Anda disini : Home » Reformed Theology » Khotbah Tematik » Allah yang menderita karena umat-Nya, bersama umat-Nya dan bagi umat-Nya
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Allah yang menderita karena umat-Nya, bersama umat-Nya dan bagi umat-Nya

Pdt. Jimmy Pardede

(Yesaya 44: 21-28; 52:13 – 53: 1-7 )

Di dalam pasal 44, 52 & 53 saya ingin membagikan satu tema yang penting. Pasal 44, 52 & 53 mengajarkan kepada kita tentang Tuhan yang menderita bersama-sama umatNya, Tuhan yang menderita karena umatNya dan Tuhan yang menderita bagi umatNya. Ini 3 hal yang saya ingin kita pahami hari ini. Allah kita adalah Allah yang menderita karena umatNya, Allah yang menderita bersama umatNya dan Allah yang menderita bagi umatNya. Ini 3 hal tentang Tuhan yang sangat jelas diberitakan oleh Kitab Suci, tapi yang asing bagi konsep allah dari dunia ini. Zaman ini tidak terlalu mengenal Tuhan yang memunyai perasaan demikian. Zaman ini tidak mengenal Tuhan yang memunyai emosi, perasaan, keinginan, gairah, kerinduan, dan juga sakit hati. Kita lebih senang Tuhan yang tidak punya perasaan. Itu sebabnya kita sekarang hidup di dalam zaman yang tanpa perasaan juga. Kebanyakan orang bertumbuh tanpa perasaan apa pun, menjadi datar, begitu saja dan menjalani hidup tanpa ada kerinduan berelasi, kerinduan mengasihi dan kerinduan untuk punya belas kasihan. Kita menjadi begitu tidak peduli karena kita tidak menyembah Allah yang sama dengan yang Alkitab ajarkan. Tema ini yang mau diangkat, dan saya mau membahasnya dari pasal 44, 52 & 53. Di dalam pasal 44 dikatakan Tuhan tetap mengasihi Israel meskipun Dia sudah membuang Israel. Tuhan mau memulihkan Israel, Tuhan mau mengangkat kembali Israel, bahkan Tuhan kembali menyebut Israel sebagai hambaNya, “hambaKu engkau hai Israel”. Lalu di dalam pasal 52 & 53 mengatakan “hambaKu akan berhasil, dia akan dianiaya tapi dia akan berhasil”. Ini tema yang akan kita lihat. Dan dari pasal 44, 52 & 53 kita akan coba memahami apa yang maksudnya Allah yang menderita karena umatNya, Allah yang menderita bersama umatNya, dan Allah yang menderita bagi umatNya.


Saya ingin memulai dengan satu konsep teologi yang namanya teodisi. Teodisi adalah satu usaha untuk menjawab mengapa dunia ini penuh dengan kejahatan, kebobrokan dan penderitaan, padahal Allah yang menciptakannya adalah Allah yang baik. Kalau Allah baik, mengapa dunia ini penuh dengan kesengsaraan, kesulitan dan penderitaan? Baik kejahatan yang saya timbulkan di dunia ini, maupun kejahatan yang ditimbulkan oleh masyarakat, oleh pemerintah atau oleh alam. Jadi ada begitu banyak penderitaan, kesengsaraan di tengah dunia ini. Bagaimana memahami Allah yang baik dan berdaulat di tengah dunia yang rusak dan kacau begini? Ini merupakan pertanyaan yang jauh lebih valid dari pada pertanyaan orang-orang Atheis pada zaman ini. Seorang teolog bernama Jurgen Moltmann mengatakan bahwa Atheisme abad terakhir ini, abad 20-21 adalah Atheisme yang dangkal dan banal. Banal artinya kurang kreatif, membosankan, mengulangi tema itu saja dan tidak ada kreativitas di dalamnya. Apa yang diserang oleh Atheisme pada zaman ini? Orang Atheis akan mengatakan “buktikan Tuhan itu ada, kalau Tuhan tidak bisa dibuktikan, saya tidak mau percaya”. Hal-hal seperti menuntut bukti, perkataan “saya perlu bukti”, dan lain-lain itu merupakan hal yang membosankan, kata Moltmann. Mereka mengatakan keberadaan Tuhan tidak cukup buktinya, ini dan itu, tapi yang dibicarakan adalah Tuhan terus. Pertanyaan terntang bukti sama sekali tidak kuat, justru pertanyaan tentang ketidak-adilan, mengapa umat Tuhan dihabiskan, mengapa umat Tuhan dihancurkan oleh musuhnya, mengapa terjadi kekejaman yang begitu keras, membuat orang mulai mempertanyakan tentang kepedulian Tuhan, mempertanyakan tentang kerinduan Tuhan untuk memperbaiki segala sesuatu, akhirnya sampai pertanyaan final “benarkah Tuhan ada? Jangan-jangan kita dikutuk di tengah-tengah dunia yang memang begini adanya, dunia yang penuh kekacauan dan kita tidak bisa lari keluar darinya”. Jadi ini sebenarnya pertanyaan yang sangat perlu untuk kita renungkan, supaya kita bisa bergumul juga tentang teologi kita, teologi yang menjawab tentang kesulitan di dalam dunia, realita penderitaan yang sangat