Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah Tematik » Kristus Mengasihi Dunia Ini
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kristus Mengasihi Dunia Ini

Vik. Jimmy Pardede

(Yohanes 1: 14-18, Yohanes 3: 16-17)
Agama yang menekankan kehidupan di luar dunia ini, agama yang menekankan hal-hal yang sifatnya melampuai dunia atau other worldly, sesuatu yang sifatnya mistik. Mistik yang dimaksud bukan terkait dengan semua dongeng tentang hantu, tetapi mistik yang dimaksud adalah yang melampaui dunia ini, melampaui yang kelihatan, melampaui apa yang kita saksikan sehari-hari. Penekanan kepada yang tidak kelihatan, ini sangat jelas baik di dalam Yohanes mau pun Kolose, Efesus. Di dalam surat Paulus yang lain, Paulus mengatakan Kristus adalah Mesias, Anak Daud, Anak Abraham, Dia adalah yang menggenapi yang Tuhan nyatakan dalam Perjanjian Lama. Tetapi di dalam Kolose maupun Efesus, Paulus membahas Kristus adalah yang melampaui semua ciptaan ini, melalui Dia ciptaan dijadikan. Dia adalah yang lebih besar dan mencakup seluruh dari ciptaan ini, Dia tidak sama dengan ciptaan tapi Dia menjadi yang sulung, yang pertama yang dibangkitkan dari antara orang mati. Ketika Yohanes menulis, kemungkinan besar salah satu target orang pembaca mula-mula adalah jemaat di Efesus. Kelompok orang Efesus percaya ajaran yang nanti akan berkembang jadi gnostik. Ajaran gnostik adalah mengajarkan bahwa kita mempunyai pengetahuan baru kita mempunya kesempurnaan dalam pengertian, baru kita juga mempunyai tahap kehidupan yang lebih tinggi. Kalau kita sadar materi itu jelek, kalau kita sadar bahwa dunia ini adalah dunia yang bobrok dan tidak ada hal yang baik, maka kita mulai mencari pengetahuan yang lebih tinggi bahwa ada hal yang sifatnya non materi dan itu lebih baik. Maka ini merupakan satu pengaruh yang terus-menerus berkembang dari ajaran Yunani, hal yang sifatnya materi tidak penting, hal yang sifatnya duniawi itu rusak, hal yang sifatnya rohani, non-material, hal yang sifatnya ide, sorga itu yang jauh lebih penting. Maka yang penting itulah yang harus kita capai. Kalau kita masih ditipu oleh sense, oleh indera, oleh pengalaman, kita orang remeh. Tapi kalau kita mencari itu dengan melepaskan keterkaitan yang sifatnya duniawi, kita akan mendapatkan pengetahuan dan kesempurnaan. Inilah ajaran yang coba dilawan sebelum nanti berkembang menjadi ajaran yang masuk dan mempengaruhi gereja.

