Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah Tematik » Sola Fide
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Sola Fide

Vik. Calvin Bangun, M.Th.

(Galatia 2: 15-21)
Ayat 16, tidak ada seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat. Bagian ini memuat pernyataan Paulus mengenai justification by faith, bagian ini merupakan statement of faith-nya Paulus mengenai justification by faith alone. Kita perlu mengerti baik-baik, tidak cukup hanya berkata justification by faith, karena Gereja Katolik pun prcaya justification by faith. Kata alone sangat penting. Persoalan antara Gereja Katolik dengan Protestan itu bukan faith-nya, tapi faith alone-nya. Karena itu slogan dari Reformasi sangat menarik karena sola gratia, sola scriptura, karena di sinilah titik perdebatan antara Gereja Katolik pada zaman itu dengan Gereja Protestan sampai hari ini, mengenai faith alone. Alone artinya tidak boleh ditambah, tidak ada tambahan yang bisa diberikan ke dalamnya, itu namanya alone. Maka setiap kali kita memperingati Reformasi kita selalu diingatkan dengan 5 slogan yang dimulai dengan sola. Sola artinya hanya atau alone, tidak boleh ditambah lagi, sudah cukup pada dirinya. Paulus menegaskan pandangan dan posisinya mengenai justification by faith alone, pembenaran hanya oleh iman. Mengapa Paulus menuliskan bagian ini? karena Jemaat Galatia mulai meninggalkan doktrin pembenaran hanya oleh karena iman. Waktu Paulus mendirikan gereja di Galatia, dia sangat tegas “manusia dibenarkan oleh iman bukan karena disunat, bukan karena melakukan Hukum Taurat”. Paulus dilahirkan dalam agama Yahudi, dia dibesarkan dalam keluarga Yahudi, murid-murid Tuhan Yesus yang pertama juga orang Yahudi, mereka sangat identik dengan Hukum Taurat dan sunat. Orang Yahudi yang tidak disunat bukanlah orang Yahudi, bukan karena dilahirkan dalam keluarga Yahudi, orang menjadi Yahudi. Tapi karena disunatlah maka orang menjadi orang Yahudi. Sunat itu adalah obedience. Saudara perhatikan bagaimana Yesus harus disunat, karena sunat itu merupakan first obedience. Saudara tidak disunat, Saudara bukan Yahudi, Saudara tidak disunat, Saudara bukan covenant people. Saudara tidak disunat, Saudara bukan siapa-siapa, Saudara tidak berhak atas janji Allah kepada Abraham. Agama Yahudi itu sangat menekankan justification bukan by faith, tapi by obedience, Saudara dibenarkan karena Saudara disunat. Walaupun Saudara belum bisa memutuskan disunat atau tidak, orang tua Saudara mewakili Saudara. Orang tua Saudara mewakili Saudara, membawa Saudara ke Bait Allah, disunat sebagai tanda ketaatan. Mereka berpikir ketaatannya itulah yang membenarkan mereka. Salah satu pergumulan orang sejak kejatuhan sampai sekarang adalah bagaimana supaya diterima oleh Allah. Nama lain dari justification adalah acceptance, dibenarkan oleh Allah berarti diterima oleh Allah. Ketika Adam memakan buah dari pohon pengentahuan tentang yang baik dan jahat, hal pertama yang dilakukan oleh Allah kepada dia adalah rejection. Setelah Adam memakan buah itu, semua manusia membawa bekas rejection itu kemana pun. Bukan hanya Kekristenan yang bicara mengenai justification, setiap agama bicara tentang justification, bagaimana kita bisa diterima oleh Allah. Bukan hanya orang beragama yang bicara mengenai penerimaan, orang sekuler pun bicara mengenai penerimaan. Bukan justification-nya, tapi justification by what? Orang Batak mau Kristen atau pun tidak, justification-nya ada 3, yaitu harta, keluarga, kehormatan. Orang yang beragama cari justification, orang sekuler pun cari justification. Intinya kita itu ingin diterima. Bagaimana dengan orang sekuler? Kekayaan, kekuasaan, harta, popularitas. Orang beragama dan sekuler mencari hal yang sama, mencari justification. Pada zaman Martin Luther, pergumulannya juga sama, pergumulan Paulus dan Martin Luther mirip.

