Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Tuhan, mohon ingatlah aku
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Tuhan, mohon ingatlah aku

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 23: 33-43)
Kita sampai pada bagian ketika Yesus disalib dan ini merupakan bagian yang sangat penting dalam Kitab Suci. Ini adalah puncak perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan ini juga merupakan puncak dari perjanjian antara Tuhan dan Israel. Tidak banyak yang menyadari ini, tapi Kitab Suci terutama kitab Injil berusaha memberitahukan kepada para pembacanya bahwa inilah puncak dari perjanjian itu. Saudara dan saya pernah membaca perjanjian antara Tuhan dan Abraham, di sinilah puncaknya. Saudara dan saya pernah membaca tentang perjanjian antara Tuhan dan Israel, di sinilah puncaknya. Saudara dan saya pernah membaca apa yang Tuhan pernah nyatakan di Gunung Sinai, inilah puncaknya. Bagaimana mungkin salib jadi puncak dari seluruh perjanjian ini? Mengapa Tuhan bekerja dengan cara seperti ini? Mengapa Yesus dipaku? Itu adalah klimaks dari perjanjian antara Allah dan manusia. Semua ini kita tidak mengerti, kecuali kita melihat gambaran Kitab Suci secara utuh, baru kita bisa tahu bahwa penyaliban Kristus adalah suatu yang Tuhan sudah rencanakan menjadi puncak yang akan membedakan antara ciptaan lama dan ciptaan baru. Ciptaan baru yang Tuhan sedang kerjakan menjadi sempurna di dalam Kristus. Saudara kalau membaca dalam Injil Yohanes, Yohanes sangat menekankan peristiwa hadirnya Yesus di dunia sebagai peristiwa perjanjian baru, perjanjian baru yang digenapi oleh Kristus, ciptaan baru sekarang sudah terjadi. Injil Yohanes berkali-kali bicara tentang ciptaan yang baru, berbicara tentang bagaimana Tuhan memberikan anugerah ketika Kristus datang membuat segalanya menjadi baru. Di dalam Kitab Wahyu dikatakan Allah sendiri yang berfirman, “lihat Aku menjadikan segalanya baru”. Jadi Tuhan membuat semuanya jadi baru. Kalau begitu kita perlu tahu mana batasan dari keadaan ciptaan lama yang sedang merosot karena dosa dengan ciptaan baru yang sedang dipulihkan dalam kemuliaan Tuhan. Yang lama sedang merosot dan yang baru sedang dipulihkan.

Keadaan ciptaan lama yang rusak karena dosa terus-menerus menurun dan merosot sampai puncaknya di salib. Lalu ciptaan baru mulai terjadi sejak Tuhan menyatakan kehadiranNya di tengah Israel, namun baru menjadi puncak ketika Yesus dibangkitkan. Maka hancurnya ciptaan yang korup dan bangkitnya yang baru itu terjadi pada peristiwa Kristus. Peristiwa hadirnya Kristus jauh lebih penting dari pada peristiwa apa pun. Seorang bernama F.F. Bruce mengatakan bahwa peristiwa hadirnya Kristus adalah satu-satunya peristiwa di bumi yang punya makna jauh lebih penting dari apa pun yang pernah terjadi di bumi dan di sorga. Jadi kehadiran Kristus sangat penting, peristiwa inkarnasi Kristus adalah momen yang luar biasa penting, inilah saatnya, inilah kegenapan waktu itu. Kegenapan waktu yang dicari-cari oleh para nabi di Perjanjian Lama, menjadi genap di dalam kehadiran Kristus. Karena begitu pentingnya kehadiran Kristus maka para penulis Injil berusaha untuk membahasakan dengan cara mereka untuk memberitahukan kepada kita bahwa Kristus adalah penggenap, Dialah yang membuat segalanya bermakna, Dialah yang membuat dari Kejadian sampai Maleakhi menjadi penting, dan Dialah yang memberikan pengharapan bagi seluruh umat manusia yang sudah menikmati ciptaan Tuhan, tapi