Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah Tematik » Langkah Iman dan Meninggalkan Dosa
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Langkah Iman dan Meninggalkan Dosa

Vik. Jimmy Pardede

(Ibrani 12:1-2; 11:1-3,6,10,13-14,16,39-40)
Di dalam pasal 11 ada contoh yang banyak sekali dari orang-orang yang mempunyai iman yang benar. Dan hari ini kita mau belajar apa iman yang benar itu? Setelah itu kita kaitkan dengan pasal 12 yaitu setelah kita mempunyai saksi iman marilah kita bertekun di dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita. Apa itu beriman? Mengapa orang boleh menyebut diri mereka beriman? Mengapa ada yang mengklaim iman tapi ternyata palsu dan kosong dan sebagian ada yang mengklaim beriman lalu mendapatkan kesaksian dari rekan-rekan yang hidup bersama dengan dia mau pun generasi selanjutnya bahwa ini adalah orang yang sungguh beriman. Mengapa ada orang yang dijuluki inilah orang yang sungguh-sungguh saleh, tetapi ada juga orang yang meskipun mengklaim beriman tapi tetap menjadi batu sandungan seumur hidup di dalam pandangan orang lain. Apa iman sejati itu? Mengapa ada orang beriman dan menjalankan kehidupan penuh dengan kelimpahan? Sebaliknya ada orang yang mengaku beriman tapi terus berada dalam keadaan yang lama. Pasal 11 sangat penting untuk memberikan kepada kita pengertian apa itu beriman. Pada ayat pertama dalam pasal 11 dikatakan bahwa iman adalah dasar dari pengharapan dan bukti dari yang tidak kita lihat. Kita kalau baca Kitab Suci jangan sembarangan tafsirkan apa yang dimaksudkan di sini. Karena kadang-kadang kalau kita membaca ayat sesudahnya ternyata penjelasannya ada. Dalam ayat 3 dikatakan karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat itu terjadi dari apa yang kita tidak bisa lihat. Saudara lihat ciptaan ini, Saudara harus tahu bahwa semua yang terjadi, semua yang bisa kita lihat, semua yang bisa kita jalani, raba, alami, saksikan, semua terjadi dari hal yang tidak kelihatan. Ini merupakan pernyataan iman yang sangat penting karena orang yang percaya Allah mencipta adalah percaya juga Allah itu mencipta dengan tujuan. Allah tidak pernah mencipta dengan cara random dan tidak utuh.

Waktu Tuhan mencipta, kita tidak boleh berpikir Dia hanya pencipta dunia natural yang bekerja dan berlangsung sesuai dengan hukum yang sudah Dia terapkan. Tapi Dia mencipta dunia untuk dikuasai, ditaklukan, ditundukan oleh Tuhan sendiri, dinikmati oleh Tuhan dan oleh ciptaanNya. Maka di dalam ciptaan yang Dia rancang, ada kehendak ciptaan ini mau dijadikan apa, ada proses yang nanti makin membukakan kita Tuhan mau lakukan apa. Inilah yang orang beriman lihat, saya percaya Tuhan saya adalah Tuhan yang mencipta, tapi bukan hanya itu Dia juga adalah Allah yang mempertahankan yang terus bekerja sampai sekarang, yang terus pimpin ciptaan ini ke arah mana. Dalam Institutio, dalam buku mengenai predestinasi, mengenai kedaulatan Tuhan, Calvin mencatat orang Kristen itu bukan orang yang percaya Tuhan mencipta lalu selesai, orang Kristen itu adalah orang yang percaya Tuhan sampai sekarang masih bekerja dalam ciptaanNya karena Dia punya kehendak. Dan apa yang Dia mau belum genap sekarang karena masih dalam proses menuju penggenapan. Sehingga orang yang beriman tahu ini duniaNya Tuhan, ini semua milik Tuhan dan Tuhan sedang kerjakan semua ini untuk dibawa ke dalam satu tahap yang lebih baik nanti menuju kepada tahap yang sempurna dalam waktuNya Dia. Aku hanyalah penonton yang melihat Tuhan mau kerjakan apa, aku tidak tahu nanti akan jadi apa, tapi aku tahu kalau Tuhan kerjakan pasti akan makin baik, menuju kepada kesempurnaan yang sudah Dia