Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Yesus berbelas kasihan
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Yesus berbelas kasihan

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 18: 35-43)
Lukas mengajarkan kepada kita bahwa hal paling penting dari kehidupan Yesus adalah Dia rela mati kemudian bangkit, inilah Injil. Injil adalah bagian penting, Injil adalah bagian yang menjadi sorotan utama dari Lukas. Maka kalau Saudara baca Injil ini, Saudara akan tahu bahwa Lukas mengarahkan kita untuk melihat Yesus dari Galilea, Dia berjalan terus sampai bertemu Yerusalem, sampai masuk Yerusalem, sampai dipakukan di kayu salib. Inilah Injil itu, Injil itu bukan hanya sekedar mengatakan “kamu orang yang sudah hidup, hiduplah baik-baik”. Injil bukan hanya sekedar mengajarkan “kamu harus jalani aturan dari Tuhan”, bukan hanya sekedar mengatakan “kamu mesti berbuat apa yang diperkenan oleh Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama”. Injil melampaui itu semua karena Injil menyatakan satu fakta realita bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang memperbaiki keadaan dunia ini, itu Injil. Injil adalah berita bahwa Tuhanmu Raja. Ini berita Injil pertama kali dinyatakan pertama kali dengan istilah Injil atau kabar baik itu dari Yesaya. Yesaya adalah pemberita Injil yang pertama, meskipun pemberitaan kabar baik ini dimulai dari Kitab Kejadian, namun kata kabar baik baru dipakai oleh Yesaya. Yesaya mengatakan “alangkah bahagianya waktu engkau melihat kaki dari orang yang memberitakan kabar baik”. Kabar baik bahwa Allahmu itu Raja. Yang jadi Raja bukanlah yang kamu lihat sekarang, yang jadi Raja bukan kondisi politik yang terus bergolak sepanjang masa, yang menjadi Raja bukan orang-orang serakah yang ingin menekankan dinastinya menjadi dinasti paling utama, yang menjadi pokok dari berita Injil adalah “hai manusia, Allahmu Raja”. Kalau Allahmu Raja, maka tidak ada Raja lain selain Dia, tidak boleh ada komitmen yang diberikan apa pun atau siapa pun yang lebih diberikan kepada Sang Raja ini. Jika Allahmu adalah Raja, sudahkah kamu perlakukan Dia sebagai Raja? Bagaimana engkau bersikap di hadapan Sang Raja ini? Kepada siapakah komitmen hidupmu? Ini menjadi tema dari berita Injil. Berita Injil bukan hanya sekedar mengatakan “kamu sudah selamat. Jangan khawatir kehidupanmu dipegang oleh Tuhan”, itu bagian kecilnya. Tapi bagian utama dari Injil adalah Allahmu itu Raja. Dan jika Dia adalah Raja, Dia tidak akan toleransi adanya pemerintahan lain yang menolak dan memberontak kepada Dia. Dia akan menghakimi semua yang berani menyatakan klaim kerajaan tapi menjalankan perintah dan prinsip yang beda dari Dia. Allah kita adalah Allah yang adalah Raja, Dia mempunyai prinsip kebenaran, Dia mempunyai hukum, Dia mempunyai kesucian dan keadilan. Setiap orang yang memimpin tetapi melanggar prinsip-prinsip ini adalah orang yang pertama-tama akan dihakimi.

