal 3: 17 “sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan. Sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku”. Anggur, ara dan zaitun tiga jenis pohon ini selalu diulang-ulang dalam Perjanjian Lama. Tentu kita mengerti mengapa ini diulang-ulang karena daerah Mediterania penuh dengan anggur, ara dan zaitun. Tuhan pakai ini menjadi gambaran akhir dimana Kerajaan Tuhan datang. Apa yang terjadi kalau Tuhan pulihkan bumi? Yang akan terjadi adalah kamu akan duduk di bawah pohon anggur dengan tidak digentarkan siapa pun. Kamu akan menikmati hasil anggurmu yang berlimpah. Kamu akan duduk tenang di bawah pohon ara tanpa dikacaukan siapa pun dan apa pun. Kamu akan menikmati hasil sulung dari pohon aramu dan kamu akan menikmati hasil zaitun yang berlimpah. Jadi pohon anggur, ara dan zaitun adalah lambang kesempurnaan kerajaan. Kalau Habakuk mengatakan poin yang Tuhan janjikan justru yang tidak ada, ini berat untuk diucapkan. Sangat sulit bagi Habakuk untuk mengatakan pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, pohon zaitun mengecewakan, karena sambil mengatakan demikian ini sedang mengatakan Kerajaan Allah tidak juga kelihatan. Kerajaan Allah tidak juga mendapatkan bentuknya dalam kehidupan saya sekarang. Jadi mengapa kita harus hidup di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk kekacauan karena dosa ini? Penderitaan di mana-mana, kekacauan di mana-mana, dan bukan saja saya menjadi korban untuk segala dosa ini, saya pun bersumbangsih di dalam kejahatan dan dosa. Mengapa harus lama-lama tinggal di dunia yang rusak dan bobrok seperti ini? Sangat mudah bagi orang-orang untuk meniadakan keindahan ciptaan Tuhan lalu terlalu negatif dengan keadaan yang terjadi oleh karena dosa. Sehingga orang kehilangan pengharapan untuk terjadinya perbaikan di bumi. Dan kehilangan pengharapan ini membuat ajaran dari orang-orang seperti Plato, neo-platonisme, plotinus dan lain-lain, mudah sekali masuk. “Bumi memang sudah rusak, tapi tidak apa-apa, kita tidak akan tinggal di sini lama-lama. Kita akan mendapat tempat yang bahagia selama-lamanya di sana nanti”. Tapi tadi saya sudah mengatakan bahwa ini namanya Tuhan kita adalah Tuhan yang memberikan solusi di tempat dimana tidak ada problem. Yang problem bumi, solusinya di sorga, ini mirip dengan Saudara punya problem di kuliah tapi solusinya di pelayanan. Kalau ini cara pandang kita tentang Tuhan maka kita sedang menghina Dia. Manusia jatuh dalam dosa, maut menjadi akibat dari manusia jatuh dalam dosa. Lalu Tuhan mengatakan “biarkan mati, biarkan hancur, Aku siapkan kamu tempat di sorga”, ini namanya membereskan problem dengan menunjuk ke tempat yang memang tidak ada problem. Di sorga memang tidak ada problem maut, di sorga tidak ada problem yang dialami di bumi. Sorga bukan solusinya, bumi yang diperbarui itulah solusinya. Karena Tuhan kita bukan tuhan yang lari, Tuhan kita adalah Tuhan yang menangani masalah dan hancurkan problem lalu memberikan solusi di tempat yang ada problem. Apa problem manusia? Mati, maka Tuhan berikan kebangkitan. Di seluruh Kitab Suci, Tuhan tidak memberikan sorga sebagai pengharapan, tapi kebangkitan. Baca 1 Korintus 15 dimana Paulus berkali-kali menegaskan tentang kebangkitan, terus bicara kebangkitan. Kalau kamu tidak percaya Yesus bangkit, kamu pun tidak akan bangkit, percuma jadi Kristen kalau tidak ada kebangkitan. Dia tidak mengatakan “percuma jadi Kristen kalau tidak ada sorga”. Jangan salah, saya percaya ada sorga, tapi saya percaya sorga bukan solusi final. Solusi final adalah kebangkitan. Kalau bumi