Maka surat-surat Paulus bagian Kolose dan Efesus menekankan hal yang membahas dunia yang lain, tetapi mengaitkannya ke dunia sekarang, membahas hal yang sifatnya ideal dan sorgawi tetapi mengaitkannya dengan sangat kepada apa yang terjadi di sini. Maka secara unik kalau Saudara membaca Yohanes, Saudara akan menemukan sungguh kitab ini di luar dunia sekaligus ada di dalam dunia. Kitab Yohanes mengakhiri kitabnya dimana? Yohanes waktu menulis tidak mengakhiri dengan Kristus pergi ke sorga, Yohanes mengakhiri dengan percakapan Kristus dengan Petrus. Mengapa ditutup di sini, mengapa tidak ditutup waktu Yesus pergi ke sorga? Karena kitab ini secara pradoks, secara unik membahas keadaan di luar dunia ini sejaligus membahas keadaan di sini. Maka apa yang Kristus bahas adalah menekankan sifat dunia lain. Kitab-kitab ini menekankan yang di dunia sana, tapi juga dengan sangat ketat membahas di dunia ini. Yang di dunia sana tidak pernah dibahas tanpa mengaitkan yang di dunia ini. Maka Yohanes mengatakan “pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah, Firman itu adalah Allah”, Dia ada bersama Allah, tapi langsung dikatakan juga Firman itu telah menjadi manusia dan berdiam di tengah-tengah kita, membuat tendaNya di tengah-tengah kita semua. Dan kitab ini terus membahas Yesus yang mengatakan “Aku datang dari atas”, dan Dia mengatakan “setiap orang yang adalah milikKu juga datang dari atas. Aku dari atas dan engkau semua juga dari atas”. Pdt. Billy menafsirkan ini dengan sangat baik, dia mengatakan karena Yesus dari atas maka Dia bisa turun, manusia di bumi dari bawah cuma bisa naik, cuma mau naik, karena kita dari bawah kita ingin menjadi lebih tinggi, karena kita di bawah kita ingin kemuliaan yang lebih. Tapi karena Kristus dari atas, Dia tidak perlu cari kemuliaan, tapi Dia rela turun, rela merendahkan diri. Saudara hobi meninggikan diri ini adalah tanda bahwa Saudara adalah orang yang rendah, tetapi Kristus yang tinggi rela merendahkan diri. Dan Yesus mengatakan di dalam Injil Yohanes “kamu pun bukan dari dunia ini, kamu pun dari sorga”. Karena kita ada di dalam Kristus, kita pun ada di dalam Dia, kita pun dari atas. Sama seperti Dia dari atas, demikian kita dari atas. Sama seperti Dia yang dari atas bisa ke bawah, demikian juga kita yang dari atas bisa ke bawah. Sama seperti Dia yang dari sorga, boleh, rela datang ke dalam dunia, demikian juga kita yang adalah milik sorga, bisa dan rela datang ke dalam dunia, ini semua konsep yang luar biasa indah. Maka baik Yohanes mau pun Surat Kolose, mau pun Surat Efesus dengan luar biasa mulai pembahasan other worldly, dunia yang lain, tapi dengan sangat ketat membahas dari dunia lain itu sekarang ada di sini.

Yang dari sorga sekarang ada di sini, Dia ada di tengah-tengah kita. Ini merupakan cara yang digunakan Yohanes dan Paulus untuk melawan ajaran yang nanti berkembang menjadi gnostik, ajaran yang terus mengajarkan fisik itu memenjarakan jiwa, hal yang sifatnya materi membuat rohani sangat terkurung. Bagaimaan lepas dari hal yang bersifat mengurung ini? Abaikan, kamu abaikan hal yang duniawi kamu akan lebih sorgawi, kamu abaikan hal yang sifatnya tubuh, kamu akan jadi orang yang lebih sorgawi. Maka ini tanpa sadar juga masuk dalam ajaran Kristen, orang Kristen mulai berpikir dunia ini terlalu rusak, dunia ini terlalu jelek, dunia ini terlalu bobrok, jadi bagaimana caranya hidup dengan baik? Ya sudah tinggalkan dunia ini, bagaimana tinggalkan? Menyendiri. Itu sebabnya sejak dulu orang-orang yang mau rohani lebih baik, merasa satu-satunya kemungkinan rohani lebih baik, ya tinggalkan dunia ini. Terus tinggal di mana? Tinggal di padang gurung, di hutan, di padang belantara, tidak tinggal sama manusia. Maka ini menjadi suatu perputaran yang terus terjadi, lalu kita mengatakan “ya tidak apa-apa, yang kita lakukan ini kerja, tidur, kerja, tidur, kerja, dapat uang, liburan sekali-kali, nanti juga kan ke sorga, bukankah tujuan iman kita adalah ke sorga? Bukankah waktu kita percaya Yesus, kita ingin sampai ke sorga dan duni ini hanya halangan?”. Inilah tema yang coba dilawan oleh Surat Kolose, Efesus dan Injil Yohanes, dunia ini bukan cuma pengantaraan, cuma satu jalur transit untuk sampai di sorga.