buat. Inilah yang dimiliki orang beriman. Sehingga waktu orang melihat Tuhan dan dunia ini, dia langsung kaitkan bahwa Tuhan yang aku sembah adalah Tuhan yang bukan hanya mencipta tapi juga mempertahankan ciptaan ini, mempunyai kehendak untuk dinyatakan dan akan digenapi di dalam ciptaan. Maka orang-orang yang kenal Tuhan dengan cara yang salah, selalu melihat Dia sebagai jalan keluar dari kehidupan yang dia rancang sendiri. Saya mau rancang sendiri kehidupan, tapi begitu masuk dalam tahap “saya tidak tahu mau kemana”, baru saya panggil Tuhan. Jadi selama saya belum panggil Tuhan, mohon Tuhan tetap tenang tinggal di sorga, tidak ganggu hidup saya dulu, tidak perlu campur dulu, nanti kalau saya perlu, saya telefon, kalau saya perlu saya akan doa, kalau saya perlu saya akan rajin ke gereja sedikit. Maka ada kalimat ini dalam Institutio, dikatakan bahwa orang-orang kafir, orang-orang yang tidak percaya itu bukan saja orang yang mengklaim diri atheis “saya atheis, saya tidak percaya Tuhan”, lalu Saudara bilang “puji Tuhan saya bukan atheis, saya percaya Tuhan ada. Saya tahu Tuhan ada”. Tapi Calvin bilang “engkau tahu Tuhan ada, tapi engkau kurung Dia di sorga. Sama saja dengan menganggap Tuhan tidak ada”. Itu sebabnya orang yang sungguh beriman akan mengatakan “Tuhan, ini duniaMu, saya tidak melihat Engkau, tapi saya melihat dunia yang Engkau ciptakan. Dan saya tahu Engkau ciptakan dunia, Engkau tidak hanya mencipta, Engkau punya kehendak. Engkau ingin kerjakan sesuatu, saya ingin tahu apakah itu yang Engkau mau kerjakan? Saya ingin tahu setelah Engkau kerjakan, setelah Engkau nyatakan kepadaku, bolehkah saya berbagian juga? Kalau Tuhan mempunyai karya yang Tuhan mau nyatakan, bolehkah saya mengetahui itu dan bolehkah saya berbagian di dalamnya?”.

Itu sebabnya ketika Tuhan menyatakan diriNya kepada Abraham, Tuhan panggil Abraham keluar dari tempat orang tuanya ke tempat yang akan dituju, Abraham taat. Iman berarti saya lihat apa yang orang lain belum lihat. Iman berarti Tuhan berfirman dan Tuhan berfirman selalu memberikan perintah dan janji. Pak Tong mengatakan Tuhan tidak pernah perintah tanpa janji dan Tuhan tidak pernah janji tanpa perintah, selalu dua ini berkait. Tuhan memberikan perintah tapi selalu ada janji dibaliknya. Tuhan memberikan janji, tapi ada juga perintah yang harus kita jalankan. Tuhan tidak pernah tuntun Israel keluar dari Mesir, suruh mereka lintasi padang guurn dan tidak memberikan pengharapan apa-apa di depan. Dia mengatakan “keluar dari Mesir dan engkau akan pergi ke tanah yang berlimpah susu dan madunya”, Tuhan selalu berikan janji. Tapi jangan lupa ada perintah juga. Orang-orang yang mau ikut Tuhan dengan ketat akhirnya hancur adalah orang yang cuma lihat perintah tapi gagal lihat janji. Ada lagi orang yang rasanya lihat janji tapi tidak peduli perintah. Tapi Abraham melihat kedua-duanya, dia tahu Tuhan perintah dan dia tahu Tuhan janjikan sesuatu, Tuhan janji keturunannya akan menjadi banyak. Keturunannya akan mewarisi tanah yang Tuhan janjikan dan melalui keturunannya seluruh bangsa di bumi akan dapat berkat. Dia lihat ini, dia beriman pada Firman Tuhan dan dia jalani. Dia lihat jelas sekali, dia lihat Tuhan akan dirikan kota, akan menyatakan berkat, akan menyatakan janjiNya, dan dia percaya itu. Mengapa dia bisa percaya? Karena dia melihat hal yang mata fisik tidak lihat, tetapi yang mata iman bisa lihat. Begitu banyak kali kita menjadi orang Kristen hanya lihat apa yang mata fisik bisa lihat, kita hanya lihat apa yang sesuai pengalaman biasanya terjadi, kita hanya lihat apa yang di depan yang berdasarkan pandangan mata kita nyata, itu yang kita anggap nyata.