yang sekarang rusak oleh dosa. Dosa ditaklukan, dunia yang lama diperbarui dan anugerah besar yang memperbarui diberikan di dalam Kristus. Karena begitu pentingnya peristiwa kehadiran Kristus, seorang teolog Amerika bernama Karl Barth mengatakan bahwa kita bisa merangkum semua hal tentang Tuhan melalui peristiwa kehadiran Kristus. Saudara bisa merangkum segala hal yang Saudara bisa renungkan tentang Tuhan, baik dengan pikiran maupun dengan sesuatu yang melampaui pikiran, semua dirangkum melalui kehadiran Kristus. Kristus adalah satu-satunya Pribadi yang berani berkata “jika engkau melihat Aku, maka engkau sudah melihat Sang Bapa. Tidak tahukah engkau bahwa Bapa ada di dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa”. Para penulis Injil sangat meninggikan peristiwa hadirnya Kristus. Itu sebabnya kita tidak mengerti kalau orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Siapa berusaha menafsirkan Kitab Suci, dia mesti tafsirkan Kitab Suci dengan adil. Bagaimana maksudnya adil? Maksudnya adalah dia berusaha tangkap apa yang sebenarnya penulis Kitab Suci coba sampaikan. Kita mudah sekali salah mengerti orang, kita mudah sekali membuat pernyataan-pernyataan yang menyimpulkan pemikiran orang lain dengan cara yang tidak seimbang. Kita menekankan satu aspek yang sebenarnya tidak ditekankan oleh sang penulis. Saudara baca buku, Saudara sangat mungkin salah mengerti. Saudara tafsirkan Alkitab, Saudara sangat mungkin salah tafsir. Itu sebabnya selain metoda penafsiran harus tepat, Saudara dan saya juga perlu belajar penafsiran dari orang-orang sebelum kita. Kesombongan selalu membuat kita salah mengerti, kesombongan membuat kita putar-putar terus di dalam kerangka berpikir sempit seperti seekor katak yang dikurung dalam tempurung. Sebenarnya ini tema dalam Kitab Kejadian, sayang banyak orang baca Kitab Kejadian dan melihat itu sebagai cerita kuno yang tidak relevan dengan sekarang, sayang sekali. Jadi apa itu fakta? Fakta itu adalah sesuatu yang terjadi di dalam dunia ciptaanNya Tuhan. Yang terjadi dalam dunia ciptaan Tuhan adalah Tuhan mencipta dunia ini dan berkehendak. Tuhan punya kehendak, Tuhan menghendaki untuk menjadikan bumi tempat yang penuh kesenangan bagi manusia, sehingga Dia dan manusia boleh berdiam, ini penting untuk kita pahami. Dia dan manusia berdiam di dalam tempat yang penuh dengan kesenangan. Itu sebabnya ketika Tuhan memimpin Israel keluar dari Mesir, Tuhan menjanjikan “Aku akan memberikan kepada engkau tanah yang berlimpah-limpah susu dan madu”, ada kelimpahan. Tuhan tidak mengatakan kepada Israel “Israel, Aku akan reformed-kan kamu, Aku akan keluar engkau dari Mesir, tempat yang enak itu, menuju ke tempat yang sangat tidak enak, pikul salib, sangkal diri”, “tempatnya seperti apa, Tuhan?”, “pokoknya tempatnya tidak ada kenikmatan sama sekali, ini baru kamu ikut Tuhan. Sekarang engkau ikut Tuhan dan engkau akan ke tempat yang paling sengsara”, Israel akan menangis terus “Mesir, alangkah kasihannya engkau, Tuhan menghancurkan Mesir untuk memberikan kita tempat yang mirip dengan kehancuran Mesir, sehingga kita akan berada di tanah Kanaan yang kering kerontang, penuh dengan bangkai hewan”. Ketika mereka masuk bersama Yosua, dia mengatakan “lihatlah Israel, tempat penderitaan kita”, lalu mereka bersorak “hidup Tuhan yang menjadikan kita sengsara”, tidak seperti itu. Tuhan menjanjikan tempat yang penuh kelimpahan. Tapi sebelum tempat yang penuh kelimpahan, ada