Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Tuhan yang mempersiapkan semua
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Tuhan yang mempersiapkan semua

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 22: 7-20)
Ini bagian yang sangat indah dan penuh hal yang mengharukan. Di dalam ayat-ayat ini kita diingatkan akan beberapa hal. Pertama, bagian ini mengingatkan kita kepada Paskah. Paskah dalam Kitab Keluaran adalah peristiwa yang sangat penting, bahkan paling penting dibandingkan dengan seluruh peristiwa lain di dalam Perjanjian Lama karena di Paskah ini adalah momen ketika Tuhan melahirkan Israel. Paskah adalah hari yang sangat besar, hari yang sangat penting, karena sebelum Paskah, Tuhan memberikan tulah kepada Mesir. Dan tulah ini adalah sesuatu yang menyatakan pembalikan ciptaan seperti yang tertulis di Kitab Kejadian. Yang saya bagikan ini adalah tema-tema yang sangat penting, kita bisa melihat kesatuan dari berita Alkitab melalui pesan-pesan yang diberikan Alkitab. Waktu Saudara baca pesan-pesan dari satu bagian, Saudara akan diingkatan akan bagian lain melalui narasi atau cerita itu. Waktu kita membaca Keluaran, terutama di dalam tulah, kita menyadari Tuhan menghukum Mesir dengan cara membalikan penciptaan, ini tema baru bagi kita, tapi tema ini tidak asing dalam studi biblika. Karena ini adalah tema dari seorang ahli Perjanjian Lama yang bernama Walter Brueggemann. Walter Brueggemann mengatakan Tuhan mencipta dengan arah yang tepat yaitu dari keadaan kacau-balau, kosong, penuh air dan gelap menjadi pelan-pelan ada terang, muncul darat dan setelah itu jadi keadaan yang sangat limpah, baru masuk Sabat. Enam hari penciptaan dan hari ketujuh yaitu Sabat, menunjukan arah dari ciptaan. Dari kacau menjadi teratur, dari kosong menjadi berlimpah, dari penuh air menjadi muncul darat, dari sangat gelap muncul terang. Lalu finalnya adalah Sabat. Ketika Tuhan memberikan tulah kepada Mesir, Tuhan membalikan arah ciptaan ini, dari limpah menjadi kosong, dari teratur menjadi kacau-balau, dari terang menjadi gelap, dari hidup menjadi mati. Ini pola-pola penciptaan yang sangat clear. Tidak heran dari Kitab Kejadian, Alkitab mengatakan pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong, tohu va bohu, dalam Bahasa Ibrani. Artinya adalah keadaan yang kacau-balau tapi kosong, tidak ada makhluk bisa hidup di situ. Manusia tidak mungkin hidup dalam keadaan kacau-balau dan kosong, karena tidak ada darat, tidak ada terang, tidak ada keteraturan dan tidak ada kelimpahan. Tapi setelah Tuhan menyelesaikan 6 hari penciptaan, dari keadaan kacau-balau dan kosong, dari keadaan penuh air dan gelap, Tuhan menciptakan bumi yang sangat indah, air ada pada batas yang tepat, daratan muncul. Daratan diisi dengan limpah tanaman-tanaman yang menghasilkan buah bagi manusia. Darat penuh dengan binatang, udara penuh dengan burung, di laut penuh dengan ikan, dari kosong menjadi sangat berlimpah, dari kacau-balau menjadi sangat teratur, dari penuh air menjadi daratan, dari gelap menjadi terang, lalu pada hari ke-6 dari tanah liat yang tidak ada hidup, Tuhan hembuskan hidup sehingga manusia jadi makhluk yang hidup. Ini yang Paulus katakan dalam Roma 5, Adam yang pertama dijadikan hidup oleh Tuhan. Dari mati menjadi hidup. Orang Mesir sedang dibalikan, Mesir tidak bisa menikmati ciptaan Tuhan karena Tuhan balikan ciptaanNya menjadi sangat kacau.