Satu kali seorang bernama Thomas Aquinas dari abad 13 tulis buku tentang membuktikan Tuhan lewat 5 jalan. Jalan pertama adalah jalan sebab, kamu lihat semua ada penyebab, penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh yang lain itu harus kamu pertimbangkan ada. Dan kalau kamu sudah setuju dia ada, saya beri tahu itu hanya mungkin Tuhan saya. Lalu hal yang kedua, kamu melihat semua bergerak pasti ada yang gerakan, semua akibat terjadi karena sebab. Tapi sebab yang ini pun disebabkan oleh yang lain. Tetapi ada penyebab yang tidak disebabkan oleh yang lain. Lalu ada penggerak yang tidak digerakan oleh yang lain, ini Tuhan saya. Dia lanjutkan lagi argumen, segala sesuatu yang di dunia ini pernah tidak ada, kalau semua pernah tidak ada pasti ada titik, ada saat dimana tidak ada apa-apa. Dan dari tidak ada tidak mungkin jadi ada, itu sebabnya dia mengatakan yang bisa tida ada tidak mungkin jadi satu-satunya keberadaan, harus ada tidak mungkin yang tidak ada, baru yang mungkin tidak ada menjadi ada. Harus baca baik-baik, argumen dia ternyata kuat. Lalu ada keindahan di dunia ini, kamu tahu ada yang indah dan kurang indah, ada yang cantik dan kurang cantik, ada yang cantik dan cantik sekali, ada yang cantik sekali dan cantik saja. Lalu Saudara mulai pikir mengapa ada standar cantik, kurang cantik, indah, kurang indah? Karena ada keindahan sempurna, baru saya bisa menentukan yang lebih dekat keindahan sempurna itu lebih baik dari yang lebih jauh. Itu sebabnya yang indah sempurna harus ada, dant itulah Tuhan saya. Hal yang terakhir, engkau tahu segala sesuatu di dalam dunia ini seperti ada tujuan dan itu memang ada. Siapa yang design tujuan? Sang designer, siapakah sang designer yang merancang semua ini? Itulah Tuhanku. “Jadi kamu membuktikan Tuhanmu lewat 5 jalan ini?”, Thomas Aquinas dengan unik mengatakan “belum lengkap”. “Belum lengkap? Lalu setelah kamu beri 5 argumen, mau apa lagi kamu?”, “saya membuktikan hal terakhir yaitu bahwa Tuhanku tidak bisa diselidiki keberadaanNya sama seperti keberadaan yang lain”. Kamu tidak bisa mengukur adanya Tuhan sama seperti mengukur adanya yang kelihatan. Jadi Tuhan beda dengan yang kelihatan. Yang kelihatan bisa dilihat, Tuhan penyebab yang bisa kamu lihat. Yang kelihatan bisa kamu raba, Tuhanlah penyebab yang bisa kamu raba. Dia tidak bisa kamu raba. Ini argumen yang sangat kuat dari Thomas Aquinas, membuktikan bahwa apa yang kamu lihat belum semua.