berat. Seorang bernama Volf pernah memberikan satu seminar, dia mengatakan bahwa kita adalah orang Kristen yang diajar untuk mengampuni orang, mengasihi orang dan menyatakan pintu pengampunan yang terbuka bagi siapa saja. Setelah seminar ada satu orang secara pribadi bertanya “kamu orang Kroasia ya?”, Miroslav Volf adalah seorang teolog yang punya darah Kroasia, dia bilang “iya”, “bisakah kamu mengampuni tentara-tentara musuh yang menghancurkan negaramu di tahun 90an. Kalau kamu bilang bisa, saya akan terima seminarmu. Kalau kamu mengatakan sulit, saya akan buang seminarmu”. Kalau Saudara menjadi Volf akan menjawab apa? Volf mengatakan “saya sulit melakukan itu, mungkin saya tidak bisa melakukan itu”. Orang itu bertanya “kalau begitu mengapa kamu memberikan seminar seperti ini?”, dia menjawab “kalau saya memberikan seminar berdasarkan apa yang bisa saya lakukan, maka seminar saya akan sangat kering, kosong dan tidak ada gunanya dibagikan. Saya membagikan apa yang Tuhan tuntut, yang kita semua jadi sulit untuk kerjakan dan taati. Kamu murid dan saya juga murid, mari taat. Saya punya mimpi buruk, kamu juga punya mimpi buruk, saya punya musuh yang sangat saya benci, kamu juga sama. Maka mari kita belajar firman dan jalankan”. Lalu dia tutup dengan kalimat “sangat sulit mengampuni orang-orang kejam yang membantai orang-orang yang kita kasihi”, dia selesaikan jawabannya di situ. Pertanyaan ini valid untuk dijawab, harus digumulkan, mengapa terjadi kesulitan di tengah dunia ini? Dan kadang-kadang kita menganggap remeh kesulitan dan penderitaan dengan menganggapnya itu adalah sebuah realita kosong yang tidak penting untuk dipikirkan. Kalau kita sendiri belum mengalami penderitaan, kalau kita belum pernah mengalami orang yang kita kasihi meninggal duluan, atau mengalami kesulitan di tengah-tengah dunia yang kejam, mengalami pemerintahan otoriter, totaliter yang menghancurkan hidup orang banyak, mungkin kita tidak mengerti apa itu penderitaan maka kita menganggap remeh penderitaan. Tapi bagi orang yang mengalami kesulitan besar karena penderitaan, dia akan mulai mempertanyakan tentang Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkan, mengapa Tuhan tidak bertindak, mengapa Tuhan tidak melakukan sesuatu? Apakah tangan Tuhan kurang panjang untuk menolong, apakah telingaNya sudah tertutup untuk kita? Di manakah Tuhan ketika kesengsaraan itu terjadi? Ini menjadi satu tema yang penting. Moltmann mengatakan bahwa kesulitan di tengah-tengah dunia ini akan mengaitkan kita dengan teologi kita tentang Tuhan. Ketika ditanya “bagaimana jawabanmu?”, Moltmann jawab “dulu saya hampir menjadi atheis karena penderitaan yang dialami oleh orang Jerman. Sekarang saya tahu satu hal dengan membicarakan kehadiran Yesus Kristus, dari pada kamu membicarakan allah yang abstrak itu. Waktu kamu membicarakan tentang Yesus dan bukan allah yang abstrak, yang tidak jelas seperti apa. Waktu kamu bicara tentang kehidupan dan tujuan Yesus Kristus, maka teodisi itu tidak perlu lagi dipermasalahkan. Kalau kamu bicara tentang Yesus, kamu akan punya Allah yang tidak lagi bentur dengan kesulitan dan penderitaan”, ini kalimat yang sangat pendek tapi dalam. Mengapa kita kesulitan memahami Tuhan dengan realita penderitaan di dunia ini? Karena kita tidak mengenal Dia lewat Yesus Kristus. Sehingga Moltmann mengatakan “yang ingin saya kenal adalah BapaNya Yesus. Yang ingin saya kenal adalah Allah yang Yesus layani, yang ingin saya kenal adalah Allah yang kepadaNya Yesus punya pengharapan, yang ingin saya kenal adalah Allah yang kepadaNya Yesus berdoa, yang ingin saya kenal adalah Allah yang membangkitkan Yesus, yang ingin saya kenal adalah Allah yang untuk Dia Yesus rela mati di kayu salib. Saya mau mengenal Allah melalui Yesus”, ini yang perlu kita gumulkan. Dan Yesaya 52 & 53 memberikan sudut pandang yang konsisten di dalam Perjanjian Lama mengenai penderitaan dan Allah. Bagaimana mengaitkan Allah dengan kesulitan dan penderitaan di dunia ini? Yesaya 52 & 53 merangkum doktrin Allah dari Perjanjian Lama yang memberitakan kepada kita tentang Allah yang menderita bersama-sama dengan umatNya, Allah yang menderita karena umatNya dan Allah yang menderita bagi umatNya. Ini 3 hal penting yang harus kita pahami.