Tapi kekacauan ini adalah kekacauan yang akan menghasilkan umat Tuhan. Umat Tuhan keluar dari keadaan yang kacau ini. Sama seperti di dalam Kitab Kejadian, Tuhan menciptakan yang baik dari kekacauan, dari kacau Tuhan membuat teratur, dari keadaan kosong Tuhan membuat berlimpah, dari keadaan gelap Tuhan membuat terang, dari keadaan mati Tuhan membuat hidup. Demikian tulah Mesir, tulah Mesir membuat Mesir penuh dengan kekacauan, kekosongan, kegelapan dan kematian. Tapi dari situ Tuhan keluarkan umatNya, dari kacau keluarlah umat. Ini pola Alkitab yang harus kita pahami, dari keadaan kacau Tuhan selalu berhasil menyatakan pekerjaan yang paling mulia. Makin kacau akan menghasilkan hal yang paling mulia. Itu sebabnya orang-orang Kristen di dalam keadaan apa pun tidak pernah kehilangan harapan. Orang Kristen bisa sangat tertekan hidupnya, tapi dia tidak akan pernah kehilangan harapan, karena dia tahu sekacau apa pun keadaan justru akan membuat kemuliaan Tuhan semakin bersinar setelahnya, serusak apa pun keadaan justru akan Tuhan pakai untuk menunjukan berapa hebatnya Dia. Maka dari gelap terbitlah terang, dari kekacauan keluarlah keteraturan, dari kekosongan keluarlah kelimpahan, dari kematian munculah hidup. Ini yang Israel pahami ketika mereka membaca Kitab Keluaran, maka mereka sadar mereka adalah bangsa yang dikeluarkan oleh Tuhan dari keadaan kacau-balau dan kosong, gelap gulita dan penuh kematian. Mesir bukan lagi tanah yang bagus, Mesir adalah tanah yang bau kematian, tanah yang gelap, tanah yang penuh kekacauan. Dan Tuhan keluarkan Israel dari Mesir.

Orang Israel mengingat Hari Paskah sebagai hari yang penting, ini adalah hari di mana mereka keluar dari Mesir, mereka boleh menikmati pekerjaan Tuhan membentuk mereka, menjadikan mereka bangsa yang dikeluarkan dari keadaan kacau. Keadaan kacau mereka tinggalkan di belakang dan sekarang mereka mendapatkan kesempatan hidup sebagai bangsa yang mengenal Tuhan, bangsa milik Tuhan sendiri. Mereka bukan lagi milik Mesir, mereka bukan lagi milik diri mereka, sekarang mereka milik Tuhan. Dari kacau dikeluarkan menjadi milik Tuhan. Demikian juga kita sekarang, kita adalah orang-orang yang dikeluarkan dari kekacauan hidup kita sebelumnya. Dulu hidup kita begitu kacau, tapi Tuhan keluarkan kita dan menyatakan “Aku sekarang memiliki engkau, Aku sekarang menebus engkau. Aku sekarang menjadikan diriKu sebagai warisanmu, dan Aku menjadikan dirimu milikKu”, ini relasi yang indah sekali yang Tuhan nyatakan. Itu sebabnya pola-pola di dalam Alkitab seringkali berulang untuk menyatakan kepada kita bahwa Tuhan adalah Tuhan yang bekerja dari Kejadian sampai Wahyu. Di dalam seluruh kitab ini tangan Tuhan sedang mengerjakan apa yang sudah Dia rencanakan dari awal. Maka dalam Kitab Suci bisa kita paralelkan satu bagian dengan bagian lain untuk memberikan kepada kita pengertian yang limpah tentang apa yang sebenarnya Tuhan mau nyatakan di dalam bagian itu. Demkian juga ketika orang membaca Lukas 22 ini, mereka sadar bahwa di dalam pekerjaan Tuhan, mati di kayu salib, ada hal yang sangat mirip dengan Paskah di dalam Kitab Keluaran. Apa saja yang mirip? Yang pertama, kalau di dalam Kitab Keluaran, Tuhanlah yang bekerja mengatur semua sampai pada hari Paskah, yaitu ketika orang Israel menyembelih kambing domba. Tuhan juga yang mengeluarkan Israel dari Mesir, dengan tangan yang kuat. Tuhanlah yang membuat Mesir mengeluarkan Israel, bukan karena kebaikan Mesir, bukan karena Mesir mengatakan “saya kasihan sama kamu, saya bebaskan kamu”. Sebaliknya Tuhan mengatakan “Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan lihat apa yang akan Aku kerjakan. Aku keraskan hati Firaun, tapi justru di tengah hati dia yang paling keras, Aku akan membebaskan umatKu”, umat Tuhan bebas bukan karena belas kasihan dari Mesir, tapi Israel dikasihani Tuhan maka mereka bebas. Ini juga hal yang harus kita pahami sekarang, orang Kristen beribadah di negara ini bukan karena belas kasihan pemerintah, orang Kristen beribadah di negara ini bukan karena izin dari agama mayoritas. Orang Kristen beribadah di negara ini karena belas kasihan Tuhan kepada kita. Kita tidak perlu minta belas kasihan dari pemerintah, kita tidak perlu menjilat kepada mereka, berharap supaya mereka baik kepada kita, supaya kita boleh beribadah. Tidak, kita minta belas kasihan kepada Tuhan.