padang gurun dulu, tapi padang gurun itu bukan tempat perjanjian Tuhan. Tapi heran mengapa Tuhan menyatakan diri di padang gurun? Ini semua adalah pernyataan fakta yang harus kita pahami, tapi tidak banyak orang tahu bahwa ini penting untuk kita pahami di dalam hidup. Tuhan menjanjikan tempat yang indah, tapi Tuhan mengijinkan sebelum tempat itu dituju ada penderitaan, kesulitan dan pengorbanan selain karena kita sudah berdosa, juga karena seluruh dunia sudah jatuh dalam dosa. Maka ada padang gurun sebelum masuk Kanaan. Tapi Tuhan tidak menyatakan diri di Kanaan, Tuhan tidak mengatakan “Israel, datanglah ke Kanaan, Aku tunggu”, Tuhan mengatakan “Aku mau kamu temui, Aku berkenan untuk kamu temui di Sinai”. Mengapa di Sinai? Karena Tuhan akan menyertai di dalam sebagian besar perjalanan Israel, bahkan seluruhnya, dari mereka di Mesir sampai keluar di Sinai, sampai mereka ke Tanah Kanaan, ada Allah yang senantiasa menyertai mereka. Allah senantiasa menyertai Israel, ini janji Kitab Keluaran. Tuhan tidak meninggalkan engkau meskipun di padang gurun, tapi Tuhan tidak menjanjikan padang gurung. Tuhan tidak meninggalkan kita meskipun di padang gurun, padang gurun kita misalnya di Indonesia, atau dimana pun Saudara pikirkan. Ini padang gurun, nanti akan ada keadaan yang jauh lebih baik di mana Tuhan akan berdiam bersama kita. Tapi sebelum itu terjadi, Tuhan sudah menyertai. Itu sebabnya penciptaan dinyatakan dengan cara yang polanya akan berulang. Awalnya akan penuh dengan kacau-balau dan kosong, tapi sesudah itu ada keindahan yang besar. Dan pasal kedua, Tuhan menciptakan taman di Eden. Inilah yang disebut dengan paradise, firdaus. Firdaus secara literal artinya adalah taman yang ditutup tembok yang besar, taman yang indah, tetapi ditutup dengan tembok. Bagi orang Yahudi pengharapan kembali ke taman ini itulah yang men-drive mereka. “Kami ingin kembali ke taman ini”. Maka bagi orang Yahudi, taman yang paling indah adalah taman kami. Taman itu tujuan final karena awalnya ada taman, tapi Adam dan Hawa diusir. Taman ini begitu baik, tapi Adam dan Hawa diusir keluar. Kalau begitu apa yang harus dikerjakan Adam dan Hawa? Taat sama Tuhan supaya boleh masuk taman itu lagi. Ini yang jadi perjalanan manusia di dunia ini. Dan Saudara bisa melihat manusia bisa membuat apa pun untuk bisa mendatangkan kemungkinan mendekat ke taman ini, Taman Eden. Semua orang berusaha membuat tempat yang bagus. Orang Yahudi mengatakan “ini terjadi karena natur kita seharusnya tinggal di Taman Eden. Taman Eden tidak lagi untuk kita karena kita sudah berdosa. Kita berusaha membuat taman, tapi sia-sia”. Itu sebabnya dalam Kitab Pengkhotbah dikatakan “aku membuat bagiku taman, aku membuat bagiku penyanyi-penyanyi. Aku menanamnya dengan berbagai macam buah”, tapi setelah itu dikatakan “sia-sia, semuanya sia-sia”. Mengapa tamannya sia-sia? Karena tamannya tidak akan menjadi Taman Eden yang baru. Kalau begitu bagaimana Taman Eden yang baru bisa terjadi? Dalam tradisi apokaliptik Yahudi, (tulisan apokaliptik Yahudi tidak banyak yang masuk Kitab Suci, mungkin cuma Daniel) dikatakan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan janji ini. Tuhan sedang menyiapkan Taman Eden, dan sekarang sedang disiapkan di surga, di langit, di atas sana, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia, Tuhan sedang menyiapkan taman yang baru. Dan ada tradisi bukan dari Alkitab, ini tradisi yang tentu kita tidak harus percaya, yang