punya problem karena Tuhan tidak hadir di sini, maka solusinya adalah Tuhan bersama manusia, Immanuel. Kalau kematian adalah problem maka kebangkitan adalah solusinya. Kalau dosa adalah problem maka kekudusan adalah solusinya. Kalau pemberontakan kepada Tuhan adalah problem maka penyembahan kepada Tuhan adalah solusinya. Dan ini yang Alkitab secara ketat ajarkan. Itu sebabnya waktu kita bicara tentang hidup di bumi, harus lihat ini sebagai sesuatu yang rusak dan kacau tapi akan Tuhan perbaiki. Kapan Tuhan perbaiki? Belum saatnya, namun Kerajaan Tuhan tidak pernah menjadi goncang dan hancur hanya gara-gara Kerajaan Israel hancur. Pada zaman dulu semua bangsa punya dewanya masing-masing. Dan ketika mereka menyembah dewa-dewa mereka, mereka akan kaitkan dewa mereka dengan kekuatan militer negara mereka. Mesir akan membanggakan kehebatan dewa matahari dengan menunjukan kemampuan mereka menaklukan negara lain. Kalau Mesir sudah mengalahkan Mesopotamia, maka dewa matahari lebih kuat dari pada dewa-dewa Mesopotamia. Tapi kalau orang Mesopotamia bangkit lalu serang balik Mesir dan taklukan Mesir, maka dewa-dewa Mesopotamia lebih kuat dari pada dewa-dewa Mesir. Kalau orang Babel mau menaklukan orang Israel, siapa yang akan menang? Orang Israel sepakat mengatakan “Tuhan akan menang. Tuhan tidak akan biarkan namaNya dipermalukan. Tuhan tidak akan berikan kemuliaanNya kepada yang lain. Dia tidak akan membiarkan namaNya dirusak, Dia pasti akan menang”. Tapi orang-orang tidak sadar, bahwa untuk menghukum Israel, Tuhan rela namanya dicoret, dirusak, direndahkan bahkan dihancurkan. Tuhan kirim Asyur lalu hancurkan Israel Utara. Dan sekarang Tuhan sedang kirim Babel untuk hancurkan Israel Selatan, Yehuda. Tuhan melakukan ini karena murkaNya kepada Israel. “Kalau Tuhan menghukum kami, nanti namaMu bagaimana?”, Tuhan biarkan untuk sementara namaNya seperti dirusak. Ketika Kerajaan Israel dihancurkan, seolah-olah Kerajaan Tuhan ikut goncang bersama hancurnya Kerajaan Israel. Dan ini pemikiran yang salah. Lalu bagaimana kita mengerti ini? Kita harus melihat bahwa Kerajaan Allah tetap stabil di dalam segala keadaan. Bahkan dengan lebih dalam lagi kehendak Tuhan tidak pernah dibatalkan oleh apa pun. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga, kehendak Tuhan pasti jadi. Maka apa yang terjadi tidak akan membatalkan kehendak Tuhan. Ini yang Tuhan mau ajarkan kepada orang-orang di bumi juga kepada umatNya. Itu sebabnya banyak cerita atau kisah-kisah seperti Habakuk, kemudian kisah hidup Ayub. Ayub hidupnya menderita padahal dia adalah orang benar. Apakah ini berarti Tuhan sedang goncang, kebenaranNya sedang tidak dinyatakan atau penghakimanNya tidak seadil yang kita pikir? Tidak, karena kekacauan yang dialamo Ayub tidak sama dengan Tuhan gagal memperlakukan manusia dengan adil. Penderitaan Ayub tidak sama dengan Tuhan gagal memelihara umatNya. Kesulitan Ayub tidak berarti Tuhan seenaknya menghukum orang yang benar diberikan upah orang yang salah. Jadi ada banyak sebab akibat yang kita perlu tahu, tapi ada banyak sebab yang tidak langsung kena ke akibat yang bisa dikaitkan, untuk itu kita perlu iman. Karena Saudara sulit mendapatkan penjelasan yang bisa dipahami mengenai hal ini, kecuali fakta Kerajaan Allah tidak terpengaruh dengan apa pun yang terjadi, oleh karena Kerajaan Allah tetap stabil dan kuat. Ini yang menjadi kebingungan dari Habakuk, mengapa Tuhan melakukan ini, mengapa Tuhan tidak membela umatNya, mengapa Tuhan biarkan mereka? Habakuk bergumul, tapi untungnya Habakuk juga memberikan jawaban.