Nama lain justification adalah acceptance, bagaimana saya diterima. Di dalam kondisi itulah Paulus berbicara kepada jemaat Galatia, karena mereka mulai meninggalkan justification by faith alone. Latar belakangnya, sekelompok Yahudi Kristen masuk ke dalam gereja dan mengajarkan kepada jemaat Galatia bahwa seseorang dibenarkan jika melakukan Hukum Taurat. Orang-orang Galatia ini bukan orang Yahudi, jadi mereka tidak akan disunat dan mereka juga tidak punya kewajiban melakukan Hukum Taurat, tapi mereka percaya kepada Kristus. Di tengah perjalanan, waktu Paulus sudah pergi dari Kota Galatia, masuklah sekelompok orang Yahudi Kristen, mereka mengajarkan bahwa percaya saja itu tidak cukup. Dan orang Yahudi itu bertanya kepada orang Galatia, mereka tahu hal itu dari mana, dijawab dari Paulus, dan orang Yahudi itu mengatakan kalau Paulus adalah rasul gadungan. Itulah sebabnya mengapa Surat Galatia dimulai dengan perkenalan diri Paulus, dia memperkenalkan dirinya dalam satu pasal yang panjang. Di saat-saat seperti itulah maka Paulus menuliskan suratnya yang begitu keras. Galatia adalah satu-satunya surat Paulus yang sangat keras, tidak ada surat lain dimana Paulus begitu marah. Hanya satu surat dimana Paulus berkata “orang Galatia yang bodoh”, saya bayangkan pakai surat saja ada kalimat seperti itu, bagaimana kalau bertemu langsung. Leon Morris mengatakan ini satu-satunya surat yang ditulis oleh Paulus dengan rasa kemarahan dan kegeraman. Mengapa Paulus marah? Karena doktrin. Ini bukan zamannya lagi orang marah-marah karena doktrin, yang penting hidup baik. Saya yakin orang Galatia itu adalah orang yang baik. Paulus bisa marah karena jemaat Galatia meninggalkan doktrin yang benar kepada doktrin yang salah. Dan zaman kita adalah zaman yang bingung karena persoalan doktrinal dibuat seperti demikian. Bagi Paulus persoalan doktrinal adalah persoalan yang kekal, life and death. Hari ini orang tidak memikirkan life and death, terserah apa yang dipercaya yang penting baik, mau dipercaya apa pun itu tidak penting. Zaman kita adalah anti intelektual, “apa pun yang kamu percaya itu urusanmu, yang penting bagaimana kamu menghidupinya”, itulah yang terjadi pada zaman sekarang. Rasul Paulus marah karena Jemaat Galatia meninggalkan doktrin yang benar dan doktrin ini sangat penting bagi Paulus, justification by faith. Ayat 21, jika justification by faith itu salah maka Christ died for nothing, taruhannya Kristus. Tidak heran Martin Luther mengatakan justification by faith adalah doktrin dimana gereja akan jatuh dan bangun. Gereja dipegang akan berdiri, gereja dilepas akan roboh.