mengatakan Tuhan mengangkat orang-orang untuk bantu Dia membuat taman. Henokh diangkat, kita tidak tahu mengapa Henokh diangkat tapi orang Yahudi mengatakan “saya tahu”. Tuhan sedang menyiapkan taman yang indah ini. Inilah yang Tuhan mau berikan kepada manusia. Lalu siapa yang boleh masuk? Nanti Tuhan yang putuskan siapa yang boleh masuk. Yang pasti hanya Israel yang setia yang boleh masuk. Tetapi ketika orang Israel kembali dari pembuangan, mereka menyadari yang mereka perlukan bukan hanya taman, tapi kerajaan. Maka tema Kerajaan Allah yang ada di Kitab Suci dimunculkan kembali. Sehingga baik tema kerajaan maupun taman ini berjalan bersama-sama. Dalam tradisi Yahudi mereka tahu Kerajaan Allah akan dipulihkan, satu sisi, dan mereka tahu taman akan dipulihkan, sisi yang lain. Kerajaan ini bukan hanya power tapi juga tentang keindahan hidup. Kerajaan ini bukan hanya menyatakan penguasaan Tuhan tapi kerajaan ini juga menyatakan kenikmatan hidup dalam taman indah yang Tuhan sudah siapkan bagi manusia. Siapa bisa mendirikan ini? Orang Israel percaya yang akan mendirikan adalah Dia yang berkuasa atas kerajaan. Sehingga dari kerajaan ini, taman itu bisa diperoleh, bisa dibuat, bisa dinyatakan. Kalau begitu Mesiaslah yang akan memulihkan baik kerajaan maupun taman. Kalau Mesias itu datang dengan kerajaanNya, maka taman itu akan terjadi. Inilah pengharapan orang Yahudi, dan ini yang dipahami oleh para pembaca Lukas. Sehingga Lukas melihat kehidupan Yesus, juga peristiwa kematianNya di atas kayu salib sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh orang Yahudi. Karena Raja itu akan datang dengan kerajaanNya dan Dia akan membawa taman yang baik itu.

Tetapi yang terjadi pada Yesus, Dia justru dipaku di atas kayu salib. Ini membuat orang-orang menghina Dia dengan mengatakan “hai Raja, jangankan Taman Eden kesenanganMu sendiri pun tidak bisa Engkau peroleh. Jangankan memberikan sukacita hidup bagi kami, sukacita hidup untuk diriMu pun tidak bisa Engkau dapatkan. Jadi bagaimana bisa tolong kami, hei Engkau yang tidak bisa menolong diriMu sendiri”, inilah yang diucapkan orang-orang. Mereka berani menghina karena Yesus ada di Bukit Tengkorak bukan di Taman Eden. Dia di bukit kematian, bukan di taman kehidupan. Segala sesuatu yang terjadi pada Yesus berbeda total dengan apa yang mereka idamkan di dalam pengertian Taman Eden. Itu sebabnya mereka marah dan mengatakan “ini nasib akhirMu di tempat kematian. Mana tamannya? Kamu dapat bukit tengkorak. Mana sukacitanya? Kamu justru dapat salib. Mana kebahagiaannya? Kamu justru akan disiksa, dibenci semua orang dan akan mati”. Tidak ada kesenangan yang dialami Yesus di atas salib. Kesenangan fisik tidak, kesenangan dapat relasi tidak, kesenangan dikasihi dan mengasihi orang, Dia mengasihi orang tapi Dia tidak dikasihi, tidak ada kesenangan disertai Tuhan. Mana Taman Edennya? Yang Yesus alami adalah pembalikan total dari Taman Eden. Di Taman Eden ada sukacita, di taman ini hanya ada dukacita dan kematian. Apa yang dialami Yesus sangat berat, orang terus menghina Dia dan mengatakan “mana kerajaanMu?”