Jawabannya adalah ada dalam kemampuan kita untuk memisahkan antara Kerajaan Alalh dan Tuhan dengan apa yang Dia kerjakan sementara ini. Orang beriman sudah mulai melihat atau dilatih untuk melihat bahwa Kerajaan Allah luasnya lebih besar dari pada kehidupan kita sendiri. Itu sebabnya ketika Ayub mengalami kesulitan, mengapa hidupnya seperti ini, mengapa Tuhan tidak adil, Tuhan mengajak dia untuk melihat langit, mirip dengan Abraham. Lihat langit, langit itu terus jadi solusi. Tuhan mengatakan kepada Ayub “coba lihat langit, siapa yang membentangkan itu? engkau?”, “bukan saya, tapi Tuhan”. Dalam pemikiran orang zaman dulu langit itu seperti satu kubah yang keras sekali, yang Tuhan bentangkan sendiri. Kubah yang benar-benar berat, keras, lebih keras dari pada besi baja dan apa pun, yang bisa bentangkan itu cuma Tuhan. Saudara mungkin bentangkan kemah kain, Tuhan bisa bentangkan plat yang keras yang namanya langit. Lalu setelah Tuhan bentangkan seorang diri, tidak minta bantuan siapa pun, Tuhan juga yang menempelkan bintang, bulan dan benda-benda langit lainnya. Tentu ini worldview-nya orang dulu, bukan cara pandang orang setelah mengerti tata surya. Tuhan yang kerjakan itu seorang diri. Lalu Ayub disuruh jawab “dimanakah engkau waktu Aku melakukan ini? dimanakah engkau waktu Aku membatasi samudra?”, jawaban Ayub “saya tidak ada, saya tidak punya pengetahuan akan hal-hal ini”. Jadi Tuhan mau mengingatkan yang Dia kerjakan bukan cuma sesempit yang kita alami sekarang. Poin ini penting sekali, apakah Tuhan identik dengan pengalaman sekarang? Saya ini orang yang mungkin hidupnya cuma 80 tahun, atau kalau kuat 90, lalu sepanjang hidup saya bisakah saya menilai performa Tuhan melalui kehidupan saya, apakah bisa? Kalau pun Ayub boleh bertanya, Tuhan tidak izinkan Ayub menjadi orang yang cuma menantang Tuhan. Tanya boleh, tapi ketika Tuhan menjawab, terima jawaban dengan rendah hati. Tuhan tidak pernah marah karena Ayub bicara keras waktu dia bertanya kepada Tuhan. Tapi setelah itu dia jawab dan jawaban itu yang menunjukan kualitas iman dari Ayub, karena Ayub mengatakan “sekarang saya akan diam dan duduk dalam debu. Dulu saya cuma dengar kata orang tentang Engkau, tapi sekarang mataku sendiri sudah memandang engkau”, ini namanya orang beriman bertanya. Apakah Tuhan memaksudkan Ayub menjalani hidup hanya dalam tempo yang segitu saja? Tidak, akan ada hal yang Tuhan pulihkan. Ini menjadi tema penting. Dan kita sudah tahu ini, karena ini menjadi pegangan semua orang Kristen, “suatu saat Tuhan akan memperbaiki langit dan bumi”, “amin”. Tuhan akan taklukan kematian karena Kristus bangkit, puji Tuhan. Tuhan akan kalahkan dosa dan maut, puji Tuhan. Tapi tetap sulit bagi kita untuk menjalani hal sebelum itu terjadi. Kita sudah tahu endingnya tapi kita tetap protes di tengah-tengah. Ini yang dikutip oleh Paulus dalam Roma 1, apa itu orang beriman? Orang beriman adalah orang yang bertanya kepada Tuhan lalu menyadari bahwa Tuhan menjawab dengan sangat indah dan baik meskipun tidak tuntas menjawab apa yang dia tanya. Jawaban Tuhan tidak tentu harus menjawab apa yang dia tanya, tapi jawaban Tuhan hampir selalu akan mengubah cara kita bertanya. Pada akhirnya Saudara akan mengubah cara bertanya. Saya akan ambil contoh sedikit untuk pengertian ini, misalnya kalau Saudara masih kecil akan bertanya ke orang tua “kalau matahari tidurnya di mana?”, bagaimana orang tua akan menjawabnya? Kita akan bingung menjawabnya “matahari itu tidak tidur di dalam rumah”, “matahari tidak punya rumah? Kasihan, kalau siang kepanasan”. Saudara tidak akan bisa menjawab ini. Sebenarnya pertanyaannya terlalu kerdil, tapi untuk ukuran anak kecil boleh saja. Saudara