Yang pertama akan kita bahas adalah Allah yang menderita karena umatNya. Mengapa Allah menderita karena umatNya? Karena Allah adalah Allah yang sakit hati ketika umatNya dikacaukan. Waktu terjadi ketidak-adilan, kekerasan dan kekejaman, Allah sakit hati. Dan waktu Allah menyaksikan penyembahan berhala terjadi, kejahatan para pemimpin dan pemberontakan umatNya terjadi di bumi ini, Dia sakit hati. Dan karena Dia sakit hati, Dia murka. Segala pemberontakan yang terjadi di bumi membuat Allah sakit hatiNya. Allah sakit hati karena Dia mencintai ciptaan ini. Lalu apa yang Dia lakukan setelah sakit hati? Dia murka. “Tuhan tidak boleh murka, saya mau kenal Tuhan yang baik, saya mau kenal Tuhan yang tidak pernah marah”, Saudara tidak bisa kenal Tuhan yang tidak bisa marah, kecuali Saudara juga setuju dengan Tuhan yang tidak mengasihi. Kalau Tuhan tidak mengasihi, maka Dia tidak perlu diharapkan akan marah. Karena kasih merupakan satu hal yang berkait dengan murka. Murka adalah kasih yang disakiti. Saudara marah karena kasih Saudara disakiti. Seorang akan marah ketika kasihnya diabaikan atau disakiti. Ketika seorang yang dikasihi berpaling dari dia dan menyakiti hatinya, dia akan murka. Tapi kalau Saudara tidak murka berarti Saudara tidak mengasihi. Saudara tidak mungkin murka kepada orang yang baru ditemui sejam yang lalu. Sering kali Allah digambarkan sebagai being yang tidak tergerak oleh apa pun, semua bergerak menuju Dia tapi Dia tidak bergerak pada siapa pun, semua menyukai Dia tapi Dia tidak menyukai siapa pun, semua ingin datang kepada Dia tapi Dia tidak mau datang kepada siapa pun, Dia stabil. Dia menggerakan yang lain oleh karena yang lain menginginkan Dia tapi Dia tidak menginginkan siapa pun. Jadi emosi menjadi sesuatu yang negatif, Tuhan yang ideal adalah Tuhan yang tanpa emosi. Tapi Alkitab berbicara banyak tentang Tuhan yang menyatakan emosi, Allah yang sakit hatinya, Allah yang senang, Allah yang bersukacita, Allah yang sedih, Allah yang terkejut, Allah yang memunyai perasaan mirip manusia. Akhirnya orang-orang mengatakan “ini mirip dengan berhala-berhala Yunani, kita tidak mau Allah yang seperti ini. Kita lebih suka Allah versi Aristotle yang tidak punya perasaan. Problem dari teorinya Aristotle adalah ini teori yang paling mudah masuk untuk memunyai Allah tapi tidak perlu diperhatikan dengan serius, ini adalah deisme. Kalau Saudara masuk dalam ajaran deisme, Saudara akan percaya Allah itu ada, Allah itu adalah Allah yang ada tapi tidak terlalu banyak berkait dengan hidup manusia. Kalau Allah tidak terlalu banyak berkait dengan hidup manusia, maka Allah adalah Allah yang tidak perlu dianggap terlalu serius. Saudara dan saya menggambarkan Allah yang apatis, dan akhirnya kita menjadi apatis. Dan apatis ini adalah cara yang paling bagus untuk menghancurkan kemanusiaan. Sekarang banyak orang yang ditarik untuk menjadi apatis, tidak peduli lagi dengan sesama manusia, hatinya tidak mudah tergerak, tidak mudah merasa kasihan, tidak mudah merasa peduli, tidak mudah merasakan penderitaan orang lain. Dan ketika generasi ketiga dihantam dengan hobi main gadget, dia akan lari dari keharusan untuk bersekutu dan memunyai relasi antar personal. Apatis itu sesuatu yang sangat bahaya, manusia tidak memiliki hidup kalau dia mempunyai apatisme di dalam hatinya, dia tidak punya perasaan apa pun. Maka kita harus keluar dari keadaan tanpa perasaan. Ketika orang menolak untuk berelasi dengan serius, dia akan keluar dari keharusan untuk berelasi. Allah sangat memperdulikan ciptaanNya, karena itu Allah sangat ingin ciptaanNya menjadi baik. Begitu ciptaanNya dijalankan dengan cara yang menyakiti hatiNya, Dia akan sedih dan murka. Allah adalah Allah yang menderita karena Allah sakit hati ketika ciptaan dikacaukan. Allah sakit hati ketika Saudara dan saya memberontak kepada Dia, Allah sakit hati ketika umatNya tidak setia, Allah sakit hati ketika umatNya tidak mendengarkan suaraNya, Allah murka karena Dia disakiti. Ini poin pertama, mengapa bisa ada penderitaan di sini, di mana Tuhan waktu kita menderita? Tuhan mengatakan “Aku sedang sakit hati melihat penderitaan yang terjadi”. Ketika Saudara mengatakan “ada pemerintah yang begitu keras menghancurkan orang, membunuh orang dengan sembarangan, ketidak-adilan meraja-lela dimana-mana, dimana Tuhan?”, Tuhan mengatakan “Aku sedang sakit hati melihat apa yang terjadi”. Lalu mengapa Tuhan tidak bertindak? Tuhan adalah Tuhan yang bertindak, ini poin dari Yesaya 40 yang kita pelajari minggu lalu dan juga inti dari Yesaya 44 & 45, Tuhan adalah Tuhan yang bertindak. Tapi cara Tuhan bertindak adalah cara yang tidak bisa diatur oleh siapa pun. Dia mengatur caraNya dengan bijaksana dan caraNya yang paling tepat. Namun kalau Dia belum menyatakan tindakan untuk memperbaiki ciptaan, ini tidak berarti Dia tidak punya kepedulian terhadap ciptaan ini. Ini tidak berarti Dia tidak punya sentuhan hati untuk melihat apa yang terjadi. Ini tidak berarti Dia tidak punya perasaan apa pun ketika umatNya memberontak. Inilah poin pertama, Allah di dalam Kitab Suci adalah Allah yang sakit hati dan menderita karena umatNya, karena ciptaanNya.