Lalu bagaimana cara Dia mendirikan kerajaanNya? Ternyata yang sangat indah adalah Dia mau menebus umatNya, bukan untuk menghakimi yang jahat. Dia menebus yang jahat untuk menjadi umat, Dia menebus orang yang dipinggirkan untuk menjadi umat, Dia menebus kelompok yang dianggap tersingkir untuk ditaruh di tempat utama, di dalam hatiNya, di dalam sejarah, dan di dalam masa depan nanti. Berbahagialah kalau kita menjadi Kristen. Kita tidak mendapatkan sesuatu yang kosong, kita mendapatkan Kristus yang akan memimpin di sorga dan di bumi. Ada kalimat yang sangat indah bernama Borke, dia mengatakan bahwa orang Kristen mula-mula selalu bicara tentang kesalehan hidup karena mencintai Tuhan. Mereka tidak pernah bicara tentang kesalehan hidup supaya masuk sorga. Selalu mereka bicara tentang hidup kudus karena cinta Tuhan, tidak pernah mereka bicarakan hidup kudus demi masuk sorga. Ini kalimat yang sangat menyentuh, mereka bicara tentang kehidupan yang penuh kesucian, penuh keadilan, penuh belas kasihan, karena cinta Tuhan bukan karena yang lain. “Oleh karena aku mencintai Tuhan maka aku menjalankan hidup yang benar, yang beres, yang tidak korup, yang tidak cemar, oleh sebab cintaku kepada Tuhan”. Segala hal yang dilakukan dengan motivasi selalu indah, tidak ada pengorbanan terlalu berat jika kita mencintai dan cinta itu menjadi alasan kita untuk berkorban. Maka kalau Saudara punya pasangan dan mulai mengungkit pengorbanan, itu tandanya perlu konseling, cintanya sudah mulai kurang. Tidak ada cinta yang mengatakan “saya sudah berkorban”. Dengan demikian orang yang mengenal Kristus dan Kekristenan mengatakan “Tuhan, saya mau mengikuti Engkau, dan saya bersama Tuhan menikmati kemuliaan Tuhan, menikmati berkat Tuhan, menikmati perjuangan Tuhan”. Yesus datang ke dalam dunia, tidak pernah satu kali pun Dia mengatakan sedang berkorban. Dia tidak pernah mengatakan “Aku dari sorga, di bumi cuma dapat tempat seperti ini?”, itu kita yang bilang. Dia datang dari sorga, Dia rela datang ke bumi, tapi Dia tidak pernah mengeluh waktu di bumi. Saudara bisa melihat orang-orang yang rela bekerja, rela berkorban, rela bekerja apa pun, rela mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan karena tahu “Engkau adalah Raja yang akan pulihkan segala sesuatu, saya mau berbagian di dalamMu”. Yesus sudah datang dan Dia menuntut orang untuk mengikuti Dia supaya berjuang bersama-sama di dalam Kerajaan Allah.

Maka Injil Lukas menggambarkan Yesus dengan rela pergi ke Yerusalem lalu Dia mati di sana. Inilah kabar baik, Yesus menebus engkau supaya zaman baru, kerajaan dari orang-orang yang ditebus itu dikonfirmasikan. Dosa kita dipaku di atas kayu salib, segala penghakiman, kecemaran, murka yang Tuhan akan berikan kepada kita sudah ditanggung oleh Sang Kepala. Kristuslah Sang Kepala perwakilan kita yang menanggung hukuman bagi orang-orang di dalam Dia. Maka Kerajaan Allah datang dengan memanggil orang-orang yang tidak layak berbagian. Lukas mencatat Yesus pekerjaan utamaNya salib, pekerjaan utama Dia adalah mati di kayu salib, pekerjaan utama Dia adalah menebus manusia untuk menjadi milik Bapa di sorga. Tapi Lukas juga mengingatkan bahwa meskipun Yesus mengerjakan tema utamaNya yaitu berjalan ke Yerusalem dan mati di kayu salib, Dia tidak meremehkan semua hal yang dia dapatkan di perjalanan. Salib Kristus adalah fondasi, tapi Dia tidak meniadakan perlunya berbuat baik, perlunya berbelas kasihan, perlunya menganggap serius orang-orang lain yang Tuhan percayakan di sekeliling kita sebagai orang yang Tuhan kasihi dan sebagai orang yang harus kita kasihi, ini yang dilakukan Yesus. Maka Lukas dengan seimbang menyatakan tugas utama salib, tapi semua pekerjaan lain Yesus lakukan dengan serius.