Pada zaman Martin Luther, gereja kehilangan kembali doktrin ini. Jemaat Galatia sudah mulai meninggalkan doktrin ini, Paulus tarik mereka kembali. Tapi ratusan tahun kemudian, gereja kehilangan doktrin ini lagi. Banyak orang mengatakan Reformasi itu menemukan yang baru, itu salah, itu bukan arti Reformasi, karena ada kata re yang artinya kembali, form artinya bentuk. Martin Luther tidak menemukan sesuatu yang baru, dia hanya mengembalikan sesuatu yang lama. Gerakan Reformasi bukan gerakan yang menciptakan sesuatu yang baru, tapi gerakan yang ingin membawa kembali yang benar dan lama itu ke dalam gereja. Sebelum zaman reformasi disebut dengan later middle ages, 1300-1500, gereja ada di mana-mana, tapi Injil tidak ada di dalam gereja, itulah ironinya abad pertengahan. Pada zaman gereja mula-mula itu terbalik, gereja tidak ada dimana-mana, hanya di tempat-tempat tertentu, tapi ada Injil di situ. Injil dulu baru gereja. Yesus hidup, naik ke sorga, itulah Injil. Injil yang memulai gereja. Tapi anehnya dalam perjalanan sejarah, gereja berdiri, kehilangan Injilnya. Injilah yang mendirikan gereja, tapi hari ini, sampai zaman ini banyak gereja yang sudah kehilangan Injil. Inilah yang terjadi pada zaman later middle ages, gereja dimana-mana, tapi tidak ada Injil di dalam gereja. Ketika tidak ada Injil di dalam gereja, maka tidak ada lagi bedanya ada gereja atau tidak ada gereja. Martin Luther bukan menemukan sesuatu yang baru, dia hanya mengembalikan Injil ke dalam gereja. Karena pada saat itu gereja sudah kehilangan Injil. Mungkinkah gereja kehilangan Injil? Sangat mungkin, di setiap zaman, gereja berpotensi kehilangan Injil. Di setiap zaman gereja berpotensi meninggalkan Injil, gedungnya ada, Injilnya tidak ada. Maka tidak heran memilih nama Reformed Injili itu sudah tepat, karena gerakan Reformasi adalah gerakan mengembalikan Injil ke dalam gereja, maka Gereja Reformasi adalah gereja yang harus mengabarkan Injil. Mengapa gereja Reformasi hari ini ada yang tidak memberitakan Injil? Jangan-jangan sudah kehilangan Injilnya. Gedung ada, pengurus ada, jemaat ada, program ada, tapi Injil tidak ada. Di zaman itu butuh reformasi, mengembalikan yang harusnya ada ke dalam gereja, dan membuang yang seharusnya tidak ada keluar gereja. Program gereja memperlihatkan Injilnya gereja itu, Saudara tidak perlu heran kalau ada gereja yang programnya tidak masuk akal, karena memang itulah injilnya yang bukan Injil. Dan seperti yang saya katakan tadi, gereja sampai mengambil alih tugas dinas kebudayaan. Satu kali saya pergi ke satu gereja pada hari Natal, mereka mengadakan lomba tari poco-poco dalam rangka menyambut hari Natal. Saya bingung, mengapa tidak membuat acara ini di hari yang lain, mengapa diadakan ketika Natal? Gereja telah kehilangan visi Injil.