Kedua, Allah adalah Allah yang menderita bersama umatNya. Tuhan bukan cuma Tuhan yang menderita karena orang-orang disakiti, tapi Allah juga adalah Allah yang disakiti bersama-sama umatNya. Hal-hal seperti ini banyak digambarkan di Perjanjian Baru, misalnya ketika Yesus mengumpulkan kambing dan domba lalu dipisahkan kambing dengan domba, berkata kepada kambing “enyahlah”, berkata kepada domba “marilah”, itu pun Yesus sedang menyatakan hal yang sama dengan ini, Allah adalah Allah yang menderita bersama umatNya. Di dalam Matius, Yesus memisahkan kambing dan domba, tapi terjemahannya kurang akurat, yang Tuhan Yesus pisahkan bukan spesies kambing dan domba, yang Tuhan Yesus pisahkan adalah alpha male dengan bawahannya, jantan besar dan kuat dengan kelompok lain yang lebih lemah. Pembagian di dalam penghakiman akhir adalah si kuat dan si lemah. Dan binatang yang kuat itu diterjemahkan sebagai kambing, si lemah diterjemahkan sebagai domba. Itu sebabnya kita memunyai pemikiran kambing itu yang jelek-jelek, domba itu yang bagus-bagus. Tapi di dalam Matius dikatakan binatang-binatang yang kuat yaitu kambing dan domba yang kuat, dipisah dari yang lemah. Kepada yang kuat Tuhan mengatakan “enyahlah kamu”, “Tuhan, mengapa kami diusir?”, “karena waktu Aku menderita, kamu tidak menolongku”, “itu tidak mungkin, kalau Engkau menderita pasti akan kami tolong. Masalahnya Engkau tidak pernah menderita”. Tuhan mengatakan “siapa bilang Aku tidak pernah menderita? Aku menderita bersama umatKu. Waktu yang paling kurang diantara kamu, tidak kamu pelihara, aku sakit hati. Aku sakit bersama dengan mereka yang lapar, sakit bersama mereka yang menderita, sakit bersama mereka yang dipenjara, padahal mereka tidak melakukan yang tidak adil, sakit karena ditindas, sakit bersama dengan mereka yang miskin dan kekuarang. Ini identifikasi yang jelas sekali, Saudara mau tafsirkan apa bagian ini? Yesus mengidentikan diriNya dengan kelompok yang miskin dan rendah ini. Lalu ketika Yesus berpaling pada kambing dan domba yang lebih kurang kuat, Yesus mengatakan “mari masuk dalam bahagia tuanmu”, mereka tanya “mengapa Tuhan?”, “karena waktu Aku sedang lemah, sengsara, kamu menolong Aku”, “tidak mungkin, karena kami belum pernah bertemu Engkau ketika sengsara”, dan Yesus mengatakan hal yang sama “yang kamu perbuat untuk orang yang paling kurang di antara kamu, kamu perbuat untuk Aku”. Tuhan adalah Tuhan yang mengaitkan diriNya dengan orang yang paling malang di dunia ini. Tapi kita justru mengabaikan orang-orang seperti ini. Kita tidak punya belas kasihan, kita tidak punya kemungkinan untuk menjadi mirip Tuhan karena kita tidak pernah membiarkan belas kasihan kita muncul. Adakah diantara kita yang menyiapkan uang untuk menolong orang miskin. Ada budget khusus, untuk perpuluhan harus ada, kemudian untuk pekerjaan Tuhan harus ada, untuk tabungan harus ada, untuk tolong orang harus ada. Kalau Saudara tidak punya tabungan khusus untuk tolong orang, Saudara adalah orang Kristen yang sangat kejam. Kerinduan untuk menjadi sama dengan orang yang lemah, itu kerinduanNya Tuhan. Inilah Tuhan yang diberitakan oleh Alkitab. Allah di dalam Alkitab adalah Allah yang mengidentikan diriNya dengan kelompok paling menderita di bumi ini. Sehingga kalau Saudara mengenal Allah yang diberitakan Alkitab, Saudara akan mengetahui mengapa Yesus jadi manusia dan mati di kayu salib, karena Dia mau diidentikan dengan yang paling rendah, dengan orang-orang yang tidak dianggap secara politik, orang-orang yang menjadi korban kebrutalan para pemimpin, orang-orang yang dihina oleh semua orang, seluruh rakyat teriak “matikan Dia”, dia menjadi sampah dari para sampah. Lalu ketika Dia digantung di kayu salib, baru kita tahu Tuhan tidak main-main waktu Dia mengidentikan diriNya dengan orang paling lemah. Tuhan tidak pura-pura dengan retorika kosong mengatakan “waktu Aku ada di dunia ini, Aku mau diidentikan dengan mereka yang paling lemah”, dan Tuhan buktikan itu di kayu salib. Kalau kita mengenal Allah dari Alkitab, Allah Tritunggal yang diperkenalkan Kitab Suci, tidak ada alasan untuk mengatakan “Tuhan, dimana Engkau ketika kami menderita?”, Tuhan akan mengatakan “Aku disalib”. “Ketika bumi begitu menderita, dimanakah Engkau Tuhan?”, Tuhan akan mengatakan “lihat Golgota. Kamu melihat dunia menderita, lihat Golgota, di situlah Aku berada”. Tidak ada orang bisa menjawab ini. Teodisi itu akan kuat untuk orang Islam, ketika mereka ditanya “mana allahmu ketika kami menderita”, dan mereka akan mengatakan “bertanyalah padanya, saya tidak tahu dimana dia”. Saudara tanya kepada orang Yahudi “di mana Allah ketika kita menderita?”, orang Yahudi menjawab “Allah menyatakan penderitaanNya, coba baca Yesaya 53, coba baca di Kitab Suci, Tuhan ada bersama umatNya”,  lalu kita mengatakan “retorika kosong, karena Tuhan tidak benar-benar menjadi manusia dan bersama umatNya”. Di dalam Teologi Kristen, Allah Tritunggal adalah Allah yang rela menderita bersama umatNya. Allah menderita ketika orang benar dianiaya, ketika imam disembelih di meja korban, ketika Israel dihancurkan oleh bangsa lain, ketika terjadi kekejaman di luar pikiran dilakukan satu manusia kepada manusia yang lain. Allah menderita bersama umatNya.