mencoba memberi penjelasan, akhirnya pertanyaan anak itu yang berubah, misalnya “pa, berapa lama waktu yang diperlukan Pluto untuk mengitari matahari?”, pertanyaannya tidak lagi matahari tidur dimana. Tuhan hargai pertanyaan yang jujur, tapi jawaban Tuhan kadang-kadang membuat kita berubah tanya. Kalau Saudara bertanya lalu Tuhan tidak jawab persis dengan apa yang Saudara harap, coba cari tahu pertanyaan Saudara perlu dikembangkan di mana. Yesus sering pakai metode ini waktu menjawab pertanyaan murid-murid. Coba nanti baca lagi Injil, Yesus seringkali jawab dengan cara yang membuat murid-murid harus menyusun kembali pertanyaan mereka. Inilah adalah jawaban yang paling hebat di zaman rabinik. Bagi para rabi, rabi paling hebat adalah rabi yang memberikan jawaban yang membuat si penanya sadar pertanyaannya kurang cukup untuk bisa dilontarkan. Itu sebabnya Yesus adalah Rabi yang sangat hebat, karena menurut Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Yesus sering menjawab pertanyaan dengan cara men-challenge pertanyaan itu. Pak Ivan di retret hamba Tuhan mengatakan bahwa Pdt. Jadi itu seperti ini, begitu Saudara tanya, dia jawab dan Saudara tidak siap untuk jawaban dia. Ini yang jadi dorongan serius dari Tuhan, kamu boleh tanya, tapi kalau dijawab mungkin ada hal-hal yang membuat kamu harus mengubah cara kamu melihat, berpikir, hidup dan cara kamu bertanya. Itu namanya pertumbuhan iman. Iman dipertumbuhkan karena hal itu. Orang benar akan hidup oleh iman, bukan karena pertanyaannya terjawab semua.

Lalu bagaimana mengerti iman? Iman berarti sadar bahwa hidup saya terlalu kecil untuk dijadikan contoh keberhasilan Tuhan. Orang beriman akan sadar dirinya dan kehendak Tuhan itu tidak identik, dirinya dan suksesnya rencana Tuhan itu tidak sama. Sehingga kita tidak bisa membuat kalimat-kalimat yang terlalu berani dengan mengatakan “Tuhan sudah gagal karena saya sudah gagal”. Banyak orang seperti itu “tidak ada Tuhan, karena hidupku menderita”, “kalau hidupmu menderita mengapa bisa jadi tidak ada Tuhan?”, “itu kesimpulan yang bisa saya ambil”. Kalau Saudara dan saya masih berpikir seperti itu, mungkin kita perlu keluar dari kemah kita lalu lihat langit, kemudian bertanya lagi di dalam hati, “siapa yang membuat langit?”, “Tuhan”, “Tuhan membuat langit untuk kamu atau bukan?”, “bukan”, karena banyak benda di langit yang kita belum tahu sampai sekarang, belum ketemu sampai sekarang, bahkan terlalu banyak, dan itu sudah ada diciptakan oleh Tuhan. Aspek kedua dari iman adalah sadar Tuhan memanggil dan memberikan kesempatan untuk orang yang tidak layak itu bertemu Tuhan. Orang yang beriman adalah orang yang sadar Tuhan terima dia, ini dari Martin Luther, penerimaan bahwa saya sudah diterima oleh Tuhan. Mengapa Tuhan mau panggil saya? Justru karena saya rendah. Tuhan mau kejar orang yang rendah untuk diberikan belas kasihan. Tuhan cari orang yang tidak berarti untuk diberikan anugerah. “Kalau begitu siapa saya?”, “orang yang tidak berarti”, “kalau begitu saya tidak mendapatkan kesempatan datang ke Tuhan?”, “justru kamu yang akan dipanggil oleh Tuhan untuk datang kepada Dia”. Orang yang beriman adalah orang yang menyadari Tuhan mau merendahkan diriNya untuk bertemu orang rendah seperti saya. Itu sebabnya banyak orang Israel tidak bisa bertemu Yesus karena mereka tidak melihat dirinya sebagai diri yang kosong dan tidak berarti. Yesus datang ke tempat rendah dan mereka tidak mau datang ke tempat rendah. Tuhan mau bertemu dengan kita di tempat yang paling hina, maka Yesus mati di kayu salib. Mengapa Yesus disalib? Karena Yesaya 53 mengatakan itulah tempat paling rendah, itu tempat dimana manusia harusnya bisa disimbolkan di