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Orang buta ini kasihan sekali, dia tidak mendapatkan pengakuan di dalam kota, dia hanya bisa tunggu di luar, dan dia hanya bisa menunggu orang jalan masuk dan minta sedekah. Minta-minta karena dia berada dalam keadaan sangat kasihan, karena orang Yahudi percaya seperti yang dikatakan di dalam Mazmur dan Yesaya, bahwa buta, tuli dan bisu itu adalah kutuk Tuhan akibat penyembahan berhala. Tahu dari mana? Di dalam Mazmur ada perkataan “berhala itu dari kayu dan batu, lalu engkau ukir, engkau berikan mata, telinga, mulut dan engkau menyembah dia. Padahal itu bodoh. Berhala itu punya mata tapi tidak bisa melihat, punya telinga tapi tidak bisa dengar, punya mulut tapi tidak bisa bicara, demikianlah penyembahnya akan punya mata tapi tidak bisa melihat, punya telinga tapi tidak bisa mendengar, punya mulut tapi tidak bisa bicara”. Ini adalah perintah atau firman untuk menyindir orang Israel yang dibuang ke Babel. Mereka dibuang ke Babel karena mereka tidak dengar firman, mereka mengeraskan hati. Mereka dibuang ke Babel karena mereka tidak melihat pekerjaan Tuhan, mereka punya mata tapi gagal melihat pekerjaan Tuhan. Mengapa dibuang ke Babel? Karena mulut mereka mengucapkan pujian kepada Baal dan berhala, mereka menyanyi nyanyian hymn bukan untuk Tuhan tapi untuk dewa-dewa yang palsu. Maka Tuhan sangat marah dan mengatakan “Israel, kamu punya mata tapi tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan, kamu punya telinga tapi tidak bisa dengar firman Tuhan, kamu punya mulut tidak mengucapkan pujian bagi Tuhan. Aku buang kamu”. Itu sebabnya tekanan “punya mata tidak bisa melihat, punya telinga tidak bisa dengar, punya mulut tidak bisa bicara, Aku buang kamu”, maka orang Farisi dan kebanyakan orang yang masuk di dalam zaman ketika Tuhan pulihkan di abwa ke-2 sebelum Masehi sampai ke abad ke-2, mereka mempunyai keketatan untuk tetap kerjakan kesucian menyembah Tuhan, jangan ada penyembahan berhala, “Tuhan buang kita ke Babel karena kita menyembah berhala. Maka mari jangan sembah berhala lagi, mari komitmen. Buang semua patung, buang semua penyembahan palsu, buang semua berhala, kita tidak mau lagi”. Dan karena itu mereka menuduh orang buta berarti dia dikutuk oleh Tuhan karena menyembah berhala. Orang tuli, terkutuk oleh Tuhan oleh sebab penyembahan berhala. Orang bisu, dikutuk oleh Tuhan karena penyembahan berhala. Ini kasihan sekali. Banyak orang cacat akhirnya dihakimi demikian, “kamu buta karena menyembah berhala, kamu tuli karena menyembah berhala”. Dan Yesus membalikan ini di dalam pelayananNya di dunia. Faktanya, Tuhan begitu baik, sehingga ketika orang buta ini pun mengalami kebutaan, lalu orang sekeliling mengatakan “kamu buta karena menyembah berhala, kamu dikutuk oleh Tuhan”. Dia dengan tenang menerima semuanya “biarlah saya dikutuk oleh Tuhan, biarlah saya terima ini. Saya memang tidak layak, tapi saya harus melihat”. Maka dia memohon kepada Tuhan dengan sudut pandang yang berbeda. Dia merasa tidak layak dapat, tapi dia ingin dapat, maka dia memohon. Dia tidak menuntut tapi meminta, memohon. Dia memohon kepada Yesus, karena dia percaya yang dikatakan kitab para nabi. Kitab para nabi mengatakan “karena kamu menyembah berhala, buta tidak bisa melihat Tuhan, tuli tidak bisa mendengar firmanNya, bisu tidak bisa mengucapkan pujian bagi namaNya, saya buang kamu ke Babel”. Tapi Yesaya juga mengatakan, Tuhan memanggil engkau