Selain Tuhan menindas Mesir, Tuhan juga memberi tahu “sekarang kamu simpan domba dan kambing, simpan yang paling baik, kurung dia selama beberapa lama dan jaga baik-baik supaya tidak bercacat”. Jadi orang Israel disuruh menyimpan seekor kambing atau domba untuk nanti dijadikan korban. Mereka harus ambil kambing atau domba yang paling bagus, yang tidak bercacat. Mengapa perlu ada kambing dan domba ini? Karena sebelum Israel keluar, mereka mesti ditebus dengan darah dulu. Mesti ditebus dengan darah karena mereka sama jahatnya dengan Mesir. Israel perlu ditebus supaya tidak mati, Mesir tidak ditebus maka mati. Yang bedakan Mesir dengan Israel bukan karena Israel lebih baik, tapi karena Tuhan memberikan penebusan kepada Israel. Tuhan tidak memberikan penebusan kepada Mesir, maka Mesir mati. Yang bedakan kita dengan dunia, bukan karena ktia leih baik, tapi karena kita mendapat penebusan maka kita tidak mati. Dunia tidak mendapat penebusan maka dunia mati. Jadi orang Kristen tidak mungkin sombong, tidak ada orang Kristen yang bisa sombong. Kalau ada orang Kristen yang sombong, dia belum benar-benar Kristen. Orang Krsiten cuma sadar satu hal bahwa mereka boleh mendapat kehidupan karena ada korban. Mereka boleh mendapat keselamatan karena ada Penebus, mereka boleh mendapat pengampunan karena ada yang dikorbankan. Orang Israel menyimpan kambing dan domba ini supaya mereka tahu bahwa tanpa kambing dan domba ini, anak sulung mereka pun harusnya mati. Mereka mempersiapkan kambing dan domba, dan mereka mempersembahkan ketika waktunya tiba. Mereka menyembelih lalu darahnya dioleskan ke ambang pintu, setelah itu mereka bakar kambing dan domba itu, dan mereka makan beserta dnegan sayur pahit, mereka juga siapkan adonan roti yang tidak beragi karena Tuhan berjanji “setelah ini akan ada tangisan di Mesir dan kamu akan keluar”. Itu benar-benar terjadi. Tapi itu yang Tuhan lakukan supaya orang tahu dari awal itu pekerjaan Tuhan bukan pekerjaan Musa. Dari awal Tuhan yang merancang semuanya. Itu sebabnya peristiwa keluarnya Israel dari Mesir adalah peristiwa dimana Tuhan menyatakan “Aku berjaga-jaga bersama dengan umatKu dari awal sampai selamanya”. Tuhan menyertai umatNya dan Tuhan bekerja menyatakan kehendakNya pada umatNya dalam segala yang Dia rencanakan.