situ. Salib itu adalah keadaan yang sangat rendah, kalau Saudara membaca catatan sejarahnya, ada peristiwa yang membuat tradisi salib itu sangat mengerikan di abad ke-1. Kalau begitu mengapa Kekristenan mula-mula memakai salib sebagai lambang mereka, bukankah Yesus bangkit, mengapa tidak memakai kebangkitan sebagai simbol, mengapa tidak pakai hal-hal mulia yang Yesus lakukan, mengapa pakai salib? Karena orang Kristen mula-mula sadar Yesus disalib untuk ketemu kita, karena tempat kita yang sangat hina ini hany cocok dilambangkan dengan salib. Hanya orang beriman yang sadar dirinya ada di situ. Itu sebabnya Paulus mengatakan orang beriman itu akan dibenarkan, karena orang beriman sadar dirinya kecil, sadar dirinya tidak berarti, sadar dirinya tidak pernah bisa dibandingkan dengan kemuliaan dan kehebatan Tuhan mengerjakan segala sesuatu.

Lalu hal ketiga adalah kita sadar kalau Kerajaan Allah tidak goncang maka kehidupan di sini yang akan terkonfirmasi sesuai dengan rencana Tuhan karena kedatangan Kerajaan itu akan punya harapan. Ada harapan, karena Kerajaan Allah yang tidak bergoncang itu yang akan menjadi fondasi, itu yang akan memulihkan keadaan goncang di sini. Maka Saudara tidak bisa mengatakan “karena keadaan di sini goncang, saya tidak ada harapan”, ada harapan. Harapan dari Kerajaan Allah yang akan datang itu. Maka orang yang punya iman, lihat kepada kerajaan itu dan mengatakan “ketika kerajaan itu datang semua akan beres, semua akan baik, semua akan pulih sesuai rencana Tuhan”. ini sebenarnya adalah penghiburan besar bagi orang beriman. Orang beriman lihat gedung, bangunan kota besar Allah meskipun orang lain hanya lihat padang gurun. Alkitab mengatakan orang-orang ini pahlawan iman dalam Ibrani 11, mungkin kita tidak perlu bilang mereka pahlawan, mereka adalah orang beriman, tidak ada yang semacam pahlawan iman karena orang beriman itu bukan pahlawan. Orang beriman adalah orang yang normal dan wajar, kalau kata Pdt. Billy. Kita ini yang tidak wajar, kita mengatakan ada spiritual giant, Pdt. Billy mengingatkan tidak ada spiritual giant, yang ada adalah orang biasa, kita ini yang terlalu kecil, maka melihat mereka seperti raksasa. “Orang itu hebat, memunyai kehidupan spiritual yang luar biasa”, tidak ada yang luar biasa, seharusnya semua orang seperti itu. Kita yang terlalu kerdil karena kita gagal seperti itu. Maka demikian juga dengan pengertian ini, orang-orang beriman dalam Ibrani 11 adalah orang-orang yang seharusnya menghidupi kehidupan seperti itu. Menyadari bahwa Kerajaan Tuhan dinyatakan dan tidak ada apa pun yang bisa menggagalkan. Saudara dan saya bisa memunyai kekuatan karena hal ini. Tahu Tuhan akan memulihkan KerajaanNya, tahu Dia akan bereskan semuanya di sini. Tuhan tidak ajak kita untuk lari, Tuhan akan bereskan semuanya di sini. Yang sembarangan hidup, Dia bereskan di sini. Yang mendapatkan kesulitan karena ditekan, Dia akan bereskan juga di sini. Dan di dalam keadaan seperti ini orang akan memunyai kekuatan untuk hidup di sini, bukan mau lari. Banyak orang mengatakan “hidup di bumi sudah begitu kacau, mari kita bunuh diri dan masuk sorga”. Alkitab tidak mengajarkan begitu, Alkitab mengajarkan Dia akan perbaiki di sini. Maka Saudara tidak lari dari sini, Saudara tunggu di sini. Kalau Tuhan janjikan bumi akan diperbaiki, tidak perlu ke Mars. Ketika Tuhan menjanjikan akan memperbaiki semua, kita dengan sangat kuat mengatakan “Tuhan akan memenangkan daerah ini juga, ini daerah Tuhan juga. Tuhan tidak akan melupakan kami, Tuhan tidak akan lupakan perjuangan kami, Tuhan tidak akan lupakan apa yang kami perjuangkan. Tuhan akan mahkotai semua yang baik yang kami usahakan untuk kemuliaan Tuhan”.