Tuhan tidak bisa kita ketahui kecuali mengetahui Dia dengan Firman. Sebab Tuhan berkata-kata, maka kita bisa mengenal. Dan karena Firman kita mengetahui Tuhan menjadikan yang kelihatan melalui FirmanNya yang belum kita lihat. Jadi waktu kita kenal Tuhan langsung ada arah, Tuhan menciptakan segala sesuatu, untuk apa Dia ciptakan? Demi kemuliaan Dia, demi kebahagiaan ciptaan, demi kesejahteraan, demi kedamaian, demi menikmati Dia di dalam seluruh ciptaan. Ketika seluruh tujuan kita pahami maka tinggal sekarang kita menggumulkan “aku ada di dalam bagian apa di dalam keseluruhan ciptaan”. Saudara kalau tidak tahu keseluruhan, bagaimana mungkin kita bisa mengerti ada di mana dan melakukan apa. Waktu Tuhan menyatakan diri, kita mungkin tidak tahu dengan tuntas, dengan detail, tapi gambaran besar kita tahu. Gambaran besarnya adalah Dialah yang mencipta dan Dia akan sempurnakan ciptaan ini. Ini gambaran besar yang simple, ini gambaran besar yang tidak perlu pemikiran terlalu canggih, terlalu rumit. Itu sebabnya orang-orang yang beriman, yang punya pemikiran sederhana pun tahu kalau Tuhan yang punya seluruh ciptaan ini maka apa pun yang Dia perintahkan, saya mesti jalan. Inilah iman yang mengerti secara total bahwa Tuhan pencipta, Dia menciptakan dari yang saya tidak lihat, yang kelihatan bukan semuanya, ada yang tidak kelihatan yang menopang yang kelihatan ini. Dan yang tidak kelihatan itu mencipta, Dia pasti punya kehendak, Dia punya keinginan, Dia ingin menjalankan apa yang sudah Dia ciptakan berdasarkan kehendakNya. Maka dengan pengertian ini kita mulai merombak beberapa hal, hal pertama saya mulai merombak menyusun hidup tanpa melibatkan Dia. Dalam khotbah relay kemarin Pdt. Stephen Tong mengatakan siapa yang mau hidup dengan cara sendiri, dengan kekuatan sendiri, sedang meresikokan penyertaan Tuhan. Saudara mau meresikokan penyertaan Tuhan? Mau jalani hidup dengan resiko Tuhan tidak sertai? Silahkan. Tapi kalau Saudara mau Tuhan sertai, tidak mungkin bisa dilakukan tanpa Saudara menyerahkan semua kepada Tuhan.

Kita terlalu banyak informasi masuk akhirnya kita remehkan. Pokoknya Tuhan berfirman, nanti saja saya berespon. Tidak bisa begitu. Abraham dengar, langsung berespon. Saudara dengar, langsung belajar berespon. Firman Tuhan harus menjadi nyata, Firman Tuhan benar-benar nyata, karena Tuhan berfirman dan semua jadi. Maka Firman Tuhan jauh lebih nyata dari yang ada, karena yang ada pun ditopang oleh FirmanNya. Itu sebabnya ketika Tuhan berjanji, harus lihat janji ini benar-benar nyata, benar-benar terpampang di depan, lalu Saudara mengatakan “kalau ini yang Tuhan janjikan, aku mau jalan ke situ, seberat apa pun, sesulit apa pun, ini mau aku tuju”. Tuhan mau mendirikan kotaNya yang agung, mau memberikan damai sejahtera di bumi bagi orang yang mau datang kepada Dia, maka aku akan bekerja sekeras mungkin, segiat mungkin untuk menjadikan pekerjaan Tuhan jadi. Ini yang kita bisa pelajari dari Abraham. Maka pasal 12 mengatakan jangan dirintangi oleh dosa. Hidup kita akan selalu ada beban di pundak, entah itu beban yang Tuhan bebankan karena kita melihat visi dan janji Tuhan, atau itu adalah beban dosa dengan tawaran dan janji yang penuh kemunafikan dan kepalsuan. Saudara pilih yang