Ayat 15, dalam NIV diterjemahkannya “kami orang Yahudi ini tahu bahwa tidak seorangpun tidak dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat” statement of faith. Ini yang dikatakan Paulus “sebagai orang Yahudi, saya berbicara kepada kalian orang bukan Yahudi, saya sudah memberitakan Injil bahwa Yesus mati bagi orang berdosa, itu cukup, tidak perlu ditambah. Kaerna saya orang Yahudi sudah tahu apa itu melakukan Hukum Taurat, tidak ada yang dibenarkan karena melakukan hukum”. Paulus mengatakan kalau iman pun tidak bisa membenarkan, tidak ada yang bisa membenarkan Saudara. Kalau iman pun tidak bisa membuat Saudara diterima oleh Allah, no one can, apa pun tidak bisa, ketaatan pun tidak bisa. Karena kalau iman pun tidak bisa, maka karya Kristus sia-sia. Dia sudah menderita semua itu dan ternyata semua itu tidak cukup, artinya sia-sia. Kalau orang yang percaya kepada Kristus meninggalkan keyakinannya bahwa dibenarkan oleh iman itu cukup, dia sedang mengatakan kematian Kristus itu sia-sia, tidak ada gunanya. Ternyata yang dikerjakan Kristus, yang begitu menderita, yang total itu ternyata tidak bisa menyelesaikan semuanya, I have to add something. Paulus memperingatkan jemaat Galatia. Dan ini juga adalah peringatan bagi gereja, ini peringatan dari Luther kepada gereja zaman itu. Dan ini peringatan bagi seluruh gereja “hati-hati”. Kalau iman pun tidak cukup, maka tidak ada yang cukup. Mengapa iman cukup? Karena karya Kristus komplit dan sudah final. Orang selalu mengatakan jadi orang Kristen itu aneh, hanya dengan percaya saja, itu mudah. Percayanya saja itu mudah, tapi untuk memungkinkan percaya saja itu tidak mudah, Anak Allah harus mati. Kalau kematian Anak Allah saja tidak cukup, apa lagi yang cukup? Untuk membaya dosa kita, Anak Allah harus mati. Yang Saudara perlu lakukan cuma percaya, itu bukan cuma. Percaya saja itu mudah, tapi untuk memungkinkan supaya percaya saja itu tidak mudah. Kalau Yesus tidak mati, apa yang bisa dipercaya? Tapi Yesus sudah mati dan kita mengatakan tidak cukup? Itu keterlaluan. Maka Paulus berulang-ulang mengatakan “tidak ada yang dibenarkan”, ayat 16 “sebab itu kami pun telah percaya”. “Kami tahu”, setelah itu “kami percaya”. “Sebagai orang Yahudi kami tahu tidak seorang pun dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat”. Ayat 16 b ”sebab itu kami percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus”. Mengapa percaya cukup? Karena kematian dan kebangkitan Kristus itu final. Yang Saudara lakukan hanya satu, percayalah. Saya tertarik dengan definisi imannya Pdt. Stephen Tong, didalam bukunya dikatakan iman adalah menerima bahwa Saudara sudah diterima, itulah iman. Di atas kayu salib, 2.000 tahun yang lalu, Anak Allah itu terpaku dengan tangan terlentang dan mewakili Bapa di sorga mengatakan “datanglah kepadaKu, Aku menerimamu”. Yang Saudara perlu lakukan di bawah kayu salib adalah menerima bahwa Saudara sudah diterima. Hanya menerima, betul hanya, tapi untuk memungkinkan bahwa Saudara sudah diterima, Anak Allah harus mati. Itulah yang dikatakan dengan iman.Dan iman itu bukan datang dari Saudara, iman itu datang dari Allah. Karena sebelum Saudara buka mata, Saudara mati dalam dosa. Efesus 2: 1 mengatakan kita semua sudah mati dalam dosa. Orang mati itu tutup mata. Roh Kudus melahir-barukan kita, yang mati dihidupkan. Dan tindakan pertama orang hidup adalah buka mata. Sama seperti tindakan pertama ketika bangun dari tidur adalah buka mata, bukan gerakan kaki, itulah definisi kapan Saudara bangun yaitu ketika buka mata. Normalnya mata terbuka, kemudian perlahan-lahan syaraf mulai bekerja, makanya maka terbuka dulu baru Saudara stretching. Dari tidur menjadi terbangun, mata terbuka, itulah signal Saudara sudah bangun. Dari mati rohani menjadi hidup. Apa tandanya bahwa ada kehidupan? mata terbuka, itu iman. Alkitab mengatakan bukan iman yang memberikan anugerah, anugerah yang memberikan iman. Anugerah dulu baru iman. Ini perbedaan orang Reformed dengan Injili, orang Injili mengatakan mendapat anugerah adalah ketika beriman, Reformed mengatakan beriman ketika mendapat anugerah. Iman adalah tanda hadirnya anugerah.