Saudara pikir baik-baik, kalau dunia ini cuma menjadi jalur transit, mengapa Yesus menjadi manusia? Mengapa Yohanes 3: 16 mengatakan “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini”. Dulu orang-orang Calvinisme mengatakan dunia itu artinya sekelompok orang pilihan. Jadi Yohanes 3:16 mengatakan “karena begitu besar kasih Allah kepada orang pilihan…bukan dunia”, jadi dunia itu artinya orang pilihan. Tapi saya bingung juga benarkah orang pilihan atau Tuhan mencintai dunia? Saya mencoba mencari commentary Calvin, ternyata dia bicara hal yang beda, dia mengatakan Tuhan mencintai dunia berarti dunia, karena Kitab Injil Yohanes berusaha memparalelkan kedatangan Kristus dengan Kitab Kejadian 1. Kejadian 1 mengatakan Tuhan menciptakan langit dan bumi, dan Yohanes mengatakan Yesus dari langit ke bumi. Maka waktu dikatakan Dia mencintai duni ini, yang dimaksud adalah Dia mencintai apa yang sudah Dia ciptakan. Allah begitu besar mencintai ciptaanNya, secara keseluruhan, secara total, maka Dia mengirimkan Anak TunggalNya untuk hidup di tengah-tengah dunia. Kalau dunia cuma tempat transit, mengapa Dia perhatikan dunia begitu besar? Kalau dunia cuma tempat transit, mengapa Dia menjanjikan langit juga bumi? Kalau ini sesuatu yang kita tidak mengerti, kita akan jadi orang yang mirip dengan gnostik, cuma memikirkan bagaimana nanti di sorga, bagaimana aku lepas dari dunia ini dan ke sorga, di dunia banyak penderitaan, banyak kesulitan, banyak penganiayaan, biarkan saja, memang dunia, kita kan sorga bukan dunia. Tapi kita lupa bahwa Tuhan menginginkan sorga dinyatakan di tengah-tengah dunia ini. Kadang-kadang orang Kristen tidak sadar punya pola pikir seperti ini sehingga sulit untuk mengalami kasih maupun kerinduan untuk adanya perbaikan. Karena orang Kristen dengan gampangnya mengatakan “sudahlah kalau dunia kacau biarkan saja, biarkan karena aku akan lari”, ini namanya konsep biara. “Masyarakat kacau, kita ngumpul sendiri”, “tapi kamu perlu berdagang sama mereka”, “apa boleh buat, kita berdagang setelah itu ngumpul lagi”. Terpisah dari dunia, ada yang rusak, lari, ada yang kacau, pergi, ada yang tidak beres, pergi keluar, dunia tidak beres, mari ke sorga. Ini namanya cara melarikan diri, orang Kristen tidak dipanggil untuk melarikan diri, ada kesulitan, lari, ada problem lari, ada apa-apa, lari, nanti kebanyakan lari terus sampai garis akhir Saudara akan menemukan hidup Saudara adalah pelarian dari hal-hal yang Saudara tidak sanggup hadapi. Orang Kristen tidak dilahirkan dari atas untuk pergi langsung ke atas. Orang Kristen dilahirkan dari atas, demikian kata Kristus, untuk menyatakan damai sejahtera, untuk menyatakan anugerah yang penuh dan kebenaran. Sama seperti yang dikatakan para murid “kami sudah melihat Dia, Yesus Kristus, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Penuh kasih karunia dan kebenaran itu dilihat di sini, maka Tuhan tidak melihat bumi lalu menjadi muak karena itu. Tuhan melihat bumi, Dia muak karena dosa tapi mencintai bumi. Dia muak karena sistem rusak, tapi Dia mencintai orang-orang yang berada di dalam sistem itu. Dia muak karena kebobrokan, tapi Dia mencintai manusia yang sementara dikalahkan oleh kebobrokan. Itu sebabnya Yesus datang ke dalam dunia. Kalau tempat kita “pokoknya kamu percaya Yesus, lupakan bumi, yang penting nanti di sorga”, mengapa kita masih harus