Poin ketiga, Allah adalah Allah yang menderita bagi umatNya. Di sini kita bisa melihat keunikan dari salib Yesus. Allah menderita bagi umatNya. Allah bukan hanya menderita bersama umatNya, sekarang Allah melakukan sesuatu yang melampaui itu, Allah menderita bagi umatNya. Allah menderita supaya umatNya tidak perlu menderita. Allah menderita untuk membebaskan umatNya dari kesengsaraan hidup di dalam dosa. Poin ketiga ini sangat kuat dan ini yang dibagikan di dalam Yesaya 52 & 53. Tuhan membebaskan Israel, Tuhan membangkitkan hambaNya, “Israel, Aku mengingat kamu. Aku mau memulihkan kamu, Aku ingin menjadikan engkau hambaKu seterusnya”. Setelah itu pasal 52 & 53 mengatakan “lihat hambaKu, dia akan berhasil, walaupun rupanya tidak seperti manusia lagi dan segala kesemarakan manusia hilang dari dia”. “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan”. Kalimat-kalimat dari Yesaya ini sedang mengarahkan kita untuk melihat Mesias yang tersalib itu. Mesias yang tersalib adalah tema Kristen yang paling tidak masuk akal bagi orang Yahudi, tapi paling indah di dalam konsep orang Kristen. Allah adalah Allah yang menyenangi ciptaanNya, Allah adalah Allah yang ingin mengoreksi, memperbaiki ciptaanNya. Allah adalah Allah yang mau menjadikan ciptaanNya baik kembali. Tapi untuk lakukan itu Dia menderita bagi umatNya. Maka saya ingin membahas lebih dalam mengenai Allah yang menderita bagi umatNya. Mengapa Allah bisa menderita bagi umatNya? Karena Allah itu Tritunggal. Kalau Allah tidak menderita bagi umatNya, maka sulit bagi kita untuk memahami penderitaan Allah bagi umatNya. Karena penderitaan Allah bagi umatNya adalah penderitaan bagi umat karena murka Allah. Mengapa Allah rela menderita? Karena umatNya mau Dia selamatkan. Diselamatkan dari murka Allah. Allah murka lalu Allah menyelamatkan, bagaimana memahami hal ini? Saudara tidak memahami tema ini kecuali Saudara mengakui bahwa Allah itu Allah Tritunggal. Kalau Allah bukan Allah Tritunggal, kita tidak mungkin dapat mengerti mengapa Allah rela bagi umatNya, mengapa Dia menderita, menderita apakah Dia? Allah menderita bagi umatNya karena Allah Tritunggal. Bagaimana cara Allah menderita bagi umatNya? Allah menderita bagi umatNya karena Allah menjadi manusia. Lalu ketika Allah menjadi manusia, Pribadi kedua yaitu Yesus Kristus, Anak Allah menjadi manusia, maka Allah memulai pekerjaan keselamatan yang Dia buat, yang Dia siapkan. Allah tidak mungkin terpisah dari manusia, maka Allah adalah Allah yang mau menyelamatkan manusia dengan kehadiranNya di tengah dunia. Dan bagaimana cara Dia menyatakan kehadiranNya di tengah dunia? Yaitu dengan menerima semua murka yang Tuhan mau berikan kepada seluruh ciptaanNya. Mengapa Yesus bisa menerima murka Tuhan? Apa sebab Dia datang ke dalam dunia dan mengapa Dia yang menerima murka Tuhan? Hal pertama yang harus kita lihat adalah Tuhan mau menyatakan murkaNya atas seluruh ciptaan, namun Tuhan akan melokalisasi murkaNya. Karena Tuhan tidak memurkai seluruh ciptaan di dalam murka yang final. Tuhan akan memurkai sang wakil dari ciptaan yaitu manusia. Maka Tuhan akan memurkai manusia, bukan yang lain. Itu sebabnya di dalam Kitab Ibrani dikatakan bahwa korban binatang di dalam zaman para imam, bukan korban yang sempurna, oleh karena para imam itu mempersembahkan darah yang asing. Apa yang dimaksud dengan darah yang