Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah Tematik » Sola Scriptura
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Sola Scriptura

Vik. Dewi Arianti

(2 Timotius 3: 14-17, 2 Petrus 1: 19-21)
Hari ini kita akan mengingat salah satu poin dari sola-sola yang dikemukakan oleh reformasi. Keunikan dan signifikansi dari pada reformasi adalah kata yang sederhana yaitu sola. Kita tidak bisa mengatakan “tinggal ditambahkan satu kata sola saja, semuanya beres”, karena untuk mengembalikan sola ini ke dalam posisi yang seharusnya, ternyata perjuangan Reformasi yang didahului dengan orang-orang pra-reformasi yaitu tahun sekitara 1200an, 1300an, itu menambahkan kata sola tidak seperti Saudara dan saya menambahkan satu kata editan ke dalam satu buku, tapi mereka membayarnya dengan perjuangan, pergumulan, peperangan dan bahkan dengan mati dipanggang hidup-hidup di atas kayu-kayu kering. Kita bisa mengingat ratusan tahun sebelum reformasi Luther, 1517, maka ada seorang bernama John Wycliffe 1329-1384, dia adalah orang yang mulai mempertanyakan ajaran-ajaran dari Gereja Katolik Roma saat itu dan kemudian mulai mengajarkan kepada jemaat pengajaran yang benar, kemudian mulai menerjemahkan Alkitab, dan ternyata Wycliffe mengalam condemn yang besar dari Gereja Katolik Roma saat itu. Kemudian disusul Jan Hus 1374-1415, Jan Hus bahkan sampai dibakar hidup-hidup karena dia insist menerjemahkan Alkitab, dan saat itu Alkitab tidak ada dalam bahasa mana pun selain bahasa Latin, Ibrani, Yunani. Tidak ada dalam Bahasa Inggris, Prancis, Jerman. Lalu kemudian disusul William Tyndale, 1526, dia meninggal dan kemudian di atas bakaran kayu dia mengatakan satu doa yang sangat mengharukan “Lord, open the King of England’s eye”, supaya penerjemahan ini bisa dilakukan. Dan itu semua mendahului apa yang digumulkan juga secara keras dan mendalam oleh Luther, kemudian bergulirlah satu roda besar yang namanya Reformasi dan menggelinding sampai sekarang dan itu merupakan intervensi Tuhan.

Lalu apa yang mereka perjuangkan? Mereka memperjuangkan salah satunya adalah Sola Scriptura, hanya Alkitab yang memegang otoritas mutlak dalam kebenaran, hanya Alkitab yang memegang otoritas mutlak dalam penafsiran kebenaran, hanya Alkitab yang boleh mengatasi segala macam tradisi manusia, bahkan tradisi gereja yang mungkin sudah dikontaminasi oleh pengertian-pengertian yang salah. Zaman itu adalah zaman dimana banyak orang 500 tahun lalu buta huruf, mereka tidak bisa membaca dan tidak ada mesin cetak seperti sekarang, sehingga mereka tidak mempunyai Alkitab. Alkitab dicopy dengan cara ditulis satu huruf demi satu huruf, karena tulisan tangan maka kerjaannya cukup lama, hasilnya cukup mahal, berarti tidak semua orang bisa punya, kalau punya pun tidak ada gunanya karena tidak bisa baca. Maka memperjuangkan sola scriptura menjadi satu-satunya otoritas adalah satu hal yang penting karena dengan tidak adanya akses, tidak ada kekuatan, monopoli interpretasi, dan mahalnya Alkitab yang tidak tersedia juga dalam berbagai bahasa, mereka tidak punya akses pada kebenaran yang katanya adalah firman Tuhan. Maka hanya mengandalkan kotbah yang mereka dengar, kotbah yang mereka dengar zaman itu Gereja Katolik Roma sangat besar, menunggangi politik, sehingga sangat mungkin sekali bias dengan kepentingan politik saat itu. Tapi kalau begitu kita jadi berpikir sekarang tidak perlu sola scriptura, toh kita semua punya Alkitab, kita sekarang mau interpretasi apapun juga dari yang apl;ing sesat sampai mendekati kebenaran juga ada, Saudara tinggal cari di Youtube. Kita juga tidak perlu jenjang tertentu untuk bisa punya akses terhadap Alkitab, sekarang kita bisa punya Alkitab dalam berbagai macam terjemahan. Mari kita baca, 2 Timotius 3: 14-17 dan 2 Petrus 1: 19-21.