. Akhirnya mereka mengatakan “Tuhan tidak membiarkan orang benar mati. Kalau benar Dia Mesias, pasti Dia tidak akan mati. Meskipun Dia dipaku di kayu salib, lalu kita hina Dia, suatu saat sebelum Dia mati, Dia akan pulih. Mungkin Dia akan turun dari salib dan Dia akan bawa Kerajaan Allah datang. Mungkin itu yang akan terjadi”. Maka di antara orang Yahudi yang menghina, mulai ada perasaan segan “jangan-jangan benar”. Karena itu Yesus mengatakan di bagian lain di Kitab Suci, ketika Dia mengatakan “Eli, Eli lama sabakhtani”, “jangan-jangan Dia panggil Elia, mati kita semua”. Tapi ternyata Elia tidak datang, maka mereka berpikir “Elia pun sudah tidak mau Engkau”. Padahal yang Yesus serukan adalah “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Yesus sedang dalam keadaan yang menjadi antitesis, negasi mutlak dari firdaus. Akhirnya mereka bertanya “dimana taman yang akan Engkau janjikan itu”, semua mengolok-olokan Dia. Lalu ada prajurit menganjukan anggur asam, ini benar-benar menjadi pembalikan dari firdaus. Dikatakan di firdaus engkau akan menikmati anggur dengan limpah, anggur yang terbaik. Anggur terbaik itu tidak murah. Dan ini adalah penghinaan bagi Yesus ketika Dia diberikan anggur asam, anggur yang jelek. “Engkau mengharapkan firdaus yang baru, ini saya berikan anggur yang jelek, anggur asam”. Ini sebenarnya bukan anggur, tapi satu minuman yang akan membuat orang sedikit ditolong untuk menanggung rasa sakitnya. Ini menjadi simbol selain ada kebiasaan memberi minum orang yang disalib kalau dia terlalu menderita, tapi ini juga menjadi penghinaan bagi Yesus “lihat anggur yang Engkau mau berikan. Mana anggurnya? Justru kami berikan kepadaMu, anggur murahan yang jelek, yang hanya digunakan untuk orang yang mau mati di kayu salib”. Yesus dihina begitu besar dan orang teriak “jika Engkau adalah Raja Yahudi, selamatkanlah diriMu”. Dan mereka mengejek Dia dengan tulisan “Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi”. Yang paling parah adalah penjahat di samping Dia ikut-ikutan menghina “hei Kamu, mengapa Kamu tidak selamatkan diriMu. Kalau Engkau Mesias, selamatkan diriMu, selamatkan kami”. Lalu temannya menegur dia, temannya menegur dengan kalimat yang sangat berkait dengan apa yang digumulkan Mazmur. Dikatakan “tidakkah engkau takut juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?”, maksudnya adalah kalau ada orang benar dihukum, Tuhan tidak akan diam. Jangan sembarangan buka mulut untuk menghina orang benar. Orang benar meskipun dalam keadaan seperi ini pun akan Tuhan bela, ini yang dia tahu. Maka di dalam pengertian Yahudi, terutama di dalam Mazmur, dikatakan orang benar tidak akan ditinggalkan Tuhan meskipun sekelilingnya penuh musuh, meskipun dia masuk lubang maut, meskipun maut menutup kepalanya, meskipun dia ada di laut yang dalam, meskipun dia ditelan ikan yang besar, Tuhan tidak tinggalkan dia. Maka di mata orang baik yang disalib di sebelah Yesus, dia melihat ini ada sesuatu yang menunjukan kebobrokan Israel. Orang benar ini sedang dihancurkan. Dan kalau Dia adalah orang benar berarti pengakuan Dia tentang siapa diriNya pasti benar. Mengapa orang ini bisa punya perasaan kalau Yesus benar? Saya sangat setuju dengan apa yang Pak Tong katakan. Pak Stephen Tong mengatakan “karena orang jahat tidak mungkin mengeluarkan kata-kata yang indah di atas kayu salib”. Orang benar akan keluarkan kata-kata benar. Yesus tidak memaki di kayu salib. Di dalam keadaan paling sulit, Dia tidak mengeluarkan kata-kata jahat kepada siapa pun. Banyak orang mengaku Kristen, tapi bicara sembarangan. Tidak boleh ada orang menyebut diri Kristen kalau bicara masih penuh dengan perasaan kasar. Memaki orang, sembarangan, memberikan kata-kata yang sangat jahat, kotor dan kasar. Orang berkata kasar mesti minta ampun kepada Tuhan. Karena kata-kata