Waktu murid-murid mendengarkan kalimat Yesus, mereka akan diingatkan pada peristiwa Keluaran. Di ayat 7 dikatakan “maka tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: “Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan”, Yesus mengatakan ini kepada Petrus dan Yohanes, jadi siapa yang harus persiapkan perjamuan Paskah? Petrus dan Yohanes. Mereka ditugaskan Tuhan untuk mempersiapkan Perjamuan Paskah supaya kita bisa makan. Lalu mereka tanya “di mana?”. Ayat 10 jawabannya “Jawab-Nya: “Apabila kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia ke dalam rumah yang dimasukinya”, ini persiapan yang sangat unik, bertemu dengan orang yang membawa kendi air lalu mengikuti dia ke dalam rumah. Orang ini tidak dikenal, jadi Petrus dan Yohanes disuruh datang ke kota lalu mengikuti orang yang membawa kendi. Kemudian dilanjutkan “dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: di manakah ruangan tempat Aku bersama-sama dengan murid-murid-Ku akan makan Paskah? Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar yang sudah lengkap, di situlah kamu harus mempersiapkannya”, Petrus dan Yohanes tidak dikenal oleh orang itu, tiba-tiba mereka datang dan tanya mau Paskah di mana. Tapi mereka taat, mereka pergi dan menemukan apa yang Yesus katakan semua itu terjadi. Dan ketika mereka bertanya di mana ruangan untuk makan Paskah, orang itu langsung menjawab semua sudah disiapkan. Siapa yang siapkan? Yang menyiapkan adalah Yesus, Yesus ingin menyatakan apa yang Musa pahami di dalam Kitab Keluaran bahwa Tuhan yang mengerjakan semuanya. Yang kerjakan sampai Israel keluar dari Mesir adalah Tuhan. Petrus dan Yohanes mendapatkan hal yang sama, yang mempersiapkan Paskah adalah Tuhan Yesus bukan mereka. Memang mereka yang disuruh, tapi yang kerja adalah Tuhan. Ini yang kita pegang, mari kita belajar beriman di sini, Tuhan suruh kita kerjakan dan nanti kita akan melihat Tuhan yang kerja. Tuhan suruh kita taat, tapi tetap Tuhan yang kerjakan. Maka Petrus dan Yohanes mengalami bahwa Yesus menyiapkan semua, semua hal sampai pada penyalibanNya. Penyaliban Yesus adalah sesuatu yang Yesus sendiri siapkan. Yesus bukan korban yang tidak berdaya, Dia bukan korban ketidak-adilan masyarakat, Dia bukan orang yang ingin sukses tapi ditindas dan akhirnya hancur, Dia bukan korban kesewenang-wenangan. Dia dengan rela menyerahkan diriNya sebagai korban dan itu yang ditunjukan dalam Injil Lukas ini. Dia yang mengatur segala sesuatu sampai Dia mati di kayu salib, itu Dia sendiri yang atur. Dia menyerahkan diriNya dan mengatakan “ini Aku hai umatKu, Akulah yang menyerahkan diri untuk kamu, mati bagi dosamu”. Yesus mati bagi engkau, bukan karena korban. Yesus mati bagi engkau karena Dia cinta kepadamu. Dan Dia atur semua sampai kematianNya. Mau tidak Saudara seperti ini, mengatur hidup supaya nanti hancur, mendesign hidup untuk nanti menjadi korban? Tidak ada orang mau melakukan ini. Semua mau men-design hidup supaya baik, supaya nanti ada di posisi puncak, untuk kemuliaan, kemegahan dan kebaikan diri. Tapi Tuhan Yesus menyatakan “Aku men-design hidupKu demi kebaikanmu, demi engkau mendapatkan kebenaran dan keselamatan dari Tuhan”. Tuhan mengatur semua peristiwa baik besar maupun kecil untuk menuju kepada penyalibanNya. Dia Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang berkuasa atas hati manusia, Dia Tuhan yang berkuasa atas seluruh peristiwa, dan Dia memakai kuasaNya untuk menjadi korban. Kuasa untuk menjadikan diri korban, tema ini hanya ada di Kekristenan. Saudara mempelajari ajara Hindu, Budhis, Islam, tidak ada yang signifikan dalam pengorbanan, semua mengajarkan pengosongan diri tanpa hasil. Orang mengajarkan “mari kita tidak menyakiti apa pun, mari menahan hawa nafsu, mari berusaha berbuat baik, mari kita coba kekang diri kita”, tapi tidak ada hasil apa pun. Yesus Kristus mengerjakan semua dan hasilnya menyebar ke seluruh dunia. Itu sebabnya kita boleh beriman kepada Kristus, anugerah besar Tuhan nyatakan. Dia adalah Allah yang menjadi manusia, Dia tetap mengatur seluruh sejarah dan Dia mengatur seluruh keadaan untuk memuncak pada peristiwa penyalibanNya. Itulah yang Petrus dan Yohanes saksikan.