Kita mungkin tidak berhadapan dengan otoritas Paus zaman Katolik Roma 500 tahun yang lalu, seperti yang Luther hadapi. Tetapi di dalam kita mempertahankan kata sola dalam sola scriptura, menurut Abraham Kuyper, Saudara dan saya sedang berhadapan dengan pseudo wisdom, bijaksana yang sepertinya cukup komprehensif, yang cukup menjelaskan banyak hal, dan cukup rasanya kita bisa percaya, karena penjelasannya lumayan tidak semudah itu. Tapi pseudo wisdom adalah penjelasan-penjelasan yang menjelaskan fakta yang tidak berpijak pada Alkitab. Jadi adanya penjelasan-penjelasan yang sepertinya menjelaskan tetapi kalau tidak berpijak pada kebenaran Alkitab maka mereka hanya berupa penjelasan-penjelasan kosong yang kelihatannya bijaksana, tapi tidak menjelaskan apa-apa. Dan ini yang kita hadapi, kita dikelilingi pseudo wisdom yang bisa menjelaskan banyak hal. Saudara mau tahu tentang penciptaan, “hari ini siapa yang masih percaya cerita Adam dan Hawa, itu hanya cerita anak Sekolah Minggu”. Kuyper pernah mengantisipasi dengan mengatakan seperti ini di dalam buku Pro-Rege, dia mengatakan banyak anak lulus SMA, mereka dengar cerita Alkitab di Sekolah Minggu, tapi begitu mereka masuk bangku kuliah, mereka bertemu dengan pseudo wisdom, mereka langsung terpukau, dan mereka baru tahu inilah yang benar, “cerita Sekolah Minggu hanya penghantar supaya beriman, lebih dari pada itu tidak ada. Ternyata ini yang bijaksana sejati. Orang yang percaya Alkitab itu cupu sekali, yang cuma tahu beriman, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan segala sesuatu”. Kita sudah tertipu di dalamnya karena kita pikir itu penjelasan yang ilmiah, lebih komprehensif, lebih mendalam. Tapi jangan lupa itu adalah pseudo wisdom yang sama sekali tidak berkait dengan Alkitab. Saudara dan saya akan bisa mengetes sejauh ini apakah kita hidup berdasarkan sola scriptura atau hidup kita dibangun di atas pseudo wisdom ini. pertanyaan-pertanyaan diagnostik yang Saudara bisa jawab adalah hal apa atau pikiran apa yang paling banyak membentuk pola pikir Saudara? Lalu kata-kata atau siapa atau pihak mana yang paling otoritatif yang Saudara rasa itu bisa menjawab apa yang Saudara tanyakan dalam hidup. Ketiga, kata-kata mana yang paling banyak mempengaruhi Saudara mengambil keputusan? Keempat, kata-kata mana yang bisa menghibur Saudara ketika Saudara di dalam masa krisis? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang kalau kita jawab, kita akan mengerti ternyata jawaban yang kita terima yang mempengaruhi keputusan kita, baik keputusan kecil atau besar dalam kehidupan sehari-hari, apakah itu sola scriptura atau itu adalah kumpulan pseudo wisdom yang kita kumpulkan dari berbagai macam aliran yang ada di dunia ini? ini adalah betul-betul hal yang perlu kita perhatikan, karena di dalam 2 Timotius 3: 15 dikatakan “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus”. “Kalau keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus, saya tahu, karena memang Yesus kan satu-satunya Juruselamat, mana mungkin saya percaya agama lain, karena dari kecil saya Kristen. Kalau urusan keselamatan, saya sudah mengerti”, hampir kita secara mayoritas percaya sola scriptura. Tapi kemudian kita seperti orang yang mengunci pintu dan membuka jendela, karena setelah itu urusan hikmat hidup sehari-hari, mendefinisikan apa itu sukses, apa itu pernikahan, apa itu pergaulan, apa itu keren, apa itu diterima masyarakat, kita pakai pseudo wisdom yang ada di sekeliling kita. Saudara gembok rapat-rapat, satu-satunya jalan keselamatan hanya Kristus, itu betul, tapi Saudara buka juga semua jendela. Kalau rumah seperti itu saya rasa pencuri akan masuk dan semuanya habis dirampok. Kita lupa sola scriptura tidak hanya sekedar ke gereja tiap hari Minggu, beriman, pertumbuhan rohani, sola scriptura itu menyangkut seluruhnya karena Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang menciptakan Saudara dan saya, Allah yang menciptakan di luar Saudara dan saya. Maka hal-hal yang berkaitan dengan Saudara dan saya dan diluar Saudara dan saya sepertinya harusnya sola scriptura. Kalau kita pikirkan hikmat, dikatakan dalam ayat 16 “menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran”, kita hanya memikirkan “oke ini diajar, memperbaiki kelakuan yang dulunya malas jadi rajin. Mendidik orang dalam kebenaran, jangan jahat-jahat jadi orang”, bukan. Ini menjawab pertanyaan yang Saudara mesti jawab, hikmat itu berbuat apa? Poin mengajar adalah what to do? Sola scriptura mengajarkan kepada kita apa yang harus kita kerjakan. Lalu menyatakan kesalahan, what not to do? Apa yang tidak boleh dilakukan? Pantas, tidak pantas. Dari mana kalau dari luar Alkitab? Saudara akan pakai pseudo wisdom. Memperbaiki kelakukan, what should be done? Kalau saya tidak boleh begini, maka saya harus berbuat apa? Lalu mendidik orang dalam kebenaran, definisinya apa? Baik itu apa, jahat itu apa, berkenan kepada Tuhan itu apa, bijaksana itu apa, sukses itu apa, terkenal itu apa, berkontribusi bagi masyarakat itu apa, menderita itu apa? Semuanya itu Saudara definisikan dari mana? Dan kita seringkali neglect sola scriputra, karena kita pikir sola scriptura ini urusannya kalau saat teduh mesti pakai Alkitab, ke gereja bawa Alkitab. Maka hanya berurusan dalam lingkup rohani, kita pasti pegang Alkitab. Tapi begitu berurusan dengan hikmat, faktanya setiap hari kita sering dibentuk oleh pseudo wisdom itu setiap hari. Maka tidak heran, kalau urusan ke gereja seminggu sekali, Senin sampai Sabtu Saudara dibentuk oleh pseudo wisdom, maka Saudara bukan menjadi orang Kristen, itu tidak heran.