Hal keempat, iman berarti kita sadar kewajiban, bukan hanya sadar hak. Orang rendah hati bukan selalu tanya “apa yang bisa saya dapat”, tapi orang rendah hati selalu mempertanyakan “apa yang harus saya kerjakan?” Iman tidak pernah pasif, iman akan mendorong diri untuk kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab. Orang yang beriman adalah orang yang paling gigih. Kalau Saduara menyadari konsep iman di dalam Alkitab, orang beriman itu adalah orang yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun, karenanya imannya. Orang mengatakan “iya, saya peraya, lalu angkat tangan”, orang beriman bukan seperti itu. Orang beriman adalah orang yang didorong oleh imannya, sadar kewajiban. “Saya harus bekerja bagi Tuhan, bagaimana saya bisa santai”. Paulus orang beriman, itu sebabnya dia pergi ke seluruh tempat untuk memberitakan Injil. Ini yang dia contohkan, iman berarti kesadaran bahwa Tuhan yang membenarkan dan saya harus bertanggung jawab kepada Dia.

Ini yang bisa kita lihat dalam pengertian iman, ada 4 hal dan itu sebabnya Habakuk mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan dia untuk menulis semua penglihatan dalam loh-loh batu. Penglihatan akan rencana Tuhan yang besar. Tahu tidak, apa yang terjadi pada kamu sekarang cuma bagian kecil dari rencana Tuhan yang besar, kamu harus tanggung ini. Mengapa saya harus tanggung? Karena kamu orang beriman. Orang beriman harus sadar bahwa Kerajaan Allah lebih besar dari pada apa yang kita alami, tapi yang kita alami itu tidak pernah Tuhan buang dari KerajaanNya. Tuhan memakai pengalaman kita untuk mendirikan KerajaanNya. Kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh orang-orang percaya dijalani dengan maksud menjadi berkat sehingga Kerajaan Allah bisa dinyatakan. Lalu Kerajaan Tuhan juga dinyatakan dan diterima oleh orang-orang ini dengan kesadaran bahwa mereka tidak layak. Tuhanlah yang mengambil mereka untuk mendapatkan berkat yang begitu limpah, yang Tuhan mau berikan. Dan ini membuat kita menyadari bahwa setiap orang yang mau memperjuangkan kebenaran dan keadilan, dia akan mendapatkan kelegaan dari Tuhan. Siapa yang mau memperjuangkan kekudusan, keadilan, kebenaran Tuhan, dia akan mendapatkan itu. Ketika orang berseru “dimana keadilanMu Tuhan?”, Tuhan mengatakan “Aku akan menyatakannya”. Maka orang yang terus mati-matian memperjuangkan untuk hidup adil, dia akan mendapatkan kelegaan dari janji Tuhan. Dari sini kita bisa mengerti mengapa doa Nabi Habakuk begitu indah dan kuat. Di dalam pasal ke-3, dia mengatakan bahwa Tuhan bekerja dengan sangat limpah. Tuhan bekerja dengan sangat menakutkan. Lalu Tuhan kiranya menghidupkan itu dalam lintasan tahun. Setiap saat, setiap kali saya menjalani hidup, saya menyadari hal ini, ini yang Habakuk minta. Supaya saya tahu Tuhan dan KerajaanNya terlalu besar untuk dinilai oleh papa yang terjadi pada saya sekarang. Lalu saya sadar bahwa Tuhan dan KerajaanNya adalah harapan saya untuk mendapatkan kebaikan yang melampaui hidup. Meskipun pohon ara tidak ada bunganya, pohon anggur tidak ada buahnya, hasil pohon zaitun mengecewakan, itu tidak apa-apa. Karena Kerajaan Tuhan lebih besar dari pada momen ini. Kerajaan Tuhan lebih besar dari pada tahun 2019, lebih besar dari apa yang kita alami sekarang, Kerajaan Tuhan