kasar yang diucapkan menunjukan siapa dirinya di dalam, belum jadi milik Tuhan. Kita harus gentar, kita harus berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, saya belum jadi milikMu. Jadikan saya milikMu”. Mengapa saya mengatakan belum jadi milik Tuhan? Karena Tuhan Yesus memberikan peringatan apa yang keluar dari mulut itu mengalir dari hati. Siapa engkau di dalam akan ditunjukan dengan apa yang engkau katakan di luar. Maka orang ini sadar ini orang benar karena Yesus mengucapkan kata-kata yang sangat agung di kayu salib. Dia mengucapkan kata-kata mengampuni, kata-kata yang penuh kasih, Dia tidak dikuasai dengan keadaan yang sempit. Tidak ada orang yang akan mengatakan kata-kata kasar kalau dia berada dalam keadaan tenang. Yang diuji adalah jika dalam keadaan sangat terjepit apakah kita masih bisa mengataka kata-kata yang bait atau tidak. Jangan biarkan situasi menang atas kita. Yesus adalah satu-satunya orang yang mempunyai kesanggupan menanggung dosa semua orang seperti ini. Dia di atas kayu salib dan Dia mengampuni, maka orang ini langsung tahu Tuhan sudah berjanji bahwa orang benar akan mewarisi kerajaan, orang benar akan Tuhan pulihkan. Dan kalau Yesus benar, klaim bahwa Dia adalah Mesias itu juga benar. Maka dengan gentar dia mengatakan “ini bukan cuma orang yang benar, tapi ini juga Raja”. Tapi perhatikan, dia tidak mau repot-repot berdebat tentang ini Raja atau bukan kepada temannya. Dia hanya ingin temannya menerima fakta bahwa Dia tidak pernah kalimat jahat, jadi jangan hina orang benar. Kepada Yesus dia mengatakan “Yesus, ingatlah akan aku jika Engkau datang dari surga”, dia punya satu iman yang besar kepada orang benar ini. Dia benar dan setiap kalimatNya benar, berarti Dia adalah Raja, “aku inign diingat kalau Dia datang sebagai Raja”. Kalimat yang sangat mengharukan, seperti pujian yang tadi kita nyanyikan, nomor 3, Tuhan Yesus ingatlah saya. Kapan ingat? “Ketika saya tidak punya kekuatan bahkan untuk mengingat Engkau, ketika saya dengan rapuh mengikuti Tuhan, Tuhan jangan lupakan saya”. Inilah seruan yang sangat rendah hati. Dia tidak mengatakan “Yesus, bebaskan saya dari salib ini”, dia mengatakan “Tuhan berfirman orang jahat harus dihakimi, orang jahat harus dihukum. Saya orang jahat, hukumlah saya”, maka dia terima salib. Tapi Yesus bukan orang jahat, Dia sedang dihukum karena kejahatan orang Israel. Suatu saat Dia akan datang sebagai Raja, tolong ingat saya. Apa maksudnya ingat? Orang ini tidak mengatakan ingat dengan cara yang baik. Kalau saudara punya prestasi lalu suruh orang ingat, itu mudah. “Ingatlah saya sudah KKR beberapa kali. Ingatlah saya sudah lakukan ini dan itu”. Misalnya Pak Denny mengatakan kepada saya “ingatlah saya tanggal segini dan segini saya jadi liturgis”. Tapi orang ini cuma melakukan kejahatan, apa yang mau diingat? “Tuhan Yesus ingatlah saya”, kalau Yesus mengatakan “iya, perampok”, orang itu pasti mati. Mengapa dia mengatakan ingatlah aku? Yang dia minta diingat bukan perbuatan dia sebelum dia disalib, yang dia minta untuk diingat adalah waktu dia bertemu dengan Raja ini, dia tidak ikut menghina seperti orang lain, dia mengamini Sang Allah yang menjadi manusia ini. Dia mengatakan “Engkau adalah yang sudah datang menjadi manusia, Engkau adalah yang akan menjadi Raja”. Mengapa saya tafsirkan orang ini percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia? Karena seluruh berita tentang Mesias mempunyai makna ilahi di dalamnya.