Paulus mengatakan tidak ada gunanya kita melakukan Hukum Taurat karena kita tidak bisa dibenarkan dengan itu. Ayat 17, Paulus mencoba menjawab orang-orang yang keberatan. Karena orang mengatakan “kalau hanya percaya begitu saja berarti enak. Hidup sesuka hati”. Pelayan dosa, ayat 17, apakah berarti Yesus adalah pelayan dosa? Kalau justification by faith itu benar, bukankah kalau begitu Yesus itu melayani dosa manusia? Kalau dibenarkan hanya karena iman, bukan oleh perbuatan, kalau bagitu bisa hidup suka-suka. Paulus mencoba pertanyaan itu, dan secara rasional pertanyaan ini benar. Kalau dibenarkan hanya karena iman, bukan karena perbuatan, apa gunanya lagi berbuat baik? Bukankah ini memberikan alasan untuk tidak berbuat baik, apakah itu yang dimaksud dengan faith alone? Tidak. Para Reformator merumusan seperti ini we are saved by faith alone, but that faith is never alone. Secara rasional maka justification by faith menjadi rasionalisasi untuk hidup sesuka hati, tapi secara pengalaman tidak mungkin. Ayat 18 “karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat”, apa maksudnya yang telah kurombak? Ayat 19, “aku telah mati”, ayat 20 “namun aku hidup”, new creation. Pada waktu Saudara percaya kepada Kristus, Saudara dibenarkan, dan pada detik yang sama Saudara tidak sama lagi, Saudara adalah new creation, ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Secara rasional mungkinkah justification by faith itu memberikan alasan untuk berbuat dosa? Sangat mungkin, tapi secara pengalaman tidak mungkin, karena Saudara bukan orang yang lama, Saudara adalah orang baru. “Aku mati tetapi aku hidup”, hidup itu seperti apa? Ayat 20, “dan hidupku yang kuhidupi sekarang ini di dalam daging adalah hidup oleh iman”. Kita bukan hanya dibenarkan oleh iman, tapi sekarang kita hidup oleh iman. Orang yang dibenarkan oleh iman akan hidup oleh iman. Mungkinkah orang yang sudah menerima justification by faith alone akan hidup sesukanya? Tidak mungkin. Kalau ada orang yang seperti itu berarti dia belum menerima pembenaran oleh iman. Ini bedanya Katolik pada zamannya Martin Luther, pada zaman itu terbalik, Saudara benar dulu baru dibenarkan, itu namanya forensic justification. Saudara benar dulu dari lahir sampai mati benar, baru nanti di akhir, Tuhan mengatakan “kamu benar”, tunjukan dulu kalau Saudara benar, baru dinyatakan benar. Itu namanya forensic justification. Tapi Reformasi bukan mengatakan forensic justification, Reformasi mengatakan legal declarative forensic justification, bukan karena Saudara benar dulu baru setelah itu dibenarkan. Apakah sudah benar? Belum, tapi pada hari Saudara dideklarasikan benar, pada saat itu Roh Kudus mulai mengubah Saudara menjadi benar. Aku mendeklarasikan kamu benar. Baru Saudara tanya “Tuhan, mengapa orang berdosa seperti saya bisa dikatakan benar?”, Tuhan mengatakan “Aku tahu kamu tidak benar, yang Aku lihat bukan kamu tapi AnakKu yang benar itu yang Aku lihat”. Dia melihat Saudara sebagai milik Kristus, di dalam Kristus, in Christ alone. Karena Saudara sekarang sudah dilihat di dalam Kristus, maka Bapa di sorga tidak melihat Saudara sebagai orang berdosa. Apakah Saudara orang berdosa? Iya, realitasnya benar orang berdosa. Tapi di hadapan Allah, Dia tidak melihat Saudara, Dia melihat AnakNya. Yang Saudara perlu lakukan adalah apakah Saudara percaya itu atau tidak? Itulah iman, saya menerima kalau saya sudah diterima.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)