adalah pegangan bagi kita untuk menyadari ada pengharapan. Dan Kerajaan Tuhan adalah alasan mengapa kita berjuang. Maka biarlah kita masuk tahun 2019 dengan kesadaran apa yang terjadi di tahun 2019 tidak bisa mengkutubkan seluruh pekerjaan Tuhan, kita tidak tahu ke depan kita akan berhasil atau tidak, seberapa baik kita melayani Tuhan, seberapa baik kita menjalani hidup. Tapi kita tidak bisa kurung Kerajaan Allah hanya di tahun 2019. Kita tidak tahu berapa besar yang bisa kita nikmati di tahun ini, tapi kita tidak bisa mengurung rencana Tuhan hanya di dalam kesempitan satu tahun ini saja. “Tahun 2019 buruk berarti Kerajaan Tuhan gagal”, tidak. Lalu kita bisa mengerti bahwa Kerajaan Allah akan dinyatakan dan orang-orang yang rendah dan tidak berarti yang akan menikmatinya. Dan kita menyadari ada tanggung jawab “saya perlu masuk ke tahun 2019 dengan satu kesadaran bahwa saya harus memperjuangkan apa yang perlu supaya Kerajaan Tuhan dinyatakan. Saya mesti kerja lebih giat lagi, saya mesti studi lebih baik lagi dan mesti kerja dengan jujur. Saya mesti punya relasi yang lebih baik degan orang-orang, saya mesti jadi berkat”. Mengapa kita harus menjadi berkat? Karena kita harus rendah hati, kita mesti merasa tidak layak dan kita harus kerjakan apa yang perlu untuk Kerajaan Allah dinyatakan, ini orang rendah hati. Bukan dengan kesombongan, pengakuan kehebatan dia akan melakukan sesuatu. Terakhir, di tahun 2019 ini adalah tahun dimana kita menyadari Tuhan pakai orang-orang untuk melakukan sesuatu karena iman, bukan karena apa yang dia mampu kerjakan tapi karena iman. Iman yang menyadari ada Kerajaan Allah yang harus diperjuangkan, iman yang menyadari ada Tuhan yang memunyai kehendak dan kehendakNya adalah baik semata. Maka Saudara akan berjuang bukan terus putar dalam pergumulan yang tidak habis-habis. Semua orang boleh bergumul tapi selalu ada target bergumul dan lewat sampai berapa lama. Kalau kita terus jatuh dalam pergumulan yang sama, akan sangat sulit bagi kita untuk menikmati kehidupan dari perspektif iman seperti yang Tuhan janjikan. Kita perlu pikirkan baik-baik, “saya jatuh dalam dosa”, mari lepas, mari hidup kudus, mari tinggalkan dosa. “Saya terus jatuh dalam keadaan mengasihani diri”, berhenti mengasihani diri. “Saya terus jatuh dalam dosa kepahitan kepada orang”, berhenti benci sama orang. “Saya terus menjadi orang yang licik, terus tipu orang, bertobat dan bayar balik semua orang yang pernah dirugikan. Maka dengan model hidup yang baru dan sadar “saya harus punya hidup yang beres”, baru bisa masuk dalam tahun 2019 sebagai orang yang beriman dan menyadari bahwa Kerajaan Allah dinyatakan bukan lewat hidup tapi lewat kesetiaan Tuhan mau menyatakannya. Saya harap kita tinggalkan 2018 dengan segala hal yang mendukakan Tuhan di belakang, lalu masuk 2019 dengan kesadaran “saya orang beriman, saya tidak bisa hidup seperti orang yang tidak menerima Tuhan, saya tidak bisa hidup sebagai orang yang menolak Kerajaan Tuhan, saya harus menjadi orang yang beriman”. Biarlah tahun ini menjadi tahun pembuktian kita kepada Tuhan bahwa Tuhanlah yang beranugerah dan kita mau setia kepada Tuhan. Kiranya Tuhan menuntun kita masuk ke tahun yang baru dengan penuh kekuatan oleh karena berkat Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)