Itu sebabnya tadi saya mengatakan mari tafsirkan Alkitab dengan cara yang benar, seperti Alkitab itu mau ditafsirkan. Di dalam Kitab Suci dikatakan Allah menciptakan segala sesuatu, lalu Dia ingin berdiam bersama manusia. Di dalam seluruh Lukas, Yesus dipresentasikan sebagai Allah yang menjadi manusia. Di dalam seluruh Injil, ini berulang-ulang dikatakan. Yesus berani mengatakan kalimat yang hanya Allah boleh katakan. Dia mengatakan “Aku mengampuni dosamu”, hanya Allah yang boleh mengampuni dosa. Dia mengatakan “Yerusalem, berapa besar Aku rindu mengumpulkan engkau”, Perjanjian Lama mengatakan hanya Allah yang berhak mengatakan kalimat ini. Saudara kalau tidak melihat bagian ini, Saudara akan mudah ditipu oleh orang-orang yang tafsir Alkitab sembarangan dan mengatakan “lihat apa yang terjadi, tipuan-tipuan dari gereja”. Ini bukan tipuan gereja, Yesus adalah Allah. Kalau Dia bukan Allah percuma Dia menjadi manusia, karena Dia tidak berbeda dengan yang lain. Kerelaan Allah untuk merendahkan diri menjadi alasan satu-satunya kita harus merendahkan diri. Kerelaan Allah mengosongkan diri membuat kita punya satu-satunya alasan untuk mengosongkan diri juga karena Sang Allah melakukan hal yang sama. Kristus adalah Allah yang menjadi manusia karena Dia ingin menyatakan kehadiran Tuhan di tengah manusia. Dia benar-benar menjadi manusia. Inilah kesatuan yang tidak bisa dipungkiri, menjadi puncak dari janji Tuhan mau berdiam bersama dengan manusia. Di dalam Matius Dia dikatakan sebagai Sang Immanuel, Allah beserta kita. Bukan hanya beserta dengan kehadiran, tapi beserta dengan menjadi manusia. Ini menjadi puncak dari pemberitaan Kitab Suci dan konsisten, dari Kejadian sampai Wahyu. Yesus menyatakan diri di atas kayu salib. Dan orang ini mengatakan “ini orang benar, ingatlah akan aku”. Apa yang diingat? “Ingat bahwa di saat paling penting ini bagi hidup saya, saya mengakui Engkau sebagai Raja, harap ingat itu”. Dia tidak bilang apa yang Yesus harus berikan kepada dia, “Tuhan ingatlah aku. Dan menurut Martin Luther, ingat itu berarti beriman. Dan iman itu membenarkan. Maka ketika Engkau datang, benarkanlah aku”. Dia tidak minta tempat di samping kanan atau kiri Tuhan Yesus, dia tidak mengatakan “jika Engkau datang sebagai Raja, taruh saya di posisi yang sama seperti sekarang. Saya di sebelah Engkau. Teman saya matikan saya dia, saya tidak peduli. Yang penting saya ada di sampingMu. Kalau ada murid-muridMu yang lain, saya tidak lihat mereka sekarang,jadi tolong berikan tempat yang utama”, dia tidak minta itu. Dia hanya mengatakan “ingatlah aku, bahwa aku mengakui Engkau Raja”. Ingat itu apa? Di dalam semua peristiwa Perjanjian Lama ada beberapa contoh yang baik, salah satunya adalah tentang Rahab. Ketika dia mengatakan kepada mata-mata dari Israel, “ingat saya sudah tolong engkau”, maksudnya ingat adalah ketika engkau datang menghancurkan semua, jangan saya ikut dihancurkan. Orang ini cuma mengatakan “jangan perlakukan saya sama dengan orang Israel yang akan binasa, karena Engkau akan datang membalas dendam. Engkau akan membalas dendamMu dan jangan masukan saya ke dalam daftar orang yang Engkau murkai”, itu yang dia mau. “Jangan murkai saya meskipun saya orang jahat. Karena saya tidak menentang KerajaanMu, saya tidak melawanMu”, itu yang dikatakan. Tapi kalimat Yesus begitu mengejutkan “Aku berkata kepadamu, hari ini juga