Dan dalam persiapan ini mereka sadar satu hal, mereka akan makan bersama Yesus dan Yesus akan melakukan sesuatu yang sangat luar biasa setelah ini. Tapi mereka tidak tahu yang luar biasanya apa, mereka masih belum tahu sehingga bahkan setelah percakapan yang terjadi setelah mereka selesai makan pun, mereka masih bertengkar siapa yang paling besar. Yang mereka tahu, “setelah kita makan bersama nanti Yesus akan menyatakan pekerjaan final yang besar dan karena itu kami ingin berbagian menjadi orang yang paling penting”. Murid-murid mulai bertengkar tentang siapa paling besar karena mereka sadar ini puncak pekerjaan Tuhan, Tuhan sudah akan menyatakan kerajaanNya dengan sangat limpah saat ini. “Tidak ada yang bisa menahan Dia, Kerajaan Tuhan datang sekarang, kami ingin menjadi menteri, kami ingin menjadi penguasa, kami ingin memegang posisi penting di dalam Kerajaan milik Mesias ini”. Tapi Yesus mengabarkan sesuatu yang sangat mengharukan, Dia mengatakan “Aku punya kerinduan untuk makan bersama dengan engkau, Aku rindu bersekutu dengan engkau”. Ini mirip dengan permohonan sebelum mati. Di dalam konsep Yahudi dan budaya mana pun, sebelum seseorang meninggal dunia, dia akan terlebih dahulu menyatakan apa yang menjadi keinginan dia sebelum dia mati, ini momen yang sangat mengharukan. Di dalam segala gejolak perasaan Yesus yang paling besar, kerinduan Dia paling besar adalah untuk bersekutu dengan murid-murid. Ini lah isi hati dari Juruselamat kita, kerinduan Dia paling besar ketika di dalam dunia ini adalah bersekutu dengan umat tebusanNya, dengan Saudara. Apakah kerinduan Saudara paling besar adalah bersekutu dengan Dia? Yesus mengatakan “yang paling Aku rindukan adalah makan dan minum bersama dengan kamu, mempunyai persekutuan bersamamu”. Ini bisa kita lihat di ayat 14 dan seterusnya, ketika tiba saatnya sebentar lagi Yesus akan mati, Yesus duduk makan bersama rasul-rasulNya. KataNya kepada mereka “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu sebelum Aku menderita, inilah momen kita yang terakhir”. Yesus sadar ini momen-momen terakhir, tapi murid-murid tidak sadar. Bayangkan berapa sedihnya hati orang yang akan meninggalkan orang yang dikasihi, tapi orang yang dikasihi belum sadar.
Dan Yesus mengatakan di dalam ayat 15-16, ada pernyataan yang sangat mengharukan, tapi juga ada pernyataan yang sangat indah. Yesus mengatakan “kita akan bertemu lagi persis seperti ini”. Dan nanti ketika makan perjamuan itu dinyatakan dalam kesempurnaan waktu Yesus datang, bukan hanya 12 murid lagi, kita semua akan ikut. Tuhan Yesus mengatakan “suatu saat kita akan makan bersama dengan seluruh penghuni Kerajaan Allah yang mendapatkan warisan dari darah Kristus”. Kalimat ini indah sekali, Yesus mengatakan “kerinduanKu paling besar adalah bersekutu dengan engkau, dan Aku tidak akan lakukan ini lagi sampai ciptaan yang baru itu terjadi”. Saya pikir kalimat yang paling mengharukan dari Injil Lukas adalah di bagian ini. Maka Dia mulai mengambil cawan, mengucap syukur lalu berkata “ambil ini dan bagikan di antara kamu. Sebab mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang”. Kristus tidak menikmati sorga sebelum Dia bersekutu kembali bersama murid-murid. “Dimana Aku berada, di situ kamu akan berada”, itu yang Yesus inginkan. Maka di sini kita bisa memahami betapa besar cinta kasih Yesus kepada umat tebusanNya. Yesus tidak hanya menyelamatkan umat tebusanNya hanya di dalam cara yang tidak personal. Yesus menebus seluruh uma tebusanNya dengan perasaan kasih yang personal, satu demi satu. Yesus mencintai umat tebusanNya dengan kasih yang sifatnya personal. Itu sebabnya di dalam Kitab Galatia, Paulus mengatakan “aku hidup untuk