studi, mengapa kita harus bekerja, mengapa kita masih harus pikirkan dengan serius hidup di sini? Maka waktu Yesus datang pun, Dia datang dengan cara natural, meskipun tetap berbau cara supranatural. Dia hadir di bumi ini melalu iseorang perempuan, natural. Tetapi Dia hadir bukan karena perkawinan antara laki-laki dan perempuan, bukan karena pembuahan secara natural, ini sifatnya supranatural. Tapi yang supranatrual itu dinyatakan dengan cara yang natural. Tuhan menghargai semua proses yang terjadi karena Dia sendiri yang atur. Seorang manusia lahir ke dunia dengan cara dilahirkan seorang perempuan, Yesus pun melakukan hal yang sama, Dia datang ke dalam dunia dengan cara dilahirkan oleh seorang perempuan. Maka seorang perempuan melahirkan anak, ini bukan hal yang remeh, bukan hal yang jelek, bukan hal yang cemar, bukan hal yang Tuhan hina. Tuhan sangat meninggikan hal ini, sehingga waktu AnakNya datang pun, Dia datang dengan cara yang natural. Dan Dia menjadi bayi. Tuhan tidak pernah hina, Yesus pun pernah menjadi bayi. Maka waktu kita gendong seorang bayi, kita tahu begitu banyak berkat, anugerah dan kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Di dalam Mazmur dikatakan “dari mulut seorang bayi, Engkau sudah menyatakan kekuatan untuk membungkam lawanmu”, itu juga bisa ditafsirkan bayi pun bisa berapologetika mengalahkan orang tidak percaya. Maka seorang bayi ketika dilihat begitu lucu, anggun, begitu indah sekali, dan kalau mamanya sendiri melihat bayinya pasti kelihatan bagus. Maka Tuhan menghargai proses seperti ini, Tuhan menghargai hidup, Tuhan menghargai segala pergumulan yang kita hadapi di dalam hidup, Tuhan menghargai bagaimana kita menjalani hidup. Itu sebabnya Kristus menjadi manusia, selain untuk menebus, Dia juga mau menyatakan bahwa kehidupan kita adalah kehidupan yang Tuhan mau hargai. Tuhan menjanjikan mau memberikan damai sejahtera bukan hanya nanti di sorga, tapi mulai dengan cara hidup yang penuh dengan anugerah dan kebenaran, di situ kita mulai menikmati damai sejahtera. Yesus mengatakan “Aku pun tinggal di bumi”, berarti bumi itu tidak seburuk yang kamu pikir. Benar bumi itu jatuh dalam dosa, tapi orang Kristen lihat ada penebusan, bukan meninggalkan. Maka makna Natal adalah momen dimana kita merenungkan hidup itu indah, hidup itu anugerah Tuhan, hidup itu dijalani dengan penuh bahagia karena Tuhan memang menginginkan ada bahagia dinyatakan dalam hidup. Begitu besar Dia mengasihi hidup di sini, sehingga Dia pun mau hidup di sini. Lalu bagaimana Dia hidup di sini? Apakah ada fasilitas khusus? Tidak, Dia menghargai kehidupan di tengah-tengah orang Kristen, Dia menjadi anak dari keluarga miskin. Maka Tuhan mengatakan menjadi miskin itu bukan sesuatu yang sangat buruk. Kecuali kalau Saudara miskin karena malas, itu lain hal. Tapi kalau Saudara diberikan anugerah menjalani hidup yang betul-betul pas, meskipun kerja begitu keras, ini pun anugerah. Karena Yesus tidak hina keluarga miskin, Dia adalah salah satu anak dari keluarga miskin. Yesus tidak hina kerja keras dari kelompok bawah, karena Dia adalah orang yang hadir di tengah keluarga kelas bawah yang kerja keras. Jadi Yesus sedang menyatakan di hari Natal, yang kamu kerjakan itu bukan hal yang buruk. Dosa memang buruk, tapi pekerjaan yang engkau kerjakan, hidup yang engkau jalani itu bukan hal buruk, Yesus pun datang ke sini.