asing? Di dalam terjemahan Indonesia tidak ditulis “darah yang asing” tapi “darah yang lain”. Para imam itu tidak mempersembahkan darah yang tepat. Tapi di dalam bahasa asli dikatakan imam mempersembahkan darah asing karena bukan darah mereka sendiri. Imam menjadi imam karena mereka memotong binatang dan memercikan darah binatang dan membawa binatang itu sebagai korban. Binatang yang menumpahkan darah, bukan imam. Tapi apakah manusia bisa diwakili oleh binatang? Apakah binatang wakil dari seluruh alam ciptaan ini, apakah binatang adalah gambar Allah? Tentu tidak. Saudara tidak bisa melihat binatang sebagai gambar Allah, ciptaan tidak bisa diwakili oleh binatang. Manusialah wakil Allah, manusia adalah yang akan mewakili seluruh ciptaan. Seluruh ciptaan diwakili oleh manusia, karena itu ketika Tuhan mau menyatakan murkaNya, Tuhan menyatakan murkaNya kepada manusia, bukan kepada yang lain. Kalau begitu apakah seluruh manusia akan dimurkai? Di dalam penghakiman Tuhan lewat Kristus, ini yang diberitakan dalam Yesaya 53, Tuhan menyatakan penghakimanNya lewat wakil dari seluruh manusia yaitu Israel. Jadi Tuhan menyatakan penghukumanNya lewat Israel. Israel adalah imam bagi seluruh bangsa lain. Di dalam Kitab Keluaran 19 dikatakan “engkau adalah kerajaan imam bagi bangsa-bangsa lain”. Jadi Israel adalah imam, dialah yang memberikan diri sebagai wakil dari bangsa-bangsa lain. Kalau Israel adalah imam, jadi Tuhan akan menghakimi seluruh Israel? Yesaya 52 & 53 mengatakan tidak, karena di pasal 44 dikatakan “hambaKu engkau hai Israel”. Tapi di pasal 52 & 53 digambarkan tentang orang lain yang menjadi wakil dari seluruh Israel yaitu Sang Hamba. Israel diwakili oleh wakil yang adalah keturunan Daud dan juga imam. Siapa wakil Israel? Raja. Siapa wakil Israel? Imam. Raja dan imam ini yang harus menerima murka Tuhan mewakili seluruh umat Tuhan, bahkan mewakili seluruh ciptaan. Ini yang dimaksudkan dengan Allah rela menderita bagi ciptaanNya, karena Sang Pribadi kedua yaitu Anak Allah menjadi manusia. Lalu murka Tuhan dilokalisasi pada Dia. Ketika Dia digantung di kayu salib, pada saat itu terjadi penghakiman dari Tuhan atas seluruh ciptaan karena mereka melanggar perjanjian. Yesuslah hamba yang dimaksud di dalam Yesaya 52 & 53. Pemulihan sedang berlangsung oleh Allah yang menderita bagi umatNya. Pemulihan berlangsung karena kebobrokan dan kerusakan dosa serta murka Tuhan sedang dipusatkan ke diri Hamba Tuhan ini. Apa yang Yesus alami di kayu salib? Yang Yesus alami adalah seluruh murka yang Tuhan mau timpakan karena dosa, sekarang Dia yang tanggung. Dia menjadi wakil dari seluruh Israel, Israel adalah wakil dari seluruh manusia, manusia adalah wakil dari seluruh alam. Maka untuk Tuhan pulihkan seluruh alam, seluruh alam mesti diwakili oleh manusia. Tuhan murka kepada manusia sebagai pernyataan lokal dari murkaNya kepada seluruh alam. MurkaNya kepada seluruh manusia diwakili oleh Israel. Murka kepada Israel diwakili oleh raja, murka raja diwakili oleh Kristus ini yang adalah Raja sejati yang Tuhan bangkitkan. Di atas kayu salib terjadi pemulihan ciptaan. Pemulihan terjadi karena seluruh efek dosa dan murka Tuhan sekarang difokuskan ke salib. Di atas kayu salib Yesus menyiapkan ciptaan yang baru. Di atas kayu salib Dia menanggung kerusakan dari ciptaan yang lama. Ini namanya Allah menderita bagi umatNya.