Juruselamatku yang sudah mati bagiku dan menyerahkan diri untukku”. Paulus menyadari cinta kasih Yesus sangat personal untuk dia dan untuk semua orang percaya. Dan bahwa kerinduan Tuhan paling besar adalah fellowship dengan orang-orang yang Dia kasihi. Alkitab mengajarkan relasi adalah bagian yang paling penting di dalam hidup manusia. Karena di dalam relasi kita menyatakan kasih, di dalam relasi kita menyatakan kehadiran bagi yang lain. Relasi berarti kasih dan relasi berarti hadir bagi yang lain. Hadir di tengah-tengah perkumpulan dari orang-orang yang kita kasihi. Waktu Gregory dari Nazianzus menulis tentang Tritunggal, dia mengatakan Allah Tritunggal adalah Allah yang saling mengosongkan diri bagi Pribadi yang lain. Bapa rela mengosongkan diri untuk Anak hadir, Anak rela mengosongkan diri untuk Roh Kudus hadir, dan Roh Kudus rela mengosongkan diri untuk ada bersama-sama dalam kesatuan Tritunggal yang indah ini. Hal yang bisa kita pelajari tentang Tritunggal itu banyak sekali, tapi tidak ada satu pun yang tidak membuat kita tidak makin mengagumi Tuhan dan cinta kasihNya. Maka Gregory dari Nazianzus mengatakan waktu Kristus berada di dalam dunia ini, Kristus mengosongkan diriNya supaya orang bisa masuk ke dalam persekutuan. Mengosongkan diri demi orang lain. Kasih berarti persekutuan, persekutuan berarti kehadiran. Dan kehadiran kita adalah kehadiran yang akan memberi jalan bagi yang lain. Kalau kita tidak memberi jalan bagi yang lain, tidak mungkin ada persekutuan. Kalau semua masing-masing mau egonya sendiri, “pokoknya saya”, maka tidak mungkin ada tempat bagi orang lain. Di mana orang berpusat pada diri, di situ tidak ada tempat bagi orang lain. Tuhan mengajarkan hal sebaliknya, seumur hidup Dia ada di dunia, Dia memikirkan muridNya, seumur hidup Dia melayani, Dia membuka hidupNya untuk ada orang lain boleh hadir di tengah-tengahnya. Inilah konsep relasi yang kita perlu pelajari. Mengapa suami istri sulit damai? Karena masing-masing punya ego, bukan mengosongkan diri. Siapa tidak mau mengosongkan diri, tidak mungkin mengerti kasih dan relasi.

Waktu itu Yesus langsung menyatakan satu pengertian yang sangat anggun yang kita peringati di dalam Perjamuan Kudus. Di ayat 19 Yesus mengambil roti mengucap syukur, mulai memecah-mecahkannya dan memberikan kepada mereka, kataNya “inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Yesus memecahkan roti yang melambangkan diriNya dipecahkan bagi orang. Mengapa Dia dipecahkan? Bukan karena kekacauan politik, bukan karena dunia terlalu kuat sehingga menghancurkan Dia, tapi karena cinta kasihNya menyatukan semua murid yang akan percaya kepada Dia dalam satu table fellowship, inilah yang mendorong Dia untuk memecahkan tubuhNya. TubuhNya dipecah supaya kita disatukan. Kalimat penting dari Agustinus di dalam Confessions itu sangat baik untuk kita ingat, Agustinus mengatakan Allah adalah Allah yang rela turun untuk kita naik, yang rela kosong supaya kita penuh, yang rela mati supaya kita hidup, yang rela dipecah supaya kita terkumpul, yang rela dihancurkan supaya kita dipulihkan, yang rela mengalami kematian supaya kita mengalami kehidupan. Maka roti yang dipecahkan menjadi lambang tubuh Kristus yang dipecahkan. Tubuh yang dipecahkan bagi kamu. Lalu Yesus mengambil cawan sesudah makan dan mengatakan “cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu yang ditumpahkan bagi kamu”, ditumpahkan bagi kita. Yesus mati di kayu salib supaya kita boleh menjadi satu dengan Dia, satu fellowship yang sangat indah. Di dalam konsep Perjanjian Lama, yang seharusnya juga menjadi konsep kita, makan bersama menunjukan fellowship yang sangat erat. Tidak ada orang yang makan satu meja tanpa