kembali, sehingga yang buta bisa melihat lagi, yang tuli bisa mendengar lagi, yang bisu bisa berkata-kata lagi. Inilah sebenarnya makna mujizat yang Tuhan sedang katakan. Tuhan akan pulihkan keadaan umatNya. Yang tadinya tidak bisa mendengarkan Tuhan, akhirnya mempunyai kepekaan telinga dengar Tuhan. Yang tadinya tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan, akhirnya mengerti dan bersukacita karena pekerjaan Tuhan. Jadi mujizat bukan sesuatu yang dikerjakan hanya demi kesembuhan itu sendiri, tapi mujizat dikerjakan sebagai simbol bahwa Tuhan sedang memperbaiki umatNya dan mengembalikan kutuk yang Dia berikan menjadi berkat. Sehingga orang buta tidak perlu berkecil hati, dia akan mengatakan “kalau Mesias datang, yang buta akan kembali melihat, yang tuli akan kembali mendengar”. Bahkan Yesus mengatakan kalimat yang lebih lengkap ketika Yohanes Pembaptis datang kepada Dia dan bertanya “benarkah Engkau Mesias itu atau haruskah kami menanti yang lain?”, Yesus mengatakan “katakan ke Yohanes, orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang miskin diberitakan kabar baik, dan orang mati bangkit, ini tambahan luar biasa sekali.

Dan ini yang dilakukan oleh orang buta itu, waktu Yesus dari Nazaret datang ke Kota Yerikho, orang buta ini dengar. Dia tidak bisa melihat, ketika dia meminta sedekah, orang-orang tidak ada yang memperhatikan dia, lalu dia dengar suara ribut, orang banyak sedang datang. Lalu dia mulai bertanya “siapa itu, siapa yang datang?”, kemudian satu orang mengatakan “Yesus dari Nazaret”. Zaman dulu orang biasanya punya nama yang tidak terlalu banyak variasi. Nama Yesus ada banyak, nama Yoses ada banyak, nama Yusuf ada banyak, nama Simon ada banyak. Karena banyak, orang akan mengatakan nama orang itu dan nama papanya, itu alternatif pertama. Sayangnya lagi, nama papa pun pasaran. Akhirnya orang perlu tambahkan lagi julukan. Misalnya namanya Yakobus si kecil, James the last, itu julukannya, mungkin dia kurang tinggi. Atau cara lain lagi adalah beri tahu dari mana asalnya, kalau misalnya itu bisa menjadi sesuatu yang bisa mengungkapkan siapa dia. Waktu Yesus disebut dari Nazaret, ini bukan cuma membedakan Dia dari yang lain, ini juga sindiran karena Nazaret dianggap kota yang negatif, kurang penting, dianggap tidak mungkin menghasilkan orang yang suci karena terlalu banyak kompromi dalam hal perdagangan dan budaya Yunani. Maka Nazaret sangat dihina, orang mencibir Dia dan mengatakan “Engkau bukan nabi, karena Engkau berasal dari Nazaret”. Ketika orang buta itu bertanya “siapa yang lewat?”, orang-orang yang tidak percaya pada Yesus mengatakan “itu Yesus dari Nazaret”. Waktu orang buta itu dengar Yesus dari Nazaret, dia sudah percaya Yesus, dia mengatakan “ini Mesias, saya mesti teriak untuk memanggil Dia, karena kalau Mesias itu datang, Tuhan mengatakan yang buta akan melihat, yang tuli akan mendengar, yang bisu akan berbicara”. Maka dia mulai berteriak dengan keras “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku”. Suaranya membahana kemana-mana. Dan ketika orang mengatakan “Anak Daud”, ini bahaya sekali karena waktu Yesus datang, banyak sekali orang percaya Dia Anak Daud, tapi ada sebagian kecil orang pemimpin yang menentang Dia bukan Anak Daud, mereka mengatakan “itu Yesus dari Nazaret, bukan Anak Daud”. Sehingga ada 2 kubu yang bisa bentrok, maka jangan ucapkan yang provokatif seperti “Anak Daud”. Itu sebabnya orang mengatakan “diam, jangan