Itu sebabnya Yohanes mengatakan waktu Yesus Kristus ada di dunia, Dia memberi terang. Salah satu terang yang Dia bagikan adalah terang mengenai bagaimana Tuhan memandang hidup manusia. Mari kita belajar untuk mempunyai bijaksana bagaimana memandang hidup kita, bagaimana memandang dunia, inilah hal pertama yang kita renungkan dalam Natal. Natal berarti Tuhan menyatakan bahwa Dia mencintai kehidupan di dunia ini, bahwa Dia mengirimkan Anak TunggalNya untuk hadir di sini. Kalau Dia tidak mencintai dunia ini, mengapa Anak TunggalNya hidup di dunia ini. Kalau Dia tidak menghargai proses kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan dan akhirnya kesetiaan sampai mati, mengapa AnakNya dilahirkan bertumbuh dari bayi sampai dewasa lalu terus setia sampai mati. Kalau Dia tidak menghargai perjuangan menyatakan kebenaran, mengapa AnakNya hidup sebagai manusia yang menyatakan perjuangan kebenaran. Kalau Dia tidak menghargai usaha manusia bertahan hidup, mengapa AnakNya ada di dalam dunia dan bertahan hidup, sama seperti orang lain? Ini semua misteri yang besar sekali dan Natal adalah momen di mana kita merenungkan Tuhan mencintai hidup. Dan kalau Saudara mencintai hidup, Saudara baru bisa mencintai orang, karena orang yang Saudara cintai adalah orang yang hidup di sini. Kalau kita tidak punya jiwa seperti ini, Saudara pun akan sulit mengasihi. Maka waktu Saudara lihat orang lapar, Saudara mengatakan “saya mau beri kamu makan karena aku mencintai hidup di sini”. Waktu lihat orang sakit, Saudara mengatakan “saya ingin ada terobosan di dunia medis, karena saya mencintai hidup di sini”. Waktu ditanya “mengapa kamu mencintai hidup di sini?”, Saudara jawab “karena Anak Allah pun cinta hidup di sini. Yesusku hidup di sini, Yesusku jadi manusia, Yesusku jalani kesulitan, Yesusku jalani keharusan menjadi manusia dalam ketaatan kepada Tuhan”. Maka orang Kristen yang mengerti semangat Natal, makna Natal, dia akan berjuang dalam hidup, dia bukan lari dari dunia ini.

Hal kedua, Yesus Kristus datang ke dunia untuk menunjukkan Dia mencintai hidup di dunia ini dan Dia juga melihat keperluan akan penebusan. Yesus melihat kekacauan, apakah Dia sadar? Sadar, apa yang Dia lakukan? Menebus. Orang-orang pendiri biara melihat kekacauan, mereka sadar? Sadar, apa yang mereka lakukan? Mereka lari. Kita mau yang mana, lari atau melakukan sesuatu untuk adanya penebusan? Saudara bilang “politik itu rusak, mari ramai-ramai jauhi politik”, akhirnya kita menjadi rakyat jelata dan yang menjadi politikus selalu tikus karena yang kucing tidak mau, yang singa juga tidak mau. Saudara tidak bisa lari. Saudara tunggu mati baru nanti ada kesempatan meninggalkan dunia ini, untuk nanti kembali bersama dengan Kristus. Maka mari kita pikirkan Natal adalah momen dimana Sang Raja rela menjadi manusia, momen di mana Sang Allah rela menjadi manusia dan menjalani hidup sebagai manusia. Kalau begitu mengapa di Hari Natal kita malah ingin lari? Biarlah di Hari Natal kita dikuatkan untuk berjuang di tengah dunia ini, dunia bobrok perlu penebusan, dunia bobrok perlu ada anugerah. Tapi dunia ini tidak 100% borbok, Tuhan mencintai manusia yang ada di dalamnya dan Tuhan mencintai semua manusia yang Dia berikan anugerah untuk kemudian bisa datang dan hidup dengan benar. Maka biarlah kita memperjuangkan hidup yang benar karena damai sejahtera Tuhan akan memerintah di sini ketika Saudara menjalani prinsip yang benar dari Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan kita kekuatan untuk hidup meneladani Kristus dan di dalam memperingati hari Natal kita mengingat ada satu semangat yang indah dari orang-orang Kristen untuk meneladani Tuhannya, yaitu Anak Allah yang rela jadi manusia pada Hari Natal.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)