berelasi. Makan bersama menunjukan relasi yang indah. Dan Yesus mengatakan “tunggu sampai semua berkumpul, baru kita makan bersama”. Bayangkan berapa mengharukannya ini. Kali berikut kita makan bersama ketika semua umat tebusan sudah berkumpul”, sekarang belum boleh dulu. Petrus, Yohanes, Yakobus dan semua murid, kecuali Yudas Iskariot, sekarang sudah di sorga, tapi di sana pun mereka belum melakukan perjamuan ini. Yesus mengatakan “sampai semua sudah berkumpul dulu, baru kita sama-sama lakukan di dalam bentuk yang sangat megah”. Itu sebabnya kita melakukan perjamuan ini karena kita mengingat suatu saat nanti kita akan makan bersama dengan semua orang yang Tuhan tebus dan Dia akan memimpin perjamuan ini dalam kasih yang indah sekali. Sehingga Yesus sedang menyatakan dalam 2.000 tahun yang lalu “sabar, masih banyak saudara-saudaramu yang akan dikumpulkan”. Bagaimana kumpulkan mereka? “lihat tubuhKu yang terpecah, inilah caraKu mengumpulkan mereka”. Inilah yang bisa kita ingat mengenai perjamuan. Kita bisa belajar beberapa poin, poin pertama seluruh pengorbanan Kristus adalah pekerjaan Tuhan, Dia yang inisiatif. Yesus bukan orang yang tidak punya kekuatan, kekuatanNya sangat besar dan Dia pakai kekuatan itu untuk memastikan Dia maju ke kayu salib. Kedua, semua yang dikerjakan Tuhan itu semua karena kuasaNya yang besar untuk mengumpulkan orang pilihan. Yesus mau mengumpulkan semua orang pilihan, sehingga semua orang itu ada di dalam Dia. Cara Dia mengumpulkan adalah dengan Dia dipecahkan. Jadi hal kedua yang kita lihat dalam bagian ini adalah Tuhan punya rencana untuk mengumpulkan semua. Dan kalau Tuhan punya kekuatan untuk mengatur semua terjadi sampai Dia disalib, bahkan pengkhianatan Yudas pun Dia sudah tahu, dan Dia tidak melarikan diri. Dia sudah tahu siapa yang akan mengkhianati, Dia sudah tahu bagaimana Dia akan ditangkap, Dia sudah tahu bagaimana Dia akan ditipu dan akhirnya diseret ke pengadilan. Dia tahu dan Dia tidak menghindarkan diri. Dia secara inisiatif penuh mau maju ke kayu salib karena Dia tahu dengan cara ini umat Tuhan akan dikumpulkan. Ketiga, bagian ini memberikan kepada kita pengharapan yang besar. Suatu saat kita akan dikumpulkan bersama dengan Tuhan di dalam kasih yang paling indah. Kasih yang Saudara nikmati sekarang bukan yang paling indah, kasih yang kita nikmati antar sesama kita belum yang terindah. Kapan kita bisa menikmati kasih yang sejati? Waktu kita berkumpul di meja perjamuan, dia hari yang baru ketika Tuhan datang, pada waktu itu kita baru mengerti inilah kasih, inilah fellowship yang sejati. Apakah kasih yang sekarang palsu? Tentu tidak, tapi belum sempurna. Maka silahkan nikmati cinta kasih yang Saudara bagikan dan yang Saudara terima, entah itu dari orang tua, pacar, suami, istri, dari siapa pun, itu cinta kasih yang murni dan penuh keagungan, tapi itu bukan yang final. Maka pikirkan jika kasih yang kita nikmati di bumi ini sedemikian nikmat dan hangat, bagaimana dengan kasih yang nanti akan dinyatakan dengan sempurna? Tentu jauh lebih indah. Paulus menyatakan di dalam Surat Korintus 13, kasih melampuai semua karena kasih itulah yang akan digenapkan ketika Yesus datang. Pengharapan akan berhenti waktu Yesus datang, karena ketika Dia datang kita akan berhenti berharap. Iman akan berhenti kalau yang kita imani sudah kita lihat. Tapi kasih bukan akan berhenti melainkan akan dipuncakan ketika Kristus datang. Mari belajar mengasihi karena inilah yang Tuhan akan sempurnakan nanti. Bagaimana cara mengasihi? Dengan berkaca kepada Kristus yang dengan segenap kekuatanNya mengatur supaya Dia dipecahkan bagi kepentingan orang banyak.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)