teriak-teriak”, mereka bukan hanya menyuruh orang buta ini diam, tapi karena bicaranya dia “Yesus Anak Daud”, sangat provokatif. Jika ada orang mengatakan “Yesus Anak Daud” bisa membuat 2 kubu ini pecah. Nanti murid-murid dan orang yang percaya pada Yesus mengatakan “amin, memang betul Dia Anak Daud”, lalu nanti orang-orang yang anti Dia bisa marah dan akhirnya terjadi konflik. Untuk mencegah konflik lebih baik tidak mengatakan hal-hal yang provokatif. Maka orang ini disuruh diam “jangan berseru seperti itu”. Tapi dia makin keras mengatakan “Anak Daud, kasihanilah aku”. Karena dia merasa Yesus itu satu-satunya harapan. Kita mungkin sering tidak rasa, tapi Yesus satu-satunya harapan kita. Saudara tidak mungkin mendapatkan apa pun di dalam hidup, kenikmatan relasi, ketenangan hidup, jaminan setelah kematian, pengharapan kebangkitkan, tidak bisa diperoleh dimana pun. Hanya Yesus satu-satunya yang mungkin memberikan jalan bagimu di hidup ini. Dia yang mati bagi engkau supaya engkau hidup. Dia yang mengorbankan diriNya supaya engkau memperoleh hidup kekal. Dialah yang paling engkau butuhkan. Banyak orang belum sadar kalau dia perlu Yesus, orang buta ini sadar dia perlu Yesus. Dia tahu kalau Yesus tidak datang, dia tidak ada harapan. Maka makin dia dilarang, makin keras dia berseru “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku. Karena jika Engkau memutuskan lewat dari pada aku, aku tidak punya harapan apa pun. Engkau satu-satunya yang dapat menolong, satu-satunya yang dapat memberi pengharapan, Engkau satu-satunya yang kepadaNya aku mau berpaut dan aku mau ikut”, maka dia semakin keras berteriak. Kemudian Yesus memanggil dia, Yesus berhenti dan meminta orang membawa dia kepadanya. Yesus tidak terus jalan, Dia mengatakan “panggilah orang itu”. Orang itu dipanggil dan mendekat kepada Yesus. Ayat 41, Yesus bertanya “apakah yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”, Yesus yang berinisiatif tanya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tahu dia harus kerjakan sesuatu untuk orang yang dipimpinnya, ini konsep Kristen beda dengan yang lain. Konsep Kristen mengajarkan siapa yang jadi kepala, yang dipikirkan adalah kebutuhan orang-orang yang di bawahnya. Kepala yang hanya memikirkan diri sendiri, tidak cocok menjadi kepala. Siapa jadi pemimpin, yang jadi concern dia adalah orang-orang dibawahnya. Maka Dia menyatakan kasihNya dengan besar “apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”.

Saudara dapat pertanyaan seperti ini, orang buta itu terus merendah. Ketika Yesus bertanya “apa yang bisa Aku perbuat untukmu?”, orang buta itu tidak menjawab “bagus, Engkau sudah mengerti bahwa Engkau harus melayani saya. Jadi yang pertama”, tidak. Dia langsung menjawab dengan “Tuhan”, Kyrios, ini pernyataan hormat yang besar sekali, “Tuhan, Engkaulah yang Raja, saya hanya seorang bawahan. Saya datang bukan untuk menuntut, saya datang untuk mengemis”. Aku tidak minta yang lain, hanya satu ini yang aku minta”, karena itu yang dijanjikan. Dan ini juga yang Tuhan Yesus kabulkan, Dia mengatakan “melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan”. Bukan hanya melihat, tapi juga berbagian di dalam Kerajaan Tuhan karena imannya. Bukan karena iman dia bisa melihat, karena iman dia menjadi milik Tuhan, ini hal penting yang Tuhan mau nyatakan. Maka dia mengikuti Yesus dan seluruh orang memuliakan Allah karena peristiwa ini.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)