Mengapa disebut menderita bagi umatNya? Oleh sebab Dia menderita, umatNya tidak harus menderita. Efek dosa pelan-pelan surut karena Dia rela mati di kayu salib. Kalau Saudara mengatakan “mana? Sekarang masih tetap terjadi kesulitan”. Orang Krsiten tidak perlu banyak berteodisi, orang Kristen tidak perlu terlalu banyak bertanya “di mana Tuhan waktu keadaan menderita?”, Tuhan mengatakan “Aku sudah disalib, bagaimana dengan kamu?”. Fokus kepada salib akan membuat kita mengerti bahwa kesulitan dan penderitaan yang terjadi sekarang adalah kesulitan dan penderitaan yang sudah ditaklukan di dalam salib Yesus. Karena Kristus menjalani ini semua, bahkan sampai mati di kayu salib, dan justru karena kematianNya, ciptaan dipulihkan. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi pemulihan ciptaan. Pemulihan ciptaan akan segera terjadi karena wakil dari seluruh manusia yaitu Kristus sudah digantung di atas kayu salib. Allah adalah Allah yang menderita bagi umatNya. Ini tema yang tidak mungkin Saudara pahami kalau Saudara tidak melihat Kitab Suci dan memahamni Tuhan dengan cara demikian. Itu sebabnya ketika kita menjalani hidup kita, kita akan menjalani hidup dengan penuh perasaan syukur dan kasih “Tuhan, jika Engkau yang menanggung semua ini, maka Engkaulah yang patut dikasihi oleh saya”. Dia adalah Allah yang menarik dengan kasih, Dia adalah Allah yang ingin menyatakan “pengorbananKu Kuberikan kepadamu supaya engkau mengerti apa yang sedang terjadi”. Allah adalah Allah yang berbagian di dalam penderitaan umatNya. Ini pengertian yang sangat penting sekali, Allah bukan hanya berpartisipasi di dalam penderitaan kita, tapi Dia berpartisipasi untuk memberikan kemenangan. Biarlah kita menghargai konsep Allah dari Alkitab. Saudara tidak mengenal Tuhan yang berpisah dari dunia ini, tapi Saudara mengenal Tuhan yang mengalami kesulitan dari dunia ini. Allah yang menderita karena umatNya, Allah yang menderita bersama umatNya, Allah yang menderita bagi umatNya. Itu sebabnya kalau orang Kristen ditanya oleh orang lain “di mana Allah ketika keadaan sedang sulit, di mana Allah ketika penderitaan terjadi?”, Saudara bisa menganggap ini sama dengan mempertanyakan kalau seorang manusia memunyai luka lalu bertanya dimana kepalanya. Misalnya tangan saya luka karena teriris pisau, lalu Saudara mengatakan “tangan bapak teriris ya?”, “iya”, lalu Saudara mulai bertanya “mengapa ada irisan pisaunya, di mana kepala bapak waktu ini terjadi? Saya ragu kalau kepala bapak itu ada. Karena kalau kepala bapak ada, tidak mungkin ini terjadi. Maka saya yakin karena ada luka di tangan bapak, kepala bapak tidak ada”, Saudara mengatakan “itu tidak mungkin, kepala saya satu dengan seluruh badan”. Hal yang sama bisa kita katakan “di mana Tuhan berada waktu ada penderitaan? Pasti Tuhan tidak ada”, itu tidak mungkin, karena Tuhan sedang menderita bersama kita, bahkan Tuhan menderita bagi kita. Ini tema yang sangat agung, tapi kita kehilangan berita keagungan ini karena kita tidak merasa kalau Tuhan itu punya hati yang bisa hancur oleh karena ciptaan ini. Kita tidak bisa mengerti pergumulan Tuhan untuk membentuk umatNya, yang kita tahu cuma pergumulan kita. Kita jadi sangat egois karena kita punya pergumulan untuk diri . Sedangkan Tuhan pikul seluruh ciptaan menjadi pergumulan hatinya. Bayangkan betapa egoisnya kita. “Siapa Allah?”, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Kalau segala sesuatu adalah milik Tuhan, maka segala sesuatu dicipta bagi Tuhan. Tapi sekarang ciptaan bukan hanya membuat Tuhan tidak senang, ciptaan membuat beban untuk Tuhan. Saudara mau punya beban seperti Tuhan? Di sini hal  yang kita salah mengerti tentang kemahakuasaan Tuhan. Tuhan di dalam Alkitab itu Mahakuasa, bukan karena Dia mampu kerjakan sesuatu dengan cara yang cepat, Tuhan Mahakuasa karena Dia memunyai cara yang mengenakan hatiNya kepada dunia ini. Itu cara Tuhan. Tuhan pilih cara keterlibatan, bukan pilih cara berfirman lalu semua beres. Bisakah Tuhan membereskan semua dengan berfirman? Bisa, tapi Tuhan bukan begitu. Tuhan tidak seperti itu. Tuhan adalah Tuhan yang menaruh hatiNya di dalam ciptaan ini, sehingga untuk pulihkan ciptaan ini Dia harus mengalami segala kesulitan di dalam ciptaan ini sebelum Dia perbaiki dan menjadi menang. Dia mesti berinkarnasi untuk memperbaiki seluruh dunia ini. Mengapa Dia mesti berinkarnasi, mesti menderita, mesti mati? Karena itulah Tuhan kita. Tuhan kita tidak akan bertindak dengan cara lain, karena itu adalah sifatNya. Oleh karena Dia mengasihi, Dia tidak pakai cara lain, Dia tidak pakai cara dimana Dia tidak terlibat dan tidak bergumul bersama-sama umatNya di tengah dunia ini. Kita tidak memunyai allah yang duduk di sorga lalu