engkau bersama-sama dengan Aku di dalam firdaus”. Ini bukan berarti Yesus mengatakan “sekarang Aku bawa kamu ke sorga”, ini mempunyai makna yang jauh lebih dalam dari pada itu. Maknanya berarti Yesus sedang memulihkan firdaus di bumi dengan cara mati di kayu salib. Ini perkenalan Yesus. Saudara bisa lihat di bagian-bagian lain, waktu Yesus berbicara di atas kayu salib, Dia selalu menyatakan sesuatu yang secara teologi menurut kaum Yahudi itu sangat dalam. Waktu Dia mengatakan “Aku haus”, itu bukan karena Dia haus, tapi ada makna teologis di baliknya. Waktu Dia mengatakan “hari ini engkau akan bersama dengan Aku di dalam firdaus” ada makna teologis paling dalam yaitu Yesus yang digantung di kayu salib adalah Yesus yang berhasil memulihkan firdaus. Sesuatu yang secara teologi sangat penting bagi pembaca Lukas. Yesus tidak menyatakan kegagalanNya di atas kayu salib, Dia tidak mengatakan “sekarang Aku gagal, tapi Aku akan kembali”, lalu Dia akan melihat penjaga yang sudah mencambuk Dia dengan sombong, Yesus balik tatap dia dengan ancaman “hai kamu, lihat ini baik-baik sebelum engkau mati. Aku akan kembali”, Dia tidak mengatakan itu. Dia mengatakan “Aku berhasil, hari ini firdaus dipulihkan, hari ini yang Tuhan rencanakan akan digenapi”. Dan ini merupakan berita yang sangat kontroversial pada hari Tuhan Yesus mati di kayu salib. Janji Tuhan menjadi pulih. Karena pada hari itu semua orang percaya ada dalam krisis manusia dan dosanya diselesaikan. Yang membuat Adam diusir dari Taman Eden adalah karena dia gagal menaati Tuhan. Yang membuat manusia dimasukan kembali ke dalam Firdaus adalah keberhasilan menaati Tuhan. Maka Tuhan Yesus mengatakan “hari ini engkau bersama dengan Aku di Firdaus”, hari ini Firdaus genap. Yesus mati di atas kayu salib, Firdaus genap. Dan inilah satu pernyataan yang sangat agung, tidak ada orang di tengah kematiannya, di keadaan mau mati menyatakan kemenangan pada saat itu. Pernahkah ada orang sebelum mati mengatakan “inilah momen paling berhargaku”, tidak ada. Alexander Agung pergi kemana-mana menaklukan, tapi waktu dia sakit, ada yang menduga dia diracuni oleh temannya sendiri. Waktu dia sudah berbaring, dia tidak pernah mengatakan kalimat yang sombong lagi, dia tidak mengatakan “lihatlah penguasa dunia yang sudah mau mati”. Tapi Yesus di atas kayu salib mengatakan “hari ini juga engkau akan bersama dengan aku di Firdaus”. Firdaus dipulihkan dan orang yang diajak masuk adalah penjahat di sampingNya. Bayangkan, ini berita yang sangat menakjubkan, ketika Firdaus pulih, pendosa yang bertobat ini, yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, ini orang pertama yang Tuhan janji. Seolah-olah ketika Sang Adam terakhir yaitu Yesus memulihkan Taman Eden, Dia mengatakan “lihat, inilah yang pertama Aku menangkan”. Siapa yang pertama dimenangkan? Penjahat. Apa yang dia lakukan? Tidak ada kontribusi, hanya mengakui bahwa Yesus adalah Sang Raja. Maka pengakuan kepada siapa Kristus akan membuat kita mendapatkan janji Tuhan. Harap renungkan baik-baik, apakah kita sudah mengakui siapa Dia, benarkah kita menyatakan “Engkau adalah Allah yang menjadi manusia, menjadi Rajaku”, jika iya, “Tuhan ingatlah aku, aku bukan seteru, aku bukan musuhMu. Aku adalah yang mengakui bahwa Engkau adalah Mesias”. Dan Firdaus dipulihkan lewat kematian Kristus.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)