Kita sering berpikir seperti ini, jadi Kristen itu seperti gelas, diisi firman Tuhan sampai penuh. Kalau Senin-Sabtu jadi kurang sedikit sampai setengah, Saudara pikir masih baik-baik saja, belum sampai kosong, saat teduh masih bolong-bolong, jarang baca Alkitab, tapi masih oke, tidak jahat-jahat sekali. Maka Hari Minggu diisi lagi, kalau perlu seharian di gereja. Kemudian Senin, kita merasa no guilty feeling, kita masih Kristen. Tapi ini cara yang salah melihat pembentukan pola pikir, pola pikir tidak bisa diisi. Pola pikir itu dibentuk, seperti Saudara membentuk keramik. Kalau membentuk keramik menggunakan alatnya yang berputar itu, ketika Saudara tidak sengaja dipanggil orang dan tangan Saudara menyenggol keramik yang sedang dibentuk, bentuknya jadi lain. Tidak harus rusak, tapi bentuknya lain. Saudara jadi Kristen juga begitu, Hari Minggu dibentuk, tiba-tiba hari Senin-Sabtu sudah jadi guci yang tidak tahu bentuknya, jadi lain. Kemudian Hari Minggu dirombak lagi, karena ini belum kering, Saudara belum mati, kalau sudah mati berarti sudah tidak bisa dibentuk lagi. Tapi kira-kira begitu terus, maka tidak heran mengapa kita tidak bisa menjadi orang Kristen, karena kita hanya satu kali hari Minggu. Sola scriptura, bukan hanya membaca Alkitab saja dan tidak baca yang lain, tapi Saudara perlu baca Alkitab untuk bisa mengerti yang lain. Mari kita kembali pada otoritas firman, sola scriptura adalah otoritas tertinggi yang memimpin hidup kita, kita tidak bisa tafsirkan lain selain Alkitab yang adalah firman Tuhan. Dan ini pasti perlu perjuangan, bukan haya sekedar Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu kemudian langsung tiba-tiba bisa, pasti tidak seperti itu.