mengatakan “semua beres, simsalabim”. Bisakah Tuhan? bisa, tapi Dia tidak mungkin lakukan itu, karena Dia tidak akan mengerjakan sesuatu di mana Dia tidak terlibat untuk bergumul dan menang. Partisipasi Tuhan di dalam penderitaan kita adalah keunikan berita Alkitab. Mana ada konsep seperti ini di agama mana pun. Saudara berharap siapa yang bisa menjadi panutan dan juga Tuhan yang bisa kita sembah? Siapa yang akan menjadi Tuhan kita untuk kita sembah? Tidak ada, selain Tuhan, selain Allah Tritunggal yang diberitakan oleh Kitab Suci. Kalau Saudara mengatakan “penderitaan ini begitu banyak, Tuhan ada di mana?”, Tuhan mengatakan “Aku sudah tanggung sakit ini dari dahulu. Sebelum engkau lahir, Aku sudah tanggung sakit ini. Sebelum engkau tahu ada yang menyakitkan di dunia ini, Aku sudah tanggung sakit ini”, bahkan lebih dalam lagi “Aku sudah tanggung sakit ini supaya engkau bebas”. Suatu saat nanti semua pekerjaan Tuhan dipulihkan karena partisipasi Tuhan di dalamnya. Itu sebabnya Kekristenan adalah agama yang partisipasif. Saudara tidak bisa mengatakan “Saya mengasihimu, kenakan kain hangat, carilah sendiri makanan yang enak. Saya tidak pedulikan kamu”, Saudara tidak bisa tidak berpartisipasi. Saudara harus berpartisipasi. Orang Kristen melihat politik begitu rusak, tetap harus terlibat di dalamnya. Harus ada orang yang punya beban untuk menjadi politisi yang bersih dan murni. Saudara melihat dunia medis begitu rusak, Saudara harus berjuang untuk bidang itu kalau memang Saudara di situ. Kristen berpartisipasi karena itulah sifatnya Tuhan, Tuhan seperti itu. Tuhan tidak mungkin melakukan yang lain. Ini bukan masalah bisa atau tidak, tapi masalah apa yang Tuhan inginkan. Tuhan tidak mau melakukan cara lain. Tidak ada cara lain bagi Tuhan untuk pulihkan penderitaan di tengah manusia sekali partisipasi. Menderita karena umat, menderita bersama umat dan menderita bagi umat. Dan kalau kita tidak mengenal Allah seperti ini, kita akan sulit menjawab pertanyaan orang “mengapa banyak penderitaan?”. Saudara akan menjawab di dalam iman Kristen “penderitaan terjadi, saya tidak bisa menjawab mengapa. Tapi saya bisa menjawab, Tuhanku sedang menanggung ini”. “Kok Tuhan menanggung penderitaan? Bodoh sekali”, “terserah kamu anggap bodoh, tapi bagiku itulah kasih”. Kadang-kadang orang mengasihi lalu melakukan tindakan yang dianggap bodoh. Tapi tindakan kasih adalah tindakan yang secara efisiensi memang tidak terlalu kelihatan. Apa efisiensinya? Saudara habiskan tabungan atau uang, lalu berikan bunga untuk pacar, misalnya. Kalau Saudara memberikan bunga hidup yang hanya bertahan beberapa lama, kemudian mati, ini kurang efisien. Cinta kasih itu bukan tentang efisiensi, melainkan tentang persekutuan. Tuhan dari dulu ingin menyatakan persekutuanNya dengan manusia. Maka waktu manusia menderita, Dia memilih cara berpartisipasi. Dia menyatakan cara “Aku menderita karena kamu, Aku menderita bersama kamu dan Aku menderita bagi kamu”. Bisakah Tuhan lakukan cara lain? Ini yang selalu kita pikirkan, “Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, langsung bereskan saja. Kalau sudah jatuh dalam dosa lakukan plan B yaitu musnahkan ular, koreksi Adam”, pokoknya dosa  bisa dihapuskan dengan cara lain, bukan dengan cara penebusan Kristus. Mengapa Tuhan tidak pilih cara yang lebih mudah? Ular masuk, manusia jatuh dalam dosa, lalu Tuhan suruh ular kembali dan mengatakan “minta maaf sama Adam”, lalu ular minta maaf kepada Adam dan Hawa, Adam dan Hawa memaafkan ular, dan ceritanya berakhir. Cerita yang sangat indah, tapi omong kosong. Tuhan ingin berpartisipasi bersama manusia, maka penderitaan Dia tangani dengan menderita karena, menderita bersama dan menderita bagi. Ini yang Tuhan lakukan dan ini yang Tuhan ingin kita lakukan di tengah dunia ini. Saudara bukan orang yang akan memperbaiki dunia ini dengan menjentikan tangan lalu semuanya beres. Saudara akan berpartisipasi dengan hati yang siap dilukai, hati yang siap dikecewakan, hati yang siap dihancurkan, dan ini yang Tuhan lakukan. Banyak orang tidak mau terjun di dalam relasi atau pun dunia ini, karena merasa “saya nanti akan disakiti”. Saudara kalau tidak siap sakit hati, Saudara bukan orang yang baik. Karena Tuhan yang menciptakan kita pun adalah Tuhan yang sakit hati. Tuhan meresikokan hatiNya untuk dihancurkan dan dilukai”.

Maka digantungnya Kristus di kayu salib adalah tanda puncak bahwa Tuhan menderita karena umatNya, Tuhan menderita bersama umatNya dan Tuhan menderita bagi umatNya. Kiranya Tuhan menggerakan kita untuk mampu menjalankan kehidupan Kristen yang baik dan melihat bagaimana salib Kristus memimpin kita memulihkan segala sesuatu.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)