mana? Banyak orang Kristen tetap pilih pikul dosa. “Saya pikul dosa saja, saya menikmati dosa ini, saya taruh di pundak saya dan saya jalan dengan beban ini meskipun berat meskipun senang”, tapi justru ini yang menghancurkan hidup manusia. Seorang teolog mengatakan bahwa janji Tuhan memberikan kelegaan, sedangkan kenikmatan dunia memberikan satu perbudakan kepada kesenangan palsu, kecanduan. Saudara ikut kenikmatan dari dunia yang palsu, Saudara akan terikat untuk memuaskan diri tanpa pernah merasa puas. Orang kalau sudah pakai obat bius, begitu jauh dari obat, badannya akan sakit, menggigil, lalu dia hanya mungkin ditenangkan kalau dia makan obat lagi. Tetapi orang yang mengikuti Tuhan mempunyai kesempurnaan yang limpah, yang memberikan kelegaan dan damai yang sejati. Maka itu ketika Tuhan menjanjikan siapa mengikut Tuhan, Tuhan akan mengijinkan dia berbagian di dalam kota yang indah, dalam masyarakat yang indah dalam pembaruan yang Tuhan akan kerjakan, mari itu yang kita lihat. Seperti Abraham melihat ini jelas, mari kita lihat ini dengan jelas, mari kita rela jalan bukan dengan dosa. Tanggalkan dosa lalu siap pikul beban apa yang Tuhan mau bebankan. “Tuhan, untuk pekerjaanMu jadi, aku harus kerja apa? Lalu beban itu harus aku pikul seberat apa, silahkan. Tapi tolong bebaskan aku dari dosa, biar aku copot beban dosa, biar aku lepas beban dosa ini dan aku mau pikul apa pun salib yang Tuhan mau berikan”. Maka ayat 2 mengatakan mari belajar kepada Yesus yang memimpin kita di dalam iman. Yang lain saksi iman, Yesus pemimpin iman. Yang lain bisa Saudara contoh, Yesus harus Saudara pegang, harus ikuti dan harus menjadi penyelamat yang di dalamnya Saudara bisa mendapat anugerah. Itu sebabnya Alkitab di dalam Ibrani 12:2 mengatakan mari melakukannya dengan mata yang melihat kepada Yesus. Yesus mengabaikan kenikmatan sorga untuk membawa di dalam dunia apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Maka bagaimana beriman? Hal pertama, saya tahu Tuhan pencipta semua, Tuhan pemilik semua, Tuhan menginginkan kehendakNya nyata di dalam ciptaan ini. Kedua, kalau Tuhan ingin kehendakNya nyata, saya juga tahu kehendak Tuhan itu pun baik bagi saya, yang Tuhan mau tidak mungkin buruk bagi saya, Tuhan tidak pernah berikan karya besarNya untuk menghancurkan manusia, jadi apa yang Dia rancangkan bagi saya pasti baik untuk saya. Apa yang Dia mau tuju, apa yang Dia mau kerjakan, pasti baik, dan ini janji yang saya pegang. Lalu hal ketiga, berapa pun sulit, berapa pun tidak masuk akal, berapa pun tidak bisa kita lihat, tapi dengan mata iman kita tahu “kalau saya mati-matian berjuang untuk menyatakan kehendak Tuhan, saya akan mendapatkan janji kota suci yang Tuhan akan nyatakan itu. Janji Tuhan yang Tuhan genapi dalam damai sejahtera dan sukacita akan menjadi milikku. Mari kita lakukan dengan hati yang mau ikut Tuhan dan pundak yang bebas dari belenggu dosa. Kiranya Tuhan menguatkan kita, saya sungguh berharap di tahun 2016 kita boleh melangkah bebas dari dosa dan mengikuti Tuhan. Semangat yang limpah untuk melihat kehendak Tuhan jadi, baik di tahun ini, tahun akan datang dan tahun-tahun seterusnya selama kita masih hidup dalam dunia ini.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)