Hal kedua, mengapa keseluruhan Alkitab adalah sola scriptura? Karena Alkitab menjelaskan Tuhan siapa yang Saudara dan saya percaya. Alkitab mengatakan Allah Tritunggal, mengapa harus Allah Tritunggal? Karena hanya satu-satunya kita percaya kepada Allah Tritunggal, kita bisa mempunyai dasar yang kuat, apa itu person, apa itu relation, apa itu community, di luar itu Saudara dan saya tidak bisa menjalaninya dengan konsisten antara Allah yang kita percaya dan hidup yang kita hidupi. Hanya Allah Tritunggal yang memungkinkan ada pribadi, kemudian pribadi saling berelasi, dan relasi antara 2 pribadi bisa dinikmati oleh pribadi yang ke-3. Maka sama, ini menjadi pattern yang sangat bisa dihidupi kalau Saudara dan saya mau konsisten antara iman dan praktek. Kita seringkali mau prakteknya saja, suami istri harus saling mengasihi, Efesus 6, yang dibuka itu terus. Saudara lupa, kita bisa mempraktekan relasi suami istri karena ada Allah Tritunggal, relasi Allah Bapa dan Allah Anak yang dinikmati oleh Roh Kudus. Ada pihak ketiga yang menikmati. Dalam keluarga ada suami, istri dan anak, itu menjadi satu society di mana ada eksklusifitas, tetapi juga ada pluralitas. Kedua, kita bisa mengatakan mau hidup baik, 2 Timotius 3: 17, “dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”, apalagi di atasnya sudah diberi tahu untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik dalam kebenaran. Apa maksud dari perbuatan baik? Tidak mencuri, jangan egois, jangan membunuh, jangan terlambat, jangan pelit, semua yang sifatnya hanya seperti itu saja. Kita tidak bisa melakukan perbuatan baik yang sungguh-sungguh berkenan kepada Allah kalau Saudara tidak tahu the whole message. Sekali lagi, kita menafsirkan ayat 17 segala perbuatan baik adalah perbuatan yang definisi kita baik tapi kita tidak tahu baiknya Tuhan itu seperti apa, kita tidak mengerti karena kita tidak mau concerning His whole message, kita tidak mau pegang sola scriptura. Kita menentukan sendiri “Tuhan, pokoknya saya sudah dengar firman Tuhan, saya bisa tentukan mana yang baik dan jahat. Tuhan menyuruh saya berbuat baik, maka saya lakukan perbuatan baik, tapi kita tidak mau tahu apakah perbuatan baik kita cocok dengan Tuhan, pokoknya perbuatan baik, tidak saya langgar. Itu bukan sola scriptura, itu namanya your own wisdom, karena kita tafsirkan sendiri apa yang menurut kita baik, sejauh tidak menyalahi aturan Tuhan. Itu tidak cukup, karena perbuatan baik adalah Saudara menjalankan apa yang menjadi keseluruhan firman dari penciptaan sampai Tuhan Yesus datang kembali. Maksudnya adalah apa yang Saudara kerjakan berbagian di dalam cerita besarnya Tuhan dari penciptaan, jatuh dalam dosa, penebusan dan Tuhan Yesus akan datang kembali. Yang Saudara jalankan adalah berbagian dalam hal ini, ada kaitannya, itu baru namanya kita mengerjakan perbuatan baik yang diperkenan oleh Allah. Karena kita tahu rencana Dia apa, kita tahu maksudnya Dia menciptakan segala sesuatu itu apa, maksudnya Tuhan menebus itu apa, maksudnya Tuhan akan datang kembali itu apa. Kita seringkali tidak mau tahu rencana besar, kita hanya ingin tahu apa yang praktis, menguntungkan, bisa dikerjakan, dan akhirnya sebenarnya kita tidak mengerjakan apa-apa. Kita sibuk bekerja tapi kita tidak mengerjakan apa-apa, karena apa yang Tuhan minta tidak kita kerjakan, kita kerjakan yang lain. Dan itu bukan sola scriptura.

Sola scriptura juga memberikan kita satu package Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita mengenal Yesus sebagai Raja, Mesias, Juruselamat, apa pun juga, kalau Saudara lepaskan dari konteks Perjanjian Lama, kita sudah tidak bertanggung jawab, karena kita hapus itu creation, fall, tahu-tahu redemption. Tiba-tiba muncul Tuhan Yesus, bagaimana ceritanya dari awal kita tidak tahu. Dan kita hanya merasa ini supaya kita masuk sorga, supaya kita ditebus, hati kita yang hitam menjadi putih. Tidak bisa seperti itu. Saudara harus tahu the whole package. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru semuanya sinkron, semua menuju satu puncak yaitu Yesus. Sehingga Saudara bisa melihat betapa hebatnya Tuhan kita. Karena dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, dari Allah mencipta, manusia jatuh dalam dosa, penebusan dan sampai nanti Tuhan Yesus datang kembali seperti di dalam janji Wahyu, itu semua mengapa begitu lama? Dari Adam ke Yesus, Kejadian ke Matius mengapa sampai ribuan tahun? Apakah Saudara pernah memikirkan itu? Karena Tuhan mau memberitahukan bahwa rencanaNya real bukan mitos.

Dan ini yang membuat kita mengerti mengapa perjuangan kita belum selesai. Reformasi boleh 500 tahun yang lalu, tapi kita punya challenge tersendiri dalam zaman kita sekarang, dalam gereja Tuhan menjalankan sola scriptura. Karena sola scriptura akan berbenturan keras atau lembut dengan banyak pseudo wisdom yang mengeliling kita. Harap kita terus berdoa “Tuhan, ikatlah hatiku di dalam kebenaran firman. Saya tidak bisa melakukan yang lain kalau hati saya sudah diikat oleh kebenaran”. Dan ini menjadi doa kita bersama, barulah kita menjadi orang yang meneruskan reformasi.